VII. ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL

dokumen-dokumen yang mirip
VII. ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL

ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL

VII ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL

VII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Usaha Pembesaran Lele Sangkuriang

V. GAMBARAN UMUM 5.1. Sejarah Perusahaan 5.2. Struktur Organisasi

VII. ANALISIS FINANSIAL

IV. METODE PENELITIAN

VII. ANALISIS ASPEK FINANSIAL

VII. PEMBAHASAN ASPEK FINANSIAL

VII ANALISIS ASPEK FINANSIAL

Biaya Investasi No Uraian Unit

VII ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL

VII. ANALISIS KELAYAKAN ASPEK FINANSIAL

IV. METODE PENELITIAN

VII ANALISIS ASPEK FINANSIAL

METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Pengumpulan Data

VII. ANALISIS KELAYAKAN ASPEK FINANSIAL

METODOLOGI PENELITIAN. (Purposive) dengan alasan daerah ini cukup representatif untuk penelitian yang

BAB VII KELAYAKAN ASPEK FINANSIAL

III. KERANGKA PEMIKIRAN

IV METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN

Produksi benih ikan patin jambal (Pangasius djambal) kelas benih sebar

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Pengolahan dan Analisis Data

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Data dan Instrumentasi 4.3. Metode Pengumpulan Data

VII. KELAYAKAN ASPEK FINANSIAL

III. KERANGKA PEMIKIRAN

STMIK AMIKOM YOGYAKARTA

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Pengolahan dan Analisis Data

IV. METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian

III. KERANGKA PEMIKIRAN

VIII. ANALISIS FINANSIAL

A Modal investasi Jumlah (Rp) 1 Tanah Bangunan Peralatan Produksi Biaya Praoperasi*

IV. METODE PENELITIAN

BAHAN DAN METODE. Tabel 1. Subset penelitian faktorial induksi rematurasi ikan patin

III. KERANGKA PEMIKIRAN. Menurut Kadariah (2001), tujuan dari analisis proyek adalah :

KERANGKA PEMIKIRAN. Pada bagian ini akan dijelaskan tentang konsep dan teori yang

LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara

III. KERANGKA PEMIKIRAN

I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

III. KERANGKA PEMIKIRAN

II. KERANGKA PEMIKIRAN

IV METODOLOGI PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN. tentang istilah-istilah dalam penelitian ini, maka dibuat definisi operasional

Panduan Singkat Teknik Pembenihan Ikan Patin (Pangasius hypophthalmus) Disusun oleh: ADE SUNARMA

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN

Deskripsi. METODA PRODUKSI MASSAL BENIH IKAN HIAS MANDARIN (Synchiropus splendidus)

III. METODOLOGI PENELITIAN

ASPEK FINANSIAL Skenario I

Pematangan Gonad di kolam tanah

METODE PENELITIAN. ini yang dianalisis adalah biaya, benefit, serta kelayakan usahatani lada putih yang

V. GAMBARAN UMUM 5.1 Sejarah Perusahaan 5.2 Lokasi

III. KERANGKA PEMIKIRAN

ANALISIS KELAYAKAN USAHA PEMBENIHAN LARVA IKAN BAWAL AIR TAWAR BEN S FISH FARM CIBUNGBULANG, KABUPATEN BOGOR

3 METODOLOGI 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian 3.2 Alat dan Bahan 3.3 Metode Penelitian 3.4 Metode Pengambilan Responden 3.5 Metode Pengumpulan Data

VI. ANALISIS ASPEK-ASPEK NON FINANSIAL

BAB III BAHAN DAN METODE. 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di PT. Peta Akuarium, Bandung pada bulan April hingga Mei 2013.

Feasibility Analysis of Patin Fish Business (Pangasius Sutchi) In Sipungguk Village Pond Salo Sub District Regency of Kampar Riau Province

IV. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN. A. Konsep Dasar dan Bahan Batasan Operasional. Konsep dasar dan defenisi opresional mencakup pengertian yang

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Karakteristik Ikan Bawal Air Tawar

Lampiran 1. Pola Tanam Pengusahaan Pembenihan Ikan Lele Phyton Pada Usaha Gudang Lele. Periode 1 Periode 2 Periode 3. Periode 4.

V. ANALISA MANFAAT DAN BIAYA BUDIDAYA IKAN HIAS AIR TAWAR

ANALISIS KELAYAKAN USAHA PEMBENIHAN LARVA IKAN BAWAL AIR TAWAR BEN S FISH FARM CIBUNGBULANG, KABUPATEN BOGOR

III KERANGKA PEMIKIRAN

Lampiran 1. Impor Ikan Asap Dunia Tahun 2008

III. METODOLOGI PENELITIAN

III KERANGKA PEMIKIRAN

ANALISIS FINANSIAL DAN SENSITIVITAS PETERNAKAN AYAM BROILER PT. BOGOR ECO FARMING, KABUPATEN BOGOR

III KERANGKA PEMIKIRAN

V GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

IV. METODE PENELITIAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. sampai dengan 30 tahun tergantung dengan letak topografi lokasi buah naga akan

IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2 Jenis dan Sumber Data 4.3 Metode Penentuan Narasumber

III. METODE PENELITIAN. Tanaman kehutanan adalah tanaman yang tumbuh di hutan yang berumur

KELAYAKAN USAHA PEMBENIHAN UDANG VANNAMEI (Litopenaeus vannamei) Destri Yuliani 1) Program Studi Agribisnis Fakultas pertanian Universitas Siliwangi

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan

III. METODE PENELITIAN

METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Pengumpulan Data

III. KERANGKA PEMIKIRAN

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Studi Kelayakan Usaha

III. METODOLOGI PENELITIAN

Kisi-kisi Soal Uji Kompetensi Program studi Agribisnis Sumberdaya Perairan. Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Indikator Essensial

HASIL DAN PEMBAHASAN

IV METODE PENELITIAN. 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

BAB III KERANGKA PEMIKIRAN

6,25 6,25 6,00 5,75 6,13 5,75 6,88 5,25 6,50 6,75 Rata-rata Suku Bunga 6,20. Lampiran 2. Tingkat inflasi berdasarkan perhitungan inflasi tahun 2011.

