BAB IV METODE PENELITIAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Kata Kunci : Vektor kecepatan, pola aliran, PIV, pemodelan, pilar jembatan 1 Disampaikan pada Seminar Tugas Akhir 3 Dosen Pembimbing I

ANALISIS MODEL FISIK GERUSAN LOKAL PADA PILAR JEMBATAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 5.1 Analisis Gradasi Butiran sampel 1. Persentase Kumulatif (%) Jumlah Massa Tertahan No.

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Data Penelitian

BAB III METODE PENELITIAN. fakultas teknik Universitas Diponegoro Semarang. Penelitian yang dilakukan

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN A. Bagan Alir Rencana Penelitian

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

NASKAH SEMINAR 1. ANALISIS MODEL FISIK TERHADAP GERUSAN LOKAL PADA PILAR JEMBATAN (Studi Kasus Pilar Kapsul dan Pilar Tajam Pada Aliran Subkritik)

BAB III Metode Penelitian Laboratorium

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

STUDI EKSPERIMEN AGRADASI DASAR SUNGAI PADA HULU BANGUNAN AIR

BAB III METODE PENELITIAN LABORATORIUM

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN. A. Bagan Alir Penelitian

DAFTAR ISI Novie Rofiul Jamiah, 2013

NASKAH SEMINAR 1. ANALISIS MODEL MATEMATIK GERUSAN LOKAL PADA PILAR JEMBATAN DENGAN ALIRAN SUBKRITIK (Studi Kasus Pilar Kapsul dan Pilar Tajam)

Studi Pengaruh Sudut Belokan Sungai Terhadap Volume Gerusan

Cara Mengukur dan Menghitung Debit Saluran

PENGARUH BENTUK MERCU BENDUNG TERHADAP TINGGI LONCAT AIR KOLAM OLAK MODEL USBR IV (SIMULASI LABORATORIUM)

BAB 3 METODE PENELITIAN

I-I Gambar 5.1. Tampak atas gerusan pada pilar persegi

MODEL BANGUNAN PENDUKUNG PINTU AIR PAK TANI BERBAHAN JENIS KAYU DAN BAN SEBAGAI PINTU IRIGASI

9. Dari gambar berikut, turunkan suatu rumus yang dikenal dengan rumus Darcy.

TUGAS AKHIR ANALISIS MODEL FISIK. GERUSAN LOKAL PADA PILAR JEMBATAN (Studi Kasus : Pilar Lingkaran dan Pilar Persegi, Aliran Subkritik)

PENGARUH POLA ALIRAN DAN PENGGERUSAN LOKAL DI SEKITAR PILAR JEMBATAN DENGAN MODEL DUA DIMENSI ABSTRAK

STUDI PERENCANAAN HIDRAULIK PEREDAM ENERGI TIPE BAK TENGGELAM (CEKUNG) DENGAN MODEL FISIK DUA DIMENSI

ANALISIS GERUSAN LOKAL PADA PILAR JEMBATAN MENGGUNAKAN METODE CSU

BAB III SET-UP ALAT UJI

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. terbentuk secara alami yang mempunyai fungsi sebagai saluran. Air yang

STUDI NUMERIK PERUBAHAN ELEVASI DAN TIPE GRADASI MATERIAL DASAR SUNGAI

BAB III LANDASAN TEORI

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB IV OLAHAN DATA DAN PEMBAHASAN

Disampaikan pada Seminar Tugas Akhir 2. Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta NIM :

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

ANALISIS GERUSAN DI HILIR BENDUNG TIPE USBR-IV (UJI MODEL DI LABORATORIUM)

(a). Vektor kecepatan arus pada saat pasang, time-step 95.

