BAB I PENDAHULUAN. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah menegaskan

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. baik pusat maupun daerah, untuk menciptakan sistem pengelolaan keuangan yang

BAB I PENDAHULUAN. kesejahteraan rakyat, termasuk kewenangan untuk melakukan pengelolaan

ANALISIS RASIO UNTUK MENGUKUR KINERJA PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH KABUPATEN BANTUL

BAB I PENDAHULUAN. peningkatan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Dampak yang dialami oleh

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Otonomi daerah adalah suatu pemberian hak dan kewajiban kepada daerah

ANALISIS RASIO UNTUK MENGUKUR KINERJA PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH KOTA MALANG

BAB 1 PENDAHULUAN. Otonomi daerah adalah suatu konsekuensi reformasi yang harus. dihadapi oleh setiap daerah di Indonesia, terutama kabupaten dan kota

BAB VI PENUTUP. Berdasarkan hasil kesimpulan dapat disimpulkan bahwa : 2. Pengeluaran (belanja) Kabupaten Manggarai tahun anggaran 2010-

BAB I PENDAHULUAN. kesejahteraan dan pelayanan publik, mengoptimalkan potensi pendapatan daerah

Analisis Kinerja Keuangan Dalam Otonomi Daerah Kabupaten Nias Selatan

BAB I PENDAHULUAN. merupakan salah satu bidang dalam akuntansi sektor publik yang menjadi

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Lahirnya otonomi daerah memberikan kewenangan kepada

ANALISIS RASIO KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN PURWOREJO PERIODE

BAB I PENDAHULUAN. satu indikator baik buruknya tata kelola keuangan serta pelaporan keuangan

BAB I PENDAHULUAN. pelaksanaan desentraliasasi fiskal, Indonesia menganut sistem pemerintah

ANALISIS RASIO UNTUK MENGUKUR KINERJA PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH DI KABUPATEN SAROLANGUN TAHUN

BAB 1 PENDAHULUAN. Kebijakan otonomi daerah merupakan salah satu agenda reformasi, bahkan

BAB I PENDAHULUAN. melalui penyerahan pengelolaan wilayahnya sendiri. Undang-Undang Nomor

Keywords : income, improvement, local, government, original, tax

BAB I PENDAHULUAN. pencapaian tujuan-tujuan. Kinerja terbagi dua jenis yaitu kinerja tugas merupakan

BAB I PENDAHULUAN. pada potensi daerah dengan sumber daya yang berbeda-beda. Oleh karena itu,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Awal diterapkannya otonomi daerah di Indonesia ditandai dengan

BAB I PENDAHULUAN. Hal ini ditandai dengan dikeluarkannya Undang-undang Nomor 22 Tahun

BAB I PENDAHULUAN. No.12 Tahun Menurut Undang-Undang Nomer 23 Tahun 2014 yang

BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. berbagai hal, salah satunya pengelolaan keuangan daerah. Sesuai dengan Undang-

BAB I PENDAHULUAN. Tap MPR Nomor XV/MPR/1998 tentang Penyelenggaran Otonomi Daerah, Pengaturan, Pembagian dan Pemanfaatan Sumber Daya Nasional yang

BAB I PENDAHULUAN. Adanya perkembangan teknologi dan otonomi daerah menuntut

BAB 1 PENDAHULUAN. antarsusunan pemerintahan. Otonomi daerah pada hakekatnya adalah untuk

ANALISIS KINERJA PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH KOTA AMBON

BAB I PENDAHULUAN. oleh krisis ekonomi yang menyebabkan kualitas pelayanan publik terganggu dan

BAB I PENDAHULUAN. pusat agar pemerintah daerah dapat mengelola pemerintahannya sendiri

ANALISIS KINERJA KEUANGAN PADA PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN WONOGIRI DAN KABUPATEN KARANGANYAR DALAM PELAKSANAAN OTONOMI DAERAH

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Kebijakan tentang otonomi daerah di wilayah Negara Kesatuan Republik

BAB I PENDAHULUAN. dan aspirasi masyarakat yang sejalan dengan semangat demokrasi.

