BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB III METODOLOGI PENELITIAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

III. METODOLOGI PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN

IMPLEMENTASI DAN EVALUASI

PENERAPAN METODE SOBEL DAN GAUSSIAN DALAM MENDETEKSI TEPI DAN MEMPERBAIKI KUALITAS CITRA

Pengolahan Citra (Image Processing)

BAB II TEORI DASAR PENGOLAHAN CITRA DIGITAL

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

Suatu proses untuk mengubah sebuah citra menjadi citra baru sesuai dengan kebutuhan melalui berbagai cara.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

3 METODE. Waktu dan Tempat Penelitian

PENGEMBANGAN METODA DETEKSI RINTANGAN MENGGUNAKAN KAMERA CCD UNTUK TRAKTOR TANPA AWAK

Intensitas cahaya ditangkap oleh diagram iris dan diteruskan ke bagian retina mata.

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 4 HASIL DAN ANALISA

Gambar 4.1 Diagram Percobaan

BAB I PENDAHULUAN. mulai menopang kehidupan manusia. Teknologi merupakan sebuah hasil

BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN PROGRAM APLIKASI

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengenalan Telur Berdasarkan Karakteristik Warna Citra Yustina Retno Wahyu Utami 2)

SAMPLING DAN KUANTISASI

KLASIFIKASI TELUR AYAM DAN TELUR BURUNG PUYUH MENGGUNAKAN METODE CONNECTED COMPONENT ANALYSIS

BAB 2 LANDASAN TEORI

SKRIPSI. PEMUTUAN BUAH JERUK MANIS (Citrus sinensis (L) Osbeck) MENGGUNAKAN ALGORITMA PENGOLAHAN CITRA. Oleh: MARIA YUSTINA TAMPUBOLON F

BAB I PENDAHULUAN. teknologi pengolahan citra (image processing) telah banyak dipakai di berbagai

BAB 2 LANDASAN TEORI. dari sudut pandang matematis, citra merupakan fungsi kontinyu dari intensitas cahaya

BAB 3 IMPLEMENTASI SISTEM

KULIAH 1 TEKNIK PENGOLAHAN CITRA PENGANTAR MATRIKS

APLIKASI PENGENALAN DAUN UBI JALAR UNTUK JENIS UBI JALAR UNGU, MERAH, PUTIH DAN KUNING MENGGUNAKAN METODE PRINCIPAL COMPONENT ANALYSIS

Pengolahan citra. Materi 3

BAB 2 LANDASAN TEORI

PENGEMBANGAN APLIKASI PERHITUNGAN JUMLAH OBJEK PADA CITRA DIGITAL DENGAN MENGGUNAKAN METODE MATHEMATICAL MORPHOLOGY

BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN PROGRAM

BAB IV PENGUJIAN SISTEM. mendeteksi tempat parkir yang telah selesai dibuat. Dimulai dari pengambilan

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Telur Ayam Konsumsi

UJI COBA THRESHOLDING PADA CHANNEL RGB UNTUK BINARISASI CITRA PUPIL ABSTRAK

BAB 3 ANALISA DAN PERANCANGAN

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI. Pengolahan Citra adalah pemrosesan citra, khususnya dengan menggunakan

BAB III PERANCANGAN SISTEM. Pada dewasa sekarang ini sangat banyak terdapat sistem dimana sistem tersebut

BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM

BAB III PERANCANGAN SISTEM

Perancangan Sistem Identifikasi Barcode Untuk Deteksi ID Produk Menggunakan Webcam

BINARISASI CITRA MENGGUNAKAN PENCOCOKAN PIKSEL

STMIK GI MDP. Program Studi Teknik Informatika Skripsi Sarjana Komputer Semester Ganjil Tahun 2010/2011

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

TEKNIK PENGOLAHAN CITRA MENGGUNAKAN METODE KECERAHAN CITRA KONTRAS DAN PENAJAMAN CITRA DALAM MENGHASILKAN KUALITAS GAMBAR

