BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Kualitas Susu Kuda Sumbawa pada Penyimpanan Suhu Ruang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Uji Didih, Alkohol dan Derajat Asam Susu Sapi Kemasan yang Dijual di Pasar Tradisional Kota Denpasar

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. Susu telah dikenal sebagai bahan makanan yang bernilai gizi tinggi, mudah

Ketahanan Susu Kambing Peranakan Ettawah Post-Thawing pada Penyimpanan Lemari Es Ditinjau dari Uji Didih dan Alkohol

Uji Organoleptik dan Tingkat Keasaman Susu Sapi Kemasan yang Dijual di Pasar Tradisional Kota Denpasar

SUSU. b. Sifat Fisik Susu Sifat fisik susu meliputi warna, bau, rasa, berat jenis, titik didih, titik beku, dan kekentalannya.

BAB I PENDAHULUAN. mamalia seperti sapi, kambing, unta, maupun hewan menyusui lainnya.

TINJAUAN PUSTAKA Sifat Umum Susu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Susu Susu adalah salah satu bahan makanan alami yang berasal dari ternak perah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. mineral. Susu adalah suatu cairan yang merupakan hasil pemerahan dari sapi atau

BAB I PENDAHULUAN. baik sekali untuk diminum. Hasil olahan susu bisa juga berbentuk mentega, keju,

BAB I PENDAHULUAN. Susu merupakan salah satu sumber protein yang baik dikonsumsi oleh

BAB I PENDAHULUAN. lengkap dan telah dikonsumsi oleh seluruh lapisan masyarakat. Susu dapat

Kualitas Susu Kambing Peranakan Etawah Post-Thawing pada Penyimpanan Suhu Kamar

NOER SYAIFUL HAKIM¹, I KETUT SUADA¹, I PUTU SAMPURNA²

I. PENDAHULUAN. nilai gizi yang sempurna ini merupakan medium yang sangat baik bagi

TINJAUAN PUSTAKA. Susu segar menurut Dewan Standardisasi Nasional (1998) dalam Standar

PENDAHULUAN. Latar Belakang Produk pangan yang memiliki kandungan gizi dan. kesehatan sangat penting dalam memenuhi kebutuhan gizi sekaligus

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. mudah rusak dan tidak tahan lama di simpan kecuali telah mengalami perlakuan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PENJABARAN RENCANA KEGIATAN PEMBELAJARAN MINGGUAN Minggu ke-2

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia diantaranya adalah tempe, keju, kefir, nata, yoghurt, dan lainlain.

Ketahanan Susu Kuda Sumbawa Ditinjau dari Waktu Reduktase, Angka Katalase, Berat Jenis, dan Uji Kekentalan

BAB I PENDAHULUAN. 2012). Sapi berasal dari famili Bovida, seperti halnya bison, banteng, kerbau

BAB I PENDAHULUAN. Kelapa merupakan komoditas penting bagi rakyat Indonesia dan

BAB I PENDAHULUAN. komposisi senyawanya terdiri dari 40% protein, 18% lemak, dan 17%

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Susu merupakan bahan makanan yang bergizi tinggi karena mengandung

Pembuatan Yogurt. 1. Pendahuluan

1. BAB I PENDAHULUAN. karena kandungan gizi yang ada didalamnya. Susu merupakan sumber protein,

BAB I PENDAHULUAN. pengolahan susu dengan bantuan mikroba untuk menghasilkan berbagai produk

BAB I PENDAHULUAN. permintaan bahan pangan yang mempunyai nilai gizi tinggi meningkat.

