Perancangan dan Implementasi Mapper dan Demapper untuk DVB-T

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB II LANDASAN TEORI

TUGAS AKHIR ANALISIS KINERJA ORTHOGONAL FREQUENCY DIVISION MULTIPLEXING PADA SISTEM DVB-T (DIGITAL VIDEO BROADCASTING TERRESTRIAL)

BAB II TEKNOLOGI DIGITAL VIDEO BROADCASTING-TERRESTRIAL (DVB-T) standar DVB dalam penyiaran televisi digital terrestrial (DVB-T) dan hand-held

Simulasi Channel Coding Pada Sistem DVB-C (Digital Video Broadcasting-Cable) dengan Kode Reed Solomon

BAB 5 VERIFIKASI DAN IMPLEMENTASI FPGA

BAB III PEMODELAN MIMO OFDM DENGAN AMC

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metodologi dari penelitian ini diskemakan dalam bentuk flowchart seperti tampak

1 BAB I PENDAHULUAN. yang relatif dekat dengan stasiun pemancar akan menerima daya terima yang lebih

BAB I PENDAHULUAN. Seluruh mata rantai broadcasting saat ini mulai dari proses produksi

JURNAL TEKNIK ITS Vol. 4, No. 2, (2015) ISSN: ( Print) A-192

KOREKSI KESALAHAN PADA SISTEM DVB-T MENGGUNAKAN KODE REED-SOLOMON

ANALISIS UNJUK KERJA TEKNIK MIMO STBC PADA SISTEM ORTHOGONAL FREQUENCY DIVISION MULTIPLEXING

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I KETENTUAN UMUM Definisi

SIMULASI LOW DENSITY PARITY CHECK (LDPC) DENGAN STANDAR DVB-T2. Yusuf Kurniawan 1 Idham Hafizh 2. Abstrak

BAB II ORTHOGONAL FREQUENCY DIVISION MULTIPLEXING (OFDM) (multicarrier) yang saling tegak lurus (orthogonal). Pada prinsipnya, teknik OFDM

BAB I PENDAHULUAN PENDAHULUAN

Simulasi MIMO-OFDM Pada Sistem Wireless LAN. Warta Qudri /

BAB 1 PENDAHULUAN. Penggunaan teknik penjamakan dapat mengefisienkan transmisi data. Pada

SIMULASI TEKNIK MODULASI OFDM QPSK DENGAN MENGGUNAKAN MATLAB

PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2012 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. 1.2 Tujuan

PEMANCAR TV DIGITAL DVB-T BERBASIS SOFTWARE

BAB IV SIMULASI DAN UNJUK KERJA MODULASI WIMAX

OFDM : Orthogonal Frequency Division Multiplexing

PERENCANAAN AWAL JARINGAN MULTI PEMANCAR TV DIGITAL BERBASIS PENGUKURAN PROPAGASI RADIO DARI PEMANCAR TUNGGAL

BAB II LANDASAN TEORI

BAB IV PEMODELAN SIMULASI

BAB II DIGITAL VIDEO BROADCASTING DENGAN TRANSMISI TERRESTRIAL

BAB II DASAR TEORI. Dasar teori yang mendukung untuk tugas akhir ini adalah teori tentang device atau

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 3 ALGORITMA DAN MODEL 2K FFT-IFFT CORE

ANALISIS MODEM AKUSTIK OFDM MENGGUNAKAN TMS320C6416 PADA LINGKUNGAN KANAL BAWAH AIR

SIMULASI ESTIMASI FREKUENSI UNTUK QUADRATURE AMPLITUDE MODULATION MENGGUNAKAN DUA SAMPEL TERDEKAT

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

ANALISIS UNJUK KERJA CODED OFDM MENGGUNAKAN KODE CONVOLUTIONAL PADA KANAL AWGN DAN RAYLEIGH FADING

KINERJA SISTEM OFDM MELALUI KANAL HIGH ALTITUDE PLATFORM STATION (HAPS) LAPORAN TUGAS AKHIR. Oleh: YUDY PUTRA AGUNG NIM :

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah.

