BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. artian yang lebih spesifik yakni pihak ketiga dalam supply chain istilah dalam

PENENTUAN URUTAN PRIORITAS KRITERIA DAN SUBKRITERIA DALAM PEMILIHAN PEMASOK BANGUNAN BERTINGKAT. Robby Cahyadi 1 dan Jane Sekarsari 2

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

Analisis Pemilihan Supplier Yang Tepat Untuk Produk Gigi Palsu (Studi Kasus Di CV. Brother Dent)

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

ANALISIS PEMILIHAN SUPPLIER MENGGUNAKAN METODE ANALYTIC HIERARCHY PROCESS (AHP)

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB III METODE PENELITIAN. Obyek pada penelitian ini adalah CV. Bagiyat Mitra Perkasa. Lokasi

PEMILIHAN SUPPLIER BAHAN BAKU DENGAN MENGGUNAKAN METODA ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) (STUDI KASUS DI PT. EWINDO BANDUNG)

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

Sistem Pendukung Keputusan Pemilihan Supplier Botol Galon Menggunakan Metode Analytical Hierarchy Process (AHP)

USULAN PROSES PEMILIHAN PEMASOK DI TOKO BESI NUSANTARA SEMARANG

PEMILIHAN SUPPLIER MENGGUNAKAN METODE ANALYTIC NETWORK PROCESS (ANP) DI PT. HARVITA TISI MULIA SEMARANG

ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) Amalia, ST, MT

METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN PEMILIHAN GALANGAN KAPAL UNTUK PEMBANGUNAN KAPAL TANKER DI PULAU BATAM

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan metode Fuzzy AHP. Adapun tahapan penelitian adalah sebagai berikut

Technology Science and Engineering Journal, Volume 1 No 2 June 2017 E-ISSN:

METODE PENELITIAN. Kata Kunci analytical hierarchy process, analytic network process, multi criteria decision making, zero one goal programming.

BAB II LANDASAN TEORI. Menurut Pujawan dan Erawan (2010) memilih supplier merupakan

BAB 3 METODE PENELITIAN

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI Penelitian Terdahulu dan Penelitian Sekarang

MODEL ANALITYCAL HIERARCHY PROCESS UNTUK MENENTUKAN TINGKAT PRIORITAS ALOKASI PRODUK

BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA

BAB III TEORI HIERARKI ANALITIK. Proses Hierarki Analitik (PHA) atau Analytical Hierarchy Process (AHP)

PENERAPAN ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) GUNA PEMILIHAN DESAIN PRODUK KURSI SANTAI

Pertemuan 5. Pemodelan Sistem Penunjang Keputusan (DSS) Dengan Analytic Hierarchical Proces (AHP).

Sistem Pendukung Keputusan Penentuan Supplier Terbaik dengan Metode AHP Pada AMALIUN FOODCOURT

ANALISIS PEMILIHAN SUPPLIER MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) (Studi Kasus Pada PT Cazikhal)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Metode AHP dikembangkan oleh Thomas L. Saaty, seorang ahli

PENERAPAN METODE ANALITICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) DALAM MEMILIH SUPPLIER Rudin Himu 1, Arip Mulyanto 2, Dian Novian 3 S1 Sistem Informasi /

PEMILIHAN SUPPLIER ALUMINIUM OLEH MAIN KONTRAKTOR DENGAN MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN SUPPLIER DENGAN METODE ANALYTICHAL HIERARCHY PROCESS

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

BAB III METODE PENELITIAN. Lokasi penelitian ini adalah Pamella Swalayan 1. Jl. Kusumanegara

Pemodelan Sistem Penunjang Keputusan (DSS) Dengan Analytic Hierarchical Proces (AHP).