BAB I PENDAHULUAN. Upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia ke arah peningkatan

I. PENDAHULUAN. mengandung sejumlah mikroba yang bermanfaat, serta memiliki rasa dan bau

BAB I PENDAHULUAN. dimanfaatkan adalah produk fermentasi berbasis susu. Menurut Bahar (2008 :

I. PENDAHULUAN. Jambi) ataupun yang berasal dari daging seperti sosis dan urutan/bebontot

Kualitas Susu Kambing Peranakan Etawah Post-Thawing Ditinjau dari Waktu Reduktase dan Angka Katalase

UJI ORGANOLEPTIK FRUITGHURT HASIL FERMENTASI LIMBAH BUAH ANGGUR (Vitis vinifera) OLEH Lactobacillus bulgaricus SKRIPSI

Haris Dianto Darwindra BAB VI PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN. yaitu berkisar jam pada suhu ruang 27 C. Salah satu alternatif untuk

I. PENDAHULUAN. juga mengandung beberapa jenis vitamin dan mineral. Soeparno (2009)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Haris Dianto Darwindra BAB VI PEMBAHASAN

I PENDAHULUAN. Hipotesis Penelitian, dan (7) Tempat dan Waktu. Yoghurt adalah salah satu produk olahan pangan bersifat probiotik yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. gizi yang tinggi seperti protein, lemak, mineral dan beberapa vitamin lainnya

BAB I PENDAHULUAN. dari protein, karbohidrat, lemak, dan mineral sehingga merupakan salah satu

I PENDAHULUAN. Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian, dan (7) Waktu dan Tempat Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. mengenakkan, karena merasa amis, mual dan sebagainya. Oleh karena itu,

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

Teknologi pangan adalah teknologi yang mendukung pengembangan industri pangan dan mempunyai peran yang sangat penting dalam upaya mengimplementasikan

BAB I PENDAHULUAN. dalam susu dapat dimanfaatkan oleh tubuh. Di dalam kehidupan sehari-hari,

Kualitas Susu Kambing Peranakan Etawa Selama Penyimpanan Suhu Ruang Ditinjau dari Rasa, ph dan Uji Alkohol

PENDAHULUAN. Sapi perah merupakan sumber penghasil susu terbanyak dibandingkan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. lemak, laktosa, mineral, vitamin, dan enzim-enzim (Djaafar dan Rahayu, 2007).

UJI KUALITAS YOGHURT SUSU SAPI DENGAN PENAMBAHAN MADU dan Lactobacillus bulgaricus PADA KONSENTRASI YANG BERBEDA NASKAH PUBLIKASI

TINJAUAN PUSTAKA. Susu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Susu ialah cairan hasil sekresi yang keluar dari kelenjar susu (kolostrum) pada

LAMPIRAN PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2013 TENTANG PENGAWASAN FORMULA PERTUMBUHAN

MENGELOLA KOMPOSISI AIR SUSU

molekul kasein yang bermuatan berbeda. Kondisi ph yang asam menyebabkan kalsium dari kasein akan memisahkan diri sehingga terjadi muatan ion dalam sus

I. PENDAHULUAN. Tempe merupakan produk pangan tradisional Indonesia berbahan dasar kacang

4 Telur biasanya juga mengandung semua vitamin yang sangat dibutuhkan kecuali vitamin C. Vitamin larut lemak (A, D, E, dan K), vitamin yang larut air

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dikenal dengan nama sapi Grati. Bentuk dan sifat sapi PFH sebagian besar

I. PENDAHULUAN. dan cepat mengalami penurunan mutu (perishable food). Ikan termasuk komoditi

BAB I PENDAHULUAN. pertambahan penduduk, perkembangan ekonomi, perubahan gaya hidup serta kesadaran

PEMBUATAN YOGHURT SUSU SAPI DENGAN BANTUAN MIKROORGANISME DALAM PLAIN YOGHURT MENGGUNAKAN ALAT FERMENTOR

I. PENDAHULUAN. vitamin, mineral, laktosa serta enzim-enzim dan beberapa jenis mikroba yang

BAB I. Pendahuluan. Kesadaran masyarakat akan pentingnya mengkonsumsi bahan pangan yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Keju merupakan salah satu produk olahan susu dengan nilai gizi yang

PAPER BIOKIMIA PANGAN

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. (1.2) Identifikasi Masalah, (1.3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (1.4) Manfaat

AGROVETERINER Vol.5, No.2 Juni 2017

BAB I PENDAHULUAN. semakin meningkat menuntut produksi lebih dan menjangkau banyak konsumen di. sehat, utuh dan halal saat dikonsumsi (Cicilia, 2008).

