BAB I PENDAHULUAN. Negara Indonesia merupakan negara kesatuan yang terdiri atas beribu pulau, yang

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah mahluk sosial yang sempurna dibandingkan dengan mahluk ciptaan

BAB I PENDAHULUAN. Linguistik adalah ilmu tentang bahasa; penyelidikan bahasa secara ilmiah (Kridalaksana,

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA. bahasa yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal lain ( Kridalaksana,

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA. Unsur sintaksis yang terkecil adalah frasa. Menurut pandangan seorang

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA. Menurut KBBI (2002:588) konsep adalah gambaran mental dari suatu objek, proses,

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA. ada diluar bahasa yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal lain

BAB I PENDAHULUAN. Masalah preposisi selalu mendapat perhatian di dalam buku-buku tata

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA. jawaban suatu permasalahan. Atau konsep adalah gambaran mental diri objek, proses, atau

BAB I PENDAHULUAN. peristiwa berkomunikasi. Di dalam berkomunikasi dan berinteraksi, manusia

BAB I PENDAHULUAN. gramatikal dalam bahasa berkaitan dengan telaah struktur bahasa yang berkaitan. dengan sistem kata, frasa, klausa, dan kalimat.

STRUKTUR FRASA VERBA BAHASA PAKPAK DAIRI ANALISIS X-BAR

Bahasa sebagai Sistem. Bayu Dwi Nurwicaksono, M.Pd. Dosen Penerbitan Politeknik Negeri Media Kreatif

BAB I PENDAHULUAN. sebab kalimat tanya tidak pernah lepas dari penggunaan bahasa sehari-hari

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

ANALISIS FRASE NOMINAL BAHASA JEPANG BERDASARKAN TEORI X BAR (SUATU KAJIAN SINTAKSIS)

BAB I PENDAHULUAN. diperlukan adanya sarana agar komunikasi tersebut dapat berjalan dengan

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA. kategori leksikal, komplemen, keterangan, spesifier, dan kaidah struktur frasa.

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, DAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. yang belum mengecap ilmu pengetahuan di sekolah atau perguruan tinggi

BAB I PENDAHULUAN. diterbitkan kurang begitu memperhatikan aspek gramatikal bahkan masih

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA. di luar bahasa, dan yang dipergunakan akal budi untuk memahami hal-hal tersebut

BAB I PENDAHULUAN. manusia dalam kehidupannya mulai dari bangun tidur, melakukan aktivitas, menyampaikan pendapat dan informasi melalui bahasa.

BAB II KONSEP,LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA. ekstrinsik; unsur dan hubungan itu bersifat abstrak dan bebas dari isi yang

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA. yang ada di luar bahasa yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Bahasa juga merupakan interaksi antar manusia mengenal tiga

BAB I PENDAHULUAN. alat untuk menyampaikan gagasan, pikiran, maksud, serta tujuan kepada orang lain.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan Bahasa Indonesia di sekolah merupakan salah satu aspek

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSATAKA. frasa pemerlengkap. Konsep-konsep tersebut perlu dibatasi untuk menghindari

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Manusia merupakan makhluk yang selalu melakukan. komunikasi, baik itu komunikasi dengan orang-orang yang ada di

RELASI SUBJEK DAN PREDIKAT DALAM KLAUSA BAHASA GORONTALO SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN. Kemiripan makna dalam suatu bentuk kebahasaan dapat menimbulkan

BAB I PENDAHULUAN. sarana yang berfungsi untuk mengungkapkan ide, gagasan, pikiran dan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. dipilih umat manusia dalam berkomunikasi dibanding berbahasa non lisan. Hal ini

BAB I PENDAHULUAN. dapat berupa tujuan jangka pendek, menengah, dan panjang. Dalam mata

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Bahasa adalah suatu alat komunikasi pada manusia untuk menyatakan

BAB I PENDAHULUAN. merupakan sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang dipergunakan oleh

DEPARTEMEN SASTRA INDONESIA FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2012

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Istilah sintaksis berasal dari bahasa Yunani (Sun + tattein) yang berarti

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa merupakan salah satu bagian terpenting dalam kehidupan sosial

BAB I PENDAHULUAN. yang ada di wilayah Sulawesi Tenggara, tepatnya di Pulau Buton. Pada masa

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa merupakan objek dari linguistik, karena linguistik merupakan

BAB I PENDAHULUAN. sintaksis,fungsi semantis dan fungsi pragmatis.fungsi sintaksis adalah hubungan

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. Realisasi sebuah bahasa dinyatakan dengan ujaran-ujaran yang bermakna.