Penerapan Metode Multi Attribute Decision Making) MADM- (Weighted Product) WP dalam Pemilihan Supplier di PT. XYZ

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

ANALISIS DAN IMPLEMENTASI PERANGKINGAN PEGAWAI MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS DAN SUPERIORITY INDEX

ANALISA FAKTOR PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN PERGURUAN TINGGI TINGKAT SARJANA MENGGUNAKAN METODE AHP (ANALITICAL HIRARKI PROCESS)

BAB II LANDASAN TEORI

JURNAL REKAYASA DAN MANAJEMEN SISTEM INDUSTRI VOL. 3 NO. 3 TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

Fasilitas Penempatan Vektor Eigen (yang dinormalkan ) Gaji 0,648 0,571 0,727 0,471 0,604 Jenjang 0,108 0,095 0,061 0,118 0,096

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 LANDASAN TEORI

MATERI PRAKTIKUM. Praktikum 1 Analytic Hierarchy Proses (AHP)

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Permasalahan. Konsumen tidak lagi hanya menginginkan produk yang berkualitas, tetapi juga

BAB III METODE PENELITIAN. lokasi penelitian secara sengaja (purposive) yaitu dengan pertimbangan bahwa

PENDEKATAN ANALITYCAL HIERARCHY PROCESS (AHP) DALAM PENENTUAN URUTAN PENGERJAAN PESANAN PELANGGAN (STUDI KASUS: PT TEMBAGA MULIA SEMANAN)

ANALISIS DATA Metode Pembobotan AHP

ISSN VOL 15, NO 2, OKTOBER 2014

Pemilihan Supplier Batu Split ke Perusahaan PT. XYZ Dengan Pendekatan Metode AHP

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN. organisasi baik organisasi tersebut bersifat profit oriented dan non profit oriented

Kuliah 11. Metode Analytical Hierarchy Process. Dielaborasi dari materi kuliah Sofian Effendi. Sofian Effendi dan Marlan Hutahaean 30/05/2016

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

RANCANG BANGUN APLIKASI SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN MENGGUNAKAN MODEL ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS UNTUK PEMBERIAN BONUS KARYAWAN

III. METODE PENELITIAN

PEMILIHAN SUPPLIER BAHAN BAKU KERTAS DENGAN MODEL QCDFR DAN ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP)

ANALISIS LOKASI CABANG TERBAIK MENGGUNAKAN METODE ANALYTIC HIERARCHY PROCESS

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

Penerapan Analytical Hierarchy Process (AHP) Untuk Sistem Pendukung Keputusan Penilaian Kinerja Karyawan Pada Perusahaan XYZ

Seminar Nasional IENACO 2016 ISSN: ANALISIS PEMILIHAN SUPPLIER BAHAN BAKU PEWARNA KAIN DI PT KURNIA MAS TEXTILE

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB III METODOLOGI. benar atau salah. Metode penelitian adalah teknik-teknik spesifik dalam

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI. pengambilan keputusan baik yang maha penting maupun yang sepele.

APLIKASI SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PENEMPATAN BIDAN DI DESA MENGGUNAKAN METODE ANALITYCAL HIERARCHY PROCESS (AHP)

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN KADER KESEHATAN DI KECAMATAN PEUDAWA KABUPATEN ACEH TIMUR

BAB 2 LANDASAN TEORI Analytial Hierarchy Process (AHP) Pengertian Analytical Hierarchy Process (AHP)

PEMILIHAN SUPPLIER YANG TEPAT DI UKM KERAJINAN BAMBU DENGAN MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS

Seleksi Material Menggunakan Metode Analytical Hierarchy Process Dan Pugh Gabriel Sianturi

PENERAPAN METODE ANALYTICAL HIERARCHICAL PROCESS (AHP) UNTUK PEMILIHAN DOSEN BERPRESTASI DI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER

BAB III METODE PENELITIAN

BAB IV METODOLOGI PENGAMBILAN KEPUTUSAN

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN MAKANAN PADA BAYI LIMA TAHUN (BALITA) DENGAN MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP)

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN DALAM MENENTUKAN PENILAIAN PRESTASI KARYAWAN TERBAIK. Surmayanti, S.Kom, M.Kom

PENENTUAN DALAM PEMILIHAN JASA PENGIRIMAN BARANG TRANSAKSI E-COMMERCE ONLINE

PENERAPAN FUZZY ANALYTICAL NETWORK PROCESS DALAM MENENTUKAN PRIORITAS PEMELIHARAAN JALAN

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS

IMPLEMENTASI SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PENERIMA BERAS UNTUK KELUARGA MISKIN ( RASKIN ) MENGGUNAKAN METODE AHP (ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS) Ilyas

