BAB 4 IMPLEMENTASI SISTEM KOGENERASI
|
|
|
- Vera Kurniawan
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 24 BAB 4 IMPLEMENTASI SISTEM KOGENERASI 4.1. Metodologi Dalam penelitian ini, mencakup pemilihan sistem kogenerasi dan evaluasi nilai ekonomi. Pemilihan sistem kogenerasi yang diimplementasikan mempertimbangkan parameter teknis dan ekonomi. Parameter teknis yang dimaksud terdiri dari ketersediaan bahan bakar, dan rasio output termal terhadap listrik. Sementara itu, parameter ekonomis terdiri dari biaya investasi, biaya operasi dan pemeliharaan (O&M), biaya bahan bakar, harga energi yang dibeli dan dijual dan revenue dari perdagangan karbon. Pemilihan sistem kogenerasi akan menggunakan dua jenis penggerak mula yaitu turbin gas dan reciprocating machine dengan dua model operasi yaitu produksi mengikuti beban listrik aktual (Electricity Match=EM) serta produksi mengikuti beban termal aktual (Thermal Match=TM). Evaluasi ekonomi kelayakan implementasi sistem kogenerasi akan dilakukan dengan menggunakan Teknik Analisis Anggaran Modal (Budgeting Capital) yang terdiri dari Payback Period (PBD), Net Present Value (NPV) dan Internal Rate of Return (IRR) dan Analisis Resiko dengan menggunakan metode Analisis Sensitivitas. Deskripsi kondisi awal aliran energi di rumah sakit Dharmais, bahwa energi listrik seluruhnya disuplai oleh utililitas publik (PLN), sedangkan suplai energi termal berasal dari hasil pembakaran oleh boiler. Penerangan PLN Listrik Pendingin Utilitas Air Panas BBM Boiler Termal Gambar 4.1. Kondisi Awal Sistem Sterilisasi Laundry 24
2 25 Implementasi sistem kogenerasi akan menggunakan penggerak mula, jenis turbin gas dan reciprocating machine sebagai perbandingan. Penerangan Listrik Pendingin Gas kogenerasi Utilitas Air Panas Boiler Termal Sterilisasi Laundry Gambar 4.2. Skenario Implementasi Kogenerasi Proses umum dalam pemilihan serta evaluasi rencana implementasi sistem kogenerasi adalah sebagai berikut: 1. Evaluasi parameter teknis: Identifikasi ketersediaan bahan bakar Memilih minimum dua jenis penggerak mula yang mungkin sesuai berdasarkan ketersediaan bahan bakar Menghitung rasio keluaran termal terhadap listrik dari jenis penggerak mula yang dipilih dengan mempertimbangkan karakteristik beban aktual (listrik dan termal) 2. Kapasitas kogenerasi menggunakan dua model operasi Electricity Match (EM) dan Thermal Match (TM) dengan menghitung Produksi energi listrik dan termal Kelebihan energi listrik dan/atau termal Tambahan kebutuhan energi listrik dan/ atau termal 3. Menghitung biaya tahunan dari penggerak mula yang dipilih: Biaya investasi Biaya operasi dan pemeliharaan (O&M) Biaya bahan bakar 25
3 26 4. Menghitung revenue dari: Potensi penghematan konsumsi energi listrik dan termal pada kondisi awal Kelebihan energi listrik Biaya beban listrik Perdagangan reduksi emisi karbon Biaya bahan bakar 5. Menghitung benefit dengan menguraikan semua biaya-biaya revenue 6. Evaluasi karakteristik ekonomi dengan menggunakan teknik analisis capital budgeting (Payback Period, NPV,IRR) 7. Mengukur resiko ketidakpastian menggunakan Metode Analisis Sensitivitas. Sensitivitas karakteristik ekonomi akan diuji berdasarkan penggerak mula yang dipilih, terhadap pengaruh eskalasi biaya investasi, harga bahan bakar dan tarif listrik Studi Literatur Perhitungan Rasio Keluaran Termal dan Listrik Sistem kogenerasi dalam penelitian ini menggunakan jenis penggerak mula yang menyesuaikan rasio keluaran termal dan listrik mendekati kebutuhan termal dan listrik aktual di RS Dharmais. Rasio termal terhadap listrik (E tr ) = % keluaran termal/ % keluaran listrik Metode Annualized Cost Metode Annualized Cost dapat mengevaluasi karakteristik ekonomi berdasarkan total biaya pengeluaran tahunan dan total revenue tahunan. Total biaya pengeluaran tahunan kogenerasi terdiri dari biaya investasi, biaya bahan bakar tahunan, biaya operasi dan pemeliharaan tahunan. Total revenue tahunan terdiri dari revenue dari produksi termal dan produksi listrik, baik dari listrik yang dijual kepada utilitas publik atau listrik yang digunakan oleh pengguna. Revenue tambahan dapat diperoleh dengan terhindarnya dari biaya beban listrik [4]. 26
4 Total Biaya Pengeluaran Tahunan Komponen-komponen total biaya pengeluaran tahunan yang dimaksud adalah biaya investasi, biaya bahan bakar dan biaya operasi dan pemeliharaan. Biaya Investasi Biaya investasi tahunan dapat dinyatakan sebagai: I ca = C r (i, n) I c (4.1) dimana Ica adalah biaya investasi tahunan ($), Ic total biaya investasi ($), Cr (i, n) adalah faktor pemulihan modal dengan suku bunga = i, dan n= life time. r ( i, n) n i( 1+ i) ( 1+ i) 1 C (4.2) = n Jika biaya investasi dinyatakan sebagai biaya investasi khusus ($/kw), persamaan (4.1) dapat dimodifikasi sebagai berikut: I ca = C r(i, n) E c I cs (4.3) di mana E c adalah kapasitas output listrik (kw) dan I cs adalah biaya investasi khusus ($/kw). Biaya Bahan Bakar Biaya bahan bakar biasanya dinyatakan dalam dolar per satuan berat atau volume. Oleh karena itu diperlukan mengkonversi dolar biaya bahan bakar per unit energi. Jadi, total biaya bahan bakar tahunan dapat direpresentasikan sebagai: F cta = F c F ac (4.4) dimana F cta adalah total biaya bahan bakar tahunan ($), F c adalah biaya bahan bakar per m 3 ($/m 3 ), dan F ac adalah konsumsi bahan bakar tahunan (m 3 ). Biaya Tetap Operasi dan Pemeliharaan Biaya tetap operasi dan pemeliharaan biasanya terdiri dari biaya tenaga kerja dan biaya pemeliharaan. Biaya ini akan berbeda antara jenis kogenerasi turbin gas dan reciprocating machine misalnya. Biaya pemeliharaan terutama meliputi minyak pelumas, filter, baterai, busi dan perawatan air. Biaya tetap operasi dan pemeliharaan biasanya dinyatakan sebagai biaya operasi dan 27
