1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Transportasi sangat membantu dalam mobilitas keseharian masyarakat, seperti berangkat kerja, berangkat ke sekolah, maupun keperluan lainnya. Seiring dengan semakin meningkatnya mobilitas masyarakat, pertumbuhan jumlah kendaraan juga semakin meningkat, terlebih lagi untuk kendaraan bermotor. Tercatat pada tahun 2013 jumlah kendaraan bermotor dengan jenis sepeda motor mencapai 84 juta unit sedangkan untuk jenis mobil mencapai 11 juta unit, dan pada tahun 2015 jumlah tersebut telah meningkat mencapai 98 juta unit untuk jenis kendaraan sepeda motor dan 13 juta unit untuk jenis kendaraan mobil [1]. Hal tersebut menjadi salah satu penyebab semakin padatnya arus lalu lintas. Pemerintah berupaya mencari solusi untuk mengatasi kepadatan lalu lintas yang dikarenakan oleh semakin bertambahnya jumlah kendaraan bermotor khususnya untuk kendaraan bermotor pribadi, salah satunya adalah dengan mengoptimalkan transportasi umum. Transportasi umum seperti bus dalam kota dapat menjadi alternatif dalam melakukan aktivitas keseharian masyarakat ditengah semakin padatnya arus lalu lintas oleh kendaraan-kendaraan pribadi. Pemerintah Kota Jakarta menjadi pionir dalam merancang sebuah transportasi umum bus dalam kota yang diberi nama Transjakarta yang resmi beroperasi pada 1 Februari 2004. Berbagai fasilitas yang ditawarkan termasuk banyaknya jumlah armada dan halte bus serta kemudahan informasi yang didapat mengenai bus Transjakarta membuat transportasi ini cukup digemari oleh masyarakat Jakarta. Hal ini dibuktikan dengan rata-rata penumpang per hari transportasi ini mencapai 320.000 penumpang [2]. Meski belum sepenuhnya mengatasi kemacetan yang terjadi di ibukota, Transjakarta dapat membantu mobilitas masyarakat untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Kota lain yang menggunakan transportasi serupa dalam menangani mobilitas masyarakat adalah Kota Semarang. Pemerintah Kota Semarang
merancang transportasi umum yang memiliki sistem yang sama dengan dengan Transjakarta, yakni BRT Trans Semarang. Bus yang resmi beroperasi pada tahun 2009 ini telah mengangkut penumpang sebanyak 8 juta penumpang selama tahun 2015 [3]. Akan tetapi bus yang memiliki 4 koridor ini kurang mendapat hati masyarakat Kota Semarang karena selain jumlah armada yang masih sedikit [3], informasi mengenai bus Trans Semarang sendiri masih kurang. Kurangnya informasi mengenai bus Trans Semarang, seperti letak lokasi halte, rute yang dilewati oleh bus Trans Semarang, hingga estimasi waktu kedatangan bus Trans Semarang, menjadi beberapa penyebab kurangnya minat masyarakat Kota Semarang untuk menggunakan bus Trans Semarang. Keterlambatan kedatangan bus Trans Semarang sendiri sebenarnya diakibatkan oleh aspek teknis seperti kemacetan. Meski begitu keterlambatan ini dapat mempengaruhi minat masyarakat dalam menggunakan bus Trans Semarang. Inilah yang menjadi masalah utama yang dialami oleh pemerintah Kota Semarang. Pemerintah Kota Semarang telah mengembangkan aplikasi berbasis web untuk memantau keberadaan bus Trans Semarang [4]. Pemantauan ini menggunakan Global Positioning System (GPS) yang telah terpasang di bus Trans Semarang. GPS ini akan mengirimkan lokasi bus terkini secara terusmenerus dengan durasi tertentu. Aplikasi ini dapat menampilkan seluruh bus yang sedang beroperasi pada satu tampilan peta, sehingga para pengguna dapat mengetahui keberadaan seluruh bus. Pemberian tanda bus yang berbeda berdasarkan koridor yang dilalui bus memudahkan pengguna untuk mengetahui bus yang akan dinaiki. Kekurangan dari aplikasi ini adalah tidak adanya informasi mengenai lokasi shelter dan rute yang dilalui oleh bus. Pemerintah Kota Semarang juga mengembangkan aplikasi berbasis mobile untuk menyediakan informasi mengenai bus Trans Semarang [5]. Aplikasi yang telah tersedia di Play Store ini berisi informasi persebaran halte bus, rute yang dilalui bus dan lokasi keberadaan bus Trans Semarang yang dekat dengan pengguna aplikasi. Berbeda dengan aplikasi berbasis web, informasi lokasi bus pada aplikasi berbasis mobile ini hanya 2
