BAB IV PEMBAHASAN. Analisis Mekanisme Pajak Pertambahan Nilai. Pengusaha Kena Pajak, maka PT. PP (Persero) Tbk mempunyai hak dan

dokumen-dokumen yang mirip
ANALISIS PENERAPAN RESTITUSI PAJAK PERTAMBAHAN NILAI (PPN) PT. PP (PERSERO) TBK

BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN. 1.1 Analisis Mekanisme Pajak Pertambahan Nilai. menyediakan pembuatan alat untuk pembangunan beton di jalan tol.

BAB IV PEMBAHASAN. IV. 1 Analisis Mekanisme Pajak Penghasilan Pasal 22 di PT. KAS

BAB 4. Pembahasan Hasil Penelitian

BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN Evaluasi Terhadap Mekanisme Pajak Pertambahan Nilai. PT. Mejoi merupakan perusahaan distributor yang bergerak dalam

BAB IV PEMBAHASAN. Analisis Perhitungan Pajak Pertambahan Nilai. IV.1.1 Analisis Perolehan Barang Kena Pajak (Pajak Masukan)

BAB IV PEMBAHASAN. Analisis Terhadap Mekanisme Pajak Pertambahan Nilai. PT. HAJ adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang perusahaan dagang

BAB 4 PEMBAHASAN 4.1 Ketentuan Formal Pajak Pertambahan Nilai PT TRT 4.2 Analisis Faktur Pajak

BAB IV PEMBAHASAN. IV.1. Analisis Mekanisme Pajak Pertambahan Nilai. PT. MRC adalah perusahaan swasta yang bergerak di bidang jasa konstruksi.

BAB IV EVALUASI PAJAK PERTAMBAHAN NILAI DI LEMIGAS. IV. 1 Objek Penelitian dan Evaluasi mekanisme PPN di LEMIGAS

BAB IV PEMBAHASAN. bergerak di bidang teknologi Access Management yang dapat memudahkan konsumen

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III PEMBAHASAN. A. Gambaran Obyek Penelitian. 1. Sejarah berdirinya Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama. Karanganyar

BAB IV PEMBAHASAN. Analisis Terhadap Mekanisme Pajak Pertambahan Nilai. hewan) yang telah dikukuhkan menjadi Pengusaha Kena Pajak (PKP) pada

00BAB IV PEMBAHASAN. perusahaan memiliki banyak kesamaan seperti persamaan tarif dan sama-sama

BAB IV PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 72/PMK.03/2010 TENTANG TATA CARA PENGEMBALIAN KELEBIHAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI ATAU PAJAK

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV PEMBAHASAN. Dalam analisa penghitungan dan pelaporan Pajak Pertambahan Nilai, penulis

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR PER - 7/PJ/2011 TENTANG TATA CARA PENGEMBALIAN KELEBIHAN PEMBAYARAN PAJAK DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

BAB IV PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA. oleh pelanggan untuk di jadikan sepatu atau sandal.

BAB IV PEMBAHASAN. dan sesudah perubahan Undang-undang No.42 Tahun 2009, penulis melakukan

BAB IV ANALISIS HASILDAN PEMBAHASAN. 1. Faktor-Faktor yang Menyebabkan PT. Kuei Meng Chain Indonesia

Bab 4 PEMBAHASAN. PT. XYZ merupakan Perusahaan yang bergerak dalam bidang manufaktur

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 187/PMK.03/2015 TENTANG

BAB IV PEMBAHASAN. 4.1 Alur Restitusi PT.KAJ atas PPN Lebih Bayar Bulan Desember 2013

BAB 4 EVALUASI PPH PASAL 22 BENDAHARAWAN PEMERINTAH PADA PPPTMGB LEMIGAS. Mekanisme PPh Pasal 22 Bendaharawan Pemerintah di LEMIGAS

L2

BAB I PENDAHULUAN. Sistem pemungutan pajak yang menjiwai Undang-Undang Perpajakan

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 16/PMK.03/2011 TENTANG TATA CARA PENGHITUNGAN DAN PENGEMBALIAN KELEBIHAN PEMBAYARAN PAJAK

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 76/PMK.03/2010 TENTANG

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. Pajak Pertambahan Nilai-nya sebagai Pengusaha Kena Pajak dengan

PAPER. Dibuat Oleh: Annisa Pradita FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS PAKUAN BOGOR

2011, No.35 2 sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009; c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. kewajiban perpajakannya, khususnya atas Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 16/PMK.03/2011 TENTANG TATA CARA PENGHITUNGAN DAN PENGEMBALIAN KELEBIHAN PEMBAYARAN PAJAK

2015, No MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN MENTER! KEUANGAN TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTER! KEUANGAN NO MOR 16/PMK.03/2011 TENTANG T

BAB IV PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA. di bidang perdagangan eceran khusus untuk pelumas/oli industri.

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR 15 /PJ/2010 TENTANG

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR 15/PJ/2010 TENTANG

EVALUASI PELAKSANAAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI PADA PT REK DI TAHUN PAJAK 2011

BAB 3 GAMBARAN UMUM MEKANISME PERMOHONAN RESTITUSI DI INDONESIA DAN PROFILE PEMOHON RESTITUSI PT Y.I

BAB III PROSES PENGUMPULAN DATA. dan bergerak dalam bidang industri dan distribusi tali kipas (v-belt & fan belt) untuk

BAB IV EVALUASI PAJAK PERTAMBAHAN NILAI PADA PT MPK. IV. 1 Evaluasi Terhadap Mekanisme Tata Laksana Pajak Pertambahan Nilai

Sinta Fitria Aryani, Sudarmo

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, MEMUTUSKAN :

PENGEMBALIAN KELEBIHAN PEMBAYARAN PAJAK

BAB IV ANALISIS PERHITUNGAN DAN PELAPORAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI PADA CV.GRAHA ALFA SAKTI. Evaluasi Terhadap Mekanisme Pajak Pertambahan Nilai

BAB II LANDASAN TEORI. tentang pajak yang dikemukakan oleh para ahli di bidang perpajakan menurut Prof. Dr.

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 226/PMK.03/2013 TENTANG

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

C. PKP Rekanan PKP Rekanan adalah PKP yang melakukan penyerahan BKP dan atau JKP kepada Bendaharawan Pemerintah atau KPKN

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR :... 2) TENTANG PENGEMBALIAN KELEBIHAN PEMBAYARAN PAJAK... 3) KEPADA... 4) DIREKTUR JENDERAL PAJAK

PPN (Rupiah) CV Lubrima Pratama Agust

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2007 TENTANG

Buku Panduan Perpajakan Bendahara Pemerintah BAB VI PAJAK PERTAMBAHAN NILAI (PPN)

BAB IV EVALUASI ATAS PENGHITUNGAN DAN PELAPORAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI PT JMU

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA. dan dry clean. CV. Xpress Clean Bersaudara berdiri pada tahun 1995 dengan akta

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI. Pada Pasal 1 Undang-Undang Nomor 36 tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan,

Evaluasi Pelaksanaan Pajak Pertambahan Nilai di PT IO

..., ) Yth. Kepala Kantor Pelayanan Pajak... 3) Di... 4) Dengan hormat,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB IV PEMBAHASAN. Dalam evaluasi penerapan dan pelaporan Pajak Pertambahan Nilai pada PT

BAB II ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

BAB IV PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA

TENTANG KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR KEP-...(1)...

..., ) Yth. Kepala Kantor Pelayanan Pajak... 3) Di... 4) Dengan hormat,

SURAT PEMBERITAHUAN MASA PAJAK PERTAMBAHAN NILAI (SPT MASA PPN) BAGI PEMUNGUT PPN Bacalah terlebih dahulu Buku Petunjuk Pengisian SPT Masa PPN

Keterangan Bebas (SKB) Pemungutan PPh Pasal 22 Impor. 7 Pelayanan Penyelesaian Permohonan a. KPP Pratama dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) bulan

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Menurut Mardiasmo (2001:118), Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Praktik Kerja Lapangan Mandiri. Keberhasilan suatu bangsa dalam pembangunan nasional sangat ditentukan

1 dari 4 11/07/ :43

Self assessment : WP membayar pajak sesuai UU tidak tergantung SKP

2 Mengingat Tata Cara Penghitungan dan Pemberian Imbalan Bunga; : Peraturan Menteri Keuangan Nomor 226/PMK.03/2013 tentang Tata Cara Penghitungan dan

KATA PENGANTAR DIREKTUR JENDERAL PAJAK

Yth. Kepala Kantor Pelayanan Pajak. 3) Di.. 4)

BAB IV PEMBAHASAN. bergerak dibidang manufaktur yang kegiatan utamanya adalah memproduksi Polyester

SURAT PEMBERITAHUAN MASA PAJAK PERTAMBAHAN NILAI (SPT MASA PPN) BAGI PEMUNGUT PPN

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR - 14/PJ/2010 TENTANG

bahwa Pemohon Banding dan Terbanding melakukan Uji Bukti Dokumen Pendukung Pemohon Banding berupa:

