BAB IV HASIL PENELITIAN A. Penelitian Pendahuluan Penelitian pendahuluan dilakukan untuk mengetahui kondisi ilustrasi buku teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara di Universitas Sebelas Maret saat ini, bentuk kebutuhan ilustrasi dalam pembelajaran sejarah, dan potensi penerapan augmented reality sebagai media ilustrasi pada buku teks. Hasil dari temuan digunakan sebagai dasar pertimbangan untuk menyusun model pengembangan buku teks sejarah perguruan tinggi berbasis augmented reality. 1. Deskripsi Hasil Analisis Isi Ilustrasi Buku Teks Sejarah Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret, memanfaatkan berbagai jenis media pembelajaran untuk menunjang kegiatan belajar mereka, diantaranya adalah buku teks. Pilihan buku teks sejarah sebagai media pembelajaran cukup beragam. Pemilihan buku teks didasarkan pada relevansi terhadap masingmasing mata kuliah. Pada mata kuliah Sejarah Indonesia Masa Praaksara, salah satu buku teks yang memiliki relevansi dengan mata kuliah tersebut adalah buku teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara yang ditulis oleh Drs. Herimanto, M.Pd, M.Si. Buku teks tersebut untuk selanjutnya menjadi objek analisis isi ilustrasi dalam penelitian ini. Analisis isi ilustrasi buku teks sejarah dimaksudkan untuk mengetahui sejauhmana kriteria kelayakan ilustrasi yang ada pada buku teks. Analisis isi ilustrasi buku teks sejarah perguruan tinggi melibatkan pakar buku teks, yaitu seorang dosen Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP UNS, dan mahasiswa sebagai pengguna media pembelajaran berupa buku teks. Pemilihan informan sebagai pakar buku teks didasarkan pada latar belakang pendidikan S1 maupun S2 yang relevan. Pemilihan sampel mahasiswa didasarkan pada objek pengguna atau pemanfaat buku teks. Penelitian dilakukan dengan cara observasi, wawancara mendalam dan pengisian lembar angket. commit Kegiatan to user observasi dilakukan dengan cara
38 peneliti mengamati secara langsung kondisi buku teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara khususnya dalam hal ilustrasi. Kegiatan wawancara dilakukan terhadap pakar buku teks untuk mengetahui kriteria kelayakan ilustrasi pada buku teks dan kondisi buku teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara. Sedangkan pengisian lembar angket dilakukan oleh beberapa mahasiswa Program Studi Sejarah FKIP UNS sebagai sampel penelitian untuk mengetahui kondisi ilustrasi pada buku teks. a. Deskripsi Hasil Observasi Kegiatan observasi dilakukan secara langsung dengan mengamati kondisi ilustrasi yang terdapat dalam buku teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara. Kegiatan ini dilakukan di Perpustakaan Pusat Universitas Sebelas Maret yang menyediakan buku tersebut. Untuk mendeskripsikan kondisi atau ilustrasi dengan langkah obseravsi, ditentukan tiga aspek pengamatan yang meliputi aspek kesesuaian ilustrasi dengan materi, penyertaan sumber, dan grafika. Pada buku teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara terdapat dua puluh lima gambar yang dimanfaatkan sebagai ilustrasi. Ditinjau dari aspek kesesuaian ilustrasi dengan isi materi, ilustrasi yang digunakan sudah sesuai. Hal ini didasarkan pada tema ilustrasi pada suatu halaman dengan materi yang yang ada pada halaman yang sama sudah menunjukkan suatu keterkaitan. Ditinjau dari aspek penyertaan sumber, ilustrasi yang digunakan pada buku teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara sudah memenuhi kriteria. Setelah mengamati ilustrasi yang digunakan, masing-masing gambar sudah menyertakan sumber darimana gambar tersebut diperoleh. Penyertaan sumber ini dituliskan di bagian paling bawah pada masing-masing ilustrasi setelah tulisan deskripsi mengenai ilustrasi tersebut. Ditinjau dari aspek grafika, ilustrasi pada buku teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara masih menggunakan konsep dua warna, hitam dan putih. Sebagian objek gambar tampak melebur dengan warna latar yang digunakan sehingga commit objek to utama user gambar menjadi kurang jelas.
39 Gambar yang kurang jelas tersebut tampak pada gambar nomor 5, 6 dan 12. Pada gambar tersebut memperlihatkan kenampakan fosil bagian kepala manusia purba dengan pilihan warna yang cenderung gelap. Warna latar yang digunakan juga bersifat gelap sehingga mengakibatkan kenampakan objek utama gambar menjadi kurang jelas. b. Deskripsi Hasil Wawancara Pada tahap wawancara, narasumber adalah Drs. Herimanto, M.Pd, M.Si., dosen pengampu mata kuliah Kajian Buku Teks di Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP UNS. Dari kegiatan wawancara ini diperoleh beberapa hal terkait buku teks kesejarahan yang digunakan saat ini, khususnya dalam hal ilustrasi. Ilustrasi yang digunakan dalam buku teks seharusnya memenuhi kriteria-kriteria kelayakan. Kriteria tersebut dikelompokkan menjadi tiga aspek, yakni aspek kesesuaian ilustrasi dengan materi, grafika, serta penyertaan sumber. Terdapat satu aspek yang perlu diperhatikan karena sering menjadi kendala dalam penggunaan ilustrasi dalam buku teks. Aspek tersebut adalah grafika. Ditinjau dari segi teknik percetakan, sebagian ilustrasi di dalam buku teks, termasuk buku teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara, masih menggunakan pola dua warna yaitu hitam dan putih. Hal ini yang menjadikan ilustrasi menjadi kurang jelas dan tidak menarik. Untuk mendapatkan aspek grafik yang jelas dan menarik, perlu digunakan ilustrasi yang kaya warna. Dengan pewarnaan dan kejelasan yang cukup memadai, maka ilustrasi akan terlihat lebih hidup atau nyata. Namun kendala yang seringkali dihadapi untuk menggunakan ilustrasi berwarna adalah biaya percetakan. Penggunaan ilustrasi cetak berwarna membutuhkan biaya percetakan yang lebih tinggi daripada ilustrasi hitam putih. Hal ini berpengaruh terhadap harga penjualan per buku. c. Deskripsi Hasil Pengisian Angket Terdapat tiga aspek yang digunakan dalam menganalisis isi ilustrasi, yaitu aspek kesesuaian materi, penyertaan sumber, dan grafika. Tiga aspek tersebut dituliskan commit dalam to user lembar angket untuk selanjutnya diisi
40 oleh responden. Pengisian angket dilakukan oleh responden yakni mahasiswa pengguna buku teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara yang ditulis Drs. Herimanto, M.Pd, M.Si. Pengambilan sampel responden dilakukan secara purposive sampling, yakni khusus terhadap mahasiswa pengguna buku teks tersebut. Banyaknya responden ditentukan sebanyak sepuluh mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Sebelas Maret dengan ketentuan sebagai berikut : 1) Empat mahasiswa angkatan 2010 yang memiliki buku teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara dan pernah menggunakannya sebagai salah satu referensi mata kuliah Sejarah Masa Praaksara pada semester I. 2) Dua mahasiswa angkatan 2011 yang pernah menggunakan buku teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara sebagai salah satu referensi mata kuliah Sejarah Masa Praaksara pada semester I. 3) Dua mahasiswa angkatan 2012 yang pernah menggunakan buku teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara sebagai salah satu referensi mata kuliah Sejarah Masa Praaksara pada semester I. 4) Dua mahasiswa angkatan 2014 yang menggunakan buku teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara dan sedang menempuh mata kuliah terkait pada semester I. Berdasarkan data hasil pengisian angket diperoleh gambaran bahwa ilustrasi yang digunakan dalam buku teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara apabila ditinjau dari aspek kesesuaian materi dengan ilustrasi yang digunakan sudah sesuai. Sembilan responden (90 %) menyatakan bahwa penggunaan ilustrasi dalam buku teks sudah sesuai dengan materi yang dipaparkan. Satu responden (10%) menyatakan penggunaan ilustrasi tidak sesuai dengan materi yang dipaparkan. Alasan ketidaksesuaian tersebut bukan pada kenampakan ilustrasi, namun pada gambaran isi materi yang masih kurang sederhana dan spesifik. Sehingga alasan ketidaksesuaian ini tidak ada hubungannya dengan kriteria ilustrasi. Ditinjau dari aspek penyertaan sumber darimana ilustrasi dalam buku teks diambil, seluruh commit responden to user (100%) menyatakan sudah sesuai.