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

MODEL ANALISIS ALIRAN PADA SALURAN TERBUKA DENGAN BENTUK PENAMPANG TRAPESIUM PENDAHULUAN

PENGARUH PEMASANGAN KRIB PADA SALURAN DI TIKUNGAN 120 ABSTRAK

BAB IV METODE PENELITIAN. A. Tinjauan Umum

ALIRAN MELALUI LUBANG DAN PELUAP

BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV METODE PENELITIAN. A. Tinjauan Umum. B. Maksud dan Tujuan

BAB I PENDAHULUAN. perubahan morfologi pada bentuk tampang aliran. Perubahan ini bisa terjadi

PROSES PEMBENTUKAN MEANDER SUNGAI DAN HUBUNGANNYA DENGAN ANGKUTAN SEDIMEN (Percobaan Laboratorium) (Dimuat pada Jurnal JTM, 2006)

HALAMAN PERNYATAAN. Analisis Model Matematik Gerusan Lokal Pada Pilar Jembatan Dengan Aliran Subkritik (Studi Kasus Pilar Kapsul dan Pilar Tajam)

BAB III LANDASAN TEORI

ANALISIS GERUSAN DI HILIR BENDUNG TIPE VLUGHTER (UJI MODEL LABORATORIUM)

BAB III METODE PENELITIAN

STUDI ANALISIS PENGGERUSAN DI HILIR BENDUNG TIPE USBR III DENGAN MODEL FISIK DAN KEMIRINGAN DASAR SALURAN 2% ABSTRAK

PENGARUH BENTUK PILAR JEMBATAN TERHADAP POTENSI GERUSAN LOKAL

Key words : flume, open channel. I. PENDAHULUAN

BAB III RANCANG BANGUNG MBG

BAB V RENCANA PENANGANAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

LAPORAN UJI MODEL FISIK

PENGARUH VARIASI LAPISAN DASAR SALURAN TERBUKA TERHADAP KECEPATAN ALIRAN ABSTRAK

BAB IV METODE PENELITIAN

TUGAS AKHIR ANALISIS NUMERIK GERUSAN LOKAL PADA PILAR (Studi Kasus Pilar Persegi dan Pilar Lingkaran, Aliran Subkritik)

KAJIAN PENGARUH HUBUNGAN ANTAR PARAMETER HIDROLIS TERHADAP SIFAT ALIRAN MELEWATI PELIMPAH BULAT DAN SETENGAH LINGKARAN PADA SALURAN TERBUKA

TUGAS AKHIR. Perencanaan Sistem Drainase Pembangunan Hotel di Jalan Embong sawo No. 8 Surabaya. Tjia An Bing NRP

KARAKTERISTIK ALIRAN SEDIMEN SUSPENSI PADA SALURAN MENIKUNG USULAN PENELITIAN DESERTASI

BAB III PEMBUATAN ALAT UJI DAN METODE PENGAMBILAN DATA

Tabel 6.1 Gerusan Berdasarkan Eksperimen. Gerusan Pilar Ys Kanan Kiri. Jenis Aliran Sub kritik Super kritik. Jenis. Satuan. No.

STUDI PERENCANAAN HIDRAULIK BENDUNG TIPE GERGAJI DENGAN UJI MODEL FISIK DUA DIMENSI ABSTRAK

III. METODOLOGI PENELITIAN. Pembuatan alat penelitian ini dilakukan di Bengkel Berkah Jaya, Sidomulyo,

PENYELIDIKAN OPERASI PINTU INTAKE EMBUNG SAMIRAN DENGAN UJI MODEL HIDROLIK. Dwi Kurniani *) Kirno **)

ANALISIS NUMERIK GERUSAN LOKAL PADA PILAR

e-jurnal MATRIKS TEKNIK SIPIL/September 2013/199 Jl. Ir. Sutami 36A, Surakarta 57126: Telp

BAB III METODOLOGI PENELITIAN Bahan Penelitian Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah air.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

STRATEGI PEMILIHAN PEREDAM ENERGI

BAB 4 PERENCANAAN ALTERNATIF SOLUSI

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB V SIMULASI MODEL MATEMATIK

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB V SIMULASI MODEL MATEMATIK

Jom FTEKNIK Volume 3 No.2 Oktober

Tata cara pembuatan model fisik sungai dengan dasar tetap

Bab III HIDROLIKA. Sub Kompetensi. Memberikan pengetahuan tentang hubungan analisis hidrolika dalam perencanaan drainase

STUDI PERUBAHAN DASAR KALI PORONG AKIBAT SEDIMEN LUMPUR DI KABUPATEN SIDOARJO TUGAS AKHIR

STUDI PERENCANAAN HIDRAULIK PEREDAM ENERGI TIPE MDO DENGAN MODEL FISIK DUA DIMENSI

Transkripsi:

BAB IV METODE PENELITIAN A. Studi Literature Penelitian ini mengambil sumber dari jurnal jurnal yang mendukung untuk kebutuhan penelitian. Jurnal yang diambil berkaitan dengan pengaruh adanya gerusan lokal terhadap bentuk pilar. Selain jurnal, sumber penelitian juga diambil dari beberapa karya tugas akhir mengenai gerusan lokal. Sedangkan untuk studi literatur Dalam penelitian dengan metode analisa dengan model fisik. B. Pengumpulan Data Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Keairan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta: 1. Alat Dan Bahan Adapun spesifikasi jenis peralatan, baik yang tersedia di laboratorium maupun alat bantu yang dibuat sendiri yang digunakan dalam penelitian ini antara lain sebagai berikut: a. Flume test Merupakan suatu set model saluran terbuka dengan dinding tembus pandang yang diletakkan pada struktur rangka kaku. Dasar saluran saluran ini dapat diubah kemiringannya dengan menggunakan jack hidraulik yang dapat mengatur kemiringan dasar saluran tersebut secara akurat. Alat flume test yang digunakan memiliki panjang saluran 5,00 meter, lebar 0,46 meter dan tinggi 0,4 meter. Bagian utama pada alat ini terbuat dari acrylic dengan tebal 10 milimeter yang dibentuk seperti saluran terbuka dengan penampang persegi. Secara keseluruhan, flume test dibagi menjadi tiga bagian utama, yaitu upstream channel, middle channel (observation area), dan downstream channel. Pada bagian flume test sebelum upstream channel terdapat bagian dissipation energy channel yang terbuat dari bak fiber dengan panjang 1,50 meter dan lebar 0,75 meter. Pada bagian ini, turbulensi/olakan air yang dipompa masuk ke dalam flume test dengan jet pump dengan input dari bak penampung 23

24 diredam menggunakan synthetic grass sebelum dialirkan masuk bagian upstream channel. Pada bagian upstream channel air di yang mengalir diberikan ruang untuk kestabilan aliran sebelum memasuki area observasi atau pengamatan dan selanjutnya mengalir pada bagian downstream channel. Setelah itu, air yang mengalir akan masuk bagian bak pengukur (discharge measurement channel) dengan panjang 1,50 meter dan lebar 0,70 meter. Pada bagian ini, jarak 1,00 m dari bagian hulu, terdapat ambang peluap segitiga (Thompson s Weir) untuk mengetahui debit air terukur dalam flume test. Air kemudian mengalir ke bak penampung akhir dan kembali dipompa ke bak penampung awal untuk kembali disirkulasi selama proses eksperimen. Gambar 4.1 dan Gambar 4.2 menunjukkan skema alat percobaan (flume test) dari tampak atas dan tampak samping

Discharge Measurement Channel 1.50 m Dissipation energy Upstream channel Observation area Downstream channel 1.50 m 1.25 m 2.50 m 1.25 m Bucket Upstream tank Flume channel Gambar 4. 1 Skema alat percobaan (flume test) dari tampak atas 25

(b) (c) (g) (g) (d) (e) (a) (f) Keterangan: a. Flume b. Pompa c. Rumput Sintesis d. Point Gauge e. Kamera f. Peluap Segitiga g. Alat Penabur Sediment Feeding (b) Gambar 4. 2 Skema alat percobaan (flume test) dari tampak Samping 26

27 b. Jetpump dan Pompa Sedot Alat ini digunakan untuk memompa air untuk disalurkan menuju flume. Dengan nama dan spesifikasi sebagai berikut: 1) Jetpump, Diletakkan pada sumber air tebesar, bagian hulu. Spesifikasi: Merek = Grundfos x Voltage = 450V Q = 4-17m 3 /jam Hmin Hmax RPM = 6,2 m = 18,5 m = 2940/min Gambar 4. 3 Jetpump 2) Pompa Sedot, berjumlah 3 buah pompa, dua diletakkan di sumber air bagian hulu dan satu disamping peluap segitiga untuk mengalirkan kembali air yang terbawa ke sumber air. a) Pompa sedot di bagian hulu Spesifikasi: Merek = Multipro Hmax Qmax = 6 m = 115 L/min Voltage = 220 V RPM = 2850/min Size = 1 dan 1,5 Gambar 4. 4 Pompa sedot dihulu