SKEMA KEMUNGKINAN PENGEMBALIAN PAJAK

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 115/PMK.07/2013 TENTANG TATA CARA PEMUNGUTAN DAN PENYETORAN PAJAK ROKOK

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

tempat pembayaran pajak, dan tata cara pembayaran, penyetoran dan pelaporan pajak, serta tata cara pengangsuran dan penundaan pembayaran pajak diatur

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB II LANDASAN TEORI

BAB IV EVALUASI DAN PEMBAHASAN. IV.1 Analisis Surat Permohonan Banding atas Surat Ketetapan Pajak Kurang

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 115 /PMK.07/2013 TENTANG TATA CARA PEMUNGUTAN DAN PENYETORAN PAJAK ROKOK

BAB III PEMBAHASAN TENTANG MEKANISME PENGAJUAN RESTITUSI ATAS KELEBIHAN PEMBAYARAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI (PPN)

Nomor Putusan Pengadilan Pajak. Put-4/PP/M.XIIA/99/2014. Jenis Pajak : Gugatan. Tahun Pajak : 2011

BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN. 4.1 Analisis Atas Prosedur Pajak Pertambahan Nilai. PT. IBH merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang perdagangan

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2007 TENTANG

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10/PMK.03/2013 TENTANG

2015, No dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009, perlu menetapkan P

Transkripsi:

BAB IV PEMBAHASAN IV.1 Analisis Mekanisme Pajak Pertambahan Nilai PT. PP (Persero) Tbk merupakan perusahaan yang bergerak di bidang jasa konstruksi. PT. PP (Persero) Tbk menyediakan berbagai jasa dan solusi kepada kliennya untuk setiap tahapan kegiatan proyek yang dimiliki oleh klien. PT. PP (Persero) Tbk telah dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP) dengan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) 01.001.613.7-051.000 di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Pasar Rebo. Karena telah dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak, maka PT. PP (Persero) Tbk mempunyai hak dan kewajiban dalam perpajakan, salah satunya adalah Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Pajak Pertambahan Nilai merupakan pajak tidak langsung dan bersifat objektif. Pajak Pertambahan Nilai dikenakan terhadap konsumsi barang atau jasa kena pajak yang pada akhirnya Pajak Pertambahan Nilai menjadi beban konsumen akhir yang mengkonsumsi barang atau jasa kena pajak. Secara teori, Pajak Pertambahan Nilai tidak memperhatikan keadaan Wajib Pajak dan dapat dilimpahkan kepada pihak lain. Pengusaha Kena Pajak merupakan subjek Pajak PPN. Setiap Pengusaha Kena Pajak memiliki kewajiban untuk memungut Pajak Pertambahan Nilai. Berdasarkan Pasal 3A ayat (1) Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai, kewajiban Pengusaha Kena Pajak yaitu : 1. Melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak; 2. Memungut Pajak yang terutang dan membuat faktur pajak; 44

3. Menyetorkan pajak yang masih harus dibayar apabila Pajak Keluaran lebih besar daripada Pajak Masukan yang dapat dikreditkan dengan menyelenggarakan pencatatan jumlah perolehan dan jumlah peredaran dan berhak mengkreditkan Pajak Masukan berdasarkan ketentuan yanng berlaku; dan 4. Melaporkan pajak yang terutang dengan mengisi dan menyampaikan Surat Pemberitahuan (SPT) Masa PPN. Siklus pembelian PT. PP (Persero) Tbk terdiri dari arus barang dan arus kas. Arus barang dimulai pada saat PT. PP (Persero) Tbk memesan bahan material atau barang kebutuhan yang dibutuhkan dengan menggunakan Surat Permohonan Pembelian (SPP) dari tiap divisi. Selanjutnya Surat Permohonan Pembelian tersebut akan diubah menjadi Purchase Order (PO) oleh bagian Pembelian. Kemudian bagian Pembelian akan memilih supplier (Perusahaan Penjual) dan memesan bahan material atau kebutuhan. Kemudian Perusahaan Penjual akan mengirimkan bahan material atau barang kebutuhan yang dipesan disertai dengan surat jalan. Pihak Gudang akan menerima bahan material atau barang pesanan yang dikirim dan tanda terima akan diperoleh dari Pihak Gudang. Pihak Gudang akan melakukan pengecekan atas bahan material atau barang pesanan yang dikirimkan telah sesuai atau tidak dengan pemesanan yang dilakukan PT. PP (Persero) Tbk. Kemudian Pihak Gudang akan mengkonfirmasi kepada bagian Akuntansi atas bahan material atau barang pesanan telah dikirim dan sesuai. Selanjutnya bagian Akuntansi akan mencatat pembelian tersebut sebagai hutang apabila dilakukan pembayaran secara kredit. Kemudian supplier atau 45

Perusahaan Penjual akan mengirimkan invoice atau Faktur Pajak. Arus kas timbul dari bukti pembayaran yang dilakukan oleh PT. PP (Persero) Tbk sesuai dengan invoice yang dikirimkan oleh supplier atau Perusahaan Penjual. PT. PP (Persero) Tbk melakukan pembelian bahan material atau barang kebutuhan kepada 2 jenis Perusahaan Penjual yaitu Pengusaha Kena Pajak dan bukan Pengusaha Kena Pajak. Pada saat melakukan pembelian bahan material atau Barang Kena Pajak kepada Pengusaha Kena Pajak, maka PT. PP (Persero) Tbk akan dipungut Pajak Masukan dan meminta Faktur Pajak untuk digunakan mengkreditkan Pajak Masukan. Untuk pembelian yang berasal dari penjual yang bukan Pengusaha Kena Pajak, PT. PP (Persero) Tbk hanya akan mendapat invoice sebagai bukti pembelian dan tidak terdapat Pajak Masukan yang dapat dikreditkan karena tidak terdapat pemungutan Pajak Pertambahan Nilai yang dilakukan oleh bukan Pengusaha Kena Pajak. Siklus penjualan PT. PP (Persero) Tbk adalah terjadi pada saat pembayaran atas jasa konstruksi yang diberikan. Pembayaran atas jasa konstruksi dapat dilakukan sebelum pekerjaan dimulai atau pembayaran atas sebagian penyelesaian pekerjaan jasa konstruksi sesuai dengan tahap atau kemajuan penyelesaian pekerjaan. Pada saat pembayaran diterima oleh PT. PP (Persero) Tbk maka pembayaran tersebut terutang Pajak Pertambahan Nilai yang disebut Pajak Keluaran dan wajib membuat Faktur Pajak yang diberikan kepada pihak ketiga atau rekanan baik baik Pengusaha Kena Pajak ataupun bukan Pengusaha Kena Pajak beserta Bendaharawan Pemerintah. 46

IV.2 Analisis Pajak Masukan Pajak Masukan merupakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang seharusnya dibayar Pengusaha Kena Pajak (PKP) karena perolehan Barang Kena Pajak atau penerimaan Jasa Kena Pajak atau pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud dari luar pabean atau pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar pabean atau impor Barang Kena Pajak. Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai tersebut adalah 10% (sepuluh persen) dari Dasar Pengenaan Pajak di setiap transaksi. Pembelian yang dilakukan PT. PP (Persero) Tbk terkait dengan pelaksanaan jasa konstruksi seperti pembelian bahan material, pembelian bahan baku konstruksi, sewa alat berat konstruksi, peralatan dan perlengkapan kantor. Faktur Pajak dari pembelian yang dilakukan PT. PP (Persero) Tbk sebagai bukti bahwa PT. PP (Persero) Tbk telah membayar Pajak Pertambahan Nilai yang dikenal sebagai Pajak Masukan atau PPN Masukan. Pajak Masukan tersebut dapat dikreditkan oleh PT. PP (Persero) Tbk dalam perhitungan Pajak Pertambahan Nilai yang dilaporkan dengan menggunakan Surat Pemberitahuan (SPT) Masa Pajak Pertambahan Nilai pada setiap akhir Masa Pajak berikutnya. Pembelian yang dilakukan oleh PT. PP (Persero) Tbk menghasilkan Pajak Masukan pada tahun 2007 sebesar Rp 191.936.438.332,-, pada tahun sebesar 2008 Rp 258.221.219.321,-, pada tahun 2009 sebesar Rp 241.437.814.019,-, dan pada tahun 2010 sebesar 241.820.352.804,-. 47