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

III. KERANGKA PEMIKIRAN

METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Rantauprapat Kabupaten Labuhanbatu Propinsi Sumatera Utara. Pemilihan lokasi

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. METODE PENELITIAN

Mulai. Merancang bentuk alat. Menggambar dan menentukan dimensi alat. Memilih bahan. Diukur bahan yang akan digunakan

III OBJEK DAN METODE PENELITIAN. Rakyat (KUR) di Desa Ciporeat, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung.

Transkripsi:

VII. ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL Analisis kelayakan pengusahaan budidaya ikan bawal air tawar dilakukan untuk mengetahui apakah pengusahaan ikan bawal air tawar yang dilakukan Sabrina Fish Farm layak dan menguntungkan secara finansial. Kriteria-kriteria penilaian investasi yang digunakan dalam analisis finansial ini terdiri dari; NPV, IRR, Net B/C dan Payback period. Untuk menganalisis empat kriteria penilaian investasi tersebut, digunakan arus kas untuk mengetahui besarnya manfaat yang diterima dan biaya yang dikeluarkan oleh Sabrina Fish Farm selama umur proyek yaitu 10 tahun. Penentuan umur proyek berdasarkan umur ekonomis dari bangunan dan kolam. 7.1. Arus Biaya (Outflow) Arus pengeluaran (outflow) pada pengusahaan ikan bawal air tawar Sabrina Fish Farm terdiri dari biaya investasi dan biaya operasional. Arus biaya atau pengeluaran mencerminkan pengeluaran-pengeluaran yang akan terjadi selama masa proyek. 7.1.1. Biaya Investasi Biaya investasi adalah biaya-biaya yang dikeluarkan sebelum usaha dijalankan. Biaya tersebut dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk menjalankan usaha di Sabrina Fish Farm secara keseluruhan. Umur ekonomis dari pengusahaan ikan bawal air tawar Sabrina Fish Farm adalah 10 tahun, melihat kondisi bangunan dan peralatan yang diperkirakan memiliki ketahanan 10 tahun. Rincian biaya-biaya investasi yang dikeluarkan pada pengusahaan ikan bawal air tawar masing-masing skenario usaha dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Jumlah Investasi Pengusahaan Ikan Bawal Air Tawar pada Masingmasing Skenario Usaha Selama Satu Tahun No. Uraian Skenario 1 Skenario 2 Skenario 3 Skenario 4 1 Lahan 70,000,000 70,000,000 70,000,000 105.000.000 2 konstruksi kolam induk 60,000,000 60,000,000 60,000,000 130.000.000 3 Kontruksi Petak 9,000,000 9,000,000 Pendederan 4 Konstruksi bangunan 50,000,000 50,000,000 50,000,000 20.000.000 5 Instalasi listrik 2,000,000 2,000,000 2,000,000 2.000.000 6 Akuarium 10,000,000 10,000,000 10,000,000 7 Pengadaan Induk 40,800,000 30,600,000 30,600,000 8 Bak fiber 6,000,000 3,000,000 3,000,000 9 Terpal 200,000 200,000 200,000 10 Pompa air sumur 1,200,000 400,000 400,000 3.000.000 11 Pompa air kolam 3.750.000 12 Torend 800,000 800,000 800,000 500.000 13 Blower 2,000,000 2,000,000 2,000,000 14 Genset 3,000,000 1,500,000 1,500,000 3.000.000 15 Kompor gas 300,000 300,000 300,000 16 Tabung gas 1,800,000 1,800,000 1,800,000 1.500.000 17 Pompa air kolam 4,000,000 1,500,000 1,500,000 2.000.000 18 Pipa paralon 100,000 100,000 100,000 19 Selang aerator 400,000 400,000 400,000 20 Selang air 30,000 30,000 30,000 21 Infus 50,000 50,000 50,000 22 DOP 30,000 30,000 30,000 23 Galon artemia 80,000 80,000 80,000 24 Tabung konikel 400,000 400,000 400,000 25 Jaring Happa 200,000 200,000 200,000 26 Jaring induk 500,000 500,000 500,000 650.000 27 Baskom kecil 100,000 100,000 100,000 28 Baskom sedang 40,000 40,000 40,000 29 Kateter 20,000 20,000 20,000 30 Corong penyaring telur 30,000 30,000 30,000 31 Serokan telur 20,000 20,000 20,000 32 Serokan larva 40,000 40,000 40,000 33 Jerigen bensin 20,000 20,000 20,000 40.000 34 Bangku plastik' 20,000 20,000 20,000 35 Lampu listrik 150,000 150,000 150,000 250.000 36 Kasur 500,000 500,000 500,000 500.000 37 Bantal 50,000 50,000 50,000 100.000 38 TV 14 inchi 1,000,000 1,000,000 1,000,000 1.000.000 39 Lemari pakaian 600,000 300,000 300,000 300.000 Total Investasi 277,640,000 277,640,000 277,640,000 277,640,000 Keterangan : Skenario 1 : Usaha pembenihan ikan bawal air tawar Skenario 2 : Usaha pembenihan dan pendederan ikan bawal air tawar Skenario 3 : Usaha pembenihan, pendederan dan pembesaran ikan bawal air tawar Skenario 4 : Usaha pembesaran ikan bawal air tawar Dari keempat skenario diatas, usaha yang sudah ada di lapang adalah usaha pembenihan ikan bawal air tawar, kombinasi pembenihan dan pendederanikan bawal air tawar serta pembesaran ikan bawal air tawar, sedangkan 62

