BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN"

Transkripsi

1 87 BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Pengumpulan data Data kriteria evaluasi dan pemilihan supplier Dari hasil wawancara, brainstorming dengan pihak perusahaan dan studi pustaka ditetapkan beberapa kriteria yang akan digunakan untuk melakukan pemilihan supplier. Kriteria kriteria yang digunakan adalah sebagai berikut : 1. Ekonomis Kriteria ekonomis yaitu penilaian supplier dari tingkat keekonomisan pembelian bahan baku dari satu supplier. Kriteria ini terdiri dari dua sub kriteria yaitu : Biaya Yang dimaksud dengan kriteria biaya adalah total seluruh biaya yang akan dikeluarkan untuk melakukan pembelian bahan baku tersebut. Contohnya biaya biaya yang dapat timbul adalah harga bahan baku, biaya pemesanan, biaya pengiriman, pajak dan biaya lainnya. Indikator : harga material, biaya pemesanan, biaya pengiriman, pajak dan seluruh biaya lainnya yang dikeluarkan untuk melakukan pembelian. Payment Term Cakupan kriteria payment term meliputi segala sesuatu yang berkaitan dengan syarat pembayaran mulai dari pembayaran kredit atau cash, besar angsuran, discount term seperti n30, 2/10 net 30 dan lain lain.

2 88 Indikator : besar discount, besar angsuran, kredit atau cash dan lain lain. 2. Quality Kriteria quality penilaian supplier berdasarkan tingkat kualitas bahan baku dari satu supplier. Kriteria ini terdiri dari empat sub kriteria yaitu : Kualitas produk Kriteria kualitas produk menilai seberapa berkualitas bahan baku dari satu supplier. Indikator : hasil tes sample dari lab. Tingkat kecacatan Kriteria ini menilai seberapa besar tingkat persentase bahan baku cacat yang diterima dari satu supplier. Indikator : hasil inspeksi dan pencatatan jumlah bahan baku cacat secara berkala. Tingkat ketidaksesuaian Kriteria ini menilai seberapa besar tingkat persentase ketidaksesuaian bahan baku dengan spesifikasi yang diminta dari satu supplier. Indikator : hasil inspeksi dan pencatatan jumlah bahan baku tidak sesuai secara berkala. Garansi Kriteria garansi mengukur jaminan yang dijanjikan supplier. Indikator : garansi dari supplier (penggantian produk, penggantian dalam bentuk uang, jangka waktu garansi, dll).

3 89 3. Service Kriteria service menilai seberapa baik pelayanan yang diberikan supplier. Kriteria ini terdiri dari empat sub kriteria : Response Kriteria response menilai seberapa cepat dan baik pelayanan dari supplier terhadap komplain dan retur. Indikator : seberapa cepat dan seberapa baik response supplier terhadap retur dan komplain. Flexibility Kriteria flexibility menilai seberapa baik pelayanan supplier terhadap perubahan order yang telah dilakukan. Indikator : pelayanan supplier terhadap perubahan order yang telah dilakukan. Kemudahan pemesanan Kriteria ini menilai seberapa mudah pemesanan dilakukan kepada satu supplier. Indikator : kemudahan dalam melakukan pemesanan. After sales service Kriteria ini menilai pelayanan yang diberikan supplier setelah dilakukan nya pembelian. Indikator : pelayanan yang diberikan setelah dilakukannya pembelian.

4 90 4. Delivery, terdiri dari dua sub kriteria yaitu : Ketepatan jumlah Kriteria ini menilai persentase ketepatan jumlah bahan baku yang dikirim. Indikator : hasil inspeksi dan pencatatan jumlah pengiriman yang tidak tepat. Ketepatan waktu Kriteria ini menilai persentase ketepatan waktu pegiriman. Indikator : hasil inspeksi dan pencatatan pengiriman yang tidak tepat waktu. 5. Capability, terdiri dari tiga sub kriteria : Kapasitas supplier Kriteria ini menilai seberapa besar kapasitas supplier untuk memenuhi permintaan bahan baku dari perusahaan. Indikator : batas jumlah permintaan yang dapat dipenuhi supplier. Lead time Kriteria ini menilai seberapa cepat bahan baku dapat diterima perusahaan sejak dilakukannya pemesanan. Indikator : lead time yang dijanjikan supplier dan catatan historis lama waktu pengiriman yang telah dilakukan supplier. Reputasi supplier Kriteria ini seberapa besar reputasi supplier sebagai pemasok. Indikator : reputasi supplier.

5 91 Gambar 4.1 Hierarki kriteria evaluasi dan pemilihan supplier 91

6 92 Terdapat dua jenis kriteria pemilihan dari hieraki kriteria pemiliahan yang telah dibentuk yaitu kriteria subjektif dan kriteria objektif. Cakupan kriteria subjektif yaitu kriteria yang mana tidak dapat diukur secara kuantitatif seperti cara pembayaran, respon supplier, fleksibilitas supplier dan lain lain. Sedangkan untuk kriteria objektif kriteria penilaian yang dapat diukur secara kuantitatif contoh dari kriteria ini adalah harga produk, persentase produk cacat, persentase keterlambatan dan lain lain Data Hasil Kuisioner Dari hasil kuisioner evaluasi yang diisi oleh beberapa karyawan diperusahaan, dirangkum pembobotan prioritas kriteria dan penilaian supplier sebagai berikut : 1. Hasil kuisioner pembobotan prioritas kriteria level 1 kuisioner ini diisi oleh empat evaluator yaitu manajer PPIC, purchasing, gudang dan finance. Tabel 4.1 Hasil kuisioner pembobotan prioritas kriteria level1 dari evaluator1 Evaluator 1 Ekonomis Quality Service Delivery Capability Ekonomis 1 ~LbP SdP ~SdP ~SaP Quality 1 SaP SdP ~SdP Service 1 ~SdP ~PaP Delivery 1 ~LbP Capability 1

7 93 Tabel 4.2 Hasil kuisioner pembobotan prioritas kriteria level 1 dari evaluator 2 Evaluator 2 Ekonomis Quality Service Delivery Capability Ekonomis 1 SdP ~LbP LbP ~SdP Quality 1 ~SaP SdP ~LbP Service 1 ~PaP SdP Delivery 1 ~SaP Capability 1 Tabel 4.3 Hasil kuisioner pembobotan prioritas kriteria level 1 dari evaluator 3 Evaluator 3 Ekonomis Quality Service Delivery Capability Ekonomis 1 ~SdP ~LbP ~LbP SdP Quality 1 ~SdP ~SdP LbP Service 1 SmP ~SaP Delivery 1 ~SaP Capability 1 Tabel 4.4 Hasil kuisioner pembobotan prioritas kriteria level 1 dari evaluator 4 Evaluator 4 Ekonomis Quality Service Delivery Capability Ekonomis 1 LbP SaP LbP SdP Quality 1 LbP SmP ~SdP Service 1 ~SdP ~LbP Delivery 1 ~SdP Capability 1

8 94 2. Hasil kuisioner pembobotan prioritas subkriteria dari kriteria ekonomis Tabel 4.5 Hasil kuisioner pembobotan prioritas subkriteria level 2 untuk kriteria ekonomis Evaluator SK1 SK2 SK1 SK2 SK1 SK2 SK1 SK2 SK1 1 ~SdP 1 SdP 1 SmP 1 ~SdP SK SK1 : Biaya SK2 : Payment Term 3. Hasil kuisioner pembobotan prioritas kriteria level 2 kriteria quality Tabel 4.6 Hasil kuisioner pembobotan prioritas subkriteria level 2 untuk kriteria quality Evaluator SK1 SK2 SK3 SK4 SK1 SK2 SK3 SK4 SK1 SK2 SK3 SK4 SK1 1 SdP LbP SaP 1 ~SdP SdP LbP 1 SmP SdP LbP SK2 1 SdP LbP 1 LbP SaP 1 SdP LbP SK3 1 SdP 1 SdP 1 SdP SK SK1 : Kualitas Produk SK2 : Tingkat Kecacatan SK3 : Tingkat Ketidaksesuaian SK4 : Garansi

9 95 4. Hasil kuisioner pembobotan prioritas kriteria level 2 kriteria service Tabel 4.7 Hasil kuisioner pembobotan prioritas subkriteria level 2 untuk kriteria service Evaluator 1 2 SK1 SK2 SK3 SK4 SK1 SK2 SK3 SK4 SK1 1 SaP LbP SdP 1 ~LbP ~SdP SmP SK2 1 ~SdP ~LbP 1 SdP LbP SK3 1 ~SdP 1 SdP SK4 1 1 Evaluator 3 4 SK1 SK2 SK3 SK4 SK1 SK2 SK3 SK4 SK1 1 ~LbP SmP SdP 1 SdP SdP SmP SK2 1 LbP SaP 1 SmP ~SdP SK3 1 SdP 1 ~SdP SK4 1 1 SK1 : Response SK2 : Flexibility SK3 : Kemudahan pemesanan SK4 : After sales service 5. Hasil kuisioner pembobotan prioritas kriteria level 2 kriteria delivery Tabel 4.8 Hasil kuisioner pembobotan prioritas subkriteria level 2 untuk kriteria delivery Evaluator SK1 SK2 SK1 SK2 SK1 SK2 SK1 SK2 SK1 1 ~SdP 1 ~SdP 1 SdP 1 SmP SK SK1 : Ketepatan jumlah yang dikirim SK2 : Ketepatan waktu pengiriman

10 96 6. Hasil kuisioner pembobotan prioritas kriteria level 2 kriteria capability Tabel 4.9 Hasil kuisioner pembobotan prioritas subkriteria level 2 untuk kriteria capability Evaluator SK1 SK2 SK3 SK1 SK2 SK3 SK1 SK2 SK3 SK1 SK2 SK3 SK1 1 ~SdP SdP 1 SmP SdP 1 ~LbP ~SdP 1 ~SdP SmP SK2 1 LbP 1 SdP 1 SdP 1 SdP SK SK1 : Kapasitas SK2 : Lead time SK3 : Reputasi supplier 7. Hasil kuisioner skala penilaian subjektif untuk variable linguistik Tabel 4.10 Hasil kuisioner skala penilaian subjektif untuk variable linguistik Variabel Linguistik Sangat Kurang Cukup Baik Sangat Evaluator Kurang Baik (SK) (K) (C) (B) (SB) l m u l m u l m u l m u l m u l : nilai terendah m : nilai tengah u : nilai tertinggi

11 97 8. Hasil kuisioner penilaian performance supplier untuk setiap kriteria subjektif untuk bahan baku HVI 60. Tabel 4.11 Hasil kuisioner penilaian performance supplier kriteria subjektif Kriteria Alternatif Supplier A Supplier B Supplier C Ev1 Ev2 Ev3 Ev4 Ev1 Ev2 Ev3 Ev4 Ev1 Ev2 Ev3 Ev4 Payment Term C B C C B B B B K C C B Kualitas Produk B B C B C C B B SB B SB SB Garransi B C C C C B B C SB SB B B Response B B B B C C SB B SK SK C C Flexibility K K C B SB B B B B B K K Kemudahan Pemesanan B C B B B C B B B B B C After Sales Service C C C C B SB B B K C B B Supplier's Reputation B B C C B B B B C B B C 9. Data objektif dari supplier Tabel 4.12 Data objektif performance supplier Supplier A Supplier B Supplier C Jlh Cacat Total Produk Yang Dibeli Jlh Pengiriman Tidak Sesuai Spesifikasi Jlh Pengiriman Tidak Tepat Kuantitas Jlh Pengiriman Tidak Tepat Waktu Total Pengiriman terjadi Lead Time Capacity

12 98 Harga produk Rp /m3 Rp /m3 Rp /m3 Pajak - PPN : 10 % - Pajak Import : 7.5 % - PPN = 10 % - PPN = 10 % Biaya pengiriman Pengolahan Data Dari kriteria kriteria dan hierarki evaluasi pemilihan supplier yang dihasilkan, akan digunakan pada evaluasi pemilihan supplier untuk semua bahan baku. Karena secara garis besar hampir semua bahan baku memiliki karakteristik kriteria pemilihan yang sama. Perhitungan bobot prioritas kriteria dan subkriteria Perhitungan bobot prioritas kriteria level 1 1. Dari hasil pembobotan prioritas kriteria, maka dapat disusun matrik perbandingan berpasang atau pairwise comparison matrix (PCM) dengan melakukan konversi varibale linguistik yang didapat menjadi skala kuantitatif (skala bilangan). Hasil pembobotan prioritas kriteria level 1 yang didapat adalah sebagai berikut : Konversi menggunakan tabel varibel linguistik dibawah ini. Tabel 4.13 Tabel Variabel linguistik Skala Bilangan Skala Linguistik Skala Bilangan Fuzzy 1 Sama Penting (SmP) (1;1;3) 3 Sedikit Lebih Penting (SdP) (1;3;5) 5 Lebih Penting (LbP) (3;5;7) 7 Sangat Penting (SaP) (5;7;9) 9 Paling Penting (PaP) (7;7;9) 1/3 ~Sedikit Lebih Penting (~SdP) (1/5;1/3;1)

