BAB 4 HASL PENELTAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Objek Penelitian Objek penelitian dalam skripsi ini adalah perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek ndonesia (BE) pada periode 2009 2011. Perusahaan-perusahaan tersebut juga menerbitkan laporan keuangan yang diaudit serta membagikan dividend tunai tiga tahun berturut-turut sepanjang tahun 2009 2011. Jumlah populasi perusahaan yang didapat dari kriteria diatas sebanyak 119 perusahaan dengan klasifikasi 18 perusahaan terdeteksi melakukan dividend smoothing dan 101 perusahaan termasuk dalam kategori non-dividend smoothing. 4.2 Hasil Analisis Data 4.2.1 Analisis Deskriptif Hasil analisis deskriptif data penelitian ini bisa dilihat pada tabel berikut ini: 4.1. Descriptive Statistics for Total Sample N Minimum Maximum Mean Std. Deviation DS 357 0 1.15.359 NST 357 5.00 99.00 67.5129 19.77225 GOV 357 0 1.12.323 NSD 357.00 45.91 2.2097 6.53131 PUBLC 357.67 94.74 28.4916 18.02288 Valid N (listwise) 357 Sumber : data diolah 52
Pada tabel statistik deskriptif diatas menjelaskan bahwa variabel yang diukur dengan rasio kepemilikan institusional menunjukan nilai rata-rata sebesar 67,51%. Hal ini berarti perusahaan yang membagikan dividen tiga tahun berturut-turut mempunyai rata-rata saham kepemilikan institusional sebesar 67,51% dari jumlah total saham yang ada di perusahaan. Nilai rasio NST terendah adalah sebesar 5,26% yang berarti nilai NST terendah adalah sebesar 5,26% dari total jumlah saham yang dimiliki perusahaan dan nilai NST yang terbesar mencapai 99% yang berarti nilai tertinggi yang didapat perusahaan sampel adalah sebesar 99% dari total saham yang dimiliki perusahaan. Variabel kepemilikan manajerial yang diukur dengan NSD menunjukan rata rata 2.20%, hal ini berarti bahwa perusahaan yang membagikan dividen tiga tahun berturut-turut mempunyai rata rata saham kepemilikan manajerial sebesar 2,20% dari seluruh total saham yang dimiliki oleh perusahaan. Nilai NSD terendah adalah sebesar 0% yang berarti di beberapa perusahaan tidak memberikan prosentase kepemilikan saham untuk manajerial. Nilai NSD yang terbesar adalah sebesar 45,91% yang berarti nilai tertinggi kepemilikan saham manajeriak adalah 45,91% dari total jumlah saham yang dimiliki perusahaan. Variabel dispersion of ownership yang diukur dengan PUBLC menunjukan rata rata 28.49%, hal ini bearti bahwa perusahaan yang membagikan dividen tiga tahun berturut-turut mempunyai rata rata saham kepemilikan saham publik sebesar 28,49% dari seluruh total saham yang dimiliki oleh perusahaan. Nilai PUBLC terendah adalah sebesar 0,67% 53
yang berarti kepemilikan publik terendah sebesar 0,67% dari seluruh total saham yang dimiliki perusahaan. Nilai PUBLC yang terbesar adalah sebesar 94,74% yang berarti nilai tertinggi kepemilikan saham publik adalah 45,91% dari total jumlah saham yang dimiliki perusahaan. Variabel dispersion of ownership yang diukur dengan PUBLC menunjukan rata rata 28.49%, hal ini berarti bahwa perusahaan yang membagikan dividen tiga tahun berturut-turut mempunyai rata rata saham kepemilikan saham publik sebesar 28,49% dari seluruh total saham yang dimiliki oleh perusahaan. Nilai PUBLC terendah adalah sebesar 0,67% yang berarti kepemilikan publik terendah sebesar 0,67% dari seluruh total saham yang dimiliki perusahaan. Nilai PUBLC yang terbesar adalah sebesar 94,74% yang berarti nilai tertinggi kepemilikan saham publik adalah 45,91% dari total jumlah saham yang dimiliki perusahaan. 