BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II DESKRIPSI (OBYEK PENELITIAN) merupakan ekspansi dari PT. ADIS Dimension Footwear yang berlokasi di

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB 4 PEMBAHASAN HASIL

DAFTAR ISI... HALAMAN JUDUL... SURAT PERNYATAAN... SURAT KETERANGAN PENELITIAN... LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING... LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI...

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V ANALISIS HASIL. material dalam sistem secara keseluruhan. Value stream mapping yang

Mulai. Studi Pendahuluan. Perumusan Masalah. Penetapan Tujuan. Pemilihan Variable. Pengumpulan Data. Menggambarkan Process Activity Mapping

BAB V HASIL DAN ANALISIS

LAMPIRAN 1. Struktur Organisasi PT. X L-1

BAB V ANALISA. Value added time Leadtime. = 3,22jam. 30,97 jam x 100% = 10,4%

Maya Anestasia, 2 Pratya Poeri, 3 Mira Rahayu 1, 2,3 Program Studi Teknik Industri, Fakultas Rekayasa Industri, Telkom University

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB V HASIL DAN ANALISA

BAB I PENDAHULUAN. menjadi jasa atau barang. Manufacturing adalah proses produksi untuk

Penurunan Waste Intra pada Transportation Process Menggunakan Value Stream Mapping: A Case Study

BAB V ANALISA DAN PEMBAHASAN

BAB III METODOLOGI. Proses produksi pada PT. PIN khususnya proses dari bagian upper (cutting

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang

IDENTIFIKASI PENYEBAB KETERLAMBATAN WAKTU PERBAIKAN MESIN PRODUKSI DENGAN VALUE STREAM MAPPING DI PERUSAHAAN PENGOLAHAN SUSU

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

5 BAB V ANALISA DAN HASIL

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Bab I Pendahuluan. Support. Webbing QC Sewing. Gambar I.1 Skema alur proses produksi tas di PT. Eksonindo Multi Product Industry

Penerapan Lean Manufacturing dalam Proses Produksi Common Rail 4D56

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

Usulan Lean Manufacturing Pada Produksi Closet Tipe CW 660J Untuk Meningkatkan Produktivitas

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Perbaikan Tata Letak Fasilitas Cell Produksi Dengan Menggunakan Work Cell in Proses Layout Untuk Meningkatkan Effisiensi Cell 8 di PT.

DAFTAR PUSTAKA. Edosomwan, J.A., Integriting Productivity and Quality Management., 2 nd Edition. Marcel Dekker, Inc.

TUGAS AKHIR PENERAPAN METODE LEAN SIGMA UNTUK MEMPERBAIKI KINERJA QUALITY, COST DAN DELIVERY PRODUK SUNVISOR ASSY DI PT. APM ARMADA AUTOPARTS

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB V ANALISIS HASIL. penerimaan pegawai Secara keseluruhan, berdasarkan hasil wawancara dan mekanisme

31 Gambar diatas menjelaskan secara sederhana bahwa inti dari sistem Lean ialah melakukan penghilangan terhadap proses proses yang dianggap tidak memb

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB 1 PENDAHULUAN. Dalam perkembangannya, tantangan utama bagi setiap perusahaan adalah

Pendahuluan. I.1 Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN. Pada umumnya, tujuan akhir suatu perusahaan adalah untuk memperoleh

I.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN

Permasalahan yang akan dijadikan objek penelitian ini adalah keterlambatan pengerjan proyek pembuatan High Pressure Heater (HPH) di PT.

IMPLEMENTASI LEAN MANUFACURING PADA PROSES PRODUKSI UNTUK MENGURANGI PEMBOROSAN PERSEDIAAN

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Sumber: (Dokumentasi CV. ASJ)

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Pesatnya perkembangan dunia industri dari waktu ke waktu dan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

BAB I PENDAHULUAN. Dasar pemikiran dari lean thinking adalah berusaha menghilangkan waste

B A B 5. Ir.Bb.INDRAYADI,M.T. JUR TEK INDUSTRI FT UB MALANG 1

OPTIMASI LINI PRODUKSI DENGAN VALUE STREAM MAPPING DAN VALUE STREAM ANALYSIS TOOLS

BAB I PENDAHULUAN. kegiatan yang dapat meningkatkan nilai tambah (value added) produk (barang dan

BAB I PENDAHULUAN. Persaingan yang sangat pesat di sektor industri pada saat ini menuntut setiap

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Avissa Bonita, Rispianda Gita Permata Liansari. Jurusan Teknik Industri Institut Teknologi Nasional (Itenas) Bandung.

