DAMPAK TENAGAA TEKSTIL

dokumen-dokumen yang mirip
DAMPAK RESTRUKTURISASI INDUSTRI TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL (TPT) TERHADAP KINERJA PEREKONOMIAN JAWA BARAT (ANALISIS INPUT-OUTPUT)

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN Peranan Sektor Agroindustri Terhadap Perekonomian Kota Bogor

ANALISIS PERANAN DAN DAMPAK INVESTASI SEKTOR INDUSTRI PENGOLAHAN TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. tercapainya perekonomian nasional yang optimal. Inti dari tujuan pembangunan

I. PENDAHULUAN. dan pendapatan perkapita dengan memperhitungkan adanya pertambahan

Boks 1. TABEL INPUT OUTPUT PROVINSI JAMBI TAHUN 2007

VI. SEKTOR UNGGULAN DALAM STRUKTUR PEREKONOMIAN WILAYAH KEPULAUAN PROVINSI MALUKU Sektor-Sektor Ekonomi Unggulan Provinsi Maluku

V. HASIL DAN PEMBAHASAN Peranan Sektor Hotel dan Restoran Terhadap Perekonomian Kota Cirebon Berdasarkan Struktur Permintaan

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Peran Sektor Pertanian Terhadap Perekonomian Kabupaten

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. sektor, total permintaan Provinsi Jambi pada tahun 2007 adalah sebesar Rp 61,85

III. METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. sektor nonmigas lain dan migas, yaitu sebesar 63,53 % dari total ekspor. Indonesia, seperti yang ditunjukkan pada Tabel 1.1.


III. METODE PENELITIAN

ANALISIS PERTUMBUHAN INVESTASI SEKTOR INDUSTRI TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL (TPT) TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA : ANALISIS INPUT-OUTPUT

Statistik KATA PENGANTAR

I. PENDAHULUAN. Distribusi Persentase PDRB Kota Bogor Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tahun

V. HASIL ANALISIS SISTEM NERACA SOSIAL EKONOMI DI KABUPATEN MUSI RAWAS TAHUN 2010

ANALISIS PERANAN DAN DAMPAK INVESTASI INFRASTRUKTUR TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA: ANALISIS INPUT-OUTPUT OLEH CHANDRA DARMA PERMANA H

III. METODE PENELITIAN. Data yang digunakan adalah data sekunder yang sebagian besar berasal

Statistik Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) Tahun

III. KERANGKA PEMIKIRAN. sektor produksi merupakan salah satu kunci keberhasilan pembangunan ekonomi.

I. PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi merupakan suatu proses kenaikan pendapatan

DAMPAK INVESTASI SWASTA YANG TERCATAT DI SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN JAWA TENGAH (ANALISIS INPUT-OUTPUT)

BAB I PENDAHULUAN. Dalam pembangunan jangka panjang, sektor industri merupakan tulang


III. KERANGKA PEMIKIRAN TEORITIS

PENGARUH INVESTASI SEKTOR PERTANIAN DAN INDUSTRI PENGOLAHAN HASIL PERTANIAN DI PROVINSI SULAWESI TENGAH

I. PENDAHULUAN. nasional yang diarahkan untuk mengembangkan daerah tersebut. Tujuan. dari pembangunan daerah adalah untuk meningkatkan kesejahteraan

ANALISIS PERANAN JASA PARIWISATA DAN SEKTOR PENDUKUNGNYA DALAM PEREKONOMIAN PROPINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA (Analisis Input-Output)

Analisis Perkembangan Industri

Statistik KATA PENGANTAR

RINGKASAN ISVENTINA. DJONI HARTONO

I. PENDAHULUAN. Tingkat perekonomian suatu wilayah didukung dengan adanya. bertahap. Pembangunan adalah suatu proses multidimensional yang meliputi

BAB II PERAN KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH DALAM PEMBANGUNAN NASIONAL A. STRUKTUR PEREKONOMIAN INDONESIA

Grafik 1 Laju dan Sumber Pertumbuhan PDRB Jawa Timur q-to-q Triwulan IV (persen)

II. TINJAUAN PUSTAKA. masyarakat secara keseluruhan yang terjadi di wilayah tersebut, yaitu kenaikan

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Produk Domestik Bruto (PDB)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Perkembangan Penyerapan Tenaga Kerja Sektor Industri

I. PENDAHULUAN Industri Pengolahan

III. METODE PENELITIAN. deskriptif analitik. Penelitian ini tidak menguji hipotesis atau tidak menggunakan

KATA PENGANTAR. Lubuklinggau, September 2014 WALIKOTA LUBUKLINGGAU H. SN. PRANA PUTRA SOHE

ANALISIS POTENSI SEKTOR PARIWISATA UNTUK MENINGKATKAN KESEMPATAN KERJA DAN PENDAPATAN MASYARAKAT PROVINSI BALI. Oleh ARISA SANTRI H

VI. PERANAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DALAM STRUKTUR PEREKONOMIAN KABUPATEN SIAK

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. perkembangan suatu perekonomian dari suatu periode ke periode. berikutnya. Dari satu periode ke periode lainnya kemampuan suatu negara

Dinamika Pengembangan Subsektor Industri Makanan dan Minuman Di Jawa Timur: Pengaruh Investasi Terhadap Penyerapan Jumlah Tenaga Kerja

PDB per kapita atas dasar harga berlaku selama tahun 2011 mengalami peningkatan sebesar 13,8% (yoy) menjadi Rp30,8 juta atau US$ per tahun.

I. PENDAHULUAN. nasional yang diarahkan pada pengembangan dan peningkatan laju pertumbuhan

Ringkasan. Kebijakan Pembangunan Industri Nasional

gula (31) dan industri rokok (34) memiliki tren pangsa output maupun tren permintaan antara yang negatif.

M E T A D A T A INFORMASI DASAR. 1 Nama Data : Produk Domestik Bruto (PDB) 2 Penyelenggara. Departemen Statistik Ekonomi dan Moneter, : Statistik

Perkembangan Indikator Makro Usaha Kecil Menengah di Indonesia

II. RUANG LINGKUP DAN METODE PENGHITUNGAN. 2.1 Ruang Lingkup Penghitungan Pendapatan Regional

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO ACEH TAMIANG

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN. 4.1 Kesimpulan. Kesimpulan yang dapat dikemukakan terkait hasil penelitian, yaitu.

BERITA RESMI STATISTIK

PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI SELATAN TRIWULAN I-2014

BAB I PERTUMBUHAN EKONOMI TRIWULAN II (SEMESTER I) TAHUN 2014

Kata Kunci: investasi, sektor pertanian, input-output.

ANALISIS PERTUMBUHAN INVESTASI SEKTOR INDUSTRI TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL (TPT) TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA : ANALISIS INPUT-OUTPUT

PERANAN SEKTOR INDUSTRI PENGOLAHAN DALAM PEREKONOMIAN KOTA BONTANG : ANALISIS INPUT OUTPUT OLEH RIZKI YULIANTI H

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Era globalisasi telah muncul sebagai fenomena baru yang

BAB I PENDAHULUAN. Industri pertekstilan merupakan industri yang cukup banyak. menghasilkan devisa bagi negara. Tahun 2003 devisa ekspor yang berhasil

Analisis Pertumbuhan Ekonomi Kab. Lamandau Tahun 2013 /

ANALISIS PERAN SEKTOR INDUSTRI PENGOLAHAN TERHADAP PEREKONOMIAN PROVINSI SUMATERA UTARA OLEH OKTAVIANITA BR BANGUN H

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

III. KERANGKA PEMIKIRAN

II. RUANG LINGKUP DAN METODE PENGHITUNGAN. 2.1 Ruang Lingkup Penghitungan Pendapatan Regional

BAB I PENDAHULUAN. ketimpangan dapat diatasi dengan industri. Suatu negara dengan industri yang

BAB I PENDAHULUAN. Sektor pertanian mempunyai peranan yang sangat penting dalam. secara langsung maupun secara tidak langsung dalam pencapaian tujuan

PERTUMBUHAN EKONOMI BANTEN TRIWULAN IV TAHUN 2013

TUGAS MODEL EKONOMI Dosen : Dr. Djoni Hartono

BERITA RESMI STATISTIK

I. PENDAHULUAN. Sejak tahun 2001 Indonesia telah memberlakukan desentralisasi yang lebih

BOKS II : TELAAH KETERKAITAN EKONOMI PROPINSI DKI JAKARTA DAN BANTEN DENGAN PROPINSI LAIN PENDEKATAN INTERREGIONAL INPUT OUTPUT (IRIO)

BAB 4 ANALISIS HASIL PENELITIAN

ANALISIS SEKTOR UNGGULAN PEREKONOMIAN KABUPATEN MANDAILING NATAL PROVINSI SUMATERA UTARA

VII. ANALISIS KETERKAITAN SEKTOR BERBASIS KEHUTANAN Keterkaitan Sektor Berbasis Kehutanan

BAB VI DAMPAK ASEAN PLUS THREE FREE TRADE AREA TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

I. PENDAHULUAN. Keberhasilan perekonomian suatu negara dapat diukur melalui berbagai indikator

Transkripsi:

DAMPAK INVESTASI TERHADAP PENYERAPAN TENAGAA KERJA SEKTOR INDUSTRI TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL (TPT) INDONESIA JAJANG ARIF DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2013

PERNYATAAN Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Dampak Investasi Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Sektor Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) Indonesia adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini. Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor. Bogor, Juni 2013 Jajang Arif NIM H14090002

iv ABSTRAK JAJANG ARIF. Dampak Investasi Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Sektor Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) Indonesia. Dibimbing oleh ALLA ASMARA. Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) merupakan salah satu komoditi andalan industri manufaktur dalam penyerapan tenaga kerja. Namun tuanya umur mesin menjadi salah satu isu utama dalam industri TPT di Indonesia. Melalui investasi pada industri TPT diharapkan mampu memberikan arah bagi penyerapan tenaga kerja di industri TPT Indonesia. Metode yang digunakan adalah Analisis Input-Output (I-O). Melalui investasi sebesar Rp23 926 miliar di seluruh subsektor industri TPT, hasil yang diperoleh menunjukan bahwa subsektor industri pakaian jadi (garment) berdampak besar terhadap penyerapan tenaga kerja. Kata Kunci: Investasi, Tenaga Kerja, Analisis Input-Output ABSRACT JAJANG ARIF. Investment Impact Analysis Of Manpower Absorption Textile and Textile Products in Indonesia. Supervised by ALLA ASMARA. Textiles and Textile Products is one of the commodity in manufacturing industry to labor absorbtion. However the age of machine became one of the main issues in the textile and textile products in Indonesia. A bit awkward re-arrange invesment in the textile and textile products are expected labor absorption textile and textile products in Indonesia. The method used for analytical is Input-Output Analysis. A bit awkward re-arrange the sentence 23 926 billion rupiah all of subsectors of textile and textile products, the result obtained show that the sub-sector clothing (garment) industry have a major impact on employment Keywords: Investment, Employment, Input-Output Analysis

v DAMPAK INVESTASI TERHADAP PENYERAPAN TENAGA KERJA SEKTOR INDUSTRI TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL (TPT) INDONESIA JAJANG ARIF Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2013

vi

vii Judul Skripsi : Dampak Investasi Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Sektor Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) Indonesia Nama : Jajang Arif NIM : H14090002 Disetujui oleh Dr. Alla Asmara, S.Pt, M.Si Pembimbing Diketahui oleh Dedi Budiman Hakim, Ph.D Ketua Departemen Tanggal Lulus:

viii PRAKATA Puji dan syukur kepada Allah SWT atas segala karunia-nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini. Judul skripsi ini adalah Dampak Investasi Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja Sektor Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) Indonesia. Penyusunan skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Tujuan penulisan skripsi ini yaitu untuk menganalisis dampak investasi terhadap penyerapan tenaga kerja sektor industri TPT Indonesia. Pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada orang tua dan keluarga penulis, yakni Bapak Tanu, Ibu Een Suhaenda, serta kakak adik dari penulis Bubun Buniawan dan Elisa, atas segala doa, motivasi, dan dukungan baik moril maupun materil bagi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Selain itu, penulis juga mengucapkan terima kasih kepada: 1. Dr. Alla Asmara, S.Pt, M,Si. selaku dosen pembimbing skripsi yang telah memberikan arahan dan bimbingan baik secara teknis, teoritis, maupun moril dalam proses penyusunan skripsi ini sehingga dapat diselesaikan dengan baik. 2. Dr. Wiwiek Rindayati selaku dosen penguji utama dan Laily Dwi Arsyanti, M.Sc selaku dosen penguji dari komisi pendidikan atas kritik dan saran yang telah diberikan untuk perbaikan skripsi ini. 3. Para dosen, staf, dan seluruh civitas akademika Departemen Ilmu Ekonomi FEM IPB yang telah memberikan ilmu dan bantuan kepada penulis selama menjalani studi di Departemen Ilmu Ekonomi. 4. Teman-teman satu bimbingan Ardhi Harry Subekti, Puspita Mega Lestari Efendi, Stania Cahaya Suci dan Almira Rosalina yang telah menjadi partner diskusi dan teman berbagi suka duka dalam penyusunan skripsi ini. 5. Sahabat penulis anggota Pakuan Teguh, Syafira Heryantiari Putri serta temanteman Ilmu Ekonomi 46 yang selalu memberikan keceriaan, masukan, dan semangat kepada penulis. 6. Semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini yang tidak bisa disebutkan satu per satu. Semoga karya ilmiah ini bermanfaat Bogor, Juni 2013 Jajang Arif

ix DAFTAR ISI DAFTAR TABEL viii DAFTAR GAMBAR viii DAFTAR LAMPIRAN ix PENDAHULUAN 1 Latar Belakang 1 Rumusan Masalah 3 Tujuan Penelitian 6 Manfaat Penelitian 6 Ruang Lingkup 6 TINJAUAN PUSTAKA 8 Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) 8 Investasi 9 Analisis Input-Output 13 Struktur Tabel Input-Output 14 Kerangka Analisis 15 Penelitian Terdahulu 16 Kerangka Pikir Operasional 17 METODOLOGI PENELITIAN 19 Jenis dan Sumber Data 19 Metode Analisis Model Input-Output 19 Analisis Dampak Investasi Pada Sektor Industri TPT 28 Agregasi Tabel Input-Output Indonesia 29 Definisi Operasional Data 32 GAMBARAN UMUM 34 Sejarah Industri TPT di Indonesia 34 Perkembangan Investasi Industri TPT di Indonesia 36 Perkembangan Sektor Industri TPT di Indonesia 40 PEMBAHASAN 47 Peran Sektor Industri TPT Terhadap Perekonomian Indonesia 47 Analisis Keterkaitan 55 Analisis Dampak Penyebaran 58 Analisis Penggandaan (Multiplier) 60 Analisis Dampak Investasi Pada Sektor Industri TPT 63 SIMPULAN DAN SARAN 70 Simpulan 70 Saran 71 DAFTAR PUSTAKA 71 LAMPIRAN 74 RIWAYAT HIDUP 83

x DAFTAR TABEL 1 Perkembangan Realisasi Investasi (PMA dan PMDN) Industri Pengolahan Tahun 2008-2012 (Miliar Rupiah) 5 2 Model Input-Output 14 3 Penelitian Terdahulu 17 4 Data dan Sumber Data yang Digunakan 19 5 Rumus Pengandaan Output, Pendapatan, dan Tenaga Kerja 24 6 Pengklasifikasian Tabel Input-Output 30 7 Nilai Koefisien Input Teknis dan Nilai Arus Barang 31 8 Input-Output Agragasi 19 Sektor 31 9 Persentase Peran Masing-Masing Sektor Terhadap PDB Industri Non Migas 40 10 Struktur Permintaan Perekonomian Indonesia Tahun 2008 (Juta Rupiah) 48 11 Struktur Konsumsi Perekonomian Indonesia Tahun 2008 (Juta Rupiah) 50 12 Struktur Investasi Perekonomian Indonesia Tahun 2008 (Juta Rupiah) 51 13 Struktur Ekspor Impor Indonesia Tahun 2008 (Juta Rupiah) 52 14 Struktur Nilai Tambah Bruto Indonesia Tahun 2008 (Juta Rupiah) 53 15 Struktur Output Indonesia Tahun 2008 (Juta Rupiah) 55 16 Keterkaitan Output Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia Tahun 2008 56 17 Dampak Penyebaran Sektor-Sektor Perekonomian di Indonesia Tahun 2008 59 18 Nilai Multiplier Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia Tahun 2008 61 19 Perkembangan Realisasi Investasi (PMDN) Industri Pengolahan Tahun 2008-2012 (Miliar Rupiah) 63 20 Dampak Investasi yang Dialoksikan Secara Merata pada Masing-Masing Subsektor Industri TPT Terhadap Output, Pendapatan, dan Tenaga Kerja 64 21 Dampak Investasi Sektor Industri TPT terhadap Output (Juta Rupiah) 66 22 Dampak Investasi Sektor Industri TPT terhadap Pendapatan 67 23 Dampak Investasi Sektor Industri TPT terhadap 69 DAFTAR GAMBAR 1 Peran Sektor Terhadap PDB Atas Harga Konstan 2000, Tahun 2008-2012 1 2 Jumlah Tenaga Kerja Basis Industri Manufaktur Tahun 2006-2010 3 3 Jumlah Mesin Industri TPT Usia 20 Tahun (Persen) 4 4 Pohon Industri TPT 5 Hubungan Tingkat Suku Bunga, dan Investasi 11 6 Model Harrod Domar 12 7 Kerangka Pemikiran Operasional 19 8 Persentasi Realisasi Investasi PMA dan PMDN Industri TPT 39 9 Pohon Industri TPT 41 10 Perkembangan Jumlah Perusahaan Industri TPT Tahun 2006-2010

xi (Unit Usaha) 42 11 Perkembangan Jumlah Perusahaan Subsektor Industri TPT Tahun 2006-2010 (Unit Usaha) 42 12 Perkembangan Jumlah Tenaga Kerja Industri TPT Tahun 2006-2010 (Orang) 43 13 Perkembangan Jumlah Tenaga Kerja Subsektor Industri TPT Tahun 2006-2010 (Orang) 44 14 Perkembangan Nilai Produksi Industri TPT Tahun 2006-2010 (Juta Rupiah) 44 15 Perkembangan Nilai Produksi Subsektor Industri TPT Tahun 2006-2010 (Juta Rupiah) 45 16 Perkembangan Nilai Tambah Industri TPT Tahun 2006-2010 (Juta Rupiah) 46 17 Perkembangan Nilai Tambah Subsektor Industri TPT Tahun 2006-2010 (Juta Rupiah) 44 18 Perkembangan Net Ekspor Industri TPT (Ribu US$) 45 19 Kuadran Keterkaitan Sektor Perekonomian Indonesia 57 20 Kuadran Penyebaran Sektor Perekonomian Indonesia 60 DAFTAR LAMPIRAN 1 Klasifikasi Sektor Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2005 Berdasarkan Hasil Agregasi 74 2 Klasifikasi Sektor Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2005 Berdasarkan Hasil Agregasi 80

xii

1 PENDAHULUAN Latar Belakang Sektor industri merupakan mesin pembangunan ekonomi nasional. Selain kapasitas modal yang ditanamkan sangat besar, industri juga mampu menyerap tanaga kerja yang besar serta mampu menciptakan nilai tambah dari setiap output yang dihasilkan. Di Negara Indonesia, sektor industri menunjukan perannya yang semakin tinggi, sehingga menyebabkan perubahan struktur perekonomian dari sektor pertanian ke sektor industri secara perlahan. ini terlihat dari menurunnya kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Sehingga transformasi struktur ekonomi Indonesia yang semula pertanian tidak dapat dihindarkan, karena kesadaran akan keterbatasan sektor primer (pertanian) yang selama ini mendominasi perekonomian indonesia. Kontribusi Terhadap PDB (Persen) 30 25 20 15 Pertanian, Peternakan, Keh utanan dan Perikanan Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas dan Air Bersih Konstruksi 10 Perdagangan, Hotel dan Restoran Pengangkutan dan 5 Komunikasi Keuangan, Real Estate dan 0 Jasa Perusahaan Jasa-jasa 2008 2009 2010 2011 2012 Tahun Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS), 2012 Gambar 1 Peran Sektor Terhadap PDB Atas Harga Konstan 2000, Tahun 2008-2012 Berdasarkan Gambar 1, sektor industri pengolahan merupakan komponen utama dalam pembangunan ekonomi di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari nilai tambah yang dominan serta laju pertumbuhannya lebih besar dibandingkan sektor lainnya. Secara berturut-turut dari tahun 2008-2012 kontribusinya di atas 25 persen dari PDB total yang pada tahun 2008 mencapai Rp 557 triliun, tahun 2009 mencapai Rp 570 triliun, tahun 2010 mencapai Rp 597 triliun, tahun 2011 mencapai Rp 633 triliun, tahun 2012 mencapai Rp 670 triliun. Sedangkan sektor industri kontribusinya terhadap PDB hanya dibawah 15 persen.

Dalam rangka mendorong pertumbuhan industri pada tahun 2010-2014, kementerian perindustrian menyusun program kerja dan kegiatan yang tertuang dalam rencana pengembangan industri nasional dengan mengacu pada kebijakan nasional (Perpes No.28 Tahun 2008) yaitu Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2010-2014. Berlandaskan pelaksanaan, pencapaian, dan sebagai keberlanjutan RPJM pertama, maka RPJM kedua (2010-2014) ditujukan untuk lebih memantapkan penataan kembali Indonesia di segala bidang dengan menekankan upaya peningkatan kualitas sumberdaya manusia termasuk pengembangan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta penguatan dayasaing perekonomian. Menurut laporan kementerian perindustrian tahun 2004-2012 yang menjadi sasaran pembangunan RPJM tahun 2010-2014 adalah pertumbuhan ekonomi rata-rata 6.3-6.8 persen, tersediannya kesempatan kerja sebanyak 9.6 juta orang, serta pertumbuhan industri pengolahan non migas rata-rata 6.1-6.7 persen. Arah pembangunan industri tersebut dijalankan untuk mencapai visi pembangunan jangka panjang tahun 2025 yaitu Membawa Indonesia Menjadi Negara Industri Tangguh Dunia. Visi pembangunan jangka panjang 2025 tersebut kemudian diturunkan ke dalam visi jangka pendek tahun 2014 yaitu Pemantapan Dayasaing Basis Industri Manufaktur Yang Berkelanjutan Serta Terbangun Pilar Industri Andalan Masa Depan. Basis industri manufaktur terdiri dari beberapa kelompok industri yaitu: 1. Industri material dasar yang terdiri dari: industri besi dan baja; industri semen; industri petrokimia; industri keramik. 2. Industri permesinan yang meliputi: industri peralatan listrik dan mesin listrik; industri mesin dan peralatan umum. 3. Industri manufaktur padat tenaga kerja merupakan penghasil produk sandang, pangan, bahan bangunan, kesehatan dan obat, dan sebagainya yang meliputi antara lain: industri tekstil dan produk tekstil (TPT); industri alas kaki; industri farmasi dengan bahan baku dalam negeri. Industri TPT adalah salah satu industri perintis dan tulang punggung manufaktur Indonesia. Posisi strategis industri ini semakin tampak nyata jika ditinjau dari sisi kontribusinya terhadap perekonomian khususnya dalam bentuk pendapatan ekspor dan penyerapan tenaga kerja. Bahkan jika mencermati periode sekitar 20 tahun yang lalu perkembangan kinerja industri tekstil menunjukkan masa keemasannya, dimana pada saat itu industri ini mampu menyumbang lebih dari 35 persen dari total ekspor manufaktur dan penciptaan lapangan kerja terbesar di sektor manufaktur (Kemenperin, 2011). Berdasarkan laporan kementerian perindustrian 2004-2012, pertumbuhan industri TPT cukup signifikan. Setelah mengalami pertumbuhan negatif pada tahun 2008-2009 akibat dampak krisis finansial global, kini dapat tumbuh di atas 4 persen. Sampai dengan periode Januari-April 2011 secara kumulatif ekspor TPT Indonesia meningkat. Ekspor rata-rata meningkat menjadi US$ 4.53 milyar. Peningakatan ekspor terbesar terjadi pada kelompok produk serat tekstil dan lainnya sebesar US$ 259.69 juta. Indonesia merupakan salah satu negara berkembang di Asia yang mengalami perbaikan ekonomi yang cukup kuat pasca krisis 2008-2009. PDB Indonesia tahun 2

3 2012 tumbuh 6.23 persen sebagian besar didukung oleh kuatnya permintaan domestik terutama pada kelompok konsumsi rumah tangga. Kuatnya daya beli masyarakat mendorong peningkatan konsumsi rumah tangga yang berdampak positif terhadap permintaan kebutuhan akan produk akhir, salah satunya produk akhir dari industri TPT (Kemenperin, 2011). Rumusan Masalah Industri TPT mampu memberikan kontribusi yang cukup besar dalam penyerapan tenaga kerja di basis industri manufaktur. Berdasarkan Gambar 2, industri TPT sangat dominan dalam menyerap tenaga kerja dari tahun 2006-2010 dimana pada tahun 2006 jumlah tenaga kerja yang bekerja di sektor industri TPT sebesar 1.15 juta orang, pada tahun 2007 sebesar 1.07 juta orang. Akan tetapi pada tahun 2008 mengalami penurunan dalam menyerap tenaga kerja namum tetap dominan dibandingkan sektor lainnya sebesar 0.98 juta orang, pada tahun 2009 sebesar 0.96 juta orang, dan pada tahun 2010 mengalami kenaikan dalam menyerap tenaga kerja sebesar satu juta orang. Jumlah Tenaga Kerja (Ribu Orang) 1,200 1,000 800 600 400 200 0 2006 2007 2008 2009 2010 Industri baja dan besi Industri semen Industri petrokimia Industri keramik Industri perelatan dan mesin listrik Industri TPT Industri alas kaki Tahun Industri farmasi Sumber: Kemenperin, 2010 Gambar 2 Jumlah Tenaga Kerja Basis Industri Manufaktur Tahun 2006-2010 Industri TPT diharapkan mampu mengatasi masalah-masalah pengangguran dan pemerataan pendapatan yang terjadi di Indonesia. Perkembangan sektor industri TPT merupakan gambaran adanya saling keterkaitan antar sektor-sektor lainnya. Pertumbuhan ekonomi di Indonesia dan kesejahteraan masyarakat didukung juga oleh pertumbuhan sektor industri TPT, sehingga dapat menjadi tolak ukur bagi keberhasilan sektor tersebut dalam mengatasi masalah perekonomian di Indonesia. Sesuai dengan sasaran dalam RPJM 2010-2014 yaitu tersedianya kesempatan kerja sebesar 9.6 juta orang, maka

4 sektor industri TPT menjadi tulang punggung basis industri manufaktur dalam menyerap tenaga kerja. Namun bukan berarti industri TPT tidak mengalami hambatan dalam menyerap tenaga kerja, tuanya umur mesin menjadi salah satu isu utama dalam industri TPT di Indonesia. Penggunaan mesin yang overcapacity pada masa puncak produksi pada dasawarsa 1980-an menyebabkan mesin-mesin mengalami penurunan produktivitas. Kondisi mesin-mesin yang sudah tua ini selain menurunkan produktivitas juga ketinggalan teknologi. Kondisi mesin sangat menentukan kualitas produk. Mesin yang semakin tua selain menjadi kurang produktif juga semakin boros energi. Sebagai gambaran, mesin carding yang 15 tahun lalu biaya energinya hanya mencapai tujuh persen, namun saat ini memakan biaya listrik sebesar 15-20 persen. Sebagian besar dari beberapa jenis industri TPT seperti industri pemintalan, pertenunan, dyeing/printing/finishing dan pakaian jadi (garment) mempunyai mesin peralatan yang sudah tua sehingga menurunkan produktivitas dan dayasaing industri tersebut. Gambaran tentang jumlah mesin yang sudah berumur rata-rata di atas 20 tahun ditunjukan olah Gambar 3. Persentase Kondisi Mesin Industri TPT 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 64.4 82.1 84.1 0 Mesin Industri TPT Sumber: Kemenperin, 2011 Gambar 3 Jumlah Mesin Industri TPT Usia 20 Tahun (Persen) Pemintalan Pertenunan Perajutan Finishing Pakian Jadi Investasi merupakan salah satu faktor penentu dalam pembanguanan suatu negara. Realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA) memberikan berbagai manfaat dan dampak positif untuk pembangunan ekonomi nasional maupun lokal. Selain sebagai cadangan devisa, investasi juga mampu menciptakan lapangan kerja baru, serta transfer teknologi. Industri TPT merupakan salah satu industri yang masih menarik untuk menjadi pilihan investasi. Investasi asing maupun domestik sangat penting peranannya untuk membangkitkan gairah industri TPT. Indonesia memiliki potensi besar dalam mengembangkan produk-produk serat buatan, garmen, benang, serta produk tekstil 93.2 78

5 lainnya. Bahan baku yang sudah berkembang baik dan menjadi unggulan Indonesia berasal dari serat buatan seperti polyester dan rayon. Untuk produk benang, keunggulan Indonesia terutama untuk benang jahit, benang untuk kain dan benang rajut. Produk garmen yang memiliki keunggulan antara lain baju pria dan wanita, jaket, pakaian dalam maupun gaun pengantin. Sedangkan produk tekstil lainnya yang menjadi unggulan Indonesia antara lain permadani, taplak meja, vitrage, handuk, kaos kaki, bordir, dan gorden. Tabel 1 Perkembangan Realisasi Investasi ( PMA dan PMDN) Industri Pengolahan Tahun 2008-2012 (Miliar Rupiah) Sektor Industri Pengolahan 2008 2009 2010 2011 2012 Makanan 12 955 11 503 25 731 17 996 127 714 TPT 2 757 5 254 1 841 5 366 8 708 Kulit dan Hasilnya 1 416 1 272 1 321 2 206 1 508 Industri Kayu 1 455 677 842 1 027 741 Kertas dan Percetakan 4 659 1 718 1 520 11 648 19 224 Kimia dan Farmasi 6 595 18 141 10 520 15 503 29 999 Karet dan Plastik 3 436 3 694 1 476 5 550 8 795 Mineral Non Logam 3 425 983 2 520 8 641 12 045 Logam, Mesin, dan Elektronik 14 805 8 272 6 153 22 354 29 303 Kedokteran, Presisi, optik dan Jam 162 52 9 368 27 Alat Transportasi 7 647 6 123 3 943 7 264 107 224 Lainnya 377 1 526 240 566 931 Sumber: Badan Koordinasi dan Penanaman Modal (BKPM) diolah Kemenperin, 2012 Ketika industri TPT menjadi prioritas pemerintah dalam penyerapan tenaga kerja dan menjadi sasaran dalam RPJM 2010-2014 untuk menyerap tenaga kerja sebesar 9.6 juta tenaga kerja, namun realisasi investasi sektor industri TPT mengalami peningkatan yang sangat kecil dibandingkan sektor basis industri manufaktur lainnya seperti yang terlihat pada Tabel 1. Pada tahun 2008 nilai investasi sektor industri sebesar Rp2 757 miliar rupiah. Pada tahun 2009 mengalami peningkatan menjadi Rp5 254 miliar rupiah. Namun pada tahun 2010 terjadi penurunan lebih dari 50 persen dibandingkan tahun sebelumnya menjadi Rp1 841 miliar rupiah. Tetapi pada tahun 2011 dan 2012 terjadi peningkatan menjadi Rp5 366 miliar rupiah dan Rp8 708 miliar rupiah. Meskipun nilai investasinya kecil dibandingkan sektor basis industri manufaktur lainnya diharapkan mampu menyerap tenaga lebih besar sehingga sasaran RPJM 2010-2014 untuk menyediakan kesempatan kerja 9.6 juta tenaga kerja bisa tercapai. Berdasarkan uraian diatas maka dapat dirumuskan masalah-masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana keterkaitan sektor industri TPT dengan sektor perekonomian lain di Indonesia? 2. Bagaimana dampak penyebaran sektor industri TPT di Indonesia?

