IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
III. BAHAN DAN METODE

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Uji Penolakan. terhadap penolakan hama kutu beras. Namun perlakuan serbuk

BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa jenis insektisida nabati dan waktu aplikasinya

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan pengendalian hama dan penyakit melalui insektisida

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. sirih hijau (Piper betle L.) sebagai pengendali hama Plutella xylostella tanaman

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Kecepatan Kematian. nyata terhadap kecepatan kematian (lampiran 2a). Kecepatan kematian Larva

TINJAUAN PUSTAKA. 1. Biologi Sitophilus oryzae L. (Coleoptera: Curculionidae)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. Vektor demam berdarah adalah Aedes aegypti dan Aedes Albopictus.

MORTALITAS LARVA 58 JAM

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. menghasilkan tingkat penolakan yang tidak berbeda nyata dibandingkan dengan

BAB I PENDAHULUAN. (OPT). Pestisida nabati bersifat mudah terurai (bio-degradable) di alam. dan ternak peliharaan karena residu mudah hilang.

BAB I PENDAHULUAN. yang perlu dikembangkan adalah produk alam hayati (Sastrodiharjo et al.,

Hasil pengamatan awal kematian larva setelah dianalisis sidik ragam. pemberian ekstrak biji jarak berpengaruh tidak nyata terhadap instar Spodoptera

Uji Toksisitas Potensi Insektisida Nabati Ekstrak Kulit Batang Rhizophora mucronata terhadap Larva Spodoptera litura

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Kalshoven (1981) Spodoptera litura F. dapat diklasifikasikan

HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Variabel Hama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun pepaya dengan berbagai

HASIL DAN PEMBAHASAN

UJI EKSTRAK DAUN MIMBA (Azadirachta indica) DAN EKSTRAK DAUN KLUWEK (Pangium edule) TERHADAP KEMATIAN ULAT GRAYAK (Spodoptera sp.

BAHAN DAN METODE. Pestisida, Medan Sumut dan Laboratorium Fakultas Pertanian Universitas Medan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Kendal Payak Balai Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. satu hama daun yang penting karena hama ini bersifat polifag atau mempunyai

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai dengan September 2012

BAB I PENDAHULUAN. mudah ditembus oleh alat-alat pertanian dan hama atau penyakit tanaman

O OH. S2-Kimia Institut Pertanian Bogor PESTISIDA

BAB I PENDAHULUAN. Perlindungan tanaman secara preventif dan kuratif merupakan bagian yang

BAB I PENDAHULUAN. menyerang produk biji-bijian salah satunya adalah ulat biji Tenebrio molitor.

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

TINJAUAN PUSTAKA. Biologi Ulat Api Setothosea asigna Eecke (Lepidoptera: Limacodidae)

BAB I PENDAHULUAN. beriklim tropis dengan jumlah penduduk yang tidak sedikit. Rekapitulasi data kasus hingga 22 Agustus 2011 menunjukkan Case

dari tanaman mimba (Prijono et al. 2001). Mordue et al. (1998) melaporkan bahwa azadiraktin bekerja sebagai ecdysone blocker yang menghambat serangga

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Mortalitas. biopestisida berpengaruh nyata terhadap tingkat mortalitas Tribolium castaneum

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. daerah tropika. Tumbuhan yang termasuk suku polong-polongan ini memiliki

LIA RAMDEUNIA. Aktivitas Ekstrak Daun, Ranting dan Biji Suren (Toona sureni

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu faktor pembatas proses produksi pertanian adalah hama. Hama timbul dan

PENGARUH EKSTRAK ETANOL CABAI MERAH

1 Muhammad Syaifullah Hiola, , Rida Iswati, Fahria Datau, Jurusan Agroteknologi. Fakultas Pertanian Universitas Negeri Gorontalo

BAB I PENDAHULUAN. tersebut padi atau beras mengalami proses penurunan kualitas dan kuantitas.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. Peningkatan produksi kubis di Indonesia banyak mengalami hambatan, di