5 28 pemeliharaan tertentu dalam dolar per kw per tahun. Oleh karena itu, biaya operasi dan pemeliharaan tahunan dapat dinyatakan sebagai: F com = F scom E C (4.5) mana F com adalah biaya tetap operasi dan pemeliharaan tahunan ($), F scom adalah biaya spesifik tetap O & M per tahun ($/kw). Total biaya pengeluaran tahunan dapat dihitung dengan menjumlahkan biaya investasi (persamaan 4.1), total biaya bahan bakar (persamaan 4.4) dan total biaya tetap operasi dan pemeliharaan (persamaan 4.5). Oleh karena itu, total biaya pengeluaran tahunan (T AC ) dapat dinyatakan sebagai: T AC = I ca + F ctae + F com (4.6) Total Revenue Sistem Kogenerasi Potensi revenue dapat diperoleh dari produksi listrik, produksi termal dan terhindarnya dari biaya beban listrik. Revenue dari produksi listrik terdiri dari pendapatan dari listrik yang dikonsumsi oleh pengguna sistem kogenerasi dan revenue dari listrik yang dijual ke utilitas publik. Revenue Listrik Dari Konsumsi Pengguna Untuk model produksi Electricity Match, seluruh produksi listrik dikonsumsi oleh pengguna, sehingga tidak ada listrik yang dijual ke utilitas publik. Oleh karena itu, untuk model produksi Thermal Match, kemungkinan beberapa energi listrik dijual ke utilitas publik. Jika K a didefinisikan sebagai rasio antara produksi listrik yang dikonsumsi oleh pengguna terhadap total produksi listrik, revenue dari produksi listrik yang dikonsumsi oleh pengguna dapat dinyatakan sebagai: R ec = E h * K a * E p (4.7) 28
6 29 mana R ec adalah revenue tahunan dari produksi listrik yang dikonsumsi oleh pengguna ($), E h adalah tarif listrik ($/ kwh), dan E p adalah produksi listrik (kwh). Revenue Listrik dari Utilitas Publik Revenue listrik dari utilitas publik tergantung besar tarif penjualan listrik yang ditentukan. Oleh karena itu, revenue dari listrik yang terjual kepada utilitas publik dapat digambarkan sebagai: R ep = R esp B BR (4.8) mana R ep adalah revenue tahunan dari listrik yang dijual kepada utilitas publik ($), dan B BR adalah buy back rate ($ / kwh). Revenue Dari Biaya Beban Listrik Metode untuk menghitung pendapatan biaya beban tidak sederhana, karena tidak hanya tergantung pada faktor kapasitas dan permintaan tarifnya per kw, tetapi juga jumlah padam selama operasi kogenerasi dan kebijakan biaya beban dari utilitas publik. Untuk menyederhanakan ini, diasumsikan bahwa permintaan biaya beban tahunan adalah: D h = 12 A v C f E C D C (4.9) dimana D h adalah permintaan biaya beban tahunan ($), A v adalah faktor ketersediaan (%), C f adalah faktor kapasitas (%), E C adalah kapasitas listrik (kw), dan D C adalah biaya permintaan per kw per bulan ($ / kw). Revenue Dari Produksi Termal Revenue dari produksi termal adalah biaya termal yang dikeluarkan jika pengguna tidak menggunakan kogenerasi, diantaranya terdiri dari biaya investasi, biaya bahan bakar dan biaya O&M dari boiler. Dengan asumsi bahwa biaya investasi dan operasi dan pemeliharaan diabaikan, revenue tahunan dari produksi termal dapat dinyatakan sebagai: R t = (T p F scb ) / η b (4.10) 29
7 30 mana R t adalah revenue tahunan dari produksi termal ($), T p adalah produksi termal tahunan (kcal), F scb adalah biaya bahan bakar untuk boiler ($/kcal), dan η b adalah efisiensi boiler. Revenue Dari Perdagangan Karbon Revenue dari perdagangan karbon diambil dari perhitungan gas rumah kaca (GHG) emisi baik dari konsumsi bahan bakar fosil, juga dari pembelian listrik dari utilitas publik. Emisi GHG yang dihasilkan dari konsumsi bahan bakar fosil dapat dihitung dengan rumus berikut: GHG ef = F CT C er C orc C occ (4.11) Di mana GHG ef adalah emisi GHG dari konsumsi bahan bakar (k.tons/ tahun), F CT adalah jumlah konsumsi bahan bakar (TJ/ tahun), C er adalah tingkat emisi karbon (ton C/TJ), C orc adalah koefisien laju oksidasi karbon dan C occ adalah koefisien konversi unit CO 2 (ton CO 2 /tons C). Tabel 4.1 menunjukkan koefisien untuk setiap bahan bakar di tahun 1996 direvisi IPCC. Table 4.1 Koefesien Emisi Bahan Bakar [5] Uraian Coal Oil Natural gas Carbon emission rate (tons C/TJ) Carbon oxidation rate coefficient CO2 unit conversion coefficient 44/12 44/12 44/12 Sementara itu, emisi GHG yang dihasilkan dari pembelian listrik dari utilitas publik dapat dihitung dengan rumus berikut: GHG ee = GHG er E f (4.12) 30
8 31 Di mana GHG ee adalah emisi GHG dari pembelian listrik (k.tons/ tahun), GHG er adalah tingkat emisi GHG yang setara dengan emisi GHG yang dihasilkan per unit keluaran (CO 2 /MWh.ton), dan E f listrik yang dihasilkan adalah keluaran (MWh/ tahun). Total GHG emisi (GHG e ) diperoleh: GHG e = GHG ef + GHG ee (4.13) Revenue dari perdagangan emisi karbon dihitung dengan menggunakan rumus berikut: R ghge = GHG e GHG ap (4.14) dimana R ghge adalah revenue dari perdagangan emisi GHG ($) dan GHG ap adalah harga pengurangan GHG ($/ton CO2) Jadi dari uraian tersebut di atas, total revenue tahunan adalah jumlah dari unsur-unsur revenue yang dijelaskan dalam persamaan (4.13), (4.16), (4.17), (4.19) dan (4,23). Jadi, total pendapatan tahunan dapat dinyatakan sebagai: T AR = R ece + R epe + D h + R te + R ghge (4.15) dimana T AR adalah total revenue tahunan ($), R ece adalah total revenue tahunan dari listrik yang dikonsumsi oleh pengguna ($), R epe adalah total revenue tahunan dari listrik dijual kepada publik utilitas ($), D h adalah total revenue tahunan dari terhindarnya dari biaya beban ($), R te adalah total revenue tahunan dari produksi termal ($), dan R ghge adalah total revenue tahunan dari perdagangan karbon Total Biaya Penghematan Tahunan Sistem Kogenerasi Total biaya penghematan tahunan didefinisikan sebagai selisih antara jumlah biaya pengeluaran tahunan dan total revenue tahunan. Oleh karena itu: N AS = T AR - T AC (4.16) 31