6 3. Bagaimana dampak multiplier yang ditimbulkan sektor industri TPT terhadap sektor perekonomian lainnya di Indonesia? 4. Bagaimana dampak investasi terhadap penyerapan tenaga kerja di sektor industri TPT? Tujuan Penelitian Berdasarkan perumusan masalah diatas, tujuan dari penelitian ini adalah: 1. Menganalisis keterkaitan industri TPT dengan sektor perekonomian lain di Indonesia. 2. Menganalisis dampak penyebaran sektor industri TPT di Indonesia. 3. Menganalisis dampak multiplier yang ditimbulkan sektor industri TPT terhadap sektor perekonomian lain di Indonesia. 4. Menganalisis dampak investasi terhadap penyerapan tenaga kerja di sektor industri TPT. Manfaat Penelitian Dengan adanya penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat sebagai berikut: 1. Bahan masukan bagi pemerintah dalam merumuskan, merencanakan serta pengambilan keputusan yang terkait dengan peran dan dampak investasi terhadap penyerapan tenaga kerja sektor industri TPT Indonesia. 2. Bahan acuan bagi peneliti lain dalam penelitian yang lebih lanjut. 3. Meningkatkan wawasan bagi penulis serta pembaca tentang dampak investasi terhadap penyerapan tenaga kerja sektor industri TPT Indonesia. Ruang Lingkup Penelitian yang berjudul dampak investasi terhadap penyerapan tenaga kerja sektor industri TPT Indonesia hanya berfokus pada industri TPT saja. Penelitian ini menggunakan Tabel Input-Output Indonesia tahun 2005 dan 2008. Tabel Input- Output Indonesia tahun 2005 klasifikasi 175 sektor yang diagregasikan menjadi 19 sektor. Sedangkan Tabel Input-Output Indonesia tahun 2008 klasifikasi 66 sektor diagregasi menjadi 19 sektor. Kesembilan belas sektor tersebut adalah sektor pertanian, sektor pertambangan dan penggalian lainnya, sektor industri makanan, minuman, dan tembakau, sektor industri serat (fiber), sektor industri pemintalan benang (yarn), sektor industri kain (fabric), sektor industri pakaian jadi (garment), sektor industri tekstil lainnya (other textile), sektor industri kulit dan hasilnya, sektor industri bambu, kayu, rotan, dan hasilnya, sektor industri kimia, karet, dan plastik, sektor industri besi, baja, dan logam, sektor industri mesin, listrik dan perbaikan, sektor industri bahan bangunan,

7 dan lainnya, sektor listrik dan air bersih, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor jasa angkutan dan komunikasi, sektor bank dan lembaga keuangan lainnya, sektor jasa dan kegiatan lainnya. Dalam penelitian ini yang akan dibahas adalah dampak investasi terhadap penyerapan tenaga kerja di sektor industri TPT dengan menggunakan analisis Input- Output. Analasis pada penelitian ini meliputi analisis keterkaitan (keterkaitan ke depan dan ke belakang), analisis dampak penyebaran, dan analisis multiplier (output, pendapatan, dan tenaga kerja). Analisis keterkaitan digunakan untuk melihat keterkaitan antar sektor dalam suatu perekonomian. Dampak penyebaran berguna untuk melihat distribusi manfaat dari pengembangan suatu sektor terhadap pengembangan sektor-sektor lainnya. Sedangkan analisis multiplier digunakan untuk melihat dampak perubahan atau peningkatan permintaan akhir suatu sektor terhadap seluruh sektor yang ada tiap satu-satuan perubahan jenis multiplier. TINJAUAN PUSTAKA Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) Industri adalah perusahaan-perusahaan yang berkumpul di suatu daerah tertentu untuk menghasilkan suatu barang yang sama (Putong, 2002). Sementara itu, menurut Hasibuan (1993), secara mikro industri adalah kumpulan dari perusahaan-perusahaan yang menghasilkan barang-barang yang homogen, atau barang-barang yang mempunyai sifat saling mengganti yang sangat erat. Namun dari segi pembentukan pendapatan yang cenderung bersifat makro, industri adalah kegiatan ekonomi yang menciptakan nilai tambah yakni semua produk baik barang maupun jasa. Jadi dapat disimpulkan bahwa pengertian industri secara luas adalah suatu unit usaha yang melakukan kegiatan ekonomi yang mempunyai tujuan untuk menghasilkan barang dan jasa yang terletak pada suatu bangunan atau lokasi tertentu. Serta mempunyai catatan administrasi tersendiri mengenai produksi dan struktur biaya dan ada seseorang atau lebih yang bertanggung jawab atas resiko usaha tersebut. Tekstil secara umum diartikan sebagai bahan pakaian atau kain. Namun dilihat dari kegunaannya, tekstil tidak hanya untuk pakaian saja tetapi juga dapat digunakan untuk keperluan rumah tangga, industri atau kegunaan lainnya seperti untuk kain kasur, gorden, taplak meja, kain mebel, tas, koper, parasut, kain layar, kain jok mobil atau kap mobil, ban, pipa atau slang untuk minyak dan pemadam kebakaran, dan lainlain. Tekstil berasal dari bahasa latin, yaitu texere yang berarti menenun atau kain tenun. Tekstil diartikan sebagai (1) suatu benda yang dibuat dari benang yang kemudian dari benang tersebut dijadikan kain sebagai bahan untuk pakaian, (2) suatu benda yang berasal dari serat atau benang yang karena dianyam (ditenun) atau dirajut, direnda, dilapis, dikempa, untuk menjadi bahan pakaian atau untuk keperluan lainnya (Djafrie dalam Junaedi, 2007).

8 Pengklasifikasian TPT bergantung pada tujuan penggunaan TPT itu sendiri sehingga menimbulkan beberapa cara dalam mengklasifikasinya. Pada saat ini, ada dua jenis klasifikasi yang berbeda sekali, yaitu klasifikasi berdasarkan produk atau industri dan berdasarkan perdagangan. Klasifikasi TPT berdasarkan produk atau industri terdiri dari : 1. Industri serat (fiber), berupa serat alam dan serat buatan. 2. Industri benang (yarn), berupa filamen buatan, benang dari serat alam 100 persen, benang dari serat buatan 100 persen, dan benang dari serat campuran. 3. Industri kain (fabric), berupa kain tenun, kain rajut, kain non-woven, lace/ braids, embroidery, dan laminasi/ impregnasi. 4. Industri pakaian jadi (garment), berupa pakaian jadi untuk bayi, anak-anak, lakilaki, dan perempuan. 5. Industri tekstil lainnya (others textiles), berupa karpet, penutup lantai, barang jadi dari serat, barang jadi dari benang dan tali, barang jadi dari kain, dan barang jadi lainnya. Sedangkan klasifikasi TPT berdasarkan perdagangan menggunakan The Harmonized Commodity Description and Coding System disingkat HS (Harmonized System) yang merupakan hasil dari Custom Cooperation Council semua anggota GATT(General Angreement on Tariffs and Trade). Harmonized System terdiri dari 21 sections dan 99 chapters (diantaranya dua chapters cadangan). TPT termasuk section XI, tetapi beberapa produk dari section lain dalam Multi Fibre Arrangement (MFA) dimasukkan ke dalam cakupan section TPT. Jika dilihat dari prosesnya dalam pengolahan bahan baku sampai dengan produk tekstil yang siap pakai, maka terdapat lima tahapan penting. Kelima tahapan penting itu adalah industri serat (fiber), industri pemintalan benang (yarn), industri kain (fabric) yang terdiri dari tenunan/kain (weaving), perajutan (knitting), dan penyelesaian akhir (finishing), industri pakaian jadi (garmen), dan industri tekstil lainnya (others textile). Gambar 4 menunjukan tahapan penting dalam industri tekstil dan produk tekstil. Industri serat 1 (fiber) merupakan industri yang mengolah bahan baku yang paling utama untuk tekstil. Serat adalah benda padat yang mempunyai ciri atau bentuk khusus yaitu panjang relatif lebih besar dari ukuran lebarnya. Serat diperoleh dari alam dan buatan, yang secara rinci sebagai berikut: 1. Serat alam (nature fibers) adalah serat nabati (kapas, linen, ramie, kapuk, rosela, jute, sisal, manila, coconut, daun sisai, sabut) dan serat hewani (wool, sutera, cashmere, ilama, unta, aplaca, vicuna). 2. Serat buatan (man made fibers) adalah artificial fiber (rayon, acetate), synthetics fiber (polysters/tetolon, acrylic, nylon/poliamida) dan mineral (asbes, gelas, logam). 1 http://egismy.wordpress.com/2008/02/ diunduh pada hari Selasa tanggal 12 Maret 2012 pukul 08:00

9 Sumber: Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), 2011(dimodifikasi) Gambar 4 Pohon Industri TPT Industri pemintalan benang (yarn) adalah industri yang mengolah bahan baku serat menjadi benang. Pemintalan benang (yarn) dapat dibedakan menjadi lima jenis yaitu: 1. Berdasarkan urutan prosesnya, benang dapat dibedakan menjadi benang garuk, benang sisir, benang campur, dan open end yarn. 2. Berdasarkan konstruksinya, benang dapat dibedakan menjadi benang tungal, benang rangkap, dan benang gintir. 3. Berdasarkan panjang seratnya, benang dapat dibedakan menjadi benang staple, dan benang filament. 4. Berdasarkan penggunaaannya, benang dapat dibedakan menjadi benang lusi, benang pakan, benang rajut, benang jahit, dan benang hias. 5. Berdasarkan bahan bakunya, benang dapat dibedakan menjadi benang cotton, benang polyester, benang rayon, benang nylon, benang akrilik, benang polipropilen, benang R/C (rayon/cotton), benang T/R (polyester/rayon), benang T/C (polyester/cotton), dan lain-lain. Industri kain (fabric) merupakan industri yang terdiri dari hasil proses benangbenang yang ditenun atau dirajut. Namun benang hasil pemintalan tidak bisa ditenun atau dirajut, karena akan mudah putus ketika terjadi pergesekan antara benang lusi dan benang pakan pada waktu proses. Oleh karena itu ada tahap selanjutnya yang harus dipersiapkan terlebih dahulu sebelum benang-benang tersebut ditenun atau dirajut. Jenis-jenis kain dapat dibedakan menjadi empat kelompok besar, yaitu:

10 1. Kain grey atau kain blancu, yaitu kain yang paling sederhana atau kain yang setelah ditenun kemudian dikanji dan disetrika namun tidak mengalami proses pemasakan dan pemutihan. 2. Kain finished adalah kain grey yang telah melalui proses-proses pemasakan dan pemutihan, pencelupan (dyeing), pewarnaan (colouring), dan pencapan (printing). 3. Kain rajut, kainnya lebih halus dan lebih lemas dengan sifat yang lebih elastis dan daya tembus udara yang lebih besar dari pada kain tenun. Banyak digunakan untuk pakaian dalam (underwear), kaos kaki, shirt, sweaters atau overcoats dan lain-lain. 4. Kain non woven yaitu semua jenis kain yang tidak tergolong kain tenun dan kain rajut. Produk tekstil adalah hasil pengolahan lebih lanjut dari tekstil, baik yang setengah jadi maupun yang telah jadi. Adapun yang termasuk dalam produk tekstil adalah: 1. Industri pakaian jadi (garment) adalah berbagai jenis pakaian yang siap dipakai dalam berbagai ukuran standar. 2. Industri tekstil lainnya (other textile) adalah industri yang menghasilkan tekstil rumah tangga (house hold), seperti bed linen, tabel linen, toilet linen, kitchen linen, curtain, dan kebutuhan industri (industrial use), antara lain: canvas, saringan, tekstil rumah sakit, keperluan angkatan perang, dan lain-lain. Investasi Deliarnov dalam Lubis (2008) mengemukakan bahwa investasi merupakan pengeluaran perusahaan secara keseluruhan yang mencakup pengeluaran untuk membeli bahan baku/mentah, mesin-mesin, dan peralatan pabrik, serta peralatan semua modal lainnya yang diperlukan dalam proses produksi. Pengeluaran juga ditunjukan untuk keperluan bangunan kantor, rumah tempat tinggal karyawan, dan bangunan konstruksi lainnya. Perubahan nilai stok atau barang cadangan sebagai akibat dari perubahan jumlah juga harga. Todaro dalam Lubis (2008), menyatakan bahwa sumber daya yang akan digunakan untuk meningkatkan pendapatan dan konsumsi dimasa yang akan datang disebut sebagai investasi. Dengan demikian investasi dapat diartikan sebagai pengeluaran atau pembalanjaan penanaman-penanaman modal atau perusahaan untuk membeli barang-barang modal dan perlengkapan-perlengkapan produksi untuk menambah kemampuan memproduksi barang-barang dan jasa-jasa yang tersedia dalam perekonomian sehinggga investasi disebut juga dengan penanaman modal atau pembentukan modal (Lubis, 2008). Salah satunya bentuk investasi di Indonesia adalah PMDN dan PMA yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan, sumber perkembangan teknologi, dan diversifikasi produk sehingga mampu meningkatkan pertumbuhan ekspor. Dalam suatu perekonomian, PMA mempunyai peran mikro dan makro. Secara mikro, PMA berpengaruh terhadap ketenagakerjaan, penguasaan dan pendalaman teknologi terhadap pengembangan keterkaitan antara industri dalam negeri, termasuk akses

11 industri dalam negeri terhadap jaringan produksi, perdagangan, dan investasi regional dan global. Sedangkan secara makro, PMA dapat meningkatkan kegiatan investasi nasional dan pertumbuhan. Sektor industri sampai saat ini masih tetap bertahan sebagai penopang perekonomian Indonesia, meningkatnya kebutuhan rumah tangga akan produkproduk industri membuat pertumbuhan sektor industri di Indonesia semakin pesat. Sektor industri memegang peran yang sangat penting dalam pembangunan ekonomi, seperti halnya dalam pembentukan pendapatan nasional dan penyerapan tenaga kerja. Investasi yang dilaksanakan di Indonesia mencakup investasi pada sektor industri pengolahan, baik industri pengolahan migas maupun non migas yang dibagi lagi menjadi beberapa subsektor. Baum dan Tolbert dalam Maryadi (2007), peran investasi di sektor industri adalah mempertahankan prospek untuk suatu kenaikan produktivitas dan akumulasi modal, menggiatkan lapangan pekerjaan, meningkatkan jumlah produksi sehingga dapat menggantikan impor dengan produksi dalam negeri, dan dorongan restrukturisasi industri. Sumber: Mankiw, 2000 Gambar 5 Hubungan Tingkat Suku Bunga, dan Investasi Investasi pada sektor industri telah memberikan peranan yang cukup besar bagi perekonomian Indonesia, tidak hanya bagi peningkatan sektor industri itu sendiri namun bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Hal tersebut sesuai dengan tujuan investasi diantaranya adalah meningkatkan pendapatan masyarakat, penciptaan lapangan kerja, meningkatkan hasil produksi, menunjang pengembangan sektorsektor perekonomian lainnya, dan adanya peningkatan teknologi. Tetapi tidak semua

12 pertumbuhan investasi di sektor industri mengalami peningkatan, hal ini tergantung juga dari iklim perekonomian Indonesia. Teori Keynessian menyatakan bahwa setiap kenaikan jumlah investasi akan meningkatkan pendapatan di suatu wilayah, dan pendapatan ini khususnya berbentuk dalam uang yang akan meningkatkan permintaan barang secara agregat atau Agregat Demand (AD). Hal tersebut akan berpengaruh pada kebutuhan peralatan maupun uang dalam bentuk modal sebagai akibat dari peningkatan produksi, sehingga secara tidak langsung akan meningkatkan investasi. Selain itu, kenaikan tabungan masyarakat karena adanya peningkatan pendapatan merupakan investasi secara langsung melalui lembaga keuangan. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi peningkatan investasi adalah tingkat suku bunga. Dengan adanya penurunan tingkat suku bunga dari r 1 ke r 2 akan meningkatkan jumlah investasi yang direncanakan dari I(r 1 ) ke I(r 2 ). Dengan meningkatnya jumlah investasi maka menggeser fungsi pengeluaran ke atas sehingga tingkat pendapatan meningkat dari Y 1 ke Y 2. Dengan demikian salah satu kebijakan untuk meningkatkan pendapatan nasional adalah dengan cara menaikkan investasi. Hubungan antara suku bunga (r) dan investasi (I) yang ditunjukkan oleh fungsi investasi dan interaksi antara investasi (I) dan pendapatan (Y) yang ditunjukkan oleh kurva perpotongan keynessian yang diringkas dalam bentuk kurva IS (Invesment- Saving) pada Gambar 5. Sumber: Carlos dalam Putra, 2012 Gambar 6 Model Harrod Domar Sedangkan menurut model Harrod-Domar peranan investasi sangat penting. Dalam jangka panjang investasi mempunyai pengaruh ganda. Di satu sisi investasi mempengaruhi permintaan agregat dan di sisi lain investasi juga mempengaruhi kapasitas produksi nasional dengan menambahkan stok modal yang tersedia. Harrod- Domar melihat pengaruh investasi dalam perspektif waktu yang lebih panjang. Menurut kedua ekonom ini, pengeluaran investasi tidak hanya mempunyai pengaruh

13 (lewat proses multiplier) terhadap permintaan agregat, tetapi juga terhadap penawaran agregat melalui pengaruhnya terhadap kapasitas produksi. Fungsi produksi dari Harrod-Domar menggambarkan hubungan antara modal dan tenaga kerja. Sumbu vertikal menunjukkan jumlah modal dan sumbu horizontal menunjukkan jumlah tenaga kerja. Modal dan tenaga kerja tidak dapat saling menggantikan satau sama lain. Misalnya untuk memproduksi sebesar N 1 diperlukan modal sebesar K 1 dan tenaga kerja sebanyak L 1, demikian pula untuk memproduksi sebesar N 2, diperlukan modal sebesar K 2 dan tenaga kerja sebesar L 2 dan seterusnya seperti yang terlihat pada Gambar 6. Analisis Input-Output Analisis Tabel Input-Output merupakan suatu model yang secara sistematis mengukur hubungan timbal balik diantara beberapa sektor dalam sistem ekonomi yang kompleks. Fokus utamanya adalah hubungan antara sektor di dalam suatu wilayah, dan mendasarkan analisisnya terhadap keseimbangan. Model I-O dapat dianggap sebagai kemajuan penting dalam teori keseimbangan umum. Tabel Input-Output disusun dengan tujuan untuk menyajikan gambaran tentang hubungan timbal balik dan saling keterkaitan antara suatu kegiatan dalam perekonomian di Indonesia secara menyeluruh. Penyusunan Tabel I-O selain mampu menghasilkan alat efektif untuk analisis dan proyeksi perekonomian dalam suatu perencanaan pembangunan, dapat juga dijadikan landasan untuk menilai dan mengetahui berbagai kelemahan data-data statistik lainnya. Konsep dasar model I-O Leontief didasarkan atas: (1) struktur perekonomian tersusun dari berbagai sektor (industri) yang satu sama lain berinteraksi melalui transaksi jual beli, (2) output suatu sektor dijual kepada sektor lainnya untuk memenuhi kebutuhan permintaan akhir rumah tangga, pemerintah, pembentukan modal, dan ekspor, (3) input suatu sektor dibeli dari suatu sektor lainnya, dan rumah tannga dalam bentuk jasa dan tenaga kerja, pemerintah dalam bentuk pajak tidak langsung, penyusutan, surplus usaha, dan impor, (4) hubungan input-output bersifat linear, (5) dalam suatu kurun waktu analisis, biasanya satu tahun, total input sama dengan total output, dan (6) suatu sektor terdiri dari satu atau beberapa perusahaan. Metode I-O dapat digunakan untuk melihat sektor-sektor apa saja yang bisa menjadi sektor pemimpin dalam pembangunan daerah. Sektor-sektor tersebut dapat didekteksi dengan empat cara, yaitu (Daryanto, 2010). 1. Suatu sektor dianggap sebagai sektor kunci apabila mempunya kaitan kebelakang (backward linkage) dan kaitan ke depan (forward linkage) yang relatif tinggi. 2. Suatu sektor dianggap sebagai sektor kunci apabila menghasilkan output bruto yang relatif tinggi, sehingga mampu mempertahankan final demand yang relatif tinggi pula. 3. Suatu sektor dianggap sebagai sektor kunci apabila mampu menghasilkan penerimaan bersih devisa yang relatif tinggi. 4. Suatu sektor dianggap sebagai sektor kunci apabila mampu menciptakan lapangan pekerjaan yang relatif tinggi.

14 Model I-O tersebut didasarkan atas beberpa asumsi. Asumsi itu diantaranya adalah: (1) homogenitas, yang berarti suatu komoditi hanya dihasilkan secara tunggal oleh suatu sektor dengan susunan yang tunggal dan tidak ada subsitusi output diantara berbagai sektor, (2) linearitas, adalah prinsip dimana fungsi produksi bersifat linear dan homogen, (3) aditivitas ialah prinsip dimana efek total dari pelaksanaan produksi dipelbagai sektor dihasilkan oleh masing-masing sektor secara terpisah. Hal ini berarti semua pengaruh di luar sistem input-output diabakan. Struktur Tabel Input-Output Format Tabel Input-Output terdiri dari suatu kerangka matriks berukuran n x n dimensi yang dibagi menjadi empat kuadran dan tiap kuadran mendeskripsikan suatu hubungan tertentu (Glasson dalam Putra, 2008). Dilihat secara horizontal (baris), setiap isi sel total output menunjukan bagaimana output suatu sektor itu dialokasikan, yang mana sebagian untuk memenuhi permintaan antara (intermediate input) sektor produksi dan sebagian lagi untuk memenuhi permintaan akhir (final demand). Sedangkan isi sel menurut garis vertikal (kolom) menggambarkan distribusi pemakaian input antara dan input primer pada suatu sektor produksi seperti yang terlihat pada Tabel 2. Tabel 2 Model Input-Output Input Antara Sektor Produksi Permintaan Antara Permintaan Total Sektor Produksi Akhir Output 1 2 j 1 z 11 z 12 z 1j Y 1 X 1 2 z 21 z 22 z 2j Y 2 X 2.. i Z ij Y i X i Input Primer V V 1 V 2 V j Total Input X X 1 X 2 X j Keterangan: i = jumlah baris j = jumlah kolom Sumber: Daryanto dan Yundi Hafizrianda, 2010 (dimodifikasi) Banyaknya output sektor i yang digunakan sebagai input oleh sektor j dinotasikan dengan z ij, kemudian total output dari sektor i dinotasikan dengan X i, sedangkan total permintaan akhir dari sektor i adalah Y i, maka total output dari sektor i adalah: X j = z i1 +z i2 +...+z ij +Y i Oleh karena dalam perekonomian terdapat n sektor produksi, maka secara keseluruhan untuk total output semua sektor adalah:

15 X 1 = z 11 +z 12 +...+z 1j +Y 1 X 2 = z 21 +z 22 +...+z 2n +Y 2.. X i = z i1 +z i2 +...+z ij +Y i Dalam bentuk umum persamaan diatas dapat ditulis sebagai berikut. untuk 1, 2, 3 Sedangkan menurut garis vertikal (kolom) menggambarkan distribusi pemakaian input antara dan input primer pada suatu sektor produksi. Jika dalam Tabel Input-Output tersebut diperlihatkan secara kolom (vertikal), maka alokasi input dapat diperlihatkan secara keseluruhan dalam persamaan yaitu: X j = z 1j +z 2j +...+z ij +V j Oleh karena dalam perekonomian terdapat n sektor produksi, maka secara keseluruhan untuk total input semua sektor adalah: X 1 = z 11 +z 21 +...+z i1 +V 1 X 2 = z 12 +z 22 +...+z i2 +V 1.. X j = z 1j +z 2j +...+z ij +V j Dalam bentuk umum persamaan diatas dapat ditulis sebagai berikut. untuk 1, 2, 3 Kerangka Analisis Aspek-aspek analisis Input-Output yang berfungsi dan berkedudukan penting dalam analisis perekonomian yaitu: 1. Analisis keterkaitan Konsep keterkaitan merupakan suatu konsep yang biasa digunakan sebagai dasar perumusan strategi pembangunan ekonomi melalui adanya peninjauan terhadap keterkaitan antar sektor dalam perekonomian. Terdapat dua jenis konsep keterkaitan dalam yaitu keterkaitan ke belakang (backward linkage) yang menunjukan hubungan keterkaitan antar sektor dalam pembelian terhadap total pembelian input yang digunakan dalam proses produksi dan keterkaitan ke depan (forward linkage) yang

16 menunjukan hubungan antar sektor dalam penjualan terhadap total penjualan output yang dihasilkan. Dengan menggunakan konsep keterkaitan ini maka dapat diketahui besarnya pertumbuhan suatu sektor yang dapat menstimulasi pertumbuhan sektor lainnya melalui proses induksi. Koefisien langsung dalam model I-O dapat menunjukan adanya keterkaitan langsung antar sektor perekonomian dalam pembelian dan penjualan input antara. Sedangkan matriks kebalikan Leontief atau yang disebut juga koefisien keterkaitan dapat menunjukan adanya keterkaitan langsung dan tidak langsung. Matriks ini mengandung informasi yang penting tentang struktur perekonomian suatu wilayah. 2. Analisis Dampak Penyebaran Analisis ini merupakan analisis lanjutan yang menggunakan matriks kebalikan. Analisis ini membandingkan nilai keterkaitan langsung dan tidak langsung yang telah dikalikan dengan jumlah sektor yang ada dengan total nilai keterkaitan langsung dan tidak langsung di semua sektor. Hal tersebut perlu dilakukan karena indeks keterkaitan langsung dan tidak langsung baik ke depan ataupun ke belakang yang telah diuraikan belum memadai untuk digunakan sebagai landasan pemilihan sektor kunci. Analisis dampak penyebaran terbagi menjadi dua bagian yaitu kepekaan penyebaran dan koefisien penyebaran. 3. Analisis Multiplier Dalam Model Input-Output terdapat tiga jenis analisis multiplier yang menggunakan koefisien teknis sebagai dasar perhitungannya, yaitu : a) Multiplier output, dihitung dalam per unit perubahan output sebagai efek awal, yaitu kenaikan atau penurunan output sebesar satu unit satuan moneter. b) Multiplier pendapatan, mengukur peningkatan pendapatan akibat adanya perubahan output dalam perekonomian. c) Multiplier tenaga kerja, menunjukan adanya perubahan pada tenaga kerja yang disebabkan oleh perubahan awal dari sisi output. d) Multiplier Tipe I dan II dapat mengukur efek dari output, pendapatan, dan tenaga kerja masing-masing sektor perekonomian yang disebabkan karena adanya perubahan dalam jumlah output, pendapatan, dan tenaga kerja yang ada di suatu wilayah. Penelitian Terdahulu Penelitian mengenai peran dan dampak suatu sektor dalam perekonomian dengan menggunakan analisis Input-Output telah banyak dilakukan, diantaranya yaitu penelitian tentang sektor industri pengolahan, sektor infrastruktur, sektor pertanian dan sektor industri TPT tentang restrukturisasi permesinan. Setiap penelitian umumnya memiliki tujuan yang sama yaitu mempelajari keterkaitan langsung ke depan (direct forward linkage), keterkaitan langsung ke belakang (direct backward linkage), keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan, keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang, kepekaan penyebaran, koefisien penyebaran, dan multiplier output, multipiler pendapatan, multliplier tenaga kerja.