untuk usaha kombinasi dari pembenihan, pendederan dan pembesaran ikan bawal belum ada di lapang. 7.1.2. Biaya Operasional Biaya operasional merupakan biaya-biaya keseluruhan yang berhubungan dengan kegiatan operasional dari pengusahaan ikan bawal air tawar di Sabrina Fish Farm. Biaya tersebut dikeluarkan secara berkala selama usaha tersebut berjalan terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel. 1. Biaya Tetap Biaya tetap adalah keseluruhan biaya yang harus dikeluarkan selama satu tahun dengan ada atau tidak adanya produksi. Biaya tetap tidak berubah walaupun volume produksi berubah. Biaya tetap yang dikeluarkan untuk pengusahaan ikan bawal air tawar terdiri gaji karyawan, biaya makan karyawan, PBB, abodemen listrik, perawatan, penyusutan dan keamanan, kebersihan dan perairan. Tabel 5. Jumlah Biaya Tetap Pengusahaan Ikan Bawal Air Tawar pada Masingmasing Skenario Usaha Selama Satu Tahun Skenario Skenario No. Uraian Skenario 1 Skenario 2 3 4 1 Pajak Bumi dan 100.000 100.000 100.000 150.000 Bangunan 2 Gaji Karyawan 18.000,000 36.000.000 36.000.000 18.000.000 3 Konsumsi Karyawan 10.800.000 21.600.000 21.600.000 10.800.000 4 Abodemen Listrik 960.000 960.000 960.000 960.000 5 Keamanan, kebersihan 3.600.000 3.600.000 3.600.000 3.600.000 dan perairan 6 Perawatan 3.600.000 6.000.000 6.000.000 6.000.000 7 Penyusutan 20.076.000 20.281.000 20.391.000 18.108.000 Total Biaya Tetap 57.136.000 88.541.000 88.391.000 57.618.000 Keterangan : Skenario 1 : Usaha pembenihan ikan bawal air tawar Skenario 2 : Usaha pembenihan dan pendederan ikan bawal air tawar Skenario 3 : Usaha pembenihan, pendederan dan pembesaran ikan bawal air tawar Skenario 4 : Usaha pembesaran ikan bawal air tawar Berdasarkan pada tabel di atas dapat diketahui bahwa besarnya biaya tetap pada pengusahaan ikan bawal air tawar akan meningkat sebanding dengan semakin luasnya usaha yang dijalankan. Besarnya nilai biaya tetap skenario 1 (usaha pembenihan ikan bawal air tawar) yaitu sebesar Rp 57.136.000, skenario 2 (usaha pembenihan dan pendederan ikan bawal air tawar) sebesar Rp 88.541.000 63

dan sebesar Rp. 88.391.000 pada skenario 3 (usaha pembenihan, pendederan dan pembesaran ikan bawal air tawar)serta skenario 4 (usaha pembesaran ikan bawal air tawar) sebesar Rp. 57.618.000. Biaya tetap yang paling dominan pada pengusahaan ikan bawal air tawar adalah komponen gaji karyawan. Hal ini dikarenakan, semakin luas usaha yang dijalankan, akan memerlukan tenaga kerja yang lebih banyak, sedangkan nilai biaya perijinan, abodemen listrik dan biaya keamanan, kebersihan dan perairan pada ketiga skenario usaha diatas memiliki nilai yang sama. Nilai komponen biaya penyusutan juga akan semakin besar dengan luas usaha yang dijalankan. Kondisi ini dikarenakan adanya hubungan korelasi positif antara biaya penyusutan dengan nilai investasi. Dapat dilihat pada Tabel 5, biaya penyusutan untuk skenario 1 (usaha pembenihan ikan bawal air tawar) sebesar Rp. 20.076.000, skenario 2 (usaha pembenihan dan pendederan ikan bawal air tawar) yaitu Rp. 20.281.000 dan skenario 3 (usaha penbenihan, pendederan dan pembesaran ikan bawal air tawar) sebesar Rp. 20.391.000 serta skenario 4 (usaha pembesaran ikan bawal air tawar) sebesar Rp. 18.108.000, sedangakan untuk nilai komponen biaya makan karyawan dan biaya perawatan juga akan semakin besar dengan luas usaha yang dijalankan. 2. Biaya Variabel Biaya variabel adalah suatu biaya yang harus dikeluarkan seiring dengan bertambah atau berkurangnya produksi. Biaya variabel akan mengalami perubahan jika volume atau kegiatan produksi berubah, beberapa biaya variabel yang dibutuhkan adalah hormon ovaprim, elbazu, karet gelang, kantong plastik, jarum suntik, gas, garam, bensin, pakan Artemia, pakan induk, listrik, pupuk organik, pakan untuk pendederan, pakan untuk pembesaran, pupuk urea, kapur, tabung gas 3 kg, listrik dan bonus. Rincian jumlah biaya variabel pada masingmasing skenario usaha dapat dilihat pada Tabel 6. 64

Tabel 6. Jumlah Biaya Variabel Pengusahaan Ikan Bawal Air Tawar pada Masing-masing Skenario Usaha Selama Satu Tahun No. Uraian Skenario 1 Skenario 2 Skenario 3 Skenario 4 1 Ovaprim 24.080.000 24.080.000 24.080.000 2 Elbazu 1.200.000 1.200.000 1.200.000 3 Karet gelang 900.000 2.100.000 2.100.000 375.000 4 Kantong plastik 19.340.000 29.000.000 29.000.000 15.600.000 5 Jarum suntik 85.000 85.000 85.000 6 Gas 720.000 1.260.000 5.850.000 7 Garam 240.000 240.000 240.000 8 Bensin 540.000 540.000 540.000 540.000 9 Artemia 9.450.000 9.450.000 9.450.000 10 Pakan ikan induk (pelet) 14.400.000 14.400.000 14.400.000 11 Pupuk organik 480.000 480.000 3.120.000 12 Pakan untuk pendederan 144.000.000 144.000.000 13 Pakan untuk pembesaran 27.000.000 131.625.000 14 Pupuk urea 1.500.000 1.500.000 9.750.000 15 Kapur 300.000 600.000 1.950.000 16 Isi tabung gas 3 kg 12.240.000 12.240.000 12.240.000 17 Listrik 4.800.000 4.800.000 4.800.000 4.800.000 18 Bonus 18.563.328 41.727.974 43.815.974 24.960.000 Total Biaya Variabel 105.838.328 286.862.974 316.790.974 198.570.000 Keterangan : Skenario 1 : Usaha pembenihan ikan bawal air tawar Skenario 2 : Usaha pembenihan dan pendederan ikan bawal air tawar Skenario 3 : Usaha pembenihan, pendederan dan pembesaran ikan bawal air tawar Skenario 4 : Usaha pembesaran ikan bawal air tawar a. Hormon Ovaprim Ikan bawal air tawar sampai saat ini belum bisa dipijahkan secara alami. Pemijahan baru dapat dilakukan dengan pemijahan buatan. Untuk pemijahan buatan ini, diperlukan hormon yang dapat merangsang terjadinya ovulasi telur. Hormon perangsang yang digunakan Sabrina Fish Farm adalah ovaprim. Ovaprim adalah berbentuk Hipofisa, merupakan suatu kelenjar dalam tubuh yang dapat digunakan sebagai hormon perangsang dalam pembenihan buatan ikan. Kelenjar hopofisa mengandung dua hormon, yaitu LH (lituizing hormone) dan FSH (folicel stimulating hormone). LH berfungsi sebagai pengatur ovulasi, sedangkan FSH berfungsi untuk meningkatkan perkembangan dan kematangan telur. Dosis yang digunakan untuk induk betina 0,8 ml/kg sedangkan induk jantan 0,5 ml/kg dan dalam satu botol berisi 10 ml dengan harga Rp 280.000. Jika rata-rata berat induk betina 4 kg maka kebutuhan ovaprim per sekali pemijahan adalah 2,8 ml, 65