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. pestisida nabati perasan daun kayu kuning (Arcangelisia flava L.) terhadap

I. PENDAHULUAN. Indonesia menjadi salah satu negara penghasil kakao terbesar di dunia seiring dengan

PENGARUH BIJI SRIKAYA DAN DAUN SIRSAK TERHADAP MORTALITAS Spodoptera litura di LABORATORIUM I. PENDAHULUAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Konsentrasi efektif daun sirih sebagai penolak nyamuk Ae. aegypti pada lengan uji

Pembuatan Pestisida Nabati

BAB I PENDAHULUAN. Beberapa ayat di dalam Al-Qur an menunjukkan tanda-tanda akan

UJI BEBERAPA KONSENTRASI EKSTRAK BIJI PINANG

I. TINJAUAN PUSTAKA. A. Hama Kumbang Beras ( Sitophilus oryzae L.) merugikan dan sulit. Klasifikasi kumbang beras (Sitophilus oryzae L.

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN. Penelitian dengan pemberian ekstrak daun pepaya (Carica papaya L.)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan masyarakat di Indonesia dan menempati urutan pertama di Asia. Pada

I. PENDAHULUAN. lebih dari setengah penduduk menggantungkan hidupnya pada beras yang

BAHAN DAN METODE. Penelitian ini akan dilaksanakan di Rumah Kasa Sentral Pengembangan

BAB I PENDAHULUAN. petani melakukan pencampuran 2 6 macam pestisida dan melakukan

MIMBA SEBAGAI PESTISIDA NABATI Tanaman Mimba

UJI EFIKASI EKSTRAK DAUN MIMBA TERHADAP LARVA DOLESCHALLIA POLIBETE CRAMER (NYMPHALIDAE: LEPIDOPTERA) PADA TANAMAN HANDEULEUM (GRAPTOPHYLLLUM PICTUM)

I. PENDAHULUAN. merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di negara negara

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Mortalitas Larva S. litura Akibat Perlakuan Insektisida Nabati Minyak Biji Jarak Pagar (J.

I. PENDAHULUAN. Tanaman cabai (Capsicum annum L.) merupakan tanaman semusim yang

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Mortalitas dan Kecepatan Kematian. Tingkat mortalitas walang sangit pada aplikasi kontak dengan konsentrasi

I. PENDAHULUAN. khususnya di area persawahan hingga saat ini semakin meningkat, dan dapat

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Jarak cina (Jatropha multifida Linn) sebagai pestisida nabati pengendali hama

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. dataran tinggi pada lahan basah dan lahan kering. Hasil produksi tomat di Indonesia dari tahun

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. adalah lalat bibit (Atherigona sp.), penggerek batang (Ostrinia furnacalis),

KAJIAN TOKSISITAS EKSTRAK DAUN MINT (Mentha arvensis L.) TERHADAP MORTALITAS ULAT KROP KUBIS (Crocidolomia pavonana F.)

I. MATERI DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari-Mei 2014 di Laboratorium. Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Pemberian Pakan beberapa Aksesi Daun Bunga Matahari. terhadap Mortalitas Ulat Grayak (Spodoptera litura F.

I. PENDAHULUAN. Masyarakat luas telah menyadari bahwa pestisida merupakan senyawa yang dapat

I. PENDAHULUAN. yang ditularkan ke manusia dengan gigitan nyamuk Aedes Aegypty.

BAB I PENDAHULUAN. hama. Pertanian jenis sayuran kol, kubis, sawi dan sebagainya, salah satu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

I. PENDAHULUAN. Penyakit demam berdarah dengue (DBD) merupakann penyakit yang. berkaitan erat dengan kenaikan populasi vektor Aedes aegypty.