17 Tabel 3 Penelitian Terdahulu No Nama Peneliti/Tahun 1 Gema Setya Anggara Putra/2012 2 Chandra Darma Permana/2009 3 Mimi Maryadi/2007 4 Triyanto Wobowo/2009 5 Sri Mulyani/2007 Judul Metode Hasil Analisis Peran dan Dampak Investasi Sektor Industri Pengolahan Terhadap Perekonomian Indonesia Analisis Peranan dan Dampak Investasi Infrastruktur terhadap Perekonomian Indonesia Analisis Pertumbuhan Investasi Sektor Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) terhadap Perekonomian Indonesia Analisis Peranan dan Dampak Investasi Sektor Pertanian Terhadap Perekonomian Provinsi Jawa Timur Dampak Restrukturisasi Industri Tesktil dan Produk Tekstil (TPT) Terhadap Kenerja Perekonomian Jawa Barat Input-Output Sektor industri pengolahan lebih mampu meningkatkan sektor hulunya dari pada sektor hilirnya. 2 peningkatan investasi di sektor tersebut mampu meningkatkan perekonomian Indonesia melalui peningkatan output, pendapatan dan tenaga kerja. Input-Output 1. Semua sektor kategori infrastruktur memiliki lebih mampu mendorong pertumbuhan sektor hulunya dibandingkan dengan sektor hilirnya. 2. Infrastruktur memiliki dampak multiplier yang positif terhadap sektor perekonomian lainnya. Input-Output 1. Industri TPT merupakan industri yang penting dalam mendorong sektor hulu dan hilirnya. 2. Industri TPT mampu mendorong sektor-sektor lainnya dari penyediaan output, pendapatan dan tenaga kerja yang dilihat dari efek multiplier dan analisis investasi khususnya bagi industri TPT itu sendiri. Input-Output Sektor pertanian masih kecil peranannya dalam peningkatan output, pendapatan, dan tenaga kerja pada sektor-sektor perekonomian di Provinsi Jawa Timur. Input-Output Industri TPT merupakan industri padat karya di mana memiliki nilai multiplier tenaga kerja yang besar sehingga lebih mampu mempengaruhi peningkatan penyerapan tenaga kerja. Kerangka Pikir Operasional Industri TPT mampu memberikan kontribusi yang cukup besar dalam penyerapan tenaga kerja di basis industri manufaktur yang diharapkan mampu mengatasi masalah-masalah pengangguran dan pemerataan pendapatan yang terjadi

18 di Indonesia. Sesuai dengan sasaran dalam RPJM 2010-2014 yaitu tersedianya kesempatan kerja sebesar 9.6 juta orang, maka sektor industri TPT menjadi tulang punggung basis industri manufaktur dalam menyerap tenaga kerja. Namun bukan berarti industri TPT tidak mengalami hambatan dalam menyerap tenaga kerja, tuanya umur mesin menjadi salah satu isu utama dalam industri TPT di Indonesia. Industri TPT merupakan salah satu industri yang masih menarik untuk menjadi pilihan investasi. Investasi asing maupun domestik sangat penting peranannya untuk membangkitkan gairah industri TPT. Ketika industri TPT menjadi prioritas pemerintah dalam penyerapan tenaga kerja dan menjadi sasaran dalam RPJM 2010-2014 untuk menyerap tenaga kerja sebesar 9.6 juta tenaga kerja, namun realisasi investasi sektor industri TPT mengalami peningkatan yang sangat kecil dibandingkan sektor basis industri manufaktur lainnya. Meskipun nilai investasinya kecil dibandingkan sektor basis industri manufaktur lainnya diharapkan mampu menyerap tenaga lebih besar sehingga sasaran RPJM 2010-2014 untuk menyediakan kesempatan kerja 9.6 juta tenaga kerja bisa tercapai. Kondisi mesin industri TPT diatas 20 tahun Sasaran RPJM 2010-2014 Penyerapan Tenaga Kerja 9,6 juta orang Investasi Rp 23,926 miliar Rupiah Analisis Input-Output Analisis Keterkaitan Analisis Dampak Penyebaran Analisis Multiplier Dampak Investasi Sektor Industri TPT Implikasi Kebijakan Gambar 7 Kerangka Pemikiran Operasional Pengolahan data analisis Input-Output dengan menggunakan Microsoft Excel 2007, software program I-O Analysis for Practitioners version 1.0.1 serta menggunakan asumsi dan keterbatasan model Input-Output. Untuk melihat peranan sektor industri TPT maka dilakukan analisis Input-Output yang terdiri dari analisis keterkaitan, analisis dampak penyebaran, dan analisis multiplier, kemudian untuk

19 melihat dampak investasi, maka dilakukan simulasi investasi yang dimasukkan ke dalam Tabel I-O. Sehingga akan didapatkan dampak investasinya terhadap peyerapan tenaga kerja sektor industri TPT Indonesia. Dari penjelasan diatas maka dapat disusun kerangka pikir operasional seperti pada Gambar 7. METODE PENELITIAN Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian adalah data sekunder berupa Tabel Input-Output Indonesia tahun 2005 klasifikasi 175 sektor yang diagregasi menjadi 19 sektor, sedangkan Tabel Input-Output Indonesia tahun 2008 klasifikasi 66 sektor yang diagregasi menjadi 19 sektor semuanya atas dasar harga produsen. Dasar pengagregasian tersebut adalah untuk melihat keterkaitan yang erat antar sektor dan subsektor tertentu. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan bantuan software program I-O Analysis for Practitioners version 1.0.1 dan Microsoft Excel 2007. Tabel 4 Data dan Sumber Data yang Digunakan No Data Yang Digunakan Sumber 1 Tabel Input-Output Indonesia tahun 2005 Badan Pusat Statistik (BPS) 2 Angkatan Kerja Indonesia Tahun 2005-2011 Badan Pusat Statistik (BPS) 3 Statistik Industri Indonesia 2005-2011 Badan Pusat Statistik (BPS) 4 Tabel Input-Output Indonesia tahun 2008 Badan Pusat Statistik (BPS) 5 Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) Tahun 1995-2011 Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) 6 Penanaman Modal Asing (PMA) Tahun 1995-2011 Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) 7 Kinerja Industri Indonesia Tahun 2006-2010 Kementerian Perindustrian 8 Perkembangan PMA dan PMDN Industri Kementerian Perindustrian Pengolahan Tahun 2008-2012 Metode Analisis Model Input-Output Model I-O dapat digunakan sebagai alat pengambilan keputusan dalam perencanaan pembangunan sektoral. Dengan menggunakan analisis I-O dapat diputuskan sektor-sektor mana saja yang dijadikan sebagai leading sektor dalam pembangunan ekonomi. Suatu sektor yang terindikasi sebagai sektor pemimpin dianggap memiliki kemampuan daya sebar dan kepekaan yang sangat tinggi dalam suatu perekonomian, sehingga efek yang diberikannya bersifat berganda.

20 Dari Tabel I-O yang sudah tersedia, maka dapat diketahui peranan sektor industri TPT terhadap pembentukan output, nilai tambah bruto, dan permintaan akhir. Untuk mengetahui peranan sektor industri TPT sebagai sektor penyedia input maupun sektor pemakai input terhadap sektor lain serta mengetahui dampak yang ditimbulkan sektor industri TPT terhadap perekonomian Indonesia dapat dikaji berdasarkan analisis keterkaitan dan multiplier. Koefisien Input Koefisien input yang disebut juga koefisien teknologi merupakan perbandingan antara banyaknya input antara yang berasal dari sektor i yang digunakan oleh sektor j (x ij ) dengan input total sektor j (x j ). untuk i dan j = 1, 2, 3,., n dimana: a ij = Koefisien input Sesuai dengan rumus koefisien input di atas, maka dapat disusun matriks sebagai berikut:... atau: Z 1 Y 1 X 1 Z 1 + Y 1 = X 1 Z 1 Y 1 X 1 A Z + Y = X AZ + Y atau Y = (I-A) X X = (I-A) -1 Y dimana: I : Matrik identitas Y : Permintaan akhir X : Jumlah output (I-A) : Matriks Leontief (I-A) -1 : Matriks kebalikan Leontief

21 Matriks kebalikan Leontief berfungsi sebagai alat analisis ekonomi yang mencerminkan efek langsung dan tidak langsung dari perubahan permintaan akhir terhadap output sektor-sektor di dalam perekonomian. Terlihat bahwa output setiap sektor memiliki hubungan fungsional terhadap permintaan akhir, dengan (I-A) -1 sebagai koefisien antaranya. Analisis Keterkaitan Analisis keterkaitan berguna untuk melihat antara keterkaitan antar sektor. Keterkaitan ini terdiri dari keterkaitan langsung ke depan, keterkaitan langsung ke belakang, keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan, dan keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang. 1. Keterkaitan Langsung ke Depan Keterkaitan langsung ke depan menunjukkan akibat suatu sektor tertentu terhadap sektor-sektor yang menggunakan sebagian output tersebut secara langsung per unit kenaikan permintaan total. Secara matematis keterkaitan ini dapat ditulis: n KD i = a ij dimana: KDi a ij j= 1 = forward linkage = Unsur matriks koefisien teknis 2. Keterkaitan Langsung ke Belakang Keterkaitan langsung ke belakang menunjukkan akibat dari suatu sektor tertentu terhadap sektor-sektor yang menyediakan input antara bagi sektor tersebut secara langsung per unit kenaikan permintaan total. Dapat dirumuskan sebagai berikut: n KB j = a ij dimana : KB j a ij i= 1 = backward linkage = unsur matriks koefisien teknis 3. Keterkaitan Langsung dan Tidak Langsung ke Depan Keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan menunjukkan akibat dari suatu sektor tertentu terhadap sektor-sektor yang menggunakan output bagi sektor tersebut secara langsung maupun tidak langsung per unit kenaikan permintaan total. n F(d+i) i = a ij j= 1 dimana: F(d+i) i = forward direct and indirect linkages a ij = unsur matriks kebalikan Leontief model terbuka

22 4. Keterkaitan Langsung dan Tidak Langsung ke Belakang Keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang menunjukkan akibat dari suatu sektor yang diteliti terhadap sektor-sektor yang menyediakan input antara bagi sektor tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung per unit kenaikan permintaan total. n B(d+i) j = a ij Keterangan: i= 1 B(d+i) j = backward direct and indirect linkages a ij = unsur matriks kebalikan Leontief model terbuka Analisis Dampak Penyebaran Beberapa analisis keterkaitan (indeks keterkaitan) yang telah diuraikan di atas ternyata belum memadai untuk dipakai sebagai landasan dalam memilih sektor kunci. Indikator-indikator tersebut tidak dapat dipertimbangkan antar sektor karena peranan permintaan akhir setiap sektor tidak sama. Oleh karena itu, indeks keterkaitan harus dinormalkan dengan cara membandingkan rata-rata dampak yang ditimbulkan oleh sektor tersebut dengan rata-rata dampak seluruh sektor. Analisis ini disebut dengan kepekaan penyebaran dan koefisien penyebaran. 1. Koefisien Penyebaran Konsep ini berguna untuk mengetahui distribusi manfaat dari pengembangan suatu sektor terhadap perkembangan sektor-sektor lainnya melalui mekanisme transaksi pasar input. Konsep ini sering diartikan sebagai kemampuan suatu sektor untuk meningkatkan pertumbuhan industri hulunya. Sektor j dikatakan memiliki kaitan ke belakang lebih tinggi apabila Pd j memiliki nilai lebih besar dari pada satu. Rumus yang digunakan untuk mencari nilai koefisien penyebaran adalah: Pd j = n n i= 1 n n a i= j j= 1 ij a ij Untuk i dan j = 1,2,3,., n dimana: Pd j = koefisien penyebaran sektor j = unsur matriks kebalikan Leontief α ij 2. Kepekaan Penyebaran Konsep ini dimanfaatkan untuk mengetahui tingkat kepekaan suatu sektor terhadap sektor-sektor lainnya melalui mekanisme pasar output. Konsep ini sering diartikan sebagai kemampuan suatu sektor untuk mendorong sektor-sektor lain yang memakai input dari sektor ini. Sektor i dikatakan memiliki kepekaan penyebaran yang tinggi apabila nilai Sd i lebih besar dari satu. Rumus yang digunakan untuk mencari nilai koefisien penyebaran adalah:

23 Sd i = n n i= 1 n n a i= j j= 1 ij a ij untuk i dan j = 1, 2, 3,, n dimana: Sd i = kepekaan penyebaran sektor i = unsur matriks kebalikan Leontief α ij Nilai kepekaan penyebaran dari suatu sektor menunjukan bahwa kenaikan satu unit output dari suatu sektor akan menyebabkan naiknya nilai output sektor-sektor lain yang menggunakan output dari sektor tersebut, termasuk sektor itu sendiri sebesar nilai kepekaan penyebaran. Apabila nilai kepekaan penyebaran dari suatu sektor bernilai lebih dari satu (tinggi), maka sektor i tersebut mampu menumbuhkan sektor hilirnya. Perbandingan antara nilai kepekaan dan koefisien penyebaran dapat menunjukan kemampuan menarik atau mendorong suatu sektor. Apabila suatu sektor memiliki nilai koefisien penyebaran yang lebih tinggi dari pada nilai kepekaan penyebaran maka sektor tersebut memiliki kemampuan menarik yang lebih besar terhadap pertumbuhan sektor hulunya apabila dibandingkan dengan sektor lainnya. Analisis Penggandaan (Multiplier) Dalam penelitian ini, analisis penggandaan yang digunakan ialah multiplier output, multiplier pendapatan, dan multiplier tenaga kerja. Menurut West dan Jensen dalam Daryanto dan Yundy Hafizrianda (2010), kategori dampak berganda dibedakan menjadi tiga, yaitu: (1) dampak awal, (2) dampak imbasan kegiatan produksi yang terdiri atas, pengaruh putaran pertama dan pengaruh putaran kedua atau pengaruh dukungan industri, (3) dampak imbasan konsumsi. Berdasarkan matriks kebalikan Leontief, baik untuk model terbuka (α ij ) maupun untuk model tertutup (α* ij ) dapat ditentukan nilai-nilai dari pengganda output, pendapatan dan tenaga kerja berdasarkan rumus yang tercantum dalam Tabel 5. 1. Multiplier Output Multiplier Output dihitung dalam per unit perubahan output sebagai efek awal (initial effect), yaitu kenaikan atau penurunan output sebesar satu unit satuan moneter. Setiap elemen dalam matrik kebalikan Leontief (matriks invers) α menunjukkan total pembelian input baik tidak langsung maupun langsung dari sektor i yang disebabkan karena adanya peningkatan penjualan dari sektor i sebesar satu unit satuan moneter ke permintaan akhir. Matriks invers dirumuskan dengan persamaan : α = (I A) -1 = [α ij ] Dengan demikian matriks α mengandung informasi penting tentang struktur perekonomian yang dipelajari dengan menentukan tingkat keterkaitan antar sektor dalam perekonomian suatu wilayah atau negara. Koefisien dari matrik invers ini [α ij ] menunjukkan besarnya perubahan aktivitas dari suatu sektor yang akan mempengaruhi tingkat output dari sektor-sektor lain.

24 Tabel 5 Rumus Penggandaan Output, Pendapatan, dan Tenaga Kerja Nilai Pengganda Output Pendapatan Tenaga Kerja Efek awal 1 p j e j Efek putaran pertama a ij aij p j aij e j Efek dukungan industri g ij 1 aij g ij pi pi aij pi g ije j e j aije Efek induksi konsumsi g * ij g ) ( g * ij pi g ij pi ) ( g * ij e j g ije j ) Efek total g * ij g * ij p i g * ij e j Efek lanjutan g * ij 1 g * ij p i p i g * ij e j e j Sumber: Daryanto dan Yundy Hafrizrinda, 2010 j Dimana: a ij = Koefisien output p j = Koefisien pendapatan rumah tangga e j = Koefisien tenaga kerja α ij = Matriks kebalikan Leontief terbuka α* ij = Matriks kebalikan Leontief tertutup 2. Multiplier Pendapatan Multiplier pendapatan mengukur peningkatan pendapatan akibat adanya perubahan output dalam perekonomian. Dalam Tabel Input-Output, yang dimaksud dengan pendapatan adalah upah dan gaji yang diterima oleh rumah tangga. Pengertian pendapatan disini tidak hanya mencakup beberapa jenis pendapatan yang umumnya diklasifikasikan sebagai pendapatan rumah tangga, tetapi juga dividen dan bunga bank. 3. Multiplier Tenaga Kerja Multiplier tenaga kerja menunjukkan perubahan tenaga kerja yang disebabkan oleh perubahan awal dari sisi output. Multiplier tenaga kerja tidak diperoleh dari elemen-elemen dalam Tabel Input-Output seperti pada multiplier output dan pendapatan, karena dalam Tabel Input-Output tidak mengandung elemen-elemen yang berhubungan dengan tenaga kerja. Untuk memperoleh multiplier tenaga kerja maka pada Tabel Input-Output harus ditambahkan baris yang menunjukkan jumlah dari tenaga kerja untuk masing-masing sektor dalam perekonomian suatu wilayah atau negara. Penambahan baris ini untuk memperoleh koefisien tenaga kerja (ei). 4. Multiplier Tipe I dan II Multiplier Tipe I dan II digunakan untuk mengukur efek dari output, pendapatan dan tenaga kerja masing-masing sektor perekonomian yang disebabkan karena

25 adanya perubahan dalam jumlah output, pendapatan dan tenaga kerja yang ada di suatu negara atau wilayah. Respon atau efek multiplier output, pendapatan dan tenaga kerja dapat diklasifikasikan sebagai berikut: a) Dampak Awal (initial impact). Dampak awal merupakan stimulus perekonomian yang diasumsikan sebagai peningkatan atau penurunan jumlah dalam suatu unit satuan moneter. Dari sisi output, dampak awal ini diasumsikan sebagai peningkatan penjualan ke permintaan akhir sebesar satu unit satuan moneter. Peningkatan output tersebut akan memberikan efek terhadap peningkatan pendapatan dan kesempatan tenaga kerja. Efek awal dari sisi pendapatan ditunjukkan oleh koefisien pendapatan rumah tangga (hi). Sedangkan efek awal dari sisi tenaga kerja ditunjukkan oleh koefisien tenaga kerja (ei). b) Efek Putaran Pertama (First Round Effect). Efek putaran pertama menunjukan efek langsung dari pembelian masingmasing sektor untuk peningkatan output sebesar satu unit satuan moneter. Dari sisi output efek putaran pertama ditunjukkan oleh koefisien langsung (koefisien input output/aij). Sedangkan efek putaran pertama dari sisi pendapatan ( a ij p j ) menunjukkan adanya peningkatan pendapatan dari setiap sektor akibat adanya efek putaran pertama dari sisi output. Sementara efek putaran pertama dari sisi tenaga kerja ( a ij e j ) menunjukkan peningkatan penyerapan tenaga kerja akibat adanya efek putaran pertama dari sisi output. c) Efek Dukungan Industri (Industrial Support Effect). Efek dukungan industri dari sisi output menunjukkan efek dari peningkatan output putaran kedua dan selanjutnya akibat adanya stimulus ekonomi. Dari sisi pendapatan dan tenaga kerja, efek dukungan industri menunjukkan adanya efek peningkatan pendapatan dan penyerapan tenaga kerja putaran kedua dan selanjutnya akibat adanya dukungan industri yang menghasilkan output. d) Efek Induksi Konsumsi (Consumption Induced Effect). Efek induksi konsumsi dari sisi output menunjukkan adanya suatu pengaruh induksi (peningkatan konsumsi rumah tangga) akibat pendapatan rumah tangga yang meningkat. Dari sisi pendapatan dan tenaga kerja, efek induksi konsumsi diperoleh masing-masing dengan mengalihkan efek induksi konsumsi output dengan koefisien pendapatan rumah tangga dan koefisien tenaga kerja. e) Efek Lanjutan (Flow-on-Effect). Efek lanjutan merupakan efek (dari output, pendapatan dan tenaga kerja) yang terjadi pada semua sektor perekonomian dalam suatu negara atau wilayah akibat adanya peningkatan penjualan dari suatu sektor. Efek lanjutan dapat diperoleh dari pengurangan efek total dengan efek awal. Hubungan antara efek awal dengan efek lanjutan per unit pengukuran dari sisi output, pendapatan, dan tenaga kerja, dihitung dengan menggunakan rumus multiplier tipe I dan tipe II, sebagai berikut: a) Pengganda Output Tipe I (Sederhana) Pengganda output tipe I bertujuan untuk mengetahui hingga sejauh mana pengaruh kenaikan permintaan akhir suatu sektor di dalam perekonomian suatu

26 wilayah atau negara terhadap output sektor lain, baik secara langsung maupun tidak langsung. Ditulis dengan rumus sebagai berikut : Dimana: MXSI = pengganda output tipe I sederhana sektor ke-j α ij = unsur matriks kebalikan Leontief terbuka b) Pengganda Output Tipe II (Total) Pengganda Output Tipe II bertujuan untuk mengetahui sejauh mana kenaikan permintaan akhir suatu sektor di dalam perekonomian suatu wilayah atau negara terhadap output sektor lain, baik secara langsung maupun induksi. Ditulis dengan rumus sebagai berikut : Dimana: MXSII = pengganda output tipe II sederhana sektor ke-j α ij = unsur matriks kebalikan Leontief tertutup c) Pengganda Pendapatan Tipe I Secara matematik dapat ditulis sebagai berikut: Dimana: MI j = pengganda pendapatan tipe I sektor ke-j α ij = unsur matriks kebalikan Leontief terbuka = Koefisien input gaji/rumah tangga sektor j d) Pengganda Pendapatan Tipe II Pengganda Pendapatan Tipe II selain untuk menghitung pengaruh langsung dan dan tidak langsung juga menghitung pengaruh induksi. Rumusnya adalah: Secara matematik dapat ditulis sebagai berikut:

27 Dimana: MII j = pengganda pendapatan tipe II sektor ke-j α ij = unsur matriks kebalikan Leontief tertutup = Koefisien pendapatan tangga sektor j e) Pengganda Tenaga Kerja Tipe I Berubahnya kesempatan kerja yang terjadi pada sektor tersebut dan sektor yang lainnya akibat penambahan permintaan akhir dari suatu sektor sebesar satu satuan secara langsung dan tidak langsung. Rumusnya: Dimana: MLI j = pengganda tenaga kerja tipe I sektor ke-j W = vektor baris koefisien tenaga kerja (orang/satuan rupiah) W = ( Wn=1, W n+1,2, W n=1,n ) W = koefisien pendapatan tangga sektor i (orang/satuan rupiah) W = koefisien pendapatan tangga sektor j (orang/satuan rupiah) X i = total input (satuan rupiah) L i = komponen tenaga kerja sektor ke-i = unsur matrik kebalikan Leontief terbuka f) Pengganda Tenaga Kerja Tipe II Pada bagian pengganda tenaga kerja tipe II sudah diperhitungkan pengaruh dari efek induksi. Dirumuskan sebagai berikut: Dimana: MLII j = pengganda tenaga kerja tipe II sektor ke-j W = vektor baris koefisien tenaga kerja (orang/satuan rupiah) W = ( Wn=1, W n+1,2, W n=1,n ) W = koefisien pendapatan tangga sektor i (orang/satuan rupiah) W = koefisien pendapatan tangga sektor j (orang/satuan rupiah) X i = total input (satuan rupiah) L i = komponen tenaga kerja sektor ke-i = unsur matrik kebalikan Leontief tertutup

28 g) Koefisien Pendapatan ( ) Koefisien tenaga kerja merupakan suatu bilangan yang menunjukkan besarnya jumlah pendapatan yang diterima oleh pekerja yang diperlukan untuk menghasilkan satu unit output. Koefisien pendapatan diperlukan untuk mencari dampak perubahan input primer terhadap pembentukan pendapatan. Dirumuskan sebagai berikut: Dimana: U i X i = koefisien pendapatan sektor i = jumlah upah dan gaji sektor i = jumlah input total sektor i h) Koefisien Tenaga Kerja (β) Koefisien tenaga kerja merupakan suatu bilangan yang menunjukkan besarnya jumlah tenaga kerja yang diperlukan untuk menghasilkan satu unit output. Koefisien tenaga kerja diperlukan untuk mencari dampak perubahan input primer terhadap pembentukan tenaga kerja. Dirumuskan sebagai berikut: Dimana: L i X i = koefisien tenaga kerja sektor i = jumlah tenaga kerja sektor i = jumlah input total sektor i Analisis Dampak Investasi Terhadap Sektor Industri TPT Dalam Penelitian ini, analisis dampak investasi dilakukan dengan memberikan shock pada bagian investasi sektor industri TPT. Kemudian untuk melihat dampak yang lebih rinci, maka sektor industri TPT didisagregasi kembali menjadi beberapa subsektor. Dalam penelitian ini diasumsikan nilai investasi sebesar Rp23 926 miliar yang dialokasikan secara merata pada setiap subsektor industri TPT. Nilai Investasi tersebut berasal dari total PMA dan PMDN tahun 2008-2012. Adapun rumus yang digunakan untuk menganalisis dampak investasi adalah sebagai berikut (Miller dan Blair dalam Maryadi, 2007) 1. Dampak terhadap pembentukan output. X I A Y 2. Dampak terhadap pendapatan rumah tangga. I α I A Y 3. Dampak terhadap penyerapan tenaga kerja. L

29 Dimana: Δ X = dampak terhadap pembentukan output Δ I = dampak terhadap pendapatan rumah tangga Δ L = dampak terhadap penyerapan tenaga kerja ΔY = investasi sektoral α = koefisien pendapatan = koefisien tenaga kerja (I-Ad)-1= matriks kebalikan Leontief tertutup. Agregasi Tabel Input-Output Indonesia Data yang digunakan dalam pengolahan adalah data Tabel Input-Output Indonesia tahun 2008 klasifikasi 66 sektor. Data subsektor industri TPT pada Tabel Input-Output Indonesia tahun 2008 klasifikasi 66 sektor hanya terdiri dari dua subsektor yaitu subsektor industri pemintalan dan subsektor industri tekstil pakaian dan kulit. Sedangkan dalam pengolahan data subsektor industri TPT harus terperinci menjadi lima subsektor yaitu subsektor industri serat (fiber), subsektor industri pemintalan benang (yarn), subsektor industri kain (fabric), subsektor industri pakaian jadi (garment), dan subsektor industri tekstil lainnya (other textile). Maka dari itu dalam pengolahan datanya membutuhkan data Tabel Input-Output Indonesia tahun 2005 klasifikasi 66 sektor karena pada tabel Input-Output Indonesia tahun 2005 klasifikasi 175 sektor, sektor industri TPT terdiri dari enam subsektor yaitu: (1) subsektor industri serat (fiber), (2) subsektor industri pemintalan benang (yarn), (3) subsektor industri kain (fabric), (4) subsektor industri pakaian jadi (garment), (5) subsektor industri tekstil lainnya (other textile), (6) subsektor industri kulit dan hasilnya. Berikut tahapannya dalam memperoleh data Tabel Input-Output Indonesia tahun 2008 dengan subsektor industri TPT yang lebih terperinci: 1. Pada Tabel Input Output Indonesia tahun 2005 Klasifikasi 175 sektor diagregasi menjadi 19 sektor. Sedangkan Tabel Input-Output Indonesia tahun 2008 klasifikasi 66 sektor diagregasi menjadi 15 sektor. Data yang terkait subsektor industri TPT tidak diagregasikan, sedangkan data sektor lainnya diagregasi sesuai dengan ketersedian data seperti yang terlihat pada Tabel 6. 2. Setelah semuanya diklasifkasikan, maka pada Tabel Input-Output Indonesia tahun 2005 dihitung koefisien input teknis setiap sektor termasuk subsektor industri TPT itu sendiri dengan rumus sebagai berikut: Keterangan: = koefisien input teknis = banyaknya input antara yang berasal dari sektor i yang digunakan oleh sektor j. X j = jumlah input primer yang digunakan sektor j

