WORKING PAPER PKSPL-IPB

dokumen-dokumen yang mirip
WORKING PAPER PKSPL-IPB

STUDI KERENTANAN EKOSISTEM TERUMBU KARANG BERDASARKAN PEMODELAN TRANSPORTASI SEDIMEN DI TELUK BUNGUS, SUMATERA BARAT

3. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April Oktober 2011 meliputi

Analisis Pola Sirkulasi Arus di Perairan Pantai Sungai Duri Kabupaten Bengkayang Kalimantan Barat Suandi a, Muh. Ishak Jumarang a *, Apriansyah b

SIMULASI SEBARAN PANAS DI PERAIRAN TELUK MENGGRIS, LOKASI TAPAK PLTN BANGKA BARAT

WORKING PAPER PKSPL-IPB

Pemodelan Pola Arus di Perairan Pesisir Banyuasin, Sumatera Selatan

BAB 6 MODEL TRANSPOR SEDIMEN DUA DIMENSI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Untuk mengkaji perilaku sedimentasi di lokasi studi, maka dilakukanlah pemodelan

KONDISI OSEANOGRAFI DI SELAT MATAK KABUPATEN KEPULAUAN ANAMBAS MELALUI MODEL HIDRODINAMIKA

PERMODELAN SEBARAN SUHU, SEDIMEN, TSS DAN LOGAM

Simulasi Pola Arus Dua Dimensi Di Perairan Teluk Pelabuhan Ratu Pada Bulan September 2004

Pola Sirkulasi Arus Dan Salinitas Perairan Estuari Sungai Kapuas Kalimantan Barat

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

MODEL SEDERHANA 2-DIMENSI ARAH PERGERAKAN SEDIMEN DI SUNGAI PORONG JAWA TIMUR SIMPLE MODEL OF TWO DIMENSIONAL SEDIMENT MOVEMENT IN PORONG RIVER

Analisis Pengaruh Pola Arus dan Laju Sedimentasi Terhadap Perubahan

2. TINJAUAN PUSTAKA. utara. Kawasan pesisir sepanjang perairan Pemaron merupakan kawasan pantai

3. METODOLOGI PENELITIAN

Created by : Firman Dwi Setiawan Approved by : Ir. Suntoyo, M.Eng., Ph.D Ir. Sujantoko, M.T.

Simulasi Model Gelombang Pasang Surut dengan Metode Beda Hingga

BAB III LANDASAN TEORI

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

(a). Vektor kecepatan arus pada saat pasang, time-step 95.

BAB IV SIMULASI MODEL TUMPAHAN MINYAK (MoTuM) RISK ANALYSIS FLOWCHART Bagan Alir Analisis Resiko

Simulasi Arus dan Distribusi Sedimen secara 3 Dimensi di Pantai Selatan Jawa

Bab III Metodologi Penelitian

POLA ARUS DAN TRANSPOR SEDIMEN PADA KASUS PEMBENTUKAN TANAH TIMBUL PULAU PUTERI KABUPATEN KARAWANG

NASKAH SEMINAR TUGAS AKHIR SIMULASI 2-DIMENSI TRANSPOR SEDIMEN DI SUNGAI MESUJI PROVINSI LAMPUNG

BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 : Definisi visual dari penampang pantai (Sumber : SPM volume 1, 1984) I-1

Definisi Arus. Pergerakkan horizontal massa air. Penyebab

ANALISA ANGKUTAN SEDIMEN DI SUNGAI JAWI KECAMATAN SUNGAI KAKAP KABUPATEN KUBU RAYA

ANALISIS TRANSPORT SEDIMEN DI MUARA SUNGAI SERUT KOTA BENGKULU ANALYSIS OF SEDIMENT TRANSPORT AT SERUT ESTUARY IN BENGKULU CITY

2. TINJAUAN PUSTAKA. Letak geografis Perairan Teluk Bone berbatasan dengan Provinsi Sulawesi

Mubarak., Edison., Fitria, S R 2014:8 (1)

Analisa Perubahan Kualitas Air Akibat Pembuangan Lumpur Sidoarjo Pada Muara Kali Porong

Simulasi Arus dan Distribusi Sedimen secara 3 Dimensi di Pantai Selatan Jawa

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pemodelan Hidrodinamika Arus dan Pasut Di Muara Gembong

ANALISIS KELAYAKAN LAHAN PERUNTUKAN PEMBANGUNAN DERMAGA PLTU DI PERAIRAN DESA SUKADANA KECAMATAN BAYAN LOMBOK UTARA

SEDIMENTASI AKIBAT PEMBANGUNAN SHEET PILE BREAKWATER TELUK BINTUNI, PAPUA BARAT

SEBARAN KONSENTRASI SEDIMEN TERSUSPENSI DI PERAIRAN LARANGAN, KABUPATEN TEGAL MENGGUNAKAN MODEL MATEMATIK 2 DIMENSI SED2D

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Pemodelan Perubahan Morfologi Pantai Akibat Pengaruh Submerged Breakwater Berjenjang

Jurusan Teknik Kelautan - FTK

III METODE PENELITIAN

IDENTIFIKASI FENOMENA BANJIR ROB JAKARTA UTARA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL HIDRODINAMIKA

MODUL 2 PELATIHAN PROGRAM DHI MIKE MODUL HYDRODYNAMIC FLOW MODEL (HD) PROGRAM MAGISTER TEKNIK KELAUTAN FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN

Sadri 1 1 Dosen Politeknik Negeri Pontianak.

