DATA SUBJEK SUBJEK I SUBJEK II SUBJEK III
|
|
|
- Leony Gunawan
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 DATA SUBJEK SUBJEK I SUBJEK II SUBJEK III Inisial A D V Usia 22 tahun 27 tahun 33 tahun Tempat/Tanggal Jakarta, 24 Mei 1986 Jakarta, 19 Maret 1981 Jakarta Lahir Agama Islam Kristen Protestan Katolik Suku Bangsa Jawa Cina-Jawa Jawa Pendidikan SMU S1 Peternakan S1 Perhotelan Terakhir Pekerjaan Mahasiswa, Fashion Designer, Graphic Designer Social Worker (aktivis) Urutan Kelahiran 1 dari 5 bersaudara 1 dari 4 bersaudara 2 dari 2 bersaudara Tinggal Dengan Orang Tua Orang Tua Orang Tua Pekerjaan Orang Tua a. Ayah b. Ibu Usia Orang Tua a. Ayah b. Ibu Dokter Spesialis bedah urologi ginjal Dokter gigi 53 tahun 48 tahun Karyawan Swasta Almarhum 58 tahun Almarhum Wiraswasta (usaha usaha frozen food, membuka kursus pengembangan diri, usaha obat tradisional, dan membuka kursus yoga) Konsultan Arsitek Taman Hiburan Yoga Teacher, Ahli pengobatan Alternatif 73 tahun 73 tahun
2 N DIMENSI SUB DIMENSI SUBYEK I SUBYEK II SUBYEK III O 1. Gay a. Kriteria Gay - A pertama kali tertarik pada laki-laki ketika ia duduk di bangku SMP kelas 1 - D pertama kali menyukai lakilaki yakni ketika ia duduk di bangku kelas VI SD - V pertama kali merasa tertarik pada laki-laki ketika ia duduk di bangku SMP - Pada awalnya ada rasa penolakan dan perasaan takut dari dalam diri sendiri - Sampai saat ini, A pernah menjalin hubungan pacaran dengan lawan jenis sebanyak 19 kali dan dengan sesama jenis sebanyak 21 kali - Saat ini A sedang memiliki pasangan yang bisa dikatakan sudah ada keterlibatan seksual - A sudah sepenuhnya mengidentifikasikan dirinya sebagai gay - Dalam hubungan dengan pasangannya yang merupakan figur attachmentnya, A berperan pasif yakni sebagai wanitanya karena sejak kecil sampai saat ini A - D sama sekali tidak pernah merasa tertarik pada perempuan - Pada awalnya ada rasa penolakan dan perasaan takut dari dalam diri sendiri - D terlalu selektif dalam mencari pasangan, oleh sebab itu sampai saat ini ia belum pernah menjalin hubungan pacaran dengan sesama jenis - Walaupun belum pernah ada keterlibatan secara seksual dengan sesama laki-laki tapi saat ini D sudah mengidentifikasikan dirinya sebagai gay - Walaupun D belum memiliki pasangan sampai saat ini, tetapi dalam kesehariannya ia berperan pasif yakni sebagai wanita karena sejak kecil ia selalu - Sebelumnya V pernah menyukai lawan jenis ketika ia duduk di bangku kelas VI SD - Adanya peristiwa traumatis menjadi turning point V sehingga berubah orientasi seksualnya - Pada awalnya ada rasa penolakan dan takut dari dalam dirinya - Sampai saat ini V pernah menjalin hubungan pacaran dengan lawan jenis sebanyak 1 kali dan dengan sesama jenis sebanyak 2 kali dan sudah sampai pada adanya keterlibatan seksual - V sudah sepenuhnya mengidentifikasikan dirinya sebagai gay
3 menunjukkan kecenderungan berperilaku dan berkeinginan terhadap hal-hal perempuan bukan laki-laki menganggap dirinya sebagai seorang wanita - Dalam hubungan dengan mantan pasangannya yang merupakan figur attachment baginya, V berperan pasif yakni sebagai wanitanya karena V selalu menggambarkan dirinya selayaknya wanita keraton Jawa b. Etiologi Gay - A mengalami pendekatan teori belajar dan teori biologis - D mengalami pendekatan teori belajar - V termasuk ke dalam teori belajar dan sosiologi - Dari sudut pandang teori biologis, A mengaku diberitahu bahwa ada buyutnya yang juga seorang gay - Dari sudut pandang teori belajar, sejak kecil A menunjukkan kecenderungan berperilaku dan berkeinginan terhadap hal-hal perempuan bukan laki-laki, dan orang tua A selalu memberikan reward terhadap semua kemauannya bukan punishment terhadap keinginannya yang tidak semestinya diminta anak lakilaki - D mengaku sejak kecil ia sudah menunjukkan perilaku dan keinginan yang mengarah pada hal-hal perempuan dan orang tuanya selalu memberikan reward terhadap semua permintaannya tersebut tanpa memberikan punishment walaupun mereka menyadari permintaan D itu salah - V mengaku ketika remaja mengalami peristiwa traumatis yang dapat dikatakan sebagai punishment bagi V karena tulisan pribadinya secara tidak sengaja terbaca oleh ibunya - Ketika remaja, V juga mengakui bahwa ia dikucilkan oleh lingkungan sosialnya, dalam hal ini teman-teman sekolahnya karena ia diberi label banci dan ia tidak berdaya untuk membela diri