BAB II LANDASAN TEORI

Analisa Pemilihan Kualitas Android Jelly Bean Dengan Menggunakan Metode AHP Pendekatan MCDM

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Definisi Sistem, Keputusan dan Sistem Pendukung Keputusan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Sistem Pendukung Keputusan

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

MATERI PRAKTIKUM. Praktikum 1 Analytic Hierarchy Proses (AHP)

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Di zaman yang global ini persaingan bisnis berjalan cukup ketat dan mengharuskan

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

Transkripsi:

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI 2.1. Pemilihan Supplier dan Kriteria Dalam industri manufaktur, pemilihan supplier akan memiliki dampak yang signifikan terhadap kinerja dari perusahaan (Herbon dkk, 2012). Dampak signifikan bisa berpengaruh terhadap finansial perusahaan. Salahsatu biaya utama dalam proses manajemen produksi adalah total omsetpembelian yang biasanya berkisar antara 50-90% (Mirabi dkk, 2010). Hal ini tidak dapat dengan mudah diabaikan karena melakukan kerjasama yang baik dengan supplier bisa menyebabkan pengurangan biaya yang signifikan (Asamoah dkk, 2012). Oleh karena itu, pemilihan supplier juga merupakan masalah yang penting bagi perusahaan (Gnansekaran dkk, 2006). Selama dua dekade terakhir, analisis pemilihan supplier telah banyak dilakukan (Kang dan Lee, 2010). Meskipun penelitian terhadap supplier banyak dilakukan, namun terdapat perbedaan pada masing-masing penelitian. Perbedaan terletak pada metode yang digunakan. Metode yang digunakan disesuaikan dengan tujuan dan obyek penelitian. Dalam evaluasi supplier diperlukan metode evaluasi sebagai alat untuk mengevaluasi supplier. Banyak metode yang digunakan untuk evaluasi supplier namun dalam penelitian yang dilakukan Kang dan Lee (2010), metode penelitian terbatas pada metode Analytic Hierarchy Process (AHP) dan Data Envelopment Analysis (DEA). Penelitian yang dilakukan oleh Nazari-Shirkouhi et, al (2013) yang bertujuan untukmemecahkan masalah mengenai pemilihan supplier dan alokasi order dalamtingkat harga dan produk yang beragam. Dalam memenuhi permintaan terkadang dibutuhkan lebih dari satu supplier. Hal ini akan menyebabkan munculnya masalah baru yaitu agaralokasi pada supplier terbaik yang harus dipilih dan mendapatkan jumlah order yang optimal dari masing-masing supplier sesuai dengan kemampuan supplynya. Dalam penelitian tentang pemilihan supplier dengan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP), penelitian Nurhasanah (2012) menggunakan metode AHP karena bisa mengambil keputusan yang efektif atas 4