Pertemuan 2 Representasi Citra

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN. a. Spesifikasi komputer yang digunakan dalam penelitian ini adalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 2 LANDASAN TEORI

BINERISASI CITRA DOKUMEN DENGAN FILTERISASI HOMOMORPHIC

BAB 2 TINJAUAN TEORETIS

DETEKSI GERAK BANYAK OBJEK MENGGUNAKAN BACKGROUND SUBSTRACTION DAN DETEKSI TEPI SOBEL

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

DAFTAR ISI. Lembar Pengesahan Penguji... iii. Halaman Persembahan... iv. Abstrak... viii. Daftar Isi... ix. Daftar Tabel... xvi

DETEKSI POSISI PLAT NOMOR KENDARAAN BERMOTOR BERDASARKAN AREA CITRA

LANDASAN TEORI. 2.1 Citra Digital Pengertian Citra Digital

Konsep Dasar Pengolahan Citra. Pertemuan ke-2 Boldson H. Situmorang, S.Kom., MMSI

KONSEP DASAR PENGOLAHAN CITRA

3 BAB III METODE PENELITIAN

BAB III ANALISIS SPEKTRUM CAHAYA. spektrumnya. Sebagai kisi difraksi digunakan potongan DVD yang sudah

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB III METODE PENELITIAN. melacak badan manusia. Dimana hasil dari deteksi atau melacak manusia itu akan

MILIK UKDW BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Permasalahan

Binerisasi Otomatis Pada Citra Bergradasi Dengan Metode Variabel Dan Metode Iterasi

BAB III METODE PENELITIAN

PENGOLAHAN CITRA DIGITAL ( DIGITAL IMAGE PROCESSING )

DAFTAR ISI. DAFTAR ISI... vii. DAFTAR GAMBAR... x. DAFTAR TABEL... xii I. PENDAHULUAN Latar Belakang Rumusan Masalah...

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

PENERAPAN ALGORITMA K MEANS UNTUK PENENTUAN PENCOCOKAN PEWARNAAN CLUSTERING SECARA OTOMATIS PADA PRODUK FASHION

Pengenalan Plat Nomor Berdasarkan Klasikasi K-Nearest Neighbor (KNN)

BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM PROGRAM APLIKASI HANDS RECOGNIZER

SEGMENTASI CITRA MEDIK MRI (MAGNETIC RESONANCE IMAGING) MENGGUNAKAN METODE REGION THRESHOLD

BAB 2 LANDASAN TEORI

Mengenal Lebih Jauh Apa Itu Point Process

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Bambang Marhaenanto 1) *, Deddy Wirawan Soedibyo 1), Miftahul Farid 1), 1)

Model Citra (bag. 2)

BAB 1 PENDAHULUAN. beragam produk seperti tampilan suara, video, citra ditawarkan oleh perusahaan untuk

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

oleh: M BAHARUDIN GHANIY NRP

4. HASIL DAN PEMBAHASAN. Pada Gambar 7 tertera citra MODIS level 1b hasil composite RGB: 13, 12

BAB II Tinjauan Pustaka

Operasi Titik Kartika Firdausy

Pengembangan Algoritma Pengubahan Ukuran Citra Berbasiskan Analisis Gradien dengan Pendekatan Polinomial

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Laporan Akhir Praktikum Mempelajari Karakterisitk Visual Citra Tomat Menggunakan Image Processing. Avicienna Ulhaq Muqodas F

SISTEM PENGENALAN WAJAH MENGGUNAKAN WEBCAM UNTUK ABSENSI DENGAN METODE TEMPLATE MATCHING

BAB II LANDASAN TEORI

Penghitung Kendaraan Menggunakan Background Substraction dengan Background Hasil Rekonstruksi

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI

... BAB 2 LANDASAN TEORI. 2.1 Citra

BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN

Transkripsi:

BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Program Pengolahan Citra untuk Pengukuran Warna pada Produk Hortikultura Pengembangan metode pengukuran warna dengan menggunakan kamera CCD dan image processing adalah dengan membuat algoritma pengolahan citra yang dibangun dengan menggunakan bahasa pemrograman SharpDevelop 3.2. Dalam penelitian tahap pertama ini telah dibuat program komputer untuk pengambilan dan pengolahan citra bahan pertanian. Bahan pertanian yang digunakan dalam penelitian ini adalah wortel dan labu. Hal ini dilakukan untuk membedakan pengukuran warna merah dengan warna hijau. Setiap sampel diberi label penomoran di bagian belakang untuk menandai sampel yang akan diambil citranya. Program penangkap citra digunakan untuk merekam citra objek dengan latar belakang atau background yang berbeda, yaitu hitam dan putih. Citra objek direkam dengan resolusi 744 x 480 piksel dan dalam 24-bit warna. Pengambilan citra menggunakan kamera CCD yang dihubungkan ke komputer menggunakan koneksi firewire. Citra warna objek dengan latar belakang berbeda hasil perekaman dapat dilihat pada Gambar 14. a b c d Gambar 14. a. Citra wortel dengan latar belakang hitam, b. Citra wortel dengan latar belakang putih, f. Citra labu dengan latar belakang hitam, d. Citra labu dengan latar belakang putih Hasil citra yang diambil menggunakan kamera CCD dikelompokkan ke dalam folder yang disesuaikan dengan jenis objek dan latar belakangnya. Hasil pengambilan citra disimpan dalam bentuk

format bitmap (.bmp), karena format ini memiliki kelebihan di mana setiap elemen penyusun warna dari suatu citra, disimpan secara lengkap atau tidak dikompres sebagaimana format dalam bentuk.jpeg. Akan tetapi format bitmap juga memiliki kekurangan, yakni dalam hal penggunaan ruang penyimpanan hardisk, di mana format bitmap memerlukan ruang penyimpanan yang cukup tinggi. Program pengolahan citra yang disusun dapat berfungsi untuk menentukan beberapa parameter citra objek yang dianalisis melalui citra warna seperti indeks warna RGB (merah, hijau, biru), XYZ, dan Lab. Indeks warna RGB dianalisis menggunakan bantuan perangkat lunak Paint Shop Pro v.6. Setelah dianalisis menggunakan Paint Shop Pro v.6, data indeks warna RGB dikoleksi dalam Microsoft Office Excel 2007 untuk mendapatkan sebaran dari ketiga indeks tersebut. Nilai RGB yang telah diperoleh tersebut digunakan untuk menentukan nilai Thresholding yang nantinya dapat digunakan untuk melakukan binerisasi terhadap data citra. Tampilan program pengolahan citra terdiri dari tampilan citra asal, menu serta tampilan hasil data olahan citra. Tampilan menu terdiri dari File, Binerisasi, Morfologi, dan Analisis Warna. Masing-masing menu memiliki submenu. Akan tetapi dalam pengolahan citra menu Morfologi tidak dipergunakan karena dalam perlakuan analisis warna antara objek satu dengan yang lain harus sama atau seragam. Pengambilan data melalui analisis citra menggunakan program yang sudah dibuat dimulai dengan memanggil citra yang telah disimpan dalam file dengan extension bmp, dibuka dengan menggunakan submenu Open pada menu File. Citra objek akan muncul dalam bentuk citra warna. Analisis citra yang dilakukan adalah analisis pengukuran warna pada tiap sampel. Analisis warna yang dihitung yaitu, indeks warna RGB, XYZ, dan Lab untuk wortel dan labu dengan latar belakang warna hitam dan putih. Sehingga diperoleh analisis warna wortel dengan latar belakang hitam dan putih, begitu juga dengan labu. Analisis warna dapat langsung dilakukan dari citra warna hasil perekaman dengan terlebih dahulu menentukan piksel-piksel penyusun objek sehingga latar belakang tidak ikut dianalisis. Untuk menghitung indeks warna RGB, XYZ, dan Lab dilakukan proses transformasi citra dari citra warna ke citra biner melalui proses binerisasi. Operasi yang dilakukan adalah memilih salah satu submenu pada menu Binerisasi yaitu, Thresholding Merah Layar Hitam, Thresholding Hijau Layar Hitam, Thresholding Merah Layar Putih, Thresholding Hijau Layar Putih tergantung dari warna objek dan latar belakangnya. Setelah melakukan operasi tersebut akan dihasilkan citra biner dari citra warna dengan objek berwarna putih dan latar belakang berwarna hitam. Setelah didapatkan citra biner kemudian dilakukan perhitungan indeks warna RGB, XYZ, dan Lab dengan memilih menu Analisis Warna. Perhitungan nilai indeks warna dapat diperoleh dengan menggunakan submenu Model Warna RGB untuk indeks warna RGB, submenu Model Warna XYZ untuk warna XYZ, dan submenu Model Warna Lab untuk indeks warna Lab. Dalam perhitungan indeks warna harus dilakukan secara berurutan mulai dari perhitungan indeks warna RGB ke XYZ kemudian ke Lab. Hal ini dikarenakan nilai Lab yang diperoleh merupakan hasil transformasi nilai indeks warna XYZ yang juga merupakan hasil tranformasi nilai indeks warna RGB. Tampilan layar komputer pada saat citra warna ditransformasikan ke citra biner dan tampilan data hasil olahan dapat dilihat pada Gambar 15, 16, 17, dan 18. 21