BAB I PENDAHULUAN I.1

Bab I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

ABSTRAK. iv Universitas Kristen Maranatha

Qolli Kusuma, 2 Pratya Poeri Suryadhini, 3 Mira Rahayu 1, 2, 3

Lean Thinking dan Lean Manufacturing

BAB 1 PENDAHULUAN. satunya adalah dunia industri yang secara langsung melibatkan perkembangan

Industrial Management Identifikasi dan Eliminasi Waste pada Proses Receiving di Gudang Logistik

APLIKASI LEAN THINKING PADA INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT SEMEN GRESIK

ANALISIS PROSES PRODUKSI MODULE CONDENSOR MENGGUNAKAN METODE LEAN MANUFACTURING DENGAN PENDEKATAN SIMULASI DI PT. XYZ

BAB I PENDAHULUAN I - 1

UPAYA PENGURANGAN PEMBOROSAN DALAM MENINGKATKAN KAPASITAS PRODUKSI DENGAN PENDEKATAN LEAN MANUFACTURING

BAB V ANALISIS HASIL OLAH DATA

MINIMASI WASTE PADA PT. PETROKIMIA KAYAKU MENGGUNAKAN ANALISIS LEAN MANUFACTURING

VALUE STREAM MAPPING PROSES OPERASIONAL UNIFORM DI PT. X

BAB I PENDAHULUAN. Industri makanan dan minuman merupakan sektor strategis yang akan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

Implementasi Lean Manufacturing untuk Identifikasi Waste pada Bagian Wrapping di PT. X Medan

TUGAS AKHIR PENERAPAN LEAN MANUFACTURING DALAM MENGIDENTIFIKASI DAN MEMINIMASI WASTE PRODUK GRANIT DI DIVISI PRODUKSI PADA PT. IMPERO GRANITO UTAMA

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Mulai. Kajian Pendahuluan. Identifikasi & Perumusan masalah. Penetapan Tujuan & batasan penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Bab I Pendahuluan. I.1 Latar Belakang

RANCANGAN PROSES PRODUKSI UNTUK MENGURANGI PEMBOROSAN DENGAN PENGGUNAAN KONSEP LEAN MANUFACTURING DI PT. MIZAN GRAFIKA SARANA*

BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA

PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

Standarisasi Aliran Proses dan Informasi Pada Departemen Transport di PT A

PENERAPAN LEAN MANUFACTURING UNTUK MEMINIMIZE WASTE PADA PROSES PERAKITAN PLASTIC BOX 260 MENGGUNAKAN METODE VSM

BAB I PENDAHULUAN. Sun (2011) mengatakan bahwa lean manufacturing merupakan cara untuk

KATA PENGANTAR. berkenan memberikan rahmat dan hidayahnya sehingga penulis dapat ANALISA PENERAPAN KONSEP LEAN THINKING

BAB I PENDAHULUAN. Toyota production system (TPS) sangat populer di dunia perindustrian.

41 Jurnal Rekayasa Sistem & Industri Volume 1, Nomor 2, Oktober 2014

Tabel I. 1 Data Pengiriman CV.ASJ kepada PT.A. Tanggal Keterlambatan Pengiriman

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Kepuasan konsumen merupakan faktor yang sangat penting untuk

DIREKTORAT PENGELOLAAN BAHAN BERBAHAYA BERACUN DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN SAMPAH, LIMBAH DAN BAHAN BERACUN BERBAHAYA

ANALISIS MINIMALISASI DEFECT WASTE DENGAN VALUE STREAM MAPPING (Studi Kasus di PT.X, Supplier PT.Philips Indonesia SIER)

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN I.1

Analisis Waste dalam Produksi Pasta Gigi Menggunakan Lean Thinking

RANCANGAN SISTEM KANBAN UNTUK MENGURANGI NON VALUE ADDED ACTIVITIES PADA PROSES PRODUKSI DI PT. CENTRAL WINDU SEJATI

Value Stream Mapping sebagai Alat Identifikasi Waste pada PT. X untuk Departemen A

Transkripsi:

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilakukan pada Line 104 Plant 1 yang memiliki nilai NOS Metrics yang paling signifikan perubahannya dari bulan ke bulan selama tahun 2013. Data Penelitian diperoleh melalui proses observasi/pengamatan langsung dilapangan pada saat proses produksi berjalan, juga dilakukan wawancara dengan para Value Stream Manager dan Value Stream Supervisor. Berdasarkan kerangka penelitian pada bab sebelumnya, pada penelitian ini dilakukan analisa kinerja produksi dengan menggunakan pendekatan Lean Manufacturing, dengan melakukan perhitungan dan analisa Value Added, Non Value Added, pembuatan Value Stream Mapping dan melakukan perbaikan NOS Metric. 5.1 Jenis aktivitas pada Line 104 Proses pembuatan sepatu khususnya pada line 104 dimulai dengan proses pemotongan material menjadi komponen komponen. Dari hasil pemotongan (cutting) menjadi komponen ini maka komponen komponen tersebut dialirkan ke proses selanjutnya yaitu ke bagian preparation, dimana pada proses preparation ini bertujuan untuk mempersiapkan komponen untuk mempermudah proses jahit (stitching). Selain dialirkan ke proses preparation ada juga komponen dialirkan ke proses screen printing sesuai dengan model atau jenis sepatu. 51

