BAB 4 METODE PENELITIAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 4 METODE PENELITIAN

BAB 4 METODE PENELITIAN. 4.1 Jenis Penelitian Penelitian ini adalah eksperimental laboratorik.

BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN. 4.1 Jenis Penelitian Penelitian ini adalah eksperimental laboratorik. Penanaman sel ke 96-wells plate. Uji Viabilitas Sel

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai September 2014 di Green

Lampiran 1 Pembuatan Medium Kultur DMEM Lampiran 2 Pembuatan Larutan PBS Lampiran 3 Prosedur Pewarnaan HE

Gambar Scan gel SDS PAGE protein sel galur HSC-3

BAB III METODE PENELITIAN. primer sel otak fetus hamster ini merupakan penelitian eksperimental yang

BAB 4 METODE PENELITIAN. 4.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian yang dilakukan adalah eksperimental laboratorik yang dilakukan secara in vitro.

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian Pengaruh Vitamin E (α-tocoferol) Terhadap Kerusakan,

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan 7 sampel dari 7

Pembuatan Media Kultur Bakteri Pemanenan sel bakteri. Isolasi DNA kromosom bakteri. Kloning DNA

BAB 4 METODE PENELITIAN. 4.1 Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik.

METODE PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu

BAB 4 METODE PENELITIAN. 4.1 Jenis Penelitian Penelitian ini adalah eksperimental laboratorik.

LAMPIRAN 1. Pembuatan Reagen Bradford dan Larutan Standar Protein

BAB 4 METODE PENELITIAN. 4.1 Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik.

7. LAMPIRAN. Gambar 19. Kurva Standar Protein

FAKULTAS BIOLOGI LABORATORIUM GENETIKA & PEMULIAAN INSTRUKSI KERJA UJI

BAB 5 HASIL PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. terhadap proliferasi sel ginjal fetus hamster yang dikultur primer merupakan

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian tentang uji sitotoksisitas rebusan daun sirsak (Annona muricata L)

BAB 4 METODE PENELITIAN. 4.1 Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik.

II. MATERI DAN METODE PENELITIAN. 1.Materi, Lokasi dan Waktu Penelitian

III. METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. asiatica L.) terhadap Pertumbuhan Sel Hepar Baby hamster yang Dipapar 7.12-

BAB III METODE PENELITIAN. mengekstraksi DNA dari dari beberapa spesimen herbarium Rafflesia arnoldii

III. METODOLOGI PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN

BAB 4 METODE PENELITIAN. 4.1 Jenis Penelitian Penelitian ini adalah eksperimental laboratorik.

LAMPIRAN. Lampiran 1. Deskripsi Pembuatan Larutan Stok dan Buffer

PRAKTIKUM ISOLASI DNA DAN TEKNIK PCR

Fetus Hamster. Ginjal Fetus Hamster FBS

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Biologi

BAB 4 METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN. digunakan adalah penelitian Posttest Only Control Design ( Gliner,2000 ) dengan kultur in

METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

Lampiran 1 Ekstraksi dan isolasi DNA dengan metode GeneAid

Lampiran 1. Pembuatan Larutan Buffer untuk Dialisa Larutan buffer yang digunakan pada proses dialisa adalah larutan buffer Asetat 10 mm ph 5,4 dan

BAB III METODE PENELITIAN

FAKULTAS BIOLOGI LABORATORIUM GENETIKA & PEMULIAAN INSTRUKSI KERJA UJI

Laporan Praktikum Isolasi DNA, Teknik PCR dan Elektroforesis Agarose

Lampiran 1. Hasil identifikasi tumbuhan poguntano (Picria fel-terrae Lour.)

BAB III METODE PENELITIAN. konsentrasi limbah cair tapioka (10%, 20%, 30%, 40%, 50% dan 0% atau kontrol)

3 Metode Penelitian Alat

II. MATERI DAN METODE PENELITIAN. 1.Materi, Lokasi, dan Waktu Penelitian

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus-Desember 2015 di Laboratorium

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian tentang pengaruh Vitamin E (α-tokoferol) terhadap persentase

BAB III METODE PENELITIAN A.

Lampiran 1. Hasil identifikasi tumbuhan andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC.)