ANALISIS SEDIMENTASI DI MUARA SUNGAI PANASEN

Studi Laju Sedimentasi Akibat Dampak Reklamasi Di Teluk Lamong Gresik

Gambar 15 Mawar angin (a) dan histogram distribusi frekuensi (b) kecepatan angin dari angin bulanan rata-rata tahun

BAB IV PEMODELAN DAN ANALISIS

ANALISA PERUBAHAN GARIS PANTAI AKIBAT KENAIKAN MUKA AIR LAUT DI KAWASAN PESISIR KABUPATEN TUBAN

JURNAL OSEANOGRAFI. Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013, Halaman Online di :

Studi Dinamika Sedimen Kohesif di Perairan Teluk Balikpapan dengan Menggunakan Model Numerik Tiga Dimensi

SIMULASI NUMERIS ARUS PASANG SURUT DI PERAIRAN CIREBON

Analisis Angkutan dan Distribusi Sedimen Melayang Di Sungai Kapuas Pontianak Kalimantan Barat pada musim kemarau

Pemodelan Near Field Scouring Pada Jalur Pipa Bawah Laut SSWJ PT. PGN

MODEL DISPERSI BAHANG HASIL BUANGAN AIR PROSES PENDINGINAN PLTGU CILEGON CCPP KE PERAIRAN PANTAI MARGASARI DI SISI BARAT TELUK BANTEN

BAB IV HASIL DAN ANALISIS

BABm METODE PENELITIAN. Kegiatan penelitian dilakukan di dua tempat, yakni di Laboratorium Fakultas

BAB III LANDASAN TEORI

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

Perubahan Dasar Perairan Estuari Sungai Kapuas Kalimantan Barat (Studi Kasus: Bulan Januari s.d. April)

(a) Profil kecepatan arus IM03. (b) Profil arah arus IM03. Gambar III.19 Perekaman profil arus dan pasut stasiun IM03 III-17

METODE PENELITIAN Bujur Timur ( BT) Gambar 5. Posisi lokasi pengamatan

BED LOAD. 17-May-14. Transpor Sedimen

Laju Sedimentasi pada Tampungan Bendungan Tugu Trenggalek

BAB II TEORI TERKAIT

Pemodelan Hidrodinamika 3-Dimensi Pola Persebaran Sedimentasi Pra dan Pasca Reklamasi Teluk Jakarta

BAB 4 LOGICAL VALIDATION MELALUI PEMBANDINGAN DAN ANALISA HASIL SIMULASI

BAB I PENDAHULUAN. Negara Republik Indonesia merupakan suatu negara kepulauan terbesar di

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penerapan model arus pada saluran terbuka pada bagian hulu dan hilir

Sebaran Arus Permukaan Laut Pada Periode Terjadinya Fenomena Penjalaran Gelombang Kelvin Di Perairan Bengkulu

STUDI PARAMETER OSEANOGRAFI DI PERAIRAN SELAT MADURA KABUPATEN BANGKALAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

Analisa Perubahan Garis Pantai Akibat Kenaikan Muka Air Laut di Kawasan Pesisir Kabupaten Tuban

FLUIDA BERGERAK. Di dalam geraknya pada dasarnya dibedakan dalam 2 macam, yaitu : Aliran laminar / stasioner / streamline.

I. PENDAHULUAN Permasalahan

PEMODELAN EROSI SEDIMENTASI DI PERAIRAN SEKITAR LOKASI PLTU DAN PLTGU GRESIK

Studi Simulasi Sedimentasi Akibat Pengembangan Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya

BAB II TEORI DASAR. II.1.2. Mekanisme Proses Terjadinya Sedimentasi

Transformasi Gelombang pada Batimetri Ekstrim dengan Model Numerik SWASH Studi Kasus: Teluk Pelabuhan Ratu, Sukabumi

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang

Kata kunci : Arus Pasang Surut, Model Hidrodinamika, Pantai Takalar dan Pantai Makassar

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PEMODELAN TRANSPORT SEDIMEN DI PERAIRAN PESISIR SEMENANJUNG MURIA, JEPARA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Sungai

YAYASAN WIDYA BHAKTI SEKOLAH MENENGAH ATAS SANTA ANGELA TERAKREDITASI A

SIMULASI SEBARAN SEDIMEN TERHADAP KETINGGIAN GELOMBANG DAN SUDUT DATANG GELOMBANG PECAH DI PESISIR PANTAI. Dian Savitri *)

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PEMODELAN ARUS SEJAJAR PANTAI STUDI KASUS PANTAI ERETAN, KABUPATEN INDRAMAYU, JAWA BARAT

SIMULASI MODEL TRANSPOR SEDIMEN TERSUSPENSI UNTUK MENDUKUNG PERENCANAAN PELABUHAN TELUK BAYUR, SUMATERA BARAT

4. HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pola Sebaran Suhu Permukaan Laut dan Salinitas pada Indomix Cruise

BAB 7 MODEL TRANSPOR SEDIMEN TIGA DIMENSI

PREDIKSI LAJU SEDIMENTASI DI PERAIRAN PEMANGKAT, SAMBAS KALIMANTAN BARAT MENGGUNAKAN METODE PEMODELAN

Transkripsi:

ISSN: 2086-907X WORKING PAPER PKSPL-IPB PUSAT KAJIAN SUMBERDAYA PESISIR DAN LAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR Center for Coastal and Marine Resources Studies Bogor Agricultural University MODEL SEBARAN TSS DARI PEMBUANGAN LUMPUR BOR DI SEKITAR PERAIRAN SELAT MADURA, JAWA TIMUR Oleh: I Wayan Nurjaya Ario Damar Heron Surbakti Ari Gunawan W BOGOR 2014

ISSN: 2086-907X DAFTAR ISI DAFTAR ISI... iii DAFTAR TABEL...v DAFTAR GAMBAR... vii ABSTRAK... 1 1 PENDAHULUAN... 1 2 TUJUAN STUDI... 2 3 LOKASI STUDI... 2 4 METODE PENGUMPULAN DAN ANALISIS DATA... 3 4.1 Masukan Data untuk Model... 3 4.1.1 Data Arus... 3 4.1.2 Data Pasang Surut... 3 4.1.3 Data Angin... 3 4.1.4 Data Batimetri... 3 4.1.5 Kedalaman Sumur dan Volume Lumpur... 3 4.2 Analisis Model... 4 4.2.1 Model Hidrodinamika... 4 4.2.2 Model Sebaran Sedimen Tersuspensi (TSS)... 6 4.3 Skenario dan Asumsi Model... 8 5 Hasil Model... 11 5.1 Validasi Model... 11 5.2 Hasil Simulasi Sebaran TSS Skenario 1... 12 5.2.1 Musim Barat... 12 5.2.2 Musim Timur... 14 5.3 Hasil Simulasi Skenario 2... 16 5.3.1 Musim Barat... 16 5.3.2 Musim Timur... 17 5.4 Kawasan Sensitif... 19 DAFTAR PUSTAKA... 24 iii

