Continuous Passive Motion (CPM) Siku Dengan Control Electromyograph (EMG) Arif Rachman H 1, Dr. I Dewa Gede. Hari Wisana, ST, MT 2, Lamidi S.ST.MT 3 ABSTRAK CPM adalah gerakan pasif yang terus menerus berfungsi melatih kinerja lengan dan siku. CPM efektif dalam pemulihan kekakuan gerakan penuh yang diterapkan setelah operasi. Electromyogram merupakan metode yang digunakan untuk merekam dan menganalisis sinyal myoelectric. Selain sebagai sinyal input pada suatu kontroler, EMG juga digunakansebagai terapi kelumpuhan, fisioterapi, penelitian medis dan pengukuran aktifitas otot olahragawan. Pada skripsi kali ini Continuous Passive Motion (CPM) Siku Dengan Control Electromyograph (EMG) merupakan gabungan EMG dan CPM yang berfungsi untuk menyatukan kedua fungsi masing masing alat sehingga alat ini dapat mengoptimalkan pengobatan terhadap pasien. Kata Kunci: EMG, CPM 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Terapi adalah pemulihan kesehatan seseorang karena suatu penyakit akibat cidera. Terapi berfungsi untuk mengembalikan fungsi tubuh seperti semula. Prinsip kerja alat terapi yaitu ada yang memancarkan sinar, memancarkan frekuensi tinggi dan menggerakan bagian tubuh sebagai alat bantu melatih bergerak. Pada skripsi kali ini, kami akan memanfaatkan terapi dengan menggerakkan bagian tubuh sebagai alat bantu melatih bergerak, khususnya terapi untuk pergerakan tangan dan sendi siku pada orang pasca cidera patah tulang. Proses penyembuhan cidera patah tulang harus melewati masa rehabilitasi. Pemulihan berbagai gerak sendi setelah operasi atau trauma tergantung pada rehabilitasi. Keterlambatan rehabilitasi selanjutnya dapat mengakibatkan fungsi sendi yang buruk atau imobilitas. Rehabilitasi melibatkan terapi dari sendi menggunakan latihan aktif untuk mengembalikan kekuatan dan gerakan pasif untuk mengembalikan mobilitas. Gerakan pasif dapat dibantu oleh fisioteraphy yaitu Continuous Passive Motion (CPM).[1] CPM adalah gerakan pasif yang terus 1
menerus berfungsi melatih kinerja lengan dan siku. CPM efektif dalam pemulihan kekakuan gerakan penuh yang diterapkan setelah operasi. [2] Dalam skipsi kami kali ini, kami akan mengontrol alat CPM tersebut berdasarkan kemampuan otot pasien yang akan kami sadap saat proses terapi. Otot adalah sebuah jaringan konektif dalam tubuh yang tugas utamanya kontraksi. Kontraksi otot berfungsi untuk memindahkan /menggerakkan bagianbagian tubuh & substansi dalam tubuh. Ada tiga macam sel otot dalam tubuh manusia (jantung, lurik dan polos) namun yang berperan dalam pergerakan kerangka tubuh manusia adalah otot lurik (otot rangka). Otot rangka adalah jaringan peka rangsang yang diatur oleh saraf motorik somatic dalam kesatuan yang disebut syaraf motorik unit.[4] Otot pasien nantinya akan disadap menggunakan elektroda dan diolah menggunakan EMG. Dari ke enam referensi yang kami ambil berisi tentang EMG dan CPM. Di dalam referensi EMG, sinyal EMG hanya diaplikasikan ke mekanik robot saja dengan berbagai methode, sedangkan di dalam referensi CPM hanya menjelaskan kinerja gerak CPM dan pemulihan stuktur otot serta sendi lengan siku. Menurut kami berdasarkan referensi diatas belum ada yang menggabungkan kinerja alat EMG dan CPM, oleh sebab itu pada skripsi kali ini kami akan membuat alat Continuous Passive Motion (CPM) Siku Dengan Control Electromyograph (EMG) 1.2 Batasan Masalah Agar dalam pembahasan alat ini tidak terjadi pelebaran masalah dalam penyajiannya, penulis membatasi pokok pokok batasan masalah yang akan dibahas yaitu : 1. Menampilkan sudut pergerakan motor per 10 0 pada LCD 2. Pergerakan mode lemah = 10 0-90 0 3. Pergerakan mode sedang = 60 0 4. Pergerakan mode kuat = 90 0 5. Menggunakan sensor rotary untuk deteksi sudut 6. Menggunakan mikrokontroller ATMEGA 7. Menggunakan motor gearbox 8. Menggunakan tombol emergency untuk memposisikan tangan pada keadaan awal (safety) 1.3 Rumusan Masalah Dapatkah membuat CPM siku control EMG??
