HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
PENDAHULUAN. memerlukan waktu inkubasi selama jam. bahkan pembentukan ABTS. -

4 Hasil dan Pembahasan

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. dengan mengukur potensial campuran elektrolit K 3 Fe(CN) 6 dan K 4 Fe(CN) 6

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

2 TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Voltametri

2 Tinjauan Pustaka. 2.1 Teknik Voltametri

Metode Pengukuran Spektrofotometri (Bergmeyer et al. 1974) Pembuatan Media Heterotrof Media Heterotrof Padat. Pengaruh ph, Suhu, Konsentrasi dan

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 2 Skema Pembuatan elektrode pasta karbon.

BAB IV METODE PENELITIAN. karakterisasi elektroda pembanding Ag/AgCl. 2) Pembuatan EPK tanpa

Metodologi Penelitian

ChOx. Cholesterol + O 2 3one. 4-cholesten- + H 2 O 2. H 2 O 2 O 2 + 2H + + 2e - Gambar 14 Mekanisme reaksi katalisis enzimtik pada kolesterol [37]

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Karakterisasi Elektroda Pembanding Ag/AgCl

2 Tinjauan Pustaka. 2.1 Teknik Voltametri dan Modifikasi Elektroda

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. penting bagi tubuh (Campbell et al, 2000). Pada saat ini. kosmetik (Motlagh dan Noroozifar, 2003). Oleh karena itu metode analisis

Prosiding Seminar Nasional Kimia Unesa 2012 ISBN : Surabaya, 25 Pebruari PEMBUATAN ELEKTRODA PEMBANDING Ag/AgCl

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Penelitian Program Studi

4 Hasil dan Pembahasan

3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

PEMBUATAN ELEKTRODA PASTA KARBON TERMODIFIKASI ZEOLIT UNTUK ANALISIS LOGAM

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Enzim α-amilase dari Bacillus Subtilis ITBCCB148 diperoleh dengan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Korosi Baja Karbon dalam Lingkungan Elektrolit Jenuh Udara

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

Kegiatan Belajar 3: Sel Elektrolisis. 1. Mengamati reaksi yang terjadi di anoda dan katoda pada reaksi elektrolisis

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

Mengubah energi kimia menjadi energi listrik Mengubah energi listrik menjadi energi kimia Katoda sebagi kutub positif, anoda sebagai kutub negatif

Elektrokimia. Tim Kimia FTP

BAB III DASAR TEORI. mengalami pengkristalan dan dapat menimbulkan gout. Asam urat mempunyai peran

Sel Volta (Bagian I) dan elektroda Cu yang dicelupkan ke dalam larutan CuSO 4

BAB I PENDAHULUAN. dalam memainkan peranan sebagai neurotransmiter yang dapat mempengaruhi

Redoks dan Elektrokimia Tim Kimia FTP

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. (Pandanus amaryllifolius Roxb.) 500 gram yang diperoleh dari padukuhan

LEMBAR AKTIVITAS SISWA

Elektrokimia. Sel Volta

KIMIA ELEKTROLISIS

Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan

Sulistyani, M.Si.

MODUL I SIFAT KOLIGATIF LARUTAN Penurunan Titik Beku Larutan

3 HASIL DAN PEMBAHASAN

STABILITAS DAN EFEKTIVITAS BIOSENSOR GLUKOSA BERBASIS Escherichia coli YANG DIIMOBILISASI PADA MATRIKS NANOKOMPOSIT ZEOLIT DIAN HERAWATI

BAB IV METODE PENELITIAN

3 Metodologi Penelitian

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Hasil pengukuran Nilai OD pada Media NB. Tabel 1. Pengukuran Nilai OD pada Media NB. Waktu OD (Optical Density)

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.2 DATA HASIL ARANG TEMPURUNG KELAPA SETELAH DILAKUKAN AKTIVASI

Penyisihan Besi (Fe) Dalam Air Dengan Proses Elektrokoagulasi. Satriananda *) ABSTRAK

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 14. Hasil Uji Alkaloid dengan Pereaksi Meyer; a) Akar, b) Batang, c) Kulit batang, d) Daun

BAB V. PEMBAHASAN. 5.1 Amobilisasi Sel Lactobacillus acidophilus FNCC116. Amobilisasi sel..., Ofa Suzanti Betha, FMIPA UI, 2009

Bab I Pendahuluan I.1 Deskripsi Topik Penelitian dan Latar Belakang

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM KIMIA BEDA POTENSIAL SEL VOLTA

BAB II KOROSI dan MICHAELIS MENTEN

KINETIKA REAKSI ENZIMATIS

Soal ini terdiri dari 10 soal Essay (153 poin)

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

VOLTAMETRI. Disampaikan pada Kuliah Metode Pemisahan dan Analisis Kimia Pertemuan Ke 7.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. mencuci pakaian, untuk tempat pembuangan kotoran (tinja), sehingga badan air

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Analisis Voltammogram Siklik Senyawa Klorambusil

ANALISIS LOGAM Fe(II) DALAM SAMPEL AIR SUNGAI X DENGAN ELEKTRODA PASTA KARBON TERMODIFIKASI ZEOLIT SECARA CYCLIC STRIPPING VOLTAMMETRY STANDAR ADISI

4 Hasil dan Pembahasan

Diagram Latimer (Diagram Potensial Reduksi)

Kurva Kalibrasi Larutan Standar Bovine Serum Albumine (BSA) Absorbansi BSA pada berbagai konsentrasi untuk menentukan kurva standar protein yaitu:

Handout. Bahan Ajar Korosi

3. ELEKTROKIMIA. Contoh elektrolisis: a. Elektrolisis larutan HCl dengan elektroda Pt, reaksinya: 2HCl (aq)

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

UJIAN NASIONAL TAHUN PELAJARAN 2007/2008

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. NaOH dalam metanol dengan waktu refluks 1 jam pada suhu 60 C, diperoleh

METODA GRAVIMETRI. Imam Santosa, MT.