IV.3 Analisis Pajak Keluaran Pajak keluaran merupakan Pajak Pertambahan Nilai yang wajib dipungut Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak, penyerahan Jasa Kena Pajak, ekspor Barang Kena Pajak berwujud, ekspor Barang Kena Pajak tidak berwujud, atau ekspor Jasa Kena Pajak. PT. PP (Persero) Tbk sebagai Pengusaha Kena Pajak wajib memungut Pajak Pertambahan Nilai dari rekanan atau pihak ketiga yang merupakan pemakai jasa konstruksi PT. PP (Persero) Tbk dan wajib membuat Faktur Pajak sebagai bukti bahwa PT. PP (Persero) Tbk telah memungut Pajak Pertambahan Nilai yang disebut sebagai Pajak Keluaran atau PPN Keluaran. Pajak Keluaran tersebut harus disetorkan PT. PP (Persero) Tbk kepada kas negara dengan menggunakan Surat Setoran Pajak dan dilaporkan dengan menggunakan Surat Pemberitahuan (SPT) Masa Pajak Pertambahan Nilai pada setiap akhir Masa Pajak berikutnya. Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut sendiri dari hasil pembayaran jasa kosntruksi oleh PT. PP (Persero) Tbk menghasilkan Pajak Keluaran pada tahun 2007 sebesar Rp 120.521.568.662,-, pada tahun sebesar 2008 Rp 177.144.648.027,-, pada tahun 2009 sebesar Rp 162.683.830.746,-, dan pada tahun 2010 sebesar 189.406.954.755,-. Berikut ini merupakan tabel perincian Pajak Masukan dan Pajak Keluaran PT. PP (Persero) Tbk untuk tahun 2007, 2008, 2009, dan 2010 : 48

Tabel IV.1 Pajak Keluaran dan Pajak Masukan PT. PP (Persero) Tbk Tahun 2007 Bulan PPN Yang Dipungut Sendiri Pajak Masukan DPP PPN Januari 59.283.018.570 5.928.301.857 12.178.634.936 Februari 43.200.119.220 4.320.011.922 11.807.766.566 Maret 58.973.092.510 5.897.309.251 10.334.958.164 April 79.723.055.690 7.972.305.569 9.889.522.687 Mei 115.608.360.190 11.560.836.019 9.309.598.910 Juni 129.384.906.760 12.938.490.663 11.584.972.504 Juli 101.050.280.260 10.105.028.026 14.640.062.856 Agustus 108.495.605.001 10.849.560.500 15.672.720.054 September 116.984.734.960 11.698.473.496 21.638.594.049 Oktober 104.901.866.260 10.490.186.626 15.820.751.411 Nopember 153.108.278.150 15.310.827.815 22.385.499.270 Desember 134.502.369.180 13.450.236.918 36.673.356.925 Total 1.205.215.686.751 120.521.568.662 191.936.438.332 Sumber : Rekapitulasi PPN Tahun 2007 PT. PP (Persero) Tbk Dari tabel IV.1 di atas, dapat dilihat besarnya Pajak Masukan yang dilakukan PT. PP (Persero) Tbk atas pembelian terkait jasa konstruksi dan untuk kantor PT. PP (Persero) Tbk sendiri yaitu sebesar Rp 191.936.438.332,-. Selain itu dapat diketahui besarnya pembayaran Jasa Kena Pajak terkait jasa konstruksi yaitu sebesar Rp 1.205.215.686.751,- yang menjadi Dasar Pengenaan Pajak (DPP). Berikut perhitungan Pajak Pertambahan Nilainya : DPP : Rp 1.205.215.686.751,- Tarif PPN : 10% Pajak Keluaran : Rp 120.521.568.662,- 49

Tabel IV.2 Pajak Keluaran dan Pajak Masukan PT. PP (Persero) Tbk Tahun 2008 Bulan PPN Yang Dipungut Sendiri Pajak Masukan DPP PPN Januari 87.720.317.077 8.772.031.705 21.883.585.226 Februari 73.576.284.210 7.357.628.421 16.210.754.910 Maret 74.543.465.490 7.454.346.549 22.209.461.718 April 157.168.129.130 15.716.812.913 16.645.999.054 Mei 155.735.553.470 15.573.555.347 19.590.986.067 Juni 169.379.349.630 16.937.934.963 19.486.894.424 Juli 191.690.465.801 19.169.046.580 18.341.323.984 Agustus 154.754.184.370 15.475.418.437 22.011.753.102 September 194.884.120.490 19.488.412.049 21.202.717.767 Oktober 104.216.281.901 10.421.628.190 17.993.683.953 Nopember 209.262.520.320 20.926.252.032 29.806.397.470 Desember 198.515.808.426 19.851.580.841 32.837.661.646 Total 1.771.446.480.315 177.144.648.027 258.221.219.321 Sumber : Rekapitulasi PPN Tahun 2007 PT. PP (Persero) Tbk Dari tabel IV.2 di atas, dapat dilihat besarnya Pajak Masukan yang dilakukan PT. PP (Persero) Tbk dari pembelian terkait jasa konstruksi dan untuk kantor PT. PP (Persero) Tbk sendiri sebesar Rp 258.221.219.321,-. Selain itu dapat diketahui besarnya pembayaran Jasa Kena Pajak terkait jasa konstruksi yaitu sebesar Rp 1.771.446.480.315,- yang menjadi Dasar Pengenaan Pajak (DPP). Berikut perhitungan Pajak Pertambahan Nilainya : DPP : Rp 1.771.446.480.315,- Tarif PPN : 10% Pajak Keluaran : Rp 177.144.648.027,- 50

Tabel IV.3 Pajak Keluaran dan Pajak Masukan PT. PP (Persero) Tbk Tahun 2009 Bulan PPN Yang Dipungut Sendiri Pajak Masukan DPP PPN Januari 73.597.222.740 7.359.722.274 20.059.308.238 Februari 126.401.720.290 12.640.172.029 21.135.653.895 Maret 123.624.550.830 12.362.455.083 16.795.794.934 April 106.068.223.530 10.606.822.353 13.403.220.398 Mei 112.427.665.050 11.242.766.505 15.115.345.109 Juni 108.180.576.940 10.818.057.694 15.638.847.613 Juli 140.606.981.870 14.060.698.187 19.586.491.415 Agustus 167.808.098.380 16.780.809.838 22.297.076.820 September 82.545.902.600 8.254.590.260 17.283.323.281 Oktober 157.588.190.770 15.758.819.077 18.163.286.589 Nopember 134.376.575.390 13.437.657.539 26.489.148.588 Desember 293.612.599.119 29.361.259.907 35.470.317.139 Total 1.626.838.307.509 162.683.830.746 241.437.814.019 Sumber : Rekapitulasi PPN Tahun 2007 PT. PP (Persero) Tbk Dari tabel IV.3 di atas, besarnya Pajak Masukan yang dilakukan PT. PP (Persero) Tbk dari pembelian terkait jasa konstruksi dan kantor PT. PP (Persero) Tbk sendiri sebesar Rp 241.437.814.019,-. Selain itu dapat diketahui besarnya pembayaran Jasa Kena Pajak terkait jasa konstruksi yaitu sebesar Rp 1.626.838.307.509,- yang menjadi Dasar Pengenaan Pajak (DPP). Berikut perhitungan Pajak Pertambahan Nilainya : DPP : Rp 1.626.838.307.509,- Tarif PPN : 10% Pajak Keluaran : Rp 162.683.830.746,- 51

Tabel IV.4 Pajak Keluaran dan Pajak Masukan PT. PP (Persero) Tbk Tahun 2010 Bulan PPN Yang Dipungut Sendiri Pajak Masukan DPP PPN Januari 109.573.281.230 10.957.328.123 19.400.931.426 Februari 56.909.850.140 5.690.985.014 16.568.993.466 Maret 87.180.854.340 8.718.085.434 15.648.553.297 April 185.926.561.150 18.592.656.115 15.817.027.295 Mei 118.532.186.570 11.853.218.657 18.514.007.668 Juni 135.201.758.020 13.520.175.802 17.868.838.227 Juli 165.985.999.380 16.598.599.938 20.253.805.409 Agustus 194.227.462.620 19.422.746.262 21.385.986.659 September 144.924.039.750 14.492.403.975 16.637.989.914 Oktober 179.306.209.430 17.930.620.943 20.711.306.391 Nopember 139.525.270.320 13.952.527.032 22.430.709.329 Desember 376.776.074.601 37.677.607.460 36.528.203.723 Total 1.894.069.547.551 189.406.954.755 241.766.352.804 Sumber : Rekapitulasi PPN Tahun 2007 PT. PP (Persero) Tbk Dari tabel IV.4 di atas, besarnya Pajak Masukan yang dilakukan PT. PP (Persero) Tbk dari pembelian terkait jasa konstruksi dan kantor PT. PP (Persero) Tbk sendiri sebesar Rp 241.766.352.804,-. Selain itu dapat diketahui besarnya pembayaran Jasa Kena Pajak terkait jasa konstruksi yaitu sebesar Rp 1.894.069.547.551,- menjadi Dasar Pengenaan Pajak (DPP). Berikut perhitungan Pajak Pertambahan Nilainya : DPP : Rp 1.894.069.547.551,- Tarif PPN : 10% Pajak Keluaran : Rp 189.406.954.755,- 52

