BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Kelangsungan Hidup Ikan Nila Nirwana Selama Masa Pemeliharaan Perlakuan Kelangsungan Hidup (%)

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

Nike: Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan. Volume 3, Nomor 1, Maret 2015

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengaruh Metode Aklimatisasi Salinitas Terhadap Kelangsungan Hidup Benih Ikan Nila (Oreochromis sp.)

Gambar 2. Grafik Pertumbuhan benih ikan Tagih

PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP IKAN BETOK (Anabas testudineus) YANG DIPELIHARA PADA SALINITAS BERBEDA

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4 HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 3 Data perubahan parameter kualitas air

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Dari hasil pengukuran terhadap beberapa parameter kualitas pada

PENGARUH KUALITAS AIR TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN NILA (Oreochromis sp.) DI KOLAM BETON DAN TERPAL

Tingkat Kelangsungan Hidup

PENGARUH TEKNIK ADAPTASI SALINITAS TERHADAP KELANGSUNGAN HIDUP DAN PERTUMBUHAN BENIH IKAN PATIN, Pangasius sp.

V HASIL DAN PEMBAHASAN. pengamatan tersebut diberikan nilai skor berdasarkan kelompok hari moulting. Nilai

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Laju pertumbuhan rata rata panjang dan berat mutlak lele sangkuriang

Gambar 5. Grafik Pertambahan Bobot Rata-rata Benih Lele Dumbo pada Setiap Periode Pengamatan

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

Sri Yuningsih Noor 1 dan Rano Pakaya Mahasiswa Program Studi Perikanan dan Kelautan. Abstract

PENGGUNAAN AERASI AIR MANCUR (FOINTAIN) DI KOLAM UNTUK PERTUMBUHAN IKAN NILA GIFT(Oreochromis niloticus)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Kelautan dan Perikanan Provinsi Gorontalo, yang melaksanakan tugas operasional

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Grafik pertumbuhan benih C. macropomum yang dihasilkan selama 40 hari

1) Staf Pengajar pada Prog. Studi. Budidaya Perairan, Fakultas

HASIL DAN PEMBAHASAN

METODE PENELITIAN. M 1 V 1 = M 2 V 2 Keterangan : M 1 V 1 M 2 V 2

ADAPTASI FISIOLOGI. Ani Rahmawati Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian UNTIRTA

MANAJEMEN KUALITAS AIR PADA BUDIDAYA IKAN NILA (Orechromis niloticus) DI KOLAM AIR DERAS

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Tingkat Kelangsungan Hidup Benih Ikan Patin Siam

II. TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi lele menurut SNI (2000), adalah sebagai berikut : Kelas : Pisces. Ordo : Ostariophysi. Famili : Clariidae

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

GROUPER FAPERIK ISSN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. disebut arus dan merupakan ciri khas ekosistem sungai (Odum, 1996). dua cara yang berbeda dasar pembagiannya, yaitu :

PEMBERIAN PAKAN YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP BENIH IKAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus) ABSTRAK

Ima Yudha Perwira, S.Pi, MP, M.Sc (Aquatic)

HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil

BAB IV HASIL. Pertumbuhan. Perlakuan A (0%) B (5%) C (10%) D (15%) E (20%) gurame. Pertambahan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ikan patin siam (Pangasius hypopthalmus) merupakan salah satu ikan

I. PENDAHULUAN. Waduk merupakan salah satu bentuk perairan menggenang yang dibuat

BAB II KAJIAN PUSTAKA

PENGGUNAAN TEPUNG DAGING DAN TULANG SEBAGAI ALTERNATIF SUMBER PROTEIN HEWANI PADA PAKAN IKAN NILA MERAH (Oreochromis niloticus) ABSTRAK

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

TINGKAT KELANGSUNGAN HIDUP BENIH IKAN NILA GIFT (Oreochromis niloticus) PADA SALINITAS YANG BERBEDA

[ GROUPER FAPERIK] [Pick the date]

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DA PEMBAHASA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

TINJAUAN PUSTAKA. Biologi ikan koi (Cyprinus carpio) Ikan koi mulai dikembangkan di Jepang sejak tahun1820, tepatnya di kota

