II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 KULIT

dokumen-dokumen yang mirip
KAJIAN TEKNOEKONOMI PENDIRIAN INDUSTRI KULIT SAMOA (CHAMOIS LEATHER) SKRIPSI ANI SULISTIORINI F

Gambar 1. Struktur kulit secara makroskopis (Suardana et al., 2008)

II. TINJAUAN PUSTAKA

Populasi Ternak Menurut Provinsi dan Jenis Ternak (Ribu Ekor),

III. METODE PENELITIAN

II. TINJAUAN PUSTAKA A.

III. METODOLOGI. 3.1 Kerangka Pemikiran. 3.2 Metode Penelitian

III. METODOLOGI PENELITIAN

PENDAHULUAN. yaitu kerupuk berbahan baku pangan nabati (kerupuk singkong, kerupuk aci,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV KERANGKA PEMIKIRAN

DAFTAR ALAMAT MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TAHUN 2008/2009

TINJAUAN KEPUSTAKAAN. Sumber Daya Genetik Ternak dari Jawa Barat, yaitu dari daerah Cibuluh,

reversible yaitu kulit awetan harus dapat dikembalikan seperti keadaan semula (segar). Untari, (1999), mengemukakan bahwa mikro organisme yang ada pad

ANALISA KELAYAKAN INDUSTRI FILLET IKAN PATIN BEKU. (Pangasius hypophthalmus) DI KABUPATEN BOGOR. Oleh RONNY MARTHA FO

II. TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN

VII. RENCANA KEUANGAN

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN

BOKS II : TELAAH KETERKAITAN EKONOMI PROPINSI DKI JAKARTA DAN BANTEN DENGAN PROPINSI LAIN PENDEKATAN INTERREGIONAL INPUT OUTPUT (IRIO)

II. KERANGKA PEMIKIRAN

VIII. ANALISIS FINANSIAL

PENGARUH WAKTU OKSIDASI TERHADAP MUTU KULIT SAMOA PADA PROSES PENYAMAKAN MINYAK YANG DIPERCEPAT DENGAN HIDROGEN PEROKSIDA SKRIPSI

B. Struktur Kulit Ikan

PENGARUH JUMLAH BAHAN PRETANNING DAN MINYAK BIJI KARET (Hevea brasiliensis) TERHADAP MUTU KULIT SAMOA. Oleh: ZAINI FAHROJI F

III. KERANGKA PEMIKIRAN

Ekstraksi Biji Karet

PENGARUH KONSENTRASI NATRIUM PERKARBONAT DAN JUMLAH AIR PADA PENYAMAKAN KULIT SAMOA TERHADAP MUTU KULIT SAMOA

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Studi Kelayakan 1. Investor 2. Analisis 3. Masyarakat 4. Pemerintah

PENYAMAKAN KULIT BULU DOMBA DENGAN METODE KHROM DALAM UPAYA PEMANFAATAN HASIL SAMPING PEMOTONGAN TERNAK

III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 KERANGKA PEMIKIRAN

METODE PENELITIAN Kerangka Pemikiran

III. KERANGKA PEMIKIRAN

Nusa Tenggara Timur Luar Negeri Banten Kepulauan Riau Sumatera Selatan Jambi. Nusa Tenggara Barat Jawa Tengah Sumatera Utara.

RUMAH KHUSUS TARGET ANGGARAN TARGET ANGGARAN TARGET ANGGARAN TARGET ANGGARAN TARGET ANGGARAN TARGET ANGGARAN

III. METODOLOGI PENELITIAN

III KERANGKA PEMIKIRAN

A. Kerangka Pemikiran

Memiliki bau amis (fish flavor) akibat terbentuknya trimetil amin dari lesitin.

I. PENDAHULUAN. dengan nilai gizi yang tinggi dan disukai oleh anak-anak maupun orang dewasa

II. TINJAUAN PUSTAKA. sawit kasar (CPO), sedangkan minyak yang diperoleh dari biji buah disebut

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Studi Kelayakan Usaha

III KERANGKA PEMIKIRAN

IDENTIFIKASI DAN ANALISIS MUTU MINYAK KELAPA DI TINGKAT PETANI PROVINSI JAMBI

III KERANGKA PEMIKIRAN

III. METODE PENELITIAN. Tulang Bawang. Pengambilan data dilakukan pada bulan Mei sampai dengan Juli

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

VIII. ANALISIS FINANSIAL

PENENTUAN KONSENTRASI BAHAN PENYAMAK ALDEHIDA DAN MINYAK BIJI KARET UNTUK PENYAMAKAN KULIT SAMOA PADA SKALA PILOT PLANT SKRIPSI

BAB III KERANGKA PEMIKIRAN

IV. METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian

Bab IV Hasil dan Pembahasan

I PENDAHULUAN. kandungan gizi yang cukup baik. Suryana (2004) melaporkan data statistik

PENINGKATAN PRODUKTIVITAS DAN DAYA SAING KOMODITAS PERTANIAN

BAB I PENDAHULUAN.