persoalan yang kompleks dengan menyederhanakan masalah dan menyusunnya dalam hirarki. Penelitian Nurhasanah (2012) dilakukan karena belum ada metode yang benar-benar teruji untuk pemilihan supplier di PT. XYZ. Penelitian yang didasari dengan masalah yang sama juga dilakukan oleh Merline (2013), Lasakar (2014), dan Jayantho (2015). Penelitian yang dilakukan oleh Windarsari (2010) tentang pemilihan supplier kayu bingkarai di CV. Karya Mina Putra Rembang. Penelitian pada industri kayu juga dilakukan Merline (2013) tentang pemilihan supplier MK dan OPC sebagai bahan baku produksi triplek. Penelitian yang dilakukan keduanya dengan menggunakan metode AHP untuk menentukan urutan prioritas supplier. Menurut Windarsari (2010) penggunaan metode AHP dikarenakan CV. KMRP memiliki 9 supplier dan 5 kriteria dalam pemilihan supplier, serta alokasi order dengan menggunakan metode Economic Order Quantity (EOQ). Sedangkan pada penelitian Merline (2013) memiliki 6 supplier bahan baku MK dan 4 supplier bahan baku OPC. Sedangkan alokasi order dengan menggunakan metode goal programming. Penelitian yang dilakukan oleh Anggraeni (2009), Sari (2011), dan Setiawan (2012) menggunakan kriteria kualitas, pengiriman dan harga. Penelitian oleh Wirdianto (2008), Harsono (2009), Nurhasanah (2012) dan Jayantho (2015) menggunakan kriteria kualitas, harga, pengiriman dan layanan. Sedangkan pada penelitian Windarsari (2010), Rahmawati (2011) dan Putri (2012) menggunakan kriteria kualitas, harga, pengiriman dan produksi. Penelitian Muslim (2010), Iriani (2011) dan Wardah (2013) menggunakan kriteria kualitas, pengiriman, harga, pelayanan dan tanggung jawab. Penelitian Rahmadani (2011) dan Ngatawi (2011) menggunakan kriteria kualita, harga, pengiriman, produksi dan pelayanan. Pada penelitian yang dilakukan oleh Merline (2013), Taufik, dkk (2013) dan Lasakar (2014) menggunakan kriteria kualitas, harga, pengiriman, layanan dan tanggung jawab. Kriteria-kriteria tersebut juga termasuk dalam 23 kriteria yang digunakan oleh penelitian Weber (weber et al, 1991). Dari penelitian yang dilakukan sebelumnya didapatkan kriteria-kriteria yang digunakan untuk analisis supplier dengan metode Analytical Hierarchy Process. Tujuan dilakukan studi literatur adalah memberikan gambaran mengenai kriteria penilaian supplier sehingga dapat digunakan dalam evaluasi performansi supplier di PT. Indoexim Internasional. Kriteria yang didapat meliputi kriteria 5

kualitas, pengiriman, harga, produksi, pelayanan dan tanggung jawab. Dari kriteria-kriteria tersebut akan dijabarkan lagi sebagai subkriteria sehingga mendapatkan hasil yang lebih spesifik sesuai dengan kebutuhan penelitian. Tujuan penelitian yang akan dilakukan adalah mengevaluasi performansi supplier produk folding chairpada perusahan yang bergerak di bidang industri furniture dengan menggunakan metode AHP. Evaluasi tersebut dengan melakukan penilaian terhadap masing-masing supplier dengan kriteria-kriteria yang sudah didapatkan dari hasil studi literatur. 2.2. Dasar Teori 2.2.1. Supply Chain Management (SCM) Supply Chain Management atau manajemen rantai pasokan merupakan kegiatan pengelolaan kegiatan-kegiatan dalam rangka memperoleh bahan mentah, mentransformasikan bahan mentah tersebut menjadi barang dalamproses dan barang jadi, dan mengirimkan produk tersebut ke konsumen melalui sistem distribusi. Menurut Stock dan Lambert (2001), ada delapan bisnis inti dalam manajemen rantai pasokan yang meliputi : a. Customer relationship management Mengidentifikasi pelanggan potensial yang dinilai akan memberikan keuntungan bagi perusahaan. b. Customer service Management Informasi tepat waktu bagi pelanggan, untuk memperlancar pelaksanaan pengiriman barang. c. Demand Management Menyeimbangkan antara permintaan pelanggan dengan kemampuan perusahaan untuk memenuhi permintaan tersebut. d. Order Fullfillment Pemenuhan kebutuhan konsumen pada waktu, tempat, dan jumlah yang tepat. e. Manufacturing flow management Tindakan untuk menyesuaikan permintaan dari pelanggan dengan kemampuan produksi yang dapat dipenuhi perusahan. 6