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan sosial budaya masyarakat pemakainya (periksa Kartini et al., 1982:1).

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa digunakan manusia untuk mengungkapkan ide, gagasan, dan

BAB 1 PENDAHULUAN. Masa Orientasi Siswa (selanjutnya disebut MOS) merupakan suatu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KONSEP, DAN LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Interferensi terjadi pada masyarakat tutur yang memiliki dua bahasa atau

BAB I PENDAHULUAN. sistem penulisan tidak dapat menggambarkan bunyi yang diucapkan oleh manusia

BAB I PENDAHULUAN. Suku Batak terdiri dari lima bagian yaitu; Batak Toba, Batak Karo, Batak Simalungun,

BAB I PENDAHULUAN. orang lain, karena dalam menjalani kehidupan sosial manusia selalu membutuhkan

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB II KAJIAN PUSTAKA. onoma yang berarti nama dan syn yang berarti dengan. Secara harfiah sinonim

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa adalah suatu sistem simbol lisan yang arbitrer yang dipakai oleh anggota

BAB I PENDAHULUAN. tersebut adalah bahasa. Bahasa adalah sitem lambang bunyi yang bersifat arbiter

STRUKTUR KALIMAT BAHASA INDONESIA DALAM KARANGAN DESKRIPSI MAHASISWA PROGRAM BAHASA DAN SASTRA INDONESIA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA.

FRASA NOMINA BAHASA BATAK TOBA : ANALISIS TEORI X-BAR SKRIPSI. Oleh NOVA SABAR MENANTI SITUMORANG NIM

FRASE VERBA DALAM BAHASA BATAK TOBA (ANALISIS TEORI X-BAR) SKRIPSI OLEH IRMA F.K SIHOMBING NIM

BAB I PENDAHULUAN. Manusia merupakan makhluk sosial yang selalu berinteraksi antara satu

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Dalam kehidupan sehari-hari manusia dan bahasa tidak dapat

PERILAKU SINTAKSIS FRASA ADJEKTIVA SEBAGAI PENGUAT JATI DIRI BAHASA INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. Manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan alat untuk berinteraksi dengan

BAB I PENDAHULUAN. dengan bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia memiliki dialek oleh karena seperti

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. bahasa yang dipergunakan dalam masyarakat. Bahasa memiliki peran dan

BAB II KAJIAN TEORI. Persinggungan antara dua bahasa atau lebih akan menyebabkan kontak

Bab 1. Pendahuluan. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. bermasyarakat. Bahasa sudah diajarkan sejak dulu baik di keluarga maupun di. peran yang sangat penting dalam proses pembelajaran.

BAB I PENDAHULUAN. dibandingkan komunikasi dalam bentuk tulisan. bahasa Indonesia ragam lisan atau omong.

BAB I PENDAHULUAN. untuk hidup bersama. Untuk menjalani kehidupan sehari-hari antara orang yang

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa merupakan alat komunikasi yang efektif. Bahasa dan proses

BAB 2 LANDASAN TEORETIS

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dita Marisa, 2013

BAB 2 LANDASAN TEORI. Dalam penelitian ini, dijelaskan konsep bentuk, khususnya afiksasi, dan

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa merupakan salah satu unsur kebudayaan, di samping unsur yang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

KONSTRUKSI OBJEK GANDA DALAM BAHASA INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. kesistematisan dari jalan pikiran dan perasaan dalam bentuk tulis. Menurut Chaer dan

BAB I PENDAHULUAN. Manusia dalam sepanjang hidupnya hampir tidak pernah terlepas dari peristiwa

BAB I PENDAHULUAN. keinginan dan sebagainya melalui bahasa, sehingga bahasa merupakan sarana

BAB I PENDAHULUAN. sasaran (selanjutnya disingkat Bsa) se-alami mungkin baik secara arti dan secara

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Dalam kehidupan bermasyarakat, manusia tidak terlepas dengan

BAB I PENDAHULUAN. ikrar ketiga Sumpah Pemuda 1928 yang berbunyi: Kami poetra dan poetri

Alat Sintaksis. Kata Tugas (Partikel) Intonasi. Peran. Alat SINTAKSIS. Bahasan dalam Sintaksis. Morfologi. Sintaksis URUTAN KATA 03/01/2015

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. akhirnya menjadi jawaban atas pertanyan-pertanyaan penelitian ini.