28 b) Pompa sedot di bagian hulu Merek = Inoto Hmax = 6 m Qmax = 90 L/min Voltage = 220 V Size = 1,5 Gambar 4. 5 Pompa sedot dihulu c) Pompa sedot di bagian hulu Gambar 4. 6 Pompa sedot dihilir c. Rumput Sintesis Merupakan rumput yang terbuat dari bahan sintesis dan digunakan untuk meredam aliran agar kecepatan dan ketinggian air mendekati yang direncanakan.

29 Gambar 4. 7 Rumput sintesis d. Point Gauge (alat ukur tinggi muka air) Berupa mistar ukur vertikal yang digunakan untuk mengukur kedalaman aliran dan gerusan yang terjadi. Alat ukur ketinggian bentuk penampang saluran sebelum dan sesudah percobaan perlakuan. Gambar 4. 8 Point Gauge e. Kamera Olympus 120 frame per second (fps) Kamera digunakan untuk pengambilan data serta dokumentasi selama percobaan berlangsung. Kamera ini digunakan untuk mengambil gambar dari bagian tampak atas. kamera ini digunakan agar video yang diambil dapat diperlambat dan di edit dengan hasil yang baik.

30 Gambar 4. 9 Kamera olympus f. Peluap segitiga Peluap segitiga (sudut 90 0 ). Alat ini digunakan untuk mengukur debit yang mengalir pada saluran (flume). Gambar 4. 10 Peluap segitiga g. Alat penabur sediment feeding Alat yang digunakan untuk menaburkan sedimen terdiri dari dua, yaitu cup yang digunakan untuk menampung sediment sebanyak yang direncanakan dengan ukuran diameter atas sebesar 10 cm, diameter bawah 9,5 cm, tinggi 7,5 cm dan papan penabur dengan panjang 0,5 m

31 dan lebar 0,46 m. gelas ini nantinya akan diisi dengan sedimen sejumlah perhitungan yang didapat. Gambar 4. 11 Sediment feeding h. Kain penangkap sedimen Kain yang terdiri dari dua lapis, yang mana pada lapis pertama digunakan untuk menangkap sedimen yang terbawa dari kondisi awal hingga stabil, dan lapis kedua digunakan untuk menangkap sedimen yang terbawa ketika sediment feeding ditaburkan hingga pengujian selesai dilakukan. Gambar 4. 12 Kain penangkap sedimen

32 i. Sediment tracking Material berupa manik-manik berwarna merah dan putih dengan diameter 0,5 cm yang akan digunakan untuk menganalisa kecepatan air. Gambar 4. 13 Sediment tracking j. Pasir (sedimen) Pasir yang digunakan berasal dari gunung kidul yang memiliki ukuran butiran tidak seragam yaitu berukuran 0,85 mm sampai 0,075 mm. Volume pasir yang dibutuhkan sebesar 0,23 m 3 Gambar 4. 14 Sedimen k. Air Air yang digunakan sudah tersedia di laboratorium Keairan jurusan Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

33 l. Model pilar Model pilar terbuat dari bahan pipa yang berisi pasir sebagai pemberat dengan berbagai bentuk dan ukuran. Model pilar yang digunakan meliputi: 1) Pilar kapsul Gambar 4. 15 Pilar kapsul tampak atas dan tampak prespektif 2) Pilar tajam 7,5 cm 15 cm Gambar 4. 16 Pilar Tajam 2. Persiapan pelaksanaan eksperimen a. Pembuatan miniature pilar yang terbuat dari plat besi dengan bentuk dan ukuran model pilar yang digunakan adalah pilar dengan bentuk penampang tajam (belah ketupat) dengan tinggi 15 cm dan panjang diagonal 5,5 cm, pilar dengan bentuk kapsul (gabungan bentuk persegi dan setengah lingkaran) dengan tinggi 15 cm, ukuran sisi persegi 7,62 cm dan diameter lingkaran 7,62 cm.