sedangkan untuk induk jantan rata-rata beratnya adalah 4 kg dengan dosis 0,5 per ekor. Satu tahun pemijahan terdiri dari 204 ekor induk betina maka kebutuhan ovaprim sebanyak 652,8 ml atau 66 botol sedangkan untuk induk jantan 408 ekor dibutuhkan ovaprim sebanyak 204 ml atau 20 botol. Total kebutuhan ovaprim per tahun adalah 86 botol, sehingga biaya yang dikeluarkan untuk kebutuhan ovaprim sebesar Rp 24.080.000. b. Biaya Pakan Induk Pakan pelet merupakan pakan buatan berbentuk pelet yang diberikan untuk induk di kolam pemeliharaan. Jenis pakan pelet yang diberikan adalah pakan tenggelam karena ikan bawal air tawar biasanya lebih menyukai makan di bagian tengah kolam. Pakan pelet yang digunakan oleh Sabrina Fish Farm adalah pakan merk Laju dengan berat pakan 1 bal adalah 50 kg dengan harga Rp 300.000 per bal. Pakan pelet ini mengandung berbagai zat gizi seperti protein, vitamin dan energi. Pakan pelet selama satu tahun sebanyak 48 bal, sehingga biaya untuk pakan pelet sebesar Rp 14.400.000. Pakan untuk pendederan ikan bawal air tawar sebesar Rp 144.000.000, selama pendederan benih diberi pakan buatan berupa pelet dengan dosis 3-5 persen dari berat badan ikan, sedangkan untuk pakan pembesaran skenario ketiga biaya yang dikeluarkan sebesar Rp 27.000.000 dan untuk pakan pembesaran pada scenario keempat sebesar Rp 131.625.000. c. Biaya Artemia Artemia merupakan pakan bagi larva bawal karena umur produksi (PL4), larva tidak bisa memakan pakan lain selain artemia yang disebabkan bukaan mulutnya masih terlalu kecil. Artemia adalah kutu air dengan ciri khasnya, berbentuk tubuh pipih ke samping, dinding tubuh bagian punggung membentuk suatu lipatan sehingga menutupi bagian tubuh beserta anggota-anggota tubuh pada kedua sisinya. Bentuk tubuhnya ini tampak seperti sebuah cangkang kerangkerangan. Cangkang di bagian belakang membentuk sebuah kantong yang berguna sebagai tempat penampungan dan perkembangan telur. Artemia yang digunakan Sabrina Fish Farm berbentuk telur yang harus dikultur terlebih dahulu menjadi naupli artemia sebelum diberikan pada larva. Artemia yang biasa 66

digunakan Sabrina Fish Farm adalah artemia kemasan kaleng berukuran 450 gram merk Sanders dengan harga Rp 450.000 per kaleng dan kebutuhan per tahun 21 kaleng sehingga biaya yang diperlukan sebesar Rp 9.450.000. d. Biaya pemakaian Listrik dan Bensin Sumber tenaga listrik yang digunakan dalam kegiatan ini berasal dari PLN dengan daya 1300 watt, sumber energi tersebut digunakan untuk penerangan, mesin air dan blower. Pengeluaran biaya listrik per tahun Rp 4.800.000. Bensin digunakan sebagai bahan bakar bagi mesin genset untuk mengganti arus listrik jika padam atau ada gangguan. Dalam setahun diperlukan biaya untuk bensin sebesar Rp 540.000. e. Bonus Karyawan Pemberian bonus untuk karyawan sebesar delapan persen dari penjualan larva ikan bawal air tawar. Pemberian bonus tergantung produksi yang dihasilkan jika produksi tinggi bonus pun lebih tinggi, sedangkan bila produksi turun maka akan sebaliknya. Satu tahun bonus untuk tiga karyawan pada skenario 1 (usaha pembenihan ikan bawal air tawar) sebesar Rp 18.563.328, sehingga setiap karyawan mendapatkan bonus per tahun sebesar Rp 6.187.776, sedangkan bonus untuk karyawan pada skenario 2 (usaha pembenihan dan pendederan ikan bawal air tawar) yaitu Rp 41.727.974 dan untuk skenario 3 (usaha pembenihan, pendederan dan pembesaran ikan bawal air tawar) sebesar Rp 43.815.974. skenario 4 (usaha pembesaran ikan bawal air tawar) sebesar Rp 24.960.000. f. Isi Kompor Gas Isi gas kompor digunakan untuk menghidupkan kompor sebanyak tiga buah yang berfungsi untuk meningkatkan suhu ruang pemeliharaan larva. Kebutuhan gas isi ulang per tahun sebanyak 816 dengan harga Rp 15.000 per tabung, sehingga biaya yang dibutuhkan sebesar Rp 12.240.000. 67

