Oleh: Bayu Permana Indra

dokumen-dokumen yang mirip
: PT P T PL P N N (P

STUDI PEMBANGUNAN PLTU TANAH GROGOT 2X7 MW DI KABUPATEN PASER KALIMANTAN TIMUR DAN PENGARUH TERHADAP TARIF LISTRIK REGIONAL KALIMANTAN TIMUR

STUDI PEMBANGUNAN PLTU KAMBANG 2x100 MW DAN PENGARUHNYA TERHADAP TARIF LISTRIK REGIONAL DI SUMATERA BARAT

Studi Pembangunan PLTGU Senoro (2 x 120 MW) Dan Pengaruhnya Terhadap Tarif Listrik Regional di Sulawesi Tengah

Satria Duta Ninggar

PEMBANGUNAN PLTU SKALA KECIL TERSEBAR 14 MW PROGRAM PT.PLN UNTUK MENGATASI KRISIS

BIAYA MODAL/ CAPITAL COST BIAYA TETAP (O & M)

listrik di beberapa lokasi/wilayah.

Fira Nafiri ( )

STUDI PEMBANGUNAN PLTA KOLAKA 2 X 1000 KW UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN LISTRIK DI KABUPATEN KOLAKA SULAWESI TENGGARA

Studi Pembangunan PLTU Sumbawa Barat 2x7 MW Untuk Memenuhi Kebutuhan Energi Listrik Di Pulau Sumbawa Nusa Tenggara Barat

ANALISIS PEMBANGUNAN PLTU MADURA KAPASITAS 2 X 200 MW SEBAGAI PROGRAM MW PT. PLN BAGI PEMENUHAN KEBUTUHAN LISTRIK DI PULAU MADURA

Studi Perencanaan Pembangunan PLTU Batubara Asam Asam650 MW 10 Unit DalamRangkaInterkoneksi Kalimantan - Jawa. OLEH : Gilang Velano

Studi Pembangunan PLTU 2x60 MW di Kabupaten Pulang Pisau berkaitan dengan Krisis Energi di Kalimantan Tengah

Permasalahan. - Kapasitas terpasang 7,10 MW - Daya mampu 4,92 MW - Beban puncak 31,75 MW - Defisit daya listrik 26,83 MW - BPP sebesar Rp. 1.

Nur Rosyalinda Hidayati ( ) Ir. Syariffudin Mahmudsyah, M. Eng Ir. Teguh Yuwono

STUDI PEMBANGUNAN PLTP GUCI 1 X55MW JAWA TENGAH BERDASARKAN ASPEK TEKNIS, EKONOMI, DAN LINGKUNGAN

Bidang Studi Teknik Sistem Tenaga Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

STUDI PENGARUH PEMBANGUNAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA PANAS BUMI (PLTP) 50 MW DI CISOLOK KABUPATEN SUKABUMI TERHADAP TARIF LISTRIK REGIONAL JAWA BARAT

STUDI PEMBANGUNAN PLTU TAKALAR 300 MW DI SULAWESI SELATAN DITINJAU DARI ASPEK TEKNIS, EKONOMI DAN LINGKUNGAN.

STUDI PENGARUH PEMBANGUNAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA PANAS BUMI (PLTP) 50 MW DI CISOLOK KABUPATEN SUKABUMI TERHADAP TARIF LISTRIK REGIONAL JAWA BARAT

Tabel 3.1 Jumlah Pelanggan, dan Listrik Terjual di Propinsi Jawa Tengah Tahun

STUDI PERENCANAAN PLTP 2X2,5 MW UNTUK KETENAGALISTRIKAN DI LEMBATA NUSA TENGGARA TIMUR

OLEH :: INDRA PERMATA KUSUMA

STUDI PENGEMBANGAN PEMBANGKIT LISTRIK PANAS BUMI (PLTP) DI JAILOLO UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN LISTRIK DI MALUKU UTARA

STUDI PEMANFAATAN KOTORAN SAPI UNTUK GENSET LISTRIK BIOGAS, PENERANGAN DAN MEMASAK MENUJU DESA NONGKOJAJAR (KECAMATAN TUTUR) MANDIRI ENERGI.

