FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KELENGKAPAN IMUNISASI DASAR PADA ANAK 1-2 TAHUN DI KELURAHAN BENTENG WILAYAH KERJA PUSKESMAS BENTENG KOTA SUKABUMI Eka Fauzia Laila ABSTRAK AKB dan AKABA di Indonesia masih tinggi dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya. Diperkirakan 18 bayi dan 24 balita di Indonesia meninggal dunia setiap jamnya. Salah satu program pemerintah dalam mencegah dan menurunkan angka kematian bayi dan anak adalah dengan imunisasi. Indonesia sudah menjalankan program imunisasi sejak tahun 1977 pemerintah menargetkan semua desa dan kelurahan mencapai UCI 100 persen tahun 2014 namun pada kenyataannya sampai sekarang target tersebut belum tercapai, di kelurahan Benteng target imunisasi pada tahun 2011 baru mencapai 50,9 persen ini merupakan cakupan terendah diseluruh kelurahan yang ada di Sukabumi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kelengkapan imunisasi dasar pada anak 1-2 tahun di Kelurahan Benteng wilayah kerja Puskesmas Benteng Kota Sukabumi. Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasi dengan metode cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu yang mempunyai anak 1-2 tahun yang berada di Kelurahan Benteng Kota Sukabumi yaitu sebanyak 152. Sampel pada penelitian ini dihitung menurut rumus slovin yaitu sebanyak 110 responden dan cara pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah dengan proportionate random sampling dan simple random sampling. Dari hasil penelitian di Kelurahan Benteng, diketahui dari 110 ibu yang memiliki anak usia 1-2 tahun, 54,5 persen berpengetahuan kurang, 46,4 persen memiliki sikap tidak mendukung, 60 persen fasilitas kesehatan tidak mendukung, 42,7 persen peran petugas masih kurang dan 56,4 persen imunisasi dasar tidak lengkap. Hasil uji statistik mengggunakan chi-square didapatkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan, sikap, peran petugas, dan fasilitas kesehatan dengan kelengkapan imunisasi dasar dengan nilai p value 0,000 (< 0,05). Dari hasil penelitian ini perlu di tingkatkan lagi peran petugas kesehatan dalam pedidikan kesehatan khususnya tentang imunisasi sehingga pengetahuan masyarakat akan meningkat, serta perlu dibenahinya fasilitas kesehatan yang memadai. Kata kunci : Pengetahuan, Sikap, Peran Petugas, Fasilitas Kesehatan dan Kelengkapan Imunisasi
PENDAHULUAN AKB dan AKABA di Indonesia masih tinggi dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya. Diperkirakan 18 bayi dan 24 balita di Indonesia meninggal dunia setiap jamnya. Salah satu program pemerintah dalam mencegah dan menurunkan angka kematian bayi dan anak adalah dengan imunisasi. Indonesia sudah menjalankan program imunisasi sejak tahun 1977 pemerintah menargetkan semua desa dan kelurahan mencapai UCI 100 persen tahun 2014 namun pada kenyataannya sampai sekarang target tersebut belum tercapai Hasil Riskesda tahun 2007, menunjukan jumlah anak yang tidak pernah mendapatkan imunisasi terbesar ada di tiga Provinsi di Pulau Jawa yaitu Provinsi Jawa Barat 46.863 anak, Jawa Timur 47.332 anak, dan Banten 28.359 anak serta jumlah anak dengan imunisasi yang tidak lengkap ada di lima Provinsi di Pulau Jawa yaitu Provinsi Jawa Barat 471.281 anak, Jawa Timur 289.040 anak, Jawa Tengah 199.030 anak, Banten 138.428 anak dan Jakarta 102.037 anak. (http : //www.youngstatistician.com, diunduh tanggal 02 November 2012). Cakupan imunisasi