41 Masing-masing ilustrasi yang digunakan sudah mencantumkan sumber darimana ilustrasi tersebut diambil. Seluruh responden (100%) menyatakan bahwa aspek grafika ilustrasi yang digunakan pada buku teks Sejarah Masa Praaksara masih kurang. Delapan responden (80 %) menyatakan alasan kekurangan tersebut adalah kenampakan ilustrasi yang masih kurang jelas. Alasan kekurangan lainnya dinyatakan oleh delapan responden (80%) bahwa ilustrasi tidak berwarna, cenderung menggunakan pola dua warna yakni hitam dan putih saja. Enam responden (60%) menyatakan bahwa gambar yang digunakan tampak buram. Satu responden (10%) menyatakan bahwa desain cover yang digunakan kurang menarik. Alasan kekurangan tersebut bukan pada kenampakan ilustrasi, namun pada desain cover sehingga tidak ada hubungannya dengan isi ilustrasi didalam buku teks. 2. Bentuk Kebutuhan Ilustrasi dalam Pembelajaran Sejarah Analisis bentuk kebutuhan ilustrasi dalam pembelajaran sejarah dilakukan untuk mengetahui berbagai ragam ilustrasi yang dibutuhkan mahasiswa sebagai media visualisasi materi kesejarahan. Analisis ini melibatkan mahasiswa Program Studi Sejarah FKIP UNS yang menggunakan media ilustrasi kesejarahan. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara purposive sampling, dimana sampel diambil sebanyak sepuluh mahasiswa yang memiliki kriteria khusus yakni sebagai pengguna ilustrasi materi kesejarahan. Penelitian dilakukan dengan cara pengisian angket yang berisi pertanyaanpertanyaan dengan ketentuan sebagai berikut : a. Perlunya media ilustrasi kesejarahan b. Ragam media ilustrasi yang diperlukan c. Sarana dan prasarana dalam mendapatkan ilustrasi Analisis ini juga melibatkan narasumber seorang dosen pengampu mata kuliah Sejarah Indonesia Masa Praaksara di Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP UNS. Pemilihan narasumber sebagai pakar materi sejarah didasarkan pada latar belakang pendidikan S1 maupun S2 yang relevan. Teknik yang digunakan untuk memperoleh commit data to adalah user dengan cara wawancara.
42 Berdasarkan hasil pengisian angket, semua responden (100%) menyatakan bahwa dalam pembelajaran sejarah perlu adanya ilustrasi. Alasan penggunaan ilustrasi sebagai visualisasi materi kesejarahan pun beragam. Sembilan responden (90%) menyatakan bahwa penggunaan ilustrasi dapat membantu siswa dalam mengerti materi. Enam responden (60%) menyatakan bahwa ilustrasi dapat menarik minat untuk belajar. Lima responden (50%) menyatakan bahwa penggunaan ilustrasi menjadikan pembelajaran tidak membosankan. Tiga responden (30%) menyatakan bahwa ilustrasi bermanfaat sebagai sarana visualisasi untuk mengetahui karakteristik objek bersejarah. Berdasarkan data hasil wawancara terhadap narasumber yang merupakan dosen pengampu mata kuliah Sejarah Indonesia Masa Praaksara di Prodi Sejarah FKIP UNS, disebutkan bahwa keberadaan ilustrasi dalam pembelajaran sangat penting. Materi sejarah Indonesia masa praaksara merupakan serangkaian peristiwa yang terjadi jauh pada masa lampau. Untuk mempelajari sejarah pada masa itu, pembelajar tidak mungkin hadir dalam peristiwa pada saat itu juga. Pembelajaran materi terkait masa praaksara membutuhkan keberadaan ilustrasi sebagai media visualisasi sehingga proses belajar menjadi mudah. Berdasarkan pengisian angket, seluruh responden (100 %) menyatakan bahwa ilustrasi cetak dalam buku teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara belum sesuai dengan kebutuhan akan ilustrasi kesejarahan. Sembilan responden (90 %) memberikan alasan bahwa ilustrasi cetak di dalam buku teks masih terbatas atau kurang beragam. Delapan responden (80 %) menyatakan bahwa ilustrasi cetak didalam buku teks kurang menarik. Pada poin pertanyaan lain didalam angket, seluruh responden (100 %) memberikan pernyataan bahwa ilustrasi cetak didalam buku teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara belum memberikan kepuasan terhadap kebutuhan ilustrasi. Seluruh responden (100%) melalui pengisian angket menyebutkan bahwa ilustrasi materi kesejarahan yang bersifat digital lebih menarik daripada ilustrasi yang bersifat cetak. Ragam ilustrasi yang diperlukan adalah gambar adalah gambar-gambar dan video commit digital. to user Alasan pemilihan bentuk ilustrasi
43 tersebut berbeda-beda. Delapan responden (80%) menyatakan bahwa penggunaan ilustrasi digital lebih memberikan kejelasan dalam mempelajari materi. Tujuh responden (70 %) menyatakan bahwa penggunaan ilustrasi digital tidak membosankan. Tujuh responden (70 %) menyebutkan bahwa ilustrasi digital memberikan kemudahan dalam memahami materi. Tiga responden (30 %) menyatakan bahwa ilustrasi digital memiliki kemudahan dalam hal penyimpananya. Satu responden (10 %) menyebutkan bahwa ilustrasi digital dapat merespon sensor otak. Untuk mendapatkan ilustrasi materi kesejarahan, seluruh responden (100%) mengakui bahwa sarana dan prasarana di lingkungan belajar mereka cukup mendukung. Peralatan yang sering digunakan untuk memperoleh ilustrasi digital adalah laptop sebagaimana disebutkan oleh sembilan responden (90 %). Delapan responden (80 %) menyatakan bahwa LCD proyektor menjadi peralatan lain untuk menampilkan ilustrasi digital. 3. Analisis Potensi Augmented Reality Sebagai Media Ilustrasi Analisis potensi augmented reality sebagai media ilustrasi melibatkan pakar media, yaitu seorang pengembang media augmented reality di penerbit buku AR Online, Dhika Prihantono. Pemilihan informan sebagai pakar media augmented reality didasarkan pada latar belakang profesi yang relevan. Penelitian dilakukan dengan teknik wawancara mendalam. Kegiatan wawancara dilakukan dengan cara tanya jawab sepihak secara sistematis dan mendalam berdasarkan pada tujuan penelitian. Wawancara yang bersifat terbuka dan mendalam memungkinkan informan secara spontan dan bebas mengemukakan berbagai aspek menurut pendirian dan pikirannya sehingga diperoleh gambaran yang lebih luas mengenai media ilustrasi augmented reality. Terdapat dua pokok permasalahan yang perlu ditanyakan kepada pakar media augmented reality sebagai analisis pendahuluan, yaitu mengenai konsep dasar augmented reality dan potensinya untuk diterapkan dalam buku teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara. Analisis pendahuluan ini berguna untuk mengetahui potensi penerapan commit augmented to user reality dalam buku teks dan