Konsep Repeater Digital Video Broadcasting-Terrestrial (DVB-T) Terintegrasi dengan Sistem Peringatan Dini Bencana

Perancangan dan Implementasi Prosesor FFT 256 Titik-OFDM Baseband 1 Berbasis Pengkodean VHDL pada FPGA

PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI SISTEM ORTHOGONAL FREQUENCY DIVISION MULTIPLEXING (OFDM) DENGAN MENGGUNAKAN DSK-TMS320C6713

PENGUJIAN TEKNIK FAST CHANNEL SHORTENING PADA MULTICARRIER MODULATION DENGAN METODA POLYNOMIAL WEIGHTING FUNCTIONS ABSTRAK

BAB IV DATA DAN ANALISA Parameter Dan Pengukuran Pemancar PT. MAC

BAB I PENDAHULUAN. Tuntutan kebutuhan manusia untuk dapat berkomunikasi di segala tempat,

Analisa Sistem DVB-T2 di Lingkungan Hujan Tropis

BAB II LANDASAN TEORI

PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI SISTEM ORTHOGONAL FREQUENCY DIVISION MULTIPLEXING (OFDM) DENGAN MENGGUNAKAN DSK-TMS320C6713

Jurnal JARTEL (ISSN (print): ISSN (online): ) Vol: 3, Nomor: 2, November 2016

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Bab II Landasan teori

BAB III PERANCANGAN SFN

LAPORAN SKRIPSI ANALISIS UNJUK KERJA MODULASI EKSTERNAL OPTIS DALAM MODEL DETEKSI KOHEREN PADA SISTEM BASEBAND OVER FIBER

KINERJA TEKNIK SINKRONISASI FREKUENSI PADA SISTEM ALAMOUTI-OFDM

STMIK AMIKOM YOGYAKARTA. Oleh : Nila Feby Puspitasari

BAB 2 DASAR TEORI FFT-IFFT

BAB III PEMODELAN SISTEM

Sistem Pemancar Televisi

Analisa Kinerja Alamouti-STBC pada MC CDMA dengan Modulasi QPSK Berbasis Perangkat Lunak

TUGAS AKHIR ANALISIS BER OFDM DENGAN MENGGUNAKAN LOW-DENSITY PARITY-CHECK (LDPC) PADA SISTEM DVB-T (DIGITAL VIDEO BROADCASTING TERRESTRIAL)

Analisa Kinerja Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM) Berbasis Perangkat Lunak

DAFTAR ISI. HALAMAN DEPAN... i. HALAMAN PENGESAHAN... ii. PERNYATAAN... iii. HALAMAN PERSEMBAHAN... iv. KATA PENGANTAR... v. DAFTAR ISI...

STUDI KELAYAKAN MIGRASI TV DIGITAL BERBASIS CAKUPAN AREA SIARAN DI BEKASI

TUGAS AKHIR UNJUK KERJA MIMO-OFDM DENGAN ADAPTIVE MODULATION AND CODING (AMC) PADA SISTEM KOMUNIKASI NIRKABEL DIAM DAN BERGERAK

SIMULASI PERBANDINGAN KINERJA MODULASI M-PSK DAN M-QAM TERHADAP LAJU KESALAHAN DATA PADA SISTEM ORTHOGONAL FREQUENCY DIVISION MULTIPLEXING (OFDM)

SIMULASI REED-SOLOMON ERROR CORRECTION CODE SEBAGAI OUTER CODE PADA DVB-T

III. METODE PENELITIAN

TUGAS AKHIR. Analisa Setting Parameter Pemancar TV Digital Dan Pengaruhnya Terhadap Jumlah Isi Siaran

Implementasi dan Evaluasi Kinerja Multi Input Single Output Orthogonal Frequency Division Multiplexing (MISO OFDM) Menggunakan WARP

PERANCANAN MODEL PERANGKAT MODULATOR QUADRATUR UNTUK PENGIRIM OFDM. Pandapotan Siagian, ST, M.Eng Dosen Tetap STIKOM Dinamika Bangsa Jambi.

DAFTAR ISI. JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN.. ii HALAMAN PERNYATAAN. RIWAYAT HIDUP.

