UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. berbeda dengan keadaan yang nyaman dalam perut ibunya. Dalam kondisi ini,

BAB I PENDAHULUAN. tentang orang lain. Begitu pula dalam membagikan masalah yang terdapat pada

BAB I PENDAHULUAN. kehidupannya senantiasa membutuhkan orang lain.kehadiran orang lain bukan hanya untuk

BAB I PENDAHULUAN. (Papalia, 2009). Menurut Undang-Undang Republik Indonesia nomor 1 pasal 1

BAB I PENDAHULUAN. Menjaga hubungan romantis dengan pasangan romantis (romantic partner) seperti

BAB I PENDAHULUAN. manusia pun yang dapat hidup sendiri tanpa membutuhkan kehadiran manusia lain

BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah makhluk sosial yang artinya manusia membutuhkan orang lain dalam

BAB I PENDAHULUAN. Pada masa kanak-kanak, relasi dengan orangtua sangat menentukan pola attachment dan

BAB I PENDAHULUAN. masa beralihnya pandangan egosentrisme menjadi sikap yang empati. Menurut Havighurst

BAB 1 PENDAHULUAN. lain. Sejak lahir, manusia sudah bergantung pada orang lain, terutama orangtua

BAB II LANDASAN TEORI. Pada bab ini akan dibahas mengenai teori-teori yang menguraikan tahap

BAB 1 PENDAHULUAN. Keberadaan manusia sebagai makhluk sosial tidak lepas dari hubungan

BAB I PENDAHULUAN. sendiri dan membutuhkan interaksi dengan sesama. Ketergantungan dengan

BAB I PENDAHULUAN. berubah dari perubahan kognitif, fisik, sosial dan identitas diri. Selain itu, terjadi pula

2015 HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI PARENTAL ATTACHMENT DAN RELIGIUSITAS DENGAN KESIAPAN MENIKAH PADA MAHASISWA MUSLIM PSIKOLOGI UPI

BAB 2 Tinjauan Pustaka

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. hubungan romantis. Hubungan romantis (romantic relationship) yang juga

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. adalah masa dewasa muda. Pada masa ini ditandai dengan telah tiba saat bagi

HUBUNGAN ANTAR PRIBADI

BAB 1 PENDAHULUAN. terbatas berinteraksi dengan orang-orang seusia dengannya, tetapi lebih tua,

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak menuju masa

PENDAHULUAN. seperti ayah, ibu, dan anak. Keluarga juga merupakan lingkungan yang

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Attachment menurut Bowlby (dalam Mikulincer & Shaver, 2007) adalah

BAB I PENDAHULUAN. pernikahan. Berdasarkan Undang Undang Perkawinan no.1 tahun 1974,

BAB I PENDAHULUAN. Komisi Remaja adalah badan pelayanan bagi jemaat remaja berusia tahun. Komisi

BAB I PENDAHULUAN. hukum suatu negara yang dibangun dengan tujuan untuk aktivitas religius. Gereja termasuk ke

BAB I PENDAHULUAN. Ibu memiliki lebih banyak peranan dan kesempatan dalam. mengembangkan anak-anaknya, karena lebih banyak waktu yang digunakan

BAB I PENDAHULUAN. asuhan, sebagai figur identifikasi, agen sosialisasi, menyediakan pengalaman dan

BAB I PENDAHULUAN. Manusia tidak dapat hidup seorang diri karena manusia merupakan

BAB I PENDAHULUAN. istri adalah salah satu tugas perkembangan pada tahap dewasa madya, yaitu

BAB I PENDAHULUAN. Fenomena perilaku seks pranikah di kalangan remaja di Indonesia semakin

DATA SUBJEK SUBJEK I SUBJEK II SUBJEK III

BAB I PENDAHULUAN. gereja, tetapi di sisi lain juga bisa membawa pembaharuan ketika gereja mampu hidup dalam

BAB I PENDAHULUAN. sepakat untuk hidup di dalam satu keluarga. Dalam sebuah perkawinan terdapat

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Penyesuaian Sosial. Manusia adalah makhluk sosial.di dalam kehidupan sehari-hari manusia

BAB I PENDAHULUAN. orang tua dengan anak. Orang tua merupakan makhluk sosial pertama yang

Lampiran 1. Data Penunjang dan Kuesioner Self Esteem dan Jealousy. Frekuensi bertemu dengan pasangan : Sering ( setiap hari )

BAB I PENDAHULUAN. Mahasiswa adalah individu yang menempuh perkuliahan di Perguruan Tinggi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan. latin adolensence, diungkapkan oleh Santrock (2003) bahwa adolansence