PENGGUNAAN TEPUNG ONGGOK SINGKONG YANG DIFERMENTASI DENGAN Rhizopus sp. SEBAGAI BAHAN BAKU PAKAN IKAN NILA MERAH (Oreochromis niloticus) ABSTRAK

HASIL DAN PEMBAHASAN

PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP IKAN NILA (Oreochromis sp.) YANG DIPELIHARA PADA MEDIA BERSALINITAS

Gambar 4. Grafik Peningkatan Bobot Rata-rata Benih Ikan Lele Sangkuriang

TINJAUAN PUSTAKA. Pangasianodon, Spesies Pangasianodon hypopthalmus (Saanin 1984).

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

TOKSISITAS MERKURI (Hg) TERHADAP TINGKAT KELANGSUNGAN HIDUP, PERTUMBUHAN, GAMBARAN DARAH DAN KERUSAKAN PADA IKAN NILA Oreochromis niloticus

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMANFAATAN PAKAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Hasil Laju Pertumbuhan Spesifik Benih Ikan Mas (SGR)

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR /KEPMEN-KP/2017 TENTANG PELEPASAN IKAN GURAMI (OSPHRONEMUS GORAMY) GALUNGGUNG SUPER

Pengaruh Dosis Pakan Tubifex Sp Berbeda terhadap Pertumbuhan Benih Ikan Sidat di Balai Benih Ikan Kota Gorontalo

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

TINJAUAN PUSTAKA. tidak dimiliki oleh sektor lain seperti pertanian. Tidaklah mengherankan jika kemudian

Faktor Pembatas (Limiting Factor) Siti Yuliawati Dosen Fakultas Perikanan Universitas Dharmawangsa Medan 9 April 2018

RESPON ORGANISME AKUATIK TERHADAP VARIABEL LINGKUNGAN (ph, SUHU, KEKERUHAN DAN DETERGEN)

II. BAHAN DAN METODE. Bahan Pakan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Disusun oleh: Arif Misrulloh NIM

PENGARUH KETINGGIAN AIR YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUPBENIH IKAN LELE SANGKURIANG

ZIRAA AH, Volume 42 Nomor 2, Juni 2017 Halaman e - ISSN

GROUPER FAPERIK ISSN

Gambar 4. Kelangsungan Hidup Nilem tiap Perlakuan

Tingkat Penggunaan Limbah Laju Pertumbuhan %

BAB II KAJIAN PUSTAKA

PENGARUH DOSIS PAKAN Tubifex sp YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN BENIH IKAN SIDAT (ANGUILLA MARMORATA) DI BALAI BENIH IKAN KOTA GORONTALO OLEH

Pengaruh Pemberian Pakan Tambahan Terhadap Tingkat Pertumbuhan Benih Ikan Bandeng (Chanos chanos) Pada Saat Pendederan

PENGARUH SUBTITUSI PARSIAL TEPUNG IKAN DENGAN TEPUNG TULANG TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN LELE SANGKURIANG (Clarias gariepinus.

HASIL DAN PEMBAHASAN

II. METODE PENELITIAN. Penelitian telah dilaksanakan pada bulan Juni sampai dengan Agustus

PENDAHULUAN Latar belakang

Pembesaran Benih Ikan Sidat dengan Jenis Pakan yang Berbeda

Jurusan Teknologi Perikanan, Fakultas Ilmu-Ilmu Pertanian, Universitas Negeri Gorontalo

4. HASIL DAN PEMBAHASAN. Kelimpahan Nannochloropsis sp. pada penelitian pendahuluan pada kultivasi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. permukaan dan mengalir secara terus menerus pada arah tertentu. Air sungai. (Sosrodarsono et al., 1994 ; Dhahiyat, 2013).