44 menjadi dasar untuk pemilihan teknik penerapannya sebelum memasuki tahap penyusunan aplikasi. a. Deskripsi Mengenai Konsep Dasar Augmented Reality Augmented Reality (AR) merupakan salah satu produk dari hasil perkembangan teknologi yang berwujud aplikasi komputer. Kemampuan yang dimiliki AR adalah menggabungkan suatu benda maya dua atau tiga dimensi ke dalam suatu lingkungan nyata tiga dimensi lalu memproyeksikan benda-benda maya tersebut ke dalam waktu yang nyata (real time). Augmented reality adalah sebuah metode baru berbasis pemrograman komputer yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai bidang, seperti kesehatan, periklanan, arsitek dan konstruksi, militer, dan pendidikan. Pemanfaatan teknologi augmented reality dalam bidangbidang tersebut menghasilkan representasi objek menjadi lebih hidup dan ramah terhadap pengguna. Augmented reality digunakan untuk memudahkan kehidupan pengguna dengan cara memberikan informasi secara virtual. Aplikasi ini tidak hanya digunakan untuk kenampakan digital saja. Secara langsung aplikasi augmented reality dapat melihat kenampakan lingkungan nyata bersamaan dengan objek digital seperti objek tiga dimensi, video, maupun gambar. Augmented reality mampu meningkatkan persepsi pengguna dan interaksinya di dalam kehidupan nyata. Teknologi augmented reality memberikan efek visualisasi terhadap objek nyata pada pandangan mata pengguna dalam bentuk dua maupun tiga dimensi. Untuk mendapatkan efek visualisasi yang dihasilkan oleh teknologi augmented reality diperlukan perangkat komputer atau laptop yang dilengkapi dengan webcam. Komputer atau laptop berfungsi sebagai pusat kontrol sistem augmented reality. Sistem ini meliputi serangkaian proses perangkat lunak yang membangun pemrograman inti, serta input dan output sistem AR melalui perangkat keras. Perangkat webcam yang ada pada laptop digunakan sebagai komponen input data yang berupa kenampakan dunia nyata dan commit marker. to user
45 Marker merupakan penanda yang dikenali webcam untuk memunculkan objek digital hasil dari sistem augmented reality. Penanda ini dapat berupa gambar berpola maupun gerakan suatu benda. Penanda (marker) ini selanjutnya bisa diarahkan ke webcam agar pola terdeteksi. Apabila pola terdeteksi, maka akan ditampilkan objek-objek digital yang berupa gambar, video, atau objek tiga dimensi melalui layar monitor atau media representasi yang lainnya. Gambar 4.1. Konsep Pendeteksian Marker b. Deskripsi Mengenai Potensi dan Metode Penerapan Augmented Reality dalam Buku Teks Pada umumnya, pengembangan aplikasi augmented reality sebagai suatu media menggunakan marker dengan pola garis-garis. Dalam buku teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara tidak terdapat pola garis untuk dijadikan marker. Namun keberadaan gambar-gambar cetak yang sudah ada didalam buku berpotensi untuk dicoba menjadi marker. Keberadaan marker atau penanda sangat penting untuk dikenali perangkat webcam sebagai input data dan memunculkan objek digital hasil dari sistem augmented reality. Apabila penggunaan penanda yang berupa gambar cetak di buku teks ini berhasil, maka penerapan augmented reality dalam buku teks berpotensi untuk dilakukan. Terdapat beberapa metode marker dalam penyusunan sistem aplikasi augmented reality, yaitu: 1) Single marker, satu marker untuk satu objek digital. 2) Multiple marker, dua marker atau lebih untuk beberapa objek. 3) Tengible marker, yakni marker yang bersifat sentuh.
46 4) Paddle marker, yakni marker yang dapat berinteraksi dengan marker lainnya. 5) Markerless, yakni marker dalam bentuk apapun, tidak harus berbentuk kotak. 6) Virtual marker, yakni marker dalam bentuk tombol animasi. Metode marker yang dapat dijadikan dasar untuk menyusun aplikasi augmented reality pada buku teks Sejarah Indonesia Praaksara adalah markerless. Hal ini mengingat marker yang terdapat pada buku teks berupa gambar cetak dengan pola yang bebas, tidak berupa garis-garis yang terstruktur. Metode lain yang dapat digunakan adalah single marker. Metode ini memanfaatkan marker berupa gambar cetak dangan pola garis yang terstruktur. Sebuah marker dangan metode ini dapat dijadikan alat kontrol beberapa objek digital yang muncul sebagai output aplikasi augmented reality. B. Pembahasan 1. Analisis Isi Ilustrasi Buku Teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara Menurut Kasmadi (2003), salah satu kriteria pemilihan buku teks yang baik adalah penggunaan ilustrasi yang membantu (helpful illustration). Ilustrasi yang digunakan perlu menyertakan data sumber dari mana ilustrasi itu diambil. Menurut Supriadi (2001), penyusunan buku teks harus memperhatikan aspek grafika. Dalam aspek grafika, ilustrasi harus mendukung isi dan mudah dimengerti, pemakaian warna sesuai kebutuhan, hubungan khusus isi teks dengan ilustrasi harus konsisten, serta ukuran huruf dan ilustrasi sesuai usia peserta didik. Kedua pendapat tersebut dapat dijadikan landasan untuk mengetahui kriteria ilustrasi yang layak. Dari dua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa kriteria penentu ilustrasi yang layak adalah aspek kesesuaian ilustrasi dengan materi (mendukung isi dan mudah dimengerti serta hubungan khusus isi teks dengan ilustrasi harus
47 konsisten), aspek penyertaan sumber, dan aspek grafika (pemakaian warna sesuai kebutuhan serta ukuran huruf dan ilustrasi sesuai usia peserta didik). Deskripsi hasil obsevasi menunjukkan bahwa aspek kesesuaian ilustrasi dengan materi dan penyertaan sumber pada buku teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara sudah sesuai dengan kriteria ilustrasi yang layak. Ditinjau dari aspek grafika ilustrasi masih terbatas pada penggunaan warna yang hanya hitam dan putih saja sehingga mengurangi tingkat kejelasan. Berawal dari hasil observasi terhadap buku teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara karya Drs. Herimanto, M.Pd, M.Si, berikut akan dianalisis isi yang terkandung dari tiap-tiap ilustrasi di dalamnya. a. Berdasarkan keterangan pada gambar, ilustrasi pertama menunjukkan peta pembagian biogeografi utama di kawasan Indo-Malaya menurut Bellwood (2000). Hal ini sudah memiliki keterkaitan dengan isi materi pada halaman yang bersangkutan, yaitu tentang tahap pembagian sejarah kehidupan di bumi termasuk pembentukan daratan dan persebaran makhluk hidup didalamnya. Ilustrasi telah menyertakan sumber, yaitu Belwood, 2000:8. Warna yang digunakan cenderung hitam putih namun tidak mengurangi estetika suatu ilustrasi karena berupa peta yang mengutamakan garis dan tulisan. Gambar 4.2. Ilustrasi Pertama dalam Buku Teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara b. Berdasarkan keterangan pada gambar, ilustrasi kedua menunjukkan bagan silsilah sementara evolusi hominid menurut Wood (1994). Hal ini sudah memiliki keterkaitan dengan isi materi pada halaman yang bersangkutan, yaitu tentang pembabagan sejarah masa praaksara