30 Tabel 6 Pengklasifikasian Tabel Input-Output Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2008 Klasifikasi 66 sektor Pertanian Pertambangan dan Penggalian lainya Industri Makanan, Minuman, dan Tembakau Industri Pemintalan Industri Tekstil, Pakaian, dan Kulit Industri Bambu, Kayu, Rotan dan Hasilnya Industri Kimia, Karet, dan Plastik Industri Besi, Baja, dan Logam Industri Mesin,Listrik, dan Perbaikan Industri Bahan Bangunan, dan lainnya Listrik dan Air Minum Perdagangan, Hotel dan Restoran Jasa Agkutan dan Komunikasi Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya Jasa dan Kegiatan Lainnya Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2005 Klasifikasi 175 sektor Pertanian Pertambangan dan Penggalian lainya Industri Makanan, Minuman, dan Tembakau Industri Serat (Fiber) Industri Pemintalan Benang(Yarn) Industri Kain (Fabric) Industri Pakaian Jadi (Garment) Industri Tekstil Lainnya (Other Textile) Industri Kulit dan Hasilnya Industri Bambu, Kayu, Rotan dan Hasilnya Industri Kimia, Karet, dan Plastik Industri Besi, Baja, dan Logam Industri Mesin,Listrik, dan Perbaikan Industri Bahan Bangunan dan lainnya Listrik dan Air Minum Perdagangan, Hotel dan Restoran Jasa Agkutan dan Komunikasi Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya Jasa dan Kegiatan Lainnya 3. Kemudian pada Tabel 7 nilai koefisien input teknis setiap sektor pada Tabel Input-Output Indonesia tahun 2005 dikalikan dengan nilai uang arus barang (k ab ) setiap sektor pada Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2008 yang sudah diagregasi. x Keterangan: = nilai uang arus barang dari sektor a ke sektor b pada Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2008 k ab = nilai uang arus barang dari sektor a ke sektor b pada Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2008 = nilai koefisien input teknis pada Tabel Input-Output Indonesia tahun 2005 Tabel 7 Nilai Koefisien Input Teknis dan Nilai Uang Arus Barang Tabel Input-Output Indonesia Tabel Input-Output Indonesia Tabel Input-Output Indonesia

31 Tahun 2008 Tahun 2005 Tahun 2008 k 14 a 14 y 14 = k 14 x a 14 a 15 y 15 = k 14 x a 15 k 15 a 16 y 16 = k 15 x a 16 a 17 y 17 = k 15 x a 17 a 18 y 18 = k 15 x a 18 a 19 y 19 = k 15 xa 19 Keterangan: k 14 = nilai uang arus barang industri pemintalan k 15 = nilai uang arus barang industri tekstil, pakaian, dan kulit a 14 = nilai koefisien input teksnis industri serat a 15 = nilai koefisien input teksnis industri pemintalan benang a 16 = nilai koefisien input teksnis industri kain a 17 = nilai koefisien input teksnis industri pakaian jadi a 18 = nilai koefisien input teksnis industri tekstil lainnya a 19 = nilai koefisien input teksnis industri kulit dan hasilnya y 14 = nilai uang arus barang industri serat y 15 = nilai uang arus barang industri pemintalan benang y 16 = nilai uang arus barang industri kain y 17 = nilai uang arus barang industri pakaian jadi y 18 = nilai uang arus barang industri tekstil lainnya y 19 = nilai uang arus barang industri kulit dan hasilnya 4. Setelah dilakukan perkalian maka pada Tabel Input-Output Indonesia tahun 2008 sudah terperinci setiap subsektor industri TPT sehingga bisa langsung diolah ke tahap selanjutnya seperti yang terlihat pada Tabel 8. Tabel 8 Input-Output Agregasi 19 Sektor Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2008 Klasifikasi 66 sektor Pertanian Pertambangan dan Penggalian lainya Industri Makanan, Minuman, dan Tembakau Industri Serat (Fiber) Industri Pemintalan Benang(Yarn) Industri Kain (Fabric) Industri Pakaian Jadi (Garment) Industri Tekstil Lainnya (Other Textile) Industri Kulit dan Hasilnya Industri Bambu, Kayu, Rotan dan Hasilnya Industri Kimia, Karet, dan Plastik Industri Besi, Baja, dan Logam Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2005 Klasifikasi 175 sektor Pertanian Pertambangan dan Penggalian lainya Industri Makanan, Minuman, dan Tembakau Industri Serat (Fiber) Industri Pemintalan Benang(Yarn) Industri Kain (Fabric) Industri Pakaian Jadi (Garment) Industri Tekstil Lainnya (Other Textile) Industri Kulit dan Hasilnya Industri Bambu, Kayu, Rotan dan Hasilnya Industri Kimia, Karet, dan Plastik Industri Besi, Baja, dan Logam Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2008 Klasifikasi 66 sektor Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2005 Klasifikasi 175 sektor

32 Industri Mesin,Listrik, dan Perbaikan Industri Bahan Bangunan dan lainnya Listrik dan Air Minum Perdagangan, Hotel dan Restoran Jasa Agkutan dan Komunikasi Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya Jasa dan Kegiatan Lainnya Industri Mesin,Listrik, dan Perbaikan Industri Bahan Bangunan dan lainnya Listrik dan Air Minum Perdagangan, Hotel dan Restoran Jasa Agkutan dan Komunikasi Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya Jasa dan Kegiatan Lainnya Definisi Operasional Data 1. Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) Tekstil secara umum diartikan sebagai bahan pakaian atau kain. Namun dilihat dari kegunaannya, tekstil tidak hanya untuk pakaian saja tetapi juga dapat digunakan untuk keperluan rumah tangga, industri atau kegunaan lainnya seperti untuk kain kasur, gorden, taplak meja, kain mebel, tas, koper, parasut, kain layar, kain jok mobil atau kap mobil, ban, pipa atau slang untuk minyak dan pemadam kebakaran, dan lainlain. Tekstil berasal dari bahasa latin, yaitu texere yang berarti menenun atau kain tenun. Tekstil diartikan sebagai (1) suatu benda yang dibuat dari benang yang kemudian dari benang tersebut dijadikan kain sebagai bahan untuk pakaian, (2) suatu benda yang berasal dari serat atau benang yang karena dianyam (ditenun) atau dirajut, direnda, dilapis, dikempa, untuk menjadi bahan pakaian atau untuk keperluan lainnya (Djafrie dalam Junaedi, 2007). Pengklasifikasian TPT dilakukan bergantung pada tujuan penggunaan TPT itu sendiri sehingga menimbulkan beberapa cara dalam mengklasifikasinya. Pada saat ini, masih ada 2 (dua) jenis klasifikasi yang berbeda sekali, yaitu klasifikasi berdasarkan produk atau industri dan berdasarkan perdagangan. TPT berdasarkan produk atau industri terdiri dari : 1. Industri serat (fiber), berupa serat alam dan serat buatan. 2. Industri benang (yarn), berupa filamen buatan, benang dari serat alam 100 persen, benang dari serat buatan 100 persen, dan benang dari serat campuran. 3. Industri kain (fabric), berupa kain tenun, kain rajut, kain non woven, lace/braids, embroidery, dan laminasi/ impregnasi. 4. Industri pakaian jadi (garment), berupa pakaian jadi untuk bayi, anak-anak, lakilaki, dan perempuan. 5. Industri tekstil lainnya (others textiles), berupa permadani, penutup lantai, barang jadi dari serat, barang jadi dari benang dan tali, barang jadi dari kain, dan barang jadi lainnya. 2. Output Output adalah seluruh nilai barang dan jasa yang dihasilkan oleh sektor-sektor produksi dengan memanfaatkan faktor produksi yang tersedia di suatu wilayah (negara, provinsi, dan sebagainya) dalam periode tertentu tanpa memperhatikan asalusul pelaku produksi maupun usahanya. Sepanjang kegiatan produksinya dilakukan pada wilayah yang bersangkutan maka produksinya dihitung sebagai bagian dari output wilayah tertentu. Oleh karena itu, output sering dikatakan sebagai produk

33 domestik. Unit usaha yang produkstivitasnya berupa barang outpunya merupakan hasil perkalian kuantitas produksi barang yang bersangkutan dengan harga produsen per unit barang tersebut. Unit usaha yang bergerak di bidang jasa, outputnya merupakan nilai penerimaan dari jasa yang diberikan kepada pihak lain. 3. Input antara Input antara merupakan mencakup penggunaan berbagai barang dan jasa oleh suatu sektor dalam kegiatan produksi. Dalam model Input-Output, penggunaan input antara diterjemahkan sebagai keterkaitan antar sektor dan dinotasikan dengan Z ij yang dapat dibaca untuk menghasilkan produksi sektor j dibutuhkan input antara yang berasal dari sektor i sebanyak Z ij. 4. Transaksi antara Transaksi antara merupakan terjadinya suatu transaksi antar sektor yang berperan sebagai produsen dengan sektor yang berperan sebagai konsumen. Dalam Tabel I-O, sektor produksi ditunjukan pada tiap barisnya sedangkan sektor konsumen ditunjukkan oleh sektor pada masing-masing kolom. Transaksi antara hanya mencakup transaksi barang dan jasa yang ada hubungannya dengan proses produksi. 5. Input primer Input primer merupakan balas jasa atas penggunaan faktor-faktor produksi yang terdiri dari tenaga kerja, tanah, modal dan kewiraswastaan. Komponen input primer terdiri dari: a) Upah dan Gaji Semua balas jasa yang diterima oleh tenaga kerja terlibat dalam proses produksi, baik berupa uang maupun barang dan jasa. b) Surplus Usaha Surplus usaha merupakan selisih dari nilai tambah bruto dengan upah, penyusutan dan pajak tak langsung neto. Surplus usaha juga didefinisikan sebagai balas jasa atas kepemilikan modal. c) Penyusutan Penyusutan merupakan nilai dari penurunan nilai barang modal tetap yang dipakai dalam proses produksi. d) Pajak Tak Langsung Neto Merupakan selisih dari pajak tak langsung dengan subsidi. Komponen dari pajak tak langsung terdiri dari pajak impor, pajak ekspor, bea masuk, pajak pertambahan nilai, cukai dan sebagainya. 6. Permintaan Akhir Permintaan akhir adalah permintaan terhadap barang dan jasa yang digunakan untuk kegiatan konsumsi bukan digunakan dalam proses produksi. Komponennya terdiri dari pengeluaran konsumsi rumah tangga, pengeluaran konsumsi pemerintah, pembentukan modal tetap bruto, perubahan stok dan ekspor. a) Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga

34 Pengeluaran konsumsi rumah tangga merupakan pengeluaran yang dilakukan oleh rumah tangga untuk semua pembelian barang dan jasa dikurangi dengan penjualan netto barang bekas. Pengeluaran konsumsi rumah tangga juga mencakup pengeluaran yang dilakukan oleh lembaga swasta yang tidak mencari untung, seperti lembaga sosial. b) Pengeluaran Konsumsi Pemerintah Komponen dari pengeluaran konsumsi pemerintah adalah semua pengeluaran barang dan jasa untuk kegiatan administrasi pemerintah dan pertahanan, baik yang dilakukan oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. c) Pembentukan Modal Tetap Pembentukan modal tetap terdiri dari pengadaan, pembuatan atau pembelian barang-barang modal baru baik dalam negeri maupun impor, termasuk barang bekas dari luar negeri. Dalam Tabel I-O, komponen pembentukan barang modal hanya menggambar kan komposisi barang modal yang dihasilkan oleh sektor produksi. d) Perubahan Stok Perubahan stok adalah selisih antara nilai stok barang pada akhir tahun dengan nilai stok pada awal tahun. Stok biasanya diatur oleh produsen dan merupakan hasil produksi yang belum dijual ke konsumen. e) Ekspor dan Impor Transaksi barang dan jasa antar penduduk dalam suatu negara maupun antar penduduk negara lain merupakan suatu aktivitas dari ekspor dan impor. Beberapa transaksinya terdiri dari, pembelian langsung di dalam negeri oleh penduduk negara lain dan pembelian langsung di luar negeri oleh penduduk suatu negara. GAMBARAN UMUM Sejarah Industri TPT di Indonesia Awal 2 keberadaan industri TPT di Indonesia tidak dapat dipastikan, namun kemampuan masyarakat Indonesia dalam hal menenun dan merajut pakaiannya sendiri sudah dimulai sejak adanya kerajaan-kerajaan Hindu di Indonesia. Kerajianannya dalam bentuk tenun-menenun dan membatik yang hanya berkembang disekitar lingkungan istana dan juga ditujukan hanya untuk kepentingan seni dan budaya serta dikonsumsi atau digunakan sendiri. Sejarah pertekstilan Indonesia dapat dikatakan dimulai dari industri rumahan tahun 1929 yang dimulai dari subsektor pertenunan (weaving) dan perajutan (knitting) dengan menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) yang diciptakan oleh Daalennoord pada tahun 1926. Penggunaan ATBM mulai tergeser oleh Alat Tenun Mesin (ATM) yang pertama kali digunakan pada tahun 1939 di Majalaya Jawa Barat, 2 http://egismy.wordpress.com/2008/04/ diunduh pada hari Rabu tanggal 13 Juni 2013 pukul 17:00

35 dimana daerah tersebut mendapat pasokan listrik pada tahun 1935. Dan sejak itu industri TPT Indonesia mulai memasuki era teknologi dengan menggunakan ATM. Tahun 1960-an, sesuai dengan iklim ekonomi terpimpin, pemerintah Indonesia membentuk Organisasi Perusahaan Sejenis (OPS) yang antara lain seperti OPS Tenun Mesin, OPS Tenun Tangan, OPS Perajutan, OPS Batik, dan lain sebagainya yang dikoordinir oleh Gabungan Perusahaan Sejenis (GPS) Tekstil dimana pengurus GPS Tekstil tersebut ditetapkan dan diangkat oleh Menteri Perindustrian Rakyat dengan perkembangannya sebagai berikut: 1. Pertengahan tahun 1965-an, OPS dan GPS dilebur menjadi satu dengan nama OPS Tekstil dengan beberapa bagian menurut jenisnya atau subsektornya, yaitu pemintalan (spinning), pertenunan (weaving), perajutan (knitting), dan penyempurnaan (finishing). 2. Menjelang tahun 1970, berdirilah berbagai organisasi seperti Perteksi, Printer s Club (kemudian menjadi Textile Club), perusahaan milik pemerintah (Industri Sandang, Pinda Sandang Jabar, Pinda Sandang Jateng, Pinda Sandang Jatim), dan Koperasi (GKBI, Inkopteksi). 3. Tanggal 17 Juni 1974, organisasi-organisasi tersebut melaksanakan Kongres yang hasilnya menyepakati mendirikan Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) dan sekaligus menjadi anggota API. Fase perkembangan industri tekstil Indonesia diawali pada tahun 1970-an industri TPT Indonesia mulai berkembang dengan masuknya investasi dari Jepang di subsektor industri hulu (spinning dan man-made fiber making). Adapun fase perkembangannya sebagai berikut: 1. Tahun 1986, industri TPT Indonesia mulai tumbuh pesat dengan faktor utamannya adalah: (1) iklim usaha kondusif, seperti regulasi pemerintah yang efektif yang difokuskan pada ekspor non migas, dan (2) industrinya mampu memenuhi standar kualitas tinggi untuk memasuki pasar ekspor. 2. Periode 1986-1997 kinerja ekspor industri TPT Indonesia terus meningkat dan membuktikan sebagai industri yang strategis dan sekaligus sebagai andalan penghasil devisa negara sektor non migas. Pada periode ini pakaian jadi sebagai komoditi primadona. 3. Periode 1998-2002 merupakan masa paling sulit. Kinerja ekspor tekstil nasional fluktuatif. Pada periode ini dapat dikatakan periode cheos, rescue, dan survival. 4. Periode 2003-2006 merupakan outstanding rehabilitation, normalization, dan expansion. Upaya revitalisasi stagnant yang disebabkan multi-kendala, yang antara lain dan merupakan yang utama: (1) sulitnya sumber pembiayaan, dan (2) iklim usaha yang tidak kondusif. 5. Periode 2007, dimulainya restrukturisasi permesinan industri TPT Indonesia. Perkembangan Investasi Industri TPT di Indonesia Industri TPT merupakan bentuk industri manufaktur modern pertama yang dibangun pada awal proses industrialisasi di Indonesia. Dalam tataran global, Indonesia bisa dikatakan terlambat dalam mengembangkan industri TPT modern.

36 Bagaimanapun juga, industri TPT memainkan peranan yang kritikal dalam tahap awal industrialisasi negara-negara di dunia seperti di Inggris, Amerika Utara, Jepang, Hongkong Korea, Taiwan, serta negara-negara ASEAN (Association of Southeast Asian Nation) dan China. Perkembangan industri TPT di Asia Timur dan Asia Tenggara sangat terkait dengan perkembangan industri TPT di Jepang. Hubungan tersebut dapat terlihat dalam aktivitas PMA Jepang pada industri TPT di negara-negara Asia Timur dan Asia Tenggara. Dalam periode 1955-1974, negara-negara Asia Timur dan ASEAN masing-masing menyerap 40 persen dan 28 persen dari total PMA Jepang di sektor TPT. Jumlah proyek PMA Jepang di sektor TPT meningkat signifikan setelah pertengahan tahun 1960-an sampai dengan tahun 1974 ketika Jepang kehilangan keunggulan komparatifnya karena meningkatnya upah tenaga kerja dan terjadinya kekurangan tenaga kerja. Hal ini memaksa pelaku industri TPT Jepang memindahkan industri TPT ke negara-negara yang upahnya lebih rendah seperti di Indonesia dan menjadikan Indonesia sebagai basis produksi untuk ekspor (Kemenperin, 2011). Dalam sejarahnya, industri TPT Indonesia merupakan relokasi dari Asia Timur melalui proses perdagangan internasional dan PMA. PMA di sektor TPT di tahun 1960-1990-an paling banyak berasal dari Jepang dan Korea Selatan. Di tahun 1990- an nilai investasi PMA Jepang dan Korea Selatan apabila digabungkan mencapai lebih dari 50 persen dari total PMA yang bergerak di bidang TPT di Indonesia. Konsekuensinya, kedua PMA tersebut memberikan pengaruh yang signifikan bagi perkembangan industri TPT di Indonesia. Untuk PMA Jepang, investor paling banyak bergerak di segmen mid-stream terutama untuk rajut (knitting). Selain itu segmen garmen juga paling banyak menarik minat investor Jepang. Sebaliknya PMA Korea Selatan selama 1990-1998 terkonsentrasi di segmen garmen (sektor hilir). Selain berinvestasi di garmen, PMA Korea Selatan juga terdistribusi pada sektor tengah seperti tenun (weaving), rajut (knitting) dan finished textile. Di periode tersebut hanya ada satu perusahaan Korea Selatan yang berinvestasi di segmen spinning. Baik PMA Jepang maupun Korea Selatan sama-sama kurang tertarik untuk berinvestasi di sektor hulu. Modernisasi industri TPT di Indonesia ditandai dengan masuknya PMA ke sektor ini. Industri TPT Indonesia mengalami beberapa fase pengembangan. Apabila dibagi ke dalam beberapa tahap industrialisasi, maka perkembangan industri TPT dapat dibagi ke dalam beberapa fase yakni fase pengenalan, fase substitusi impor, dan fase ekpor. 1. Fase Pengenalan (1968-1974) Industri tekstil merupakan satu industri yang mendapat perhatian khusus dari pemerintah dalam pembangunan industri di awal Orde Baru. Pemerintah mendukung pengembangan industri tekstil dan beberapa industri lainnya sebagai bagian dari industrialisasi substitusi impor dengan diluncurkannya Undang-Undang PMA di tahun 1967 yang diikuti oleh Undang-Undang PMDN di tahun 1968. Pemerintah juga membuat kebijakan untuk memproteksi industri ini dari persaingan asing seperti dengan melarang masuknya tekstil kualitas rendah ke pasar domestik dan memproteksi industri mesin jahit rakitan. Tujuan dari bentuk kebijakan proteksi seperti ini adalah untuk mendorong munculnya pengusaha lokal. Praktik proteksi

37 tersebut mendatangkan keuntungan yang lebih tinggi dan beberapa importer tekstil merubah bisnisnya dari importer menjadi produsen dan mereka menikmati fasilitas pemerintah di industri tekstil. Sebagai dampak kebijakan pemerintah yang membuka ekonomi domestik, investasi asing memainkan peranan penting dalam kancah industri tekstil di Indonesia di awal Orde Baru. Pangsa PMA di industri tekstil mencapai sekitar 46.6 persen dari total PMA selama tahun 1967-1973. Karena kondusifnya iklim usaha waktu itu, maka prroduksi industri tekstil mengalami perbaikan signifikan di periode 1968-1974. Selama 1961-1968 volume produksi tekstil domestik tidak mengalami kemajuan. Namun mampu tumbuh 172.5 persen dari 373 juta meter di tahun 1968 menjadi 1 017 juta meter di tahun 1975. Sementara pertumbuhan volume produksi benang tenun domestik naik masing-masing sebesar 103.2 persen dan 242.6 persen di tahun 1961-1968 dan 1968-1975. Beberapa pabrik spinning milik pemerintah pada awal tahun 1960-an menjadi pendorong cepatnya ekspansi sektor benang (Kemenperin, 2011). Meningkatnya output tekstil di awal Orde Baru belum mampu memenuhi semua kebutuhan domestik. Karena alasan ini, pemerintah tetap mengijinkan impor bahan baku seperti benang tenun dan tekstil kualitas tinggi seperti shirting dan kain berwarna. Di tahun 1969-1974 baik impor benang tenun maupun kain berwarna mengalami penurunan meskipun benang tenun masih mendominasi total impor tekstil. 2. Tahap Subsitusi Impor (1975-1983) Produk tekstil domestik meningkat di pasar Indonesia pada paruh kedua tahun 1970-an diikuti oleh turunnya harga produk tekstil domestik dan meningkatnya kualitas. Investasi baru di segmen tekstil kualitas rendah di Jawa dilarang oleh pemerintah pada tahun 1974. Namun demikian, tidak semua kebutuhan tekstil domestik dapat dipasok dari produksi domestik. Sebagai contoh ketergantungan impor bahan baku di tahun 1974 mencapai 99 persen untuk kapas, 100 persen untuk serat sintetis, 50 persen untuk benang, 95 persen untuk textile dyes, 99 persen untuk mesin tekstil dan 95 persen untuk spare-part. Hal ini mengindikasikan bahwa struktur industri tekstil Indonesia sangat lemah pada awal tahap substitusi impor (Kemenperin, 2011). Pada tahun 1974, pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk mengembangkan keterkaitan ke belakang di industri tekstil dengan memberikan prioritas untuk investasi pada pabrik yang terintegrasi penuh. Kebijakan tersebut mendapatkan sambutan yang positif dari produsen tekstil dengan ekspansi kapasitas produksi dan restrukturisasi teknologi. Total kapasitas pemintalan naik signifikan dari 500 000 spindel di tahun 1979 menjadi 2.5 juta spindel di tahun 1985. Sementara total kapasitas tenun meningkat dari 35 000 alat tenun mesin di tahun 1970 menjadi 82 000 mesin tenun di tahun 1984. Untuk serat sintetis, total produksi mengalami ekspansi dari 4 000 ton di tahun 1973 menjadi 200 000 ton di tahun 1985. Pada waktu itu terdapat beberapa sektor modern di industri TPT Indonesia yang mulai bermunculan di era substitusi impor seperti bleaching, dyeing dan printing, dan industri garmen. Industri garmen pertama kali berkembang sebagai aktifitas pabrik pada akhir tahun 1970-an (Kemenperin, 2011).

38 Berdirinya beberapa industri hilir TPT membawa perbaikan dalam struktur industri tekstil Indonesia. Industri tekstil modern juga mulai berkembang dari tahun 1970-an. Sebagai akibat cepatnya pertumbuhan industri tekstil di era substitusi impor, industri tekstil di Indonesia masuk ke fase ekspor di tahun 1984 dan industri kain di tahun 1983. Namun demikian perkembangan industri benang dan serat jauh tertinggal di belakang industri kain dan keseluruhan perkembangan industri tekstil. 3. Tahap Ekspor (1984-2000-an) Tahap ekspor industri tekstil di Indonesia di Orde Baru dimulai tahun 1984 dan untuk ekspor kain dimulai tahun 1983. Meskipun sebagai industri baru di Indonesia, ekspor garmen memberikan kontribusi yang signifikan pawa awal tahun 1980-an. Pada dekade tahun 1980-an, ekspor menjadi sumber utama pertumbuhan di industri tekstil Indonesia. Pertumbuhan ekspor seluruh industri tekstil Indonesia menunjukkan trend positif selama 1982-1992. Meskipun demikian permintaan domestik juga berperan penting dalam penyerapan produksi tekstil domestik. Permintaan pasar domestik terhadap produk kain lebih besar dari ekspor. Demikian juga dengan permintaan domestik untuk benang dan serat. Sementara pada periode 1989-1993 ekspor garmen justru melebihi permintaan domestik. Berdasarkan nilai ekspor, dalam periode 1980-1993, pertumbuhan rata-rata ekspor tahunan tekstil dan garmen masing-masing mencapai 32 persen dan 37 persen. Pada tahun 1993, Indonesia masuk ke 13 besar eksportir tekstil dunia bersamaan dengan Hongkong, Korea Selatan, China Taipei, China, Pakistan dan India. Indonesia juga tercatat sebagai eksportir utama garmen seperti halnya Hongkong, Korea Selatan, China Taipei, China, Thailand dan India. Pangsa ekspor Indonesia untuk tekstil dan garmen mencapai 2.6 persen dari total ekspor tekstil dan garmen dunia. Peranan ekspor Indonesia, China, India dan Pakistan semakin penting di pasar Uni Eropa, Amerika Serikat dan Kanada. 4. Industri Tekstil Indonesia di Periode Krisis Moneter (1997-1998) Di awal krisis moneter di Indonesia, produsen tekstil Indonesia kehilangan sumber pembiayaan. Sebagian besar bank dilikuidasi oleh pemerintah pada bulan November 1997. Sebelumnya produsen tekstil menggunakan jasa perbankan ini untuk transaksi ekspor dan impor. Transaksi internasional terganggu karena letter of commerce dari perbankan Indonesia tidak lagi diterima sebagai akibat menurunnya kepercayaan internasional terhadap stabilitas politik dan ekonomi Indonesia. Krisis moneter menyebabkan ketidakpastian dalam iklim usaha, meningkatkan suku bunga dan nilai tukar dan sekaligus biaya produksi. Masalah utama yang dihadapi oleh produsen tekstil adalah membengkaknya harga bahan baku, karena masih tingginya ketergantungan terhadap bahan baku impor. Sebagian besar perusahaan tekstil yang tidak dapat menutup semua biaya krisis moneter mengalami kebangkrutan, khususnya produsen yang berorientasi pada pasar domestik. Pasar domestik mengalami kontraksi karena pendapatan riil konsumen domestik mengalami penurunan drastis.

39 5. Industri TPT di Tahun 2005-2010 Realisasi investasi baik PMA maupun PMDN untuk sektor Tekstil dan Produk Tekstil pada tahun 2000-an mengalami kenaikan dibandingkan periode tahun 1990- an. Pada tahun 1995-1999, kontribusi investasi sektor TPT hanya 2-5 persen terhadap total investasi. Sementara di tahun 2005-2010, kontribusi investasi sektor TPT di atas 15 persen dari total investasi seperti yang lihat pada Gambar 8. Di tahun 2011, sejumlah negara seperti Korea Selatan, China, dan Taiwan menjadikan Indonesia sebagai basis industri tekstil, yang memproduksi tekstil dan produk tekstil (TPT) untuk kebutuhan pasar domestik di masing-masing negara tersebut. Kondisi ini memicu adanya peningkatan investasi di sektor tersebut. Mereka menjadikan Indonesia sebagai basis industri, untuk kemudian mengisi pasar domestik mereka di dalam negeri. Investasi langsung tersebut akan membuat adanya penyerapan tenaga kerja sekitar 100 ribu sampai 200 ribu orang di tahun 2011 ini. Di samping itu, juga mendongkrak investasi di sektor tekstil mencapai ratusan persen dibanding tahun-tahun sebelumnya. 16.00 Persentase Realisasi Investasi 14.00 12.00 10.00 8.00 6.00 4.00 2.00 0.00 Tahun Sumber: Badan Koordinasi dan Penanaman Modal (BKPM), 2012 (diolah) Gambar 8 Persentasi Realisasi Investasi PMA dan PMDN Industri TPT Terdadap Total Investasi PMA dan PMDN Sebanyak 15 perusahaan TPT asal China akan merelokasi pabrik ke Indonesia karena biaya produksi di negeri ini dinilai lebih murah. Relokasi tersebut diperkirakan menelan investasi Rp 5 triliun. Rencana relokasi pabrik tekstil asal China ke Indonesia terhambat kondisi sarana infrastruktur dan logistik di dalam negeri yang masih lebih buruk dibanding Vietnam dan Kamboja. Daerah-daerah yang diusulkan untuk menjadi tempat relokasi garmen China adalah Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Ketiga kawasan tersebut dipilih karena memiliki ketersediaan tenaga kerja dengan keahlian yang dibutuhkan. Lokasinya dianggap strategis dan memiliki dukungan infrastruktur.