DAFTAR TABEL Tabel 1 Estimasi Volume Lumpur dan Serbuk Bor pada Masingmasing Sumur... 4 v

DAFTAR GAMBAR Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3 Gambar 4 Gambar 5 Gambar 6 Gambar 7 Gambar 8 Gambar 9 Lokasi Rencana Kegiatan Pemboran 3 Sumur di Blok Selat Madura (Sumber: HCML, 2013)... 2 Diagram Pencar dari Komponen Arus di Titik Pengukuran dan Hasil Model... 11 Plot Tinggi Muka Laut Hasil Pengukuran Dengan Model Bulan Juli 2011 di Titik Pengukuran... 12 Sebaran Maksimum TSS dengan Debit 0.05 m 3 /det pada Musim Barat... 13 Konsentrasi Maksimum TSS dari Titik Sumber dengan Debit 0.05 m 3 /det pada Musim Barat... 14 Sebaran Maksimum TSS dengan Debit 0.05 m 3 /det pada Musim Timur... 15 Konsentrasi Maksimum TSS dari Titik Sumber dengan Debit 0.05 m 3 /det pada Musim Timur... 15 Sebaran Maksimum TSS dengan Debit 0.01 m 3 /det pada Musim Barat... 16 Konsentrasi Maksimum TSS dari Titik Sumber dengan Debit 0.01 m 3 /det pada Musim Barat... 17 Gambar 10 Sebaran Maksimum TSS dengan Debit 0.01 m 3 /det pada Musim Timur... 18 Gambar 11 Konsentrasi Maksimum TSS dari Titik Sumber dengan Debit 0.01 m 3 /det pada Musim Timur... 19 Gambar 12 Peta overlay sebaran TSS skenario 1 pada musim timur dengan kawasan sensitive... 20 Gambar 13 Peta overlay sebaran TSS skenario 1 pada musim barat dengan kawasan sensitive... 21 Gambar 14 Peta overlay sebaran TSS skenario 2 pada musim timur dengan kawasan sensitive... 22 Gambar 15 Peta overlay sebaran TSS skenario 2 pada musim barat dengan kawasan sensitive... 23 vii

Model Sebaran TSS Dari Pembuangan Lumpur Bor di Sekitar Perairan Selat Madura, Jawa Timur 2014 MODEL SEBARAN TSS DARI PEMBUANGAN LUMPUR BOR DI SEKITAR PERAIRAN SELAT MADURA, JAWA TIMUR I Wayan Nurjaya 1, Ario Damar 2, Ari Gunawan W 3, dan Heron Surbakti 4 ABSTRAK Husky CNOOC Madura Ltd. berencana untuk melakukan pemboran sumur eksplorasi. Pemboran sumur ini akan menghasilkan lumpur bor bekas (used mud) yang akan dibuang langsung ke perairan. Berdasarkan peraturan yang ada, aktifitas dan lokasi pembuangan harus mendapatkan izin pembuangan dari Kementerian Lingkungan Hidup RI (KLH) dengan membuat studi pemodelan untuk memprediksi sejauh dan seluas mana dampak buangan dari used mud tersebut di dalam air laut. Untuk pemodelan lumpur bor ini dibuat dua skenario debit pembuangan, yaitu skenario 1 (debit 0.05 m 3 /det) dan skenario 2 (debit 0.01 m 3 /det). Pada musim barat dengan skenario 1 (debit 0.05 m 3 /det), dominan arah sebaran TSS adalah timur-barat dengan konsentrasi TSS sebesar 20 mg/l masih melewati 500 m dari titik buangan, sedangkan pada musim timur tidak melebihi jarak 500 m. Pada skenario 2 dimana debit 0.01 m 3 /det, pada jarak atau radius 500 m baik pada musim barat dan musim timur penambahan konsentrasi sudah < 20 mg/l. Pada musim timur, jarak terdekat antara sebaran TSS maksimum yang bernilai 1 mg/l adalah 7,2 mil laut ke kawasan terumbu karang Karang Manila dan Karang Congkeh. Pada musim barat, sebaran lebih mengarah ke utara sehingga jarak terdekat adalah sekitar 4,2 mil laut ke kawasan terumbu karang Karang Manila dan terumbu di Pulau Mandangin 1 PENDAHULUAN Husky CNOOC Madura Ltd. telah mendapatkan Kontrak Kerjasama (Production Sharing Contact, PSC) di Blok Selat Madura dari Pemerintah Indonesia. Dalam upaya pengembangannya, Husky CNOOC Madura Ltd. berencana untuk melakukan pemboran sumur eksplorasi. Kegiatan pemboran pada sumur-sumur tersebut akan menghasilkan sejumlah volume serbuk bor (drilling cuttings) dan sisa lumpur bor (used mud) yang kemudian akan dibuang langsung di lokasi pemboran (site disposal) setelah memenuhi peraturan perundangan dan ketentuan yang berlaku. 1 Dosen dan Peneliti Oseanografi Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Institut Pertanian Bogor 2 Dosen dan Peneliti Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan, Institut Pertanian Bogor 3 Peneliti Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan, Institut Pertanian Bogor 4 Dosen dan Peneliti Oseanografi, Universitas Sriwijaya Working Paper PKSPL-IPB 1

Vol 5 No. 1 Januari 2014 Berdasarkan peraturan yang ada, aktifitas dan lokasi pembuangan harus mendapatkan persetujuan dari Kementerian Lingkungan Hidup RI (KLH). Dalam kaitannya dengan hal tersebut, maka Husky CNOOC Madura Ltd. diharuskan untuk memprediksi sejauh dan seluas mana dampak buangan dari used mud dengan melakukan studi pemodelan persebaran dan nasib (fate) dari buangan used mud tersebut di dalam air laut. 2 TUJUAN STUDI Tujuan dari dilakukannya studi ini adalah untuk melengkapi model persebaran dan nasib (fate) buangan used mud di perairan lokasi pembuangan dari sumur MAX-2. Sedangkan manfaat dari dilakukannya studi ini adalah sebagai basis data dan informasi untuk input pengelolaan lingkungan khususnya terkait dengan pembuangan drilling cuttings dan used mud di perairan lokasi buangan. 3 LOKASI STUDI Gambar 1 Lokasi Rencana Kegiatan Pemboran 3 Sumur di Blok Selat Madura (Sumber: HCML, 2013) 2 Working Paper PKSPL-IPB

