IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
PERKEMBANGAN POPULASI KUTU DAUN

TINJAUAN PUSTAKA Serangga predator Bioekologi Menochilus sexmaculatus

HASIL DAN PEMBAHASAN Keragaman Hama pada Pertanaman Edamame Hama Edamame pada Fase Vegetatif dan Generatif

1. tikus 2. penggerek batang padi 3. wereng coklat

HASIL DAN PEMBAHASAN Perkembangan Populasi Kepinding Tanah ( S. coarctata

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Kalshoven (1981) ulat grayak diklasifikasikan sebagai berikut:

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

untuk meneliti tingkat predasi cecopet terhadap larva dan imago Semoga penelitian ini nantinya dapat bermanfaat bagi pihak pihak yang

TINJAUAN PUSTAKA. miring. Sycanus betina meletakkan tiga kelompok telur selama masa hidupnya.

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode Penelitian Perbanyakan B. tabaci dan M. persicae

BAHAN DAN METODE. Gambar 2 Mikroskop video Nikon SMZ-10A (a), dan Alat perekam Sony BLV ED100 VHS (b)

HASIL DAN PEMBAHASAN Kemampuan pemangsaan Menochilus sexmaculatus dan Micraspis lineata

BAB I PENDAHULUAN. tanaman perkebunan. Akan tetapi banyak juga diantara serangga-serangga

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Jumlah Infestasi terhadap Populasi B. tabaci pada Umur Kedelai yang Berbeda

TINJAUAN PUSTAKA. Telur berwarna putih, berbentuk bulat panjang, dan diletakkan

Gambar 1. Gejala serangan penggerek batang padi pada stadium vegetatif (sundep)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

I. TINJAUAN PUSTAKA. Kopi (Coffea spp.) adalah spesies tanaman berbentuk pohon. Tanaman ini

VI. PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN UMUM. 6.1 Pembahasan Umum. Berdasarkan hasil penelitian perkembangan Ostrinia furnacalis di Desa

DAFTAR ISI SAMPUL DALAM...

I. PENDAHULUAN. Kedelai adalah salah satu tanaman polong-polongan yang menjadi bahan dasar

Hama penghisap daun Aphis craccivora

Mengenal Hama Wereng Batang Coklat Nilaparvata lugens Stal. Oleh : Budi Budiman

HASIL DAN PEMBAHASAN


TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Kalshoven (1981) diterangkan bahwa klasifikasi hama Oryctes

DINAMIKA POPULASI HAMA PENYAKIT UTAMA JAGUNG DAN MUSUH ALAMINYA

POTENSI PREDATOR FAMILI : COCCINELLIDAE UNTUK MENGENDALIKAN. HAMA TANAMAN CABAI MERAH Thrips parvispinus. Oleh Pasetriyani Eddy Tarman

Metamorfosis Kecoa. 1. Stadium Telur. 2. Stadium Nimfa

TINJAUAN PUSTAKA Keragaman Iklim

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Kalshoven (1981) Spodoptera litura F. dapat diklasifikasikan

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Kalshoven (1981), hama walang sangit dapat di klasifikasikan sebagai

SEMINAR NASIONAL MASYARAKAT BIODIVERSITAS INDONESIA UNAND PADANG, 23 APRIL Biodiversitas dan Pemanfaatannya untuk Pengendalian Hama

VI. PEMBAHASAN UMUM Strategi pengendalian B. tabaci dengan Perpaduan Pemanfaatan Tanaman Pembatas Pinggir dan Predator

Status Ulat Grayak (Spodoptera litura F.) Sebagai Hama

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

TINJAUAN PUSTAKA. Chilo Sachhariphagus Boj. (Lepidoptera: Crambidae)

commit to users I. PENDAHULUAN

TINJAUAN PUSTAKA. energi pada kumunitasnya. Kedua, predator telah berulang-ulang dipilih sebagai

TINJAUAN PUSTAKA. Biologi Hama Penggerek Buah Kopi (Hypothenemus hampei Ferr.) Menurut Kalshoven (1981) hama Penggerek Buah Kopi ini