BAB III METODE PENELITIAN

3. METODE PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN. Tempat dan Waktu Penelitian. Bahan dan Alat Penelitian

III. MATERI DAN METODE

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Secara garis besar langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini

BAB III METODE PENELITIAN. Rancangan acak lengkap (RAL) faktorial dengan 2 faktor yaitu:

BAB III METODE PENELITIAN. bersifat eksperimen karena pada penelitian menggunakan kontrol yaitu

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

ANALISIS PROTEIN SPESIFIK TEMBAKAU SRINTHIL. Disusun oleh : Nama : Slamet Haryono NIM :

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitaian ini di lakukan di Laboratorium Kultur Jaringan Tumbuhan

II. MATERI DAN METODE PENELITIAN

II. METODOLOGI PENELITIAN. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Udayana,

PERAN ISOFORM TAp73 DAN STATUS GEN p53 TERHADAP AKTIFITAS htert PADA KARSINOMA SEL SKUAMOSA RISBIN IPTEKDOK 2007

MATERI DAN METODE. Materi

LAMPIRAN. Lampiran 1. Komposisi Media MGMK Padat dan Cara Pembuatannya Bahan: Koloidal kitin 12,5% (b/v) 72,7 ml. Agar 20 g.

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental yang bertujuan untuk

BAB III METODE PENELITIAN. Dalam penelitian ini dilakukan lima tahap utama yang meliputi tahap

PROSEDUR TETAP PERSIAPAN KERJA IN VITRO DI LABORATORIUM

III. BAHAN DAN METODE. Pertanian, Universitas Lampung, dan Laboratorium Biokimia Puspitek Serpong.

BAB III METODE PENELITIAN. untuk mengisolasi Actinomycetes dan melihat kemampuannya dalam

MATERI DAN METODE PENELITIAN

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB 5 HASIL PENELITIAN

Teknik Isolasi Bakteri

BAB III METODE PENELITIAN

III. METODOLOGI Waktu dan Tempat Alat dan Bahan Metode Penelitian Pembuatan Ekstrak Bligo (mengacu Sugito 2010)

Sitotoksisitas Ekstrak Spons Laut Aaptos suberitoides Terhadap Siklus Sel Kanker HeLa

Penelitian ini dilakukan di laboratorium Mikrobiologi Pangan Universitas Katolik Soegijapranata pada Agustus 2013 hingga Januari 2014.

BAB III METODE PENELITIAN. Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Maulana

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Hewan coba Metode Penelitian 1 Isolasi dan Produksi Antigen E/S Fasciola gigantica

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di laboratorium Plant Physiology and Culture

BAB 4 METODE PENELITIAN. (True experiment-post test only control group design). Dalam penelitian yang

IV METODOLOGI PENELITIAN. Bahan penelitian yang akan digunakan adalah S. platensis, pupuk Azolla pinnata,

BAB III METODE PENELITIAN. Chlorella sp. tiap perlakuan. Data di analisa menggunakan statistik One Way

BAB III METODE PENELITIAN

RPMI 1640 medium. Kanamisin 250 µg. Coomassie brilliant blue G-250

3. METODE 3.1 Waktu dan Tempat 3.2 Bahan dan Alat

METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus sampai Februari 2014.

PROSEDUR TETAP UJI KOMBINASI DENGAN AGEN KEMOTERAPI

METODE PENELITIAN. Penelitian dilakukan mulai bulan Februari sampai April 2015 di. Laboratorium Mikrobiologi Klinik RSUP H.Adam Malik Medan.

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan dari bulan Juli 2014 sampai dengan bulan September

LAMPIRAN. Lampiran 1. Pembuatan Larutan Stok dan Buffer

Laporan Praktikum Isolasi DNA, Teknik PCR dan Elektroforesis Agarose

Transkripsi:

22 BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1 Jenis Penelitian Penelitian ini adalah penelitian eksploratorif. Penelitian ini merupakan penelitian in vitro pada spesimen jaringan mukosa mulut normal dan sel galur kanker mulut yang dikultur di Laboratorium Biologi Oral FKGUI. 4.2 Sampel Penelitian dan Bahan Uji Spesimen kontrol berupa gingiva berukuran 2 x 2 x 2 mm didapatkan dari pasien yang menjalani odontektomi di klinik Bedah Mulut FKG UI pada periode Mei-Juli 2008. Sebanyak 27 spesimen kontrol dikumpulkan dan dianalisa dalam penelitian ini. Sel galur karsinoma sel skuamosa rongga mulut HSC-3 dan HSC-4 didapatkan dari Laboratorium Biologi Oral FKG UI. 4.3 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Laboratorium Biologi Oral Fakultas Kedokteran Gigi pada periode Mei-November 2008. 4.4 Variabel Penelitian 4.4.1. Variabel Terikat Sel galur karsinoma sel skuamosa oral tipe HSC-3 dan HSC-4 dan mukosa normal. 4.4.2. Variabel Bebas Profil protein pada sel HSC-3 dan HSC-4 serta mukosa mulut normal. 4.5 Definisi Operasional 4.5.1. Profil protein

23 Keberadaan, jumlah, ketebalan dan berat molekuler dari pita protein yang nampak pada gel SDS-PAGE berdasarkan standar protein ladder Invitrogen See Blue Plus 2 dengan pewarnaan Comassie Blue 0,05%. 4.5.2. Skoring band Penilaian tingkat ketebalan dan kegelapan yang ditampilkan oleh band pada visualisasi Gel Doc, terbagi menjadi 5 kategori: sangat tebal (++++), tebal (+++), sedang (++), tipis (+), tidak terlihat (-). 4.5.3. Mukosa Normal Jaringan mukosa yang diambil dari pasien odontektomi Klinik Bedah Mulut FKG UI sebagai variabel kontrol 4.5.4. Sel Galur HSC-3 Sel galur KSSRM dengan mutasi insersi p53 yang kemudian dikultur dan diekstrak proteinnya menggunakan kit Trizol untuk dijadikan sampel dalam penelitian ini. 4.5.5. Sel Galur HSC-4 Sel galur KSSRM dengan mutasi missence p53 yang kemudian dikultur dan diekstrak proteinnya menggunakan kit Trizol untuk dijadikan sampel dalam penelitian ini. 4.5.6. SDS-PAGE Metode pemisahan protein suatu jaringan atau sel galur kultur berdasarkan berat molekulnya melalui proses elektroforesis. 4.6 Alat, Bahan, dan Cara Kerja 4.6.1 Kultur Sel Galur Kanker Mulut Alat dan Bahan: Alat: 1. Centrifuge 2. Pipet Eppendorf 3. Stirer plate 4. Pipet pasteur Bahan: 1. DMEM High Glucose L-Glutamine 2. FBS (Fetal Bovine Serum) 3. Penstrap 4. Fungizone 5. PBS (Phosphate Buffer Saline)

24 5. Becker glass 6. Tube 15 ml 7. Tube 50 ml 8. Pipet tips 1000µL dan 200µL 9. Tissue culture dish 10. Timer 11. Syringe 50 ml 12. Filter 13. Scraper 14. Waterbath 15. Inkubator 16. Bio Safety Cabinet (Laminar flow) 17. Cryopreservation 4.6.1.1 Prosedur Membangunkan Sel 1. Siapkan 10 ml medium ke dalam tube 2. Ambil cell line HSC-3 dan HSC-4 dari dalam tabung nitrogen 3. Lakukan quick thaw sampai seluruhnya mencair 4. Pindahkan ke dalam tube 15 ml dengan pipet yang telah terisi medium kemudian pipetting 5. Lakukan sentrifugasi 90 x g selama 5 menit Akan terbentuk pellet dan supernatan, supernatant dibuang sementara pellet yang merupakan endapan sell dipertahankan 6. Siapkan medium untuk petri disc sebanyak masing-masing 5 ml pada 4 buah petri (2 HSC-3 dan 2 HSC4) dengan menggunakan pipet pasteur 7. Tambahakan 5 ml DMEM ke pellet di dalam tube kemudian pipetting 8. Spread sel yang ada di dalam tube (@ 2,5 ml) ke petri disc yang sebelumnya sudah terisi 5 ml DMEM Prosedur membuat medium DMEM lengkap (High glucose L glutamine) Memiliki komposisi tambahan: antibiotic, anti jamur dan serum