STUDI PENGARUH PEMBANGUNAN PLTP PATUHA 3X60 MW KEC.RANCABALI KAB

STUDI PEMBANGUNAN PLTA PUMP STORAGE SEMARANG 2x300 MW UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN LISTRIK DI SEMARANG

STUDI PENGARUH PEMBANGUNAN PLTP RAWA DANO 110 MW TERHADAP TARIF LISTRIK REGIONAL BANTEN

KOMPONEN PENENTU HARGA JUAL TENAGA LISTRIK DARI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA UAP BATUBARA SKALA KECIL (PLTU B-SK) Hasan Maksum dan Abdul Rivai

STUDI PEMBANGUNAN PLTA MUARA JULOI 284 MW KABUPATEN MURUNG RAYA UNTUK MENGATASI KRISIS LISTRIK DI KALIMANTAN TENGAH

BAB 4 IMPLEMENTASI SISTEM KOGENERASI

STUDI PEMANFAATAN TINJA GAJAH UNTUK GENERATOR LISTRIK BIOGAS DI BALI SAFARI & MARINE PARK KABUPATEN GIANYAR - BALI

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan

Oleh : Pressa Perdana S.S Dosen Pembimbing Ir. Syarifuddin Mahmudsyah, M.Eng - Ir. Teguh Yuwonoi -

y = a 0 + a 1 x 1 + a 2 x 2 + E ETS t = ERT t + EK t + EP t + EIS t

STUDI PEMBANGUNAN PLTP GUNUNG TALANG 36 MW SOLOK, SUMATERA BARAT DAN PENGARUHNYA TERHADAP TARIF LISTRIK REGIONAL SUMATERA BARAT

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB I PENDAHULUAN. ini tentu akan meningkatkan resiko dari industri pertambangan.

ESDM untuk Kesejahteraan Rakyat

STUDI PEMBANGUNAN PLTP GUCI 1 X 55 MW JAWA TENGAH BERDASARKAN ASPEK TEKNIS, EKONOMI, DAN LINGKUNGAN.

Aspek Ekonomi dan Keuangan. Pertemuan 11

STUDI PEMBANGUNAN PLTU KAMBANG 2x100 MW dan PENGARUHNYA TERHADAP TARIF LISTRIK REGIONAL di SUMATERA BARAT

ASPEK KEUANGAN. Disiapkan oleh: Bambang Sutrisno, S.E., M.S.M.

STUDI PENGEMBANGAN SERTA PENYUSUNAN RENCANA ENERGI DAN KELISTRIKAN DAERAH DENGAN MEMANFAATKAN POTENSI ENERGI DAERAH DI KABUPATEN LAMONGAN JAWA TIMUR

STUDI PERENCANAAN PLTP 2X2,5MW UNTUK KETENAGALISTRIKAN DI LEMBATA, NUSA TENGGARA TIMUR. Cherian Adi Purnanta

Ringkasan Eksekutif INDONESIA ENERGY OUTLOOK 2009

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Rencana Pengembangan Energi Baru Terbarukan dan Biaya Pokok Penyediaan Tenaga Listrik Dialog Energi Tahun 2017

BAB I PENDAHULUAN. Dengan semakin meningkatnya penggunaan energi sejalan dengan

ABSTRAK. Kata Kunci: Capital Budgeting, Payback Period, Net Present Value, dan Internal Rate of Return. Universitas Kristen Maranatha

BAB V HASIL ANALISA. dan keekonomian. Analisis ini dilakukan untuk 10 (sepuluh) tahun. batubara merupakan faktor lain yang juga menunjang.

PERBANDINGAN BERBAGAI ALTERNATIF INVESTASI

PERBANDINGAN BIAYA PEMBANGKITAN PEMBANGKIT LISTRIK DI INDONESIA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS. AsiA Day Madiun-Malang, penelitian menggunakan metode-metode penilaian

PEMBANGUNAN PEMBANGKIT PLTU SKALA KECIL TERSEBAR 3 x 7 MW SEBAGAI PROGRAM MW TAHAP KEDUA PT. PLN DI KABUPATEN SINTANG, KALIMANTAN BARAT

STRUKTUR HARGA PLTMH. Gery Baldi, Hasan Maksum, Charles Lambok, Hari Soekarno

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

Special Submission: PENGHEMATAN ENERGI MELALUI PEMANFAATAN GAS BUANG DENGAN TEKNOLOGI WASTE HEAT RECOVERY POWER GENERATION (WHRPG)

PROYEKSI KEBUTUHAN DAYA LISTRIK DI PROPINSI SULAWESI TENGAH TAHUN

BAB I PENDAHULUAN. Seiring dengan berjalannya waktu, permintaan akan tenaga listrik di Indonesia terus

Penganggaran Modal. Gambaran Umum Penganggaran Modal, Payback Period, Net Present Value, Internal Rate of Return. Nurahasan Wiradjegha, S.E.,M.