TINJAUAN PUSTAKA. Biologi Phragmatoecia castaneae Hubner. (Lepidoptera : Cossidae)

BAHAN DAN METODE. Gambar 1 Persiapan tanaman uji, tanaman G. pictum (kiri) dan tanaman A. gangetica (kanan)

DINAMIKA POPULASI HAMA UTAMA JAGUNG. S. Mas ud, A. Tenrirawe, dan M.S Pabbage Balai Penelitian Tanaman Serealia

BAHAN DAN METODA. Penelitian Kelapa Sawit, Pematang Siantar dengan ketinggian tempat ± 369 m di

Keanekaragaman Serangga Hama dan Musuh Alami pada Lahan Pertanaman Kedelai di Kecamatan Balong-Ponorogo

Wereng coklat, (Nilaparvata lugens Stal) ordo Homoptera famili Delphacidae. Tubuh berwarna coklat kekuningan - coklat tua, berbintik coklat gelap pd

Tetratichus brontispae, PARASITOID HAMA Brontispa longissima

Identifikasi dan Klasifikasi Hama Aphid (Kutu Daun) pada tanaman Kentang

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia. Seperti yang dijelaskan Sudaryanto dan Swastika (2007), bahwa

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

TINJAUAN PUSTAKA. Telur serangga ini berwarna putih, bentuknya mula-mula oval, kemudian

TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi hama penggerek batang berkilat menurut Soma and Ganeshan

TINJAUAN PUSTAKA. Adapun morfologi tanaman tembakau adalah: Tanaman tembakau mempunyai akar tunggang terdapat pula akar-akar serabut

Kemampuan Pemangsaan Menochilus sexmaculatus F. (Coleoptera: Coccinellidae) terhadap Rhopalosiphum maidis Fitch (Homoptera: Aphididae)

II. TINJAUAN PUSTAKA. Padi (Oryza sativa L.) tergolong ke dalam Famili Poaceae, Sub- family

PENDAHULUAN. Tanaman kelapa sawit (Elaeis guinensis Jacg) berasal dari Nigeria, Afrika

HAMA KUMBANG BIBIT Plesispa reichei PADA TANAMAN KELAPA. Amini Kanthi Rahayu, SP. POPT Ahli Pertama

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Kalshoven (1981), Setothosea asigna di klasifikasikan sebagai

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Kalshoven (1981) biologi hama ini adalah : Setelah telur diletakkan di dalam bekas gerekan, lalu ditutupi dengan suatu zat

Hama Kedelai dan Kacang Hijau

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

TINJAUAN PUSTAKA. antara telur dan tertutup dengan selaput. Telur mempunyai ukuran

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. Semua ilmu pengetahuan sesungguhnya bersumber dari Al Qur an, karena

DAFTAR ISI. HALAMAN JUDUL HALAMAN PENGESAHAN PERNYATAAN PRAKATA v

TINJAUAN PUSTAKA. 1. Chilo sacchariphagus Boj. (Lepioptera: Crambidae) Bentuk telur jorong dan sangat pipih, diletakkan dalam 2-3 baris tersusun

TINJAUAN PUSTAKA. (Ostrinia furnacalis) diklasifikasikan sebagai berikut:

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Biocontrol, Divisi Research and

I. TINJAUAN PUSTAKA. Setothosea asigna, Setora nitens, Setothosea bisura, Darna diducta, dan, Darna

HASIL DAN PEMBAHASAN Gejala Parasitisasi

Hercules si Perusak Tanaman Pala dan Cengkeh

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu Penelitian

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian Pengambilan Data Mikrohabitat Belalang pada

TINJAUAN PUSTAKA. imago memproduksi telur selama ± 3-5 bulan dengan jumlah telur butir.

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Kalshoven (1981), klasifikasi S. inferens adalah sebagai berikut:

TINJAUAN PUSTAKA. 1. Biologi Sitophilus oryzae L. (Coleoptera: Curculionidae)

Uji Parasitasi Tetrastichus brontispae terhadap Pupa Brontispae Di Laboratorium

II. TINJAUAN PUSTAKA

Manfaat NPV Mengendalikan Ulat Grayak (Spodoptera litura F.)

