PENDEKATAN KALKULASI BIAYA

dokumen-dokumen yang mirip
Analisa Nilai Agunan Rumah Tinggal Jl. Gebang Lor No.62 Surabaya

ANALISA NILAI PASAR SPBU PT. SUMBER KURNIA MANDIRI JALAN BALAS KLUMPRIK SURABAYA

Pengertian Umum Penilaian

ANALISA NILAI AGUNAN RUMAH TINGGAL JL. RANGKAH VI TAMBAKSARI SURABAYA

Analisa Nilai Agunan Rumah Tinggal Jl. Gebang Lor No.62 Surabaya

ANALISA HARGA PASAR OFFICE TOWER CITY OF TOMORROW SURABAYA BERDASARKAN METODE PERBANDINGAN DATA PASAR DAN METODE PENDEKATAN BIAYA

PETUNJUK TEKNIS PENILAIAN PROPERTI

ANALISIS NILAI AGUNAN RUMAH TINGGAL JL. SEMOLOWARU SELATAN XII SURABAYA

Analisa Nilai Agunan Rumah Tinggal di Medokan Asri Utara XII Surabaya

Pengertian aset tetap (fixed asset) menurut Reeve (2012:2) adalah :

ANALISA NILAI PASAR HOTEL SAHID SURABAYA

BERITA ACARA SURVEI LAPANGAN NOMOR: BASL-..(2).. / (3)../.(4) Berita Acara ini dibuat dengan sebenarnya

BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN. Perbandingan Perlakuan Akuntansi PT Aman Investama dengan

BAB IV PEMBAHASAN. CV Scala Mandiri akan memperoleh beberapa manfaat, antara lain: 1. Dapat menyusun laporan keuangannya sendiri.

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 185/PMK.06/2009 TENTANG PENILAIAN ASET BEKAS MILIK ASING/CINA DAN BENDA CAGAR BUDAYA

1 PENDAHULUAN. 1.1 Identitas Pemberi Tugas

Rumah Tinggal yang terletak di Jalan Ibi Kasan No. 02, Kelurahan Langkai, Kecamatan Pahandut, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah.

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORITIS

30/06/2010 MARKETABLE SECURITIES STOCKS BONDS NERACA SHORT-TERM INVESTMENTS STOCKS BONDS OTHER SECURITIES LONG-TERM INVESTMENTS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Pengertian Aktiva Tetap Tanaman Menghasilkan. menghasilkan, ada beberapa defenisi yang dikemukakan oleh beberapa ahli.

TIN205 - Ekonomi Teknik Materi #14 Genap 2014/2015 TIN205 EKONOMI TEKNIK

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN

Konsep & Prinsip Umum Penilaian (KPUP)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

ANALISA NILAI PASAR PABRIK TEPUNG TERIGU PT. PAKINDO JAYA PERKASA SIDOARJO

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Soemarso S.R

Pendekatan Kalkulasi Biaya DIREKTORAT JENDERAL KEKAYAAN NEGARA DIREKTORAT PENILAIAN

BAB II KAJIAN TEORITIS. Terdapat beberapa definisi mengenai analisis, yaitu:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI. Akuntansi yang mengatur tentang aset tetap. Aset tetap adalah aset berwujud yang

BAB II BAHAN RUJUKAN

PENDEKATAN DATA PASAR DIREKTORAT PENILAIAN DIREKTORAT JENDERAL KEKAYAAN NEGARA KEMENTERIAN KEUANGAN

ANALISIS PENILAIAN PROPERTI BERUPA RUMAH TINGGAL DI PERUMAHAN CITRALAND CITY SAMARINDA PADA KJPP. AKSA, NELSON & REKAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

ANALISIS PENILAIAN PROPERTI RUMAH TINGGAL DI PERUMAHAN CITRALAND CITY SAMARINDA PADA KJPP. AKSA, NELSON & REKAN. Oleh : Heriyanto dan Dina Mustika

1. Marketing-related intangible asset, contoh: trademark, tradename, brand, logo

BAB II LANDASAN TEORITIS

PENILAIAN UNTUK PELAPORAN KEUANGAN

BAB II BAHAN RUJUKAN

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 185/PMK.06/2014 TENTANG

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Soemarso S.R

ANALISA NILAI PASAR HOTEL PURI AYU DENPASAR. Oleh; M. Arimba Arya Nugroho ( )

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN. 4.1 Analisis Kondisi Perseroan Sesuai Dengan Standar Akuntansi Yang Ada

Pendekatan Pendapatan

Efek Inflasi Inflasion Effect

AKTIVA TETAP BERWUJUD

DEPRESIASI DAN PAJAK PENDAPATAN

2015, No Alat Utama Sistem Senjata di lingkungan Kementerian Pertahanan dan Tentara Nasional Indonesia; Mengingat: 1. Undang-Undang Nomor 3 Ta