48 berdasarkan artefak/perkakas termasuk didalamnya manusia pendukungnya dari masa ke masa. Ilustrasi telah menyertakan sumber, yaitu Belwood, 2000:57. Warna yang digunakan cenderung hitam putih namun tidak mengurangi estetika suatu ilustrasi karena berupa bagan yang mengutamakan garis dan tulisan. Gambar 4.3. Ilustrasi Kedua dalam Buku Teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara c. Berdasarkan keterangan pada gambar, ilustrasi ketiga menunjukkan perbandingan morfologis antara Austrlopithecus aficanus/homo habilis, Australopithecus boisei, Australopithecus robustus. Hal ini sudah memiliki keterkaitan dengan isi materi pada halaman yang bersangkutan, yaitu penemuan manusia purba di Indonesia termasuk didalamnya ciriciri fisik atau morfologi. Ilustrasi telah menyertakan sumber, yaitu Campbell, 1976. Warna yang digunakan cenderung hitam putih sehingga mengurangi estetika suatu ilustrasi karena tidak menampakkan gambaran yang riil seperti pada kehidupan nyata. Gambar 4.4. Ilustrasi Ketiga dalam Buku Teks Sejarah Indonesia Masa commit Praaksara to user
49 d. Berdasarkan keterangan pada gambar, ilustrasi keempat menunjukkan perbandingan Australopithecus dengan Homo Erectus. Hal ini sudah memiliki keterkaitan dengan isi materi pada halaman yang bersangkutan, yaitu penemuan manusia purba di Indonesia termasuk didalamnya ciriciri fisik atau morfologi. Ilustrasi telah menyertakan sumber, yaitu Campbell, 1976. Warna yang digunakan cenderung hitam putih sehingga mengurangi estetika suatu ilustrasi karena tidak menampakkan gambaran yang riil seperti pada kehidupan nyata. Gambar 4.5. Ilustrasi Keempat dalam Buku Teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara e. Berdasarkan keterangan pada gambar, ilustrasi kelima menunjukkan fosil tengkorak Homo Erectus-Sangiran 2 yang ditemukan oleh G. Von Koenigswald pada 1937 di Sangiran, Jawa Tengah Hal ini sudah memiliki keterkaitan dengan isi materi pada halaman yang bersangkutan, yaitu penemuan manusia purba di Indonesia termasuk didalamnya ciriciri fisik atau morfologi. Ilustrasi telah menyertakan sumber, yaitu Schwartz dan Tattersall, 2003. Warna yang digunakan cenderung hitam putih sehingga mengurangi estetika suatu ilustrasi karena tidak menampakkan gambaran yang riil seperti pada kehidupan nyata.
50 Gambar 4.6. Ilustrasi Kelima dalam Buku Teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara f. Berdasarkan keterangan pada gambar, ilustrasi keenam menunjukkan fosil mandibula Homo Erectus-Sangiran 1b yang ditemukan oleh G. Von Koenigswald pada 1937 di Sangiran, Jawa Tengah Hal ini sudah memiliki keterkaitan dengan isi materi pada halaman yang bersangkutan, yaitu penemuan manusia purba di Indonesia termasuk didalamnya ciriciri fisik atau morfologi. Ilustrasi telah menyertakan sumber, yaitu Schwartz dan Tattersall, 2003. Warna yang digunakan cenderung hitam putih sehingga mengurangi estetika suatu ilustrasi karena tidak menampakkan gambaran yang riil seperti pada kehidupan nyata. Gambar 4.7. Ilustrasi Keenam dalam Buku Teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara g. Berdasarkan keterangan pada gambar, ilustrasi ketujuh menunjukkan peta situs dan tempat-tempat penting Kala Pliosen dan Plestosen Akhir. Hal ini sudah memiliki keterkaitan dengan isi materi pada halaman yang bersangkutan, yaitu penemuan manusia purba di Indonesia termasuk didalamnya ciri-ciri fisik commit atau to morfologi user dan lokasi persebarannya.
51 Ilustrasi telah menyertakan sumber, yaitu Bellwood, 2000. Warna yang digunakan cenderung hitam putih namun tidak mengurangi estetika suatu ilustrasi karena berupa peta yang mengutamakan garis dan tulisan. Gambar 4.8. Ilustrasi Ketujuh dalam Buku Teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara h. Berdasarkan keterangan pada gambar, ilustrasi kedelapan menunjukkan tabel skema tentang penemuan fosil manusia purba di Indonesia berdasarkan lapisan. Hal ini sudah memiliki keterkaitan dengan isi materi pada halaman yang bersangkutan, yaitu penemuan manusia purba di Indonesia termasuk didalamnya pembagian masing-masing zaman sesuai lapisan tanah dan manusia pendukungnya. Ilustrasi tidak menyertakan sumber. Warna yang digunakan cenderung hitam putih namun tidak mengurangi estetika suatu ilustrasi karena berupa tabel yang mengutamakan tulisan. Gambar 4.9. Ilustrasi Kedelapan dalam Buku Teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara i. Berdasarkan keterangan pada gambar, ilustrasi kesembilan menunjukkan alat batu jenis Pacitanian dari Lahat. Hal ini sudah memiliki keterkaitan dengan isi materi pada halaman yang bersangkutan, yaitu jenis-jenis manusia purba di Indonesia commit dan to user hasil kebudayaannya. Ilustrasi telah
52 menyertakan sumber, yaitu Poesponagoro dan Notosusanto, 1993. Warna yang digunakan cenderung hitam putih sehingga mengurangi estetika suatu ilustrasi karena tidak menampakkan gambaran yang riil seperti pada kehidupan nyata. Gambar 4.10. Ilustrasi Kesembilan dalam Buku Teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara j. Berdasarkan keterangan pada gambar, ilustrasi kesepuluh menunjukkan alat batu jenis Pacitanian dari daerah Punung. Hal ini sudah memiliki keterkaitan dengan isi materi pada halaman yang bersangkutan, yaitu jenis-jenis manusia purba di Indonesia dan hasil kebudayaannya. Ilustrasi telah menyertakan sumber, yaitu Poesponagoro dan Notosusanto, 1993. Warna yang digunakan cenderung hitam putih sehingga mengurangi estetika suatu ilustrasi karena tidak menampakkan gambaran yang riil seperti pada kehidupan nyata. Gambar 4.11. Ilustrasi Kesepuluh dalam Buku Teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara k. Berdasarkan keterangan pada gambar, ilustrasi kesebelas menunjukkan alat-alat serpih tulang commit dari Ngandong to user yang pernah digunakan oleh
53 manusia purba jenis Homo. Hal ini sudah memiliki keterkaitan dengan isi materi pada halaman yang bersangkutan, yaitu jenis-jenis manusia purba di Indonesia dan hasil kebudayaannya. Ilustrasi telah menyertakan sumber, yaitu Poesponagoro dan Notosusanto, 1993. Warna yang digunakan cenderung hitam putih sehingga mengurangi estetika suatu ilustrasi karena tidak menampakkan gambaran yang riil seperti pada kehidupan nyata. Gambar 4.12. Ilustrasi Kesebelas dalam Buku Teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara l. Berdasarkan keterangan pada gambar, ilustrasi kedua belas menunjukkan temuan fosil tengkorak Ngandong 7 yang ditemukan oleh G. Von Koenigswald pada 1932. Hal ini sudah memiliki keterkaitan dengan isi materi pada halaman yang bersangkutan, yaitu jenis-jenis manusia purba di Indonesia dan ciri-ciri fisik atau morfologinya. Ilustrasi telah menyertakan sumber, yaitu Scwartz dan Tattersall, 2003. Warna yang digunakan cenderung hitam putih sehingga mengurangi estetika suatu ilustrasi karena tidak menampakkan gambaran yang riil seperti pada kehidupan nyata. Gambar dicetak dalam enam bagian yang masingmasing menampakkan objek dari berbagai sudut pemotretan, namun tidak disertai keterangan sehingga pembaca tidak mendapatkan kejelasan dari sudut manakah objek tersebut dipotret.