TELUR ASIN PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Jamur merupakan sumber makanan yang bergizi tinggi. Jamur juga termasuk bahan pangan alternatif yang disukai oleh

I. PENDAHULUAN. yang jumlah strainnya sangat banyak, serta mengandung alkohol 0,5-1,0% dan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PRODUK LEBAH MADU PROPOLIS ROYAL JELLY POLLEN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

II. TINJAUAN PUSTAKA

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tabel 1. Data populasi sapi perah dan produksi susu

BAB I PENDAHULUAN. pangan adalah mencegah atau mengendalikan pembusukan, dimana. tidak semua masyarakat melakukan proses pengawetan dengan baik dan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Nurfahmia Azizah, 2015

I. PENDAHULUAN. berasal dari susu seperti yogurt, keju, es krim dan dadih (produk olahan susu fermentasi

UJI COLIFORM FECAL PADA IKAN LELE (Clarias batracus) DAN IKAN KAKAP. (Lates calcarifer) DI WARUNG TENDA SEA FOOD SEKITAR KAMPUS

I PENDAHULUAN. Gambar 1. Grafik Perkembangan Produksi Susu Provinsi Jawa Barat Tahun (Ton) Sumber: Direktorat Jendral Peternakan, 2010

BAB I PENDAHULUAN. dibandingkan susu segar sebagai bahan dasarnya, karena total padatan

PENGARUH JENIS KEMASAN DAN LAMA PENYIMPANAN TEHADAP SIFAT KIMIA, MIKROBIOLOGI, DAN ORGANOLEPTIK PERMEN KARAMEL SUSU KAMBING. (Laporan Penelitian) Oleh

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan ilmu pengetahuan tentang gizi mendorong orang untuk mendapatkan bahan pangan yang sehat dan berkualitas agar dapat diandalkan untuk meningkatkan dan memenuhi gizi yang dibutuhkan masyarakat. Bahan makanan tersebut bisa berasal dari hewan maupun tumbuh-tumbuhan (Arka, 1988). Bahan makanan asal hewan misalnya adalah susu. Susu merupakan makanan alamiah bagi hewan menyusui yang baru lahir, dimana susu merupakan satu-satunya sumber makanan segera sesudah kelahiran (Buckle, dkk., 1987). Susu dipakai untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan gizi sehingga harus ada jaminan terhadap kualitas yang menyangkut higienis dan sanitasi mulai dari kesehatan kuda, proses pemerahan sampai proses pengolahan susu menjadi produk siap konsumsi. Masalah kebersihan susu akan sangat menentukan kesehatan dan kualitas susu itu sendiri sehingga perlu mendapat pengawasan dan perhatian mengingat susu selain sebagai bahan pangan yang bernilai gizi tinggi juga mudah menjadi rusak dan merupakan media yang sangat baik untuk tumbuh dan berkembangnya mikroorganisme termasuk bakteri (Jawetz, dkk., 1982). Susu yang telah beredar dipasaran antara lain susu sapi, susu kambing, susu kedelai, susu almond dan susu unta, selain susu tersebut ada juga susu kuda Sumbawa. Sebenarnya susu kuda Sumbawa tidak kalah nilai gizinya dengan susu yang telah beredar dipasaran, karena susu kuda Sumbawa bagus untuk pencernaan dan rantai proteinnya yang lebih mudah dicerna oleh tubuh. Selain itu susu kuda Sumbawa juga mengandung protein, karbohidrat, laktosa, lemak, kalsium dan mineral seperti kalium dan magnesium. Susu kuda Sumbawa juga sangat tahan terhadap proses pembusukan, hal ini tidak terlepas dari keberadaan bakteri asam laktat (Riyadh, 2003). Selama penyimpanan pada suhu ruang, spesies bakteri asam laktat yang dapat tumbuh yaitu Lactobacillus brevis, Lactobacillus plantarum, Lactobacillus delbrueckii subsp. delbrueckii, Lactobacillus acidophilus, 1