5 GAMBARAN UMUM AGRIBISNIS KELAPA SAWIT

III. KERANGKA PEMIKIRAN

DIREKTORAT JENDERAL PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN

IV METODOLOGI PENELITIAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Jumlah Ternak yang dipotong di rumah potong hewan (RPH) menurut Provinsi dan Jenis Ternak (ekor),

BAB II Kajian Pustaka 1.1.Studi Kelayakan

III. KERANGKA PEMIKIRAN

II. TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 1 Bagian buah dan biji jarak pagar.

Tanya Jawab Seputar DAGING AYAM SUMBER MAKANAN BERGIZI

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini, industri di Indonesia berkembang pesat. Di antara subsektor

TINJAUAN PUSTAKA. pada masa yang akan datang akan mampu memberikan peran yang nyata dalam

Kemiri berasal dari Maluku dan tersebar ke Polynesia, India, Filipina, Jawa, Australia dan kepulauan Pasifik, India Barat, Brazil dan Florida.

IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2 Jenis dan Sumber Data 4.3 Metode Penentuan Narasumber

Blanching. Pembuangan sisa kulit ari

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

EKSTRAKSI MINYAK SEREH DAPUR SEBAGAI BAHAN FLAVOR PANGAN I N T I S A R I

TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK MALUKU SEPTEMBER 2016 MENURUN

TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK MALUKU UTARA SEPTEMBER 2016

Tabel Lampiran 1. Produksi, Luas Panen dan Produktivitas Padi Per Propinsi

2013, No.1531

D. Teknik Penyamakan Kulit Ikan

I. PENDAHULUAN. 1 Sapi 0,334 0, Kerbau 0,014 0, Kambing 0,025 0, ,9 4 Babi 0,188 0, Ayam ras 3,050 3, ,7 7

I. PENDAHULUAN. Potensi PKO di Indonesia sangat menunjang bagi perkembangan industri kelapa

III KERANGKA PEMIKIRAN

Bab IV Hasil dan Pembahasan

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. METODE PENELITIAN

BPS PROVINSI SUMATERA SELATAN

TUGAS AKHIR LINGKUNGAN BISNIS BISNIS RAMBAK KULIT IKAN

Gun Gun Gumilar, Zackiyah, Gebi Dwiyanti, Heli Siti HM Jurusan Pendidikan Kimia FPMIPA Universitas Pendidikan Indinesia

PENGARUH PENGERINGAN TERHADAP SIFAT FISIKO-KIMIA MINYAK BIJI KARET (Hevea brasiliensis) UNTUK PENYAMAKAN KULIT

I PENDAHULUAN. (5) Kerangka Penelitian, (6) Hipotesis Penelitian dan (7) Tempat dan Waktu

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

NAMA : WIRO FANSURI PUTRA

II. TINJAUAN PUSTAKA Tebu

III. METODE PENELITIAN

Kata Pengantar KATA PENGANTAR Nesparnas 2014 (Buku 2)

Transkripsi:

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 KULIT Kulit hewan merupakan bahan mentah kulit samak. Cara pembuatan kulit samak diantaranya adalah dengan mengeluarkan tenunan yang tidak dapat disamak, kemudian menyamak tenunan yang tinggal sedemikian rupa sehingga akan diperoleh sifat-sifat yang dikehendaki (Judoamidjojo, 1981). Menurut Purnomo (1991), bahan baku penyamakan kulit adalah kulit mentah atau kulit segar (fresh hide atau fresh skin), yaitu kulit yang baru saja dilepas dari karkas hewan. Menurut Saripudin (1996), bahan baku kulit didapat dari domestik berupa kulit garaman atau kulit kering dan impor berupa wet blue atau crust. Kulit hewan segar hasil pengulitan ini memiliki sifat alami yang sangat berbeda dengan satu dengan yang lainnya. Faktor yang menyebabkan perbedaan ini cukup banyak, diantaranya adalah faktor umur potong, keturunan, faktor lingkungan hidup, faktor pemeliharaan atau manajemen, faktor bangsa (breed) dan lain-lain (Fahidin dan Muslich, 1999). Struktur kulit hewan dapat dibedakan secara makroskopis dan mikroskopis (histology). Secara makroskopis kulit terdiri dari daerah krupon, daerah kepala dan leher, perut, dan ekor. Daerah satu dan lainnya memiliki sifat-sifat yang berbeda diantaranya tebal kulit hewan kira-kira bergeser dari daerah puncak (gumba) yang tertebal dan berangsur-angsur semakin tipis sampai ke daerah ekor, Sedangkan secara lateral maka daerah tulang punggung tertebal dan berangsur-angsur menipis ke daerah perut (Fahidin dan Muslich, 1999). Pembagian kulit secara makroskopis dapat dilihat pada Gambar 1. Gambar 1. Pembagian kulit secara makroskopis Ditinjau secara mikroskopis (histologis), kulit hewan mamalia mempunyai struktur yang bersamaan. Kulit memiliki tiga lapisan utama yaitu lapisan epidermis, korium, dan subkutis. Epidermis adalah lapisan luar kulit. Strukturnya seluler dan terdiri dari lapisan-lapisan sel epitel yang dapat berkembang biak dengan sendirinya. Pada penyamakan kulit biasanya lapisan ini harus dibuang sampai bersih. Korium atau derma adalah bagian pokok tenunan kulit yang akan diubah menjadi kulit samak. Korium sebagian besar tersusun dari serat-serat tenunan pengikat. Dalam korium terdapat tiga tipe tenunan pengikat yaitu: tenunan kolagen, elastin, dan reticular. Lapisan subkutis merupakan tenunan pengikat longgar yang menghubungkan korium dengan bagian-bagian lain tubuh. Hipodermis sebagian besar terdiri atas serat-serat kolagen dan elastin (Fahidin dan Muslich, 1999). Penampang kulit dapat dilihat pada Gambar 2. 3

Gambar 2. Sharphouse (1995) Bahan baku yang digunakan dalam pembuatan kulit samoa merupakan hasil samping dari pemotongan kambing. Jumlah lembar kulit yang tersedia sama dengan jumlah pemotongan kambing. Ternak kambing tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Hal ini disebabkan karena kambing sanggup hidup dan berkembang biak di daerah-daerah yang ternak lainnya mendapatkan kesulitan. Kambing tahan terhadap keadaan kering atau lembab. Oleh karena itu, pemotongan kambing juga tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Pemotongan kambing terbesar berada di Jawa timur dengan jumlah 1.181.849 ekor, kemudian Jawa tengah dengan jumlah 345.711 ekor, Sumatera Selatan dengan jumlah 150.500 ekor, dan jumlah pemotongan paling kecil berada di Provinsi Bangka Belitung dengan jumlah pemotongan kambing 2.540 ekor. Pemotongan kambing per provinsi disajikan dalam Tabel 1. 4

Tabel 1. Pemotongan kambing tercatat tahun 2006-2010 per provinsi * No Provinsi Tahun 2006 2007 2008 2009 2010 1 Aceh 78.414 237.956 133.152 131.653 142.919 2 Sumatra Utara 84.941 199.302 59.942 45.556 46.011 3 Sumatra Barat 42.253 9.604 66.838 49.083 85.895 4 Riau 40.835 73.499 106.272 110 97.902 5 Jambi 11.747 30.760 24.248 40.374 63.827 6 Sumatra Selatan 97.230 106.562 155.593 149.480 150.500 7 Bengkulu 15.359 17.555 12.517 7.773 8.934 8 Lampung 126.564 166.992 131.730 130.413 131.717 9 Bangka Belitung 2.390 1.103 8.479 2.515 2.540 10 Kepulauan Riau 4.493 5.935 8.884 6.239 6.301 11 Jakarta 90.771 88.029 77.823 65.168 67.826 12 Jawa Barat 69.639 73.053 76.939 113.920 125.590 13 Jawa Tengah 378.268 567.961 309.930 334.765 345.711 14 Yogyakarta 122.493 96.581 45.293 35.190 36.416 15 Jawa Timur 971.825 1.020.501 1.051.116 1.158.082 1.181.849 16 Banten 59.539 181.742 127.511 121.135 133.249 17 Bali 108.638 105.504 122.149 143.628 144.662 18 NTB 16.071 16502 11.093 10.822 11.147 19 NTT 43.622 44.933 46.264 41.638 49.297 20 Kalimantan Barat 19.984 34.913 38.864 46.870 47.810 21 Kalteng 5.500 35.668 28.534 14.219 12.899 22 Kalsel 18.777 18.114 22.191 26.476 26.529 23 Kalimantan Timur 24.447 44.847 37.974 41.830 42.884 24 Sulawesi Utara 51.310 29.893 22.129 29.406 29.847 25 Sulawesi Tengah 36.204 25.765 21.547 28.725 73.568 26 Sulawesi Selatan 26.149 163.758 62.660 41.356 42.183 27 Sulawesi Utara 17.250 21.897 19.700 45.671 47.137 28 Gorontalo 465 11.905 14.911 5.448 11.755 29 Sulawesi Barat 24.477 49.844 8.229 4.937 6.568 30 Maluku 59.763 3.599 8.883 10.926 11.800 31 Maluku Utara 5.546 17.288 5.406 3.514 3.690 32 Irjabar 1.410 1.774 10.078 2.385 2.658 33 Papua 5.406 6.668 10.992 7.827 8.218 * Direktorat jenderal peternakan (2011) 5