Model Sebaran TSS Dari Pembuangan Lumpur Bor di Sekitar Perairan Selat Madura, Jawa Timur 2014 4 METODE PENGUMPULAN DAN ANALISIS DATA 4.1 Masukan Data untuk Model Data yang digunakan sebagai masukan model (input data) adalah sebagai berikut: 4.1.1 Data Arus Data arus diperoleh dari hasil mooring current meter (RCM) tahun 2011 yang dilakukan oleh Husky Oil. Mooring dilakukan selama 4 hari pada tanggal 29 Juni 2 Juli 2011 di titik pengukuran di Selat Madura (koordinat 07023'05,56' LS, 113053'59,9" BT). 4.1.2 Data Pasang Surut Data pasang surut (pasut) yang digunakan sebagai batas terluar model (open boundary condition) menggunakan data peramalan yang diperoleh dari High Resolution Global Tidal Prediction dengan Resolusi 15 menit. Data pasang surut yang diperoleh selanjutnya diinterpolasi menjadi tiap 10 detik (sesuai dengan langkah waktu/time step simulasi) dengan menggunakan cubic spline untuk mendapatkan stabilitas pada model. 4.1.3 Data Angin Data angin yang digunakan dengan menggunakan data prediksi ECMWF dengan resolusi spasial 1.5 dan interval data setiap 3 jam. Data angin yang digunakan sebagai masukan pada model adalah data bulan Juli hingga bulan Juni (sesuai dengan periode kegiatan). 4.1.4 Data Batimetri Data batimetri yang digunakan sebagai data masukan pada daerah model (model domain area) adalah data batimetri lembar peta No: 81A skala 1 : 200.000 serta peta No: 84 dengan skala 1 : 12.500 dari Dinas Hidro-Oseanografi (DISHIDROS) TNI-AL. 4.1.5 Kedalaman Sumur dan Volume Lumpur Jenis lumpur bor yang digunakan pada kegiatan pemboran eksplorasi ini adalah water base mud /WBM (campuran bahan baku utama air laut dan KCl). Volume kebutuhan lumpur untuk masing-masing sumur disajikan pada Tabel 1 di bawah ini. Working Paper PKSPL-IPB 3

Vol 5 No. 1 Januari 2014 Tabel 1 Estimasi Volume Lumpur dan Serbuk Bor pada Masing-masing Sumur Nama Kedalaman Volume Lumpur Serbuk Bor No. Sumur (Feet) Bor (m 3 ) (Cutting) (m 3 ) 1. MAR-1 7.430 947,48 150.87 2. MAX-2 4.180 837,70 984,8 3 MBJ-2 3.700 329,83 52,52 Sumber: HCML, 2013 4.2 Analisis Model 4.2.1 Model Hidrodinamika Dasar dari model sebaran TSS adalah model hidrodinamika. Model hidrodinamika yang dibangun dalam studi ini adalah model hidrodinamika dua dimensi (2-D) karena di daerah model kedalaman laut tidak melebihi 70 m dan tidak menunjukkan adanya stratifikasi suhu yang kuat. Simulasi model hidrodinamika dilakukan selama 30 hari dengan asumsi akan mewakili satu siklus pasang surut. Simulasi dilakukan dalam sesuai dengan rencana pengeboran sumur MAR-1, MAX-2 dan MBJ-2, yaitu untuk sumur MAR-1, MAX-2 dan MBJ-2. Persamaan yang digunakan dalam model ini adalah persamaan kontinuitas dan persamaan momentum dengan perata-rataan kedalaman. Model ini menggunakan pendekatan metode beda hingga (finite difference) untuk menyelesaikan persamaan yang digunakan. Adapun persamaan yang digunakan adalah sebagai berikut: Persamaan kontinuitas: ζ t + p x + q x = d t Persamaan momentum: pada sumbu x p t + x (p2 h ) + y (pq h ) + gh ζ + gp p2 +q 2 x C 2.h 2 1 ρ w [ x (hτ xx ) + y (hτ xy)] Ω q fvv x + h ρ w x (ρ a ) = 0 4 Working Paper PKSPL-IPB

Model Sebaran TSS Dari Pembuangan Lumpur Bor di Sekitar Perairan Selat Madura, Jawa Timur 2014 pada sumbu y q + t y (q2 ) + h x (pq ζ ) + gh h + gp p2 +q 2 y C 2.h 2 1 ρ w [ y (hτ yy) + x (hτ xy)] + Ω p fvv y + h ρ w y (ρ a ) = 0 dimana: h(x, y, t) : water depth (= ζ d) d(x, y, t) : kedalaman yang bervariasi terhadap waktu ζ(x, y, t) : surface elevation p, q(x, y, t) : flux densitas pada sumbu x dan y (m 3 /s/m) = (uh, vh) u, v : kecepatan rata-rata terhadap kedalaman pada sumbu x dan y C(x, y) : Chezy resistance (m 1/2 /s) g : gravitasi (m 2 /s) f(v) : faktor gesekan angin V, Vx, Vy(x, y, t) : kecepatan angin pada sumbu x dan y (m/s) Ω(x, y) : parameter coriolis ρ a (x, y) : tekanan atmosfer (kg/m/s 2 ) ρ w : densitas air laut (kg/m 3 ) τ xx, τ xy, τ yy : komponen shear stress efektif Bed shear stress pada arah x dan y dapat dihitung dengan persamaan berikut: bx c U by c V f f U U dimana C f adalah koefisien gesekan dan dapat dihitung dengan formula berikut: 2 g gn c f 2 2 1 3 C H dimana : C : Chezy Koefisien n : Manning Koefisien : 1,486 untuk unit Inggris dan 1,0 untuk SI 2 2 V V 2 2 zb 1 x zb 1 x Kedalaman rata-rata gesekan turbulen dapat dihitung menggunakan konsep viskositas Eddy dari Boussinesq, yaitu : 2 2 zb y zb y 2 2 1 2 1 2 Working Paper PKSPL-IPB 5

