PENERAPAN TEKNIK INTERPRETIVE STRUCTURAL MODELING (ISM) DAN ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP)

dokumen-dokumen yang mirip
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... HALAMAN PENGESAHAN... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... ABSTRACT...

III. METODE PENELITIAN

3 METODOLOGI PENELITIAN

III. LANDASAN TEORI. Tabel 3.1 Matriks Model Multi Sectoral Qualitative Analysis (MSQA)

Gambar 9 Sistem penunjang keputusan pengembangan klaster agroindustri aren.

Prosiding Seminar Nasional Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan 2013

III. LANDASAN TEORETIS

Kuliah 11. Metode Analytical Hierarchy Process. Dielaborasi dari materi kuliah Sofian Effendi. Sofian Effendi dan Marlan Hutahaean 30/05/2016

III. METODE PENELITIAN

BAB 2 LANDASAN TEORI Analytial Hierarchy Process (AHP) Pengertian Analytical Hierarchy Process (AHP)

ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) Amalia, ST, MT

VIII. STAKESHOLDER YANG BERPERAN DALAM PENGENDALIAN PENCEMARAN MINYAK. Kata kunci: Selat Rupat, pencemaran minyak, pengendalian pencemaran.

2 METODE PENELITIAN. Kerangka Pemikiran

MODEL KONSEPTUAL KELEMBAGAAN

PENENTUAN KOMODITAS UNGGULAN PERTANIAN DENGAN METODE ANALY TICAL HIERARCHY P ROCESS (AHP) Jefri Leo, Ester Nababan, Parapat Gultom

BAB III METODE PENELITIAN

MODEL SISTEM KELEMBAGAAN PENGEMBANGAN INDUSTRI TALAS

PEMODELAN SISTEM Konfigurasi Model

Prioritas Pengembangan Jaringan Jalan Pendukung Kawasan Strategis Di Pulau Sumbawa

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB V KONFIGURASI DAN PEMODELAN SISTEM

Fasilitas Penempatan Vektor Eigen (yang dinormalkan ) Gaji 0,648 0,571 0,727 0,471 0,604 Jenjang 0,108 0,095 0,061 0,118 0,096

III. METODE PENELITIAN. informasi dari kalangan aparat pemerintah dan orang yang berhubungan erat

VII KELEMBAGAAN PENGELOLAAN KAWASAN PERMUKIMAN DI DAS CILIWUNG HULU

BAB III METODE KAJIAN

BAB 7 ANALISIS KELEMBAGAAN DALAM SISTEM PENGELOLAAN PERIKANAN ARTISANAL

PENERAPAN ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) GUNA PEMILIHAN DESAIN PRODUK KURSI SANTAI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. artian yang lebih spesifik yakni pihak ketiga dalam supply chain istilah dalam

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN LBB PADA KAMPUNG INGGRIS PARE MENGGUNAKAN METODE AHP

ANALISIS KELEMBAGAAN PENGELOLAAN PEMANFAATAN SITU BERKELANJUTAN (STUDI KASUS SITU KEDAUNG, KECAMATAN PAMULANG, TANGERANG SELATAN)

ANALISIS SISTEM PEMBAYARAN PERKULIAHAN DI UKRIDA MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP)

BAB II LANDASAN TEORI. pengambilan keputusan baik yang maha penting maupun yang sepele.

ANALISIS KELEMBAGAAN PENGELOLAAN PEMANFAATAN AIR TANAH YANG BERKELANJUTAN DI KOTA SEMARANG ABSTRAK

PENERAPAN AHP (ANALITYCAL HIERARCHY PROCESS) UNTUK MEMAKSIMALKAN PEMILIHAN VENDOR PELAYANAN TEKNIK DI PT. PLN (PERSERO) AREA BANYUWANGI

PENENTUAN URUTAN PRIORITAS USULAN PENANGANAN RUAS-RUAS JALAN DI KOTA SAMARINDA

BAB III TEORI HIERARKI ANALITIK. Proses Hierarki Analitik (PHA) atau Analytical Hierarchy Process (AHP)

BAB IV METODE PENELITIAN. keripik pisang Kondang Jaya binaan koperasi BMT Al-Ikhlaas. yang terletak di

PENGAMBILAN KEPUTUSAN ALTERNATIF ELEMEN FAKTOR TENAGA KERJA GUNA MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS KERJA DENGAN SWOT DAN ANALITYCAL HIERARCHY PROCESS

BAB IV METODOLOGI PENGAMBILAN KEPUTUSAN

JURNAL ILMIAH TEKNIK INDUSTRI

III. METODE PENELITIAN

BAB 3 HASIL DAN PEMBAHASAN. 3.1 Penerapan AHP dalam Menentukan Prioritas Pengembangan Obyek Wisata Di Kabupaten Toba Samosir

VIII. PRIORITAS KEBIJAKAN PEMBERANTASAN ILLEGAL LOGGING DI INDONESIA

repository.unisba.ac.id DAFTAR ISI ABSTRAK... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN...