2.2 MINYAK BIJI KARET Minyak biji karet merupakan salah satu jenis minyak mengering (drying oil). Minyak mengering bersifat dapat mengering jika terkena oksidasi dan akan berubah menjadi lapisan tebal, bersifat kental, dan membentuk sejenis selaput jika dibiarkan di udara terbuka (Ketaren, 1986). Kandungan minyak dalam daging biji atau inti biji karet adalah 45-50 % dengan komposisi 17-22 % asam lemak jenuh yang terdiri atas asam palmitat, stearat, arakhidat, serta asam lemak tidak jenuh sebesar 77-82 % yang terdiri atas asam oleat, linoleat, dan linolenat (Hardjosuwito, 1976). Minyak biji karet adalah salah satu minyak nabati yang dapat menggantikan minyak ikan dalam penyamakan. Minyak biji karet tidak menghasilkan kelebihan bau dan warna terhadap kulit samak. Bilangan iodnya, yang merupakan salah satu persyaratan dalam penyamakan minyak, mirip dengan minyak ikan. Karakteristik lainnya seperti bilangan asam, kadar asam lemak bebas/free fatty acid (FFA), bilangan penyabunan, bilangan peroksida, dan densitas mirip dengan minyak ikan (Suparno, 2009a). Perbandingan sifat fisiko kimia antara minyak biji karet dan minyak ikan dapat dilihat pada Tabel 2. Studi pendahuluan ekstraksi minyak biji karet dengan menggunakan alat pengempa berulir yang telah dilakukan di Departemen Teknologi Industri Pertanian-IPB diperoleh minyak biji karet dengan rendemen 27,74%. kadar air 0,09%, kadar minyak dalam bungkil 16, 26%, bilangan iod 138,4. bilangan peroksida 10,6, dan bilangan penyabunan 206,9 (Silam, 1998). Tabel 2. Sifat fisiko kimia minyak biji karet dan minyak ikan * No Sifat fisiko kimia Minyak biji karet Minyak ikan 1 Warna (Unit PtCo) 4076 6106 2 Densitas (g/cm 3 ) 0.92 0.92 3 Bilangan iod (g I/100 g minyak) 146 148 4 Bilangan asam (mg KOH/g minyak) 2.08 0.19 5 Kadar asam lemak bebas (%) 1 0.095 6 Bilangan peroksida (meq/kg) 31.33 13.97 7 Bilangan penyabunan (mg KOH/g minyak) 185 168 * Suparno et al. (2009a) Bilangan iod menunjukkan ketidakjenuhan dari suatu minyak dan lemak. Menurut Hamilton dan Rossel (1987), bilangan iod adalah jumlah iod yang dapat diikat oleh 100 g minyak atau lemak. Ikatan rangkap yang terdapat dalam asam lemak tidak jenuh akan bereaksi dengan iod atau senyawasenyawa iod. Gliserida dengan ketidakjenuhan yang tinggi akan mengikat iod dalam jumlah yang lebih besar. Menurut Suparno et al. (2009a), minyak biji karet memiliki bilangan iod yang tinggi yaitu 146 yang menunjukkan tingginya kandungan asam lemak tak jenuh yang dimiliki. Bilangan iod yang tinggi merupakan salah satu persyaratan minyak dapat digunakan sebagai bahan penyamak minyak. 2.3 KULIT SAMOA (KULIT SAMAK MINYAK) Kulit samoa (chamois leather) adalah nama yang diberikan untuk kulit yang disamak dengan menggunakan minyak (Sharphouse, 1985). Permintaan akan kulit samoa di pasaran global akan terus meningkat (Krishnan et al., 2005). Kulit tersebut biasanya dihasilkan baik dari kulit kambing atau domba setelah penghilangan kapur (delimed pelt) dan lapisan grain. 6