IV.4 Analisis Kelebihan Pembayaran Pajak Pertambahan Nilai pada PT. PP (Persero) Tbk Perhitungan besarnya Pajak Pertambahan Nilai lebih bayar atau kurang bayar dapat dihitung berdasarkan data Pajak Keluaran dan Pajak Masukan yang dijabarkan di atas. Apabila Pajak Keluaran lebih besar daripada Pajak Masukan maka Pajak Pertambahan Nilai mengalami Kurang Bayar yang berarti perusahaan berkewajiban untuk membayar kekurangan pembayaran Pajak Pertambahan Nilai yang disetor kepada Kas Negara paling lama sebelum Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai tersebut disampaikan. Dan apabila Pajak Keluaran lebih kecil daripada Pajak Masukan maka Pajak Pertambahan Nilai mengalami Lebih Bayar yang berarti perusahaan memiliki hak atas kelebihan pembayaran pajak. Kelebihan pembayaran pajak tersebut dapat diminta kembali dengan dua cara yaitu : 1. Dengan cara kompensasi di Masa Pajak berikutnya yang berarti kelebihan pembayaran tersebut menjadi kredit pajak masa berikutnya; atau 2. Dengan cara meminta kembali kelebihan pembayaran secara tunai atau restitusi. Restitusi biasanya dilakukan apabila setiap Masa Pajak selalu mengalami kelebihan pembayaran, maka perusahaan pada akhir Tahun Pajak akan melakukan restitusi. Tabel berikut ini menunjukkan perhitungan Pajak Pertambahan Nilai dan besarnya kelebihan pembayaran Pajak Pertambahan Nilai yang dilakukan oleh PT. PP (Persero) Tbk untuk tahun 2007, 2008, 2009, dan 2010 : 53

Tabel IV.5 Lebih Bayar PPN PT. PP (Persero) Tbk Tahun 2007 PPN Yang Kompensasi Kurang Restitusi Bulan Dipungut Sendiri Pajak Masukan Masa Lalu (Lebih) Bayar yang diajukan Januari 5.928.301.857 12.178.634.936 - (6.250.333.079) - Februari 4.320.011.922 11.807.766.566 6.250.333.079 (13.738.087.723) - Maret 5.897.309.251 10.334.958.164 13.738.087.723 (18.175.736.636) - April 7.972.305.569 9.889.522.687 18.175.736.636 (20.092.953.754) - Mei 11.560.836.019 9.309.598.910 20.092.953.754 (17.841.716.645) - Juni 12.938.490.663 11.584.972.504 17.841.716.645 (16.488.198.486) 16.488.198.486 Juli 10.105.028.026 14.640.062.856 - (4.535.034.830) - Agustus 10.849.560.500 15.672.720.054 4.535.034.830 (9.358.194.384) - September 11.698.473.496 21.638.594.049 9.358.194.384 (19.298.314.937) - Oktober 10.490.186.626 15.820.751.411 19.298.314.937 (24.628.879.722) - Nopember 15.310.827.815 22.385.499.270 24.628.879.722 (31.703.551.177) - Desember 13.450.236.918 36.673.356.925 31.703.551.177 (54.926.671.184) - Sumber : Rekapitulasi PPN Tahun 2007 PT. PP (Persero) Tbk Berdasarkan tabel IV.5 di atas, dapat dilihat bahwa setiap bulannya PT. PP (Persero) Tbk mengalami kelebihan pembayaran Pajak Pertambahan Nilai dan setiap bulan melakukan kompensasi. Akan tetapi terdapat 1 (satu) Masa Pajak, PT. PP (Persero) Tbk melakukan restitusi Pajak Pertambahan Nilai. Berikut ini contoh perhitungan Pajak Pertambahan Nilai : 54

Bulan Januari 2007 Kurang (Lebih) Bayar = PPN yang dipungut sendiri Pajak Masukan Kompensasi Masa Lalu = Rp 5.928.301.857,- - Rp 12.178.634.936,- - 0 = (Rp 6.250.333.079,-) Jurnal akuntansi adalah sebagai berikut : Dr. PPN Keluaran Rp 5.928.301.857,- Dr. PPN Lebih Bayar Rp 6.250.333.079,- Cr. PPN Masukan Rp 12.178.634.936,- Jurnal di atas menjelaskan bahwa Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut sendiri oleh PT. PP (Persero) Tbk adalah sebesar Rp 5.928.301.857,- dan Pajak Masukan yang dapat diperhitungkan PT. PP (Persero) Tbk adalah sebesar Rp 12.178.634.936,-. Sehingga terdapat kelebihan pembayaran Pajak Pertambahan Nilai sebesar Rp 6.250.333.079,- yang akan di kompensasi ke Masa Pajak berikutnya atau direstitusi. Pada tahun 2007 PT. PP (Persero) Tbk hanya melakukan restitusi sebanyak 1 (satu) kali. Restitusi tersebut dilakukan pada Masa Pajak Juni 2007 sebesar Rp 16.488.198.486,-. Sehingga pada bulan Juli 2007, kompensasi Masa Pajak Juni 2007 tidak ada atau nol. 55

Tabel IV.6 Lebih Bayar PPN PT. PP (Persero) Tbk Tahun 2008 PPN Yang Kompensasi Kurang Restitusi Bulan Dipungut Sendiri Pajak Masukan Masa Lalu (Lebih) Bayar yang diajukan Januari 8.772.031.705 21.883.585.226 54.926.671.184 (68.038.224.705) 68.038.224.705 Februari 7.357.628.421 16.210.754.910 - (8.853.126.489) - Maret 7.454.346.549 22.209.461.718 8.853.126.489 (23.608.241.658) - April 15.716.812.913 16.645.999.054 23.608.241.658 (24.537.427.799) - Mei 15.573.555.347 19.590.986.067 24.537.427.799 (28.554.858.519) - Juni 16.937.934.963 19.486.894.424 28.554.858.519 (31.103.817.980) - Juli 19.169.046.580 18.341.323.984 31.103.817.980 (30.276.095.384) - Agustus 15.475.418.437 22.011.753.102 30.276.095.384 (36.812.430.049) - September 19.488.412.049 21.202.717.767 36.812.430.049 (38.526.735.767) - Oktober 10.421.628.190 17.993.683.953 38.526.735.767 (46.098.791.530) - Nopember 20.926.252.032 29.806.397.470 46.098.791.530 (54.978.936.968) - Desember 19.851.580.841 32.837.661.646 54.978.936.968 (67.965.017.773) 67.965.017.773 Sumber : Rekapitulasi PPN Tahun 2008 PT. PP (Persero) Tbk Berdasarkan tabel IV.6 di atas, dapat dilihat bahwa setiap bulannya PT. PP (Persero) Tbk mengalami kelebihan pembayaran Pajak Pertambahan Nilai dan setiap bulan melakukan kompensasi. Akan tetapi terdapat 1 (satu) Masa Pajak, PT. PP (Persero) Tbk melakukan restitusi Pajak Pertambahan Nilai. Berikut ini contoh perhitungan Pajak Pertambahan Nilai : 56

Bulan Januari 2008 Kurang (Lebih) Bayar = PPN yang dipungut sendiri Pajak Masukan Kompensasi Masa Lalu = Rp 8.772.031.705,- Rp 21.883.585.226,- - Rp 54.926.671.184,- = (Rp 68.038.224.705,-) Jurnal akuntansi adalah sebagai berikut : Dr. PPN Keluaran Rp 8.772.031.705,- Dr. PPN Lebih Bayar Rp 68.038.224.705,- Cr. PPN Masukan Rp 76.810.256.410,- Jurnal di atas menjelaskan bahwa Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut sendiri oleh PT. PP (Persero) Tbk adalah sebesar Rp 8.772.031.705,- dan Pajak Masukan yang dapat diperhitungkan oleh PT. PP (Persero) Tbk adalah sebesar Rp 76.810.256.410,- sehingga terdapat kelebihan pembayaran Pajak Pertambahan Nilai sebesar Rp 68.038.224.705,- yang akan di kompensasi ke Masa Pajak berikutnya atau direstitusi. Pada tahun 2008 PT. PP (Persero) Tbk hanya melakukan restitusi sebanyak 2 (satu) kali. Restitusi tersebut dilakukan pada Masa Pajak Januari sebesar Rp 68.038.224.705,- dan Masa Pajak Desember 2008 sebesar Rp 67.965.017.773,-. 57

