REAKSI NUKLIR. Sulistyani, M.Si.

dokumen-dokumen yang mirip
REAKTOR NUKLIR. Sulistyani, M.Si.

CROSS SECTION REAKSI INTI. Sulistyani, M.Si.

5. KIMIA INTI. Kekosongan elektron diisi elektron pada kulit luar dengan memancarkan sinar-x.

RADIOKIMIA Tipe peluruhan inti

REAKSI NUKLIR NANIK DWI NURHAYATI,S.SI, M.SI

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA F A K U L T A S M I P A

Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka ISSN Journal of Radioisotope and Radiopharmaceuticals Vol 10, Oktober 2007

NUCLEAR CHEMISTRY & RADIOCHEMISTRY

SYNOPSIS REAKTOR NUKLIR DAN APLIKASINYA

Radioaktivitas dan Reaksi Nuklir. Rida SNM

PRODUKSI IODIUM-125 MENGGUNAKAN TARGET XENON ALAM

REAKSI NUKLIR NANIK DWI NURHAYATI,S.SI, M.SI. nanikdn.staff.uns.ac.id nanikdn.staff.fkip.uns.ac.id / (0271)

CHAPTER III INTI ATOM DAN RADIOAKTIVITAS

PRODUKSI RADIOISOTOP. NANIK DWI NURHAYATI,M.SI

CHAPTER iii INTI ATOM DAN RADIOAKTIVITAS

2. Dari reaksi : akan dihasilkan netron dan unsur dengan nomor massa... A. 6

PELURUHAN GAMMA ( ) dengan memancarkan foton (gelombang elektromagnetik) yang dikenal dengan sinar gamma ( ).

KIMIA INTI DAN RADIOKIMIA. Stabilitas Nuklir dan Peluruhan Radioaktif

BAB I Jenis Radiasi dan Interaksinya dengan Materi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

FISIKA ATOM & RADIASI

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Badan Tenaga Nuklir Nasional

ENERGETIKA KESTABILAN INTI. Sulistyani, M.Si.

BAB III KARAKTERISTIK DESAIN HTTR DAN PENDINGIN Pb-Bi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Runusan Masalah

I. PENDAHULUAN. Telah dilakukan beberapa riset reaktor nuklir diantaranya di Serpong

PENENTUAN FRAKSI BAKAR PELAT ELEMEN BAKAR UJI DENGAN ORIGEN2. Kadarusmanto, Purwadi, Endang Susilowati

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Neutron adalah zarah elementer penyusun inti atom yang tidak mempunyai

Inti atom Radioaktivitas. Purwanti Widhy H, M.Pd

Penentuan Dosis Gamma Pada Fasilitas Iradiasi Reaktor Kartini Setelah Shut Down

VII. PELURUHAN GAMMA. Sub-pokok Bahasan Meliputi: Peluruhan Gamma Absorbsi Sinar Gamma Interaksi Sinar Gamma dengan Materi

BAB II RADIASI PENGION

PEMBUATAN NANOPARTIKEL EMAS RADIOAKTIF DENGAN AKTIVASI NEUTRON

BAB I PENDAHULUAN. umat manusia kepada tingkat kehidupan yang lebih baik dibandingkan dengan

Analisis Neutronik pada Gas Cooled Fast Reactor (GCFR) dengan Variasi Bahan Pendingin (He, CO 2, N 2 )

PENEMUAN RADIOAKTIVITAS. Sulistyani, M.Si.