Kulit samoa dibuat dari kulit domba atau anak sapi dengan lapisan grain yang dihilangkan. Kulit samoa disamak dengan menggunakan minyak ikan untuk membuat kulit tersebut menjadi sangat lembut dan lemas. Kulit ini sangat lunak pada kedua sisinya. Kulit samoa tidak mahal dan sangat umum digunakan untuk penyaringan minyak bumi dan industri alat-alat optik. Kulit samoa juga bisa digunakan untuk industri garmen (Natesan, 1998). Kulit samoa memiliki sifat-sifat yang istimewa, yakni memiliki berat jenis yang sangat rendah, absorpsi air yang tinggi, kelembutan, dan kenyamanan (Wachsmann, 1999). Penggunaan utama kulit samak minyak adalah sebagai alat pencuci, yang memiliki kelebihan diantaranya adalah kapasitas mengabsorpsi air yang tinggi, pengeluaran air dengan mudah, dan sebagian besar kotoran mudah dicuci dari kulit tersebut. Penggunaan lainnya adalah untuk pembuatan sarung tangan, untuk penyaringan air dari minyak bumi, dan orthopaedic leather (Sharpouse, 1995). Kelemahan dari kulit samak minyak adalah ketahanan kurang baik terhadap air panas apabila direndam dengan air panas dengan suhu 70 C selama 2 menit struktur kulit akan mengalami pengerutan dan menjadi lebih keras. Kelebihan dari kulit samak minyak adalah bila struktur kulit yang telah mengkerut akibat dari pemanasan dicelupkan kembali dengan cepat ke dalam air dingin, maka struktur kulit tersebut berangsur-angsur akan kembali seperti semula (Sharphouse, 1985). Persyaratanpersyaratan penting kulit samoa menurut Standar Nasional Indonesia disajikan dalam Tabel 3. Tabel 3. Persyaratan mutu kulit samoa menurut SNI 06-1752-1990 * No. Jenis Uji Satuan Sifat Kimia: Minimum Persyaratan Maksimum Keterangan 1. Kadar Minyak % - 10-2. Kadar Abu % - 5-3. ph - - 8 Sesudah disarikan minyaknya Sifat Fisis: 1. Tebal Mm 0,3 1,2 2. Ketahanan Gosok cat tutup -Kering -Basah 3. Kekuatan Sobek N/mm 2 15-4. Kekuatan Jahit N/mm 2 40 5. Kemuluran % 50-6. Penyerapan air 2 jam 24 jam - - % % 5 4 100 200 7. Kekuatan Tarik N/mm 2 7,5 Organoleptik 1. Keadaan Kulit - Halus Seperti Beledu 2. Warna - Kuning Muda / mendekati Putih * Badan Standarisasi Nasional (1990) - - 7