f. Procurement Tindakan dari fungsi pembelian dengan mengembangkan mekanisme komunikasi agar dapat mengurangi waktu dan memberikan penghematan dalam transaksi pembelian. g. Product development and commercialization Tindakan melibatkan supplier dan konsumen dalam proses pengembangan produk perusahaan yang diinginkan oleh konsumen. h. Return Merupakan tindakan untuk mengelola feedback dari pelanggan terhadap produk guna perbaikan kinerja bagi perusahaan. 2.2.2. Supplier Selection Salah satu aspek utama fungsi pembelian adalah pemilihan pemasok, pengadaan barang yang dibutuhkan, layanan dan peralatan untuk semua jenisperusahaan bisnis. Oleh karena itu, fungsi pembelian adalah bagian yang penting dari supply chain management. Dalam lingkungan industri yang kompetitif saat ini, sangat tidak mungkin untuk bisa sukses berproduksi dengan biaya rendah, dan menghasilkan produk yang berkualitas tanpa pemasok yang memuaskan. Dengan begitu, salah satu keputusan pembelian paling penting adalah pemilihan dan pemeliharaan hubungan dengan supplier terpilih yang kompeten. Jadi, pemilihan supplier yang kompeten adalah salah satu fungsi paling penting yang harus dilakukan oleh departemen pembelian. Proses pemilihan supplier ini bermula dari kebutuhan akan supplier, menentukan dan merumuskan kriteria keputusan, pre-kualifikasi (penyaringan awal dan menyiapkan sebuah shortlist supplier potensial dari suatu daftar supplier), pemilihan supplier akhir, dan monitoring supplier terpilih, yaitu evaluasi dan penilaian berlanjut. Kriteria-kriteria yang digunakan dalam pemilihan supplier dari beberapa literatur: a. Kriteria pemilihan supplier menurut Weber berdasarkan ranking/urutan tingkat kepentingannya adalah sebagai berikut (Weber et al, 1991): kualitas, pengiriman, kinerja masa lalu, jaminan dan kebijakan klaim, fasilitas produksi dan kapasitas, harga, kemampuan teknis, keadaan finansial, penentuan proseduran, sistem komunikasi, reputasi dan posisi dalam industri, hasrat 7

berbisnis, manajemen dan organisasi, kontrol operasi, layanan perbaikan, sikap, kesan, kemampuan mengepak, hubungan dengan buruh, lokasi geografis, nilai bisnis terdahulu, alat pelatihan, dan pengaturan hubungan timbal balik. b. Kriteria pemilihan supplier menurut Nydick dan Hill (1992) yaitu sebagai berikut : kualitas, harga, layanan dan pengiriman. c. Surjasa dkk (2006) memberikan beberapa kriteria dan subkriteria dalam pemilihan supplier, yaitu sebagai berikut: i. Kriteria Harga Yang termasuk subkriteria pada kriteria harga adalah: 1. Kepantasan harga dengan kualitas barang yang dihasilkan. 2. Kemampuan untuk memberikan potongan harga (diskon) pada pemesanan dalam jumlah tertentu. ii. Kriteria Kualitas Yang termasuk subkriteria pada kriteria kualitas adalah: 1. Kesesuaian barang dengan spesifikasi yang sudah ditetapkan. 2. Penyediaan barang tanpa cacat. 3. Kemampuan memberikan kualitas yang konsisten. iii. Kriteria Ketepatan Pengiriman Yang termasuk subkriteria dalam kriteria ini adalah: 1. Kemampuan untuk mengirimkan barang sesuai dengan tanggal yang telah disepakati. 2. Kemampuan dalam hal penanganan sistem transportasi. iv. Kriteria Ketepatan Jumlah Yang termasuk subkriteria dalam kriteria ini adalah: 1. Ketepatan dan kesesuaian jumlah dalam pengiriman. 2. Kesesuaian isi kemasan. v. Kriteria Customer Care Yang termasuk subkriteria dalam kriteria ini adalah: 1. Kemudahan untuk dihubungi. 2. Kemampuan untuk memberikan informasi secara jelas dan mudah untuk dimengerti. 3. Kecepatan dalam hal menanggapi permintaan pelanggan. 4. Cepat tanggap dalam menyelesaikan keluhan pelanggan. 8