g. Obat-obatan dan Garam Elbazu digunakan untuk penyegar dan pencegah stress pada larva baik diberikan pada saat di akuarium pemeliharaan maupun dalam proses pengepakan larva. Obat ini berbentuk serbuk yang terbungkus berbentuk sachet dan jika dipakai dengan cara memberikan air secukupnya didalam wadah. Setahun membutuhkan 120 Elbazu dan biaya yang dikeluarkan sebesar Rp 1.200.000. Garam digunakan untuk bahan tambahan dalam kultur artemia, tujuan dari pemberian garam ini adalah untuk membunuh bakteri pada ikan bawal dan mempercepat pematangan telur artemia menjadi naupli artemia, total selama setahun Rp 240.000. h. Biaya Plastik, Karet dan Jarum Suntik Kantong plastik digunakan untuk pengiriman secara tertutup, dimana larva dimasukkan ke dalam kantong plastik sebanyak 2.000 ekor kemudian diberi oksigen. Harga satu kilogram kantong plastik merk Bawang adalah Rp 20.000 yang berisi 15 buah. Kebutuhan plastik untuk mengepak larva sebanyak 29.005.200 ekor dibutuhkan 967 kilogram kantong plastik, sehingga biaya yang dikeluarkan untuk kantong plastik pada skenario 1 (usaha Pembenihan ikan bawal air tawar) sebesar Rp 19.340.000. Biaya plastik yang dikeluarkan pada usaha 2 (usaha pembenihan dan pendederan ikan bawal air tawar) dan skenario 3 (usaha pembenihan, pendederan dan pembesaran ikan bawal air tawar) yaitu Rp 29.000.000 serta skenario 4 (usaha pembesaran ikan bawal air tawar) sebesar Rp 15.600.000. Karet berfungsi untuk mengikat plastik yang telah diisi oksigen, kebutuhan karet pertahun sebanyak 36 pack dengan harga satu pack Rp 25.000 sehingga kebutuhan biaya untuk pembelian karet pada skenario 1 sebesar Rp 900.000, sedangkan untuk skenario 2 dan skenario 3 yaitu Rp 2.100.000dan skenario 4 Rp 375.000. Jarum suntik berfungsi untuk menyuntikan hormon ovaprim ke induk ikan bawal air tawar sebelum proses pemijahan. Gas oksigen digunakan untuk pengepakan pendederan ikan bawal air tawar, biaya yang dikeluarkan untuk pengisian gas oksigen pada skenario 1sebesar 68

Rp 900.000 dan untuk skenario 3 sebesar Rp 1.260.000. Jarum suntik yang dibutuhkan satu tahun hanya satu pack dengan harga Rp 85.000. 7.2. Arus Penerimaan (Inflow) 1. Pendapatan Penjualan Penerimaan dalam kegiatan pembenihan ikan bawal air tawar di Sabrina Fish Farm dihasilkan dari jumlah penjualan larva ikan bawal air tawar dengan harga jual Rp 8 per ekor. Sabrina Fish Farm melakukan pemijahan sebanyak 10 kali perbulan pada musim baik (Oktober-Juni) dan delapan kali perbulan pada musim sulit (Juli-September). Pada setiap pemijahan dilakukan dua pasang induk ikan bawal air tawar yang dipijahkan, yaitu dua induk betina dan delapan induk jantan. Satu pasang terdiri dari satu induk betina dan empat induk jantan. Fekunditas atau kemampuan menghasilkan telur satu ekor induk betina pada musim baik menghasilkan 280.000 butir telur dengan derajat pembuahan (fertilization rate/fr) 90 persen sehingga telur yang dibuahi sebanyak 252.000 butir. Derajat penetasan (Hatching rate/hr) 85 persen yang akan menghasilkan larva 214.200 ekor yang terbuahi. Larva yang hidup memiliki kemampuan hidup (Survival rate/sr) sebanyak 70 persen, sehingga larva yang hidup sampai siap dijual sebanyak 149.940 ekor, sedangkan untuk musim sulit FR 80 persen dengan telur yang dibuahi sebanyak 224.000, untuk HR sebesar 75 persen sehingga menghasilkan larva 168.000 ekor yang terbuahi, sedangkan SR 50 persen dengan larva yang hidup sampai siap dijual sebanyak 84.000 ekor. Jumlah induk betina yang dipijahkan pada musim baik perbulan 20 pasang yang terdiri dari induk betina 20 ekor dan induk jantan 80 ekor, sedangkan pada musim sulit sebanyak delapan pasang yang dipijahkan, terdiri dari delapan induk betina dan 32 induk jantan, sehingga jumlah induk yang dipijahkan dalam satu tahun sebanyak 204 pasang. Produksi yang dihasilkan dalam satu tahun dari 204 pasang yaitu 180 pasang x 149.940 larva sebesar 26.989.200 ekor larva dan 24 pasang x 84.000 sebesar 2.016.000 ekor larva. Jumlah produksi pembenihan ikan bawal air tawar sebesar 29.005.200 ekor larva. Penerimaan dari usaha pembenihan ikan bawal air tawar dari 29.005.200 x Rp 8 per ekor adalah Rp 232.041.600. 69