4.2 Descriptive Statistics for dividend smoothing sample N Minimum Maximum Mean Std. Deviation DS 54 1 1 1.00.000 NST 54 15.05 99.00 67.3357 19.31410 GOV 54 0 1.28.452 NSD 54.00 27.77 3.2176 7.45396 PUBLC 54 1.00 84.95 27.3874 18.88556 Sumber: data diolah Pada tabel statistik perusahaan yang terindikasi melakukan kebijakan dividend smoothing sebanyak 54 sampel (18 data perusahaan selama 3 tahun). Variabel NST menunjukan nilai minimun 15,05 yang berarti kepemilikan institusional paling rendah pada perusahaan yang melakukan dividend smoothing sebanyak 15,05%. Dan nilai maksimum variabel NST sebanyak 99,0 yang berarti kepemilikan institusional paling banyak pada 54
perusahaan yang melakukan dividend smoothing sebanyak 99%. Nilai ratarata dari NST sebesar 67,33 yang berarti rata-rata kepemilikan institusional pada perusahaan yang melakukan dividend smoothing sebanyak 67,33%. Variabel NSD menunjukan nilai minimum sebesar 0,00 yang berarti kepemilikan manajerial yang terendah di perusahaan yang melakukan dividend smoothing sebanyak 0%. Dan nilai maksimum dari variabel NSD sebanyak 27,77 yang berarti kepemilikan manajerial terbesar pada perusahaan yang melakukan dividend smoothing adalah sebesar 27,77%. Nilai rata-rata dari variabel NSD sebanyak 3,21 yang berarti rata-rata kepemilikan manajerial pada perusahaan yang melakukan dividend smoohting sebesar 3,21% Variabel PUBLC menunjukan nilai minimum sebesar 1,00 yang berarti kepemilikan manajerial yang terendah di perusahaan yang melakukan dividend smoothing sebanyak 1%. Dan nilai maksimum dari variabel PUBLC sebanyak 84,95 yang berarti kepemilikan manajerial terbesar pada perusahaan yang melakukan dividend smoothing adalah sebesar 84,95%. Nilai rata-rata dari variabel PUBLC sebanyak 27,38 yang berarti rata-rata kepemilikan manajerial pada perusahaan yang melakukan dividend smoohting sebesar 27,38%. 55
4.3 Descriptive Statistics for non-dividend smoothing sample N Minimum Maximum Mean Std. Deviation DS 357 0 1.15.359 NST 357 5.26 98.65 67.6102 19.78272 GOV 357 0 1.12.323 NSD 357.00 45.91 2.0228 6.32726 PUBLC 357.67 94.74 28.6883 17.90295 Valid N (listwise) 357 Pada tabel statistik perusahaan tidak melakukan kebijakan dividen stabil atau non-dividend smoothing sebanyak 303 sampel (101 data perusahaan selama 3 tahun). Variabel NST menunjukan nilai minimun 5,26 yang berarti kepemilikan institusional paling rendah pada perusahaan nondividend smoothing sebanyak 5,26%. Dan nilai maksimum variabel NST sebanyak 98,65 yang berarti kepemilikan institusional paling banyak pada perusahaan non-dividend smoothing sebanyak 98,65%. Nilai rata-rata dari NST sebesar 67,61 yang berarti rata-rata kepemilikan institusional pada perusahaan yang melakukan dividend smoothing sebanyak 67,61%. Variabel NSD menunjukan nilai minimum sebesar 0,00 yang berarti kepemilikan manajerial yang terendah di perusahaan non-dividend smoothing sebanyak 0%. Dan nilai maksimum dari variabel NSD sebanyak 27,77 yang berarti kepemilikan manajerial terbesar pada perusahaan non-dividend smoothing adalah sebesar 45,91%. Nilai rata-rata dari variabel NSD sebanyak 3,21 yang berarti rata-rata kepemilikan manajerial pada perusahaan non-dividend smoohting sebesar 2,02% Variabel PUBLC menunjukan nilai minimum sebesar 1,00 yang berarti kepemilikan manajerial yang terendah di perusahaannon-dividend 56