2.2.3. Analytical Hierarchy Process (AHP) 2.2.3.1. Gambaran Umum Metode AHP Analytic Hierarchy Process (AHP) merupakan pendekatan yang dasar dalam pengambilan keputusan yang diperkenalkan oleh Thomas L. Saaty pada tahun1980. Tujuan dari AHP adalah untuk membantu dalam mengorganisasikan pemikiran dan penilaian sehingga diperoleh keputusan yang lebih efektif (Saaty,1994). AHP dapat mengarahkan bagaimana menentukan prioritas dari serangkaian alternatif dan kepentingan relatif atribut dalam sebuah masalah Multi Criteria Decision Making (MCDM) (Saaty, 1994 dan Huang dkk, 2014). AHP sering diterapkan sebagai alat pengambilan keputusan karena sederhana dan mudah diterapkan. Dasar ide metode AHP adalah mengubah penaksiran subjektif dari kepentingan relatif menjadi sebuah set nilai dan bobot keseluruhan (Asamoah dkk, 2012). Selain itu, AHP adalah sebuah metode yang fleksibel yang dapat membantu menentukan prioritas dan keputusan yang terbaik ketika kedua aspek kuantitatif dan kualitatif menjadi pertimbangan (Saaty, 1994 dan Jounio,2013). Konsep AHP dimulai dari konsep tradisional dari urutan peringkat untuk membagi atas tingkatan-tingkatan sebuah hierarki dan kemajuan lebih lanjut dari AHP adalah perbandingan berpasangan numerik dari sebuah elemen satu dengan elemen lainnya di setiap level (Saaty, 1994). 2.2.3.2. Langkah-langkah dalam AHP a. Penyusunan Model Struktur Hierarki Pada langkah ini, masalah yang ada akan dimodelkan dalam struktur hierarki. Sturktur tersebut berdasarkan observasi dalam memahami permasalahan yang ada. Permasalahan yang ada ditransmisikan ke dalam bentuk aritmatik (Saaty, 1994). Sedangkan hierarki merupakan alat yang dasar digunakan untuk mengatasi keragaman dan memecahkan sistem yang kompleks (Saaty,1994). Menurut Saaty, terdapat 2 tujuan mengatur tujuan, atribut, isu, stakeholders dalam hierarki yaitu memberikan gambaran menyeluruh dari hubungan yang kompleks yang melekat dalam situasi maupun proses penilaian dan memungkinkan pengambil keputusan untuk menilai apakah pengambil keputusan membandingkan isu dari urutan yang sama besarnya. Struktur keputusan yang sederhana dari sebuah masalah yaitu hieraki yang terdiri dari 3 level yaitu tujuan, kriteria dan alternatif (Saaty, 1994). Tiga level sederhana dapat ditunjukkan pada Gambar 2.1. 9

Goal Kriteria Kriteria Kriteria Kriteria Alternatif Alternatif Alternatif Gambar 2.1. Tiga Level Sederhana Sebuah Struktur Hierarki (Sumber: Saaty, 1994) Namun sebenarnya elemen tersebut dapat dikembangkan atau dipecah menjadi sub elemen dan dapat dieleminiasi maupun ditambah kembali level hierarkinya. b. Melakukan Penilaian Perbandingan Berpasangan Dalam Bentuk Matriks. Dalam penggunaan AHP dalam sebuah metode permasalahan, dibutuhkan sebuah hierarki untuk merepresentasikan permasalah yang ada, serta perbandingan berpasangan untuk membangun hubungan dalam struktur (Saaty, 1994) Penilaian perbandingan berpasangan dalam AHP diaplikasikan untuk pasang elemen homogen. Penilaian perbandingan berpasangan ini menggunakan skala dasar numerik menurut Saaty yang ditunjukkan pada Tabel 2.1. Skala numerik tersebut telah tervalidasi dalam keefektifannya dalam perbandingan elemen homogen (Saaty, 1994) sehingga dapat membedakan intensitas antar elemennya. Tabel 2.1. Skala Numerik Penilaian Perbandingan Berpasangan Intensitas Definisi Kepentingan 1 Kedua elemen sama pentingnya 3 Elemen yang satu sedikit lebih penting daripada yang lain 5 Elemen yang satu lebih penting daripada yang lain 7 Elemen yang satu jelas lebih penting daripada yang lain 9 Satu elemen mutlak lebih penting daripada yang lain 2, 4, 6, 8 Nilai antara 2 pertimbangan yang berdekatan (Sumber : Saaty,1994) Hasil dari penilaian perbandingan berpasangan tersebut tertuang dalam sebuah matriks Aberukuran n x n. Bentuk matriks perbandingan berpasangan ditunjukkan pada Gambar 2.2. 10

