200 BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN A. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan hasil pada bab IV, diperoleh simpulan sebagai berikut: 1. Analisis unsur intrinsik novel Sepatu Dahlan Unsur-unsur intrinsik novel Sepatu Dahlan dapat dikaji dari segi tema, tokoh atau penokohan, Alur atau plot, latar, sudut pandang, dan amanah. Novel Sepatu Dahlan mengangkat tema tentang adanya perjuangan dan semangat tanpa henti akan pendidikan kisah Dahlan meskipun dalam keadaan terhimpit Dahlan masih memikirkan akan pentingnya pendidikan. Selain tema utama perjuangan mengenai masalah pendidikan, terdapat tema sampingan berupa masalah ekonomi warga kampung dan keluarga Dahlan yang sederhana. Penokohan yang dimunculkan pengarang sebagian besar digambarkan secara tersurat baik kondisi fisik maupun psikisnya. Tokoh utama dari novel Sepatu Dahlan adalah Dahlan. Dia merupakan pusat dari gerak tokoh lain/tokoh tambahan seperti Bapak (Iskan), Aisha, Kadir, Maryati, Komariyah, Mbak Sof, Mbak Atun, Arif. Tokoh yang diciptakan pengarang semuanya saling mendukung. Sebagian besar bersifat protagonis dan ada satu yang bersifat antagonis. Tokoh protagonis meliputi: Bapak (Iskan), Aisha, Kadir, Maryati, Komariyah, Mbak Sof, Mbak Atun, Arif. Dan tokoh Protagonisnya yaitu Juragan Akbar. Alur yang digunakan dalam novel Sepatu Dahlan adalah alur flasback. Novel Sepatu Dahlan ini menggunakan latar sebagai pusat penceritaan di Kebon Dalem, Bukur, Sumur-sumur tua, Pesantren Takeran, Langgar, Ladang tebu, di lapangan voli, dan tepi sungai. Sudut pandang dalam novel Sepatu Dahlan pengarang menggunakan sudut pandang orang pertama tokoh pertama yang maha tahu. Untuk memudahkan mengenali setiap tokoh yang diceritakan, pengarang menyebutkan nama tokoh dalam cerita. Selain itu juga
201 menggunakan kata ganti orang ketiga ketika menceritakan tokoh lain dengan kata ganti dia, ia, mereka dan nama tokoh. Amanat yang ada di dalam novel Sepatu Dahlan antara lain, terdapat ajaran tentang arti pentingnya semangat dan kerja keras yang menjadi cikal bakal kesuksesan itu mampu di raih. Hal ini terlihat pada tokoh Dahlan, ayah Dahlan (Iskan) selalu mengajarkan hidup sederhana, bekerja keras, dan rajin beribadah kepada Dahlan dan anak-anak Kebon Dalem. 2. Aspek Kejiwaan Tokoh dalam Novel Sepatu Dahlan Berdasarkan Teori Kepribadian Abraham Maslow Aspek kejiwaan tokoh yang terdapat dalam novel Sepatu Dahlan meliputi; a. Kebutuhan Fisiologi, b. Kebutuhan Keamanan, c. Kebutuhan Dicintai dan Disayangi, d. Kebutuhan Harga Diri, dan e. Kebutuhan Aktualisasi Diri. Seluruh aspek kejiwaan tokoh tersebut merupakan kebutuhan setiap tokoh yang ada dalam novel. Aspek kejiwaan tokoh dalam novel tidak ada penyimpangan psikologi yang berarti. Kebutuhan fisiologi dalam novel Sepatu Dahlan digambarkan dengan adanya kebutuhan makan dan minum Dahlan dan lainnya serta adiknya Zain. Kebutuhan keamanan dalam novel Sepatu Dahlan digambarkan dengan adanya tindakan Dahlan yang berusaha tegar saat akan menjalani operasi cangkok liver dan berusaha mengamankan dirinya dari kemarahan bapaknya tentang dua angka merahnya. Kebutuhan dicintai dan disayangi dalam novel Sepatu Dahlan digambarkan dengan adanya tindakan orang-orang terdekat Dahlan yang mendukung saat Dahlan akan menjalani operasi cangkok liver, lalu kasih sayang yang ditunjukkan Dahlan terhadap keluarganya dan seorang gadis idamannya serta Bapak Dahlan (Iskan) yang selalu menyayangi keluarga, sayang terhadap anak-anak Kebon Dalem yang selalu menceritakan ceritacerita inspiratif. Kebutuhan akan harga diri dalam novel Sepatu Dahlan digambarkan dengan adanya tindakan orang-orang Kebon Dalem yang dengan kesederhanaannya tetap memikirkan pendidikan bagi anak-anaknya demi menaikkan martabat keluarga suatu saat nanti. Meskipun sempat merasa rendah