13 99 1/5 ~Lebih Peting (~LbP) (1/7;1/5;1/3) 1/7 ~Sangat Penting (~SaP) (1/9;1/7;1/5) 1/9 ~Paling Penting (~PaP) (1/9;1/7;1/7) Hasil kuisioner pembobotan prioritas yang telah dilakukan evaluator 1,2,3, dan 4 yang masih berupa variabel linguistik dikonversi menjadi skala bilangan dengan menggunakan tabel Hasil konversi menjadi PCM : Tabel 4.14 Tabel Konversi hasil kuisioner evaluator 1 untuk prioritas kriteria Evaluator 1 /Manajer Purchasing level 1 menjadi skala bilangan Ekonomis Quality Service Delivery Capability Ekonomis 1 1/5 3 1/3 1/7 Quality /3 Service 1/3 1/7 1 1/3 1/9 Delivery 3 1/ /5 Capability Tabel 4.15 Tabel Konversi hasil kuisioner evaluator 2 untuk prioritas kriteria level 1 menjadi skala bilangan Evaluator 2 /Manajer PPIC Ekonomis Quality Service Delivery Capability Ekonomis 1 3 1/5 5 1/3 Quality 1/3 1 1/7 3 1/5 Service Delivery 1/5 1/3 1/9 1 1/7 Capability 3 5 1/3 7 1

14 100 Tabel 4.16 Tabel Konversi hasil kuisioner evaluator 3 untuk prioritas kriteria level 1 menjadi skala bilangan Evaluator 3 / Kepala bagian Gudang Ekonomis Quality Service Delivery Capability Ekonomis 1 1/3 1/5 1/5 3 Quality 3 1 1/3 1/3 5 Service Delivery Capability 1/3 1/5 1/7 1/7 1 Tabel 4.17 Tabel Konversi hasil kuisioner evaluator 4 untuk prioritas kriteria level 1 menjadi skala bilangan Evaluator 4 / Manajer Finance Ekonomis Quality Service Delivery Capability Ekonomis Quality 1/ /3 Service 1/7 1/3 1 1/3 1/5 Delivery 1/ /3 Capability 1/ Setelah PCM telah disusun dengan menggunakan skala bilangan, dilakukan perhitungan consistency ratio dari setiap PCM. Tujuannya untuk mengetahui apakah PCM tersebut konsisten atau tidak. Kalau PCM tidak kosisten PCM harus disusun ulang, dalam artian pembobotan harus dilakukan ulang karena pengisian yang tidak konsisten. a. Menghitung nilai average PCM Cara mencari nilai normal dari setiap elemen matriks dengan :

15 101 Tabel 4.18 Tabel Hasil jumlah bobot prioritas kriteria level 1 dari evaluator 1 Evaluator 1 / Manajer PPIC Ekonomis Quality Service Delivery Capability Ekonomis Quality Service Delivery Capability Total Tabel 4.19 Tabel Hasil jumlah bobot prioritas kriteria level 1dari evaluator 2 Evaluator 2 / Manajer Purchasing Ekonomis Quality Service Delivery Capability Ekonomis Quality Service Delivery Capability Total Tabel 4.20 Tabel Hasil jumlah bobot prioritas kriteria level 1 dari evaluator 3 Evaluator 3 / Kepala Gudang Ekonomis Quality Service Delivery Capability Ekonomis Quality Service Delivery Capability Total

16 102 Tabel 4.21 Tabel Hasil jumlah bobot prioritas kriteria level 1dari evaluator 4 Evaluator 4 / Manajer Finance Ekonomis Quality Service Delivery Capability Ekonomis Quality Service Delivery Capability Total aij bij =, bij = nilai normal, aij = nilai elemen matriks, i = kolom, j = baris j a j = 0 1 b 11 = = ij i b ij i = 0 averagej =, bij = nilai normal, i = kolom, j = baris average 0 n = = Tabel 4.22 Tabel Normalized matrix kriteria level 1 dari evaluator 1 Evaluator 1 / Manajer PPIC Ekonomis Quality Service Delivery Capability Average Ekonomis Quality Service Delivery Capability

17 103 Tabel 4.23 Tabel Normalized matrix kriteria level 1 dari evaluator 2 Evaluator 2 / Manajer Purchasing Ekonomis Quality Service Delivery Capability Average Ekonomis Quality Service Delivery Capability Tabel 4.24 Tabel Normalized matrix kriteria level 1 dari evaluator 3 Evaluator 3 / Kepala Gudang Ekonomis Quality Service Delivery Capability Average Ekonomis Quality Service Delivery Capability Tabel 4.25 Tabel Normalized matrix kriteria level 1 dari evaluator 4 Evaluator 4 / Manajer Finance Ekonomis Quality Service Delivery Capability Average Ekonomis Quality Service Delivery Capability

18 104 b. Perhitungan nilai consistency index (CI) λ ma x i ( averagei kolomi) = i= 0 λ n = = n 1 max CI, n jumlah kriteria Evaluator 1 ([ ] [ ] [ ] [ ] [ ]) λ ma x = λ ma x = 5.32 CI = = Evaluator 2 ([ ] [ ] [ ] [ ] [ ]) λ ma x = λ ma x = 5.37 CI = = Evaluator 3 ([ ] [ ] [ ] [ ] [ ]) λ ma x = λ ma x = 5.19 CI = = Evaluator 4 ([ ] [ ] [ ] [ ] [ ]) λ ma x = λ ma x = CI = =

19 105 c. Perhitungan nilai consistency ratio (CR) CI CR = RI 0.08 CR = = 0.07, (< 0.1, acceptable) 1.12 evaluator CR = = 0.08, (< 0.1, acceptable) 1.12 evaluator CR = = 0.04, (< 0.1, acceptable) 1.12 evaluator CR = = 0.04, (< 0.1, acceptable) 1.12 evaluator 4 3. Setelah nilai CR dari setiap PCM diketahui dan acceptable (CR < 0.1), kemudian dilakukan konversi skala bilangan menjadi skala fuzzy pada setiap PCM. Tabel 4.26 Tabel Konversi hasil kuisioner evaluator 1 untuk prioritas kriteria level 1 (skala bilangan menjadi skala rasio fuzzy) Evaluator 1 /Manajer Purchasing Ekonomis Quality Service Delivery Capability Ekonomis 1 (1/7;1/5;1/3) (1;3;5) (1/5;1/3;1) (1/9;1/7;1/5) Quality (3;5;7) 1 (5;7;9) (1;3;5) (1/5;1/3;1) Service (1/5;1/3;1) (1/9;1/7;1/5) 1 (1/5;1/3;1) (1/9;1/7;1/7) Delivery (1;3;5) (1/5;1/3;1) (1;3;5) 1 (1/7;1/5;1/3) Capability (5;7;9) (1;3;5) (7;7;9) (3;5;7) 1

20 106 Tabel 4.27 Tabel Konversi hasil kuisioner evaluator 2 untuk prioritas kriteria level 1 Evaluator 2/Manajer PPIC (skala bilangan menjadi skala rasio fuzzy) Ekonomis Quality Service Delivery Capability Ekonomis 1 (1;3;5) (1/7;1/5;1/3) (3;5;7) (1/5;1/3;1) Quality (1/5;1/3;1) 1 (1/9;1/7;1/5) (1;3;5) (1/7;1/5;1/3) Service (3;5;7) (5;7;9) 1 (7;7;9) (1;3;5) Delivery (1/7;1/5;1/3) (1/5;1/3;1) (1/9;1/7;1/7) 1 (1/9;1/7;1/5) Capability (1;3;5) (3;5;7) (1/5;1/3;1) (5;7;9) 1 Tabel 4.28 Tabel Konversi hasil kuisioner evaluator 3 untuk prioritas kriteria level 1 Evaluator 3/Kepala Gudang (skala bilangan menjadi skala rasio fuzzy) Ekonomis Quality Service Delivery Capability Ekonomis 1 (1/5;1/3;1) (1/7;1/5;1/3) (1/7;1/5;1/3) (1;3;5) Quality (1;3;5) 1 (1/5;1/3;1) (1/5;1/3;1) (3;5;7) Service (3;5;7) (1;3;5) 1 (1;1;1/3) (5;7;9) Delivery (3;5;7) (1;3;5) (1;1;1/3) 1 (5;7;9) Capability (1/5;1/3;1) (1/7;1/5;1/3) (1/9;1/7;1/5) (1/9;1/7;1/5) 1 Tabel 4.29 Tabel Konversi hasil kuisioner evaluator 4 untuk prioritas kriteria level 1 Evaluator 4/Manajer Finance (skala bilangan menjadi skala rasio fuzzy) Ekonomis Quality Service Delivery Capability Ekonomis 1 (3;5;7) (5;7;9) (3;5;7) (1;3;5) Quality (1/7;1/5;1/3) 1 (1;3;5) (1;1;3) (1/5;1/3;1) Service (1/9;1/7;1/5) (1/5;1/3;1) 1 (1/5;1/3;1) (1/7;1/5;1/3) Delivery (1/7;1/5;1/3) (1;1;3) (1;3;5) 1 (1/5;1/3;1) Capability (1/5;1/3;1) (1;3;5) (3;5;7) (1;3;5) 1

21 Setelah konversi ke skala fuzzy dilakukan, dilakukan perhitungan elemen matriks synthetic pairwise comparison dengan rumus matematis ~ a ij 1 2 n 1/ ( a a a ) n = L. ij ij ij dimana ~ adalah nilai elemen matriks synthetic pairwise comparison dan a 1 aij ij adalah nilai elemen matriks fuzzy evaluator 1. ~ a ~ a ~ a ~ a = = = = ( a a a a ) 12 ((1/7 ;1/5 ;1/3) (1; 3; 5) (1/5 ;1/3 ;1) (3; 5 ; 7) ) ([ ] ; [ ] ; [ ] ) ( ; 1; 1.848) 12 1 / / 4 1/ 4 Synthetic Pairwise Comparison Le vel 1 Tabel 4.30 Matriks synthetic pairwise comparison kriteria level 1 Ekonomis Quality Service Delivery Capability Ekonomis 1 (0.54;1;1.85) (0.57;0.96;1.50) (0.71;1.14;2.01) (0.39;0.81;1.50) Quality (0.54;1;1.85) 1 (0.58;1;1.73) (0.67;1.32;2.94) (0.36;0.58;1.24) Service (0.67;1.04 ;1.77) (0.58;1;1.73) 1 (0.73;0.94;2.28) (0.53;0.88;1.21) Delivery (0.50;0.88;1.40) (0.45;0.76;1.97) (0.58;1.06;1.81) 1 (0.35;0.51;0.88) Capability (0.67;1.24;2.59) (0.81;1.73;2.76) (0.83;1.14;1.88) (1.14;1.97;2.82) 1 5. Setelah nilai elemen matriks synthetic pairwise comparison dilakukan perhitungan rata rata geometris fuzzy dengan rumus matematis sebagai berikut : ( ) 1/ n r% = a% a% L a% rata rata geometris fuzzy i i1 i2 in

22 108 r% Ekonomis ((1;1;1) (0.54;1;1.85) (0.57; 0.96;1.5) (0.71;1.14; 2.01) (0.39; 0.81;1.50) ) 1/5 = 1/5 1/5 ( ) ; ( ) ; r% Ekonomis = 1/5 ( ) r% Ekonomis = ( 0.61; 0.97 ; 1.53) Dari contoh perhitungan maka nilai rata rata geometris fuzzy dari tiap kelompok : r% r% r% r% r% ekonomis quality service delivery quality = = = = ( 0.61; 0.97 ; 1.53) ( 0.60 ; 0.95 ; 1.63) ( 0.68 ; 0.97 ;1.53) ( 0.54 ; 0.82 ; 1.34) ( 0.87 ;1.37 ; 2.07) = 6. Setelah mendapatkan nilai rata rata geometris fuzzy dilakukan perhitungan nilai bobot fuzzy dari setiap kriteria. w% = r% ( r% + L + r% ) i 1 n ( r% ekonomis r% quality r% service r% delivery r% capability ) ( r + r + r + r + r ekonomis quality service delivery capability ) 1 ( ) ( ) ( ) 1/ ; = 1/ ; 1/ % % % % % = ( 0.12 ; 0.2 ; 0.3) ekonomis = ( 0.61; 0.97;1.53) ( 0.12 ; 0.2 ; 0.3) ekonomis = ( ; ; ) = ( 0.08 ; 0.19 ; 0.46) w% w% w% ekonomis Dari contoh perhitungan maka nilai bobot dari tiap kriteria : w% w% w% w% w% ekonomis quality service delivery = = capability = ( 0.08 ; 0.19 ; 0.46) ( 0.18 ; 0.19 ; 0.2) ( 0.21; 0.19 ; 0.19) ( 0.16 ; 0.16 ; 0.17) = ( 0.26 ; 0.27 ; 0.26) =

