II. LANDASAN TEORI A. Penelitian Terdahulu Menurut hasil penelitian Yenny Mailya Santi (2009:83) yang berjudul Analisis Usaha Agroindustri Keripik Belut Sawah (Monopterus Albus Zuieuw) di Kabupaten Klaten menyatakan bahwa biaya total rata-rata usaha agroindustri keripik belut di Kabupaten Klaten bulan April 2009 adalah sebesar Rp 55.727.827. Penerimaan rata-rata yang diperoleh per produsen sebesar Rp 58.921.650 sehingga keuntungan rata-rata yang diperoleh pengusaha agroindustri keripik belut adalah sebesar Rp 3.193.823. Sedangkan profitabilitas adalah sebesar 5,73 %, yang berarti usaha agroindustri keripik belut menguntungkan. Usaha agroindustri keripik belut di Kabupaten Klaten mempunyai nilai efisiensi lebih dari satu yaitu sebesar 1,05. Hal ini berarti bahwa setiap Rp 1 yang dikeluarkan pengusaha pada awal kegiatan usaha akan mendapatkan penerimaan 1,05 kali dari biaya yang dikeluarkan pada akhir kegiatan usaha tersebut. Usaha agroindustri keripik belut di Kabupaten Klaten memberikan nilai tambah bagi belut segar hidup sebesar Rp 14.311,64/kg. Hal ini menunjukkan bahwa setiap satu kilogram belut segar hidup setelah mengalami proses produksi mampu memberikan nilai tambah sebesar Rp 14.311,64. Menurut hasil penelitian Rohmatun Nurul Hasanah (2010:81-82) yang berjudul Analisis Pemasaran Ikan Nila Merah (Oreochormis sp) di Kabupaten Sukoharjo menyatakan bahwa pemasaran ikan nila merah di Kelurahan Kriwen Kecamatan Sukoharjo Kabupaten Sukoharjo terdapat tiga saluran pemasaran yaitu : a. Saluran Pemasaran I Petani Pedagang Pengumpul Pedagang Pengecer Konsumen b. Saluran Pemasaran II Petani Pedagang Pengecer Konsumen c. Saluran Pemasaran III Petani Pedagang Besar Konsumen Luar Kabupaten Sukoharjo 8
9 Pada saluran pemasaran I total biaya pemasaran adalah Rp 924,19 per Kg, total keuntungan pemasaran Rp 3074,85 per Kg dan marjin pemasaran Rp 4000,04 per Kg. Untuk saluran pemasaran II total biaya pemasaran Rp 1319,23 per Kg, total keuntungan pemasaran Rp 2471,21 per Kg dan marjin pemasaran Rp 3250 per Kg. Untuk saluran pemasaran III total biaya pemasaran Rp 357,37 per Kg, total keuntungan pemasaran Rp 2462,3 per Kg dan marjin pemasaran Rp 2666,7 per Kg. Menurut hasil penelitian Arista Heny Untari (2013:83) yang berjudul Analisis Nilai Tambah pada Industri Abon dan Dendeng Sapi di Kecamatan Jebres Kota Surakarta menyatakan bahwa biaya total rata-rata yang dikeluarkan oleh industri abon sapi di Kecamatan Jebres Kota Surakarta sebesar Rp 68.889.848,13/bulan, sedangkan pada industri dendeng sapi sebesar Rp 5.003.506,70/bulan. Besarnya rata-rata total penerimaan yang diterima oleh industri abon sapi di Kecamatan Jebres Kota Surakarta sebesar Rp 76.686.666,67/bulan, sedangkan pada industri dendeng sapi sebesar Rp 6.127.500/bulan. Besarnya rata-rata keuntungan pada industri abon sapi di Kecamatan Jebres Kota Surakarta sebesar Rp 7.796.818,54/bulan, sedangkan pada industri dendeng sapi sebesar Rp 1.123.993,31/bulan. Efisiensi usaha pada industri abon sapi di Kecamatan Jebres Kota Surakarta adalah 1,14 dan pada industri dendeng sapi adalah 1,16 artinya kedua industri tersebut sudah efisien. Rata-rata nilai tambah per bahan baku pada industri abon sapi di Kecamatan Jebres Kota Surakarta sebesar Rp 17.323,76 sedangkan pada industri dendeng sapi sebesar Rp 19.120,63. Besarnya rata-rata nilai tambah per tenaga kerja pada industri abon sapi di Kecamatan Jebres Kota Surakarta adalah Rp 8.953,57 sedangkan pada industri dendeng sapi adalah Rp 5.823,70. Menurut hasil penelitian Nadia Nur Sholihah (2014:91-92) yang berjudul Analisis Nilai Tambah Ikan Lele pada Industri Makanan Olahan Lele Al-Fadh Kabupaten Boyolali menyatakan bahwa industri makanan olahan lele Al-Fadh mengeluarkan biaya total untuk produk kerupuk lele sebesar Rp 2.137.580 dan keripik daging lele sebesar Rp 2.466.619