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENGANTAR. 1.1 Latar Belakang. infrastruktur dijadikan sebagai modal sosial oleh masyarakat. Semakin baik jaringan

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 14 PERSEDIAAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II DASAR TEORI. produk/jasa yang dihasilkannya. Untuk menyampaikan produk yang ada ke tangan

BAB III PEMBAHASAN. Aktiva tetap memiliki pengertian yang berbeda-beda tapi pada prinsipnya

AKTIVA TETAP DAN AKTIVA TAK BERWUJUD (Plant Assets and Intangible Assets)

BAB II LANDASAN TEORI. Istilah kredit berasal dari bahasa yunani (credere) yang berarti. disepakati yaitu dapat berupa barang, uang, atau jasa.

BAB III TOPIK PENELITIAN. aktiva tetap yang dilakukan PT. Agung Sumatera Samudera Abadi. Berdasarkan

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Fees Warren

BAB II LANDASAN TEORITIS

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Petunjuk Teknis PENILAIAN UNTUK TUJUAN LELANG (SPI 366)

BAB II LANDASAN TEORI. equipment, machinery, building, and land.

BAB III SISTEM AKUNTANSI PENYUSUTAN ASET TETAP BERWUJUD PADA PT HERFINTA FRAM AND PLANTATION

BAB I PENDAHULUAN. dikelolanya. Aset merupakan bagian terpenting dalam kegiatan pemerintahan,

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN KEUANGAN. Sumber Daya Alam. Penilaian.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN TEORI. jangka waktu kurang dari 1 tahun (seperti tagihan) modal, semua milik usaha yang

Eksposur Draft. Petunjuk Teknis PENILAIAN UNTUK TUJUAN LELANG (SPI 366)

PERNYATAAN ANTI PLAGIAT..

PENILAIAN BMN NON TANAH DAN BANGUNAN DALAM RANGKA PENGHAPUSAN BMN DENGAN TINDAK LANJUT PENJUALAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN BIAYA

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2 c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Penilaian Bara

LAMPIRAN. Lampiran 1.1 : Format Laporan Aktivitas Entitas akibat Perubahan Standar IFRS

BAB II LANDASAN TEORITIS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH I

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

ANALISIS PROPERTI RUMAH TINGGAL SEBAGAI AGUNAN DENGAN METODE PENILAIAN APPRAISAL

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. (resource) yang ada. Yang dimaksud dengan sumber daya (resource) di sini

BAB II LANDASAN TEORI. tugas akhir ini. Hal ini sangat penting karena teori-teori tersebut digunakan

WALIKOTA YOGYAKARTA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR : 91 TAHUN 2014 TENTANG

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Carl (2015:3), Akuntansi (accounting) dapat diartikan sebagai

BAB II LANDASAN TEORI

2.1.2 Tujuan Akuntansi Biaya Menurut Mulyadi (2007:7) akuntansi biaya mempunyai tiga tujuan pokok yaitu:

I. GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PEMBELAJARAN DTSS PENILAIAN PROPERTI DASAR

Transkripsi:

PENDEKATAN KALKULASI BIAYA (COST APPROACH) Pendekatan biaya (cost approach) umumnya digunakan sebagai salah satu pendekatan yang umum dalam praktek penilaian di Indonesia. Pendekatan biaya pada penilaian real estate merupakan kombinasi penjumlah nilai pasar tanah ditambah biaya penggantian/pembuatan baru atas bangunan dikurangi penyusutan fisik dan segala bentuk keusangan yang ada. Prosedur pendekatan kalkulasi biaya umumnya dapat dilihat sebagai berikut : 1. Tentukan Nilai Tanah dalam keadaan kosong dengan memperhatikan prinsip Pemanfaatan Tertinggi dan Terbaik/HBU 2. Tentukan Biaya reproduksi atau penggantian pada tanggal efektip (termasuk biaya langsung, tak langsung & biaya lainnya) 3. Hitung besarnya penyusutan atas dasar penyusutan fisik, kemunduran fungsi dan ekonomis (eksternal) 4. Kurangkan/hilangkan Biaya Reproduksi /Penggantian dengan total penyusutan yang ada 5. Tambahkan Nilai aset pengembangan lainnya 6. Jumlahkan Nilai tanah terhadap seluruh Biaya reproduksi/penggantian yg terdepresiasi MARKET VALUE = REPRODUCTION/REPLACEMENT COST OF THE SUBJECT PROPERTY S IMPROVEMENTS AS IF NEW ACCRUED DEPRECIATION ON THE IMPROVEMENTS LAND VALUE 1 Pendekatan Penilaian Aset