Tabel IV.7 Lebih Bayar PPN PT. PP (Persero) Tbk Tahun 2009 PPN Yang Kompensasi Kurang Restitusi Bulan Dipungut Sendiri Pajak Masukan Masa Lalu (Lebih) Bayar yang diajukan Januari 7.359.722.274 20.059.308.238 - (12.699.585.964) - Februari 12.640.172.029 21.135.653.895 12.699.585.964 (21.195.067.830) - Maret 12.362.455.083 16.795.794.934 21.195.067.830 (25.628.407.681) - April 10.606.822.353 13.403.220.398 25.628.407.681 (28.424.805.726) - Mei 11.242.766.505 15.115.345.109 28.424.805.726 (32.297.384.330) - Juni 10.818.057.694 15.638.847.613 32.297.384.330 (37.118.174.249) - Juli 14.060.698.187 19.586.491.415 37.118.174.249 (42.643.967.477) - Agustus 16.780.809.838 22.297.076.820 42.643.967.477 (48.160.234.459) - September 8.254.590.260 17.283.323.281 48.160.234.459 (57.188.967.480) - Oktober 15.758.819.077 18.163.286.589 57.188.967.480 (59.593.434.992) - Nopember 13.437.657.539 26.489.148.588 59.593.434.992 (72.644.926.041) - Desember 29.361.259.907 35.470.317.139 72.644.926.041 (78.753.983.273) 78.753.983.273 Sumber : Rekapitulasi PPN Tahun 2009 PT. PP (Persero) Tbk Berdasarkan tabel IV.6 di atas, dapat dilihat bahwa setiap bulannya PT. PP (Persero) Tbk mengalami kelebihan pembayaran Pajak Pertambahan Nilai dan setiap bulan melakukan kompensasi. Akan tetapi terdapat 1 (satu) Masa Pajak, PT. PP (Persero) Tbk melakukan restitusi Pajak Pertambahan Nilai. Berikut ini contoh perhitungan Pajak Pertambahan Nilai : 58

Bulan Januari 2009 Kurang (Lebih) Bayar = PPN yang dipungut sendiri Pajak Masukan Kompensasi Masa Lalu = Rp 7.359.722.274,- Rp 20.059.308.238,- - 0 = (Rp 12.699.585.964,-) Jurnal akuntansi adalah sebagai berikut : Dr. PPN Keluaran Rp 7.359.722.274,- Dr. PPN Lebih Bayar Rp 12.699.585.964,- Cr. PPN Masukan Rp 20.059.308.238,- Jurnal di atas menjelaskan bahwa Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut sendiri oleh PT. PP (Persero) Tbk adalah sebesar Rp 7.359.722.274,- dan Pajak Masukan yang dapat diperhitungkan PT. PP (Persero) Tbk adalah sebesar Rp 20.059.308.238,- sehingga terdapat kelebihan pembayaran Pajak Pertambahan Nilai sebesar Rp 12.699.585.964,- yang akan di kompensasi ke Masa Pajak berikutnya atau direstitusi. Pada tahun 2009 PT. PP (Persero) Tbk hanya melakukan restitusi sebanyak 1 (satu) kali. Restitusi tersebut dilakukan pada Masa Pajak Desember 2009 sebesar Rp 78.753.983.273,-. Pada Masa Pajak Januari 2009 tidak terdapat kompensasi Masa Pajak Desember 2008 karena pada Masa Pajak Desember 2008 dilakukan restitusi. 59

Tabel IV.8 Lebih Bayar PPN PT. PP (Persero) Tbk Tahun 2010 PPN Yang Kompensasi Kurang Restitusi Bulan Dipungut Sendiri Pajak Masukan Masa Lalu (Lebih) Bayar yang diajukan Januari 10.957.328.123 19.400.931.426 - (8.443.603.303) - Februari 5.690.985.014 16.568.993.466 8.443.603.303 (19.321.611.755) - Maret 8.718.085.434 15.648.553.297 19.321.611.755 (26.252.079.618) - April 18.592.656.115 15.817.027.295 26.252.079.618 (23.476.450.798) - Mei 11.853.218.657 18.514.007.668 23.476.450.798 (30.137.239.809) - Juni 13.520.175.802 17.868.838.227 30.137.239.809 (34.485.902.234) - Juli 16.598.599.938 20.253.805.409 34.485.902.234 (38.141.107.705) - Agustus 19.422.746.262 21.385.986.659 38.141.107.705 (40.104.348.102) - September 14.492.403.975 16.637.989.914 40.104.348.102 (42.249.934.041) - Oktober 17.930.620.943 20.711.306.391 42.249.934.041 (45.030.619.489) - Nopember 13.952.527.032 22.430.709.329 45.030.619.489 (53.508.801.786) - Desember 37.677.607.460 36.528.203.723 53.508.801.786 (52.359.398.049) 52.359.398.049 Sumber : Rekapitulasi PPN Tahun 2010 PT. PP (Persero) Tbk Berdasarkan tabel IV.6 di atas, dapat dilihat bahwa setiap bulannya PT. PP (Persero) Tbk mengalami kelebihan pembayaran Pajak Pertambahan Nilai dan setiap bulan melakukan kompensasi. Akan tetapi terdapat 1 (satu) Masa Pajak, PT. PP (Persero) Tbk melakukan restitusi Pajak Pertambahan Nilai. Berikut ini contoh perhitungan Pajak Pertambahan Nilai : 60

Bulan Januari 2010 Kurang (Lebih) Bayar = PPN yang dipungut sendiri Pajak Masukan Kompensasi Masa Lalu = Rp 10.957.328.123,- Rp 19.400.931.426,- - 0 = (Rp 8.443.603.303,-) Jurnal akuntansi adalah sebagai berikut : Dr. PPN Keluaran Rp 10.957.328.123,- Dr. PPN Lebih Bayar Rp 8.443.603.303,- Cr. PPN Masukan Rp 19.400.931.426,- Jurnal di atas menjelaskan bahwa Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut sendiri sebesar oleh PT. PP (Persero) Tbk adalah Rp 10.957.328.123,- dan Pajak Masukan yang dapat diperhitungkan PT. PP (Persero) Tbk adalah sebesar Rp 19.400.931.426,- sehingga terdapat kelebihan pembayaran Pajak Pertambahan Nilai sebesar Rp 8.443.603.303,- yang akan di kompensasi ke Masa Pajak berikutnya atau direstitusi. Pada tahun 2010 PT. PP (Persero) Tbk hanya melakukan restitusi sebanyak 1 (satu) kali. Restitusi tersebut dilakukan pada bulan Desember 2010 sebesar Rp 45.030.619.489,-. Pada Masa Pajak Januari 2010 tidak terdapat kompensasi Masa Pajak Desember 2009 karena pada Masa Pajak Desember 2009 dilakukan restitusi. 61

IV.5 Proses Restitusi Pajak Pertambahan Nilai Pada PT. PP (Persero) Tbk PT. PP (Persero) Tbk sering mengalami kelebihan pembayaran Pajak Pertambahan Nilai dikarenakan penyerahan Jasa Kena Pajak banyak dilakukan kepada Pemungut Pajak Pertambahan Nilai seperti Pemerintah yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Selain itu juga berasal dari dana atau bantuan Luar Negeri yang Pajak Pertambahan Nilainya tidak dipungut PT. PP (Persero) Tbk termasuk dalam kategori Pengusaha Kena Pajak dengan Risiko Rendah. Pengusaha Kena Pajak dengan Risiko Rendah adalah Pengusaha Kena Pajak yang memenuhi kriteria Pasal 9 ayat 4C Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai atau Pasal 17C Undang-Undang Ketentuan Umum Perpajakan atau Pasal 17D Undang-Undang Ketentuan Umum Perpajakan. Sehingga PT. PP (Persero) Tbk dapat mengajukan permohonan pengembalian pada setiap Masa Pajak dan dapat melakukan pengembalian pendahuluan dengan proses penyelesaian restitusinya hanya dengan penelitian. PT. PP (Persero) Tbk tidak menggunakan fasilitas perpajakan tersebut. Sehingga PT. PP (Persero) Tbk pada umumnya melakukan pengembalian kelebihan pembayaran atau restitusi Pajak Pertambahan Nilai pada akhir tahun buku dan proses penyelesaiannya menggunakan pemeriksaan pajak. Gambar di bawah ini menunjukkan proses restitusi yang dilakukan oleh PT. PP (Persero) Tbk: 62

Gambar IV.1 Proses Restitusi PT. PP (Persero) Tbk Penerimaan Permohonan Restitusi Setuju? No Keberatan SK Keberatan Yes No Yes Pajak Masukan Pajak Keluaran Kurang Bayar Setor KPP SPT Kompensasi Surat Permohonan Tersendiri Restitusi SPT Pencairan Dana Restitusi Setuju? Lebih Bayar Putusan Pengadilan Banding Pemeriksaan Kena Sanksi / Pengembalian SKLB 63

Proses pengajuan restitusi dilakukan dengan mengisi Surat Pemberitahuan (SPT) Masa Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atau Surat Permohonan tersendiri apabila kolom Dikembalikan (restitusi) dalam Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai tidak diisi atau tidak mencantumkan permohonan pengembalian kelebihan Pajak. PT. PP (Persero) Tbk melakukan pengajuan restitusi dengan mengisi Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai. Permohonan pengembalian kelebihan Pajak ditentukan 1 (satu) permohonan untuk 1 (satu) Masa Pajak. Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai tersebut disampaikan di tempat PT. PP (Persero) Tbk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak yaitu Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Pasar Rebo. Pada Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai lembar induk, PT. PP (Persero) Tbk mengisi kolom dikembalikan (Restitusi). Dalam kasus PT. PP (Persero) Tbk, Perusahaan tidak menggunakan fasilitas perpajakan yang berupa pengembalian pendahuluan kelebihan pajak. Maka pada Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai lembar induk, PT. PP (Persero) Tbk tidak mengisi kolom pada khusus Restitusi untuk PKP. Pengajuan pengembalian kelebihan pembayaran atau restitusi Pajak Pertambahan Nilai dilakukan sesuai dengan penyampaian Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai karena PT. PP (Persero) Tbk mengajukan restitusi dengan menggunakan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai. Pada saat pengajuan pengembalian kelebihan pembayaran atau restitusi Pajak 64

