APP SUSTAINABILITY ROADMAP

dokumen-dokumen yang mirip
21 Maret Para Pemangku Kepentingan yang Terhormat,

Royal Golden Eagle (RGE) Kerangka Kerja Keberlanjutan Industri Kehutanan, Serat Kayu, Pulp & Kertas

APP melaporkan perkembangan implementasi pengelolaan lahan gambut

Indikator Kinerja untuk Evaluasi APP FCP dan Komitmen Tambahan Version 2.0, 12 Mei 2014

Kebijakan APRIL Group dalam Pengelolaan Hutan Berkelanjutan Juni 2015

Forest Stewardship Council

Kebijakan Asosiasi. Tanggal Berlaku PfA berlaku secara efektif sejak menerima dukungan dari Stakeholder Advisory Committee (SAC)

Bagian 1: Sekilas kegiatan utama dalam periode pelaporan

LAPORAN PENELITIAN HUTAN BER-STOK KARBON TINGGI

Update - Laporan Assurance KPMG Rencana Aksi Final

Komitmen APP dalam Roadmap menuju kepatuhan terhadap Kebijakan Asosiasi FSC (Policy for Association / PfA)

Golden Agri Resources Memprakarsai Keterlibatan Industri untuk Konservasi Hutan

Indikator SFMP

Menerapkan Filosofi 4C APRIL di Lahan Gambut

(APP) (5 2013) RENCANA EVALUASI TANGGAL DIKELUARKAN:

9/1/2014. Pelanggaran yang dirancang sebelum FCP APP diluncurkan?

Sustainability Policy

Stakeholder Advisory Committee (SAC) untuk Kebijakan Pengelolaan Hutan Berkelanjutan (SFMP 2.0) APRIL

Komite Penasihat Pemangku Kepentingan (SAC) terhadap Kebijakan Pengelolaan Hutan Keberlanjutan (SFMP 2.0) APRIL

Latar Belakang. Gambar 1. Lahan gambut yang terbakar. pada lanskap lahan gambut. Di lahan gambut, ini berarti bahwa semua drainase

PRISAI (Prinsip, Kriteria, Indikator, Safeguards Indonesia) Mei 2012

Ekspansi Industri Pulp: Cara Optimis Penghancuran Hutan Alam

INDUSTRI PENGGUNA HARUS MEMBERSIHKAN RANTAI PASOKAN MEREKA

Perkembangan Insiden di Wirakarya Sakti (WKS) di Jambi, posting pada 23 Mei 2015:

LAPORAN VERIFIKASI DUGAAN PELANGGARAN MORATORIUM APP DI PT. MUTIARA SABUK KHATULISTIWA TIM VERIFIKASI

Konsultasi Publik Prosedur Remediasi & Kompensasi RSPO

Studi Hutan SKT. dipresentasikan di. Seminar REDD+ Task Force. Arief Muria Perkasa Program Manager TFT

KUALA LUMPUR KEPONG BERHAD. PELATIHAN MENGENAI KEBIJAKAN KEBERLANJUTAN KLK (KLK Sustainability Policy)

BAB V KESIMPULAN & SARAN. pemanasan global ini. Cuaca bumi sekarang ini tidak lagi se-stabil dahulu. Cuaca

Pemerintah Republik Indonesia (Indonesia) dan Pemerintah Kerajaan Norwegia (Norwegia), (yang selanjutnya disebut sebagai "Para Peserta")

KINERJA APP TERKAIT KOMITMEN TANGGUNGJAWAB SOSIAL

APRIL menebangi hutan bernilai konservasi tinggi di Semenanjung Kampar, melanggar komitmennya sendiri

Rangkuman dari isu isu yang dijabarkan dalam laporan studi tersebut dalam kaitannya dengan komitmen kebijakan FCP APP adalah:

Kebijakan Konservasi Kehutanan APP


PENDEKATAN SERTIFIKASI YURISDIKSI UNTUK MENDORONG PRODUKSI MINYAK SAWIT BERKELANJUTAN

Evaluasi Perkembangan Implementasi Kebijakan Konservasi Hutan (Forest Conservation Policy) APP Oleh Rainforest Alliance

