Rani Armadiah, Fatchur Rohman, dan Agus Dharmawan Universitas Negeri Malang

dokumen-dokumen yang mirip
Analisis Vegetasi Gulma Pada Tanaman Buah Naga Merah (Hylocereus polyrhizus, L.) di Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat

Pengaruh Kehadiran Gulma terhadap Jumlah Populasi Hama Utama Kubis pada Pertanaman Kubis

BAB I PENDAHULUAN. Prinsip ekologi telah diabaikan secara terus menerus dalam pertanian modern,

HASIL DAN PEMBAHASAN

PENGELOLAAN HAMA SECARA HAYATI Oleh : Awaluddin (Widyaiswara)

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Waspada Serangan Hama Tanaman Padi Di Musim Hujan Oleh : Bambang Nuryanto/Suharna (BB Padi-Balitbangtan)

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pertanian organik adalah sistem manajemen produksi terpadu yang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hutan Sekipan merupakan hutan pinus yang memiliki ciri tertentu yang membedakannya dengan hutan yang lainnya.

BAB I PENDAHULUAN. kelembaban. Perbedaan ph, kelembaban, ukuran pori-pori, dan jenis makanan

PENGELOLAAN ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN SECARA TERPADU

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. daya tarik tinggi baik untuk koleksi maupun objek penelitian adalah serangga

I. PENDAHULUAN. Aktivitas penyerbukan terjadi pada tanaman sayur-sayuran, buah-buahan, kacangkacangan,

BAB 1 PENDAHULUAN. petani dan dikonsumsi masyarakat karena sayuran tersebut dikenal sebagai

I. PENDAHULUAN. yang dipakai untuk membudidayakan tanaman. Gangguan ini umumnya berkaitan

TINJAUAN PUSTAKA. 1. Jumlah spesies dalam komunitas yang sering disebut kekayaan spesies

Analisis Vegetasi Gulma Pada Pertanaman Jagung (Zea mays L.) di Lahan Kering dan Lahan Sawah di Kabupaten Pasaman

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. menyebabkan produksi sayuran meningkat setiap tahunnya.

II. TINJAUAN PUSTAKA. Padi (Oryza sativa L.) tergolong ke dalam Famili Poaceae, Sub- family

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Provinsi Gorontalo memiliki wilayah seluas ha. Sekitar

Status Ulat Grayak (Spodoptera litura F.) Sebagai Hama

(PSLK) 2016, DISTRIBUSI SPASIAL ARTHROPODA PADA TUMBUHAN LIAR DI PERTANIAN TOMAT DESA KARANGWEDORO KECAMATAN DAU KABUPATEN MALANG

BAB I PENDAHULUAN. Komoditas hortikultura buah apel (Malus sylvestris (L.) Mill) merupakan

POLA FLUKTUASI POPULASI Plutella xylostella (L.) (LEPIDOPTERA: PLUTELLIDAE) DAN MUSUH ALAMINYA PADA BUDIDAYA BROKOLI DENGAN PENERAPAN PHT DAN ORGANIK

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. keadaan gejala menurut apa adanya pada saat penelitian dilakukan. 84 Pada

SATUAN ACARA PERKULIAHAN

Si Pengerat Musuh Petani Tebu..

BAB I PENDAHULUAN. pertanian, subsektor perkebunan mempunyai kontribusi yang signifikan terhadap

ANALISIS VEGETASI STRATA SEEDLING PADA BERBAGAI TIPE EKOSISTEM DI KAWASAN PT. TANI SWADAYA PERDANA DESA TANJUNG PERANAP BENGKALIS, RIAU

CARA CARA PENGENDALIAN OPT DAN APLIKASI PHESTISIDA YANG AMAN BAGI KESEHATAN 1) SUHARNO 2) 1) Judul karya ilmiah di Website 2)

PROPOSAL PENELITIAN. PENGGUNAAN BUNGA MATAHARI MEKSIKO (Tithonia diversifolia) SEBAGAI PUPUK HIJAU PADA TANAMAN KUBIS (Brassica oleracea L.

I. PENDAHULUAN. yang dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan,

BAB I PENDAHULUAN. Al-Qur an adalah kitab suci umat Islam yang membahas segala macam

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

ANALISIS KOMPOSISI GULMA PADA LAHAN TANAMAN SAYURAN. Ariance Yeane Kastanja

Kemelimpahan Jenis Gulma Tanaman Wortel pada Sistem Pertanian Organik. Sri Utami Laboratorium Ekologi dan Biosistematik Jurusan Biologi FMIPA Undip

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dalam suatu komunitas atau ekosistem tertentu (Indriyanto, 2006). Relung ekologi

BAB I PENDAHULUAN. satu keaneragaman hayati tersebut adalah keanekaragaman spesies serangga.

PENGELOLAAN HAMA TERPADU (PHT)

SMP kelas 8 - BIOLOGI BAB 10. HAMA DAN PENYAKIT TANAMANlatihan soal 10.1

EKOLOGI & AZAS-AZAS LINGKUNGAN. Oleh : Amalia, S.T., M.T.