di Jawa Barat pada tahun 2010 baru mencapai 77,08 persen (Depkes RI, 2010) sedangkan untuk kota Sukabumi dari laporan rutin cakupan imunisasi Dinas Kesehatan Kota Sukabumi tahun 2011 mencapai 87 persen dan cakupan imunisasi di puskesmas benteng yaitu sebesar 53,1 persen hasil ini merupakan cakupan terendah di seluruh puskesmas yang ada di Kota Sukabumi METODE PENELITIAN Variabel bebas dalam penelitian ini adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan kelengkapan imunisasi yaitu: pengetahuan ibu, sikap, peran petugas kesehatan, fasilitas kesehatan. Variabel tak bebas dalam penelitian ini adalah kelengkapan imunisasi dasar di Kelurahan Benteng wilayah kerja Puskesmas Benteng Kota Sukabumi. Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu yang mempunyai anak usia 1-2 tahun di wilayah kerja Puskesmas Benteng Kota Sukabumi sebanyak 152 responden, dengan ukuran sampel sebesar 110 ibu (dihitung berdasarkan rumus slovin). Tehnik sampling dalam penelitian ini menggunakan proportionate Random Sampling dan simple random sampling. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian korelasional dengan metode analisis chi kuadrat.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian berdasarkan hasil analisis data pada penelitian ini sebagai berikut : 1. Analisa Univariat Tabel 1. Distribusi Frekuensi Pengetahuan, Sikap, Fasilitas Kesehatan, Peran Petugas Kesehatan dan Kelengkapan Imunisasi Dasar Variabel n Presentasi (%) Pengetahuan - Baik - kurang Sikap - Mendukung - Tidak mendukung Fasilitas kesehatan - Mendukung - Tidak mendukung Peran petugas kesehatan - Baik - Kurang Kelengkapan Imunisasi dasar - Lengkap - Tidak lengkap 50 45,5 60 54,5 Total 110 100 59 53,6 51 46,4 Total 110 100 44 40 66 60 Total 110 100 63 47 57,3 42,7 Total 110 100 48 62 43,6 56,4 Total 110 100 Berdasarkan Tabel 1 menunjukan bahwa dari 110 ibu yang memiliki anak usia 1-2 tahun, 54,5% berpengetahuan kurang, Masih banyaknya ibu yang berpengetahuan kurang mungkin dikarenakan sebagian besar ibu adalah lulusan SD yaitu 38,1% ini sesuai dengan teori yang dikemukakan Wied Hary A. dalam Notoatmodjo (2010) menyebutkan bahwa tingkat pendidikan turut pula menentukan mudah tidaknya seseorang menyerap dan memahami pengetahuan yang mereka peroleh, pada umumnya semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin baik pula pengetahuannya. Menurut Budioro dalam Notoatmodjo (2003) Pengetahuan merupakan seluruh kemampuan individu untuk berfikir secara terarah dan efektif, sehingga orang yang mempunyai pengetahuan tinggi akan mudah menyerap informasi, saran dan nasihat begitu pula sebaliknya orang yang berpengetahuan kurang cenderung lama menyerap informasi
sehingga orang yang berpengetahuan rendah kemungkinan besar tidak mengimunisasi anaknya secara lengkap. Hasil penelitian menunjukan ada 46,4% ibu memiliki sikap tidak mendukung terhadap imunisasi, Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek (Notoatmodjo, 2003). Menurut Newcomb seorang ahli psikologi sosial, menyatakan bahwa sikap itu merupakan kesiapan untuk bertindak, orang yang memiliki sikap positif, kecenderungan tindakan adalah mendekati, menyenangi, mengharapkan obyek tertentu, sedangkan dalam sikap negatif terdapat kecenderungan menjauhi, menghindari,membenci, tidak menyukai obyek tertentu (Sarwono, 2000). Hasil penelitian menunjukan menurut ibu bahwa 60% fasilitas kesehatan tidak mendukung, Fasilitas merupakan suatu sarana untuk melancarkan pelaksanaan fungsi (Depdiknas, 1996). Apabila fasilitas baik akan mempengaruhi tingkat kesehatan yang ada, ini terbukti seseorang yang memanfaatkan fasilitas kesehatan secara baik maka akan mempunyai taraf kesehatan yang tinggi (Notoatmodjo, 2003). Hasil penelitian menunjukan ibu mengatakan 42,7% peran petugas masih kurang, Winslow dalam Budioro B.