Angka-angka pada lajur yang diikuti oleh huruf kecil berbeda nyata menurut uji DNMRT pada taraf 5% setelah di transformasi log Y.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pengaruh Dosis Pestisida Nabati Tapak Liman terhadap Mortalitas Larva Ulat Tritip Instar III pada Tanaman Sawi

SEMINAR NASIONAL BASIC SCIENCE II

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

I. PENDAHULUAN. Tanaman padi merupakan salah satu komoditas pangan yang harus

I. PENDAHULUAN. bagi manusia, seperti demam berdarah, malaria, kaki gajah, dan chikungunya

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Usaha produksi pertanian tidak terlepas kaitannya dengan organisme pengganggu

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Komponen Bioaktif, Jurusan

METODOLOGI PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian dilakukan di Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Daya tolak ekstrak daun pandan wangi (P. amaryllifolius) terhadap nyamuk Ae. aegypti pada berbagai konsentrasi.

PENDAHULUAN Latar Belakang

HASIL DAN PEMBAHASAN. Gejala pada Larva S. litura

TINJAUAN PUSTAKA Sifat Insektisida Tephrosia vogelii

PENGARUH EKSTRAK BIJI MIMBA TERHADAP PENEKANAN SERANGAN WERENG BATANG PADI COKLAT

Cetakan I, Agustus 2014 Diterbitkan oleh: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Pattimura

DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. penting bagi penduduk Indonesia yang diperlukan setiap hari. Salah satunya

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

Transkripsi:

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilaksanakan dengan kondisi tempat penyimpanan rata-rata suhu harian 27,05*'C dan kelembaban 84,3%, dengan hasil setiap parameter pengamatan sebagai berikut: 4.1. Awal Kematian Imago (hari) Hasil sidik ragam pada awal kematian imago dapat dilihat pada lampiran 2 yang menunjukkan bahwa aplikasi beberapa pestisida nabati berpengaruh nyata terhadap awal kematian imago. Hasil uji lanjut BNT pada taraf 5% dapat dilihat pada tabel 1. Tabel I. Rerata awal kematian imago dengan pemberian beberapa pestisida nabati (hari) Jenis pestisida nabati Rerata awal kematian imago (hari) PO (Tanpa pestisida) 25,2 b PI (Serbuk Daun bengkuang) 2,4 a P2 (Serbuk Daun mimba) 2,4 a P3 (Serbuk Rimpang jeringau) 2,6 a P4 (Serbuk Rimpang kencur) 2,4 a Angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama adalah berbeda tidak nyata menurut uji lanjut BNT 5%. Data ditransformasi dengan formula log Y Tabel 1 menunjukkan bahwa perlakuan pestisida nabati lebih cepat mematikan imago C. formicarius dibandingkan dengan perlakuan tanpa pestisida nabati. Antara perlakuan pestisida daun bengkuang, daun mimba, rimpang jeringau dan rimpang kencur menunjukkan perbedaan tidak nyata dan berbeda nyata dengan perlakuan tanpa pestisida. Perlakuan pestisida nabati menunjukkan awal kematian imago 2,4 hari-2,6 hari setelah aplikasi pestisida. Hal ini menunjukkan bahwa kandungan bahan aktif masing-masing pestisida nabati dapat mengakibatkan kematian imago setelah molekulnya mencapai sasaran pada tubuh C. formicarius. Menurut Jauharlina (1996) dalam Anonim (2006b), bahwa pemberian dosis 0,8 g daun mimba dapat