Gambar 15. Tampilan layar komputer pada saat citra warna ditransformasikan ke citra biner dan perhitungan warna RGB, XYZ, dan Lab untuk wortel dengan latar belakang hitam Gambar 16. Tampilan layar komputer pada saat citra warna ditransformasikan ke citra biner dan perhitungan warna RGB, XYZ, dan Lab untuk wortel dengan latar belakang putih 22

Gambar 17. Tampilan layar komputer pada saat citra warna ditransformasikan ke citra biner dan perhitungan warna RGB, XYZ, dan Lab untuk labu dengan latar belakang hitam Gambar 18. Tampilan layar komputer pada saat citra warna ditransformasikan ke citra biner dan perhitungan warna RGB, XYZ, dan Lab untuk labu dengan latar belakang putih 23

Saat melakukan analisis, program akan memetakan posisi piksel-piksel suatu objek dari citra biner hasil operasi sebelumnya ke citra warna sehingga piksel-piksel latar belakang tidak dihitung atau diabaikan. Dengan demikian, indeks warna RGB yang didapat adalah hasil analisis pada permukaan objek yang diinginkan, bukan dari keseluruhan bidang citra. Akan tetapi sebelum pemanggilan citra, terlebih dahulu dilakukan penyimpanan data hasil pengukuran warna yang akan dihitung dengan membuka menu Buka File Text. Data hasil perhitungan disimpan dalam bentuk notepad yang nantinya dapat dibuka dengan aplikasi Microsoft Office Excel 2007. Tampilan hasil penyimpanan pengukuran warna dapat dilihat pada Gambar 19. Gambar 19. Tampilan hasil penyimpanan pengukuran warna 24