4 2. Attachment Styles a. Manfaat dan Fungsi Attachment Style - Ibu, sahabat laki-laki dan pasangannya saat ini sangat berperan dan sudah memenuhi sebagai: a. sosok yang memberikan rasa aman b. bisa mengatur keadaan perasaan c. sebagai sarana ekspresi dan komunikasi d. dasar untuk melakukan eksplorasi kepada lingkungan sekitar attachment dan perilaku eksploratif e. membantu individu untuk menginterpretasi f. menumbuhkan perasaan trust dalam interaksi sosial di masa depan g. memahami dan mengatasi perasaan emosi negatif selama individu ada di situasi menekan h. menumbuhkan perasaan mampu - D dibesarkan dalam keluarga yang tidak harmonis dan tidak kondusif - D tumbuh menjadi individu yang hampir tidak memiliki figur attachment pada masa kanak-kanaknya - Kedua orang tuanya selalu bersikap cuek dan bertengkar di hadapan anak-anaknya yang membuat D merasa jengah, tetapi untung ibunya lebih memperhatikan D paling tidak dalam urusan akademik hingga D duduk di bangku SMP - Setelah itu sosok itu berganti pada kedua sahabatnya di sekolah di mana ia bisa: a. mendapatkan rasa aman b. mengatur keadaan perasaan c. sebagai sarana ekspresi dan komunikasi d. untuk melakukan eksplorasi terhadap lingkungan sekitar e. membantu individu untuk menginterpretasi f. menumbuhkan perasaan trust dalam interaksi sosial di masa depan - V dibesarkan dalam keluarga yang harmonis tetapi kedua orang tuanya selalu sibuk bekerja dan tidak punya banyak waktu untuk memperhatikan perkembangan anaknya - Mantan pasangannya merupakan figur attachmentnya yang sudah memenuhi sebagai: a. sosok yang memberikan rasa aman b. bisa mengatur keadaan perasaan c. sebagai sarana ekspresi dan komunikasi d. dasar untuk melakukan eksplorasi kepada lingkungan sekitar attachment dan perilaku eksploratif e. membantu individu untuk menginterpretasi f. menumbuhkan perasaan trust dalam interaksi sosial di masa depan g. memahami dan mengatasi perasaan emosi negatif selama individu ada di situasi menekan h. menumbuhkan perasaan
5 g. memahami dan mengatasi perasaan emosi negatif selama individu ada di situasi menekan h. menumbuhkan perasaan mampu mampu - Selain itu, V juga menjalin kedekatan dengan ibu dan sahabatnya b. Perkemba -ngan Attachment Style b.1. Masa Kanak Kanak - Figur attachment A yakni ditujukan pada ibunya - Figur attachment sebagai sosok yang melindungi dan tempat mendapatkan rasa aman - Figur attachment D ditujukan kepada ibunya - Figur attachment sebagai sosok yang melindungi dan tempat mendapatkan rasa aman - Figur attachment V yakni ditujukan pada ibunya - Figur attachment sebagai sosok yang melindungi dan tempat mendapatkan rasa aman b.2. Masa Remaja - Figur attachmentnya berganti pada sahabat laki-lakinya - Ada hubungan timbal balik yakni saling memberikan perhatian dan perlindungan satu sama lain dengan figur attachment karena sudah saling mengenal cukup lama - Figur attachmentnya berganti menjadi pada dua sahabat lakilakinya di sekolah - Ada hubungan timbal balik yakni saling memberikan perhatian dan perlindungan satu sama lain dengan figur attachment karena sudah saling mengenal cukup lama - Pada masa ini sesungguhnya V tidak memiliki figur attachment sama sekali, tetapi ibunya tetap menjadi figur attachment karena adanya kedekatan sejak lama
6 b.3. Masa Dewasa - Figur attachment utamanya berganti menjadi pada pasangannya dan juga ibunya - Figur attachment sebagai sosok yang selalu ada, sebagai tempat berlindung, berbagi dan mencurahkan kasih sayang - Saat ini figur attachmentnya berganti menjadi pada sahabat barunya, bukan yang dua orang sahabat sebelumnya - Figur attachment sebagai sosok yang selalu ada, sebagai tempat berlindung, berbagi dan mencurahkan kasih sayang - Figur attachmentnya berganti menjadi pada mantan pasangannya - Figur attachment sebagai sosok yang selalu ada, sebagai tempat berlindung, berbagi dan mencurahkan kasih sayang c. Kategori Attachment Styles - A termasuk ke dalam secure attachment style - A mampu mendeskripsikan masa kecilnya secara realistis - A bisa memahami bagaimana masa lalunya bisa mempengaruhi kehidupannya sekarang ketika dewasa - D termasuk ke dalam insecure attachment style - D tidak ingin menceritakan hubungannya dengan orang tuanya, walaupun cerita tapi inkoheren - ingatan D hanya terfokus pada ingatan masa lalu yang buruk - V termasuk ke dalam secure attachment style - V mampu mendeskripsikan masa kecilnya secara realistis - V bisa memahami bagaimana masa lalunya bisa mempengaruhi kehidupannya sekarang ketika dewasa - A suka menolong orang lain - A mampu membina hubungan dekat dengan orang lain - A menganggap figur attachmentnya adalah secure base bagi dirinya - A menganggap dirinya - D juga memiliki emosi tinggi dan perasaan tidak berkompeten - D suka menilai negatif dirinya - D memiliki self-esteemnya rendah - D tidak merasa nyaman dalam suatu kedekatan - V suka menolong orang lain - V mampu membina hubungan dekat dengan orang lain - V menganggap figur attachmentnya adalah secure base bagi dirinya - V menganggap dirinya dicintai dan memandang orang lain