Webinar. Komitmen APP dalam Roadmap menuju kepatuhan terhadap Kebijakan Asosiasi FSC

Golden Agri-Resources Ltd

2013, No Mengingat Emisi Gas Rumah Kaca Dari Deforestasi, Degradasi Hutan dan Lahan Gambut; : 1. Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Rep

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PROXSIS Training Schedule Tahun 2014

HELP A B C. PRINSIP CRITERIA INDIKATOR Prinsip 1. Kepatuhan hukum dan konsistensi dengan program kehutanan nasional

HIGH CARBON STOCK (HCS) Sejarah, Kebijakan dan Identifikasi

Prosedur Penilaian GHG untuk Penanaman Baru

Focus Group Discussion Pertama: Penyusunan Kajian Kritis Penguatan Instrumen ISPO

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

SUSTAINABILITY STANDARD OPERATING PROCEDURE. Prosedur Penyelesaian Keluhan

4 Januari, Linda Wijaya, Asia Pulp and Paper Jl. M.H. Thamarin 51 BII Plaza Tower II Jakarta, Kepada Ibu Wijaya,

TINJAUAN DAN PEMBARUAN KEBIJAKAN PENGAMANAN BANK DUNIA RENCANA KONSULTASI

MAKSUD DAN TUJUAN. Melakukan dialog mengenai kebijakan perubahan iklim secara internasional, khususnya terkait REDD+

Laporan Investigatif Eyes on the Forest Desember 2015

Pemerintah Indonesia GGGI Program Green Growth

BAB IV. LANDASAN SPESIFIK SRAP REDD+ PROVINSI PAPUA

Bekerja sama untuk konservasi hutan

Pertanyaan Yang Sering Ditanyakan (FAQ) Prosedur Penilaian GHG untuk Penanaman Baru

Membangun Kolaborasi Peningkatan Ekonomi dan Perlindungan Lingkungan Melalui Kawasan Ekosistem Esensial (KEE)

KITA, HUTAN DAN PERUBAHAN IKLIM

Inisiatif Accountability Framework

Standard Operating Procedure

KEBIJAKAN NOL DEFORESTASI, NOL GAMBUT, NOL EKSPLOITASI

PRESS RELEASE Standar Pengelolaan Hutan Lestari IFCC (Indonesian Forestry Certification Cooperation) Mendapat Endorsement dari PEFC

Prosedur dan Daftar Periksa Kajian Sejawat Laporan Penilaian Nilai Konservasi Tinggi

MEMBENDUNG meluasnya preseden buruk pengelolaan HPH di Indonesia

GAR dan SMART Meluncurkan Kebijakan Peningkatan Produktivitas untuk Mengurangi Dampak pada Lahan

Kebijakan konservasi hutan APP dan deforestasi

Kode Etik Pemasok 1/11

PANDUAN PELAPORAN UNTUK SAWIT YANG BERTANGGUNG JAWAB

GUBERNUR ACEH PERATURAN GUBERNUR ACEH NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG

Perbaikan Tata Kelola Kehutanan yang Melampaui Karbon

TERM OF REFERENCE FASILITASI KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS (KLHS)

PENYAMPAIAN INFORMASI DAN KOMUNIKASI TERHADAP PIHAK TERKAIT

Masalah untuk Konsultasi Tahap 3 Pendahuluan CODE

Bumitama Agri Ltd. Excellence Through Discipline. Sustainability Policy (Kebijakan Berkelanjutan)

KERTAS POSISI Kelompok Masyarakat Sipil Region Sulawesi Sistem Sertifikasi Bukan Sekedar Label Sawit Berkelanjutan

Pengecekan lapangan lokasi kebakaran foto dirilis di database online EoF

PELAKSANAAN PARTICIPATORY MAPPING (PM) ATAU PEMETAAN PARTISIPATIF

RINGKASAN EKSEKUTIF. Studi Bersama Persamaan dan Perbedaan Sistem Sertifikasi ISPO dan RSPO

I. PENDAHULUAN. Tingginya laju kerusakan hutan tropis yang memicu persoalan-persoalan

DOKUMEN INFORMASI PROYEK (PID) TAHAP KONSEP. Proyek Persiapan Kesiapan Indonesia (Indonesia Readiness Preparation Project) Kawasan Regional EAP Sektor