Pengaruh Ketinggian Air yang Berbeda terhadap Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Benih Ikan Lele Sangkuriang di Balai Benih Ikan Kota Gorontalo

Transkripsi:

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Laju Pertumbuhan Mutlak Nila Gift Laju pertumbuhan rata-rata panjang dan berat mutlak ikan Nila Gift yang dipelihara selama 40 hari, dengan menggunakan tiga perlakuan yakni perlakukan A (salinitas 10 ), perlakuan B (salinitas 20 ) dan perlakuan C (salinitas 30 ) ditampilkan pada Tabel 3 berikut. Tabel 3. Rata-Rata Laju Pertumbuhan Mutlak Ikan Nila Gift setiap perlakuan. Pengukuran Rata-Rata Perlakuan Panjang (cm) Berat (gr) A (10 ) 2,8 3,3 B (20 ) 1,2 2,4 C (30 ) 1,0 1,2 Sumber : Analisis data primer 2013 Perlakuan salinitas yang berbeda pada ikan Nila Gift (Oreochromis niloticus), memberikan pertumbuhan berat mutlak dan panjang mutlak yang berbeda. Pertumbuhan rata-rata berat mutlak pada Perlakuan A (10 ), sebesar 3,3 gram, Perlakuan B (20 ), sebesar 2,4 gram dan Perlakuan C (30 ) sebesar 1,2 gram. Pertumbuhan rata-rata panjang mutlak Perlakuan A (10 ) sebesar 2,8 cm, Perlakuan B (20 ) sebesar 1,2 cm dan untuk pertumbuhan panjang mutlak terendah terjadi pada Perlakuan C (30 ) yaitu 1,0 cm. Hasil pengukuran panjang dan berat untuk masing-masing perlakuan selama penelitian dapat dilihat pada lampiran 9. 26

Perlakuan A salinitas 10 memiliki pertumbuhan rata-rata berat dan panjang mutlak tertinggi kemudian Perlakuan B salinitas 20, sedangkan pemberian salinitas 30, menunjukkan nilai yang terendah. Tingkat salinitas yang diberikan pada setiap perlakuan memberikan dampak terhadap pertumbuhan panjang dan berat ikan Nila Gift (Oreochromis niloticus). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi salinitas menyebabkan pertumbuhan mutlak semakin lambat. Hasil analisis sidik ragam berat ikan Nila Gift (Lampiran 5) menunjukan bahwa salinitas yang berbeda memberikan pengaruh yang berbeda nyata (p < 0,05) terhadap pertumbuhan berat ikan Nila Gift. Selanjutnya untuk mengetahui pengaruh masing masing perlakuan, dilanjutkan hasil uji BNT (Lampiran 5), yang menunjukkan bahwa perlakuan salinitas 10 berbeda sangat nyata terhadap perlakuan salinitas 20 dan perlakuan salinitas 30. Hasil penelitian ini telah menunjukan pula bahwa ikan Nila Gift (Oreochromis niloticus), yang dipelihara pada kondisi salinitas di bawah 20 dalam hal ini perlakuan A memberikan nilai pertumbuhan mutlak lebih tinggi dibanding dengan yang dipelihara pada kondisi salinitas 20 dalam hal ini perlakuan B dan perlakuan C. Semakin tinggi salinitas, maka pertumbuhan mutlaknya menurun sehingga dapat dikatakan bahwa salinitas mempengaruhi pertumbuhan mutlak ikan Nila Gift (Oreochromis niloticus). Menurunnya tingkat pertumbuhan disebabkan ataupun dipengaruhi oleh penyesuaian ikan terhadap tekanan osmotik, sehingga energi banyak terpakai untuk proses osmoregulasi. Menurut Stickney (1979), pengaruh kadar salinitas 27