BAB I PENDAHULUAN. penting. Keputusan yang dibuat individu untuk menikah dan berada dalam

1.PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang Masalah

BAB V PENUTUP. terhadap permasalahan kekerasan pasangan suami isteri, yakni: 1. Peran Pendeta sebagai Motivator terhadap Permasalahan Ekonomi

BAB I PENDAHULUAN. Katolik, Hindu, dan Budha. Negara menjamin kebebasan bagi setiap umat bergama untuk

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Cinta. kehilangan cinta. Cinta dapat meliputi setiap orang dan dari berbagai tingkatan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kebutuhan mencari pasangan hidup untuk melanjutkan keturunan akan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. perkembangan dan menyelesaikan tugas-tugas perkembangan dimulai dari lahir, masa

GAMBARAN KEPUASAN PERNIKAHAN PADA ISTRI YANG TELAH MENIKAH TIGA TAHUN DAN BELUM MEMILIKI ANAK KEUMALA NURANTI ABSTRAK

HUBUNGAN ANTAR PRIBADI

BAB I PENDAHULUAN. Agama memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Hal

BAB I PENDAHULUAN. saling mengasihi, saling mengenal, dan juga merupakan sebuah aktifitas sosial dimana dua

Bab 2 Tinjauan Pustaka

Henni Anggraini Universitas Kanjuruhan Malang

BAB V KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN

BAB I PENDAHULUAN. Di Indonesia, terdapat berbagai macam agama dan kepercayaan- kepercayaan

BAB I PENDAHULUAN. mempengaruhi perkembangan psikologis individu. Pengalaman-pengalaman

STUDI DESKRIPTIF MENGENAI TINGKAH LAKU INTIM DARI EMPAT POLA ATTACHMENT

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori subjective well-being

Perkembangan Sepanjang Hayat

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Jenis penelitian yang akan dilaksanakan peneliti adalah deskriptif dengan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Istilah Kelekatan (attachment) untuk pertama kalinya. resiprokal antara bayi dan pengasuhnya, yang sama-sama memberikan

BAB I PENDAHULUAN. matang baik secara mental maupun secara finansial. mulai booming di kalangan anak muda perkotaan. Hal ini terjadi di

BAB I PENDAHULUAN. melalui tahap intimacy vs isolation. Pada tahap ini, individu berusaha untuk

HUBUNGAN ANTARA SECURE ATTACHMENT DENGAN KOMPETENSI INTERPERSONAL PADA REMAJADI SMAN 2 PADANG. Winda Sari Isna Asyri Syahrina

BAB I PENDAHULUAN. dapat hidup sendiri tanpa berhubungan dengan lingkungannya atau dengan

BAB I PENDAHULUAN. Masa dewasa awal, merupakan periode selanjutnya dari masa remaja. Sama

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. di dalamnya terdapat komitmen dan bertujuan untuk membina rumahtangga serta

BAB I PENDAHULUAN. lingkungan luar. Perubahan-perubahan tersebut menjadi tantangan besar bagi

PENDAHULUAN Latar Belakang

INTUISI Jurnal Ilmiah Psikologi

LAMPIRAN I GUIDANCE INTERVIEW Pertanyaan-pertanyaan : I. Latar Belakang Subjek a. Latar Belakang Keluarga 1. Bagaimana anda menggambarkan sosok ayah

BAB 1 PENDAHULUAN. Perkawinan merupakan suatu hal yang penting dalam kehidupan manusia.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Bab ini menguraikan teori-teori yang berkaitan dengan kecemburuan, pola

PERKEMBANGAN SOSIO-EMOSIONAL PADA MASA DEWASA AWAL

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. berdiri sebagai Sinode (dulu Rad - Rageng) pada tanggal 14 November Gereja ini tidak

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hubungan Antara Persepsi Terhadap Pola Kelekatan Orangtua Tunggal Dengan Konsep Diri Remaja Di Kota Bandung

BAB I PENDAHULUAN. Abad 21 yang sedang berlangsung menjadikan kehidupan berubah dengan

1. PENDAHULUAN. Universitas Indonesia. Gambaran Kepuasan..., Dini Nurul Syakbani, F.PSI UI, 2008

MANAJEMEN KONFLIK ANTARPRIBADI PASANGAN SUAMI ISTRI BEDA AGAMA

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (Undang-Undang No.1 Tahun

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Kualitas Perkawinan. Definisi lain menurut Wahyuningsih (2013) berdasarkan teori Fowers dan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Kelekatan. melekat pada diri individu meskipun figur lekatnya itu tidak tampak secara fisik.