23 109 Perhitungan bobot prioritas subkriteria level 2 ekonomis 1. Konversi ke skala bilangan Tabel 4.31 Tabel Konversi hasil kuisioner evaluator 1 untuk prioritas subkriteria level 2 ekonomis menjadi skala bilangan Evaluator SK1 SK2 SK1 SK2 SK1 SK2 SK1 SK2 SK1 1 1/ /3 SK / SK1 : Biaya SK2 : Payment Term 2. Hasil perhitungan consistency ratio (CR) Tabel 4.32 Tabel Perhitungan nilai CR hasil kuisioner evaluator 1 untuk prioritas subkriteria level 2 ekonomis Evaluator 1 SK1 SK2 SK1 SK2 Avg λmax CI CR SK SK SK SK Total CR < 0.1 (acceptable) Tabel 4.33 Tabel Perhitungan nilai CR hasil kuisioner evaluator 2 untuk Evaluator 2 prioritas subkriteria level 2 ekonomis SK1 SK2 SK1 SK2 Avg λmax CI CR SK SK SK SK Total CR < 0.1 (acceptable)

24 110 Tabel 4.34 Tabel Perhitungan nilai CR hasil kuisioner evaluator 3 untuk prioritas subkriteria level 2 ekonomis Evaluator 3 SK1 SK2 SK1 SK2 Avg λmax CI CR SK SK SK SK Total CR < 0.1 (acceptable) Tabel 4.35 Tabel Perhitungan nilai CR hasil kuisioner evaluator 4 untuk Evaluator 4 prioritas subkriteria level 2 ekonomis SK1 SK2 SK1 SK2 Avg λmax CI CR SK SK SK SK Total CR < 0.1 (acceptable) 3. Korversi ke skala fuzzy Tabel 4.36 Tabel konversi hasil kuisioner untuk prioritas subkriteria level 2 ekonomis (skala bilangan menjadi skala rasio fuzzy) Evaluator 1 Evaluator 2 SK1 SK2 SK1 SK2 SK1 1 (1/5;1/3;1) 1 (1;3;5) SK2 (1;3;5) 1 (1/5;1/3;1) 1 Evaluator 3 Evaluator 4 SK1 SK2 SK1 SK2 SK1 1 (1;1;3) 1 (1/5;1/3;1) SK2 (1;1;3) 1 (1;3;5) 1

25 Matriks synthetic pairwise comparison Tabel 4.37 Matriks synthetic pairwise comparison subkriteria level 2 ekonomis Synthetic Pairwise Comparison subkriteria ekonomis Biaya Payment Term Biaya 1 (0.45;0.76;1.97) Payment Term (0.67;1.32;2.94) 1 5. Rata rata geometris fuzzy r% r% biaya paytem = ( 0.67 ; 0.87 ;1.40) ( 0.82 ; 1.15; 1.72) = 6. Bobot fuzzy dari tiap subkriteria dari kriteria ekonomis. w% w% biaya = payterm ( 0.21; 0.17 ; 0.94) = ( 0.26 ; 0.22 ;1.15) Perhitungan bobot prioritas subkriteria level 2 quality Hasil kuisioner bobot prioritas subkriteria level2 quality : 1. Konversi ke skala bilangan Tabel 4.38 Tabel Konversi hasil kuisioner evaluator 1 untuk prioritas subkriteria level 2 quality menjadi skala bilangan Evaluator SK1 SK2 SK3 SK4 SK1 SK2 SK3 SK4 SK1 SK2 SK3 SK4 SK / SK2 1/ SK3 1/5 1/ /3 1/ /3 1/3 1 3 SK4 1/7 1/5 1/3 1 1/5 1/7 1/3 1 1/5 1/5 1/3 1 SK1 : Kualitas Produk SK2 : Tingkat Kecacatan SK3 : Tingkat Ketidaksesuaian SK4 : Garansi

26 Perhitungan consistency ratio (CR) Tabel 4.39 Tabel Perhitungan nilai CR hasil kuisioner evaluator 1 untuk Evaluator 1 prioritas subkriteria level 2 quality SK1 SK2 SK3 SK4 SK1 SK2 SK3 SK4 Avg λmax CI CR SK SK SK SK SK SK SK SK Total CR < 0.1 (acceptable) Tabel 4.40 Tabel Perhitungan nilai CR hasil kuisioner evaluator 2 untuk Evaluator 2 prioritas subkriteria level 2 quality SK1 SK2 SK3 SK4 SK1 SK2 SK3 SK4 Avg λmax CI CR SK SK SK SK SK SK SK SK Total CR < 0.1 (acceptable) Tabel 4.41 Tabel Perhitungan nilai CR hasil kuisioner evaluator 3 untuk prioritas subkriteria level 2 quality Evaluator 3 SK1 SK2 SK3 SK4 SK1 SK2 SK3 SK4 Avg λmax CI CR SK SK SK SK SK SK SK SK Total CR < 0.1 (acceptable)

27 Konversi ke skala fuzzy Tabel 4.42 Tabel konversi hasil kuisioner evaluator 1 untuk prioritas subkriteria level 2 quality (skala bilangan menjadi skala rasio fuzzy) Evaluator 1 SK1 SK2 SK3 SK4 SK1 1 (1;3;5) (3;5;7) (5;7;9) SK2 (1/5;1/3;1) 1 (1;3;5) (3;5;7) SK3 (1/7;1/5;1/3) (1/5;1/3;1) 1 (1;3;5) SK4 (1/9;1/7;1/5) (1/7;1/5;1/3) (1/5;1/3;1) 1 Tabel 4.43 Tabel konversi hasil kuisioner evaluator 2 untuk prioritas subkriteria level 2 quality (skala bilangan menjadi skala rasio fuzzy) Evaluator2 SK1 SK2 SK3 SK4 SK1 1 (1/5;1/3;1) (1;3;5) (3;5;7) SK2 (1;3;5) 1 (3;5;7) (5;7;9) SK3 (1/5;1/3;1) (1/7;1/5;1/3) 1 (1;3;5) SK4 (1/7;1/5;1/3) (1/9;1/7;1/5) (1/5;1/3;1) 1 Tabel 4.44 Tabel konversi hasil kuisioner evaluator 3 untuk prioritas subkriteria level 2 quality (skala bilangan menjadi skala rasio fuzzy) Evaluator 3 SK1 SK2 SK3 SK4 SK1 1 (1;1;3) (1;3;5) (3;5;7) SK2 (1;1;3) 1 (1;3;5) (3;5;7) SK3 (1/5;1/3;1) (1/5;1/3;1) 1 (1;3;5) SK4 (1/7;1/5;1/3) (1/7;1/5;1/3) (1/5;1/3;1) 1

28 Matriks synthetic pairwise comparison Tabel 4.45 Matriks synthetic pairwise comparison subkriteria level 2 quality Synthetic Pairwise Comparison subkriteria quality Kualitas Produk Tk. Cacat Tk. Ketidaksesuaian Garansi Kualitas Produk 1 (0.58;1;2.47) (1.44;3.56;5.59) (3.56;5.59;7.61) Tk. Cacat (0.58;1;2.47) 1 (1.44;3.56;5.59) (3.56;5.59;7.61) Tk. (0.18;0.28;0.69) (0.18;0.28;0.69) 1 (1;3;5) Ketidaksesuaian Garansi (0.13;0.18;0.28) (0.13;0.18;0.28) (0.20;0.33;1) 1 5. Rata rata geometris fuzzy r% r% r% r% kualitas tk. cacat tdksesuai garansi = = = = ( 1.32 ; 2.11; 3.2) ( 1.32 ; 2.11; 3.2) ( 0.42 ; 0.7 ;1.25) ( 0.24 ; 0.32 ; 0.53) 6. Bobot fuzzy tiap subkriteria dari kriteria quality w% w% w% w% quality tk. cacat tdksesuai garansi = ( 0.16 ; 0.4 ; 0.97) ( 0.16 ; 0.4 ; 0.97) ( 0.5 ; 0.13 ; 0.38) ( 0.3 ; 0.06 ; 0.16) = = = Perhitungan bobot prioritas subkriteria level 2 service Hasil kuisioner bobot prioritas subkriteria level2 service : 1. Hasil konversi ke skala bilangan Tabel 4.46 Tabel Konversi hasil kuisioner untuk prioritas subkriteria level 2 service menjadi skala bilangan Evaluator 1 2 SK1 SK2 SK3 SK4 SK1 SK2 SK3 SK4 SK /5 1/3 1

29 115 SK2 1/7 1 1/3 1/ SK3 1/ /3 3 1/3 1 3 SK4 1/ /5 1/3 1 Evaluator 3 4 SK1 SK2 SK3 SK4 SK1 SK2 SK3 SK4 SK1 1 1/ SK / /3 SK3 1 1/ / /3 SK4 1/3 1/7 1/ SK1 : Response SK2 : Flexibility SK3 : Kemudahan pemesanan SK4 : After sales service 2. Hasil perhitungan consistency ratio (CR) Tabel 4.47 Tabel Perhitungan nilai CR hasil kuisioner evaluator 1 untuk prioritas subkriteria level 2 service Evaluator 1 SK1 SK2 SK3 SK4 SK1 SK2 SK3 SK4 Avg λmax CI CR SK SK SK SK SK SK SK SK Total CR < 0.1 (acceptable) Tabel 4.48 Tabel Perhitungan nilai CR hasil kuisioner evaluator 2 untuk Evaluator 2 prioritas subkriteria level 2 service SK1 SK2 SK3 SK4 SK1 SK2 SK3 SK4 Avg λmax CI CR SK SK SK SK SK SK SK SK Total CR < 0.1 (acceptable)

30 116 Tabel 4.49 Tabel Perhitungan nilai CR hasil kuisioner evaluator 3 untuk prioritas subkriteria level 2 service Evaluator 3 SK1 SK2 SK3 SK4 SK1 SK2 SK3 SK4 Avg λmax CI CR SK SK SK SK SK SK SK SK Total CR < 0.1 (acceptable) Tabel 4.50 Tabel Perhitungan nilai CR hasil kuisioner evaluator 4 untuk Evaluator 4 prioritas subkriteria level 2 service SK1 SK2 SK3 SK4 SK1 SK2 SK3 SK4 Avg λmax CI CR SK SK SK SK SK SK SK SK Total CR < 0.1 (acceptable) 3. Konversi ke skala fuzzy Tabel 4.51 Tabel konversi hasil kuisioner evaluator 1 untuk prioritas subkriteria level 2 service (skala bilangan menjadi skala rasio fuzzy) Evaluator 1 Response Flexibility Kemudahan Pemesanan After Sales Service Response 1 (5;7;9) (3;5;7) (1;3;5) Flexibility (1/9;1/7;1/5) 1 (1/5;1/3;1) (1/7;1/5;1/3) Kemudahan (1/7;1/5;1/3) (1;3;5) 1 (1/5;1/3;1) Pemesanan After Sales Service (1/5;1/3;1) (3;5;7) (1;3;5) 1

31 117 Tabel 4.52 Tabel konversi hasil kuisioner evaluator 2 untuk prioritas subkriteria level 2 service (skala bilangan menjadi skala rasio fuzzy) Evaluator 2 Response Flexibility Kemudahan Pemesanan After Sales Service Response 1 (1/7;1/5;1/3) (1/5;1/3;1) (1;1;3) Flexibility (3;5;7) 1 (1;3;5) (3;5;7) Kemudahan Pemesanan (1;3;5) (1/5;1/3;1) 1 (1;3;5) After Sales Service (1;1;3) (1/7;1/5;1/3) (1/5;1/3;1) 1 Tabel 4.53 Tabel konversi hasil kuisioner evaluator 3 untuk prioritas subkriteria level 2 service (skala bilangan menjadi skala rasio fuzzy) Evaluator 3 Response Flexibility Kemudahan Pemesanan After Sales Service Response 1 (1/7;1/5;1/3) (1;1;3) (1;3;5) Flexibility (3;5;7) 1 (3;5;7) (5;7;9) Kemudahan Pemesanan (1;1;3) (1/7;1/5;1/3) 1 (1;3;5) After Sales Service (1/5;1/3;1) (1/9;1/7;1/5) (1/5;1/3;1) 1 Tabel 4.54 Tabel konversi hasil kuisioner evaluator 4 untuk prioritas subkriteria level 2 service (skala bilangan menjadi skala rasio fuzzy) Evaluator 4 Response Flexibility Kemudahan Pemesanan After Sales Service Response 1 (1;3;5) (1;3;5) (1;1;3) Flexibility (1/5;1/3;1) 1 (1;1;3) (1/5;1/3;1) Kemudahan Pemesanan (1/5;1/3;1) (1;1;3) 1 (1/5;1/3;1) After Sales Service (1;1;3) (1;3;5) (1;3;5) 1