52 Dari proses preparation, semua komponen langsung disalurkan ke proses selanjutnya dan siap untuk masuk ke proses stitching atau jahit untuk membentuk komponen upper atau bagian atas sepatu. Setelah proses stitching dan menghasilkan komponen upper maka komponen upper ini siap untuk dialirkan ke proses selanjutnya yaitu proses assembling. Proses assembling merupakan proses penempelan komponen atas sepatu atau upper dengan komponen bawah (alas) dari sepatu yang biasa disebut bottom. Pada proses assembling dimulai degan proses BPM atau Back Part Molding atau pembentukan bagian belakang sepatu (heel) sampai kepada attaching atau penempelan sepatu, press untuk menambah daya lekat lem (adhesive) sampai kepada proses pemasangan tali sepatu dan pembersihan dan siap untuk dikirim. 5.1.1 Analisis Value Added dan Non Value Added Activity Mengingat fokus dari konsep sistem lean ialah melakukan penghilangan pemborosan maka penelitian ini diawali dengan melakukan analisa terhadap aktivitas yang bernilai tambah dan tidak bernilai tambah berdasarkan flow process yang telah berjalan,. Berikut uraian proses yang berjalan yang dikelompokkan kedalam proses cutting, preparation, stitching dan assembling serta identifikasi proses yang bernilai tambah dan tidak bernilai tambah yang bisa dijadikan usulan perbaikan pada penelitian ini. Tabel 5.1. Flow Process Line 104

53 NO 1 2 3 4 Grouping Process Cutting Process Actual M/P Machine Type Machine Quantity Value Added /Non Value Added Cutting Subcont : Quarter L/M 1 CT-Bm 1 VA Cutting Leather : Vamp, Tip, Mudguard L/M, Eyestay Bottom, Foxing Cutting Syntetic : Swoosh L/M, Vamp Olay #1, Vamp Olay #2 L/M, Foxing Ulay, Backtab O'lay, Quarter Olay L/M, Collar External, Mudguard Ulay L/M, Quarter L/M Cutting Textile : Collar Lining, Tongue Lining, Tongue Top, Tongue Bottom, Vamp Lining, Quarter Lining, Eyestay Ulay Reinf L/M, Vamp Olay Reinf#2 L/M, Quarter Olay Reinf #1 L/M, Tip Reinf, Foxing Reinf, Swoosh Reinf L/M, Collar External Reinf, Quarter Olay Reinf L/M, Collar Foam, Collar Backer Foam, Toe Box, Stroble Sock 3 CT-Sw 3 VA 2 Ct-Bm 2 VA 3 Ct-Bm 3 VA 5 Suplay Subcont 1 VA 6 Setting Component Cutting 1 NNVA 7 Setting Tongue & lining 1 VA 8 Buffing : Med Quarter, Foxing, Tip 1 Buff 1 VA 9 M-Skiving : Tip, Vamp, NVA (Cukup 5 M-Skiv 2 Foxing, Quarter L/M 4 Operator) 10 Collar Foam #2 1 Grind 1 VA 11 Preparation#1 Screen Vamp 1 Tbl Scr 1 NVA 12 Screen Lat & Med Quarter 2 Tbl Scr 2 VA 13 Roll 709 & Plc Foxing R/f to Foxing 1 Roll 1 VA 14 Roll 709 & Plc U-Throat R/f L/M to Vamp 1 Tbl 1 VA 15 Solder Toe Box to Tip 1 Sld 1 VA 16 Press Toe Box to Tip 1 P-Fuss 1 VA 17 St Tip to Vamp 2 P2 2 VA 18 St Collar Lining Edge 1 F1 1 VA 19 Roll 709 Collar Lining Side Area 1 Roll 1 VA NO Grouping Process Tabel 5.1. Flow Process Line 104 Process Actual M/P Machine Type Machine Quantity Value Added /Non