Deklarasi New York tentang Kehutanan Suatu Kerangka Kerja Penilaian dan Laporan Awal

Pidato kebijakan Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhyono Bogor, 13 Juni 2012

Sintesis Pengaman Sosial dan Lingkungan (SES) TFCA Kalimantan

LAPORAN VERIFIKASI INSIDEN DI WILAYAH DISTRIK 8 DI AREA KONSESI PT WIRAKARYA SAKTI - JAMBI TIM VERIFIKASI

No pemeliharaan dan pemanfaatan keanekaragaman hayati sebagai modal dasar pembangunan. Penerapan prinsip Keuangan Berkelanjutan sebagai per

PROSEDUR PENANAMAN BARU RSPO

Strategi Nasional REDD+

PROGRAM HUTAN DAN IKLIM WWF

Transkripsi:

APP SUSTAINABILITY ROADMAP VISI 2020 LAPORAN KEMAJUAN TRIWULAN KEDUA 5 FEBRUARI 2013

Pokok-pokok penting di dalam roadmap tersebut adalah: 1. LATAR BELAKANG Pada tahun 2015, APP akan memiliki kemampuan untuk mendapatkan Pada tanggal 5 Juni 2012, Asia Pulp & Paper Grup (APP) mengumumkan target-target keberlanjutannya untuk dekade berikutnya dan seterusnya. Target tersebut dituangkan dalam Sustainability Roadmap Visi 2020. Tujuan roadmap APP ini adalah untuk melindungi hutan alam dan menggunakan serat dari hutan tanaman industri sebagai bahan baku APP. bahan baku yang berasal sepenuhnya dari Hutan Tanaman Industri (HTI). Pada tahun 2015, seluruh pemasok kayu pulp APP yang ada saat ini akan beroperasi sesuai standar-standar untuk Hutan Bernilai Konservasi Tinggi (HCVF), yang akan memberikan perlindungan yang lebih ketat lagi terhadap keanekaragaman hayati, ekosistem langka, dan hak-hak masyarakat lokal. Salah satu aspek terpenting dari Sustainability Roadmap ini adalah proses penilaian Hutan Bernilai Konservasi Tinggi (HCVF) terhadap keseluruhan operasi APP. Penilaian HCVF dimulai dengan penilaian awal HCV yang dipimpin oleh ahli independen HCV Loy Jones dari Asia Pacific Certification Services. Saat peluncuran roadmap, 6 pemasok APP telah berkomitmen untuk melakukan penilaian HCVF. Dalam laporan kemajuan roadmap pertama yang diselenggarakan pada tanggal 5 September 2012, APP mengumumkan tiga pencapaian utama: 1. Kemajuan yang baik dalam mengurangi penggunaan Kayu Campuran (MTH) 2. Dua pemasok kayu pulp berkomitmen untuk mengadopsi penilaian HCVF 3 bulan lebih awal dari targetnya 3. Pembaharuan Responsible and Sustainable Business Declaration APP Sejak laporan kemajuan roadmap terakhir, APP telah mengintensifikasi usahanya untuk bekerja sama dengan semua pemasok kayu pulpnya dalam mempercepat pencapaian target-target roadmap. Pada laporan triwulan kedua di 5 Februari 2013, APP menyampaikan laporan kemajuan roadmapnya yang terakhir dan mengumumkan sebuah perkembangan baru di dalam Sustainability Roadmap APP. 1. 2.