32 Matriks synthectic pariwise comparison Tabel 4.55 Matriks Pairwise comparison subkriteria level service Synthetic Pairwise Comparison subkriteria service Response Flexibility Kemudahan Pemesanan After Sales Service Response 1 (0.57;0.96;1.5) (0.88;1.5;3.2) (1;1.73;3.87) Flexibility (0.67;1.04;1.77) 1 (0.88;1.5;3.2) (0.81;1.24;2.14) Kemudahan Pemesanan After Sales Service (0.41;0.67;1.5) (0.41;0.67;1.5) 1 (0.45;1;2.24) (0.45;0.58;1.73) (0.47;0.81;1.24) (0.45;1;2.24) 1 5. Rata - rata geometris fuzzy r% r% r% r% response flexibility = kemudahan aftersaleserv ( 0.84 ;1.25 ; 2.08) ( 0.83 ;1.18 ;1.87) = ( 0.52 ; 0.82 ;1.5) = ( 0.55 ; 0.83 ; 1.48) = 6. Bobot fuzzy tiap subkriteria dari kriteria service w% w% w% w% response flexibility = kemudahan aftesaleserv ( 0.12 ; 0.31; 0.76) ( 0.12 ; 0.29 ; 0.68) ( 0.08 ; 0.2 ; 0.54) = ( 0.08 ; 0.2 ; 0.54) = =

33 119 Perhitungan bobot prioritas subkriteria level 2 delivery Hasil kuisioner bobot prioritas subkriteria level2 delivery : 1. Konversi ke skala bilangan Tabel 4.56 Tabel Konversi hasil kuisioner untuk prioritas subkriteria level 2 delivery menjadi skala bilangan Evaluator SK1 SK2 SK1 SK2 SK1 SK2 SK1 SK2 SK1 1 1/3 1 1/ SK / SK1 : Ketepatan jumlah yang dikirim SK2 : Ketepatan waktu pengiriman 2. Hasil perhitungan consistency ratio (CR) Tabel 4.57 Tabel Perhitungan nilai CR hasil kuisioner evaluator 1 untuk Evaluator 1 prioritas subkriteria level 2 delivery SK1 SK2 SK1 SK2 Avg λmax CI CR SK SK SK SK Total CR < 0.1 (acceptable) Tabel 4.58 Tabel Perhitungan nilai CR hasil kuisioner evaluator 2 untuk Evaluator 2 prioritas subkriteria level 2 delivery SK1 SK2 SK1 SK2 Avg λmax CI CR SK SK SK SK Total CR < 0.1 (acceptable)

34 120 Tabel 4.59 Tabel Perhitungan nilai CR hasil kuisioner evaluator 3 untuk prioritas subkriteria level 2 delivery Evaluator 3 SK1 SK2 SK1 SK2 Avg λmax CI CR SK SK SK SK Total CR < 0.1 (acceptable) Tabel 4.60 Tabel Perhitungan nilai CR hasil kuisioner evaluator 4 untuk Evaluator 4 prioritas subkriteria level 2 delivery SK1 SK2 SK1 SK2 Avg λmax CI CR SK SK SK SK Total CR < 0.1 (acceptable) 3. Korversi ke skala fuzzy Tabel 4.61 Tabel konversi hasil kuisioner evaluator 4 untuk prioritas subkriteria level 2 delivery (skala bilangan menjadi skala rasio fuzzy) Evaluator 1 Evaluator 2 SK1 SK2 SK1 SK2 SK1 1 (1/5;1/3;1) 1 (1/5;1/3;1) SK2 (1;3;5) 1 (1;3;5) 1 Evaluator 3 Evaluator 4 SK1 SK2 SK1 SK2 SK1 1 (1;3;5) 1 (1;1;3) SK2 (1/5;1/3;1) 1 (1;1;3) 1

35 Matriks synthetic pairwise comparison Tabel 4.62 Matriks Pairwise comparison subkriteria level delivery Synthetic Pairwise Comparison subkriteria ekonomis Ketepatan Jumlah Ketepatan Waktu Ketepatan Jumlah 1 (0.45;0.76;1.97) Ketepatan Waktu (0.67;1.32;2.94) 1 5. Rata rata geometris fuzzy r% r% tepatjumlah tepatwaktu = = ( 0.67 ; 0.87 ; 1.40) ( 0.82 ;1.15 ; 1.72) 6. Bobot fuzzy dari tiap subkriteria dari kriteria delivery. w% w% tepatjumlah tepatwaktu = = ( 0.21; 0.17 ; 0.94) ( 0.26 ; 0.22 ;1.15) Perhitungan bobot prioritas subkriteria level 2 capability Hasil kuisioner bobot prioritas subkriteria level2 capability : 1. Hasil konversi ke skala bilangan Tabel 4.63 Tabel Konversi hasil kuisioner untuk prioritas subkriteria level 2 capability menjadi skala bilangan Evaluator SK1 SK2 SK3 SK1 SK2 SK3 SK1 SK2 SK3 SK1 SK2 SK3 SK1 1 1/ /5 1/3 1 1/3 1 SK SK3 1/3 1/5 1 1/3 1/ / /3 1 SK1 : Kapasitas SK2 : Lead time SK3 : Reputasi supplier

36 Hasil perhitungan consistency ratio (CR) Tabel 4.64 Tabel Perhitungan nilai CR hasil kuisioner evaluator 1 untuk Evaluator 1 SK1 SK2 SK3 prioritas subkriteria level 2 capability SK1 SK2 SK3 Avg λmax CI CR SK SK SK SK SK SK Total CR < 0.1 (acceptable) Tabel 4.65 Tabel Perhitungan nilai CR hasil kuisioner evaluator 2 untuk Evaluator 2 SK1 SK2 SK3 prioritas subkriteria level 2 capability SK1 SK2 SK3 Avg λmax CI CR SK SK SK SK SK SK Total CR < 0.1 (acceptable) Tabel 4.66 Tabel Perhitungan nilai CR hasil kuisioner evaluator 3 untuk prioritas subkriteria level 2 capability Evaluator 3 SK1 SK2 SK3 SK1 SK2 SK3 Avg λmax CI CR SK SK SK SK SK SK Total CR < 0.1 (acceptable)

37 123 Tabel 4.67 Tabel Perhitungan nilai CR hasil kuisioner evaluator 4 untuk prioritas subkriteria level 2 capability Evaluator 4 SK1 SK2 SK3 SK1 SK2 SK3 Avg λmax CI CR SK SK SK SK SK SK Total CR < 0.1 (acceptable) 3. Konversi ke skala fuzzy Tabel 4.68 Tabel konversi hasil kuisioner evaluator 1 untuk prioritas subkriteria level 2 capability (skala bilangan menjadi skala rasio fuzzy) Evaluator 1 Kapasitas Lead Time Reputasi Response 1 (1/5;1/3;1) (1;3;5) Flexibility (1;3;5) 1 (3;5;7) Reputasi (1/5;1/3;1) (1/7;1/5;1/3) 1 Tabel 4.69 Tabel konversi hasil kuisioner evaluator 2 untuk prioritas subkriteria level 2 capability (skala bilangan menjadi skala rasio fuzzy) Evaluator 2 Kapasitas Lead Time Reputasi Response 1 (1;1;3) (1;3;5) Flexibility (1;1;3) 1 (1;3;5) Reputasi (1/5;1/3;1) (1/5;1/3;1) 1

38 124 Tabel 4.70 Tabel konversi hasil kuisioner evaluator 3 untuk prioritas subkriteria level 2 capability (skala bilangan menjadi skala rasio fuzzy) Evaluator 3 Kapasitas Lead Time Reputasi Response 1 (1/7;1/5;1/3) (1/5;1/3;1) Flexibility (3;5;7) 1 (1;3;5) Reputasi (1;3;5) (1/5;1/3;1) 1 Tabel 4.71 Tabel konversi hasil kuisioner evaluator 4 untuk prioritas subkriteria level 2 capability (skala bilangan menjadi skala rasio fuzzy Evaluator 4 Kapasitas Lead Time Reputasi Response 1 (1/5;1/3;1) (1;1;3) Flexibility (1;3;5) 1 (1;3;5) Reputasi (1;1;3) (1/5;1/3;1) 1 4. Matriks synthectic pariwise comparison Tabel 4.72 Matriks Pairwise comparison subkriteria level capability Synthetic Pairwise Comparison subkriteria service Kapasitas Lead Time Reputasi Kapasitas 1 (0.27;0.39;1) (0.67;1.32;2.94) Lead Time (1.32;2.59;4.79) 1 (1.32;3.41;5.44) Reputasi (0.45;0.76;1.97) (0.18;0.29;0.76) 1 5. Rata - rata geometris fuzzy r% r% r% kapasitas leadtime reputasi ( 0.57 ; 0.8 ; 1.43) ( 1.2 ; 2.07 ; 2.96) ( 0.43 ; 0.61; 1.14) = = =

39 Bobot fuzzy tiap subkriteria dari kriteria capability w% w% w% kapasitas leadtime rep uta si ( 0.1; 0.23 ; 0.65) ( 0.22 ; 0.6 ;1.34) ( 0.08 ; 0.17 ; 0.52) = = = Setelah bobot dari setiap kriteria dan subkriteria diketahui, nilai bobot fuzzy dari setiap kriteria dan subkriteria tersebut di-defuzzifikasi menjadi nilai best non-fuzzy performance (BNP) yang menunjukan tingkat prioritas dari setiap kriteria dan subkriteria. Perhitungan BNP menggunakan metode center of area (COA) dengan rumus matematis BNP [( uw ~ lwi ~ ) + ( mw ~ lwi ~ )] / 3] + lw ~ i contoh perhitungan BNP untuk kriteria ekonomis : w ~ ekonomis BNP BNP BNP = ekonomis ekonomis ekonomis i =. Berikut adalah ( 0.08 ; 0.19 ; 0.46) = [ ( ) + ( ) ]/ 3] = [( ) / 3] = 0.24 i i BNP untuk subkriteria diambil dari bobot keseluruhan dari subkriteria tersebut. Dimana bobot keseluruh dari subkriteria tersebut didapat dari hasil perkalian nilai bobot subkriteria dengan bobot super kriterianya. Bobot keseluruhan subkriteria biaya = w ~ ekonomis w ~ biaya = ( 0.08 ; 0.19 ; 0.46) ( 0.21; 0.17 ; 0.94) = ( ; ; ) = ( ; 0.033; 0.436)

40 126 Berikut adalah hasil perhitungan bobot BNP untuk seluruh kriteria dan subkriteria : Tabel 4.73 Tabel hasil perhitungan bobot BNP seluruh kriteria level 1 dan subkriteria level 2 Kriteri Lvl1/Lvl2/ Alternatif Bobot Lokal Bobot Keseluruhan BNP L M U L M U Ekonomis Biaya Payment Term Quality Kualitas Tingkat Cacat Tingkat Ketidaksesuaian Garansi Service Response Flexibility Kemudahan pemesanan After Sales Service Delivery Ketepatan Jumlah Ketepatan Waktu Capability Capacity Lead Time Reputasi Bobot BNP pada tabel 4.73 di atas akan digunakan untuk perhitungan bobot performance dari setiap supplier untuk seluruh bahan baku.