TINJAUAN PUSTAKA. Serangga Hypothenemus hampei Ferr. (Coleoptera : Scolytidae). Penggerek buah kopi (PBKo, Hypothenemus hampei) merupakan serangga

II. TINJAUAN PUSTAKA Morfologi dan Biologi Kutu Perisai Aulacaspis tegalensis

TINJAUAN PUSTAKA. buku pertama di atas pangkal batang. Akar seminal ini tumbuh pada saat biji

PENDAHULUAN. ke Indonesia pada tahun 1848 yang ditanam di Kebun Raya Bogor. Perkebunan

TINJAUAN PUSTAKA. Parasitoid

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN

PENYEBAB LUBANG HITAM BUAH KOPI. Oleh : Ayu Endah Anugrahini, SP BBPPTP Surabaya

TINJAUAN PUSTAKA. Siklus hidup S. litura berkisar antara hari (lama stadium telur 2 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

AGROTEKNOLOGI TANAMAN LEGUM (AGR62) TEKNOLOGI PENGELOLAAN JASAD PENGGANGGU DALAM BUDIDAYA KEDELAI (LANJUTAN)

Tabel 4.1. Kondisi Rata-Rata Cuaca Selama Penelitian Di Dataran Rendah Suhu Udara Minimum ( o C)

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Metode Penelitian Penyediaan Koloni Lalat Puru C. connexa untuk Penelitian Lapangan

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kelompok serangga herbivora, yaitu: (1) monofag, yaitu tanaman inangnya hanya

I. PENDAHULUAN. hama dapat berupa penurunan jumlah produksi dan penurunan mutu produksi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

HASIL DAN PEMBAHASAN Perkembangan Pradewasa dan Imago

Transkripsi:

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Perkembangan Populasi Rhopalosiphum maidis Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kutu daun R. maidis mulai menyerang tanaman jagung dan membentuk koloni sejak tanaman berumur 2 minggu setelah tanam (MST). Namun, pada saat tanaman berumur 4 MST (Gambar 1) populasi R. maidis mengalami penurunan. Hal ini disebabkan oleh curah hujan yang cukup tinggi pada minggu tersebut, sehingga kutu daun yang berada di permukaan daun ikut tersapu oleh air hujan dan mati. Pada saat tanaman berumur 5 MST populasi kutu daun mengalami peningkatan kembali. Populasi R. maidis mencapai puncaknya pada saat tanaman berumur 7 MST, yaitu saat tanaman memasuki fase generatif yang ditandai dengan munculnya bunga jantan dan bunga betina pada tajuk tanaman. Kerapatan populasi R. maidis saat 7 MST mencapai rata-rata sebesar 316,63 ekor kutu daun. Setelah mencapai puncak, populasi R. maidis mengalami penurunan kembali pada saat tanaman berumur 8 MST, yaitu mencapai rata-rata sebesar 190,77 ekor. Penurunan populasi kutu daun ini terjadi hingga tanaman mencapai umur 10 MST, yaitu saat ketersediaan makanan yang sesuai di pertanaman tidak mencukupi.