40 Upaya menarik relokasi industri garmen Cina ke Indonesia juga dilakukan untuk menekan defisit perdagangan TPT Indonesia dengan Cina. Indonesia memang mendominasi perdagangan serat dan benang. Tetapi kalah jauh jika dibandingkan impor yang masuk dari Cina untuk produk kain. Dalam hal relokasi ini Indonesia juga harus bersaing dengan negara ASEAN lainnya. Saat ini 90 persen relokasi industri tekstil Cina lebih memilih Vietnam. Sementara Indonesia baru ada satu atau dua di Jawa Timur. Perkembangan Sektor Industri TPT di Indonesia 1. Peran Sektor Industri TPT Terhadap PDB Pertumbuhan industri pengolahan non migas juga tidak lepas dari meningkatnya kegiatan produksi di sektor industri manufaktur. Dicapainya PDB industri pengolahan non migas sebesar 25.18 persen hingga tahun 2012 didukung oleh kinerja pertumbuhan sebagian besar kelompok industri pengolahan non migas, yang mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi. Peran terbesar terhadap PDB industri pengolahan non migas dicapai oleh sektor industri peralatan, mesin, dan perlengkapan sebesar 32.38 persen atau Rp 216 triliun. Sedangkan untuk sektor industri tekstil, barang dari kulit dan alas kaki peran terhadap PDB industri pengolahan non migas setiap tahun mengalami penurunan. Tahun 2012 merupakan titik terendah perannya terhadap PDB industri pengolahan non migas sebesar 8.73 persen atau Rp 58 triliun. Tabel 9 Persentase Peran Masing-Masing Sektor Terhadap PDB Industri Non Migas Sektor Industri 2008 2009 2010 2011* 2012** Makanan, Minuman dan Tembakau 25.09 27.30 26.79 27.54 28.07 Tekstil, Barang dari Kulit dan Alas 9.14 9.00 8.74 8.86 8.73 Kaki Kayu dan Produk Lainnya 3.65 3.52 3.24 3.07 2.82 Kertas dan Percetakan 4.57 4.75 4.61 4.41 3.95 Pupuk, Kimia dan Karet 12.26 12.19 12.19 11.94 12.45 Semen dan Penggalian Bukan Logam 2.87 2.79 2.72 2.75 2.80 Logam Dasar Besi dan Baja 1.44 1.35 1.32 1.41 1.42 Peralatan, Mesin dan Perlengkapan 31.77 30.18 31.81 32.01 32.38 Lainnya 0.68 0.68 0.67 0.64 0.60 Keterangan: *) Angka Sementara **) Angka Sangat Sementara Sumber: BPS, 2012 (diolah)

41 2. Supply Chain Industri TPT di Indonesia Secara garis besar, industri TPT meliputi lima bagian yaitu: industri serat (fiber), industri pemintalan benang (yarn), industri kain (fabric), industri pakaian jadi (garment), dan industri tekstil lainnya (other textile) seperti yang terlihat pada Gambar 9. Industri serat (fiber) dan industri pemintalan benang (yarn) merupakan industri yang relatif padat modal, teknologi sepenuhnya otomatis dengan menyerap energi yang sangat besar sehingga jumlah tenaga kerja relatif kecil. Produk akhirnya adalah polyester, nylon, rayon, dan lain sebagainya. Sumber: Kemenperin, 2012 Gambar 9 Pohon Industri TPT Industri kain (fabric) merupakan industri modal semi intensif, teknologi modern yang berkembang terus dan jumlah tenaga kerjanya lebih besar dari sektor industri hulu. Segmen ini juga padat kapital namun menyerap lebih banyak tenaga kerja dibandingkan sektor hulu. Di segmen printing sangat menekankan aspek kreativitas sedangkan di segmen dyeing diperlukan managemen pengelolaan limbah yang memadai yang memerlukan biaya yang tidak sedikit. Produk akhir dari industri kain (fabric) adalah kain blancu, kain rajut, kain non woven dan lain sebagainya. Industri pakaian jadi (garment) dan industri tekstil lainnya (other textile) merupakan industri yang banyak menyerap tenaga kerja dibandingkan dengan yang lainnya. produk akhirnya adalah pakaian jadi, sprei, tirai dan lain-lain. 3. Jumlah Perusahaan Industri TPT merupakan produk unggulan yang berperan besar dalam meningkatkan kinerja industri nasional. Dengan berkembangnya industri TPT di Indonesia maka akan menarik investor untuk menambah jumlah perusahaannya. Pada Gambar 10 dapat diketahui bahwa jumlah perusahaan dalam kurun waktu tahun 2006 sampai dengan tahun 2010 untuk sektor industri TPT berfluktuasi.

42 6,000 5,000 Jumlah Industri 4,000 3,000 2,000 1,000 0 2006 2007 2008 2009 2010 Tahun Sumber: Kementerian Perindustrian, 2010 (diolah) Gambar 10 Perkembangan Jumlah Perusahaan Industri TPT Tahun 2006-2010 (Unit Usaha) Pada tahun 2007 jumlah perusahaan industri TPT lebih besar dibandingkan dengan tahun yang lainnya yaitu sebanyak 5 700 unit usaha. Namun dengan adanya krisis finansial pada tahun 2008 yang terjadi pada negara tujuan ekspor mengakibatkan jumlah perusahaan semakin berkurang. Pada tahun sebelumnya jumlah perusahaan mencapai 5 700 unit usaha, namun pada tahun 2008 jumlah perusahaan berkurang menjadi 2 702 unit usaha. Jumlah Industri 4,500 4,000 3,500 3,000 2,500 2,000 1,500 1,000 500 0 2006 2007 2008 2009 2010 Tahun Industri Serat (Fiber) Industri Benang (Yarn) Industri Kain (Fabric) Industri Pakian Jadi (Garment) Industri Tekstil lainnya (Other Textile) Sumber: Kementerian Perindustrian, 2010 (diolah) Gambar 11 Perkembangan Jumlah Perusahaan Subsektor Industri TPT Tahun 2006-2010 (Unit Usaha) Meningkatnya jumlah perusahaan pada tahun 2007 tidak sebanding dengan penyerapan tenaga kerja. Hal itu dikarenakan jumlah perusahan yang bertambah hanya pada subsektor serat (fiber). Pada subsektor serat (fiber) teknologi yang

43 digunakan sepenuhnya otomatis dengan jumlah pekerja yang kecil. Maka dari itu pada tahun 2007 meskipun jumlah perusahaan meningkat, tetapi penyerapan tenaga kerjanya menurun seperti yang terlihat pada Gambar 11. Subsektor yang terkena dampak krisis finansial terbesar pada tahun 2008 adalah subsektor industri pakaian jadi (garment) menjadi 956 unit usaha, padahal pada tahun 2007 unit usaha subsektor industri pakaian jadi (garment) mencapai 5 588 unit usaha. Subsektor industri pakaian jadi (garment) yang paling sedikit membutuhkan modal (modal dan skala produksi yang diperlukan tidak terlalu besar) menjadikan barrier to entry di industri ini sangat rendah atau dapat dikatakan bersifat easy come easy go. Subsektor pakaian jadi (garment) tidak memerlukan pabrik dengan nilai investasi yang besar karena akitivitasnya lebih banyak bersifat assembling. Akibatnya siapapun bisa masuk ke industri ini meskipun belum memiliki pengalaman yang cukup di industri. Ketika terjadi kisis ekonomi, subsektor industri pakaian jadi (garment) menjadi sangat rentan. 4. Jumlah Tenaga Kerja Industri TPT merupakan industri padat karya (labour intensive) yang memiliki struktur industri lengkap dan terintegrasi dari hulu hingga hilir. Selain sebagai sektor yang padat karya, industri tekstil juga mempunyai peran sosial yang sangat tinggi, dimana selama periode 2006-2010 sebanyak 4.8 juta orang bekerja di sektor industri TPT seperti yang ditunjukan pada Gambar 12. Dalam kurun waktu lima tahun, tren penyerapan tenaga kerja semakin berkurang. Pada tahun 2006 jumlah tenaga kerja yang bekerja pada sektor industri TPT sebesar 1,12 juta orang. Namun pada tahun 2007, jumlah tenaga kerja berkurang menjadi 997 904 orang. Berlanjut pada tahun 2008 jumlah tenaga kerja semakin berkurang menjadi 854 591 orang. 1,200,000 Jumlah Tenaga Kerja 1,000,000 800,000 600,000 400,000 200,000 0 2006 2007 2008 2009 2010 Tahun Sumber: Kementerian Perindustrian, 2010 (diolah) Gambar 12 Perkembangan Jumlah Tenaga Kerja Industri TPT Tahun 2006-2010 (Orang)

44 Jika dilihat berdasarkan perannya dalam penyerapan tenga kerja setiap subsektornya, maka subsektor industri pakaian jadi (garment) menjadi yang terbesar dari tahun 2006 sampai dengan tahun 2010 sebesar 2.81 juta. Pada tahun 2006 subsektor pakaian jadi (garment) menyerap tenaga kerja sebesar 627 500 orang dan yang terbesar dari pada subsektor lainnya. Terbesar kedua adalah subsektor benang (yarn) sebesar 263 477 orang. Jumlah Tenaga Kerja 700,000 600,000 500,000 400,000 300,000 200,000 100,000 0 2006 2007 Tahun 2008 2009 2010 Industri Serat (Fiber) Industri Benang (Yarn) Industri Kain (Fabric) Industri Pakian Jadi (Garment) Industri Tekstil lainnya (Other Textile) Sumber: Kementerian Perindustrian, 2010 (diolah) Gambar 13 Perkembangan Jumlah Tenaga Kerja Subsektor Industri Tahun 2006-2010 (Orang) 5. Nilai Produksi Potensi pasar Indonesia sangatlah besar dimana jumlah penduduk setiap tahunnya meningkat, sehingga konsumsi produk akhit TPT akan cenderung meningkat. Kuatnya daya beli masyarakat mendorong meningkatnya konsumsi rumah tangga berdampak positif terhadap permintaan kebutuhan akan produk akhir dan terkorelasi terhadap meningkatnya aktifitas Industri terutama industri TPT. Nilai Produksi 155,000 150,000 145,000 140,000 135,000 130,000 125,000 120,000 115,000 2006 2007 2008 2009 2010 Tahun Sumber: Kementerian Perindustrian, 2010 (diolah) Gambar 14 Perkembangan Nilai Produksi Industri TPT Tahun 2006-2010 (Juta Rupiah)

45 Seperti yang ditunjukan pada Gambar 14, nilai produksi rata-rata industri TPT dalam kurun waktu tahun 2006 sampai dengan tahun 2010 adalah 20 persen. Tahun 2010 merupakan produksi terbesar industri TPT dengan nilai sebesar Rp 149 miliar. Pada tahun 2008 sampai dengan tahun 2010 tren nilai produksi industri TPT cenderung meningkat. Hal tersebut dikarenakan meningkatnya nilai produksi subsektor benang (yarn), subsektor pakaian jadi (garment), subsektor tekstil lainnya (other textile) seperti yang terlihat pada Gambar 15. 60,000 Nilai Produksi 50,000 40,000 30,000 20,000 10,000 0 2006 2007 2008 2009 2010 Tahun Industri Serat (Fiber) Industri Benang (Yarn) Industri Kain (Fabric) Industri Pakian Jadi (Garment) Industri Tekstil lainnya (Other Textile) Sumber: Kementerian Perindustrian, 2010 (diolah) Gambar 15 Perkembangan Nilai Produksi Subsektor Industri TPT Tahun 2006-2010 (Juta Rupiah) 6. Nilai Tambah Sektor industri TPT merupakan industri yang mampu menghasilkan produk dengan nilai tambah yang lebih besar dibandingkan produk-produk dari sektor lainnya. Hal ini dikarenakan sektor industri TPT memiliki variasi produk yang sangat beragam dan mampu memberikan manfaat marginal yang tinggi kepada konsumennya (Asmara, 2012). Nilai Tambah Bruto 80,000 70,000 60,000 50,000 40,000 30,000 20,000 10,000 0 2006 2007 2008 2009 2010 Tahun Sumber: Kementerian Perindustrian, 2010 (diolah) Gambar 16 Perkembangan Nilai Tambah Industri TPT Tahun 2006-2010 (Juta Rupiah)

46 Dalam pengadaan nilai tambah untuk industri TPT, tahun 2010 nilai tambahnya terbesar dibandingkan tahun yang lainnya sebesar Rp 70 miliar seperti yang ditunjukan pada Gambar 16. Nilai tambahnya pada tahun 2007 meningkat menjadi Rp 58 miliar. Namun karena terjadi krisis finansial pada tahun 2008 terjadi penurunan nilai tambah menjadi Rp 54 triliun, ini merupakan dampak dari krisis finansial yang terjadi pada negara tujuan ekspor. Nilai Tambah Bruto 35,000 30,000 25,000 20,000 15,000 10,000 5,000 0 2006 2007 2008 2009 2010 Tahun Industri Serat (Fiber) Industri Benang (Yarn) Industri Kain (Fabric) Industri Pakian Jadi (Garment) Industri Tekstil lainnya (Other Textile) Sumber: Kementerian Perindustrian, 2010 (diolah) Gambar 17 Perkembangan Nilai Tambah Subsektor Industri TPT Tahun 2006-2010 (Juta Rupiah) Berdasarkan Gambar 17, pada tahun 2006 subsektor industri TPT yang mempunyai nilai tambah terbesar adalah subsektor benang (yarn) dengan nilai Rp 20 miliar. Sedangkan pada tahun 2007 nilai tambah terbesar adalah subsektor pakaian jadi (garment) dengan nilai Rp 21 triliun. Untuk subsektor benang (yarn), tahun 2007-2008 terjadi penurunan sampai nilai tambah menjadi Rp 16 triliun. ini merupakan akibat dari krisis finansial yang terjadi pada negara tujuan ekspor. Berbeda dengan subsektor benang (yarn), pada subsektor pakaian jadi (garment) setiap tahunnya mengalami peningkatan untuk nilai tambah. 7. Net Ekspor (X-M) Dua faktor utama penentu nilai perdagangan internasional adalah volume komoditas yang diperdagangkan dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada kurun waktu tertentu. Hal yang sama juga berlaku untuk industri TPT di Indonesia. Perubahan baik ekspor maupun impor serta adanya perubahan kurs rupiah dan dolar Amerika Serikat menyebabkan perubahan nilai perdangangan ekspor dan impor industri TPT di Indonesia (Asmara, 2012). Gambar 18 menunjukan perkembangan net ekspor subsektor industri TPT Indonesia pada tahun 2007-2011. Setiap tahunnya net ekspor mengalami fluktiasi, pada tahun 2007 semua subsektor net ekspornya positif, sedangkan pada tahun 2008 sampai dengan tahun 2011 hanya subsektor kain (fabric) dan subsektor tekstil lainnya (other textile) yang mempunyai nilai net ekspor negatif. Untuk subsektor tekstil lainnya (other textile) net ekspornya hanya negatif pada tahun 2011 sebesar -86 828 juta US$. Untuk net ekspor negatif terbesar terjadi pada tahun 2011 sebesar -2 395 723 juta US$. Hal ini menunjukan bahwa jumlah impor untuk subsektor kain (fabric) lebih besar

47 dibandingkan dengan jumlah ekspornya. Sedangkan untuk net ekspor positif terbesar pada tahun 2009 sampai tahun 2011 adalah subsektor pakaian jadi (garment) sebesar 7 148 027 juta US$. 8,000,000 6,000,000 Industri Serat (Fiber) Net Eksport 4,000,000 2,000,000 0-2,000,000-4,000,000 2007 2008 2009 2010 2011 Tahun Industri Benang (Yarn) Industri Kain Industri Pakian Jadi (Garment) Industri Tekstil lainnya (Other Textile) Sumber: Kementerian Perindustrian, 2011(diolah) Gambar 18 Perkembangan Net Ekspor Industri TPT Tahun 2007-2011 (Ribu US$) PEMBAHASAN Peran Sektor Industri TPT Terhadap Perekonomian Indonesia Analisis Tabel Input-Output Indonesia tahun 2005 klasifikasi 175 sektor agregasi 19 sektor dan Tabel Input-Output tahun 2008 klasifikasi 66 sektor agregasi 15 sektor memperlihatkan gambaran secara menyeluruh mengenai struktur permintaan, struktur konsumsi rumah tangga dan pemerintah, struktur investasi, struktur ekspor dan impor, struktur nilai tambah bruto, dan sturktur output sektor, serta dampak pertumbuhan investasi terhadap sektor industri TPT dan penyerapan tenaga kerja di Indonesia. Struktur Permintaan Sturktur permintaan terdiri dari permintaan antara, permintaan akhir, dan permintaan total. Permintaan antara merupakan penjumlahan permintaan output dari suatu sektor yang akan digunakan sebagai input untuk sektor lainnya. Permintaan akhir merupakan permintaan atas barang dan jasa yang digunakan untuk konsumsi akhir mencakup barang dan jada yang digunakan untuk kegiatan konsumsi. Sedangkan permintaan total merupakan penjumlahan antara permintaan antara dan permintaan akhir. Hasil olahan Tabel Input-Output Indonesia tahun 2008 menunjukan bahwa total permintaan barang dan jasa Indonesia adalah sebesar Rp11 681 triliun. Nilai

48 tersebut merupakan hasil dari penjumlahan nilai permintaan antara sebesar Rp5 187 triliun dan permintaan akhir sebesar Rp6 480 triliun. Jika dilihat dari sisi permintaan antara, sektor yang memiliki nilai permintaan antara terbesar adalah sektor industri kimia, karet, dan plastik dengan nilai Rp 803 triliun atau 15.49 persen dari total permintaan antara. Kedua terbesar adalah sektor pertanian dan hasilnya dengan nilai Rp 736 triliun atau 14.19 persen. Sektor yang memiliki nilai permintaan akhir terbesar berdasarkan Tabel 9 adalah sektor industri bahan bangunan, bangunan dan lainnya sebesar Rp1 175 triliun atau 18.14 persen dari total permintaan akhir. Sedangkan kedua terbesar adalah sektor perdagangan, hotel, dan restoran sebesar Rp 863 triliun atau 13.33 persen dari total permintaan akhir. Tabel 10 Struktur Permintaan Perekonomian Indonesia Tahun 2008 (Juta Rupiah) Sektor Permintaan Antara Permintaan Akhir Permintaan Total Nilai Persen Nilai Persen Nilai Persen Pertanian 736 204 281 2 14.19 490 367 572 7.57 1 242 542 371 10.64 Pertambangan dan 541 441 101 10.44 317 799 261 4.90 859 549 839 7.36 Penggalian lainya Industri Makanan, 306 984 610 5.92 764 134 776 11.79 1 072 263 619 9.18 Minuman, dan Tembakau Industri Serat (Fiber) 8 602 934 0.17 1 151 0.00 6 478 0.00 Industri Pemintalan 11 477 694 0.22 927 562 0.01 2 449 761 0.02 Benang(Yarn) Industri Kain (Fabric) 6 407 276 0.12 20 005 315 0.31 16 808 905 0.14 Industri Pakaian Jadi 5 167 466 0.10 37 754 981 0.58 17 825 818 0.15 (Garment) Industri Tekstil Lainnya 4 091 493 0.08 25 281 727 0.39 14 162 940 0.12 (Other Textile) Industri Kulit, dan Hasilnya 1 685 498 0.03 3 388 863 0.05 4 039 603 0.03 Industri Bambu, Kayu, 209 294 098 4.03 141 091 271 2.18 350 860 985 3.00 Rotan dan Hasilnya Industri Kimia, Karet, dan 803 412 738 1 15.49 507 015 265 7.82 1 339 298 039 11.47 Plastik Industri Besi, Baja dan 393 428 337 7.58 168 004 091 2.59 561 991 420 4.81 Logam Industri Mesin, Listrik, dan 458 449 601 8.84 636 854 184 9.83 1 097 369 177 9.39 Perbaikan Industri Bahan Bangunan 149 681 906 2.89 1 175 364 420 1 18.14 1 325 851 052 11.35 dan lainnya Listrik dan Air Minum 80 407 758 1.55 39 049 910 0.60 124 490 750 1.07 Perdagangan, Hotel, dan 477 985 050 9.21 863 595 822 2 13.33 1 361 019 579 11.65 Restoran Jasa Agkutan dan 349 199 639 6.73 383 799 715 5.92 738 450 916 6.32 Komunikasi Bank dan Lembaga 449 376 111 8.66 177 325 950 2.74 627 320 710 5.37 Keuangan Lainnya Jasa dan Kegiatan Lainnya 193 952 228 3.74 729 068 739 11.25 924 942 341 7.92 Total 5 187 249 819 100 6 480 830 575 100 11 681 244 258 100 Keterangan: Superscript menunjukkan peringkat (ranking) Sumber: Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2008 Klasifikasi 19 Sektor (diolah)

49 Nilai permintaan antara menunjukan peran suatu subsektor dalam penyedian input untuk subsektor-subsektor yang lainnya. Semakin besar nilai permintaan antara maka perannya dalam penyedian input untuk subsektor-subsektor yang lainnya akan semakin besar pula. Jika dilihat dari subsektor industri TPT itu sendiri, maka subsektor industri pemintalan benang (yarn) memiliki nilai permintaan antara terbasar dengan nilai Rp 11 triliun atau 0.22 persen dari total permintaan antara. Kedua terbesar adalah subsektor industri serat (fiber) dengan nilai Rp 8 triliun atau 0.17 persen dari total permintaan antara. Sehingga kedua subsektor tersebut berperan penting dalam penyedian input bagi subsektor-subsektor industri TPT lainnya. Dimana subsektor industri serat (fiber) dan subsektor industri pemintalan benang (yarn) merupakan industri upstream yang memproduksi serat alam, serat buatan, filamen buatan, benang dari serat alam 100 persen, benang dari serat buatan 100 persen, dan benang dari serat campuran. Nilai permintaan akhir menunjukan peran output yang dihasilkan suatu subsektor untuk digunakan sebagai input yang langsung dikonsumsi oleh rumah tangga. Subsektor yang mempunyai nilai permintaan akhir terbesar adalah subsektor industri pakaian jadi (garment) dengan nilai Rp 37 triliun atau 0.58 persen dari total permintaan akhir. Kemudian untuk kedua terbesar adalah subsektor industri tekstil lainnya (other textile) dengan nilai Rp 25 triliun atau 0.39 persen. Output yang dihasilkan dapat langsung dikonsumsi oleh rumah tangga berupa pakaian jadi untuk bayi, anak-anak, laki-laki, dan perempuan. Struktur Konsumsi Berdasarkan hasil olahan Tabel Input-Output Indonesia tahun 2008 klasifikasi 19 sektor, total pengeluaran konsumsi rumah tangga adalah sebesar Rp3 122 triliun. Sektor yang memiliki nilai terbesar adalah sektor perdagangan, hotel dan restoran dengan nilai Rp 631 triliun atau 20.22 persen dari total pengeluaran konsumsi rumah tangga. Untuk kedua terbesar adalah sektor industri makanan, minuman dan tembakau dengan nilai Rp 622 triliun atau 19.93 persen dari total pengeluaran konsumsi rumah tangga. Besarnya nilai pengeluaran konsumsi rumah tangga menunjukan bahwa masyarakat dalam mengalokasikan dananya lebih banyak untuk kedua sektor tersebut dibandingkan dengan sektor lainnya. Total pengeluaran konsumsi pemerintah pada tahun 2008 adalah sebesar Rp 416 triliun. Semua pengeluaran konsumsi pemerintah dialokasinya untuk sektor jasa dan kegiatan lainnya. Pengeluaran pemerintah untuk sektor-sektor perekonomian lainnya sudah termasuk dalam anggaran yang termasuk dalam sektor jasa. Misalnya perbaikan jalan, jembatan, peningkatan fasilitas publik dll. Pengeluaran konsumsi rumah tangga subsektor industri TPT yang memiliki nilai terbesar adalah susektor industri pakaian jadi (garment) dengan nilai Rp 11 triliun atau 0.35 persen dari total pengeluaran konsumsi rumah tangga. Subsektor industri kain (fabric) memiliki nilai terbesar kedua dengan nilai Rp 8 triliun atau 0.26 persen dari total pengeluaran konsumsi rumah tangga. Sedangkan pengeluaran konsumsi pemerintah untuk subsektor industri TPT bernilai Rp 0. Pengeluaran pemerintah untuk sektor-sektor perekonomian lainnya sudah termasuk dalam anggaran yang termasuk dalam sektor jasa.

50 Tabel 11 Struktur Konsumsi Perekonomian Indonesia Tahun 2008 (Juta Rupiah) Pengeluaran Konsumsusi Rumah Tangga Pengeluaran Konsumsi Pemerintah Sektor Total Pengeluaran Nilai Persen Nilai Persen Nilai Persen Pertanian 481 384 291 15.42 0 0.00 481 384 291 13.60 Pertambangan dan Penggalian 1 072 856 0.03 0 0.00 1 072 856 0.03 lainya Industri Makanan, Minuman, dan 622 354 148 2 19.93 0 0.00 622 354 148 17.58 Tembakau Industri Serat (Fiber) 42 0.00 0 0.00 42 0.00 Industri Pemintalan 832 0.00 0 0.00 832 0.00 Benang(Yarn) Industri Kain (Fabric) 8 003 329 0.26 0 0.00 8 003 329 0.23 Industri Pakaian Jadi 11 040 430 0.35 0 0.00 11 040 430 0.31 (Garment) Industri Tekstil Lainnya 5 892 668 0.19 0 0.00 5 892 668 0.17 (Other Textile) Industri Kulit dan Hasilnya 1 432 109 0.05 0 0.00 1 432 109 0.04 Industri Bambu, Kayu, Rotan 54 774 447 1.75 0 0.00 54 774 447 1.55 dan Hasilnya Industri Kimia, Karet, dan 252 983 818 8.10 0 0.00 252 983 818 7.15 Plastik Industri Besi, Baja, dan Logam 29 379 430 0.94 0 0.00 29 379 430 0.83 Industri Mesin,Listrik, dan 257 238 291 8.24 0 0.00 257 238 291 7.27 Perbaikan Industri Bahan Bangunan dan 15 444 854 0.49 0 0.00 15 444 854 0.44 lainnya Listrik dan Air Minum 39 049 910 1.25 0 0.00 39 049 910 1.10 Perdagangan, Hotel dan Restoran 631 431 777 1 20.22 0 0.00 631 431 777 17.84 Pengangkutan dan Komunikasi 282 108 726 9.03 0 0.00 282 108 726 7.97 Bank dan Lembaga Keuangan 157 148 959 5.03 0 0.00 157 148 959 4.44 Lainnya Jasa dan Kegiatan Lainnya 271 930 837 8.71 416 866 669 100.00 688 797 506 19.46 Total 3 122 671 754 100 416 866 669 100 3 539 538 423 100 Keterangan: Superscript menunjukkan peringkat (ranking) Sumber: Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2008 Klasifikasi 19 Sektor (diolah) Struktur Investasi Nilai investasi berdasarkan Tabel 12 pada tahun 2008 adalah sebesar Rp1 501 triliun yang terdiri dari pembentukan modal tetap sebesar Rp 1,405 triliun dan perubahan stok sebesar Rp 96 triliun. Nilai investasi terbesar adalah sektor industri bahan bangunan, bangunan dan lainnya dengan nilai investasi Rp 1,145 triliun atau 76.28 persen dari total investasi. Nilai investasi tersebut terdiri dari pembentukan modal Rp1 147 triliun dan perubahan stok Rp -2 triliun. Tingginya investasi di sektor ini dikarenakan Indonesia memiliki nilai proyek bangunan yang tergolong tinggi. Kemudian sektor yang mempunyai nilai terbesar kedua adalah sektor industri kimia, karet, plastik, dan pengilangan minyak dengan nilai sebesar Rp 246 triliun yang terdiri dari pembentukan modal Rp 178 triliun dan perubahan stok Rp 68 triliun. Perubahan stok yang bernilai negatif terjadi pada sektor pertanian, sektor industri makanan, minuman dan tembakau, sektor industri pemintalan benang (yarn),

51 sektor industri kimia, karet, plastik dan pengilangan minyak. Hal ini dikarenakan terjadi pengurangan stok pada tahun sebelumnya dan pada tahun tersebut tidak ada penambahan stok baru sehingga nilainya negatif. Total investasi subsektor industri TPT yang memiliki nilai investasi terbesar adalah subsektor industri pakaian jadi (garment) dengan nilai sebesar Rp 2 triliun atau 0.19 persen dari total investasi. Sedangkan kedua terbesar adalah subsektor industri kain (fabric) dengan nilai Rp 1 triliun atau 0.09 persen dari total investasi. Tabel 12 Struktur Investasi Perekonomian Indonesia Tahun 2008 (Juta Rupiah) Sektor Pembentukan Modal Perubahan Stok Investasi Nilai Persen Nilai Persen Nilai Persen Pertanian 2 205 677 0.16-16 164 473-16.78-13 958 796-0.93 Pertambangan dan Penggalian 997 825 0.07 71 307 551 74.02 72 305 376 4.82 lainya Industri Makanan, Minuman, 0 0.00-25 193 384-26.15-25 193 384-1.68 dan Tembakau Industri Serat (Fiber) 0 0.00 4 0.00 4 0.00 Industri Pemintalan Benang 0 0.00-1 146 0.00-1 146 0.00 (Yarn) Industri Kain (Fabric) 0 0.00 1 389 593 1.44 1 389 593 0.09 Industri Pakaian Jadi 0 0.00 2 816 477 2.92 2 816 477 0.19 (Garment) Industri Tekstil Lainnya 302 0.00 1 040 470 1.08 1 040 771 0.07 (Other Textile) Industri Kulit dan Hasilnya 0 0.00 437 180 0.45 437 180 0.03 Industri Bambu, Kayu, Rotan 140 639 0.01 7 666 813 7.96 7 807 452 0.52 dan Hasilnya Industri Kimia, Karet, dan 0 0.00-54 107 232-56.16-54 107 232-3.60 Plastik Industri Besi, Baja, dan Logam 7 778 649 0.55 35 875 405 37.24 43 654 054 2.91 Industri Mesin,Listrik, dan 178 082 479 12.67 68 795 579 71.41 246 878 058 2 16.44 Perbaikan Industri Bahan Bangunan dan 1 147 511 282 81.66-2 077 938-2.16 1 145 433 76.28 lainnya 344 1 Listrik dan Air Minum 0 0.00 0 0.00 0 0.00 Perdagangan Hotel dan 38 457 068 2.74 3 638 215 3.78 42 095 283 2.80 Restoran Pengangkutan dan Komunikasi 9 926 652 0.71 917 880 0.95 10 844 532 0.72 Bank dan Lembaga Keuangan 2 445 994 0.17 0 0.00 2 445 994 0.16 Lainnya Jasa dan Kegiatan Lainnya 17 742 811 1.26 0 0.00 17 742 811 1.18 Total 1 405 289 378 100 96 340 994 100 1 501 630 372 100 Keterangan: Superscript menunjukkan peringkat (ranking) Sumber: Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2008 Klasifikasi 19 Sektor (diolah) Struktur Ekspor dan Impor Total nilai ekspor Indonesia pada tahun 2008 berdasarkan Tabel 13 adalah sebesar Rp1 250 triliun. Sektor yang mempunyai nilai ekspor terbesar adalah sektor industri kimia, karet, dan plastik dengan nilai Rp 308 triliun atau 24.63 persen dari