54 Value Added 20 Press Size Label to Tongue Lining 1 P-Size 1 VA 21 St Tongue Lace Loop to Tongue Face 1 F1 1 VA 22 St Tongue Lining to Tongue Face #1 (top area) 2 F1 2 VA 23 St Tongue Top Label #1, #2 to Tongue Lining 1 F1 1 VA 24 St Tongue Lining to Tongue Face #2 (side area) 2 F1 2 VA 25 Roll Hot Melt Tongue Foam Roll 1 VA 26 Plc Tongue Foam to Tongue & 1 Tongue Lining Reverse Tbl 1 VA 27 Spray on Tongue Spray 1 VA 28 2 Preparation St Tongue Edge #1 P2 2 VA 29 Roll 730 & Plc Quarter R/f L/M to Lat/Med Quarter 2 Roll 1 VA 30 Press Fussing Quarter R/f L/M to Lat/Med Quarter 1 P-Fuss 1 VA 31 Dott 709 & Plc Eyestay Webbing to Lat/Med Quarter 3 Dott 1 VA 32 St Box at Lat & Med Quarter Small through eyestay webbing (Top 5 PLK & Bottom) 5 VA 33 Trimming Thread 3 Tbl 3 VA 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 Preparation #2 Preparation #3 Placing Vamp Lining & Eyestay Facing to Pallet St Vamp Lining O'lay L/M (bottom edge) to Vamp Lining 2 Tbl 2 VA 1 Small PLK 2 VA Dott 709 Quarter L/M 1 Dott 1 VA Placing Vamp Lining to Quarter L/M St Eyestay Facing Lat/Med to Vamp Lining (top&edge) #1 St Eyestay Facing Lat/Med to Vamp Lining (top&edge) #2 1 Tbl 1 VA 5 P1 5 VA 2 P1 2 VA St Vamp to vamp Lining 4 P1 4 VA St Bartag Top Eyestay & Vamp/Qtr 2 P1 2 VA St Lat/Med Quarter to Vamp & Small 2 Vamp Lining PLK 2 VA St join Lateral Quarter to Medial Quarter 2 F1 2 VA Folded join Lateral Quarter to Medial Quarter 1 Fld2 1 VA Tabel 5.1. Flow Process Line 104 NO Grouping Process Process Actual M/P Machine Type Machine Quantity Value Added /Non

55 Value Added 45 St Foxing O'lay to Upper 3 P2 3 VA 46 Dott 709 on Vamp Lining inside 1 Dott 1 VA 47 48 Flattening while attaching it to upper 1 Tbl 1 VA Setting Input 1 VA 49 St Collar Lining to Upper 4 P1 4 VA 50 St Heel Counter to upper 2 P1 2 VA 51 Roll 709 collar Foam & attaching collar Foam #1 #2 & Attaching to collar Lining 2 Roll 1 VA 52 Spray Upper rear 1 Spray 1 VA 53 Collar Lining Reverse 2 Tbl 2 VA 54 Stitching St Upper Bottom Edge Margin 2 P1 2 VA 55 St Quarter/Foxing Lat & Med to Lining (Padding #2) 2 P2 2 VA 56 Trimmimg 1 Tbl 2 VA 57 Eyestay Holes Punching 1 Pch 1 VA 58 St Tongue to Upper 2 PLK Small 2 VA 59 Cleaning Upper 1 Tbl 2 VA 60 Insert Shoe Lace 4 Tbl 4 VA 61 Setting Input Lasting 1 VA 62 St. Gathering 1 Gtr 1 VA 63 Counter Activator Hot Mold H-Act 2 VA 64 Back Part Moulding Cold air 1 Bag Type BPM 2 VA 65 St. Strobel 2 Str 2 VA 66 Upper Conditioning 1 U-Con 1 VA Assembling 67 Toe Box Activator 1 T-Act 1 VA 68 Suply Laste 1 VA 69 Laste Preparation 1 VA 70 Insert Last to upper 2 I-Last 2 VA 71 Heel Heater H-Heat 1 VA 72 Heel Setting & Check heel heigh 1 H-Last 1 VA NO Grouping Process Tabel 5.1. Flow Process Line 104 Process Actual M/P Machine Type Machine Quantity Value Added/Non