BAB 3 MEKANISME PENGKODEAAN CONCATENATED VITERBI/REED-SOLOMON DAN TURBO

BAB II KONSEP DASAR. 2.1 Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM)

Pengaruh Modulasi M-Psk Pada Unjuk Kerja Sistem Orthogonal Frequency Division Multiplexing (Ofdm)

Bab I Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Tuntutan kebutuhan manusia untuk dapat berkomunikasi di segala tempat,

SINKRONISASI WAKTU DAN FREKUENSI MULTISTAGE PADA PENERIMA DVB-T TESIS NICO SURANTHA NIM :

Sistem Telekomunikasi

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Balakang 1.2. Perumusan Masalah

Implementasi dan Evaluasi Kinerja Kode Konvolusi pada Modulasi Quadrature Phase Shift Keying (QPSK) Menggunakan WARP

Analisis Unjuk Kerja Sistem Digital Video Broadcast (DVB)

MODUL DIGITAL SIGNAL PROCESSING TMS320C6731 SEBAGAI MODEM BERBASIS SIMULINK

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

ANALISIS RICIAN FADING PADA TRANSMISI SINYAL DVB-T TUGAS AKHIR

Simulasi Dan Analisa Efek Doppler Terhadap OFDM Dan MC-CDMA

Perancangan dan Pengujian Desain Sinkronisasi Waktu dan Frekuensi

BAB II LANDASAN TEORI

Analisis Throughput Pada Sistem MIMO dan SISO ABSTRAK

PERBANDINGAN KINERJA ANTARA OFDM DAN OFCDM PADA TEKNOLOGI WiMAX

Field Programmable Gate Array (FPGA) merupakan perangkat keras yang nantinya akan digunakan untuk mengimplementasikan perangkat lunak yang telah diran

LOGO IMPLEMENTASI MODULASI DAN DEMODULASI M-ARY QAM PADA DSK TMS320C6416T

Perubahan lingkungan eksternal. 1. Pasar TV analog yang sudah jenuh. 2. Kompetisi dengan sistem penyiaran satelit dan kabel. Perkembangan teknologi

Transkripsi:

Perancangan dan Implementasi Mapper dan Demapper untuk DVB-T Suyoto 1, Agus Subekti 2, Arif Lukman 3 1,2,3 Research Center for Informatics, Indonesia Institute of Sciences Jl. Cisitu No. 21/154 Bandung Telp. (022) 2504711, Fax. (022) 2504712 yoto@informatika.lipi.go.id 1, agus@informatika.lipi.go.id 2, arif@informatika.lipi.go.id 3 Abstract In this research, design and implementation of the mapper and demapper for DVB-T (Digital Video Broadcasters-Terrestrial) is done. Mapper is used to map the sequence of digital bits into OFDM symbols to be entered into the IFFT, while the demapper used to map OFDM symbols out of the FFT to the sequence of digital bits. Constellation mapper and demapper using 16 QAM (Quadrature Amplitude Modulation). 4 bits are used to map each OFDM symbol. The design is done using Xilinx ISE 9.2i. The results of the design implemented in Virtex-4 development board. Keywords : OFDM, DVB-T, Mapper, Demapper dan 16 QAM. Abstrak Pada penelitian ini dilakukan perancangan dan implementasi mapper dan demapper untuk DVB-T (Digital Video Broadcaster-Terrestrial). Mapper digunakan untuk memetakan deretan bit digital kedalam symbol-simbol OFDM yang akan masuk ke IFFT, sedangkan demapper digunakan untuk memetakan simbol-simbol OFDM yang keluar dari FFT ke dalam deretan bit digital. Mapper dan demapper menggunakan konstelasi 16 QAM (Quadrature Amplitude Modulation). 4 bit digunakan untuk memetakan setiap simbol OFDM. Perancangan dilakukan dengan menggunakan ISE 9.2i Xilinx. Hasil dari perancangan diimplementasikan pada development board virtex-4. Kata kunci : OFDM, DVB-T, Mapper, Demapper dan 16 QAM. 1. Pendahuluan DVB-T adalah singkatan dari Digital Video Broadcasting - Terrestrial; Merupakan standard untuk transmisi penyiaran televisi terrestrial digital yang pertama kali disiarkan di Inggris pada tahun 1997. Indonesia telah mengadopsi standar DVB-T yang dikembangkan oleh ETSI (European Telecommunication Standard Institute) sebagai standar televisi digital terrestrial [1]. Sistem ini mentransmisikan audio digital terkompresi, video dan data lain dalam sebuah stream MPEG 2, menggunakan modulasi COFDM. Standar DVB-T membuat spesifikasi sistem untuk mengirimkan sinyal video dan audio digital kualitas tinggi melalui kanal 7 8 MHz eksisting. Debit informasi yang dapat disalurkan adalah antara 4.98 sampai dengan 31.67 Mbps. Coded Orthogonal Frequency Division Multiplexing (COFDM) dipilih sebagai modulasi DVB-T. Untuk membuat penggunaan kanal lebih efisien, telah digunakan Single Frequency Network (SFN). Pada sebuah sistem SFN, semua stasiun yang memencarkan program yang sama memancar pada kanal yang sama, masing-masing pancaran disinkronkan sesuai sinyal referensi dan menggunakan baseband timing yang sama. Sinyal input dari exciter (yang terdiri dari modulator dan RF converter) merupakan sinyal kode MPEG-2 (video + audio + data). Satu paket data terdiri dari 187 byte + 1 byte sinkronisasi. Pada modulator terdapat blok fungsional energy dispersal atau data randomizer, Reed-Solomon channel encoder, outer interleaver, inner channel encoder dan inner interleaver. Sebagai inner channel encoder dapat digunakan kode konvolusional. Selanjutnya simbol interleaver digunakan untuk melakukan mapper bit-bit data ke subcarrier-subcarrier aktif OFDM. Modulator OFDM melakukan proses modulasi dengan cara IDFT (Inverse Discrete Fourier Transform) untuk membangkitkan sejumlah besar subcarrier OFDM, masing-masing akan dimodulasi kuadratur. Jumlah subcarrier yang dibangkitkan adalah 2048 buah (pada 2K mode) atau 8192 buah (pada 8K mode). Simbol-simbol OFDM yang akan dipancarkan diorganisasikan atau disusun dalam frame-frame, masing-masing terdiri dari 68 simbol. Satu frame OFDM juga mengandung sel pilot dan subcarrier TPS (Transmission Parameter Signalling). Sinyal pilot dapat dimanfaatkan untuk sinkronisasi frame, sinkronisasi waktu dan frekuensi, estimasi kanal dan identifikasi mode transmisi. TPS digunakan untuk memilih parameter yang terkait dengan channel coding dan modulasi. 73