9 32 dimana N AS adalah total biaya penghematan ($), T AR adalah total revenue tahunan ($), dan T AC adalah total biaya pengeluaran tahunan ($). Jelas bahwa total penghematan tahunan dalam persamaan (4.16) adalah fungsi dari banyak faktor, seperti: Parameter teknis dan ekonomi kogenerasi, termasuk efisiensi, rasio keluaran termal terhadap listrik, ketersediaan kapasitas unit kogenerasi, usia ekonomis, biaya investasi, biaya operasi & pemeliharaan, dan biaya bahan bakar. Parameter teknis dan ekonomi dari boiler, termasuk efisiensi boiler & usia ekonomis boiler, biaya investasi, dan biaya bahan bakar boiler. Parameter umum, termasuk pola beban listrik dan termal, tarif listrik, inflasi, harga pengurangan gas karbon, biaya beban listrik, tingkat suku bunga, tingkat eskalasi bahan bakar, tingkat eskalasi tarif listrik, dan biaya bahan bakar boiler Teknik Analisis Capital Budgeting Dalam rangka untuk menilai apakah suatu proyek dapat diterima atau tidak, teknik analisis capital budgeting dapat digunakan. Analisis utama dilakukan terhadap payback period (PBP), net present value (NPV) dan internal rate of return (IRR) Payback Period (PBP) Payback period biasanya digunakan untuk mengevaluasi usulan investasi. Payback period adalah jumlah waktu yang diperlukan bagi perusahaan untuk mengembalikan investasi awal dalam suatu proyek, yang dihitung sebagai kas masuk. Dalam kasus sebuah anuitas, payback period dapat diketahui dengan membagi investasi awal: Initial investment cost PBP = (4.17) Annual cash inflows Jika PBP kurang dari maksimum PBP yang diterima, proyek akan diterima Jika PBP lebih besar daripada PBP yang diterima, proyek akan ditolak 32
10 33 Jangka waktu PBP maksimum yang diterima ditentukan oleh manajemen. Nilai ini ditetapkan secara subyektif berdasarkan sejumlah faktor, termasuk jenis proyek (ekspansi, penggantian, pembaharuan), risiko proyek dan hubungan antara PBP dan nilai saham Net Present Value (NPV) Net Present Value (NPV) dihitung dengan mengurangi investasi awal proyek (CF o ) dari nilai sekarang dari arus kas masuk (CF t ) pada tingkat suku bunga (i). NPV = nilai sekarang kas masuk - Initial investasi NPV N = CF t t=1 (1 + i) CF o (4.18) Bila NPV digunakan untuk membuat keputusan diterima-ditolak, kriteria keputusan adalah sebagai berikut:, Jika NPV lebih besar dari 0, proyek diterima Jika NPV kurang dari 0, proyek ditolak Jika NPV lebih besar dari 0, perusahaan akan mendapatkan pengembalian lebih besar dari biaya modal Internal Rate of Return (IRR) IRR adalah tingkat sukiu bunga yang menghasilkan nilai NPV sama dengan nol (karena nilai sekarang dari arus kas masuk sama dengan investasi awal). N 0 = CF (1 + i t t =1 ) CFo N CF (1 + i = t t =1 ) CFo (4.19) 33
11 34 Apabila IRR digunakan untuk membuat keputusan diterima-ditolak, kriteria keputusan adalah sebagai berikut: Jika IRR lebih besar dari biaya modal, proyek diterima Jika IRR lebih kecil dari biaya modal, proyek ditolak 4.3 Pengumpulan Data Data yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari orang yang bertanggung jawab dan pekerja terkait. Data primer ini diperoleh dari pengamatan dan wawancara. Data sekunder diperoleh dari dokumen yang disediakan oleh perusahaan seperti profil perusahaan dan laporan tahunan perusahaan juga berasal dari sumber-sumber internet. Data dan informasi yang diperlukan sebagai parameter untuk evaluasi sistem kogenerasi ini sebagai berikut: Tabel 4.2. Data Boiler RS Dharmais Jenis Type Fuel Capacity Jumlah Sumber Boiler Api DK-08 / 90-2 HSD 2 ton/ jam 2 unit survei Effisiensi = 80% Tabel 4.3. Data Teknis Informasi Nilai Unit Sumber Nilai Kalori Gas 38 MJ/m 3 literatur Nilai Kalori HSD kcal/kg literatur Kapasitas PLN kva survei Densiti HSD 0,96 kg/liter literatur 34
12 35 Table 4.4 Konsumsi Listrik Bulan Nop.2008 s.d Okt 2009 Bulan Tahun LWBP WBP TOTAL (kwh) (kwh) (kwh) November Desember Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Total konsumsi listrik pertahun : Table 4.5. Data Ekonomi Data dan Informasi Nilai Unit Sumber Konsumsi Listrik kwh /tahun Survei Konsumsi Termal 7,96 TJ/ tahun Survei Konsumsi HSD liter / tahun Survei Tarif Pembelian Listrik US$/ kwh Survei Tarif Penjualan Listrik 0,06 US$/ kwh Literatur Biaya Beban 37 US$/tahun Survei Biaya Pengurangan Emisi GHG 10 US$/ ton CO 2 Literatur Harga Solar (HSD) 0.89 US$ / liter Literatur Harga Gas 0.18 US$ / m 3 Literatur Keterangan : 1 US$ = Rp
13 Evaluasi Evaluasi Karakteristik Beban Tabel 4.6 Karakteristik Beban Listrik dan Termal No Jam Beban Listrik (kw e ) Beban Termal (kw th ) 1 00:00-01: :00-02: :00-03: :00-04: :00-05: :00-06: :00-07: :00-08: :00-09: :00-10: :00-11: :00-12: :00-13: :00-14: :00-15: :00-16: :00-17: :00-18: :00-19: :00-20: :00-21: :00-22: :00-23: :00-00: Dari tabel di atas, karakteristik beban listrik dan termal dapat dibuat dan ditunjukkan dalam Gambar 4.3 dan
14 37 Beban Listrik (kwe) kw Waktu (jam) Gambar 4.3. Karakteristik Beban Listrik Beban Termal(kWth) kwth Waktu (jam) Gambar 4.4. Karakteristik Beban Termal Berdasarkan kedua kakarteristik beban diatas, kebutuhan untuk listrik rata-rata kw e, sedangkan kebutuhan untuk termal rata-rata 252 kw th Perhitungan Rasio Termal Terhadap Listrik Dengan menggunakan rumus 3.2 dan tabel 3.1, perbandingan termal terhadap listrik sesuai spesifikasi jenis penggerak mula yang dipilih sebagai berikut: Kogenerasi Turbin Gas (Alstom Hurricane kw) E tr = 50/ 35 = 1,4 Kogenerasi Reciprocating Machine E tr = 44,5/ 40,4= 1,1 37
UNIVERSITAS INDONESIA
UNIVERSITAS INDONESIA ANALISIS TEKNO-EKONOMI PEMANFAATAN GAS ALAM MENGGUNAKAN SISTEM KOGENERASI DI RUMAH SAKIT (STUDI KASUS RUMAH SAKIT KANKER DHARMAIS) TESIS ROBI H.SEMBIRING 07 06 17 33 45 FAKULTAS TEKNIK
