BAB V PENUTUP 1.1 Kesimpulan

dokumen-dokumen yang mirip
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB V PENUTUP Kesimpulan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. informasi keuangan yang dibutuhkan oleh suatu organisasi. Informasi tersebut

BAB V PENUTUP. 5.1 Kesimpulan

BAB III METODE PENELITIAN. Untuk memperoleh data lapangan guna. penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan

BAB I PENDAHULUAN. Setiap organisasi baik itu organisasi profit. maupun non profit memiliki kebijakan mutasi.

BAB V PENUTUP. Bab ini menyajikan kesimpulan dari hasil. penelitian yang telah dilakukan. Kesimpulan yang. diambil kemudian menjadi dasar penyusunan

PENDETA DAN PENILAIAN KINERJA (Suatu Studi Terhadap Respons Pendeta di Gereja Masehi Injili di Timor Terhadap Penilaian Kinerja Pendeta GMIT)

3. Sistem Rekrutmen Pengerja Gereja (vikaris) Gereja Kristen Sumba

BAB I PENDAHULUAN. Upaya untuk menilai sukses tidaknya pemimpin itu. dilakukan antara lain dengan mengamati dan mencatat

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penulisan

BAB I PENDAHULUAN A. PERMASALAHAN

ANGGARAN DASAR PERSEKUTUAN PEMUDA KRISTIYASA GKPB BAB I NAMA, WAKTU DAN KEDUDUKAN

BAB I PENDAHULUAN. Perusahaan sebagai suatu organisasi mempunyai tujuan yang ingin dicapai,

BAB I PENDAHULUAN. Bab ini menjelaskan alasan atau dilakukannya penelitian ini serta

BAB V KESIMPULAN DAN IMPLIKASI

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang dipakai adalah penelitian. deskriptif dengan pendekatan kualitatif untuk

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Permasalahan. Pelayanan kepada anak dan remaja di gereja adalah suatu bidang

BAB V PENUTUP. diberikan saran penulis berupa usulan dan saran bagi GMIT serta pendeta weekend.

BAB V PENUTUP 5.1. Kesimpulan

Lampiran 1 PEDOMAN WAWANCARA

BAB I PENDAHULUAN A. PERMASALAHAN

BAB I PENDAHULUAN. Dalam bab I ini, penulis menjelaskan latar belakang terjadinya penulisan Disiplin

BAB V SIMPULAN, KETERBATASAN PENELITIAN DAN SARAN. menganalisis pengaruh kepuasan kerja dan keadilan kompensasi terhadap

BAB V : KEPEMIMPINAN GEREJAWI

I.1. PERMASALAHAN I.1.1.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 4.1 Kebijakan mutasi tenaga pendeta di GPM. Sesuai dengan data vikariat tahun 2013 yang

BAB V PENUTUP. 5.1 Kesimpulan

BAB 1 PENDAHULUAN. Persaingan antara berbagai macam perusahaan retail membuat manajemen

BAB 1 PENDAHULUAN. Dalam era globalisasi saat ini, banyak orang. yang menulis dan meneliti tentang sumber daya

Perkembangan Gereja Protestan di Indonesia berjalan seiring. dengan berbagai gejolak politik yang terjadi sejak pertama kali

BAB 1 PENDAHULUAN. Perjamuan kudus merupakan perintah Tuhan sendiri, seperti terdapat dalam Matius 26:26-29, Mar

BAB I PENDAHULUAN. 1986, h Afra Siauwarjaya, Membangun Gereja Indonesia 2: Katekese Umat dalam Pembangunan Gereja

BAB I KETENTUAN UMUM. Pasal 1 PENJELASAN ISTILAH

PERATURAN BANUA NIHA KERISO PROTESTAN (BNKP) NOMOR 04/BPMS-BNKP/2008

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH

Bab I Pendahuluan. A. Latar Belakang Permasalahan. Gereja Kristen Protestan di Bali, yang dalam penulisan ini selanjutnya disebut

5.3.4 Persepsi Responden terhadap Pengembangan Karir di PTBA Analisis Hubungan Sistem Penilaian Kinerja dan Pengembangan Karir

BAB I PENDAHULUAN UKDW menunjukkan, bahwa setelah 63 tahun menjadi Gereja mandiri, kini GMIT memiliki

BAB I PENDAHULUAN. tujuan perusahaan karena masalah yang akhirnya menentukan dan. memprediksikan keberhasilan atau kegagalan suatu kebijakan, strategi