1.4 Tujuan Penelitian 1.4.1 Tujuan Umum Dibuat CPM siku control EMG 1.4.2 Tujuan Khusus 1. Membuat rangkaian instrument ampifier untuk menyadap sinyal otot. 2. Membuat rangkaian filter untuk menyaring sinyal EMG. 3. Membuat rangkaian minimum system mikrokontroler ATmega16. 4. Memfungsikan Mikrokontroler sebagai pengolah data agar dapat tampil pada display. 5. Membuat software pada pemograman Bascom AVR sebagai pengolah data ADC. 6. Melakukan uji fungsi alat. melakukan fisioterapi menggunakan tombol manual. 2.Untuk pasien yang menderita cidera pasca patah tulang, alat ini dapat membantu merangsang otot lengan dan memudahkan pasien untuk menggerakkan lengan secara optimal 2. METODOLOGI 2.1 Diagram Mekanis Sistem 1.5 Manfaat 1.5.1 Manfaat Teoritis Hasil penelitian dapat meningkatkan wawasan ilmu pengetahuan di bidang peralatan terapi, khususnya pada alat CPM yang dicontrol menggunakan sinyal EMG 1.5.2 Manfaat Praktis 1. Untuk seorang perawat, alat ini dapat membantu dan memudahkan kinerjanya sehingga tidak letih untuk Gambar 3.3 Desain Mekanik Alat Gambar 3.4 Desain Box Alat
2.2 Diagram Blok Sistem 2.3 Diagram Alir Proses/Program Mode lemah (tdk ada sinyal) Driver Motor Setting Sudut 30 derajat begin Switch ON Inisialisasi LCD Pengambilan Sinyal Pengkategorian mode Mode sedang (sinyal kecil) Driver Motor Setting Sudut 60 derajat Mode kuat (sinyal besar) Driver Motor Setting Sudut 90 derajat 2.4 Urutan Kegiatan 1. Mempelajari literatur 2. Menentukan topik 3. Menyusun latar belakang, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat 4. Membuat diagram mekanis, diagram blok sistem dan diagram alir proses/program 5. Menyusun proposal 6. Merancang rangkaian mekanik dan rangkaian elektronik dalam bentuk modul-modul 7. Menyatukan modul-modul membentuk sistem modul 8. Mengalibrasi sistem modul 9. Menguji sistem modul dan mengukur besaran-besaran yang diperlukan 10. Menghitung parameter-parameter kinerja sistem 11. Membuat ulasan mengenai hasilhasil dari penelitian ini meliputi kelebihan/kekuatan sampai dengan kekurangan/kelemahan sistem 12. Menarik kesimpulan dan saran untuk perbaikan sistem 13. Menyusun laporan karya tulis ilmiah Motor ON END
1. PENGUJIAN DAN PEMBAHASAN 3.1 Teknik Pengujian dan Pengukuran Setelah membuat modul maka perlu diadakan pengujian dan pengukuran. Untuk mengetahui seberapa tepat pembuatan modul ini, maka penulis melakukan pendataan melalui pengukuran dan pengujian. Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah masing masing komponen dapat berjalan sesuai dengan fungsinya yang telah direncanakan. 3.2 Hasil Pengukuran 3.2.1 Output sensor rotary tanpa beban Gambar 4.3 Output sensor rotary terbebani driver Gambar di atas adalah hasil pengukuran pada output sensor rotary encoder yang terbebani driver dalam keadaan mekanik naik dan turun. Chanel 1 (gambar atas) dalam keadaan turun dan Chanel 2 (gambar bawah) dalam keadaan naik. 3.2.3 Output sensor rotary encoder setting 60 0 Gambar 3.1 sensor rotary tanpa beban Gambar di atas adalah hasil pengukuran pada output sensor rotary dalam keadaan tertutup dan terbuka (tidak terbebani suatu benda). Gambar 4.4 Output sensor rotary encoder setting 60 3.2.2 Output sensor rotary encoder terbebani driver 3.3 Analisis Berdasarkan hasil pengukuran dapat dianalisis bahwa sensor rotary encoder menghasilkan output 5V dan 0V tergantung dari perputaran rotary encoder (terbuka dan tertutupnya sensor). Saat setting 60 0