4.2 Pengukuran Warna dengan Teknik Image Processing pada Latar Belakang Warna Hitam Hasil analisis terhadap pengukuran warna wortel dan labu dengan latar belakang hitam yang dilakukan melalui pengolahan citra dinyatakan dengan notasi Lab. Pengolahan data hasil pengukuran warna dengan pengolahan citra dan chromameter dilakukan dengan menggunakan persamaan linier. 4.2.1 Pengukuran Warna pada Wortel Penentuan nilai Lab pengolahan citra dari parameter nilai Lab Chromameter dengan menggunakan model persamaan linier menghasilkan koefisien determinasi berturut-turut untuk Lab wortel adalah 0.827, 0.820 dan 0.826 dengan persamaan regresi nilai Lab masing-masing adalah y = 0.563x + 27.06, y = 0.994x + 10.11, dan y = 0.777x + 7.196. Sedangkan nilai gradien Lab masingmasing adalah 0.563, 0.994, dan 0.777. Jika nilai gradien sama dengan satu (m = 1) berarti hasil pengukuran pengolahan citra sama dengan hasil pengukuran Chromameter. Untuk grafik nilai L, ketika nilai Chromameter naik maka kenaikan nilai pengolahan citra tidak sebesar Chromameter yaitu hanya setengahnya. Nilai Lab pada wortel dengan latar belakang hitam hasil pengukuran pengolahan citra berkorelasi positif tinggi dengan Lab pada wortel hasil pengukuran Chromameter dengan nilai korelasi lebih dari 0.8. Hal ini menunjukkan bahwa model regresi yang dihasilkan memiliki hubungan yang sangat kuat, semakin tinggi nilai Lab pada Chromameter maka semakin tinggi pula nilai Lab pada pengolahan citra, begitu pula sebaliknya. Sehingga model regresi ini dapat menjelaskan perilaku perubahan nilai peubah y (nilai Lab sebenarnya) dengan baik. Hubungan antara nilai Lab pada wortel latar belakang hitam hasil pengukuran pengolahan citra dapat dilihat pada Gambar 20, 21, dan 22. Data hasil pengukuran warna wortel dengan latar belakang hitam pada pengolahan citra dan Chromameter dapat dilihat pada Lampiran 2. 59 58 Nilai L Chromameter 57 56 55 54 53 52 y = 0.563x + 27.06 R² = 0.827 51 42 44 46 48 50 52 54 56 Nilai L pengolahan citra Gambar 20. Hubungan antara nilai L hasil perhitungan wortel latar belakang hitam pengolahan citra 25

26 24 Nilai a Chromameter 22 20 18 16 y = 0.994x + 10.11 R² = 0.820 14 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Nilai a pengolahan citra Gambar 21. Hubungan antara nilai a hasil perhitungan wortel latar belakang hitam pengolahan citra 38 36 Nilai b Chromameter 34 32 30 28 y = 0.777x + 7.196 R² = 0.826 26 26 28 30 32 34 36 38 40 Nilai b pengolahan citra Gambar 22. Hubungan antara nilai b hasil perhitungan wortel latar belakang hitam pengolahan citra 26

4.2.2 Pengukuran Warna pada Labu Grafik hubungan antara nilai Lab pada labu latar belakang hitam hasil pengukuran pengolahan citra disajikan pada Gambar 23, 24, dan 25. Dari grafik hubungan antara nilai Lab pada labu hasil pengukuran pengolahan citra, diperoleh persamaan regresi untuk Lab masing-masing adalah y = 0.560x + 27.03, y = 0.232x - 10.33, dan y = 0.838x + 9.728 dengan nilai koefisien determinasi berturut-turut adalah 0.905, 0.813, dan 0.867. Sedangkan nilai gradien Lab masing-masing adalah 0.560, 0.232, dan 0.838. Jika nilai gradien sama dengan satu (m=1) berarti hasil pengukuran pengolahan citra sama dengan hasil pengukuran Chromameter. Untuk grafik nilai L, ketika nilai Chromameter naik maka kenaikan nilai pengolahan citra tidak sebesar Chromameter yaitu hanya setengahnya. Sedangkan untuk nilai a gradiennya rendah, ketika nilai Chromameter naik maka kenaikan nilai pengolahan citra tidak sebesar Chromameter hal ini menyatakan kemiringan yang landai atau semakin kecil nilai gradien maka semakin kecil tingkat pengaruh x terhadap y. Berdasarkan nilai koefisien determinasi yang dihasilkan dari grafik tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa model regresi yang dihasilkan memiliki hubungan yang sangat kuat. Nilai Lab pada labu dengan latar belakang hitam hasil pengukuran pengolahan citra berkorelasi positif tinggi dengan Lab pada labu dengan latar belakang hitam hasil pengukuran Chromameter karena nilai korelasi lebih dari 0.8. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai Lab pada Chromameter maka semakin tinggi pula nilai Lab pada pengolahan citra, begitu pula sebaliknya. Sehingga model regresi ini dapat menjelaskan perilaku perubahan nilai peubah y (nilai Lab sebenarnya) dengan baik.data hasil pengukuran warna labu dengan latar belakang hitam pada pengolahan citra dan Chromameter dapat dilihat pada Lampiran 3. 65 60 Nilai L Chromameter 55 50 45 y = 0.560x + 27.03 R² = 0.905 40 30 33 36 39 42 45 48 51 54 57 60 63 Nilai L pengolahan citra Gambar 23. Hubungan antara nilai L hasil perhitungan labu latar belakang hitam pengolahan citra 27