mempengaruhi tekanan osmotik cairan tubuh ikan, sehingga ikan melakukan penyesuaian atau pengaturan kerja osmotik internalnya agar proses fisiologi di dalam tubuhnya dapat bekerja secara normal kembali. Apabila salinitas semakin tinggi, maka ikan akan berusaha untuk menyesuaikan kondisi homoestatis tubuhnya hingga batas toleransi yang dimilikinya, dan kerja osmotik ini tentu memerlukan sejumlah energi yang lebih tinggi pula. Kenyataan ini dapat dilihat dari penurunan laju pertumbuhan ikan Nila Gift (Oreochromis niloticus) dengan semakin meningkatnya salinitas pada media pemeliharaan. B. Laju Pertumbuhan Harian Laju pertumbuhan harian panjang dan berat mutlak ikan Nila Gift selama 40 hari dengan menggunakan tiga perlakuan yakni Perlakukan A (salinitas 10 ), Perlakuan B (salinitas 20 ) dan Perlakuan C (salinitas 30 ) ditampilkan pada Tabel 4. Tabel 4. Laju Pertumbuhan Harian Ikan Nila Gift (Oreochromis niloticus) selama penelitian. Rata Rata Perlakuan Panjang (cm/hari) Berat (gr/hari) A (salinitas 10 ) 0,070 0,083 B (salinitas 20 ) 0,031 0,060 C (salinitas 30 ) 0,025 0,030 Sumber : Analisis data primer 2013 Laju pertumbuhan harian panjang ikan Nila Gift tertinggi ditunjukkan pada pemberian salinitas 10 yaitu sebesar 0,070 cm/hari, salinitas 20 0,031 cm/hari dan pemberian salinitas 30 sebesar 0,025 cm/hr. 28

Sedangkan laju pertumbuhan berat tubuh harian ikan Nila Gift (Oreochromis niloticus) tertinggi ditunjukkan pada pemberian salinitas 10 dilanjutkan dengan pemberian salinitas 20 dan yang terendah yakni pada pemberian salinitas 30, masing-masing berturut turut 0,083 g/hr; 0,060 g/hr dan 0,030 g/hr. Gambar 3. Laju Pertumbuhan Panjang dan Berat Harian Berdasarkan tabel hasil analisis ragam (Lampiran 5), menunjukkan bahwa perlakuan dengan salinitas yang berbeda memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap pertumbuhan ikan Nila Gift (Oreochromis niloticus). Hasil uji BNT, menunjukkan bahwa perlakuan salinitas 10, berbeda nyata terhadap perlakuan salinitas 20, perlakuan salinitas 30. Hasil penelitian ini agak berbeda dengan hasil penelitian serupa yang dilaporkan oleh Setiawaty & Suprayudi (2003), nilai rata-rata ikan nila merah yang semakin meningkat dengan meningginya kadar salinitas mulai dari 10 dan laju pertumbuhan harian tertinggi yaitu pada salinitas 20, tetapi tidak 29

berbeda dengan ikan yang dipelihara pada media bersalinitas 10 dan 15. Subhidhir (2009), menyatakan bahwa memang masih ada perbedaan hasil penelitian tentang pengaruh salinitas terhadap pertumbuhan ikan nila, dan ada beberapa peneliti yang menyatakan bahwa hal ini tergantung pada strain, pakan dan lingkungan. Dalam penelitian ini menggunakan ikan Nila Gift (Oreochromis niloticus), sementara Setiawaty & Suprayudi (2003) menggunakan ikan nila merah. Khairuman dan Amri (2003), menyatakan laju pertumbuhan tubuh ikan Nila Gift (Oreochromis niloticus) yang dibudidayakan tergantung dari pengaruh fisika dan kimia perairan serta interaksinya. Hal tersebut bisa dilihat dari laju pertumbuhannya yang berbeda-beda, dimana laju pertumbuhan tertinggi terdapat pada perlakuan salinitas 10 dan yang terendah terdapat pada perlakuan salinitas 30, sehingga semakin besar perbedaan tekanan osmose antara tubuh dan lingkungan, semakin banyak energi metabolisme yang dibutuhkan untuk melakukan osmoregulasi sebagai upaya adaptasi. Rendahnya pertumbuhan pada Perlakuan B dan Perlakuan C dipengaruhi oleh faktor fisiologis. Hal ini sesuai dengan pernyataan Holliday (1969), dalam Asmawi (1983), bahwa salah satu aspek fisiologis yang mempengaruhi salinitas adalah tekanan dan konsentrasi osmotik serta konsentrasi ion dalam cairan tubuh. Stiekney (1979) dalam Asmawi (1983), menyatakan pula bahwa semakin tinggi perbedaan antara kondisi salinitas dengan konsentrasi ion dalam darah, maka ikan cenderung akan terganggu pertumbuhannya bahkan mengalami kematian. 30