Vol 5 No. 1 Januari 2014 U U xx v xx x x xy yx v xy V yy v yy y dimana, v adalah 0,3 0,6 U*H V : Kecepatan arus pada arah y U : Kecepatan arus pada arah x U V y x V y Asumsi yang digunakan dalam model hidrodinamika adalah sebegai berikut: Tekanan atmosfer permukaan (P a ) adalah konstan, sehingga turunan parsialnya terhadap x dan y sama dengan nol 1 Pa 1 Pa x y 0 Tidak ada sumber dan kebocoran massa air laut yang terjadi di area, artinya evaporasi dan presipitasi diabaikan. Dasar laut impermeable, sehingga persamaan kontinuitas dapat digunakan. Gesekan dasar dirumuskan dalam bentuk kuadratis. Batas tertutup (daratan) tidak bergeser akibat adanya perubahan muka air laut. Area dianggap datar sehingga sistem koordinat kartesian dapat digunakan. 4.2.2 Model Sebaran Sedimen Tersuspensi (TSS) Model TSS dibangun untuk mengetahui pola sebaran partikel tersuspensi secara spasial akibat pembuangan lumpur dan serbuk bor sebagai hasil kegiatan pengembangan Blok Selat Madura, Jatim yang dilakukan oleh Husky CNOOC Madura Ltd. (HCML). Model sebaran sedimen tersuspensi dibangun dengan menggunakan MIKE 21 MT versi 2007 yang dikembangkan oleh DHI Water and Environment, Denmark. Transpor sedimen diselesaikan dengan menggunakan persamaan adveksi-dispersi. Persamaan tersebut dapat dituliskan sebagai berikut: c c c + u + v t x y = 1 h x (hd c x x ) + 1 h y (hd c y y ) + Q 1 LC L h S dimana: c : konsentrasi yang dirata-ratakan terhadap kedalaman (kg/m 3 ) u, v : kecepatan aliran yang dirata-ratakan terhadap kedalaman (m/s) D x, D y : koefisien dispersi (m 2 /s) 6 Working Paper PKSPL-IPB

Model Sebaran TSS Dari Pembuangan Lumpur Bor di Sekitar Perairan Selat Madura, Jawa Timur 2014 h : kedalaman perairan (m) S : akresi/erosi (kg/m 3 /s) Q L : debit sumber per satuan luas horizontal (m 3 /s/m 2 ) C L : konsentrasi sumber (kg/m 3 ) Persamaan adveksi-dispersi diselesaikan secara eksplisit dengan pendekatan beda hingga (finite difference) orde ketiga, yang dikenal dengan skema ULTIMATE (Leonard, 1991). Laju deposisi dinyatakan dengan persamaan (Krone, 1962): S D = w s c b p d dimana: S D : laju deposisi w s : kecepatan jatuh sedimen (m/s) c b : konsentrasi dekat dasar (kg/m 3 ) p d : probability deposisi = 1 τ b τ cd, τ b τ cd τ b : tegangan geser dasar (N/m 2 ) τ cd : tegangan geser dasar kritis untuk deposisi (N/m 2 ) Mehta et al. (1989), menggambarkan laju erosi dasar dengan persamaan berikut: S E = E ( τ b τ ce 1), τ b > τ ce dimana: E : erodibility dasar (kg/m 2 /s) τ ce : tegangan geser dasar kritis untuk erosi (N/m 2 ) Kecepatan Jatuh Sedimen: Kecepatan jatuh sedimen (sediment settling velocity) diformulasikan dengan persamaan berikut (Rijn, 1984; Yalin, 1972; Engelund, Fredsoe, 1976): w = { 10υ d (s 1)gd 2 18υ 0.5 υ 2 ] {[1 + 0.01(s 1)gd3 1.1[(s 1)gd] 0.5 1} d < 100μm 100 < d 1000μm d > 1000μm Asumsi yang digunakan dalam model transpor sedimen ini adalah: Working Paper PKSPL-IPB 7

Vol 5 No. 1 Januari 2014 Sebagian besar mekanisme transpor sedimen dianggap berlangsung dalam bentuk suspensi (suspended load), termasuk bagian yang ditranspor sebagai muatan dasar. Proses sedimentasi dikelompokkan ke dalam proses penggerusan, proses permulaan gerak butiran, proses pengangkutan dan proses pengendapan. Aliran air dianggap memiliki potensi untuk menggerus, menggerakkan dan mengangkut sedimen apakah partikel sedimen ada atau tidak. Sedimen di atas dasar perairan dianggap akan tetap diam selama gaya aliran masih lebih kecil dari tegangan geser kritis saat butir sedimen mulai bergerak. Perubahan elevasi dasar perairan hanya akan terjadi jika ada selisih antara laju erosi dan laju pengendapan. 4.3 Skenario dan Asumsi Model Berdasarkan rencana pengeboran yang akan dilakukan, maka serbuk bor akan dibuang setiap hari dengan volume dan waktu tertentu sesuai dengan kedalaman pengeboran dan selubung bor (casing). Sementara lumpur bor akan terus dipakai dan akan dibuang seluruhnya pada akhir masa pemboran. Lumpur bor bekas yang dibuang disimulasikan sesuai jadwal rencana kegiatan pada Bulan Juli-Agustus 2013 (Musim Timur). Untuk mengantisipasi pada bulan-bulan lainnya juga dibuatkan skenario musim barat (Desember-Februari). Berdasarkan uraian di atas, maka dilakukan perhitungan konsentrasi lumpur bor bekas yang akan dibuang ke laut. Asumsinya adalah nilai konsentrasi TSS dari lumpur bor bekas ini akan menambah konsentrasi TSS di perairan. Apabila tambahan konsentrasi TSS dari lumpur bor bekas ini ketika bercampur dengan konsentrasi TSS di perairan nilainya melebihi nilai baku mutu yang dipersyaratkan, maka diperlukan upaya pengelolaan tambahan dalam pembuangan lumpur bor bekas ke laut. Akan tetapi apabila nilai tambahan konsentrasi TSS dari lumpur bor bekas di perairan di bawah baku mutu, maka kegiatan pembuangan dapat dilakukan dengan aman. Baku mutu yang digunakan adalah sesuai dengan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 51 Tahun 2004 tentang Baku Mutu Air Laut, Lampiran III yaitu baku mutu air laut untuk biota laut yang mensyaratkan baku mutu untuk TSS adalah untuk coral dan lamun 20 mg/l, dan mangrove 80 mg/l. Perhitungan nilai konsentrasi TSS tambahan dari lumpur bor bekas ini menjadi masukan bagi running model sebaran TSS yang akan memprediksi seberapa besar dan seberapa jauh tambahan konsentrasi TSS ini akan menyebar. Model selanjutnya akan mensimulasi nilai konsentrasi TSS dari lumpur bor bekas berdasarkan hidro-dinamika oseanografi yang terjadi pada waktu yang sama dengan rencana pembuangan lumpur bor bekas. Pada laporan ini akan 8 Working Paper PKSPL-IPB