Sifat-sifat kimia, fisik, dan organoleptik kulit samak minyak biji karet mirip dengan sifat-sifat kulit minyak ikan. Dalam hal warna dan bau, kulit samak biji karet bermutu lebih baik dibandingkan dengan kulit samak minyak ikan. Semua sifat-sifat tersebut memenuhi persyaratan mutu kulit samoa yang dinyatakan dalam SNI 06-1752-1990. Karakteristik kulit samoa dengan bahan penyamak minyak biji karet dan minyak ikan disajikan pada Tabel 4. Tabel 4. Karakteristik kulit samoa a Sifat-sifat kulit samoa Kulit samak minyak biji karet Kulit samak minyak ikan Sifat-sifat kimia ph 6,9-7,0 7,1-7,3 Kadar abu (%) 4,8 3,0 Sifat-sifat fisik Tebal (mm) 0,4-1,0 0,4-1,0 Kekuatan tarik (N/mm 2 ) 9,5 7,7 Kemuluran (%) 104 91 Penyerapan air (%) 1. 2 jam 388 395 2. 24 jam 424 437 Sifat-sifat Organoleptik * Kelembutan 7-8 7-8 Warna 8-9 6-7 Bau 7-8 5-6 * Untuk penilaian skala organoleptik, pada skala 10 poin, 0 = sangat jelek, 10 = sangat baik. a Suparno et al. (2009a) 2.4 ANALISIS TEKNOEKONOMI Analisis teknoekonomi adalah analisis yang berkenaan dengan pembangunan proyek yang mencakup beberapa analisis dengan kriteria-kriteria tertentu, yaitu aspek pasar dan pemasaran, aspek teknis teknologis, aspek manajemen operasional, dan aspek finansial, analisis faktor-faktor yang tidak dapat diprediksikan (unpredictable factors). Hal yang penting dalam analisis teknoekonomi adalah perhatian diberikan dalam aspek teknis maupun ekonomi dari suatu persoalan secara lengkap (Sutojo, 2000). Analisis teknoekonomi menyediakan suatu dasar kuantitatif dalam unit moneter untuk pengambilan suatu keputusan dalam masalah teknik. Perhatian ditekankan pada aspek teknik maupun ekonomi terhadap suatu permasalahan secara lengkap (Wright, 1987). Analisis teknoekonomi erat kaitannya dengan pemecahan masalah teknik. Indikator efisiensi ekonomi dijadikan sebagai kriteria pemilihan alternatif. Hasil analisis tersebut akan menentukan kelayakan suatu investasi (Newman, 1990). 8

2.4.1 Aspek Pasar dan pemasaran Pemasaran adalah proses sosial dan manajerial dimana pribadi atau organisasi memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan melalui penciptaan dan pertukaran nilai dengan yang lain. Pemasaran (marketing) sebagai proses dimana perusahaan menciptakan nilai bagi pelanggan dan membangun hubungan yang kuat dengan pelanggan, dengan tujuan menangkap nilai dari pelanggan sebagai imbalannya (Kotler, 2002). Aspek pasar dan pemasaran dikaji untuk mengungkapkan permintaan, penawaran, harga, program pemasaran, dan perkiraan penjualan yang dapat dicapai oleh perusahaan, atau pangsa pasar yang dapat dikuasai oleh perusahaan. Selain itu, analisis terhadap pasar dan pemasaran pada suatu usulan proyek ditujukan untuk mendapatkan gambaran tentang potensi pasar bagi produk yang tersedia untuk masa yang akan datang, pangsa pasar yang dapat diserap oleh proyek tersebut dari keseluruhan pasar potensial serta perkembangan pangsa pasar tersebut di masa yang akan datang, dan menentukan jenis strategi pemasaran yang digunakan guna mencapai pangsa pasar yang telah ditetapkan (Husnan dan Muhammad, 2000). Studi pasar dan pemasaran dapat dikatakan merupakan hal yang sangat penting pada setiap studi kelayakan. Bagi suatu proyek baru, pengetahuan dan analisis pasar bersifat menentukan karena banyak keputusan tentang investasi tergantung dari hasil analisis pasar (Simarmata, 1992). Menurut Sutojo (2000) yang perlu diperhatikan dalam mengkaji aspek pasar dan pemasaran adalah bagaimana produk tersebut dalam masa kehidupannya di pasar dewasa ini, berapa permintaan produk di masa lampau dan sekarang, bagaimana komposisi permintaan tiap segmen pasar serta bagaimana kecenderungan perkembangan permintaan tiap segmen pasar serta bagaimana kecenderungan perkembangan permintaan, bagaimana proyeksi permintaan produk pada masa mendatang serta berapa % dari permintaan dapat diambil, bagaimana kemungkinan adanya persaingan. 2.4.2 Aspek Teknis dan Teknologis Aspek teknis dan teknologis merupakan salah satu aspek penting dalam proyek dan berkenaan dengan proses pembangunan industri secara teknis dan pengoperasiannya setelah proyek tersebut selesai dibangun. Berdasarkan analisis aspek teknis dan teknologis dapat diketahui rancangan awal penaksiran biaya investasi (Husnan dan Muhammad, 2000). Analisis teknis mencakup beberapa aspek, yaitu analisis terhadap ketersediaan bahan baku, proses produksi, mesin dan peralatan, kapasitas produksi, perancangan aliran bahan, analisis keterkaitan antar aktivitas, jumlah mesin dan peralatan, keperluan tenaga kerja, penentuan luas pabrik, dan perancangan tata letak pabrik (Husnan dan Muhammad, 2000). Menurut Sujoto (2000) evaluasi aspek teknis dan teknologis mencakup beberapa hal di bawah ini: 1. Penentuan lokasi proyek, yaitu lokasi dimana suatu proyek akan didirikan, baik untuk mempertimbangkan lokasi maupun lahan proyek. Peubah-peubah yang perlu diperhatikan antara lain iklim dan keadaan tanah, fasilitas transportasi, ketersediaan tenaga kerja, tenaga listrik dan air, keadaan dan sikap masyarakat, dan rencana perusahaan untuk perluasan. 2. Penentuan kapasitas produksi ekonomis yang merupakan volume atau jumlah satuan produk yang dihasilkan selama waktu tertentu. Kapasitas produksi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi efisiensi operasi proyek yang akan didirikan. 3. Pemilihan teknologi yang tepat yang dipengaruhi oleh kemungkinan pengadaan tenaga ahli, bahan baku dan bahan pembantu, kondisi alam dan lainnya tergantung proyek yang didirikan. 4. Penentuan proses produksi yang akan dilakukan dan tata letak pabrik yang akan dipilih, termasuk tata letak bangunan dan fasilitas lain. 9