TINJAUAN PUSTAKA. Botani dan Ekologi Tanaman Jagung (Zea mays L.)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Biodiversitas ( Biodiversity

Program Studi Biologi, FMIPA, Universitas Negeri Malang

disinyalir disebabkan oleh aktivitas manusia dalam kegiatan penyiapan lahan untuk pertanian, perkebunan, maupun hutan tanaman dan hutan tanaman

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Khairunisa Sidik,2013

BAB I PENDAHULUAN. Semut (Hymenoptera: Formicidae) memiliki jumlah jenis dan

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI HEWAN Menentukan Kisaran Preferensi Terhadap Kondisi Suhu Lingkungan dan Kecenderungan Makanan

I. PENDAHULUAN. Kedelai (Glycine max (L.) Merrill) merupakan tanaman sumber protein yang

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Kalshoven (1981) ulat grayak diklasifikasikan sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Gayatri Anggi, 2013

Keanekaragaman Jenis dan Pola Distribusi Nepenthes spp di Gunung Semahung Kecamatan Sengah Temila Kabupaten Landak

INVENTARISASI GULMA PADA TANAMAN JAGUNG (Zea mays L.) DATARAN TINGGI DI DESA PALELON DAN DATARAN RENDAH DI KELURAHAN KIMA ATAS.

Gambar 1 Diagram alir kegiatan penelitian.

BAB I PENDAHULUAN. Lovejoy (1980). Pada awalnya istilah ini digunakan untuk menyebutkan jumlah

TINJAUAN PUSTAKA. Jagung dapat tumbuh pada daerah dengan ketinggian m dpl dan dapat hidup baik

ABSTRACT. PENDAHULUAN Apel merupakan salah satu komoditas pertanian yang berpotensi secara ekonomi dan. Jurnal Biotropika Vol. 1 No.

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman jagung sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia dan hewan. Di

BAB I PENDAHULUAN. sebesar jenis flora dan fauna (Rahmawaty, 2004). Keanekaragaman

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Kalshoven (1981), hama walang sangit dapat di klasifikasikan sebagai

TINJAUAN PUSTAKA. 1. Jumlah spesies dalam satu komunitas yang sering disebut dengan. banyak spesies tersebut (Anonimus, 2008).

DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN BAB II TINJAUAN PUSTAKA

VI. PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN UMUM. 6.1 Pembahasan Umum. Berdasarkan hasil penelitian perkembangan Ostrinia furnacalis di Desa

BAB I PENDAHULUAN. yang perlu dikembangkan adalah produk alam hayati (Sastrodiharjo et al.,

BIOMA : JURNAL BIOLOGI MAKASSAR, 2(2):12-18, 2017

I. PENDAHULUAN. Di Indonesia produksi nanas memiliki prospek yang baik. Hal ini dilihat dari

Prosiding Seminar Nasional Biotik 2017 ISBN:

Analisa Vegetasi Gulma pada Pertanaman Jagung (Zea mays L) pada Lahan Olah Tanah Maksimal di Kabupaten Lima Puluh Kota

I PENDAHULUAN. dengan burung layang-layang. Selain itu, ciri yang paling khas dari jenis burung

Individu Populasi Komunitas Ekosistem Biosfer

I. PENDAHULUAN. Indonesia di pasaran dunia. Kopi robusta (Coffea robusta) adalah jenis kopi

I. TOLAK PIKIR PERLINDUNGAN TANAMAN

ALTERNATIF PENGENDALIAN HAMA SERANGGA SAYURAN RAMAH LINGKUNGAN DI LAHAN LEBAK PENGENDALIAN ALTERNATIF RAMAH LINGKUNGAN HAMA SAYURAN DI LAHAN LEBAK

BAB I PENDAHULUAN. Tanaman bawang merah merupakan salah satu komoditas rempah-rempah

BAB I PENDAHULUAN. dimanfaatkan. Tumbuhan yang digunakan meliputi untuk bahan pangan,

BAB I PENDAHULUAN. jenis flora dan fauna yang sangat tinggi (Mega Biodiversity). Hal ini disebabkan

BAB I PENDAHULUAN. penyediaan bahan pangan pokok terutama ketergantungan masyarakat yang besar

II. TINJAUAN PUSTAKA. mestinya sudah mengarah pada pertanian yang mempertahankan keseimbangan

dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Brawijaya, Malang Korespondensi: 2)

BAB V PEMBAHASAN. diidentifikasi dengan cara membandingkan ciri-ciri dan dengan menggunakan

LAPORAN PRAKTIKUM PENGENDALIAN GULMA Identifikasi Gulma

AGROEKOSISTEM PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HORTIKULTURA

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Waktu tumbuh gulma. dan kondisi lahan terpenuhi. Waktu tumbuh gulma dipengaruhi oleh faktor curah

PEMULSAAN ( MULCHING ) Pemulsaan (mulching) merupakan penambahan bahan organik mentah dipermukaan tanah. Dalam usaha konservasi air pemberian mulsa

PERTUMBUHAN GULMA DAN HASIL TANAMAN WIJEN (Sesamum indicum L.) PADA BERBAGAI FREKUENSI DAN WAKTU PENYIANGAN GULMA PENDAHULUAN

Identifikasi dan Klasifikasi Hama Aphid (Kutu Daun) pada tanaman Kentang

I. PENDAHULUAN. dijadikan sebagai bahan pangan utama (Purwono dan Hartono, 2011). Selain

I. PENDAHULUAN. Tebu (Saccharum officinarum L.) merupakan tanaman perkebunan yang tergolong

I. PENDAHULUAN. Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman pangan dunia yang

Geografi KEARIFAN DALAM PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM I. K e l a s. Kurikulum 2013

Mengapa menggunakan sistem PHT? Pengendalian Hama Terpadu (PHT) Mengapa menggunakan sistem PHT? Mengapa menggunakan sistem PHT?