-29-27 -25-23 -21-19 -17-15 -13 Nilai a Chromameter y = 0.232x - 10.33 R² = 0.813 Nilai a pengolahan citra -13.5-14 -14.5-15 -15.5-16 -16.5-17 Gambar 24. Hubungan antara nilai a hasil perhitungan labu latar belakang hitam pengolahan citra 40 38 36 Nilai b Chromameter 34 32 30 28 26 24 22 y = 0.838x + 9.728 R² = 0.867 20 18 20 22 24 26 28 30 32 34 36 Nilai b pengolahan citra Gambar 25. Hubungan antara nilai b hasil perhitungan labu latar belakang hitam pengolahan citra 28

4.3 Pengukuran Warna dengan Teknik Image Processing pada Latar Belakang Warna Putih Hasil analisis terhadap pengukuran warna wortel dan labu dengan latar belakang putih yang dilakukan melalui pengolahan citra juga dinyatakan dengan notasi Lab. Pengolahan data hasil pengukuran warna dengan pengolahan citra dan Chromameter dilakukan dengan menggunakan persamaan linier. 4.3.1 Pengukuran Warna pada Wortel Penentuan nilai Lab pengolahan citra dari parameter nilai Lab Chromameter dengan menggunakan model persamaan linier menghasilkan koefisien determinasi berturut-turut untuk Lab wortel adalah 0.548, 0.786 dan 0.749. Untuk nilai L dalam pengukuran warna pengolahan citra dan Chromameter pada wortel dengan latar belakang putih diperoleh hubungan korelasi positif agak rendah dengan persamaan regresi y = 0.734x + 22.91. Hal ini disebabkan karena sifat dari warna latar belakang yang dipakai. Pada warna hitam, semua spektrum cahaya diserap, oleh karena itu energi radiasi yang diterima pada warna hitam menjadi semakin besar seiring bertambahnya spekrum cahaya yang diserap. Sebaliknya, pada warna putih semua spektrum cahaya dipantulkan. Selain itu terdapat pengaruh interaksi cahaya terhadap objek yang sedang diukur, seperti pantulan, serapan, penyebaran dan bayangan sebagai akibat cahaya yang dihalangi oleh bagian objek tertentu. Kualitas lampu dan tingkat kecerahan yang berbeda-beda juga mempengaruhi nilai kecerahan. Karena perbedaan tingkat kecerahan pada lampu terlihat sangat jelas pada latar belakang warna putih, khususnya pada objek wortel. Oleh karena itu perlu dilakukan pengukuran intensitas cahaya terlebih dahulu sebelum pengambilan citra untuk memastikan bahwa intensitas cahaya pada saat pengambilan citra tetap. Akan tetapi pada penelitian ini, pengukuran intensitas cahaya tidak dilakukan karena keterbatan penelitian dan perlakuan penelitian bukan mengarah pada tingkat intensitas cahaya. Perubahan tegangan listrik yang cenderung fluktuatif juga mempengaruhi intensitas cahaya, sehingga dengan pengukuran intensitas cahaya ini diharapkan intensitas cahaya yang digunakan relatif sama selama pengukuran. Untuk nilai a dan b dalam pengukuran warna pengolahan citra dan Chromameter pada wortel dengan latar belakang putih diperoleh hubungan korelasi positif cukup tinggi dengan persamaan regresi untuk nilai a dan b masing-masing adalah y = 0.851x - 5.500 dan y = 1.130x - 5.712. Hal ini dikarenakan nilai a dan b pada sistem warna Lab merupakan indeks warna kromatik sehingga ketika objek tersebut dikenai sinar putih maka objek akan memantulkan warna kromatik tersebut. Jika sebuah benda jika disorot warna putih dan benda tersebut memantulkan sebagian besar energi dengan frekuensi (600-700nm) maka akan terlihat warna merah begitu pula dengan frekuensi warna hijau (Ciptayani 2011). Nilai gradien Lab masing-masing adalah 0.734, 0.851, dan 1.130. Jika nilai gradien sama dengan satu (m=1) berarti hasil pengukuran pengolahan citra sama dengan hasil pengukuran Chromameter. Untuk grafik nilai L, ketika nilai Chromameter naik maka kenaikan nilai pengolahan citra tidak sebesar Chromameter yaitu hanya 0.734nya Chromameter. Hubungan antara nilai Lab pada wortel latar belakang putih hasil pengukuran pengolahan citra dapat dilihat pada Gambar 26, 27, dan 28. Data hasil pengukuran warna wortel latar dengan belakang putih pada pengolahan citra dan Chromameter dapat dilihat pada Lampiran 4. 29