Energi yang didapat dari pakan sudah mulai dialokasikan pada penyesuaian tekanan osmotik lingkungan hidupnya sehingga pertumbuhan panjang dan bobot ikan Nila Gift (Oreochromis niloticus) menjadi lambat. Proses- proses fisiologi dalam tubuh akan berjalan normal apabila keseimbangan konsentrasi garam cairan tubuh dengan lingkungannya dapat dipelihara dan dijaga melalui proses pengaturan tekanan osmotik cairan tubuh yang layak yang disebut dengan sistem osmoregulasi (Rahardjo, 1980). Perbedaan pertumbuhan pada salinitas yang berbeda diduga terkait dengan tekanan osmotik cairan tubuh dan lingkungan (Akbar, 2012). Selanjutnya dinyatakan bahwa semakin jauh perbedaan tekanan osmotik tubuh dengan tekanan osmotik lingkungan, maka akan semakin banyak beban kerja energi metabolism yang dibutuhkan untuk melakukan osmoregulasi sebagai upaya adaptasi pada lingkungan yang bersalinitas (Smith, 1982; Fujaya, 2004). Menurut Steffens (1989) dalam Fitria (2012), bahwa pemanfaatan energi pakan pada ikan Nila Gift (Oreochromis niloticus), lebih menguntungkan dan ikan Nila Gift (Oreochromis niloticus), dapat tumbuh baik pada media bersalinitas 0-20, dengan memberikan laju pertumbuhan harian, retensi protein dan efesiensi pakan lebih tinggi dibandingkan dengan pemeliharaan disalinitas yang lebih tinggi. C. Kelangsungan Hidup Kelangsungan hidup ikan Nila Gift (Oreochromis niloticus), pada akhir pengamatan dapat dilihat pada Gambar 4 berikut. 31

Gambar 4. Kelangsungan Hidup Ikan Nila Gift Gambar 4 di atas menunjukkan bahwa persentase kelangsungan hidup tertinggi yaitu 100% pada salinitas 10, salinitas 20 sebesar 86,67% dan salinitas 30 dengan persentase kelangsungan hidup terendah yaitu 70%. Rendahnya kelangsung hidup pada salinitas 20 dan 30, disebabkan oleh tingginya salinitas, sehingga ikan tidak mampu beradaptasi dengan baik. Ikan Nila Gift (Oreochromis niloticus), yang mengalami kematian yaitu yang dipelihara pada salinitas 20 dan 30. Pada salinitas 20 jumlah ikan yang mengalami kematian yaitu 4 ekor, satu ekor di aquarium B 1 pada minggu ke-3, satu ekor di aquarium B 2 pada minggu ke-4, dua ekor di aquarium B 3 yaitu satu ekor pada minggu pertama dan satu ekor pada minggu ke-4. Pada perlakuan C dengan salinitas 30, memiliki jumlah kematian ikan tertinggi yaitu 9 ekor. Aquarium C 1 jumlah ikan yang mengalami kematian yaitu tiga ekor, satu ekor pada minggu pertama, satu ekor pada minggu ke-3 dan satu ekor pada minggu ke-6. Aquarium C 2 jumlah ikan yang mengalami kematian yaitu 3 ekor, satu ekor 32