4. Hasil dan Pembahasan

Soal-soal Redoks dan elektrokimia

PEMANFAATAN SUPLEMEN VITAMIN C SEBAGAI INHIBITOR KOROSI PADA BAJA API 5L GRADE B DALAM MEDIA 3.5% NaCl DAN 0.1 M HCl

UH : ELEKTROLISIS & KOROSI KODE SOAL : A

PENYUSUN : 1. Eka Yuli Astuti ( ) 2. Lia Ariesta Ifron ( ) PEMBIMBING : Prof. Dr. Ir. Heru Setyawan, M.Eng

ELEKTROKIMIA Konsep Dasar Reaksi Elektrokimia

Hasil Penelitian dan Pembahasan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

Review I. 1. Berikut ini adalah data titik didih beberapa larutan:

Bab IV Hasil dan Pembahasan

STUDI VOLTAMETRI SIKLIK SODIUM DEDOCYL BENZEN SULFONAT DALAM BERBAGAI ELEKTRODA DAN ELEKTROLIT PENDUKUNG

APLIKASI REAKSI REDOKS DALAM KEHIDUPAN SEHARI HARI Oleh : Wiwik Suhartiningsih Kelas : X-4

1. Bilangan Oksidasi (b.o)

TINJAUAN PUSTAKA. uap yang rendah bersifat racun dengan rumus (C 6 H 5 ) 3 SnCl. Senyawa ini mudah

BAB IV METODE PENELITIAN. sampel. Penentuan kadar optimal disinfektan. Penentuan efektivitas disinfektan. data. Skema 4.1 Rancangan Penelitian


PRODUKSI GAS HIDROGEN MELALUI PROSES ELEKTROLISIS SEBAGAI SUMBER ENERGI

Hasil dan Pembahasan

ELEKTRODA PASTA KARBON TERMODIFIKASI KITOSAN UNTUK ANALISIS LOGAM Fe(II) SECARA SIKLIK STRIPPING VOLTAMETRI DENGAN ION PENGGANGGU Zn(II) DAN Cd(II)

BAB 4 HASIL PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Metode penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental, karena

STABILITAS VITAMIN LARUT AIR SELAMA PENGOLAHAN PANGAN Bag 2 Vitamin C

LAPORAN PENELITIAN PROSES PENYEPUHAN EMAS

3 Metodologi Penelitian

Transkripsi:

HASIL DAN PEMBAHASAN Penumbuhan sel D. radiodurans dan Ekstraksi SOD Bakteri D. radiodurans ditumbuhkan dalam media LB cair selama 48 jam dengan suhu 30 0 C. Setelah 48 jam bakteri dapat dipanen untuk mengambil enzim SOD. Sel bakteri dipecah untuk mengekstrak protein sitoplasma yang mengandung enzim SOD dengan menggunakan ultrasonic homogenizer. Protein yang terkestrak memiliki konsentrasi sebesar 3100 µg/ml. Rendemen ekstrak protein adalah 2,41% dari bobot basah (lampiran 2). Rendemen yang dihasilkan lebih besar dibandingkan dengan hasil yang didapatkan oleh Trivadila (2011) dimana rendemen yang didapatkan adalah sebesar 0,07% dalam media yang sama. Tapi hasil yang didapat lebih kecil dibandingkan dengan Mn-SOD yang dihasilkan dari udang Macrobrachium nipponerse dimana ekstrak kasar yang dihasilkan adalah sebanyak 17100 mg (Yao et al. 2004). Seatovics et al. (2004) mendapatkan ekstrak kasar Mn-SOD dari bakteri Thermotherix sp sebanyak 53 mg/17,5 ml. Dalam penelitian ini bakteri Thermotherix sp diisolasi dari pemandian air hangat di Serbia kemudian dibiakkan dalam media nutrien broth (pepton 1,5%, meat extract 0,5%, NaCl 0,5 %, dan K2HPO 4 ph 7,2). Kecilnya rendemen ekstrak yang dihasilkan dibandingkan dengan yang lain diduga karena D. radiodurans memiliki dinding sel yang lebih tebal dibandingkan dengan bakteri yang lain, selain itu bentuknya yang tetrad dan besar menyebabkan sulit untuk memecah dinding sel D. radiodurans dan mengekstrak sitoplasmanya (Trivadila 2011). Pembuatan Elektroda Elektroda rujukan adalah elektroda yang diketahui kestabilannya dan potensial setengah selnya, dan tidak sensitif terhadap analat yang diukur. Ada beberapa elektroda yang biasa digunakan sebagi elektroda rujukan yaitu Elektroda Hidrogen Standar (SHE), Elektroda Kalomel Jenuh (SCE), Elekroda Merkuri/Merkuri Sulfat dan Elektroda Ag/AgCl. Elektroda Ag/AgCl adalah elektroda yang terdiri dari logam perak yang dilapisi dengan perak klorida dalam larutan KCl jenuh. Elektroda Ag/AgCl dibuat dengan cara melakukan elektrolisis