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pernikahan adalah tahap yang penting bagi hampir semua orang yang memasuki masa dewasa awal. Individu yang memasuki masa dewasa awal memfokuskan relasi interpersonal mereka pada hubungan yang lebih intim dengan pasangannya. Jika relasi ini berkembang lebih lanjut, maka ia akan menghasilkan suatu kesepakatan untuk terlibat secara mendalam dan dalam jangka waktu yang relatif panjang, seperti halnya pernikahan. Hal ini seiring dengan salah satu tugas perkembangan pada tahap dewasa awal yaitu belajar mulai hidup dalam hubungan pernikahan dengan pasangan (Duvall, 1977). Pernikahan bukanlah sesuatu yang mudah untuk dijalankan. Dalam kehidupan pernikahan terjadi suatu penyatuan antara dua individu yang berasal dari budaya, lingkungan dan keluarga yang berbeda. Banyak hal yang dihadapi pasangan yang baru dalam mengarungi kehidupan pernikahan, seperti perbedaan minat, hobi, pandangan tentang sesuatu hal. Kehadiran anak, hubungan dengan mertua atau ipar, masalah aktivitas bersama atau pekerjaan menjadi hal-hal yang dapat menjadi pembicaraan atau perdebatan pasangan. 1

2 Dalam pernikahan adakalanya terjadi konflik yang menyebabkan relasi terganggu. Konflik tersebut dapat menyebabkan hilangnya keintiman atau keterikatan diantara pasangan. Terdapat beberapa masalah dalam pernikahan di masyarakat umum, yaitu perselingkuhan atau hadirnya pihak ketiga, control power atau pihak yang memegang kekuasaan di rumah, perbedaan pola asuh, pengaruh lingkungan seperti hubungan yang tidak baik dengan mertua, pernikahan usia dini, dan lain-lain. Hal yang menyebabkan terjadinya pertengkaran dan perceraian pada pasangan di awal pernikahannya, yaitu menurunnya komitmen terhadap pernikahan, menurunnya penghargaan terhadap pasangan, dan kurangnya rasa percaya (trust) terhadap pasangan. Akar persoalan dalam pernikahan adalah ketidakmampuan individu dan pasangannya untuk menampilkan tingkah laku yang intim dan hangat dalam pernikahannya, sehingga relasi yang terjadi menjadi kurang hangat atau tidak ada kenyamanan antar pasangan (Purba, 2006). Dalam menghadapi masalah pernikahan, ada berbagai tipe individu dalam menyelesaikannya. Ketika terjadi masalah dalam pernikahan, terdapat individu yang berdiskusi dengan pasangannya tentang cara menyelesaikan masalah tersebut sampai menemukan solusinya. Individu saling menghargai setiap pendapat yang disampaikan oleh pasangannya, sehingga ada rasa nyaman dan kedekatan yang dirasakan oleh individu dengan pasangannya. Tipe individu seperti ini, disebut dengan tipe secure. Namun tidak semua individu dapat menyelesaikan permasalahan

3 dalam pernikahan dengan mudah dan tidak semua dapat saling menghargai setiap pendapat yang disampaikan oleh pasangannya. Ada individu yang merasa kurang percaya dan tidak nyaman dengan pasangannya dalam menyelesaikan permasalahan dalam pernikahannya, tidak mau melakukan diskusi, dan lebih memilih mencari solusinya sendiri. Tipe individu seperti ini, disebut dengan tipe avoidant. Selain itu ada juga individu yang ingin menyelesaikan masalah pernikahannya bersama-sama dengan pasangannya, ingin adanya kedekatan secara emosional dan rasa nyaman dengan pasangannya dalam menyelesaikan setiap permasalahan dalam pernikahannya, namun individu merasa cemas bahwa pasangannya akan meninggalkannya dan tidak mau terlibat dalam menyelesaikan masalah dalam pernikahannya. Tipe individu seperti ini, disebut dengan tipe anxious. Tidak hanya di kalangan masyarakat umum, masalah dalam pernikahan juga terjadi di kalangan umat Kristiani (Pdt. Eko Roniyono, Pendeta Jemaat Gereja X Bandung). Meskipun dalam ajaran Kristiani perceraian itu dilarang, perceraian secara perlahan sudah mulai banyak di kalangan kekristenan dan fakta inilah yang tengah dihadapi oleh gereja masa kini. Penyebab perceraian yang terjadi pada umat Kristiani, yaitu pasangan suami istri sudah tidak dapat lagi menerima perbedaan dan kekurangan dari pasangannya, serta sudah tidak ada lagi rasa nyaman dan aman dengan pasangannya (Sianipar, 2012). Menurut Pdt. Eko Roniyono, Pendeta di Gereja X Bandung, individu dewasa awal yang sudah menikah di Gereja X Bandung memiliki masalah-masalah