Nilai L Chromameter 60 59 58 57 56 55 54 53 52 y = 0.734x + 22.91 R² = 0.548 51 38 40 42 44 46 48 50 Nilai L pengolahan citra Gambar 26. Hubungan antara nilai L hasil perhitungan wortel latar belakang putih pengolahan citra 29 27 Nilai a Chromameter 25 23 21 19 y = 0.851x - 5.500 R² = 0.786 17 15 25 27 29 31 33 35 37 Nilai a pengolahan citra Gambar 27. Hubungan antara nilai a hasil perhitungan wortel latar belakang putih pengolahan citra 30

Nilai b pada Chromameter 43 41 39 37 35 33 31 29 27 y = 1.130x - 5.712 R² = 0.749 25 28 30 32 34 36 38 40 Nilai b pada IP Gambar 28. Hubungan antara nilai b hasil perhitungan wortel latar belakang putih pengolahan citra 4.2.2 Pengukuran Warna pada Labu Grafik hubungan antara nilai Lab pada labu latar belakang putih hasil pengukuran pengolahan citra disajikan pada Gambar 29, 30, dan 31. Dari grafik hubungan antara nilai Lab pada labu hasil pengukuran pengolahan citra, diperoleh persamaan regresi y = 0.977x + 22.76, y = 0.975x - 10.4, dan y = 1.050x + 11.72 dengan nilai koefisien determinasi berturut-turut adalah 0.793, 0.802, dan 0.779. Data hasil pengukuran warna labu latar dangan belakang hitam pada pengolahan citra dan Chromameter dapat dilihat pada Lampiran 5. Berdasarkan nilai koefisien determinasi yang dihasilkan dari grafik tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa model regresi yang dihasilkan memiliki hubungan yang sangat kuat. Untuk nilai Lab hasil pengukuran warna pengolahan citra dan Chromameter pada wortel dengan latar belakang putih diperoleh hubungan korelasi positif cukup tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai Lab pada Chromameter maka semakin tinggi pula nilai Lab pada pengolahan citra, begitu pula sebaliknya. Nilai gradien pada grafik nilai Lab tinggi, hal ini menunjukkan bahwa nilai hasil pengukuran pengolahan citra mendekati nilai hasil pengukuran Chromameter. Pada labu nilai koefisien determinasinya lebih besar dari pada nilai koefisien determinasi pada wortel, hal ini disebabkan oleh cahaya yang dikeluarkan oleh benda tersebut dipengaruhi oleh cahaya yang berasal dari sumber cahaya. Warna wortel yang terang dan warna latar belakang yang putih menyebabkan warna objek menjadi tambah terang. Sebaliknya pada labu, warna labu yang digunakan dalam penelitian adalah warna hijau agak tua, sehingga ketika diberi cahaya putih warna objek akan terlihat terang. Hal ini berkaitan dengan nilai ambang yang ditentukan pada nilai Thresholding yang digunakan untuk melakukan binerisasi terhadap data citra. Nilai ambang yang terlalu rendah atau terlalu tinggi akan menghasilkan proses segmentasi citra yang kurang bagus. 31