34 b. Menyiapkan material dasar saluran (pasir) yang berukuran 0,085 mm sampai 0,075 mm. c. Menyiapkan pemodelan debris menggunakan sediment feeding. Untuk pilar kapsul dibutuhkan 24 gelas penabur dengan berat masing-masing 750 gr dan untuk pilar tajam dibutuhkan 24 gelas penabur dengan berat masing-masing 660 gr. d. Siapkan dua lapis kain diujung flume untuk menangkap material yang tergerus dan terbawa arus sebelum mencapai peluap segitiga. Lapis pertama digunakan untuk menangkap sedimen untuk memodelkan kondisi sungai sebelum stabil hingga stabil selama 1 menit dilihat pada ketinggian air yang tidak berubah pada bagian hulu dan hilir, dan lapis kedua untuk menangkap sedimen yang terlarut ketika sediment feeding ditaburkan. e. Telah selesai, lalu melakukan pengukuran elevasi dengan menggunakan point gauge untuk mengetahui kedalaman gerusan dan sedimentasi yang terjadi. f. Melakukan pengecekan terhadap peralatan yang digunakan dalam penelitian, memastikan alat dalam keadaan baik dan layak untuk digunakan. g. Melakukan pengecekan terhadap stopwatch yang akan digunakan. 3. Kasus Eksperimen dan Properti Material a. Pompa dihidupakan dengan debit yang telah ditentukan. Didapat dengan memasang dan menyalakan pompa jetpump dan 2 pompa sedot dibagian sumber air dan 1 pompa sedot dibagian kolam yang menampung luapan air dari peluap segitiga untuk dialirkan kembali ke sumber air. b. Kamera yang terpasang pada bagian atas saluran, bagian peluap segitiga dan dinding saluran siap dihidupkan c. Memastikan tinggi muka air pada saluran dan tinggi air pada peluap segitiga stabil pada menit ke-1, kemudian menaburkan sediment feeding selama 2 menit dengan memasukkan sediment kedalam gelas penabur dengan jumlah yang telah dihitung tiap 5 detik/gelas penabur, lalu

35 menaburkan manik-manik (sediment tracking) pada menit pertama dan kedua setelah stabil. d. Running dihentikan pada menit ketiga. e. Percobaan dilanjutkan kembali dengan mengganti bentuk pilar. pasir ditebarkan dan diratakan kembali. Pada penelitian ini dilakukan pengujian dalam kondisi aliran superkritis dengan slope 0.0385 dan dasar saluran movable bed, jenis dasar saluran movable bed menggunakan material sedimen heterogen dengan diameter berukuran 0,085 mm sampai 0,075 mm. Gambar 4. 17 Kondisi dasar saluran movable bed water surface Slope 0.0358 movable bed Gambar 4. 18 Kondisi dasar saluran pada alat flume test pada kondisi movable bed Untuk memperoleh data yang diperlukan, beberapa penyederhanaan dilakukan pada penelitian ini, diantaranya: a. Saluran dimodelkan dengan penampang persegi dan berbentuk lurus memanjang. b. Pengaruh vegetasi pada pengujian tidak dimodelkan.

36 c. Pengujian dalam kondisi movable bed dilakukan penyeragaman dasar saluran (gradasi uniform) pada diameter 1,00 milimeter. d. Bagian awal dan akhir flume test pada kondisi movable bed diberikan peredam gerusan berupa beronjong kerikil untuk meminimalisir terjadinya gerusan berlebih pada area upstream dan downstream. 4. Metode Eksperimen Pengamatan dalam penelitian ini dilakukan dengan dua cara; pertama pengamatan pergerakan aliran air dan sedimen secara lateral atau memanjang dan yang kedua pengamatan berdasarkan profil potongan melintang pada saluran. Pergerakan aliran air diamanati dengan menggunakan bantuan sediment tracking, butiran plastik dengan diameter 5,00 milimeter, yang ditaburkan ke dalam area flume dalam interval waktu tertentu. Pergerakan aliran air secara lateral atau memanjang dan secara cross sectional atau melintang diamati menggunakan kamera yang diletakkan di atas area observasi untuk merekam dan mengambil gambar pergerakan sediment tracking selama pengujian dilakukan. Pergerakan sediment tracking tersebut kemudian menjadi dasar dalam analisa untuk vektor kecepatan aliran air dalam dua dimensi. Sedangkan pengamatan pada dasar saluran, khususnya untuk pengujian dengan movable bed dilakukan pengukuran berkala menggunakan alat laser gauge pada beberapa section untuk memperoleh potongan melintang dasar saluran. Pengambilan data cross section dilakukan setelah aliran air dalam flume berhenti. Pengukuran debit aliran air dilakukan pada bagian bucket atau bak penampung akhir setelah air mengalir melewati downstream channel. Untuk pengujian pada kondisi movable bed, sedimen yang bergerak karena pengaruh gaya yang diberikan oleh aliran air ditangkap menggunakan sediment trap, kain berpori-pori kecil, pada bagian bucket sebelum jatuh mengalir ke area pengukuran debit. Peluap segitiga yang diletakkan di dalam area bucket digunakan untuk mengukur debit aliran yang mengalir pada flume test selama pengujian dilakukan. Kalibrasi peluap segitiga