Biaya reproduksi dan atau penggantian dapat dipahami sebagai berikut : Biaya Reproduksi : Biaya yang dibutuhkan untuk membangun dengan menggunakan harga yang berlaku pada saat penilaian dilakukan, yang merupakan duplikat atau replika dari properti yang dinilai, dengan menggunakan bahan-bahan, standar konstruksi, rancangan, denah dan kualitas perkerjaan yang sama dan menyatukan semua kekurangan, kelebihan dan kemunduran fisik bangunan Biaya Penggantian : Perkiraan biaya untuk membangun dengan menggunakan harga yang berlaku pada saat penilaian dilakukan dimana bangunan yang dinilai menggunakan bahan-bahan moderen serta standard dengan rancangan masa kini Unsur-unsur biaya yang digunakan meliputi Biaya Langsung ; merupakan biaya bahan dan upah. Biaya ini juga dapat dibagi kepada Biaya struktur dan biaya komponen material, termasuk ijin bangunan. Biaya Tak Langsung ; meliputi biaya perencanaan, pengawasan, Asuransi, IDC dan Jasa Kontraktor Teknik atau metode untuk menghitung Biaya Reproduksi/Penggantian tersebut di atas dapat dilakukan dengan menggunakan salah satu dari 4 (empat) metode berikut ini : Metode Survey Kuantitas (Quantity Survey Method) Metode Unit Terpasang (Unit In Place Method) Metode Meter Persegi (Square Meter Method) Metode Indeks Biaya (Index Method) PENYUSUTAN/DEPRESIASI Penyusutan atau Depresiasi adalah salah satu tahapan yang penting digunakan dalam pelaksanaan penilaian dengan menggunakan Pendekatan Kalkulasi Biaya (Cost Approach). Penyusutan memiliki perbedaan pemahaman untuk penggunaan yang berbeda. Pada pendekatan Kalkulasi Biaya, penyusutan memberikan pengertian pada besarnya perbedaan diantara nilai properti (seperti bangunan) dengan biaya pembuatan/penggantian baru atas properti tersebut. Untuk penggunaan lain seperti keperluan akuntansi penyusutan dapat dipahami berbeda dan sering dipengaruhi kepada ketentuan perpajakan. 2 Pendekatan Penilaian Aset

International Valution Standards 2000 (IVS-2000) menyebutkan Istilah penyusutan dipergunakan dalam penilaian maupun akuntansi dan dapat menyebabkan kesalahpahaman. Untuk mencegah kesalahpahaman, Penilai dapat mempergunakan istilah penyusutan atau istilah accrued depreciation dalam metode biaya pengganti atau reproduksi baru untuk merujuk pada pengurangan nilai dari total biaya baru. Kerugian tersebut dapat dikategorikan sebagai kerusakan fisik, atau kemunduran fungsional atau kemunduran eksternal. Dalam akuntansi Istilah accrual for depreciation menggambarkan pengurangan (pengeluaran) dari biaya perolehan aktiva semula di bawah konvensi biaya historis, tanpa memandang dasar atas pengeluaran tersebut. Bagi Penilai, penyusutan merupakan fungsi dari pasar. Accrual for depreciation merupakan fungsi dari konvensi akuntansi dan tidak selalu mencerminkan keadaan atau situasi pasar. The Appraisal of Real Estate, edisi ke-12 mendefinisikan Penyusutan (Depreciation) sebagai : Perbedaan diantara Nilai Pasar dari suatu Pengembangan tanah (bangunan dan sejenisnya) dan Biaya pembuatan atau penggantian kembali (baru) pada tanggal penilaian. Selisih Biaya yang telah disusutkan tersebut merupakan indikasi yang memberikan konstribusi terhadap Nilai Pasar dari properti (bangunan tersebut) Porsi Depresiasi Biaya Pembuatan atau Penggantian Kembali atas Bangunan = Depresiasi Kontribusi Nilai dari Bangunan Dalam mengestimasi besarnya penyusutan, terdapat 3 (tiga) kategori penyusutan secara utama perlu diketahui terdiri dari ; 1). Penyusutan Fisik, 2). Kemunduran Fungsi dan 3). Kemunduran Eksternal (Ekonomis). 1) Penyusutan Fisik (Physical Deterioration) Penyusutan fisik dapat disebabkan oleh beberpa faktor, diantaranya ; pengaruh dari penggunaan dan kerusakan yang tidak biasanya serta pengaruh dari elemen bahan atau konstruksi. Dalam arti umum, penyusutan fisik sebagian besar dipengaruhi oleh umurnya, pemeliharaan dan intensitas pemakaiannya. Dengan demikian, estimasi 3 Pendekatan Penilaian Aset