2 Lactobacillus salivarius dan Lactococcus lactis subsp. lactis (Widiada, dkk., 2006). Susu kuda Sumbawa menjadi sangat popular di masyarakat dan dipromosikan sebagai bahan makanan dan obat. Di Indonesia yang telah memanfaatkan susu kuda Sumbawa seperti di Pulau Sumbawa (Bima dan Dompu), Lombok dan Pulau Jawa. Susu kuda Sumbawa merupakan salah satu jenis susu hasil pemerahan kuda yang dilepas di padang rumput di Nusa Tenggara Barat, khususnya di Kabupaten Dompu, Bima dan Sumbawa, dan dipasaran dikenal dengan nama susu kuda liar yang banyak diklaim mempunyai berbagai efek menyehatkan. Beberapa efek kesehatan yang diklaim dari meminum susu kuda Sumbawa adalah penyembuhan bronchitis, paru-paru basah, tifus, menurunkan kolesterol, hipertensi dan sebagainya. Susu kuda Sumbawa dapat menghambat pertumbuhan Mycobacterium tuberculosis (Rijatmoko, 2003) dan bakteri patogen perusak bahan pangan (Hermawati, dkk., 2004). Susu terfermentasi alamiah memang banyak diklaim memberikan dampak seperti yoghurt, susu terfermentasi dengan menggunakan Lactobacillus acidophilus yang dapat mencegah konstipasi, diare dan beberapa penyakit saluran pencernaan (Steinkraus, 1996). Susu kuda Sumbawa dilaporkan mempunyai antimikrobial dengan spektrum yang cukup luas (Hermawati, dkk., 2004). Tetapi, penghambatan yang didapatkan berasal dari komponen bahan aktif hasil ekstraksi langsung dari susu kuda Sumbawa. Susu kuda juga banyak dikonsumsi di negaranegara Asia dan Eropa Timur. Susu kuda terfermentasi melibatkan kelompok bakteri asam laktat dan juga khamir dalam proses fermentasi (Di Cagno et al., 2004). Selama penyimpanan susu kuda yang dilakukan oleh masyarakat di Bima, terjadi proses fermentasi yang melibatkan bakteri asam laktat dan mikroorganisme lain. Widiada, dkk., (2006) telah melakukan eksplorasi bakteri asam laktat yang terlibat dalam proses fermentasi susu kuda selama disimpan.