menampilkan daftar lokasi bus Trans Semarang yang diurutkan berdasarkan jaraknya dari pengguna aplikasi dan hanya dapat menampilkan lokasi satu bus pada satu peta. Kekurangan dari aplikasi ini adalah informasi tentang lokasi halte yang ditampilkan pada peta memiliki tanda yang sama untuk setiap koridor, hal ini membuat pengguna tidak dapat membedakan halte tiap koridor bus. Beberapa peneliti telah melakukan penelitian terkait penyediaan informasi lokasi khususnya dalam melacak keberadaan transportasi. Kumhar et al. mengembangkan sebuah aplikasi berbasis web yang dapat melacak keberadaan bus umum yang ada di India. Aplikasi tersebut mampu mengurangi waktu menenggu bus karena pegguna dapat melakukan kegiatan lain sebelum bus sampai di halte [6]. Jemilda et al. memanfaatkan perkembangan teknologi smartphone untuk membuat sebuah aplikasi berbasis mobile khususnya Android untuk melacak bus kampus [7]. Shuju Wu et al. mengembangkan aplikasi berbasis mobile Android yang mampu melacak perjalanan bus umum. Sistem operasi Android sendiri dipilih salah satunya karena Android merupakan sistem operasi yang digunakan oleh kebanyakan orang pada smartphonenya [8]. Firebase merupakan sebuah teknologi realtime database yang dapat menyimpan dan mensinkronisasi data secara langsung (realtime) [9]. Database ini sangat tepat untuk mengembangkan aplikasi yang bersifat realtime seperti live messanging atau chating. Ketika terjadi perubahan data pada database, aplikasi akan melakukan sinkronisasi data secara otomatis tanpa perlu pengguna aplikasi melakukan penyegaran (refresh application) ataupun meminta pemaruan secara manual. Penelitian ini akan mengembangkan aplikasi berbasis Android yang memuat informasi tentang bus Trans Semarang. Informasi yang disajikan pada aplikasi ini adalah menampilkan lokasi seluruh bus yang sedang beroperasi dan lokasi halte dalam satu tampilan peta dan untuk memudahkan pengguna dalam membedakan koridor, nantinya setiap koridor akan dibedakan berdasarkan warna tanda yang berbeda. 3
1.2. Rumusan Masalah Dari latar belakang yang telah dipaparkan dapat dirumuskan masalah yang terjadi adalah apakah Firebase Realtime Database dapat diimplementasikan pada sistem pelacak bus Trans Semarang berbasis mobile? 1.3. Batasan Masalah Pembahasan penelitian ini dibatasi pada: 1. Sistem operasi perangkat mobile yang digunakan adalah Android, 2. Sebagai bentuk eksperimen, dibuat aplikasi berbasis mobile yang digunakan sebagai pengganti GPS pada bus; 1.4. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah menghasilkan sebuah aplikasi bebasis mobile yang mampu melacak bus yang sedang beroperasi secara realtime, menampilkan lokasi bus dan halte dalam satu tampilan peta dan mampu membedakan tanda bus dan halte untuk masing-masing koridor. 1.5. Manfaat Penelitian Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian ini adalah: a. Bagi Penulis - Dapat mengimplementasikan ilmu yang telah dipelajari selama perkuliahan - Dapat mengembangkan kemampuan dalam pembuatan aplikasi berbasis mobile b. Bagi Universitas - Dapat menjadi tolak ukur universitas untuk mengetahui ilmu dan kemampuan yang didapat mahasiswa selama perkuliahan 4
c. Bagi Masyarakat - Dengan aplikasi BRT Bus Tracking masyarakat dapat mengetahui keberadaan bus Trans Semarang dengan tepat - Lebih mudah dalam memperoleh informasi mengenai bus Trans Semarang khususnya tentang lokasi shelter dan seluruh lokasi bus yang sedang beroperasi saat ini - Dapat mengurangi waktu tunggu bus BRT karena pengguna dapat melakukan kegiatan lain sebelum bus sampai di shelter 5