41 127 Perhitungan bobot performance supplier Perhitungan bobot supplier untuk bahan baku HVI 60. Berikut adalah hasil kuisioner skala penilaian untuk variable linguistik Tabel 4.74 Penilaian skala subjektif Variabel Linguistik Sangat Kurang Cukup Baik Sangat Evaluator Kurang Baik (SK) (K) (C) (B) (SB) l m u l m u l m u l m u l m u Tabel 4.75 Penilaian skala objektif Skala Linguistik Skala Bilangan Fuzzy SK Sangat Kurang K Kurang C Cukup B Baik SB Sangat Baik Hasil kuisioner penilaian supplier untuk setiap kriteria subjektif untuk bahan baku HVI 60. Tabel 4.76 Hasil kuisioner penilaian performance supplier kriteria subjektif Kriteria Alternatif Supplier A Supplier B Supplier C Ev1 Ev2 Ev3 Ev4 Ev1 Ev2 Ev3 Ev4 Ev1 Ev2 Ev3 Ev4 Payment Term C B C C B B B B K C C B Kualitas Produk B B C B C C B B SB B SB SB Garransi B C C C C B B C SB SB B B Response B B B B C C SB B SK SK C C

42 128 Flexibility K K C B SB B B B B B K K Kemudahan Pemesanan B C B B B C B B B B B C After Sales Service C C C C B SB B B K C B B Reputasi B B C C B B B B C B B C Dari hasil penilaian alternatif untuk setiap subkriteria, dilakukan perhitungan rata rata fuzzy performance dengan rumus matematis : E% n E% E% L E%. 1 2 n ij = (1 ) ( ij + ij + + ij ) Pada perhitungan rata rata fuzzy performance untuk subkriteria subjektif akan menggunakan skala penilaian subjektif pada tabel Sedangkan untuk penilaian kriteria objektif akan menggunakan skala penilaian objektif variable linguistik Perhitungan rata rata fuzzy performance untuk supplier A : Penilaian terhadap supplier A untuk kriteria payment term dari evaluator 1 s/d evaluator 4 adalah : C, B, C, C Skala C menurut evaluator 1 = (55;60;65) Skala B menurut evaluator 2 = (70;75;80) Skala C menurut evaluator 3 = (56;60;65) Skala C menurut evaluator 4 = (55;60;70) ~ E ~ E ~ E payterm payterm payterm = = = ( 1/ 4) ((55 ; 60 ; 65) + (70; 75; 80) + (56; 60; 65) + (55 ; 60 ; 70) ) (( ) / 4 ; ( ) / 4 ; ( ) ) ( 59 ; ; 70) Penilaian terhadap supplier B untuk kriteria kualitas produk dari evaluator 1 s/d evaluator 4 adalah : B, B, B, B Skala B menurut evaluator 1 = (65;75;85) Skala B menurut evaluator 2 = (70;75;80) Skala C menurut evaluator 3 = (65;70;80

43 129 Skala B menurut evaluator 4 = (70;80;90) ~ E ~ E ~ E payterm payterm payterm = = = ( 1/ 4) ((65 ; 75; 85) + (70; 75 ; 80) + (65 ; 70 ;80) + (70; 80 ; 90) ) (( ) / 4 ; ( ) / 4 ; ( ) ) ( 67.5 ; 75 ; 83.75) Penilaian terhadap supplier C untuk kriteria kualitas produk dari evaluator 1 s/d evaluator 4 adalah : K, C, C, B Skala B menurut evaluator 1 = (35;45;55) Skala B menurut evaluator 2 = (50;60;70) Skala C menurut evaluator 3 = (65;70;80 Skala B menurut evaluator 4 = (70;80;90) ~ E ~ E ~ E payterm payterm payterm = = = ( 1/ 4) ((35 ; 45 ; 55) + (50 ; 60 ; 70) + (65 ; 70 ;80) + (70; 80 ; 90) ) (( ) / 4 ; ( ) / 4 ; ( ) ) ( 55 ; ; 73.75) Berikut adalah nilai performance supplier untuk kriteria subjektif : Tabel 4.77 Konversi penilaian performance supplier kriteria subjektif ke skala fuzzy Alternatif Kriteria Supplier A Supplier B Supplier C l m u l m u l m u Payment Term Kualitas Produk Garransi Response Flexibility Kemudahan Pemesanan After Sales Service Reputasi

44 130 Dari data historis kinerja supplier dan penawaran yang diberikan supplier, dilakukan penilaian kriteria untuk kriteria objektif. Tabel 4.78 Data objektif performance supplier Supplier A Supplier B Supplier C Harga Jlh Cacat Total Jumlah Produk Persentase Jlh Cacat 1.05% 0.86% 1.30% Jlh Tidak Sesuai Spesifikasi Total Jumlah Pemesanan Terjadi Persentase Jlh Tdk Sesuai Spesifikasi 5.88% 8.33% 12.50% Jlh Pengiriman Tidak Tepat Kuantitas Total Jumlah Pengiriman terjadi Quantity Accuracy 94.12% % % Jlh Pengiriman Tidak Tepat Waktu Total Jumlah Pengiriman terjadi Timely 82.35% 79.17% 87.50% Lead Time Capacity PPN 10.00% 10.00% 10.00% Biaya

45 131 Dari data perhitungan kinerja dan penawaran supplier diatas, dilakukan penilaian supplier dengan hasil sebagai berikut : Tabel 4.79 Penilaian performance supplier untuk kriteria objektif Kriteria Alternatif Supplier A Supplier B Supplier C Biaya B C SB Tingkat Kecacatan C B K Tingkat Keetidaksesuaian B C K Ketepatan Jumlah B SB SB Ketepatan Waktu B C SB Lead Time B B C Capacity B SB C Nilai supplier A untuk kriteria biaya adalah B. Maka skala B sesuai skala penilaian objektif adalah (60, 75, 90) Tabel 4.80 Penilaian performance supplier untuk kriteria objektif dalam skala Kriteria fuzzy Alternatif Supplier A Supplier B Supplier C l m u l m u l m u Biaya Tingkat Kecacatan Tingkat Ketidaksesuaian Ketepatan Jumlah Ketepatan Waktu Lead Time Capacity Dari penilaian subjektif dan objektif maka nilai rata rata fuzzy performance dari setiap supplier untuk seluruh kriteria.

46 132 Tabel 4.81 Penilaian performance supplier untuk seluruh kriteria dalam skala fuzzy Kriteria Alternatif Supplier A Supplier B Supplier C Payment Term Kualitas Produk Garansi Response Flexibility Kemudahan Pemesanan After Sales Service Reputasi Biaya Tingkat Kecacatan Tingkat Ketidaksesuaian Ketepatan Jumlah Ketepatan Waktu Lead Time Capacity Penentuan supplier terbaik Supplier terbaik diindikasikan oleh fuzzy synthetic decision ( R ~ ) yaitu jumlah hasil perkalian antara nilai fuzzy performance supplier dengan untuk setiap kriteria ( E ~ ) dengan bobot keseluruhan dari kriteria tersebur ( w ~ ). n n n ~ R = ~ le i lw ~ ~ i me i mw ~ 1 ; ~ ; uei i = 0 i= 0 i i = 0 n = jumlah kriteria uw ~ i Untuk supplier A nilai fuzzy synthectic decision-nya adalah : ~ R ~ R A A = = ( ( ) + ( ) + L + ( ) ); ( ( ) + ( ) + L+ ( ) ( ( ) + ( ) + L+ ( ) ( ; ; ) ;

47 133 Untuk supplier B nilai fuzzy synthectic decision-nya adalah : ~ R ~ R B B = = ( ( ) + ( ) + L+ ( ) ); ( ( ) + ( ) + L+ ( ); ( ( ) + ( ) + L + ( ) ( 22.5 ; ; ) Untuk supplier C nilai fuzzy synthectic decision-nya adalah : ~ R ~ R C C = = ( ) + ( ) + L+ ( ) ); ( ) + ( ) + L+ ( ) ( ) + ( ) + L + ( ) ( ; ; ) ; Setelah didapat nilai fuzzy synthectic decision dari setiap supplier, dilakukan perhitungan BNP defuzifikasi dengan metode COA. BNP BNP BNP BNP BNP BNP A A B B A A = [( ) + ( ) / 3] = = [( ) + ( ) / 3] = = [( ) + ( ) / 3] =

48 134 Berikut ini adalah perhitungan keseluruhan dari fuzzy synthectic decision : Tabel 4.82 Tabel keseluruhan dari fuzzy synthectic decision 134

49 Analisis dan Pembahasan Dari hasil pengolahan dan perhitungan data dengan menggunakan metode Fuzzy AHP, dapat dibuat suatu analisis untuk menjadi masukan dan pertimbangan bagi manajemen untuk menentukan supplier terpilih. Terdapat banyak kriteria pemilihan yang harus diperhatikan dalam pemilihan supplier. Dari kriteria kriteria yang terlibat dalam pemilihan memiliki tingkat prioritas yang berbeda antara satu kriteria dengan kriteria lainnya. Tingkat prioritas ini yang akan menunjukan sebarapa penting kriteria. Tingkat Prioritas Kriteria Level Ekonomis Quality Service Delive ry Kapabilitas 0.00 Kriteria Level 1 Gambar 4.2 Tingkat Prioritas Kriteria Level 1 Dari grafik pada gambar 4.2 prioritas kriteria level 1, dapat dilihat bahwa untuk kriteria level 1 kriteria kapabilitas memiliki prioritas yang paling tinggi dengan bobot sebesar 0.26.

50 Subkriteria Level 2 Biaya Payment Term Kualitas Produk Ting ka t Keca catan Tingkat Ketidaksesuaian Garansi Resp on se Flexib ilit y Kemudahan pemesanan After Sales Service Ketepatan Jumlah Ketepatan Waktu Cap acity Lead Time Rep ut asi Gambar 4.3 Tingkat Prioritas Seluruh Kriteria dan Subkriteria Untuk subkriteria level 2 subkriteria payment term merupakan kriteria terpenting pada level 2, dimana subkriteria payment term memiliki bobot prioritas sebesar 0.2. Berikut ini adalah analisis nilai performance supplier untuk setiap kriteria. Performance supplier dari segi kriteria biaya BNP Kriteria Biaya Supplier Supplier A Supplier B Supplier C Gambar 4.4 BNP Kriteria Biaya

51 137 Untuk kriteria biaya supplier C merupakan supplier terbaik dengan nilai BNP sebesar 16,07. Performance supplier dari segi kriteria payment term BNP Kriteria Payment Term Supplier A Supplier B Supplier C Supplier Gambar 4.5 BNP Kriteria Payment Term Untuk kriteria payment term supplier B merupakan supplier terbaik dengan nilai BNP sebesar 16,42. Performance supplier dari segi kriteria kualitas produk BNP Kriteria Kualitas Supplier 9.33 Supplier A Supplier B Supplier C Gambar 4.6 BNP Kriteria Kualitas

52 138 Untuk kriteria kualitas supplier C merupakan supplier terbaik dengan nilai BNP sebesar 9,33. Performance supplier dari segi kriteria tingkat kecacatan BNP Kriteria Tingkat Kecacatan Supplier A Supplier B Supplier C Sup plier Gambar 4.7 BNP Kriteria Tingkat Kecacatan Untuk kriteria tingkat kecacatan supplier B merupakan supplier terbaik dengan nilai BNP sebesar 8,33. Performance supplier dari segi kriteria tingkat ketidaksesuaian BNP kriteria Tingkat Ketidaksesuaian Supplier A Supplier B Supplier C Supplier Gambar 4.8 BNP Kriteria Tingkat Ketidaksesuain

53 139 Untuk kriteria tingkat ketidaksesuaian supplier A merupakan supplier terbaik dengan nilai BNP sebesar 3,09. Performance supplier dari segi kriteria garansi BNP Kriteria Garansi Sup plier 1.47 Supplier A Supplier B Supplier C Gambar 4.9 BNP Kriteria Garansi Untuk kriteria garansi supplier C merupakan supplier terbaik dengan nilai BNP sebesar 1,47. Performance supplier dari segi kriteria response BNP Kriteria Response Supplier A Supplier B Supplier C 0.00 Supplier Gambar 4.10 BNP Kriteria Response

54 140 Untuk kriteria response supplier A merupakan supplier terbaik dengan nilai BNP sebesar 6,02. Performance supplier dari segi kriteria flexibility BNP Kriteria Flexibility Supplier A Supplier B Supplier C Sup plier Gambar 4.11 BNP Kriteria Flexibility Untuk kriteria flexibility supplier B merupakan supplier terbaik dengan nilai BNP sebesar 5,84. Performance supplier dari segi kriteria kemudahan dalam melakukan pemesanan BNP Kriteria Kemudahan Pemesanan Supplier A Supplier B Supplier C 3.88 Supplier Gambar 4.12 BNP Kriteria Kemudahan Pemesanan

55 141 Untuk kriteria kemudahan pemesanan supplier A dan supplier B merupakan supplier terbaik dengan nilai BNP sebesar 4,02. Performance supplier dari segi kriteria after sales service BNP Kriteria After Sales Service Su pplier 3.63 Supplier A Supplier B Supplier C Gambar 4.13 BNP Kriteria After Sales Service Untuk kriteria after sales service supplier B merupakan supplier terbaik dengan nilai BNP sebesar 4,45. Performance supplier dari segi kriteria ketepatan jumlah BNP Kriteria Ketepatan Jumlah Supplier A Supplier B Supplier C Sup plier Gambar 4.14 BNP Kriteria Ketepatan Jumlah

56 142 Untuk kriteria ketepatan jumlah supplier B dan supplier C merupakan supplier terbaik dengan nilai BNP sebesar 7,06. Performance supplier dari segi kriteria ketepatan waktu BNP Kriteria Ketepatan Waktu Supplier 8.72 Supplier A Supplier B Supplier C Gambar 4.15 BNP Kriteria Ketepatan Waktu Untuk kriteria ketepatan waktu supplier C merupakan supplier terbaik dengan nilai BNP sebesar 8,72. Performance supplier dari segi kriteria kapasitas BNP Kriteria Kapasitas Su pplier 5.18 Supplier A Supplier B Supplier C Gambar 4.16 BNP Kriteria Kapasitas

57 143 Untuk kriteria kapasitas supplier B merupakan supplier terbaik dengan nilai BNP sebesar 8,32. Performance supplier dari segi kriteria lead time BNP Kriteria Lead Time Supplier Supplier A Supplier B Supplier C Gambar 4.17 BNP Kriteria Lead Time Untuk kriteria lead time supplier A dan supplier B merupakan supplier terbaik dengan nilai BNP sebesar 15,45. Performance supplier dari segi kriteria reputasi BNP Kriteria Reputasi Supplier A Supplier B Supplier C Sup plier Gambar 4.18 BNP Kriteria Reputasi

58 144 Untuk kriteria reputasi supplier B merupakan supplier terbaik dengan nilai BNP sebesar 5,34. Dari seluruh nilai performance supplier tersebut akan didapat nilai performance total seluruh kriteria yang akan menunjukan peringkat dari supplier. BNP Keseluruhan Kriteria Supplier Supplier A Supplier B Supplier C Gambar 4.19 BNP Keseluruhan Kriteria Dari nilai BNP keseluruhan kriteria dapat diketahui supplier terbaik adalah supplier B dengan nilai BNP 108,17. Dari evaluasi pemilihan supplier yang dilakukan telah mempertimbangkan kriteria kriteria yang dianggap mampu menilai supplier secara komprehensif seperti kualitas, ekonomis, kapabilitas dan lain lain. Oleh karena itu hasil pemilihan supplier di atas diharapkan dapat memberikan manfaat bagi perusahaan sebagai berikut : Dapat menekan biaya produksi karena semakin kecilnya biaya pengadaan bahan baku.