Alamat korespondensi * :

Pertanian Berkelanjutan untuk Mengoptimalkan Sumber Daya Pertanian Indonesia

Pada mulsa eceng gondok dan alang-alang setelah pelapukan (6 MST), bobot gulma naik dua kali lipat, sedangkan pada mulsa teki dan jerami terjadi

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Kondisi sekarang, pemanfaatan pestisida, herbisida dan pupuk kimia sangat umum digunakan dalam usaha

BAB I PENDAHULUAN. Pengelolaan sumberdaya hutan dalam dasawarsa terakhir dihadapkan pada

Transkripsi:

KETERTARIKAN ARTHROPODA PREDATOR PADA TUMBUHAN GULMA DI LAHAN PERTANIAN BROKOLI (Brassica oleracea var. Botrytis L.) DESA SUMBER BRANTAS KECAMATAN BUMIAJI KOTA BATU Rani Armadiah, Fatchur Rohman, dan Agus Dharmawan Universitas Negeri Malang E-mail: raniarmadiah@ymail.com ABSTRAK: Telah dilakukan penelitian pada tahun 2014 tentang Ketertarikan Arthropoda Predator Pada Tumbuhan Gulma Di Lahan Pertanian Brokoli (Brassica Oleracea var. Botrytis L.) Desa Sumber Brantas Kecamatan Bumiaji Kota Batu, dengan tujuan untuk mengetahui (1) jenis tumbuhan gulma yang ada, (2) tumbuhan gulma yang mendominasi, (3) frekuensi kunjungan Arthropoda Predator pada tumbuhan gulma, dan (4) distribusi temporal Arthropoda Predator. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif ekskploratif. Pengambilan tumbuhan gulma dilakukan dengan analisis vegetasi, pengambilan Arthropoda Predator dengan menggunakan swingnet sebanyak 5 kali osilasi secara kontinyu pada tajuk tumbuhan gulma dan pengamatan uji ketertarikan Arthropoda Predator dengan menggunakan metode visual control selama 5 hari dengan 5 titik pengamatan dan jarak pengamat 1,5 m. Hasil penelitian menunjukkan (1) tumbuhan gulma yang terdapat di lahan Pertanian Brokoli sebanyak 13 jenis tumbuhan gulma yang tergolong dalam 9 famili, (2) jenis tumbuhan gulma yang mendominasi di lahan Pertanian Brokoli yakni Amaranthus sp. dan Galinsoga parviflora Cav., (3) frekuensi kunjungan Arthropoda Predator yang terdapat pada tumbuhan gulma Amaranthus sp. dikunjungi oleh 11 genus Arthropoda Predator dan tumbuhan gulma Galinsoga parviflora Cav. dikunjungi oleh 10 genus Arthropoda Predator dan (4) kunjungan Arthropoda predator pada tumbuhan gulma Amaranthus sp. dan Galinsoga parviflora Cav. mengalami perubahan setiap waktu. Arthropoda predator banyak ditemukan pada pukul 08.00-08.20 dan memiliki kecenderungan mengalami penurunan pukul 11.00-11.20 sedangkan pukul 14.00-14.20 jumlah Arthropoda predator yang ditemukan menurun drastis. Kata-kata kunci: ketertarikan, arthropoda predator, tumbuhan gulma, pertanian brokoli. PENDAHULUAN Lahan pertanian merupakan lahan yang diperuntukan untuk kegiatan pertanian. Sumberdaya lahan pertanian memiliki banyak manfaat bagi manusia. Kawasan di kota Batu banyak terdapat lahan pertanian Hortikultur. Pertanian hortikultur merupakan hasil utama dari Desa Sumber Brantas Kecamatan Bumiaji Kota Batu yakni lahan pertanian brokoli. Brokoli merupakan salah satu komoditas sayuran yang banyak dikonsumsi di Indonesia. Bertambahnya jumlah penduduk akan meningkatkan jumlah kebutuhan pangan asal sayuran, termasuk brokoli (Cahyono, 2001). Dengan demikian untuk pemenuhan kebutuhan brokoli perlu dilakukan usaha-usaha pencegahan terjadinya penurunan produksi, salah satunya adalah usaha pengendalian tumbuhan gulma pada lingkungan tanamnya. Keberadaan tumbuhan gulma juga menjadi salah satu faktor yang bisa menurunkan hasil tanaman. Tumbuhan gulma ialah organisme pengganggu tanaman (OPT) dan tidak dikehendaki keberadaannya. Banyak dari petani yang 1