202 diri saat membayangkan apabila dirinya bersekolah di SMP Magetan, Dahlan tetap berusaha menuntut ilmu di Tsanawiyah Takeran yang lebih ringan biayanya serta terhindar dari adanya ejekan anak-anak orang kaya. Kebutuhan akan aktualisasi diri dalam novel Sepatu Dahlan digambarkan dengan adanya tindakan Dahlan dalam berambisi mewujudkan keinginannya untuk sekolah yang diinginkkannya dan ambisi untuk selalu bisa memiliki sepeda dan sepatu guna meringankan aktivitas kesehariannya. 3. Fenomena Kejiwaan Pengarang dalam Penciptaan Novel Sepatu Dahlan karya Khrisna Pabichara Berdasarkan beberapa wawancara dan pernyataan antara pengarang, psikolog, dan sastrawan dapat disimpulkan bahwa fenomena kejiwaan yang ada dalam novel Sepatu Dahlan karya Khrisna Pabichara secara tersirat meskipun naskah ceritanya tentang Dahlan Iskan. Kejiwaan Khrisna Pabichara sebagai pengarang juga ikut andil dan sedikit berpengaruh terhadap hasil akhir terciptanya novel tersebut karena fenomena kejiwaan pengarang dalam hal ini berperan dalam terciptanya rangkaian cerita, penokohan, setting, tema, alur, sudut pandang, dan amanat. Terciptanya novel Sepatu Dahlan oleh pengarang memiliki maksud supaya pembaca bisa mengambil nilai-nilai yang terkandung di dalamnya serta menjadi motivasi dan inspirasi yang membangun bagi masyarakat luas dan pendidikan pada khususnya. 4. Nilai Pendidikan dalam novel Sepatu Dahlan Nilai pendidikan dalam novel Sepatu Dahlan memiliki empat unsur pokok yaitu Religius atau agama, sosial, moral, dan estetika. Nilai Pendidikan religius, agama merupakan pegangan hidup bagi manusia untuk meraih masa depan yang lebih baik. Hal ini tergambar akan tokoh Bapak yang menanamkan agama kepada keluarganya dan anak-anak Kebon Dalem melalui belajar mengaji yang dibimbing oleh bapak sendiri. Nilai pendidikan sosial antara lain: suasana kebersamaan, saling membantu, menghargai, menghormati dan menyayangi satu sama lain dalam
203 mengerjakan sesuatu akan menghasilkan hal positif. Serta adanya suatu interaksi dengan orang-orang lingkungan sekitar atau menjalin adanya komunikasi dengan orang lain sangat penting adanya, kita bisa memperoleh banyak pengetahuan, informasi, memperoleh adanya suatu penyemangat dalam hal apa pun. Hal inilah yang dinamakan nilai kerukunan atau nilai sosial. Nilai pendidikan moral, kedisiplinan merupakan sesuatu yang sulit namun apabila sudah dibiasakan akan menjadi suatu pekerjaan yang ringan. Seperti tokoh Dahlan yang setiap harinya rajin menyabit rumput dan mengangon rumput. Anak-anak, ibu-ibu, dan bapak-bapak warga kebon Dalem pun juga disiplin setiap hari dengan rutinitas masing-masing. Nilai estetika yang diajarkan pengarang dalam novel Sepatu Dahlan antara lain, segala sesuatunya akan indah apabila di awali dengan kelakuan yang serasi dan baik, dengan demikian semuanya akan teratur dan damai. Estetika lain yaitu suatu budaya atau keunikan suatu desa merupakan aset nilai keindahan lebih yang mampu menarik wisatawan untuk berkunjung, maka harus dijaga dan dilestarikan bukan hanya dibiarkan saja tanpa terurus. 5. Novel Sepatu Dahlan dapat digunakan sebagai bahan ajar di SMP Novel Sepatu Dahlan bisa digunakan sebagai bahan ajar di SMP karena sesuai dengan kurikulum KTSP yang ada dalam silabus SMP. Selain itu, novel Sepatu Dahlan sendiri juga dapat digunakan sebagai alternatif media bahan ajar karena novel Sepatu Dahlan karya Khrisna Pabichara tersebut sudah sesuai dengan kriteria penilaian sastra oleh pendapat guru mata pelajaran bahasa Indonesia dan sastrawan yang menyatakan novel Sepatu Dahlan bisa dijadikan bahan ajar karena memenuhi kriteria, ceritanya yang mudah dipahami dan sesuai dengan jenjang pendidikan di SMP.