III. METODE PENELITIAN

PEMILIHAN SUPPLIER ALUMINIUM OLEH MAIN KONTRAKTOR DENGAN MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS

III. METODE KAJIAN. Data kajian ini dikumpulkan dengan mengambil sampel. Kabupaten Bogor yang mewakili kota besar, dari bulan Mei sampai November

BAB 2 LANDASAN TEORI

OLEH : TOMI DWICAHYO NRP :

BAB 2 LANDASAN TEORI

Bab 3 Kerangka Pemecahan Masalah

Pengertian Metode AHP

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Penyebaran Kuisioner

5 STRATEGI PENYEDIAAN AIR BERSIH KOTA TARAKAN

Analytic Hierarchy Process (AHP)

Analytical hierarchy Process

Sesi XIII AHP (Analytical Hierarchy Process)

TEKNIK INTERPRETATIVE STRUCTURAL MODELING (ISM) UNTUK STRATEGI IMPLEMENTASI MODEL PENGELOLAAN PERIKANAN TANGKAP DI TAMAN NASIONAL KARIMUNJAWA

PENDEKATAN ANALITYCAL HIERARCHY PROCESS (AHP) DALAM PENENTUAN URUTAN PENGERJAAN PESANAN PELANGGAN (STUDI KASUS: PT TEMBAGA MULIA SEMANAN)

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN PERUMAHAN DENGAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS

Penerapan Analytical Hierarchy Process (AHP) Dalam Evaluasi Agen Pangkalan LPG 3 kg

MATERI PRAKTIKUM. Praktikum 1 Analytic Hierarchy Proses (AHP)

MATERI PRAKTIKUM. Praktikum 1 Analytic Hierarchy Proses (AHP)

BAB III METODE PENELITIAN. Obyek pada penelitian ini adalah CV. Bagiyat Mitra Perkasa. Lokasi

BAB 3 METODE PENELITIAN

IV METODE PENELITIAN Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data yang digunakan untuk memperkuat dan mendukung analisis penelitian adalah:

IX. STRUKTURISASI PENGEMBANGAN AGROINDUSTRI KOPI RAKYAT DI KUPK SIDOMULYO, KABUPATEN JEMBER

DAFTAR ISI. Halaman DAFTAR TABEL... iii DAFTAR GAMBAR... v DAFTAR LAMPIRAN... vii DAFTAR SINGKATAN... viii

BAB II LANDASAN TEORI

MODEL ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS UNTUK PENILAIAN DESA DALAM PROGRAM DESA MAJU INHIL JAYA. Muh. Rasyid Ridha

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. kebutuhan akan transportasi dan merangsang perkembangan suatu wilayah atau

RANCANG BANGUN APLIKASI SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN MENGGUNAKAN MODEL ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS UNTUK PEMBERIAN BONUS KARYAWAN

4 METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian Jenis dan Sumber Data Metode Pengumpulan Data

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. yang akan digunakan dalam penelitian ini, berdasarkan berbagai kajian literatur yang ada.

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PENENTUAN GURU YANG BERHAK MENERIMA SERTIFIKASI MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP)

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN PERUMAHAN DENGAN METODE AHP (Analytical Hierarchy Process)

BAB III METODE PENELITIAN. lokasi penelitian secara sengaja (purposive) yaitu dengan pertimbangan bahwa

PENGAMBILAN KEPUTUSAN PENERIMA BEASISWA DENGAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) (STUDI KASUS : SMK NEGERI 1 PUGUNG, TANGGAMUS)

BAB III ANALISIS DAN DESAIN SISTEM

ANALISA FAKTOR PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN PERGURUAN TINGGI TINGKAT SARJANA MENGGUNAKAN METODE AHP (ANALITICAL HIRARKI PROCESS)

METODE PENELITIAN. San Diego Hills. Visi dan Misi. Identifikasi gambaran umum perusahaan dan pasar sasaran

BAB IV PENGOLAHAN DATA DAN ANALISIS

APLIKASI TEKNIK PEMODELAN INTERPRETASI STRUKTURAL (Interpretive Structural Modeling) Teori dan Pemodelan Sistem

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di KUB Hurip Mandiri Kecamatan Cisolok,

PENERAPAN METODE ANALYTICAL HIERARCHICAL PROCESS (AHP) UNTUK PEMILIHAN DOSEN BERPRESTASI DI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER

PEMODELAN SISTEM. Konfigurasi Model. Data Pengetahuan Model. Perumusan Strategi Bauran Pemasaran MEKANISME INFERENSI SISTEM PENGOLAHAN TERPUSAT

Transkripsi:

PENERAPAN TEKNIK INTERPRETIVE STRUCTURAL MODELING (ISM) DAN ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) Heri Apriyanto NRP. P062100201 Dadang Subarna NRP. P062100081 Prima Jiwa Osly NRP. P062100141 Program Studi Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor 2011

I. TEKNIK INTERPRETIVE STRUCTURAL MODELING (ISM) Studi Kasus : PROGRAM PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI YANG BERKELANJUTAN

LATAR BELAKANG Membahas penerapan Teknik Interpretive Structural Modeling (ISM) dalam mengidentifikasi struktur yang ada pada suatu sistem, yang selanjutnya digunakan untuk mendukung dalam pengambilan keputusan Studi Kasus untuk penerapan ISM dalam Program Pengelolaan Daerah Aliran Sungai yang Berkelanjutan Pengelolaan DAS adalah rangkaian upaya yang dilakukan oleh manusia untuk memanfaatkan sumberdaya alam DAS secara rasional guna memenuhi kebutuhan hidup dan meningkatkan taraf hidup, seraya membina hubungan yang harmonis antara sumberdaya alam dan manusia serta keserasian ekosistem secara lestari Pengelolaan DAS ini melibatkan multi-sektor, multi-disiplin ilmu, lintas wilayah administrasi, terjadi interaksi hulu hilir, sehingga harus terpadu Perlu diketahui Struktur aktor/pelaku yang berperan dalam pengelolaan DAS dan Struktur kebutuhan untuk pengelolaan DAS yang berkelanjutan.