59 145 Meningkatnya kualitas produk yang dihasilkan, karena dengan evaluasi pemilihan supplier diharapkan dapat menjaga kualitas bahan baku yang menjadi input proses produksi. Waktu pengiriman yang cepat akan membuat proses produksi sesuai dengan yang dijadwalkan sehingga akan mengurangi jumlah pending orders dan lost sales konsumen 4.4. Analisis Sistem Informasi The Task Purpose PT. Baria Tradinco adalah sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang produksi oli. Selama ini sistem pengadaan bahan baku yang dilakukan oleh perusahaan masih menggunakan sistem semi manual, dimana hanya dibantu dengan telepon dan fax untuk alat komunikasi dan penggunaan komputer dengan aplikasi Microsoft Office. Perusahaan bisaanya juga hanya menggunakan satu supplier tertentu, tidak pernah dilakukan evaluasi supplier dan sangat jarang sekali terjadi pergantian supplier, sehingga service level dari supplier dirasakan belum sesuai harapan. Oleh karena itu perusahaan membutuhkan sebuah sistem informasi pemesanan bahan baku yang terkomputerisasi. Dengan sistem informasi dapat mendukung proses procurement sehingga menjadi lebih cepat, dapat mendukung proses tender secara online sehingga perusahaan tidak tergantung pada supplier tetap atau langganan saja, tetapi supplier baru yang ingin mendaftar pun bisa mengikuti kegiatan procurement perusahaan. Dan sistem informasi dapat mendukung

60 146 pengambilan keputusan pemilihan supplier terbaik dengan model perhitungan Fuzzy AHP Sistem Definition Cakupannya sistem informasi mulai dari bagian gudang, bagian PPIC, bagian purchasing, bagian finance dan supplier. Contohnya dukungan yang dapat diberikan sistem informasi usulan ini seperti membantu bagian PPIC dalam melakukan permintaan pengadaan bahan baku, membantu bagian purchasing dalam melakukan pemesanan pembelian bahan baku kepada supplier dan lebih detil akan dijelaskan pada bagian selanjutnya. Tender dan evaluasi pemilihan supplier tidak dilakukan setiap akan dilakukannya pembelian bahan baku. Tender dan evaluasi pemilihan supplier ini hanya dilakukan pada awal periode produksi (satu tahun). Supplier yang memenangi tender akan terus digunakan selama satu periode. Selama periode tersebut peforma dari supplier tersebut akan dicatat untuk menjadi bahan pertimbangan dalam seleksi supplier pada tender periode berkutnya. Sistem informasi ini akan dijalankan pada personal Computer (PC) sederhana. Karena sistem informasi ini diharapkan dapat mempermudah pertukaran data antara perusahaan dan para supplier maka pengembangannya berupa web based application dengan bahasa pemrograman PHP. Karena sistem informasi ini akan digunakan oleh banyak bagian, hak akses dan kebutuhan informasi yang berbeda setiap bagian maka akan dibuat otorisasi sehingga setiap bagian hanya dapat mengakses sistem sesuai dengan kebutuhan masing masing. Hal ini terkait dengan keamanan sistem, dimana tujuannya untuk menghindari akses ilegal terhadap sistem.

61 147 Untuk memperjelas sistem definition maka dilakukanlah evaluasi FACTOR yang ditunjukkan pada tabel di bawah ini: Functionality Tabel 4.83 Tabel FACTOR Membantu bagian PPIC dalam melakukan permintaan pengadaan bahan baku (purchase requisition). Mendukung manajer purchasing dalam proses evaluasi dan pemilihan supplier dengan kriteria lebih dari satu, dimana model perhitungan dengan metode Fuzzy AHP dan melakukan konfirmasi pemilihan supplier dengan supplier selection confirmation kepada Staff purchasing. Mendukung bagian purchasing dalam proses pengadaan bahan baku antara lain dalam menerima purchase requisition, membuat request for quotation, menerima supplier quotation, menerima supplier selection confirmation, membuat purchase order. Membantu supplier menerima request for quotation, mengirimkan supplier quotation, menerima purchase order dan menerima pemberitahuan retur. Membantu bagian gudang dalam melakukan konfirmasi penerimaan bahan baku (material receiveform) dan retur (retur form). Membantu bagian finance dalam menerima bahan

62 148 baku yang telah diterima dan diretur. Application Domain Bagian purchasing, bagian PPIC, bagian gudang, bagian finance dan supplier. Condition Sistem informasi ini harus digunakan oleh SDM berpengetahuan Computer yang telah dimiliki oleh perusahaan sekarang. Technology PC dengan jaringan LAN dan terkoneksi dengan internet, client server application, web based application. Object Purchase requisition, request for quotation, supplier quotation, supplier selection confirmation, purchase order, material receiveform, retur form dan bahan baku. Responsibility Mampu memperlancar proses pengadaan bahan baku dengan mempermudah pertukaran data dan informasi antara perusahaan dan supplier. Selain itu mampu mendukung proses evaluasi dan pengambilan kumputusan dalam pemilihan supplier Context Sistem Berjalan Proses pengadaan bahan baku pada PT. Baria saat ini didukung oleh beberapa bagian fungsi bisnis antara lain bagian purchasing, bagian PPIC, bagian gudang, dan finance. Proses pengadaan bahan baku juga masih berjalan secara semi manual dimana dibantu dengan beberapa perangkat

63 149 komputer, telepon, fax dan sebagai sarana komunikasi antara bagian. Komunikasi dan koordinasi semakin terhambat karena perbedaan lokasi. Dimana bagian purchasing dan finance berada di kantor pusat (Jakarta) sedangkan bagian gudang dan produksi berada di pabrik (Cikarang). Komunikasi antara bagian bagian tersebut menggunkan telepon, fax dan . Penggunaan komputer hanya sebatas pada penggunaan programprogram yang sifatnya berdiri sendiri, seperti Microsoft Word dan Microsoft Excel, yang dikombinasi dengan beberapa pencatatan secara manual menggunakan kertas. Peran dari setiap bagian secara detil adalah sebagai berikut : Bagian gudang akan melakukan pengecekan dan pencatatan onhand bahan baku atau stok yang terdapat di gudang bahan baku tanpa menggunakan sistem yang baku (standar), hanya berbasis pada penggunaan Microsoft Excel yang diubah secara terus-menerus dan dikombinasikan dengan menggunakan database produk maupun bahan baku menggunakan Microsoft Access. Bagian PPIC melakukan penghitungan, pembuatan dan mencatat rencana pengadaan bahan baku atau material resource planning (MRP) yang dibutuhkan pada kegiatan produksi dengan menggunakan Microsoft Excel. Bagian finance berperan pada pembayaran ke supplier. Pembayaran ini akan dilakukan apabila bahan baku telah diterima. Pengecekan bahan

64 150 baku telah diterima atau belum berdasarkan arsip MRF yang dikirim oleh bagian gudang. Untuk bagian purchasing dalam mendapatkan penawaran (quotation) dari supplier - supplier menggunakan telepon dan menerima print out penawaran dari fax. Kemudian penawaran supplier - supplier tersebut akan diteruskan ke manajer purchasing. Setelah itu manajer purchasing yang akan menilai dan memilih supplier yang akan digunakan yang kemudian akan dikonfirmasi ke Staff purchasing. Selain itu bagian purchasing juga melakukan pencatatan data data purchase order (PO), outstanding PO (PO yang bahan bakunya belum diterima) dan supplier seperti lead time, kapasitas supplier, harga terakhir, dan lain lain kedalam Microsoft Excel.

65 151 Gambar 4.20 Rich picture sistem berjalan Sistem yang sedang berjalan pada perusahaan digambarkan Rich picture sistem bejalan. Secara secara lebih mendetil dijelaskan dibawah ini : 1. Bagian gudang akan selalu melakukan pengecekan onhand bahan baku yang tersedia di gudang untuk setiap minggunya. Data data ini dicatat pada Microsoft Excel. Yang kemudian data data tersebut akan dilaporkan ke bagian PPIC. 2. Data onhand stok bahan baku yang diterima bagian PPIC akan digunakan dalam perhitungan rencana pengadaan bahan baku. 3. Apabila jumlah stok bahan baku yang tersedia tidak mencukupi untuk produksi, maka bagian PPIC akan melakukan permintaan pengadaan

66 152 bahan baku pada bagian purchasing dengan menyerahkan purchase requisition (PR). Purchase requisition berisi data data bahan baku yang ingin dilakukan pemesanan kembali, jumlah pemesanan dan kapan bahan baku itu harus diterima. Purchase requisition harus disetujui oleh manajer PPIC sebelum dikirim ke bagian purchasing. 4. Dari PR yang diterima, maka bagian purchasing akan melakukan pencarian data data supplier. Data data supplier ini hanya dicatat pada Microsoft Excel dan sering kali data data supplier tidak tercatat dengan baik dan rapi. Apabila pembelian bahan baku akan dilakukan pada supplier baru maka pencarian dilakukan menggunakan media komunikasi seperti yellow pages, surat kabar, search engine internet atau referensi referensi lain. Oleh karena itu pencarian data supplier memakan waktu yang cukup lama yang akan memperpanjang lead time dan menghambat produksi. Setelah mendapatkan data data dari supplier supplier yang diinginkan, maka bagian purchasing akan melakukan negosiasi dan meminta penawaran ke supplier supplier via telepon dan fax. 5. Supplier supplier akan memberikan penawaran atau quotation via fax. Pada quotation bisaanya berisikan informasi mengenai spesifikasi bahan baku, harga, jumlah yang bisa dipenuhi dan informasi informasi lainnya. 6. Dari quotation quotation yang terkumpul, bagian purchasing akan merangkum menjadi lebih sederhana. Hasil rangkuman quotation akan diteruskan ke manajer purchasing sebagai bahan pertimbangan dalam pemilihan supplier.

67 Hasil pemilihan supplier kemudian akan dikonfirmasi oleh manajer purchasing ke Staff purchasing. Konfirmasi yang dilakukan hanya secara lisan. 8. Dari konfirmasi pemilihan supplier, bagian purchasing akan membuat purchase order (PO). PO akan dibuat sebanyak tiga rangkap, rangkap pertama akan diserahkan ke supplier, rangkap kedua akan diteruskan ke bagian gudang dan rangkap ketiga akan diarsipkan. PO akan berisikan data data bahan baku yang ingin dilakukan pemesanannya. 9. PO yang diterima oleh bagian gudang akan diarsipkan dan digunakan untuk pengecekan pada saat penerimaan bahan baku. 10. Supplier akan mengirimkan bahan baku yang telah dipesan beserta surat jalan sebagai bukti pengiriman. 11. Pada saat bahan baku telah sampai, bagian gudang akan melakukan pengecekan bahan baku tersebut yang dibantu bagian lab sebagai quality control. Pengecekan yang dilakukan yaitu pengecekan jumlah, spesifikasi dan kualitas bahan baku. Apabila ketidak sesuaian dalam jumlah yang banyak maka bahan baku tidak akan diterima dan dikembalikan ke supplier. Sebaliknya jika jumlah yang tidak sesuai masih dalam batas tolerasi maka bahan baku tetap diterima dan sisa bahan baku yang tidak sesuai akan diretur. 12. Apabila terdapat cacat atau ketidak sesuaian pada bahan baku yang telah diterima, maka akan dilakukan retur ke supplier.