BAB I PENDAHULUAN. Komunikasi dapat terjalin dengan baik karena adanya bahasa. Bahasa

BAB I PENDAHULUAN. Studi dalam penelitian ini berkonsentrasi pada kelas verba dalam kalimat

BAB II KERANGKA TEORETIS, KERANGKA KONSEPTUAL, DAN PERTANYAAN PENELITIAN. Kerangka teoretis merupakan suatu rancangan teori-teori mengenai hakikat

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa adalah suatu sistem simbol lisan yang arbitrer yang dipakai oleh

BAB I PENDAHULUAN. maupun sebagai komunikan (mitra baca, penyimak, pendengar, atau pembaca).

BAB I PENDAHULUAN. ada dua proses yang terjadi, yaitu proses kompetensi dan proses performansi.

BAB II. KONSEP, LANDASAN TEORI, dan TINJAUAN PUSTAKA

BAB 4 UNSUR-UNSUR BAHASA INGGRIS YANG MUNCUL DALAM CAMPUR KODE

STRUKTUR FRASA NUMERALIA DALAM BAHASA PESISIR SIBOLGA : ANALISIS TEORI X-BAR SKRIPSI OLEH ASMIRA RAHMA SARI LUBIS

BAB I PENDAHULUAN. Pikiran, perasaan, dan pengalaman manusia disampaikan melalui bahasa.

BAB I PENDAHULUAN. Pemakaian bahasa Indonesia mulai dari sekolah dasar (SD) sampai dengan

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Negara Indonesia merupakan negara kesatuan yang terdiri atas beribu pulau, yang didiami oleh berbagai suku bangsa. Setiap suku bangsa mempunyai ciri khas tersendiri yang membedakannya dari suku yang lain. Salah satu pembeda itu adalah bahasa. Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang dipergunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri (Kridalaksana, 2008:24). Pembinaan dan pengembangan bahasa sangat penting terutama pada bahasa-bahasa daerah karena disamping sebagai pemerkaya kebudayaan nasional yang diungkapkan didalam kebudayaan nasional, nilai nilai kebudayaan tradisional juga diungkapkan di dalam bahasa bahasa daerah. Konsep kebudayaan tradisional hanya dapat dimengerti melalui ungkapan bahasa daerah msyarakatnya (Sibarani, 2003:1). Dengan berkembangnya bahasa-bahasa daerah, maka budaya etnis penutur tersebut akan dikenal dan kemungkinan pengkajian serta pengembangan budaya masyarakat penutur bahasa itu akan lebih cepat dilakukan. Oleh karena itu, bahasa daerah harus tetap dipelihara dan dibina agar tetap berkembang. Salah satu upaya melestarikan eksistensi bahasa-bahasa daerah itu adalah dengan cara melakukan kajian tentang bahasa-bahasa tersebut. Salah satu bahasa daerah yang mengalami perkembangan cukup pesat adalah bahasa Pesisir Sibolga. Perkembangan bahasa Pesisir Sibolga dipengaruhi oleh besarnya jumlah penutur. Penutur bahasa ini diperkirakan sekitar 84.444 jiwa dengan luas wilayah sekitar 10,77 kilo meter persegi di dataran Sumatera (Berdasarkan perhitungan Badan Pusat Statistik kota Sibolga tahun 2010). Selain itu, kota ini juga menjadi sebuah kota bahari yang identik dengan fungsi melayani kepentingan perdagangan antarpulau, antarnegara, melayani para