Model Sebaran TSS Dari Pembuangan Lumpur Bor di Sekitar Perairan Selat Madura, Jawa Timur 2014 ditampilkan gambar sebaran maksimum konsentrasi TSS tambahan dari lumpur bor bekas yang menyatakan nilai tertinggi (dari sisi besaran nilai) konsentrasi TSS lumpur bor bekas yang dapat mempengaruhi perairan. Dalam model sebaran TSS di area dumping site menggunakan dua skenario berdasarkan debit. Total volume lumpur yang akan dibuang adalah 329.83 m 3. Pada skenario pertama menggunakan debit 0.05 m 3 /det, sedangkan pada skenario kedua menggunakan debit 0.01 m 3 /det. Perhitungan konsentrasi TSS dari volume lumpur, tipe pasut dan lama pembuangan dari masing-masing skenario secara utuh dijabarkan pada halaman berikut. Skenario-1 Total Volume Lumpur = 329.83 m 3 Densitas Sedimen = 1500.594712 Kg/ m 3 Diasumsikan besarnya debit = 0.05 m 3 /s = 180 m 3 /jam sehingga diperoleh berat fraksi lumpur adalah: = 1500.594712 Kg/m 3 x 180 m 3 = 270107 Kg Volume TSS tersebut akan mengalami pencampuran dengan air laut. Volume air laut yang berfungsi sebagai pengencer dihitung dengan mempertimbangkan periode pasut, kecepatan arus dan amplitudo gelombang. Tipe pasut di lokasi adalah pasut ganda. Kecepatan arus = 0.2 m/det Periode pasut = 6 jam Sehingga jarak persebaran adalah: = 0.2 m/det x 6 jam x 3.600 det/1 jam = 4320 m/6 jam Jarak (1 jam) = 4320 m/6 jam = 720 m Sedimen tersebut akan menyebar di laut sesuai tidal excursion yang berbentuk elips. Sehingga luasan dari sebaran TSS dihitung dengan rumus : Luas area = r 2 = 3.14 x (720) 2 = 1627776 m 2 Volume = Luas x kedalaman Working Paper PKSPL-IPB 9

Vol 5 No. 1 Januari 2014 = 1627776 x 1 m 3 = 1627776 m 3 maka Konsentrasi TSS adalah : = TSS / volume air = 270107 Kg / 1627776 m 3 = 0.1659 Kg/ m 3 = 165.9 mg/l Skenario-2 Total Volume Lumpur = 329.83 m 3 Densitas Sedimen = 1500.594712 Kg/ m 3 Diasumsikan besarnya debit = 0.01 m 3 /s = 36 m 3 /jam sehingga diperoleh berat fraksi lumpur adalah = 1500.594712 Kg/m 3 x 36 m 3 = 54021.41 Kg Volume TSS tersebut akan mengalami pencampuran dengan air laut. Volume air laut yang berfungsi sebagai pengencer dihitung dengan mempertimbangkan periode pasut, kecepatan arus dan amplitudo gelombang. Tipe pasut di lokasi adalah pasut ganda Kecepatan arus = 0.2 m/det Periode pasut = 6 jam Sehingga jarak persebaran adalah : = 0.2 m/det x 6 jam x 3.600 det/1 jam = 4320 m/6 jam Jarak (1 jam) = 4320 m/6 jam = 720 m Sedimen tersebut akan menyebar di laut sesuai tidal excursion yang berbentuk elips. Sehingga luasan dari sebaran TSS dihitung dengan rumus : Luas area = r 2 = 3.14 x (720) 2 = 1627776 m 2 Volume = Luas x kedalaman = 1627776 x 1 m 3 = 1627776 m 3 10 Working Paper PKSPL-IPB

Model Sebaran TSS Dari Pembuangan Lumpur Bor di Sekitar Perairan Selat Madura, Jawa Timur 2014 maka Konsentrasi TSS adalah : = TSS / volume air = 54021.41 Kg / 1627776 m 3 = 0.033187 Kg/ m 3 = 33.187 mg/l 5 Hasil Model 5.1 Validasi Model Validasi model arus telah diuji dengan hasil pengukuran arus di lapangan. Hal ini mutlak dilakukan untuk mengetahui dan menguji apakah model hidrodinamika yang dibangun sesuai dengan kondisi di lapangan. Gambar 2 adalah plot data arus di titik pengukuran di Selat Madura (koordinat 07 0 23'05,56' LS, 113 0 53'59,9" BT) yang dilakukan pada tanggal 29 Juni 2 Juli 2011 dan data hasil model yang diambil pada titik dan waktu yang sama. Melihat hasil plot tersebut baik hasil pengukuran dan model mempunyai pola yang sama, artinya model yang dibangun dapat diterima dengan baik. Gambar 2 Diagram Pencar dari Komponen Arus di Titik Pengukuran dan Hasil Model Disamping melakukan validasi model terhadap komponen arus, juga dilakukan validasi dilakukan validasi data pasang surut yang digunakan dalam Working Paper PKSPL-IPB 11