BAB I PENDAHULUAN. otonomi daerah merupakan wujud reformasi yang mengharapkan suatu tata kelola

BAB I PENDAHULUAN. era baru dalam pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal. Pembiayaan

BAB I PENDAHULUAN. Reformasi yang terjadi pada bidang politik mulai merambah pada bidang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

ANALISIS KEMANDIRIAN DAN EFEKTIVITAS KEUANGAN DAERAH KABUPATEN BIREUEN. Haryani 1*)

tercantum dalam salah satu misi yang digariskan GBHN yaitu perwujudan

BAB I PENDAHULUAN. pendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Karena itu, belanja daerah dikenal sebagai

BAB I PENDAHULUAN. Reformasi membawa banyak perubahan dalam kehidupan berbangsa dan

BAB I PENDAHULUAN. keuangan negara. Hal ini diindikasikan dengan telah diterbitkannya Undangundang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Era reformasi memberikan kesempatan untuk melakukan perubahan pada

BAB I PENGANTAR. 1.1 Latar Belakang tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-undang Nomor 33 tahun 2004

I. PENDAHULUAN. Pelaksanaan Undang Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang. dan Undang Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Rasio Kemandirian Pendapatan Asli Daerah Rasio Kemandirian = x 100 Bantuan Pemerintah Pusat dan Pinjaman

Analisis Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah di Kota Jambi. oleh :

BAB 1 PENDAHULUAN. pemerintah dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan perundangundangan.

BAB I PENDAHULUAN. Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang telah direvisi menjadi Undang-

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. sendiri berdasarkan pada prinsip-prinsip menurut Devas, dkk (1989) sebagai berikut.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Reformasi sektor publik yang disertai adanya tuntutan untuk lebih

BAB 1 PENDAHULUAN. No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara. Pemerintah Pusat dan Daerah yang menyebabkan perubahan mendasar

BAB I PENDAHULUAN. pemerataan, dan pemeliharaan hubungan yang serasi antara pusat dan daerah serta

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Reformasi sektor publik yang disertai adanya tuntutan demokratisasi

BAB I PENDAHULUAN. perubahan regulasi dari waktu ke waktu. Perubahan tersebut dilakukan

BAB VI PENUTUP. 1. Kinerja Keuangan Pemerintah Kabupaten Kupang Ditinjau Dari Aktivitas

BAB I PENDAHULUAN. provinsi terbagi atas daerah-daerah dengan kabupaten/kota yang masing-masing

BAB I PENDAHULUAN. Perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah

BAB I PENDAHULUAN. pengelolaan keuangan negara maupun daerah. sumber daya alamnya sendiri. Sumber dana bagi daerah antara lain terdiri dari

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Reformasi tahun 1998 memberikan dampak yang besar dalam bidang

I. PENDAHULUAN. daerahnya sendiri dipertegas dengan lahirnya undang-undang otonomi daerah yang terdiri

BAB I PENDAHULUAN. Otonomi daerah merupakan peluang dan sekaligus juga sebagai tantangan.

BAB I PENDAHULUAN. daerah. Adanya otonomi daerah diharapkan masing-masing daerah dapat mandiri

BAB I PENDAHULUAN. Dalam sistem negara kesatuan, pemerintah daerah merupakan bagian yang

BAB I PENDAHULUAN. kesejahteraan dengan meningkatkan pemerataan dan keadilan. Dengan

BAB 1 PENDAHULUAN. transparansi publik. Kedua aspek tersebut menjadi hal yang sangat penting dalam

BAB I PENDAHULUAN. Dalam upaya mendukung pelaksanaan pembangunan nasional, pemerintah

BAB I PENDAHULUAN. sebelumnya diatur dalam undang-undang (UU) No. 22 Tahun 1999 menjadi

Analisis Perkembangan Kinerja Keuangan Pada Pemerintah Daerah Kabupaten Gorontalo. Usman

BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN

BAB 1 PENDAHULUAN. otonomi daerah ditandai dengan dikeluarkan Undang-Undang (UU No.22 Tahun

BAB I PENDAHULUAN. penyelenggaraan pemerintah daerah sepenuhnya dilaksanakan oleh daerah. Untuk

BAB VI PENUTUP. pada bab sebelumnya maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut: (1) ratarata

BAB I PENDAHULUAN. ketimpangan ekonomi. Adanya ketimpangan ekonomi tersebut membawa. pemerintahan merupakan salah satu aspek reformasi yang dominan.

ANALISIS KINERJA KEUANGAN DAERAH PROVINSI PAPUA PERIODE Ary Anjani Denis 1 Mesak Iek 2

BAB VII KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH

BAB I PENDAHULUAN. Lahirnya Undang-Undang (UU) No. 32 Tahun 2004 tentang. Pemerintah Daerah (Pemda) dan Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 tentang

BAB I PENDAHULUAN. menyebabkan aspek transparansi dan akuntabilitas. Kedua aspek tersebut menjadi

1 UNIVERSITAS INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. Otonomi daerah yang sedang bergulir merupakan bagian dari adanya

BAB I PENDAHULUAN. bentuk penerapan prinsip-prinsip good governance.dalam rangka pengaplikasian