ABSTRAK. Kata Kunci: Capital Budgeting, Payback Period, Net Present Value, dan Internal Rate of Return. Universitas Kristen Maranatha
ABSTRAK PT. Citra Jaya Putra Utama merupakan salah satu perusahaan jasa yang bergerak di bidang distribusi farmasi. Perusahaan saat ini ingin melakukan investasi modal dalam bentuk cabang baru di Surabaya
BAB I PENDAHULUAN. Dalam dunia usaha yang semakin berkembang saat ini, di mana ditunjukkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam dunia usaha yang semakin berkembang saat ini, di mana ditunjukkan dengan meningkatnya persaingan yang ketat di berbagai sektor industri baik dalam industri yang
DAFTAR ISI... Halaman ABSTRAKSI.. KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR Latar Belakang Penelitian 1
ABSTRAKSI Dalam menghadapi persaingan dunia usaha yang semakin ketat, maka perusahaan memerlukan strategi yang tepat untuk selalu dapat unggul dalam persaingan. Karena bila salah dalam menerapkan strategi
Bab IV Analisis Kelayakan Investasi
Bab IV Analisis Kelayakan Investasi 4.1 Analisis Biaya 4.1.1 Biaya Investasi Biaya investasi mencakup modal awal yang diperlukan untuk mengaplikasikan sistem tata udara dan penyediaan kebutuhan air panas
ABSTRAK. Universitas Kristen Marantha. Kata Kunci: Capital Budgeting, Payback Period, Net Present Value, Internal Rate of Return.
ABSTRAK Dalam memasuki era globalisasi, Indonesia dituntut untuk mempersiapkan dirinya agar dapat bersaing khususnya dalam bidang ekonomi. Perekonomian Indonesia sekarang dapat dikatakan sudah mulai meningkat
A Modal investasi Jumlah (Rp) 1 Tanah Bangunan Peralatan Produksi Biaya Praoperasi*
A Modal investasi Jumlah (Rp) 1 Tanah 150.000.000 2 Bangunan 150.000.000 3 Peralatan Produksi 1.916.100.000 4 Biaya Praoperasi* 35.700.000 B Jumlah Modal Kerja 1 Biaya bahan baku 7.194.196.807 2 Biaya
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah penulis lakukan pada Warnet Pelangi, maka penulis menyimpulkan bahwa: 1. Warnet Pelangi belum menerapkan
Pertemuan 12 Investasi dan Penganggaran Modal
Pertemuan 12 Investasi dan Penganggaran Modal Disarikan Gitman dan Sumber lain yang relevan Pendahuluan Investasi merupakan penanaman kembali dana yang dimiliki oleh perusahaan ke dalam suatu aset dengan
Metode Penilaian Investasi Pada Aset Riil. Manajemen Investasi
Metode Penilaian Investasi Pada Aset Riil Manajemen Investasi Pendahuluan Dalam menentukan usulan proyek investasi mana yang akan diterima atau ditolak Maka usulan proyek investasi tersebut harus dinilai
IV. METODE PENELITIAN
IV. METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Peternakan Agrifarm, yang terletak di desa Cihideung Udik Kecamatan Ciampea Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pemilihan lokasi
III. METODE PENELITIAN
17 III. METODE PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Gula merah tebu merupakan komoditas alternatif untuk memenuhi kebutuhan konsumsi gula. Gula merah tebu dapat menjadi pilihan bagi rumah tangga maupun industri
BAB I PENDAHULUAN. baik agar penambangan yang dilakukan tidak menimbulkan kerugian baik. dari segi materi maupun waktu. Maka dari itu, dengan adanya
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Industri pertambangan membutuhkan suatu perencanaan yang baik agar penambangan yang dilakukan tidak menimbulkan kerugian baik dari segi materi maupun waktu. Maka dari
STUDI PEMBANGUNAN PLTU KAMBANG 2x100 MW DAN PENGARUHNYA TERHADAP TARIF LISTRIK REGIONAL DI SUMATERA BARAT
STUDI PEMBANGUNAN PLTU KAMBANG 2x100 MW DAN PENGARUHNYA TERHADAP TARIF LISTRIK REGIONAL DI SUMATERA BARAT Disusun Oleh : Hamid Paminto Nugroho 2207 100 571 Dosen Pembimbing : 1. Ir. Syariffuddin Mahmudsyah
3 METODOLOGI 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian 3.2 Alat dan Bahan 3.3 Metode Penelitian 3.4 Metode Pengambilan Responden 3.5 Metode Pengumpulan Data
19 3 METODOLOGI 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian di lapangan dilakukan di Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu, Sukabumi Jawa Barat. Pengambilan data di lapangan dilakukan selama 1 bulan,
BAB I PENDAHULUAN. ini tentu akan meningkatkan resiko dari industri pertambangan.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Industri pertambangan merupakan salah satu industri yang membutuhkan investasi besar, teknologi yang memadai serta beresiko tinggi terutama pada tahap eksplorasi. Untuk
BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan dunia usaha dewasa ini ditandai dengan semakin. meningkatnya persaingan yang ketat di berbagai bidang usaha, hal ini
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Perkembangan dunia usaha dewasa ini ditandai dengan semakin meningkatnya persaingan yang ketat di berbagai bidang usaha, hal ini menyebabkan banyak perusahaan
PERBANDINGAN BERBAGAI ALTERNATIF INVESTASI
PERBANDINGAN BERBAGAI ALTERNATIF INVESTASI MATERI KULIAH 4 PERTEMUAN 6 FTIP - UNPAD METODE MEMBANDINGKAN BERBAGAI ALTERNATIF INVESTASI Ekivalensi Nilai dari Suatu Alternatif Investasi Untuk menganalisis
ANALISIS PEMBANGUNAN PLTU MADURA KAPASITAS 2 X 200 MW SEBAGAI PROGRAM MW PT. PLN BAGI PEMENUHAN KEBUTUHAN LISTRIK DI PULAU MADURA
ANALISIS PEMBANGUNAN PLTU MADURA KAPASITAS 2 X 200 MW SEBAGAI PROGRAM 10.000 MW PT. PLN BAGI PEMENUHAN KEBUTUHAN LISTRIK DI PULAU MADURA OLEH : MUHAMMAD KHAIRIL ANWAR 2206100189 Dosen Pembimbing I Dosen
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN. Dari studi kasus penelitian manajemen terintegrasi, sumber energi di
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Metodologi Penelitian Dari studi kasus penelitian manajemen terintegrasi, sumber energi di kawasan Kabupaten Bangli, belum terintegrasi dan tersinkroninasi antar subsistem.
BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH
BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH Kerangka pemecahan masalah atau biasa disebut dengan metodologi penelitian adalah suatu proses berpikir dari menentukan masalah, melakukan pengumpulan data baik melalui
BAB I PENDAHULUAN. Kondisi suatu pasar yang dapat menjanjikan tingkat profitabilitas yang cukup
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Kondisi suatu pasar yang dapat menjanjikan tingkat profitabilitas yang cukup menarik dan menguntungkan tentu saja akan mendorong para pengusaha untuk masuk
Aspek Ekonomi dan Keuangan. Pertemuan 11
Aspek Ekonomi dan Keuangan Pertemuan 11 Aspek Ekonomi dan Keuangan Aspek ekonomi dan keuangan membahas tentang kebutuhan modal dan investasi yang diperlukan dalam pendirian dan pengembangan usaha yang
DAFTAR ISI. Halaman ABSTRAK... i KATA PENGANTAR... ii DAFTAR ISI... v DAFTAR TABEL... ix DAFTAR GAMBAR... xii
ABSTRAK Penelitian ini membahas mengenai perusahaan yang bergerak di bidang makloon konveksi. Karena kapasitas produksi yang tidak mencukupi, maka perusahaan bermaksud untuk melakukan ekspansi berupa penambahan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. konservasi energi listrik untuk perencanaan dan pengendalian pada gedung
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Pustaka Penelitian sebelumnya yang sebelumnya tentang kajian managemen konservasi energi listrik untuk perencanaan dan pengendalian pada gedung perkantoran PT. PHE
ASPEK KEUANGAN. Disiapkan oleh: Bambang Sutrisno, S.E., M.S.M.
ASPEK KEUANGAN Disiapkan oleh: Bambang Sutrisno, S.E., M.S.M. PENDAHULUAN Aspek keuangan merupakan aspek yang digunakan untuk menilai keuangan perusahaan secara keseluruhan. Aspek keuangan memberikan gambaran
PERENCANAAN PENGHEMATAN ENERGI DENGAN SISTEM KOGENERASI / COMBINE HEAT AND POWER (CHP) CAPSTONE MICROTURBINE C-30 DI PT DUA KELINCI
PERENCANAAN PENGHEMATAN ENERGI DENGAN SISTEM KOGENERASI / COMBINE HEAT AND POWER (CHP) CAPSTONE MICROTURBINE C-30 DI PT DUA KELINCI Imam Abdul Rozaq Fakultas Teknik, Program Studi Teknik Elektro Universitas
BAB V HASIL ANALISA. dan keekonomian. Analisis ini dilakukan untuk 10 (sepuluh) tahun. batubara merupakan faktor lain yang juga menunjang.
BAB V HASIL ANALISA 5.1 ANALISIS FINANSIAL Untuk melihat prospek cadangan batubara PT. XYZ, selain dilakukan tinjauan dari segi teknis, dilakukan juga kajian berdasarkan aspek keuangan dan keekonomian.