Cd 37 dilakukan pada koefisien debit dengan variasi debit aliran terukur sebelum pengujian dilakukan. Tabel 4. 1 Perhitungan koefisien debit dan Tinggi air Volume (liter) Volume (m 3 ) waktu (detik) Q (m 3 /s) Tinggi miring (cm) H (cm) H (m) 30 0,03 75 0,0004 5,3 3,746 0,037 0,623 30 0,03 29,12 0,00103 7,7 5,443 0,054 0,631 30 0,03 21,31 0,001408 8,7 6,150 0,061 0,635 30 0,03 8,78 0,003417 12,2 8,624 0,086 0,662 30 0,03 6,9 0,004348 13,5 9,543 0,095 0,654 30 0,03 4,96 0,006048 16 11,310 0,113 0,595 (sumber: hasil perhitungan, 2017) Cd 0.67 Grafik Hubungan Cd (Koefisien Debit) dan tinggi air 0.66 0.65 0.64 y = 0.0408ln(x) + 0.7533 R² = 0.8743 0.63 0.62 0.61 0 0.02 0.04 0.06 0.08 0.1 0.12 tinggi air (cm) Gambar 4. 19 Grafik hubungan koefisien debit dengan tinggi air

38 Tabel 4. 2 Kondisi aliran hidraulika pada pengujian aliran superkritik. Parameter Nilai Debit (m 3 /s) 0,0057 Kemiringan saluran, I 0,0358 Kedalaman aliran, Ho (m) 0,0175 Lebar flume, B (m) 0,4600 Radius Hidraulik, R (m) 0,0163 Berat jenis air (Kg/m 3 ) 1000,0 Berat jenis pasir (kg/m 3 ) 2650,0 g (m/s 3 ) 9,8100 Kecepatan aliran (m/s) 0,712 d50 butiran (mm) 1,208 Angka froude, F 1,717 (sumber: hasil perhitungan, 2017) 5. Analisis Data Hasil perolehan data aliran untuk setiap pilar dengan debit yang sama. Selanjutnya akan diperoleh vektor kecepatan aliran melalui analisis rekaman sediment tracking, selain itu diperoleh data coss section melintang saluran dan memanjang saluran sehingga dapat dianalisis kedalaman gerusan yang terjadi pada setiap pilar. Selanjutnya dilakukan perbandingan terhadap hasil yang didapat pada pengujian dengan sediment feeding dan hasil yang didapat pada pengujian tanpa sediment feeding untuk melihat pengaruh sedimen yang diberikan.

39 C. Alur Simulasi Model Fisik Mulai Debit dan kemiringan saluran rencana Flume, pompa dan sedimen dasar saluran Waktu simulasi Sediment tracking Sediment feeding Penaburan sediment feeding dengan gelas penabur sebanyak jumlah sedimen yang tertangkap sebelumnya perwaktu yang ditentukan Pengukuran kecepatan dengan sediment tracking Pengukuran cross section Berat sedimen Vektor kecepatan (PIV) Data cross section/elevasi Analisa hidarulika dan pola kedalaman gerusan Selesai Gambar 4. 20 Alur simulasi model fisik dengan sediment feeding