PROSES PENAMBANGAN BATUBARA

dokumen-dokumen yang mirip

[TAMBANG TERBUKA ] February 28, Tambang Terbuka

BAB III LANDASAN TEORI

BAB III LANDASAN TEORI

BAB IV PENAMBANGAN 4.1 Metode Penambangan 4.2 Perancangan Tambang

Berikut ini sedikit informasi beberapa macam jenis mesin stone crusher dan fungsi/ kegunaannya :

EVALUASI CRUSHING PLANT DAN ALAT SUPPORT UNTUK PENGOPTIMALAN HASIL PRODUKSI DI PT BINUANG MITRA BERSAMA DESA PUALAM SARI, KECAMATAN BINUANG

Proposal Kerja Praktek Teknik Pertambangan Universitas Halu Oleo

Serba-serbi Lengkap Mesin Pemecah atau Penghancur Batu/Stone Crusher Machine

BAB II. HAMMER MILL. 2.1 Landasan Teori

Metode Tambang Batubara

BAB II TINJAUAN UMUM

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Metode Tambang Batubara

BAB I PENDAHULUAN. bahan galian tersebut dari mineral pengotor yang melekat bersamanya.

DAFTAR ISI... RINGKASAN... ABSTRACT... KATA PENGANTAR... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR TABEL... DAFTAR LAMPIRAN... BAB

Penambangan Bijih Nikel di Pomalaa

STANDART OPERASIONAL PROCEDURE

BAB V PEMBAHASAN. perkecil ukurannya sebesar ton per bulan. Sedangkan kemampuan

Sistem FIFO ( First In First Out )

BAB VI POLA EKSTRAKSI AKTUAL DAN ANALISA EKONOMI PENAMBANGAN PASIR BESI

BAB I PENDAHULUAN. Pertambangan di negeri yang memiliki kekayaan alam seperti negeri kita

MACAM-MACAM ALAT-ALAT BERAT

BAB V PEMBAHASAN 5.1 Metode Penambangan 5.2 Perancangan Tambang Perancangan Batas Awal Penambangan

EVALUASI KINERJA ALAT CRUSHING PLANT DAN ALAT MUAT DALAM RANGKA PENINGKATAN TARGET PRODUKSI BATUBARA PADA PT MANDIRI CITRA BERSAMA

EVALUASI CRUSHING PLANT UNTUK PENINGKATAN TARGET PRODUKSI PADA PT INDONESIAN MINERALS AND COAL MINING KECAMATAN KINTAP KABUPATEN TANAH LAUT

Artikel Pendidikan 23

BAB I PENDAHULUAN. PT. ABC adalah perusahaan penyedia jasa pertambangan yang memiliki

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. besar berwarna gelap vesicular batuan vulkanik yang bisanya porfiritik (berisi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

SE - 48/PJ/2011 TATA CARA PENGENAAN PBB SEKTOR PERTAMBANGAN NON MIGAS SELAIN PERTAMBANGAN ENERGI PA

Stockpile Management berfungsi sebagai penyangga antara pengiriman dan proses.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Tahap tahap pekerjaan pemecahan pada crusher dapat dilihat pada diagram alir sebagai berikut :

Variabel yang mempengaruhi pekerjaan land clearing yaitu :

BAB VI PROSES MIXING DAN ANALISA HASIL MIXING MELALUI UJI PEMBAKARAN DENGAN PEMBUATAN BRIKET

ejournal Teknik sipil, 2012, 1 (1) ISSN ,ejurnal.untag-smd.ac.id Copyright 2012

LOADER Alat untuk memuat material ke dump truck, atau memindahkan material, penggalian ringan. Produksi per jam (Q)

BAB II TAHAPAN UMUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN

Studi Kualitas Batubara Secara Umum

PERHITUNGAN PRODUKTIVITAS BULLDOZER PADA AKTIVITAS DOZING DI PT. PAMAPERSADA NUSANTARA TABALONG KALIMANTAN SELATAN

Bab III CUT Pilot Plant

BAB III TEORI DASAR 3.1 Pengertian Coal Processing Plant 3.2 Run Of Mine (ROM ) Stockpile