Metode Penilaian Investasi Pada Aset Riil. Manajemen Investasi

VIII. ANALISIS FINANSIAL

STUDI PERENCANAAN PEMBANGUNAN PLTP IJEN BAERKAITAN DENGAN TARIF LISTRIK REGIONAL JAWA TIMUR

PEMILIHAN ALTERNATIF POTENSI SUMBER DAYA AIR DI WILAYAH DAS BRANTAS UNTUK DIKEMBANGKAN MENJADI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA AIR (PLTA)

BAB I PENDAHULUAN. Dalam memenuhi kebutuhan listrik nasional, penyediaan tenaga listrik di

BAB I PENDAHULUAN. manajemen baik dari sisi demand maupun sisi supply energi. Pada kondisi saat ini

PP NO. 70/2009 TENTANG KONSERVASI ENERGI DAN MANAGER/AUDITOR ENERGI

12/23/2016. Studi Kelayakan Bisnis/ RZ / UNIRA

ANALISIS DAMPAK KENAIKAN HARGA MINYAK MENTAH DAN BATUBARA TERHADAP SISTEM PEMBANGKIT DI INDONESIA

Dr. Unggul Priyanto Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

BAB I PENDAHULUAN. Dalam dunia usaha yang semakin berkembang saat ini, di mana ditunjukkan

ANALISIS PENGARUH KONSERVASI LISTRIK DI SEKTOR RUMAH TANGGA TERHADAP TOTAL KEBUTUHAN LISTRIK DI INDONESIA

Dosen Pembimbing Ir. Syariffuddin Mahmudsyah, M. Eng Ir. Teguh Yuwono

DAFTAR ISI... Halaman ABSTRAKSI.. KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR Latar Belakang Penelitian 1

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN. Dari studi kasus penelitian manajemen terintegrasi, sumber energi di

Perbandingan Biaya Pembangkitan Pembangkit Listrik di Indonesia

III. METODE PENELITIAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

RINGKASAN EKSEKUTIF INDONESIA ENERGY OUTLOOK 2008

ABSTRAK. Kata kunci: town house, pasar, teknis, NPV, BCR, IRR, PBP

STUDI PRAKIRAAN POTENSI PEMBANGKIT LISTRIK PANAS BUMI DI PUSUK BUHIT KELURAHAN SIOGUNG- OGUNG KABUPATEN SAMOSIR

1 Universitas Indonesia

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. penelitian ini, maka penulis dapat menarik simpulan sebagai berikut:

STUDI PEMBANGUNAN PLTGU SENORO 2 X 120 MW DAN PENGARUHNYA TERHADAP TARIF LISTRIK REGIONAL DI SULAWESI TENGAH

BAB 4 INDIKATOR EKONOMI ENERGI

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

ANALISIS INVESTASI BUDI SULISTYO

KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL DIREKTORAT JENDERAL ENERGI BARU TERBARUKAN DAN KONSERVASI ENERGI

Dengan dibangunnya PLTU Batubara Minahasa 2 x 55

BAB I PENDAHULUAN. wilayah Indonesia dan terletak di pulau Jawa bagian tengah. Daerah Istimewa

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Oleh : Ani Hidayati. Penggunaan Informasi Akuntansi Diferensial Dalam Pengambilan Keputusan Investasi

VI. SIMPULAN DAN SARAN

VIII. ANALISIS FINANSIAL

Transkripsi:

STUDI PEMBANGUNAN PEMBANGKIT LISTRIK IPP - PLT PANAS BUMI BEDUGUL 10 MW KECAMATAN BATURITI KABUPATEN TABANAN BALI PADA PROYEK PERCEPATAN 10.000 MW PADA TAHUN 2018 Oleh: Bayu Permana Indra 2207100532 Dosen Pembimbing I Ir. Syariffuddin Mahmudsyah, M. Eng NIP. 130 520 749 Dosen Pembimbing II Ir. Teguh Yuwono NIP. 130 604 244

Pendahuluan Indonesia merupakan negara yang banyak memiliki potensi Panas Bumi atau energi terbarukan, sedangkan minyak bumi potensinya sangat terbatas dan gas bumi walaupun potensinya besar, tetapi dalam pemanfaatannya memerlukan penanganan khusus. Kondisi ini menyebabkan Panas Bumi akan dapat menjadi sumberdaya energi terbarukan dalam penyediaan energi di Indonesia, terutama sebagai bahan bakar dalam pembangkit listrik di masa mendatang.