Skenario 2 (usaha pembenihan dan pendederan ikan bawal air tawar) penerimaan yang diterima selama setahun sebesar Rp 521. 599.680, dengan perhitungan larva yang dihasilkan sebanyak 23.204.160 ekor dijual dengan harga Rp 8 per ekor dan benih yang dihasilkan sebanyak 2.239.776 ekor dijual dengan harga Rp 150 per ekor, sedangkan untuk skenario 3 (usaha pembenihan, pendederan dan pembesaran ikan bawal air tawar) sebesar Rp 547.699.680, dengan perhitungan larva yang dijual 23.204.160 ekor dan benih yang dijual sebanyak 2.221.776 ekor serta ikan konsumsi yang dijual sebanyak 3.600 kg dengan harga jual ikan konsumsi Rp 8.000/kg. Skenario 4 (usaha pembesaran ikan bawal air tawar) sebesar Rp 312.000.000, dengan perhitungan ikan konsumsi yang dijual sebanyak 39.000 kg dengan harga jual ikan konsumsi Rp 8.000/kg. Pajak penghasilan usaha yang digunakan adalah 25 persen, sehingga keuntungan setelah pajak dapat dilihat pada Tabel 7 dibawah ini. Tabel 7. Perhitungan Rugi Laba Pengusahaan Ikan Bawal Air Tawar pada Masing-masing Skenario Usaha Selama Satu Tahun No. Uraian Skenario 1 Skenario 2 Skenario 3 Skenario 4 1. Penjualan (Rp) 232.041.600 521.599.680 547.699.680 312.000.000 2. Biaya Variabel (Rp) 105.838.328 286.862.974 316.790.974 198.570.000 3. Biaya Tetap (Rp) 57.136.000 88.541.000 88.391.000 57.618.000 4. Total Biaya(Rp) 162.974.328 375.403.974 405.181.974 256.188.000 5. Keuntungan (Rp) 69.067.272 146.195.706 142.517.706 55.812.000 6. Pajak (25%) 17.266.818 36.548.926 35.629.426 13.953.000 7. Keuntungan Setelah Pajak (Rp) 51.800.454 109.646.779 106.888.279 41.859.000 Keterangan : Skenario 1 : Usaha pembenihan ikan bawal air tawar Skenario 2 : Usaha pembenihan dan pendederan ikan bawal air tawar Skenario 3 : Usaha pembenihan, pendederan dan pembesaran ikan bawal air tawar Skenario 4 : Usaha pembesaran ikan bawal air tawar 2. Nilai Sisa Nilai sisa adalah semua biaya modal yang tidak habis digunakan selama umur usaha (Gittinger, 1986). Nilai sisa yang terdapat dalam pengusahaan ikan bawal air tawar ini menjadi tambahan manfaat bagi proyek. Jumlah nilai sisa hanya pada biaya pengadaan induk dari skenario I (usaha pembenihan ikan bawal air tawar) sebesar Rp. 20.400.000, jumlah nilai sisa pada skenario II (Usaha pembenihan dan pendederan ikan bawal air tawar) sebesar Rp. 15.300.000 dan 70

jumlah nilai sisa skenario III (usaha pembenihan, pendederan dan pembesaran ikan bawal air tawar) sebesar Rp. 15.300.000 serta jumlah nilai sisa skenario IV (usaha pembesaran ikan bawal air tawar) tidak ada karena pada skenario keempat tidak ada biaya pengadaan induk. 7.3. Analisis Kelayakan Finansial Pengusahaan Ikan Bawal Air Tawar Dalam analisis finansial kriteria kelayakan yang digunakan untuk menilai kelayakan proyek yaitu Net Present Value (NPV), Internal Rate Return (IRR), Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) dan Payback Period (PP). Pada analisis kelayakan finansial digunakan tiga skenario yaitu skenario pertama dengan usaha pembenihan ikan bawal air tawar, skenario kedua dengan kombinasi dua usaha; pembenihan dan pendederan ikan bawal air tawar dan skenario ketiga kombinasi tiga usaha; pembenihan, pendederan dan pembesaran ikan bawal air tawar, skenario empat ; pembesaran ikan bawal air tawar. Tingkat suku bunga yang digunakan adalah tujuh persen, ini berdasarkan suku bunga deposito Bank Rakyat Indonesia (BRI) tahun 2009. 7.3.1. Kelayakan Finansial Skenario I (Usaha Pembenihan Ikan Bawal Air Tawar) Skenario I larva ikan bawal air tawar yang dihasilkan Sabrina Fish Farm seluruhnya dijual ke pasar. Perhitungan kelayakan ini menggunakan manfaat bersih (net benefit) yang diperoleh dari selisih antara biaya dan manfaat setiap tahunnya. Hasil analisis kelayakan finansial pembenihan ikan bawal air tawar (skenario I) dapat dilihat pada Tabel 8. Tabel 8. Kelayakan Finansial Pengusahaan Ikan Bawal Air Tawar Sabrina Fish Farm Skenario I No Kriteria Investasi Nilai 1 NPV Rp 190.438.627 2 Net B/C 1,69 3 IRR 20 persen 4 Payback Period 4 tahun 2 bulan Berdasarkan nilai dari keempat kriteria investasi (Tabel 10) dapat kita lihat bahwa usaha pembenihan ikan bawal air tawar memperoleh NPV lebih besar dari 71

nol yaitu sebesar Rp. 190.438.627, artinya usaha ini layak untuk dijalankan, sedangkan nilai Net B/C sebesar 1,69 lebih besar dari satu yang berarti dari setiap satu rupiah yang dikeluarkan selama umur proyek mampu menghasilkan manfaat bersih sebesar 1,69 rupiah dan usaha ini layak dijalankan. Nilai IRR sebesar 20 persen lebih besar dari tingkat suku bunga deposito sebesar tujuh persen, artinya investasi di usaha ini lebih menguntungkan dibandingkan deposito, sedangkan waktu yang diperlukan untuk pengembalian total investasi sebesar 4 tahun 2 bulan. Rincian perhitungan cashflow usaha pembenihan ikan bawal air tawar dapat dilihat pada Lampiran 9. 7.3.2. Kelayakan Finansial Skenario II (Usaha Pembenihan dan Pendederan Ikan Bawal Air Tawar) Untuk skenario II, larva ikan bawal air tawar yang diproduksi Sabrina Fish Farm hanya 80 persen yang dijual dipasar sedangkan sisanya yaitu 20 persen di usahakan untuk pendederan ikan bawal air tawar di Sabrina Fish Farm. Sehingga ada dua produk yang dihasilkan pada skenario II yaitu larva dan benih ikan bawal air tawar. Pada skenario II ada penambahan investasi untuk kontruksi petak pendederan, tabung oksigen, jaring happa dan serokan benih. Hasil analisis finansial skenario II kombinasi dari usaha pembenihan dan pendederan ikan bawal air tawar diperoleh nilai NPV sebesar Rp. 595.885.503, artinya usaha tersebut layak dijalankan, sedangkan nilai Net B/C sebesar 3,15 lebih besar dari satu yang berarti, dari setiap satu rupiah yang dikeluarkan selama umur proyek mampu menghasilkan manfaat bersih sebesar 3,15 rupiah dan usaha ini layak dijalankan. Nilai IRR sebesar 43 persen lebih besar dari tingkat suku bunga deposito sebesar tujuh persen, artinya investasi di usaha ini lebih menguntungkan dibandingkan deposito, sedangkan waktu yang diperlukan untuk pengembalian total investasi sebesar 2 tahun 2 bulan. Hasil dari empat kriteria analisis finansial dapat dilihat pada Tabel 9 dan rincian perhitungan cashflow usaha pembenihan ikan bawal air tawar dapat dilihat pada Lampiran 14. 72