7 dicintai dan memandang orang lain dekat, perhatian responsif terhadap kebuuhan mereka - A menilai positif dirinya sendiri - A memiliki kemampuan sosial yang baik dan lebih disukai - D juga tidak responsif terhadap kebutuhan orang lain dekat, perhatian responsif terhadap kebuuhan mereka - V menilai positif dirinya sendiri - V memiliki kemampuan sosial yang baik dan lebih disukai c. Adult Attachment Styles d.1. Dimensi Anxiety dan Avoidance - A memiliki tingkat anxiety dan avoidance yang rendah - A tidak pernah merasa khawatir bahwa dirinya akan ditinggalkan, ditolak atau tidak dicintai - A tidak pernah membatasi secara berlebihan intimasi dan ketergantungan dengan orang lain - D memiliki tingkat avoidance yang tinggi dan anxiety yang rendah - Dalam suatu hubungan D sangat membatasi akan adanya kedekatan dan ketergantungan pada orang lain - D tidak pernah merasa khawatir bahwa dirinya akan ditinggalkan, ditolak atau tidak dicintai oleh figur attachmentnya - V memiliki tingkat anxiety dan avoidance yang rendah - Dalam kedekatan dengan figur attachmentnya, V tidak pernah merasa khawatir kalau dirinya akan ditinggalkan, ditolak atau tidak dicintai - V tidak pernah membatasi secara berlebihan intimasi dan ketergantungan dengan orang lain
8 d.2. Bentuk attachment style - Hubungan A dengan figur attachmentnya tersebut termasuk dalam secure attachment style - Pasangan atau tunangannya tersebut merupakan figur attachment paling utama saat ini, di samping ibunya - A bisa berkomunikasi langsung dan terbuka - A lebih mampu membuka diri karena ia percaya dirinya dicintai, dihargai dan merasa mendapat perhatian penuh dari figur attachmentnya tersebut - A memandang positif dirinya dan orang lain - A memandang figur attachmentnya sebagai sosok yang sangat responsif, penuh perhatian, dan dapat dipercaya - setiap A ada masalah dengan pasangannya ia selalu tetap bisa menilai positif hubungan yang dijalaninya - Hubungan D dengan figur attachmentnya yakni sahabatnya itu termasuk dalam bentuk dismissing-avoidant style - D termasuk individu yang ada kecenderungan percaya diri, - D melihat dirinya kebal terhadap perasaan negatif, - D selalu berusaha mempertahankan self-image yang positif di tengah potensi penolakan yang dirasakan dengan cara mengingkari adanya kebutuhan akan attachment - D juga termasuk individu yang suka menjauhkan diri dari orang lain - D membatasi ekspresi emosinya - D terkadang menganggap sahabatnya itu sebagai figur yang kurang dapat dipercaya dan kurang bertanggung jawab - D menganggap sahabatnya itu belum sepenuhnya memenuhi kriteria figur attachment yang ia - V termasuk dalam secure attachment style dalam hubungannya dengan figur attachment-nya yang dalam hal ini mantan pasangannya - V selalu bisa berkomunikasi langsung dan terbuka - V mampu membuka diri karena ia percaya dirinya dicintai, dihargai dan merasa mendapat perhatian penuh dari figur attachmentnya - V memandang positif dirinya dan orang lain - Ia juga memandang sosok figur attachmentnya sebagai seseorang yang sangat responsif, penuh perhatian, dan dapat dipercaya - setiap V ada masalah dengannya ia selalu tetap bisa menilai positif hubungan yang dijalaninya - ketika menghadapi masalah, V akan tetap memandang masalah dalam konteks yang luas dan
9 - ketika menghadapi masalah, A tetap memandang masalah dalam konteks yang luas dan positif - A menganggap figur attachmentnya sebagai sosok yang sempurna baginya inginkan karena masih merasa kalau sahabatnya itu terkadang kurang peka terhadap situasi dan kondisi dirinya positif - V dalam menghadapi masalah dengan figur attachmentnya juga tetap menilai positif terhadap hubungan yang dijalani - V menganggap hubungan attachment itu merupakan sesuatu yang berharga - V juga selalu mengedepankan strategi problem solving dalam menyelesaikan masalahnya
10 I PEDOMAN WAWANCARA SUBJEK I. DATA DEMOGRAFI / DATA KONTROL Nama : Usia : Tempat/tanggal Lahir : Agama : Suku Bangsa : Pendidikan Terakhir : Pekerjaan : Urutan Kelahiran : Tinggal dengan : Usia Orang Tua Ayah : Ibu : Pekerjaan Orang Tua Ayah : Ibu : II. GAY Ceritakan bagaimana awalnya anda merasa bahwa anda menyukai sesama pria. Bagaimana perasaan anda ketika anda menyadari bahwa anda seorang gay? Hal yang anda lakukan ketika anda mengetahui rasa yang berbeda tersebut? Bagaimana usaha anda dalam mengatasi keadaan anda tersebut? Pernah menjalin hubungan dekat dengan seseorang atau lebih yang sesama jenis? Berapa kali? Sebatas apa?yang anda rasakan? Selain memiliki perasaan terhadap sesama jenis, apakah anda pernah menyukai yang berlawan jenis?berapa kali? Sejauh mana?yang anda rasakan? III. GAMBARAN ATTACHMENT STYLES a. Gambaran figur Attachment Gambarkan hubungan anda dengan orang tua mulai dari masa kanak-kanak. Sejauh mana kedekatannya. Gambarkan hubungan anda dengan kakak/adik dan saudara lainnya. Adakah nilai-nilai atau norma yang ditekankan dalam keluarga?