54 Gambar 4.13. Ilustrasi Kedua Belas dalam Buku Teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara m. Berdasarkan keterangan pada gambar, ilustrasi ketiga belas menunjukkan perbandingan besar tengkorak antara Homo Floresiensis dengan Homo Sapiens. Hal ini sudah memiliki keterkaitan dengan isi materi pada halaman yang bersangkutan, yaitu deskripsi mengenai Homo Floresiensis. Ilustrasi telah menyertakan sumber, yaitu National Geographic Indonesia, April 2005. Warna yang digunakan cenderung hitam putih sehingga mengurangi estetika suatu ilustrasi karena tidak menampakkan gambaran yang riil seperti pada kehidupan nyata. Gambar 4.14. Ilustrasi Ketiga Belas dalam Buku Teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara n. Berdasarkan keterangan pada gambar, ilustrasi keempat belas menunjukkan alat-alat dari commit Sampung to user (Sampung Bone Culture). Hal ini
55 sudah memiliki keterkaitan dengan isi materi pada halaman yang bersangkutan, yaitu jenis-jenis manusia purba di Indonesia dan hasil kebudayaannya. Ilustrasi telah menyertakan sumber, yaitu Poesponagoro dan Notosusanto, 1993. Warna yang digunakan cenderung hitam putih sehingga mengurangi estetika suatu ilustrasi karena tidak menampakkan gambaran yang riil seperti pada kehidupan nyata. Gambar 4.15. Ilustrasi Keempat Belas dalam Buku Teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara o. Berdasarkan keterangan pada gambar, ilustrasi kelima belas menunjukkan bagan perubahan konsepsi mengenai perkembangan evolusi biologis manusia, dari konsep lama tentang missing link dan konsep baru tentang makhluk induk. Hal ini sudah memiliki keterkaitan dengan isi materi pada halaman yang bersangkutan, yaitu teori evolusi tentang primat dan manusia. Ilustrasi tidak menyertakan sumber. Warna yang digunakan cenderung hitam putih namun tidak mengurangi estetika suatu ilustrasi karena berupa bagan yang mengutamakan garis dan tulisan.
56 Gambar 4.16. Ilustrasi Kelima Belas dalam Buku Teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara p. Berdasarkan keterangan pada gambar, ilustrasi keenam belas menunjukkan bermacam-macam kapak tipe Pacitan. Hal ini sudah memiliki keterkaitan dengan isi materi pada halaman yang bersangkutan, yaitu deskripsi mengenai kebudayaan Pacitan. Ilustrasi telah menyertakan sumber, yaitu Poesponagoro dan Notosusanto, 1993. Warna yang digunakan cenderung hitam putih sehingga mengurangi estetika suatu ilustrasi karena tidak menampakkan gambaran yang riil seperti pada kehidupan nyata. Gambar 4.17. Ilustrasi Keenam Belas dalam Buku Teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara q. Berdasarkan keterangan pada gambar, ilustrasi ketujuh belas menunjukkan kjokkenmoddinger di Sumatera Utara. Hal ini sudah memiliki keterkaitan dengan isi materi pada halaman yang bersangkutan, yaitu deskripsi mengenai kebudayaan kapak genggam Sumatera (pabble culture). Ilustrasi telah menyertakan sumber, yaitu Bellwood, 2000. Warna yang digunakan cenderung hitam putih sehingga mengurangi estetika suatu ilustrasi karena tidak menampakkan gambaran yang riil seperti pada kehidupan nyata.
57 Gambar 4.18. Ilustrasi Ketujuh Belas dalam Buku Teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara r. Berdasarkan keterangan pada gambar, ilustrasi kedelapan belas menunjukkan alat-alat serpih hasil kebudayaan Toala. Hal ini sudah memiliki keterkaitan dengan isi materi pada halaman yang bersangkutan, yaitu deskripsi mengenai kebudayaan Toala (flake culture). Ilustrasi telah menyertakan sumber, yaitu Poesponagoro dan Notosusanto, 1993. Warna yang digunakan cenderung hitam putih sehingga mengurangi estetika suatu ilustrasi karena tidak menampakkan gambaran yang riil seperti pada kehidupan nyata. Gambar 4.19. Ilustrasi Kedelapan Belas dalam Buku Teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara s. Berdasarkan keterangan pada gambar, ilustrasi kesembilan belas menunjukkan berbagai macam bentuk kapak persegi dan kapak lonjong, yang menjadi alat-alat commit utama manusia to user purba dari masa Neolithikum
58 (Batu Muda). Hal ini sudah memiliki keterkaitan dengan isi materi pada halaman yang bersangkutan, yaitu deskripsi mengenai kebudayaan kapak lonjong. Ilustrasi tidak menyertakan sumber. Warna yang digunakan cenderung hitam putih sehingga mengurangi estetika suatu ilustrasi karena tidak menampakkan gambaran yang riil seperti pada kehidupan nyata. Gambar 4.20. Ilustrasi Kesembilan Belas dalam Buku Teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara t. Berdasarkan keterangan pada gambar, ilustrasi kedua puluh menunjukkan menhir dari Bada, Sulawesi Tengah, sebagai contoh artefak dari zaman Megalithikum. Hal ini sudah memiliki keterkaitan dengan isi materi pada halaman yang bersangkutan, yaitu deskripsi mengenai zaman batu besar (megalithikum). Ilustrasi telah menyertakan sumber, yaitu Poesponagoro dan Notosusanto, 1993. Warna yang digunakan cenderung hitam putih sehingga mengurangi estetika suatu ilustrasi karena tidak menampakkan gambaran yang riil seperti pada kehidupan nyata.
59 Gambar 4.21. Ilustrasi Kedua Puluh dalam Buku Teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara u. Berdasarkan keterangan pada gambar, ilustrasi kedua puluh satu menunjukkan kapak perunggu tipe Soejono 1A yang ditemukan di Ujung Pandang, Sulawesi Selatan. Hal ini sudah memiliki keterkaitan dengan isi materi pada halaman yang bersangkutan, yaitu deskripsi mengenai pembuatan alat-alat dengan teknik a cire perdue, termasuk kapak perunggu tersebut. Ilustrasi telah menyertakan sumber, yaitu Poesponagoro dan Notosusanto, 1993. Warna yang digunakan cenderung hitam putih sehingga mengurangi estetika suatu ilustrasi karena tidak menampakkan gambaran yang riil seperti pada kehidupan nyata. Gambar 4.22. Ilustrasi Kedua Puluh Satu dalam Buku Teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara v. Berdasarkan keterangan pada gambar, ilustrasi kedua puluh dua menunjukkan nekara tipe Heger I yang ditemukan di Pulau Sangeang, NTT. Hal ini sudah memiliki keterkaitan dengan isi materi pada halaman yang bersangkutan, yaitu deskripsi mengenai nekara yang dibentuk pada
60 zaman logam. Ilustrasi telah menyertakan sumber, yaitu Poesponagoro dan Notosusanto, 1993. Warna yang digunakan cenderung hitam putih sehingga mengurangi estetika suatu ilustrasi karena tidak menampakkan gambaran yang riil seperti pada kehidupan nyata. Gambar 4.23. Ilustrasi Kedua Puluh Dua dalam Buku Teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara w. Berdasarkan keterangan pada gambar, ilustrasi kedua puluh tiga menunjukkan penguburan terlipat yang merupakan ciri penguburan ras Asutralomelanesid. Hal ini sudah memiliki keterkaitan dengan isi materi pada halaman yang bersangkutan, yaitu kehidupan manusia, termasuk ras Australomelanesid, yang hidup pada masa bercocok tanam tingkat sederhana (masa peralihan). Ilustrasi telah menyertakan sumber, yaitu Bellwood, 2000. Warna yang digunakan cenderung hitam putih sehingga mengurangi estetika suatu ilustrasi karena tidak menampakkan gambaran yang riil seperti pada kehidupan nyata.