Tabel 9. Kelayakan Finansial Pengusahaan Ikan Bawal Air Tawar Sabrina Fish Farm Skenario II No Kriteria Investasi Nilai 1 NPV Rp. 595.885.503 2 Net B/C 3,15 3 IRR 43 persen 4 Payback Period 2 tahun 2 bulan 7.3.3. Kelayakan Finansial Skenario III (Usaha Pembenihan, Pendederan dan Pembesaran Ikan Bawal Air Tawar) Pada skenario III larva ikan bawal air tawar yang diproduksi Sabrina Fish Farm hanya 80 persen yang dijual dipasar, sedangkan sisanya yaitu 20 persen di usahakan untuk pendederan kemudian 0,8 persen dari hasil pendederan diusahakan untuk pembesaran ikan bawal air tawar, hal ini dikarenakan keterbatasan lahan di Sabrina Fish Farm. Skenario III menghasilkan tiga produk yang dapat dijual yaitu larva, benih dan ikan bawal air tawar ukuran konsumsi. Pada skenario III ada penambahan investasi untuk kontruksi petak pembesaran dan jaring induk. Hasil analisis finansial skenario III kombinasi dari usaha pembenihan, pendederan dan pembesaran ikan bawal air tawar diperoleh nilai NPV sebesar Rp. 576.522.909, artinya usaha tersebut layak dijalankan, sedangkan nilai Net B/C sebesar 3,08 lebih besar dari satu yang berarti, dari setiap satu rupiah yang dikeluarkan selama umur proyek mampu menghasilkan manfaat bersih sebesar 3,08 rupiah dan usaha ini layak dijalankan. Nilai IRR sebesar 42 persen lebih besar dari tingkat suku bunga deposito sebesar tujuh persen, artinya investasi di usaha ini lebih menguntungkan dibandingkan deposito, sedangkan waktu yang diperlukan untuk pengembalian total investasi sebesar 2 tahun 3 bulan. Hasil dari empat kriteria analisis finansial dapat dilihat pada Tabel 10 dan rincian perhitungan cashflow usaha pembenihan ikan bawal air tawar dapat dilihat pada Lampiran 19. 73

Tabel 10. Kelayakan Finansial Pengusahaan Ikan Bawal Air Tawar Sabrina Fish Farm Skenario III No Kriteria Investasi Nilai 1 NPV Rp 583.272.073 2 Net B/C 3,1 3 IRR 42 persen 4 Payback Period 2 tahun 3 bulan 7.3.4. Kelayakan Finansial Skenario IV (Usaha Pembesaran Ikan Bawal Air Tawar) Hasil analisis finansial skenario IV yang merupakan kegiatan usaha pembesaran ikan bawal air tawar diperoleh nilai NPV sebesar Rp. 104.555.549, artinya usaha tersebut layak dijalankan, sedangkan nilai Net B/C sebesar 1,38 lebih besar dari satu yang berarti, dari setiap satu rupiah yang dikeluarkan selama umur proyek mampu menghasilkan manfaat bersih sebesar 1,38 rupiah dan usaha ini layak dijalankan. Nilai IRR sebesar 15 persen lebih besar dari tingkat suku bunga deposito sebesar tujuh persen, artinya investasi di usaha ini lebih menguntungkan dibandingkan deposito, sedangkan waktu yang diperlukan untuk pengembalian total investasi sebesar 5 tahun 2 bulan. Hasil dari empat kriteria analisis finansial dapat dilihat pada Tabel 11 dan rincian perhitungan cashflow usaha pembenihan ikan bawal air tawar dapat dilihat pada Lampiran 24. Tabel 11. Kelayakan Finansial Pengusahaan Ikan Bawal Air Tawar Sabrina Fish Farm Skenario IV No Kriteria Investasi Nilai 1 NPV Rp 104.555.549 2 Net B/C 1,38 3 IRR 15 persen 4 Payback Period 5 tahun 2 bulan 7.4. Analisis Switching Value Analisis switching value dilakukan dengan menghitung perubahan maksimum yang boleh terjadi akibat adanya perubahan beberapa parameter. Parameter yang digunakan untuk skenario I (usaha pembenihan ikan bawal air tawar) yaitu kenaikan harga hormon ovaprim, kenaikan total biaya variabel dan 74

penurunan harga larva ikan bawal air tawar. Skenario II (usaha pembenihan dan pendederan ikan bawal air tawar) parameter yang digunakan adalah kenaikan harga pakan pelet, kenaikan total biaya variabel dan penurunan harga larva dan benih ikan bawal air tawar, sedangkan untuk skenario III (usaha pembenihan, pendederan dan pembesaran ikan bawal air tawar) parameter switching value yang digunakan ialah kenaikan harga pakan pelet, kenaikan total biaya variabel dan penurunan harga larva, benih dan ikan bawal air tawar ukuran konsumsi, sehingga keuntungan mendekati normal, dimana NPV mendekati nol atau sama dengan nol atau bisa juga menggunakan parameter IRR sama dengan tingkat suku bunga. Skenario I (usaha pembenihan ikan bawal air tawar), kenaikan harga hormon ovaprim masih dapat ditolerir sebesar 150 persen yaitu dari harga Rp. 280.000 per botol menjadi Rp. 700.375 per botol (Lampiran 10). Peningkatan total biaya variabel agar usaha tersebut masih layak diusahakan sampai 41 persen (Lampiran 11), sedangkan pengusahan pembenihan ikan bawal air tawar masih dapat layak diusahakan apabila penurunan harga larva ikan bawal air tawar tidak melebihi 18 persen, yaitu dari harga Rp 8 per ekor menjadi Rp 6,65 per ekor (Lampiran 12). Skenario II (usaha pembenihan dan pendederan ikan bawal air tawar), kenaikan harga pakan pelet masih dapat ditolerir sebesar 71 persen yaitu dari harga Rp 300.000 per bal menjadi Rp 541,244 per bal (Lampiran 15). Peningkatan total biaya variabel agar usaha tersebut masih layak diusahakan sampai 46 persen (Lampiran 16), sedangkan pengusahan pada skenario II masih dapat layak diusahakan apabila penurunan harga larva dan benih ikan bawal air tawar tidak melebihi 23,57 persen, yaitu untuk harga larva dari harga Rp 8 per ekor menjadi Rp 6 per ekor, sedangkan untuk benih dari harga Rp 150 per ekor menjadi Rp 115 per ekor (Lampiran 17). Skenario III (usaha pembenihan, pendederan dan pembesaran ikan bawal air tawar), kenaikan harga pakan pelet masih dapat ditolerir sebesar 59 persen yaitu dari harga Rp 300.000 per bal menjadi Rp 477.096 per bal (Lampiran 20). Peningkatan total biaya variabel agar usaha tersebut masih layak diusahakan sampai 41 persen (Lampiran 21), sedangkan pengusahan pada skenario III masih dapat layak diusahakan apabila penurunan harga larva, benih dan ikan bawal air 75