BAB II TEORI DASAR. Proses tumbukan dua inti atomik dan partikel penyusunnya, lalu menghasilkan

Partikel sinar beta membentuk spektrum elektromagnetik dengan energi

INTERAKSI RADIASI DENGAN MATERI

EVALUASI FLUKS NEUTRON THERMAL DAN EPITHERMAL DI FASILITAS SISTEM RABBIT RSG GAS TERAS 89. Elisabeth Ratnawati, Jaka Iman, Hanapi Ali

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Kajian Awal Aspek Neutronik Dari Rancangan Konseptual Fasilitas ADS Berbasis Reaktor Kartini

Fisika Umum (MA 301) Topik hari ini. Fisika Atom & Inti

TUGAS MAKALAH PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA NUKLIR (PLTN)

INTERAKSI RADIASI DENGAN MATERI NANIK DWI NURHAYATI,S.SI,M.SI

PENGENALAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA NUKLIR (PLTN)

REAKSI INTI. HAMDANI, S.Pd

RADIOAKTIF. Oleh : I WAYAN SUPARDI

INTI DAN RADIOAKTIVITAS

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Oleh ADI GUNAWAN XII IPA 2 FISIKA INTI DAN RADIOAKTIVITAS

Analisis Termal Hidrolik Gas Cooled Fast Reactor (GCFR)

LEMBAR SOAL ULANGAN AKHIR SEMESTER TAHUN (UTAMA) Mata Pelajaran (Beban) : Fisika 4 ( 4 sks) Hari/Tanggal : Rabu, 01 Desembar 2010

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Geometri Aqueous Homogeneous Reactor (AHR) Geometri AHR dibuat dengan menggunakan software Visual Editor (vised).

BAB III DAUR ULANG PLUTONIUM DAN AKTINIDA MINOR PADA BWR BERBAHAN BAKAR THORIUM

RADIOKIMIA Pendahuluan Struktur Inti

BAB I PENDAHULUAN. Beberapa radiasi berbahaya karena dapat mengionisasi bahan yang dilaluinya,

REAKTOR PEMBIAK CEPAT

PENEMUAN RADIOAKTIVITAS. Sulistyani, M.Si.

PELURUHAN RADIOAKTIF

DAFTAR ISI. HALAMAN JUDUL... i. PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME... ii. HALAMAN PENGESAHAN... iii. HALAMAN TUGAS... iv. KATA PENGANTAR...

PENGENALAN DAUR BAHAN BAKAR NUKLIR

235 U + n 148 La + 85 Br + 3n

OPTIMASI SHIELDING NEUTRON PADA THERMALIZING COLUMN REAKTOR KARTINI

Jumlah Proton = Z Jumlah Neutron = A Z Jumlah elektron = Z ( untuk atom netral)

PEMBANGKIT PENGENALAN (PLTN) L STR KTENAGANUKLTR

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( RPP 01 )

PENGUKURAN FLUKS NEUTRON SALURAN BEAMPORT TIDAK TEMBUS RADIAL SEBAGAI PENGEMBANGAN SUBCRITICAL ASSEMBLY FOR MOLYBDENUM (SAMOP) REAKTOR KARTINI

Radioaktivtas; Sejarah

Jurnal Radioisotop dan Radiofarmaka ISSN Journal of Radioisotope and Radiopharmaceuticals Vol 9, Oktoberl 2006

LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKPD 01) FISIKA INTI

Hasbullah, M.T. Electrical Engineering Dept., Energy Conversion System FPTK UPI 2009

KARAKTERISTIK BAHAN BAKAR BEKAS BERBAGAI TIPE REAKTOR. Kuat Heriyanto, Nurokhim, Suryantoro Pusat Teknologi Limbah Radioaktif

RADIOAKTIF 8/7/2017 IR. STEVANUS ARIANTO 1. Oleh : STEVANUS ARIANTO TRANSMUTASI PENDAHULUAN DOSIS PENYERAPAN SIFAT-SIFAT UNSUR RADIOAKTIF REAKSI INTI

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

II. TINJAUAN PUSTAKA. mekanisme yang banyak digunakan untuk menghasilkan energi nuklir melalui

PELURUHAN SINAR GAMMA

KEGIATAN BELAJAR 1 : KARAKTERISTIK INTI ATOM DAN RADIOAKTIVITAS

BAB IV DATA DAN ANALISIS HASIL PERHITUNGAN DESAIN HTTR

MAKALAH PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA NUKLIR (PLTN)