10 sedangkan penerimaan yang diperoleh dari kerupuk lele sebesar Rp 3.173.950 dan keripik daging lele Rp 4.488.450 sehingga keuntungan yang diperoleh produk kerupuk lele sebesar Rp 1.036.370 dan keripik daging lele Rp 2.021.831. Produk kerupuk lele Al-Fadh memiliki efisiensi usaha sebesar 1,48 dan keripik daging lele sebesar 1,82. Hal ini menunjukan bahwa pengalokasian faktor produksi usaha yang dijalankan oleh industri makanan olahan lele Al-Fadh sudah efisien. Besarnya nilai tambah per kilogram bahan baku dari usaha pengolahan ikan lele menjadi kerupuk lele sebesar Rp 124.813 dan keripik daging lele sebesar Rp 64.111. Sementara besarnya nilai tambah per tenaga kerja dari usaha pengolahan ikan lele menjadi kerupuk lele sebesar Rp 7.898 dan keripik daging lele sebesar Rp 12.856. B. Tinjauan Pustaka 1. Belut Belut (Monopterus/Fluta, Ophisternon/ Synbrachnus) adalah komoditas perikanan air tawar yang bernilai ekonomi tinggi. Selain dikonsumsi langsung sebagai lauk pauk, belut juga diolah menjadi olahan yang banyak peminatnya. Belut juga diolah menjadi obat dan makanan kesehatan. Ikan yang mirip ular ini merupakan bahan pangan yang bergizi tinggi (Ghufran, 2014:1). Klasifikasi belut adalah sebagai berikut (Ghufran, 2014:25-26) Filum : Chordata Kelas : Pisces Ordo : Synbranchiformes Family : Synbranchidae Genus : Monopterus/Fluta Species : Monopterus albus/ Fluta alba Sekilas, tubuh belut seperti ular yaitu gilig (silindris) memanjang. Belut juga tidak memiliki sirip dada, sirip punggung dan sirip dubur. Panjang tubuh belut mencapai 90 cm. Ukuran kepala belut lebih besar dibandingkan tubuhnya dan kedua matanya terlindungi oleh kulit keriput dibagian atasnya. Mulut belut dilengkapi lipatan kulit yang sedikit
11 menebal dibagian luarnya, sedangkan bagian dalam mulutnya dilengkapi gigi-gigi runcing berukuran kecil dan berbentuk kerucut. Tubuh belut tidak bersisik dan hanya dilapisi kulit. Sementara permukaan tubuhnya diselimuti cairan lendir sehingga kulit belut terlihat berkilau dan terasa licin jika dipegang (Saparinto, 2010:42-43). Belut juga diolah menjadi obat dan makanan kesehatan. Ikan yang mirip ular ini merupakan bahan pangan bergizi tinggi (Tabel 2). Oleh karena itu, belut merupakan sumber protein hewani yang sangat dianjurkan. Adapun nilai perbandingan kandungan gizi dari belut, telur dan daging sapi (100 g) dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 2. Perbandingan Kandungan Gizi Belut, Telur dan Daging Sapi (100 g) Zat Gizi Belut Telur Daging Sapi Kalori (kal) 303 162 207 Protein (gr) 14 12,8 18,8 Lemak (gr) 27 11,5 14 Karbohidrat (gr) 0 0,7 0 Fosfor (mg) 200 180 170 Kalsium (mg) 20 54 11 Zat Besi (mg) 20 2,7 2,8 Vitamin A (SI) 1.600 900 30 Vitamin B1 (mg) 0,10 0,10 0,08 Vitamin C (mg) 2 0 0 Air (gr) 58 74 66 Sumber : Santoso, 2001:1 2. Keripik Belut Menurut Azahari (2007) selain dikonsumsi sebagai menu makanan, belut juga diolah menjadi berbagai jenis makanan ringan yang lezat seperti keripik belut. Keripik belut selama ini menjanjikan keuntungan karena mengingat disukai semua lapisan masyarakat, disamping masih menghadapi kendala karena semakin sulitnya memperoleh bahan baku belut. Pembuatan keripik belut cukup sederhana, dan dapat dilihat pada bagan berikut ini :
12 Belut hidup Dipisahkan dari kotorannya Dicuci Ditiriskan Dilumuri bumbu, dengan tepung tebal atau tepung sedang Digoreng hingga matang Ditiriskan Keripik Belut Gambar 1. Proses Pembuatan Keripik Belut Menurut Saparinto (2010:195) cara membuat keripik belut yaitu : a. Memasukkan belut ke dalam air kapur selama 1 jam untuk mematikan dan menghilangkan lendirnya. Setelah itu, siangi dengan menyayat sepanjang tubuhnya menggunakan pisau kecil lalu cuci hingga bersih. b. Haluskan semua bumbu. Campurkan tepung beras dengan air kapur lalu diamkan selama 2 jam. Campurkan bumbu dalam tepung, tambah air secukupnya kemudian aduk rata. c. Celupkan belut atau guling-gulingkan pada adonan, lalu goreng dengan minyak panas hingga setengah matan. Tiriskan selama 1 jam kemudian goreng kembali hingga matang atau garing lalu tiriskan selama semalam agar minyak goreng tertiris.