tawar ukuran konsumsi tidak melebihi 22,44 persen, yaitu untuk harga larva dari harga Rp 8 per ekor menjadi Rp 6 per ekor, sedangkan untuk benih dari harga Rp 150 per ekor menjadi Rp 116 per ekor dan ikan bawal air tawar ukuran konsumsi dari harga Rp 8.000 per kg menjadi Rp 6.205 per kg (Lampiran 22). Skenario IV (usaha pembesaran ikan bawal air tawar), kenaikan harga pakan pelet yang masih dapat ditolerir sebesar 15 persen yaitu dari harga Rp 300.000 per bal menjadi Rp 345.239 per bal (Lampiran 25). Peningkatan total biaya variabel agar usaha tersebut masih layak diusahakan maksimum sampai 10 persen (Lampiran 26), sedangkan pengusahaan pembesaran ikan bawal air tawar masih dapat layak diusahakan apabila penurunan harga jual ikan bawal air tawar tidak melebihi 6,36 persen, yaitu dari harga Rp 8.000 per kg menjadi Rp 7.491 per kg (Lampiran 27). Rincian nilai Switching Value pada masing-masing skenario usaha dapat dilihat pada Tabel 12. Analisis switching value terhadap penurunan harga output menunjukkan bahwa skenario II memiliki tingkat sensitivitas paling besar terhadap terjadinya penurunan harga. Bila ditinjau dari nilai switching value terjadinya kenaikan harga input yang ditunjukkan dengan peningkatan total biaya operasional maka skenario II lebih baik dibandingkan dengan skenario I, III dan IV. Tabel 12.Nilai Switching Value Pengusahaan Ikan Bawal Air Tawar pada Masingmasing Skenario Usaha No. Uraian Skenario 1 Skenario 2 Skenario 3 Skenario 4 1 Penurunan harga output 17 % 23,57 % 22,44 % 6,36 % 2 Kenaikan harga Hormon Ovaprim 150 % 3 Kenaikan harga pakan 71 % 59 % 15 % pelet 4 Kenaikan total biaya 41% 46 % 41 % 10 % variabel Keterangan : Skenario 1 : Usaha pembenihan ikan bawal air tawar Skenario 2 : Usaha pembenihan dan pendederan ikan bawal air tawar Skenario 3 : Usaha pembenihan, pendederan dan pembesaran ikan bawal air tawar Skenario 4 : Usaha pembesaran ikan bawal air tawar 76

7.5. Analisis Sensitivitas Analisis sensitivitas melihat kelayakan suatu bisnis akibat dari perubahanperubahan yang mempengaruhi kelayakan bisnis tersebut. Dari wawancara ke para pengusaha pembenihan, pendederan dan pembesaran ikan bawal air tawar, diperoleh kenaikan harga pakan sebesar 10 persen pertahunnya mulai tahun 2007-2009. Berdasarkan Tabel 13 dapat diperoleh nilai NPV, IRR, Net B/C dan Payback periode pada keempat skenario pengembangan pengusahaan ikan bawal air tawar yang diukur sensitivitasnya karena kenaikan harga pakan sebesar 10 persen per tahunnya. Tabel 13. Analisis Sensitivitas Kenaikan Harga Pakan Sebesar 10 persen per tahun pada masing-masing Skenario No Kriteria Investasi Skenario I Skenario II Skenario III Skenario IV 1 NPV (Rp) 151.623.536 168.919.501 76.778.612 (250.238.643) 2 IRR 18% 28% 21% 3 Net B/C 1,55 1,61 1,28 0,10 4 Payback Period 4,36 2,40 2,52 Berdasarkan perhitungan sensitivitas diatas diperoleh beberapa informasi bahwa, untuk skenario I (usaha pemebnihan ikan bawal air tawar) diperoleh NPV sebesar Rp. 151.623.536 dan IRR 18 persen. Pada skenario II (usaha pembenihan dan pendederan ikan bawal air tawar) diperoleh NPV sebesar Rp. 168.919.501 dan IRR 28 persen, sedangkan untuk skenario III (usaha pembenihan, pendederan dan pembesaran ikan bawal air tawar) diperoleh NPV sebesar Rp. 76.778.612 dan IRR 21 persen. Menunjukkan nilai bisnis untuk ketiga skenario ini layak dijalankan karena telah memenuhi kriteria kelayakan investasi. Sedangkan pada skenario ke IV (usaha pembesaran ikan bawal air tawar) diperoleh NPV Rp. 250.238.643 dan Net B/C 0,10, menunjukkan nilai bisnis untuk skenario ini tidak layak dijalankan karena tidak memenuhi kriteria kelayakan investasi. Berdasarkan nilai yang diperhitungkan pada kondisi keempat skenario setelah terjadi kenaikan harga pakan, menunjukkan bahwa tidak terjadi perubahan yang sangat signifikan pada skenario I, II dan III, namun untuk skenario ke IV sangat sensitif terhadap kenaikan harga pakan sebesar 10 persen per tahunnya. 77