smoothing sebanyak 0,67%. Dan nilai maksimum dari variabel PUBLC sebanyak 94,74 yang berarti kepemilikan manajerial terbesar pada perusahaan non-dividend smoothing adalah sebesar 94,74%. Nilai rata-rata dari variabel PUBLC sebanyak 28,68 yang berarti rata-rata kepemilikan Dari hasil deskriptif untuk sub-sampel dividend smoothing dan nondividend smoothing menunjukan bahwa pada variabel NST nilai rata-rata perusahaan yang melakukan dividend smoothingsebesar 67,33%dan nondividend smoothing sebesar 67,61%. Dari data tersebut tidak menunjukan perbedaan yang tipis, hanya saja pada variabel NST yang dividend smoothing lebih rendah daripada non-dividend smoothing. Hal ini menunjukan bahwa pada perusahaan yang melakukan dividend smoothing dan non-dividend smoothing mempunyai rata-rata nilai kepemilikan saham institusional yang tidak jauh berbeda. Pada variabel NSD nilai rata-rata perusahaan yang melakukan dividend smoothing sebesar 3,21%dan non-dividend smoothing 2,02%. ni menunjukan bahwa pada perusahaan yang melakukan dividend smoothing kepemilikan manajerialnya sedikit lebih besar dari pada perusahaan yang non-dividend smoothing. Pada variabel PUBLC nilai rata-rata perusahaan yang melakukan dividend smoothing sebesar 27,38%dan non-dividend smoothing 28,68%. ni menunjukan bahwa pada perusahaan yang melakukan dividend smoothing kepemilikan saham publiknya agak lebih rendah dari pada perusahaan yang non-dividend smoothing. 57
4.2.2 Analisis Binary Logistic Regression Regresi binary logistik adalah regresi yang digunakan untuk melakukan permodelan suatu kemungkinan kejadian dengan variabel Y (respons) bertipe kategorial dua pilihan (Singgih Santoso, 2010:2006). Dalam penelitian ini variabel dependen Y bertipe kategori atau dua pilihan yaitu perusahaan yang tidak melakukan praktik dividend smoothing (Non-dividend smoothing)=0 dan perusahaan yang melakukan praktik dividend smoothing = 1. Keterangan ini dapat dilihat dalam tabel indentifikasi data: Tabel 4.4 dentifikasi Data Dependent Variable Encoding Original Value nternal Value Non-dividend smoothing 0 Dividend Smoothing 1 Dalam penelitian ini jumlah data yang diproses sebanyak 119 perusahaan selama 3 tahun (N=119*3=357 obeservasi). Untuk melihat kelengkapan data yang diproses dalam penelitian ini dan tidak adanya missing case ditunjukan pada tabel Case Processing Summary: Tabel 4.5 Case Processing Summary Unweighted Cases a N Percent ncluded in Analysis 357 100,0 Selected Cases Missing Cases 0,0 Total 357 100,0 Unselected Cases 0,0 Total 357 100,0 a. f weight is in effect, see classification table for the total number of cases. Sumber: Data Diolah 58