52 total ekspor. Sedangkan kedua terbesar adalah sektor pertambangan dan penggalian dengan nilai Rp 244 triliun atau 19.54 persen dari total ekspor. Untuk nilai impor pada tahun 2008 adalah sebesar Rp1 400 triliun dengan nilai impor terbesar adalah sektor industri kimia, karet, dan plastik dengan nilai Rp 366 triliun atau 26.17 persen dari total impor. Sedangkan untuk nilai impor kedua terbesar adalah sektot industri mesik, listrik dan perbaikan dengan nilai Rp1 257 triliun atau 26.01 persen dari total impor. Indonesia mengalami defisit perdagangan sebesar Rp 149 triliun. Secara keseluruhan hanya sektor industri mesin, listrik, dan perbaikan mengalami defisit perdagangan terbesar dengan nilai Rp 232 triliun. Tabel 13 Struktur Ekspor dan Impor Indonesia Tahun 2008 (Juta Rupiah) Ekspor (X) Impor (M) Selisih (X-M) Sektor Nilai Persen Nilai Persen Nilai Persen Pertanian 22 942 077 1.83 60 860 124 4.35-37 918 047 25.39 Pertambangan dan Penggalian 244 421 029 19.54 142 066 954 10.15 102 354 075-68.54 lainya Industri Makanan, Minuman, dan 166 974 012 13.35 67 592 168 4.83 99 381 844-66.55 Tembakau Industri Serat (Fiber) 0 0.00 1 307 160 0.09-1 307 160 0.88 Industri Pemintalan 309 911 0.02 2 047 723 0.15-1 737 813 1.16 Benang(Yarn) Industri Kain (Fabric) 1 275 074 0.10 2 358 466 0.17-1 083 392 0.73 Industri Pakaian Jadi (Garment) 3 216 340 0.26 931 769 0.07 2 284 570-1.53 Industri Tekstil Lainnya (Other 2 541 102 0.20 1 307 923 0.09 1 233 179-0.83 Textile) Industri Kulit dan Hasilnya 177 664 0.01 361 529 0.03-183 865 0.12 Industri Bambu, Kayu, Rotan dan 78 509 372 6.28 29 291 868 2.09 49 217 504-32.96 Hasilnya Industri Kimia, Karet, dan Plastik 308 138 679 1 24.63 366 452 454 1 26.17-58 313 775 39.05 Industri Besi, Baja, dan Logam 94 970 607 7.59 157 823 556 11.27-62 852 949 42.09 Industri Mesin,Listrik, dan 131 368 047 10.50 364 250 703 26.01-232 882 656 155.95 Perbaikan Industri Bahan Bangunan dan 14 486 222 1.16 15 182 584 1.08-696 362 0.47 lainnya Listrik dan Air Minum 0 0.00 0 0.00 0 0.00 Perdagangan, Hotel dan Restoran 150 736 964 12.05 24 797 593 1.77 125 939 371-84.34 Pengangkutan dan Komunikasi 30 879 445 2.47 78 349 293 5.60-47 469 848 31.79 Bank dan Lembaga Keuangan 0 0.00 60 691 146 4.33-60 691 146 40.64 Lainnya Jasa dan Kegiatan Lainnya 39 862 0.00 24 644 151 1.76-24 604 289 16.48 Total 1 250 986 406 100.00 1 400 317 165 100.00-149 330 759 100.00 Keterangan: Superscript menunjukkan peringkat (ranking) Sumber: Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2008 Klasifikasi 19 Sektor (diolah) Nilai ekspor subsektor industri TPT terbesar berdasarkan Tabel 13 adalah subsektor industri pakaian jadi (garment) dengan nilai Rp 3 triliun atau 0.26 persen dari total ekspor. Kedua terbesar adalah subsektor industri tekstil lainnya (other textile) dengan nilai Rp 2 triliun atau 0.20 persen dari total ekspor. Nilai impor subsektor industri TPT terbesar adalah subsektor industri kain (fabric) dengan nilai Rp 2 triliun atau 0.17 persen dari total impor. Subsektor industri pemintalan benang

53 (yarn) memiliki nilai impor terbesar ke dua dengan nilai 0.15 persen dari total impor. Subsektor industri TPT yang mengalami surplus perdagangan adalah subsektor industri pakaian jadi (garment), dan subsektor industri tekstil lainnya (other textile). Nilai tersebut menunjukkan bahwa dalam memenuhi kebutuhan terhadap barangbarang yang dihasilkan oleh subsektor tersebut tidak bergantung kepada impor. Struktur Nilai Tambah Bruto Nilai tambah bruto tahun 2008 berdasarkan Tabel 14 adalah sebesar Rp5 346 triliun. Nilai tersebut terdiri dari upah dan gaji sebesar Rp1 588 triliun, surplus usaha sebesar Rp3 033 triliun, penyusutan sebesar Rp 527 triliun, dan pajak tak langsung sebesar Rp 196 triliun. Besarnya nilai tambah bruto pada tahun 2008 tidak lepas perannya dari kedua sektor ini. Pertama sektor pertanian mempunyai nilai tambah bruto terbesar dibandingkan sekor yang lainnnya dengan nilai sebesar Rp 822 triliun atau 15.39 persen dari total nilai tambah bruto seluruh sektor perekonomian. Sedangkan nilai tambah bruto terbesar kedua adalah sektor perdagangan, hotel dan restoran dengan nilai Rp 685 triliun atau 12.82 persen dari total nilai tambah bruto seluruh sektor perekonomian. Tabel 14 Struktur Nilai Tambah Bruto Indonesia Tahun 2008 (Juta Rupiah) Upah dan Surplus Penyusutan Langsung Pajak Tak Nilai Tambah Bruro Sektor Rasio Gaji Usaha Nilai Persen Pertanian 184 723 174 605 927 633 0.30 18 457 276 13 460 730 822 568 813 1 15.39 Pertambangan dan Penggalian lainya Industri Makanan, Minuman, dan Tembakau Industri Serat (Fiber) Industri Pemintalan Benang(Yarn) Industri Kain (Fabric) Industri Pakaian Jadi (Garment) Industri Tekstil Lainnya (Other Textile) Industri Kulit dan Hasilnya Industri Bambu, Kayu, Rotan dan Hasilnya 83 499 069 435 498 137 0.19 31 742 700 23 714 044 574 453 950 10.74 83 942 029 173 163 515 0.48 25 383 768 56 376 045 338 865 357 6.34 342 424 1 003 022 0.34 41 133 19 435 1 406 014 0.03 162 315 1 405 890 0.12 62 843 7,282 1,638,331 0.03 3 426 943 8 259 956 0.41 579 831 24 934 12 291 664 0.23 3 716 122 13 543 264 0.27 463 008 24 709 17 747 102 0.33 4 002 518 11 278 109 0.35 405 470 11 335 15 697 431 0.29 6 516 897 9 168 032 0.71 287 079 19 403 15 991 411 0.30 36 107 715 74 376 491 0.49 13 155 760 3 596 594 127 236 560 2.38

54 Sektor Industri Kimia, Karet, dan Plastik Industri Besi, Baja, dan Logam Industri Mesin,Listrik, dan Perbaikan Industri Bahan Bangunan dan lainnya Listrik dan Air Minum Perdagangan, Hotel dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya Jasa dan Kegiatan Upah dan Surplus Penyusutan Langsung Pajak Tak Nilai Tambah Bruro Rasio Gaji Usaha Nilai Persen 121 133 648 329 135 094 0.37 50 881 853 11 554 096 512 704 691 9.59 55 625 984 80 816 294 0.69 23 705 589 7 371 297 167 519 164 3.13 72 495 138 123 134 326 0.59 35 631 724 9 646 179 240 907 367 4.51 175 729 802 239 063 916 0.74 43 428 981 18 156 508 476 379 207 8.91 31 570 710 49 068 989 0.64 43 839 834 5 461 928 129 941 461 2.43 204 970 751 396 715 317 0.52 57 374 318 26 548 201 685 608 587 2 12.82 107 177 215 122 416 179 0.88 102 460 452 5 565 536 337 619 382 6.31 85 309 160 264 819 221 0.32 26 677 423 8 181 599 384 987 403 7.20 328 035 097 94 630 967 3.47 53 244 811 6 896 699 482 807 574 9.03 Lainnya Total 1 588 486 710 3 033 424 352 0.52 527 823 852 196 636 554 5 346 371 468 100 Keterangan: Superscript menunjukkan peringkat (ranking) Sumber: Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2008 Klasifikasi 19 Sektor (diolah) Subsektor industri TPT yang memiliki nilai tambah bruto terbesar adalah subsektor industri pakaian jadi (garment) dengan nilai 17 triliun atau 0.33 persen dari total nilai tambah bruto yang terdiri dari upah dan gaji sebesar Rp 3 triliun, surplus usaha sebesar Rp 13 triliun, penyusutan Rp 463 miliar, dan pajak tak langsung sebesar Rp 24 miliar. Nilai rasio upah dan gaji terhadap surplus usaha untuk subsektor industri TPT kurang dari satu. Ini menunjukan bahwa belum terjadi keseimbangan antara surplus usaha yang diterima pemilik modal dengan upah dan gaji yang diterima pekerja. Nilai Output Sektoral Nilai output sektoral berdasarkan Tabel 15 tahun 2008 adalah sebesar Rp10 243 triliun dengan nilai output tertinggi adalah sektor perdagangan, hotel dan restoran dengan nilai Rp1 336 triliun atau 13.04 persen dari total output. Kedua terbesar adalah sektor industri bahan bangunan, dan lainnya dengan nilai sebesar Rp1 310 triliun atau 12.80 persen dari total output. Untuk subsektor industri TPT sendiri, nilai output terbesar adalah subsektor industri pakaian jadi (garment) Rp 3 triliun atau 0.03 persen dari total output nasional.

55 Tabel 15 Struktur Output Indonesia Tahun 2008 (Juta Rupiah) Sektor Output Sektoral Nilai Persen Pertanian 1 181 682 247 11.54 Pertambangan dan Penggalian lainya 717 482 885 7.00 Industri Makanan, Minuman, dan Tembakau 1 004 671 451 9.81 Industri Serat (Fiber) 999 0.00 Industri Pemintalan Benang(Yarn) 377 647 0.00 Industri Kain (Fabric) 2 861 968 0.03 Industri Pakaian Jadi (Garment) 3 035 112 0.03 Industri Tekstil Lainnya (Other Textile) 2 411 453 0.02 Industri Kulit dan Hasilnya 687 803 0.01 Industri Bambu, Kayu, Rotan dan Hasilnya 321 569 117 3.14 Industri Kimia, Karet, dan Plastik 972 845 585 9.50 Industri Besi, Baja, dan Logam 404 167 864 3.95 Industri Mesin,Listrik, dan Perbaikan 733 118 474 7.16 Industri Bahan Bangunan dan lainnya 1 310 668 468 2 12.80 Listrik dan Air Minum 124 490 705 1.22 Perdagangan Hotel dan Restoran 1 336 221 986 1 13.04 Pengangkutan dan Komunikasi 660 101 623 6.44 Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya 566 629 564 5.53 Jasa dan Kegiatan Lainnya 900 298 190 8.79 Total 10 243 323 140 100.00 Keterangan: Superscript menunjukkan peringkat (ranking) Sumber: Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2008 Klasifikasi 19 Sektor (diolah) Analisis Keterkaitan Analisis keterkaitan terdiri dari keterkaitan ke depan (forward linkage) dan keterkaitan ke belakang (backward linkage) yang digunakan untuk menganalisis keterkaitan antar sektor produksi dalam suatu perekonomian terutama dari sis input dan sisi output. Suatu sektor dianggap sektor kunci apabila mempunyai keterkaitan ke depan (forward linkage) dan keterkaitan ke belakang (backward linkage) yang relatif tinggi. Dalam analisis keterkaitan output ke depan dan ke belakang dapat dibagi menjadi dua, yaitu keterkaitan output langsung ke depan dan ke belakang serta keterkaitan output langsung dan tidak langsung ke depan dan ke belakang. Keterkaitan output langsung didapat dari koefisien input, sedangkan keterkaitan output langsung dan tidak langsung diperoleh dari Matriks Kebalikan Leontief Terbuka. Keterkaitan ke Depan (Forward Linkage) Keterkaitan ke depan (forward linkage) menunjukan bahwa jika terjadi peningkatan permintaan akhir sebesar Rp 1 juta, maka output suatu sektor yang dialokasikan secara langsung ke sektor lain termasuk sektor itu sendiri akan meningkat sebesar nilai keterkaitannya. Sedangkan nilai keterkaitan langsung dan

56 tidak langsung ke depan menunjukkan bahwa sektor tersebut memiliki nilai keterkaitan langsung maupun tidak langsung ke depan terhadap sektor lainnya termasuk sektor itu sendiri. Nilai keterkaitan langsung dan tidak langsung baik ke depan maupun ke belakang selalu memiliki nilai yang lebih besar dari satu. Tabel 16 Keterkaitan Output Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia Tahun 2008 Sektor Keterkaitan ke Depan Langsung Langsung dan Tidak Langsung Keterkaitan Ke Belakang Langsung Langsung dan Tidak Langsung Pertanian 0.864 2.594 0.304 1.561 Pertambangan dan Penggalian lainya 0.811 3.229 0.199 1.323 Industri Makanan, Minuman, dan Tembakau 0.292 1.567 0.663 2.172 Industri Serat (Fiber) 0.054 1.057 0.520 1.967 Industri Pemintalan Benang(Yarn) 0.573 1.766 0.467 1.900 Industri Kain (Fabric) 0.221 1.253 0.455 1.868 Industri Pakaian Jadi (Garment) 0.077 1.083 0.238 1.404 Industri Tekstil Lainnya (Other Textile) 0.095 1.106 0.463 1.873 Industri Kulit dan Hasilnya 0.046 1.050 0.072 1.127 Industri Bambu, Kayu, Rotan dan Hasilnya 0.380 1.624 0.603 2.201 Industri Kimia, Karet, dan Plastik 1.710 4.327 0.588 1.950 Industri Besi, Baja, dan Logam 0.441 1.720 0.585 2.055 Industri Mesin,Listrik, dan Perbaikan 0.611 2.289 0.671 2.516 Industri Bahan Bangunan dan lainnya 0.170 1.341 0.636 2.233 Listrik dan Air Minum 0.230 1.383 0.630 2.140 Perdagangan, Hotel dan Restoran 0.814 2.449 0.483 1.899 Pengangkutan dan Komunikasi 0.631 2.126 0.490 1.962 Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya 0.564 2.170 0.320 1.597 Jasa dan Kegiatan Lainnya 0.263 1.551 0.461 1.936 Sumber: Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2008 Klasifikasi 19 Sektor (diolah) Berdasarkan Tabel 16 terdapat hasil analisis keterkaitan output ke depan langsung maupun langsung dan tidak langsung. Subsektor industri TPT yang memiliki nilai keterkaitan langsung ke depan terbesar adalah subsektor industri pemintalan benang (yarn) dengan nilai 0.573 yang berarti bahwa jika terjadi peningkatan permintaan akhir sebesar satu juta rupiah, maka output subsektor industri pemintalan benang (yarn) yang langsung dijual atau dialokasikan ke subsektor lainnya termasuk subsektor industri pemintalan benang (yarn) itu sendiri akan mengalami peningkatan sebesar Rp 0.573 juta. Sama halnya dengan hasil analisis keterkaitan langsung ke depan subsektor industri TPT, subsektor yang mempunyai nilai keterkaitan output langsung dan tidak langsung ke depan terbesar adalah subsektor pemintalan benang (yarn) dengan nilai 1.766. Nilai tersebut menunjukan bahwa jika terjadi peningkatan permintaan akhir sebesar satu juta rupiah, maka output subsektor pemintalan benang (yarn) yang dijual

57 atau dialokasikan langsung maupun tidak langsung ke sektor lainnya termasuk subsektor benang itu sendiri akan mengalami peningkatan sebesar Rp 1.766 juta. Keterkaitan Kebelakang (Backward Linkage) Keterkaitan ke belakang (backward linkage) menunjukan besarnya nilai input yang dibutuhkan oleh suatu sektor yang berasal dari sektor lain maupun dari sektor itu sendiri jika terjadi peningkatan output ke depan, untuk memperoleh nilai keterkaitan output ke belakang (backward linkage) juga dapat dilakukan dengan analisis keterkaitan output langsung maupun langsung dan tidak langsung. Berdasarkan Tabel 16 terdapat hasil analisis keterkaitan output ke belakang langsung maupun langsung dan tidak langsung. Dilihat dari keterkaitan langsung ke belakang, subsektor industri TPT memiliki nilai keterkaitan langsung ke belakang terbesar adalah subsektor industri serat (fiber) dengan nilai 0.520. Nilai tersebut menunjukan bahwa jika terjadi peningkatan permintan akhir sebesar satu juta rupiah, maka subsektor industri serat (fiber) akan secara langsung meningkatkan permintaan terhadap inputnya sendiri maupun terhadap subsektor lainnya sebesar Rp 0.520 juta. Kuadran II 1.0 0.5 Kuadran I Pertanian Pertambangan dan Penggalian lainya Industri Makanan, Minuman, dan Tembakau Industri Serat (Fiber) Industri Pemintalan Benang(Yarn) Industri Kain (Fabric) Keterkaitan Kebelakang 0.0 2.0 1.0 0.0 1.0 2.0 3.0 4.0 0.5 Kuadran IV 1.0 Kuadran III 1.5 Keterkaitan Kedepan Industri Pakaian Jadi (Garment) Industri Tekstil Lainnya (Other Textile) Industri Kulit dan Hasilnya Industri Bambu, Kayu, Rotan dan Hasilnya Industri Kimia, Karet, Plastik, dan Pengilangan Minyak Industri Besi, Baja, Logam, dan Non Logam Industri Mesin,Listrik, dan Perbaikan Industri Bahan Bangunan, Bangunan dan Barang lain Listrik dan Air Minum Perdagangan, Hotel dan Restoran Jasa Agkutan dan Komunikasi Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya Jasa dan Kegiatan Lainnya Sumber: Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2008 Klasifikasi 19 Sektor (diolah) Gambar 19 Kuadran Keterkaitan Sektor Perekonomian Indonesia

58 Nilai keterkaitan ke belakang langsung dan tidak langsung yang terbesar pada adalah subsektor industri serat (fiber) dengan nilai 1.967. Nilai tersebut menunjukan bahwa jika terjadi peningkatan permintaan akhir sebesar satu juta rupiah, maka subsektor industri kain (fiber) akan meningkat secara langsung dan tidak langsung meningkatkan permintaan terhadap inputnya sendiri maupun terhadap subsektor lainnya sebesar Rp 1.967 juta. Sektor-sektor perekonomian dibagi menjadi empat kuadaran dengan garis vertikal menunjukan keterkaitan ke depan dan garis horizontal menunjukan keterkaitan ke belakang. Berdasarkan Gambar 19, subsektor industri TPT yang berada pada kuadran II adalah subsektor industri serat (fiber) dan subsektor industri pemintalan benang (yarn) yang berarti sektor tersebut hanya memiliki nilai keterkaitan ke belakang yang tinggi. Sedangkan subsektor lainnya berada di kuadran III yang berarti ketiga sektor lainnya mempunyai nilai keterkaitan ke depan dan ke belakang yang rendah. Analisis Dampak Penyebaran Analisis dampak penyebaran terdiri dari koefisien penyebaran dan kepekaan penyebaran. Koefisien penyebaran digunakan untuk mengetahui distribusi manfaat pengembangan suatu sektor terhadap sektor lainnya melalui mekanisme pasar input. Sedangkan kepekaan penyebaran digunakan digunakan untuk mengetahui distribusi manfaat pengembangan suatu sektor terhadap sektor lainnya melalui mekanisme pasar output. Koefisien Penyebaran Nilai koefisien penyebaran jika lebih dari satu menunjukan bahwa suatu sektor mampu meningkatkan pertumbuhan sektor hulunya. Sedangkan jika nilai koefisiennya kurang dari satu maka suatu sektor tertentu kurang mampu untuk meningkatkan pertumbuhan sektor hulunya. Pada Tabel 17 terdapat hasil analisis koefisien penyebaran subsektor industri TPT tahun 2008. Dari kelima subsektor industri TPT, terdapat tiga subsektor yang mempunyai nilai koefisien penyebaran kurang dari satu yaitu subsektor industri kain (fabric) dan subsektor industri pakaian jadi (garment) dan subsektor industri tekstil lainnya (other textile). Sedangkan selebihnya mempunya nilai koefisien penyebaran lebih dari satu. Hal ini menunjukan bahwa subsektor industri kain (fabric) dan subsektor industri pakaian jadi (garment) dan subsektor industri tekstil lainnya (other textile) tidak mampu meningkatkan pertumbuhan sektor hulunya. Sedangkan subsektor industri serat (fiber), dan subsektor industri pemintalan benang (yarn) mampu meningkatkan pertumbuhan sektor hulunya. Kepekaan Penyebaran Nilai kepekaan penyebaran jika lebih dari satu menunjukan bahwa suatu sektor tersebut mampu mendorong pertumbuhan sektor hilirnya. Sedangkan jika nilai kepekaan penyebaran kurang dari satu maka sektor tersebut kurang mampu

59 mendorong pertumbuhan sektor hilirnya. Berdasarkan Tabel 17, terdapat hasil analisis kepekaan penyebaran sektor-sektor perekonomian Indonesia tahun 2008. Hasil analisis menunjukan bahwa dari kelima subsektor industri TPT tidak ada satupun subsektor yang memiliki nilai kepekaan penyebaran lebih dari satu. Ini menunjukan bahwa subsektor industri TPT kurang mampu mendorong pertumbuhan sektor hilirnya. Tabel 17 Dampak Penyebaran Sektor-Sektor Perekonomian di Indonesia Tahun 2008 Sektor Koefisien Kepekaan Penyebaran Penyebaran Pertanian 0.831 1.381 Pertambangan dan Penggalian lainya 0.704 1.719 Industri Makanan, Minuman, dan Tembakau 1.157 0.834 Serat (Fiber) 1.047 0.563 Pemintalan Benang (Yarn) 1.012 0.940 Kain (Fabric) 0.994 0.667 Pakaian Jadi (Garment) 0.747 0.577 Tekstil Lainnya (Other Textile) 0.997 0.589 Kulit samakan dan olahan 0.600 0.559 Industri Bambu, Kayu, Rotan dan Hasilnya 1.172 0.865 Industri Kimia, Karet, Plastik, dan Pengilangan Minyak 1.038 2.304 Industri Besi, Baja, Logam, dan Non Logam 1.094 0.916 Industri Mesin,Listrik, dan Perbaikan 1.340 1.219 Industri Bahan Bangunan, Bangunan dan Barang lain 1.189 0.714 Listrik dan Air Minum 1.140 0.737 Perdagangan, Hotel dan Restoran 1.011 1.304 Jasa Agkutan dan Komunikasi 1.045 1.132 Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya 0.850 1.155 Jasa dan Kegiatan Lainnya 1.031 0.826 Sumber: Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2008 Klasifikasi 19 Sektor (diolah) Sektor-sektor perekonomian dibagi menjadi empat kuadaran dengan garis vertikal menunjukan koefisien penyebaran dan garis horizontal menunjukan kepekaan penyebaran seperti yang terlihat pada Gambar 20. Berdasarkan gambar tersebut, tidak ada satupun dari subsektor industri TPT yang berada pada kuadran I. Subsektor industri TPT yang berada pada kuadran II adalah subsektor industri serat (fiber), dan subsektor industri pemintalan benang (yarn). Subsektor yang berada pada kuadran III adalah subsektor industri kain (fabric), dan subsektor industri pakaian jadi (garment), dan subsektor industri tekstil lainnya (other textile).