Krisen Indonesia, 2009), hlm. 147

BAB I. Pendahuluan. Bab pendahuluan ini menjelaskan pemikiran peneliti terkait pertanyaan

BAB V SIMPULAN, KETERBATASAN, DAN IMPLIKASI

BAB I PENDAHULUAN. 8 Tgl 11 Agustus 1949 dengan jumlah jemaat sebanyak 83 jemaat yang

PENGARUH KEPEMIMPINAN DAN LINGKUNGAN KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN PADA PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM KABUPATEN SUKOHARJO

BAB I PENDAHULUAN. utama dalam perusahaan. Keberadaannya di dalam sistem kerja dengan segala

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. 1.1.a Pengertian Emeritasi Secara Umum

BAB I PENDAHULUAN. Pengertian kinerja atau performance merupakan gambaran mengenai

BAB 1 PENDAHULUAN. Kepmendagri memuat pedoman penyusunan rancangan APBD yang. dilaksanakan oleh Tim Anggaran Eksekutif bersama-sama Unit Organisasi

Perencanaan Strategis Panitia Ad.hoc Tata Gereja GKSBS

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Wirawan (2009: 5) kinerja merupakan keluaran yang dihasilkan

Bab I Pendahuluan UKDW

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. Manusia dalam suatu organisasi/instansi dipandang sebagi sumber daya.

BAB II MANAJEMEN ASSET GEREJA. Manajemen adalah bagaimana mencapai tujuan organisasi dengan

UKDW BAB I PENDAHULUAN 1.1 PERMASALAHAN Latar Belakang Masalah

UKDW BAB I PENDAHULUAN

BAB V PENUTUP. beberepa saran berdasarkan hasil analisa dalam bab sebelumnya.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I

BAB I PENDAHULUAN. penting. Salah satu pemicu keberhasilan perusahaan dikarenakan oleh sumber

VI. KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN 134

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. besar pengaruh kepemimpinan, lingkungan kerja, motivasi kepuasan kerja

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi (S.E.) Pada Program Studi Manajemen OLEH :

BAB I PENDAHULUAN. latar belakang pendidikan, usia, jenis kelamin yang heterogen yang dibawa. mendukung tercapainya tujuan organisasi.

PENGARUH KOMPENSASI DAN KOMUNIKASI TERHADAP PRESTASI KERJA KARYAWAN PADA PERUSAHAAN MEUBEL CV. MUGIHARJO BOYOLALI

BAB I PENDAHULUAN. harus mengembangkan lebih dahulu perencanaan strategis. Melalui perencanaan

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

BAB I PENDAHULUAN. sumber daya manusia adalah mengenai penempatan kerja karyawan. Menurut

BAB I PENDAHULUAN. terdapat beberapa komponen yang saling terkait. Adapun komponenkomponen

BAB I PENDAHULUAN. tersebut salah satunya adalah sumber daya manusia. Tumbuh lebih baik, bahkan

BAB I PENDAHULUAN. perubahan yang sedang berlangsung. Terbukti perusahaan yang bertahan adalah

BAB VI SIMPULAN, KETERBATASAN, IMPLIKASI DAN SARAN. Bab 6 ini akan membahas mengenai simpulan, keterbatasan, implikasi dan saran pada

BAB I PENDAHULUAN. Pada dasarnya memiliki kinerja yang baik merupakan tanggung jawab

PERATURAN HURIA KRISTEN INDONESIA (HKI)

Spiritualitas Penatalayanan

BAB V KESIMPULAN DAN IMPLIKASI

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Transkripsi:

BAB V PENUTUP Setelah melalui tahap pembahasan dan analisis, maka selanjutnya pada bab ini akan dipaparkan mengenai kesimpulan yang dapat diambil berdasarkan analisis dan pembahasan yang telah dilakukan pada bab sebelumnya. Selain itu pada bab ini juga akan diberikan implikasi teoritis maupun implikasi manejerial dari pokok penelitian yang telah dilakukan serta keterbatasan dalam penelitian ini. 1.1 Kesimpulan Dari hasil penelitian yang telah dilakukan maka kesimpulan yang dapat diambil adalah : 1. Respons pendeta terhadap pemberlakuan penilaian kinerja pendeta di GMIT berbeda-beda dan cenderung tidak setuju terhadap keputusan tersebut. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain : Adanya perbedaan pemahaman antara organisasi dengan pendeta terhadap tujuan dan manfaat diberlakukannya penilaian kinerja pendeta, sehingga menyebabkan adanya bias persepsi. Kurangnya keterlibatan pendeta sebagai karyawan yang dinilai dalam proses merancang sistem penilaian kinerja pendeta sehingga pendeta cenderung menolak hasil keputusan tersebut.