4.2.2.1 Pengujian Model Keseluruhan (Overall Model Fit) Untuk melihat model yang lebih baik untuk mengetahui pengujian pengaruh agency cost mempengaruhi dividend smoothing dilihat dari - 2LogLikelihood. Dari hasil penghitungan -2LogLikelihood sebesar 308,747 terlihat pada: Tabel 4.6 Ketepatan model dalam memprediksi Dividend Smooting teration History a,b,c teration -2 Log likelihood Coefficients Constant 1 308,747-1,395 Step 0 2 303,419-1,692 3 303,371-1,724 a. Constant is included in the model. b. nitial -2 Log Likelihood: 303,371 c. Estimation terminated at iteration number 3 because parameter estimates changed by less than,001. Kemudian hasil penghitungan nilai -2LogLikelihood pada blok kedua (Block Number=1) terlihat nilai -2LogLikelihood sebesar 301,722 terjadi penurunan pada blok kedua (block number=1) yang ditunjukan pada tabel berikut ini: 59
Tabel 4.7 Ketepatan Model dalam memprediksi Dividend Smoothing teration History a,b,c,d teration -2 Log likelihood Coefficients Constant NST GOV NSD PUBLC 1 295,750 -.003.984.016 -.007 -.003 Step 1 2 286,977 -.006 1.399.026 -.012 -.007 3 286,754 -.006 1.479.028 -.013 -.011 4 286,753 -.006 1.484.029 -.013 -.012 a. Method: Enter b. Constant is included in the model. c. nitial -2 Log Likelihood: 303,371 d. Estimation terminated at iteration number 4 because parameter estimates changed by less than,001. Penilaian keseluruhan model regresi menggunakan - 2LogLikelihood dimana jika terjadi penurunan pada blok kedua dibanding blok pertama maka dapat disimpulkan bahwa model regresi kedua menjadi lebih baik. Seperti yang ditunjukan pada tabel 4.4 dan 4.5. Pada blok pertama (block number = 0) nilai -2LogLikelihood sebesar 303,371 dan pada blok kedua (block number = 1) nilai - 2LogLikelihood sebesar 286,753. Dari data diatas, dapakan bahwa setelah dimasukan variabel NST, GOV, NSD, dan PUBLC, nilai pada -2LogLikelihood turun menjadi 286,753 atau terjadi penurunan sebesar 16,618. Oleh karena 16,618 lebih besar dari nilai kritis χ 2 tabel yaitu 3,99 (4-0,001) maka hal ini menunjukan adanya indikasi model yang baik walaupun untuk kepastiannya diperlukan pengujian statistik dengan menggunakan χ 2 (Chi Square). 60
4.2.2.2 Uji Chi Square Hosmer and Lemeshow Tabel 4.8 Hasil dentifikasi Prediksi Klasifikasi Hosmer and Lemeshow Test Step Chi-square Df Sig. 1 12,159 8,144 Sumber: Data Diolah Hosmer and Lemeshow s Goodness of Fit Test menguji hipotesis nol bahwa apakah data empiris cocok atau tidak dengan model. Hasil pengujian pada tabel 4.6 menunjukan nilai Chi Square sebesar 12,159 dengan nilai sig. Sebesar 0,148. Dari hasil tersebut terlihat bahwa nilai sig. > α = 0,05 (Sig. Diatas 0,05), karena nilainya yang tidak signifikan maka ini menunjukan bahwa model fit dengan data observasi penelitian. 4.2.2.3 Koefisien Cox & Snell R Square dan Nagelkerke R Square Koefisien Cox & Snell R Squarepada tabel model summarydapat diinterpretasikan sama seperti koefisien determinasi R Square pada regresi linear berganda, tetapi karena nilai Cox & Snell R Square biasanya lebih kecil dari satu sehingga sulit diinterpretasikan seperti R Square(Stasinius, 2006) Tabel 4.9 Koefisien Cox & Snell R Square dan Nagelkerke Q Square Model Summary Step -2 Log likelihood Cox & Snell R Square Nagelkerke R Square 1 286,753 a,051,089 61 a. Estimation terminated at iteration number 5 because parameter estimates changed by less than,001.