2. LAPORAN KEMAJUAN TRIWULAN KEDUA 2.1. APP GRUP 1 2.1.1. Kebijakan Konservasi Hutan APP Dalam implementasi roadmap APP di triwulan kedua, APP menerbitkan kebijakan baru yang sekarang menjadi bagian dari Sustainability Roadmap Visi 2020. KEBIJAKAN KONSERVASI HUTAN YANG BARU INI ADALAH KEBIJAKAN YANG DIRANCANG UNTUK MELINDUNGI SEMUA HUTAN ALAM DALAM RANTAI PASOKAN APP. Berdasarkan kebijakan tersebut, hutan alam didefinisikan sebagai hutan dengan Nilai Konservasi Tinggi, termasuk hutan gambut, dan atau hutan Stok Karbon Tinggi. Kebijakan Konservasi Hutan ini mempunyai 4 komitmen yang mencakup: 1. Hutan Bernilai Konservasi Tinggi (HCVF) dan hutan Stok Karbon Tinggi (HCS) 2. Praktek terbaik manajemen gambut 3. Keterlibatan Sosial dan Masyarakat 4. Pemasok kayu lainnya I. HUTAN BERNILAI KONSERVASI TINGGI (HCVF) DAN HUTAN STOK KARBON TINGGI (HCS) APP memajukan batas akhir bagi pemasoknya untuk mengadopsi prinsip HCVF sebanyak 2 tahun. APP dan seluruh pemasoknya hanya akan mengembangkan area yang bukan merupakan lahan hutan, sesuai dengan hasil identifikasi dalam penilaian HCVF dan HCS secara independen. Hal-hal penting dalam komitmen kebijakan pertama meliputi: Sejak 1 Februari 2013, seluruh pembukaan hutan alam telah dihentikan sementara hingga selesainya penilaian HCVF dan HCS. APP telah melakukan penilaian awal terhadap keseluruhan rantai pasokannya. APP telah memprioritaskan penilaian HCV/HCS pada daerah-daerah konsesi yang hingga sekarang masih memasok kayu alam kepada perusahaan. 1. APP Grup mengacu pada APP Indonesia and APP China 3 4.

Penilaian HCS telah dimulai dengan mengidentifikasi area dan kualitas dari tutupan hutan. Analisa satelit, didukung dengan pekerjaan di lapangan, akan mengidentifikasi area yang akan dilindungi dan juga area dengan stok karbon rendah yang dapat dikembangkan menjadi hutan tanaman industri. Setiap pengembangan hutan tanaman industri hanya akan dilakukan setelah penilaian HCV/HCS diselesaikan, dan hanya di daerah yang diidentifikasi sebagai bukan hutan. Berdasarkan pengumuman ini, semua hutan alam, yang akan diidentifikasikan melalui penilaian HCV dan HCS, di seluruh rantai pasokan APP akan disisihkan. APP bekerja sama dengan TFT dalam melakukan komitmen ini. Untuk mengidentifikasi kawasan hutan, APP akan menggunakan kombinasi data dari analisa pemetaan satelit dan kunjungan lapangan. II. PRAKTEK TERBAIK MANAJEMEN GAMBUT APP berkomitmen untuk melindungi hutan gambut diseluruh rantai pasokannya. APP akan mendukung strategi dan target Pemerintah Indonesia untuk pengembangan rendah emisi dan penurunan gas rumah kaca. Hal ini akan dicapai dengan cara: Memastikan bahwa hutan lahan gambut dilindungi sebagai bagian dari komitmennya untuk melindungi hutan bernilai konservasi tinggi dan hutan dengan stok karbon tinggi. Melakukan praktek manajemen terbaik untuk mengurangi dan menghindari emisi gas rumah kaca dalam lanskap lahan gambut. Sebagai bagian dalam usaha mencapai hal ini, tidak akan ada aktifitas pembangunan kanal atau infrastruktur di area konsesi lahan gambut tidak berhutan yang belum dikembangkan, hingga proses penilaian HCVF, termasuk masukan dari ahli gambut, telah selesai dilakukan. 5. 6.