(2002) yang menyebutkan bahwa keberhasilan program kesehatan masyarakat akan tercapai lebih baik bila individu atau kelompok masyarakat dengan kemauan dan kesadarannya sendiri bersedia menerima semua yang diwajibkan kepada mereka. Lebih akan berhasil lagi bila mereka dengan pengetahuan dan pengertian serta sikapnya yang positif merasa ikut bertanggung jawab atas terselenggaranya program tersebut. Hal ini akan dapat dicapai dengan lebih berhasil dan lebih mantap bila didukung peran aktif petugas dalam memberikan penyuluhan. Petugas akan memberikan pelayanan yang terbaik dengan sumber daya yang dimiliki sehingga dapat mempengaruhi kepuasan pasien dan bersedianya untuk kembali kefasilitas kesehatan untuk memperoleh pelayanan berikutnya (DjokoWijono, 2000 : 35-37). Dari hasil penelitian di dapatkan hasil bahwa sebagian besar anak tidak mendapatkan imunisasi dasar secara lengkap yaitu sebanyak 56,4% sedangkan yang mendapatkan imunisasi dasar secara lengkap sebanyak 48 anak atau 43,6% ini terjadi salah satu faktornya adalah masih rendahnya atau kurangnya pengetahuan ibu tentang imunisasi, sesuai dengan teori bahwa Pengetahuan merupakan faktor penting dalam menentukan perilaku seseorang karena pengetahuan dapat menimbulkan perubahan persepsi dan kebiasaan masyarakat. Pengetahuan
yang kurang dapat mengubah persepsi masyarakat tentang penyakit begitu pula tentang imunisasi (Notoatmodjo, 2003) 2. Analisis Bivariat a. Hubungan antara pengetahuan ibu tentang imunisasi dengan kelengkapan imunisasi dasar Tabel 2 Distribusi Frekuensi Hubungan Pengetahuan dengan Kelengkapan Imunisasi Dasar Kelengkapan Imunisasi Dasar jumlah P Pengetahuan Lengkap value Tidak Lengkap F % F % F % Baik 37 74 13 26 50 100 Kurang 11 18 49 82 60 100 jumlah 48 62 110 100 0,000 Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa ibu yang berpengetahuan kurang tidak mengimunisasi anaknya secara lengkap 49 (81,7%), sedangkan ibu yang berpengetahuan baik yang tidak mengimunisasi anak nya secara lengkap hanya 13 (26%) ini sesuai dengan teori Budioro dalam Notoatmodjo (2003) mengatakan bahwa orang yang mempunyai pengetahuan tinggi akan mudah menyerap informasi, saran dan nasihat begitu pula sebaliknya orang yang berpengetahuan kurang cenderung lama menyerap informasi sehingga orang yang berpengetahuan rendah kemungkinan besar tidak mengimunisasi anaknya secara legkap. Dari hasil uji statistik analisa bivariat diperoleh nilai P value = 0,000 berarti H0 ditolak jika P value < 0,05 maka terdapat hubungan antara pengetahuan ibu yang memiliki anak 1-2 tahun tentang imunisasi dasar dengan kelengkapan imunisasi dasar ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Widiastuti Y.P pada penelitiannya yang berjudul Analisis faktor yang berhubungan dengan perilaku ibu dalam memberikan imunisasi dasar kepada bayinya di Desa Banyutowo Kabupaten Kendal didapatkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan perilaku ibu dalam memberikan imunisasi dasar dibuktikan dengan nilai p 0,000 (< 0,05) (http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal di unduh tanggal 02 Januari 2013)