3 Pemerahan susu kuda Sumbawa di kampung Tolonggeru Desa Monggo Kecamatan Donggo, Nusa Tenggara Barat dilakukan pada kuda yang berumur 2-6 tahun setelah 1 kali melahirkan. Proses penanganannya dimasyarakat sebelum susu kuda Sumbawa diperah, kuda Sumbawa dimandikan terlebih dahulu untuk tetap menjaga kebersihannya sedangkan ambingnya dicuci dengan air hangat. Sehari, pemerahan susu dapat dilakukan sebanyak lima sampai enam kali, pemerahan dilakukan setiap 3 jam sekali. Menurut pemilik ternak, jika susu kuda tidak diperah setiap 3 jam sekali maka kualitas susu menjadi kurang baik karena kuda yang akan diperah susunya merasa gerah sehingga membuat perut kuda menjadi kembung dan susu hasil perahannya sedikit asam. Volume susu yang dihasilkan untuk setiap satu kali pemerahan adalah sebanyak 600 ml. Kuda Sumbawa yang telah diperah susunya kemudian dimasukkan ke dalam jerigen, kemudian ditutup rapat dan disimpan dalam suhu ruang. Oleh karena produk dari susu ini akan diedarkan ke konsumen, maka untuk mencegah penurunan kualitas dan penyebaran penyakit (Milk Borne Disease) maka perlu dilakukan pemeriksaan terhadap kualitas susu yang diproduksinya (Sumudhita, 1986). Pada umumnya ketahanan susu dipengaruhi oleh faktor lingkungan (suhu, ph, oksigen). Adanya perubahan faktor tersebut juga akan menyebabkan ketahanan susu menjadi menurun dalam penyimpanan. Suhu ruang yang tinggi dapat membuat susu menjadi cepat rusak dan merupakan awal dari tumbuhnya mikroba. Hal ini disebabkan susu mengandung bermacam-macam unsur dan sebagian besar terdiri dari zat makanan yang diperlukan bagi pertumbuhan bakteri (Buckle, dkk., 1987). Susu segar, selain susu kuda Sumbawa akan mengalami kerusakan atau pembusukan dan tidak dapat dikonsumsi lagi apabila disimpan lebih dari 24 jam pada suhu ruang. Selama penyimpanan susu kuda Sumbawa mengalami proses fermentasi alami yang menyebabkan susu ini tidak mengalami kerusakan atau pembusukan. Selain itu susu kuda juga tidak menjadi pecah, hal ini disebabkan oleh kadar kaseinnya rendah. Kuda Sumbawa turunan murni banyak menghasilkan senyawa galaktoferin pada susunya, fungsi galaktoferin adalah untuk menghambat bahkan dapat membunuh pertumbuhan bakteri sehingga susu tidak menggumpal dan rusak (Hermawati, dkk., 2004).

4 Pada suhu ruang (25 C) susu (selain susu kuda Sumbawa) tanpa pengolahan dan pengawetan yang baik dan benar hanya mempunyai daya simpan sekitar 6 jam, lewat dari itu susu akan menjadi rusak dan kadar gizinya menurun. Disamping itu, kekurangan lainnya adalah susu dapat mengandung residu, obatobatan, antibiotika, yang merupakan hasil aplikasi obat-obatan tersebut melalui injeksi, makanan atau semprot pada terapi ternak perah. Susu juga mudah sekali menyerap bau dari lingkungan sekitar sehingga perlu tempat khusus dan terisolasi di tempat bersih jauh dari benda-benda yang menghasilkan bau tajam (Arka, 1988). Bakteri dapat memfermentasi laktosa susu yang akan menghasilkan asam laktat, dengan demikian keasaman susu menurun. Susu dalam keadaan normal memiliki ph antara 6,5-6,7. Apabila susu memiliki ph di bawah 6,5 maka dapat dikatakan kualitas atau ketahanan susu tersebut menurun karena adanya aktivitas bakteri, sedangkan nilai ph yang lebih besar dari 6,7 biasanya menunjukkan adanya gangguan pada puting susu (Arka, dkk., 1986). Seharusnya nilai ph tidak sampai berubah selama penyimpanan sehingga ketahanan susu dapat dipertahankan. Susu yang baik adalah susu yang mempunyai ketahanan dalam penyimpanan. Selain dengan melihat nilai ph, ketahanan susu dapat dilihat dari uji alkohol. Uji alkohol dapat dipakai sebagai indikator awal sebelum melakukan uji lebih lanjut. Uji alkohol positif ditandai dengan adanya butiran yang melekat pada dinding tabung reaksi, sedangkan tidak terdapatnya butiran menandakan uji alkohol negatif (Buda, dkk., 1980). Penilaian mutu dan produksi susu sering digunakan sebagai tolak ukur pemeriksaan uji kualitas susu terhadap komposisi susu dan keadaan fisik susu. Pada uji bau akan terjadi kelainan jika bau yang tercium menyimpang seperti bau tengik, bau busuk, bau asam, bau alkohol, bau obat-obatan, bau tubuh kuda maupun bau menyimpang lainnya. Pada uji rasa akan terjadi penyimpangan jika susu memiliki rasa seperti rasa pahit, rasa asin, rasa asam dan rasa amis (Hadiwiyoto, 1982). Berdasarkan hal-hal tersebut di atas maka dalam penelitian ini akan diteliti tentang ketahanan susu kuda Sumbawa pada penyimpanan suhu ruang ditinjau dari tingkat keasaman (ph), uji alkohol, uji bau dan uji rasa.