III. KETERLIBATAN SOSIAL DAN MASYARAKAT APP akan berkonsultasi dengan LSM dan pemangku kepentingan lainnya untuk memastikan bahwa protocol dan prosedur FPIC dan pemecahan konflik sesuai dengan praktek terbaik internasional. Dalam pemecahan konflik sosial pada seluruh rantai pasokan, APP akan secara aktif meminta dan mengikut sertakan saran dan masukan dari berbagai pemangku kepentingan termasuk masyarakat sipil, untuk menerapkan prinsip-prinsip berikut: Free, Prior and Informed Consent (FPIC) dari masyarakat asli dan komunitas lokal Penanganan keluhan yang bertanggung jawab Pemecahan konflik yang bertanggung jawab Dialog yang terbuka dan konstruktif dengan para pemangku kepentingan lokal, nasional dan internasional Pemberdayaan masyarakat Penghormatan terhadap hak asasi manusia Dimana ada pengajuan Hutan Tanaman Industri (HTI) yang baru, APP akan menghormati hak-hak masyarakat adat dan komunitas lokal, termasuk juga pengakuan terhadap hak atas tanah adat. APP telah berkomitmen terhadap penilaian HCVF yang independen sebagai bagian dari komitmen ini dan dengan konsultasi dengan para pemangku kepentingan, akan mengembangkan langkah-langkah lanjutan untuk menerapkan FPIC. Mengakui dan menghormati hak-hak karyawannya Kepatuhan terhadap hukum, prinsip dan criteria sertifikasi bertaraf internasional yang relevan. 7. 8.

KEBIJAKAN YANG DIUMUMKAN APP HARI INI JUGA AKAN DITERAPKAN PADA SELURUH EKSPANSI DI MASA DATANG. APP Indonesia & China - Penggunaan Kayu Campuran (MTH) IV. PEMASOK KAYU LAINNYA Sumber serat kayu APP datang dari seluruh penjuru dunia dan saat ini APP sedang mengembangkan prosedur untuk memastikan bahwa pasokan ini mendukung prinsip manajemen hutan yang bertanggung jawab. Kebijakan Hutan Konservasi yang baru ini memberikan panduan menyeluruh terhadap praktek pemasok kayu APP di Indonesia. APP juga memasok serat dari seluruh dunia, dan para pemasok ini juga diwajibkan untuk mematuhi kebijakan APP untuk memasok bahan baku dari hutan yang dikelola secara bertanggung jawab. 9. 14% 12% 10% 8% 6% 4% 2% 0% 2011 2012 Target 2013 2014 2015 Realisasi (per Des 2012) Gambar 1. Target APP Grup untuk menurunkan konsumsi serat hutan alam Kayu campuran (MTH) hanya dapat diterima dari: Area yang dikonversi sebelum tanggal 1 Februari 2013 Kayu yang sudah diverifikasi sebagai non-hcvf dan non-hcs Kayu impor yang bersertifikasi Serat daur ulang 10.

2.1.2. Bisnis Jangka Panjang yang Berkelanjutan Untuk memastikan keberlanjutan jangka panjang dari operasi APP, penilaian independen telah dilakukan untuk memastikan ketersediaan bahan baku untuk proyeksi kebutuhan jangka panjang pabrik-pabrik APP. Penilaian difokuskan pada pertumbuhan dan hasil tanaman pemasok kayu APP. Selain penilaian internal perusahaan, dua penilaian tambahan dilakukan. Penilaian pertama telah dilakukan oleh The Forest Trust (TFT), dan penilaian kedua telah dilakukan oleh ahli independen yang mempunyai spesialisasi dalam inventarisasi hutan, modelling pertumbuhan dan hasil tanaman, serta proyeksi pasokan kayu. Semua proyeksi menunjukkan bahwa APP akan mempunyai akses yang cukup kepada serat hutan tanaman untuk memenuhi komitmen konservasi hutannya, bahkan dengan kapasitas rencana ekspansi. APP menggunakan proyeksi pertumbuhan dan hasil tanaman yang paling konservatif dalam perencanaannya. APP terbuka untuk berdiskusi lebih lanjut dengan para pemangku kepentingan yang ingin mendengar lebih lanjut mengenai metodologi yang digunakan untuk menilai pertumbuhan dan hasil tanaman tersebut. 11. 12.