BAB 3 GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN

BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH DAN KERANGKA PENDANAAN

BAB I PENDAHULUAN. oleh rakyat (Halim dan Mujib 2009, 25). Pelimpahan wewenang dan tanggung jawab

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. nasional tidak bisa dilepaskan dari prinsip otonomi daerah. Otonomi. daerah merupakan suatu langkah awal menuju pembangunan ekonomi

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian. Sejak otonomi daerah dilaksanakan pada tanggal 1 Januari 2001

ANALISIS KINERJA ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA (APBD) DITINJAU DARI RASIO KEUANGAN (Studi Kasus di Kabupaten Sragen Periode )

BAB I PENDAHULUAN. ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Perwakilan Rakyat sebagai lembaga legislatif terlebih dahulu menentukan

BAB I PENDAHULUAN. peraturan sebagai tujuan, dan bukan sebagai alat untuk

BAB I PENDAHULUAN. kebijakan baru dari pemerintah Republik Indonesia yang mereformasi

DAFTAR ISI. Halaman Sampul Depan Halaman Judul... Halaman Pengesahan Skripsi... Daftar Isi... Daftar Tabel... Daftar Gambar... Daftar Lampiran...

I. PENDAHULUAN. Konsekuensi dari pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia adalah adanya

BAB II KAJIAN TEORITIS DAN HIPOTESIS. Menurut Undang-Undang Nomor 17 tahun 2003, pendapatan daerah

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Indonesia sedang berada di tengah masa transformasi dalam hubungan antara

BAB I PENDAHULUAN. Karena pembangunan daerah merupakan salah satu indikator atau penunjang dari

Transkripsi:

A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Berlakunya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang perubahan kedua atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah mengisyaratkan bahwa dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal, pemerintah daerah diberi keleluasaan untuk mengelola dan memanfaatkan sumber penerimaan yang dimilikinya sesuai dengan aspirasi masyarakat. Otonomi daerah bukan hanya pelimpahan kewenangan dan pembiayaan dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah, tetapi yang lebih penting adalah keinginan untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas pengelolaan sumber daya keuangan daerah untuk meningkatkan kesejahteraan dan pelayanan kepada masyarakat. 1 Salah satu wujud dari pelaksanaan otonomi daerah ini adalah adanya otonomi dalam aspek pengelolaan keuangan daerah yang disebut otonomi fiskal atau desentralisasi fiskal.desentralisasi fiskal memberikan kewenangan kepada daerah untuk mengelola keuangan daerahnya untuk menggali sumber- sumber penerimaan sesuai dengan potensi yang dimiliki. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah menegaskan 1 Ahmad Yani, Hubungan Keuangan Antara Pemerintahan Pusat Dan Daerah di Indonesia (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2013), 347 1

2 bahwa pengelolaan keuangan daerah harus dilakukan secara tertib, taat pada peraturan perundang-undangan yang berlaku, efesien, efektif, transparan dan bertanggung jawab dengan memperhatikan asas keadilan dan kepatutan dan manfaat untuk masyarakat, pengelolaan keuangan daerah dilaksanakan dalam suatu sistem yang terintegrasi yang diwujudkan dalam anggaran pendapatan belanja daerah. Abdul Halim menyatakan bahwa yang dimaksud dengan pengelolaan keuangan daerah adalah keseluruhan kegiatan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, pertanggungjawaban, dan pengawasan keuangan daerah.sedangkan yang dimaksud keuangan daerah merupakan semua hak dan kewajiban dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah yang dapat dinilai dengan uang termasuk di dalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah tersebut. 2 Menurut Mardiasmo dalam bukunya yang berjudul Otonomi Dan Manajemen Keuangan Daerah berpendapat bahwa: Prinsip-prinsip yang mendasari pengelolaan keuangan daerah tersebut adalah transparansi, akuntabilitas, dan value for money. Transparansi adalah keterbukaan dalam proses perencanan, penyusunan, dan pelaksanaan anggaran daerah. Sementara yang dimaksud akuntabilitias adalah prinsip pertanggungjawaban publik yang berarti bahwa proses penganggaran mulai dari proses perencanaan, penyusunan, pelaksanaan harus benarbenar dapat dilaporkan dan dipertanggungjawabkan kepada DPRD dan masyarakat. Sedangkan value for money berarti diterapkannya tiga prinsip dalam proses penganggaran yaitu ekonomi, efisiensi, dan efektivitas. 3 2 Ahmad Yani, Hubungan Keuangan Antara Pemerintahan Pusat Dan Daerah Di Indonesia, 348 3 Mardiasmo, Otonomi dan Manajemen Keuangan Daerah (Yogyakarta:ANDI, 2004), 105