13 3. Agroindustri Agroindustri berasal dari dua kata yaitu agricultural dan industry yang berarti suatu industri yang menggunakan hasil pertanian sebagai bahan baku utamanya atau suatu industri yang menghasilkan suatu produk yang digunakan sebagai sarana atau input dalam usaha petanian. Agroindustri pengolahan hasil pertanian merupakan bagian dari agroindustri yang mengolah bahan baku yang bersumber dari tanaman dan hewan. Pengolahan yang dimaksud meliputi pengolahan berupa proses transformasi dan pengawetan melalui perubahan fisik atau kimiawi, penyimpanan, pengepakan dan distribusi. Harga produk pertanian bisa meningkat melalui industri pengolahan. Agroindustri mempunyai rentang pengertian yang amat lebar. Dari yang sangat soft berupa pengolahan pasca panen seperti pembuatan ikan asin yang hanya perlu teknologi pengawetan sampai memiliki added value tinggi dimana produk olahan pertanian di ekstrak dan dikombinasikan dengan produk lain (Kusnandar et al, 2010:43-44) Menurut BPS (2015:315), industri dapat digolongkan berdasarkan pada jumlah tenaga kerja, jumlah investasi dan jenis komoditi yang dihasilkan. Berdasarkan jumlah pekerja, industri dapat dikategorikan ke dalam empat kelompok, yaitu : a. Jumlah pekerja 1 hingga 4 orang untuk industri rumah tangga, b. Jumlah pekerja 5 hingga 19 orang untuk industri kecil, c. Jumlah pekerja 20 hingga 99 orang untuk industri menengah, d. Jumlah pekerja lebih atau sama dengan 100 orang untuk industri besar 4. Biaya Biaya merupakan penurunan dalam modal pemilik, biasanya melalui pengeluaran uang atau penggunaan aktiva sehubungan dengan usaha untuk memperoleh pendapatan (Soemarso, 2004:54). Biaya produksi adalah biaya yang dibebankan dalam proses produksi selama suatu periode. Biaya ini terdiri dari persediaan dalam proses awal ditambah biaya usaha. Termasuk dalam biaya produksi adalah biaya-biaya
14 yang dibebankan pada persediaan dalam proses pada akhir periode. (Soemarso, 2004:271) Menurut Boediono (2002:81), dilihat dari segi sifat biaya dalam hubungannya dengan tingkat output, maka biaya produksi dibagi menjadi : a. Biaya tetap total (TFC) adalah jumlah biaya-biaya yang tetap dibayar produsen berapapun tingkat outputnya. Jumlah biaya tetap total adalah tetap untuk setiap output. b. Biaya variabel total (TVC) adalah jumlah biaya-biaya yang berubah menurut tinggi rendahnya output yang diproduksi. c. Biaya total (TC) adalah penjumlahan dari biaya tetap dan biaya variabel. Secara sistematis bisa dituliskan sebagai berikut : TC = TFC + TVC 5. Penerimaan Penerimaan merupakan manfaat yang dapat dinyatakan dengan uang atau dalam bentuk uang yang diterima oleh suatu usaha (Soetrisno, 1981:28). Menurut Firdaus (2008:64) menyatakan bahwa penerimaan total yaitu jumlah unit (produk) yang terjual (Q) dikalikan dengan harga produk (P). Secara matematis dituliskan dengan rumus : TR = Q x P Keterangan : TR (Total Revenue) = Total penerimaan usaha (Rupiah) Q (Quantity) = Jumlah yang dihasilkan (unit) P (Price) = Harga per unit (Rupiah) Total penerimaan (R) menunjukkan total penerimaan dari penjualan sejumlah produk, yaitu tingkat harga P dikalikan dengan jumlah produk Q. Penerimaan marjinal (RM) menunjukkan perubahan total penerimaan sebagai akibat perubahan jumlah produk yang dijual sebanyak satu satuan (Herlambang, 2002).
15 6. Keuntungan Keuntungan didefinisikan sebagai total penerimaan dikurangi total biaya. Kata total mendapat penekanan karena seringkali ada biaya yang kemungkinan lupa teridentifikasi. Jadi, dalam kalkulasi keuntungan, semua penerimaan dan biaya, baik berwujud maupun tidak berwujud harus diperhitungkan. Fungsi tujuan dari pelaku ekonomi adalah memaksimumkan utility. Produsen memaksimumkan utility dengan memaksimumkan keuntungannya (Sunaryo, 2001:68). Keuntungan ditentukan dengan cara mengurangkan berbagai biaya yang dikeluarkan dari hasil penjualan yang diperoleh. Biaya yang dikeluarkan meliputi pengeluaran untuk bahan mentah, pembayaran upah, pembayaran bunga, sewa tanah, dan penghapusan (depresiasi). Apabila hasil penjualan yang diperoleh dikurangi dengan biaya-biaya tersebut nilainya adalah positif maka diperoleh keuntungan (Sukirno, 2009:131). Menurut Soekartawi (1994:73), keuntungan adalah selisih antara penerimaan total dengan biaya produksi sesuai dengan tingkat efisiensi penggunaan faktor produksi pada penggunaanya yang terbaik. Keuntungan (π) dapat dihitung dengan rumus : π = TR TC Keterangan : π = Keuntungan usaha yang diperoleh (Rupiah) TR = Penerimaan total (Rupiah) TC = Biaya total (Rupiah) 7. Profitabilitas Menurut Riyanto (2001:37), profitabilitas dimaksudkan untuk mengetahui efisiensi perusahaan dengan melihat kepada besar kecilnya laba usaha dalam hubungannya dengan penjualan. Oleh karena itu perhitungan tingkat profitabilitas didapat dengan pembagian antara keuntungan yang diperoleh dengan biaya total yang dikeluarkan dan dinyatakan dalam persen. Secara sistematis dapat ditulis sebagai berikut:
16 Profitabilitas = x 100% Kriteria yang diperhitungkan dalam profitabilitas adalah : Profitabilitas > 0 berarti industri yang diusahakan menguntungkan Profitabilitas = 0 berarti industri yang diusahakan mengalami BEP Profitabilitas < 0 berarti industri yang diusahakan tidak menguntungkan Profitabilitas dapat didefinisikan sebagai keuntungan. Keuntungan sendiri merupakan selisih antara harga jual dengan biaya kemudian dikalikan dengan jumlah unit terjual. Besarnya profitabilitas tergantung pada komponen harga jual, biaya produk per unit dan jumlah unit yang terjual. Pada dasarnya, upaya meningkatkan profitabilitas tidak semudah yang diucapkan. Sering tidak disadari apa yang dikerjakan dan akan dikerjakan tidak tercermin dalam usaha meningkatkan profitabilitas dan terkadang terkesan terlalu berani mengambil risiko, sehingga menjadi beban yang lebih berat dalam upaya meningkatkan profitabilitas (Sadikin, 2005:55). 8. Efisiensi Usaha R/C ratio menunjukkan pendapatan kotor (penerimaan) yang diterima untuk setiap rupiah yang dikeluarkan untuk memproduksi, sekaligus menunjang kondisi suatu usaha. Ukuran kondisi tersebut sangat penting karena dapat dijadikan penilaian terhadap keputusan perusahaan dan kemungkinan pengembangan usaha tersebut. Tujuan utama dari suatu usaha adalah untuk memperoleh pendapatan yang besar, disamping tujuan yang lebih utama adalah untuk mencapai suatu tingkat efisiensi yang tinggi. Pendapatan yang tinggi tidak selalu menunjukkan efisiensi yang tinggi, karena kemungkinan penerimaan yang besar tersebut diperoleh dari investasi yang besar. Efisiensi mempunyai tujuan memperkecil biaya produksi persatuan produk yang dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan yang optimal. Cara yang ditempuh untuk mencapai tujuan tersebut adalah memperkecil biaya keseluruhan dengan mempertahankan produksi yang telah dicapai untuk memperbesar produksi tanpa meningkatkan biaya keseluruhan (Soekartawi, 1995:63).
17 R-C rasio adalah singkatan Revenue Cost Ratio atau dikenal dengan perbandingan (nisbah) antara penerimaan dan biaya. Secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut : Efisiensi = Keterangan : R = Penerimaan Total (Rupiah) C = Biaya total (Rupiah) Kriteria yang digunakan dalam penentuan efisiensi usaha adalah : R/C > 1 berarti usaha sudah dijalankan secara efisien. R/C = 1 berarti usaha yang dijalankan dalam kondisi titik impas/ Break Event Point (BEP). R/C < 1 berarti usaha tidak dijalankan secara efisien (Soekartawi, 2001:70). 9. Nilai Tambah Nilai tambah suatu produk adalah hasil dari nilai produk akhir dikurangi dengan biaya antara yang terdiri dari biaya bahan baku dan bahan penolong (Tarigan, 2004:28). Nilai yang ditambahkan ini sama dengan balas jasa atas ikut sertanya faktor produksi dalam proses produksi. Bila komponen biaya antara yang digunakan nilainya semakin besar, maka nilai tambah produk tersebut akan semakin kecil. Begitu pula sebaliknya, jika biaya antaranya semakin kecil, maka nilai tambah produk akan semakin besar (Makki et al., 2001:28). Nilai tambah menggambarkan tingkat kemampuan menghasilkan pendapatan disuatu wilayah. Nilai tambah juga dapat digunakan untuk mengukur tingkat kemakmuran masyarakat setempat dengan asumsi seluruh pendapatan itu dinikmati masyarakat setempat (Tarigan, 2004:28). Pada sektor pertanian nilai tambah dapat memberikan kontribusi bagi petani dengan memaksimalkan produk mereka, baik secara kuantitatif maupun kualitatif, sementara itu secara komersial mereka juga mendapatkan keuntungan. Selain itu juga dapat menghasilkan sesuatu
18 yang bernilai dari suatu barang yang tadinya tidak bernilai. Misalnya buah persik yang cacat dan berukuran kecil, bisa diolah menjadi selai atau es krim, sehingga dapat diperkenalkan pada segmen konsumen yang berbeda dan dapat menambah strategi pemasaran petani (Alonso, 2011:190). 10. Saluran dan Lembaga Pemasaran Menurut Stanton (1993:69), saluran pemasaran merupakan suatu jalur dari lembaga-lembaga penyalur yang mempunyai kegiatan menyalurkan barang dari produsen ke konsumen. Penyalur ini secara aktif akan mengusahakan perpindahan bukan hanya secara fisik tapi dalam arti agar barang-barang tersebut dapat dibeli konsumen. Menurut Setyowati (2004:141), pertimbangan lain dalam menetapkan mata rantai saluran pemasaran adalah dengan jalan membandingkan biaya-biaya yang harus dikeluarkan. Menggunakan mata rantai saluran pemasaran yang panjang akan menimbulkan biaya yang besar sehingga mendorong harga jual yang tinggi sehingga kelancaran penjualan dari barang tersebut dapat terganggu. Hal ini dapat terjadi karena setiap mata rantai selalu menginginkan keuntungan. Untuk menekan angka penjualan agar tidak terlalu tinggi maka perusahaan harus merelakan agar komisi dari mata rantai tersebut menjadi kecil. Lembaga pemasaran adalah badan usaha atau individu yang menyelenggarakan pemasaran, menyalurkan jasa dan komoditi dari produsen kepada konsumen akhir serta mempunyai hubungan dengan badan usaha atau individu lainnya. Lembaga pemasaran ini timbul karena adanya keinginan konsumen untuk memperoleh komoditi yang sesuai dengan waktu, tempat, dan bentuk yang diinginkan konsumen. Tugas lembaga pemasaran ini adalah menjalankan fungsi-fungsi pemasaran serta memenuhi keinginan konsumen semaksimal mungkin. Konsumen memberikan balas jasa kepada lembaga pemasaran ini berupa marjin pemasaran. (Sudiyono, 2002:84).