2.1.3. Forest Conservation Policy Monitoring and Verification To provide guidance for APP s suppliers who have committed to implement moratorium on clearing natural forests in their concession areas, APP has a series of key protocols on: Moratorium and Implementation Grievance Independent observer Social and community engagement New area development With The Forest Trust, APP will conduct aerial surveillance and ground checks regularly to verify the implementation of the moratorium. APP is committed to transparency and has asked for third party NGOs to participate in this process as observers. Details of the protocols will be made available on APP s corporate website www.asiapulppaper.com 2.2. APP INDONESIA 2.2.1. Kemajuan Pencapaian Komitmen HCVF Seperti yang telah dilaporkan di bulan September 2012, 6 pemasok APP di 4 propinsi sedang melakukan penilaian preliminary HCVF, sementara 2 pemasok lainnya telah berkomitmen untuk mengadopsi dan telah dijadwalkan untuk segera memulai penilaian HCVF. Penilaian preliminary HCVF di 4 propinsi telah diselesaikan di kuartal keempat 2012, lebih cepat dari target yang ditetapkan di Roadmap. Laporan penilaian preliminary tersebut memberikan peta indikasi HCVF di seluruh area konsesi dan akan digunakan sebagai panduan penilaian penuh HCVF yang akan dilakukan sebagai langkah berikut. Penilaian penuh HCVF akan difokuskan pada area yang berpotensi memiliki satu atau lebih nilai konservasi tinggi. Tim penilai HCV telah memulai penilaian penuh HCV pada 6 pemasok yang dimiliki APP dan 2 pemasok lainnya di Jambi (TMA dan RHM Jambi). 2012 2013 HCVF assessment timeline for 8 suppliers DEC JAN FEB MAR APR MAY JUN JUL AUG SEP 1. Preliminary HCVF Assessment completed 2. Full HCVF Assessment Process design & development Public consultation on national, provincial, and district level Data collection and ground verification on environmental and social aspect Data analysis and HCV report development Public stakeholder consultation HCV report peer review by expert panel Final HCV report received by APP COMPLETED ON PROGRESS TARGET SCHEDULE Gambar 2. Jadwal Penilaian HCVF untuk 8 Pemasok APP 13. 14.

2.2.2. Keterlibatan Sosial dan Masyarakat Dalam aspek keterlibatan sosial dan masyarakat, APP dapat melaporkan kemajuan pada 3 aktivitas utama: Dengan diumumkannya Kebijakan Perlindungan Hutan, APP telah mempercepat target komitmen HCVF di seluruh pemasoknya sebanyak hampir 2 tahun. Untuk mendukung penilaian HCVF di seluruh rantai pasokannya, APP akan bekerja sama dengan tim penilai tambahan yang dipimpin oleh Neville Kemp dari Ekologika. Penilaian rantai pasokan keseluruhan ini dijadwalkan akan dimulai pada kuartal pertama 2013, dengan memprioritaskan area yang masih memiliki hutan alam. 1. Pemetaan dan Pemecahan Konflik Proyek percobaan pada 6 distrik yang diidentifikasi memiliki isu social dengan skala prioritas tinggi Selesainya pemetaan konflik 2. Perbaikan Kebijakan dan Prosedur Memperbarui kebijakan social APP dan Sinar Mas Forestry Selesainya peninjauan kembali prosedur social dari semua pemasok (lebih dari 645 prosedur ditinjau) 3. Pembangunan Kapasitas Finalisasi panduan dan modul untuk pemetaan konflik Pelatihan akan dimulai pada Februari 2013 15. 16.

2.2.3. Penilaian Stok Karbon Tinggi Di bulan Juni 2012, APP mengumumkan sebuah inisiatif untuk memulai keterlibatan multi pihak yang independen dalam hal Stok Karbon Tinggi (HCS) dan penerapannya pada hutan tanaman industri. Dengan bekerja sama dengan The Forest Trust, APP menggunakan gambar satelit untuk menganalisa tutupan hutan di seluruh daerah konsesi para pemasoknya. Diharapkan studi ini akan selesai pada kuartal ketiga 2013. 2.3. APP CHINA TFT telah memulai peninjauan pendahuluan atas kebijakan perusahaan, prosedur standar operasional (SOP) dan instruksi kerja. Tinjauan ini meliputi operasi dari APP China dan APP China Forestry. Hasil dari proses peninjauan ini telah memungkinkan dimulainya pekerjaan untuk merevisi dan memperbaiki dokumentasi yang ada, terutama dalam aspek sosial dan lingkungan. Di kantor pusat APP China Forestry di Hainan, penyesuaian struktur organisasi telah dilakukan untuk memfasilitasi pengkategorian aktivitas sesuai dengan tujuan sosial dan lingkungan, dan menangani isu yang ada dalam perjalanan menuju pengelolaan hutan lestari. Kunjungan penilaian yang dilakukan tim TFT dan APP telah selesai dilakukan di propinsi Hainan, yang difokuskan pada aspek sosial. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi dan mencatat resiko potensial yang berhubungan dengan kepemilikan lahan dan legalitas, dan untuk memulai pemetaan area konflik sosial. Penilaian pasokan dari pihak ketiga telah dilakukan bersama oleh APP dan TFT melalui kunjungan penilaian awal pada pemasok independen di Vietnam. Laporan gap assessment telah difinalisasikan dan diterbitkan. Rencana aksi lokal sedang dalam tahap penyusunan. Untuk pemetaan rantai pasokan di China, pabrik Jinhai dan Jingui telah diberikan penjelasan untuk memulai pemetaan dan membangun database untuk memungkinkan transparansi terhadap barang barang yang dibeli. AKHIR LAPORAN KEMAJUAN 17. 18.