KAJIAN TEKNIS BELT CONVEYOR DAN BULLDOZER DALAM UPAYA MEMENUHI TARGET PRODUKSI BARGING PADA PT ARUTMIN INDONESIA SITE ASAM-ASAM

LAPORAN PRAKTIKUM PROSES PERLAKUAN MEKANIK GRINDING & SIZING

Jauhari Alafi

TUGAS INDUSTRI SEMEN SPESIFIKASI PERALATAN PABRIK SEMEN

AGRIBISNIS PENGOLAHAN HASIL PERTANIAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BARANG TAMBANG INDONESIA II. Tujuan Pembelajaran

BAB III METODOLOGI DAN PEMBAHASAN START. Identifikasi masalah. Pengolahan data stockpile hingga menjadi model. Analisa pengadaan alat berat

METODE PELAKSANAAN BENDUNGAN

BAB II TANAH DASAR (SUB GRADE)

BAB VII METODE PELAKSANAAN

1. PERANCANGAN PIT DAN PUSHBACK

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Tengah. PT QRS terdaftar sebagai pemilik izin PKP2B ( Perjanjian Karya. Pengusaha Pertambangan Batubara ) Generasi III

TAHAP PELAKSANAAN PEKERJAAN TANAH

BAB II LANDASAN TEORI

PROSEDUR DAN PERCOBAAN

KAJIAN TEKNIS KERJA ALAT GALI MUAT UNTUK PENGUPASAN LAPISAN TANAH PUCUK PADA LOKASI TAMBANG BATUBARA DI PIT

BAB I PENDAHULUAN. bahan galian (mineral, batubara, panas bumi, dan migas). Rangkaian

REKLAMASI DAN PASCATAMBANG

12/17/2012 SIZE REDUCTION (PENGECILAN UKURAN) Karakteristik Ukuran. Ukuran yang digunakan dinyatakan dengan mesh maupun mm.

PENGARUH HASIL PELEDAKAN OVERBURDEN TERHADAP PRODUKTIVITAS ALAT GALI MUAT DI PIT INUL DAN PIT KEONG PT. KALTIM PRIMA COAL DI SANGATTA KALIMANTAN TIMUR

DESAIN TAMBANG PERTEMUAN KE-3

STONE PRODUCTION LINE

BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Batu bara

DAFTAR ISI. RINGKASAN... v ABSTRACT... vi KATA PENGANTAR... vii DAFTAR ISI... viii DAFTAR TABEL... x DAFTAR GAMBAR... xiii DAFTAR LAMPIRAN...

BAB I PENDAHULUAN. yang rinci dan pasti untuk mencapai tujuan atau sasaran kegiatan serta urutan

Tambang Terbuka (013)

METODE PELAKSANAAN PEMBANGUNAN JEMBATAN PT.GUNUNG MURIA RESOURCES

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

TECHNOLOGY NEED ASSESMENT

UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 SAMARINDA

BAB III LANDASAN TEORI

PERALATAN INDUSTRI KIMIA (MATERIAL HANDLING)

BAB III DASAR TEORI. sudah pasti melakukan proses reduksi ukuran butir (Comminution) sebagai bagian

BAB III LANDASAN TEORI

BAB II PEMBAHASAN MATERI

BAB II PEMBAHASAN MATERI. industri, tempat penyimpanan dan pembongkaran muatan dan sebagainya. Jumlah

Jl. Raya Palembang-Prabumulih KM.32 Indralaya Sumatera Selatan, 30662, Indonesia ABSTRAK

BAB IV MATERIAL DAN PERALATAN

BAB II TINJAUAN UMUM

PT GOLDEN EAGLE ENERGY Tbk MATERI PAPARAN PUBLIK (PUBLIC EXPOSE )