Sosialisasi yang dilakukan kepada pendeta tentang pedoman penilaian kinerja tidak optimal, hal ini menyebabkan kecendrungan pendeta tidak mengetahui dan memahami tentang bentuk dan isi dari pedoman penilain kinerja yang telah diputuskan. Tujuan penilaian kinerja dianggap tidak sejalan dengan prinsip presbiterian-sinodal sebagai asas kerja GMIT dan peraturan GMIT tentang karyawan, khususnya yang berhubungan dengan jabatan, karyawan, gaji dan mutasi. Untuk itu perlu ada kajian ulang terhadap pedoman penilaian kinerja agar sejalan dngan prinsip organisasi GMIT dan berbagai perturan pokok yang telah ditetapkan oleh GMIT. 2. Respons pendeta terhadap aspek-aspek penilaian, indikator penilaian dan standar penilaian sebagaimana yang terdapat dalam pedoman penilaian kinerja, disimpulkan sebagai berikut : Pada dasarnya para pendeta sepakat bahwa aspek-aspek seperti kesetiaan, prestasi kerja dan tanggungjawab, disiplin, ketaatan, kerjasama, prakarsa dan kepemimpinan penting dimiliki oleh seorang pendeta, dalam melaksanakan tugas-tugas organisasi maupun tugas pelayan kepada jemaat. Pengembangan kinerja pendeta dalam hubungan dengan aspek-aspek tersebut

perlu untuk diperhatikan baik oleh organisasi maupun oleh pendeta yang bersangkutan. Dalam hubungan dengan indikator-indikator dan standar penilaian sebagaimana yang terdapat dalam pedoman penilaian kinerja pendeta, terdapat kecendrungan menolak untuk diberlakukan, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yaitu : indikator yang ditetapkan sangat menekankan pada aspek kuantitatif sehingga kurang memperhatikan kualitas pelayanan pendeta; penilaian kinerja pendeta dianggap bersifat profit oriented dimana sangat menekankan aspek pendeta sebagai karyawan dibanding pendeta sebagai pelayan jemaat. Dalam pandangan ini, pendeta dinilai berdasarkan apa yang dikerjakan untuk memenuhi tujuan organisasi. Mekanisme penilaian merupakan fakor yang perlu diperhatikan. Hasil penelitian memberikan gambaran bahwa penilai dan prosedur penilaian sebagaimana yang ditetapkan dalam pedoman penilaian kinerja pendeta mendapat respons negatif dari para pendeta. Sistem ini dianggap akan menumbuhkan hirarki kepaemimpinan di GMIT bahkan hanya untuk mengokohkan kekuasaan pada level tertentu. Sistem ini perlu dikaji secara baik agar dalam penerapannya tidak bertentangan dengan prinsip organisasi GMIT.

1.2 Implikasi Teoritis Penilaian Kinerja karyawan secara teori sebagaimana yang di kemukakan oleh Simamora (2006), Soeprihanto (2001), maupun Dessler (2010) memiliki tujuan yang positif baik secara administratif maupun untuk pengembangan karyawan. Hal ini telah diterapkan pada organisasi-organisasi profit dan organisasi non profit yang bersifat sekuler, namun penerapan penilaian kinerja terhadap karyawan di organisasi gereja belum banyak diterapkan. Oleh karena itu GMIT dalam menetapkan sistem penilaian kinerja terhadap pendeta perlu menentukan tujuan dan manfaat berdasarkan prinsip organisasi dan peraturan-peraturan yang berlaku di GMIT. GMIT juga perlu untuk menguji tingkat validitas dari pedomanan penilaian kinerja pendeta, baik terhadap aspek-aspek penilaian, indikator penilaian, standar penilaian yang digunakan sebelum diberlakukan. GMIT sebagai organisasi perlu membangun pemahaman yang sama dengan karyawan tentang hal-hal yang berhubungan dengan penilaian kinerja pendeta, yaitu : tujuan dan penilaian, aspek-aspek penilaian, indakator penilaian, standard penilaian dan metode penilaian yang digunakan dan periode penilaian yang dipakai. Hal ini penting untuk meminimalisir adanya bias perspektif dari karyawan terhadap sistem penilaian kinerja. Rivai, et al. (2005) menekankan bahwa agar penilaian kinerja tidak bias dan dapat mencapai sasaran sesuai dengan