23 menekan perkembangan Sithophylus oryzae dan dosis 2-5 g serbuk rimpang jeringau dapat menekan perkembangan S. oryzae. Pestisida daun bengkuang mengandimg bahan aktif rotenon masuk kedalam tubuh serangga melalui sistem pemapasan (inhibitor metabolisme respirasi). Senyawa rotenon masuk melalui spirakel dalam bentuk partikel mikro yang melayang diudara, kemudian menuju pembuluh trakea dan trakeolus sehingga dapat mencapai alat tubuh bagian dalam serangga. Di dalam sel tubuh serangga terjadi pertukaran gas melalui saluran pemapasan sehingga dapat mengakibatkan kematian karena molekul dari pestisida tersebut merusak bagian dalam tubuh serangga (Anonim, 2008f). Bengkuang dengan bahan eiktif rotenone diidentifikasi merupakan senyawa dengan rumus molekul C23H22O dan sangat potensial mengendalikan beberapa hama. Dilaporkan bahwa rotenone bersifat racun pada C. pavonana, P. interpunctella, Idiocerus sp, dan Aonidiella aurantii (Prijono, 2003). Pestisida daun mimba mengandung bahan aktif azadirachtin mempunyai potensi insektisida yang berperan sebagai racun sistemik. Bahan aktif mimba dapat merusak tubuh serangga melalui sistem pemapasan. Azadirachtin merupakan molekul kimia C35H44O16 yang termasuk dalam kelompok triterpenoid (Samsudin, 2008). Menumt Anonim, (2006b) racun mimba dapat mengakibatkan serangga berhenti makan dan dapat mengganggu proses metamorfosis, pertumbuhan dan reproduksi. Bahan aktif rimpang jeringau yaitu asaron dapat mengacaukan sistem saraf pada tubuh serangga, sehingga penyampaian informasi oleh neuron ke saraf pusat tidak tersampaikan dan dapat menyebabkan gangguan pada aktifitas serangga hingga terjadi kematian. Insektisida yang berperan sebagai racun saraf (menghambat penyampaian impuls) dapat menyebar keselumh tubuh serangga dan dapat menyebabkan gangguan pada sistem saraf serangga. Asaron menyerang enzim asetil-kolinesterase yang menyebabkan penumpukan asetil kolin (penghantar impuls dari neuron ke sel otot) pada sistem saraf serangga (Tarumingkeng, 1992 dalam Physon, 2007). Rimpang jeringau memiliki kandungan senyawa bioaktif asaron, senyawa ini mempunyai stmktur kimia mirip

24 golongan amfetamin dan ekstasi. Ekstrak rimpang jeringau toksik terhadap larva Spodoptera litura (Farida, 2008). Menurut Untung (2001), bahwa enzim asetil-kolinesterase berperan dalam sistem saraf sebagai pemecah senyawa asetil-kolin menjadi asam asetat dan kolin, sehingga penyampaian impuls pada sinapsis dapat berkesinambungan. Penumpukan asetil-kolin akibat asaron menyebabkan kekacauan pada sistem penghantaran impuls ke sel-sel otot imago sehingga menyebabkan pesan-pesan tidak dapat diteruskan, otot kejang dan akhimya terjadi kelumpuhan dan mati. Pestisida rimpang kencur mengandung bahan aktif minyak atsiri terpenoid (0,25-1%). Minyak atsiri pada kencur dapat digunakan untuk mengendalikan berbagai jenis serangga tanaman (Anonim, 2007b). Minyak atsiri dari rimpangnya bersifat atraktan yaitu sebagai penarik serangga tetapi bila rimpang kencur di blender dan aroma terhirup ke dalam tubuh serangga melalui spirakel dapat mengakibatkan kematian imago C. formicarius. Bahan aktif pestisida nabati daun bengkuang daun mimba, rimpang jeringau dan rimpang kencur berupa partikel mikro dapat masuk ke dalam tubuh imago melalui spirakel dan berinteraksi dengan bagian sasaran tubuh imago karena aroma dari pestisida tersebut terhirup langsung oleh imago uji. Sehingga dapat mengakibatkan kematian imago C. formicarius. 4.2. Persentase Mortalitas Imago Setiap liari/stoples (%) Hasil sidik ragam persentase mortalitas imago setiap hari pengamatan pada lampiran 2 menunjukkan pengaruh nyata. Hasil rerata persentase mortalitas imago setiap hari dapat dilihat pada tabel 2. Tabel 2. Rerata persentase mortalitas imago setiap hari dengan pemberian beberapa pestisida nabati (%)