Interpretive Structural Modeling (ISM) Teknik ISM merupakan suatu proses pengkajian kelompok dimana model-model struktural dihasilkan guna memotret perihal yang kompleks dari suatu sistem, melalui pola yang dirancang secara seksama dengan menggunakan grafik serta kalimat (Eriyatno 1998). Tahapan Teknik ISM

Prinsip dasar : Identifikasi dan struktur di dalam suatu sistem akan memberikan nilai manfaat yang tinggi guna merancang sistem secara efektif dan pengambilan keputusan yang lebih tinggi. Dalam teknik ISM, program yang ditelaah perjenjangan strukturnya dibagi menjadi elemen-elemen di mana setiap elemen selanjutnya diuraikan menjadi sejumlah sub-elemen Program dapat dibagi menjadi sembilan elemen, yaitu : sektor masyarakat yang terpengaruh, kebutuhan dari program, kendala utama, perubahan yang dimungkinkan, tujuan dari program, tolok ukur untuk menilai setiap tujuan, aktivitas yang dibutuhkan guna perencanaan tindakan, ukuran aktivitas guna mengevaluasi hasil yang dicapai oleh setiap aktivitas, lembaga yang terlibat dalam pelaksanaan program.

A. ELEMEN PELAKU PROGRAM PENGELOLAAN DAS BERKELANJUTAN Kode Sub Elemen Pelaku A1 Balai Pengelolaan DAS A2 Balai Wilayah Sungai A3 Dewan Sumber Daya Air A4 Dinas Kehutanan A5 Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air A6 Forum DAS A7 Akademisi A8 Masyarakat/LSM Structural Self-Interaction Matrix (SSIM) dengan menggunakan simbol V, A, X dan 0, di mana: V adalah eij = 1 dan eji = 0; A adalah eij = 0 dan eji = 1; X adalah eij = 1 dan eji = 1; O adalah eij = 0 dan eji = 0 3 PAKAR

HASIL DAN PEMBAHASAN I 2 3 No. A1 A2 A3 A4 A5 A6 A7 A8 A1 O A V O X X X A2 A O V X X X A3 V V V A A A4 X A X A A5 A X A A6 A A A7 X A8 No. A1 A2 A3 A4 A5 A6 A7 A8 A1 V V V O X A X A2 A X V X A X A3 V V V X X A4 X O X A A5 A X A A6 X A A7 X A8 No. A1 A2 A3 A4 A5 A6 A7 A8 A1 A A V O X X O A2 A O V X X X A3 V V X X O A4 X O X A A5 A O X A6 A A A7 X A8 TABEL SSIM Elemen Pelaku Program Pengelolaan DAS yang berkelanjutan (3 pakar dan agregat) AGREGAT No. A1 A2 A3 A4 A5 A6 A7 A8 A1 O O V O X A O A2 A O V X A X A3 V V V A O A4 X O X A A5 A O A A6 A A A7 X A8

Tabel. Reachability Matrix (RM) Awal Elemen Pelaku Program Pengelolaan DAS berkelanjutan No. A1 A2 A3 A4 A5 A6 A7 A8 A1 1 0 0 1 0 1 0 0 A2 0 1 0 0 1 1 0 1 A3 0 1 1 1 1 1 0 0 A4 0 0 0 1 1 0 1 0 A5 0 0 0 1 1 0 0 0 A6 1 1 0 0 1 1 0 0 A7 1 1 1 1 0 1 1 1 A8 0 1 0 1 1 1 1 1 Analisis Transivity rule Tingkat Konsistensi pendapat pakar = 76,5% No. A1 A2 A3 A4 A5 A6 A7 A8 Driver Rang Power king A1 1 1 0 1 1 1 0 0 5 3 A2 1 1 1 1 1 1 0 1 7 2 A3 0 0 1 1 1 1 1 0 5 3 A4 1 1 1 1 1 1 1 0 7 2 A5 0 1 0 1 1 0 1 0 4 4 A6 1 1 0 1 1 1 0 0 5 3 A7 1 1 1 1 1 1 1 1 8 1 A8 1 1 1 1 1 1 1 1 8 1 Depen dence 6 7 5 8 8 7 5 3 Level 3 2 4 1 1 2 4 5 Tabel. Reachability Matrix (RM) Final Elemen Pelaku Program Pengelolaan DAS berkelanjutan

Tabel. Structural Self Interaction Matrix (SSIM) Final yang telah memenuhi Aturan Transivitas Elemen Pelaku Program Pengelolaan DAS Berkelanjutan No. A1 A2 A3 A4 A5 A6 A7 A8 A1 X O X V X A A A2 X X V X A X A3 X V V X A A4 X X X A A5 A X A A6 A A A7 X A8

Penentuan tingkat (level) dari setiap sub elemen dilakukan dengan 2 cara, yaitu : berdasarkan rangking yang merajuk pada aspek Driver Power secara langsung berdasarkan proses iterasi setiap variabel untuk menemukan intersection dari masing-masing reachability dan antecendent Penentuan jenjang sub elemen melalui iterasi Iterasi Variabel Reachability Antecendent Intersection Level i A1 1,2,4,5,6 1,2,4,6,7,8 1,2,4,6 A2 1,2,3,4,5,6,8 1,2,4,5,6,7,8 1,2,4,5,6,8 A3 3,4,5,6,7 2,3,4,7,8 3,7 A4 1,2,3,4,5,6,7 1,2,3,4,5,6,7,8 1,2,3,4,5,6,7,8 I A5 2,4,5,7 1,2,3,4,5,6,7,8 2,4,5,7 I A6 1,2,4,5,6 1,2,3,4,6,7,8 1,2,4,6 A7 1,2,3,4,5,6,7,8 3,4,5,7,8 3,4,5,7,8 A8 1,2,3,4,5,6,7,8 2,7,8 2,7,8 Iterasi Variabel Reachability Antecendent Intersection Level ii A1 1,2,6, 1,2,6,7,8 1,2,6 II ii A6 1,2,6 1,2,3,6,7,8 1,2,6 II iii A3 3,7 2,3,7,8 3,7 III iv A2 2,8 2,7,8 2,8 IV iv A8 2,7,8 2,7,8 2,7,8 IV v A7 7 7 7 V

Berdasarkan 2 (dua) cara tersebut maka dalam sub elemen pelaku pengelolaan ini diperoleh hasil yang berbeda : cara (1) diperoleh 4 (empat) tingkat hirarki, maka yang menempati tingkat pertama adalah A5 (Dinas Pengembangan Sumber Daya Air) dengan elemen kunci (key element) adalah A7 (akademisi) dan A8 (masyarakat/lsm) cara (2) diperoleh 5 (lima) tingkat hirarki. Sub elemen A4 (Dinas Kehutanan) dan A5 (Dinas Pengembangan Sumber Daya Air) menempati tingkat pertama, dengan sub elemen kunci adalah A7 (akademisi).