Faktor-faktor yang mempengaruhi analisis lokasi suatu industri dapat digolongkan menjadi faktor-faktor utama dan faktor-faktor sekunder. Faktor-faktor utama akan berpengaruh secara langsung terhadap kegiatan-kegiatan produksi dan distribusi dari industri yang akan didirikan. Faktorfaktor utama tersebut meliputi letak dari pasar, letak dari sumber bahan baku, tingkat biaya, dan ketersediaan fasilitas pengangkutan, biaya ketersediaan tenaga kerja, dan adanya pembangkit tenaga listrik (Assauri, 1999). Tataletak pabrik merupakan alat efektif untuk mernekan biaya produksi dengan cara menghilangkan atau mengurangi sebesar mungkin semua aktivitas yang tidak produktif (Machfud dan Agung, 1990). Perencanaan tata letak pabrik secara menyeluruh dapat dilakukan dengan berpedoman pada analisis keterkaitan antara aktivitas proses yang terjadi. Analisis keterkaitan antara aktivitas adalah metode analisis penentuan tata letak ruang untuk suatu aktivitas tertentu dengan mempertimbangkan keterkaitan atau interaksinya dengan kegiatan lain pada bagian ruang yang lain (Apple, 1990) 2.4.3 Aspek Manajemen dan Organisasi Manajemen adalah suatu cara penggunaan sumber daya yang ada dengan pengaturan yang baik sehingga tujuan yang dimaksud dapat tercapai (Ariyoto, 1990). Analisis dari aspek ini dimaksudkan untuk memperoleh gambaran mengenai struktur organisasi dari perusahaan. Dari gambaran tersebut akan diketahui tenaga manajemen apa dan berapa yang diperlukan untuk mengelola proyek secara berhasil (Sujoto,2000). Aspek manajemen dan organisasi dapat digolongkan menjadi dua, yaitu: a. Manajemen proyek, yaitu pengelolaan kegiatan yang terkait dengan mewujudkan gagasan sampai menjadi hasil proyek berbentuk fisik. b. Manajemen operasi, yaitu menangani kegiatan operasi dan produksi fasilitas hasil proyek (Soeharto, 2000). Aspek manajemen operasional adalah suatu fungsi atau kegiatan manajemen yang meliputi perencanaan organisasi, staffing, koordinasi, pengarahan, dan pengawasan terhadap operasi perusahaan (Umar, 2007). Manajemen operasi meliputi bentuk organisasi atau badan usaha yang dipilih, struktur organisasi, deskripsi dan spesifikasi jabatan, jumlah tenaga kerja yang diguankan, anggota direksi, dan tenaga lain (Husnan dan Muhammad, 2000). 2.4.4 Aspek Lingkungan dan Legalitas Pembangunan suatu industri hendaknya tetap memperhatikan kepentingan manusia dan lingkungannya. Pembangunan industri yang baik adalah pembangunan berwawasan lingkungan. Pembangunan tersebut dapat terwujud apabila semua komponen dalam perusahaan mengerti pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan dalam setiap proses produksinya. Menurut Umar (2007), kajian aspek lingkungan hidup bertujuan untuk menentukan dapat dilaksanakannya industri secara layak atau tidak dilihat dari segi lingkungan hidup. Hal-hal yang berkaitan dengan aspek lingkungan antara lain peraturan dan perundang-undangan analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) dan penggunaannya dalam kajian pendirian industri dan pelaksanaan proses pengelolaan dampak lingkungan. Aspek legalitas merupakan salah satu aspek penting dalam pendirian sebuah industri karena menyangkut hukum yang mengatur tingkah laku kegiatan usaha yang bersangkutan. Untuk menampung aspirasi dalam mencapai tujuan usaha diperlukan suatu wadah untuk melegalkan 10