penyusutan fisik dapat direfleksikan dari kondisi yang terjadi atas komponen bangunan (aktiva lainnya) secara terinci. 2) Kemunduran Fungsi (Functional Obsolescence) Kemunduran Fungsi lebih dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya : struktur bangunan yang tidak benar, kekurangan atau kelebihan design/rancangan (design yang tidak lazim) dan kemunduran teknologi. Contoh dari kemunduran fungsi dapat dilihat pada suatu rumah tinggal tipe 70 tetapi memiliki luas ruang garasi 5 m x 5 m (25 m2) padahal pada umumnya ukuran garasi yang normal 3 m x 4 m (12 m2). Contoh lain, pada rumah tinggal berlantai dua memiliki tiang/kolom beton dengan kuran 40 cm x 40 cm, sedangkan umumnya menurut teknis perencanaan yang wajar adalah 30 cm x 30 cm. 3) Kemunduran Eksternal (External Obsolescence) Kemunduran Eksternal yang juga sering disebut kemunduran ekonomis lebih disebabkan oleh faktor-faktor laus yang mempengaruhi nilai properti seperti faktor ekonomi, sosial, kebijakan pemerintah dan lingkungan. Ada dua hal yang dapat diketahui dari penyusutan ini 1). kemunduran lokasi dan 2). kemunduran ekonomis. Lokasi berpengaruh bila terjadi perubahan yang disebabkan oleh perubahan peruntukan suatu lingkungan. Contohnya, rumah tinggal yang awalnya sebelumnya memiliki lingkungan yang baik, namun dengan adanya pembangunan pabrik didekat lokasi tersebut mengakibatkan pendapatan sewa dari rumah tinggal tersebut menurun. Sedangkan kemunduran ekonomi dapat mempengaruhi kondisi pasar dalam arti permintaan dan penawaran pasar. Contohnya akibat krisis moneter, terjadi perubahan yang cukup signifikan terhadap permintaan dan penawaran rumah tinggal di Indonesia. METODE PERHITUNGAN DEPRESIASI Metode penyusutan memiliki pengaruh langsung terhadap basis nilai yang akan dikeluarkan. Untuk beberapa keperluan penggunaan laporan penilaian, pasar memerlukan basis nilainya Nilai Pasar (Market Value). Hal ini juga berpedoman kepada Standar Penilaian Indonesia - 2002 (SPI 4.3.3) yang menyebutkan Semua metode, teknik dan prosedur untuk memperkirakan Nilai Pasar jika dipakai secara tepat dan didasarkan pada kriteria pasar, seharusnya mampu menghasilkan Nilai Pasar. Pendekatan 4 Pendekatan Penilaian Aset

perbandingan pasar seharusnya berdasar kepada riset pasar. Biaya konstruksi dan depresiasi seharusnya ditentukan oleh hasil analisis perkiraan biaya konstruksi dan depresiasi yang ada di pasar. Pada kondisi bukti pasar tidak mendukung untuk menghasilkan nilai pasar, maka dapat digunakan basis nilainya DRC yang mana format perhitungannya sama dengan pendekatan kalkulasi biaya. Namun nilai tanah diperoleh dari nilai pasar untuk penggunaan yang ada (market value for existing use). Dalam menghitung depresiasi, terdapat 3 (tiga) metode yang dapat digunakan. Diantaranya : Metode Ekstrasi Pasar (The market extraction method) Metode Umur Hidup (The age-life method) Metode Terinci (Breakdown method) Metode Ekstrasi dan metode Umur Hidup merupakan dua metode utama yang sering digunakan para penilai untuk menghitung besarnya penyusutan. Sedangkan metode terinci (breakdown method) adalah metode yang lebih komprehensip dibanding dari kedua metode lainnya, karena metode ini merinci secara khusus elemen penyusutan satu persatu secara terpisah (bandingkan dengan metode age-life). Metode ekstrasi pasar dikembangkan dari suatu perhitungan depresiasi atas dasar data pasar yang sebanding dengan menghitung selisih perbedaan diantara nilai transaksi atas properti bangunan setelah dikeluarkan nilai pasar tanahnya dengan Biaya penggantian/pembuatan baru dari properti pada tanggal yang ditentukan. Metode umur hidup (age-life) adalah metode yang dapat dihitung dari perbandingan umur efektip terhadap umur ekonomis bangunan yang ada pada tanggal yang ditentukan. Perbandingan antara usia efektip terhadap total umur ekonomis mencerminkan sejauh mana suatu bangunan telah terdepresiasi. Hasilnya dikalikan kepada Biaya pembuatan/penggantian baru pada tanggal yang sama. 5 Pendekatan Penilaian Aset