11 Bagaimana cara orang tua menerapkan nilai-nilai atau norma dalam keluarga? Kepada siapa Anda merasa paling dekat? (Mengapa lebih dekat dengan?) Selain orang tua, ada orang lain yang juga sangat dekat dengan anda? Gambarkan hubungan Anda dengan orangtua atau orang yang anda anggap terdekat tersebut saat ini. Dalam berkomunikasi atau mungkin sharing dengan orang tua atau orangorang terdekat anda, sering atau tidak?ceritakan hal-hal apa saja yang mungkin dibicarakan. Ceritakan pendapat orang-orang terdekat anda yang sudah mengetahui kalau anda seorang gay. b. Manfaat Attachment styles Ceritakan masalah dengan orangtua pada masa kecil yang masih anda ingat sampai saat ini. Menurut anda, pengalaman anda bersama orangtua mempengaruhi sifat dan kepribadian anda saat ini sebagai orang dewasa? Pelajaran yang bisa anda petik dari masa kanak-kanak anda (untuk mengelompokkan individu ke dalam model attachment ) c. Perkembangan Attachment styles Orang yang paling dekat dengan anda sejak masa kanak-kanak hingga sampai dewasa?ceritakan sejauh mana kedekatannya. Adakah perubahan kualitas hubungan anda dengan figur attachment yang terlihat jelas antara waktu kanak-kanak dulu sampai saat ini ketika dewasa? d. Dimensi Anxiety dan Avoidance dalam Adult Attachment Styles Bagaimana anda menilai diri anda sendiri? Menurut anda, bagaimana pendapat orang lain mengenai diri anda? Bagaimana anda menggambarkan orang-orang di sekitar anda? Bagaimana anda menggambarkan figur attachment anda? Apakah anda suka bergantung pada orang lain? Pada saat anda sedang menghadapi masalah, sejauh mana keterlibatan figur attachment anda? Apakah ia (figur attachmentnya) merupakan orang yang benar-benar memenuhi kriteria figur attachment yang anda harapkan? Peka terhadap situasi dan kondisi yang sedang dialami anda?
BAB I PENDAHULUAN. berbeda dengan keadaan yang nyaman dalam perut ibunya. Dalam kondisi ini,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia merupakan mahluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri tanpa kehadiran manusia lainnya. Kehidupan menjadi lebih bermakna dan berarti dengan kehadiran
UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pernikahan adalah tahap yang penting bagi hampir semua orang yang memasuki masa dewasa awal. Individu yang memasuki masa dewasa awal memfokuskan relasi interpersonal
BAB I PENDAHULUAN. manusia pun yang dapat hidup sendiri tanpa membutuhkan kehadiran manusia lain
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk sosial. Dalam kehidupan, belum ada seorang manusia pun yang dapat hidup sendiri tanpa membutuhkan kehadiran manusia lain (www.wikipedia.com).
BAB I PENDAHULUAN. tentang orang lain. Begitu pula dalam membagikan masalah yang terdapat pada
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Wanita merupakan individu yang memiliki keterbukaan dalam membagi permasalahan kehidupan maupun penilaian mereka mengenai sesuatu ataupun tentang orang lain.
BAB I PENDAHULUAN. (Papalia, 2009). Menurut Undang-Undang Republik Indonesia nomor 1 pasal 1
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pernikahan adalah salah satu tahap penting dalam siklus kehidupan individu di samping siklus kehidupan lainnya seperti kelahiran, perceraian, atau kematian
BAB I PENDAHULUAN. Komisi Remaja adalah badan pelayanan bagi jemaat remaja berusia tahun. Komisi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Salah satu gereja yang sudah berdiri sejak tahun 1950 di Indonesia adalah Gereja Kristen Indonesia atau yang biasa disebut GKI. GKI adalah sekelompok gereja
BAB I PENDAHULUAN. berubah dari perubahan kognitif, fisik, sosial dan identitas diri. Selain itu, terjadi pula
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Mahasiswa berada pada masa dewasa awal. Pada masa ini, mahasiswa berada pada masa transisi dari masa remaja ke masa dewasa. Pada masa transisi ini banyak hal
BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak menuju masa
15 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Masa remaja merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Di usia remaja antara 10-13 tahun hingga 18-22 tahun (Santrock, 1998), secara
1.PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang Masalah
1 1.PENDAHULUAN Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran attachment styles yang dialami oleh gay yang berada pada rentang usia dewasa muda. Oleh karena itu, pada bagian ini akan dijelaskan mengenai
BAB 1 PENDAHULUAN. lain. Sejak lahir, manusia sudah bergantung pada orang lain, terutama orangtua
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Manusia adalah makhluk sosial, artinya manusia memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dan membentuk hubungan sosial dengan orang lain, karena pada dasarnya manusia tidak
BAB I PENDAHULUAN. Pada masa kanak-kanak, relasi dengan orangtua sangat menentukan pola attachment dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada masa kanak-kanak, relasi dengan orangtua sangat menentukan pola attachment dan relasi antar pribadi pada masa dewasa. Hubungan attachment berkembang melalui