Gambar 1. Perkembangan populasi Rhopalosiphum maidis pada tanaman 12 jagung Kutu daun R. maidis makan dengan cara menusukkan stiletnya dan menghisap cairan tanaman di bagian tanaman yang lunak dan mengandung banyak sumber makanan, sehingga saat bagian tanaman yang lunak mulai mengering dan tidak cukup tersedia R. maidis dewasa akan berpindah ke pertanaman lainnya (Akhtar 2004). Hal ini merupakan salah satu penyebab menurunnya populasi kutu daun R. maidis pada tajuk tanaman jagung. Peristiwa ini juga terjadi pada penelitian yang dilakukan di Pakistan. Populasi kutu daun mulai muncul saat tanaman berumur 4 MST dan terus meningkat hingga mencapai puncak pada umur 11 MST. Selanjutnya populasi kutu daun semakin menurun hingga tanaman berumur 13 MST. Populasi kutu daun di pertanaman jagung dipengaruhi oleh curah hujan, musuh alami, dan ketersediaan makanan yang sesuai. Ketika tanaman memasuki fase bibit, sumber makanan kutu daun tersedia dalam jumlah mencukupi sehingga dapat berkembang biak dengan baik. Setelah mencapai puncak populasinya kemudian menurun karena keterbatasan makanan dan sebagian imago kutu daun membentuk sayap dan terbang ke pertanaman lain yang menyediakan sumber makanan lebih sesuai dan jumlahnya mencukupi (Kalshoven 1981). Ambang ekonomi kutu daun umumnya diukur berdasarkan populasi saat tanaman memasuki fase generatif, yaitu mencapai 50 400 kutu daun/ tanaman (Gray 1997). 4.2 Komposisi Rhopalosiphum maidis pada Tajuk Tanaman Hasil pengamatan menunjukkan bahwa infestasi kutu daun R. maidis pada tanaman jagung mulai terjadi pada umur tanaman 2 MST. Pada saat itu, populasi nimfa lebih banyak ditemukan daripada populasi imago bersayap, yaitu 80% nimfa dan 20% imago bersayap (Tabel 1). Pada umur tanaman 3 MST kutu daun yang ditemukan terdiri dari nimfa, imago bersayap dan imago tidak bersayap. Imago tidak bersayap yang muncul diduga berasal dari nimfa yang ditemukan pada pengamatan sebelumnya. Nimfa-nimfa ini berasal dari keturunan imago bersayap yang menginfestasi tanaman pada umur 2 MST. Perkembangan nimfa sampai menjadi imago memerlukan waktu rata-rata 4 6 hari (Bayhan 2009).

13 Tabel 1. Komposisi nimfa, imago bersayap, dan imago tidak bersayap R. maidis selama pertumbuhan tanaman jagung Umur tanaman Komposisi populasi R. maidis (%) (minggu setelah tanam/mst) Nimfa Imago bersayap Imago tidak bersayap 2 80,00 20,00 0,00 3 77,29 16,33 6,37 4 92,16 0,00 7,84 5 89,25 3,99 6,76 6 54,67 2,84 42,49 7 46,39 0,62 52,99 8 83,57 1,45 14,98 9 84,62 1,59 13,79 10 82,62 0,26 17,12 Pengamatan pada umur tanaman 4 MST tidak menemukan imago bersayap sedangkan komposisi nimfa dan imago tidak bersayap cukup tinggi (Tabel 1), hal ini diduga terjadi karena imago bersayap hasil imigrasi telah mati. Beberapa imago bersayap R. maidis ditemukan mati dan terperangkap pada jaring laba-laba dalam keadaan mati. Komposisi nimfa mengalami penurunan terutama pada umur tanaman 6 dan 7 MST, masing-masing 54,67% dan 46,39%, sebaliknya imago tidak bersayap meningkat masing-masing mencapai 42,49% dan 52,99%. Pengamatan selanjutnya pada umur tanaman 8, 9 dan 10 MST menunjukkan komposisi nimfa meningkat kembali, diduga peningkatan ini terjadi karena adanya keturunan dari imago tidak bersayap yang banyak ditemukan pada pengamatan 6 dan 7 MST. Pada umur tanaman 9 MST, komposisi populasi imago bersayap tampak rendah bahkan semakin rendah pada 10 MST. Hal ini diduga karena imago bersayap melakukan migrasi ke pertanaman lain yang masih menyediakan sumber makanan yang sesuai. Penelitian Akhtar (2004) di Pakistan juga menunjukkan bahwa populasi nimfa lebih banyak mendominasi populasi kutu daun R. maidis sejak fase bibit hingga fase generatif.