Vol 5 No. 1 Januari 2014 model dengan data hasil pengukuran di lapangan. Gambar 3 adalah hasil plot tinggi muka laut antara hasil pengukuran ketinggian muka laut di lapangan dengan data pasut yang digunakan dari Model (NAO tide). Kedua data tersebut memiliki kesamaan yang baik, sehingga model juga dapat diterima dengan baik. Gambar 3 Plot Tinggi Muka Laut Hasil Pengukuran Dengan Model Bulan Juli 2011 di Titik Pengukuran 5.2 Hasil Simulasi Sebaran TSS Skenario 1 Pada laporan utama ini hanya ditampilkan sebaran atau paparan terdampak dalam kondisi maksimum akibat pembuangan lumpur bor di dumping site dan sekitarnya dari setiap musim. Disamping itu juga ditampilkan perubahan konsentrasi TSS mulai dari sumber kearah garis pantau yang dibentuk dari titik A, B, C dan D. 5.2.1 Musim Barat Seperti perairan Indonesia lainya, Selat Madura yang terdapat di sisi utara Jawa Timur dan masih berhubngan langsung dengan Laut Jawa, maka kondisi oseanografinya masih dipengaruhi oleh musim. Musim Barat di Laut Jawa berarti angin di atas perairan Laut Jawa berembus dari barat ke timur. Sebagai konsekuensi fisik dari fenomena alam ini arus permukaan di Laut Jawa bergerak ke timur. Di sisi barat-barat laut Selat Madura terdapat mulut yang sempit sehingga pengaruh angin ke Selat Madura sangat kecil. Di mulut bagian timur Selat Madura terbuka lebih lebar sehingga pengaruh pasut dari arah mulut selat bagian timur lebih dominan. Gambar 4 adalah hasil model sebaran TSS dengan skenario debit 0.05 m 3 /det. Pada gambar tersebut ada 4 panel. Panel kanan atas adalah sebaran maksimum TSS dengan domain penuh, sehingga sebaran TSS terlihat sangat kecil. Panel kiri atas adalah pembesaran atau zooming dari sebaran TSS pada panel kanan atas. Pada sisi kanan panel terdapat skala warna yang menunjukkan nilai konsentrasi TSS, semakin kea rah warna merah nilainya semakin tinggi. Sumbu x dan sumbu y pada gambar sudah dinyatakan dalam kilometer, sehingga bisa dengan mudah memprediksi jarak dan luasan sebaran. 12 Working Paper PKSPL-IPB

Model Sebaran TSS Dari Pembuangan Lumpur Bor di Sekitar Perairan Selat Madura, Jawa Timur 2014 Gambar 4 Sebaran Maksimum TSS dengan Debit 0.05 m 3 /det pada Musim Barat Pada Panel kanan bawah menunjukkan grafik perubahan nilai konsentrasi TSS di sepanjang garis antara titik C dan D, sedangkan di Panel kiri bawah menunjukkan perubahan konsentrasi sepanjang garis A dan B. Konsentrasi tertinggi berada di Titik Sumber (=160 mg/l), kemudian semakin menjauh dari sumber konsentrasi TSS terlihat menurun, bahkan pada jarak 500 m ke arah titik B dan D nilai penambahannya sudah mendekati nol. Sedangkan kearah titik A konsentrasi >20 mg/l masih lebih jauh dari 1 km (Gambar 5). Working Paper PKSPL-IPB 13

Konsentrasi (mg/l) Vol 5 No. 1 Januari 2014 KONSENTRASI TSS MAKSIMUM 180 160 140 120 100 80 60 40 20 0-1000 -750-500 -250 0 250 500 750 1000 Jarak dari titik sumber (meter) A - B C - D Gambar 5 Konsentrasi Maksimum TSS dari Titik Sumber dengan Debit 0.05 m 3 /det pada Musim Barat 5.2.2 Musim Timur Pada musim timur, di atas perairan Laut Jawa dominan angin berhembus dari timur sehingga pergerakan arus permukaan di perairan Laut Jawa dominan bergerak ke barat. Pengaruh musim juga terlihat tidak signifikan di Selat Madura yang ditunjukan oleh daerah terpapar dari TSS yang dominan menyebar ke arah timur (Gambar 6, Panel kiri atas). Jarak terjauh daerah terpapar dengan penambahan konsentrasi TSS 0.1 mg/l dapat mencapai 5 km dengan lebar sebaran utara-selatan selebar 3 km. Sedangkan penambahan nilai konsentrasi <40 mg/l mencapai jarak <500m. Gambar 7 menunjukkan perubahan konsentrasi TSS berdasarkan jarak dari sumber buangan. Penambahan konsentrasi di titik sumber sebesar 160 mg/l, setelah jarak 500 m ke arah barat penambahan TSS mendekati nol, sebaliknya kearah timur penambahan konsentrasi 30 mg/l masih terjadi hingga jarak 1 km dari sumber buangan. 14 Working Paper PKSPL-IPB

Konsentrasi (mg/l) Model Sebaran TSS Dari Pembuangan Lumpur Bor di Sekitar Perairan Selat Madura, Jawa Timur 2014 Gambar 6 Sebaran Maksimum TSS dengan Debit 0.05 m 3 /det pada Musim Timur KONSENTRASI TSS MAKSIMUM 200 150 100 50 0-1000 -750-500 -250 0 250 500 750 1000 Jarak dari titik sumber (meter) A - B C - D Gambar 7 Konsentrasi Maksimum TSS dari Titik Sumber dengan Debit 0.05 m 3 /det pada Musim Timur Working Paper PKSPL-IPB 15

Vol 5 No. 1 Januari 2014 5.3 Hasil Simulasi Skenario 2 Secara umum pola sebaran TSS pada skeneraio 2 (dengan debit 0.01 m 3 /det) baik pada musim timur dan musim barat hampir sama dengan pola sebaran pada skenario 1 (dengan debit 0.05 m 3 /det). Berikut akan dideskripsikan hasil model dengan skenario 2, baik pada musim barat maupun musim timur. 5.3.1 Musim Barat Sumbu utama sebaran TSS pada musim barat dengan scenario 2 adalah timur barat. Konsentrasi di titik sumber 33 mg/l. Pada arah timur barat (Titik A-B penambahan konsentrasi TSS <5 mg/l sejauh < 1 km. Untuk sebaran utara selatan C-D penambahan konsentrasi TSS <5 mg/l kurang dari 500 m dari sumber (Gambar 8). Gambar 8 Sebaran Maksimum TSS dengan Debit 0.01 m 3 /det pada Musim Barat Pada Gambar 9 disajikan perubahan dari konsentrasi TSS dari titik sumber ke empat penjuru arah, yaki ke barat (titik A), ke timur (titik B), ke selatan (titik D) dan ke selatan dari sumber (titik C). Grafik penurunan TSS dari sumber buangan arah timur-barat hampir simetris, sedangkan utara-selatan asimetris. 16 Working Paper PKSPL-IPB