60 0.4 Pertanian Kuadran II 0.3 Kuadran I Pertambangan dan Penggalian lainya Industri Makanan, Minuman, dan Tembakau Serat (Fiber) 0.2 Pemintalan Benang (Yarn) Kain (Fabric) Koefisien Penyebaran 0.1 1.0 0.5 0.1 0.0 0.5 1.0 1.5 0.2 Kuadran III Kuadran IV 0.3 0.4 Pakaian Jadi (Garment) Tekstil Lainnya (Other Textile) Kulit samakan dan olahan Industri Bambu, Kayu, Rotan dan Hasilnya Industri Kimia, Karet, Plastik, dan Pengilangan Minyak Industri Besi, Baja, Logam, dan Non Logam Industri Mesin,Listrik, dan Perbaikan Industri Bahan Bangunan, Bangunan dan Barang lain Listrik dan Air Minum Perdagangan, Hotel dan Restoran 0.5 Kepekaan Penyebaran Sumber: Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2008 Klasifikasi 19 Sektor (diolah) Gambar 20 Kuadran Penyebaran Sektor Perekonomian Indonesia Analisis Pengganda (Multiplier) Jasa Agkutan dan Komunikasi Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya Jasa dan Kegiatan Lainnya Analisis pengganda (multiplier) digunakan untuk melihat dampak perubahan atau peningkatan permintaan akhir suatu sektor terhadap seluruh sektor yang ada tiap satu-satuan perubahan jenis multiplier. Ada dua tipe multiplier yang akan dianalisis dalam penelitian ini yaitu multiplier tipe I dan multiplier tipe II yang digunakan dalam analisis multiplier output, multiplier pendapatan, dan multiplier tenaga kerja. Multiplier tipe I diperoleh dari pengolahan lebih lanjut matriks kebalikan Leontief terbuka, sedangkan untuk multiplier tipe II diperoleh dari matriks kebalikan Leontief tertutup yang memasukan rumah tangga sebagai variabel endogenus. Multiplier Output Nilai dari hasil analisis multiplier output tipe I menunjukkan adanya peningkatan output di seluruh sektor perekonomian yang disebabkan oleh kenaikan permintaan akhir sebesar Rp 1 juta di suatu sektor tertentu. Untuk tipe II dari hasil analisis multiplier output menunjukan bahwa jika terdapat peningkatan konsumsi

61 rumah tangga akibat adanya peningkatan permintaan akhir maka output diseluruh sektor perekonomian meningkat sebesar Rp 1 juta. Tabel 18 Nilai Multiplier Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia Tahun 2008 Output Pendapatan Tenaga Kerja Sektor Tipe I Tipe II Tipe I Tipe II Tipe I Tipe II Pertanian 1.56097 2.20728 0.36222 0.75199 0.05653 0.07307 Pertambangan dan Penggalian lainya 1.32284 1.76519 0.45400 0.55723 0.06896 0.07334 Industri Makanan, Minuman, dan Tembakau 2.17221 2.85938 0.15964 0.48091 0.01017 0.02381 Serat (Fiber) 1.96686 2.68215 0.12076 0.12081 0.00006 0.00006 Pemintalan Benang (Yarn) 1.89989 2.35773 0.14839 0.14997 0.00011 0.00017 Kain (Fabric) 1.86758 2.55149 0.18723 0.19081 0.00003 0.00018 Pakaian Jadi (Garment) 1.40376 1.99064 0.17057 0.17494 0.00020 0.00039 Tekstil Lainnya (Other Textile) 1.87304 2.53193 0.15154 0.15403 0.00003 0.00013 Kulit samakan dan olahan 1.12726 1.24355 0.03231 0.03301 0.00001 0.00004 Industri Bambu, Kayu, Rotan dan Hasilnya 2.20077 2.97919 0.20077 0.25108 0.00858 0.01071 Industri Kimia, Karet, Plastik, dan Pengilangan 1.95032 2.64273 0.61736 0.88434 0.08487 0.09620 Minyak Industri Besi, Baja, Logam, dan Non Logam 2.05521 2.84154 0.23954 0.27788 0.00696 0.00859 Industri Mesin,Listrik, dan Perbaikan 2.51575 3.33115 0.29284 0.49185 0.02622 0.03467 Industri Bahan Bangunan, Bangunan dan Barang 2.23349 3.07652 0.19128 0.22371 0.00905 0.01043 lain Listrik dan Air Minum 2.14048 3.29423 0.32041 0.35269 0.19322 0.19459 Perdagangan, Hotel dan Restoran 1.89851 2.70619 0.36689 0.69589 0.03281 0.04677 Jasa Agkutan dan Komunikasi 1.96207 2.84469 0.32750 0.50874 0.01875 0.02645 Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya 1.59670 2.28503 0.33180 0.48891 0.04725 0.05392 Jasa dan Kegiatan Lainnya 1.93590 3.32837 0.45668 0.60283 0.11003 0.11623 Sumber: Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2008 Klasifikasi 19 Sektor (diolah) Pada Tabel 18 nilai multiplier output subsektor industri TPT terbesar untuk tipe I adalah subsektor industri tekstil lainnya (other textile) dengan nilai 1.967. Ini menunjukan bahwa jika terjadi peningkatan permintaan akhir di subsektor industri tekstil lainnya (other textile) sebesar Rp 1 juta maka akan mengakibatkan peningkatan output di seluruh sektor perekonomian sebesar Rp 1.967 juta. Nilai multiplier output subsektor industri TPT terbesar untuk tipe II adalah subsektor industri tekstil lainnya (other textile) dengan nilai 2.682 yang menunjukan bahwa jika terdapat peningkatan konsumsi rumah tangga akibat adanya peningkatan permintaan akhir maka output diseluruh sektor perekonomian meningkat sebesar Rp 2.682 juta. Multiplier Pendapatan Nilai dari hasil analisis multiplier pendapatan tipe I menunjukkan adanya peningkatan pendapatan di seluruh sektor perekonomian yang disebabkan oleh kenaikan permintaan akhir sebesar Rp 1 juta di suatu sektor tertentu. Untuk tipe II

62 dari hasil analisis multiplier pendapatan menunjukan bahwa jika terdapat peningkatan konsumsi rumah tangga akibat adanya peningkatan permintaan akhir maka pendapatan diseluruh sektor perekonomian meningkat sebesar Rp 1 juta. Tabel 18 memperlihatkan hasil analisis multiplier pendapatan tipe I dan tipe II. Nilai multiplier pendapatan tipe I untuk subsektor industri TPT yang terbesar adalah subsektor industri kain (fabric) dengan nilai sebesar 0.187. Nilai tersebut menjelaskan bahwa jika terjadi peningkatan permintaan akhir sebesar Rp 1 juta maka mengakibatkan peningkatan pendapatan diseluruh sektor perekonomian sebesar Rp 0.187 juta. Nilai multiplier pendapatan subsektor industri TPT terbesar untuk tipe II adalah subsektor industri kain (fabric) dengan nilai 0.191 yang menunjukan bahwa jika terdapat peningkatan konsumsi rumah tangga akibat adanya peningkatan permintaan akhir maka pendapatan diseluruh sektor perekonomian meningkat sebesar Rp 0.191 juta. Multiplier Tenaga Kerja Nilai dari hasil analisis multiplier tenaga kerja tipe I menunjukkan adanya peningkatan tenaga kerja di seluruh sektor perekonomian yang disebabkan oleh kenaikan permintaan akhir sebesar Rp 1 juta di suatu sektor tertentu. Untuk tipe II dari hasil analisis multiplier tenaga kerja menunjukan bahwa jika terdapat peningkatan konsumsi rumah tangga akibat adanya peningkatan permintaan akhir maka tenaga kerja diseluruh sektor perekonomian meningkat sebesar nilai koefisiennya. Tabel 18 memperlihatkan hasil analisis multiplier tenaga kerja tipe I dan tipe II. Nilai multiplier tenaga kerja tipe I untuk subsektor industri TPT yang terbesar adalah subsektor industri pakaian jadi (garment) dengan nilai 0.00020. Nilai tersebut menunjukan bahwa jika terjadi peningkatan permintaan akhir di subsektor industri serat (fiber), maka akan mengakibatkan peningkatan penyerapan tenaga kerja di seluruh sektor perekonomian sebesar 0.00020 orang. Nilai multiplier tenaga kerja subsektor industri TPT terbesar untuk tipe II adalah subsektor industri pakaian jadi (garment) dengan nilai 0.0039 yang menunjukan bahwa jika terdapat peningkatan konsumsi rumah tangga akibat adanya peningkatan permintaan akhir maka tenaga kerja diseluruh sektor perekonomian meningkat sebesar 0.0039 orang. Analisis Dampak Investasi Pada Sektor Industri TPT Analisis investasi sektor industri TPT dilakukan untuk mengetahui perubahan yang terjadi pada output, pendapatan dan tenaga kerja sektor-sektor perekonomian Indonesia akibat adanya investasi pada sektor industri TPT. Dalam penelitian ini shock investasi yang dilakukan adalah sebesar Rp23 926 miliar yang dialokasikan secara merata pada setiap subsektor industri TPT. Nilai Investasi tersebut berasal dari total PMA dan PMDN tahun 2008-2012. Untuk melihat dampaknya setiap subsektor industri TPT maka sektor industri TPT didisagregasi menjadi 19 sektor.

63 Tabel 19 Perkembangan Realisasi Investasi ( PMA dan PMDN) Industri Pengolahan Tahun 2008-2012 (Miliar Rupiah) Sektor Industri 2008 2009 2010 2011 2012 Total Makanan 12 955 11 503 25 731 17 996 127 714 195 900 TPT 2 757 5 254 1 841 5 366 8 708 23 926 Kulit dan Hasilnya 1 416 1 272 1 321 2 206 1 508 7 722 Industri Kayu 1 455 677 842 1 027 741 4 743 Kertas dan Percetakan 4 659 1 718 1 520 11 648 19 224 38 769 Kimia dan Farmasi 6 595 18 141 10 520 15 503 29 999 80 758 Karet dan Plastik 3 436 3 694 1 476 5 550 8 795 22 951 Mineral Non Logam 3 425 983 2 520 8 641 12 045 27 951 Logam, Mesin, dan Elektronik 14 805 8 272 6 153 22 354 29 303 80 888 Kedokteran, Presisi, optik dan 162 52 9 368 27 619 Jam Alat Transportasi 7 647 6 123 3 943 7 264 107 224 132 202 Lainnya 377 1 526 240 566 931 728 Sumber: BKPM diolah Kemenperin, 2012 1. Dampak Investasi Rp23 926 Miliar pada Sektor Industri TPT dengan Alokasi Merata Pada bagian ini akan dilihat bagaimana dampak investasi yang dialokasikan secara merata pada masing-masing sektor industri TPT terhadap perubahan output, pendapatan, dan tenaga kerja. Untuk masing-masing subsektor industri TPT mendapatkan tambahan investasi sebesar Rp4 785 miliar dengan mengasumsikan investasi disektor lainnya nol. Pada Tabel 20 dapat dilihat hasil analisis dampak investasi sektor industri TPT dengan klasifikasi 19 sektor terhadap perubahan output pada tahun 2008. Dengan adanya investasi pada sektor industri TPT dapat menghasilkan output total diseluruh sektor perekonomian Indonesia sebesar Rp45 857 miliar. Dampak langsung yang terjadi adalah sebesar Rp28 913 miliar dan dampak tidak langsungnya adalah sebesar Rp16 943 miliar. Pada dampak langsung sektor industri TPT yang berpengaruh terhadap dampak investasi adalah subsektor industri pemintalan benang (yarn), subsektor industri kain (fabric), subsektor industri tekstil lainnya (other textile), subsektor industri pakaian jadi (garment), dan subsektor industri serat (fiber). Sedangkan dampak tidak langsung terbesar terjadi pada sektor industri kimia, karet, plastik, dan pengilangan minyak. Pada sisi pendapatan, dampak investasi sektor industri TPT mampu memberikan tambahan pendapatan di seluruh sektor perekonomian sebesar Rp5 104 miliar. Dampak langsung yang terjadi adalah sebesar Rp2 930 miliar dan dampak tidak langsungnya adalah sebesar Rp2 174 miliar. Pada dampak langsung sektor industri TPT yang berpengaruh terhadap dampak investasi adalah subsektor industri kain (fabric), subsektor industri pakaian jadi (garment), subsektor industri tekstil lainnya (other textile), subsektor industri serat (fiber), dan subsektor industri pemintalan benang (yarn). Sedangkan dampak tidak langsung terbesar terjadi pada sektor perdagangan hotel dan restoran.

64 Tabel 20 Dampak Investasi yang Dialokasikan Secara Merata pada Masing-Masing Subsektor Industri TPT terhadap Output, Pendapatan, dan Tenaga Kerja Sektor Output Pendapatan Tenaga Kerja (Juta Rupiah) (Juta Rupiah) (Ribu Orang) Pertanian 2 342 943 348 193 77 908 Pertambangan dan Penggalian lainya 901 720 87 614 1 123 Industri Makanan, Minuman, dan 1 510 143 118 249 1 502 Tembakau Serat (Fiber) 4 915 849 397 384 198 Pemintalan Benang (Yarn) 7 691 640 243 847 362 Kain (Fabric) 5 920 954 814 390 120 Pakaian Jadi (Garment) 5 134 409 787 360 938 Tekstil Lainnya (Other Textile) 5 250 903 687 787 81 Kulit samakan dan olahan 209 864 39 297 1 Industri Bambu, Kayu, Rotan dan Hasilnya 411 433 42 452 626 Industri Kimia, Karet, Plastik, dan 3 867 395 323 220 616 Pengilangan Minyak Industri Besi, Baja, Logam, dan Non Logam 164 950 16 347 127 Industri Mesin,Listrik, dan Perbaikan 851 556 56 323 242 Industri Bahan Bangunan, Bangunan dan 199 586 26 485 30 Barang lain Listrik dan Air Minum 368 978 55 902 37 577 Perdagangan, Hotel dan Restoran 2 562 316 388 890 11 724 Jasa Agkutan dan Komunikasi 1 719 356 249 289 3 396 Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya 1 051 252 143 119 21 977 Jasa dan Kegiatan Lainnya 782 014 278 835 75 292 Total 45 857 259 5 104 983 233 841 Sumber: Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2008 Klasifikasi 19 Sektor (diolah) Pada sisi tenaga kerja, dampak investasi sektor industri TPT mampu memberikan tambahan tenaga kerja di seluruh sektor perekonomian sebesar 232 juta orang. Dampak langsung yang terjadi adalah sebesar satu juta orang dan dampak tidak langsungnya adalah sebesar Rp 232 juta orang. Pada dampak langsung sektor industri TPT yang berpengaruh terhadap dampak investasi adalah subsektor industri pakaian jadi (garment), subsektor industri pemintalan benang (yarn), subsektor industri serat (fiber), subsektor industri kain (fabric), dan subsektor industri tekstil lainnya (other textile). Sedangkan dampak tidak langsung terbesar terjadi pada sektor pertanian. II. Dampak Investasi Rp23 926 Miliar pada Sektor Industri TPT dengan Alokasi Total Pada bagian terakhir akan dilih bagaimana dampak yang ditimbulkan investasi sektor industri TPT terhadap perubahan output, pendapatan, dan tenaga kerja. Nilai

65 investasi Rp23 926 miliar akan dialokasikan pada masing-masing subsektor industri TPT dengan mengasumsikan investasi di sektor lainnya nol. a. Dampak Terhadap Output Sacara umum dengan investasi pada sektor industri TPT Rp23 926 miliar akan mengahasilkan output total diseluruh sektor perekonomian sebesar Rp45 857 miliar. Sedangkan apabila investasi dialokasikan pada subsektor industri serat (fiber) maka output total yang dihasilkan di seluruh sektor perekonomian adalah sebesar Rp46 160 miliar. Investasi pada subsektor industri pemintalan benang (yarn) dengan jumlah yang sama akan menghasilkan output total sebesar Rp38 425 miliar. Investasi pada subsektor industri kain (fabric) dengan jumlah yang sama akan menghasilkan output total sebesar Rp49 256 miliar. Investasi pada subsektor industri pakaian jadi (garment) dengan jumlah yang sama akan menghasilkan output total sebesar Rp44 094 miliar. Investasi pada subsektor industri tekstil lainnya (other textile) dengan jumlah yang sama akan menghasilkan output total sebesar Rp49 256 miliar seperti yang terlihat pada Tabel 21. Investasi subsektor industri serat (fiber) berdampak paling besar terhadap sektor itu sendiri karena merupakan dampak langsung dari peningkatan investasi sektor tersebut yaitu sebesar Rp24 176 miliar. Sementara itu dampak tidak langsung terbesar dari pertumbuhan investasi sektor tersebut adalah terhadap sektor industri kimia, karet, plastik, dan pengilangan minyak yaitu sebesar Rp5 089 miliar, sedangkan yang terkecil adalah terhadap sektor kulit samakan dan olahan yaitu sebesar tiga miliar. Dampak dari investasi subsektor industri pemintalan benang (yarn) memperlihatkan dampak langsung terhadap sektor itu sendiri sebesar Rp26 173 miliar. Dampak tidak langsung terbesar dari pertumbuhan investasi sektor tersebut adalah terhadap sektor industri kimia, karet, plastik, dan pengilangan minyak yaitu sebesar Rp4 286 miliar, sedangkan yang terkecil adalah terhadap subsektor industri serat (fiber) yaitu sebesar Rp 567 juta. Investasi subsektor industri kain (fabric) berdampak paling besar terhadap sektor itu sendiri karena merupakan dampak langsung dari peningkatan investasi sektor tersebut yaitu sebesar Rp25 122 miliar. Sementara itu dampak tidak langsung terbesar dari pertumbuhan investasi sektor tersebut adalah terhadap sektor industri kimia, karet, plastik, dan pengilangan minyak yaitu sebesar Rp4 178 miliar, sedangkan yang terkecil adalah terhadap subsektor industri serat (fiber) yaitu sebesar tujuh miliar. Dampak dari investasi subsektor industri pakaian jadi (garment) memperlihatkan dampak langsung terhadap sektor itu sendiri sebesar Rp25 513 miliar. Dampak tidak langsung terbesar dari pertumbuhan investasi sektor tersebut adalah terhadap sektor perdagangan, hotel, dan restoran yaitu sebesar Rp2 708 miliar, sedangkan yang terkecil adalah terhadap subsektor industri bahan bangunan, bangunan, dan barang lain yaitu sebesar Rp 251 miliar. Sedangkan pertumbuhan investasi industri tekstil lainnya (other textile) berdampak langsung terhadap sektor itu sendiri sebesar Rp25 029 miliar. Dampak tidak langsung terbesar pertumbuhan investasi sektor tersebut pada sektor industri industri kimia, karet, plastik, dan pengilangan

66 minyak yaitu sebesar Rp3 436 miliar dan yang terkecil adalah terhadap subsektor industri serat (fiber) yaitu sebesar Rp 70 miliar. Tabel 21 Dampak Investasi Sektor Industri TPT terhadap Perubahan Output (Juta Rupiah) Sektor Tekstil Pemintalan Pakaian Serat Kain Lainnya Benang Jadi (Fiber) (Fabric) (Other (Yarn) (Garment) Textile) Pertanian 4 059 965 1 076 535 2 133 254 2 260 872 2 184 576 Pertambangan dan Penggalian 1 155 489 984 495 982 629 572 219 813 956 lainya Industri Makanan, Minuman, 1 549 135 731 940 1 701 813 1 810 990 1 757 153 dan Tembakau Serat (Fiber) 24 176 375 567 7 458 325 447 70 425 Pemintalan Benang (Yarn) 12 210 26 173 737 6 456 344 288 696 5 528 819 Kain (Fabric) 14 779 29 304 25 122 388 151 4 050 989 787 Pakaian Jadi (Garment) 18 399 9 467 24 963 25 513 107 239 048 Tekstil Lainnya (Other Textile) 10 437 9 663 321 820 883 827 25 029 863 Kulit samakan dan olahan 3 031 2 064 8 494 901 141 134 634 Industri Bambu, Kayu, Rotan dan 270 617 153 276 295 071 1 034 060 304 228 Hasilnya Industri Kimia, Karet, Plastik, dan 5 089 873 4 286 095 4 178 231 2 347 103 3 436 479 Pengilangan Minyak Industri Besi, Baja, Logam, dan 178 826 90 612 180 267 188 099 186 980 Non Logam Industri Mesin,Listrik, dan 889 255 406 958 937 626 974 579 1 049 537 Perbaikan Industri Bahan Bangunan, 243 946 124 606 211 896 206 867 210 656 Bangunan dan Barang lain Listrik dan Air Minum 293 185 476 223 464 455 251 054 360 051 Perdagangan, Hotel dan 2 423 993 1 968 635 2 863 954 2 708 820 2 846 712 Restoran Jasa Agkutan dan Komunikasi 3 707 325 824 839 1 336 454 1 413 468 1 315 054 Bank dan Lembaga Keuangan 1 146 966 673 722 1 176 718 1 143 456 1 115 617 Lainnya Jasa dan Kegiatan Lainnya 916 698 402 471 852 426 882 658 855 982 Total 46 160 504 38 425 211 49 256 660 Sumber: Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2008 Klasifikasi 19 Sektor (diolah) 44 094 555 51 358 950 b. Dampak Terhadap Pendapatan Secara umum dengan investasi Rp23 926 miliar pada sektor industri TPT akan berpengaruh terhadap pendapatan total di seluruh sektor perekonomian sebesar

67 Rp5 104 miliar. Namun jika investasi tersebut terjadi pada masing-masing subsektor industri TPT, maka subsektor industri serat (fiber) mempengaruhi pendapatan total sebesar Rp4 793 miliar, subsektor industri pemintalan benang (yarn) mempengaruhi pendapatan total sebesar Rp2 302 miliar, subsektor industri kain (fabric) mempengaruhi pendapatan total sebesar Rp5 904 miliar, subsektor industri pakaian jadi (garment) mempengaruhi pendapatan total sebesar Rp6 357 miliar, subsektor industri tekstil lainnya (other textile) mempengaruhi pendapatan total sebesar Rp6 168 miliar. Tabel 22 Dampak Investasi Sektor Industri TPT terhadap Pendapatan (Juta Rupiah) Sektor Tekstil Pemintalan Pakaian Serat Kain Lainnya Benang Jadi (Fiber) (Fabric) (Other (Yarn) (Garment) Textile) Pertanian 603 366 159 988 317 031 335 997 324 658 Pertambangan dan Penggalian 112 272 95 657 95 476 55 599 79 087 lainya Industri Makanan, Minuman, 121 303 57 313 133 258 141 807 137 591 dan Tembakau Serat (Fiber) 1 954 353 46 603 26 308 5 693 Pemintalan Benang (Yarn) 387 829 781 204 684 9 152 175 279 Kain (Fabric) 2 033 4 031 3 455 482 53 388 557 188 Pakaian Jadi (Garment) 2 821 1 452 3 828 3 912 417 16 445 Tekstil Lainnya (Other Textile) 1 367 1 266 42 153 115 768 3 278 523 Kulit samakan dan olahan 567 386 1 591 168 738 25 210 Industri Bambu, Kayu, Rotan dan 27 922 15 815 30 446 106 695 31 390 Hasilnya Industri Kimia, Karet, Plastik, 425 389 358 213 349 198 196 160 287 206 dan Pengilangan Minyak Industri Besi, Baja, Logam, dan 17 722 8 980 17 865 18 641 18 530 Non Logam Industri Mesin,Listrik, dan 58 817 26 917 62 016 64 460 69 418 Perbaikan Industri Bahan Bangunan, 32 372 16 535 28 119 27 451 27 954 Bangunan dan Barang lain Listrik dan Air Minum 44 419 72 150 70 367 38 036 54 549 Perdagangan, Hotel dan 367 897 298 786 434 671 411 126 432 054 Restoran Jasa Agkutan dan Komunikasi 537 524 119 593 193 772 204 938 190 669 Bank dan Lembaga Keuangan 156 149 91 721 160 200 155 671 151 881 Lainnya Jasa dan Kegiatan Lainnya 326 858 143 505 303 941 314 720 305 209 Total 4 793 538 2 302 134 5 904 699 6 357 073 6 168 536 Sumber: Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2008 Klasifikasi 19 Sektor (diolah)

68 Dampak investasi pada subsektor industri serat (fiber) akan secara langsung mempengaruhi pendapatan sektor itu sendiri sebesar Rp1 954 miliar. Dampak tidak langsung terbesar terjadi pada sektor pertanian sebesar Rp 603 miliar, sedangkan yang terkecil adalah terhadap subsektor industri pemintalan benang (yarn) sebesar Rp 387 juta. Dampak investasi pada subsektor industri pemintalan benang (yarn) akan secara langsung berdampak terhadap pendapatan sektor itu sendiri sebesar Rp 829 miliar. Dampak tidak langsung terbesar terjadi pada sektor industri kimia, karet, plastik, dan pengilangan minyak sebesar Rp 358 miliar, sedangkan yang terkecil adalah terhadap subsektor industri serat (fiber) sebesar Rp 46 juta. Dampak investasi pada subsektor industri kain (fabric) akan secara langsung mempengaruhi pendapatan sektor itu sendiri sebesar Rp3 455 miliar. Dampak tidak langsung terbesar terjadi pada sektor perdagangan, hotel, dan restoran sebesar Rp 434 miliar, sedangkan yang terkecil adalah terhadap subsektor industri serat (fiber) sebesar Rp 603 juta. Dampak investasi pada subsektor industri pakain jadi (garment) akan secara langsung berdampak terhadap pendapatan sektor itu sendiri sebesar Rp3 912 miliar. Dampak tidak langsung terbesar terjadi pada sektor perdagangan, hotel, dan restoran sebesar Rp 411 miliar, sedangkan yang terkecil adalah terhadap subsektor industri pemintalan benang (yarn) sebesar sembilan miliar. Sedangkan dampak investasi pada subsektor industri tekstil lainnya (other textile) akan secara langsung berdampak terhadap pendapatan sektor itu sendiri sebesar Rp3 278 miliar. Dampak tidak langsung terbesar terjadi pada sektor perdagangan, hotel, dan restoran sebesar Rp 432 miliar, sedangkan yang terkecil adalah terhadap subsektor industri serat (fiber) sebesar lima miliar. c. Dampak Terhadap Tenaga Kerja Secara umum dengan investasi pada sektor industri TPT sebesar Rp23 926 miliar akan mempengaruhi perubahan tenaga kerja total sebesar 233 juta orang di seluruh sektor perekonomian. Jika pertumbuhan investasi tersebut terjadi pada subsektor industri serat (fiber) maka akan mempengaruhi perubahan jumlah tenaga kerja total di seluruh sektor perekonomian sebesar 301 juta orang. Kemudian investasi pada subsektor industri pemintalan benang (yarn) dengan jumlah yang sama akan mempengaruhi perubahan jumlah tenaga kerja total sebesar 142 juta orang, investasi pada subsektor industri kain (fabric) dengan jumlah yang sama akan mempengaruhi perubahan jumlah tenaga kerja total sebesar 245 juta orang, investasi pada subsektor industri pakaian jadi (garment) dengan jumlah yang sama akan mempengaruhi perubahan jumlah tenaga kerja total sebesar 234 juta orang, sedangkan jika diinvestasikan pada subsektor industri tekstil lainnya (other textile) akan mempengaruhi perubahan jumlah tenaga kerja total sebesar 235 juta orang. Investasi subsektor industri serat (fiber) berdampak paling besar terhadap sektor itu sendiri dalam menyerap tenaga kerja karena merupakan dampak langsung dari peningkatan investasi sektor tersebut yaitu sebesar 975 orang. Sementara itu dampak tidak langsung terbesar dari pertumbuhan investasi sektor tersebut adalah terhadap sektor pertanian sebesar 135 juta orang, sedangkan yang terkecil adalah terhadap sektor kulit samakan dan olahan yaitu sebesar sembilan orang. Dampak dari investasi subsektor industri pemintalan benang (yarn) memperlihatkan dampak langsung

69 terhadap sektor itu sendiri dalam menyerap tenaga kerja sebesar 1,2 juta orang. Dampak tidak langsung terbesar dari pertumbuhan investasi sektor tersebut adalah terhadap sektor listrik dan air minum sebesar 48 juta orang, sedangkan yang terkecil adalah terhadap sektor kulit samakan dan olahan yaitu sebesar enam orang. Tabel 23 Dampak Investasi Sektor Industri TPT terhadap Tenaga Kerja (Orang) Sektor Tekstil Pemintalan Pakaian Serat Kain Lainnya Benang Jadi (Fiber) (Fabric) (Other (Yarn) (Garment) Textile) Pertanian 135 002 898 35 797 193 70 935 464 75 179 028 72 642 010 Pertambangan dan 1 439 432 1 226 420 1 224 095 712 832 1 013 973 Penggalian lainya Industri Makanan, 1 540 334 727 781 1 692 145 1 800 701 1 747 170 Minuman, dan Tembakau Serat (Fiber) 975 967 23 301 13 138 2 843 Pemintalan Benang (Yarn) 575 1 232 031 303 908 13 589 260 249 Kain (Fabric) 300 594 509 206 7 867 82 108 Pakaian Jadi (Garment) 3 362 1 730 4 561 4 661 898 19 595 Tekstil Lainnya (Other 162 150 4 981 13 681 387 441 Textile) Kulit samakan dan olahan 9 6 27 2 822 422 Industri Bambu, Kayu, Rotan 411 911 233 304 449 132 1 573 959 463 071 dan Hasilnya Industri Kimia, Karet, 810 813 682 772 665 589 373 892 547 429 Plastik, dan Pengilangan Minyak Industri Besi, Baja, Logam, 137 495 69 670 138 603 144 625 143 765 dan Non Logam Industri Mesin,Listrik, dan 252 501 115 555 266 236 276 729 298 013 Perbaikan Industri Bahan Bangunan, 37 048 18 924 32 180 31 417 31 992 Bangunan dan Barang lain Listrik dan Air Minum 29 858 009 48 498 725 47 300 276 25 567 372 36 667 672 Perdagangan, Hotel dan 11 091 427 9 007 853 13 104 548 12 394 704 13 025 654 Restoran Jasa Agkutan dan 7 322 241 1 629 118 2 639 596 2 791 704 2 597 329 Komunikasi Bank dan Lembaga 23 977 814 14 084 437 24 599 788 23 904 433 23 322 446 Keuangan Lainnya Jasa dan Kegiatan Lainnya 88 259 498 38 749 869 82 071 427 84 982 149 82 413 785 Total 301 121 795 152 076 155 245 942 063 234 446 541 235 666 966 Sumber: Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2008 Klasifikasi 19 Sektor (diolah) Investasi subsektor industri kain (fabric) berdampak paling besar terhadap sektor itu sendiri dalam menyerap tenaga kerja karena merupakan dampak langsung dari peningkatan investasi sektor tersebut yaitu sebesar 509 ribu orang. Sementara itu

70 dampak tidak langsung terbesar dari pertumbuhan investasi sektor tersebut adalah terhadap sektor pertanian sebesar 70 juta orang, sedangkan yang terkecil adalah terhadap sektor kulit samakan dan olahan yaitu sebesar 27 orang. Dampak dari investasi subsektor industri pakaian jadi (garment) memperlihatkan dampak langsung terhadap sektor itu sendiri dalam menyerap tenaga kerja sebesar 4.6 juta orang. Dampak tidak langsung terbesar dari pertumbuhan investasi sektor tersebut adalah terhadap sektor pertanian sebesar 75 juta orang, sedangkan yang terkecil adalah terhadap sektor kulit samakan dan olahan sebesar 2 822 orang. Sedangkan pertumbuhan investasi industri tekstil lainnya (other textile) berdampak langsung terhadap sektor itu sendiri dalam menyerap tenaga kerja sebesar 387 ribu orang. Dampak tidak langsung terbesar pertumbuhan investasi sektor tersebut pada sektor pertanian sebesar 72 juta orang dan yang terkecil adalah terhadap sektor kulit samakan dan olahan sebesar 422 orang. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan hasil analsis terhadap Tabel Input-Output Indonesia tahun 2008 tentang dampak investasi terhadap penyerapan tenaga kerja di sektor industri TPT, maka dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Berdasarkan hasil analisis keterkaitan, peran terbesar subsektor industri TPT dalam penyediaan input bagi sektor lainnya maupun sektor itu sendiri adalah subsektor industri pemintalan benang (yarn). Sedangkan peran terbesar subsektor industri TPT dalam penggunaan input bagi sektor lainnya maupun sektor itu sendiri adalah subsektor industri serat (fabric) 2. Berdasarkan hasil analisis dampak penyebaran, subsektor industri TPT yang memiliki peran terbesar dalam meningkatkan pertumbuhan sektor hulunya adalah subsektor industri serat (fiber) dan subsektor industri pemintalan benang (yarn). Sedangkan tidak ada satupun subsektor industri TPT yang mampu meningkatkan pertumbuhan sektor hilirnya dikarenakan nilai kepekaan penyebaran kurang dari satu. 3. Berdasarkan hasil analisis multiplier subsektor industri TPT yang memiliki nilai multiplier output terbesar adalah subsektor industri serat (fiber). Namun jika dilihat dari hasil analisis multiplier pendapatan, subsektor yang mempunyai nilai terbesar adalah subsektor industri kain (fabric). Sedangkan dari hasil analisis multiplier tenaga kerja, subsektor yang mempunyai nilai terbesar adalah subsektor industri pakaian jadi (garment). 4. Adanya investasi Rp23 926 miliar di seluruh subsektor industri TPT, maka subsektor industri TPT yang berdampak besar terhadap penyerapan tenaga kerja adalah subsektor industri pakaian jadi (garment) karena investasinya dalam bentuk padat karya sehingga menyerap tenaga kerja lebih besar dibandingkan dengan subsektor industri TPT lainnya.