DAFTAR ISI. KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR TABEL... DAFTAR LAMPIRAN... Bab

ALAT PENGANGKAT CRANE INDRA IRAWAN

ABSTRAK 1. PENDAHULUAN. JP Vol.1 No.5 November 2017 ISSN

BAB II PEMBAHASAN MATERI. digunakan untuk memindahkan muatan di lokasi atau area pabrik, lokasi

BAB V DASAR-DASAR PENGOLAHAN BAHAN GALIAN

Gambar. Diagram tahapan pengolahan kakao

LAPIS PONDASI AGREGAT SEMEN (CEMENT TREATED BASE / CTB)

DAFTAR ISI RINGKASAN ABSTRACT KATA PENGANTAR DAFTAR LAMPIRAN DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANG (PKL) DI CV. ARJUNA DESA MAKROMAN KECAMATAN SAMARINDA ILIR, KOTA SAMARINDA PROVINSI KALIMANTAN TIMUR.

IV. PENDEKATAN DESAIN

OPTIMALISASI PRODUKSI PERALATAN MEKANIS SEBAGAI UPAYA PENCAPAIAN SASARAN PRODUKSI PENGUPASAN LAPISAN TANAH PENUTUP DI PT

II. TUJUAN DAN MANFAAT

BAB II TINJAUAN UMUM

LAPORAN BULANAN AKTIVITAS EKSPLORASI PT ADARO ENERGY Tbk JUNI 2012

PRODUKTIVITAS ALAT MUAT DAN ANGKUT PADA PENGUPASAN LAPISAN TANAH PENUTUP DI PIT 8 FLEET D PT. JHONLIN BARATAMA JOBSITE SATUI KALIMANTAN SELATAN

Transkripsi:

PROSES PENAMBANGAN BATUBARA 1. Pembersihan lahan (land clearing). Kegiatan yang dilakukan untuk membersihkan daerah yang akan ditambang mulai dari semak belukar hingga pepohonan yang berukuran besar. Alat yang biasa digunakan adalah buldozer ripper dan dengan menggunakan bantuan mesin potong chainsaw untuk menebang pohon dengan diameter lebih besar dari 30 cm. Pada perusahaan tambang PT.CMS Kaltim Utama menggunakan bulldozer caterpillar D9R dan D6R.

2. Pengupasan Tanah Pucuk (top soil). Maksud pemindahan tanah pucuk adalah untuk menyelamatkan tanah tersebut agar tidak rusak sehingga masih mempunyai unsur tanah yang masih asli, sehingga tanah pucuk ini dapat diguanakan dan ditanami kembali untuk kegiatan reklamasi. Tanah pucuk yang dikupas tersebut akan dipindahkan ke tempat penyimpanan sementara atau langsung di pindahkan ke timbunan. Hal tersebut bergantung pada perencanaan dari perusahaan. Pada perusahaan tambang PT.CMS Kaltim Utama menggunakan excavator caterpillar 320DL dan 390DL. 3. Pengupasan Tanah Penutup (stripping overburden). Bila material tanah penutup merupakan material lunak (soft rock) maka tanah penutup tersebut akan dilakukan penggalian bebas. Namun bila materialnya merupakan material kuat, maka terlebih dahulu dilakukan pembongkaran dengan peledakan (blasting) kemudian dilakukan kegiatan penggalian. Peledakan yang akan dilakukan perlu dirancang sedemikian rupa hingga sesuai dengan produksi yang diinginkan. 4. Penimbunan tanah penutup (overburden removal). Overburden removal adalah kegiatan memindahkan material bongkaran dari alat gali (excavator jenis backhoe maupun shovel) dari point loading ke tempat penumpukan / pembuangan yang telah direncanakan yang disebut disposal. Tanah penutup dapat ditimbun dengan dua cara yaitu backfilling dan penimbunan langsung. Tanah penutup yang akan dijadikan material backfilling biasanya akan ditimbun ke penimbunan sementara pada saat tambang baru dibuka. Pada perusahaan tambang PT.CMS Kaltim Utama menggunakan Dump Truck Mercy N, Mercy O, Caterpillar 775F dan Caterpillar 740B.