Pertambahan Nilai Wajib Pajak belum menyertakan dokumen dan bukti-bukti yang diperlukan dan itu berlaku juga untuk PT. PP (Persero) Tbk. Jangka waktu penerimaan permohonan restitusi PT. PP (Persero) Tbk ± 1 (satu) -2 (dua) bulan. Apabila pengajuan sudah diterima oleh Kantor Pelayanan Pajak Pratama Pasar Rebo, maka Kantor Pelayanan Pajak Pratama Pasar Rebo akan mengeluarkan Surat Perintah Pemeriksaan Pajak (SP3) serta surat permintaan kelengkapan dokumen dan bukti-bukti. Kelengkapan dokumen dan bukti-buti tersebut wajib diserahkan kepada Pemeriksa Pajak paling lama 1 (satu) bulan sejak surat permintaan peminjaman buku, catatan, dan dokumen disampaikan kepada PT. PP (Persero) Tbk. Kantor Pelayanan Pajak Pratama Pasar Rebo melakukan pemeriksaan kantor dan lapangan. Pemeriksaan kantor dilakukan di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Pasar Rebo berdasarkan Surat Pemberitahuan (SPT) Masa Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penghasilan yang dilaporkan PT. PP (Persero) Tbk sendiri. Pemeriksaan lapangan dilakukan langsung di kantor PT. PP (Persero) Tbk. PT. PP (Persero) Tbk biasanya menyediakan tempat untuk Pemeriksa Pajak untuk memeriksa data-data, bukti-bukti, dan dokumen-dokumen yang diperlukan dalam pemeriksaan. Apabila diperlukan Pemeriksa Pajak dapat melakukan konfirmasi kepada pihak ketiga atau rekanan yang berhubungan dengan PT. PP (Persero) Tbk untuk pembuktian kebenaran data dalam Surat Pemberitahuan. Direktur Jenderal Pajak setelah melakukan pemeriksaan atas permohonan restitusi harus menerbitkan Surat Ketetapan Pajak paling lama 12 (dua belas) bulan sejak permohonan restitusi diterima secara lengkap. Apabila setelah melampaui jangka waktu 12 (dua belas) bulan Direktur Jendral Pajak tidak 65

memberikan keputusan, permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak dianggap dikabulkan dan Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB) harus diterbitkan paling lama 1 (satu) bulan setelah jangka waktu tersebut berakhir. Setelah Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB) diterbitkan PT. PP (Persero) Tbk dapat membahas hasil Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB) dengan Fiskus atau Pemeriksa Pajak dalam Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan yang apabila PT. PP (Persero) Tbk terdapat perbedaan dengan Pemeriksa Pajak dapat membahas dengan Tim Pembahas. Dalam Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan PT. PP (Persero) Tbk menandatangani Berita Acara Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan baik menyetujui maupun tidak menyetujui. Apabila PT. PP (Persero) Tbk tidak menyetujui hasil Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar tersebut, maka PT. PP (Persero) Tbk dapat mengajukan keberatan atas 1 (satu) Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar kepada Direktorat Jenderal Pajak paling lambat 3 (tiga) bulan sejak Surat Ketetapan Pajak dikirim. Pengajuan keberatan akan menghasilkan Surat Keputusan Keberatan. Jika PT. PP (Persero) Tbk masih tidak menyetujui hasil Surat Keputusan Keberatan dapat mengajukan banding atas 1 (satu) Surat Keputusan Keberatan kepada Pengadilan Pajak paling lambat 3 (tiga) bulan sejak Surat Keputusan Keberatan diterima. Pengajuan banding akan menghasilkan Putusan Pengadilan. Jika PT. PP (Persero) Tbk menyetujui hasil dari Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB) maka Kantor Pelayanan Pajak Pratama Pasar Rebo akan memproses pencairan dana restitusi tersebut. Kelebihan pembayaran pajak harus diperhitungkan terlebih dahulu dengan Utang Pajak yang diadministrasikan di 66

Kantor Pelayanan Pajak Pratama Pasar Rebo yang kemudian apabila terdapat sisa kelebihan pembayaran Pajak Pertambahan Nilai setelah dikompensasikan dengan Utang Pajak maka akan dikembalikan kepada PT. PP (Persero) Tbk. Kepala Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Pasar Rebo akan menerbitkan Surat Keputusan Pengembalian Kelebihan Pembayaran Pajak (SKPKPP) yang kemudian atas nama Menteri Keuangan menerbitkan Surat Perintah Membayar Kelebihan Pajak (SPMKP) yang pada umumnya ± 1 (satu) bulan dari tanggal Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB) kepada Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN). Kantor Pelayanan Perbendaharaan akan mengecek terdapat atau tidak Utang Pajak yang harus dibayar PT. PP (Persero) Tbk. Apabila terdapat Utang Pajak maka Kantor Pelayanan Perbendaharaan akan menyetorkan Utang Pajak tersebut kepada Kas Negara yang kemudian mengkonfirmasi kepada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Pasar Rebo atas Kompensasi Utang Pajak. Selanjutnya Kantor Pelayanan Pajak Pratama Pasar Rebo akan menerbitkan Surat Setoran Pajak (SSP). Sisa kelebihan pembayaran pajak yang telah dikurangkan dari Utang Pajak tersebut oleh kepala Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara atas nama Menteri Keuangan menerbitkan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D). Pencairan dana hasil restitusi akan ditransfer Bank Operasional mitra kerja Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) kepada rekening PT. PP (Persero) Tbk. Tabel berikut ini merupakan SKPLB yang diterbitkan DJP yang menunjukkan perhitungan hasil restitusi yang diterima berdasarkan PT. PP (Persero) Tbk dan Pemeriksa Pajak beserta permohonan restitusi yang telah 67

diselesaikan maupun yang sedang dalam proses untuk Masa Pajak Juni 2007, Januari 2008, Desember 2008, dan Desember 2009 : Tabel IV.9 Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar Juni 2007 No Uraian WP Fiskus 1 Ekspor - - 2 Penyerahan PPN-nya harus dipungut sendiri 129.384.906.760 129.384.906.760 3 Penyerahan PPN-nya dipungut Pemungut PPN 119.304.796.255 4.119.304.796.252 4 Penyerahan yang PPN-nya tidak dipungut - - 5 Penyerahan yang dibebaskan dari PPN - - 6 Jumlah Seluruh Penyerahan/Pajak Keluaran 248.689.703.015 4.248.689.703.012 7 PPN yang harus dipungut/dibayar sendiri 12.938.490.663 12.938.490.663 8 Pajak Masukan yang dapat diperhitungkan 29.426.689.149 29.329.643.040 9 PPN Lebih Bayar 16.488.198.486 16.391.152.377 10 Hasil Restitusi yang diterima 16.488.198.486 16.391.152.377 Sumber : Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar PT. PP (Persero) Tbk Berdasarkan tabel IV.9 di atas, Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar untuk Masa Pajak Juni 2007 baru diterbitkan pada tanggal 24 November 2008 oleh Direktur Jendral Pajak dengan Nomor 00070/407/07/051/08. Menurut perhitungan PT. PP (Persero) Tbk, Pajak Pertambahan Nilai Lebih Bayar adalah sebesar Rp 16.488.198.486,-. Sedangkan perhitungan Fiskus, Pajak Pertambahan Nilai Lebih Bayar adalah sebesar Rp 16.391.152.377,. 68

Perbedaan antara Fiskus dan PT PP (Persero) Tbk akan menjadi pertimbangan selanjutnya oleh PT PP (Persero) Tbk. Hasil restitusi yang dapat diterima PT PP (Persero) Tbk setelah dilakukan pemeriksaan yaitu sebesar Rp 16.391.152.377,-. Tabel IV.10 Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar Januari 2008 No Uraian WP Fiskus 1 Ekspor - - 2 Penyerahan PPN-nya harus dipungut sendiri 87.720.317.077 87.720.317.077 3 Penyerahan PPN-nya dipungut Pemungut PPN 5.948.635.818 5.948.635.818 4 Penyerahan yang PPN-nya tidak dipungut 117.727.163.429 117.727.163.429 5 Penyerahan yang dibebaskan dari PPN - - 6 Jumlah Seluruh Penyerahan/Pajak Keluaran 211.396.116.324 211.396.116.324 7 PPN yang harus dipungut/dibayar sendiri 8.772.031.705 8.772.031.705 8 Pajak Masukan yang dapat diperhitungkan 76.810.256.410 74.889.373.428 9 PPN Lebih Bayar 68.038.224.705 66.117.341.723 10 Hasil Restitusi yang diterima 68.038.224.705 66.117.341.723 Sumber : Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar PT. PP (Persero) Tbk Berdasarkan tabel IV.10 di atas, Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar untuk Masa Pajak Januari 2008 baru diterbitkan pada tanggal 05 Juni 2009 oleh Direktur Jendral Pajak dengan Nomor 00044/407/08/051/09. Menurut perhitungan PT. PP (Persero) Tbk, Pajak Pertambahan Nilai Lebih Bayar adalah sebesar Rp 68.038.224.705,-. Sedangkan perhitungan Fiskus, 69