mengganggap bahwa tumbuhan gulma sebagai sumber hama dan penyakit tanaman sehingga para petani membersihkan tumbuhan gulma tersebut. Untung (2006) menjelaskan bahwa banyak serangga predator yang untuk dapat hidup dan berkembang biak memerlukan persyaratan hidup yang tidak dapat ditemukan semuanya pada tanaman budidaya. Untuk memperoleh keperluan hidupnya pada periode tertentu serangga tersebut harus pindah ke tanaman inang pengganti atau habitat lainnya yang berada di sekitar tanaman budidaya seperti rerumputan, tumbuhan gulma, atau semak-semak sekitar lahan pertanian untuk mendapatkan makanan, tempat peletakan telur, dan sebagai tempat persembunyian yang sesuai. Hama merupakan hewan herbivora yang memakan tanaman yang dibudidayakan sehingga kehadirannya tidak dikehendaki karena dapat mengakibatkan terjadinya kerusakan atau kerugian bagi manusia. Upaya pengendalian yang telah banyak dilakukan oleh para petani brokoli adalah dengan menggunakan insektisida kimia organik sintetik bahkan sebagian besar petani menganggap bahwa insektisida kimia organik sintetik adalah satu-satunya cara pengendalian yang paling cepat, efisien, praktis, mudah, dan ampuh. Pengendalian secara biologi juga dilakukan yaitu dengan memanfaatkan predator dan parasitoid, secara mekanik dengan melakukan penangkapan hama secara langsung maupun dengan menggunakan perangkap (Rahardjo, 2005). Di antara musuh alami yang berperan penting dalam menekan populasi hama adalah predator dari filum Arthropoda. Predator merupakan organisme yang hidup bebas dengan memakan, membunuh atau memangsa binatang lainnya. Sosromarsono dan Untung (2000) menyebutkan semua jenis laba-laba adalah predator, khususnya pemangsa arthropoda terutama serangga. Beberapa predator generalis seperti laba-laba (Araneae) dapat menunjukkan kekhususan habitat, oleh karena itu dapat dimanfaatkan dalam pengendalian populasi hama tanaman brokoli. Berkurangnya jumlah predator pada suatu ekosistem dapat dikarenakan hilangnya tempat berlindung dan berkembang biak predator tersebut. Tumbuhan gulma memiliki polen yang dapat dimanfaatkan untuk pelestarian parasitoid dan predator sebagai sumber pakan, tempat berlindung dan berkembang biak sebelum inang atau mangsa utama ada di tanaman (Laba, 1998). Berdasarkan uraian di atas perlu dilakukan penelitian dengan judul Ketertarikan Arthropoda Predator Pada Tumbuhan Gulma di Lahan Pertanian Brokoli (Brassica oleracea var. Botrytis L.) Desa Sumber Brantas Kecamatan Bumiaji Kota Batu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) jenis tumbuhan gulma yang terdapat di lahan Pertanian Brokoli, (2) tumbuhan gulma yang mendominasi, (3) frekuensi kunjungan Arthropoda Predator pada tumbuhan gulma, dan (4) distribusi temporal Arthropoda Predator pada tumbuhan gulma. METODE PENELITIAN Jenis penelitian adalah deskriptif eksploratif. Penelitian ini dilakukan di Lahan Pertanian Brokoli (Brassica oleracea var. Botrytis L.) Desa Sumber Brantas Kecamatan Bumiaji Kota Batu dengan luas lahan 2500 m 2 (100mx25m), dan di Laboratorium Ekologi jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang pada bulan Februari-Maret 2014. Penentuan tumbuhan gulma uji dilakukan secara sistematik dengan metode analisis vegetasi. Tumbuhan gulma yang memiliki INP tertinggi dijadikan sebagai 2

tumbuhan uji ketertarikan. Penangkapan Arthropoda dilakukan dengan menggunakan swing net sebanyak 5 kali osilasi secara kontinyu pada tajuk tumbuhan gulma. Pengamatan Uji Ketertarikan Arthropoda Predator dengan menggunakan metode visual control selama 5 hari dengan 5 titik pengamatan dan jarak pengamat 1,5 m dari tumbuhan gulma yang telah ditentukan. Pengamatan yang dilakukan pada tumbuhan gulma Amaranthus sp. dan tumbuhan gulma Galinsoga parviflora Cav. dalam waktu yang bersamaan yaitu pukul 08.00-08.20, pukul 11.00-11.20 dan pukul 14.00-14.20. Analisis data yang digunakan yakni terkait dengan ketertarikan Arthropoda Predator beradasarkan frekuensi kunjungan terhadap tumbuhan gulma terpilih dihitung menggunakan persentase kemudian diintepretasikan secara deskriptif. Data yang terkait dengan distribusi temporal Arthropoda Predator dianalisis dengan analisis uji beda One-way ANOVA dan disajikan dalam bentuk diagram batang kemudian diintepretasikan secara deskriptif. Data yang terkait dengan tumbuhan gulma uji dapat dianalisis dengan menggunakan perhitungan INP yang meliputi perhitungan kerapatan dan frekuensi dari tumbuhan gulma. HASIL PENELITIAN 1. Jenis Tumbuhan Gulma yang terdapat di Lahan Pertanian Brokoli (Brassica oleracea var. Botrytis L.) Desa Sumber Brantas Kecamatan Bumiaji Kota Batu Hasil pengambilan sampel tumbuhan gulma yang terdapat di lahan Pertanian Brokoli (Brassica oleracea var. Botrytis L.) Desa Sumber Brantas Kecamatan Bumiaji Kota Batu, ditemukan 13 jenis tumbuhan gulma yang tergolong dalam 9 suku yakni Asteraceae, Caryophyllaceae, Poaceae, Brassicaceae, Amaranthaceae, Portulaceae, Rubiaceae, Onagraceae, dan Cyperaceae, data tersebut disajikan dalam Tabel 1. Tabel 1. Jenis Tumbuhan Gulma yang terdapat di Lahan Pertanian Brokoli (Brassica oleracea var. Botrytis L.) No. Suku Marga Jenis 1. Asteraceae Ageratum Ageratum conyzoides Ageratum houstonianum Bidens Bidens pilosa Galinsoga Galinsoga parviflora Spilanthes Spilanthes iabadicensis 2. Caryophyllaceae Drymaria Drymaria cordata 3. Poaceae Eleusine Eleusin indica L. 4. Brassicaceae Cardamine Cardamine hirsuta L. 5. Amaranthaceae Amaranthus Amaranthus sp. 6. Portulacaceae Portulaca Portulaca oleracea 7. Rubiaceae Richardia Richardia brasiliensis 8. Onagraceae Ludwigia Ludwigia hyssopifolia 9. Cyperaceae Cyperus Cyperus kyllingia 3