b. Hubungan antara sikap terhadap imunisasi dengan kelengkapan imunisasi dasar Tabel 3 Distribusi Frekuensi Hubungan Sikap Ibu Terhadap Imunisasi Dasar dengan Kelengkapan Imunisasi Dasar Kelengkapan Imunisasi Dasar Sikap Lengkap Tidak jumlah Lengkap F % F % F % Mendukung 36 61 23 39 59 100 Tidak 12 24 39 76 51 100 mendukung Jumlah 48 62 110 100 P value 0,000 Berdasarkan hasil penelitian menunjukan ibu yang mempunyai sikap tidak mendukung terhadap imunisasi dasar sebagian besar tidak mengimunisasi anaknya secara lengkap 39 (76,5%), sedangkan ibu yang mempunyai sikap mendukung terhadap imunisasi hanya 23 (38,9%) yang tidak mengimunisasi anak nya secara lengkap ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Sarwono (2000) orang yang memiliki sikap positif, kecenderungan tindakan adalah mendekati, menyenangi, mengharapkan obyek tertentu, sedangkan dalam sikap negatif terdapat kecenderungan menjauhi, menghindari,membenci, tidak menyukai obyek tertentu Hasil uji statistik analisa bivariat diperoleh nilai P value = 0,000 berarti H0 ditolak jika P value < 0,05 maka terdapat hubungan antara sikap ibu yang memiliki anak 1-2 tahun terhadap imunisasi dasar dengan kelengkapan imunisasi dasar. Penelitian yang dikemukakan Strobino et.al (1996) yang mengemukakan bahwa sikap dan kepercayaan orang tua terhadap imunisasi hanya sedikit memberi efek terhadap imunisasi anaknya. Ada hubungan yang signifikan antara sikap ibu dengan cakupan dasar lengkap imunisasi balita (fatmawati, 2006). Sikap untuk kelengkapan imunisasi di pengaruhi oleh faktor atau pengaruh sosial yang merupakan sumber utama sikap misalnya peran petugas kesehatan yang cukup berhasil dalam melakukan pendidikan kesehatan yang mendorong seseorang untuk berkeyakinan yang positif terhadap imunisasi sehingga sekali keyakinan terbentuk akan melandasi pengetahuan seseorang tentang apa yang diharapkan dari imunisasi, hal ini akan mempunyai dampak positif terhadap kelengkapan
c. Hubungan Antara Peran Petugas Kesehatan Dengan Kelengkapan Imunisasi Dasar Tabel 4 Distribusi Frekuensi Hubungan Peran Petugas Kesehatan Dengan Kelengkapan Imunisasi Dasar Kelengkapan Imunisasi Dasar Peran jumlah Lengkap Tidak Petugas Lengkap F % F % F % Baik 36 57 27 43 63 100 Kurang 12 26 35 74 47 100 Jumlah 48 62 11 100 0 P valu e 0,00 0 Berdasarkan hasil penelitian menunjukan ibu yang mengatakan peran petugas kurang sebagian besar tidak mengimunisasi anaknya secara lengkap yaitu 35 (74,5%), sedangkan ibu yang mengatakan peran petugas baik hanya 27 (42,9%) yang tidak mengimunisasi anak nya secara lengkap ini sesuai teori yang dikemukakan oleh DjokoWijono, (2000) yaitu petugas yang memberikan pelayanan yang terbaik dengan sumber daya yang dimiliki dapat mempengaruhi kepuasan pasien dan bersedianya untuk kembali kefasilitas kesehatan untuk memperoleh pelayanan berikutnya. Sehingga diharapkan ibu mau mengimunisasikan bayinya dengan memberikan atau menjelaskan pentingnya imunisasi. Hasil uji statistik analisa bivariat diperoleh nilai P value = 0,001 berarti H0 ditolak jika P value < 0,05 maka terdapat hubungan antara peran petugas kesehatan dengan kelengkapan imunisasi dasar. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh magdalena (2004) dalam marlia (2006) dipuskesmas Lanjas Barito Utara Kalimantan Tengah Mengenai Faktor yang berhubungan dengan status kelengkapan imunisasi hepatitis B pada Anak, bahwa responden yang mendapatkan pelayanan kesehatan kurang baik merupakan salah satu faktor resiko untuk status imunisasi anaknya tidak lengkap. Hasil penelitian ini di dukung oleh teori yang di kemukakan oleh Effendi dalam Mulati (2009) yang menyatakan peran adalah tingkah laku yang diharapkan oleh seseorang sesuai dengan kedudukan dalam sistem dimana dapat dipengaruhi oleh keadaan sosial yang konstan. Seorang petugas kesehatan mempunyai peran sebagai seorang pendidik, peran ini dilakukan dengan membantu klien dan keluarga dalam meningkatkan tingkat pengetahuan kesehatan
sehingga terjadi perubahan perilaku (www.hyeri_island:jurnal diunduh tanggal 21 Februari 2013) d. Hubungan Antara Ketersediaan Fasilitas Kesehatan Dengan Kelengkapan Imunisasi Dasar Tabel 5 Distribusi Frekuensi Hubungan Fasilitas Kesehatan Dengan Kelengkapan Imunisasi Dasar Kelengkapan Imunisasi Dasar Fasilitas Jumlah P Lengkap Tidak kesehatan value Lengkap F % F % F % Mendukung 35 80 9 20 44 100 Tidak 13 20 53 80 66 100 mendukung 0,000 Jumlah 48 62 110 100 Fasilitas kesehatan dalam hal ini adalah segala sesuatu yang menunjang keberhasilan program imunisasi seperti, adanya media informasi seperti leaflet, poster tentang imunisasi, tersedianya ruang konsultasi dan lain sebagainya Apabila fasilitas baik akan mempengaruhi tingkat kesehatan yang ada, ini terbukti seseorang yang memanfaatkan fasilitas kesehatan secara baik maka akan mempunyai taraf kesehatan yang tinggi (Notoatmodjo, 2003). Berdasarkan hasil penelitian menunjukan ibu yang mengatakan fasilitas kesehatan tidak mendukung sebagian besar tidak mengimunisasi anaknya secara lengkap yaitu 53 (80,3%), sedangkan ibu yang mengatakan fasilitas kesehatan sudah mendukung hanya 9 (20,5%) yang tidak mengimunisasi anak nya secara lengkap. Kalau kita bandingkan dengan kelengkapan imunisasi yang sebagian besar anak belum di imunisasi lengkap yaitu 56,4% maka berbanding lurus karena fasilitas kesehatan yang lengkap akan mengundang ketertarikan ibuibu untuk berkunjung dan memeriksakan anaknya. Hasil uji statistik analisa bivariat diperoleh nilai P value = 0,000 berarti H0 ditolak jika P value < 0,05 maka terdapat hubungan antara fasilitas kesehatan dengan kelengkapan imunisasi dasar hal ini sejalan dengan penelitian Kurniawati yang berjudul beberapa faktor yang berhubungan dengan kelengkapan imunisasi dasar bayi di Desa Mukti Jaya Kabupaten Rokan Hilir Tahun 2004 didapatkan fasilitas tempat pelayanan imunisasi berhubungan secara bermakna dengan kelengkapan imunisasi dasar bayi (p<0,05) ) (http://repository.usu.ac.id/ diunduh tanggal 02 januari 2013)
PENUTUP Kesimpulan Dari hasil penelitian di Kelurahan Benteng, diketahui dari 110 ibu yang memiliki anak usia 1-2 tahun, 54,5 % berpengetahuan kurang, 46,4 % memiliki sikap tidak mendukung, 60 % fasilitas kesehatan tidak mendukung, 42,7 % peran petugas masih kurang dan 56,4 % imunisasi dasar tidak lengkap. Hasil uji statistik mengggunakan chi-square didapatkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan, sikap, peran petugas, dan fasilitas kesehatan dengan kelengkapan imunisasi dasar dengan nilai p value 0,000 (< 0,05). Saran Dari hasil penelitian ini perlu di tingkatkan lagi peran petugas kesehatan dalam pedidikan kesehatan khususnya tentang imunisasi sehingga pengetahuan masyarakat akan meningkat, serta perlu dibenahinya fasilitas kesehatan yang memadai