Metode terinci (breakdown) adalah salah satu metode yang menyeluruh dengan melakukan perhitungan terhadap komponen-koponen bangunan secara terinci yang dapat diestimasi dengan metode market extraction maupun metode age-life. Metode Ekstrasi Pasar Metode ini memiliki keunggulan dan keterbatasan seperti : Dapat memberikan estimasi depresiasi berdasarkan data pasar yang dapat dipercaya sepanjang data-data penjualan mencukupi, sejenis dan sebanding Metode ini sangat tergantung kepada data pembandng yang sejenis dan kesamaan jenis properti Metode ini sangat ditentukan oleh keakuratan dari estimasi nilai pasar tanah dan estimai biaya buat/ganti baru dari properti seperti bangunan Prosedur dalam menggunakan metode ini adalah sebagai berikut : 1) Memferifikasi data penjualan dari properti pembanding yang memiliki persamaan dengan subjek properti yang dinilai. 2) Melaklukan penyesuaian terhadap data pembanding tersebut dengan faktor-faktor yang mempengaruhi seperti hak kepemilikan, pembiayaan, fisik, lokasi dan kondisi penjualan. 3) Untuk mendapatkan biaya terdepresiasi dari suatu bangunan, nilai tanah harus dikurangi dari harga jual setiap properti pembanding bersamaan dengan saat penjualan dilakukan. 4) Estimasi biaya perbaikan untuk tiap properti pembanding dilakukan pada saat penjualan berlangsung. Biaya penggantian ulang (replacement cost) yang digunakan harus sama dengan yang digunakan subek properti. 5) Kurangi Biaya terdepresiasi (Depreciated cost) untuk setiap bangunan dari biaya penggantian bangunan sehingga dihasilkan total penyusutan dalam bilangan mata uang (rupiah). Apabila terdapat penyesuaian dalam harga jual untuk bagian-bagian yang dapat diperbaiki, maka dperesiasi ini akan mencakup semua bentuk depresiasi baik yang curable maupun incurable maupun yang disebabkan oleh depresiasi fisik, kemunduran fungsi dan kemunduran eksternal. 6) Estimasi depresiasi dalam bentuk mata uang tersebut selanjutnya dikonversi ke satuan persentase dengan jalan membagi tiap estimasi dari total depresiasi dengan biaya baru. 6 Pendekatan Penilaian Aset

7) Apabila terdapat perbedaan antara beberapa data pembanding maupun subjek properti yang dinilai (misal umur, lokasi dan perawatan) maka, perlu dilakukan perhitungan besarnya persentase untuk tiap-tiap pembanding dengan jalan membagi jumlah persentase total penyusutan terhadap umur aktual bangunan untuk masingmasing pembanding. 8) Selanjutnya dalam penentuan akhir, diantara range tingkat penyusutan dari data pembanding yang telah dihasilkan dipilih tingkat penyusutan atas subjek properti yang dinilai dengan alasan yang wajar. Contoh 1 berikut ini menunjukkan gambaran penentuan besarnya depresiasi dengan menggunakan pembanding yang mendekati sama dan sejenis. Contoh 1 Uraian Penjualan 1 Penjualan 2 Penjualan 3 Harga Jual 450,000,000.00 410,000,000.00 550,000,000.00 Dikurangi Nilai Tanah 262,500,000.00 238,000,000.00 308,000,000.00 Depresiasi Biaya Bangunan 187,500,000.00 172,000,000.00 242,000,000.00 Biaya Reproduksi/ Replacement Bangunan 225,000,000.00 207,000,000.00 294,500,000.00 Dikurangi Depresiasi Biaya Bangunan (187,500,000.00) (172,000,000.00) (242,000,000.00) Total Depresiasi (Rp.) 37,500,000.00 35,000,000.00 52,500,000.00 Total Depresiasi (%) 16.67% 16.91% 17.83% Range 16,91 % - 17,83% Kesimpulan Total Depresiasi 17% Metode Umur Hidup (Age-Life Method) Metode ini memiliki keunggulan dan keterbatasan seperti : Metode adalah satu metode yang paling mudah dan sederhana dalam penerapannya Metode ini dapat menghasilkan depresiasi total, namun beberapa keadaan harus dibreakdown berdasarkan kegunaannya Keterbatasan dalam penggunaan metode ini adalah perhitungan penyusutan dilakukan dengan menggunakan teknik garis lurus (Straight Line), dengan 7 Pendekatan Penilaian Aset