LATAR BELAKANG TARGET BAURAN ENERGI (Peraturan Presiden No. 5 Tahun 2006) Energi Mix Tahun 2006 Energi Mix Tahun 2025 Tenaga Air 3.11% Panas Bumi 1.32% Gas Alam 28.57% Gas, 30% Minyak Bumi 20% Bahan Bakar Nabati, 5% RE,17% Panas Bumi, 5% Minyak Bumi 51.66% Biomasa, Nuklir, Tenaga air Energi Matahari, Tenaga angin, 5% Batubara 15.34% Batubara 33% Batubara cair, 2%

POTENSI PANAS BUMI INDONESIA

Potensi Energi di provinsi Bali dan Kabupaten Tabanan UNIT / PROVINSI FOSIL ENERGI BARU TEBARUKAN MINYAK BATUBARA AIR (MW) ANGIN (MW) PANAS BUMI (MW) BIOMASS (MW) SURYA (KWh/m3) BALI - - 76.2 6.8 226 36 4.85 TABANAN - - - - 200 4.8 - Sumber :RUKD Bali 2004

PERMASALAHAN Bagaimana analisa investasi yang akan diterapkan untuk pembangunan PLTP Upaya mengurangi ketergantungan terhadap pemakaian BBM khususnya minyak bumi sehingga penyediaan listrik daya mencapai kondisi keuangan yang diinginkan Bagaimana analisa pemanfaatan energi panas bumi secara optimal Seberapa besar kapasitas daya listrik yang terpasang serta peramalan pertumbuhan pemakaian energi listrik di Bali Bagaimana analisa IPM dan Lingkungan terhadap pembangunan PLTP Bedugul.

TUJUAN Memperkirakan konsumsi energi listrik yang terpasang di Bali serta biayanya Mengetahui pengaruh pembangunan PLTP Bedugul 10 MW kecamatan Baturiti kabupaten Tabanan Bali terhadap kondisi daya di Bali Sebagai masukan dalam pemenuhan energi listrik di Bali

Analisa Ekonomi Geothermal Power Variable Cost -Variable Fuel Cost -Variable O&M Cost Cost of Geothermal Power Fixed Cost -Fixed Fuel Cost -Fixed O&M Cost -Taxes & Insurance Investment Geothermal Cost Capital Investment Cost -Depreciation -Return of Investment -Other Fixed Charged

Perhitungan Biaya Modal Biaya modal pertahun adalah biaya investasi pembangunan pembangkit tenaga listrik dikalikan dengan faktor penyusutan Biaya modal / Capital Cost (CC) dirumuskan sebagai berikut : Dimana: CRF = Capital Recovery Factor (desimal) i = Suku Bunga (%) n = Umur Pembangkit / Lama waktu penyusutan (Tahun) CC = Capital Cost / Biaya Modal (US$ / kwh) Jumlah Pembangkitan Netto Tenaga Listrik (kwh / Tahun) = (Daya Terpasang) x (Faktor Kapasitas) x 8760.

BIAYA TETAP (O & M) M Biaya ini harus tetap dikeluarkan meskipun peralatan-peralatan di pusat pembangkit tidak sedang beroperasi. Biaya O & M ini merupakan biaya untuk perawatan pusat pembangkit, dan juga biaya tenaga kerja yang mengoperasikan dan merawat pusat pembangkit. BIAYA BAHAN BAKAR Biaya operasi ini merupakan biaya yang hanya dikeluarkan apabila pusat pembangkit dioperasikan untuk membangkitkan tenaga listrik. Biaya operasi ini merupakan biaya pembelian uap panas bumi dan minyak pelumas BIAYA LINGKUNGAN Yang dimaksud biaya lingkungan dalam pembangunan PLTP adalah biaya pemeliharaan lingkungan. Seperti alat pengurangan emisi, pengolahan limbah oli, menjaga kuantitas dan kualitas air tanah.

BIAYA PEMBANGKITAN TOTAL Biaya pembangkitan total dalam pembangkitan tahunan dapat dinyatakan sebagai berikut: TC = CC + FC + O&M Cost + EC dimana TC = Biaya Total CC = Biaya Modal FC = Biaya Bahan Bakar O&M = Biaya Operasi dan Perawatan EC = Biaya lingkungan PENETAPAN HARGA JUAL LISTRIK PLTP Penetapan harga dari pihak produsen adalah mengacu pada harga minimum yang dibutuhkan untuk memproduksi energi listrik per kwh. Oleh karena itu penetapan harga ekonomi energi listrik dari PLTP Bedugul selain memperhitungkan biaya pembangkitan total, juga harus memperhatikan pengaruh dari sektor pajak sebesar 10%, dan dari sektor keuntungan yang diambil dari pihak produsen sebesar 10%.