Kimia Inti dan Radiokimia

DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN

REAKTOR GRAFIT BERPENDINGIN GAS (GAS COOLED REACTOR)

TUGAS. Di Susun Oleh: ADRIAN. Kelas : 3 IPA. Mengenai : PLTN

2. Prinsip kerja dan Komponen Utama PLTN

U Th He 2

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. penduduk dunia yaitu sekitar 7 miliar pada tahun 2011 (Worldometers, 2012),

GANENDRA, Vol. V, No. 1 ISSN ANALISIS DAN PENENTUAN DISTRIBUSI FLUKS NEUTRON SALURAN TEMBUS RADIAL UNTUK PENDAYAGUNAAN REAKTOR KARTINI

KIMIA (2-1)

IRADIASI NEUTRON PADA BAHAN SS316 UNTUK PEMBUATAN ENDOVASCULAR STENT

III.3. Material Fisil dan Fertil III.4. Persamaan Diferensial Bateman III.5. Efek Umpan Balik Reaktivitas Suhu dan Void III.6.

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA F A K U L T A S M I P A

Bab 2 Interaksi Neutron

adukan beton, semen dan airmembentuk pasta yang akan mengikat agregat, yang

Penentuan Kadar Besi dalam Pasir Bekas Penambangan di Kecamatan Cempaka dengan Metode Analisis Aktivasi Neutron (AAN)

10/2/2012 TANK SYSTEM AQUACULTURE ENGINEERING

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

Dasar Fisika Radiasi. Daftar Isi

BAB 9. Fisika Inti dan Radioaktivitas

Transkripsi:

REAKSI NUKLIR Sulistyani, M.Si. Email: sulistyani@uny.ac.id

Sebutkan perbedaanantara reaksi inti dengan reaksi kimia umumnya?

KONSEP Reaksi nuklir merupakan proses pengubahan inti atom melalui reaksi pertukaran dengan partikel-partikel dasar penyusun inti atom. Reaksi nuklir buatan pertama kali dilakukan oleh Rutherford (tahun 1919), yaitu dengan menembaki inti nitrogen dengan partikel alfa yang berasal dari peluruhan 214 Po. + α p + Inti sasaran proyektil Partikel yang dipancarkan Inti hasil Dapat ditulis: (α, p) Reaksi penembakan inti dikenal dengan istilah transmutasi inti. Sebagian besar reaksi nuklir berlangsung melalui tahap antara, yaitu membentuk inti transisi atau inti majemuk, baru kemudian berubah menjadi inti hasil.

Perbedaan Reaksi Nuklir dibandingkan dengan Reaksi Kimia Pada reaksi kimia, jumlah pereaksi dan hasil reaksi dinyatakan dalam mol, sedangkan pada reaksi nuklir berhubungan dengan massa masing-masing atom. Perubahan energi pada reaksi kimia dinyatakan dalam J/mol, sedangkan pada reaksi nuklir dinyatakan dalam ev atau MeV. (96 kj/mol = 1 ev) Pada reaksi kimia, unsur-unsur yang terlibat reaksi tetap utuh hanya ikatan atomnya yang berubah, sedangkan pada reaksi nuklir terbentuk nuklida baru. Energi yang dihasilkan pada reaksi nuklir jauh lebih besar daripada reaksi kimia. Ex: pembelahan 1 g 235U membebaskan energi sebesar 8,4.107 kj, sedangkan pembakaran batu bara membebaskab energi sebesar 33,9 kj.