APPENDIX A KEBIJAKAN KONSERVASI HUTAN APP Kebijakan ini berlaku dimulai dari tanggal 1 Februari 2013, dan akan diberlakukan kepada: 1. APP dan seluruh pemasok kayunya di Indonesia 2. Seluruh serat kayu yang berasal dari Indonesia dan dipergunakan oleh pabrik APP di Indonesia dan China 3. Ekspansi di masa depan. Hutan Bernilai Konservasi Tinggi (HCVF) dan hutan Stok Karbon Tinggi (HCS): Kebijakan Komitmen 1: APP dan seluruh pemasoknya hanya akan mengembangkan area yang bukan merupakan lahan hutan, sesuai dengan hasil identifikasi dalam penilaian HCVF dan HCS secara independen: Sejak 1 Februari 2013, seluruh pembukaan hutan alam telah dihentikan sementara hingga selesainya penilaian HCVF dan HCS. Tidak ada pembukaan lahan yang teridentifikasi sebagai hutan alam. APP telah melakukan penilaian awal terhadap keseluruhan rantai pasokannya. APP telah memprioritaskan penilaian HCV dan HCS di daerah-daerah konsesi yang hingga sekarang masih memasok kayu alam. Area dengan HCV dan HCS akan dilindungi. Penilaian HCS telah dimulai dengan mengidentifikasi area dan kualitas dari tutupan hutan. Analisa satelit, didukung dengan pekerjaan di lapangan, akan mengidentifikasi area yang akan dilindungi dan juga area dengan stok karbon rendah yang dapat dikembangkan menjadi hutan tanaman industri. Penilaian HCS akan membedakan hutan alam dari daerah terdegradasi, yaitu daerah yang hanya memiliki pohon kecil, semak belukar dan rerumputan. Pendekatan ini akan mengkategorikan tumbuhan ke dalam enam kelas (stratifikasi) melalui kombinasi antara analisa gambar satelit dan petak di lapangan. Di Indonesia, keenam kelas ini dikenal sebagai: Hutan Kerapatan Tinggi (HK3), Hutan Kerapatan Rendah (HK2), Hutan Kerapatan Sangat Rendah (HK1), Belukar Tua (BT), Belukar Muda (BM) dan Lahan Terbuka (LT). Ambang batas APP untuk HCS akan didefinisikan, menyusul analisa lapangan, di dalam kategori Belukar Tua (BT). Kayu alam (MTH) yang saat ini telah berada di dalam rantai pasokan APP dan dipotong sebelum 1 Februari 2013, contohnya kayu di dalam tumpukan kayu pabrik, akan tetap dipakai oleh pabrik dalam proses produksi. Kayu-kayu yang berasal dari daerah yang bukan hutan, seperti daerah belukar, juga akan digunakan oleh pabrik pulp. APP akan mengakhiri perjanjian pembelian maupun perjanjian lainnya dengan pemasok yang tidak memenuhi komitmen APP. Komitmen APP ini akan dipantau oleh The Forest Trust. APP menyambut pengamat pihak ketiga yang independen untuk melakukan verifikasi implementasi komitmen tersebut. Komitmen manajemen gambut: Kebijakan Komitmen 2: APP akan mendukung strategi dan target Pemerintah Indonesia untuk pengembangan rendah emisi dan penurunan gas rumah kaca. Hal ini akan dicapai dengan cara: Memastikan bahwa hutan lahan gambut dilindungi sebagai bagian dari komitmennya untuk melindungi hutan bernilai konservasi tinggi dan hutan dengan stok karbon tinggi. Melakukan praktek manajemen terbaik untuk mengurangi dan menghindari emisi gas rumah kaca dalam lanskap lahan gambut. Sebagai bagian dalam usaha mencapai hal ini, tidak akan ada aktivitas pembangunan kanal atau infrastruktur di area konsesi lahan gambut tidak berhutan yang belum dikembangkan, hingga proses penilaian HCVF, termasuk masukan dari ahli lahan gambut, telah selesai dilakukan. Keterlibatan sosial dan masyarakat Kebijakan Komitmen 3: Untuk menghindari maupun menyelesaikan konflik sosial di keseluruhan rantai pasokannya, APP akan secara aktif meminta dan mengikut sertakan saran dan masukan dari berbagai pemangku kepentingan termasuk masyarakat sipil, untuk menerapkan prinsip-prinsip berikut : Free, Prior and Informed Consent (FPIC) dari masyarakat asli dan komunitas lokal Penanganan keluhan yang bertanggung jawab Pemecahan konflik yang bertanggung jawab Dialog yang terbuka dan konstruktif dengan para pemangku kepentingan lokal, nasional dan internasional 19. 20.