61 Gambar 4.24. Ilustrasi Kedua Puluh Tiga dalam Buku Teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara x. Berdasarkan keterangan pada gambar, ilustrasi kedua puluh empat menunjukkan lukisan manusia purba di dindin goa yang menurut para ahli memiliki arti tertentu. Hal ini sudah memiliki keterkaitan dengan isi materi pada halaman yang bersangkutan, yaitu ragam budaya pada masa bercocok tanam tingkat sederhana (masa peralihan). Ilustrasi telah menyertakan sumber, yaitu Poesponagoro dan Notosusanto, 1993. Warna yang digunakan cenderung hitam putih sehingga mengurangi estetika suatu ilustrasi karena tidak menampakkan gambaran yang riil seperti pada kehidupan nyata. Gambar 4.25. Ilustrasi Kedua Puluh Empat dalam Buku Teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara
62 y. Berdasarkan keterangan pada gambar, ilustrasi kedua puluh lima menunjukkan nekara dan moko yang merpakan alat-alat kehidupan manusia purba yang muncul pada masa perundagian (zaman perunggu). Hal ini sudah memiliki keterkaitan dengan isi materi pada halaman yang bersangkutan, yaitu ragam budaya pada masa perundagian (masa perkembangan teknologi). Ilustrasi telah menyertakan sumber, yaitu Poesponagoro dan Notosusanto, 1993. Warna yang digunakan cenderung hitam putih sehingga mengurangi estetika suatu ilustrasi karena tidak menampakkan gambaran yang riil seperti pada kehidupan nyata. Gambar 4.26. Ilustrasi Kedua Puluh Lima dalam Buku Teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara Dari analisis isi ilustrasi buku teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara diatas dapat disimpulkan bahwa kekurangan yang terdapat dalam ilustrasi adalah aspek grafika, dimana warna gambar menggunakan pola hitam putih sehingga gambar yang seharusnya menampilkan keadaan nyata menjadi tampak buram. Penggunaan warna yang cenderun hitam putih untuk gambaran kehidupan nyata akan mengurangi nilai estetika suatu ilustrasi. Hal ini selaras dengan data yang diperoleh dari hasil wawancara, pengisian angket. Deskripsi hasil wawancara terhadap ahli buku teks menunjukkan bahwa buku teks seharusnya memenuhi kriteria-kriteria kelayakan yang meliputi tiga aspek, yakni aspek kesesuaian ilustrasi dengan materi, grafika, serta penyertaan sumber. Pemenuhan aspek grafika sering terkendala oleh teknik percetakan yang masih menggunakan pola dua warna yaitu hitam dan
63 putih sehingga menjadikan ilustrasi kurang jelas dan tidak menarik, termasuk ilustrasi di dalam buku teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara. Deskripsi hasil pengisian angket oleh pengguna buku teks menunjukkan bahwa ilustrasi pada buku teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara apabila ditinjau dari aspek kesesuaian ilustrasi dengan materi dan penyertaan sumber tidak menemui permasalahan. Kekurangan terdapat pada aspek grafika dimana seluruh responden menyatakan bahwa penggunaan warna masih terbatas pada warna hitam dan putih saja sehingga mengurangi tingkat kejelasan. Sebagaimana dijelaskan oleh Kelker dalam Driscoll (1994), penyusunan bahan ajar atau buku teks harus memenuhi prinsip-prinsip motivasional seperti attention, relevance, convidence, dan satisfaction. Hasil observasi dan pengisian angket terhadap isi ilustrasi didalam buku teks dapat dikaitkan dengan prinsip relevance. Prinsip relevance menunjukkan kesesuaian antara ilustrasi dengan materi dan kebutuhan siswa. Berdasarkan hasil observasi dapat diketahui bahwa ilustrasi dan materi yang terdapat pada buku teks sudah memiliki kesesuaian. Hal ini dibuktikan dengan tema ilustrasi pada suatu halaman dengan materi yang yang ada pada halaman yang sama sudah menunjukkan suatu keterkaitan. Berdasarkan data pengisian angket, ilustrasi dan materi yang terdapat pada buku teks sudah memiliki kesesuaian. Sembilan responden (90 %) menyatakan bahwa penggunaan ilustrasi dalam buku teks sudah sesuai dengan materi yang dipaparkan. Dari deskripsi data diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa isi ilustrasi buku teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara masih terkendala aspek grafika, dimana penggunaan warna masih terbatas pada warna hitam dan putih saja. 2. Analisis Bentuk Kebutuhan Ilustrasi dalam Pembelajaran Sejarah Menurut Irenewaty (2006) mahasiswa lebih merasakan bahwa kegiatan pembelajaran dengan menggunakan media digital (audio visual) membuat mereka tidak cepat merasa bosan. Penggunaan media digital (audio visual-lcd) dalam pembelajaran sejarah juga berhasil meningkatkan minat dan motivasi mahasiswa dalam commit mengikuti to user pembelajaran sejarah. Sehingga
64 bentuk ilustrasi yang dibutuhkan mahasiswa untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sejarah pada dasarnya yang bersifat digital. Pendapat Irenewaty (2006) sesuai dengan hasil wawancara dan pengisian angket. Hasil wawancara terhadap ahli materi menunjukkan bahwa pembelajaran sejarah masa praaksara membutuhkan media visualisasi materi berupa ilustrasi untuk memudahkan proses pembelajaran. Berdasarkan hasil pengisian angket oleh mahasiswa Prodi Sejarah FKIP UNS dapat diketahui bahwa ilustrasi memang dibutuhkan dalam pembelajaran sejarah. Bentuk media ilustrasi yang dibutuhkan, sering digunakan, dan mudah diperoleh dari sarana prasarana yang digunakan dalam pembelajaran sejarah adalah media digital yang berupa gambar dan video. Berdasarkan Kelker dalam Driscoll (1994), penyusunan bahan ajar atau buku teks harus memenuhi prinsip-prinsip motivasional seperti attention (perhatian), relevance (relevansi), convidence (kepercayaan diri), dan satisfaction (kepuasan). Hasil wawancara dan pengisian angket mengenai bentuk kebutuhan ilustrasi dalam pembelajaran sejarah dapat dikaitkan dengan prinsip-prinsip tersebut. Prinsip attention menunjukkan apakah ilustrasi dapat menarik minat atau perhatian siswa. Dari hasil pengisian angket dapat diketahui bahwa keberadaan ilustrasi dalam pembelajaran sejarah memang dibutuhkan dalam pembelajaran. Semua responden (100%) menyatakan bahwa dalam pembelajaran sejarah perlu adanya ilustrasi. Terkait alasan perlunya ilustrasi dalam pembelajaran, enam responden (60%) menyatakan bahwa ilustrasi dapat menarik minat untuk belajar. Seluruh responden (100%) melalui pengisian angket menyebutkan bahwa ilustrasi materi kesejarahan yang bersifat digital lebih menarik daripada ilustrasi cetak didalam buku teks. Delapan responden (80%) menyatakan bahwa ilustrasi digital lebih menarik karena dapat memberikan kejelasan dalam mempelajari materi. Prinsip relevance menunjukkan kesesuaian antara ilustrasi dengan materi dan kebutuhan siswa. Dari hasil pengisian angket dapat diketahui bahwa ilustrasi cetak sudah memiliki commit to kesesuaian user dengan materi dalam buku