3 Kemampuan pemerintah dalam mengelola keuangan daerah tercermin dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).APBD merupakan rencana keuangan tahunan pemerintahan daerah yang dibahas dan disetujui bersama oleh pemerintah daerah dan DPRD dan ditetapkan dengan peraturan daerah. 4 APBD merupakan instrument kebijakan utama bagi pemerintah daerah.sebagai instrument kebijakan, APBD menduduki posisi sentral dalam upaya pengembangan kapabilitas, efektivitas dan efisiensi pemerintah daerah.apbd mempunyai fungsi otoritas yang mengandung arti bahwa anggaran daerah menjadi dasar untuk melaksanakan pendapatan dan belanja daerah. 5 Kabupaten Serang sebagai Daerah Otonom berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Kabupaten/Kota, memiliki kewenangan yang luas untuk mengatur, mengurus kepentingan daerah dan masyarakat sesuai dengan kebutuhan, kemampuan dan potensi wilayah yang dimiliki.suatu Daerah Otonomi diharapkan mampu melaksanakan semua urusan pemerintahan dan pembangunan secara efektif dan efisien. Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan salah satu sumber pendapatan yang cukup diandalkan oleh Pemerintah Kota/Kabupaten. Karena dana ini murni digali sendiri dan dapat digunakan sepenuhnya untuk dimanfaatkan sesuai prioritas daerah dalam menjalankan 4 Mardiasmo, Otonomi dan Manajemen Keuangan Daerah, 5 5 Mardiasmo, Otonomi dan Manajemen Keuangan Daerah, 6

4 penyelenggaran pemerintahan dan pembangunan daerah 6. Pendapatan Asli Daerah merupakan pendapatan daerah yang bersumber dari hasil pajak daerah, hasil retribusi daerah, pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah, yang bertujuan untuk memberikan keleluasaan kepada daerah dalam menggali pendanaan dalam pelaksanaan otonomi daerah sebagai perwujudan asas desentralisasi. 7 Dibawah ini merupakan laporan realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Serang selama periode 2011-2016 berdasarkan sumbernya yang disajikan dalam tabel 1.1 Tahun Tabel 1.1 Laporan Realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Serang periode 2011-2016 (dalam rupiah) 8 Pajak Daerah Pendapatan Asli Daerah Retribusi Daerah Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Lain-lain PAD yang Sah 2011 91.194.948.859 83.098.037.694 8.611.546.286 34.051.622.580 2012 124.238.782.041 20.220.203.211 8.813.395.482 100.502.705.174 2013 231.426.109.644 38.270.980.210 9.880.083.638 138.100.226.807 2014 244.298.877.708 29.508.728.213 11.270.708.703 179.247.965.573 2015 295.713.824.970 36.720.676.131 10.332.685.572 236.838.260.292 2016 282.667.949.999 36.633.074.312 14.835.450.387 256.733.991.427 6 Soeparmono dan Soeratno.Urgensi Pajak Daerah dan Penghasilan Daerah dalam Stuktur Pendapatan Asli Daerah Isatimewa Yogyakarta. Jurnal Akuntansi dan Manajemen, Agustus: 13-20 (Yogyakarta: STIE YKPN, 2002), 15. 7 Ahmad Yani, Hubungan Keuangan Antara Pemerintahan Pusat Dan Daerah Di Indonesia (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2013), 488. 8 Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kabupaten Serang, Laporan Realisasi Anggaran Pendapatan Belanja Daerah, 2011-2016

5 Berdasarkan tabel 1.1 dapat diliat Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Serang mengalami peningkatan selama enam tahun terakhir yaitu PAD yang bersumber dari Pajak Daerah, Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan dan Lain-lain PAD yang Sah, sedangkan pada Retribusi Daerah mengalami fluktuasi dari tahun 2011-2016. Selanjutnya untuk mendapat gambaran Anggaran dan Realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Serang dapat dilihat pada tabel 1.2 Tabel 1.2 Laporan Anggaran dan Realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Serang Periode 2011-2016 (dalam Rupiah) 9 Tahun Anggaran Realisasi 2011 191.080.654.328 216.956.155.419 2012 233.612.280.044 253.775.085.908 2013 371.597.552.721 417.677.400.299 2014 435.518.044.044 464.326.280.197 2015 555.212.324.284 579.605.446.956 2016 564.544.359.031 590.870.466.125 Berdasarkan data tabel 1.2 jumlah penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) mengalami peningkatan selama periode 2011-2016, selain itu realisasi PAD telah melebihi target yang telah dianggarkan, sehingga dapat dikatakan bahwa Pemerintah Kabupaten serang dalam 9 Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kabupaten Serang, Laporan Realisasi Anggaran Pendapatan Belanja Daerah, 2011-2016