21 terhadap kawat perak (Ag) dalam larutan NaCl 3M (Hattu 2009). Reaksi elektrokimia elektroda Ag/AgCl adalah sebagai berikut: AgCl (s) + e - Ag (s) + Cl - ; E 0 = +0.222 V (3) Pengukuran arus puncak K 3 [Fe(CN)6] dalam larutan elektrolit pendukung KCl 0,1 M menggunakan teknik voltametrik siklik yang dicantumkan dalam Lampiran 3 memperlihatkan bahwa arus puncak anodik pada potensial 315 dan arus puncak katodik diperoleh pada potensial 249 mv untuk elektroda komersil sedangkan untuk elektroda buatan adalah 320 dan 244 mv. Berdasarkan nilai potensial puncak anodik dan katodik, jumlah elektron (n) yang terlibat dalam reaksi dapat ditentukan dengan persamaan Nerst sebagai berikut: (4) dimana ΔE p = E pa - E pa (5) Dari persamaan diatas maka jumlah elektron yang terlibat untuk elektroda komersil adalah : (6) Jumlah elektron yang terlibat untuk elektroda buatan sendiri adalah (7) n yang didapat adalah 1 hal ini sesuai dengan nilai n pada reaksi oksidasi reduksi [Fe(CN) 6 ] 3- yang hanya melibatkan satu elektron, seperti reaksi dibawah ini: Reaksi reduksi [Fe(CN) 6] 3- + e - [Fe(CN) 6 ] 4- (8) Reaksi Oksidasi [Fe(CN) 6] 4- [Fe(CN) 6 ] 3- + e - (9) Berdasarkan perbandingan arus puncak anodik dan katodik yang diperoleh maka dapat juga ditentukan elektron yang terlibat (10) Dari hasil perhitungan nilai n untuk elektroda komersial dan buatan berturut-turut adalah 1.11 dan 1.27 ini mengidentifikasikan jika jumlah elektron yang terlibat bersesuain dengan nilai n pada oksidasi reduksi [Fe(CN) 6 ] 3-. Kualifikasi kinerja elektroda pembanding menggunakan sistem voltametri dengan menggunakan sistem elektrokimia yang sudah diketahui. Sistem

elektrokimia untuk (Fe(CN) 6 ] 3- /[Fe(CN) 6 ] 4- yang sudah diketahui adalah sebagai berikut: [Fe(CN) 6] 3- + e - [Fe(CN) 6 ] 4- E 0 = 0,3610 Vvs E 0 ENH (11) Maka nilai E 0 adalah (12) (13) vs Ag/AgCl (14) Jika [KCl]= 3M dan E 0 Ag/AgCl = 0,222 V vs E 0 ENH maka E 0 untuk [Fe(CN) 6 ] 3- /[Fe(CN) 6 ] 4- adalah 0,5014 V vs E 0 ENH maka E 0 hasil percobaan adalah: (15) Dalam menentukan kekuatan ion, spesi yang memberikan sumbangan besar adalah dan KCl. Sementara dianggap memberikan sumbangan yang kecil, sehingga maka E 0 (0,5014 V). Gambar 1 Voltamogram siklik pada pengukuran larutan K 3 Fe (CN) 6 0.01M. Perbedaan E 0 hasil percobaan dengan E 0 pustaka terjadi karena adanya perbedaan komposisi elektrolit pendukung yang digunakan. Tapi profil

23 voltamogram yang ditunjukkan oleh Gambar 1, (Fe(CN) 6 ] 3- /[Fe(CN) 6 ] 4- dalam KCl 0,1 M) menunjukkan hasil yang didapatkan tidak berbeda jauh dengan yang dihasilkan oleh Hattu (2009) dimana elektron yang terlibat adalah 0,9187 dan E p sebesar 59 mv dengan sistem Fe(CN) 6 ] 3- /[Fe(CN) 6 ] 4- dalam NaClO 4 0,1 M. Perbedaan yang dihasilkan kemungkinan disebabkan oleh adanya perbedaan komposisi elektrolit pendukung yang digunakan. Selain itu, hasil yang didapatkan juga tidak jauh berbeda dibandingkan dengan elektroda pembanding komersil dimana n yang terlibat 1,11 dan E p sebesar 66 mv. Jumlah elektron yang terlibat dalam penelitian ini adalah 1,27 E p sebesar 75,6 mv berdasarkan hasil yang diperoleh maka dapat dikatakan bahwa elektroda yang dibuat memiliki kriteria yang baik dan dapat digunakan untuk pengukuran selanjutnya. Imobilisasi Enzim Enzim memiliki selektivitas dan sensitivitas yang tinggi jika dalam kondisi normal, tapi sangat sensitive terdenaturasi oleh ph dan suhu yang ekstrem, pelarut organik dan deterjen (Takahashi et al. 2001). Untuk menjaga fungsi katalitik enzim pada kondisi ekstrem maka dilakukan imobilisasi pada permukaan material penyangga padat seperti nanokomposit zeolit. Selektivitas dan stabilitas suatu enzim terimobilisasi selain dipengaruhi oleh substrat juga dipengaruhi oleh metode immbolisasi dan material penyangga yang digunakan (Zhao et al. 2008). Oleh karena itu perlu dilakukan pemilihan metode imobilisasi yang tepat agar menghasilkan respon arus yang tinggi. Modifikasi metode imobilisasi yang dilakukan terdiri dari 4 jenis. yaitu SOD di imobilisasi dengan zeolit, kemudian diteteskan pada permukaan pasta karbon termodifikasi ferosena (SOD/Zeolit/PCf), SOD di imobilisasi pada permukaan pasta karbon termodifikasi ferosena (SOD/PCf), zeolit di imobilisasi pada permukaan pasta karbon termodifikasi ferosena (Zeolit/PCf) dan terakhir SOD di imobilisasi pada permukaan zeolit (SOD/Zeolit). Tabel 4 menunjukkan puncak arus dan potensial dari 4 modifikasi metode imobilisasi. Tabel 4 memperlihatkan bahwa SOD/Zeolit/PCf memiliki puncak arus anodik yang lebih tinggi dibandingkan dengan SOD/PCf, Zeolit/PCf dan SOD/Zeolit, dengan nilai berturut-berturut adalah 1,02, 0,054, 0,002 dan 0,0012 μa.