Penentuan model struktual dari elemen pelaku pengelolaan secara detail, maka dilakukan dengan menyusun dalam suatu tabel Tabel. Menentukan hubungan antar sub elemen pada setiap level No A4 A5 A1 A6 A3 A2 A8 A7 A4 1 1 1 1 1 1 0 1 A5 1 1 0 0 0 1 0 1 A1 1 1 1 1 0 1 0 0 A6 1 1 1 1 0 1 0 0 A3 1 1 0 1 1 0 0 1 A2 1 1 1 1 1 1 1 0 A8 1 1 1 1 1 1 1 1 A7 1 1 1 1 1 1 1 1 Struktur hirarki sub elemen aktor/pelaku pengelolaan DAS yang berkelanjutan

DRIVER POWER 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 Diagram Klasifikasi sub elemen pelaku pengelolaan DAS yang berkelanjutan Independent Autonomous A8 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 DEPENDENCE A7 A3 A1 Linkage A2 A6 Dependent Keterangan : A1. BP DAS ; A2. Balai WS; A3. Dewan SDA; A4. Dinas Kehutanan A5. Dinas PSDA; A6. Forum DAS; A7. Akademisi; A8. Masyarakat/LSM A4 A5 Klasifikasi : Variabel pelaku dari A1 sampai A7 berada pada Sektor III atau Linkages (pengait) posisi ini, yang berarti tindak-tindakan dari para pelaku ini akan mendukung keberhasilan dari pengelolaan DAS yang berkelanjutan, sedangkan jika tidak dilakukan tindakan dari para pelaku ini, maka pengelolaan DAS yang berkelanjutan dapat tidak berjalan dengan baik (atau gagal). Variabel A8 (masyarakat/lsm) berada pada Sektor IV atau Independent, yang berarti variabel ini mempunyai kekuatan penggerak (driver power) yang besar, namun mempunyai sedikit ketergantungan terhadap program ini. Pada sektor yang lain (I / Autonomous dan II / Dependent) tidak terdapat variabel pelaku, yang berarti tidak ada variabel dalam sub elemen pelaku ini yang tidak terkait dengan sistem serta tidak ada variabel yang sangat tergantung dari input dan tindakan yang diberikan pada sistem.

B. ELEMEN KEBUTUHAN PROGRAM PENGELOLAAN DAS BERKELANJUTAN Kode Sub Elemen kebutuhan B1. Penegakan hukum B2. Peningkatan luas kawasan lindung B3. Peningkatan pendapatan masyarakat B4. Peningkatan pengetahuan dan ketrampilan aparat B5. Restrukturisasi kelembagaan B6. Tata Ruang yang tepat B7. Pemberian insentif dan disinsentif B8. Peningkatan kesadaran stake holder B9. Penetapan Pedoman pengelolaan DAS B10. Pengembangan kearifan lokal B11. Peningkatan lapangan pekerjaan B12. Teknologi pengelolaan DAS

DENGAN CARA YANG SAMA DENGAN SUB ELEMEN PELAKU Hasil analisis transitivity rule terhadap RM menunjukkan tingkat konsistensi pendapat dari pakar sebesar 88,8%, yaitu terdapat sejumlah 16 sel yang direvisi, sedangkan jumlah sel keseluruhannya ada 144 sel. Perhitungannya adalah ([(144-16)/144)] x 100% = 88,8%. Tabel. Reachability Matrix (RM) Final Sub Elemen Kebutuhan Pengelolaan DAS berkelanjutan No. B1 B2 B3 B4 B5 B6 B7 B8 B9 B10 B11 B12 DP B1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 0 9 3 B2 1 1 1 1 0 0 1 0 1 1 0 1 8 4 B3 0 0 1 0 1 0 0 0 1 1 0 0 4 6 B4 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 0 9 3 B5 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 10 2 B6 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 10 2 B7 1 0 0 1 0 0 1 0 0 0 1 1 5 5 B8 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 11 1 B9 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 10 2 B10 0 1 1 0 0 0 1 0 0 1 1 0 5 5 B11 0 0 1 0 0 0 1 1 0 0 1 1 5 5 B12 0 1 1 1 0 1 1 0 0 1 1 1 8 4 Dep 7 9 11 7 6 6 10 4 6 10 10 8 Level 5 3 1 5 6 6 2 1 6 2 2 4 Rangk ing