Mekanisme Reaksi Nuklir Reaksi nuklir yang melalui pembentukan inti majemuk Terjadi bila energi proyektil kurang dari 50 MeV. Ex: + β + Hasil Analisis; proyektil lebih lama berada di dalam inti sasaran dari pada waktu transit yang diramalkan pada perhitungan kecepatan partikel dan diameter inti. α + γ + 2n + Reaksi nuklir langsung (tanpa pembentukan inti majemuk) Terjadi bila energi proyektil lebih dari 50 MeV. Ex: + α p +

Energi yang dilepaskan atau diperlukan pada reaksi nuklir Ex: Untuk reaksi nuklir A(x,y)B ΔE = (m A + m x m B m y ) c 2 ΔE = (m A + m x m B m y ) 931,5 MeV ΔE = (Δ A + Δ x Δ B Δ y ) MeV ΔE juga dinyatakan sebagai nilai Q reaksi Jika ΔE negatif maka reaksi nuklir tersebut memerlukan energi. Energi yang diperlukan dapat diberikan pada reaksi tersebut sebagai energi kinetik proyektil. Perlu diingat, tidak semua energi kinetik proyektil diubah menjadi energi eksitasi inti majemuk yang terbentuk, tetapi dapat juga sebagai energi pental inti majemuk, sedangkan energi yang dibebaskan pada reaksi nuklir muncul sebagai energi kinetik dari hasil-hasil reaksi.

Proyektil yang digunakan pada reaksi nuklir dibedakan menjadi partikel tidak bermuatan (neutron) dan partikel yang bermuatan (proton, deutron, partikel alfa, xenon, dan uranium). Partikel yang bermuatan dihasilkan oleh radionuklida, yang kemudian diubah menjadi partikel bermuatan berenergi tinggi dengan menggunakan alat pemercepat ion sistem melingkar (siklotron). Radionuklida yang dihasilkan dari reaksi nuklir dengan proyektil bermuatan umumnya radionuklida kekurangan neutron, sehingga akan meluruh dengan memancarkan sinar positron atau tangkapan elektron. Proyektil berupa partikel tidak bermuatan dapat diperoleh dari reaktor nuklir atau,pembangkit neutron.

Jenis-jenis proyektil neutron berdasarkan energinya Neutron termal, berenergi ~0,025 ev. Neutron ini memiliki distribusi energi hampir sama dengan distribusi energi molekul-molekul gas dalam keseimbangan termal pada temperatur biasa. Neutron epitermal, berenergi ~ 1 ev Neutron lambat, berenergi ~1 kev Neutron cepat, berenergi ~0,1 10 MeV Pada generator neutron, berkas deutrium dipercepat oleh pemercepat linier (akselerator) dan dikenakan pada sasaran tritium ( 13 H). Reaksi: 13 H(d,n) 24 He. Proyektil neutron yang dihasilkan oleh generator neutron merupakan neutron cepat (n*) dengan energi ~14MeV. Radionuklida hasil hasil penembakan dengan proyektil cepat berupa radionuklida yang kekurangan neutron sehingga mode peluruhannya adalah TE atau pemancaran positron.

Reaktor Nuklir Reaktor Nuklir pertama kali dibuat oleh Fermi tahun 1942. Reaktor nuklir dikelompokkanmenjadi reaktor penelitian dan reaktor daya. Reaktor penelitian dirancang sebagaipenghasil neutron yang dapat digunakan untuk pembuatan radionuklida, untuk analisis, dsb. Reaktor daya dirancang untuk menghasilkan daya, misalnya pembangkit tenaga listrik, penggerakkapal selam.

Pada reaktor nuklir berlangsung reaksi pembelahan inti (reaksi fisi)berantai secara terus menerus dan terkendali. Ada dua reaksi fisi, yaitu reaksi fisi dengan neutron cepat (n*) dan reaksi fisi dengan neutron termal. Ex: 1 0 n + 235 92U 236 92U* 144 56Ba + 89 36Kr + 3 1 0n + E 1 0 n + 235 92U 236 92U* 140 56Ba + 94 36Kr + 2 1 0n + E Energi yang dihasilkan pada reaksi fisi tersebut ~200 MeV dan energi neutron yang dihasilkan ~2MeV. Agar neutron dapat melangsungkan reaksi fisi selanjutnya, neutron harus diperlambat menjadi neutron termal. Alat yang digunakan untuk memperlambat neutron disebut moderator (air, air berat (D2O), berilium, atau grafit). Reaksi fisi selanjutnya dikendalikan dengan menggunakan batang kendali, berfungsi menyerap neutron hingga jumlah neutron di dalam teras reaktor sesuai keperluan. Dengan kata lain batang kendali mengatur jumlah reaksi fisi dan jumlah energi yang dihasilkan. Bahan batang kendali: kadmium, boron, atau hafnium.