25 Jenis pestisida nabati PO (Tanpa pestisida) PI (Serbuk Daun bengkuang) P2 (Serbuk Daun mimba) P3 (Serbuk Rimpang jeringau) P4 (Serbuk Rimpang kencur) Rerata persentase mortalitas imago setiap hari/stoples (%) 0,26 a 1,62 b 2,07 b 1,38 b 1,42 b Angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama adalah berbeda tidak nyata pada uji lanjut BNT 5%. Data telah dikoreksi dengan faktor koreksi Abbot dan ditransformasi dengan formula Arcsin VF Tabel 2 menunjukkan bahwa antara perlakuan pestisida daun bengkuang, daun mimba, rimpang jeringau dan rimpang kencur berbeda tidak nyata, tetapi berbeda nyata dengan perlakuan tanpa pestisida nabati. Hal ini diduga bahwa semua pestisida nabati yang digunakan dapat mengakibatkan kematian imago setiap hari. Perlakuan pestisida daun bengkuang mengakibatkan mortalitas imago setiap hari hingga 1,62%, pestisida daun mimba 2,07%, pestisida rimpang jeringau 1,38% dan pestisida rimpang kencur 1,42%. Persentase mortalitas imago setiap hari pada perlakuan pestisida nabati, diduga daya bunuh racun yang terkandung pada masing-masing pestisida nabati lebih tinggi sehingga mampu membunuh hama C. formicarius. Ekstrak dari daun bengkuang konsentrasi 0,1% dapat mengakibatkan mortalitas dan perpanjangan lama perkembangan larva Crocidolomiapavonana (Martono, 2003 dalam Martono dkk, 2004). Perlakuan pestisida daun mimba cenderung mengakibatkan mortalitas imago setiap hari hingga 2,07%. Hal ini dikarenakan imago tersebut terhambat aktivitas makannya sehingga pertahanan hidupnya berkurang dan akhimya menyebabkan kematian pada imago uji. Bahan aktif azadirachtin yang diisolasi pada tanaman mimba merapakan salah satu contoh senyawa dapat menurunkan aktivitas makan berbagai serangga hama. Pada konsentrasi 1 ppm, azadirachtin mampu menumnkan aktivitas makan larva Spodoptera litura hingga 99% (Pusat Kajian Pengendalian Hama Terpadu, 1999 dalam Saputra, 2007).

26 Perlakuan tanpa pestisida nabati tidak terdapat faktor penghambat dalam aktivitas imago C. formicarius, sehingga imago dapat berkembang dengan baik. Hal ini terlihat bahwa apabila umbi dibelah tampak adanya larva dan pupa di dalam umbi. 4.3. Persentase Mortalitas Imago Kumulatif/stoples (%) Hasil sidik ragam persentase mortalitas imago kumulatif pengamatan pada lampiran 2 yang menunjukkan pengaruh berbeda nyata antar perlakuan. Rerata persentase mortalitas imago kumulatif dapat dilihat pada tabel 3. Tabel 3. Rerata persentase mortalitas imago kumulatif dengan pemberian beberapa pestisida nabati (%) Jenis pestisida nabati Rerata persentase mortalitas imago kumulatif/stoples (%) PO (Tanpa pestisida) 8,00 a PI (Serbuk Daun bengkuang) 57,33 b P2 (Serbuk Daun mimba) 70,00 c P3 (Serbuk Rimpang jeringau) 49,99 b P4 (Serbuk Rimpang kencur) 50,69 b Angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama adalah berbeda tidak nyata pada uji lanjut BNT 5%. Data telah dikoreksi dengan faktor koreksi abbot dan ditransformasi dengan formula Arcsin Tabel 3 menunjukkan bahwa perlakuan pestisida nabati berpengaruh daljim mengendalikan imago C. formicarius, hal ini terlihat bahwa pada perlakuan pestisida nabati berbeda nyata dengan perlakuan tanpa pestisida nabati. Perlakuan pestisida daun bengkuang, rimpang jeringau dan rimpang kencur berbeda nyata dengan perlakuan pestisida daun mimba. Pestisida nabati daun mimba mempunyai kemampuan yang lebih tinggi dalam mematikan hama C. formicarius yaitu hingga mencapai 70,00%. Hal ini menunjukkan bahwa kandungan azadirachtin yang terdapat pada daun mimba lebih baik dalam menekan perkembangan imago C. formicarius. Bahan aktif mimba azadirachtin efektif mencegah makan (antifeedant) bagi serangga, membuat serangga mandul karena dapat mengganggu produksi hormon dan pertumbuhan serangga.