5 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : 1. Bagaimanakah ketahanan susu kuda Sumbawa pada penyimpanan suhu ruang ditinjau dari nilai ph. 2. Bagaimanakah ketahanan susu kuda Sumbawa pada penyimpanan suhu ruang ditinjau dari uji alkohol. 3. Bagaimanakah ketahanan susu kuda Sumbawa pada penyimpanan suhu ruang ditinjau dari uji bau. 4. Bagaimanakah ketahanan susu kuda Sumbawa pada penyimpanan suhu ruang ditinjau dari uji rasa. 1.3 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : 1. Ketahanan susu kuda Sumbawa pada penyimpanan suhu ruang ditinjau dari tingkat keasaman (ph). 2. Ketahanan susu kuda Sumbawa pada penyimpanan suhu ruang ditinjau dari uji alkohol. 3. Ketahanan susu kuda Sumbawa pada penyimpanan suhu ruang ditinjau dari uji bau. 4. Ketahanan susu kuda Sumbawa pada penyimpanan suhu ruang ditinjau dari uji rasa. 1.4 Manfaat Penelitian Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah : 1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada masyarakat tentang ketahanan susu kuda Sumbawa pada penyimpanan suhu ruang ditinjau dari tingkat keasaman (ph), uji alkohol, uji bau dan uji rasa. 2. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan informasi kepada konsumen mengenai mutu susu kuda Sumbawa yang dikonsumsinya.

6 1.5 Kerangka Konsep Susu adalah suatu bahan makanan yang bernilai gizi tinggi, karena mengandung semua zat yang dibutuhkan tubuh dan zat penyusunnya ditemukan dalam perbandingan sempurna, sangat mudah dicerna dan diserap oleh saluran pencernaaan (Suardana dan Swacita, 2004). Susu juga merupakan bahan pangan yang mudah tercemar oleh bakteri baik dari udara, air, tanah, dan kotoran, sebab pertumbuhan bakteri sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan, diantaranya suhu, ph, oksigen dan tersedianya zat-zat makanan (Fardiaz, 1989). Apabila jumlah kontaminasi bakteri sangat tinggi, maka susu akan cepat rusak. Pada suhu yang rendah dan sanitasi yang baik sifat bakteriostatik susu dapat tahan sampai 24 jam. Kontaminasi bakteri pada susu dapat terjadi saat pemerahan, penanganan atau pengolahan pasca panen dan pemasaran (Riyadh, 2003). Susu segar merupakan bahan makanan yang masuk dalam kelompok minuman yang bergizi tinggi karena mengandung zat-zat makanan yang lengkap dan seimbang seperti protein, lemak, karbohidrat, mineral, dan vitamin yang sangat dibutuhkan oleh manusia. Nilai gizinya yang tinggi juga menyebabkan susu merupakan medium yang sangat disukai oleh mikrooganisme untuk pertumbuhan dan perkembangannya sehingga dalam waktu yang sangat singkat susu menjadi tidak layak dikonsumsi bila tidak ditangani secara benar (Saleh, 2004). Nilai gizi susu secara alami merupakan bahan makanan yang paling baik, terutama bagi anak mamalia yang baru dilahirkan. Untuk bayi, susu merupakan satu-satunya sumber zat makanan (nutrien) selama 2-3 bulan pertama dan dibeberapa negara susu memegang peranan penting dalam makanan anak-anak yang sedang tumbuh. Susu atau bahan penggantinya sangat penting artinya pada pertumbuhan awal bagi mamalia. Selanjutnya susu juga sangat tinggi nilai gizinya sebagai bahan makanan bagi orang dewasa terutama bagi orang-orang lanjut usia. Susu sangat penting dalam menu sehari-hari karena adanya tiga komponen penting yaitu : protein, kalsium dan riboflavin (vit B 2 ). Yang paling penting adalah protein yang mengandung banyak macam asam amino esensial yang pada