56 73 Shoe Lace Tighten + Lat&Med Side Pressing 2 shoe lace tightening Value Added Activity 2 VA 74 Heat Setter Chamber Heat 1 VA 75 Supply O'Sole 1 VA 76 Seting Outsole dan Upper 1 Tbl 1 VA 77 Gauge Manual Toe & Heel Area 1 Tbl 1 VA 78 Gauge Marking 2 G-Mark 2 VA 79 Hand Grinding Leather Area & Brushing 3 Grind 3 VA 80 Upper Cleaning 1 VA 81 O'Sole Primer & Upper Primer 4 VA 82 Chamber for Drying #1 Cvy/cham VA 83 84 Bottom Cementing Upper Cementing 2 2 ber cementing 1 VA VA 85 Chamber for Drying #2 VA 86 Bottom to Upper Attaching 4 VA 87 Universal Press 1 P-Univ 1 VA 88 Cooling Chamber Chill 1 VA 89 Open Shoe Lace 1 Tbl 1 VA 90 Delasting & Grinding Laste 1 D-Last 2 VA 91 Cleaning Shoes 1 Cvy VA 92 Check & repair Bounding gap 1 Cvy VA 93 Sockliner Cementing & insert Sockliner 1 Roll 1 VA 94 Sockliner Pressing 1 P-Sc 1 VA 95 Make & Insert Shoe Foot Foam 2 Tbl 1 VA 96 Finishing Adjust Shoe Lace 2 Cvy VA 97 Pre QC 2 NVA 98 Check Quality 1 Cvy VA 99 Metal detector MtD 1 VA 100 Folding Box 1 Tbl 1 VA 101 Wrapping 1 Cvy VA 102 Checker/Adm 1 Tbl 1 VA 103 Packing to Outer Box 1 VA Tabel diatas memberikan informasi mengenai proses proses yang berjalan pada line produksi 104, jumlah manpower yang dibutuhkan untuk setiap proses, dan

57 jumlah mesin serta jenisnya. Setelah dilakukan pengamatan untuk proses yang sedang berjalan, maka dilakukan identifikasi untuk setiap proses yang bernilai tambah dan tidak bernilai tambah. Berdasarkan data diatas, terdapat 3 macam improvement yang dapat dilakukan yaitu, Eliminate, Combine dan Reduce dalam hal ini mengurangi jumlah Manpower pada proses produksi jika ada yang tidak bernilai tambah dan berikut Summary improvement pada masing masing pengelompokan proses. Tabel 5.2 Summary Non Value Added Activity Improvement Cutting Preparation Sewin g Assembling Finishing Eliminate - Screen Vamp - - - Combine - Setting component process - - - M-Skiving : Tip, Reduce manpower - Vamp, Foxing, Quarter L/M - - Pre QC Sumber : Data diolah Penulis, 2014 Proses Setting component cutting merupakan aktivitas Necessary Non Value Added dimana aktivitas ini dikategorikan kedalam aktivitas Non Value Added karena pada proses selanjutnya ada proses Setting Tongue dan Lining yang juga merupakan proses setting komponen dan diusulkan untuk menggabungkan kedua proses ini sehingga tidak terjadi pemborosan Over Processing. Untuk proses Matrix Skiving pada saat dilakukan gemba terdiri dari 5 operator dimana 4 operator melakukan proses skiving untuk komponen Tip, Vamp, Foxing dan Quarter L/M dan 1 orang untuk menyusun dan merapikan. Setelah melakukan trial bersama dengan tim Industrial Engineering untuk menghitung cycle time untuk proses ini, maka diusulkan untuk mengurangi 1 orang yang menyusun dan merapikan

58 komponen yang telah diskiving dan setiap operator yang melakukan skiving itulah yang akan menyusun dan merapikan sendiri hasil kerja mereka. Demikian pun dengan proses Screen Vamp, diusulkan untuk dihilangkan dengan merubah bentuk film screen dari screen logo pada vamp, sehingga pada saat dilakukan screen logo di inhouse printing secara otomatis screen untuk vamp pun akan ada. Untuk Proses Pre-QC merupakan pemborosan jika ada 2 operator yang melakukan cek quality pada pada proses ini karena setelah proses ini adalagi check quality yang dilakukan oleh team QC sehingga ini juga termasuk kedalam salah satu jenis pemborosan yaitu Over Processing, jadi diusulkan untuk mengurangi operator proses Pre-QC menjadi 1 orang saja. Semua proses yang dieliminasi, digabungkan ataupun mengurangi operator sebelum diusulkan telah dilakukan trial atau uji coba bersama tim terkait yaitu tim Industrial Engineering, NOS Production dan VSS dari line 104. Dari hasil identifikasi proses yang tidak bernilai tambah didapatkan efisiensi proses produksi yang dapat mengurangi 4 orang manpower dan menghilangkan 2 proses produksi dan dengan adanya improvement ini maka line produksi akan sedikit lebih ramping dari sebelumnya. 5.1.2 Urutan aktivitas dalam line (Pembuatan Current Value Stream Mapping) Current Value Stream Mapping merupakan gambaran dari proses produksi yang berlangsung dalam sebuah line yang meliputi aliran informasi dan material. Current Value Stream Mapping diperlukan sebagai langkah awal dalam proses identifikasi pemborosan dengan penggolongan proses yang bernilai tambah dan tidak