PARAMETER PLTP BEDUGUL 1 Biaya modal (CC) 0,0585 US$/KWh 2 Biaya O & M 0,2548 Cent US$/KWh 3 Biaya Lingkungan 0,1548 Cent US$/KWh 4 Biaya Bahan Bakar 2,07 Cent US$/KWh 5 Suku Bunga 12% 7 Umur Operasi 25 tahun 8 Daya yang dibangkitkan 110 MW

TC = CC + FC + O&M Cost + EC TC TC Untuk Suku Bunga i = 6% = 3,6cent/kWh + 2,07cent/kWh + 0,2548cent/kWh+ 0,1548cent/kWh = 6,0796 cent/kwh = 0,06796 USD/kWh = Rp 679.6 /kwh Untuk Suku Bunga i = 9% = 4,66 cent/kwh + 2,07cent/kWh + 0,2548cent/kWh+ 0,1548cent/kWh = 7,08 cent/kwh = 0,078 USD/kWh = Rp 780 /kwh Untuk Suku Bunga i = 12% TC= 5,85 cent/kwh + 2,07cent/kWh + 0,2548cent/kWh + 0,1548cent/kWh = 8,33 cent/kwh = 0,0833 USD/kWh = Rp 833 /kwh

Penetapan Harga Jual Listrik PLTP Penentuan BPP dari pemerintah SISTEM KELISTRIKAN Sub-system BPP-TT (RP/KWH) BPP-TM (RP/KWH) BPP-TR (RP/KWH) JAMALI Bali 763 859 1012 Apabila biaya modal 50% ditanggung oleh pemerintah pusat dan daerah dan 50% ditanggung oleh investor untuk pembangunan pembangkit.sehingga didapatkan : Suku bunga 12% 9% 6% Biaya Pembangkitan baru (cent US$/KWh) 5.39 4.79 4.24 Harga jual listrik (cent US$/KWh) 6.66 5.92 5.24

Pay Back Periode Pay Back adalah jangka waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan nilai investasi melalui penerimaan-penerimaan yang dihasilkan oleh proyek investasi tersebut n p = P NCF Dimana : P NCF = Investasi Awal = Net Cash Flow/ arus kas bersih (pendapatan pengeluaran)

Pembangunan PLTP Bedugul 10 MW membutuhkan investasi awal sebesar US$ 30 juta. Apabila pengeluaran tahunannya sebesar US$ 1.359.990, dan pendapatan per tahunnya disesuaikan dengan harga jual listrik per KWh. Jadi Payback periodnya adalah : Harga jual listrik (cent US$/KWh) 7 8 9 Pendapatan pertahun (US$/KWh) 3.203.970 3.661.680 4.119.390 Pay back periode (tahun) 16 13 11

Net Present Value Metode NPV merupakan metode yang dipakai untuk menilai usulan proyek investasi yang mempertimbangkan nilai waktu dari uang (time value of money) sehingga arus kas yang dipakai adalah arus kas yang telah di discount atas dasar biaya modal perusahaan. Dengan usia pembangkit 25 tahun dan faktor bunga sebesar 12% maka net present value dapat dihitung. NPV = PWPendapatan - PWPengeluaran Harga Listrik (cent US$/KWh) i = 6% Net Present Value (US$) i = 9% i = 12 % 7 45.293.295 42.890.318 40.487.340 8 56.049.480 53.303.220 50.556.960 9 66.805.665 63.716.123 60.626.580

Internal Rate of Return Suku bunga investasi digunakan untuk mengetahui laju pengembalian modal. Apabila bunga investasi lebih besar dari bunga bank maka investasi tersebut layak dilaksanakan. PW = Pendapatan PWPengeluaran 4.119.390 = 30.000.000 (A/P,i*,25) Jika i*= 15% maka 30.000.000 (0,078) =2.342.041 Jika i*= 20% maka 30.000.000 (0,0858) =2.574.429 Dengan interpolasi polar, diperoleh tingkat suku bunga internal (IRR) sebesar :

Analisa Peramalan Beban Analisa peramalan beban untuk menentukan kebutuhan tenaga listrik beberapa tahun ke depan. Untuk itu diproyeksikan kebutuhan tenaga listrik jangka panjang untuk menentukan kapasitas pembangkit untuk jangka panjang. Untuk menghitung proyeksi kebutuhan energi listrik jangka panjang digunakan metode peramalan dengan menggunakan analisa regresi linear berganda. Pada analisa ini digunakan variabel tidak bebas yaitu energi terjual (GWh) dan variabel bebas yaitu parameter yang mempengaruhi proyeksi kebutuhan tenaga listrik jangka panjang. Parameter yang digunakan analisa regresi berganda adalah : a) Jumlah penduduk (X1) b) Jumlah konsumsi (X2) c) Produk Domestik Regional Bruto (X 3) d) Jumlah industri (X4)