2. Jenis Tumbuhan Gulma yang Mendominasi di Lahan Pertanian Brokoli (Brassica oleracea var. Botrytis L.) Desa Sumber Brantas Kecamatan Bumiaji Kota Batu Jenis tumbuhan gulma yang mendominasi di lahan Pertanian Brokoli (Brassica oleracea var. Botrytis L.) Desa Sumber Brantas Kecamatan Bumiaji Kota Batu berdasarkan INP yang terbesar yakni Amaranthus sp. sebesar 41,20% dan Galinsoga parviflora Cav. sebesar 40,48%, data tersebut disajikan pada Tabel 2. Oleh karena itu kedua tumbuhan gulma tersebut digunakan sebagai tumbuhan gulma uji ketertarikan. Tabel 2. Tumbuhan Gulma yang Mendominasi di Lahan Pertanian Brokoli (Brassica oleracea var. Botrytis L.) No. Jenis Tumbuhan K KR (%) F FR INP (%) 1. Amaranthus sp. 0,2905 29,05 0,1215 12,15 41,20 2. Galinsoga parviflora Cav. 0,2833 28,33 0,1215 12,15 40,48 3. Eleusin indica L. 0,0571 5,71 0,0841 8,41 14,13 4. Bidens pilosa 0,0452 4,52 0,0841 8,41 12,94 5. Ageratum conyzoides 0,05 5 0,0748 7,48 12,48 6. Portulaca oleacea 0,0452 4,52 0,0748 7,48 12,00 7. Drymaria cordata 0,0405 4,05 0,0748 7,48 11,52 8. Cardamine hirsuta L. 0,0405 4,05 0,0654 6,54 10,59 9. Spilanthes iabadicensis 0,0357 3,57 0,0654 6,54 10,11 10. Ageratum houstonianum 0,0310 3,10 0,0654 6,54 9,64 11. Richardia brasiliensis 0,0310 3,10 0,0654 6,54 9,64 12. Ludwigia hyssopifolia 0,0214 2,14 0,0561 5,61 7,75 13. Cyperus kyllingia 0,0286 2,86 0,0467 4,67 7,53 Jumlah 200 3. Ketertarikan Arthropoda Predator berdasarkan Frekuensi Kunjungan Arthropoda Predator pada Tumbuhan Gulma Terpilih di Lahan Pertanian Brokoli (Brassica oleracea var. Botrytis L.) Desa Sumber Brantas Kecamatan Bumiaji Kota Batu Ketertarikan Arthropoda Predator berdasarkan frekuensi kunjungan Arthropoda Predator pada tumbuhan gulma terpilih di lahan Pertanian Brokoli (Brassica oleracea var. Botrytis L.) Desa Sumber Brantas Kecamatan Bumiaji Kota Batu dapat dilihat pada Tabel 3 serta dilengkapi dengan Gambar 1. Tabel 3. Ketertarikan Arthropoda Predator berdasarkan Frekuensi Kunjungan Arthropoda Predator pada Tumbuhan Gulma Terpilih di Lahan Pertanian Brokoli (Brassica oleracea var. Botrytis L.) Selama 5 hari (ulangan waktu selama 20 menit) No. Arthropoda Predator yang Amaranthus sp. Galinsoga parviflora Cav. berkunjung per menit 1. Dasysyrphus 205 96 2. Sceliphron 18 50 3. Trypoxylon 69 45 4. Oecophylla 139 135 5. Formica 128 104 6. Tipula 122 102 7. Philodromus 18 0 4

