BAB III: GAMBARAN UMUM LOKASI STUDI 3.1. Deskripsi studi kasus Universitas Mercu Buana didirikan pada 22 Oktober 1985. Sampai saat ini, telah mempunyai 4 kampus yang terdiri dari kampus utama yang dinamakan Kampus A terletak di daerah Meruya, Jakarta Barat, kampus B, terletak di Menteng, Jakarta Pusat, kampus C di Depok, Jawa Barat, serta Kampus D di Bekasi, Jawa Barat. Pada penelitian ini, studi kasusnya berada di kampus A atau disebut juga dengan kampus menara Bhakti yang saat ini telah memiliki 7 buah bangunan utama yaitu 5 Gedung Perkuliahan yang terdiri atas 4 gedung berlantai 4, dan 1 gedung berlantai 5, 1 gedung untuk kegiatan kemahasiswaan berlantai 2 dan 1 gedung Rektorat berlantai 2 seperti yang terlihat pada gambar 35. Disamping itu terdapat sebuah masjid dengan yang terdiri dari 2 lantai untuk keperluan beribadah bagi mahasiswa/i dan masyarakat sekitar yang beragama islam. gambar 35. Masterplan kampus menara Bhakti ( www.maps.google.co.id ) Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 66
= batas kawasan Universitas Mercu Buana = gedung rektorat = gedung perkuliahan = gedung kegiatan mahasiswa = UMB Tower = Masjid UMB Keterangan gambar 35 Pada tahun 2009, kampus menara Bhakti telah mempunyai UMB Tower setinggi 7 lantai sebagai gedung perpustakaan, auditorium berbentuk teater, Lab komputer pusat, ruang - ruang kelas, business Center dan ruang yayasan, seperti lebih dijelaskan pada tabel 6 berikut ini : tabel 6. Fungsi tiap lantai UMB Tower No. Lantai Fungsi Luas area (m²) 1 Semi basement R. laboratorium komputer, dll 1056,713 m² 2 Lantai 1 Business Center, exhibition hall, dll 986,8 m² 3 Lantai 2 R. yayasan, R. Kelas, dll 986,8 m² 4 Lantai 3 R. kelas, dll 783,8 m² 5 Lantai 4 R. kelas, dll 783,8 m² 6 Lantai 5 Perpustakaan, dll 783,8 m² 7 Lantai 6 Perpustakaan, dll 783,8 m² Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 67
8 Lantai 7 Auditorium, dll 783,8 m² 9 Lantai Utilitas R. Control panel lift, dll 119 m² JUMLAH 7068,313 m² UMB Tower mempunyai 2 core yang berfungsi sebagai zona fasilitas servis bagi pengguna bangunan, pusat kontrol ME (mekanikal elektrikal), sirkulasi vertikal, dan lain-lain. Sistem tangga kebakaran terdapat di dalam core tersebut sebagai sarana evakuasi dan sirkulasi vertikal bagi pengguna bangunan tersebut seperti terlihat pada setiap gambar denah berikut ini : gambar 36. denah lantai semi basement UMB Tower Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 68
gambar 37. denah lantai 1 UMB Tower gambar 38. denah lantai 2 UMB Tower Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 69
gambar 39. denah lantai 3 UMB Tower gambar 40. denah lantai 4 UMB Tower Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 70
gambar 41. denah lantai 5 UMB Tower gambar 42. denah lantai 6 UMB Tower Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 71
gambar 43. denah lantai 7 UMB Tower gambar 44. denah lantai utilitas UMB Tower Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 72
= batas core = tangga kebakaran Keterangan gambar 36 gambar 44 Dilihat dari jumlah core, maka terdapat 2 tangga kebakaran pada setiap lantai bangunan tersebut. Jumlah lantai UMB Tower ada 9, maka secara keseluruhan ada 18 lapis tangga kebakaran dengan perincian 16 dari bahan beton bertulang seperti terlihat pada gambar 45, dan 2 berbentuk spiral dari bahan baja seperti terlihat pada gambar 46 berikut : gambar 45. tangga kebakaran UMB Tower Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 73
gambar 46. tangga kebakaran spiral UMB Tower Efektifitas dari tangga kebakaran tersebut juga ditentukan oleh komponenkomponen pendukungnya, yaitu : 1. Petunjuk arah jalan keluar Sebuah koridor pada bangunan harus dilengkapi dengan tanda (sign) yang menggambarkan arah menuju ke tangga kebakaran dengan tujuan membantu pengguna bangunan dalam menyelamatkan jiwanya. Petunjuk arah jalan keluar mempunyai standar yang secara umum yaitu harus terlihat dengan jelas oleh pengguna bangunan yang berada di koridor tersebut walaupun pada saat terjadinya keadaan darurat (kebakaran). Contoh sebuah petunjuk arah jalan keluar terlihat di gambar 47. Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 74
gambar 47. sign exit UMB Tower 2. Lampu darurat Pada saat terjadinya kebakaran, seluruh aliran listrik pasti akan dimatikan agar tidak memungkinkan korsleting listrik akibat suhu panas api dan terbakarnya kabel-kabel elektrikal pada bangunan tersebut. Maka pada saat situasi kebakaran itu terjadi, diperlukan lampu darurat sebagai penerangan jalan bagi pengguna bangunan untuk mengevakuasi jiwanya dengan berlari ke arah tangga kebakaran sampai pada ke lantai dasar lalu dapat keluar dari bangunan tersebut dengan selamat. Contoh sebuah lampu darurat terlihat di gambar 48. gambar 48. lampu darurat tangga kebakaran UMB Tower 3. Sistem kendali asap Efek asap dari benda yang terbakar ataupun dari api yang menyala di dalam ruangan bangunan dapat melumpuhkan seseorang yang menghirupnya. Oleh karena itu, diperlukan sebuah sistem yang dapat se-maksimal mungkin mengeluarkan asap atau mengusir asap dari dalam tangga kebakaran agar Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 75
pengguna bangunan aman pada saat mengevakuasi diri di dalamnya tanpa terganggu oleh asap. Contoh sebuah sistem kendali asap terlihat di gambar 49. gambar 49. pressure fan tangga kebakaran UMB Tower 4. Pintu darurat Fungsi dari sebuah tangga kebakaran akan sia-sia apabila tidak adanya pintu darurat, karena api dan asap yang telah menyebar di dalam ruang-ruang bangunan akan tertahan oleh pintu darurat pada saat tertutup. Persyaratan utama pintu darurat adalah kekuatannya yang dapat menahan panas api kurang dari 2 jam tanpa terbakar dan harus dapat tertutup secara otomatis pada saat terbuka. Contoh sebuah pintu darurat terlihat di gambar 50 dan gambar 51. Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 76
gambar 50. pintu darurat tampak belakang UMB Tower gambar 51. pintu darurat tampak depan UMB Tower Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 77