4 dalam pernikahan, mulai dari masalah yang tidak kompleks sampai masalah yang kompleks yang harus dihadapi dan diselesaikan. Masalah-masalah yang kompleks dalam pernikahan yang dihadapi individu dewasa awal yang sudah menikah terkadang sulit untuk diselesaikan dan individu dewasa awal yang sudah menikah pun berpikir untuk bercerai, walaupun sampai saat ini tidak ada pasangan yang bercerai karena perceraian itu dilarang oleh agaman Kristen. Individu dewasa awal yang sudah menikah di Gereja X Bandung berusaha mempertahankan pernikahannya dan memegang ajaran Kristen yaitu apa yang sudah dipersatukan oleh Tuhan tidak boleh diceraikan oleh manusia. Oleh karena masalah-masalah yang ada dalam kehidupan pernikahan harus dihadapi dan diselesaikan, maka tipe attachment itu penting dalam pernikahan. Di Gereja X Bandung terdapat fasilitas pastoral atau yang sering disebut sebagai sharing. Dalam fasilitas pastoral ini, jemaat Gereja X Bandung dapat melakukan sharing dengan Pendeta Jemaat mengenai masalah ekonomi, masalah anak, masalah keluarga, termasuk mengenai masalah yang berkaitan dengan hubungan relasi suami istri (masalah pernikahan), dan lain-lain. Dalam fasilitas pastoral, Pendeta Jemaat akan memberikan kritik dan saran sesuai dengan hal yang diceritakan oleh jemaat. Jika mengenai masalah hubungan relasi suami dan istri, atau Pendeta Jemaat akan menekankan pada bagaimana cara menyelesaikan masalah tersebut dan cara menyelesaikan setiap masalah yang terjadi pada hubungan relasi suami istri. Hasil dari fasilitas pastoral tersebut, menurut Pendeta Jemaat, jemaat yang sudah mendiskusikan masalahnya melalui fasilitas pastoral merasa mendapatkan solusi untuk menyelesaikan masalahnya dan masih bisa menjaga keutuhan rumah

5 tangganya. Menurut Skolnik (1981) masalah-masalah yang terjadi di dalam rumah tangga dapat diatasi bersama-sama apabila individu menikah memiliki pernikahan yang dilandasi oleh rasa nyaman yang dimiliki masing-masing pasangan dalam hubungan suami-istri, rasa kebersamaan, dan penerimaan atas konflik sebagai suatu hal yang lazim terjadi dalam relasi pasangan suami-istri (dalam Wulandari, 2009). Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan Pendeta Jemaat, permasalahan yang terjadi pada individu menikah dalam tahap dewasa awal di Gereja X Bandung adalah sebagai berikut: seringkali terjadi perbedaan prinsip hidup antar suami dan istri, serta komunikasi yang tidak sejalan. Kemudian hal-hal mengenai pekerjaan/usaha, cara mendidik dan mengurus anak menjadi permasalahan individu menikah dalam tahap dewasa awal di Gereja X Bandung. Selain itu, kondisi emosional menjadi permasalahan juga bagi individu menikah dalam tahap dewasa awal di Gereja X Bandung. Cara penyelesaian masalah yang ada dalam rumah tangga tergantung bagaimana kedekatan atau kelekatan, rasa aman, rasa nyaman, rasa sayang, serta kepercayaan yang dimiliki individu menikah dalam tahap dewasa awal di Gereja X terhadap pasangannya. Rasa aman dan nyaman yang dimaksud adalah yang bersumber pada bagaimana individu memandang diri dan pasangannya. Setiap pasangan memiliki ikatan emosional yang terdiri atas rasa nyaman, sayang, dan kesenangan yang diberikan satu sama lain. Ikatan emosional tersebutlah yang dinamakan sebagai attachment (Bowlby, 1980). Adult attachment style adalah bagaimana seseorang memahami dan berhubungan dengan orang lain di dalam konteks intimate