Tabel Penentuan jenjang variabel-variabel dalam sub elemen melalui iterasi Berdasarkan 2 (dua) cara (berdasarkan DP dan iterasi setiap variabel untuk menentukan intersection) tersebut maka dalam sub elemen kebutuhan pengelolaan ini diperoleh : 7 (tujuh) tingkat hirarki. Pada cara (1) dan (2), maka yang menempati tingkat pertama adalah B3 (peningkatan pendapatan masyarakat) dengan elemen kunci (key element) adalah B8 (peningkatan kesadaran stakeholder). Namun terdapat perbedaan pada tingkat hirarki antara ke II VI. Iterasi Variabel Reachability Antecendent Intersection Level i B1 1,2,3,4,5,7,9,10,11 1,2,4,5,7,8,9, 1,2,4,5,7,9 B2 1,2,3,4,7,9,10,12 1,2,4,5,6,8,9,10,12 1,2,4,9,10,12 B3 3,5,9,10 1,2,3,4,5,6,8,9,10,11,12 3,5,9,10 I B4 1,2,3,4,5,6,8,10,11 1,2,4,5,6,7,12 1,2,4,5,6 B5 1,2,3,4,5,6,7,10,11,12 1,3,4,5,6,8 1,3,4,5,6 B6 2,3,4,5,6,7,9,10,11,12 4,5,6,8,9,12 4,5,6,9,12 B7 1,4,7,11,12 1,2,5,6,7,8,9,10,11,12 1,7,11,12 B8 1,2,3,5,6,7,8,9,10,11,12 4,8,9,11 8,9,11 B9 1,2,3,6,7,8,9,10,11,12 1,2,3,6,8,9 1,2,3,6,8,9 B10 2,3,7,10,11 1,2,3,4,5,6,8,9,10,12 2,3,10, B11 3,7,8,11,12 1,4,5,6,7,8,9,10,11,12 7,8,11,12 B12 2,3,4,6,7,10,11,12 2,5,6,7,8,9,11,12 2,6,7,11,12 Iterasi Variabel Reachability Antecendent Intersection Level ii B11 7,8,11,12 1,4,5,6,7,8,9,10,11,12 7,8,11,12 II iii B7 1,4,7,12 1,2,4,5,6,7,8,9,10,12 1,7,12 III iii B10 2,7,10, 1,2,4,5,6,7,8,9,10,11 2,7,10 III iv B1 1,2,4,5,9, 1,2,4,5,8,9, 1,2,4,5,9 IV iv B2 1,2,4,9,12 1,2,4,5,6,8,9,12 1,2,4,9,12 IV v B6 4,5,6,9,12 4,5,6,8,9,12 4,5,6,9,12 V vi B4 4,5, 4,5,12 4,5, VI vi B5 4,5,8 4,5,8 4,5, VI vi B9 8,9 8,9 8,9 VI vi B12 12 5,8,9,12 12 VI vii B8 8 8 8 VII

Tabel. Menentukan hubungan antar sub elemen pada setiap level B3 B11 B7 B10 B1 B2 B6 B4 B5 B9 B12 B8 B3 1 0 0 1 0 0 0 0 1 1 0 0 B11 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 1 1 B7 0 1 1 0 1 0 0 1 0 0 1 0 B10 1 1 1 1 0 1 0 0 0 0 0 0 B1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0 B2 1 0 1 1 1 1 0 1 0 1 1 0 B6 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 B4 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 0 1 B5 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 B9 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 0 B12 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0 1 1 B8 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 B1. Penegakan hukum B2. Peningkatan luas kawasan lindung B3. Peningkatan pendapatan masyarakat B4. Peningkatan pengetahuan dan ketrampilan aparat B5. Restrukturisasi kelembagaan B6. Tata Ruang yang tepat B7. Pemberian insentif dan disinsentif B8. Peningkatan kesadaran stake holder B9. Penetapan Pedoman pengelolaan DAS B10. Pengembangan kearifan lokal B11. Peningkatan lapangan pekerjaan B12. Teknologi pengelolaan DAS Struktur hirarki sub elemen KEBUTUHAN untuk pengelolaan DAS yang berkelanjutan

12 11 10 9 8 Diagram Klasifikasi sub elemen kebutuhan untuk pengelolaan DAS yang berkelanjutan g j Independent Linkage B8 B6 B5 B4 B1 B12 B2 DRIVER POWER 7 6 5 4 B11 B10 B7 B3 3 2 1 0 Autonomous Dependent 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 DEPENDENCE B1. Penegakan hukum B2. Peningkatan luas kawasan lindung B3. Peningkatan pendapatan masyarakat B4. Peningkatan pengetahuan dan ketrampilan aparat B5. Restrukturisasi kelembagaan B6. Tata Ruang yang tepat B7. Pemberian insentif dan disinsentif B8. Peningkatan kesadaran stake holder B9. Penetapan Pedoman pengelolaan DAS B10. Pengembangan kearifan lokal B11. Peningkatan lapangan pekerjaan B12. Teknologi pengelolaan DAS

KLASIFIKASI : Sub elemen dari B1 (Penegakan hukum), B2 (Peningkatan luas kawasan lindung), B4 (Peningkatan pengetahuan dan ketrampilan aparat), B5 (Restrukturisasi kelembagaan), B6 (Tata Ruang yang tepat), dan B12 (Teknologi pengelolaan DAS) berada pada Sektor III atau Linkages (pengait), yang berarti pemenuhan kebutuhan ini akan mendukung keberhasilan dari program pengelolaan DAS yang berkelanjutan, sedangkan jika kebutuhan ini tidak dipenuhi, maka pengelolaan DAS yang berkelanjutan dapat tidak berjalan dengan baik (atau gagal). Sektor II (Dependent) terdapat subelemen B3 (Peningkatan pendapatan masyarakat), B7 (Pemberian insentif dan disinsentif), B10 (Pengembangan kearifan lokal), dan B11 (Peningkatan lapangan pekerjaan). Variabel-variabel ini sangat tergantung dari input dan tindakan yang diberikan pada sistem. Sub elemen B8 (peningkatan stakeholder) beradapadasektor IV atau Independent, yang berarti variabel ini mempunyai kekuatan penggerak (driver power) yang besar, namun mempunyai sedikit ketergantungan terhadap program ini. Pada Sektor I / Autonomous tidak terdapat variabel kebutuhan, yang berarti tidak ada variabel dalam sub elemen kebutuhan ini yang tidak terkait dengan sistem.