KATA PENGANTAR KUESIONER. Dalam rangka memenuhi persyaratan pembuatan skripsi di Fakultas
LAMPIRAN I KATA PENGANTAR KUESIONER Dengan hormat, Dalam rangka memenuhi persyaratan pembuatan skripsi di Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha, maka tugas yang harus dilaksanakan adalah mengadakan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hubungan Antara Persepsi Terhadap Pola Kelekatan Orangtua Tunggal Dengan Konsep Diri Remaja Di Kota Bandung
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Idealnya, di dalam sebuah keluarga yang lengkap haruslah ada ayah, ibu dan juga anak. Namun, pada kenyataannya, saat ini banyak sekali orang tua yang menjadi orangtua
BAB I PENDAHULUAN. Menjaga hubungan romantis dengan pasangan romantis (romantic partner) seperti
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Menjaga hubungan romantis dengan pasangan romantis (romantic partner) seperti saat masih menjadi teman dekat atau pacar sangat penting dilakukan agar pernikahan bertahan
PEDOMAN WAWANCARA. 1. Menggali Latar Belakang Keluarga Subjek. perolehan identitas subjek? dengan orang tua kamu? (ayah dan ibu)
Lampiran 1 PEDOMAN WAWANCARA 1. Menggali Latar Belakang Keluarga Subjek a. Bagaimana bentuk relasi subjek dengan orang tuanya (ayah, ibu), dan bagaimana relasi tersebut mempengaruhi atau berkontribusi
BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah makhluk sosial yang artinya manusia membutuhkan orang lain dalam
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk sosial yang artinya manusia membutuhkan orang lain dalam hidupnya. Adanya interaksi sosial antara manusia yang satu dengan yang lainnya
Lampiran 1. Data Penunjang dan Kuesioner Self Esteem dan Jealousy. Frekuensi bertemu dengan pasangan : Sering ( setiap hari )
Lampiran 1. Data Penunjang dan Kuesioner Self Esteem dan Jealousy DATA PRIBADI Nama ( inisial ) : Jenis Kelamin : Usia : Fakultas : Frekuensi bertemu dengan pasangan : Sering ( setiap hari ) Kadang-kadang
BAB II LANDASAN TEORI. Pada bab ini akan dibahas mengenai teori-teori yang menguraikan tahap
7 BAB II LANDASAN TEORI Pada bab ini akan dibahas mengenai teori-teori yang menguraikan tahap perkembangan khususnya pada tahapan dewasa muda, hubungan romantis, attachment dan tipe attachment. 2.1 Dewasa
BAB I PENDAHULUAN. Manusia tidak dapat hidup seorang diri karena manusia merupakan
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Manusia tidak dapat hidup seorang diri karena manusia merupakan makhluk sosial yang membutuhkan kehadiran individu lain dalam kehidupannya. Tanpa kehadiran
BAB V KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN
BAB V KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Mengacu pada hasil penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa dari 60 jumlah responden berdasarkan teori attachment menurut Bartholomew & Griffin (1994)
BAB I PENDAHULUAN. orang tua dengan anak. Orang tua merupakan makhluk sosial pertama yang
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Attachment pada manusia pertama kali terbentuk dari hubungan antara orang tua dengan anak. Orang tua merupakan makhluk sosial pertama yang berinteraksi dengan bayinya.
BAB II KAJIAN TEORI. dibaca dalam media massa. Menurut Walgito, (2000) perkawinan
6 BAB II KAJIAN TEORI 2.1. Pernikahan 2.1.1. Pengertian Pernikahan Pernikahan merupakan suatu istilah yang tiap hari didengar atau dibaca dalam media massa. Menurut Walgito, (2000) perkawinan adalah nikah,
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. secara bertahap yaitu adanya suatu proses kelahiran, masa anak-anak, remaja,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pertumbuhan dan perkembangan kehidupan seorang manusia berjalan secara bertahap yaitu adanya suatu proses kelahiran, masa anak-anak, remaja, dewasa, dan lanjut
BAB I PENDAHULUAN. saling mengasihi, saling mengenal, dan juga merupakan sebuah aktifitas sosial dimana dua
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pacaran merupakan sebuah konsep "membina" hubungan dengan orang lain dengan saling mengasihi, saling mengenal, dan juga merupakan sebuah aktifitas sosial dimana
LAMPIRAN I GUIDANCE INTERVIEW Pertanyaan-pertanyaan : I. Latar Belakang Subjek a. Latar Belakang Keluarga 1. Bagaimana anda menggambarkan sosok ayah
LAMPIRAN I GUIDANCE INTERVIEW Pertanyaan-pertanyaan : I. Latar Belakang Subjek a. Latar Belakang Keluarga 1. Bagaimana anda menggambarkan sosok ayah bagi diri anda sendiri? 2. Bagaimana anda menggambarkan
BAB VI PENUTUP. A. Kesimpulan. Gangguan identitas gender adalah suatu gangguan yang membuat
BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan Gangguan identitas gender adalah suatu gangguan yang membuat pederitanya merasa bahwa identitas gendernya (sebagai laki-laki atau perempuan) tidak sesuai dengan anatomi biologisnya.