14 4.3 Persebaran Rhopalosiphum maidis pada Tajuk Tanaman Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pada fase bibit dan fase vegetatif semua kutu daun atau 100% populasi kutu daun ditemukan pada bagian daun. Koloni R. maidis banyak ditemukan pada permukaan daun bagian bawah (abaksial) yang merupakan daun tua. Menurut Gonzales et al (2001), rata-rata pertumbuhan populasi R. maidis pada daun muda lebih rendah dibandingkan pada daun tua. Hal ini disebabkan adanya faktor non-nutrisional pada daun muda. Senyawa hidroxamid acid merupakan salah satu senyawa metabolit primer yang banyak terdapat pada daun muda. Senyawa tersebut berdampak negatif terhadap perkembangan populasi R. maidis, sehingga populasinya pada daun tua akan lebih banyak dibandingkan dengan daun muda. Persebaran populasi R. maidis pada fase generatif lebih luas, karena tanaman memiliki lebih banyak variasi bagian tanaman dibandingkan fase bibit dan fase vegetatif. Pada fase generatif, populasi R. maidis tersebar di bagian daun, pelepah, bunga jantan, dan bunga betina. Persentase populasi R. maidis saat tanaman berumur 7 8 MST paling banyak terdapat pada bagian bunga jantan (Tabel 2), yaitu masing-masing sebesar 41,18% dan 47,96%. Kutu daun R. maidis menghisap cairan yang berada pada malai bunga (tassel) dan membentuk koloni. Namun, setelah tanaman berumur 9 10 MST populasi R. maidis lebih banyak ditemukan pada bagian daun dan tongkol jagung. Pengamatan pada tongkol menemukan banyak R. maidis bersembunyi di dalam lapisan kelobot jagung.

15 Fase pertumbuhan Tabel 2. Persebaran R. maidis pada tanaman jagung menurut fase pertumbuhan tanaman Umur tanaman Persebaran R. maidis (%) Daun Pelepah Bunga jantan Tongkol Bibit Vegetatif Generatif 2 MST 100 - - - 3 MST 100 - - - 4 MST 100 0 - - 5 MST 100 0 - - 6 MST 100 0 - - 7 MST 38,17 5,16 41,18 15,49 8 MST 39,40 2,92 47,96 9,72 9 MST 47,83 1,73 13,46 36,98 10 MST 4,21 0,03 0,03 95,73 4.4 Hubungan antara R. maidis dan Musuh Alaminya Berdasarkan hasil pengamatan, musuh alami mulai ditemukan pada umur tanaman 5 MST, yaitu pada saat populasi R. maidis mulai meningkat. Omkar dan Bind dalam Tobing dan Nasution (2007) menyatakan bahwa semakin tinggi populasi mangsanya, maka semakin tinggi pula populasi predator di pertanaman. Tingginya kelimpahan musuh alami di pertanaman jagung menyebabkan populasi R. maidis menurun. Hal ini ditunjukkan dengan menurunnya rata-rata populasi R. maidis sebesar 39,75% pada tanaman jagung umur 8 MST, yaitu dari 316,63 ekor kutu daun berkurang menjadi 190,77 ekor (Gambar 2). Populasi kutu daun terus mengalami penurunan hingga tanaman jagung berumur 10 MST. Sedangkan kelimpahan musuh alami masih terus meningkat hingga tanaman berumur 9 MST. Pada umur tanaman 10 MST populasi R. maidis mulai berkurang (Gambar 2), sehingga kelimpahan musuh alami juga mengalami penurunan. Hal ini dikarenakan ketersediaan mangsa bagi predator berkurang, sehingga predator pergi ke tempat lain yang menyediakan sumber makanan dalam jumlah yang lebih banyak. Kumbang Coccinellidae lebih banyak ditemukan sebagai musuh alami kutu daun pada tajuk tanaman jagung dibandingkan Chrysopidae dan Syrphidae. Menurut Irshad (2001), kombinasi 2 jenis atau lebih predator dapat menambah rata-rata individu kutu daun yang dimangsa, dan berdasarkan hasil penelitian di

16 Pakistan, kombinasi Coccinellidae, Chrysopidae, dan Syrphidae merupakan upaya pengendalian terbaik terhadap hama kutu daun. Gambar 2. Hubungan populasi R. maidis dan kelimpahan musuh alaminya