6 relationship, menurut Bartholomew (1991) dalam Mikulincer & Shaver, 2007. Adult attachment style terdiri dari secure, avoidant, dan anxious. Tipe secure dideskripsikan dengan adanya kelekatan dan kepercayaan bahwa pasangannya akan ada saat dibutuhkan. Tipe avoidant dideskripsikan sebagai gaya kelekatan yang ditandai dengan kurangnya kepercayaan dan kecenderungan untuk menjaga jarak emosional. Sedangkan tipe anxious dideskripsikan sebagai kelekatan yang ditandai dengan kurangnya kepercayaan bahwa pasangan ada saat individu membutuhkan dukungan, ketidakpuasan pada jarak emosional dengan pasangan, dan kecemasan bahwa pasangan tidak akan mencintai individu sebesar individu mencintai pasangan. Hubungan relasi yang terjadi diantara suami dan istri di Gereja X Bandung yaitu bagaimana attachmentnya dan pasangan, yang tergambar melalui bagaimana penghayatan individu terhadap pasangannya. Dalam hal ini hubungan antara suami dan istri dalam bentuk seberapa dalam penghayatan keterikatan yang mendasar antara suami dan istri. Memiliki penghayatan yang positif atau negatif tentang relasi dengan pasangan akan berpengaruh terhadap adult attachment, penghayatan yang positif akan membuat individu menikah dalam tahap dewasa awal di Gereja X Bandung lebih memiliki hubungan relasi yang sehat dengan pasangan. Sebaliknya penghayatan yang negatif akan membuat individu menikah dalam tahap dewasa awal di Gereja X Bandung merasa kesulitan melakukan interaksi yang sehat dengan pasangannya. Dalam relasi yang intim dengan pasangan, suami dan istri dapat saling memberikan rasa aman dan nyaman terhadap pasangannya. Selain itu relasi individu dengan pasangannya juga dipengaruhi oleh relasi individu saat masa kecil. Apabila pada saat

7 masa kecil, individu memiliki penghayatan yang positif terhadap relasinya dengan orang tua, maka akan memiliki penghayatan yang positif juga terhadap relasi dengan pasangan. Sebaliknya apabila pada saat masa kecil, individu memiliki penghayatan yang negatif terhadap relasinya dengan orang tua, maka akan memiliki penghayatan yang negatif juga terhadap relasi dengan pasangan. Penghayatan pengalaman dengan orang tua yang dimaksud adalah bagaimana individu berhubungan dengan orang tua dan bagaimana individu menyelesaikan masalah-masalah yang berhubungan dengan orang tua. Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan sepuluh individu menikah di Gereja X Bandung, didapatkan hasil sebagai berikut. Sebanyak 7 orang (70%) menilai bahwa mereka merasa nyaman dan akrab dengan pasangannya. Mereka merasa dicintai dan disayangi oleh pasangannya. Selain itu mereka juga mendapat perhatian serta dukungan dari pasangannya. Ketika terjadi masalah dalam kehidupan pernikahan, mereka merasa kalau pasangannya tidak menyalahkan mereka, pasangan mereka ikut serta dalam menyelesaikan masalah yang terjadi didalam rumah tangga mereka. Hal tersebut membuat diri mereka merasa kalau pasangannya menghargai mereka, mereka merasa dibutuhkan dalam penyelesaian masalah yang terjadi. Ketika pasangan mereka melibatkan diri dalam penyelesaian suatu masalah, mereka merasa pasangannya bersedia membantu ketika sedang menyelesaikan masalah, begitupun sebaliknya. Mereka dapat menyelesaikan setiap permasalahan yang terjadi dalam rumah tangganya karena mereka memiliki kedekatan, rasa aman, rasa nyaman serta kepercayaan satu sama lain. Namun tidak semua permasalahan dapat diselesaikan

8 dengan lancar tanpa adanya hambatan. Terkadang mereka merasa cemas dan tidak ada kepercayaan satu sama lain dalam menyelesaikan masalah dan memilih menyelesaikannya sendiri. Kemudian sebanyak 2 orang (20%) menilai bahwa mereka terkadang merasa kurang nyaman dengan pasangannya dan kurang ada kedekatan dengan pasangannya. Mereka juga merasa kurang percaya dengan pasangannya dan tidak nyaman untuk terbuka dengan pasangannya. Ketika terjadi masalah dalam kehidupan pernikahan, mereka merasa tidak percaya untuk mendiskusikan masalah yang terjadi dalam pernikahannya. Mereka memilih untuk menyelesaikan masalah rumah tangga dengan pemikiran mereka masing-masing tanpa ada diskusi satu sama lain dan tidak mau bergantung pada pasangannya. Namun jika permasalahan tak kunjung selesai, salah satu dari mereka mencoba untuk percaya terhadap pasangannya, bahwa pasangannya dapat membantu dia memberikan solusi dalam menyelesaikan masalah. Kemudian sebanyak 1 orang (10%) menilai bahwa dia memiliki keinginan akan kedekatan dan kenyamanan dengan pasangannya, merasa cemas apabila ditinggal oleh pasangannya, serta merasa khawatir apabila pasangannya tidak mencintainya. Ketika terjadi masalah dalam pernikahannya, dia merasa cemas bahwa pasangannya akan meninggalkan dirinya karena tidak mau menyelesaikan masalahnya dan sudah tidak mencintai dirinya, serta tidak akan peduli dengan dirinya.