Komponen-komponen reaktor nuklir Tangki reaktor, Perisai radiasi Teras reaktor, merupakan susunan elemen bahan bakar, batang kendali ditempatkan pada lubang-lubang plat kisi menurut konfigurasi tertentu, dan reflektor. Fasilitas irradiasi dan ekesperimen - Penyalur berkas neutron, berfungsi untuk irradiasi sampel dengan ukuran agak besar. - Kolom termal, berfungsi untuk irradiasi dengan neutron termal. - Saluran tengah, berfungsi untuk keperluan irradiasi atau eksperimen dengan fluks neutron maksimum. - Fasilitas bulk shielding, berupa bak air yang dihubungkan dengan kolom termalisasi. Komponen ini digunakan untuk eksperimen perisai dan untuk menyimpan sementara bahan bakar bekas. - Perangkat subkritik, sebagai sumber neutron tetap - Sistem pemindah pneumatik, berfungsi memasukkan dan mengeluarkan sampel dari dalam teras secara cepat.

Boiling Water Reactor

Pressurized Water Reactor Source:

Bahan Bakar Nuklir Bahan bakar nuklir adalah bahan yang dapat mengalami reaksi fisi. Bahan bakar yang paling banyak digunakan adalah uranium. Uranium di alam tidak dalam keadaan bebas, tetapi dalam bentuk mineralnya, di antaranya pitchblende, uranit, dan carnotite. Uranium di alam terdapat 2 isotop, yaitu 92 235 U (0,7% berat) dan 92 238 U (99,3% berat). 92 235 U merupakan bahan fisil, yaitu bahan dapat belah artinya dapat langsung bereaksi dengan neutron termal melakukan reaksi fisi nuklir. 92 238 U merupakan bahan fertil, yaitu bahan tidak dapat belah artinya tidak dapat melangsungkan reaksi fisi dengan neutron termal. Nuklida fertil lainnya adalah 90 232 Th. 92 238 U dan 90 232 Th dapat diubah menjadi bahan fisil lain, yaitu 94 239 Pu dan 92 233 U. Reaksinya: 90 238 U(n, γ) 92 239 U 93 239 Np 94 239 Pu 90 232 Th(n,γ) 90 233 Th β - (t 1/2 = 23,5 menit) β - (t 1/2 = 22,2 menit) β - (t 1/2 = 2,35 hari) β - (t 1/2 = 27,0 hari) 91 233 Pa 92 233 U

Pengolahan uranium alam Proses konsentrasi, konsentrat uranium disebut yellow cake. Proses pemurnian, hingga mencapai kemurnian 99,9%. Proses pabrikasi, membentuk serbuk menjadi elemen bahan bakar berbentuk pellet yang dimasukkan kelongsong bahan bakar.

Mining Uranium ore is usually located aerially; core samples are then drilled and analyzed by geologists. The uranium ore is extracted by means of drilling and blasting. Mines can be in either open pits or underground. Uranium concentrations are a small percentage of the rock that is mined, so tons of tailings waste are generated by the mining process.

Milling & Leaching The ore is first crushed into smaller bits, then it is sent through a ball mill where it is crushed into a fine powder. The fine ore is mixed with water, thickened, and then put into leaching tanks where 90% of the uranium ore is leached out with sulfuric acid. Next the uranium ore is separated from the depleted ore in a multistage washing system. The depleted ore is then neutralized with lime and put into a tailings repository.