DAFTAR PUSTAKA Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Rineka Cipta, Jakarta. Baratawidjaja, Karnen Garna. 2002. Imunologi Dasar Edisi 5. Jakarta : Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Budiarto, Eko. 2002. Biostatistika untuk kedokteran dan kesehatan Masyarakat. Jakarta : EGC Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Januari 2009. On The Job Training (OJT) Imunisasi Dasar Bagi Pelaksana Imunisasi/Bidan Jakarta: Direktorat Jenderal PPM & PL Departemen Kesehatan RI. Depkes RI. 2005. Pedoman Teknis Imunisasi Tingkat Puskesmas. Jakarta: Direktorat Jenderal PPM & PL Departemen Kesehatan RI. Depkes RI. 2007. Profil Kesehatan Indonesia 2007. Depkes, Jakarta Depkes RI. 2008. Berikan Imunisasi Dasar Lengkap untuk Melindungi si Buah Hati. Depkes, Jakarta Depkes RI. 2010. Pedoman Kader seri kesehatan anak. Jakarta: Direktorat Jenderal PPM & PL Departemen Kesehatan RI. Dinas Kesehatan Kota Sukabumi, 2011. Laporan Tahunan Imunisasi. Dinas Kesehatan Kota Sukabumi Dino. 2004. Masalah Imunisasi BGC. (http://www.nakita.com, diunduh 16 Maret 2009. Hastono, Sutanto Priyo. 2007, Analisis Data Kesehatan. Depok : FKM UI Hidayat, A. Aziz Alimul. 2007. Metode Penelitian Kebidanan Teknik Analisis Data.Jakarta:Salemba Medika. Notoatmodjo, 2010. Metode penelitian kesehatan Jakarta : PT Rineka Cipta. Notoatmodjo, Soekidji. 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat Prinsip-prinsip Dasar. Rineka Cipta, Jakarta Notoatmodjo, Soekidjo. 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Rineka Cipta, Jakarta. Nursalam. 2003. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan, Salemba Medika, Jakarta Poerwadarminta, 2007. Kamus umum bahasa indonesia Edisi, 3, cetak ulang. Penerbit, Balai Pustaka
Proverawati, Atikah. 2010. Imunisasi dan Vaksinasi. Nuha offist, Yogyakarta. Purwanto. 2000. Faktor-faktor yang mempengaruhi kelengkapan imunisasi. (http://www.worpress.com, diakses 18 Mei 2009). Puskesmas Benteng. 2011. Buku Laporan Tahunan Puskesmas Benteng. Ranuh, 2008. Pedoman Imunisasi di Indonesia. Ikatan Dokter Anak Indonesia, Jakarta Singarimbun, M, Metode Penelitian Survey, LP3ES, Jakarta, 2000 Sudigdo, 2008 Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis (Edisi 4), Penerbit: Sagung Seto, Sugiyono,2005, Metode Penelitian Kualitatif, Bandung: Alfabeta Sugiyono. 2007. Biostatistika Untuk Penelitian. Bandung:CV Alfabeta Suliha, dkk. 2001. Pendidikan Kesehatan dalam Keperawatan. Jakarta: EGC www.hyeri_island:jurnal diunduh tanggal 21 Februari 2013 www.idai.or.id/release Simposium: Imunisasi, Investasi Kesehatan Masa Depan pada tanggal 19 November 2010 www.kesehatan.kompas.com, diunduh tanggal 02 November 2012 www.kompas.com/read/2012/07/12 diunduh tanggal 27 Oktober 2012 www.youngstatistician.com, diunduh tanggal 02 November 2012 http://health.kompas.com/read/jutaan.bayi.tidak.terimunisasi.lengkap http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal di unduh tanggal 02 Januari 2013 http://kgm.bappenas.go.id Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), 2010 http://repository.usu.ac.id/ diunduh tanggal 02 januari 2013 http://unisys.uii.ac.id/uii-perpus/koleksidetail.asp Fatimah, Wahyudin dan Fauziah ; 2009 Langkah mudah membuat usulan proposal KTI dan laporan hasil KTI