25 1. Buat dalam 50 ml tube falcon 2. Masukkan DMEM sebanyak 45 ml ke dalam tube 3. Tambahkan Fetal Bouvine Serum (FBS) sebanyak 5 ml 4. Tambahkan Pen strap 10 mikroliter 5. Tambahkan Fungizone 10 mikroliter 6. Beri label DMEM complete pada tube 4.6.1.2 Prosedur Penggantian Medium Sel: 1. Keluarkan sel pada petri disc dari incubator 2. Perhatikan dengan mikroskop inverted untuk memastikan perlu tidaknya medium diganti 3. Jika perlu maka langkah selanjutnya adalah mempersiapkan laminar flow, alat dan bahan yang akan digunakan untuk mengganti medium sebelumnya sudah disterilisasi dengan sinar UV selama 10 menit 4. Sebelum masuk ke laminar, cawan dan tangan operator disemprot dahulu dengan alkohol agar steril 5. Medium awal dibuang dengan pipet Pasteur 6. Sescara perlahan, bilas cawan tersebut dengan PBS secara merata, langkah ini dulangi sebanyak 3 kali agar sel-sel yang masih hidup pada cawan benar-benar bersih 7. Masukkan medium baru (DMEM) sebanyak 5 ml 8. Tutup cawan dan keluarkan dari laminar 9. Cek kondisi sel dengan mikroskop 10. Jika kondisi sel baik maka masukkan cawan ke dalam incubator 11. Terakhir, rapihkan semua alat dan bahan serta buang sampah yang ada di dalam laminar 12. Semprot laminar dengan alkohol, sinari UV 10 menit setelah itu matikan mesin

26 4.6.1.3 Prosedur Harvesting Cells (Memanen Sel): 1. Semua alat di UV terlebih dahulu selam 10 menit 2. Buang medium lalu cuci dengan PBS secara merata selama 3 kali menggunakan pipet Pasteur 3. Kerok sel-sel yang berada pada permukaan cawan dengan sebelumnya ditambahkan PBS menggunakan scraper, ulangi sampai kira-kira semua sel terlepas dari permukaan cawan 4. Pindahkan ke fresh tube 15 ml (PBS + sel kurang lebih 5 ml) 5. Putar pada centrifuge 2000 g, suhu 24 o C, 10 menit 6. Akan terlihat pellet di dasar tube, kemudian buang supernatant (PBS) 7. Beri medium baru sebanyak 5 ml kemudian di pipetting 8. Pindahkan ke cawan baru dengan disebar merata 9. Cek pada mikroskop dan pindahkan ke dalam incubator 4.6.1.4 Prosedur Membuat DMEM (Dulbecco s Modified Essentials Medium) Lengkap: 1. Masukkan DMEM ke dalam falcone 2. Tambahakan penstrap, fungizone, dan PBS ke dalam falcone 3. Siapkan falcone baru dan saringan kemudian tuang larutan tersebut ke falcone sambil disaring 4.6.2 Ekstraksi Protein Ekstraksi protein dari sel HSC-3 dan HSC-4 dilakukan dengan Kit Trizol (Invitrogen) sesuai dengan instruksi produk. Hasil ekstraksi protein disimpan pada suhu -20 o C, sampai saat analisis SDS-PAGE dilakukan. Alat dan Bahan: Alat: 1. Mortal dan Pastel 2. Centrifuge 3. Vortex Bahan: 1. Trizol 2. Chloroform 3. Etanol 100% 4. Isopropanol 5. Guanidine HCl 0,3 M

27 4. Pipet Eppendorf 5. Timbangan 6. Epis 1,5 ml 7. Tube 15 ml 8. Pipet tips 1000µL dan 200µL 9. Blade 10. Tissue Culture dish 11. Timer 12. Ice Box 13. Keranjang sterilisasi 14. Autoclave 15. Alumunium Foil 4.6.2.1 Ekstraksi Protein Jaringan Mukosa Normal Langkah Kerja Tahap Homogenisasi 1. Timbang jaringan menggunakan timbangan OHAUS explorer 2. Cacah jaringan dengan blade di petri disc yang dialasi dengan es 3. Masukkan jaringan ke dalam mortal dan tumbuk jaringan dengan pastel hingga halus 4. Masukkan Trizol 1ml per 50 mg jaringan lalu pindahkan ke dalam epis 1,5 ml dengan menggunakan pipet 1000 µl 5. Inkubasi 5 menit, 15-30 o C 6. Masukkan chloroform 200 µl / 1 ml Trizol 7. Shake by hand 15 detik 8. Inkubasi 2-3 menit, 15-30 o C 9. Sentrifuge 12000 x g selama 15 menit pada suhu 2-8 o C 10. Setelah disentrifugasi akan tampak tiga lapisan di dalam epis, yaitu lower red, phenol chloroform phase (interphase) dan colorless upper aqueous phase (lapisan teratas yang bening). Buang lapisan colorless upper aqueous phase dengan pipet eppendorf