68 Setiap dilakukan retur, bagian gudang akan membuat retur form sebanyak dua rangkap, rangkap pertama akan diteruskan ke bagian finance dan rangkap kedua akan diarsipkan. 14. Setelah bahan baku diterima, bagian gudang harus melakukan konfirmasi bahan baku yang dipesan telah diterima ke bagian PPIC. Konfirmasi yang dilakukan bisaanya secara lisan. 15. Dengan dilakukannya penerimaan bahan baku yang dikirim supplier, bagian gudang akan membuat material recieve form (MRF) sebanyak dua rangkap sebagai tanda telah diterimanya bahan baku yang dipesan. Rangkap pertama akan diteruskan ke bagian finance dan rangkap kedua akan diarsipkan. 16. Supplier akan melakukan penagihan dengan mengirimkan invoice. 17. Berdasarkan MRF dan RF yang diterima, bagian finance akan melakukan pembayaran pada saat dilakukan penagihan oleh supplier. MRF digunakan sebagi bukti bahan baku telah diterima. RF sebagai bukti telah dilakukannya retur ke supplier. Setiap retur yang dilakukan akan diuangkan dan langsung mengurangi jumlah pembayaran. Bedasarkan penjelasan sistem berjalan, terdapat berbagai kekurangan yang berdampak pada perusahaan yaitu sebagai berikut: Sistem pencatatan dan perhitungan yang hanya menggunakan Microsoft Excel memungkinkan terjadinya kesalahan pencatatan (human error) sangat tinggi karena tiap-tiap bagian harus melakukan pengecekan terusmenerus mengingat tidak ada suatu pesan kesalahan yang menunjukkan apabila terjadi perubahan yang harus diwaspadai oleh tiap bagian.

69 155 Komunikasi menggunakan telepon ataupun fax dirasa sangat mengganggu, karena terjadi alur informasi secara terus-menerus. Dalam satu hari bagian PPIC dapat menelepon bagian gudang secara berkalikali. Pertukaran informasi dan data yang masig manual menyebabkan informasi yang diberikan pun bersifat verbal, tidak tercatat dalam bentuk yang terdokumentasi, sehingga sangat mengandalkan daya ingat dari individu. Dan juga sering terjadi kesalahan karena individu yang menerima informasi melupakan suatu detil yang penting. Penggunaan program komputer yang tidak terintegrasi pun dirasa menimbulkan masalah. Karena tidak adanya suatu standar format data, maka tiap-tiap bagian dalam menerima informasi akan memperoleh data yang harus diubah terlebih dahulu sesuai dengan standar divisi mereka, sehingga proses ini memakan banyak waktu yang sebenarnya tidak perlu. Proses evaluasi dan seleksi supplier yang secara garis besar hanya mempehitungkan harga, membuat supplier yang terpilih tidak dapat memenuhi semua aspek yang diharapkan perusahaan. Hal ini menyebabkan service level dari supplier semakin menurun dari waktu ke waktu. Tidak pernah dilakukannya evaluasi peforma dan kinerja supplier baik itu mencatat atau mengontrol kinerja, menyebabkan penurunan performa supplier yang secara langsung akan berimbas pada perusahaan.

70 156 Penilaian pada pemilihan supplier hanya dilakukan oleh satu orang yaitu manajer purchasing, hal ini mengindikasikan proses penilaian sangat subjektif karena sangat bergantung pada satu orang. Hal ini menyebabkan hasil pemilihan supplier masih terdapat kesalahan dan subjektivitas Sistem Usulan Dari kelemahan dan kekurangan yang dimiliki sistem berjalan maka dikembangkan sistem usulan yang dapat mengakomodasi kelemahan dan kekurangan pada sistem berjalan. Sistem yang diusulkan, merupakan suatu sistem informasi yang dapat mendukung dan mengintegrasikan kegiatan kegiatan utama bagian bagian yang terlibat dalam proses pengadaan bahan baku. Proses pengandaan bahan baku ini dilakukan dengan cara tender yang berbasiskan web (E-Procurement). Pada sistem ini proses pengadaan bahan baku tidak terfokus pada satu supplier saja. Dan sistem informasi ini juga harus dapat mendukung dalam pengambilan keputusan pemilihan supplier. Dengan sistem ini diharapkan proses pengadaan bahan baku dapat dilakukan dengan lebih cepat, pertukaran data yang lebih baik dan hasil pemilihan supplier yang lebih baik. Pada gambar Rich picture sistem usulan mengambarkan proses pada sistem usulan.

71 157 Gambar 4.21 Rich picture sistem usulan Rich picture sistem secara lebih mendetil dijelaskan dibawah ini : 1. Bagian gudang akan selalu melakukan pengecekan onhand bahan baku yang tersedia di gudang untuk setiap minggunya. Hasil pengecekan tersebut akan dicatat ke dalam sebuah file Microsoft Excel. 2. Hasil pengecekan dan pencatatan onhand bahan baku akan diinput ke sistem informasi dalam bentuk file.

72 Onhand bahan baku yang diinput oleh bagian gudang dapat dilihat oleh bagian PPIC dapat digunakan dalam perhitungan rencana pengadaan bahan baku. 4. Apabila jumlah stok bahan baku yang tersedia tidak mencukupi untuk produksi, maka bagian PPIC akan melakukan permintaan pengadaan bahan baku pada bagian purchasing dengan membuat purchase requisition (PR) melalui sistem informasi. 5. Dari PR yang telah dibuat oleh Staff PPIC dapat dilihat dan disetujui oleh manajer PPIC melalui fungsi approval dari sistem informasi. 6. Bagian PPIC dapat melihat sampai sejauh mana status PR yang dikirimkan telah diproses, dari PR diterima hingga bahan baku diterima oleh bagian gudang dan siap digunakan untuk produksi. 7. PR yang telah dibuat dan disetujui oleh manajer PPIC dapat dilihat oleh bagian purchasing. Dari PR yang diperoleh tersebut, bagian purchasing akan melakukan pengecekan supplier quotation yang active untuk bahan baku yang dipesan. Maksud dari SQ active adalah SQ yang berlaku dan akan digunakan untuk pemenuhan satu bahan baku untuk masa satu periode. Status active pada SQ ini hanya akan berlaku selama satu periode saja. Apabila tidak terdapat SQ active untuk bahan baku tersebut, maka akan dibuat RFQ (dilanjutkan ke langkah ke-8). Dan apabila sudah terdapat SQ active untuk bahan baku tersebut, RFQ tidak akan dibuat lagi tetapi langsung dilakukan pembuatan PO (dilanjutkan ke langkah ke-16).

73 Dari PR tersebut bagian purchasing akan membuat request of quotation (RFQ) melalui sistem. RFQ ini berisikan pemintaan penawaran dari supplier mengenai bahan baku yang ingin dipesan. 9. Manajer purchasing dapat melakukan kontrol RFQ yang telah dibuat apakah sesuai dengan PR. Selain itu manajer purchasing juga dapat melakukan approval RFQ apabila RFQ telah sesuai. 10. Dari RFQ yang telah disetujui atau di approve oleh manajer purchasing, Staff purchasing akan membuka tender degan membuat berita dan informasi mengenai tender dan RFQ. 11. Berita mengenai tender dan RFQ akan dikirim secara otomatis ke alamat dari supplier supplier yang telah terdaftar pada sistem. Berita tersebut juga akan ditampilkan pada halaman depan dari web E- Procurement yang dapat di dapat diakses tanpa harus login terlebih dahulu. Hal ini bertujuan agar calon supplier yang belum pernah mendaftar dapat menjadi anggota dan berpartisipasi dalam kegiatan tender perusahaan. Untuk bisa mengikuti kegiatan tender, supplier harus login terlebih dahulu pada web perusahaan atau register terlebih dahulu jika supplier tersebut belum terdaftar. 12. Dari RFQ yang telah diterima, supplier dapat mengirimkan Supplier Quotation (SQ) ke perusahaan. Isi dari SQ adalah informasi mengenai penawaran supplier, seperti jumlah yang dapat dipenuhi, harga, waktu pengiriman dan informasi informasi lainnya. 13. Dalam proses evaluasi dan pemilihan supplier, manajer purchasing dibantu dengan decision support sistem (DSS) yang terdapat pada sistem

74 160 informasi. Dalam proses evaluasi dan pemilihan supplier ini, Staff purchasing mendesain kriteria dan polling penilaian yang akan digunakan dalam evaluasi dan pemilihan supplier terlebih dahulu. Staff purchasing juga dapat menentukan siapa saja yang akan menjadi evaluator yang akan memberikan penilaian pada polling penilaian yang telah dibuat. Evaluator diambil dari karyawan yang dinilai berkompeten untuk memberikan penilaian. 14. Karyawan yang telah diberi akses sebagai evaluator, akan mendapatkan tampilan polling yang harus diisi. 15. Setelah dilakukan penilaian, maka sistem informasi akan melakukan perhitungan dengan metode Fuzzy AHP untuk menentukan supplier terbaik. Hasil perhitungan yang dapat dilihat manajer purchasing adalah grafik yang menunjukan nilai dari setiap supplier. Hasil perhitungan tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan manajer purchasing dalam menentukan supplier yang akan digunakan untuk pengadaan bahan baku. Setelah itu manajer purchasing melakukan konfirmasi supplier yang digunakan kepada Staff purchasing dengan menyetujui atau approval supplier quotation yang dipilih. 16. Supplier quotation yang telah di setujui manajer purchasing akan diterima oleh Staff purchasing. Berdasarkan konfirmasi tersebut Staff purchasing akan membuat purchase order. 17. Sebelum PO dikirim ke supplier, PO tersebut harus di-approve oleh manajer purchasing terlebih dahulu.

75 Bagian purchasing juga akan memuat pemberitaan supplier terpilih yang menandakan berakhirnya tender. 19. Supplier terpilih akan menerima pemberitaan melalui atau melalui pesan dari sistem mengenai terpilihnya supplier tersebut dan PO yang harus dipenuhi. 20. Supplier akan mengirimkan bahan baku yang telah dipesan beserta surat jalan sebagai bukti pengiriman. 21. Bagian gudang akan melakukan pengecekan kesesuaian bahan baku yang dikirim. Pengecekan yang dilakukan mulai dari pengecekan kesesuaian spesifikasi, kesesuaian jumlah, kecatatan dan hal hal lain yang bersangkutan. Bagian gudang akan dibantu bagian lab sebagai quality control dalam pengecekan ini. Bila sesuai bahan baku tersebut akan diterima. 22. Bila terdapat cacat bahan baku yang diterima maka bahan baku tersebut akan diretur. 23. Bagian gudang akan melakukan konfirmasi barang yang diterima dan barang yang diretur melalui material receiveform (MRF) untuk barang yang diterima. Dan retur form (RF) untuk barang yang diretur ke supplier. 24. Supplier akan menerima pemeberitaan mengenai retur yang dilakukan. 25. Bagian finance akan menerima informasi dari bagian gudang mengenai penerimaan barang melalui MRF dan retur melalui RF. 26. Supplier akan melakukan penagihan dengan mengirimkan invoice.

76 Berdasarkan PO, MRF dan RF yang diterima, bagian finance akan melakukan pembayaran pada saat dilakukan penagihan oleh supplier. PO digunakan untuk mengecek kesesuaian harga. Sedangkan MRF digunakan sebagi bukti bahan baku telah diterima. Dan RF sebagai bukti telah dilakukannya retur ke supplier. Setiap retur yang dilakukan akan diuangkan dan langsung mengurangi jumlah pembayaran Problem Domain Analysis Tujuan dilakukannya analisis problem domain adalah untuk mengahasilkan suatu model yang mendeskripsikan sistem. Pada analisis problem domain dilakukan penentuan Class, mendeskripsikan structure hubungan antara Class dan mendeskripsikan behavior dari model Cluster Terdapat lima cluster yang akan mengelompokan Class Class yang ada. Cluster cluster tersebut adalah cluster orang, cluster dokumen, cluster bahan baku, cluster tender dan cluster kriteria. Cluster orang merupakan aktor yang terlibat dalam sistem. Untuk cluster dokumen merupakan dokumen dokumen yang dihasilkan dalam sistem. Cluster bahan baku menyatakan bahan baku. Sedangkan cluster criteria menyatakan kriteria kriteria yang digunakan dalam pemilihan supplier. Gambar 4.22 Cluster

77 Structure Cluster orang terdiri dari Class karyawan, bagian PPIC, bagian gudang, bagian purchasing, bagian finance, evaluator dan supplier. Untuk cluster dokumen terdiri dari purchase request, request for quotation, supplier quotation, purchase order, material receiveform dan retur form. Cluster bahan baku terdiri dari Class bahan baku, cluster tender tediri dari Class tender dan untuk cluster kriteria terdiri dari Class kriteria. Gambar 4.23 Cluster orang Gambar 4.24 Cluster dokumen

78 164 Gambar 4.25 Cluster bahan baku Gambar 4.26 Cluster tender Gambar 4.27 Cluster kriteria Structure dapat digambarkan dengan Class diagram. Dimana dengan Class diagram dapat mengambarkan hubungan antar Class yang terlibat dalam sistem.