59 bernilai tambah pada line produksi dan juga lead time yang digunakan selama proses produksi serta WIP yang terdapat disetiap stasiun kerja. Model yang diamati dalam proses pembuatan VSM ini ialah model Nike Court Shuttle. Gambar 5.1 Current Value Stream Mapping Line 104 Gambar diatas merupakan kondisi line produksi pada saat dilakukan observasi atau gemba. Proses dimulai dari order yang diterima oleh bagian BU (Business Unit) dari kostumer kemudian dikirim ke bagian Planning atau PPIC melalui e-mail. Bagian PPIC kemudian membuat SPK untuk setiap bagian yang terkait seperti warehouse (MRP) untuk pemesanan material, produksi termasuk bagian cutting, preparation, stitching dan assembling, stockfit untuk proses bottom, dan support

60 departemen lain yang membutuhkan data jenis/model sepatu yang akan diproduksi. Setelah semua order telah selesai diproduksi maka langsung dikirim ke gudang Finish Good dan siap untuk dikirim. Gambar diatas pun dengan jelas menginformasikan waktu yang digunakan setiap proses produksi dan jumlah inventory yang ada pada setiap proses dan ini tentunya sangat memudahkan untuk melakukan perbaikan terutama dalam hal penghilangan pemborosan. 5.2. Pembahasan Berdasarkan indikator NOS Metric 5.2.1 Lead Time (Penggambaran Future Value Stream Mapping) Dalam pembuatan Future Value Stream Mapping (FVSM), sama halnya dengan pembuatan Current Value Stream Mapping, dan berikut Future State Mapping yang diinginkan :

61 Gambar 5.2 Future Value Stream Mapping Line 104 Berdasarkan pada Future Value Stream Mapping diatas, bagian yang mengalami perubahan ialah perubahan jumlah inventory pada setiap substation, dimana seperti yang dijelaskan pada bab kajian teori bahwa salah satu dari 7 jenis pemborosan ialah inventory, maka jumlah inventory pada setiap substation FVSM direncanakan hanya ada 312 pasang (2 Lot basis) dalam setiap substation cutting, preparation, stitching/sewing dan assembling, sedangkan untuk support team seperti vendor, computer stitching dan stockfit hanya akan ada inventory sebanyak 624 pasang (4 Lot basis). Pada FVSM ini pun akan diterapkan permintaan material berdasarkan kanban sehingga sistem yang dijalankan adalah sistem tarik (Pull

62 System) dan bukan sistem dorong (Push System) lagi. Hal ini untuk menghindari inventory yang tidak merata pada setiap substation. Selain perubahan jumlah inventory, juga dilakukan perubahan lead time mulai dari lead time penyimpanan material pada staging area sampai pada proses finishing sepatu yang siap dikirim ke gudang finish good. Untuk Lead time material pada staging area diubah dari 1 hari menjadi setengah hari saja, kemudian lead time proses setiap substation juga mengalami perubahan seperti yang terlihat pada Gambar 5.2, sehingga lead time produksi akan mengalami penurunan dari 2,18 hari menjadi 1,75 hari. 5.2.2. First Time Through Dari serangkaian proses produksi diatas, didapatkan data defect (rework) yang selama 1 bulan masa penelitian sbb : Data berikut merupakan beberapa tipe defect yang ditemukan pada line produksi 104 mulai dari proses cutting sampai pada proses finishing. Dari total output yang dihasilkan ada sebanyak 21.470 pcs sepatu ditemukan ada 1602 pcs sepatu atau 7,46% yang reject.

63 Tabel 5.3 Data Defect September 2014 Type of Defect Number of pcs % 1.70 Stain Upper 365 0.00 Pouncing Tersumbat 0 0.36 Stain Outsole 78 0.03 Stain Shoe lace 6 1.61 Over Cement 345 1.68 Poor trimming 361 0.00 Crooked 0 0.02 Diff Toe/ Heel 4 0.00 Line up 0 0.89 Bond gap O/s to U/p 192 0.00 Bond gap O/s to M/s 0 0.02 Wrinkle 4 0.00 Collar Shape 0 0.41 Broken stitching 89 0.65 Over buffing 139 0.09 Open Throat 19 0.00 Other 0 Total Defect 1602 7,46 Output 21470 (Sumber : Departemen Quality PT. Asia Dwimitra Industri, 2014) Berdasarkan tabel diatas dapat terlihat bahwa tipe defect yang ditemukan pada saat proses produksi antara lain stain upper, stain on outsole, bond gap, over cementing, dll dan defect yang paling sering terjadi ialah stain upper dimana terdapat kotoran pada upper sepatu yang sudah sampai pada proses finishing. Seperti yang dijelaskan pada bab teori dimana FTT merupakan nilai dari salah satu pengukuran NOS Metrik yang didapatkan dari perbandingan output produksi dan data defect maka dari berbagai tipe defect (rework) diatas akan diambil tipe defect