19 Menurut Sudiyono (2004:79), lembaga-lembaga yang terlibat dalam proses pemasaran dapat diidentifikasi sebagai berikut : a. Tengkulak adalah lembaga pemasaran yang secara langsung berhubungan dengan petani, tengkulak ini melakukan transaksi dengan petani baik secara tunai, ijon maupun kontrak pembelian b. Pedagang besar adalah pedagang yang selain melakukan proses produksi pengumpulan komoditi dari pedagang-pedagang pengumpul juga melakukan proses distribusi keagen penjualan ataupun pengecer c. Agen penjualan, produk pertanian yang belum ataupun sudah mengalami proses pengolahan ditingkat pedagang besar harus didistribusikan kepada agen penjualan maupun pengecer d. Pengecer merupakan lembaga pemasaran yang berhadapan langsung dengan konsumen 11. Biaya, Keuntungan dan Marjin Pemasaran Biaya pemasaran adalah biaya yang dikeluarkan untuk keperluan pemasaran. Biaya pemasaran meliputi biaya angkut, biaya pengeringan, penyusutan, retribusi dan lainnya. Besarnya biaya ini berbeda satu sama lain disebabkan karena macam komoditi, lokasi pemasaran dan macam lembaga pemasaran serta efektivitas pemasaran yang dilakukan. Biaya pemasaran suatu barang niaga terdiri dari jumlah pengeluaran produsen, jumlah pengeluaran pedagang, dan laba (profit) yang diterima masingmasing lembaga yang bersangkutan. Sering kali komoditi pertanian yang nilainya tinggi di ikuti dengan biaya pemasaran yang tinggi pula. Peraturan pemasaran di suatu daerah juga kadang-kadang berbeda satu sama lain. Begitu pula macam lembaga pemasaran dan efektivitas pemasaran yang mereka lakukan. Makin efektif pemasaran yang dilakukan, maka akan semakin kecil biaya pemasaran yang mereka keluarkan (Soekartawi, 1993:156). Selisih harga yang dibayarkan ke produsen dan harga yang diberikan oleh konsumen disebut dengan keuntungan pemasaran. Besar kecilnya keuntungan yang diambil oleh masing-masing lembaga
20 pemasaran akan menentukan harga di masing-masing lembaga pemasaran. Keuntungan pemasaran didefinisikan sebagai selisih harga yang dibayarkan produsen dan harga yang diberikan oleh konsumen. Masing-masing lembaga ingin mendapatkan keuntungan, maka harga yang dibayarkan oleh masing-masing lembaga pemasaran juga berbeda. (Soekartawi, 1993:157). Marjin pemasaran ditinjau dari sudut pandang harga adalah perbedaan antara harga yang dibayarkan konsumen dengan harga yang diterima petani (produsen). Sedangkan marjin pemasaran bila ditinjau dari sudut pandang biaya pemasaran, komponen marjin pemasaran terdiri dari biaya pemasaran dan keuntungan lembaga pemasaran (Sudiyono, 2004:87). Menurut Sudiyono (2004:94), marjin pemasaran didefinisikan dengan dua cara yaitu: a. Marjin pemasaran merupakan perbedaan harga antara harga yang dibayarkan konsumen dengan harga yang diterima petani (produsen), secara sistematis dapat dirumuskan sebagai berikut: M = Pr Pf Keterangan: M = Marjin pemasaran (Rupiah) Pr = Harga ditingkat konsumen (Rupiah) Pf = Harga ditingkat petani (produsen) (Rupiah) b. Marjin pemasaran terdiri dari komponen yang terdiri dari biaya-biaya yang diperlukan lembaga-lembaga pemasaran untuk melakukan fungsi-fungsi pemasaran dan keuntungan lembaga pemasaran. Secara sistematis marjin pemasaran dapat dirumuskan sebagai berikut: Mp = Bp + Kp Keterangan : Mp = Marjin pemasaran (Rupiah) Bp = Biaya pemasaran (Rupiah) Kp = Keuntungan pemasaran (Rupiah)
21 C. Kerangka Teori Pendekatan Masalah Nilai tambah merupakan hasil dari nilai produk akhir (penerimaan) dikurangi dengan biaya antara yang terdiri dari biaya bahan baku dan bahan penolong. Belut mengandung protein yang sangat tinggi sehingga sangat baik dikonsumsi oleh segala tingkatan usia mulai dari anak-anak, remaja, orang dewasa, ibu hamil hingga mereka yang berusia lanjut. Belut juga mengandung lemak, kalori, zat besi, kalsium, fosfor dan vitamin serta daging belut juga mengandung hormon kalsitonin yang berfungsi untuk memelihara kekuatan tulang pada tubuh manusia (Ghufran, 2014:2). Oleh karena itu, perlu adanya pengolahan belut menjadi keripik belut supaya diperoleh nilai tambah dan keripik belut memiliki nilai jual yang lebih tinggi. Dengan melakukan analisis nilai tambah maka akan diketahui seberapa besar nilai tambah yang diberikan belut jika diolah menjadi keripik belut. Nilai tambah dari hasil pengolahan belut menjadi keripik belut dipengaruhi oleh penggunaan kombinasi faktor-faktor produksi. Konsep nilai tambah diperoleh dari pengurangan nilai produk akhir keripik belut dengan harga bahan baku dan sumbangan input lain. Selain itu juga dihitung nilai tambah netto, nilai tambah per bahan baku dan nilai tambah