Parameter Analisa Regresi Berganda 23497 3,336.7 88.54 96.12 1,003.4 1,025.4 2,213.5 2007 22184.6 3,291.9 86.52 92.38 936.36 947.36 2,062.6 2006 21072.4 3,247.7 84.55 88.78 873.73 874.74 1,921.7 2005 21017.7 3,216.8 78.86 82.81 814.97 815.91 1,792.5 2004 20953.4 3,185.9 73.56 77.24 760.16 761.04 1672 2003 20886.9 3,155.4 74.2 72.7 751.46 755.45 1653.8 2002 20825.3 3,125.1 77 69.2 729.83 733.87 1609.9 2001 20757 3,095.1 75.7 64.7 687.01 612.84 1440.2 2000 20447.2 3,065.4 80.8 58.6 600.31 519 1258.7 1999 20396.6 3,035.9 89.32 52.46 574.95 465.7 1182.4 1998 20472.1 3,006.8 86.3 45.32 483.18 357.56 972.3 1997 X6 X5 X4 X3 X2 X1 Y (Milyar Rp) ( juta Jiwa) (GWh) PDRB Pen-duduk Industri (GWh) Publik (GWh) Komersial (GWh) Rumah Tangga (GWh) Kons Energi Tahun

Data tersebut dapat dinyatakan dalam matrik dengan menggunakan rumus Y = βx + e Dimana :

Dari matrik diatas dapat dicari β dengan menggunakan rumus : β = (X.X )-1X.Y diperoleh harga β sebagai berikut: β0 = 0.002 β1 = 0.9999 β2 = 0.9989 β3 = 1.0127 β4= 1.0003 β5= 0.000000001 β6= - 0.0000000021 Setelah diperoleh nilai β, maka proyeksi kebutuhan tenaga listrik dapat dicari dengan menggunakan rumus : Y = β0 + β1x1 + β2x2 + β3x3 + β4x4

Peramalan Kebutuhan Energi Listrik di Bali tahun 2008-2020 47626.9 3967942 118.71 157.88 2328.07 2660.81 4664.69 2020 45107.6 3915409 116.07 151.97 2182.13 2472.63 4422.11 2019 42721.5 3863571 113.48 146.28 2045.35 2297.75 4202.26 2018 40461.7 3812420 110.95 140.80 1917.13 2135.25 4003.62 2017 38321.4 3761946 108.47 135.52 1796.96 1984.23 3814.76 2016 36294.3 3712140 106.05 130.45 1684.31 1843.90 3644.36 2015 34374.4 3662994 103.69 125.56 1578.73 1713.49 3471.19 2014 32556.1 3614498 101.37 120.86 1479.77 1592.30 3294.08 2013 30833.9 3566644 99.11 116.33 1387.01 1479.69 3121.98 2012 29202.9 3519424 96.90 111.98 1300.06 1375.04 2893.86 2011 27658.1 3472829 94.74 107.78 1218.56 1277.79 2698.81 2010 26195.1 3426851 92.63 103.75 1142.18 1187.42 2525.94 2009 24809.4 3381482 90.56 99.86 1070.58 1103.44 2364.45 2008 X6 X5 X4 X3 X2 X1 Y (Milyar Milyar Milyar Milyar Rp Rp Rp Rp) (Jiwa Jiwa Jiwa Jiwa) (GWh GWh GWh GWh) PDRB PDRB PDRB PDRB Penduduk Penduduk Penduduk Penduduk Industri Industri Industri Industri (GWh GWh GWh GWh) Publik Publik Publik Publik (GWh GWh GWh GWh) Komersial Komersial Komersial Komersial (GWh GWh GWh GWh) Rumah Rumah Rumah Rumah Tangga Tangga Tangga Tangga (GWh) (GWh) (GWh) (GWh) Kons Kons Kons Kons Energi Energi Energi Energi Tahun Tahun Tahun Tahun

Peramalan Pertumbuhan Beban Puncak Provinsi Bali Setelah didapatkan hasil dari analisa pertumbuhan kebutuhan energi listrik di Bali maka besarnya pertumbuhan beban puncak di Bali dapat ditentukan dengan persamaan sebagai berikut: EPT ( GWh) Peak Load (MW)= t 8,76 LF Dimana: Lft=Faktor beban pada tahun t ETSt=Energi terjual total pada tahun t (GWh) ERt=Energi rumah tangga pada tahun t(gwh) EKt=Energi komersial pada tahun t(gwh) EPt=Energi publik pada tahun t(gwh) EIt=Energi industri pada tahun t (GWh) t