perhitungan depresiasi menggunakan perbandingan umur efektip dengan umur ekonomis (seluruh bangunan terdepresiasi dalam garis lurus pada umur ekonomisnya). Pada hal kenyataan belum tentu demikian Dengan pola perhitungan di atas tersebut, bila suatu penilaian mengharapkan basis nilainya adalah Nilai Pasar maka metode ini sukar dilakukan Metode ini tidak membagi depresiasi ke dalam beberapa komponen, seperti pada metode ekstrasi. Metode ini tidak membuat perbedaan dalam penyebab kerugian nilai, seperti dalam sutu lingkungan (market area) tertentu properti pembanding memiliki beberapa tipe dan jumlah depresiasi yang berbeda dengan subjek properti Metode ini tidak memperhatikan perbedaan antara komponen berumur pendek (shortlived) dan komponen berumur panjang (long-lived) Sulit memperoleh total umur ekonomis sesuai dengan tipe properti yang sama, karena sebenarnya kondisi masing-masing properti dapat berbeda. Dalam aplikasinya langkah-langkah untuk menghitung besarnya total depresiasi dengan metode ini adalah : 1. Lakukan riset untuk mengidentifikasi total umur ekonomis dari struktur yang sama yang ada di pasar dan estimasi umur efektip dari subjek properti. Data yang diperoleh dari metode ekstrasi pasar (market extraction) pada umum dapat digunakan dalam metode umur hidup ini 2. Membagi umur efektip dari subjek properti terhadap umur ekonomis yang diperoleh dari antisipasi total umur ekonomis dari struktur yang sama. Hasil perbandingan (rasio) yang diperoleh dikali terhadap biaya penggantian/pembuatan baru dari subjek properti sehingga dapat dihasilkan total penyusutan 3. Kurangi jumlah penyusutan di atas terhadap biaya penggantian/pembuatan baru atas subjek properti Sebagai contoh dari pengunaan metode ini adalah sebagai berikut : 8 Pendekatan Penilaian Aset

Contoh 2 Nilai Tanah Rp. 478.125.000 Umur Efektip Thn 10 Umur Ekonomis Thn 40 Replacement Cost New/RCN Rp. 1.250.000.000 Kurang Total Depresiasi (Biaya x 10/40 thn) Rp. 312.500.000 Biaya Terdepresiasi Rp. 937.500.000 Kurang Penyusutan Fungsi 5% x Rp. 937,5 jt Rp. 46.875 Kurang Penyusutan Ekonomis 5% x RP. 937,5 jt Rp. 46.875 Nilai Bangunan 843.750.000 Tambah Nilai Tanah Rp. 478.125.000 Indikasi Nilai Properti Rp. 1.321.875.000 Metode Terinci (Breakdown Method) Metode ini salah satu metode yang paling komprehensip dibanding metode dua lagi. Metode ini memaparkan total depresiasi ke dalam komponen berdasarkan penyusutan fisik, kemunduran fungsi dan kemunduran eksternal. Teknik yang dapat digunakan untuk menghitung perbedaan jenis depresiasi dapat dijelaskan sebagai berikut : Estimasi biaya atas perbaikan, yang mana hal ini sebagai dasar pengukuran untuk menentukan kerusakan fisik dan kemunduan fungsi yang dapat diperbaiki Aplikasikan metode umur hidup untuk mengukur kerusakan fisik dan kemunduran fungsi yang tidak dapat diperbaiki untuk kedua kondisi masing-masing komponen berumur pendek dan komponen berumur panjang (short and long lived components) Aplikasikan prosedur kemunduran fungsi untuk mengestimasi seluruh jenis kemunduran fungsi Analisis data pasar/data pembanding, yang mana mungkin dapat digunakan untuk mengestimasi kasus kemunduran fungsi yang tak dapat diperbaiki disebabkan defisiensi sebagaimana kemunduran eksternal 9 Pendekatan Penilaian Aset

Kehilangan dari kapitalisasi pendapatan, yang juga dapat digunakan untuk mengestimasi kasus kemunduran fungsi tak dapt diperbaiki (incurable) atas defisiensi sebagaimana kemunduran eksternal Metode terinci memiliki beberapa kategori penyusutan yang secara garis besar terdiri dari tiga formula umum dari depresiasi (fisik. Fungsi dan eksternal) dengan batasan peruntukannya terdiri dari yang dapat diperbaiki (curable) dan tidak dapat diperbaiki (incurable) dimana komponen strukturnya dapat berumur pendek maupun dapat berumur panjang. Kategori depresiasi secara lengkap dapat dilihat pada tabel berikut dan bagan komponen depresiasi (terlampir). Kategori Penyusutan 1 Physical Depreciation a. Curable b. Incurable 1) Short-lived items 2) Long-lived items 2 Functional Obsolescence a. Curable b. Incurable Functional Obsolescence 1. Deficiencies 2. Defects 3. Superadequacies 1. Deficiencies 2. Defects 3. Superadequacies 3 External Obsolescence 4. Locational 5. Economic Curable atau kategori yang membutuhkan perbaikan oleh pemiliknya pada suatu properti yang telah mengalami rusak dan estimasi jumlah perbaikan tersebut bila dikonversi ke biaya, hal ini disebut dengan depresiasi yang dapat diperbaiki (curable). Dengan adanya perbaikan tersebut, nilai properti akan terkoreksi naik yang artinya dapat memberikan dampak yang positip. Contoh dari kasus ini adalah adanya bagian dari bangunan seperti kosen, pintu, plasteren yang telah rusak dan bila diperbaiki akan meningkatkan kondisi fisik dari bangunan. Sedangkan asumsi biaya perbaikan yang akan dilakukan pada suatu komponen properti yang rusak namun tidak memberikan ekspektasi kenaikan nilai terhadap properti, maka disebut dengan depresiasi tidak dapat diperbaiki (incurable). Kondisi ini dipisahkan 10 Pendekatan Penilaian Aset