8. Steatoda 28 27 9. Atypena 24 17 10. Andrallus 113 0 11. Menochilus 128 70 12. Leptogaster 0 64 Jumlah 992 710 Berdasarkan Tabel 3 di atas dapat dilihat bahwa tumbuhan gulma Amaranthus sp. lebih sering dikunjungi oleh Arthropoda Predator dibandingkan dengan tumbuhan gulma Galinsoga parviflora Cav. Data pada Tabel 3 diubah menjadi diagram batang yang disajikan pada Gambar 1. (a) Gambar 1. (b) Frekuensi Kunjungan Arthropoda Predator pada Tumbuhan Gulma Terpilih (a) Amaranthus sp. dan (b) Galinsoga parviflora Cav. Tumbuhan gulma Amaranthus sp. dikunjungi oleh 11 genus Arthropoda Predator yaitu Dasysyrphus, Sceliphron, Trypoxylon, Oecophylla, Formica, Tipula, Philodromus, Steatoda, Atypena, Andrallus, dan Menochilus. Tumbuhan gulma Galinsoga parviflora Cav. dikunjungi oleh 10 genus Arthropoda Predator yaitu Dasysyrphus, Sceliphron, Trypoxylon, Oecophylla, Formica, Tipula, Steatoda, Atypena, Menochilus dan Leptogaster. 5

Data pada Tabel 3. kemudian diubah menjadi persentase untuk mengetahui ketertarikan Arthropoda Predator berdasarkan frekuensi kunjungan pada tumbuhan gulma Amaranthus sp. dan Galinsoga parviflora Cav. di lahan Pertanian Brokoli (Brassica oleracea var. Botrytis L.) Desa Sumber Brantas Kecamatan Bumiaji Kota Batu yang di sajikan pada Gambar 2. a b Gambar 2. Persentase Frekuensi Kunjungan Arthropoda Predator (a) Amaranthus sp. dan (b) Galinsoga parviflora Cav. Berdasarkan Gambar 2. dapat dilihat bahwa pada tumbuhan gulma Amaranthus sp. yang mempunyai persentase kunjungan tertinggi adalah Dasysyrphus sebesar 20,67% dan yang terendah adalah Philodromus dan Sceliphron sebesar 1,81%. Pada tumbuhan Galinsoga parviflora Cav. Arthropoda Predator yang mempunyai persentase kunjungan tertinggi adalah Oecophylla sebesar 19,01% dan terendah adalah Atypena sebesar 2,39%. 4. Distribusi Temporal Arthropoda Predator yang terdapat pada Tumbuhan Gulma Terpilih di Lahan Pertanian Brokoli (Brassica oleracea var. Botrytis L.) Desa Sumber Brantas Kecamatan Bumiaji Kota Batu Frekuensi kunjungan Arthropoda Predator pada tumbuhan gulma Amaranthus sp. dan Galinsoga parviflora Cav. yang terdapat di lahan Pertanian Brokoli (Brassica oleracea var. Botrytis L.) Desa Sumber Brantas Kecamatan Bumiaji Kota Batu mengalami perubahan setiap waktu. Tabel 4. Hasil Ringkasan Uji Beda Nyata Jumlah Kunjungan Arthropoda Predator pada pukul 08.00-08.20, 11.00-11.20 dan 14.00-14.20 di Tumbuhan Gulma Amaranthus sp. No. Genus Arthropoda Predator yang Pagi (08.00-08.20) Siang (11.00-11.20) Sore (14.00-14.20) berkunjung per menit 1. Dasysyrphus 20,40 13,60 7,00 2. Sceliphron 2,40 0,80 0,40 3. Trypoxylon 8,00 4,40 1,40 4. Oecophylla 18,00 6,60 3,20 5. Formica 13,80 8.00 3,80 6. Tipula 0,00 0,00 0,00 7. Philodromus 2,00 1,60 0,00 8. Steatoda 2,80 1,80 0,60 9. Atypena 2,80 1,80 0,20 10. Andrallus 14,20 5,60 2,80 6

11. Menochilus 17,00 6,20 2,40 12. Leptogaster 0,00 0,00 0,00 Berdasarkan Tabel 4. di atas dapat diketahui bahwa kunjungan genus Dasysyrphus dan Trypoxylon terhadap tumbuhan gulma Amaranthus sp. mempunyai perbedaan yang nyata antara pagi (08.00-08.20), siang (11.00-11.20) dan sore (14.00-14.20). Genus Sceliphron, Oecophylla, Formica, Steatoda, Atypena, Andrallus dan Menochilus mempunyai perbedaan yang nyata ketika pagi (08.00-08.20) dengan siang (11.00-11.20) dan siang (11.00-11.20) dengan sore (14.00-14.20) tidak ada beda nyata. Data pada Tabel 4. kemudian diubah ke dalam diagram batang yang di sajikan pada Gambar 3. Gambar 3. Hasil Ringkasan Uji beda nyata Jumlah kunjungan Arthropoda Predator pada pukul 08.00-08.20, 11.00-11.20 dan 14.00-14.20 di tumbuhan gulma Amaranthus sp. Berdasarkan Gambar 3. dapat dilihat bahwa kunjungan Arthropoda Predator terhadap tumbuhan gulma Amaranthus sp. mengalami penurunan kemudian menurun drastis ketika sore hari (14.00-14.20). Tabel 5. Hasil Ringkasan Uji Beda Nyata Jumlah Kunjungan Arthropoda Predator pada pukul 08.00-08.20, 11.00-11.20 dan 14.00-14.20 di tumbuhan gulma Galinsoga parviflora Cav. No. Genus Arthropoda Predator yang berkunjung per menit Pagi (08.00-08.20) Siang (11.00-11.20) Sore (14.00-14.20) 1. Dasysyrphus 13,40 4,20 1,60 2. Sceliphron 0,00 0,00 0,00 3. Trypoxylon 5,20 3,80 0,00 4. Oecophylla 18,60 6,80 1,60 5. Formica 13,20 5,40 2,20 6. Tipula 14,20 4,80 1,40 7. Philodromus 0,00 0,00 0,00 8. Steatoda 0,00 0,00 0,00 9. Atypena 3,40 0,00 0,00 10. Andrallus 0,00 0,00 0,00 11. Menochilus 10,60 2,80 0,60 12. Leptogaster 7,60 4,40 0,80 Berdasarkan Tabel 5. di atas dapat diketahui bahwa kunjungan genus Dasysyrphus, Oecophylla, Tipula dan Leptogaster terhadap tumbuhan gulma Galinsoga parviflora Cav. mempunyai perbedaan yang nyata antara pagi (08.00-7