7 umumnya terdapat pada jumlah yang kurang pada biji-bijian yang biasa diuraikan sebagai bahan makanan pokok manusia (Buda, dkk., 1980). Susu akan mengalami penurunan ph yang cukup signifikan dalam suhu ruang karena susu mengalami autofermentasi sehingga ph-nya rendah. Selain ph, suhu juga merupakan faktor pendukung bagi pertumbuhan bakteri (Arka, dkk., 1986). Jawetz, dkk., (1982) mengemukakan bahwa bakteri akan tumbuh baik pada suhu 15-20 C untuk bakteri psikrofilik tetapi untuk bakteri mesofilik seperti golongan coliform antara 25-40 C dengan suhu pertumbuhan yang optimum adalah 37 C dan untuk bakteri termofilik suhu optimalnya adalah 50-60 C. Penyimpanan terhadap uji alkohol ditandai dengan adanya butiran susu yang melekat pada dinding tabung reaksi akibat pecahnya susu karena koagulasi kasein sebagai akibat tertariknya air disekitar kasein oleh alkohol, sedangkan tidak terdapatnya butiran menandakan hasil uji alkohol negatif. Semakin lama penyimpanan maka uji alkohol akan menunjukkan susu semakin pecah/rusak (Buda, dkk., 1980). Keadaan ini dipengaruhi oleh kestabilan koloidal protein susu yang tergantung pada selubung/mantel air yang menyelimuti butir-butir protein terutama kasein (Siirtola, 2000). Apabila susu dicampur dengan alkohol yang memiliki daya dehidratasi, maka protein akan berkoagulasi. Semakin tinggi keasaman susu, semakin berkurang jumlah alkohol dengan kepekatan yang sama dibutuhkan untuk memecahkan susu yang sama banyaknya (Suardana dan Swacita, 2004). Penyimpanan terhadap uji bau dapat dilakukan dengan memeriksa apakah ada bau susu yang menyimpang seperti bau obat-obatan, bau asam, bau alkohol, bau busuk, bau tubuh kuda, bau tengik maupun bau menyimpang lainnya. Penyimpanan terhadap uji rasa dapat dilakukan dengan mencicipi rasa susu apakah terjadi penyimpangan seperti rasa pahit, rasa asin, rasa asam dan rasa amis (Hadiwiyoto, 1982). Pada uji bau dan uji rasa, apabila menyimpang dari normal maka susu tersebut dipisah karena tidak layak untuk dikonsumsi (Buda, dkk., 1980).

8 1.6 Hipotesis Berdasarkan dari kerangka konsep tersebut di atas maka dapat dibuat suatu hipotesis yaitu : 1. Ketahanan susu kuda Sumbawa semakin menurun selama penyimpanan dalam suhu ruang ditinjau dari tingkat keasaman (ph). 2. Ketahanan susu kuda Sumbawa semakin menyimpang selama penyimpanan dalam suhu ruang ditinjau dari uji alkohol. 3. Ketahanan susu kuda Sumbawa semakin menyimpang selama penyimpanan dalam suhu ruang ditinjau dari uji bau. 4. Ketahanan susu kuda Sumbawa semakin menyimpang selama penyimpanan dalam suhu ruang ditinjau dari uji rasa.