17 4.5 Komposisi Predator pada Tajuk Tanaman Meningkatnya populasi nimfa, imago tidak bersayap, dan imago bersayap R. maidis menyebabkan meningkatnya populasi musuh alami di pertanaman jagung. Berdasarkan hasil pengamatan, musuh alami yang ditemukan pada tajuk tanaman yaitu Coccinellidae, Chrysopidae, dan Syrphidae (Gambar 3). Populasi Coccinellidae nampak lebih tinggi dibandingkan predator jenis lainnya. Menurut Michels dan Matis (2008), pengendalian secara biologi menggunakan Coccinellidae predator cukup berhasil dan dapat menekan populasi kutu daun. Berdasarkan hasil identifikasi, spesies Menochilus sexmaculatus (F.). merupakan spesies terbanyak dari famili Coccinellidae yang ditemukan di lahan pengamatan. Imago M. sexmaculatus memiliki ciri-ciri elitra berwarna merah dengan bintik hitam yang mengapit baris zig-zag. Kumbang ini merupakan predator R. maidis di daerah Jawa dan Sumatra (Kalshoven 1981). Menurut Mari et al (2005) serta Solangi dan Lohar (2005), M. sexmaculatus yang lebih efisien dalam memangsa kutu daun adalah larva instar 3 dan 4 serta imago betina. Imago betina lebih efisien dalam memangsa dibandingkan dengan imago jantan, karena imago betina membutuhkan banyak protein untuk proses peletakan telurnya. Selain M. sexmaculatus, spesies lain yang ditemukan pada tanaman jagung adalah Coccinella septempunctata, Verania discolor dan V. lineata. Larva Syrphidae merupakan salah satu predator R. maidis yang ditemukan pada tajuk tanaman jagung. Larva ditemukan sejak tanaman berumur 7 MST dan banyak ditemukan pada saat tanaman berumur 9 MST (Gambar 3). Berdasarkan hasil identifikasi, Syrphidae yang ditemukan di pertanaman jagung adalah Ischidion scutellaris (F.). Menurut Kalshoven (1981) I. scutellaris merupakan musuh alami dari beberapa jenis kutu daun, salah satu di antaranya adalah kutu daun pada jagung. Larva Syrphidae ditemukan di antara populasi kutu daun. Larva instar awal mula-mula berwarna transparan kemudian berwarna kehijauan pada saat mencapai instar akhir.

18 Musuh alami kutu daun lainnya yang ditemukan pada tajuk tanaman jagung adalah famili Chrysopidae. Telur Chrysopidae ditemukan sejak tanaman berumur 9 MST dan mengalami penurunan pada 10 MST. Selain telur, imago dan larva Chrysopidae juga ditemukan pada umur tanaman 9 MST (Gambar 3). Larva dan imago Chrysopidae merupakan predator kutu daun dan biasa digunakan sebagai agens pengendalian hayati hama kutu daun (El-Serafi et al 2000). Setelah diidentifikasi imago Chrysopidae yang ditemukan adalah Chrysopa flaveola Schn. Gambar 3. Kelimpahan predator pada tajuk tanaman Gambar 4. Komposisi Coccinellidae pada tajuk pertanaman

19 Berdasarkan hasil pengamatan, Coccinellidae yang ditemukan di tajuk tanaman jagung adalah telur, larva, pupa, dan imago (Gambar 4). Imago Coccinellidae mulai ditemukan pada pertanaman jagung umur 5 MST dengan kerapatan populasi masih rendah, yaitu rata-rata 0.01 ekor per tanaman. Pada umur tanaman 7 MST populasi larva mulai meningkat, selanjutnya pada umur tanaman 8 MST populasi telur dan larva meningkat, sedangkan pupa dan imago masih rendah. Pada umur tanaman 9 MST populasi telur, larva, pupa dan imago Coccinellidae mencapai puncaknya. Selanjutnya pada umur tanaman 10 MST populasi Coccinellidae menurun, telur tidak ditemukan dan populasi imago tampak dominan. Stadium telur Coccinellidae berkisar antara 4 5 hari, sedangkan larva terdiri dari 4 instar dengan stadia berkisar 9 14 hari (Tobing dan Nasution 2007).