Koefisien Nagelkerke R Square pada tabel model summarymerupakan modifikasi dari koefisien Cox & Snell R Square untuk memastikan bahwa nilainya bervariasi dari 0 sampai 1. Dilihat dari tabel 4.9 nilai koefisien Nagelkerke R Square sebesar 0,051 yang menjelaskan bahwa dalam model regresi ini kemampuan nstitutional Ownership, Goverment Ownership, nsider Ownership, dan Dispersion of Ownersip dalam menjelaskan variabel dependen dividend smoothing di ndonesia sebesar 8,9% dan 91,1% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak termasuk didalam model. Nilai R 2 ini kurang besar, sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa variabel NST, NSD, dan PUBLC tidak mampu menjelaskan variabel dividend smoothing maupun non-dividend smoothing. 4.2.2.4 Ketepatan Prediksi Klasifikasi Untuk melihat ketepatan prediksi klasifikasi yang diamati ditunjukan dengan bantuan tabel berupa predicted values dari variabel dependen dan baris merupakan data aktual yang diamati seperti yang ditunjukan pada tabel 4.10 berikut : 4.10 Hasil dentifikasi Prediksi Klasifikasi Classification Table a Observed Predicted Non-dividend smoothing DV Dividend Smoothing Percentage Correct Step 1 DV Non-dividend smoothing 303 0 100,0 Dividend Smoothing 54 0,0 62
Overall Percentage 84,9 a. The cut value is,500 Menurut prediksi, perusahaan yang tidak melakukan dividend smoothing adalah 303 dari 357 data dalam tiga tahun berturut-turut, yang berarti terdapat 101 perusahaan yang termasuk dalam kategori nondividend smoothing dari 119 perusahaan. Jadi, ketepatan prediksi klasifikasi yang diamati untuk perusahaan non-dividend smoothing sebesar 100%, sedangkan prediksi untuk perusahaan yang membayar dividen hanya 54 data atau 18 perusahaan sebesar 0%. Dari hasil persamaan regresi logistik dalam penelitian ini menunjukan daya klasifikasi ketepatan prediksi keseluruhan sebesar 84,9% dengan klasifikasi untuk kelompok perusahaan yang non-dividend smoothing 100% dan perusahaan yang melakukan dividend smoothing sebesar 0% ini ditunjukan dengan Clasification table pada output SPSS dengan cut-off value 0,500. Tabel 4.11 Hasil Signifikansi Data Variables in the Equation B S.E. Wald df Sig. Exp(B) NST -,006,017,150 1,699,994 GOV 1,536,379 16,401 1,000 4,644 Step 1 a NSD,028,025 1,262 1,261 1,028 PUBLC -,015,018,697 1,404,985 Constant -1,210 1,609,566 1,452,298 a. Variable(s) entered on step 1: NST, GOV, NSD, PUBLC. Sumber: data diolah 63
Hasil pengujian diatas menjelaskan bahwa variabel NST (institusional ownership), NSD (institusional ownership), dan PUBLC (dispersion ownership) tidak signifikan karena α >0,05. Hal ini berarti menjelaskan bahwa tidak ada pengaruh NST (institusional ownership), NSD (institusional ownership), dan PUBLC (dispersion ownership) terhadap dividend smoothing dan non-dividend smoothing. Sedangkan pada variabel GOV (goverment ownership) menunjukan nilai signifikansi yang bernilai dibawah 0,05 (yaitu 0,000 < 0,050) 64
Tabel 4.12 Class Plot 65 Step number: 1 Observed Groups and Predicted Probabilities 160 + + F D R 120 + D + E N Q N U N E 80 + DND + N NND C NNN Y NNN 40 + NNN + NNN NNNN NNNNNNN D Predicted ---------+---------+---------+---------+---------+-------- -+---------+---------+---------+---------- Prob: 0,1,2,3,4,5,6,7,8,9 1 Group: NNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNNDDDDDDDDDDDDDDDDDD DDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDDD Smoothing Predicted Probability is of Membership for Dividend The Cut Value is,50 Symbols: N - Non-dividend smoothing D - Dividend Smoothing