Gambar 2.2. Matriks Perbandingan Berpasangan Pada matriks A nxn, nilai perbandingan berpasangan A i terhadap A j adalaha ij Namun, apabila matriks A dinyatakan dengan W maka nilai a ij adalah wi wj, sehingga matriks perbandingan berpasangan dapat dinyatakan padagambar 2.3. Gambar 2.3. Matriks Perbandingan Berpasangan dengan Nilai W (Sumber: Saaty, 1994) Nilai w1 w1 merupakan nilai perbandingan antara elemen 1 dan elemen n. Nilai wn wn juga menggambarkan seberapa penting elemen 1 pada level tersebut dibanding elemen n. Begitu pula dengan nilai lainnya dalam matriks perbandingan berpasangan. Penilaian perbandingan berpasangan yang melibatkan lebih dari satu expert akan menghasilkan penilaian yang berbeda-beda. Hasil penilaian setiap expert akan digabungkan menjadi satu nilai perbandingan berpasangan yang mewakili semua hasil penilaian. Pengabungan tersebut dilakukan dengan cara mencari nilai rata-rata. Menurut Saaty (1994), metode perataan yang digunakan adalah metode Geometric Mean. Masing-masing nilai untuk setiap pasangan dikalikan dan hasil perkalian tersebut diakar sesuai dengan jumlah expert merupakan geometric mean. Secara matematis formulasi geometric mean dituliskan sebagai berikut (Saaty, 1994): n µij = aij1aij2 aijn (2.1) 11

dimana : µij= Geometric Mean baris ke-i kolom ke-j n = jumlah expert c. Menghitung Nilai Eigenvector Eigenvector merupakan bobot rasio dari masing-masing faktor. Beberapa cara untuk menghitung eigenvector, salah satunya dengan mencari nilai rata-rata geometrik setiap baris terlebih dahulu (Windarsari, 2010). n Rata-rata Geometric = aij1aij2.. aijn (2.2) Dimana hasil Eigenvector pada setiap baris (w) dapat diperoleh dengan rumus berikut ini (Windarsari, 2010): Wi = Rata ratageometricbarisi Jumlahakumulasirata ratageometric (2.3) d. Menghitung Eigenvalue Max (λ max) Untuk mencari nilai eigenvalue (λi) adalah dengan cara mengalikan semua elemen matriks perbandingan berpasangan dengan eigenvector masing-masing kriteria sehingga mendapatkan matriks kolom baru. Sedangkan untuk mencari nilai Eigenvalue Max (λ max), yaitu dengan menghitung nilai maksimal dari nilai eigenvalue (λi). m Jumlah matriks= j=i αixwj (2.4) Dan eigenvalue (λi) dapat dihitung dengan rumus: m λi = αi x wj j=i (2.5) wi Dimana : λi : nilai eigenvalue baris i αi : nilai matriks baris i w j w i m e. Uji konsistensi : eigenvector kolom j : eigenvector baris i : jumlah baris Pengujian ini dilakukan untuk memeriksa apakah data yang diperoleh sudah valid atau belum. Data yang valid tercermin dalam data yang telah konsisten. Data dapat ditanyakan konsisten jika nilai Consistency Ratio (CR) 0.10. Jika nilai tersebut lebih dari 0.10, maka harus mempelajari dan meninjau ulang 12

permasalahannya dan harus dilakukan revisi penilaian dari setiap expert (Saaty, 1994). Nilai Consistency Ratio (CR) dapat dihitung dari pembagian nilai Consistency Index (CI) dengan nilai Random Consistency Index (RI). Nilai Consistency Index (CI) terbentuk dari perhitungan: CI = (λ max n) (n 1) (2.6) dimana: CI = Consistency Index / Indeks konsistensi λmax= eigenvalue maksimum n = ordo matriks Nilai rata-rata Random Index (RI) menurut Saaty (1994) dapat dilihat padatabel 2.2. Tabel 2.2. Nilai Random Consistency Index (RI) Ordo matriks (n) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 RI 0 0 0,52 0,89 1,11 1,25 1,35 1,40 1,45 1,49 Sumber : Saaty, 1994 Sehingga CR = CI / RI (2.7) Proses pengujian konsistensi ini dilakukan berulang kali pada setiap tingkat hierarki. f. Menghitung nilai bobot global Nilai bobot global dapat dihitung dengan cara mengalikan nilai bobot kriteria,nilai bobot sub kriteria dan nilai bobot alternatif. 13