pada minngu ke-2, satu ekor pada minggu ke-4 dan minggu ke-6 sedangkan aquarium C 3 ikan yang mengalami kematian yaitu 3 ekor, satu ekor pada minggu pertama, satu ekor pada minggu ke-3 dan minggu ke-6. Sehingga selama 40 hari jumlah ikan uji yang mengalami kematian adalah 13 ekor. Kelangsungan hidup ikan dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor biotik dan abiotik. Kualitas air merupakan faktor abiotik yang mempengaruhi kelangsungan hidup ikan (Effendi, 1997). Pada salinitas 20 dan 30 ikan nila ada yang mengalami kematian, namun demikian masih dapat dikatakan dapat mentolerir karena tidak semua ikan Nila Gift yang dipelihara pada salinitas 20 dan 30 mengalami kematian. Menurut Marshal, et al (2006), bila tidak semua ikan mengalami kematian, maka dapat dipastikan bahwa daya toleransi pada populasi ikan dalam wadah berbeda-beda, dan diduga karena perbedaan kondisi tubuh saat sebelum dimasukkan dalam media termasuk intensitas parasit, tingkat stress dan lain-lain. Media pemeliharaan yang digunakan diduga ikut mempengaruhi pertumbuhan, karena media pemeliharaan yang digunakan berupa air tenang sehingga dapat berpengaruh pula terhadap kelangsungan hidup ikan uji. Ikan Nila Gift (Oreochromis niloticus) menyukai air tenang dibandingkan air mengalir. Hal demikian sesuai dengan pernyataan dari Rukmana (1997), yang menyatakan bahwa tempat hidup ikan Nila Gift (Oreochromis niloticus) biasanya berada pada perairan yang dangkal dengan arus yang tidak begitu deras. Ikan Nila Gift (Oreochromis niloticus) tidak menyukai hidup di perairan yang bergerak (mengalir), namun jika dilakukan perlakuan terhadap ikan Nila Gift 33

(Oreochromis niloticus) seperti pengadaptasian terhadap lingkungan air yang mengalir, maka ikan Nila Gift (Oreochromis niloticus) juga bisa hidup baik, pada perairan yang mengalir tersebut. Hasil pengamatan kualitas air selama penelitian menunjukkan bahwa kualitas air masih dalam batas yang bisa ditolerir oleh ikan uji yang dipelihara, kisaran suhu yang diperoleh selama penelitian masih sangat baik untuk kehidupan dan pertumbuhan ikan Nila Gift (Oreochromis niloticus), yaitu berada pada kisaran 26-27 0 C. Sesuai dengan pernyataan dari Khairuman dan Amri (2003), bahwa suhu normal untuk pertumbuhan ikan Nila Gift (Oreochromis niloticus) adalah 14-38 0 C dan dapat memijah secara alami pada suhu 22-37 0 C. Suhu optimum untuk pertumbuhan dan perkembangbiakkan ikan Nila Gift (Oreochromis niloticus) adalah 25-30 0 C (Sucipto, 2005 dalam Fitria, 2012). Kualitas perairan memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap survival dan pertumbuhan organisme yang hidup di air (Asmawi, 1983). Selanjutnya Khairuman dan Amri (2003), menyatakan beberapa variabel penting yang berhubungan dengan kualitas air yaitu sifat kimia air (kandungan oksigen terlarut, karbondioksida terlarut, ph dan zat-zat beracun) dan sifat fisika air (suhu, salinitas, kekeruhan dan warna air). Suhu mempengaruhi aktifitas ikan seperti pernapasan dan reproduksi (Hueet, 1970 dalam Fitria, 2012). Suhu air sangat berkaitan erat dengan konsentrasi oksigen terlarut dan laju konsumsi oksigen hewan air. Suhu air media selama penelitian masih berada dalam kisaran yang optimum untuk kehidupan ikan Nila Gift (Oreochromis niloticus). 34

Derajat keasaman atau ph merupakan ukuran konsentrasi ion hidrogen yang menunjukkan suasana asam atau basa suatu perairan. Keasaman (ph) memegang peranan penting dalam budidaya perikanan karena berhubungan dengan kemampuan untuk tumbuh (Fitria, 2012). Faktor yang mempengaruhi ph adalah konsentrasi karbondioksida dan senyawa yang bersifat asam (Lesmana,2004). Kisaran ph yang diperoleh selama penelitian yaitu 7-7,5. Kisaran tersebut masih sangat layak untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan Nila Gift, sesuai dengan pernyataan Arie (1999), bahwa ph yang baik untuk pertumbuhan ikan Nila Gift berkisar 7-8. Nilai tingkat kelangsungan hidup ikan Nila Gift (Oreochromis niloticus) telah memberikan hasil bahwa perlakuan A dan B diatas 80%, sehingga dapat dikatakan baik. 35