Pertumbuhan Beban Puncak di Bali Tahun 2008 Sampai Dengan 2020 1011.0 4,472.37 0.505 5479.91 125.19 182.71 2468.03 2704 2020 950.0 4,202.60 0.505 5110.14 121.89 173.9 2302.96 2511.4 2019 892.9 3,957.90 0.506 4765.44 118.69 165.52 2148.92 2332.3 2018 843.0 3,736.57 0.506 4444.11 115.57 157.54 2005.19 2165.8 2017 798.0 3,537.01 0.506 4144.55 112.53 149.95 1871.07 2011 2016 756.0 3,357.74 0.507 3865.28 109.57 142.72 1745.92 1867.1 2015 719.9 3,197.39 0.507 3604.93 106.69 135.84 1629.15 1733.2 2014 687.8 3,054.65 0.507 3362.19 103.89 129.29 1520.18 1608.8 2013 659.3 2,928.34 0.507 3135.88 101.16 123.06 1418.5 1493.2 2012 633.1 2,817.34 0.508 2924.88 98.5 117.12 1323.62 1385.6 2011 611.4 2,720.60 0.508 2728.14 95.91 111.48 1235.09 1285.7 2010 591.4 2,637.16 0.509 2544.7 93.39 106.1 1152.48 1192.7 2009 575.5 2,566.12 0.509 2373.66 90.93 100.99 1075.4 1106.3 2008 INDUSTRI PUBLIK KOMERSIAL R.TANGGA Beban Puncak (MW) Energi Produksi (GW) Load Faktor (LF) Total (GWh) Energi Per Pelanggan (GWh) Tahun

Neraca Daya Bali Sampai Tahun 2020 Dengan Penambahan PLTU Bedugul 10 MW TAHUN BEBAN PUNCAK (MW) DAYA MAMPU (MW) CADANGAN SISTEM (MW) KETERANGAN 2009 591.4 608 16.6 DSM 2010 611.4 618 6.6 PLTP bedugul tahap 1 2011 633.1 618-15.1 DSM 2012 659.3 673 13.7 PLTP bedugul tahap 2 2013 687.8 673-14.8 DSM 2014 719.9 673-46.9 DSM 2015 756 673-83 DSM 2016 798 673-125 DSM 2017 843 728-115 PLTP bedugul tahap 3 2018 892.9 728-164.9 DSM 2019 950 728-222 DSM 2020 1011 728-283 DSM

ANALISA LINGKUNGAN Prakiraan dampak penting dalam pembangunan PLTP Ulubelu ini, Upaya pemantauan lingkungan untuk kegiatan Pembangunan PLTP ini prakiraan dampak yang terjadi akan ditinjau dalam 4 (empat) tahapan: 1. Tahap Persiapan Dampak keresahan sosial dan juga persepsi positif dan negatif pada masyarakat setempat akibat dari pembangunan PLTP Ulubelu 2. Tahap Konstruksi Dampak pembangunan bangunan dan pengolahan limbah oli serta dampak dari pembuatan sumur 3. Tahap Operasional Dampak kebisingan dari operasional peralatan pembangkit, Kualitas udara dan kualitas serta kuantitas air tanah 4. Tahap Pasca Operasi Dampak bekas lokasi sumur

Apabila dibandingkan dengan pembangkit listrik dengan tenaga fossil, maka PLTP mempunyai produksi CO2 yang lebih kecil daripada pembangkit yang lainnya. Berdasar dari ratifikasi kyoto protocol yang menunjukkan komitmen negara maju tekait global warming untuk insentif atau carbon credit terhadap pembangunan (clean development mecahnism) berdasarkan seberapa besar pengurangan CO2 dibandingkan dengan base line yang telah ditetapkan.

Dengan kapasitas sebesar 10 MW, maka PLTP Bedugul dapat menghasilkan energi listrik per tahunnya adalah sebesar 65.700.000 kwh/ tahun dengan factor beban sebesar 95%. Apabila nilai persamaan terhadap bahan bakar fossil (baseline factor) adalah sebesar 0,79. maka: CO2 Emission Reduction = Produksi energi listrik * Baseline Factor = 65.700 MWh * 0,79 = 51903 ton CO2 / tahun Dengan harga rata-rata jual emisi CO2 adalah sebesar US$12/ ton, maka pendapatan yang didapat dari CO2 Reduction adalah sebesar : Pendapatan dari CO2 Reduction = CO2 Emission Reduction * US$ 12 = 51903 * 12 = US$ 622.836 / tahun

Indek Pembangunan Manusia (IPM) IPM merupakan indeks komposit yang digunakan untuk mengukur pencapaian rata-rata suatu negara dalam tiga hal mendasar pembangunan manusia, yaitu: lama hidup, yang diukur dengan angka harapan hidup ketika lahir; pendidikan yang diukur berdasarkan rata-rata lama sekolah dan angka melek huruf penduduk usia 15 tahun ke atas; dan standar hidupyang diukur dengan pengeluaran per kapita yang telah disesuaikan menjadi paritas daya beli.