Investasi dalam aktiva tetap
Investasi dalam aktiva tetap Investasi dalam aktiva tetap Secara konsep Investasi dalam aktiva tetap tidak ada perbedaan dengan Investasi dalam aktiva lancar Perbedaannya terletak pada waktu dan cara perputaran
III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 KERANGKA PEMIKIRAN
III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 KERANGKA PEMIKIRAN Upaya yang dapat ditempuh untuk meningkatkan produksi minyak bumi, salah satunya dengan menerapkan teknologi Enhanched Oil Recovery (EOR) pada lapangan
ABSTRAK. Kata kunci: town house, pasar, teknis, NPV, BCR, IRR, PBP
ABSTRAK Town house merupakan salah satu investasi yang diminati dengan membidik pasar wisatawan asing yang berkunjung ke Bali. Town house adalah kompleks perumahan dengan unit terbatas disertai fasilitas
III. METODE PENELITIAN
III. METODE PENELITIAN 3.1. KERANGKA PEMIKIRAN KONSEPTUAL Salah satu permasalahan besar pada industri kelapa sawit adalah penanganan limbah cair pabrik kelapa sawit (LCPKS). Kondisi tersebutjuga terjadi
ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha
ABSTRAK Dalam rencana melakukan investasi usaha baru, investor toko Salim Jaya perlu melakukan peninjauan terlebih dahulu dengan memperhitungkan dan menganalisis rencana investasinya. Hasil peninjauan
III. METODE PENELITIAN
III. METODE PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Penelitian Kerangka pemikiran penelitian ini diawali dengan melihat potensi usaha yang sedang dijalankan oleh Warung Surabi yang memiliki banyak konsumen
BAB V SIMPULAN DAN SARAN. penelitian ini, maka penulis dapat menarik simpulan sebagai berikut:
BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan Berdasarkan permasalahan serta maksud dan tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini, maka penulis dapat menarik simpulan sebagai berikut: 1. Estimasi incremental
III. METODOLOGI PENELITIAN
16 III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Usaha pengembangan kerupuk Ichtiar merupakan suatu usaha yang didirikan dengan tujuan untuk memanfaatkan peluang yang ada. Melihat dari adanya peluang
BAB I PENDAHULUAN. bersosialisasi. Dalam bersosialisasi, terdapat berbagai macam jenis hubungan yang
BAB I PENDAHULUAN Dalam bab pendahuluan, penulis akan menyampaikan beberapa hal yang berhubungan dengan proses pengerjaan penelitian ini. Antara lain berkenaan dengan latar belakang penelitian, identifikasi
MANAJEMEN KEUANGAN CAPITAL BUGDETING
MANAJEMEN KEUANGAN CAPITAL BUGDETING JENIS INVESTASI FINANCIAL ASSET (Saham, Obligasi dst) RIIL ASSET (Property, Machine, dst) PRODUCT DERIVATE (Reksadana, Bursa Valas,Bursa Komoditas) COMBINATION Pengertian
BAB I PENDAHULUAN. Dalam dunia usaha sekarang ini, persaingan yang terjadi semakin ketat.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG PENELITIAN Dalam dunia usaha sekarang ini, persaingan yang terjadi semakin ketat. Setiap perusahaan dituntut untuk dapat mengambil tindakan-tindakan untuk dapat mengembangkan
BAB III LANDASAN TEORI
BAB III LANDASAN TEORI A. Metode Kelayakan Investasi Evaluasi terhadap kelayakan ekonomi proyek didasarkan pada 2 (dua) konsep analisa, yaitu analisa ekonomi dan analisa finansial. Analisa ekomoni bertujuan
Penganggaran Modal. Gambaran Umum Penganggaran Modal, Payback Period, Net Present Value, Internal Rate of Return. Nurahasan Wiradjegha, S.E.,M.
Modul ke: Penganggaran Modal Fakultas EKONOMI Gambaran Umum Penganggaran Modal, Payback Period, Net Present Value, Internal Rate of Return Program Studi Manajemen 84008 www.mercubuana.ac.id Nurahasan Wiradjegha,
ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha
ABSTRAK Saat ini Indonesia sedang memasuki era globalisasi, sehingga Indonesia dituntut untuk selalu mengembangkan teknologi di segala bidang agar tidak tertinggal oleh teknologi negara lain. Hal ini juga
Capital Budgeting. adalah proses pengambilan keputusan jangka panjang.
CAPITAL BUDGETING (ANALISIS KEPUTUSAN INVESTASI JANGKA PANJANG) Ikin Solikin Capital Budgeting adalah proses pengambilan keputusan jangka panjang. Ada 3 alasan investasi dalam aktiva tetap perlu dikelola
listrik di beberapa lokasi/wilayah.
PEMBANGUNAN PEMBANGKIT PLTU SKALA KECIL TERSEBAR 3 x 7 MW SEBAGAI PROGRAM 10.000 MW TAHAP KEDUA PT. PLN DI KABUPATEN SINTANG, KALIMANTAN BARAT Agus Nur Setiawan 2206 100 001 Pembimbing : Ir. Syariffuddin
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah penulis uraikan dalam bab sebelumnya, maka penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Sampai
METODOLOGI PENELITIAN
III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Perubahan lingkungan internal dan eksternal menuntut perusahaan untuk meningkatkan keunggulan kompetitif agar dapat bertahan dan berkembang. Disaat perusahaan
BAB III METODE PENELITIAN. Rantauprapat Kabupaten Labuhanbatu Propinsi Sumatera Utara. Pemilihan lokasi
23 BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di industri pembuatan tempe UD. Tigo Putro di Rantauprapat Kabupaten Labuhanbatu Propinsi Sumatera Utara. Pemilihan
BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus dan data yang digunakan menggunakan kuantitatif
BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengambilan Data Pada penelitian ini penulis mengambil data di PT. Perkebunan Nusantara Pabrik Gula Pangka di Jalan Raya Pangka Slawi, Kecamatan Pangkah, Kabupaten
BAB VII ANALISA EKONOMI DAN FINANSIAL
BAB VII ANALISA EKONOMI DAN FINANSIAL 7.1. UMUM Bab ini menguraikan lebih lanjut tentang hasil yang diperoleh pada Bab VI Studi Optimasi. Analisa Ekonomi dan Finansial dimaksudkan untuk menilai apakah
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN 4.1 Profil Perusahaan Pada 1992 Pemerintah Indonesia mengeluarkan deregulasi sector ketenagalistrikan. Proses ini berawal dengan diterbitkannya Keputusan Presiden
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Pada akhirnya setelah penulis melakukan penelitian langsung ke perusahaan serta melakukan perhitungan untuk masing-masing rumus dan mencari serta mengumpulkan
KOMPONEN PENENTU HARGA JUAL TENAGA LISTRIK DARI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA UAP BATUBARA SKALA KECIL (PLTU B-SK) Hasan Maksum dan Abdul Rivai
KOMPONEN PENENTU HARGA JUAL TENAGA LISTRIK DARI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA UAP BATUBARA SKALA KECIL (PLTU B-SK) Hasan Maksum dan Abdul Rivai Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Ketenagalistrikan,
Bab V KESIMPULAN DAN SARAN
Bab V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Analisa kelayakan untuk rencana ekspansi yang akan dilaksanakan oleh perusahaan X menggunakan lima metode Capital Budgeting yaitu Payback Period, Accounting Rate
BAB I PENDAHULUAN. Seiring dengan iklim persaingan dalam dunia usaha yang semakin ketat dewasa
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Seiring dengan iklim persaingan dalam dunia usaha yang semakin ketat dewasa ini, setiap perusahaan dituntut untuk dapat mengambil tindakan-tindakan yang tepat
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dikemukakan pada bab empat, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Sebelum melakukan analisis
VIII. ANALISIS FINANSIAL
VIII. ANALISIS FINANSIAL Analisis aspek finansial bertujuan untuk menentukan rencana investasi melalui perhitungan biaya dan manfaat yang diharapkan dengan membandingkan antara pengeluaran dan pendapatan.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan menggunakan jenis data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang diperoleh dari sumber data secara langsung.