65 teks. Namun ilustrasi cetak yang ada didalam buku teks belum sesuai dengan kebutuhan terhadap ilustrasi. Seluruh responden (100 %) menyatakan bahwa ilustrasi cetak dalam buku teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara belum sesuai dengan kebutuhan akan ilustrasi kesejarahan. Prinsip convidence menunjukkan rasa ketidakkhawatiran siswa bahwa materi atau ilustrasi itu sulit dipelajari. Dari hasil wawancara dapat diketahui bahwa pembelajaran materi terkait masa praaksara membutuhkan keberadaan ilustrasi sebagai media visualisasi sehingga proses belajar menjadi mudah. Berdasarkan pengisian angket, sembilan responden (90%) menyatakan bahwa penggunaan ilustrasi dapat membantu siswa dalam mengerti materi. Semua responden (100 %) menyatakan bahwa keberadaan ilustrasi digital lebih menarik daripada ilustrasi cetak didalam buku teks. Delapan responden (80%) menyatakan bahwa penggunaan ilustrasi digital lebih memberikan kejelasan dalam mempelajari materi. Tujuh responden (70 %) menyatakan bahwa penggunaan ilustrasi digital tidak membosankan. Tujuh responden (70 %) menyebutkan bahwa ilustrasi digital memberikan kemudahan dalam memahami materi. Prinsip satisfaction menunjukkan bahwa materi atau ilustrasi menghasilkan kepuasan dan motivasi untuk mencapai tujuan tertentu. Dari hasil pengisian angket dapat diketahui bahwa penggunaan ilustrasi cetak pada buku teks belum memberikan kepuasan terhadap kebutuhan ilustrasi. Seluruh responden (100 %) memberikan pernyataan bahwa ilustrasi cetak didalam buku teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara belum memberikan kepuasan terhadap kebutuhan ilustrasi. Ilustrasi yang bersifat digital lebih menarik daripada ilustrasi cetak sehingga mampu memberikan kepuasan dalam kebutuhan ilustrasi. Seluruh responden (100%) melalui pengisian angket menyebutkan bahwa ilustrasi materi kesejarahan yang bersifat digital lebih menarik daripada ilustrasi yang bersifat cetak. Dari deskripsi data diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa ilustrasi dibutuhkan dalam pembelajaran sejarah. Berdasarkan hasil pengisian angket dan kesesuaiannya dengan prinsip-prinsip motivasional penyusunan bahan
66 ajar atau buku teks, bentuk ilustrasi yang dibutuhkan adalah ilustrasi yang yang bersifat digital seperti gambar-gambar digital dan video. 3. Analisis Potensi Augmented Reality Sebagai Media Ilustrasi Data hasil wawancara terhadap pakar media augmented reality menunjukkan bahwa augmented reality berpotensi menjadi media ilustrasi digital yang dapat dikembangkan dalam buku teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara. Munculnya potensi ini didasarkan pada permasalahan grafika yang terdapat pada buku teks dan ilustrasi yang dibutukan oleh mahasiswa sejarah. Buku teks berbasis augmented reality dapat diterapkan dengan memanfaatkan ilustrasi cetak yang sudah ada di dalamnya sebagai marker. Teknik penggunaan marker ini adalah markerless, yaitu penanda tidak berbentuk pola garis-garis. Sebagai pengontrol objek digital dalam sistem marker adalah pola marker tercetak yang disebut dengan single marker. Potensi penerapan tersebut selaras dengan pernyataan Billinghurst yang dikutip Yuen, Yaoyuneyong, & Johnson (2011) bahwasannya : an AR interface system allows AR content to be created for any normal book, bringing the book to life with animated and even interactive models drawn from the text or illustrations already in the book (hlm.127). Sistem kenampakan AR (augmented reality) memungkinkan konten AR untuk diterapkan pada beberapa buku biasa, menjadikan kenampakan buku lebih hidup dengan animasi ataupun model interaktif yang digambarkan melalui teks atau ilustrasi yang telah ada di dalam buku. Munculnya konten AR melalui media yang terdapat pada buku teks ini merupakan gambaran pemanfaatan fungsi marker. Marker yang berbentuk teks atau ilustrasi cetak pada buku teks berfungsi sebagai penanda untuk selanjutnya dapat dikenali oleh sistem komputer untuk menampilkan objek digital. Teknik penggunaan marker ini adalah markerless, yaitu penanda tidak berbentuk pola garis-garis. Berdasarkan triangulasi data wawancara dengan analisis dokumen dapat ditarik kesimpulan bahwa augmented reality dapat diterapkan dalam buku teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara dengan memanfaatkan ilustrasi
67 cetak didalamnya sebagai marker. Adapun teknik marker yang berpotensi untuk digunakan adalah markerless dan single marker. a. Penerapan Sistem Augmented Reality Dalam Buku Teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara Dalam pengembangan ilustrasi berbasis augmented reality pada buku teks, dilakukan beberapa tahapan mulai dari perencanaan hingga aplikasi siap digunakan. Tahap perencanaan merupakan prosedur yang dilakukan sebagai bentuk persiapan awal sebelum memasuki tahap pembuatan aplikasi. Dasar perencanaan rancangan aplikasi augmented reality dalam buku teks sejarah disesuaikan dengan bentuk kebutuhan pengguna. Pada analisis bentuk kebutuhan menunjukkan bahwa ilustrasi pada buku teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara belum memenuhi standar kelayakan. Aspek grafika yang masih terbatas pada kewarnaan dan kejelasan menjadi hambatan pengguna untuk mendapatkan ilustrasi yang menarik. Pengguna lebih tertarik pada penggunaan ilustrasi yang bersifat digital. Dengan tetap memanfaatkan buku teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara sebagai media pembelajaran dan memenuhi kebutuhan mahasiswa terhadap ilustrasi digital sebagai gambaran materi yang dipelajari, maka aplikasi augmented reality berpotensi untuk diterapkan. Konsep aplikasi ini adalah menggabungkan antara buku teks dengan ilustrasi digital melalui sistem komputer. Tujuan pengembangan sistem augmented reality di dalam buku teks sejarah adalah meminimalisir kekurangan yang ada di dalam buku teks, terutama yang terkait perihal ilustrasi, kemudian dilakukan implementasi ilustrasi digital pada buku teks sehingga dihasilkan ilustrasi yang lebih jelas dan menarik. Penerapan augmented reality dalam buku teks membutuhkan dua jenis data, yakni data input dan data output. Data input adalah data yang masuk ke dalam sistem melalui perangkat webcam berupa kenampakan marker. Data output adalah data yang ditampilkan pada layar monitor
68 setelah marker terdeteksi oleh sistem. Data ini dapat berupa file gambar, video, maupun objek tiga dimensi. Gambar 4, 5, 6, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24 dan 25 dalam buku teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara menunjukkan hasil foto atau gambaran terhadap objek atau tempat bersejarah dan dapat dijadikan marker sebagai data input dalam sistem augmented reality. Gambar dengan tema tersebut membutuhkan data output yang mampu menampilkan gambaran objek yang jelas dan nampak nyata, dalam hal ini jenis data output yang digunakan adalah video atau gambar digital. Pemilihan data digital ini didasarkan pada data sejenis atau yang sesuai dengan isi ilustrasi bersangkutan dan tersedia di media cetak atau internet dengan kenampakan yang lebih riil. Gambar 1, 2, 3, 7, 8, dan 15 dalam buku teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara menunjukkan bagan, peta, pola dan kolom. Gambar dengan tema tersebut tidak membutuhkan implementasi sistem augmented reality karena cenderung mengutamakan tulisan, pola dan garis, bukan gambaran objek sebagaimana pada kehidupan nyata. Setelah tahap perencanaan selesai, dilakukan penyusunan sistem augmented reality dalam mode stand alone. Aplikasi augmented reality dengan mode stand alone berbentuk file kompresi. Dalam mode stand alone, aplikasi augmented reality yang telah disusun dapat dijalankan dengan cara menginstal file kompresi atau memindahkan file hasil ekspor. Penyimpanan dengan mode stand alone memungkinkan aplikasi augmented reality dapat dijalankan di perangkat komputer lokal dan perangkat komputer lain. Aplikasi augmented reality dengan mode stand alone dapat dijalankan di perangkat komputer lain yang telah terinstal DirectX yang tingkatnya sama dengan renderer DirectX saat melakukan proses ekspor aplikasi. Keuntungan yang bisa diperoleh adalah aplikasi mampu didistribusikan kepada banyak pengguna. Sebelum tahap penyelesaian aplikasi perlu dilakukan peninjauan dari beberapa aspek, yaitu commit kinerja to dan user distribusi, untuk mengetahui apakah