Tabel 4 Puncak arus dan potensial modifikasi metode imobilisasi Modifikasi Arus Puncak I(μA) E (mv) Vs Ag/AgCl) (mv) Ipa Ipc Epa Epc SOD/Zeolit/PCf 1.020 1.71 426 290 SOD/PCf 0.054 0.01 465 330 Zeolit/PCf 0.002 0.01 416 330 SOD/Zeolit 0.0012 0.00-100 115 Gambar 2 menampilkan voltamogram siklik SOD/Zeolit/PCf, SOD/PCf dan SOD/Zeolit. Voltamogram siklik tersebut memperlihatkan puncak anode dan katode yang terbentuk karena proses reaksi oksidasi. Puncak anode yang dihasilkan untuk SOD/Zeolit/PCf pada potensial +426 mv dengan arus 1,02 ma dan puncak katode pada potensial +290 mv dengan besar arus 1,71 ma. Arus yang dihasilkan lebih tinggi dibandingkan dengan SOD/PCf dimana potensial anodik dan katodik berturut-turut adalah +465 dan +330V dengan puncak arus 0.054 dan 0.01mA. Sedangkan nilai untuk SOD/Zeolit lebih rendah dari keduanya. Nilai puncak arus anodik dan katodik SOD/Zeolit adalah 0,0012 dan 0,00 ma dengan potensial anodik -100 mv dan katodik 115 mv. I(A) 4,00E-06 3,00E-06 2,00E-06 1,00E-06 0,00E+00-4,00E-01-2,00E-010,00E+00 2,00E-01 4,00E-01 6,00E-01 8,00E-01 1,00E+00-1,00E-06-2,00E-06-3,00E-06-4,00E-06 E (V) vs Ag/AgCl SZPf SPf SZ Gambar 2 Puncak arus anode dan katode SOD di imobilisasi dengan zeolit, kemudian diteteskan pada permukaan pasta karbon termodifikasi ferosena (SOD/Zeolit/PCf), SOD di imobilisasi pada permukaan

25 pasta karbon termodifikasi ferosena (SOD/PCf), dan SOD di imobilisasi pada permukaan zeolit (SOD/Zeolit) 0,00E+00-1,00E+00-5,00E-01 0,00E+00-5,00E-06 5,00E-01 1,00E+00 I (A) 1,50E-05 1,00E-05 5,00E-06-1,00E-05-1,50E-05 E (V) vs Ag/AgCl Bufer Bufer +XOD Bufer +XOD+ Xantina Gambar 3 Puncak arus anode dan katode SOD zeolit di imobilisasi pada permukaan pasta karbon termodifikasi ferosena (ZPf) Gambar 3 memperlihatkan modifikasi imobilisasi SOD dalam permukaan zeolit tanpa menggunakan pasta karbon termodifikasi ferosena menghasilkan voltamogram yang tidak simetrik sehingga sulit menentukan puncak arus anodik dan katodiknya. Dari data Puncak arus dan potensial modifikasi metode imobilisasi dan voltamogram siklik yang dihasilkan maka dapat disimpulkan SOD di imobilisasi dengan zeolit, kemudian diteteskan pada permukaan pasta karbon termodifikasi ferosena (SOD/Zeolit/PCf) lebih baik dibandingakan dengan yang lain. Puncak anodik dan katodik SOD/Zeolit/PCf yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang lain, menunjukkan bahwa terjadi proses transfer elektron dari reaksi enzimatis dismutase superoksida oleh SOD dalam nanokomposit zeolit permukaan elektroda pasta karbon termodifikasi ferosena (Gambar 4). Kemampuan zeolit untuk meningkatkan puncak arus yang dihasilkan telah diperlihatkan oleh penelitian yang dilakukan oleh Dai et al. (2004) di mana enzim yang digunakan adalah sitokrom c dan NaY zeolit yang digunakan untuk mendeteksi H 2 O 2. Penggunaan Fe (III) yang ditambahkan ke dalam zeolit

sebagai mediator pada pasta karbon dapat meningkatkan puncak oksidasi dan reduksi untuk mendeteksi dopamin dan triptopan (Balal et al. 2009). Gambar 4 Proses transfer dari reaksi enzimatis SOD terimobilisasi dalam nankomposit zeolit kepermukaan elektroda pasta karbon yang dimediasi oleh ferosena Elektroda pasta karbon telah digunakan secara luas untuk biosensor, karena beberapa keunggulan yang dimilikinya seperti memungkinkan untuk mengimobilisasi berbagai jenis substansi (enzim, ligan, mediator redoks, dan jaringan biologi), dapat diaplikasikan dengan rentang potensial yang lebar, mudah dimodifikasi, aman, dan murah (Luo et al. 2006). Pasta karbon termodifikasi zeolit menghasilkan arus yang lebih tinggi dibandingkan dengan menggunakan elektroda glassy carbon electrode (GCE) termodifikasi mikroperoksidase-11 (MP-11) dalam nanokomposit 1-oktil-3-metillimidazolium hexafluorophosphate (OMIMPF6) yang digunakan untuk mendeteksi H 2 O 2 di mana puncak arus oksidasi yang dihasilkan adalah 0,1 ma pada potensial -0.260 and -0.235 V (Wan et al. 2009). Puncak arus juga menunjukkan hasil yang lebih besar dibandingkan dengan SOD terimobilisasi langsung pada elektroda emas dengan perbandingan arus puncak katodik dan anodik adalah 0,7 (Ipc/Ipa = 0.7 pada 100mV) dengan beda potensial antara katodik dan anodik adalah 0.15 V (Ep = Epa Epc = 0.15V) (Di at al. 2004). Arus yang dihasilkan juga lebih tinggi dibandingkan dengan penelitian yang dilakukan oleh Trivadila (2011), SOD terimobilisasi pada elektroda pasta karbon tanpa zeolit menghasilkan puncak arus anodik sebesar 0,1mA.