6 merealisasikan PAD sudah cukup efektif. Hal tersebut menandakan bahwa Pemerintah Daerah Kabupaten Serang sudah mampu menggali potensi daerahnya meskipun belum optimal. Keberhasilan menggali dan meningkatkan pendapatan daerah harus diimbangi dengan keberhasilan daerah dalam menekan pengeluaran daerah. Pengeluaran daerah atau belanja daerah adalah semua pengeluaran dari rekening kas umum daerah yang mengurangi ekuitas dana, merupakan kewajiban daerah dalam satu tahun anggaran dan tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh daerah. 10 Belanja daerah merupakan pengalokasian dana yang harus dilakukan secara efisien, dimana belanja daerah dapat menjadi tolak ukur keberhasilan pelaksanaan keuangan daerah. Menurut Stevany H Dethan mengungkapkan bahwa: Belanja daerah haruslah dapat diimbangi dengan penerimaan daerahnya. Hal ini disebabkan, jika belanja daerah yang tidak dapat diimbangi oleh penerimaan daerah maka akan terjadi defisit anggaran daerah. Sebaliknya apabila penerimaan daerah lebih besar dari belanja daerah, maka akan terjadi surplus anggaran daerah. Surplus anggaran daerah ini disebabkan karena adanya efisiensi yang dijalankan oleh pemerintah daerah dalam tata kelola keuangan daerah. 11 Untuk melihat gambaran pendapatan dan belanja daerah Kabupaten Serang selama periode 2011-2016 dapat diliat pada tabel 1.3 10 Mohammad Mahsun, Pengukuran kinerja sektor publik (Yogyakarta:BPFE, 2012), 95. 11 Stevany H Dethan, Efektivitas dan Efisiensi Pengelolaan Keuangan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat, Vol.X, No.1, (Desember 2016), 58

7 Tabel 1.3 Laporan Realisasi Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Serang selama periode 2011-2016 (dalam rupiah) 12 Tahun Pendapatan Daerah Belanja Daerah 2011 1.322.429.273.871 1.173.739.190.170 2012 1.476.369.400.157 1.413.896.049.316 2013 1.731.722.100.980 1.706.378.016.007 2014 2.012.068.317.000 1.909.367.171.714 2015 2.304.837.741.509 2.342.220.890.626 2016 2.468.077.495.354 2.543.616.888.641 Pada tabel 1.3 dapat dilihat bahwa reaslisasi belanja daerah masih cukup tinggi dibanding pendapatan daerahnya sehingga dalam membiayai belanja daerahnya Pemerintah Daerah harus menggunakan sumber dana lain seperti pinjaman baik dari pemerintah pusat ataupun dari lembaga keuangan. Hal tersebut menandakan Pemerintah Daerah dalam pengelolaan keuangan daerah belum mencapai tingkat efisien. Selanjutnya ciri keberhasilan Otonomi Daerah setelah tercapainya efektifitas dan efisiensiadalah tercapainya kemandirian keuangan daerah. Kemandirian keuangan daerah ditunjukan oleh besar kecilnya pendapatan asli daerah dibandingkan dengan pendapatan daerah yang berasal dari sumber yang lain, misalnya bantuan pemerintah pusat ataupun dari pinjaman. Bantuan pemerintah pusat dalam konteks otonomi daerah bisa dalam bentuk Dana Alokasi Umum (DAU) maupun Dana Alokasi Khusus (DAK).Kemandirian keuangan 12 Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kabupaten Serang, Laporan Realisasi Anggaran Pendapatan Belanja Daerah, 2011-2016