pelaut atau musafir yang berkelana dari berbagai penjuru negeri, dan melayani mereka yang hendak beristirahat atau sekedar bertamasya. Hal inilah yang menjadi pendukung perkembangan bahasa Pesisir Sibolga. Secara geografis wilayah Sibolga terletak antara 1º 42'1º 46' Lintang Utara dan 98º 44' - 98º 48' Bujur Timur di Pantai Barat Pulau Sumatera Bagian Utara yaitu di Teluk Tapian Nauli, ± 350 Km Selatan Kota Medan. Secara administratif, kota Sibolga terdiri atas empat Kecamatan, yakni Sibolga Utara, Sibolga Kota, Sibolga Selatan, dan Sibolga Sambas. Kemudian empat kecamatan itu dibagi menjadi 17 Kelurahan. Bahasa Pesisir Sibolga dapat dikaji berdasarkan strukturnya seperti yang pernah dilakukan oleh Setiana Simorangkir (1986) dalam bukunya Struktur Bahasa pesisir Sibolga. Struktur tersebut termasuk mengenai frasa. Pembentuk frasa adalah kata. Kata, dalam tataran sintaksis, merupakan satuan gramatikal bebas terkecil, sehingga pembentuk frasa harus berupa morfem bebas. Misal, sangat cantik dan gedung tinggi. Dari pengertian di atas dapat juga dikatakan bahwa frasa adalah gabungan kata yang bersifat nonpredikatif, artinya antara kedua unsur yang membentuk frasa itu tidak berstruktur subjek-predikat atau berstruktur predikat-objek. (Chaer, 1994 : 222). Ramlan (1995: 151) memberi batasan bahwa frasa adalah satuan gramatikal yang terdiri atas dua kata atau lebih yang tidak melebihi batas fungsi unsur klausa. Sebagai suatu fungsi, frasa adalah satuan sintaksis terkecil yang merupakan pemadu kalimat (Samsuri, 1985:93). Sebagai suatu bentuk, frasa adalah satuan gramatikal yang berupa kata yang nonpredikatif (Kridalaksana dkk, 1994 : 162). Frasa dapat dikaji secara struktural maupun secara generatif. Secara struktural, frasa dikaji berdasarkan struktur atau ciri-ciri formal yang ada, misalnya dalam menentukan kelas kata, untuk menyatakan kata kerja harus berdistribusi dengan frasa dengan dan kata sifat adalah kata yang dapat didahului oleh kata sangat atau kata paling (Chaer, 1994:360). Sedangkan secara generatif, frasa dikaji berdasarkan hubungan bunyi dan

arti dalam bentuk kaidah-kaidah yang tepat dan jelas sebab frasa merupakan kumpulan kata yang terdiri atas deretan bunyi yang mempunyai makna. Tata bahasa generatif adalah cabang linguistik teoretis yang bekerja untuk menyediakan seperangkat aturan yang secara akurat dapat memprediksi kombinasi kata yang mampu membuat tata bahasa kalimat yang benar. Studi tentang tata bahasa generatif dimulai pada tahun 1950-an oleh Noam Chomsky, seorang filsuf Amerika yang juga seorang penulis dan pengajar di bidang linguistik. Chomsky mengenalkan gagasan barunya melalui sebuah buku yang berjudul Syntactic Structure. Di dalam buku ini, Chomsky mengutarakan bahwa bahasa berkaitan dengan aktivitas mental yang sehubungan juga dengan probabilitas dan bukan berhadapan dengan data kajian yang tertutup dan selesai sehingga bahasa dapat dianalisis dan dideskripsikan secara pasti. Akibat konsep tersebut bahwa teori merupakan sebuah hipotesis yang memiliki hubungan secara internal antara yang satu dengan yang lainnya. Hipotesis tersebut memiliki dua ciri, pertama berisi pernyataan yang berfungsi untuk memahami sesuatu secara sementara yang dikembangkan melalui strategi heuristik dan kedua merupakan kreasi intelek yang sistematik, teliti tetapi sekaligus bersifat tentatif (Chomsky, 1981 dalam Adil). Gagasan inilah yang dimaksud Chomky sebagai tata bahasa generatif. Sehubungan dengan itu maka pengertian tata bahasa generatif adalah tata bahasa yang berusaha menampilkan seperangkat kaidah kalimat yang terbatas dari kalimat yang tak terbatas jumlahnya. Teori X-bar adalah salah satu bidang kajian Tata Bahasa Generatif Transformasi. Teori ini pada mulanya digunakan untuk menjawab dua permasalahan yang dihadapi oleh kaidah struktur sintaksis dan kaidah struktur frasa. Permasalahan yang pertama adalah kaidah struktur sintaksis dan kaidah struktur frasa hanya dapat diterapkan pada jenis proyeksi tertentu. Permasalahan kedua, kaidah struktur sintaksis dan kaidah struktur frasa terkesan terlalu luas sehingga perlu adanya pembatasan (Lieber dalam Sawirman, 2009). Teori X-bar