27 Kemampuan zeolit dalam meningkatkan puncak arus ini bisa disebabkan karena sifatnya yang hidrofilik karena adanya gugus OH disekitar pori sehingga sangat cocok untuk imobilisasi enzim (Valdes et al. 2006). Selain itu, karena karakteristiknya yang unik diantaranya stabil pada temperatur tinggi, tahan terhadap pelarut organik dan sifatnya yang keras sehingga lebih stabil terhadap tekanan mekanik yang tinggi akan menyebabkan enzim yang terjerab akan lebih stabil. Sedangkan rangka dan pori dari struktur zeolit yang seragam menyebabkan selektivitas dan reprodusibilitasnya yang dihasilkan tinggi (Valdes et al. 2006). Disamping itu, zeolit selain dapat digunakan sebagai material penyangga, keunikan yang dimiiliki zeolit adalah memiliki kemampuan katalitik yang dapat membantu mempercepat reaksi (Dai et al. 2004). Optimasi aktivitas SOD terimobilisasi Pengoptimuman Aktivitas SOD murni Parameter paramater yang dioptimumkan pada aktivitas SOD D. radiodurans dilakukan dengan menggunakan rancangan percobaan metode permukaan respon seperti terlihat dalam Lampiran 4. Parameter-parameter yang dioptimumkan adalah ph (7-11), suhu (20-40 0 C), massa zeolit (25-250mg) dan konsentrasi SOD (1-5 unit/ml). Gambar 5 memperlihatkan plot kontur hubungan antara zeolit dan konsentrasi SOD terhadap puncak arus oksidasi (a), ph dan konsentrasi SOD terhadap puncak arus oksidasi (b), ph dan zeolit terhadap puncak arus oksidasi (c), suhu dan konsentrasi SOD terhadap puncak arus oksidasi (d), suhu dan zeolit terhadap puncak arus oksidasi (e), suhu dan ph terhadap puncak arus oksidasi (f). Berdasarkan hasil pengoptimuman ini, maka kondisi optimum bagi aktivitas SOD murni adalah pada ph 9, suhu 30 0 C, zeolit 137,5 mg dan konsentrasi SOD 3 unit/ml. Hasil ini sedikit berbeda dengan hasil yang telah dilakukan oleh penelitipeneliti sebelumnya. Trivadila (2011) mengimobilisasi enzim SOD pada elektroda pasta karbon dengan mediator ferosen, aktivitas optimum SOD pada suhu 20 0 C dan ph 11. Campanella et al. (2001) telah mengimobilisasi SOD pada

membran gel kappakaraginan di permukaan elektroda oksigen untuk mengukur antioksidan buah dan sayur segar, daerah optimum terletak pada ph 7,5 dan suhu 25 0 C. Sedangkan dari penelitian Di et al. (2004) daerah optimum untuk SOD yang terimobilisasi pada elektroda emas terletak pada ph 8,2. Gambar 5 Plot kontur hubungan antara zeolit dan konsentrasi SOD terhadap puncak arus oksidasi (a), ph dan konsentrasi SOD terhadap puncak arus oksidasi (b), ph dan zeolit terhadap puncak arus oksidasi (c), suhu dan konsentrasi SOD terhadap puncak arus oksidasi (d), Suhu

29 dan zeolit terhadap puncak arus oksidasi (e), suhu dan ph terhadap puncak arus oksidasi (f) aktivitas enzim murni. Dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa puncak arus optimum yang dihasilkan sangat dipengaruhi oleh proses imobilisasi yang dilakukan. Parameter-parameter yang sangat berpengaruh adalah ph dan suhu. Pergeseran ph terjadi karena enzim diimobilisasi pada matrik yang memiliki perbedaan muatan, sedangkan pergeseran suhu disebabkan oleh ketidakhomogenan karena imobilisasi enzim (Trivadila 2011). Pengoptimuman Aktivitas Ekstrak SOD dan Bakteri D. radiodurans Parameter-parameter yang dioptimumkan pada ekstrak SOD dari D. radiodurans sama dengan optimasi yang dilakukan pada enzim murni tapi berbeda konsentrasi SOD (1000-2000µg/ml) (Lampiran 5). Gambar 12 menampilkan plot kontur hubungan antara ph dan konsentrasi SOD terhadap puncak arus oksidasi (a), ph dan zeolit terhadap puncak arus oksidasi (b), suhu dan konsentrasi SOD terhadap puncak arus oksidasi (c), suhu dan zeolit terhadap puncak arus oksidasi (d), Suhu dan ph terhadap puncak arus oksidasi (e), zeolit dan konsentrasi SOD terhadap puncak arus oksidasi (f). Dari plot kontur kita dapat melihat bahwa daerah optimum dari SOD D. radiodurans tidak berbeda dengan daerah optimum dari enzim SOD murni yaitu ph 9, suhu 30 0 C, zeolit 137,5 mg. Disini yang berbeda adalah konsentrasi SOD yaitu 1500µg/ml, hal ini disebabkan karena ekstrak enzim SOD masih memiliki jenis protein lain selain protein enzim SOD. Hasil ini hampir sama dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Trivadila (2011), dimana daerah optimum ekstrak enzim SOD adalah ph 9, suhu 27,5 0 C. Kondisi optimum ph, suhu dan jumlah zeolit antara SOD murni dan ekstrak adalah sama, sedangkan jumlah enzim yang berbeda, hal ini disebabkan karena kemurnian ekstrak SOD masih sangat rendah, masih terdapat protein lain selain protein SOD. Penelitian Trivadila (2011) menghasilkan kondisi optimum yang berbeda antara SOD murni dan ekstrak. Aktivitas optimum SOD pada suhu 20 0 C dan ph 11, dan daerah optimum ekstrak enzim SOD adalah ph 9, suhu 27,5 0 C. Adanya protein-protein lain dalam ekstrak diduga mempengaruhi