Program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat Penghormatan terhadap hak asasi manusia Mengakui dan menghormati hak-hak karyawannya Kepatuhan terhadap hukum, prinsip dan kriteria sertifikasi bertaraf internasional yang relevan Dimana ada pengajuan Hutan Tanaman Industri (HTI) yang baru, APP akan menghormati hak-hak masyarakat adat dan komunitas lokal, termasuk juga pengakuan terhadap hak atas tanah adat. APP telah berkomitmen terhadap penilaian HCVF yang independen sebagai bagian dari komitmen ini dan dengan konsultasi dengan para pemangku kepentingan, akan mengembangkan langkah-langkah lanjutan untuk menerapkan FPIC. APP akan berkonsultasi dengan LSM dan pemangku kepentingan lainnya untuk memastikan bahwa protokol dan prosedur FPIC dan resolusi konflik yang dimilikinya telah sesuai dengan praktik terbaik internasional. APPENDIX B Alamat Penyampaian Keluhan dan Pemantauan APP Berkaitan dengan pelaksanaan komitmen APP yang baru tentang Kebijakan Konservasi Hutan dan untuk menjamin transparansi dan juga untuk mengatasi isu yang muncul, APP mengundang para pengamat independen dan para pemangku kepentingan untuk menyampaikan keluhan dan pemantauan pada alamat dibawah ini: Telepon: +6288 0814 7896 (Sementara) Nomor Bebas Pulsa: 0800 1 401471 Fax: +6221-316 2.617 PO Box-: 6604/JKPWK, Jakarta 10350c Email: sustainability@app.co.id Pemasok kayu lainnya Kebijakan Komitmen 4: Sumber serat kayu APP datang dari seluruh penjuru dunia dan saat ini APP sedang mengembangkan prosedur untuk memastikan bahwa pasokan ini mendukung prinsip manajemen hutan yang bertanggung jawab. Asia Pulp & Paper Group adalah nama dagang dari sejumlah perusahaan manufaktur pulp dan kertas di Indonesia dan di China. APP Group merupakan salah satu produsen pulp dan kertas terdepan di dunia dan tercatat sebagai salah satu produsen pulp dan kertas yang terintegrasi secara vertikal terbesar di dunia. Pertumbuhan dan hasil dari HTI yang telah ada saat ini Penilaian terbaru yang dilakukan secara independen terhadap pertumbuhan dan area HTI yang dikelola para pemasok APP memastikan bahwa APP memiliki sumber daya HTI yang cukup untuk memenuhi perkiraan kebutuhan pabrik pulpnya hingga masa depan. 21. 22.