kegiatan. Dalam evaluasi yuridis, salah satu pokok pengamatan yang merupakan kekuatan yang menunjang gagasan usaha adalah izin-izin yang harus dimiliki karena izin usaha merupakan syarat legalisasi usaha (Ariyoto, 1990). Aspek legalitas atau yuridis berguna untuk kelangsungan hidup proyek dalam rangka meyakinkan kreditur dan investor bahwa proyek yang akan dibuat sesuai dengan peraturan yang berlaku (Umar, 2007). Menurut Husnan dan Muhammad (2000), dalam pengkajian aspek yuridis atau hukum, hal yang perlu diperhatikan meliputi bentuk badan usaha yang akan digunakan dan berbagai akte, sertifikat, dan izin yang diperlukan. 2.4.5 Aspek Finansial Analisis aspek finansial dilakukan untuk menentukan rencana investasi melalui perhitungan biaya dan manfaat yang diharapkan, dengan membandingkan antara pengeluaran dan pendapatan, seperti ketersediaan dana, biaya modal, kemampuan proyek untuk membayar kembali dana tersebut dalam waktu yang telah ditentukan dan menilai apakah proyek dapat berkembang terus (Umar, 2007). Pada aspek finansial dihitung biaya investasi dan biaya modal kerja. Biaya investasi meliputi pembiayaan kegiatan prainvestasi, pengadaan tanah, bangunan, mesin dan peralatan, berbagai asset tetap, serta biaya-biaya lain yang bersangkutan dengan pembangunan proyek. Biaya modal kerja meliputi biaya produksi (bahan baku, tenaga kerja, overhead pabrik, dan lain-lain), biaya administrasi, biaya pemasaran, dan penyusutan. Kemudian dilakukan penilaian aliran dana yang diperlukan dan kapan dana tersebut dapat dikembalikan sesuai dengan jumlah waktu yang ditetapkan, serta apakah proyek tersebut menguntungkan atau tidak (Edris, 1993). Penyusutan merupakan pengalokasian biaya investasi suatu proyek pada setiap tahun sepanjang umur proyek tersebut. Penyusutan dimaksudkan untuk menjaga agar angka biaya operasi yang dimasukkan ke dalam neraca laba rugi tahunan mencerminkan dana bunga modal. Penghitungan biaya penyusutan ada empat metode yaitu garis lurus, penjumlahan angka tahun, keseimbangan menurun berganda, dan sinking fund (Pramudya dan Nesia, 1992). De Garmo et al. (1984) menyatakan bahwa metode yang sering digunakan adalah metode garis lurus, yakni perhitungan penyusutan didasarkan pada asumsi bahwa penurunan nilai peralatan atau bangunan berlangsung secara konstan selama umur penggunaan. Rumus untuk menghitung penyusutan berdasarkan metode garis lurus adalah sebagai berikut: dengan: D = Biaya penyusutan setiap tahun P = Harga awal (Rp) S = Harga akhir (Rp) L = Perkiraan umur ekonomis (tahun) Untuk mencari ukuran yang menyeluruh sebagai dasar penerimaan atau penolakan suatu proyek telah dikembangkan berbagai cara yang dinamakan kriteria investasi. Beberapa kriteria investasi yang sering digunakan adalah net present value, internal rate of return, net benefit cost ratio, pay back period, dan analisis sensitivitas (Gray et al., 1992) Analisis sensitivitas bertujuan untuk melihat dampak dari berbagai perubahan dalam masing-masing peubah yang mempengaruhi proyek tersebut. Empat peubah yang dapat mempangaruhi kriteria investasi adalah perubahan (i) Pemanfaatan kapasitas, (ii) harga jual produk, (iii) umur pakai pabrik dan (iv) biaya bahan baku (De Garmo et al., 1990) 11