8 daerah menunjukkan kemampuan Pemerintah Daerah dalam membiayai kegiatan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat yang telah membayar pajak dan retribusi sebagai sumber yang diperlukan daerah. 13 Dibawah ini merupakan gambaran kemandirian keuangan daerah Kabupaten Serang selama periode 2011-2016 yang ditunjukan pada tabel 1.3 Tabel 1.4 Laporan Realisasi Penerimaan Kabupaten Serang Berdasarkan Jenis Pendapatan periode 2011-2016 (dalam rupiah) 14 Tahun Pendapatan Lain-lain Dana Total Asli Daerah Pendapatan Perimbangan Penerimaan (PAD) Daerah Yang Sah 2011 216.956.155.419 773.980.562.441 331.492.556.011 1.322.429.273.871 2012 256.582.038.963 945.357.974.981 274.429.386.213 1.476.369.400.157 2013 371.597.552.721 1.038.059.543.000 322.065.005.259 1.731.722.100.980 2014 464.326.280.000 1.108.843.869.000 438.898.168.000 2.012.068.317.000 2015 579.605.446.965 1.114.480.170.958 610.752.123.586 2.304.837.741.509 2016 590.870.466.125 1.419.534.466.039 457.672.563.190 2.468.077.495.354 Pada tabel 1.4 dapat dilihat bahwa kontribusi PAD terhadap Penerimaan Daerah Kabupaten masih sangat rendah dibandingkan sumber pendapatan yang lainnya seperti Dana Perimbangan dan Lainlain Pendapatan Daerah yang sah. Berdasarkan tabel tersebut dapat 13 Abdul Halim, Akuntansi Sektor Publik: Akuntansi Keuangan Daerah (Jakarta: Salemba Emapat, 2007), 232 14 Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kabupaten Serang, Laporan Realisasi Anggaran Pendapatan Belanja Daerah, 2011-2016

9 dilihat besarnya Dana Perimbangan masih mendominasi Penerimaan Daerah dibandingkan dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD).Hal tersebut mengindikasikan masih rendahnya kemandirian akibat tingginya ketergantungan fiskal pemerintah Kabupaten Serang terhadap pemerintah pusat selama kurun waktu 2011-2016.Keberhasilan suatu daerah dalam menjalankan otonomi daerah ditunjukan dengan ketergantungan kepada bantuan pusat harus seminimal mungkin, agar pendapatan asli daerah (PAD) dapat menjadi bagian sumber keuangan terbesar sehingga peranan pemerintah daerah menjadi lebih besar. Berdasarkan latar belakang di atas penulis tertarik untuk meneliti kinerja keuangan daerah berdasarkan tingkat efektifitas dan efisiensi serta Kemandirian Keuangan Daerah. Kemudian bermaksud menuangkannya dalam bentuk skripsi yang berjudul ANALISIS EFEKTIFITAS DAN EFISIENSI SERTA KEMANDIRIAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH KABUPATEN SERANG B. Identifikasi Masalah Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka identifikasi masalah dalam penelitian iniadalah: 1. Kontribusi PAD dalam penerimaan daerah Kabupaten Serang masih sangat kecil dibandingkan denga sumber pendapatan lainnya seperti Dana Perimbangan dan Lain-lain Pendapatan Daerah yang sah. 2. Belanja daerah Kabupaten Serang masih cukup tinggi dibandingkan dengan total pendapatan daerah.

10 3. Jumlah penerimaan yang bersumber dari dana perimbangan masih cukup tinggi, hal ini menunjukan ketergantungan pemerintah daerah pada pemerintah pusat masih besar. C. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis mencoba menguraikan beberapa permasalahan yang akan diangkat. Adapun permasalahan-permasalahan tersebut adalah sebagai berikut: 1. Bagaimana kinerja keuangan pemerintah berdasarkan tingkat efektifitas pengelolaan keuangan daerah di Kabupaten Serang selama periode 2011-2016? 2. Bagaimana kinerja keuangan pemerintah berdasarkan tingkat efisiensi pengelolaan keuangan daerah di Kabupaten Serang selama periode 2011-2016? 3. Bagaimana kinerja pemerintah berdasarkan tingkat kemandirian keuangan daerah (KKD) di Kabupaten Serang selama periode 2011-2016? D. Pembatasan Masalah Peneliti hanya meneliti dan berfokus pada tingkat efektifitas dan efisiensi pengelolaan keuangan daerah, serta kemandirian keuangan daerah dalam menilai kinerja keuangan pemerintah Kabupaten Serang selama kurun waktu enam tahun terakhir (2011-2016). E. Tujuan Penelitian 1. Untuk menganalisis kinerja keuangan pemerintah berdasarkan tingkat efektifitas pengelolaan keuangan daerah di Kabupaten Serang selama periode 2011-2016.

11 2. Untuk menganalisis kinerja keuangan pemerintah berdasarkan tingkat efisiensi pengelolaan keuangan daerah di Kabupaten selama periode 2011-2016. 3. Untuk menganalisis kinerja keuangan pemerintah berdasarkan tingkat kemandirian keuangan daerah (KKD) di Kabupaten Serang selama periode 2011-2016. F. Manfaat Penelitian Hal-hal yang diperoleh dari penelitian tentang analisis efektifitas dan efisiensi penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) serta kemandirian keuangan daerah di Kabupaten Serang diharapkan dapat bermanfaat bagi pihak-pihak terkait dengan permasalahan yang penulis teliti. Manfaat yang diharapkan dapat diperoleh dari penelitian ini diantaranya adalah: 1. Bagi penulis, penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pemahaman tentang efektifitas dan efisiensi serta kemandirian keuangan daerah dalam menilai kinerja keuangan daerah. 2. Bagi pemerintah daerah, penelitian ini diharapkan dapat dijadikan salah satu bahan pertimbangan dan masukan dalam upaya peningkatan efektifitas dan efisiensi keuangan daerah serta kemandirian keuangan daerah sehingga berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan daerah dan pembangunan daerah. 3. Bagi masyarakat, penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran tentang pentingnya efektifitas dan efisiensi serta