5. Coal Cleaning. Sebelum melakukan penambangan terlebih dahulu dilakukan kegiatan coal cleaning. Maksud dari kegiatan coal cleaning ini adalah untuk membersihkan pengotor yang berasal dari permukaan batubara (face batubara) yang berupa material sisa tanah penutup yang masih tertinggal sedikit, serta pengotor lain yang berupa agen pengendapan (air permukaan, air hujan, longsoran). Hasil kegiatan coal cleaning ini adalah lapisan batubara yang bersih dan berkualitas. Proses coal cleaning ini dilakukan oleh alat excavator yang telah dilengkapi dengan cutting blade pada sisi luar kuku bucket. Hal ini menjadikan ujung bucket bukan berupa kuku tajam, melainkan berupa ujung bucket yang datar rata. Unsur pengotor yang berada di atas lapisan batubara dapat dihilangkan hingga sebersih mungkin. 6. Penambangan Batubara (coal getting). Setelah melakukan proses coal cleaning, selanjutnya melakukan proses Coal Getting. Coal getting merupakan proses pengambilan batu bara dari pembersihan (cleaning) sampai pengisian (loading) batu bara ke alat angkut untuk kemudian di angkut ke tempat penampungan (stockpile). Pada perusahaan tambang PT.CMS Kaltim Utama menggunakan excavator caterpillar 320DL dan 390DL. 7. Pengangkutan Batubara ke (coal hauling). Setelah dilakukan kegiatan coal getting, kegiatan lanjutan adalah pengangkutan batubara (coal hauling) dari lokasi tambang (pit) menuju stockpile atau langsung ke unit pengolahan. Pada perusahaan tambang PT.CMS Kaltim Utama menggunakan Dump Truck type Mercy N, Mercy O, Caterpillar 775F dan Caterpillar 740B.

8. ROM Stock. 1. Stocking di ROM tambang ROM ( Run of Mine ) tambang digunakan tempat rehandling batubara dari pit, untuk selanjutnya diangkut menggunakan truck hauling ke fasilitas coal crushing. 2. Stocking di ROM Produksi Kelanis ROM produksi digunakan sebagai stock cadangan untuk menjaga kontinuitas proses produksi ( crushing ) dan mengantisipasi adanya gangguan proses hauling batubara dari tambang. Ada 2 ROM stockpile yang digunakan : ROM 1, digunakan untuk mejaga stabilitas suplay batubara untuk proses produksi ( crusher ) pada rate maksimum. ROM 2, digunakan sebagai dead stockpile dan mengantisipasi problem proses hauling dari tambang. 9. Crushing. Crushing adalah proses pemecahan batubara dari ukuran besar menjadi ukuran kecil. Alat untuk pemecahan batubara tersebut adalah crusher. Proses crushing harus mempertimbangkan : 1. Proses kerja yang efektif dan efisien 2. Productivity yang maksimal 3. Utilisasi A2B & Crusher secara efektif dan efisien 10. Stockpile. Stockpile berfungsi sebagai penyangga antara pengiriman dan proses, sebagai stock strategis terhadap gangguan yang bersifat jangka pendek atau jangka panjang. Stockpile juga berfungsi sebagai proses homogenisasi dan atau pencampuran batubara untuk menyiapkan kualitas yang dipersyaratkan. Disamping tujuan di atas di stockpile juga digunakan untuk memcampur batubara supaya homogenisasi sesuai kebutuhan. Homogenisasi bertujuan untuk menyiapkan produk dari satu tipe material dimana fluktuasi di dalam kualitas