BAB I PENDAHULUAN. atau interaksi dengan orang lain, tentunya dibutuhkan kemampuan individu untuk
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia adalah mahluk sosial yang memiliki kebutuhan untuk berinteraksi timbal-balik dengan orang-orang yang ada di sekitarnya. Memulai suatu hubungan atau
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sebagai makhluk sosial, manusia dituntut untuk mampu mengatasi segala masalah yang timbul sebagai akibat dari interaksi dengan lingkungan sosial dan harus mampu menampilkan
BAB I PENDAHULUAN. Mahasiswa adalah individu yang menempuh perkuliahan di Perguruan Tinggi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Mahasiswa adalah individu yang menempuh perkuliahan di Perguruan Tinggi (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1996). Mahasiswa yang dimaksud adalah individu yang berada
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam kehidupan sehari-hari manusia selalu berinteraksi dengan manusia lainnya. Masing-masing individu yang berinteraksi akan memberikan respon yang berbeda atas peristiwa-peristiwa
BAB I PENDAHULUAN. sendiri dan membutuhkan interaksi dengan sesama. Ketergantungan dengan
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk sosial oleh karena itu manusia tidak dapat hidup sendiri dan membutuhkan interaksi dengan sesama. Ketergantungan dengan manusia lain
BAB I PENDAHULUAN. tidak dekat dengan ustadzah. Dengan kriteria sebagai berikut dari 100
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kebanyakan santriwati yang tinggal di pondok pesantren tidak lekat dengan para ustadzahnya. Hasil observasi awal mengatakan bahwa dari 150 santriwati SLTP di asrama
BAB V HASIL PENELITIAN
BAB V HASIL PENELITIAN A. Rangkuman Hasil Penelitian Ketiga subjek merupakan pasangan yang menikah remaja. Subjek 1 menikah pada usia 19 tahun dan 18 tahun. Subjek 2 dan 3 menikah di usia 21 tahun dan
2015 HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI PARENTAL ATTACHMENT DAN RELIGIUSITAS DENGAN KESIAPAN MENIKAH PADA MAHASISWA MUSLIM PSIKOLOGI UPI
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sebagian besar mahasiswa strata satu adalah individu yang memasuki masa dewasa awal. Santrock (2002) mengatakan bahwa masa dewasa awal adalah masa untuk bekerja
BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan tonggak pembangunan sebuah bangsa. Kemajuan. dan kemunduran suatu bangsa dapat diukur melalui pendidikan yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan tonggak pembangunan sebuah bangsa. Kemajuan dan kemunduran suatu bangsa dapat diukur melalui pendidikan yang diselenggarakan di dalamnya.
BAB I PENDAHULUAN. asuhan, sebagai figur identifikasi, agen sosialisasi, menyediakan pengalaman dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Orang tua berperan sebagai figur pemberi kasih sayang dan melakukan asuhan, sebagai figur identifikasi, agen sosialisasi, menyediakan pengalaman dan berperan
BAB I PENDAHULUAN. masa beralihnya pandangan egosentrisme menjadi sikap yang empati. Menurut Havighurst
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk sosial. Perkembangan sosial masa dewasa awal (young adulthood) adalah puncak dari perkembangan sosial masa dewasa. Masa dewasa awal adalah
BAB 1 PENDAHULUAN. Keberadaan manusia sebagai makhluk sosial tidak lepas dari hubungan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Keberadaan manusia sebagai makhluk sosial tidak lepas dari hubungan dengan orang lain yang meliputi interaksi di lingkungan sekitarnya. Sepanjang hidup, manusia akan
BAB I PENDAHULUAN. mempengaruhi perkembangan psikologis individu. Pengalaman-pengalaman
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG MASALAH Sepanjang rentang kehidupan individu, banyak hal yang dipelajari dan mempengaruhi perkembangan psikologis individu. Pengalaman-pengalaman bersama keluarga dan
BAB V KESIMPULAN, DISKUSI, DAN SARAN. gambaran harga diri (self esteem) remaja yang telah melakukan seks di luar nikah
BAB V KESIMPULAN, DISKUSI, DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti mengenai gambaran harga diri (self esteem) remaja yang telah melakukan seks di luar nikah,
BAB V KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN
BAB V KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN 5.1. Kesimpulan Berdasarkan dari penelitian yang telah dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan yaitu : 5.1.1. Indikator Identitas Diri Menurut subjek SN dan GD memiliki
BAB I PENDAHULUAN. lingkungan luar. Perubahan-perubahan tersebut menjadi tantangan besar bagi
BAB I PENDAHULUAN Masa remaja merupakan masa peralihan atau masa transisi dari masa anakanak ke masa dewasa yang disertai dengan perubahan (Gunarsa, 2003). Remaja akan mengalami berbagai perubahan dalam
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Penyesuaian Sosial. Manusia adalah makhluk sosial.di dalam kehidupan sehari-hari manusia
14 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Penyesuaian Sosial 1. Pengertian Penyesuaian Sosial Manusia adalah makhluk sosial.di dalam kehidupan sehari-hari manusia dituntut untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan.
BAB I PENDAHULUAN. Katolik, Hindu, dan Budha. Negara menjamin kebebasan bagi setiap umat bergama untuk
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dalam UUD 1945, disebutkan bahwa Indonesia sebagai Negara yang berlandaskan pada Pancasila mengakui adanya lima agama di dalamnya, antara lain: Islam, Kristen,
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERPIKIR
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERPIKIR A. Kajian Teori 1. Tinjauan tentang Orientasi Seksual a. Pengertian Orientasi Seksual Setiap individu memiliki suatu ketertarikan, baik secara fisik maupun emosional
Henni Anggraini Universitas Kanjuruhan Malang
HUBUNGAN KELEKATAN DAN KECERDASAN EMOSI PADA ANAK USIA DINI Henni Anggraini Universitas Kanjuruhan Malang ABSTRAK. Kelekatan (Attachment) merupakan hubungan emosional antara seorang anak dengan pengasuhnya
BAB 1 PENDAHULUAN. Perkawinan merupakan suatu hal yang penting dalam kehidupan manusia.