27 mencegah terjadinya pergantian kulit larva, menurunkan produksi telur pada serangga betina dan mencegah serangga betina meletakkan telur (Suirta dkk, 2007). Ekstrak yang dibuat dari mimba dapat digunakan untuk mengendalikan berbagai jenis hama seperti Helopeltis sp, ulat jengkal. Aphis sp, Nilaparvata sp dan Sitophilus sp (Wiryowidagdo, 2002 dalam Suirta dkk, 2007). Perlakuan pestisida nabati daun bengkuang, daun mimba, rimpang jeringau dan rimpang kencur tidak terjadi kematian imago hingga 100% sehingga terdapat beberapa imago yang masih hidup dan dapat menghasilkan telur. Hal ini diduga keefektifan pestisida nabati yang semakin menurun, turunnya keefektifan pestisida nabati diduga residu pestisida yang semakin rendah dan karena sifat pestisida nabati tersebut yang mudah terdegradasi oleh faktor alam seperti suhu dan kelembaban. 4.4. Lethal Time 50% (LTjo) (jam) Hasil sidik ragam pada pengamatan lethal time 50% dapat dilihat pada lampiran 2 yang menunjukkan bahwa aplikasi beberapa pestisida nabati berbeda tidak nyata terhadap lethal time 50%. Hasil uji lanjut BNT pada taraf 5% dapat dilihat pada tabel 4. Tabel 4. Rerata Lethal Time 50% (jam) dengan pemberian beberapa pestisida nabati (jam) Jenis pestisida nabati Rerata Lethal time 50% 0am) PO (Tanpa pestisida) 0,00 a PI (Serbuk Daun bengkuang) 134,4 b P2 (Serbuk Daun mimba) 235,2 c P3 (Serbuk Rimpang jeringau) 201 be P4 (Serbuk Rimpang kencur) 283,2 c Angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama adalah berbeda tidak nyata pada uji lanjut BNT 5%. Data telah ditransformasi dengan formula log Y Tabel 4 menunjukkan bahwa Lethal time 50% (LT50) C. formicarius pada perlakuan pestisida daun bengkuang berbeda tidak nyata dengan perlakuan pestisida rimpang jeringau dan berbeda nyata dengan perlakuan pestisida daun