2. Dasar Teori Modulasi yang digunakan pada sistem DVB-T dapat dipilih satu di antara 3 jenis modulasi kuadratur, yaitu QPSK, QAM-16 dan QAM-64. Kombinasi antara jenis modulasi dan laju pengkodean kanal (inner coding rate) dapat dicapai kompromi antara laju bit dan keandalan transmisi [2]. Mapper berfungsi untuk memetakan urutan bit digital ke dalam simbol-simbol OFDM, sedangkan Demapper berfungsi untuk memetakan simbol-simbol OFDM ke dalam urutan bit digital. Disini akan dilakukan perancangan pada 16-QAM. Pada perancangan Mapper ini akan digunakan konstelasi uniform 16-QAM, untuk kontelasi dan detail dari Gray Mapper yang akan dirancang dapat dilihat pada Gambar 1. Urutan bit digital dipetakan ke dalam sebuah urutan simbol komplek. Proporsi yang tepat dari konstelasi tergantung pada parameter, yang dapat mengambil tiga nilai yaitu : 1, 2 atau 4. adalah jarak minimum yang memisahkan dua titik konstelasi membawa nilai HP-bit (High Priority bit) yang berbeda dibagi dengan jarak minimum yang memisahkan dua titik konstelasi. Nonhirarkis transmisi menggunakan konstelasi yang sama dengan konstelasi uniform seperti halnya pada = 1. Nilai-nilai yang tepat dari titik konstelasi z (n + jm) dengan nilai-nilai n, m diberikan di bawah ini untuk konstelasi 16-QAM : 16-QAM (non-hierarchical dan hierarchical dengan = 1) n {-3, -1, 1, 3}, m {-3, -1, 1, 3} Gambar 2. Blok diagram utama dari bagian Mapper dan Demapper Bagian Mapper terdiri dari : 1. Reinterpret, digunakan untuk mengkonversi bilangan signed ke format unsigned 2. Parallel-to-Serial, digunakan untuk mengubah masukkan data paralel (8 bit) ke bentuk serial pada keluaran. 3. Serial-to-Parallel, digunakan untuk mengubah masukan data serial ke bentuk paralel (4 bit) pada keluaran 4. Slice, digunakan untuk mengambil bagaian tertentu dari representasi data parallel 5. ROM, digunakan untuk memetakan data sesuai dengan vektor yang diinginkan. Blok diagram Mapper dapat dilihat pada gambar dibawah. Gambar 1. Konstelasi 16 QAM 3. Perancangan Mapper dan Demapper Berikut ini merupakan Blok diagram untuk bagian Mapper dan Demapper. Masukkan sinyal berupa sinyal sinusoidal, masuk ke bagian Mapper, kemudian diteruskan ke bagian Demapper. Keluran dari blok tersebut adalah sinyal sinusoidal yang sama dengan sinyal masukkan. Gambar 3. Blok diagram dari bagian Mapper Untuk bagian Demapper dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian irisan_1, irisan_2, dan penggabungan. Bagian irisan_1 dan irisan_2 digunakan untuk mengembalikan nilai yang telah dipetakan dalam ROM pada Bagian Mapper, sedangkan bagian penggabungan digunakan untuk menggabungkan nilai dari bagian irisan_1 dan irisan_2, sehingga diperoleh data sesuai dengan data masukkan ke bagian Mapper. Untuk bagian Demapper dapat dilihat pada Gambar 4. 74

Gambar 4. Blok diagram dari bagian Demapper Bagian irisan_1 dan irisan_2 terdiri dari : 1. Slice, digunakan untuk mengambil bagaian tertentu dari representasi data paralel 2. Negate, digunakan untuk negasi dari masukkan 3. Mux, digunakan sebagai multiplexer 4. Constant, digunakan untuk menghasilkan nilai konstanta 5. Relational, digunakan sebagai pembanding (Comparator) 6. Concat, digunakan untuk menggabungkan masukkan yang berupa vektor bit Gambar 7. Blok diagram dari bagian Penggabungan Hasil Simulasi dari Blok Mapper dan Demapper (Gambar 2) dapat dilihat pada Gambar 8. Sinyal masukkan berupa sinyal sinusoidal, sinyal keluaran berupa sinyal sinusoidal (Gambar 8). Untuk blok diagram irisan_1 dapat dilihat pada Gambar 5, sedangkan untuk blok diagram irisan_2 dapat dilihat pada Gambar 6. Gambar 8. Sinyal Keluaran dari blok diagram Mapper dan Demapper Gambar 5. Blok diagram dari bagian irisan_1 Gambar 6. Blok diagram dari bagian irisan_2 Untuk bagian Penggabungan, terdiri dari : 1. Concat, digunakan untuk menggabungkan masukkan yang berupa vektor bit 2. Down Samples, digunakan untuk menurunkan kecepatan sampling data 3. Parallel-to-Serial, digunakan untuk mengubah masukkan data paralel (4 bit) ke bentuk serial pada keluaran. 4. Serial-to-Parallel, digunakan untuk mengubah masukan data serial ke bentuk paralel (8 bit) pada keluaran 4. Implementasi Pada Perangkat Keras Virtex-4 Untuk mengimplementasikan Mapper dan Demapper pada development board virtex-4 perlu untuk mengetahui konsep dasar dari cara kerja dan struktur internalnya: 4.1 Field-Programmable Gate Array (FPGA) Sebuah FPGA terdiri atas susunan dari beberapa blok yang dapat diprogram (blok logika) yang saling berhubungan antara mereka sendiri dengan sel input / output dalam koneksi vertikal dan horizontal. Sebuah FPGA menyajikan karakteristik sebagai berikut [3]: 1. Kecepatan cukup tinggi 2. Reliabilitas tinggi 3. Konsumsi daya menengah, meskipun ada board tertentu yang disesain dengan konsumsi daya rendah. 4. Waktu pengembangan yang singkat. 5. Peralatan yang sederhana 6. Metodologi yang sederhana. 4.2 Development board Virtex-4 Platform ini sangat ideal untuk aplikasi pemrosesan sinyal dengan kinerja tinggi. Dikembangkan dalam kolaborasi dengan Nallatech, perusahaan untuk solusi komputasi FPGA, XtremeDSP Development Kit menyediakan platform yang lengkap untuk aplikasi perangkat lunak pemrosesan sinyal kinerja tinggi seperti SDR (Software Defined Radio), 3G Wireless, Jaringan, HDTV dan Video Imaging. Kit ini fitur dual-channel 75