kepada dua komponen, terdiri dari komponen berumur pendek dan komponen berumur panjang. Kemunduran fungsi dapat dibagi kepada tiga sub kategori yang disebut dengan deficiencies merupakan kondisi dari komponen properti yang tidak efisien digunakan yang dapat disebabkan oleh sesuatu atau sistim yang tidak lengkap. Defects merupakan kerusakan atau sistim yang ada tidak mengikuti standar pasar pada saat ini. Superadecuacy merupakan kelebihan kapasitas atau ukuran pada suatu properti Contoh perhitungan lengkap untuk masing-masing kategori dengan merujuk kepada tahapan proses (lihat tahapan mengestimasi penyusutan). Contoh 3. Breakdown Method Data-data sebuah rumah tinggal adalah sebagai berikut : Uraian Rupiah/m2 Rupiah Nilai Tanah 330,000,000 Nilai Sarana Pelengkap 52,000,000 Umur Bangunan (thn) 10 Luas Bangunan (m2) 215 Biaya Buat/Ganti Baru (RCN) : Kontruksi Beton 1,062,500 228,437,500 Lantai Keramik 156,250 33,593,750 Dinding Tembok Bata 156,250 33,593,750 Langit-Langit Gypsum 93,750 20,156,250 Penutup Atap Genteng 168,750 36,281,250 Sub. Total Bangunan Utama 1,637,500 352,062,500 Kelengkapan Bangunan : - K. Mandi 9,500,000 - AC Split 2 unit @ 2 pk 9,000,000 - AC Windows 1 pk 2,500,000 - Heater 2,750,000 Sub. Total K. Bangunan 23,750,000 RCN 375,812,500 11 Pendekatan Penilaian Aset

a. Perhitungan Penyusutan Fisik yang Dapat Diperbaiki (Curable) Hasil pemeriksaan di lapangan, terdapat beberapa bagian yang harus diperbaiki, diantaranya lantai yang harus diganti seluas 12 m2 dan langit-langit (plafon) seluas 15 m2. Dengan mengambil rujukan pada harga satuan bangunan di atas maka besarnya penyusutan fisik dari komponen yang dapat diperbaiki adalah : Biaya Penggantian (Rp.): (@ Rp. ) Rupiah - Lantai (12 m2) 156,250 1,875,000 - Plafon (15 m2) 93,750 1,406,250 Total Perbaikan/Penyusutan Fisik (Rp.) 3,281,250 b. Perhitungan Kemunduran Fungsi yang Dapat Diperbaiki (Curable) Hasil pemeriksaan di lapangan, terdapat beberapa bagian seperti peralatan heater tidak memenuhi standar pasar lagi, sehingga perlua diganti pada bagian pemanasnya dengan biaya penggantian sebesar Rp. 750.000,- Selain itu pada salah satu k. mandi dari rumah tinggal tersebut, tidak berfungsi secara sempurna disebabkan bathtub-nya mengalami kerusakan. Dengan demikian perlu dilakukan renovasi dengan mengganti bathtub sebesar Rp. 3.500.000,- Dan terakhir dijumpai penggunaan salah satu AC yang terpasang dengan daya 2 pk pada ruangan yang tidak sebanding (kecil), seharusnya cukup digunakan AC 1 pk. Untuk itu, bila diadakan penggantian atasac tersebut, dibutuhkan dana sebesar Rp. 2.000.000,- (atas dasar biaya yan telah disesuaikan dengan menukar AC yang lama). Dengan demikian jumlah kemunduran fungsi yang dapat diperbaiki (incurable) adalah Biaya perbaikan heater Rp. 750,000 Biaya renovasi k. mandi Rp. 3,500,000 Selisih biaya penggantian AC Rp. 2,000,000 Total Kemunduran fungsi Rp. 6,250,000 12 Pendekatan Penilaian Aset