204 B. Implikasi Novel Sepatu Dahlan karya Khrisna Pabichara muncul menyemarakkan perkembangan dunia sastra Indonesia dengan gaya yang berbeda. Novel-novel karya Khrisna Pabichara sebagian besar bercerita tentang kebudayaan Melayu yang kental menghiasi dalam setiap novelnya. Salah satu novel best sellernya adalah Sepatu Dahlan. Novel Sepatu Dahlan ini mengambil tema tentang semangat dan perjuangan. Tema diungkapkan dengan bahasa yang sangat indah, gaya khas anak muda serta dilukiskan dengan sangat imajinatif sehingga kata-kata sindiran pun di tulis dengan sangat halus namun mudah dipahami. Sehingga pesan yang ingin di sampaikan pun dapat mudah diterima dengan baik oleh pembacanya. Untuk memudahkan memahami dan mengetahui secara mendalam mengenai keadaan kejiwaan tokoh novel Sepatu Dahlan, maka diperlukan adanya analisis sastra dengan pendekatan psikologi sastra yang melalui struktur dalam novel saling melengkapi dalam mengkaji tentang karya sastra. Novel Sepatu Dahlan juga mengandung adanya nilai-nilai pendidikan yang bisa menambah wawasan pembaca sehingga pembaca diharapkan bisa menyikapi berbagai permasalahan yang ada menuju pendewasaan diri untuk menjadi insan yang lebih baik. Novel Sepatu Dahlan merupakan sebuah novel baru yang muncul menggunakan gaya penceritaan unik yang menambah warna baru dalam dunia sastra penuh dengan nilai-nilai kehidupan seperti nilai religius, moral, sosial, dan estetika. Dalam novel ini terdapat unsur-unsur pendukung novel seperti alur, penokohan, tema, latar, sudut pandang, dan amanat sehingga membentuk suatu struktur yang berada dalam satu kesatuan yang utuh menjadi sebuah novel. Maka, novel Sepatu Dahlan dapat dijadikan sebagai bahan ajar tingkat SMP yang tentu saja di sesuaikan dengan kurikulum SMP yaitu mengenai mata pelajaran bahasa Indonesia dengan standar kompetensi memahami berbagai hikayat, novel Indonesia/novel terjemahan. Berdasarkan uraian di atas, implikasi yang didapat dari penelitian ini sebagai berikut:
205 1. Implikasi Teoretis Penelitian ini juga dapat memberikan wawasan dan pendalaman materi penelitian kesusastraan khususnya penelitian sastra dengan menggunakan sebuah kajian psikologi sastra. Penelitian ini dapat memberikan masukan untuk mengembangkan pengajaran sastra dalam bidang pendidikan khususnya novel yang mengandung nilai-nilai pendidikan sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini dapat dijadikan referensi untuk mengembangkan pengajaran sastra yang lebih kreatif dan inovatif. 2. Implikasi Praktis Penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan masukan untuk meningkatkan pengajaran sastra dalam bidang pendidikan, karena di dalam novel Sepatu Dahlan mampu memberikan inspirasi dan pembelajaran mengenai adanya suatu perjuangan hidup untuk selalu semangat pantang menyerah demi mewujudkan adanya kehidupan yang lebih baik. C. Saran Berdasarkan hasil simpulan dan implikasi yang ditemukan dalam penelitian di atas, dapat dirumuskan saran-saran sebagai berikut: 1. Bagi Guru Bahasa Indonesia Novel Sepatu Dahlan Karya Khrisna Pabichara dapat digunakan sebagai alternatif media pengajaran sastra di SMP karena sesuai dengan kurikulum yang ada. Dalam pengajaran sastra guru bisa menugaskan siswa untuk mengapresiasi unsur-unsur intrinsik dan nilai pendidikan yang ada dalam novel. Selain itu secara tidak langsung guru mengajak siswa berlatih meningkatkan keterampilan berbahasa khususnya membaca. 2. Bagi Peneliti Lain Novel Sepatu Dahlan Karya Khrisna Pabichara banyak mengandung unsur-unsur pembangun novel serta nilai-nilai kehidupan, maka peneliti lain bisa menggunakan mengkaji novel tersebut dengan jenis pendekatan analisis sastra yang lain.