64 yang paling sering ditemukan dan dicari penyelesaian masalahnya dengan menggunakan metode Fish Bone. Gambar 5.3 Fishbone Diagram Defect Stain Upper Dari analisis permasalahan dengan menggunakan diagram fishbone diatas dapat dilihat bahwa pada umumnya operator masih kurang kepedulian akan kebersihan diarea kerja baik itu kebersihan mesin maupun lingkungan kerja disekitarnya. Karena pada saat dilakukan observasi kita masih menemukan makanan yang diletakkan dekat komponen, mesin yang berdebu, dan alat bantu kerja pada area proses cleaning tidak diganti sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan oleh SOP. Untuk itulah penerapan 5S harus lebih ditingkatkan lagi dimana tidak hanya pada saat akan dilaksanakan audit 5S saja baru membersihkan tetapi harus dibuatkan jadwal piket setiap 2x sehari, dan operator juga harus konsisten menjalankan dan mengisi form autonomous maintenance untuk setiap mesin yang ada.

65 5.2.3. Built To Schedule dan Productivity Untuk BTS sendiri juga telah dijelaskan bahwa nilai BTS didapatkan dari perbandingan dari total output dan schedule yang telah dibuat oleh tim PPIC. Demikian pula dengan productivity yang merupakan perbandingan dari output produksi dan jumlah manpower pada line tersebut, dan berikut grafik dari planning yang dibuat oleh tim PPIC dibandingan dengan aktual yang dihasilkan oleh produksi selama melakukan penelitian. 7000 6000 5000 4000 3000 2000 1000 0 week 1 week 2 week 3 week 4 Gambar 5.4 Grafik Production Output vs Actual Line 104 Jika dilihat dari data grafik diatas sangat jelas memberikan informasibahwa selama 1 bulan melakukan penelitian ini didapatkan data output produksi yang tidak pernah mencapai target. Diagram Fishbone berikut merupakan hasil temuan pada saat melakukan gemba penyebab terjadinya masalah ini.

66 Gambar 5.5 Fishbone Diagram Output Produksi vs Output Planning Diagram Fishbone diatas memberikan informasi bahwa permasalahan output yang tidak mencapai target selama dilakukan penelitian pada umumnya ialah absensi karyawan yang tinggi, skill manpower rendah dan waktu yang diperlukan untuk menunggu spare part dari mesin yang rusak sehingga operator harus menggunakan mesin yang sama bersama dengan line yang lain dan ini tentunya juga akan mempengaruhi produktivitas dari line produksi yang lain. Usulan untuk perbaikan ini terutama untuk skill manpower ialah memberikan training kepada operator yang hanya memiliki 1 skill saja sehingga mereka menjadi multi skill sehingga jika ada karyawan yang absen pada line ini maka operator tersebut dapat menggantikan pekerjaannya, dan tentunya metrics skill harus tetap di update dan harus bekerjasama dengan tim HRD untuk memberikan kompensasi untuk

67 karyawan yang memiliki skill yang berbeda sehingga ini juga bisa menjadi motivasi bagi karyawan. Untuk permasalahan spare part, diusulkan untuk recycle spare part yang masih bisa digunakan dengan mengganti beberapa komponen dari spare part tersebut sementara menunggu yang baru datang, mungkin ini hanya untuk mesin mesin tertentu saja tetapi minimal ini bisa menjadi solusi dalam meningkatkan produktivitas line. 5.2.4 New Grapich of FTT, BTS and Productivity Sesuai dengan perhitungan NOS Metrik yang dijelaskan pada Bab Kajian Literatur, maka didapatkan grafik terbaru dari komponen NOS Metrics sbb : 91% 90% 89% 88% 87% 86% 85% 84% 83% 82% Actual Target Gambar 5.6 Grafik First Time Through September 2014 Gambar 5.7. merupakan grafik dari FTT line 104 selama dilakukan penelitian yaitu selama bulan September 2014. Dapat dilihat masih belum tercapainya target namun dengan adanya usulan yang diberikan berdasarkan penelitian yang dilakukan, diharapkan akan memberikan perubahan yang baik dan dapat meningkatkan nilai FTT sehingga target yang ditetapkan dapat tercapai.

68 91% 90% 89% 88% 87% 86% 85% 84% Actual Target Gambar 5.7. Grafik Built to Schedule September 2014 Grafik di atas merupakan grafik dari nilai BTS selama bulan September, disini dapat dilihat belum tercapainya target karena jumlah output yang dihasilkan oleh line 104 belum sesuai dengan target yang direncanakan oleh tim PPIC, dan dari penelitian yang dilakukan diusulkan untuk melakukan beberapa improvement sesuai dengan analisa yang sudah dilakukan.