KESIMPULAN Teknik ISM menghasilkan model struktural sub elemen dan matrik DP D untuk menginterprestasikan hirarki dan keterkaitan antara masing-masing sub elemen - sub elemen yang dianalisis, yaitu pelaku dan kebutuhan dalam Program Pengelolaan DAS yang berkelanjutan Perumusan Program Pengelolaan DAS yang berkelanjutan dengan elemen-elemen kunci pada elemen kebutuhan adalah peningkatan kesadaran stakeholder, sedangkan elemen pelaku yang menjadi kunci untuk mendukung tercapainya program ini adalah kalangan akademisi.

II. METODA ANALYTICAL HIRARCHY PROCESS (AHP) Studi Kasus : PEMBUATAN KEPUTUSAN DALAM MANAJEMEN PROYEK

Latar Belakang Membahas penerapan metoda Analytical Hirarchy Process (AHP) dalam pembuatan keputusan dalam manajemen proyek Seorang pimpinan proyek beserta tim dihadapkan pada masalah dalam memilih perusahaan/kontraktor untuk melaksanakan proyeknya dengan baik Sebelum tender dilakukan maka perlu dilakukan prakualifikasi untuk memilih perusahaan terbaik Masalah prakualifikasi kontraktor adalah tahapan dalam pelaksanaan manajemen proyek yang dijadika contoh di dalam makalah ini Struktur hirarki dibangun untuk memenuhi kriteria prakualifikasi dan kontraktor yang berkeinginan untuk melakukan proyek harus melalui tahap prakualifikasi Dengan menerapkan AHP maka kriteria prakualifikasi dapat diprioritaskan dan daftar tingkatan kontraktor yang semakin menurun sesuai prioritas kriteria dapat dibuat untuk memilih kontraktor terbaik dalam rangka pelaksanaan proyek tersebut.

Saaty (1986) mengembangkan beberapa langkah dalam menerapkan AHP, yaitu : 1. Mendefinisikan masalah dan menentukan tujuannya 2. Struktur hirarki dari puncak (tujuan dari titik pandang pembuat keputusan) sampai ke tingkat menengah (kriteria dimana tingkat selanjutnya bergantung) terhadap tingkat yang biasanya mengandung daftar alternatif) 3. Membuat sebuah matrik perbandingan berpasangan (ukuran nxn) untuk setiap tingkat paling bawah dengan satu matriks untuk setiap elemen dalam tingkat di atasnya dengan menggunakan ukuran skala relatif seperti terlihat pada Tabel 1. Perbandingan berpasangan dilakukan dalam hal elemen yang mana mendominasi terhadap elemen lainnya

4. Terdapat n(n-1) / penilaian yang diperlukan untuk membangun gugus matriks dalam langkah 3. Kebalikannya secara otomatis diberikan pada setiap perbandingan berpasangan. 5. Sintesis hirarki digunakan untuk pembobotan vektor eigen dengan bobot kriteria-kriteria dan jumlahkan semua entri vektor eigen terbobot yang bersangkutan dengan entri dari tingkat bawah berikutnya. 6. Dengan membuat semua perbandingan berpasangan maka konsistensi ditentukan dengan menggunakan nilai eigen λmax, untuk menghitung indek konsistensi (CI) sebagai CI=( λmax-n)(n- 1), dimana n adalah ukuran matriks. Konsistensi penilaian dapat diuji dengan membuat rasio konsistensi (CR) dari CI dengan nilai yang cocok dengan indeks kosnsistensi acak Tabel 2. CR diterima jika tidak melebihi 0.10. Jika lebih, maka matriks penilaian tidak konsisten. Untuk memperoleh matriks konsistensi maka penilaian harus ditelaah kembali dan ditingkatkan. 7. Langkah 3-7 dilakukan untuk semua tingkat dalam hirarki.

Tabel Skala perbandingan berpasangan untuk preferensi AHP (Saaty, 1986) Nilai/Rate numerik 9 Penilaian preferensi verbal Preferensi mutlak/mutlak lebih penting (Extreme) 8 Preferensi sangat kuat sampai mutlak 7 Preferensi sangat kuat/sangat jelas penting (Very Strong) 6 Preferensi kuat sampai sangat kuat 5 Preferensi kuat/jelas lebih penting (Strong) 4 Preferensi menengah sampai kuat 3 Preferensi menengah/sedikit lebih penting (Moderate) 2 Preferensi sama sampah menengah 1 Preferensi sama/sama penting (Equal) 1/(1-9) Kebalikan nilai tingkat kepentingan dari skala 1-9

Tabel Rata-rata konsistensi acak (R1) (Saaty, 1986) Ukuran Matriks Konsistensi Acak 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 0 0 0,58 0,9 1,12 1,24 1,32 1,41 1,45 1,49

Kriteria Perusahaan Tabel 3. Kriteria para kontraktor Kontraktor A Kontraktor B Kontraktor C Kontraktor D Kontraktor E Pengalaman 5 tahun 7 tahun 8 tahun 10 tahun 15 tahun 2 proyek yang sama 1 proyek yang sama Bukan proyek yang sama 2 proyek yang sama Bukan proyek yang sama Pengalaman Mendapatkan proyek khusus 1 proyek Internasional Stabilitas Keuangan Aset 7 M Aset 10 M Aset 14 M Aset 11 M Aset 6 M Laju pertumbuhan tinggi, tidak ada liabilitas Liabilitas 5,5 M, bagian dari kelompok usaha Liabilitas 6 M Liabilitas 4 M, berhubungan baik dengan bank Liabilitas 1,5 M Kualitas Kinerja Organisasi baik Organisasi rata-rata Organisasi baik Organisasi baik Organisasi buruk C.M pribadi C.M pribadi C.M tim Reputasi baik Teknis kurang etis Reputasi baik 2 proyek tertunda Penghargaan pemerintah Beberapa sertifikat 1 proyek diakhiri Sertifikat beberapa Program keselamatan Reputasi baik Kenaikan biaya dalam beberapa proyek Kualitas ratarata Program keselamatan QA/QC Program