9 Dari hasil wawancara diatas, tipe attachment yang dimiliki oleh individu dewasa awal yang sudah menikah di Gereja X Bandung menunjukkan tidak seluruhnya tipe secure attachment namun terdapat individu dengan tipe avoidant attachment dan tipe anxious attachment. Individu dewasa awal yang sudah menikah di Gereja X Bandung menilai bahwa mereka merasa nyaman dan akrab dengan pasangannya, merasa dicintai dan disayangi oleh pasangannya, serta mendapat perhatian serta dukungan dari pasangannya. Ketika ada masalah yang terjadi dalam kehidupan pernikahannya, mereka merasa bahwa pasangannya senantiasa ikut serta dalam menyelesaikan masalah. Kemudian individu dewasa awal yang sudah menikah di Gereja X Bandung dengan tipe avoidant attachment dan anxious attachment, merasa kurang nyaman bahkan tidak nyaman dengan pasangannya, serta merasa pasangannya tidak mencintai dirinya dan akan meninggalkan dirinya. Dalam menyelesaikan masalah, mereka lebih memilih menyelesaikannya dengan pemikiran diri sendiri, tidak mau terbuka dengan pasangannya, serta mereka merasa khawatir bahwa pasangannya tidak akan peduli dengan permasalahan yang terjadi dan akan meninggalkan dirinya. Jika individu dewasa awal yang sudah menikah tidak memiliki attachment yang secure, mereka akan mengalami kesulitan dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah pernikahan yang tidak hanya ada satu masalah, tetapi ada masalah-masalah berikutnya yang akan dihadapi dalam pernikahan.

10 Berdasarkan pemaparan-pemaparan dan fenomena yang sudah dijelaskan diatas, maka peneliti tertarik untuk meneliti mengenai tipe attachment pada individu dewasa awal yang sudah menikah di Gereja X Bandung. 1.2 Identifikasi Masalah Dari penelitian ini ingin diketahui bagaimana tipe attachment pada individu dewasa awal yang sudah menikah di Gereja X Bandung. 1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian 1.3.1 Maksud Penelitian Untuk memeroleh gambaran mengenai tipe attachment pada individu dewasa awal yang sudah menikah di Gereja X Bandung. 1.3.2 Tujuan Penelitian Untuk memeroleh gambaran mengenai tipe attachment pada individu dewasa awal yang sudah menikah di Gereja X Bandung dan melihat faktor-faktor yang memengaruhi attachment.

11 1.4 Kegunaan Penelitian 1.4.1 Kegunaan Teoretis Memberikan informasi mengenai tipe attachment pada individu dewasa awal yang sudah menikah bagi ilmu psikologi, khususnya bidang psikologi keluarga. 1.4.2 Kegunaan Praktis - Sebagai masukan bagi Gembala Gereja X Bandung mengenai tipe attachment pada individu dewasa awal yang sudah menikah di Gereja X Bandung, sehingga dapat mengenali sebagian besar tipe attachment individu dewasa awal yang sudah menikah. Informasi ini dapat digunakan ketika ada individu menikah yang memerlukan konseling mengenai permasalahan keluarganya. - Sebagai masukan bagi individu dewasa awal yang sudah menikah di Gereja X Bandung mengenai tipe attachment. Informasi ini dapat digunakan dalam mengatasi permasalahan yang terjadi dalam keluarga. 1.5 Kerangka Pemikiran Populasi pada penelitian ini adalah individu dewasa awal yang sudah menikah di Gereja X Bandung, selanjutnya disebut suami/istri dan berada pada tahap perkembangan dewasa awal yang usianya berkisar antara 20 sampai 40 tahun (Papalia, et.al., 2007). Masa dewasa awal diawali dengan masa transisi dari masa