Pajak Pertambahan Nilai Lebih Bayar adalah sebesar Rp 66.117.341.723,-. Perbedaan antara Fiskus dan PT PP (Persero) Tbk akan menjadi pertimbangan selanjutnya oleh PT PP (Persero) Tbk. Hasil restitusi yang dapat diterima PT. PP (Persero) Tbk setelah dilakukan pemeriksaan yaitu sebesar Rp 66.117.341.723,-. Tabel IV.11 Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar Desember 2008 No Uraian WP Fiskus 1 Ekspor - - 2 Penyerahan PPN-nya harus dipungut sendiri 198.515.808.426 198.515.808.426 3 Penyerahan PPN-nya dipungut Pemungut PPN 578.573.039.115 578.573.039.115 4 Penyerahan yang PPN-nya tidak dipungut 19.500.165.695 19.500.165.695 5 Penyerahan yang dibebaskan dari PPN - - 6 Jumlah Seluruh Penyerahan/Pajak Keluaran 796.589.013.236 796.589.013.236 7 PPN yang harus dipungut/dibayar sendiri 19.851.580.841 19.851.580.841 8 Pajak Masukan yang dapat diperhitungkan 87.816.598.614 87.277.152.353 9 PPN Lebih Bayar 67.965.017.773 67.425.571.512 10 Hasil Restitusi yang diterima 67.965.017.773 67.425.571.512 Sumber : Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar PT. PP (Persero) Tbk Berdasarkan tabel IV.11 di atas, Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar untuk Masa Pajak Desember 2008 baru diterbitkan pada tanggal 13 Januari 2010 oleh Direktur Jendral Pajak dengan Nomor 00066/407/08/051/10. 70

Menurut perhitungan PT. PP (Persero) Tbk, Pajak Pertambahan Nilai Lebih Bayar adalah sebesar Rp 67.965.017.773,-. Sedangkan perhitungan Fiskus, Pajak Pertambahan Nilai Lebih Bayar adalah sebesar Rp 67.425.571.512,-. Perbedaan antara Fiskus dan PT PP (Persero) Tbk akan menjadi pertimbangan selanjutnya oleh PT PP (Persero) Tbk. Hasil restitusi yang dapat diterima PT. PP (Persero) Tbk setelah dilakukan pemeriksaan yaitu sebesar Rp 67.425.571.512,-. Tabel IV.12 Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar Desember 2009 No Uraian WP Fiskus 1 Ekspor - - 2 Penyerahan PPN-nya harus dipungut sendiri 293.612.599.119 293.612.599.119 3 Penyerahan PPN-nya dipungut Pemungut PPN 454.294.649.727 454.294.649.727 4 Penyerahan yang PPN-nya tidak dipungut 94.472.829.235 94.472.829.235 5 Penyerahan yang dibebaskan dari PPN - - 6 Jumlah Seluruh Penyerahan/Pajak Keluaran 842.380.078.081 842.380.078.081 7 PPN yang harus dipungut/dibayar sendiri 29.361.259.907 29.361.259.907 8 Pajak Masukan yang dapat diperhitungkan 108.115.243.180 107.813.432.706 9 PPN Lebih Bayar 78.753.983.273 78.452.172.799 10 Hasil Restitusi yang diterima 78.753.983.273 78.452.172.799 Sumber : Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar PT. PP (Persero) Tbk 71

Berdasarkan tabel IV.12 di atas, Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar untuk Masa Pajak Desember 2009 baru diterbitkan pada tanggal 02 Desember 2011 oleh Direktur Jendral Pajak dengan Nomor 00102/407/09/051/11. Menurut perhitungan PT. PP (Persero) Tbk, Pajak Pertambahan Nilai Lebih Bayar adalah sebesar Rp 78.753.983.273,. Sedangkan berdasarkan perhitungan Fiskus, Pajak Pajak Pertambahan Nilai Lebih Bayar adalah sebesar Rp 78.452.172.799,-. Perbedaan antara Fiskus dan PT PP (Persero) Tbk akan menjadi pertimbangan selanjutnya oleh PT PP (Persero) Tbk. Hasil restitusi yang dapat diterima PT. PP (Persero) Tbk setelah dilakukan pemeriksaan yaitu sebesar Rp 78.452.172.799,-. Masa Pajak Desember 2010 Permohonan restitusi untuk Masa Pajak Desember 2010 sedang dalam proses pemeriksaan pajak. Direktur Jendral Pajak belum menerbitkan Surat Keputusan dari permohonan restitusi yang diajukan PT. PP (Persero) Tbk. Sehingga Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar atas Masa Pajak Desember 2010 belum diterbitkan Direktur Jendral Pajak untuk PT. PP (Persero) Tbk. Akan tetapi berdasarkan perhitungan Pajak Pertambahan Nilai PT. PP (Persero) Tbk, hasil restitusi yang dapat diterima adalah sebesar Rp 52.413.398.049,- apabila tidak terdapat perbedaan antara PT. PP (Persero) Tbk dengan Fiskus. 72

Tabel IV.13 Permohonan Restitusi Selesai atau Dalam Proses No SPT Masa PPN SKPLB Restitusi Yang Didapat Selesai / Dalam Proses 1 Juni Tahun 2007 SKPLB No.00070/407/07/051/08 16.391.152.377 Selesai 2 Januari Tahun 2008 SKPLB No.00044/407/07/051/09 66.117.341.723 Selesai 3 Desember Tahun 2008 SKPLB No.00066/407/07/051/10 67.425.571.512 Selesai 4 Desember Tahun 2009 SKPLB No.00600/207/09/051/11 SKPKB No.00600/207/09/051/11 SKPKB No.00601/207/09/051/11 78.753.983.273 (1.337.305.714) (340.484.848) Selesai STPPPN No.00236/107/09/05/11 Restitusi yang didapat (24.750.000) 76.749.632.237 5 Desember Tahun 2010 - - Dalam Proses Sumber : Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar PT PP (Persero) Tbk Berdasarkan tabel IV.13 di atas, dapat dilihat permohonan restitusi untuk Masa Pajak Juni Tahun 2007, Masa Pajak Januari 2008, Masa Pajak Desember 2008, dan Masa Pajak Desember 2009 telah diselesaikan dan telah dilakukan pengembalian kelebihan pembayaran Pajak Pertambahan Nilai oleh Kepala Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) kepada PT. PP (Persero) Tbk melalui rekening PT. PP (Persero) Tbk. Sedangkan untuk Masa Pajak Desember 2010 sedang dalam proses sehingga Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar belum diterbitkan. Pencairan dana restitusi dikurangi terlebih dahulu dengan Utang Pajak yang terdaftar di Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN). Sisa dari pengurangan Utang Pajak tersebut barulah ditransfer kepada PT. PP (Persero) Tbk. 73

Jurnal akuntasi sebagai berikut : Masa Pajak Juni Tahun 2007 Dr.Kas/Bank Rp 16.391.152.377,- Cr.Uang Muka Pajak Rp 16.391.152.377,- Jurnal di atas menjelaskan bahwa pencairan dana restitusi Pajak Pertambahan Nilai atas pengajuan restitusi yang dilakukan PT. PP (Persero) Tbk untuk Masa Pajak Juni Tahun 2007 sebesar Rp 16.391.152.377,- telah diterima oleh PT. PP (Persero) Tbk ari Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) dan tidak terdapat Utang Pajak PT. PP (Persero) Tbk di KPPN. Masa Pajak Januari 2008 Dr.Kas/Bank Rp 66.117.341.723,- Cr. Uang Muka Pajak Rp 66.117.341.723,- Jurnal di atas menjelaskan bahwa pencairan dana restitusi Pajak Pertambahan Nilai atas pengajuan restitusi yang dilakukan PT. PP (Persero) Tbk untuk Masa Pajak Januari 2008 sebesar Rp 66.117.341.723,- telah diterima oleh PT. PP (Persero) Tbk dari Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) dan tidak terdapat Utang Pajak PT. PP (Persero) Tbk di KPPN. Masa Pajak Desember 2008 Dr,Kas/Bank Rp 67.425.571.512,- Cr. Uang Muka Pajak Rp 67.425.571.512,- Jurnal di atas menjelaskan bahwa pencairan dana restitusi Pajak Pertambahan Nilai atas pengajuan restitusi yang dilakukan PT. PP (Persero) Tbk 74