28 mimba dan rimpang kencur. Hal ini menunjukkan bahwa masing-masing perlakuan pestisida nabati dapat mematikan imago uji sebanyak 50% dari total investasi imago uji. Kandungan bahan aktif yang terdapat pada setiap pestisida nabati yang di gunakan mempunyai keampuhan untuk membunuh hama C. formicarius sebanyak 50% dalam waktu yang berbeda. Perlakuan pestisida nabati yang lebih cepat mematikan imago uji hingga 50% adalah pada perlakuan pestisida daun bengkuang yaitu 134,4 jam setelah aplikasi. Hal ini diduga pada racun yang terdapat pada daun bengkuang sudah mulai bereaksi dari awal aplikasi sehingga pada waktu tersebut imago uji yang mati lebih cepat mencapai 50%. Sedangkan perlakuan tanpa pestisida tidak terjadi kematian imago hingga 50% sampai akhir pengamatan. Hal ini dikarenakan tidak adanya aplikasi pestisida nabati dan ditunjukkan dengan banyaknya larva dan pupa didalam umbi yang berubah menjadi generasi baru C. formicarius. 4.5. Jumlah Telur Pada Umbi (butir/stoples) Hasil pengamatan jumlah telur C. formicarius pada umbi ubi jalar adalah sebagai berikut: Tabel 5. Rerata jumlah telur pada umbi dengan pemberian beberapa pestisida nabati (butir/stoples) Jenis pestisida nabati Rerata jumlah telur pada umbi(butir/stoples) PO (Tanpa pestisida) 35,5 PI (Serbuk Daun bengkuang) 48 P2 (Serbuk Daun mimba) 8 P3 (Serbuk Rimpang jeringau) 28,5 P4 (Serbuk Rimpang kencur) 18 Data tidak di analisis secara statistik. Tabel 5 terlihat bahwa jumlah telur C. formicarius yang paling sedikit dihasilkan adalah pada perlakuan pestisida daun mimba yaitu 8 butir telur/stoples diikuti oleh pestisida rimpang kencur yaitu 18 butir telur/stoples, pestisida rimpang jeringau yaitu 28,5 butir telur/stoples, sedangkan pada pestisida daun

29 bengkuang terlihat jumlah telur yang dihasilkan lebih banyak dari perlakuan tanpa pestisida. Hal ini diduga telur pada perlakuan tanpa pestisida sudah banyak yang menetas menjadi larva sehingga jumlah telur yang ditemukan lebih sedikit, sedangkan pada perlakuan pestisida daun bengkuang diduga dapat memperlambat proses penetasan telur sehingga telur yang ditemukan lebih banyak. Sedikitnya jumlah telur yang dihasilkan pada perlakuan pestisida daun mimba yaitu hanya 8 butir telur/stoples, ini diduga karena imago C. formicarius pada perlakuan pestisida daun mimba banyak yang mati akibat partikel mikro dari pestisida tersebut dan hal ini juga dipengaruhi oleh bahan aktif pestisida tersebut yang dapat menghambat dalam peletakan telur, sehingga imago C. formicarius tidak banyak menginfestasi telur pada umbi. Menurut Schmutterer, (1990) dalam Martono dkk, (2004) bahwa ekstrak daun dan biji mimba dengan bahan aktif utama azadirachtin dapat menimbulkan berbagai pengaruh pada serangga, gangguan perkembangan, penurunan keperidian dan ketahanan hidup serta hambatan aktivitas peletakan telur. Gambar 14: Telur C. formicarius - Perlakuan pestisida daun bengkuang menyebabkan jumlah telur yang ditemukan adalah 48 butir telur/stoples lebih banyak dari perlakuan lainnya. Hal ini diduga karena imago C. formicarius sebelum mati mampu meletakkan telur terlebih dahulu pada umbi sehingga telur yang ditemukan pada perlakuan pestisida daun bengkuang lebih banyak. Diduga bahan aktif bengkuang yaitu rotenone dapat mematikan hama tetapi memerlukan beberapa hari untuk bisa