12 remaja menuju masa dewasa. Dewasa awal memiliki tugas dalam perkembangannya, yaitu (Duvall & Miller, 1985): membangun otonomi sebagai individu, merencanakan dan menentukan tujuan hidup, memperoleh pendidikan yang memadai, memilih dan memasuki bidang-bidang pekerjaan, membina perasaan-perasaan cinta dan seksual, melibatkan diri dalam hubungan cinta, memilih pasangan hidup, bertunangan, dan menikah. Sedangkan tugas perkembangan yang harus dipenuhi sebagai suatu keluarga, yaitu: menemukan, melengkapi, dan merawat rumah mereka, menemukan cara yang tepat untuk saling memberi dukungan, mengalokasikan tanggung jawab yang dapat dan mau dilakukan masing-masing, menemukan dan menjalankan peran pribadi, emosional dan seksual yang saling menguntungkan, berhubungan dengan keluarga, kerabat, dan masyarakat sekitar, merencanakan kemungkinan anak, serta memelihara motivasi pasangan. Dari pernikahannya, diharapkan suami/istri belajar saling menerima dan memahami pasangan masing-masing, belajar saling menerima kekurangan dan belajar saling bantu membantu membangun rumah tangga. Dari hasil pembelajaran inilah akan timbul kedekatan, keamanan dan kenyamanan antar suami istri, namun terkadang terdapat masalah-masalah yang tidak bisa dilewati, sehingga berakibat pada perceraian. Hal ini lebih banyak diakibatkan oleh ketidaksiapan atau ketidakdewasaan dalam menanggapi masalah yang dihadapi bersama. Suami/istri yang berada pada fase dewasa awal menghadapi masalah-masalah dalam hubungan mereka dengan cara yang berbeda-beda. Suami/istri memiliki tipe attachment yang berbeda-beda terhadap pasangannya. Menurut Ainsworth (dalam

13 Mikulincer & Shaver, 2007), attachment adalah ikatan emosional yang dibentuk individu dengan pasangannya yang bersifat spesifik, mengikat mereka dalan suatu attachment yang bersifat kekal sepanjang waktu. Menurut Ainsworth (dalam Mikulincer & Shaver, 2007), tipe attachment ada tiga, yaitu secure, avoidant, dan anxious, serta attachment memiliki dua dimensi, yaitu avoidance dan anxiety (dalam Mikulincer & Shaver, 2007). Dimensi yang pertama, yaitu attachment yang berhubungan dengan avoidance. Dimensi ini berkaitan dengan ketidaknyamanan individu dengan pasangannya dalam kedekatan dan ketergantungan, preferensi untuk jarak emosional dan kemandirian. Suami/istri merasa tidak nyaman akan kedekatan, ada rasa kurang percaya antara suami/istri serta tidak ada keterbukaan antara suami/istri. Kemudian dimensi yang kedua, yaitu attachment yang berhubungan dengan anxiety. Dimensi ini berkaitan dengan keinginan yang kuat dari individu dengan pasangannya untuk kedekatan dan perlindungan, kekhawatiran yang intens mengenai kehadiran pasangannya, serta merasa khawatir pasangannya tidak benar-benar mencintai dan akan meninggalkan individu, dan ingin selalu bersama-sama. Suami/istri sangat menginginkan sebuah kedekatan namun merasa khawatir akan kehadiran pasangannya, suami/istri selalu merasa cemburu, serta merasa khawatir pasangannya akan meninggalkannya. Tipe-tipe dasar attachment terdiri dari, secure (secure attachment) dan insecure (avoidant dan anxious attachment. Individu dengan tipe secure terhadap pasangannya memiliki dimensi avoidance rendah dan dimensi anxiety rendah,

14 memiliki kepercayaan terhadap pasangan dan harapan kehadiran pasangan dan responsif, kenyamanan dengan kedekatan dan saling ketergantungan dan kemampuan untuk mengatasi ancaman dan stress dengan cara yang konstruktif. Suami/istri tidak saling menghindari kedekatan dan saling terbuka satu sama lain, misalnya dalam menghadapi permasalahan rumah tangga. Terdapat ciri-ciri suami/istri dengan tipe secure, sebagai berikut: suami/istri mudah dekat, tidak khawatir ketika ditinggal oleh pasangannya dan terlalu dekat dengan pasangannya. Suami/istri merasa nyaman bila bergantung dengan pasangan. Suami/istri dengan tipe secure juga merupakan pribadi yang percaya diri, memiliki hubungan yang romantis dan penuh kasih sayang dengan pasangannya. Suami/istri dapat menerima dukungan dari pasangan. Selain itu, suami/istri memiliki kepuasan yang paling besar dan paling berkomitmen terhadap hubungan dibandingkan tipe attachment lainnya. Sedangkan individu dengan tipe avoidant terhadap pasangannya memiliki dimensi anxiety rendah dan dimensi avoidance tinggi. Individu dengan pasangannya tidak nyaman dengan kedekatan dan tidak mau bergantung satu sama lain, serta lebih memilih untuk mandiri, seperti menyelesaikan masalah dengan pemikiran sendiri. Tipe avoidant memiliki ciri-ciri, sebagai berikut: suami/istri merasa tidak nyaman bila dekat dengan pasangannya. Suami/istri percaya bahwa cinta tidak dapat bertahan dan yakin bahwa suatu hari pasangannya akan meninggalkannya. Suami/istri dengan tipe avoidant merupakan suami/istri yang tidak mudah percaya, takut terlalu dekat dengan pasangan dan menjadi terlalu bergantung dengan pasangan, takut terhadap keintiman, mengalami emosi yang naik turun, dan cemburu. Selain itu, suami/istri