69 2.5 2 1.5 1 0.5 0 Gambar 5.8 Grafik Lead Time September 2014 Grafik di atas merupakan nilai dari NOS Metrik selama melakukan penelitian, dan dapat dilihat bahwa nilai FTT adalah 85% dari target 90%, demikian juga halnya dengan BTS yang mencapai angka 86% dari target 90% serta Lead Time yang dapat dikurangi dari pembuatan Future Value Stream Mapping. Diharapkan dengan adanya penelitian ini dan diterapkannya beberapa usulan yang diberikan akan dapat meningkatkan angka NOS Metrics. 5.3 Perbandingan dengan Kajian Studi Sebelumnya Penelitian ini dibuat berdasarkan literatur - literatur yang ada, salah satunya adalah penelitian terdahulu yang mengimplementasikan konsep Lean Manufacturing untuk mengidentifikasi pemborosan dengan metode Value Stream Mapping untuk

70 menungkatkan produktivitas pada proses produksi. Kesamaan penelitian Kurniawan (2012) dengan penelitian ini adalah: - Penggunaan Value Steam Analysis Tools untuk mengidentifikasi pemborosan untuk meningkatkan produktivitas pada produksi sepatu, sehingga proses produksi lebih efektif dan efisien. - Pemetaan Value Stream Mapping sangat membantu dalam perencanaan perbaikan aktivitas produksi dan dapat mengurangi pemborosan. Selain Kurniawan (2012), ada juga beberapa penelitian sebelumnya yang menggunakan konsep Lean Manufacturing dalam beberapa proses produksi untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas produksi seperti Prayogo (2013) yang melakukan identifikasi pemborosan dengan menggunakan Value Stream Mapping dan hasil dari identifikasi ini dapat menurunkan tingkat pemborosan jenis Transportation sebanyak 39.98%, dan jenis pemborosan Waiting dapat diturunkan sebanyak 70,34%. Andini (2012) juga menggunakan pendekatan konsep Lean Manufacturing dalam peningkatan efisiensi pada system produksi pembuatan kaca. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa jenis pemborosan yang terjadi di lantai produksi ialah defect sebanyak 1,65%, over production sebanyak 3,65% dan excess process dengan nilai 3.15%. Dari beberapa penelitain terdahulu tersebut diatas, jika dikaitkan dengan hasil penelitian yang dilakukan selama sebulan ini pada umumnya memberikan hasil yang baik, dimana dengan ditemukannya pemborosan pada setiap line produksi dan

71 dilakukan upaya untuk menghilangkan aktivitas yang tidak bernilai tambah, akan meningkatkan efektifitas dan efisiensi proses produksi. 5.4. Implikasi Temuan dan Manfaat Bagi Perusahaan Dalam upaya perbaikan aktivitas dengan mengindentfikasi pemborosan yang berdasar pada aktivitas yang tidak bernilai tambah untuk meningkatkan angka atau nilai dari NOS Metric yang merupakan indikator dari keberhasilan sebuah line produksi pada PT. Asia Dwimitra Industri, maka berikut beberapa pemaparan implikasi temuan bagi perusahaan antara lain : 1. Perlu diadakan sosialisasi kepada bagian produksi untuk menerapkan perbaikan aktivitas sehingga proses produksi lebih efisien dan efektif. 2. Perbaikan aktivitas ini dilakukan dengan cara eliminate, combine dan reduce tiap aktivitas. Untuk hal ini perlu dilakukan analisis bersama dengan tim produksi untuk menggabungkan beberapa proses dengan dukungan dari skill team member. 3. Melanjutkan improvement aktivitas dengan melakukan training untuk team member dan menerapkan proses yang otomation mengganti proses manual. 5.5 Keterbatasan Penelitian dan Dampak Terhadap Generalisasi Temuan Keterbatasan penelitian menimbulkan dampak bagi hasil penelitian yang dilakukan. Penulis menyadari masih adanya keterbatasan dalam penelitian yaitu sbb :

72 1. Penelitian hanya dilakukan pada 1 Line produksi saja dengan model yang diproduksi pada saat melakukan observasi ialah Nike Court Shuttle, sehingga tidak menutup kemungkinan hasil penelitian ini tidak dapat diterapkan pada produksi sepatu model yang lain karena urutan proses setiap model sepatu berbeda. 2. Penelitian difokuskan pada line produksi saja sehingga pemborosan yang ditimbulkan diluar proses produksi seperti system MRP ataupun sistem pengiriman yang ada dalam Value Stream Mapping tidak diidentifikasi. 3. Penelitian difokuskan kepada potensi perbaikan sederhana sehingga tidak melibatkan investasi pengadaan mesin sehingga potensi perbaikan yang lebih besar tidak diidentifikasi.