kekuatan ionik dan nilai pi bersihnya, sehingga menggeser nilai ph optimumnya. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa dengan adanya zeolit, keberadaan protein-protein lain dalam ekstrak diduga tidak mempengaruhi kekuatan ionik dan nilai pi bersihnya sehingga tidak menggeser nilai ph optimumnya. ph optimum yang didapatkan bersesuain dengan kondisi ph optimum untuk Cu/Zn- SOD berkisar 5-10 sedangkan untuk Mn-SOD ph diatas 8 akan menurunkan aktivitasnya (Donnely et al. 1989).

31 Gambar 6 Plot kontur hubungan antara ph dan konsentrasi SOD terhadap puncak arus oksidasi (a), ph dan zeolit terhadap puncak arus oksidasi (b), suhu dan konsentrasi SOD terhadap puncak arus oksidasi (c), suhu dan zeolit terhadap puncak arus oksidasi (d), Suhu dan ph terhadap puncak arus oksidasi (e), zeolit dan konsentrasi SOD terhadap puncak arus oksidasi (f) aktivitas ekstrak SOD D.radiodurans. Pengoptimuman Aktivitas Bakteri D. radiodurans Parameter yang dioptimumkan untuk aktivitas bakteri adalah ph (7-11), suhu (20-40) dan zeolit (25-250 mg). Data pengoptimuman bakteri D. radiodurans seperti pada Lampiran 6. Konsentrasi bakteri yang digunakan adalah 62,8 mg/ml. Gambar 7 menunjukkan plot kontur hubungan antara ph, suhu, dan zeolit terhadap aktivitas bakteri D. radiodurans. Plot kontur menunjukkan bahwa tidak dihasilkan nilai puncak yang maksimum. Dari hasil ini dapat dikatakan bahwa bakteri D. radiodurans tidak memiliki aktivitas untuk meningkatkan puncak oksidasi. Gambar 7 Plot kontur hubungan antara suhu dan ph terhadap puncak arus oksidasi, suhu dan konsentrasi SOD terhadap puncak arus oksidasi, suhu dan zeolit terhadap puncak arus oksidasi, ph dan zeolit terhadap puncak arus oksidasi.

Deinococcus radiodurans merupakan bakteri Gram positif dengan diameter 1,5-3,5 µm dan umunya membentuk tetrad. Bakteri ini mudah berkembang dan tidak menimbulkan penyakit. Koloninya halus, cembung, dan berwarna pink kemerahan. Superoksida dismutase merupakan antioksidan enzimatik intrasel atau juga dikenal dengan istilah antioksidan endogen (Sunarno 2009). Karena D. radiodurans memiliki dinding sel yang tebal dan juga strukturnya yang tetrad kemungkinan ekskresi SOD tidak terjadi, karena tidak adanya SOD yang bereaksi dengan radikal superoksida tidak ada transfer elekron yang terjadi oleh sebab itulah arus tidak dihasilkan. Sehingga dapat disimpulan sel bakteri D. radiodurans utuh sebagai komponen pengenal hayati biosensor antioksidan kurang berpotensi. Kinetika Enzim Superoksida Dismutase Imobilisasi Untuk melihat kespesifikan suatu enzim maka dilakukan penentuan parameter kinetika enzim yaitu konstanta Michaelis-Menten nyata (K Mapp ) dan laju reaksi nyata (V maks app ) yang dianalogikan dengan arus maksimum nyata (I maks app ). Parameter kinetika enzim ini dilakukan pengukuran aktivitas SOD dengan variasi konsentrasi substrat xanitna 0,1-1,00 mm pada kondisi optimum masing-masing enzim. Data pengukuran aktivitas enzim SOD terlihat pada Lampiran 7. Gambar 8 dan 9 menunjukkan hubungan antara konsentrasi substrat xantina dengan aktivitas SOD murni dan SOD D.radiodurans. aktivitas SOD ( Ipa) (μa -1 ) 0,4 0,35 0,3 0,25 0,2 0,15 0,1 0,05 0 0 0,2 0,4 0,6 0,8 1 1,2 Xantina](mM) SOD Murni (µa) Ekstrak SOD (µa)

33 Gambar 8 Hubungan konsentrasi xantina dan aktivitas SOD. aktivitas SOD ( Ipa) (μa -1 ) 0,4 0,35 0,3 0,25 0,2 0,15 0,1 0,05 0 y = 0,480x - 0,016 R² = 0,980 y = 0,298x - 0,025 R² = 0,958 0 0,2 0,4 0,6 0,8 [Xantina](mM) SOD Murni (µa) Ekstrak SOD (µa) Gambar 9 Linearitas konsentrasi xantina dan aktivitas SOD. Gambar 8 menunjukkan hubungan konsentrasi substrat dan aktivitas enzim SOD murni dan SOD D. radiodurans, identik dengan kurva Michaelis- Manten. Dari kurva terlihat bahwa reaksi yang dikatalisasi oleh enzim terjadi dalam dua tahap, dimana tahap pertama pada kisaran konsentrasi 0,1 0,8 mm reaksi berada pada fase pertama dimana tidak semua sisi aktif SOD mengikat radikal superoksida. Fase kedua terjadi pada kisaran 0.8-0,10 mm, disini sisi aktif SOD telah mengikat radikal superoksida, disini dengan penambahan konsentrasi xantina yang lebih tinggi tidak mempengaruhi aktivitas SOD. Gambar 9 menunjukkan lineritas dari hubungan antara xantina dan aktivitas enzim SOD. SOD murni memiliki kisaran lineritas yang lebih tinggi dari pada ekstrak SOD, tapi nilai R 2 dari keduanya tidak jauh berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak SOD D. radiodurans yang terimobilisasi dalam zeolit pada permukaan elektroda pasta karbon berpotensi untuk digunakan sebagai pengenal. Menentukan parameter-parameter kinetika enzim yaitu (K Mapp ) dan (I maks app) dapat dilakukan dengan menggunakan metode Lineweaver-Burk. Gambar 10 menunjukkan kurva Lineweaver-Burk yaitu 1/ I pa dan 1/[xantina].