Class plot ini menggunakan cara lain untuk menilai ketepatan prediksi dengan logistic regression. Sumbu X merupakan probabilitas prediksi dari 0 sampai 1 bahwa variabel dependen dikelompokan sebagai perusahaan yang melakukan dividend smoothing 1. Sumbu vertikal Y adalah frekuensi jumlah kasus yang dikelompokan. Di dalam plot adalah kolom observasi perusahaan yang melakukan praktik dividend smoohing dengan kode D dan observasi perusahaan yang tidak melakukan praktik dividend smoothing dengan kode N. Dalam hal ini, hampir semua kasus diberi kode N perusahaan yang tidak melakukan dividend smoothing. 4.3 Pembahasan 4.3.1 Hasil Uji Hipotesis 1 : Terdapat pengaruh positif antara institutional ownership (kepemilikan institusional) terhadap dividend smoothing. Variabel institutional ownership menunjukan nilai koefisien regresi sebesar -0,006 dengan probabilitas variabel sebesar 0,699 diatas signifikansi 0,05 (5 persen). Hal ini mengandung arti bahwa H 1 ditolak, dengan demikian tidak terbukti bahwa institutional ownership berpengaruh signifikan positif maupun negatif terhadap dividend smoothing. Selain itu pada kolom Exp(B) variabel institutional ownership sebesar 0,994 menunjukan nilai odds ratio yang mendekati 1,0 mengindikasikan bahwa variabel independen tidak mempengaruhi variabel dependen yang ada. Hasil penelitian ini bertentangan dengan penelitian smoothing yang dilakukan oleh Tepper School of Business (2012) mengatakan bahwa pada hakikatnya dividend smoothing dilakukan dengan tujuan agar dapat 66
mengurangi biaya keagenan (agency cost). Lebih lanjut lagi, dalam penelitian tersebut dikemukakan bahwa salah satu mekanisme potensial yang dikutip dari Allen, Bernardo dan Welch (2000) adalah menarik para investor dengan tujuan untuk memonitor seperti investor dari institusi. Lembaga-lembaga ini pada gilirannya mengurangi biaya agen suatu perusahaan dan asimetris informasi melalui pemantauan dan peran pengumpulan informasi. Perbedaan hasil dari penelitian sebelumnya mungkin terjadi karena perbedaan negara yaitu Amerika Serikat dan ndonesia. Kondisi pasar modal di kedua negara ini cukup berbeda. Dalam penelitian Afriani (2010) dikatakan bahwa kondisi pasar di ndonesia modalnya tidak stabil kepemilikan saham domestik di ndonesia kurang dari 1% dan selebihnya dikuasai oleh asing. Hal ini menyebabkan pembayaran dividen pun menjadi tidak stabil. Oleh karena adanya perbedaan perilaku di kedua negara maka perlakukan untuk dividend smoothingnya pun berbeda. Jadi penelitian yang penulis lakukan tidak mampu menjelaskan adanya pengaruh institutional ownership dengan menggunakan kepemilikan saham institusional di ndonesia sebagai pengukuran terhadap dividend smoothing maupun non-dividend smoothing. 4.3.2 Uji Hipotesis 2 : Terdapat pengaruh positif antara Kepemilikan Pemerintah (goverment ownership) terhadap dividend smoothing. Variabel goverment ownership (GOV) menunjukan nilai koefisien regresi sebesar 1,536 dengan probabilitas variabel sebesar 0,000 dibawah 67 signifikansi 0,05 (5 persen). Hal ini mengandung arti bahwa H 5 diterima,
dengan demikian terbukti bahwa goverment ownership berpengaruh signifikan positif terhadap dividend smoothing. Selain itu pada kolom Exp(B) variabel institutional ownershipsebesar 4,644 menunjukan nilai odds ratioyang mengindikasikan bahwa variabel independen goverment ownership berpeluang 4,64 melakukan dividend smoothing. 