per tenaga kerja yang digunakan. Pengolahan belut menjadi keripik belut membutuhkan faktor-faktor produksi yang berupa peralatan, bahan baku, bahan penolong, tenaga kerja, bahan kemasan, bahan bakar, transportasi, pemasaran dan listrik. Pengolahan belut memerlukan biaya-biaya untuk menunjang proses produksi. Biaya pengolahan agroindustri keripik belut terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel. Agroindustri pengolahan keripik belut akan menghasilkan harga yang lebih tinggi dari harga belut tanpa melalui pengolahan. Selain itu produk keripik belut memerlukan pemasaran agar produk dapat terjual ke konsumen sehingga menghasilkan penerimaan bagi produsen keripik belut. Penerimaan merupakan hasil perkalian antara jumlah produk yang terjual dengan harga jual, sehingga dari perhitungan akan diperoleh besarnya keuntungan, profitabilitas dan efisiensi, dan nilai tambah. Keuntungan merupakan penerimaan bersih yang diterima oleh produsen, sesudah dikurangi dengan
22 total biaya yang dikeluarkan. Profitabilitas adalah tingkat kemampuan suatu agroindustri untuk menghasilkan laba. Efisiensi usaha yaitu penggunaan sumber daya secara minimum untuk mencapai hasil yang optimum. Nilai tambah adalah nilai balas jasa atas ikut sertanya faktor produksi dalam proses produksi. Pengolahan keripik belut di Kabupaten Klaten dipasarkan melalui beberapa saluran pemasaran sehingga akan terbentuk pola-pola saluran pemasaran, lembaga-lembaga pemasaran yang terlibat dan konsumen akhir keripik belut. Penelusuran saluran pemasaran bermanfaat untuk mengetahui lembaga-lembaga pemasaran yang terlibat. Lembaga pemasaran akan memberikan informasi mengenai biaya dan keuntungan pemasaran keripik belut tersebut. Melalui analisis biaya dan keuntungan pemasaran tersebut akan diketahui besarnya marjin pemasaran. Nilai marjin pemasaran adalah perbedaan harga dikedua tingkat sistem pemasaran atau selisih perbedaan harga ditingkat produsen dan konsumen. Adapun kerangka teori pendekatan masalah dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar berikut:
23 Produksi Belut di Kabupaten Klaten Agroindustri Keripik Belut di Kabupaten Klaten Input Biaya: Biaya Tetap Penyusutan Alat Bunga Modal Investasi Biaya Variabel Bahan Baku Bahan Penolong Tenaga Kerja Bahan Kemasan Bahan Bakar Transportasi Pemasaran Listrik Biaya Total Proses Produksi (Pengolahan) Output (Keripik Belut) Penerimaan Biaya Pemasaran Saluran Pemasaran Keripik Belut Lembaga Pemasaran Keuntungan Pemasaran Keuntungan Profitabilitas dan Efisiensi Nilai Tambah Marjin Pemasaran Gambar 2. Kerangka Teori Pendekatan Masalah D. Hipotesis 1. Agroindustri keripik belut di Kabupaten Klaten diduga memberikan keuntungan dan sudah efisien. 2. Agroindustri keripik belut di Kabupaten Klaten diduga memberikan nilai tambah.
24 3. Terdapat beberapa pola saluran pemasaran keripik belut di Kabupaten Klaten. 4. Semakin pendek saluran pemasaran keripik belut semakin kecil marjin pemasaran pada tiap lembaga pemasaran. E. Pembatasan Masalah Pembatasan masalah yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1. Analisis usaha dan nilai tambah didasarkan pada waktu penelitian berlangsung. Penelitian dilakukan selama satu bulan proses produksi di Kabupaten Klaten pada bulan Desember 2015. 2. Analisis marjin pemasaran dilakukan pada produsen keripik belut, lembaga pemasaran dan konsumen keripik belut di Kabupaten Klaten. 3. Harga input dan output produk keripik belut di agroindustri keripik belut diperhitungkan sesuai dengan harga yang berlaku di daerah penelitian. 4. Aset rumah dan bangunan tidak diikutsertakan dalam perhitungan biaya tetap karena mempunyai fungsi ganda (Multi Use). F. Asumsi Asumsi-asumsi yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1. Seluruh input yang berasal dari produsen sendiri diasumsikan mempunyai nilai sama dengan input luar yang diperoleh melalui proses pembelian. 2. Faktor produksi berupa tenaga kerja dalam (keluarga) diasumsikan menerima upah yang besarnya sama dengan upah tenaga kerja luar. 3. Seluruh produk keripik belut diasumsikan terjual seluruhnya. G. Definisi Operasional dan Konsep Pengukuran Variabel 1. Agroindustri adalah kegiatan yang memanfaatkan hasil pertanian sebagai bahan baku dengan menyediakan peralatan serta jasa untuk mengolah produk pertanian agar dapat mempunyai nilai tambah yang dapat dikonsumsi oleh masyarakat. 2. Agroindustri keripik belut merupakan kegiatan pengolahan belut mulai dari mematikan belut, menghilangkan kotoran (beteti), pencucian, pemberian bumbu dengan tepung sedang maupun tepung tebal kemudian digoreng hingga matang.