08.20), siang (11.00-11.20) dan sore (14.00-14.20). Genus Formica, Atypena, dan Menochilus mempunyai perbedaan yang nyata ketika pagi (08.00-08.20) dengan siang (11.00-11.20) dan siang (11.00-11.20) dengan sore (14.00-14.20) tidak ada beda nyata. Genus Trypoxylon tidak ada beda nyata ketika pagi (08.00-08.20) dengan siang (11.00-11.20) kemudian ada beda nyata ketika siang (11.00-11.20) dengan sore (14.00-14.20). Data pada Tabel 5. kemudian diubah ke dalam diagram batang yang di sajikan pada Gambar 4. Gambar 4. Hasil Ringkasan Uji Beda Nyata Jumlah kunjungan Arthropoda Predator pada pukul 08.00-08.20, 11.00-11.20 dan 14.00-14.20 di tumbuhan gulma Galinsoga parviflora Cav. Berdasarkan Gambar 4. dapat dilihat bahwa kunjungan Arthropoda Predator terhadap tumbuhan gulma Galinsoga parviflora Cav. mengalami penurunan kemudian menurun drastis ketika sore hari (14.00-14.20). PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian tumbuhan gulma yang terdapat di lahan Pertanian Brokoli (Brassica oleracea var. Botrytis L.) Desa Sumber Brantas Kecamatan Bumiaji Kota Batu ditemukan 13 jenis tumbuhan gulma yang tergolong dalam 9 suku yakni Asteraceae, Caryophyllaceae, Poaceae, Brassicaceae, Amaranthaceae, Portulaceae, Rubiaceae, Onagraceae, dan Cyperaceae. Menurut Meilin (2006), jenis tumbuhan gulma yang tumbuh dan mendominasi suatu areal tergantung dari lokasi, dan iklim setempat. Adanya tumbuhan gulma di lahan Pertanian Brokoli dianggap sangat mengganggu proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman Brokoli yang akhirnya dapat menurunkan hasil panen baik kualitas maupun kuantitas. Indeks nilai penting tumbuhan gulma tertinggi adalah Amaranthus sp. sebesar 41,20% dan Galinsoga parviflora Cav. sebesar 40,48%. Hal ini menunjukkan bahwa tumbuhan gulma suku Amaranthaceae yakni Amaranthus sp. banyak mempunyai biji yang menyebar di areal lahan. Didukung dengan tanah yang basah karena pada saat penelitian terjadi musim hujan. Hal tersebut menyebabkan suku Amaranthaceae dapat menyebar ke seluruh areal. Hal ini didukung oleh pendapat Sastroutomo (1990), yang menyatakan bahwa suku Amaranthaceae mempunyai biji yang banyak, mudah menyebar, serta dapat tumbuh pada tanah yang basah dan dapat menyebar ke seluruh areal penanaman. Tumbuhan gulma suku Asteraceae yakni Galinsoga parviflora Cav. juga mendominasi di lahan Pertanian Brokoli karena suku Asteraceae ini dapat 8