Yellowcake Meanwhile, the uranium solution is filtered, and then goes through a solvent extraction process that includes kerosene and ammonia to purify the uranium solution. After purification the uranium is put into precipitation tanks the result is a product commonly called yellowcake.

Transportation In the final processes the yellow cake is heated to 800 Celcius which makes a dark green powder which is 98% U3O8. The dark green powder is put into 200 liter drums and loaded into shipping containers and are shipped overseas to fuel nuclear power plants.

Conversion To enrich uranium it must be in the gas form of UF6. This is called conversion. The conversion diagram shown here is from Honeywell. First the yellow cake is converted to uranium dioxide through a heating process (this step was also mentioned in the mining process). Then anhydrous hydrofluoric acid is used to make UF4. Next the UF4 is mixed with fluorine gas to make uranium hexafluoride. This liquid is stored in steel drums and crystallizes.

Enrichment Uranium enrichment increases the amount of U235 in comparison to U238. Domestic power plants use a mixture that is 3-5% U235, while highly enriched uranium is generally used for weapons, some research facilities, and naval reactors. Domestic reactors usually require fuel in the form of uranium dioxide and weapons use the enriched mix in the form of a metal. The conversion and enrichment process is very dangerous because not only is the uranium hexafluoride radioactive, it is also chemically toxic. In addition, if the uranium hexafluoride comes in contact with moisture it will release another very toxic chemical called hydrofluoric acid. There have been numerous accidents during the conversion and enrichment process. Depleted uranium is the waste that is generated from the enrichment process.

Fuel Fabrication After being enriched, the UF6 is taken to a fuel fabrication facility that presses the powder into small pellets. The pellets are put into long tubes. These tubes are called fuel rods. A fuel assembly is a cluster of these sealed rods. Fuel assemblies go in the core of the nuclear reactor. It takes approximately 25 tonnes of fuel to power one 1000 MWe reactor per year. The picture on the right is a fuel assembly. Source: http://www.world-nuclear.org/education/nfc.htm

Tampang Lintang (Cross Section) Reaksi Nuklir Kemungkinan terjadinya reaksi nuklir disebut penampang lintang (σ) yang mempunyai dimensi luas. Tampang lintang dapat dibandingkan dengan tetapan laju reaksi. Ex: Reaksi kimia A + B D, maka laju reaksinya dinyatakan dc D /dt = kc A C B Dengan cara sama, untuk reaksi nuklir A(x,y)B dinyatakan: dn B /dt = σ Q x N A N A dan N B adalah jumlah atom A dan B per satuan volum, Q x adalah fluks yaitu jumlah proyektil per satuan luas per waktu (cm -2 s -1 ), dan σ adalah tampang lintang. Bila berkas partikel jenis x dengan fluks Q menabrak lapisan tipis atom A dengan ketebalan s, maka pada saat partikel memasuki lapisan dengan ketebalan ds, fluks partikel akan berkurang sebesar: -dq x = σ Q x N A ds jika diintegralkan akan diperoleh: ln Q x /Q x(0) = σ Q x N A s untuk reaksi nuklir: A(x,y)B

Penampang Lintang Bila ada reaksi nuklir lainnya maka cross section reaksi adalah cross section total. Satuan cross section reaksi nuklir adalah barn, 1 b = 10-24 cm 2. Cross section sebagian besar reaksi bergantung pada energi proyektil sehingga kebolehjadian terjadinya reaksi nuklir merupakan fungsi energi proyektil, yang berupa energi kinetik proyektil yang dipindahkan ke inti majemuk sebagai energi eksitasi inti majemuk. Ketergantungan kebolehjadian reaksi nuklir pada energi proyektil disebut fungsi eksitasi.

Cross section σ of Ag for neutrons as a function of the energy of the neutrons

Cross sections of several nuclear reactions of protons with 63 Cu as a function of their energy.