BAB 1 PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Perkawinan merupakan suatu hal yang penting dalam kehidupan manusia. Setiap individu memiliki harapan untuk bahagia dalam kehidupan perkawinannya. Karena tujuan perkawinan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Intensi Berpacaran Pada tinjauan pustaka ini akan dibicarakan terlebih dahulu definisi dari intensi, yang menjadi konsep dasar dari variabel penelitian ini. Setelah membahas
BAB I PENDAHULUAN. perkembangan siswa. Pada masa remaja berkembang social cognition, yaitu
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masa remaja merupakan segmen kehidupan yang penting dalam siklus perkembangan siswa. Pada masa remaja berkembang social cognition, yaitu kemampuan memahami
BAB I PENDAHULUAN. Keluarga yang bahagia dan harmonis merupakan dambaan dari setiap
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Keluarga yang bahagia dan harmonis merupakan dambaan dari setiap pasangan. Saling setia dan tidak terpisahkan merupakan salah satu syarat agar tercipta keluarga
134 Perpustakaan Unika LAMPIRAN
LAMPIRAN 134 135 LAMPIRAN A OBSERVASI DAN WAWANCARA 136 PEDOMAN OBSERVASI i. Kesan Umum : Kondisi Fisik dan Penampilan Subyek ii. Perilaku yang cenderung ditampilkan iii. Kegiatan Sehari-hari iv. Lingkungan
BAB I PENDAHULUAN. kehidupannya senantiasa membutuhkan orang lain.kehadiran orang lain bukan hanya untuk
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Setiap Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial yang dalam menjalankan kehidupannya senantiasa membutuhkan orang lain.kehadiran orang lain bukan hanya untuk
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan berdasarkan hasil peneltian dan pembahasan hasil penelitian, maka dapat ditarik suatu gambaran umum mengenai hubungan adult attachment style dan jealousy pada
BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja adalah yang merupakan periode peralihan antara masa kanakkanak
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masa remaja adalah yang merupakan periode peralihan antara masa kanakkanak dan dewasa adalah fase pencarian identitas diri bagi remaja. Pada fase ini, remaja mengalami
BAB V KESIMPULAN, DISKUSI, DAN SARAN
BAB V KESIMPULAN, DISKUSI, DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis dari ketiga subyek, mereka memiliki persamaan dan perbedaan dalam setiap aspek yang diteliti. Khususnya dalam penelitian mengenai
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. makhluk sosial, individu di dalam menjalin hubungan dengan individu lain perlu
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia secara hakiki merupakan makhluk sosial yang membutuhkan pergaulan dengan orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebagai makhluk sosial, individu
BAB I PENDAHULUAN. Fenomena perilaku seks pranikah di kalangan remaja di Indonesia semakin
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Fenomena perilaku seks pranikah di kalangan remaja di Indonesia semakin meningkat prevalensinya dari tahun ke tahun. Hasil survei yang dilakukan oleh Biro
BAB II LANDASAN TEORI. A. Kepuasan Pernikahan. 1. Pengertian Kepuasan Pernikahan
13 BAB II LANDASAN TEORI A. Kepuasan Pernikahan 1. Pengertian Kepuasan Pernikahan Pernikahan merupakan suatu istilah yang hampir tiap hari didengar atau dibaca dalam media massa. Namun kalau ditanyakan
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dipaparkan mengenai kesejahteraan subjektif pria dengan orientasi seksual sejenis, didapatkan kesimpulan
BAB I PENDAHULUAN. gereja, tetapi di sisi lain juga bisa membawa pembaharuan ketika gereja mampu hidup dalam
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Gereja tidak bisa lepas dari proses perubahan yang terjadi dalam masyarakat seperti modernisasi dan sekularisasi. Perubahan akan menimbulkan permasalahan dan
5. KESIMPULAN, DISKUSI, SARAN
5. KESIMPULAN, DISKUSI, SARAN 5.1. Kesimpulan Bab ini berusaha menjawab permasalahan penelitian yang telah disebutkan di bab pendahuluan yaitu melihat gambaran faktor-faktor yang mendukung pemulihan pada
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. diri dan lingkungan sekitarnya. Cara pandang individu dalam memandang dirinya
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia banyak mengalami masalah-masalah kompleks dalam kehidupannya yang sebenarnya berasal dari diri sendiri, sehingga tanpa sadar manusia menciptakan mata
BAB I PENDAHULUAN. Di zaman modern ini perubahan terjadi terus menerus, tidak hanya perubahan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Di zaman modern ini perubahan terjadi terus menerus, tidak hanya perubahan kearah yang lebih baik tetapi perubahan ke arah yang semakin buruk pun terus berkembang.
PENDAHULUAN. seperti ayah, ibu, dan anak. Keluarga juga merupakan lingkungan yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Keluarga terdiri dari beberapa orang yang masih memiliki hubungan darah seperti ayah, ibu, dan anak. Keluarga juga merupakan lingkungan yang menyenangkan dan nyaman
BAB I PENDAHULUAN. Sejak pertama kali kita dilahirkan, kita langsung digolongkan berdasarkan
BAB I PENDAHULUAN I.A. LATAR BELAKANG Sejak pertama kali kita dilahirkan, kita langsung digolongkan berdasarkan jenis kelamin yaitu laki-laki atau perempuan. Secara biologis manusia dengan mudah dibedakan
BAB I PENDAHULUAN. penting. Keputusan yang dibuat individu untuk menikah dan berada dalam
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pernikahan bagi beberapa individu dapat menjadi hal yang istimewa dan penting. Keputusan yang dibuat individu untuk menikah dan berada dalam kehidupan yang
BAB 2 Tinjauan Pustaka
BAB 2 Tinjauan Pustaka 2.1. Kelekatan (attachment) 2.1.1. Definisi Kelekatan (attachment) Bowlby mengatakan bahwa kelekatan (attachment) adalah ikatan antara bayi dan ibu, sedangkan menurut Papalia dan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. kali oleh seorang psikiater asal Inggris bernama John Bowlby pada tahun 1969.