12 kemandirian keuangan daerah terhadap keberhasilan otonomi daerah. 4. Bagi pihak lain, penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan kepustakaan dan sumber informasi tambahan dalam melakukan penelitian-penelitian selanjutnya dengan mengangkat tema yang sama, atau hanya sebagai bahan bacaan untuk memperluas wawasan pembaca. G. Kerangka Pemikiran Upaya pemberdayaan pemerintah dan pengelolaan keuangan daerah harus bertumpu pada kepentingan publik, hal ini tidak saja terlihat dari besarnya porsi penganggaran untuk kepentingan publik, tetapi pada besarnya partisipasi masyarakat dalam perencanaan pelaksanaan dan pengawasan keuangan daerah. 15 Asas umum pengelolaan keuangan daerah yang mengikat pemerintah daerah adalah keuangan daerah dikelola secara tertib, taat pada aturan perundangundangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan bertanggungjawab dengan memperhatikan asas keadilan, kepatuhan, dan manfaat untuk masyarakat. 16 Pengelolaan keuangan daerah dalam keuangan publik Islam berhubungan dengan peran Negara/Pemerintah dalam menganalisa dampak-dampak perpajakan dalam pembelanjaan Negara terhadap situasi ekonomi individu dan lembaga, juga menyelidiki dampaknya 15 Mardiasmo, Otonomi dan Manajemen Keuangan Daerah (Yogyakarta:ANDI, 2004), 9 16 Ahmad Yani, Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusatdan Daerah di Indonesia (Jakarta: Rajawali Press, 2013), 359

13 terhadap ekonomi secara keseluruhan. 17 Pengelolaan keuangan daerah dalam Islam menekankan keadilan sebagai prinsip utama.pengimplementasian prinsip ini akan membawa kepada kesejahteraan ekonomi dan keselarasan sosial. 18 Efektifitas dan efisiensi merupakan landasan pokok dalam pengelolaan keuangan daerah, yang dalam islam dipandu oleh kaidah-kaidah syari ah dan skala prioritas. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur an Q.S Al- Isra ayat 29 sebagai berikut: Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya (jangan kamu terlalu kikir, dan jangan pula terlalu Pemurah) Karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal (Q.S AL-Israa :29) 19. Menurut Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 Efektifitas merupakan pencapaian hasil program dengan target yang telah ditentukan, yaitu dengan cara membandingkan pengeluaran dengan hasil. Sementara Mardiasmo mengatakan bahwa efektifitas merupakan tingkat pencapaian hasil program dengan target yang ditetapkan. 20 Secara sederhana efektifitas merupakan ukuran berhasil tidaknya suatu 17 Sabahudin Azmi, Menimbang Ekonomi Islam (Bandung: Nuansa, 2005), 25 18 Adiwaman Anwar Karim, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam edisi ke 3 (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006). 272 19 Tim penerjemah Yayasan Penyelenggara Penerjemah Al-Qur an Departemen Agama R.I., Al-Qur an dan Terjemahannya, (Semarang: Diponegoro, 2005), 227 20 Mardiasmo, Akuntansi Sektor Publik (Yogyakarta: ANDI, 2009), 4