25 3. Responden adalah pengusaha sebagai produsen keripik belut yang mengolah belut menjadi keripik belut dan berdomisili di Kecamatan Wedi, Kecamatan Gantiwarno, Kecamatan Karanganom, Kecamatan Delanggu dan Kecamatan Polanharjo Kabupaten Klaten. 4. Biaya tetap adalah biaya yang tetap dibayar produsen berapapun tingkat output yang dihasilkan dan besarnya tidak berubah meskipun output berubah yang dinyatakan dalam rupiah (Rp). Biaya tetap yang digunakan berupa biaya penyusutan peralatan dan bunga modal investasi. a. Biaya penyusutan adalah menyusutnya nilai ekonomi dari peralatan yang digunakan dalam proses produksi. Biaya penyusutan dapat dihitung dengan cara mengurangkan nilai awal masing-masing alat produksi dengan nilai akhir kemudian dibagi dengan umur ekonomisnya yang dinyatakan dalam rupiah (Rp). Penyusutan = Nilai Investasi Awal Nilai Investasi Akhir Umur Ekonomis (Bulan) b. Biaya modal investasi yaitu biaya riil yang dikeluarkan agroindustri untuk memperoleh dana atau modal untuk menjalankan usahanya. Biaya modal investasi dihitung dari perkalian nilai investasi dengan suku bunga riil yang dinyatakan dalam rupiah (Rp). Besarnya bunga modal investasi dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut : (M R)(N 1) R B = Keterangan : B M R N 2N T X i = Bunga modal investasi (Rp) = Nilai investasi awal (Rp) = Nilai investasi akhir (Rp) = Masa ekonomis (bulan) i = Suku bunga riil (%) T = Jumlah bulan dalam setahun (bulan) (Rudianto, 2013:227)
26 5. Biaya variabel adalah biaya yang digunakan dalam proses produksi yang besarnya berubah-ubah secara proporsional terhadap kuantitas output yang dihasilkan. Biaya variabel yang digunakan berupa bahan baku, bahan penolong, tenaga kerja, bahan kemasan, bahan bakar, transportasi, pemasaran yang dinyatakan dalam rupiah (Rp). Biaya variabel dapat dihitung dengan menjumlahkan seluruh biaya yang dikeluarkan dari tiaptiap biaya yang bersangkutan selama proses produksi yang dinyatakan dalam rupiah (Rp). 6. Biaya bahan baku adalah biaya yang dikeluarkan untuk membeli bahan baku yang digunakan untuk menghasilkan suatu produk jadi tertentu. Biaya bahan baku dapat dihitung dengan menjumlahkan biaya untuk membeli bahan baku (belut, tepung beras dan minyak goreng) selama proses produksi yang dinyatakan dalam rupiah (Rp). 7. Biaya bahan penolong adalah biaya yang dikeluarkan untuk membeli bahan-bahan tambahan pembuatan keripik belut berupa bawang putih, ketumbar, garam, bahan bakar, bahan kemasan, penyedap rasa dan label. Biaya bahan penolong dapat dihitung dengan menjumlahkan biaya pengeluaran dari berbagai macam bahan penolong yang dinyatakan dalam rupiah (Rp). 8. Biaya tenaga kerja adalah biaya yang digunakan untuk balas jasa yang dibayarkan kepada pekerja. Tenaga kerja berasal dari tenaga kerja dalam yang diasumsikan mendapatkan upah yang besarnya sama dengan tenaga kerja luar yang dihitung dengan mengalikan waktu kerja dengan upah per hari (Rp/hari). 9. Biaya bahan kemasan adalah biaya yang digunakan untuk membeli plastik kemasan, label dan kardus sebagai salah satu peningkatan nilai tambah dalam bentuk kemasan yang dinyatakan dalam satuan rupiah (Rp). 10. Biaya bahan bakar adalah biaya yang digunakan untuk membeli kayu bakar, minyak tanah dan gas elpiji yang dinyatakan dalam satuan rupiah (Rp).