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2. 1. Attachment Attachment atau kelekatan merupakan teori yang diungkapkan pertama kali oleh seorang psikiater asal Inggris bernama John Bowlby pada tahun 1969. Ketika seseorang
BAB 1 PENDAHULUAN. dari masa kanak kanak ke masa dewasa, terutama perubahan alat reproduksi.
1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak kanak ke masa dewasa. Masa ini sering disebut dengan masa pubertas. Menurut beberapa ahli, selain istilah
B A B I PENDAHULUAN. di sepanjang rentang hidup. Salah satu tahap perkembangan manusia
1 B A B I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Setiap manusia akan mengalami serangkaian tahap perkembangan di sepanjang rentang hidup. Salah satu tahap perkembangan manusia adalah tahap remaja. Tahap
MASA KANAK-KANAK AWAL. Masa ini dialami pada usia : 2 tahun 5/6 th Masa Usia Pra Sekolah : Play group atau TK
MASA KANAK-KANAK AWAL Masa ini dialami pada usia : 2 tahun 5/6 th Masa Usia Pra Sekolah : Play group atau TK 1 Tugas Perkembangan Kanak-kanak Awal a)belajar perbedaan dan aturan-aturan jenis kelamin. b)kontak
BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja adalah masa transisi dari masa anak menuju masa dewasa, dan
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masalah Masa remaja adalah masa transisi dari masa anak menuju masa dewasa, dan dalam masa transisi itu remaja menjajaki alternatif dan mencoba berbagai pilihan sebagai
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada tiga orang wanita karir
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada tiga orang wanita karir dewasa madya tentang faktor penyebab menunda pernikahan, diperoleh kesimpulan bahwa
BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan zaman dan kemajuan teknologi yang terus berkembang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan zaman dan kemajuan teknologi yang terus berkembang selalu membawa pengaruh positif dan negatif. Dampak perkembangan yang bersifat positif selalu dapat
BAB III METODE PENELITIAN. A. Identifikasi Variabel Penelitian. 1. Variabel Tergantung : Kecenderungan Perilaku Bullying
BAB III METODE PENELITIAN A. Identifikasi Variabel Penelitian Varibabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini, diantaranya : 1. Variabel Tergantung : Kecenderungan Perilaku Bullying 2. Variabel
5. KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN
5. KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai kesimpulan dari hasil penelitian ini. Selanjutnya juga akan dipaparkan hasil diskusi dan saran. 5.1. Kesimpulan Berdasarkan analisis
HUBUNGAN ANTAR PRIBADI
HUBUNGAN ANTAR PRIBADI Modul ke: Fakultas Psikologi Macam-macam hubungan antar pribadi, hubungan dengan orang belum dikenal, kerabat, hubungan romantis, pernikahan, masalah-masalah dalam hubungan pribadi
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Attachment menurut Bowlby (dalam Mikulincer & Shaver, 2007) adalah
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Attachment 2.1.1 Definisi attachment Attachment menurut Bowlby (dalam Mikulincer & Shaver, 2007) adalah suatu hubungan atau interaksi antara 2 individu yang merasa terikat kuat
BAB I PENDAHULUAN. terlepas dari proses interaksi sosial. Soerjono Soekanto (1986) mengutip
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Setiap manusia dalam menjalani kehidupan sehari-hari tidak akan terlepas dari proses interaksi sosial. Soerjono Soekanto (1986) mengutip definisi Gillian dan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. afeksional pada seseorang yang ditujukan pada figur lekat dan ikatan ini
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ainsworth (dalam Helmi, 2004) mengartikan kelekatan sebagai ikatan afeksional pada seseorang yang ditujukan pada figur lekat dan ikatan ini berlangsung lama
BAB I PENDAHULUAN. bergaul, bersosialisasi seperti masyarakat pada umumnya. Tidak ada salahnya
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Fenomena gay dan lesbi nampaknya sudah tidak asing lagi di masyarakat luas. Hal yang pada awalnya tabu untuk dibicarakan, kini menjadi seolah-olah bagian dari
Bagan 2. Konflik Internal Subyek. Ketidakmampuan mengelola konflik (E) Berselingkuh
Bagan 2 Kondisi keluarga : penuh tekanan, memandang agama sebagai rutinitas dan aktivitas, ada keluarga besar yang selingkuh, Relasi ayah-ibu : ibu lebih mendominasi dan selalu menyalahkan sedangkan ayah
2015 HUBUNGAN ANTARA ATTACHMENT PADA PENGASUH DENGAN SELF-DISCLOSURE REMAJA DI PANTI SOSIAL ASUHAN ANAK WISMA PUTRA BANDUNG
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pada umumnya, individu dibesarkan dalam sebuah keluarga yang memiliki orang tua lengkap yang terdiri dari seorang ibu dan seorang ayah. Namun, tidak semua
BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pemahaman masyarakat tentang seksualitas sampai saat ini masihlah kurang.
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pemahaman masyarakat tentang seksualitas sampai saat ini masihlah kurang. Pengetahuan tentang seksualitas ataupun perkembangan seksual yang seharusnya dipahami
(Elisabeth Riahta Santhany) ( )
292 LAMPIRAN 1 LEMBAR PEMBERITAHUAN AWAL FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS INDONUSA ESA UNGGUL JAKARTA Saya mengucapkan terima kasih atas waktu yang telah saudara luangkan untuk berpartisipasi dalam penelitian
BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah makhluk hidup yang senantiasa berkembang dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk hidup yang senantiasa berkembang dan mengalami perubahan-perubahan bertahap dalam hidupnya. Sepanjang rentang kehidupannya tersebut,