Menurut Ahmad (2005), dalam hal binerisasi melalui perangkat lunak, setiap citra dengan karakteristik pencahayaan tertentu memerlukan nilai thresholding tertentu yang mungkin tidak cocok untuk citra lainnya. Jadi nilai threshold yang sama mungkin tidak dapat diterapkan dengan hasil yang baik pada dua citra yang berbeda karakteristiknya. Oleh karena itu nilai threshold biasanya dipilih berdasarkan pengamatan pada citra yang disegmentasi. Besarnya nilai batas (nilai threshold) untuk operasi binerisasi dimasukkan secara manual memalui keyboard. Dengan demikian proses binerisasi tidak dapat terjadi dengan sendirinya di dalam program, karena menunggu sampai nilai threshold dimasukkan oleh pemakai program. Dalam penelitian ini nilai batas dimasukkan di dalam program sebagai konstanta agar program dapat melakukan operasi binerisasi tanpa menunggu masukan dari pemakai, sehingga program menjadi terbatas penggunaannya, yaitu untuk citra-citra sejenis dengan sifat-sifat pencahayaan yang mirip satu sama lain. Sehingga dalam hal ini setiap objek dengan latar berbeda mempunyai nilai threshold masing-masing. Sehingga hasil segmentasi citra setiap citra akan berbeda-beda karena bentuk, ukuran dan warna setiap citra juga berbeda. Selain itu tingkat keseragaman pencahayaan yang kurang juga mempengaruhi hasil pengukuran karena pencahayaan hanya dilakukan pada bagian atas, sehingga hanya bagian atas yang terlihat terang sedangkan bagian samping objek tidak memperoleh pencahayaan yang cukup. Untuk dapat memilih nilai batas atau nilai threshold yang tepat secara otomatis, pengetahuan tentang objek dalam pemandangan, pengetahuan tentang aplikasi dan pengetahuan tentang lingkungan harus digunakan di dalam algoritma program komputer yang dikembangkan. Penggunaan pengetahuan ini akan diaplikasikan dalam bentuk pemilihan nilai threshold yang lebih umum dan bersifat dinamis sesuai dengan kedinamisan karakteristik yang dikandung oleh citra yang akan diproses, daripada nilai threshold yang tetap. Pengetahuan tentang karakteristik citra yang dimaksud mungkin meliputi sifat intensitas dari objek, ukuran objek, bagian dari citra yang ditempati objek, jumlah dan jenis yang berbeda dari objek-objek yang muncul dalam citra (Ahmad 2005). 60 58 56 Nilai L Chromameter 54 52 50 48 46 44 42 y = 0.977x + 22.76 R² = 0.793 40 20 22 24 26 28 30 32 34 36 38 Nilai L pengolahan citra Gambar 29. Hubungan antara nilai L hasil perhitungan labu latar belakang putih pengolahan citra 32

-7-6 -5-4 -3-12 Nilai a Chromameter y = 0.975x - 10.45 R² = 0.802-13 -14-15 -16-17 Nilai a pengolahan citra -18 Gambar 30. Hubungan antara nilai a hasil perhitungan wortel latar belakang hitam pengolahan citra 45 40 Nilai b Chromameter 35 30 25 y = 1.050x + 11.72 R² = 0.779 20 14 16 18 20 22 24 26 28 Nilai b pengolahan citra Gambar 31. Hubungan antara nilai b hasil perhitungan wortel latar belakang hitam pengolahan citra 33