27 11. Biaya transportasi adalah biaya yang digunakan untuk membeli bahan bakar transportasi yaitu bensin untuk kepentingan pembelian bahan baku dan bahan penolong agroindustri keripik belut yang dinyatakan dalam satuan rupiah (Rp). 12. Biaya pemasaran adalah semua biaya yang timbul pada berbagai saluran pemasaran keripik belut untuk kegiatan pemasaran keripik belut, dinyatakan dalam satuan rupiah per kilogram (Rp/Kg). 13. Biaya listrik adalah seluruh biaya yang digunakan untuk membayar tagihan listrik untuk kepentingan pengolahan keripik belut, dinyatakan dalam satuan rupiah per bulan (Rp/bulan). 14. Biaya total adalah total biaya yang dikeluarkan selama proses produksi. Biaya total dapat dihitung dengan menjumlahkan biaya tetap dan biaya variabel yang dinyatakan dalam rupiah (Rp). 15. Penerimaan adalah seluruh perolehan dari usaha industri selama satu periode diperhitungkan dari hasil penjualan. Penerimaan dapat dihitung dengan mengalikan jumlah seluruh produksi keripik belut yang terjual dengan harga/kg keripik belut yang dinyatakan dalam rupiah (Rp). 16. Keuntungan adalah hasil perolehan bersih dari usaha industri. Keuntungan dihitung dari selisih antara total penerimaan dengan total biaya yang dinyatakan dalam rupiah (Rp). 17. Profitabilitas adalah kemampuan suatu industri untuk menghasilkan laba. Profitabilitas dihitung dengan pembagian antara keuntungan usaha yang diperoleh industri keripik belut dengan total biaya yang dikeluarkan kemudian dikalikan 100%. Kriteria yang diperhitungkan dalam profitabilitas adalah: Profitabilitas > 0 berarti industri yang diusahakan menguntungkan Profitabilitas = 0 berarti industri yang diusahakan mengalami BEP Profitabilitas < 0 berarti industri yang diusahakan tidak menguntungkan (Riyanto, 2001:37). 18. Efisiensi usaha adalah suatu ukuran keberhasilan yang dinilai dari segi besarnya sumber/biaya untuk mencapai hasil dari usaha yang dijalankan.
28 Efisiensi usaha dihitung dengan pembagian antara penerimaan total yang diperoleh dengan biaya total yang dikeluarkan selama proses produksi yang dinyatakan dalam rupiah (Rp). Kriteria yang digunakan dalam penentuan efisiensi usaha adalah : R/C > 1 berarti usaha sudah dijalankan secara efisien. R/C = 1 berarti usaha yang dijalankan dalam kondisi titik impas/ Break Event Point (BEP). R/C < 1 berarti usaha tidak dijalankan secara efisien. (Soekartawi, 2001:70) 19. Analisis nilai tambah merupakan analisis untuk mengetahui nilai balas jasa atas ikut sertanya faktor produksi dalam proses produksi. Nilai tambah berupa peningkatan nilai karena adanya perubahan bentuk dari produk primer (belut) yang melalui proses pengolahan, dengan tambahan faktor-faktor produksi dan menjadi produk baru (keripik belut). Nilai tambah dihitung dari selisih antara nilai produk akhir dengan biaya antara yang dinyatakan dalam rupiah (Rp). 20. Nilai tambah bruto adalah nilai tambah produk dari hasil proses produksi. Nilai tambah bruto dihitung dari selisih antara nilai akhir produk dikurangi dengan biaya antara yang dinyatakan dalam rupiah (Rp). 21. Biaya antara merupakan biaya yang sekali habis digunakan dalam proses produksi. Biaya antara dalam penelitian ini meliputi biaya bahan baku dan biaya bahan penolong sehingga dapat dihitung dengan menjumlahkan pengeluaran tiap-tiap biaya yang bersangkutan yang dinyatakan dalam rupiah (Rp). 22. Nilai tambah netto adalah nilai tambah produk yang dihitung dari selisih antara nilai tambah bruto dikurangi dengan biaya penyusutan yang dinyatakan dalam rupiah (Rp). 23. Nilai tambah per bahan baku adalah nilai tambah bruto untuk setiap kilogram bahan baku yang digunakan. Nilai tambah per bahan baku dihitung dari pembagian antara nilai tambah bruto dengan jumlah bahan baku yang digunakan, dinyatakan dalam rupiah per kilogram (Rp/kg).
29 24. Nilai tambah per tenaga kerja adalah nilai tambah bruto untuk setiap tenaga kerja yang digunakan. Nilai tambah per tenaga kerja dihitung dari pembagian antara nilai tambah bruto dengan jumlah jam kerja yang dinyatakan dalam rupiah per jam kerja orang (Rp/JKO). 25. Saluran pemasaran keripik belut adalah rangkaian lembaga-lembaga pemasaran yang dilalui dalam distribusi keripik belut dari produsen ke konsumen. 26. Lembaga pemasaran adalah badan usaha atau individu yang menyelenggarakan pemasaran, menyalurkan produk atau komoditi dari produsen ke konsumen akhir dan menjalankan fungsi pemasaran. 27. Keuntungan pemasaran adalah keuntungan yang diterima oleh lembaga pemasaran yang dihitung dari harga jual dikurangi dengan harga beli dan biaya pemasaran, dinyatakan dalam rupiah per kilogram (Rp/Kg). 28. Marjin pemasaran adalah jumlah biaya dan keuntungan pada tiap lembaga pemasaran yang dihitung dari selisih antara harga yang dibayar oleh konsumen dengan harga yang diterima produsen dan dinyatakan dalam rupiah (Rp). 29. Pedagang pengecer adalah pedagang yang membeli keripik belut dari produsen, kemudian menjualnya langsung (dalam jumlah kecil) kepada konsumen. 30. Konsumen adalah orang yang membeli keripik belut untuk dikonsumsi.