bukanlah sesuatu yang asing dalam literatur bahasa Indonesia. Sebagai contoh, teori ini telah diterapkan oleh Mulyadi dalam penelitiannya (1998) yang membicarakan frasa nomina bahasa Indonesia dan pada frasa preposisi bahasa Indonesia (2002). Kajian struktur frasa terhadap bahasa Pesisir Sibolga masih terbatas termasuk di antaranya mengenai frasa numeralia. Numeralia dalam tata bahasa Pesisir Sibolga tidak dapat diabaikan begitu saja. Istilah numeralia digunakan untuk menghitung banyaknya maujud, misalnya, untuk menyatakan jumlah orang, binatang dan benda (Moeliono, 1988 : 194). Pada tataran frasa, numeralia bisa diperluas menjadi frasa numeralia dengan cara menambahkan konstituen lain sebelum atau sesudah inti leksikal. Namun, dalam sintaksis generatif (lihat Radford, 1988: 86), frasa numeralia dapat terbentuk tanpa adanya tambahan konstituen lain sebab frasa yang belum dimodifikasi memiliki distribusi dan status yang sama seperti sebuah frasa yang lengkap. Dari uraian di atas, sejauh yang diamati peneliti terhadap struktur FNum bahasa Pesisir Sibolga dengan menggunakan teori X-Bar sama sekali belum pernah dilakukan. Hal inilah yang menjadi alasan peneliti untuk melakukan penelitian tentang frasa numeralia dalam bahasa pesisir Sibolga. 1.2 Masalah Sesuai dengan latar belakang yang telah dikemukakan, maka masalah dari penelitian ini adalah 1. Bagaimanakah perilaku fungsi gramatikal, seperti komplemen (Komp), keterangan (Ket), dan specifier (Spec) dalam membentuk struktur FNum bahasa Pesisir Sibolga berdasarkan teori X-bar? 2. Bagaimanakah kaidah struktur FNum bahasa Pesisir Sibolga menurut teori X-bar?

1.3 Pembatasan Masalah Suatu penelitian mempunyai batasan masalah. Dengan adanya pembatasan masalah, maka penelitian yang dikaji dapat terarah dan tidak terjadi kesimpangsiuran terhadap masalah yang hendak diteliti, sehingga tujuan yang dimaksud dapat tercapai. Oleh karena itu, penelitian ini dibatasi hanya pada struktur frasa, yakni frasa numeralia dalam bahasa Pesisir Sibolga berdasarkan teori X-bar dan diteliti secara kepustakaan. 1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.4.1 Tujuan Penelitian Penelitian ini mempunyai dua tujuan yakni 2. Mendeskripsikan fungsi gramatikal, seperti komplemen (Komp), keterangan (Ket), dan specifier (Spec) dalam membentuk struktur FNum bahasa Pesisir Sibolga berdasarkan teori X-bar. 3. Merumuskan kaidah struktur FNum bahasa Pesisir Sibolga menurut teori X-bar. 1.4.2 Manfaat Penelitian Manfaat Teoretis 1. Memberikan manfaat dalam upaya pengembangan kajian sintaksis bahasa Pesisir Sibolga 2. Memperkaya pemerian bahasa Pesisir Sibolga, khususnya yang berhubungan dengan FNum dalam analisis teori X-bar 3. Memperkaya hasil penelitian sintaksis yang menggunakan pendekatan generatif.

Manfaat Praktis 1. Sebagai sumber data bagi penelitian lanjutan tentang frasa numeralia maupun bahasabahasa daerah lain khususnya yang berhubungan dengan teori X-bar. 2. Sebagai informasi bagi pemerintah daerah mengenai hasil penelitian baru tentang bahasa Pesisir Sibolga. 3. Sebagai bahan perbandingan untuk pembelajaran antara struktur frasa numeralia bahasa Pesisir Sibolga dengan frasa lain.