batubara dan distribusi ukuran disamakan. Dalam proses homogensiasi ada dua tipe yaitu blending dan mixing. Blending bertujuan untuk memperoleh produk akhir dari dua atau lebih tipe batubara yang lebih dikenal dengan komposisi kimia dimana batubara akan terdistribusi secara merata dan tanpa ada lagi tempat yang cukup besar untuk mengenali salah satu dari tipe batu bara tersebut ketika proses pengambilan contoh dilakukan. Dalam proses blending batubara harus tercampur secara merata atau distribusi merata. Sedangkan mixing merupakan salah satu dari tipe batubara yang tercampur masih dapat dilokasikan dalam kuantitas kecil dari hasil campuran material dari dua atau lebih tipe batubara. S 11. Preparasi pengotornya. Preparasi adalah proses pemisahan batubara menjadi batubara bersih dari Proses preparasi 1. Tempat penampungan batubara mentah yaitu (stock file/stock yard) batubara yang masih mentah atau masih memiliki mineral-mineral pengotor. 2. Pengerusan atau penghancuran 3. Penetapan ukuran (sizing) 4. Tempat penyortiran adalah tempat batubara yang telah disortis atau pemisahan berdasarkan ukuran kadar. 5. Penanganan produk adalah batubara yang telah disortir setiap diangkut. 6. Transportasi adalah pemeriksaan alat-alat 7. Pengausan Pekerjaan dalam preparasi yang paling utama adalah pemisahan sedangkan kegiatan yang lain hanya untuk membuat pemisahan menjadi lebih efektif. Macam-macam mesin peremuk : 1. Bradford bracker Mesin berbentuk seperti drum atau silinder yang dapat berputar dan dapat berfungsi sebagai peremuk dan ayakan (screening). Amerika serikat sampai sekarang masih memakai alat jenis ini pada proses preparasi batubara mentah dengan kualitas bagus yang sedikit kandungan abunya. Dijepang juga alat ini masih dipakai pada

penanganan batubara kerakal. Dengan ukuran diameter silinder 2-3,6 m panjang silinder 5-6 m, jumlah putaran/menit 10-11 kali, kapasitas pengolahan perjam 50-80 ton dengan daya atau kapasitas listrik 22-24 kw. 2. Impact crusher Mesin ini menggunakan benturan (impact) sebagai mekanisme peremukannya tipenya ada berbagai macam, mesin ini sangat representative disbanding mesin yang lain karena dapat menghasilkan prodak yang relative ideal sehingga memudahkan dalam hal pengangkutan dan pemakaian. Mesin ini mempunyai rasio peremukan yang besar yakni 7:1, 10: 1. Hanya saja berat baja (liner) yang berfungsi sebagai pemukul dab plat penerima sering mengalami keausan sehingga mesin ini termasuk mesin yang butuh biaya pemeliharaan yang tinggi. Ada 2 tipe mesin repressible hammer mill dan impact crusher. 3. Roll crusher a. Double roll crusher berfungsi melakukan peremukan dengan cara menjepit benda yang hendak diremukkan diantara satu buah roller yang dikenal dengan sebutancrushing roll. Alat ini terdiri dari 2 silinder (roller) dengan sumbu yang sejajar pada bidang horizontal yang sama kedua roller berdekatan lalu berputar dengan arah putaran berlawanan kemudian batubara mentah diumpan masuk akan dijepit diantara dua roller, akibat tekanan yang kuat akhirnya batubara mentah remuk dan jatuh kedalam roller truk ke penampungan. Keunggulan double roll crusher : Tidak mudah terjadi peremukan atau perumusan secara berlebuhan Jarang terjadi penyumbatan pada ruang peremukan. Preparasi mudah dilakukan. Kekurangan double roll crusher :