71 Saran Beberapa saran yang dapat diajukan adalah sebegai berikut: 1. Jika pemerintah lebih mengutamakan penyerapan tenaga kerja, maka alokasi dana investasi industri TPT dialokasikan pada subsektor industri padat karya yaitu subsektor industri pakaian jadi (garment) karena akan menyerap tenaga kerja lebih besar. Fokus utama adalah pengembangan pada pasar yang diarahkan pada pasar domestik, sedangkan diversifikasi produk diarahkan untuk pasar ekspor. 2. Tingginya penyerapan tenaga kerja harus diimbangi dengan peningkatan kualitas sumberdaya manusianya. Maka dari itu pemerintah sebaiknya mengalokasi dana investasi pada peningkatan kualitas sumberdaya manusia melalui pendidikan dan pelatihan yang bekerjasama dengan asosiasi dan perguruan tinggi yang terkait. 3. Dalam upaya merespon peluang investasi asing dalam industri TPT diperlukan kerja keras yang lebih dari berbagai komponen pemerintah pusat maupun daerah dalam penyederhanaan prosedur perijinan di Indonesia yang saat ini masih cukup panjang dan kurang harmonis, perbaikan sarana dan prasarana penunjang seperti infrastruktur, jalan, pelabuhan, listrik, air dan sebagainya. DAFTAR PUSTAKA Asmara, A, Purnamadewi Y, Mulatsih S, Novianti T. 2012. Stategi Penguatan Struktur Industri Tekstil dan Produk Tekstil Dalam Mereduksi Pengangguran di Indonesia. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. Bahri, S. 2011. Industri TPT Nasional Estimasi 2010 Prospek 2011. No. 01/17/Januari 2011. Jakarta (ID): Asosiasi Pertekstilan Indonesia. Bahri, S. 2011. Kinerja Industri dan Perdagangan Tekstil dan Produk Tekstil Indonesia 2010. No. 04/17/April 2011. Jakarta (ID): Asosiasi Pertekstilan Indonesia. BPS] Badan Pusak Statistik. 2011. Angkatan Kerja Indonesia Tahun 2005-2011. Berbagai Edisi. Jakarta (ID): BPS. [BPS] Badan Pusak Statistik. 2005. Statistik Industri Indonesia Tahun 2005 2011. Berbagai Edisi. Jakarta (ID): BPS. [BPS] Badan Pusak Statistik. 2012. Laju Pertumbuhan Produk Domestik Bruto Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha (persen) 2004-2012. Jakarta (ID): BPS. [BPS] Badan Pusak Statistik. 2005. Tabel Input-Ouput Indonesia Tahun 2005. Jakarta (ID): BPS. [BPS] Badan Pusak Statistik. 2008. Tabel Input-Ouput Indonesia Tahun 2008. Jakarta (ID): BPS. [BKPM] Badan Koordinasi dan Penanaman Modal. 2012. Realisasi Penanaman

Modal Dalam Negeri Berdasarkan Lokasi. Jakarta (ID): BKPM. [BKPM] Badan Koordinasi dan Penanaman Modal. 2012. Realisasi Penanaman Modal Asing Berdasarkan Lokasi. Jakarta (ID): BKPM. Daryanto, Arief dan Y. Hafizrianda. 2010. Analisis Input-Output & Social Accounting Matriks Untuk Pembangunan Ekonomi Daerah. Bogor (ID): IPB Press. Egis. 2008. Industri Tekstil dan Produk Tekstil. [Internet]. [Waktu dan tempat tidak diketahui]. [diunduh 2012 Mar 12] tersedia pada: http://egismy.wordpress.com/2008/02/ Egis. 2008. Sejarah Industri Tekstil dan Produk Tekstil. [Internet]. [Waktu dan tempat tidak diketahui]. [diunduh 2012 Mar 13] tersedia pada: http://egismy.wordpress.com/2008/04/ Hasibuan, N. 1993. Ekonomi Industri Persaingan, Monopoli dan Regulasi. Jakarta (ID): PT Pustaka LP3ES Indonesia. Hermawan, Iwan. 2008. Analisis Ekonomi Perkembangan Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) Indonesia. [Skripsi]. Bogor (ID): Depertemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, IPB. Junaedi. 2007. Analisis Dampak Peningkatan Ekspor Di Sektor Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) Terhadap Perekonomian Indonesia. [Skripsi]. Bogor (ID): Departemen Ilmu Ekonomi. Fakultas Ekonomi Dan Manajemen, IPB [Kemenperin] Kementerian Perindustrian. 2006. Laporan Pengembangan Sektor Industri Tahun 2006. Jakarta (ID): Kemenperin. [Kemenperin] Kementerian Perindustrian. 2010. Kinerja Industri Indonesia Tahun 2006-2010. Jakarta (ID): Kemenperin. [Kemenperin] Kementerian Perindustrian. 2008. Laporan Pengembagan Sektor Industri Tahun 2008. Jakarta (ID): Kemenperin [Kemenperin] Kementerian Perindustrian. 2011. Kajian Pengambangan Industri Tekstil dan Produk Tekstil 2011. Jakarta (ID): Kemenperin. [Kemenperin] Kementerian Perindustrian 2012. Laporan Kinerja Sektor Industri dan Kinerja Kementerian Perindustrian Tahun 2012. Jakarta (ID): Kemenperin. [Kemenperin] Kementerian Perindustrian. 2013. Laporan Perkembangan Kemajuan Program Kerja Kementerian Perindustrian tahun 2004-2012. Jakarta (ID): Kemenperin. Lubis, P. 2008. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Permintaan Investasi di Indonesia. [Tesis]. Sumatra Utara (ID): Sekolah Pascasarjana, Universitas Sumatra Utara. Mankiw, G. 2007. Makro Ekonomi. Jakarta(ID): Erlangga. Maryadi, M. 2007. Analisis Pertumbuhan Investasi Sektor Industri Tekstil Dan Produk Tekstil (TPT) Terhadap Perekonomian Indonesia. [Skripsi]. Bogor (ID): Departemen Ilmu Ekonomi. Fakultas Ekonomi Dan Manajemen, IPB. Media Industri. 2008. Fenomena Deindustrialisasi Tidak Terjadi di Indonesia. No. 01.2008. Jakarta (ID): Kememperin Media Industri. 2008. Menyelamatkan Industri Dari Dampak Krisis.No. 5. 2008. Jakarta (ID): Kememperin. Munyani, S. 2007. 2009.Restrukturisasi Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) 72

Terhadap Kinerja Perekonomian Jawa Barat. [Skripsi]. Bogor (ID): Departemen Ilmu Ekonomi,Fakultas Ekonomi Dan Manajemen, IPB. Putong, I. 2002. Pengantar Ekonomi Mikro dan Makro. Jakarta (ID): Ghalia Indonesia Putra, G. 2012. Analisis Peranan Dan Dampak Investasi Sektor Industri Pengolahan Terhadap Perekonomian Indonesia. [Skripsi]. Bogor (ID): Departemen Ilmu Ekonomi,Fakultas Ekonomi Dan Manajemen, IPB. Permana, C. 2009. Analisis Peranan dan Dampak Investasi Infrastruktur Terhadap Perekonomian Indonesia. [Skripsi]. Bogor (ID): Departemen Ilmu Ekonomi,Fakultas Ekonomi Dan Manajemen, IPB. Sektretaris Jendral. 2010. Rencana Strategis Kementerian Perindustrian 2010-2014. Jakarta (ID): Kemenperin. Wibowo, T. 2009. 2009. Analisis Peranan dan Dampak Investasi Sektor Pertanian Terhadap Perekonomian Provinsi Jawa Timur. [Skripsi]. Bogor (ID): Departemen Ilmu Ekonomi,Fakultas Ekonomi Dan Manajemen, IPB. 73

74 Lampiran 1. Klasifikasi Sektor Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2005 Berdasarkan Hasil Agregasi Kode Sektor Klasifikasi 19 Sektor 1 Padi Pertanian 2 Jagung Pertanian 3 Ketela pohon Pertanian 4 Ubi jalar Pertanian 5 Umbi-umbian lainnya Pertanian 6 Kacang Pertanian 7 Kedele Pertanian 8 Kacang-kacang lainnya Pertanian 9 sayur-sayuran Pertanian 10 Buah-buahan Pertanian 11 Padi-padian dan bahan makanan lainnya Pertanian 24 Hasil pertanian lainnya Pertanian 12 Karet Pertanian 13 Tebu Pertanian 14 Kelapa Pertanian 15 Kelapa sawit Pertanian 16 Hasil tanaman serat Pertanian 17 Tembakau Pertanian 18 Kopi Pertanian 19 Teh Pertanian 20 Cengkeh Pertanian 21 Kakao Pertanian 22 Jambu mete Pertanian 23 Hasil perkebunan lainnya Pertanian 25 Ternak dan hasil-hasilnya kecuali susu segar Pertanian 26 Susu segar Pertanian 27 Unggas dan hasil-hasilnya Pertanian 28 Hasil pemeliharaan hewan lainnya Pertanian 29 Kayu Pertanian 30 Hasil hutan lainnya Pertanian 31 Ikan laut dan hasil aut lainnya Pertanian 32 Ikan darat dan hasil perairan darat Pertanian 33 Udang Pertanian

75 Kode Sektor Klasifikasi 19 Sektor 35 Batubara Pertambangan dan Penggalian lainnya 38 Biji timah Pertambangan dan Penggalian lainnya 39 Biji nikel Pertambangan dan Penggalian lainnya 40 Biji bauksit Pertambangan dan Penggalian lainnya 41 Biji tembaga Pertambangan dan Penggalian lainnya 42 Biji emas Pertambangan dan Penggalian lainnya 43 Biji perak Pertambangan dan Penggalian lainnya 44 Biji dan pasir besi Pertambangan dan Penggalian lainnya 36 Minyak bumi Pertambangan dan Penggalian lainnya 37 Gas bumi dan panas bumi Pertambangan dan Penggalian lainnya 45 Barang tambang logam lainnya Pertambangan dan Penggalian lainnya 46 Barang tambang mineral bukan logam Pertambangan dan Penggalian lainnya 48 Barang galian segala jenis Pertambangan dan Penggalian lainnya 47 Garam kasar Industri Makanan, Minuman, dan Temabakau 49 Daging, jeroan dan sejenisnya Industri Makanan, Minuman, dan Temabakau 50 Daging olahan dan awetan Industri Makanan, Minuman, dan Temabakau 51 Makanan dan minuman terbuat dari susu Industri Makanan, Minuman, dan Temabakau 52 Buah-buahan dan sayur-sayuran olahan dan awetan Industri Makanan, Minuman, dan Temabakau 53 Ikan kering dan ikan asin Industri Makanan, Minuman, dan Temabakau 54 Ikan olahan dan awetan Industri Makanan, Minuman, dan Temabakau 55 Kopra Industri Makanan, Minuman, dan Temabakau 56 Minyak hewani dan minyak nabati Industri Makanan, Minuman, dan Temabakau 57 Beras Industri Makanan, Minuman, dan Temabakau 58 Tepung terigu Industri Makanan, Minuman, dan Temabakau 59 Tepung lainnya Industri Makanan, Minuman, dan Temabakau 60 Roti, biskuit dan sejenisnya Industri Makanan, Minuman, dan Temabakau 61 Mie, makaroni dan sejenisnya Industri Makanan, Minuman, dan Temabakau 62 Gula Industri Makanan, Minuman, dan Temabakau 63 Biji-bijian kupasan Industri Makanan, Minuman, dan Temabakau 64 Coklat dan kembang gula Industri Makanan, Minuman, dan Temabakau 65 Kopi giling dan kupasan Industri Makanan, Minuman, dan Temabakau 66 Teh olahan Industri Makanan, Minuman, dan Temabakau 67 Hasil pengolahan kedele Industri Makanan, Minuman, dan Temabakau 68 Makanan lainnya Industri Makanan, Minuman, dan Temabakau 69 Pakan ternak Industri Makanan, Minuman, dan Temabakau 70 Minuman beralkohol Industri Makanan, Minuman, dan Temabakau 71 Minuman tak beralkohol Industri Makanan, Minuman, dan Temabakau 72 Temabakau olahan Industri Makanan, Minuman, dan Temabakau 73 Rokok Industri Makanan, Minuman, dan Temabakau

76 Kode Sektor Klasifikasi 19 Sektor 74 Kapuk bersih Industri Serat (Fiber) 75 Benang Industri Pemintalan Benang (Yarn) 76 Tekstil Industri Kain (Fabric) 79 Pakaian jadi Industri Pakaian jadi (Garment) 77 Tekstil jadi kecuali pakaian Industri Tekstil Lainnya (Other Textile) 78 Barang-barang rajutan Industri Tekstil Lainnya (Other Textile) 80 Permadani, tali dan tekstil lainnya Industri Tekstil Lainnya (Other Textile) 81 Kulit samakan dan olahan Industri Kulit dan Hasilnya 82 Barang-barang dari kulit Industri Kulit dan Hasilnya 84 Kayu gergajian dan awetan Industri Bambu, Kayu, Rotan dan Hasilnya 85 Kayu lapis dan sejenisnya Industri Bambu, Kayu, Rotan dan Hasilnya 86 Bahan bangunan dari kayu Industri Bambu, Kayu, Rotan dan Hasilnya 87 Perabot rumah tangga terbuat dari kayu, bambu dan Industri Bambu, Kayu, Rotan dan Hasilnya rotan 88 Barang-banrang lainnya terbuat dari kayu, gabus, Industri Bambu, Kayu, Rotan dan Hasilnya bambu dan rotan 89 Banrang anyaman kecuali terbuat dari plastik Industri Bambu, Kayu, Rotan dan Hasilnya 90 Bubur kertas Industri Bambu, Kayu, Rotan dan Hasilnya 91 Kerta dan karton Industri Bambu, Kayu, Rotan dan Hasilnya 92 Baang-barang dari kertas dan karton Industri Bambu, Kayu, Rotan dan Hasilnya 93 Barang cetakan Industri Bambu, Kayu, Rotan dan Hasilnya 94 Kimia dasar kecuali pupuk Industri Kimia, Karet, dan Plastik 95 Pupuk Industri Kimia, Karet, dan Plastik 96 Pestisida Industri Kimia, Karet, dan Plastik 97 Damar sintetis, bahan plastik dan serat sintetis Industri Kimia, Karet, dan Plastik 98 Cat, vernis dan lak Industri Kimia, Karet, dan Plastik 99 Obat-obatan Industri Kimia, Karet, dan Plastik 100 Jamu Industri Kimia, Karet, dan Plastik 101 Sabun dan bahan pembersih Industri Kimia, Karet, dan Plastik 102 Barang-barang kosmetik Industri Kimia, Karet, dan Plastik 103 Barang-barang kimia lainnya Industri Kimia, Karet, dan Plastik 104 Barang-barang hasil kilang minyak Industri Kimia, Karet, dan Plastik 105 Gas alam cair (LNG) Industri Kimia, Karet, dan Plastik 83 Alas kaki Industri Kimia, Karet, dan Plastik 106 Karet remah dan karet asap Industri Kimia, Karet, dan Plastik 107 Ban Industri Kimia, Karet, dan Plastik 108 Barang-barang lainnya dari karet Industri Kimia, Karet, dan Plastik 109 Barang-barang plastik Industri Kimia, Karet, dan Plastik

77 Kode Sektor Klasifikasi 19 Sektor 115 Besi dan baja dasar Industri Besi, Baja, dan Logam 116 Barang-barang dari besi dan baja dasar Industri Besi, Baja, dan Logam 117 Logam dasar bukan besi Industri Besi, Baja, dan Logam 118 Barang-barang dari logam dasar bukan besi Industri Besi, Baja, dan Logam 119 Alat-alat dapur, pertukangan dan pertanian dari logam Industri Besi, Baja, dan Logam 120 Perabot rumah tangga dan kantor dari logam Industri Besi, Baja, dan Logam 121 Bahan bangunan dari logam Industri Besi, Baja, dan Logam 122 Barang-banrang logam lainnya Industri Besi, Baja, dan Logam 114 Barang-barang lainnya dari bahan bukan logam Industri Besi, Baja, dan Logam 123 Mesin penggerak mula Industri Mesin,Listrik, dan Perbaikan 124 Mesin dan perlengkapannya Industri Mesin,Listrik, dan Perbaikan 125 Mesin pembangkit dan motor listrik Industri Mesin,Listrik, dan Perbaikan 126 Mesin listrik dan perlengkapannya Industri Mesin,Listrik, dan Perbaikan 127 Barang-barang elektronika, komunikasi dan Industri Mesin,Listrik, dan Perbaikan perlengkapannya 128 Alat-alat listrik untuk rumah tangga Industri Mesin,Listrik, dan Perbaikan 129 Perlengkapan listrik lainnya Industri Mesin,Listrik, dan Perbaikan 130 Baterai dan aki Industri Mesin,Listrik, dan Perbaikan 131 Kapal dan jasa perbaikannya Industri Mesin,Listrik, dan Perbaikan 132 Kereta api dan jasa perbaikannya Industri Mesin,Listrik, dan Perbaikan 133 Kendaraan bermotor kecuali sepeda motor Industri Mesin,Listrik, dan Perbaikan 134 Sepeda motor Industri Mesin,Listrik, dan Perbaikan 135 Alat pengangkut lainnya Industri Mesin,Listrik, dan Perbaikan 136 Pesawat terbang dan jasa perbaikannya Industri Mesin,Listrik, dan Perbaikan 137 Alat ukur, fotografi, optik dan jam Industri Bahan Bangunan, dan lainnya 138 Barang-barang perhiasan Industri Bahan Bangunan, dan lainnya 139 Alat-alat musik Industri Bahan Bangunan, dan lainnya 140 Alat-alat olah raga Industri Bahan Bangunan, dan lainnya 141 Barang-barang indutri lainnya Industri Bahan Bangunan, dan lainnya 144 Bangunan tempat tinggal dan bukan tempat tinggal Industri Bahan Bangunan, dan lainnya 145 Prasarana pertanian Industri Bahan Bangunan, dan lainnya 146 Jalan, jembatan dan pelabuhan Industri Bahan Bangunan, dan lainnya 147 Banguan dan instalasi, listrik, gas dan air bersih dan Industri Bahan Bangunan, dan lainnya komunikasi 148 Bangunan lainnya Industri Bahan Bangunan, dan lainnya 110 Keramik dan barang-barang dari tanah liat Industri Bahan Bangunan, dan lainnya 111 Kaca dan barang-barang dari kaca Industri Bahan Bangunan, dan lainnya 112 Bahan bangunan keramik dan dari tanah liat Industri Bahan Bangunan, dan lainnya 113 Semen Industri Bahan Bangunan, dan lainnya

78 Kode Sektor Klasifikasi 19 Sektor 142 Listrik dan gas Listrik, Gas dan Air Bersih 143 Air bersih Listrik, Gas dan Air Bersih 149 Jasa perdagangan Perdagangan, Hotel dan Restoran 150 Jasa restoran Perdagangan, Hotel dan Restoran 151 Jasa perhotelan Perdagangan, Hotel dan Restoran 152 Jasa angkuatn kereta api Pengangkutan dan Komunikasi 153 Jasa angkutan jalan raya Pengangkutan dan Komunikasi 154 Jasa angkuta laut Pengangkutan dan Komunikasi 155 Jasa angkutan sungai dan danau Pengangkutan dan Komunikasi 156 Jasa angkutan udara Pengangkutan dan Komunikasi 157 Jasa penunjang angkutan Pengangkutan dan Komunikasi 158 Jasa komunikasi Pengangkutan dan Komunikasi 159 Bank Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya 160 Lembaga keuangan lainnya Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya 161 Asuransi dan dana pensiun Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya 162 Sewa bangunan dan sewa tanah Jasa dan Kegiatan Lainnya 163 Jasa perusahaan Jasa dan Kegiatan Lainnya 164 Jasa pemerintahan umum Jasa dan Kegiatan Lainnya 165 Jasa pendidikan pemerintah Jasa dan Kegiatan Lainnya 166 Jasa kesehatan pemerintah Jasa dan Kegiatan Lainnya 167 Jasa pemerintahan lainnya ( jasa hiburan, rekreasi & Jasa dan Kegiatan Lainnya kebudayaan (pemerintah) 168 Jasa pendidikan swasta Jasa dan Kegiatan Lainnya 169 Jasa kesehatan swasta Jasa dan Kegiatan Lainnya 170 Jasa kemasyarakatan lainnya Jasa dan Kegiatan Lainnya 171 Film dan jasa distribusi swasta Jasa dan Kegiatan Lainnya 172 Jasa hiburan, rekreasi & kebudayaan swasta Jasa dan Kegiatan Lainnya 173 Jasa perbengkelan Jasa dan Kegiatan Lainnya 174 Jasa perorangan dan rumah tangga Jasa dan Kegiatan Lainnya 175 Barang dan jasa yang tidak termasuk dimanapun Jasa dan Kegiatan Lainnya 34 Jasa pertanian Jasa dan Kegiatan Lainnya

79 Kode Sektor Klasifikasi 19 Sektor 180 Jumlah Permintaan Antara 190 Jumlah Input Antara 200 Impor 201 Upah dan Gaji 202 Surplus Usaha 203 Penyusutan 204 Pajak Tak Langsung 205 Subsidi 209 Nilai Tambah Bruro 210 Jumlah Input 301 Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga 302 Pengeluaran Konsumsi Pemerintah 303 Pembentukan Modal Bruto 304 Perubahan Stok 305 Ekspor Barang 306 Ekspor Jasa 309 Jumlah Permintaah Akhir 310 Jumlah Permintaan 401 Impor Barang Dagang 402 Pajak Penjualan 403 Bea Masuk 404 Impor Jasa 409 Jumlah Impor 501 Margin Perdagangan Besar 502 Margin Perdagangan Eceran 503 Biaya Pengangkutan 509 Jumlah Margin Perdagangan dan Biaya 600 Jumlah Output 700 Jumlah Penyediaan

80 Lampiran 2 Klasifikasi Sektor Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2008 Berdasarkan Hasil Agregasi Kode Sektor Klasifikasi 19 Sektor 1 Padi Pertanian 2 Tanaman Kacang-kacangan Pertanian 3 Jagung Pertanian 4 Tanaman Umbi-umbian Pertanian 5 Sayur-sayuran dan buah-buahan Pertanian 6 Tanaman makanan lainnya Pertanian 7 Karet Pertanian 8 Tebu Pertanian 9 Kelapa Pertanian 10 Kelapa Swit Pertanian 11 Tembakau Pertanian 12 Kopi Pertanian 13 The Pertanian 14 Cengkeh Pertanian 15 Hasil tanaman serat Pertanian 16 Tanaman perkebunan lainnya Pertanian 17 Tanaman lainnya Pertanian 18 Peternakan Pertanian 19 Pemotongan hewan Pertanian 20 Unggas dan hasil-hasilnya Pertanian 21 Kayu Pertanian 22 Hasil hutan lainnya Pertanian 23 Perikanan Pertanian 24 Penambangan batu bara dan bijih logam Pertambangan dan Penggalian lainnya 25 Penambangan minyak, gas dan panas bumi Pertambangan dan Penggalian lainnya 26 Penambangan dan penggalian lainnya Pertambangan dan Penggalian lainnya 27 Industri pengolahan dan pengawetan makanan Industri Makanan, Minuman, dan Tembakau 28 Industri minyak dan lemak Industri Makanan, Minuman, dan Tembakau 29 Industri penggilingan padi Industri Makanan, Minuman, dan Tembakau 30 Industri tepung, segala jenisnya Industri Makanan, Minuman, dan Tembakau 31 Industri gula Industri Makanan, Minuman, dan Tembakau 32 Industri makanan lainnya Industri Makanan, Minuman, dan Tembakau 33 Industri minuman Industri Makanan, Minuman, dan Tembakau 34 Industri rokok Industri Makanan, Minuman, dan Tembakau

81 Kode Sektor Klasifikasi 19 Sektor 35 Industri Serat (Fiber) Industri Serat (Fiber) 36 Industri Pemintalan Benang (Yarn) Industri Pemintalan Benang (Yarn) 37 Industri Kain (Fabric) Industri Kain (Fabric) 38 Industri Pakaian jadi (Garment) Industri Pakaian jadi (Garment) 39 Industri Tekstil Lainnya (Other Textile) Industri Tekstil Lainnya (Other Textile) 40 Industri Kulit dan Hasilnya Industri Kulit dan Hasilnya 41 Industri bambu, kayu dan rotan Industri Bambu, Kayu, Rotan dan Hasilnya 42 Industri kertas, barang dari kertas dan karton Industri Bambu, Kayu, Rotan dan Hasilnya 43 Industri pupuk dan pestisida Industri Kimia, Karet, dan Plastik 44 Industri kimia Industri Kimia, Karet, dan Plastik 45 Pengilangan minyak bumi Industri Kimia, Karet, dan Plastik 46 Industri barang karet dan plastik Industri Besi, Baja, dan Logam 49 Industri dasar besi dan baja Industri Besi, Baja, dan Logam 50 Industri logam dasar bukan besi Industri Besi, Baja, dan Logam 51 Industri barang dari logam Industri Besi, Baja, dan Logam 47 Industri barang-barang dari mineral bukan logam Industri Besi, Baja, dan Logam 52 Industri mesin, alat-alat dan perlengkapan listrik Industri Mesin,Listrik, dan Perbaikan 53 Industri alat pengangkutan dan perbaikannya Industri Mesin,Listrik, dan Perbaikan 53 Industri barang lain yang belum digolongkan Industri Bahan Bangunan, dan lainnya dimanapun 48 Indutri semen Industri Bahan Bangunan, dan lainnya 54 Bangunan Industri Bahan Bangunan, dan lainnya 55 Listrik, gas dan air bersih Listrik dan Air Minum 56 Perdagangan Perdagangan, Hotel dan Restoran 57 Restoran dan hotel Perdagangan, Hotel dan Restoran 58 Angkutan kereta api Agkutan dan Komunikasi 59 Angkutan darat Agkutan dan Komunikasi 60 Angkutan air Agkutan dan Komunikasi 61 Angkutan udara Agkutan dan Komunikasi 62 Jasa penunjang angkutan Agkutan dan Komunikasi 63 Komunikasi Agkutan dan Komunikasi 64 Lembaga keuangan Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya 65 Usaha bangunan dan jasa perusahaan Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya 66 Pemerintahan umum dan pertahanan Jasa dan Kegiatan Lainnya 67 Jasa sosial kemasyarakatan Jasa dan Kegiatan Lainnya 68 Jasa lainnya Jasa dan Kegiatan Lainnya 69 Kegiatan yang tak jelas batasannya Jasa dan Kegiatan Lainnya

82 Kode Sektor Klasifikasi 19 Sektor 180 Jumlah Permintaan Antara 190 Jumlah Input Antara 200 Impor 201 Upah dan Gaji 202 Surplus Usaha 203 Penyusutan 204 Pajak Tak Langsung 205 Subsidi 209 Nilai Tambah Bruro 210 Jumlah Input 301 Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga 302 Pengeluaran Konsumsi Pemerintah 303 Pembentukan Modal Bruto 304 Perubahan Stok 305 Ekspor Barang 306 Ekspor Jasa 309 Jumlah Permintaah Akhir 310 Jumlah Permintaan 401 Impor Barang Dagang 402 Pajak Penjualan 403 Bea Masuk 404 Impor Jasa 409 Jumlah Impor 501 Margin Perdagangan Besar 502 Margin Perdagangan Eceran 503 Biaya Pengangkutan 509 Jumlah Margin Perdagangan dan Biaya 600 Jumlah Output 700 Jumlah Penyediaan

83 RIWAYAT HIDUP Penulis bernama lengkap Jajang Arif lahir pada tanggal 13 Juni 1991 di Muara Bungo. Penulis merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, dari pasangan Bapak Tanu dan Ibu Een Suhaenda. Penulis mengawali pendidikan di TK Beringin, lalu melanjutkan jenjang pendidikan sekolah dasar di SD Negeri 181/II pada tahun 1997 sampai tahun 2003. Kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 1 Pelepat, dan lulus tahun 2006. Setelah itu, penulis melanjutkan pendidikan menengah atasnya di SMA Negeri 1 Pelepat Ilir dan lulus pada tahun 2009. Pada tahun 2009, penulis diterima di Institut Pertanian Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) dan terdaftar sebagai mahasiswa Program Studi Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Selama menjadi mahasiswa, penulis aktif dalam organisasi Himpunan Profesi dan Peminat Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan (HIPOTESA) menjabat pada divisi D business and Corporation Troops (DISTRO) pada tahun 2012. Penulis juga aktif diberbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh fakultas maupun departemen yaitu pada kegiatan Olimpiade Mahasiswa IPB (OMI) 2011, IPB Art Contest (IAC) 2012, Sportakuler 2012, dan ketua pelaksana Farewell Ilmu Ekonomi 46. Beberapa prestasi yang pernah diraih antar lain meraih juara I Futsal Sportakuler FEM IPB 2011, runner up Futsal Sportakuler FEM IPB 2012, juara I Estafet Sportakuler FEM IPB 2012, delegasi Futsal FEM IPB di FEB UNPAD 2012, Juara umum IE cup 2012 dan 2013, juara Futsal IE cup 2012 dan 2013.