Sumber Daya Manusia Pekerja 150 Pekerja 100 Pekerja 120 Pekerja 90 Pekerja 90 10 keahlian khusus 200 subkontrak Keahlian pekerja baik 130 subkontrak 260 subkontrak Tersedia saat puncak beban kerja 25 keahlian khusus Sumber Daya Peralatan 4 mesin mixer, 1 ekskavator, 15 mesin lain 6 mesin mixer,1 ekskavator, 1 buldoser,20 mesin lain, 15 000 sf steel formwork 1 batching plant, 2 truk, 2 mesin mixer,1 ekskavator,1 buldoser,16 mesin lain, 17000 sf baja fomwork 4 mesin mixer, 1 ekskavator, 9 mesin lain 2 mesin mixer, 10 mesin lainnya, 2000 sf baja, formwork, 6000 sf kayu formwork Beban kerja saat ini 1 proyek besar berakhir 2 proyek berakhir 1 proyek menengah mulai 2 proyek besar berakhir 2 proyek kecil dimulai 2 proyek pertengahan (1 menengah + 1 kecil) 1 besar +1 menengah) 2 proyek berakhir ( 1 besar + 1 menengah 1 proyek menengah di pertengahan 3 proyek berarkhir ( 2 kecil + 1 menengah)

Sesuai dengan prosedur AHP yang digambarkan dalam bagian 3 maka hirarki masalah dapat dibangun seperti pada gambar dibawah Gambar Hirarki permasalahan memilih kontraktor yang cocok dalam prakulifikasi pelaksanaan proyek

Untuk tahap 3, pembuat keputusan harus menunjukkan preferensi atau prioritas untuk setiap alternatif keputusan dalam hal bagaimana berkontribusi terhadap masing-masing kriteria seperti pada Tabel dibawah... Tabel Matriks perbandingan berpasangan untuk aspek pengalaman Pengalaman A B C D E A 1 1/3 1/2 1/6 2 B 3 1 2 1/2 4 C 2 1/2 1 1/3 3 D 6 2 3 1 7 E 1/2 1/4 1/3 1/7 1 Σ 12,50 4,08 6,83 2,14 17

Berikutnya dapat dilakukan secara manual atau dengan perangkat lunak AHP, seperti Expert Choice: Sintesa matriks perbandingan berpasangan Menghitung vektor prioritas untuk kriteria seperti pengalaman Menghitung rasio konsistensi Menghitung λmax Menghitung indeks konsistensi, CI Memilih nilai yang tepat dari rasio konsistensi acak Menguji konsistensi matriks perbandingan berpasangan, apakah perbandingan pembuat keputusan telah konsisten atau tidak.

Matrik Sintesa Untuk Aspek Pengalaman Pengalaman A B C D E Vektor Prioritas A 0,08 0,082 0,073 0,078 0,118 0,086 B 0,24 0,245 0,293 0,233 0,235 0,249 C 0,16 0,122 0,146 0,155 0,176 0,152 D 0,48 0,489 0,439 0,466 0,412 0,457 E 0,04 0,061 0,049 0,066 0,059 0,055 λ max =5,037, CI=0,00925, RI=1,12, CR=0,0082 < 0,1 OK Σ =0,999

Expert Choice Untuk Pemilihan Kontraktor Berdasarkan Aspek Pengalaman

Dengan menduga rasio konsistensi sebagai berikut... 1 3 0,086 2 + 6 1 / 2 1 / 3 1 0,249 1 / 2 + 2 1 / 4 1 / 2 2 0,152 1 + 3 1 / 3 1 / 6 1 / 2 0,457 1 / 3 + 1 1 / 7 2 0,431 4 1,259 0,055 3 = 0,766 7 2,312 1 0,276 Matriks jumlah terboboti Dengan membagi semua elemen dari matriks jumlah terboboti dengan elemen vektor prioritas masing-masing diperoleh... 0,431 0,086 = 5,012... 1,259 0,249 = 0,766 5,056... 0,152 = 5,039... 2,312 0,457 = 0,276 5,059... 0,055 Lalu dihitung rata-rata dari nilai ini untuk memperoleh λmax... λ (5,012+ 5,056+ 5,039+ 5,059+ 5,018) = 5 max = 5,037 Lalu dihitung indeks konsistensi, CI sebagai berikut... = 5,018 CI λmax n = n 1 = 5,037 5 5 1 = 0,00925

Dengan memilih nilai yang tepat dari rasio kosistensi acak, RI, untuk ukuran matriks 5 dengan mengunakan Tabel 2, didapat RI=1,12. Lalu dihitung rasio konsistensi CR... CR = 0,00925 1,12 = 0,0082 Bila nilai CR < 0,1 maka penilaian dapat diterima

Dengan cara yang sama maka matriks perbandingan berpasangan dan matriks vektor prioritas untuk kriteria lainnya didapat masing-masing pada Tabel dibawah.