15 dengan tipe avoidant sulit menerima kekurangan pasangan dan tidak dapat, memberikan dukungan emosional yang tinggi pada pasangan. Sementara itu, individu dengan tipe anxious terhadap pasangannya memiliki dimensi anxiety tinggi dan dimensi avoidance rendah. Suami/istri memiliki keinginan yang kuat untuk kedekatan dan perlindungan, merasa khawatir apabila ditinggal oleh pasangannya, merasa bahwa pasangannya tidak benar-benar mencintainya, serta suami/istri ingin selalu bersama-sama. Tipe anxious memiliki ciri-ciri sebagai berikut: suami/istri merasa bahwa pasangannya tidak dekat seperti yang diinginkan, ingin selalu bersama-sama dengan pasangannya, sering merasa cemburu, dan mengalami emosi yang naik turun. Selain itu, suami/istri dengan tipe anxious mudah untuk jatuh cinta, namun sulit untuk menemukan cinta sejati dan juga penuh rasa ingin memiliki pasangan. Menurut Mikulincer & Shaver (2007), tipe attachment pada suami istri dipengaruhi oleh pengalaman dengan figur attachment. Figure attachment yang dimaksud adalah orangtua. Jika pada masa kanak-kanaknya, suami/istri memiliki pengalaman yang secure atau memiliki pengalaman yang baik dengan orang tua yaitu individu mendapatkan kasih sayang dari orang tua, walaupun ada masalah dengan orang tua, individu dapat menyelesaikannya, memiliki hubungan yang akrab dengan orang tua, maka individu akan memiliki kecenderungan yang positif dan akan mengembangkan secure attachment dalam hubungan dengan pasangan. Suami/istri akan mudah bergaul, percaya diri, penuh kasih sayang terhadap pasangannya, dan memiliki hubungan yang romantis. Sebaliknya apabila pada masa kanak-kanaknya,

16 suami/istri memiliki pengalaman yang insecure atau memiliki pengalaman yang buruk dengan orang tua, tidak memiliki hubungan yang akrab dengan orang tua, maka suami/istri akan memiliki kecenderungan yang negatif dan akan mengembangkan insecure attachment. Suami/istri tidak mudah bergaul, merasa tidak mendapat dukungan, merasa khawatir ditinggal pasangannya, dan tidak memiliki hubungan yang romantis. Namun individu dengan attachment insecure (avoidant & anxious) tidak selalu memiliki pengalaman yang buruk dengan orang tua. Pemaparan kerangka pikir dapat digambarkan dalam bagan sebagai berikut ini: Faktor-faktor yang memengaruhi: - Pengalaman dengan figur attachment (orang tua) Secure Attachment Individu dewasa awal yang sudah menikah di Gereja X Bandung ATTACHMENT STYLE Dimensi: 1. Avoidance 2. Anxiety (avoidance rendah, anxiety rendah) Avoidant Attachment (avoidance tinggi, anxiety rendah) Anxiety Attachment (avoidance rendah, anxiety tinggi) Bagan 1.5 Kerangka Pikir Tipe Attachment

17 1.6 Asumsi Berdasarkan kerangka pikir diatas, maka peneliti memiliki asumsi penelitian sebagai berikut: - Individu dewasa awal yang sudah menikah di Gereja X Bandung memiliki salah satu tipe attachment yaitu secure attachment, avoidant attachment atau anxiety attachment. - Tipe Attachment pada individu dewasa awal yang sudah menikah di Gereja X Bandung dipengaruhi oleh pengalaman dengan figur attachment. - Individu dewasa awal yang sudah menikah penting memiliki secure attachment di dalam pernikahan.