terdapat 12 gelombang dan saat setting 90 0 terdapat 18 gelombang, dengan demikian dapat dianalisis bahwa setiap 1 gelombang mewakili 5 0 pada pergerakan mekanik. 3.4 Kinerja Sistem Keseluruhan Cara kerja modul Continuous Passive Motion (CPM) Siku dengan Control Electromyograph (EMG) yaitu ketika kabel power di sambungkan ke jala-jala PLN maka switching (supplay) akan mendapat 220VAC dan mengeluarkan tegangan 12VDC. 12VDC switching akan mensuplay minsys yang tehubung dengan sensor rotary, modul driver, LCD dan push button. Selain itu switching juga mensuplay modul variabel regulator 2596 yang mengatur tegangan yang masuk pada motor DC. Modul EMG mendapat supplay dari bateray 6V. Sinyal EMG yang di dapat dari output instrument, amplifier dan filter akan terhubung ke IC Mikrokontroler menjadi nilai ADC kemudian data diolah dan ditampilkan pada LCD. Nilai tampilan LCD akan menentukan pengkategorian Mode. Mode lemah (tidak ada sinyal) pergerakan 10 0 90 0 secara manual. Mode sedang (sinyal kecil) pergerakan 60 0 secara otomatis. Mode kuat (sinyal besar) pergerakan 90 0 secara otomatis. 1. PENUTUP 4.1 Kesimpulan Jadi setelah melakukan uji alat,ketika alat mekanik bekerja setiap pergerakan rotary berbeda dengan pergerakan mekanik lengan,pada saat dipergerakan lengan 30 0 di rotary 60 0,jadi saya menyimpulkan untuk mengubah perputaran rotary menjadi 2x untuk mengubah rotary setiap lubang 5 0,agar sama dengan mekanik lengan. Jadi ketika rotary 120 0 di mekanik lengan 60 0. Dan ketika 90 0 di mekanik lengan,di sensor rotary menuju 180 0. 4.2 SARAN Karena berbagai faktor alat yang penulis buat ini masih jauh dari sempurna, baik dari segi perencanaan bentuk fisik ataupun kinerjanya. Adapun analisa kekurangan dari alat yang penulis buat ini adalah: 1. Pergerakan mekanik hanya naik turun saja, seharunya ada pergerakan ke samping juga. 2. Sensor rotary hanya bisa membaca sudut paling kecil 5 0 saja.
DAFTAR PUSTAKA Blue Cross Blue Shield Of Alabama. 2014. Continuous Passive Motion Devices. Medical Policy. Shawn, dkk. 2000. Continuous Passive Motion (CPM) Theory And Principles Of Clinical Application. Mayo Clinic, Rochester. BIODATA PENULIS Nama : Arif Rachman Hariyanto NIM : P27838113027 Alamat : jalan delima block cemara no 6 kab.tuban Pendidikan terakhir : SMAN 1 PONOROGO Saringer, John. Enginnering Aspect Of The Design And Construction Of Continuous Passive Motion Devices For Human Rika, dkk. 2013. Identifikasi Sinyal EMG Pada Gerak Ekstensi-Fleksi Siku Dengan Metode Konvolusi Dan Jaringan Syaraf Tiruan. PENS ITS Surabaya. Ezra, dkk. 2015. Perancangan dan Implementasi Tangan Robot Buatan Dengan Menggunakan EMG Universitas Telkom Bandung. Andreas, dkk. 2011. Robot Lengan 3 Dof Dengan Input Sinyal EMG. PENS ITS Surabaya.