Konsentrasi (mg/l) Model Sebaran TSS Dari Pembuangan Lumpur Bor di Sekitar Perairan Selat Madura, Jawa Timur 2014 KONSENTRASI TSS MAKSIMUM 35 30 25 20 15 10 5 0-1000 -750-500 -250 0 250 500 750 1000 Jarak dari titik sumber (meter) A - B C - D Gambar 9 Konsentrasi Maksimum TSS dari Titik Sumber dengan Debit 0.01 m 3 /det pada Musim Barat 5.3.2 Musim Timur Pola sebaran TSS hasil buangan lumpur pada musim timur dengan scenario 2 (debit 0.01 m 3 /det) disajikan pada Gambar 10. Bentuk dan polanya masih sama dengan Scenario 2, dimana dominan sebaran atau daerah terdampaknya berada disisi timur titik sumber pembuangan. Penambahan konsentrasi 0.1 mg/l sampai pada jarak 5 km kea rah timur, sedangkan ke barat hanya mencapai 2,5 km. Working Paper PKSPL-IPB 17

Vol 5 No. 1 Januari 2014 Gambar 10 Sebaran Maksimum TSS dengan Debit 0.01 m 3 /det pada Musim Timur Gradien penurunan konsentrasi TSS sejaja timu-barat dan utara-selatan dari scenario 2 pada musim timur disajikan pada gambar grafik berikut (Gambar 11). Pada jarak 500 m kearah timur (kearah titik B) penambahan konsentrasi TSS masih diatas 10 mg/l, sedangkan ke arah barat (kearah titik A) pada jarak 500 m penambahan konsentrasi TSS hanya 5 mg/l. Sedangkan radius 500 m ke utara dan selatan penambahan konsentrasi TSS <2.5 mg/l. 18 Working Paper PKSPL-IPB

Konsentrasi (mg/l) Model Sebaran TSS Dari Pembuangan Lumpur Bor di Sekitar Perairan Selat Madura, Jawa Timur 2014 KONSENTRASI TSS MAKSIMUM 35 30 25 20 15 10 5 0-1000 -750-500 -250 0 250 500 750 1000 Jarak dari titik sumber (meter) A - B C - D Gambar 11 Konsentrasi Maksimum TSS dari Titik Sumber dengan Debit 0.01 m 3 /det pada Musim Timur 5.4 Kawasan Sensitif Berdasarkan hasil simulasi skenario 1 dan skenario 2 di atas, tampak bahwa sebaran yang melebihi baku mutu pada jarak 500 meter adalah skenario 1 dengan debit 0.05 m 3 /det. Untuk melihat sebaran TSS dalam kaitannya dengan kawasan sensitif, maka dibuat peta overlay antara sebaran TSS dengan kawasan sensitif pada musim timur dan barat seperti disajikan pada Gambar 12, Gambar 13, Gambar 14, dan Gambar 15. Untuk skenario 1, maka terlihat pada Gambar 12 (musim timur) jarak terdekat antara sebaran TSS maksimum yang bernilai 1 mg/l adalah 7,2 mil laut ke kawasan terumbu karang Karang Manila dan Karang Congkeh. Pada Gambar 13 (musim barat) sebaran lebih mengarah ke utara sehingga jarak terdekat adalah sekitar 4,2 mil laut ke kawasan terumbu karang Karang Manila dan terumbu di Pulau Mandangin. Working Paper PKSPL-IPB 19

Vol 5 No. 1 Januari 2014 Gambar 12 Peta overlay sebaran TSS skenario 1 pada musim timur dengan kawasan sensitive 20 Working Paper PKSPL-IPB

Model Sebaran TSS Dari Pembuangan Lumpur Bor di Sekitar Perairan Selat Madura, Jawa Timur 2014 Gambar 13 Peta overlay sebaran TSS skenario 1 pada musim barat dengan kawasan sensitive Working Paper PKSPL-IPB 21

Vol 5 No. 1 Januari 2014 Gambar 14 Peta overlay sebaran TSS skenario 2 pada musim timur dengan kawasan sensitive 22 Working Paper PKSPL-IPB

Model Sebaran TSS Dari Pembuangan Lumpur Bor di Sekitar Perairan Selat Madura, Jawa Timur 2014 Gambar 15 Peta overlay sebaran TSS skenario 2 pada musim barat dengan kawasan sensitive Working Paper PKSPL-IPB 23

DAFTAR PUSTAKA DHI Water & Environment. 2007. MIKE 21 Wave Modelling, MIKE 21 BW Boussinesq Module. Denmark. Engelund, F., Fredsøe, J. 1976. A sediment transport model for straight alluvial channels. Nordic Hydrology 7, 1976, pp. 293 306 Krone, R.B. 1962. Flume Studies of the Transport of Sediment in Estuarial Shoaling Processes. Technical Report, Hydraulic Engineering Laboratory, University of California. Barkeley California. Leonard, B.P. 1991. The ULTIMATE Conservative Difference Scheme Applied to Unsteady One-Dimensional Advection. Elsevier Science Publishers B.V. (North Holland. Rijn, L.C. 1984. Sediment Transport, Part II Suspended Load Transport. Journal of Hydraulic Engineering, Vol. 110, No. 10, October, 1984. Yalin, M.S. 1972. Mechanics of Sediment Transport. Pergamon Press Ltd. Hendington Hill Hall, Oxford. Daftar pustaka elektronik: http://www.space.dtu.dk/english/research/scientific_data_and_models/global_oce an_tide_model : AG95, author Ole B. Andersen. http://www.2.jpl.nasa.gov/srtml : Shuttle Radar Topography Mission. http://www.ecmwf.int/ : The European Centre for Medium Range Weather Forecasts. Ucapan Terima Kasih: Disampaikan kepada Husky CNOOC Madura Ltd. yang telah menginisiasi studi ini. 24 Working Paper PKSPL-IPB