4.3.3 Hasil Uji Hipotesis 3 : Terdapat pengaruh negatif antara insider ownership (pemilik merangkap manajer) terhadap dividend smoothing. Variabel insider ownership menunjukan nilai koefisien regresi sebesar -0,020 dengan probabilitas variabel sebesar 0,261 diatas signifikansi 0,05 (5%). Hal ini mengandung arti bahwa H 3 ditolak, dengan demikian tidak terbukti bahwa insider ownership berpengaruh signifikan positif maupun negatif terhadap dividend smoothing. Selain itu pada kolom Exp(B) variabel institutional ownershipsebesar 1,028 menunjukan nilai odds ratio yang mendekati atau sama dengan angka 1,0 mengindikasikan bahwa variabel independen tidak mempengaruhi variabel dependen yang ada. Hal ini mendukung pendapat Shinozaki dan Uchida (2012) yang meneliti dividend smoothing menemukan bahwa dividend smoothing secara signifikan lebih sering dilakukan oleh perusahaan perusahaan yang dikendalikan oleh profesional manajer dibandingkan dengan perusahaan perusahaan yang dikendalikan oleh pemiliknya. Di ndonesia, hampir semua kepemilikan saham manajerialnya (insider ownership) dikendalikan oleh pemilik yang sekaligus memegang jabatan sebagai manajer. Perusahaan yang dikendalikan oleh pemilik dan merupakan perusahaan 68
keluarga cenderung tidak melakukan dividend smoothing. Namun disini penulis menyadari bahwa data yang penulis pakai untuk mengukur insider ownershipterhadapdividend smoothing belum mampu menjabarkan secara jelas hubungan diantara variabel independen dan variabel dependen mengingat data yang tidak signifikan terjadi karena kelemahan data (tingkat odds ratio yang melebihi angka 1,00). Jadi dapat disimpulkan bahwa yang penulis lakukan tidak mampu menjelaskan adanya pengaruh institutional ownership dengan menggunakan kepemilikan saham manajerial di ndonesia sebagai pengukuran terhadap dividend smoothing maupun non-dividend smoothing. 4.2.4 Hasil Uji Hipotesis 4 : Terdapat pengaruh positif antara dispersion of ownership (penyebaran kepemilikan) terhadap dividend smoothing. Variabel dispersion of ownership menunjukan nilai koefisien regresi sebesar -0,007 dengan probabilitas variabel sebesar 0,985 diatas signifikansi 0,05 (5 persen). Hal ini mengandung arti bahwa H 4 ditolak, dengan demikian tidak terbukti bahwa insider ownership berpengaruh signifikan positif maupun negatif terhadap dividend smoothing. Selain itu pada kolom Exp(B) variabel institutional ownership sebesar 0,985 menunjukan nilai odds ratio yang mendekati angka 1,0 mengindikasikan bahwa variabel independen tidak mempengaruhi variabel dependen yang ada. Hal ini bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh Shinozaki dan Uchida (2012) yang mengatakan bahwa semakin tinggi 69 kepemilikan publik dalam struktur kepemilikan perusahaan, maka
perusahaan cenderung melakukan prakitk deviden stabil agar menghasilkan variabilitas laba yang rendah yang mengindikasikan risiko yang rendah. Risiko yang rendah ini lah yang direspon positif oleh investor untuk menginvestasikan kekayaannya. Hal ini mungkin terjadi karena kondisi pasar modal di ndonesia maupun Amerika atau negara-negara yang lainnya. Menurut Afriyani (2011) bahwa investor lokal di Amerika menguasai lebih dari 35% saham yang beredar dibanding kepemilikan asing, sedangkan di ndonesia kepemilikan domestik kurang dari 1%. Bahkan dalam artikel Berita Satu(2013) menyebutkan bahwa jumlah investor lokal yang jeli memanfaatkan peluang investasi di BE masih relatif sedikit dengan jumlah sekitar 400.000 subrekening efek, atau kurang dari 0,16 persen yang menjadi investor di bursa dari total penduduk ndonesia.oleh karena adanya perbedaan perilaku di kedua negara maka perlakukan untuk dividend smoothingnya pun berbeda. Jadi penelitian yang penulis lakukan tidak mampu menjelaskan adanya pengaruh dispersion of ownership dengan menggunakan kepemilikan saham publik di ndonesia sebagai pengukuran terhadap dividend smoothing maupun non-dividend smoothing. 70