28 Tahap DNA Precipitation 11. Tambahkan 300 µl ethanol 100% / 1 ml Trizol reagent ke dalam epis lalu kocok hingga bercampur 12. Inkubasi 2-3 menit, 15-30 o C 13. Sentrifuge 2000 x g selama 5 menit pada suhu 2-8 o C, setelah itu akan tampak pellet yang merupakan DNA dan phenol ethanol supernatant. Protein akan diisolasi dari supernatant tersebut Isolasi Protein Protein precipitation 14. Pindahkan phenol ethanol supernatant ke dalam dua epis baru / 1 ml Trizol 15. Masukkan 1500 µl Isopropanol / 1 ml Trizol 16. Inkubasi 10 menit, 15-30 o C 17. Sentrifuge 12000 x g selama 10 menit pada suhu 2-8 o C Protein Wash 18. Buang supernatant dan masukkan 0,3 M Guanidine HCl dalam ethanol 95% sebanyak 2000 µl / 1 ml Trizol 19. Inkubasi 20 menit, 15-30 o C 20. Sentrifuge 7500 x g selama 5 menit pada suhu 2-8 o C 21. Lakukan langkah 18-20 sebanyak 3 kali 22. Setelah final wash, masukkan ethanol 2000 µl / 1 ml Trizol kemudian vortex protein pellet. 23. Inkubasi 20 menit, 15-30 o C 24. Sentrifuge 7500 x g selama 5 menit pada suhu 2-8 o C 25. Masukkan ethanol 2000 µl / 1 ml Trizol ke dalam epis 26. Simpan di dalam kulkas suhu -20 o C hingga digunakan dalam tahap redisolving protein pellet

29 4.6.2.2 Ekstraksi Protein Sel Monolayer HSC-3 dan HSC-4 Tahap Homogenisasi 1. Buang medium di dalam petri disc 2. Masukkan 1000 µl Trizol / 3,5 cm diameter petri disc. Petri disc yang digunakan berdiameter 9 cm sehingga dimasukkan 3000 µl Trizol. Kekurangan Trizol akan menyebabkan kontaminasi dari isolated RNA dan DNA 3. Kerok sel menggunakan scraper kemudian pipetting hingga sel bercampur dengan Trizol lalu masukkan ke dalam 3 epis 1,5 ml 4. Inkubasi 5 menit, 15-30 o C 5. Masukkan chloroform 200 µl / 1 ml Trizol 6. Shake by hand 15 detik 7. Inkubasi 2-3 menit, 15-30 o C 8. Sentrifuge 12000 x g selama 15 menit pada suhu 2-8 o C 9. Setelah disentrifugasi akan tampak tiga lapisan di dalam epis, yaitu lower red, phenol chloroform phase (interphase) dan colorless upper aqueous phase (lapisan teratas yang bening). Buang lapisan colorless upper aqueous phase dengan pipet eppendorf. Tahap-tahap DNA precipitation dan isolasi protein sama dengan langkah-langkah ekstraksi protein pada jaringan mukosa normal 4.6.3. Bradford Protein Assay Setelah ekstraksi protein Keringkan sampel protein yang masih dalam bentuk pellet di dalam ethanol 100%, setelah kering campurkan dengan 1% SDS. Inkubasi dalam suhu 50 o C hingga sampel protein terlarut. Lakukan sentrifugasi selama 10 menit dengan kecepatan 10000g suhu 4 o C. Supernatan yang dihasilkan dipindahkan ke dalam epis baru. Prosedur Bradford Protein Assay 1. Menyiapkan standard protein dengan pengenceran 8x (rentang konsentrasi 8-1024 µg/ml)