1/Ipa (μa -1 ) 40,000 35,000 30,000 25,000 20,000 15,000 10,000 5,000 0,000 y = 3,389x + 1,138 R² = 0,962 y = 1,927x + 1,011 R² = 0,983 0,000 2,000 4,000 6,000 8,000 10,000 12,000 1/[Xantina] (mm -1 ) 1/Ipa SOD murni 1/Ipa SOD ekstrak Gambar 10 Plot Lineweaver-Burk enzim SOD imobilisasi. Nilai I maks app dan K Mapp yang ditampilkan pada pada Tabel 10 memperlihatkan bahwa nilai K Mapp enzim murni lebih kecil dibandingkan dengan nilai K Mapp ekstrak SOD. Nilai I maks app dan K Mapp Tabel 5 Nilai parameter kinetika enzim SOD imobilisasi yang kecil menunjukkan bahwa laju reaksi katalitik dari dismutasi radikal superoksida yang dikatalis SOD D. radiodurans lebih lambat dibandingkan dengan enzim SOD. Metode SOD Murni SOD D.radiodurans I maks app (µa) KMapp(mM) Imaks app (µa) KMapp(mM) Lineweaver -Burk 0.989 1.096 0.878 2.978 Perbedaan nilai K m yang dihasilkan disebabkan oleh perbedaan struktur dari enzim SOD yang berasal dari eritrosit sapi dan SOD yang dihasilkan oleh D. radiodurans. SOD yang dihasilkan dari eritrosit sapi adalah tipe Cu-Zn SOD (Misra & Fredovich 1971; Kankofer 2002) sedangkan dari D. radiodurans adalah Mn-SOD.

35 a b Gambar 11 Struktur enzim Cu/Zn-SOD (Donnelly et al.1989) (a) dan Mn-SOD (http://www.chem.uky.edu/research/miller/sod_projects2.html) (b). Mekanisme katalisis SOD didasarkan pada reaksi redok dari ion logam (Cu/ Zn, Mn, Fe and Ni) dan ion radikal superoksida. Pada Cu/Zn SOD, Cu 2+ bertindak sebagai katalis sedangkan Zn adalah menjaga keseimbangan struktur (Donnelly et al. 1989). Cu bertindak sebagai pembawa dua elektron radikal superoksida melalui dua tahap reaksi. E-Cu 2+.- + O 2 E-Cu + + O 2 (16) E-Cu + + O2.- + 2H + E-Cu 2+ + H 2 O 2 (17) Mekanisme katalis pada MnSOD bereaksi dengan mengukuti fase ledakan dan fase orde nol, dimana Mn-SOD yang tereduksi akan bereaksi dengan radikal superoksida melalui dua jalur (Trivadila 2011) Mn +3 SOD (OH - ) + O 2.- (+H +) Mn +2 SOD (H 2 O) + O 2 (18) Mn +2 SOD (H2O) + O.- 2 (+H + ) Mn +3 SOD (OH - ) +H 2 O 2 (19) Mn +2.- SOD (H2O) + O 2 Mn +3 SOD (H 2 O) + O 2 Mn +3 SOD (H2O) + O 2-2 (+H + ) Mn +3 SOD (OH - ) +H 2 O (21) Km enzim murni dan ekstrak SOD yang diperoleh lebih besar dibandingkan dengan yang dihasilkan Trivadila (2011), dimana K m untuk SOD murni dan ekstrak SOD adalah 0,3694 dan 0,1930. Tapi arus yang dihasilkan 2- (20)

pada penelitian ini lebih besar dibandingkan dengan arus yang dihasilkan oleh penelitian Trivadila (2011), dengan puncak arus anodik yaitu 0,08 untuk SOD murni dan 0,1 untuk ekstrak SOD. Sehingga jika dibandingkan maka nilai K m dari penelitian ini lebih kecil dibandingkan dengan Trivadila (2011). Nilai Km merupakan ukuran kuat dan rendahnya enzim mengikat substrat, jika K m kecil enzim mengikat kuat substrat sehingga dengan substrat yang rendah cukup untuk menjenuhkan enzim. Dan sebaliknya jika K m besar maka enzim tidak terlalu mengikat kuat substrat sehingga substrat yang dibutuhkan untuk menjenuhkan enzim lebih banyak. Dari Hasil ini dapat disimpulkan bahwa, keberadaan zeolit dapat meningkatkan puncak arus anodik sehingga memiliki potensi sebagai material pendukung untuk biosensor antioksidan berbasis SOD. Pengukuran Aktivitas Antioksidan Metode pertama untuk mengukur kapasitas antioksidan adalah dengan menggunakan biosensor SOD. Kapasitas antioksidan dinyatakan sebagai relative antioxidant capacity (RAC). Nilai (RAC) merupakan perbandingan dua slope dari kurva dengan dan tanpa penambahan sampel antioksidan. Jika sampel memiliki kandungan antioksidan maka arus yang dihasilkan akan lebih rendah dibandingan dengan larutan yang hanya mengandung radikal superoksida. Dengan membandingakan dua slope ini maka dapat ditentukan kapasitas antioksidan dari sampel (Campanella et al. 2004). Data RAC dari beberapa konsentrasi vitamin C terdapat pada Lampiran 8. Hasil pengukuran dengan biosensor ditunjukkan pada Gambar 12. Dari gambar dapat kita lihat bahwa, penambahan vitamin C akan menyebabkan penurunan puncak arus yang dihasilkan. Tinggi dan rendahnya puncak arus yang dihasilkan signifikan dengan perbedaan konsentrasi vitamin C yang ditambahkan. Pengukuran dengan biosensor menunjukkan bahwa vitamin C dapat mereduksi radikal superoksida lebih dari 50%. Hal ini dikarenakan vitamin C bertindak sebagai antioksidan yang dapat meredam terbentuknya radikal superoksida yang dihasilkan dari reaksi xantina oksidase dengan xantina.