Tabel Indeks Pembangunan Manusia (IPM)

Perbandingan IPM pada Asia tenggara pada tahun 2008 No Negara HDI Value Life Expectacy at Birth(years) Gross Enrollment ratio (%) GDP per Capita (PPP US$) 25 Singapore 0.922 79.4 87.3 29,663 63 Malaysia 0.811 73.7 74.3 10,882 78 Thailand 0.781 69.6 71.2 8,677 90 Philippines 0.771 71 81.1 5,137 105 Viet Nam 0.733 73.7 63.9 3,071 107 Indonesia 0.728 72.8 91.9 3,843 131 Cambodia 0.598 58 60 2,727 132 Myanmar 0.583 60.8 49.5 1,027

Perbandingan IPM

Propinsi berdasarkan IPM dan Reduksi Shortfall tahun 2007

Pengelompokan Kabupaten Bali berdasarkan IPM dan Reduksi Shortfall tahun 2008

Kesimpulan Analisa investasi yang digunakan untuk pembangunan PLTP Bedugul yaitu membutuhkan sebesar 30 juta US$ dengan asumsi 50% ditanggung pemerintah daerah ataupun pusat dan 50% ditanggung investor agar di dapatkan harga jual yang lebih kecil yaitu Rp.666,4 daripada BPP yang ditentukan pemerintah dengan harga Rp.763. Dengan harga 9 centus$/kwh, diperlukan waktu selama 11 tahun agar bisa kembali modal dan mulai memperoleh keuntungan. Dengan dibangunnya PLTP Bedugul maka akan memperkecil pemakaian minyak untuk penggunaan energi listrik sebab menggunakan energi terbarukan yang ada di propinsi Bali yaitu energi panas bumi 10 MW yang mempunyai potensi sebesar 200 MW serta dapat menanggulangi beban listrik di propinsi Bali khususnya Kabupaten Tabanan. Pemanfaatan energi listrik secara optimal yaitu dengan mengetahui terlebih dahulu suhu yang dihasilkan dari pengeboran sumur panas bumi, Pada pengeboran panas bumi bedugul yaitu dengan panas antara 50-100 C ya itu tepat dengan menggunakan Binary Cycle Power Plants ini sebetulnya merupakan sistem tertutup jadi tidak ada yang dilepas atau terbuang ke atmosfer. Peramalan beban dengan menggunakan Regresi berganda menyimpulkan bahwa permintaan kebutuhan listrik di Propinsi Bali mengalami peningkatan yang cukup signifikan, dengan laju perkembangan kebutuhan energi listrik mencapai 4%. Pada tahun 2020 jumlah kebutuhan energi listrik mencapai 5,5 GWh, dimana dengan kondisi tersebut maka diperlukan penambahan pembangkit listrik dengan kapasitas minimal sebesar 760MWh untuk memenuhi kebutuhan energi listrik di Propinsi Bali pada tahun 2020. Dengan dibangunnya PLTP Bedugul, maka infrastruktur di Propinsi Bali dapat berkembang lebih baik. Dengan tersedianya cukup pasokan listrik, secara tidak langsung akan merangsang berkembangnya pertumbuhan ekonomi, meningkatnya kualitas pendidikan dan kesehatan masyarakat, sehingga nilai IPM propinsi Bali yang pada tahun 2007 sebesar 70,1 akan meningkat menjadi lebih baik sehingga propinsi Bali dihaapkan dapat lompat dari kuadran IV menuju kuadran I dan dibangunnya PLTP bedugul ini bertujuan untuk mengurangi efek rumah kaca yaitu yang menyebabkan pemanasan global.

SARAN Pembangunan PLTP Bedugul 10 MW harus segera dilanjutkan kembali, sehingga kebutuhan energi listrik khususnya di Propinsi Bali khususnya dapat terpenuhi dengan baik. Pemerintah daerah Propinsi Bali harus meningkatkan infrastruktur yang ada, dengan begitu tingkat kesejahteraan masyarakat dapat meningkat dan nilai IPM di Propinsi Bali meningkat. Dan akhirnya dapat Meningkatkan IPM nasional, sehingga bangsa Indonesia dapat disebut sebagai negara Maju

TERIMA KASIH