30 mematikan hama dan sampai akhir pengamatan tidak semua imago uji pada perlakuan pestisida daun bengkuang mati, sehingga aktifitas peletakan telur tetap berjalan sampai hama tersebut mati. Hama akan mati bila partikel mikro dari pestisida tersebut masuk kedalam tubuh serangga karena sifat dari bahan aktif rotenon yang berperan sebagai penghambat respirasi sel. Selain itu senyawa rotenon dari bengkuang kemungkinan tidak mempengaruhi atau menghambat peletakan telur hama C. formicarius. Perlakuan tanpa pestisida lebih sedikit telur yang ditemukan daripada perlakuan pestisida daun bengkuang, hal ini diduga pada perlakuan tanpa pestisida telur sudah banyak yang menetas menjadi larva karena penghitungan jumlah telur dilakukan pada akhir pengamatan dan pada perlakuan tanpa pestisida tidak adanya suatu partikel penghambat dalam proses metamorfosis, sehingga proses metamorfosis lebih cepat. Pada kondisi laboratorium imago C. formicarius lebih cepat proses perkembangbiakannya, hal ini diduga suhu ruangan yang sesuai untuk perkembangbiakan hama tersebut. 4.6. Jumlah Lubang Pada Permukaan Umbi (buah/umbi/stoples) Hasil sidik ragam pada pengamatan menghitung jumlah lubang pada permukaan umbi dapat dilihat pada lampiran 2 yang memberikan pengaruh berbeda nyata. Hasil uji lanjut BNT 5% dapat dilihat pada tabel 6. Tabel 6. Rerata jumlah lubang pada permukaan umbi(buah/umbi/stoples)dengan pemberian beberapa pestisida nabati Jenis pestisida nabati Rerata jumlah lubang pada permukaan umbi (buah/umbi/stoples) PO (Tanpa pestisida) 844,40 d PI (Serbuk Daun bengkuang) 706,90 be P2 (Serbuk Daun mimba) 604,40 a P3 (Serbuk Rimpang jeringau) 615,30 ab P4 (Serbuk Rimpang kencur) 736,60 cd Angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama adalah berbeda tidak nyata pada uji lanjut BNT 5%. Dan telah ditransformasi dengan formula log Y

31 Tabel 6 menunjukkan bahwa jumlah lubang pada permukaan umbi dengan perlakuan pestisida daun mimba paling sedikit dan tidak berbeda nyata dengan perlakuan pestisida rimpang jeringau tetapi perlakuan pada daun mimba berbeda nyata dengan perlakuan pestisida daun bengkuang dan pestisida rimpang kencur. Rendahnya lubang gerekan pada perlakuan pestisida daun mimba dikarenakan kandungan bahan aktif pestisida nabati yaitu azadirachtin yang mampu menghambat perkembangan C. formicarius dan dapat mengurangi nafsu makan sehingga lubang gerekan imago semakin menurun. Pestisida daun mimba selain azadirachtin yaga terdapat beberapa komponen lain yang diketahui sebagai pestisida nabati yaitu salannin, nimbinen dan meliantriol (Anon, 1992 dalam Martono dkk, 2004). Salannin berperan sebagai penurun nafsu makan {antifeedant) yang mengakibatkan daya rusak serangga sangat menurun walaupun serangganya sendiri belum mati. Oleh karena itu, dalam penggunaan pestisida nabati dari mimba sering kali hamanya tidak mati seketika setelah aplikasi {knock down). Namun demikian, hama tersebut daya rusaknya sudah sangat menurun karena dalam keadaan sakit. Meliantriol berperan sebagai penolak serangga {repellent) yang mengakibatkan hama enggan mendekati produk tersebut. Nimbinen berperan sebagai anti mikroorganisme seperti bakterisida, fungisida sangat bermanfaat untuk digunakan dalam mengendalikan penyakit tanaman.(anonini, 2006b). Perlakuan pestisida rimpang jeringau berbeda tidak nyata dengan perlakuan pestisida daun mimba, hal ini diduga pestisida rimpang jeringau mengandung asaron dan metil eugenol yang bekerja sebagai antifeedant (penurun nafsu makan) (Jauharlina, 1996). Sementara perlakuan pestisida rimpang kencur berbeda nyata dengan perlakuan pestisida daun mimba dan rimpang jeringau, hal ini diduga pestisida rimpang kencur tidak mempengaruhi aktifitas makan sampai imago itu mati sehingga pada perlakuan pestisida rimpang kencur lebih banyak terdapat lubang gerekan.

Gambar 15: a. Lubang gerekan C. formicarius b. Larva C. formicarius didalam lubang gerekan