Proses peremukan hanya berlangsung pada sebagian kecil dari seluruh badan rolter yang besar. b. Single roll crusher adalah double roll crusher yang didesain mempunyai 1 roller saja dengan tujuan untuk meningkatkan kapasitas pengolahan batubara/ satuan luas. Kekurangannya sering terjadi penyumbatan terhadap partikel yang mudah melengket. 4. Jaw Crusher Jaw crusher adalah alat atau contoh paling umum mesin peremuk dengan bentuk dan mekanisme yang sederhana untuk melakukan peremukan batuan yang mengandung mineral dengan cara menjepit diantara dua buah plat (rahang tetap dan rahang ayun) atau swing jaw, lalu dihancurkan dengan gaya tekan remuk. Kegunaannya untuk menyeragamkan ukuran butir batubara mentah, untuk meremukkan batu buangan sebelum dibuang dengan belt conveyor. Alat tersebut ada 2 tipe : Type blake, bila titik tumpuan ada diatas. Type dodge, bila titik tumpuan ada dibawah. Prinsip Kerja jaw crusher, sudut yang dibentuk oleh dua buah rahang disebut nip angle dan besarnya antara 28-30 j. bila sudut ini terlalu besar batubara mentah yang baik, akan selalu terpental atau lari ke atas, perbandingan antara ukuran partikel sebelum dan sesudah peremukan disebut juga rasio peremukan (rasio pengerusan), rasio peremukan atau pengerusan pada jaw crusher sekitar 4:1 hingga 6:1 sedangkan untuk menyatakan kapasitas pengolahan bijih dinyatakan dengan (m3/t) atau (t/jam). Pada jaw crusher type dodge titik tumpuh rahang-rahangnya ada dibagian bawah sehingga pada saat pengoprasionalnya pun misalnya discharge (dutlate) tetap. Type ini mempunyai kelebihan dalam hal keseragaman ukuran produk (hasil pengerusan) namun sebaliknya kekurangannya pada mulut discharge karena mudah tersumbat. Karena posisi mulut discharge jauh dari titik tumpu gaya maka alat ini harus melakukan peremukan bongkahan besar dengan tenaga yang relative lemah untuk itu type dodge biasanya dipakai untuk peemukan sedang, dan kapasitas pengolahan yang tidak terlalu besar.

Sizing adalah tindakan untuk mengelompokkan partikel menurut besar kecilnya ukuran. Classification adalah metode dengan memnfaatkan beda kecepatan pengendapan partikel didalam media udara atau didalam air. Sizing merupakan aktivitas yang sangat penting dalam upaya penyeragaman ukuran untuk mendapatkan kelompok partikel dengan ukuran butir yang sesuai untuk tiap-tiap metode pemisahan atau pengolahan mineral. Selain itu pengayakan (screening dan classification) dipakai juga dalam penanganan air atau pengolahan buangan limbah. Pengayaan (screening) adalah kegiatan pengelompokkan partikel dengan melewatkan melalui mata atau lubang ayakan, mata ayakan itu sendiri dapat dibuat dari besi yang dilubangi dengan ukuran tertentu atau dari kawat yang dianyam partikel yang lolos dari atau melewati mata ayakan disebut bendersize product, akibat terlalu banyak partikel berukuran kecil dalam jumlah yang cukup besar atau banyak dicampur dengan partikel besar yang tinggal sebagai oversize product. 12. Coal Barging. Barging adalah proses pemindahan batubara dari stockpile menuju barge (tongkang) menggunakan barge loader conveyor ataupun menggunakan unit dump truk. Di port tersebut yang harus diperhatikan adalah : 1. Menentukan schedule barging secara akurat dan tepat waktu 2. Melakukan monitoring dan controling produksi, supaya proses barging tepat waktu dan tepat guna 13. Transhipment

Transhipment adalah proses pemindahan batubara dari kapal tongkang ke kapal besar (MotherVessel). Hal yang di perhatikan dalam proses transhipment adalah : 1. Memastikan pengangkutan batubara dari port menuju trashipment point berjalan tepat waktu 2. Menentukan nominasi tug boat dan barge yang akan dilakukan barging 3. Melakukan monitoring dan controling Tug boat, Barge dan Mother Vessel 4. Melakukan kepengurusan dokumen. PEB, Bea Cukai, Dinas Perdagangan dll