14 organisasi dalam mencapai tujuannya.hal ini menunjukan bahwa efektifitas sebagai suatu kegiatan yang tepat sasaran berdaya guna dan berhasil guna untuk mencapai tujuan dalam implementasi suatu kegiatan tertentu.tingkat efektifitas pengelolaan keuangan daerah dapat diukur menggunakan rasio yang disebut dengan rasio efektifitas keuangan daerah. Rasio efektifitas keuangan daerah menunjukkan kemampuan pemerintah daerah dalam memobilisasi penerimaan PAD sesuai dengan yang ditargetkan. 21 Pengukuran Rasio Efektifitas penting dilakukan untuk mengukur kemampuan pemerintah daerah merealisasikan PAD yang termasuk komponen penting pada Daerah Otonom, dikatakan efektif bila mencapai 1 (satu) atau 100 (seratus) persen.namun, semakin tinggi rasio efektifitas menggambarkan kinerja keuangan pemerintah semakin baik.selain rasio efektifitas hal yang penting dalam melaksanakan dan mewujudkan otonomi daerah adalah menekan biaya pengeluaran daerah.hal itu perlu dilakukan karena meskipun pemerintah daerah berhasil merealisasikan target penerimaan pendapatan sesuai dengan target yang ditetapkan, namun keberhasilan itu kurang memiliki arti apabila ternyata biaya yang dikeluarkan untuk merealisasikan target penerimaan pendapatannya itu lebih besar daripada realisasi pendapatan yang diterimanya. 22 Maka dari itu selain pengukuran efektifitas diperlukan pula pengukuran efisiensi pengelolaan keuangan daerah dengan menggunakan rasio efisiensi keuangan daerah. 21 Mahmudi, Analisis Laporan Keuangan Pemerintah Edisi Dua (Yogyakarta: BPFE, 2010), 143 22 Abdul Halim, Akuntansi Sektor Publik: Akuntansi Keuangan Daerah ( Jakarta : Salemba Empat, 2012), 234

15 Menurut Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 efisiensi adalah hubungan antara masukan (input) dengan keluaran (Output), efisiensi merupakan ukuran apakah penggunaan barang dan jasa yang dibeli dan digunakan oleh organisasi perangkat pemerintahan dapat mencapai tujuan organisasi tertenu. Rasio Efisiensi Keuangan Daerah (REKD) menggambarkan perbandingan antara realisasi belanja daerah dengan realisasi pendapatan daerah.kinerja Keuangan Pemerintahan Daerah dikategorikan efisien apabila rasio yang dicapai kurang dari 1 (satu) atau di bawah 100 (seratus) persen.semakin kecil rasio efisiensi keuangan daerah berarti kinerja keuangan pemerintah daerah semakin baik dan pengelolaan keuangan daerah semakin efisien. Tujuan otonomi daerah setelah tercapainya efisiensi dan efektifitas adalah dengan tercapainya kemandirian keuangan daerah. Untuk mengetahui tingkat kemandirian keuangan daerah maka digunakanlah rasio kemandirian keuangan daerah.rasio Kemandirian Keuangan Daerah (RKKD) Menunjukkan kemampuan Pemerintah Daerah dalam membiayai sendiri kegiatan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat yang telah membayar pajak dan retribusi sebagai sumber pendapatan yang diperlukan daerah. Semakin besar rasio kemandirian keuangan daerah semakin baik kinerja keuangan daerah dan ketergantungan pada dana dari pusat semakin kecil. Kemandirian keuangan daerah ditunjukan oleh besar kecilnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) dibandingkan dengan pendapatan daerah yang berasal dari sumber yang lain, misalnya bantuan pemerintah pusat ataupun dari pinjaman. Bantuan pemerintah pusat

16 dalam konteks otonomi daerah bisa dalam bentuk Dana Alokasi Umum (DAU) maupun Dana Alokasi Khusus (DAK). 23 Untuk menyederhanakan alur pemikiran tersebut, maka dibuat kerangka pemikiran dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut: Gambar 1.1 Kerangka Pemikiran Laporan Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Rasio Efektifitas Keuangan Daerah Rasio Efisiensi Keuangan Daerah Rasio Kemandirian Keuangan Daerah Kinerja Keuangan Pemerintah H. Sistematika Penulisan Dalam penulisan skripsi ini, isi dari pembahasan terbagi atas lima bab yang masing-masing bab tersusun secara sistematika. Adapun isi dari setiap bagian sistematik penyusunan skripsi ini adalah sebagai berikut: BAB I PENDAHULUAN: Bab ini berisi tentang latar belakang masalah, identifikasi masalah, perumusan masalah, pembatasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kerangka pemikiran, dan sistematika penulisan. 23 Ihyaul ulum, Audit Sektor Publik: Suatu Pengantar, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2012), 31

17 BAB II LANDASAN TEORI: Bab ini berisi tentang landasan teori yang menjadi dasar dan bahan acuan dalam penelitian ini, dan penelitian terdahulu yang relevan. BAB III METODOLOGI PENELITIAN: Bab ini menguraikan tentang waktu dan tempat penelitian, metode penelitian, populasi dan sample, jenis data dan sumber data, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis data dan operasional variabel. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN: Bab ini berisi tentang gambaran umum obyek penelitian, deskripsi data penelitian, hasil penelitian, dan pembahasan hasil penelitian. BAB V PENUTUP: Dalam bab ini disajikan kesimpulan dan saran dari hasil analisis data yang dilakukan penulis.