untuk Masa Pajak Desember 2008 sebesar Rp 67.425.571.512,- telah diterima oleh PT. PP (Persero) Tbk dari Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) dan tidak terdapat Utang Pajak PT. PP (Persero) Tbk di KPPN. Masa Pajak Desember 2009 Dr.Kas/Bank Rp 76.749.632.237,- Cr. Uang Muka Pajak Rp 76.749.632.237,- Jurnal di atas menjelaskan bahwa : Restitusi = Hasil Surat Ketetapan Lebih Bayar (SKPLB) Utang Pajak = Rp 78.753.983.273,- Rp 1.337.305.714,- Rp 340.484.848,- Rp 24.750.000,- = Rp 76.749.632.237,- Pencairan dana restitusi Pajak Pertambahan Nilai atas pengajuan restitusi yang dilakukan PT. PP (Persero) Tbk untuk Masa Pajak Juni Januari 200 Desember 2009 sebesar Rp 76.749.632.237,- telah diterima oleh PT Pembangunan Perumahan (Persero) dari Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN). IV.6 Permasalah Restitusi PT. PP (Persero) Tbk PT. PP (Persero) Tbk termasuk dalam kategori Pengusaha Kena Pajak beresiko rendah. Pengusaha Kena Pajak dengan Risiko Rendah adalah Pengusaha Kena Pajak yang memenuhi kriteria Pasal 9 ayat 4C Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai atau Pasal 17C Undang-Undang Ketentuan Umum Perpajakan atau Pasal 17D Undang-Undang Ketentuan Umum Perpajakan. 75

PT. PP (Persero) Tbk melakukan Jasa Kena Pajak kepada Pemungut Pajak Pertambahan Nilai dan dapat digolongkan sebagai Wajib Pajak Patuh. PT. PP (Persero) Tbk melakukan restitusi Pajak Pertambahan Nilai pada akhir tahun buku serta proses penyelesaiannya melalui pemeriksaan pajak. Perhitungan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan proses restitusi yang dilakukan PT. PP (Persero) Tbk dari Tahun 2007 sampai dengan Tahun 2010 telah memenuhi peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku. PT. PP (Persero) Tbk dalam setiap bulannya mengalami Lebih Bayar pada Pajak Pertambahan Nilai. Sehingga PT. PP (Persero) Tbk melakukan kompensasi pada setiap bulan dan pada akhir tahun PT. PP (Persero) Tbk melakukan restitusi. Pada Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar terdapat perbedaan antara PT. PP (Persero) Tbk dengan Pemeriksa Pajak. Perbedaan tersebut pada Pajak Masukan yang dapat diperhitungkan. Berdasarkan pembahasan yang diuraikan sebelumnya dalam melakukan restitusi PT. PP (Persero) Tbk. Terdapat permasalahan dari restitusi yang dihadapi PT. PP (Persero) Tbk yaitu : 1. Rekanan atau pihak ketiga belum melakukan konfirmasi atau melaporkan keterangan atau bukti yang berkaitan dengan Pajak Pertambahan Nilai PT. PP (Persero) Tbk kepada Kantor Pelayanan Pajak (KPP) pada saat dilakukan pemeriksaan pajak sehingga terjadi perbedaan dalam Pajak Masukan dan Pajak Keluaran PT. PP (Persero) Tbk. Berdasarkan Pasal 12 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 199/PMK.03/2007 berbunyi demikian, Pemeriksa Pajak memiliki wewenang 76

untuk meminta keterangan dan/atau bukti yang diperlukan dari pihak ketiga yang mempunyai hubungan dengan Wajib Pajak yang diperiksa melalui kepala unit pelaksana Pemeriksaan. Pajak Masukan yang dapat diperhitungkan dihitung (YDD) berdasarkan : Pajak Masukan YDD = Pajak Masukan + kompensasi Masa Lalu. PT. PP (Persero) Tbk memperoleh Faktur Pajak yang merupakan dokumen pendukung Pajak Pertambahan Nilai dari rekanan atau pihak ketiga. Rekanan atau pihak ketiga mencatat sebagai Pajak Keluaran yang akan dikonfirmasi melalui Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai. Apabila rekanan atau pihak ketiga belum mengkonfirmasi Pajak Keluaran ke dalam Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai, maka akan terjadi perbedaan pada saat Pemeriksa Pajak meminta konfirmasi kepada rekanan atau pihak ketiga dalam pemeriksaan. Dalam menanggani permasalahan ini, PT. PP (Persero) Tbk dapat menyediakan keterangan atau bukti terkait dengan siklus pembelian PT. PP (Persero) Tbk. Keterangan atau bukti yang berkenaan dengan arus barang dan arus kas seperti Surat Permohonan Pembelian (SSP), Purchase Order (PO), Tanda Terima Barang, Kontrak, Bukti Pembayaran, dan Faktur Pajak yang berkaitan dengan transaksi Pajak Pertambahan Nilai tersebut. Keterangan atau bukti tersebut dapat diperlihatkan kepada Pemeriksa Pajak pada saat Pemeriksaaan Pajak atau pada saat Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan. 2. Kantor Pelayanan Pajak (KPP) belum menjawab keterangan atau bukti yang telah diberikan rekanan atau pihak ketiga dalam hal pemeriksaan pajak PT. PP (Persero) Tbk. 77

Dalam Pemeriksaan Pajak, Fiskus memeriksa kebenaran Pajak Masukan dan Pajak Keluaran. Oleh karena itu, Fiskus memerlukan keterangan atau bukti dari antar Kantor Pelayanan Pajak untuk kebenaran Pajak Masukan dan Pajak Keluaran yang terjadi pada PT. PP (Persero) Tbk. Kantor Pelayanan Pajak kadang belum menjawab keterangan yang diminta oleh Fiskus tersebut. Sehingga terjadi perbedaan perhitungan dalam Pajak Masukan dan Pajak Keluaran PT. PP (Persero) Tbk dengan Fiskus atau Pemeriksa Pajak. Dalam menanggani permasalahan ini, PT. PP (Persero) Tbk dapat menyediakan Surat Pemberitahuan (SPT) Rekanan atau pihak ketiga yang berhubungan dengan Pajak Pertambahan Nilai untuk membuktikan Pajak Masukan dan Pajak Keluaran PT. PP (Persero) Tbk kepada Pemeriksa Pajak pada saat Pemeriksaan Pajak atau pada saat Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan. 3. Pada saat di lapangan, ada beberapa karyawan PT. PP (Persero) Tbk tidak berhati-hati dalam hal kapan rekanan atau pihak ketiga menjadi Pengusaha Kena Pajak. Sehingga pada saat dilakukan pemeriksaan, Fiskus menemukan bahwa rekanan atau pihak ketiga belum menjadi Pengusaha Kena Pajak pada saat dilakukan transkasi tersebut. Berdasarkan Pasal Pasal 3A ayat (1) Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai, kewajiban Pengusaha Kena Pajak yaitu : a. Melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak; b. Memungut Pajak yang terutang dan membuat faktur pajak; 78

c. Menyetorkan pajak yang masih harus dibayar apabila Pajak Keluaran lebih besar daripada Pajak Masukan yang dapat dikreditkan dengan menyelenggarakan pencatatan jumlah perolehan dan jumlah peredaran dan berhak mengkreditkan Pajak Masukan berdasarkan ketentuan yanng berlaku; dan d. Melaporkan pajak yang terutang dengan mengisi dan menyampaikan Surat Pemberitahuan (SPT) Masa PPN. Apabila rekanan atau pihak ketiga belum menjadi Pengusaha Kena Pajak maka rekanan atau pihak ketiga tidak memiliki kewajiban memungut Pajak Pertambahan Nilai. Sehingga terjadi perbedaan perhitungan dalam Pajak Masukan dan Pajak Keluaran, khususnya pada Pajak Masukan PT. PP (Persero) Tbk. Dalam menanggani permasalahan ini PT. PP (Persero) Tbk dapat memberikan pelatihan berkenaan dengan Pajak Pertambahan Nilai kepada para karyawan khususnya yang berada di lapangan. Pelatihan tersebut diberikan bertujuan karyawan lebih berhati-hati untuk tidak mengulangi kekeliruan pengenaan atau pemungutan Pajak Pertambahan Nilai yang dapat mengakibatkan kerugian bagi PT. PP (Persero) Tbk. Selain solusi yang diberikan di atas berdasarkan permasalahan restitusi yang terjadi di PT. PP (Persero) Tbk. PT. PP (Persero) Tbk juga dapat melakukan keberatan atau banding apabila tidak menyetujui hasil Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB). Dengan dasar perhitungan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Lebih Bayar yang dilakukan PT. PP (Persero) Tbk sudah benar dan sesuai dengan keterangan atau bukti yang lengkap. 79