tujuan organisasi, jika disepakati dan diketahui oleh karyawan tentang ruang lingkup penilaian tentang siapa yang harus dinilai, siapa penilai, apa yang dinilai, kapan dilakukan penilaian, dimana penilaian dilakukan dan bagaimana penilaian tersebut dilakukan. GMIT bersama-sama dengan pendeta perlu menentukan jawaban yang sama terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut. 1.3 Implikasi Terapan Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, maka beberapa hal dibawah ini dapat menjadi bahan pertimbangan bagi sinode GMIT berkenaan dengan pemberlakuan keputusan penilaian kinerja terhadap pendeta : GMIT perlu menentukan orientasi penilaian kinerja secara tepat dengan mempertimbangkan visi dan misi GMIT dalam pelayanan. GMIT perlu membuat kajian ulang terhadap tujuan dan manfaat dari pedoman penilaian kinerja pendeta, berdasarkan analisa jabatan, prinsip kelembagaan GMIT dan berbagai peraturan pokok yang berhubungan dengan tugas, wewenang, hak dan kewajiban seorang pendeta agar tidak bertentangan. Indikator penilaian dan standar penilaian yang ditetapkan perlu dianalisa dengan baik, dan mendapat masukan dari pendeta sebagai karyawan yang akan dinilai, sehingga dapat memiliki pemahaman yang sama terhadap apa yang akan

dinilai, siapa yang menilai dan bagaimana menilai. Persidangan sebagai kata kunci dari sistem presbiterialsinodal dapat menjadi jalan bagi GMIT untuk membangun pemahaman yang sama dengan pendeta. Mekanisme penilaian perlu diperhatikan dan sesuaikan dengan prinsip GMIT. Pengakuan GMIT bahwa pertanggungjawaban pelayanan seorang pendeta adalah kepada Yesus Kristus lewat jemaat sebagai basis pelayan dapat menjadi acuan dalam penetapan mekanisme penilaian. Jemaat adalah pihak yang mengetahui bagaimana kinerja dari seorang pendeta dalam pelayanan. Tentunya jemaat memiliki indikator tersendiri dalam mengukur kinerja seorang pendeta. Sistem penilaian umpan balik 360 derajad dapat menjadi bahan pertimbangan sinode GMIT sehubungan dengan mekanisme penilaian, namun sistem ini juga memiliki keterbatasan khususnya dalam hubungan dengan biaya operasional dan waktu. Untuk itu makanisme penilaian dapat dielaborasi untuk meminimalisir biaya dan efisiensi waktu. 1.4 Keterbatasan Penelitian Walaupun penelitian ini telah dilakukan dengan baik, namun penulis menyadari bahwa beberapa keterbatasan tidak dapat dihindari. Berikut ini beberpa keterbatasan yang kemungkinan menggannggu hasil penelitian ini, yaitu:

1. Responden yang dipilih untuk penelitian ini adalah pendeta yang bekerja di kantor sinode, klasis kota kupang, kupang tengah, kupang timur dan lobalain. Hasilnya mungkin akan berbeda jika menggunakan responden yang berasal dari perwakilan pendeta yang berada di 44 klasis GMIT dan melibatkan majelis jemaat dan jemaat sebagai basis peayanan GMIT. 2. Dalam penelitian ini penulis hanya meneliti respons pendeta terhadap pemberlakuan keputusan penilaian kinerja pendeta di GMIT. Penulis tidak melakukan pengujian terhadap validitas dari indikator-indikator dan standard penilaian kinerja yang dibuat oleh GMIT, sehingga tidak diketahui apakah indikator-indikator dan standar penilaian yang digunakan layak atau tidak untuk diberlakukan di GMIT. 1.5 Agenda Penelitian Mendatang Terkait dengan keterbatasan penelitian di atas maka terdapat beberapa hal yang dapat dijadikan agenda penelitian selanjutnya, yaitu: 1. Penelitian lanjutan dapat dilakukan dengan memperluas wilayah penelitian dan jumlah respodens bahkan dapat juga melibatkan majelis jemaat dan jemaat, dengan menggunakan kuisioner maupun wawancara untuk memperoleh respons dari pihak pendeta, majelis maupun jemaat.

2. Untuk mengukur tingkat validitas dari indikator-indikator dan standar penilaian kinerja yang dibuat oleh GMIT, maka penelitian lanjutan dapat dilakukan dengan melakukan pengujian terhadap indikator-indikator dan standar penilaian yang diberlakukan di GMIT.