Reaksi Nuklir dengan Partikel Bermuatan Proyektil partikel bermuatan (proton, deutron, partikel alfa) mampu menabrak inti jika energinya dapat mengatasi potensial penghalang inti sasaran. Tingginya potensial penghalang (Ec) tergantung pada nomor atom inti sasaran dan nomor atom proyektil. Ec = (1/4 ε o ) (Z 1 ez 2 e/r) ε o =8,8542 10-12 C 2 s -1 m -2 Bila Ec dalam MeV dan r dalam cm, maka Ec = 1,44.10-13 (Z1Z2/r) MeV dengan r adalah jarak dimana gaya inti mulai bekerja yaitu: r = r o (A1 1/3 + A2 1/3 ) dimana r o = 1,4.10-13 cm Cross section maksimum untuk reaksi absorpsi partikel-partikel bermuatan umumnya mendekati r2 (r = jarak antara pusat inti partikel proyektil dan inti sasarn bila keduanya bertemu) sehingga dinyatakan sebagai jari-jari pertukaran reaksi inti. Jenis reaksi khusus lainnya adalah reaksi Oppenheimer, biasanya menggunakan deutron sebagai proyektil.

Reaksi Nuklir dengan Neutron Neutron tidak bermuatan sehingga neutron mudah mendekati inti tanpa ditolak oleh muatan inti atom sasaran. Neutron mudah ditangkap oleh inti sasaran dengan makin berkurangnya kecepatan neutron. Σ c ~ 1/v ~ 1/E 1/2 Sebagian besar reaksi nuklir yang melibatkan neutron termal adalah proses tangkapan neutron, dimana energi eksitasi inti majemuk dihilangkan dengan pemancaran sinar gamma (n,γ). Reaksi neutron yang memancarkan partikel bermuatan setelah menangkap neutron seperti (n,p) atau (n,α) merupakan reaksi yang terjadi dengan melalui energi ambang (threshold reaction). Pembelahan inti dengan neutron termal hanya mungkin terjadi pada inti dengan tipe (g,u) dan (u,u), sedangkan pembelahan inti berat lainnya dikarenakan suatu reaksi ambang.

Reaksi Fisi Berantai

Perhitungan Hasil pada Reaksi Nuklir Untuk reaksi A(x,y)B, laju pembentukan nuklida B adalah: dn B /dt = σq x N A Dengan asumsi fluks dan energi proyektil konstan selama melalui volum sasaran (sasaran diasumsikan relatif tipis), jumlah inti yang transmutasi dalam reaksi nuklir diabaikan, cross section kecil. Bila nuklida hasil bersifat radioaktif, maka peluruhan selama waktu iradiasi harus diperhitungkan. dn B /dt = σq x N A - λn B Pada integrasi antara t=0 dan t=t, pada t=0 maka N B =0 sehingga N B = (σq x N A /λ) (1 - e -λt ) Oleh karena A=-dN B /dt= λn B maka A B(t) = (σq x N A ) (1 - e -λt ) Jika N A =(L I A m A )/Ar A maka A B(t) = (σq x L I A m A )/Ar A ) (1 - e -λt ) Radioaktivitas nuklida yang diiradiasi selama waktu t kemudian dibiarkan meluruh selama waktu t, maka persamaan setelah akhir irradiasi adalah: A B(t ) = A B(t) e -λt

ADVANTAGES Nuclear power generation does emit relatively low amounts of carbon dioxide (CO2). The emissions of green house gases and therefore the contribution of nuclear power plants to global warming is therefore relatively little. This technology is readily available, it does not have to be developed first. It is possible to generate a high amount of electrical energy in one single plant

DISADVANTAGES Nuclear power plants as well as nuclear waste could be preferred targets for terrorist attacks.. During the operation of nuclear power plants, radioactive waste is produced, which in turn can be used for the production of nuclear weapons. Nuclear reactors have a high risk, especially if there is leakage.

Reaktor Nuklir Portable

Charge particle accelerator = pemercepat partikel bermuatan