69 augmented reality dapat berjalan baik dalam buku teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara dan dapat didistribusikan. Dari hasil penyusunan sistem augmented reality yang digunakan sebagai media ilustrasi pada buku teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara dapat diketahui bahwa kinerja augmented reality sudah memenuhi kriteria sistem. Terdapat dua kriteria penilaian aspek kinerja sistem augmented reality yaitu respon sistem dan tampilan objek digital. Respon sistem augmented reality dalam tahap awal pembukaan sistem maupun pengenalan marker tergantung pada spesifikasi perangkat komputer atau laptop yang digunakan. Semakin tinggi spesifikasi perangkat yang digunakan, semakin cepat respon sistem augmented reality. Sistem dapat berjalan baik pada perangkat dengan spesifikasi grafis 256 MB, prosesor 1,5 GHz, dan 1 GB RAM. Artinya, sistem augmented reality dapat berjalan dengan baik meskipun perangkat yang digunakan memiliki spesifikasi rendah. Adapun objek digital yang ditampilkan pada perangkat dengan spesifikasi rendah tersebut sudah sesuai dengan tingkat pencahayaan dan warna data asli sebelum dimasukkan ke dalam sistem., yaitu objek dapat Objek digital ini juga dapat ditampilkan berdampingan dengan kenampakan dunia nyata dalam layar monitor. Ditinjau dari aspek distribusi, sistem augmented reality yang telah dibuat dapat disebarluaskan ke perangkat komputer atau laptop lain karena mode penyimpanan yang digunakan adalah stand alone. Dari peninjauan aspek-aspek tersebut dapat disimpulkan bahwa augmented reality dapat diterapkan dalam buku teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara. b. Perbandingan Antara Ilustrasi Cetak Dengan Ilustrasi Kontemporer Berbasis Augmented Reality Dalam Buku Teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara Berikut kenampakan ilustrasi sebelum dan sesudah diterapkannya augmented reality pada buku teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara :
70 Tabel 4.1. Perbandingan ilustrasi sebelum dan sesudah diterapkannya augmented reality pada buku teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara Nomor Gambar 4 Sebelum Sesudah 5 6 9
71 10 11 12 13 14
72 16 17 18 19 20
73 21 22 23 24 25
74 Penyusunan ilustrasi setelah diterapkannya augmented reality dalam buku teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara tetap memperhatikan aspek kelayakan ilustrasi, yaitu kesesuaian ilustrasi dengan isi materi dan disertakannya keterangan ilustrasi, penyertaan sumber, dan grafika. Perbandingan ilustrasi sebelum dan sesudah diterapkannya augmented reality dalam buku teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara menunjukkan perbedaan. Aspek kelayakan ilustrasi yang meliputi kesesuaian ilustrasi dengan isi materi dan disertakannya keterangan ilustrasi serta penyertaan sumber sudah nampak pada masing-masing ilustrasi baik itu sebelum atau sesudah diterapkannya augmented reality. Perbedaan terlihat pada aspek grafika, dimana ilustrasi cetak pada buku teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara masih berupa gambar hitam putih yang mengurangi nilai estetika ilustrasi itu sendiri karena tidak menampakkan keadaan objek sebenarnya, dan ilustrasi setelah diterapkannya augmented reality menampilkan gambaran yang sesuai dengan keadaan objek sebenarnya. Dari hasil perbandingan tersebut dapat disimpulkan bahwa ilustrasi cetak pada buku teks teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara masih terkendala aspek grafika dan ilustrasi setelah diterapkannya augmented reality dalam buku tersebut lebih memenuhi tiga aspek kelayakan ilustrasi, yaitu kesesuaian ilustrasi dengan isi materi dan disertakannya keterangan gambar, penyertaan sumber, dan grafika. c. Kelayakan Augmented Reality Sebagai Media Pembelajaran Pemilihan media yang tepat merujuk pada beberapa faktor sehingga dapat dikategorikan sebagai media pembelajaran yang layak untuk digunakan. Faktor tersebut adalah pengguna, penyajian, dan kegunaan media. Penerapan media augmented reality dalam buku teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara apabila ditinjau dari faktor pengguna, sudah memiliki kesesuaian terkait kebutuhan mahasiswa terhadap ilustrasi yang menarik, dalam hal ini ilustrasi yang dibutuhkan pengguna adalah ilustrasi digital. Dengan tetap commit memanfaatkan to user keberadaan buku teks Sejarah
75 Indonesia Masa Praaksara sebagai salah satu sumber belajar, pengguna dapat memperoleh ilustrasi digital yang lebih jelas dan menarik dengan memanfaatkan penerapan sistem augmented reality didalamnya. Hal ini didukung oleh sarana prasarana yang sudah memadai, yakni penggunaan media elektronik seperti perangkat komputer, laptop, dan LCD proyektor dalam kegiatan pembelajaran. Ditinjau dari faktor penyajiannya, penerapan augmented reality dalam buku teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara sudah memiliki kriteria yang layak sebagai ilustrasi. Ilustrasi di dalam buku teks harus memenuhi tiga aspek kelayakan, yaitu kesesuaian ilustrasi dengan isi materi, penyertaan sumber ilustrasi, dan grafika. Objek digital yang ditampilkan sebagai hasil penerapan augmented reality dalam buku teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara telah memeuhi persyaratan ilustrasi yang layak. Pemilihan objek digital tidak terlepas dari pertimbangan relevansi terhadap isi materi. Selain itu, objek digital melalui proses editing disertakan sumber darimana data tersebut diperoleh. Kegrafikaan objek digital ini meliputi unsur warna yang sesuai, yaitu warna asli sebagaimana yang nampak dalam kehidupan nyata sehingga objek lebih terlihat riil dan memiliki estetika. Dalam proses pembelajaran sejarah, media berguna untuk memudahkan dalam penggambaran fakta-fakta sejarah dan berfungsi sebagai sumber belajar. Posisi dan kedudukan media dalam keseluruhan sistem pembelajaran, merupakan bagian integral dari sistem pembelajaran yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan, merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemampuan peserta didik sehingga dapat mendorong peserta didik untuk belajar. Penerapan augmented reality dalam buk teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara merujuk pada kebutuhan pengguna terhadap ilustrasi digital namun tetap memanfaatkan buku terks tersebut sebagai media dan sumber belajar. Objek digital yang ditampilkan dalam sistem output augmented reality memiliki nilai estetika
76 yaitu ilustrasi yang bersifat riil dan jelas sehingga dapat memotivasi dan mendorong peserta didik untuk belajar. Dengan terpenuhinya ketiga faktor penentu kelayakan media pembelajaran tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa augmented reality yang diterapkan dalam buku teks Sejarah Indonesia Masa Praaksara layak untuk dijadikan media pembelajaran atau ilustrasi.