ABSTRAK. Kata kunci: net present value, penganggaran modal, pengambilan keputusan. Universitas Kristen Maranatha
ABSTRAK Dalam penyusunan skripsi ini, penulis melakukan penelitian pada PT. X yang merupakan perusahaan yang bergerak dibidang industri textile dengan produk utamanya kain polyester. Seperti perusahaan
IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Pengolahan dan Analisis Data
IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Peternakan Domba Tawakkal, yang terletak di Jalan Raya Sukabumi, Desa Cimande Hilir No.32, Kecamatan Caringin, Kabupaten
Oleh: Bayu Permana Indra
STUDI PEMBANGUNAN PEMBANGKIT LISTRIK IPP - PLT PANAS BUMI BEDUGUL 10 MW KECAMATAN BATURITI KABUPATEN TABANAN BALI PADA PROYEK PERCEPATAN 10.000 MW PADA TAHUN 2018 Oleh: Bayu Permana Indra 2207100532 Dosen
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh penulis pada PT X, mengenai Peranan Capital Budgeting Dalam Pengambilan Keputusan Investasi Untuk Pembelian Mesin
BAB I PENDAHULUAN. Dengan semakin meningkatnya penggunaan energi sejalan dengan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG PERMASALAHAN Dengan semakin meningkatnya penggunaan energi sejalan dengan berkembangnya perekonomian dan industri, maka disadari pula pentingnya penghematan energi
BAB 14. Keputusan Investasi & Penganggaran Modal. Ekonomi Manajerial Manajemen
1 BAB 14 Keputusan Investasi & Penganggaran Modal Ekonomi Manajerial Manajemen 2 PENGANGGARAN MODAL (CAPITAL BUDGETING) Capital Budgeting. Capital budgeting meliputi keseluruhan proses perencanaan pengeluaran
Handout Manajemen Keuangan
Handout Manajemen Keuangan CAPITAL BUDGETING TECHIQUES 1 PENDAHULUAN Setelah penentuan informasi arus kas relevan yang dibutuhkan dalam membuat keputusan penganggaran modal dilakukan, langkah selanjutnya
IV METODOLOGI PENELITIAN
IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di sebuah lokasi yang berada Desa Kanreapia Kecamatan Tombolo Pao, Kabupaten Gowa, Propinsi Sulawesi Selatan. Pemilihan lokasi
METODE PERBANDINGAN EKONOMI. Pusat Pengembangan Pendidikan - Universitas Gadjah Mada
METODE PERBANDINGAN EKONOMI METODE BIAYA TAHUNAN EKIVALEN Untuk tujuan perbandingan, digunakan perubahan nilai menjadi biaya tahunan seragam ekivalen. Perhitungan secara pendekatan : Perlu diperhitungkan
BAB I PENDAHULUAN. Investasi pada dasarnya merupakan usaha pengalokasian sejumlah modal (uang)
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Investasi pada dasarnya merupakan usaha pengalokasian sejumlah modal (uang) pada usaha bisnis tertentu. Usaha bisnis itu sendiri dapat bersifat baru sama
BAB I PENDAHULUAN. Persaingan di dunia bisnis di zaman globalisasi ini kian hari semakin ketat.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang penelitian Persaingan di dunia bisnis di zaman globalisasi ini kian hari semakin ketat. Untuk mempertahankan eksistensinya, suatu perusahaan harus mampu bersaing dengan
Materi 7 Metode Penilaian Investasi
Pendahuluan Materi 7 Metode Penilaian Investasi Dalam menentukan usulan proyek investasi mana yang akan diterima atau ditolak Maka usulan proyek investasi tersebut harus dinilai 1 2 Metode Penilaian 1.
IV. METODE PENELITIAN
IV. METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Pulau Panggang, Kelurahan Pulau Panggang, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu, DKI
BAB I PENDAHULUAN. sosial, manusia selalu hidup bersama dengan manusia lainnya. Manusia
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG PENELITIAN Menurut kodratnya manusia adalah makhluk sosial atau makhluk bermasyarakat, selain itu juga diberikan akal pikiran yang berkembang serta dapat dikembangkan.
III. METODOLOGI PENELITIAN
III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Kerangka Penelitian Usaha warnet sebetulnya tidak terlalu sulit untuk didirikan dan dikelola. Cukup membeli beberapa buah komputer kemudian menginstalnya dengan software,
METODOLOGI PENELITIAN. (Purposive) dengan alasan daerah ini cukup representatif untuk penelitian yang
IV. METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Tempat dan Waktu Penelitian Pengambilan data dilakukan pada bulan Februari sampai dengan bulan Maret 2011, bertempat di Desa Cikarawang, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor,
STUDI KELAYAKAN BISNIS METODE PEMIILIHAN INVESTASI IRR, PI, NPV, DISCOUNT PI
STUDI KELAYAKAN BISNIS METODE PEMIILIHAN INVESTASI IRR, PI, NPV, DISCOUNT PI Putri Irene Kanny [email protected] POKOK BAHASAN Konsep nilai waktu uang Kriteria investasi IRR, PI, NPV, discount
BAB I PENDAHULUAN. agar dapat mempertahankan dan mengembangkan usahanya. Dalam persaingan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Dewasa ini, persaingan yang terjadi di dalam dunia usaha begitu ketat, sehingga setiap perusahaan dituntut untuk dapat mengambil tindakan yang tepat agar
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil penelitian dan analisis pada AHASS Pasirkaliki Motor yang
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan analisis pada AHASS Pasirkaliki Motor yang akan melakukan ekspansi di antara dua tempat yaitu Cimahi atau Soreang, maka penulis
BAB I PENDAHULUAN. Seiring dengan berjalannya waktu, permintaan akan tenaga listrik di Indonesia terus
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Listrik merupakan salah satu kebutuhan penting dalam kehidupan manusia. Seiring dengan berjalannya waktu, permintaan akan tenaga listrik di Indonesia terus meningkat.