ADCs performa tinggi dan DAC, pengguna dapat memprogram Virtex -4 FPGA, dan didukung sepenuhnya oleh Xilinx System Generator for Hardware Cosimulation. Gambar 12 menunjukkan hasil dari implementasi sistem. Gambar 11. Diagram Blok Mapper dan Demapper beserta Hardware Co-simulation dari Mapper dan Demapper. Gambar 9. Development board Virtex-4 Gambar 9 menunjukkan development board yang akan digunakan dalam pelaksanaan simulasi. Para perangkat virtex-4 ditandai untuk memiliki arsitektur fleksibel dan teratur disusun oleh pengaturan Configurable Logic Blocks (CLBs), dikelilingi input / output Blocks (IOBs) yang dapat diprogram. 4.3 Implementasi Untuk implementasi Mapper dan Demapper, sesudah disimulasikan dengan menggunakan Xilinx PCI Cosimulation; blok ini memungkinkan perancangan Cosimulation yang dilakukan pada board virtex-4. Gambar 10 menunjukkan hardware Co-simulation dari blok Mapper dan Demapper. Gambar 12. Sinyal Keluaran dari blok diagram Mapper dan Demapper. Hasil diberikan dari implementasi pada development board. Hal ini dapat dilihat dari Gambar 8 dan Gambar 12 bahwa hasil yang diperoleh pada development board praktis sama dengan hasil yang diperoleh pada simulasi sebelumnya. 5. Kesimpulan Gambar 10. Blok diagram PCI Co-simulation 4.4 Implementasi pada development board Virtex-4 Perancangan yang lengkap digambarkan pada Gambar 11. Hasil simulasi dibandingkan dengan hasil implementasi pada perangkat keras. Hal ini memungkinkan kita untuk memverifikasi bagaimana dekatnya simulasi dengan implementasi yang sebenarnya. Perancangan dan Implementasi dari Mapper and Demapper untuk DVB-T telah dilakukan dengan menggunakan development board virtex-4. Mapper dan Demapper dibuat dengan menggunakan kontelasi 16 QAM. Dengan menggunakan system generator dapat menyederhanakan proses dari simulasi ke implementasi pada perangkat keras, tanpa keharusan untuk menjadi seorang insinyur perangkat keras khusus. Karena hasil yang diperoleh di perangkat keras tergantung dari desain dalam perangkat lunak, itu jauh lebih mudah untuk melakukan perubahan dalam hasil ini dengan perangkat lunak. Fakta ini dianggap sebagai salah satu yang paling penting dalam pengembangan desain. 76

6. Daftar Pustaka [1]Digital Video Broadcasting(DVB);Framing structure, channel coding and modulation for digital terrestrial television, ETSI EN 300 744 V1.6.1, 2009. [2] Doel G., ITU/ASBU Workshop on Frequency Planning and Digital Transmission, November 23, Damascus, 2004. [3] Jacobus Naude, Decreasing Simulation Runtimes with System Generator for DSP Hardware Co-Simulation, XAPP1031(v1.0.1), December 19, 2007 77