c. Perhitungan Penyusutan Fisik yang Tidak Dapat Diperbaiki (Incurable) atas Komponen Berumur Pendek Beberapa bagian fisik bangunan yang dijumpai mengalami kemunduran fisik untuk komponen berumur pendek. Sehingga diperoleh penyusutan fisik atas komponen berumur pendek yang tak dapat diperbaiki (incurable long-lived) : Komponen Umur Fisik Umur Ekonomis RCN Depresiasi Penyusutan (Thn) (Thn) (Rp) (Rp) Penutup Atap 10 20 36,281,250 18,140,625 Dinding Luar 10 40 33,593,750 8,398,438 Penyusutan Fisik (Incurable short-lived) 26,539,063 d. Perhitungan Penyusutan Fisik yang Tidak Dapat Diperbaiki (Incurable) atas Komponen Berumur Panjang Secara total, bangunan yang tak dapat diperbaiki dan berumur panjang akan mengalami kemunduran fisik akan dihitung berdasarkan kondisi terlihat dari bangunan tersebut, selain dapat diprediksi dari umur efektipnya. Besarnya penyusutan fisik tersebut dapat diperoleh dari Biaya reproduksi/penggantian baru dikurangi bagianbagian yang telah diperbaiki (penyusutan fisik lainnya) dikali besarnya rasio umur efektip (setelah diperbaiki) dengan umur ekonomis bangunan tersebut yang dihitung akan mengalami perbaikan dari sebelumnya menjadi 40 tahun dan umur efektipnya yang sebelumnya 10 tahun menjadi 5 tahun. Hasil penyusutan fisik atas bangunan tersebut adalah : 13 Pendekatan Penilaian Aset

Uraian Rupiah RCN 375,812,500 Kurang RCN atas fisik yg dpt diperbaiki* 53,750,000 Kurang RCN atas fisik yg tdk dpt diperbaiki** Berumur pendek 69,875,000 Biaya penggantian kembali atas 252,187,500 Komponen yg tak dapat diperbaiki berumur pjg Umur Efektip (5/40) 12.5% Penyusutan Fisik (Incurable long-lived) 31,523,438 *) RCN Langit-langit dan lantai **) Penutup atas dan dinding luar e. Perhitungan Kemunduran Fungsi yang Tidak Dapat Diperbaiki (Incurable) Kemunduran fungsi yang tak dapat diperbaiki dapat dihitung dari pengaruh fungsi ruangan yang tidak normal. Rumah tinggal yang menjadi sujek penilaian salah satu kamarnya memiliki ukuran kekecilan dibawah standar sehingga mengakibatkan terjadinya penuruan nilai sewa menjadi Rp. 22.000.000,- dibanding pasaran setempat mencapai Rp. 23.000.000,- Gross Income Multiplier (GIM) dari properti sejenis diperoleh 30 kali. Dengan demikian diperoleh besarnya kemunduran fungsi sebesar : Uraian Penurunan Nilai GIM Kemunduran Sewa (Rp.) (x) Fungsi (Rp.) Kemunduran fungsi 1,000,000 3030,000,000 (Rp. 23 juta - Rp. 22 juta) x 30 f. Perhitungan Kemunduran Eksternal Terjadinya krisis moneter berimbas kepada penurunan permintaan atas pasaran rumah tinggal, sedangkan penawarannya masih cukup tinggi. Sehingga akibatnya rumah tinggal yang sejenis mengalami penurunan pendapatan sewa yang sebelumnya Rp. 30.000.000,- menjadi Rp. 27.000.000,- per tahun. Dengan tingkat kapitalisasi sebesar 20% maka besarnya kehilangan nilai atas properti tersebut dengan menggunakan pendekatan kapitalisasi pendapatan adalah : 14 Pendekatan Penilaian Aset

Pendapatan sewa normal Rp. 30,000,000 Pendapatan sewa setelah krisis Rp. 27,000,000 Kehilangan Pendapatan Rp. 3,000,000 Tingkat kapitalisasi 20% Kemunduran Ekonomis Rp. 15,000,000 g. Total Penyusutan/Depresiasi Dari hasil perhitungan beberapa penyusutan di atas, maka dapat diperoleh total penyusutan dari rumah tinggal tersebut dan sekaligus Nilai propertinya sebagai berikut : Rekapitulasi Total Penyusutan : Penyusutan Fisik Curable : Rp. 3,281,250 Penyusutan Fisik Incurable Rp. 26,539,063 berumur pendek Penyusutan Fisik Incurable Rp. 31,523,438 berumur panjang Kemunduran Fungsi Curable Rp. 6,250,000 Kemunduran Fungsi Incurable Rp. 30,000,000 Kemunduran Eksternal Incurable Rp. 15,000,000 Total Penyusutan Rp. 112,593,750 Kesimpulan Nilai Properti : RCN Rp. 375,812,500 Total Penyusutan Rp. 112,593,750 Nilai Bangunan Rp. 263,218,750 Nilai Sarana Pelengkap Rp. 52,000,000 Nilai Tanah Rp. 330,000,000 Nilai Properti Rp. 645,218,750 * * * *hy * * * * 15 Pendekatan Penilaian Aset