Studi Pembangunan PLTU 2x60 MW di Kabupaten Pulang Pisau berkaitan dengan Krisis Energi di Kalimantan Tengah
Studi Pembangunan PLTU 2x60 MW di Kabupaten Pulang Pisau berkaitan dengan Krisis Energi di Kalimantan Tengah oleh: Alvin Andituahta Singarimbun 2206 100 040 DosenPembimbing 1: Ir. Syarifuddin M, M.Eng
VII. RENCANA KEUANGAN
VII. RENCANA KEUANGAN Rencana keuangan bertujuan untuk menentukan rencana investasi melalui perhitungan biaya dan manfaat yang diharapkan dengan membandingkan antara pengeluaran dan pendapatan. Untuk melakukan
Metode Penilaian Investasi
Metode Penilaian Investasi Pendahuluan Dalam menentukan usulan proyek investasi mana yang akan diterima atau ditolak Maka usulan proyek investasi tersebut harus dinilai Metode Penilaian Metode periode
BAB VI ASPEK KEUANGAN. melakukan penghitungan net present value serta payback period. Proyeksi keuangan ini dibuat. Tabel 6.
76 BAB VI ASPEK KEUANGAN 6.1 Penjelasan Umum Bagian ini menjelaskan mengenai kebutuhan dana, sumber dana, proyeksi neraca, proyeksi laba-rugi, proyeksi arus kas, dan penilaian kelayakan investasi yang
ANALISIS INVESTASI PADA AKTIVA TETAP BERWUJUD
ANALISIS INVESTASI PADA AKTIVA TETAP BERWUJUD PENGERTIAN DASAR 1 Aktiva tetap berwujud adalah jenis aktiva atau kekayaan yang dimiliki perusahaan yang secara fisik dapat dilihat Modal atau kapital dalam
ABSTRACT. Keywords: capital budgeting, expansion, cash flow, auto parts store. vii. Universitas Kristen Maranatha
ABSTRACT This study discusses about the usage of capital budgeting methods in calculating the feasibility of an investment. The researcher intends to analyze an auto parts store called Toko GM. Toko GM
ANALISIS INVESTASI PADA AKTIVA TETAP BERWUJUD
PENGERTIAN DASAR 1 ANALISIS INVESTASI PADA AKTIVA TETAP BERWUJUD Aktiva tetap berwujud adalah jenis aktiva atau kekayaan yang dimiliki perusahaan yang secara fisik dapat dilihat Modal atau kapital dalam
ABSTRAK Kata Kunci: capital budgeting, dan sensitivity analysis.
ABSTRAK PT. Usaha Panca Samitra merupakan perusahaan yang bergerak dibidang kontraktor umum. Didirikan pada november tahun 2003 oleh beberapa pengusaha. Pada saat ini PT. Usaha Panca Samitra berencana
ABSTRAK. Kata kunci: capital budgeting, net present value, pengambilan keputusan
ABSTRAK Dunia usaha selalu dipenuhi dengan persaingan. Setiap perusahaan harus berusaha semaksimal mungkin untuk mengembangkan bisnis atau usahanya agar mampu bersaing dan dapat bertahan. Ada berbagai
BAB IV METODE PENELITIAN. dan data yang diperoleh. Penelitian ini disusun sebagai penelitian induktif yaitu
BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Jenis/Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kuantitatif karena dalam pelaksanaannya meliputi data, analisis dan interpretasi tentang arti
PEMILIHAN ALTERNATIF POTENSI SUMBER DAYA AIR DI WILAYAH DAS BRANTAS UNTUK DIKEMBANGKAN MENJADI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA AIR (PLTA)
PEMILIHAN ALTERNATIF POTENSI SUMBER DAYA AIR DI WILAYAH DAS BRANTAS UNTUK DIKEMBANGKAN MENJADI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA AIR (PLTA) Deviany Kartika, Miftahul Arifin, Rahman Darmawan Program Studi Teknik
III. METODE PENELITIAN
III. METODE PENELITIAN 3.1 Jenis dan Sumber Data Berdasarkan tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini, yaitu untuk mengetahui kelayakan pengembangan usaha pengolahan komoditi kelapa, dampaknya terhadap
Tenaga Uap (PLTU). Salah satu jenis pembangkit PLTU yang menjadi. pemerintah untuk mengatasi defisit energi listrik khususnya di Sumatera Utara.
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebutuhan akan energi listrik terus-menerus meningkat yang disebabkan karena pertumbuhan penduduk dan industri di Indonesia berkembang dengan pesat, sehingga mewajibkan
BAB I PENDAHULUAN. Bergesernya pola hidup masyarakat secara global yang semakin hari
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Bergesernya pola hidup masyarakat secara global yang semakin hari semakin menginginkan pola hidup yang sehat, membuat adanya perbedaan dalam pola konsumsi
Gambar 3. Kerangka pemikiran kajian
III. METODE KAJIAN 3.1 Kerangka Pemikiran Kajian Usaha pengolahan pindang ikan dipengaruhi 2 (dua) faktor penting yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi aspek produksi, manajerial,
III. METODOLOGI PENELITIAN
36 III. METODOLOGI PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Defenisi Operasional Konsep dasar dan defenisi operasional mencakup pengertian yang digunakan untuk memperoleh data dan melakukan analisis sehubungan dengan
IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2 Jenis dan Sumber Data 4.3 Metode Penentuan Narasumber
IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di peternakan milik Bapak Sarno yang bertempat di Desa Citapen, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa barat. Pemilihan lokasi
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1. KERANGKA TEORI 2.1.1. Pengertian Studi Kelayakan Bisnis Studi Kelayakan bisnis adalah suatu kegiatan yang mempelajari secara mendalam tentang kegiatan atau usaha atau bisnis
BAB I PENDAHULUAN. Tujuan perusahaan adalah untuk mencapai keuntungan yang maksimal atau laba
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Tujuan perusahaan adalah untuk mencapai keuntungan yang maksimal atau laba yang sebesar-besarnya. Untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat, perusahaan
BAB III METODELOGI PENELITIAN. Menurut Surakhmad, (1994: ), metode deskriptif analisis, yaitu metode
BAB III METODELOGI PENELITIAN 3.1 Metodelogi Penelitian Menurut Surakhmad, (1994:140-143), metode deskriptif analisis, yaitu metode yang memusatkan diri pada pemecahan masalah-masalah yang ada pada masa
BAB I PENDAHULUAN. Dalam persaingan yang semakin ketat dalam dunia usaha dewasa ini,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam persaingan yang semakin ketat dalam dunia usaha dewasa ini, setiap perusahan dituntut untuk dapat mengambil tindakan-tindakan yang tepat agar dapat mempertahankan
III. METODE PENELITIAN. Tanaman kehutanan adalah tanaman yang tumbuh di hutan yang berumur
47 III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Konsep dasar dan definisi operasional mencakup pengertian yang digunakan untuk mendapatkan dan menganalisis data sesuai dengan tujuan