37 Aktivitas SOD ( Ipa)(μA) 1 0,9 0,8 0,7 0,6 0,5 0,4 0,3 0,2 0,1 0 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6 0,7 [Xantina](mM) 0.05 0.02 0.01 0.005 Blanko Gambar 12 Puncak arus dengan tanpa (blanko) dan penambahan vitamin C. Gambar 13 memperlihatkan RAC untuk vitamin C dengan berbagai variasi konsentrasi. Dari gambar kita dapat melihat bahwa nilai RAC akan berbanding lurus dengan konsentrasi vitamin C yang ditambahkan. Semakin besar vitamin C ditambahkan maka nilai RAC akan meningkat. Artinya, semakin besar antioksidan yang ditambahkan maka kapasitas antioksidannya akan meningkat. RAC 0,9 0,8 0,7 0,6 0,5 0,4 0,3 0,2 0,1 0 y = 2,674x + 0,629 R² = 0,984 0 0,01 0,02 0,03 0,04 0,05 0,06 Vitamin C (M)

Gambar 13 Nilai RAC Vitamin C dengan berbagai konsentrasi. Vitamin C merupakan antioksidan yang sangat kuat. Hal ini dapat dilihat dari nilai RAC yang lebih besar dibandingkan dengan RAC berbagai buah seperti apel, nanas, anggur, Chery, pisang, melon, apricot (Campanella et al. 2003b). RAC vitamin C yang dihasilkan lebih tinggi dibandingkan dengan RAC minuman anggur putih dan anggur merah yang memiliki nilai RAC berturut-turut adalah 0,358 dan 0,534 (Campanella et al. 2004). Kapasitas antioksidan vitamin C yang didapatkan juga lebih besar dibandingkan dengan menggunakan biosensor amperometri berbasis SOD yang mendeteksi H 2 O 2, dimana vitamin C dalam minuman anggur putih dengan konsentrasi 21,5 mgl -1 memiliki kapasitas antioksidan sebesar 0,058 (Campanella et al. 2004). Range konsentrasi vitamin C yang terukur adalah 0,005-0.05 M. Range konsentrasi yang digunakan pada penelitian ini lebih besar dibandingkan dengan biosensor berbasis silika yang dicampur dalam elektroda pasta karbon untuk mendeteksi asam askorbat, asam urat dan xantina, dimana range konsentrasinya adalah 2.0 10 4-1.0 10 3 M (Sun et al. 2009). Tapi masih lebih kecil dibandingkan dengan biosensor berbasis SOD untuk mengukur kapasitas antioksidan vitamin C pada minuman anggur merah dan anggur putih (Campanella et al. 2004) dan biosensor berbasis tirosinase untuk mengukur polifenol teh dengan mengukur katekin sebagai standar pada range konsentrasi 10-100 mm (Abhijeth et al. 2007) Metode kedua untuk menentukan kapasitas antioksidan dari vitamin C adalah menggunakan metode penangkapan radikal bebas DPPH menggunakan spektrofotometri. Vitamin C ditentukan kapasitas antioksidannya dengan cara membuat kurva deret standar dengan konsentrasi vitamin C 1, 5, 10, 15 dan 20 dan 25 ppm (Lampiran 8). Gambar 14 merupakan kurva kalibrasi yang memplot hubungan antara konsentrasi vitamin C dengan % Inhibisi terhadap DPPH. Konsentrasi yang menyebabkan DPPH awal turun sebanyak 50% yang digunakan sebagai parameter nilai antioksidan suatu sampel dan disebut dengan IC 50. Berdasarkan pengukuran maka asam askorbat memiliki nilai sebesar 19,49 ppm.

39 % Inhibisi (%) 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 y = 2,459x + 30,26 R² = 0,995 0 5 10 15 20 25 30 Vitamin C (ppm) Gambar 14 % inhibisi vitamin C terhadap DPPH. Dari kedua metode yang digunakan kita dapat melihat bahwa, konsentrasi vitamin C yang dapat diukur biosensor jauh lebih besar dibandingkan dengan metode spektrofotometri. Jika menggunakan metode spektrofotometri pada konsentrasi 30 ppm absorbansinya sudah mencapai 1 (Rahman et al. 2007), hal ini disebabkan karena spektrofotometeri sangat dipengaruhi oleh kekeruhan larutan. Hal ini berbeda dengan biosensor yang tidak dipengaruhi oleh kekeruhan larutan. Sehingga tidak diperlukan pengenceran berkali-kali yang dapat menyebabkan berkurangnya ketelitian. Selain itu, ketika vitamin C direaksikan DPPH dilakukan inkubasi selama 30 menit. Tapi dengan menggunakan biosensor tidak diperlukan inkubasi karena super radikal adalah senyawa yang tidak stabil sehingga harus segera diukur. Dari sini dapat disimpulkan bahwa penggunaan biosensor lebih cepat, akurat dan sensitif dibandingkan dengan spektrofotometri.