Matriks Perbandingan Berpasangan dan Hasil Expert Choice Untuk Prioritas Pemilihan Kontraktor Berdasarkan Stabilitas Keuangan Stabilitas Keuangan A B C D E Vektor Prioritas A 1 6 3 2 7 0,425 B 1/6 1 1/4 1/2 3 0,088 C 1/3 4 1 1/3 5 0,178 D 1/2 2 3 1 7 0,268 E 1/7 1/3 1/5 1/7 1 0,039 λ max =5,32, CI=0,08, RI=1,12, CR=0,071 < 0,1 OK Σ =0,998

Matriks Perbandingan Berpasangan dan Hasil Expert Choice Untuk Prioritas Pemilihan Kontraktor Berdasarkan Kualitas Kinerja Kualitas Kerja A B C D E Vektor Prioritas A 1 7 1/3 2 8 0,269 B 1/7 1 1/5 1/4 4 0,074 C 3 5 1 4 9 0,461 D 1/2 4 1/4 1 6 0,163 E 1/8 1/4 1/9 1/6 1 0,031 Σ =0,998 λ max =5,38, CI=0,095, RI=1,12, CR=0,085 < 0,1 OK

Matriks Perbandingan Berpasangan dan Hasil Expert Choice Untuk Prioritas Pemilihan Kontraktor Berdasarkan Sumber Daya Manusia Sumber Daya Manusia A B C D E Vektor Prioritas A 1 1/2 1/4 2 5 0,151 B 2 1 1/3 5 7 0,273 C 4 3 1 4 6 0,449 D 1/2 1/5 1/4 1 2 0,081 E 1/5 1/7 1/6 1/2 1 0,045 Σ =0,999 λ max =5,24, CI=0,059, RI=1,12, CR=0,053 < 0,1 OK

Matriks Perbandingan Berpasangan dan Hasil Expert Choice Untuk Prioritas Pemilihan Kontraktor Berdasarkan Sumber Daya Peralatan Sumber Daya Peralatan A B C D E Vektor Prioritas A 1 1/6 1/8 2 3 0,084 B 6 1 1/4 5 7 0,264 C 8 4 1 9 9 0,556 D 1/2 1/5 1/9 1 2 0,057 E 1/3 1/7 1/9 1/2 1 0,038 λ max =5,28, CI=0,071 RI=1,12, CR=0,063 < 0,1 OK Σ =0,999

Matriks Perbandingan Berpasangan dan Hasil Expert Choice Untuk Prioritas Pemilihan Kontraktor Berdasarkan Beban Kerja Saat Ini Beban Kerja A B C D E Vektor Prioritas A 1 1/5 1/3 3 3 0,144 B 5 1 5 6 6 0,537 C 3 1/5 1 2 2 0,173 D 1/3 1/6 1/2 1 2 0,084 E 1/3 1/6 1/2 1/2 1 0,062 λ max =5,40, CI=0,10, RI=1,12, CR=0,089 <0,1 OK Σ =0,999

Untuk matriks perbandingan alternatif keputusan juga digunakan prosedur perbandingan berpasangan yang sama terhadap gugus prioritas untuk semua enam kriteria dalam hal pentingnya masing-masing berkontribusi terhadap tujuan. Tabel pada slide selanjutnya selanjutnya menunjukkan matriks perbandingan berpasangan dan matriks vektor prioritas untuk enam kriteria

Matriks Perbandingan Berpasangan dan Hasil Expert Choice Untuk Prioritas Pemilihan Kontraktor Berdasarkan Enam Kriteria Pengalaman Stabilitas keuangan Kualitas kinerja sumber Daya manusia sumber daya peralatan beban kerja saat ini Vektor Prioritas Pengalaman 1 2 3 6 6 5 0,372 stabilitas keuangan 1/2 1 3 6 6 5 0,293 kualitas kinerja 1/3 1/3 1 4 2 3 0,156 sumber daya manusia sumber daya peralatan beban kerja saat ini 1/6 1/6 1/4 1 4 1/2 0,053 1/6 1/6 1/4 1/2 1 1/4 0,039 1/5 1/5 1/3 2 4 1 0,087 λ max =6,31, CI=0,062, RI=1,24, CR=0,05 < 0,1 OK Σ =1,00

Sensitivitas

Tabel Matriks Prioritas Untuk Prakualifikasi Kontraktor Pengalaman (0,372) stabilitas keuangan (0,293) kualitas kinerja (0,156) sumber daya manusia (0,053) sumber daya peralatan (0,039) beban kerja saat ini (0,087) Vektor Prioritas keseluruhan A 1 2 3 6 6 5 0,222 B 1/2 1 3 6 6 5 0,201 C 1/3 1/3 1 4 2 3 0,241 D 1/6 1/6 1/4 1 4 1/2 0,288 E 1/6 1/6 1/4 1/2 1 1/4 0,041 Σ =1,00 Dari Tabel diatas nilai yang terbesar didapat oleh kontraktor D. Sehingga untuk permasalahan prakualifikasi seluruh kontraktor dapat dirangking sesuai dengan prioritasnya adalah D, C, A, B dan E. Sehingga KONTRAKTOR D adalah kontraktor yang layak untuk mengerjakan proyek

KESIMPULAN Pengelolaan suatu proyek melibatkan situasi pembuatan keputusan yang kompleks yang memerlukan kemampuan berfikir yang logis dan suatu metoda untuk membuat keputusan yang tepat. Makalah ini telah membahas penerapan AHP sebagai metoda pembuatan keputusan yang mempertimbangkan kriteria mejemuk. Contoh yang dipaparkan adalah masalah prakualifikasi kontraktor dalam mengikuti tender dari suatu proyek. Prakualifikasi kontraktor melibatkan berbagai kriteria dan prioritas yang harus diambil dan ditentukan oleh pemilik proyek yang menentukan persyaratan dan preferensi untuk karakteristik kontraktor yang akan menjalankan proyek.

Sekian dan Terima Kasih