berkembangbiak melalui biji, mempunyai kemampuan beradaptasi dengan lingkungan, misalnya sedikit air sampai tempat basah dan tahan terhadap naungan. Kebutuhan akan cahaya, temperatur, air dan ruang tumbuh terpenuhi sesuai dengan kebutuhannya, sehingga tumbuhan gulma ini dapat berkembang cepat. Hal ini sesuai dengan pendapat Reader dan Buck (2000) dalam Darmadi, dkk (2011), yang menyatakan bahwa tumbuhan gulma dari suku Asteraceae ini banyak ditemukan karena dapat berkembangbiak melalui biji, mempunyai kemampuan beradaptasi dengan lingkungan, misalnya sedikit air sampai tempat basah dan tahan terhadap naungan. Ketertarikan Arthropoda Predator yang mengunjungi tumbuhan gulma Amaranthus sp. lebih tinggi daripada tumbuhan gulma Galinsoga parviflora Cav. Hal ini menunjukkan bahwa tumbuhan gulma Amaranthus sp. lebih disukai Arthropoda Predator untuk mengunjungi tumbuhan gulma Amaranthus sp. karena memiliki respons yang lebih tinggi dalam menangkap senyawa volatil yang dikeluarkan tumbuhan gulma Amaranthus sp. Setiap genus memiliki kunjungan tertinggi yang berbeda-beda pada tumbuhan gulma yang berbeda pula. Hal ini dipengaruhi oleh faktor abiotik dan biotik. Distribusi temporal tertinggi Arthropoda Predator pada tumbuhan gulma Amaranthus sp. terdapat pada pukul 08.00-08.20 dan pada tumbuhan gulma Galinsoga parviflora Cav. distribusi temporal tertinggi Arthropoda Predator juga terdapat pada pukul 08.00-08.20. Tingginya kunjungan Arthropoda Predator pada pukul 08.00-08.20 diduga berkaitan dengan aktivitas masing-masing serangga baik dalam berkembang biak, mencari makan, maupun bereproduksi. Selain itu pada pukul 08.00-08.20 suhunya mencapai 25,7 C yang mana pada suhu tersebut sangat mendekati suhu optimum bagi Arthropoda Predator. KESIMPULAN DAN SARAN Dari hasil penelitian dan pembahasan didapatkan kesimpulan sebagai berikut: (1) jenis tumbuhan gulma yang terdapat di lahan Pertanian Brokoli sebanyak 13 jenis tumbuhan gulma yang tergolong dalam 9 suku yakni Asteraceae, Caryophyllaceae, Poaceae,Brassicaceae, Amaranthuceae, Portulaceae, Rubiaceae, Onagraceae, dan Cyperaceae, (2) jenis tumbuhan gulma yang mendominasi di lahan Pertanian Brokoli yakni Amaranthus sp. dan Galinsoga parviflora Cav., (3) frekuensi kunjungan Arthropoda Predator yang terdapat pada tumbuhan gulma Amaranthus sp. dikunjungi oleh 11 genus Arthropoda Predator. Tumbuhan gulma Galinsoga parviflora Cav. dikunjungi oleh 10 genus Arthropoda Predator, dan (4) Pada tumbuhan gulma Amaranthus sp. dan tumbuhan gulma Galinsoga parviflora Cav. kunjungan tertinggi terjadi pada pukul 08.00-08.20. Dari hasil penelitian dan pembahasan didapatkan saran sebagai berikut: (1) bagi mahasiswa, penelitian ini sebaiknya dilakukan pada musim kemarau agar Arthropoda Predator yang ditemukan lebih banyak jenisnya dibandingkan dengan pada musim penghujan Arthropoda Predator yang ditemukan lebih sedikit jenisnya dan (2) mahasiswa, penelitian ini hanya mengkaji tentang ketertarikan Arthropoda Predator berdasarkan frekuensi kunjungan, sebaiknya dilakukan penelitian lain yang mengkaji tentang interaksi predasi antar Arthropoda Predator. 9

DAFTAR RUJUKAN Cahyono, B. 2001. Kubis Bunga dan Broccoli. Yogyakarta: Kanisius. Darmadi, Ketut. A. A, Joni, Martin dan Suryaningsih. 2011. Inventarisasi Gulma Pada Tanaman Jagung (Zea mays L.) di Lahan Sawah Kelurahan Padang Galak, Denpasar Timur, Kodya Denpasar, Provinsi Bali. Jurnal Simbiosis, 1(1): 1-8. Laba, I.W. 1998. Aspek Biologi dan Potensi Beberapa Predator Hama Wereng Pada Tanaman Padi. Jurnal Litbang Pertanian 18 (2). Meilin, Araz. 2006. Studi Dominansi Dan Teknik Pengendalian Gulma Pada Perkebunan Karet (Studi Kasus Di Desa Tunas Baru, Kecamatan Sekernan, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi). (Online), (https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1 &cad=rja&uact=8&ved=0ccuqfjaa&url=http%3a%2f%2fwww.digili b.litbang.deptan.go.id%2f~jambi%2fgetiptan.php%3fsrc%3d2008%2fp ros13.pdf%26format%3dapplication%2fpdf&ei=4rt4u6eqdsiqrafb7y HgAg&usg=AFQjCNGyf4hpduND5CWoF5foKIlPVrMLg&bvm=bv.66917471,d.bmk), diakses 18 Mei 2014. Rahardjo, S. 2005. Keberadaan Spodoptera litura (Febricus) Sebagai Hama utama Tanaman Tembakau Virginia Di Daerah Puyung. (Online), (http://library.unram.ac.id/download/fp/hama-rahardjo.pdf), diakses 18 Mei 2014. Sastroutomo, Soetikno S. 1990. Ekologi Gulma. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Sosromarsono S. dan Untung K. 2000. Keanekaragaman hayati Artropoda predator dan parasitoid di Indonesia serta pemanfaatannya. dalam: Prosiding simposium keanekaragaman hayati Artropoda pada sistem produksi pertanian. Cipayung: PEIKEHATI. Untung, Kasumbogo. 2006. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu (edisi kedua). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 10

11