30 2. Ambil protein standar BSA dengan konsentrasi 284000µg/ml. Pengenceran dimulai dari konsentrasi tertinggi (1024µg/ml) hingga mencapai konsentrasi terendah. 3. Sebagai cetakan pengenceran terakhir yang akan digunakan di 96 well (protein yang digunakan dalam bentuk pellet sehingga dilakukan pengenceran sebesar 100 kali) 4. Ambil 160µl sampel protein (protein standar BSA dan sampel protein) ke dalam 96-well plate (duplo) dan tambahkan 40µl larutan bradford ke dalamnya. Masukkan well ke dalam microplate reader, kemudian menggunakan perangkat lunak microplate manager konsentrasi protein total dibaca pada panjang gelombang 655nm. 4.6.4. SDS-PAGE Alat: 1. Centrifuge 2. Vortex 3. Pipet Eppendorf 4. Timbangan 5. ph meter 6. Stirer plate 7. Pipet 8. Erlenmeyer 9. Becker glass 10. Kaca pengaduk 11. Mortar and pestel 12. Epis 1,5 ml 13. Tube 15 ml 14. Pipet tips 1000µL dan 200µL 15. Blade 16. Tissue Culture dish 17. Timer 18. Power pack Bahan: 1. Guanidine HCl 0,3 M 2. Etanol 100% 3. Isopropanol 4. Chloroform 5. Trizol 6. Tris Base 7. HCl 1 N 8. MiliQ H 2 O 9. TEMED 10. Ammonium Persulfat 11. Aqua Bidestilata 12. Larutan Bradford 13. Comassie Blue 14. BSA (Bovine Serum Albumine) 15. PBS 16. 10% SDS 17. Acrylamide-BisAcrylamide 18. Marker protein See Blue Protein Marker (Invitrogen).

31 19. SDS-PAGE Running Apparatus 20. Ice Box 21. Keranjang sterilisasi 22. Autoclave 23. Multichannel pippette 24. Microplate 96 well 25. Microplate manager software 26. Microplate reader Langkah Kerja SDS-PAGE Pembuatan Resolving Buffer Stock dan Stacking Buffer Stock 1. 4x Stacking Buffer Stock 0,5 m Tris HCl (ph 6,8) 1 Molar larutan merupakan Berat molekul (dalam gram) dalam satu liter 2. 8x Resolving Buffer Stock 3 M Tris HCl (ph 8,8) Tabel 4.1 Perbandingan komposisi resolving dan stacking dalam pembuatan SDS-PAGE Bahan Resolving Buffer (µl) Stacking Buffer (µl) MiliQ 4400 2385 Acrylamidebisacrylamide 3750 375 Resolving buffer 1250 - Stacking Buffer - 1000 SDS 10% 100 40 APS 1,5 % 500 200 Jumlah 30 30

32 Prosedur SDS-PAGE 1. Persiapkan SDS apparatus 2. Masukkan resolving gel ke dalam gel cast 1,5 cm dari tepi atas menggunakan pipet Pasteur plastik 3. Tambahkan miliq hingga penuh 4. Tunggu hingga menjadi gel (gel yang tersisa di dalam tube dapat menjadi indikasi) 5. Keringkan air dengan menggunakan kertas penyerap 6. Campur stacking gel, isi hingga penuh, masukkan sisir 7. Ketika menunggu menjadi gel, panaskan thermal block hingga mencapai 100 o C 8. Campur sample buffer dan sample protein dengan perbandingan 2:1 9. Inkubasi 5 menit dalam 100 o C 10. Angkat sisir 11. Letakkan sample tracker yang berwarna kuning di atas gel cast 12. Masukkan 15µL sample protein menggunakan tips 10µL 13. Masukkan 8µL protein marker (invitrogen SeeBluePlus2) 14. Larikan pada 100V selama 30 menit 15. Larikan pada 200V selama 1 jam 16. Lepaskan gel 17. Bilas dengan menggunakan comassie blue R-250 0,05% sehingga tampak pita protein. 18. Destain dengan destaining solution

33 4.7 Alur Penelitian Jaringan Mukosa Normal KSSO mutan p53 HSC-3 HSC-4 Kultur sel Ekstraksi Protein Bradford Protein Assay SDS-PAGE Profil Protein 4.8 Analisa Data Perbedaan profil protein pada sel galur HSC-3 dan HSC-4 serta jaringan mukosa normal dilihat dengan teknik SDS-PAGE dan diamati dengan program Gel Doc. 4.9 Etik Penelitian Penelitian ini merupakan bagian dari proyek penelitian drg. Yuniardini S Wimardhani, MscDent. dan telah memperoleh surat lolos etik penelitian FKG UI.