79 165 Gambar 4.28 Class diagram Classes Bahan Baku Class bahan baku merupakan kumpulan objek objek bahan baku yang digunakan untuk produksi di Baria. Jadi semua bahan baku yang digunakan mula dari bahan baku utama, tambahan, kemasan dan lain lain akan dikelompokan menjadi Class bahan baku. Atribut : KodeBahanBaku, NamaBahanBaku, JlhStok, UOM, SafetyStok, ROP, Kategori.

80 166 Karyawan Class karyawan merupakan kumpulan objek dari orang orang yang bekerja pada PT. Baria Tradinco. Atribut : KodeKaryawan, NamaKaryawan, Bagian, Jabatan. Bagian PPIC Class bagian PPIC merupakan karyawan PT.Baria yang bekerja di bagian PPIC. Class ini memiliki hubungan generalisasi dengan Class karyawan. Atribut : KodeKaryawan, NamaKaryawan, Bagian, Jabatan, password. Bagian Gudang Class bagian gudang merupakan kumpulan objek karyawan PT.Baria yang bekerja di bagian gudang. Class ini memiliki hubungan generalisasi dengan Class karyawan. Atribut : KodeKaryawan, NamaKaryawan, Bagian, Jabatan, password. Bagian Purchasing Class bagian purchasing merupakan kumpulan objek karyawan PT.Baria yang bekerja di bagian purchasing. Class ini memiliki hubungan generalisasi dengan Class karyawan. Atribut : KodeKaryawan, NamaKaryawan, Bagian, Jabatan, password. Bagian Finance Class bagian finance merupakan kumpulan objek karyawan PT.Baria yang bekerja di bagian finance. Class ini memiliki hubungan generalisasi dengan Class karyawan. Atribut : KodeKaryawan, NamaKaryawan, Bagian, Jabatan, password.

81 167 Evaluator Class evaluator merupakan kumpulan objek karyawan PT.Baria, dimana evaluator merupakan fungsi sementara atau sampingan dari karyawan. Dimana evaluator berperan dalam memberikan nilai pada polling form untuk sabagai input pada perhitungan Fuzzy AHP pada seleksi supplier. Atribut : KodeKaryawan, NamaKaryawan, Bagian, Jabatan, password. Supplier Class supplier merupakan kumpulan objek perusahaan penyedia kebutuhan bahan baku. Class supplier pada sistem ini harus telah terdaftar terlebih dahulu. Atribut : KodeSupplier, NamaPerusahaan, Alamat, KodePos, Kota, Negara, NoTelp, Fax, , HomePage, ContactPerson, Username, Password, Verfikasi. Purchase Request Class purchase request merupakan kumpulan objek dari dokumen permintaan perngadaan bahan baku. Atribut : NoPR, TglPR, KodeKaryawan, Bagian, Status, KodeBahanBaku, TglButuh, JlhOH, JlhMinta, Deskripsi. Request For Quotation Class request for quotation merupakan kumpulan objek dari dokumen permintaan penawaran ke supplier. Atribut : NoRFQ, RFQSubject, KodeBahanBaku, TglBuka, TglTutup, Berita.

82 168 Supplier Quotation Class supplier quotation merupakan kumpulan objek dari dokumen penawaran yang diberikan oleh supplier. Atribut : NoSQ, TglSQ, NoRFQ, KodeSupplier, KodeBahanBaku, Harga/Unit, Jlh, TglKirim, Deskripsi, Peringkat, Status, TglAwalBerlakut, TglAkhirBerlaku. Purchase Order Class purchase order merupakan kumpulan objek dari dokumen pemesanan bahan baku. Atribut : NoPO, TglPO, NoPR, KodeSupplier, NoPR, NoSQ, KodeBahanBaku, Jlh, Approval, PPN, BiayaKirim, Keterangan. Material ReceiveForm Class material receiveform merupakan kumpulan objek dari dokumen yang menyatakan telah diterimanya bahan baku yang dipesan. Atribut : NoMRF, TglTerima, NoPO, KodeBahanBaku, JlhTerima. Retur Form Class retur form merupakan kumpulan objek dari dokumen yang menyatakan dilakukannya retur atau pengembalian dari bahan baku yang diterima. Atribut : NoRF, TglRetur, NoMRF, KodeBahanBaku, JlhRetur. Polling Form Class polling form merupakan kumpulan objek dari dokumen polling penilaian yang akan diisi oleh evaluator.

83 169 Atribut : NoPolling, NoRFQ, NoSQ, KodeKaryawan, KodeKriteria, Pertanyaan, SkalaPenilaian, Nilai Kriteria Class kriteria merupakan kumpulan objek dari criteria criteria penilaian yang akan digunakan dalam evaluasi supplier. Atribut : KodeKriteria, NamaKriteria, Deskripsi

84 Event Table Tabel 4.84 Event Table 170

85 Behavioral Pattern Bahan Baku Gambar 4.29 Class bahan baku Gambar 4.30 statechart class bahan baku Bagian PPIC Gambar 4.31 class bagian PPIC Gambar 4.32 statechart class bagian PPIC

86 172 Bagian Gudang Gambar 4.33 Class bagian gudang Gambar 4.34 Statechart Class Bagian Gudang Bagian Purchasing Gambar 4.35 Class Bagian Purchasing Gambar 4.36 Statechart Class Bagian Purchasing

87 173 Bagian Finance Gambar 4.37 Class Bagian Finance Gambar 4.38 Statechart Class Bagian Finance Evaluator Gambar 4.39 Class Evaluator Gambar 4.40 Statechart Class Evaluator

88 174 Supplier Gambar 4.41 Class Supplier Gambar 4.42 Statechart Class Supplier Purchase Request Gambar 4.43 Class Purchase Request Gambar 4.44 Statechart Purchase Request

89 175 Request For Quotation Gambar 4.45 Class Request For Quotation Gambar 4.46 Statechart Request For Quotation Supplier Quotation Gambar 4.47 Class Supplier Quotation Gambar 4.48 Statechart Supplier Quotation

90 176 Purchase Order Gambar 4.49 Class Purchase Order Gambar 4.50 Statechart Purchase Order Material Receive Form Gambar 4.51 Class Material receive Form Gambar 4.52 Statechart Material Receive Form

91 177 Retur Form Gambar 4.53 Class Retur Form Gambar 4.54 Statechart Retur Form Polling Form Gambar 4.55 Class Polling Form Gambar 4.56 Statechart Polling Form

92 178 Kriteria Gambar 4.57 Class Kriteria Gambar 4.58 Statechart Kriteria Application Domain Analysis Usage Dalam sistem informasi E-Procurement ini terdapat delapan aktor, yaitu bagian gudang, bagian finance, bagian PPIC, manajer PPIC, supplier, bagian purchasing, manajer purchasing dan evaluator. Selain itu terdapat sembilan belas use case.

93 179 Tabel 4.85 Actor Table Secara lebih mendetail aktor aktor yang terlibat dalam sistem informasi E-Procurement dispesifikasikan sebagai berikut : 1. Bagian Gudang Purpose : Orang yang bertugas menjaga dan mengatur keluar dan masuknya barang. Dan selalu mengupdate jumlah onhand stock bahan baku yang ada di dalam sistem. Karakteristik : Bagian gudang mengetahui prosedur untuk melakukan Update onhand stock bahan baku yang terdapat di dalam sistem.

94 Bagian Finance Purpose : Bagian finance bertugas melakukan pembayaran kepada supplier. Karakteristik : Mengetahui prosedur proses pembayaran ke supplier berdasarkan pemesanan dan bahan baku yang telah diterima. 3. Bagian PPIC Purpose : Bagian PPIC bertugas melakukan penjadwalan produksi dan kebutuhan bahan baku untuk produksi. Bagian PPIC akan melakukan permintaan pengadaan bahan baku. Karakteristik : Mengetahui prosedur permintaan pengadaan bahan baku dengan membuat purchase request. 4. Manajer PPIC Purpose : Manajer PPIC bertugas melakukan kontrol dan approval terhadap purchase request yang dibuat oleh Staff PPIC. Karakteristik : Manajer PPIC mengetahui procedur approval terhadap purchase request.

95 Bagian Purchasing Purpose : Bagian purchasing bertugas menerima permintaan pengadaan bahan baku, verifikasi supplier, melakukan permintaan penawaran supplier dan melakukan pemesanan bahan baku terhadap supplier terpilih. Karakteristik : Bagian purchasing harus mengetahui prosedur verifikasi supplier, membuat RFQ dan pemesanan bahan baku terhadap supplier dengan membuat purchase order. 6. Manajer Purchasing Purpose : Manajer purchasing bertugas melakukan approval terhadap RFQ dan pemilihan supplier. Karakteristik : Manajer purchasing mengetahui prosedur approval terhadap RFQ dan pemilihan supplier. 7. Evaluator Purpose : Evaluator bertugas memberikan penilaian pada saat evaluasi supplier melalui polling. Karakteristik : Mengetahui batasan kriteria pemilihan supplier yang digunakan dan mengetahui prosedur penilaian pemilihan supplier.

96 Supplier Purpose : Supplier bertugas menerima RFQ, memberikan penawaran melalui supplier quotation dan retur. Karakteristik : Supplier harus mengetahui prosedur memberikan supplier quotation.

97 Use Case Diagram Gambar 4.59 Usecase Diagram

98 Sequence Diagram 1. Sequence Diagram Update Onhand Stock Gambar 4.60 Sequence diagram update onhand stock Bagian gudang bertanggung jawab untuk menjaga data stok bahan baku yang ada pada sistem agar selalu sesuai dengan jumlah stok onhand yang terdaoat di gundang. Hasil pengecekan fisik stok bahan baku akan dicatat kedalam sebuah file Microsoft Excel dengan format tertentu. Dari hasil pengecekan stok fisik yang ada di gudang, Staff bagian gudang bertanggung jawab untuk melakukan Update stok bahan baku.

99 Sequence Diagram Pengecekan Onhand Stock Gambar 4.61 Sequence diagram pengecekan onhand stock 3. Sequence Diagram Membuat Purchase Request Gambar 4.62 Sequence diagram membuat purchase request

100 Sequence Diagram Approve Purchase Request Gambar 4.63 Sequence diagram approve purchase request 5. Sequence Diagram Membuat Request For Quotation Gambar 4.64 Sequence diagram membuat request for quotation

101 Approve Request For Quotation Gambar 4.65 Sequence diagram approve request for quotation 7. Sequence Diagram Mengecek RFQ Gambar 4.66 Sequence diagram mengecek RFQ

102 Sequence Diagram Membuat Supplier Quotation Gambar 4.67 Sequence diagram membuat supplier Quotation

103 Sequence Diagram Desain DSS Evaluasi Supplier Fuzzy AHP Gambar 4.68 Sequence diagram desain DSS Evaluasi Supplier Fuzzy AHP

104 Sequence Diagram Penilaian Polling Evaluasi Gambar 4.69 Sequence diagram penilaian polling evaluasi 11. Sequence Diagram Pemilihan Supplier Quotation Gambar 4.70 Sequence diagram pemilihan supplier quotation

105 Sequence Diagram Membuat Purchase Order Gambar 4.71 Sequence diagram membuat purchase order

106 Sequence Diagram Approve Purchase Order Gambar 4.72 Sequence diagram approve purchase order 14. Sequence Diagram Mengecek Purchase Order Gambar 4.73 Sequence diagram mengecek purchase order

107 Sequence Diagram Membuat Material Receive Form Gambar 4.74 Sequence diagram Membuat Material Receive Form 16. Sequence Diagram Membuat Retur Form Gambar 4.75 Sequence diagram membuat retur form

108 Sequence Diagram Mengecek Retur Gambar 4.76 Sequence diagram mengecek retur 18. Sequence Diagram Mengecek Pembayaran Gambar 4.77 Sequence diagram mengecek pembayaran

109 Sequence Diagram Membuat Laporan Pembelian Barang Gambar 4.78 Sequence diagram membuat laporan pembelian barang Function Function List Tabel 4.86 Tabel Function List Function Complexity Type Update Onhand Stock Mengambil data bahan baku Update stok bahan baku Pengecekan Onhand Stock Mengambil data bahan baku Membuat Purchase Request Mengambil data bahan baku Menyimpan data PR Read, Update Read Update Read Read Read, Update Read Update Medium Simple Medium Simple Simple Medium Simple Medium

110 196 Approve Purchase Request Mengambil data PR Menyimpan data PR Membuat Request For Quotation Mengambil data PR Mengambil data bahan baku Menyimpan data RFQ Approve Request For Quotation Mengambil data RFQ Menyimpan data RFQ Mengecek Request For Quotation Mengambil data RFQ Membuat Supplier Quotation Mengambil data RFQ Menyimpan data SQ Desain DSS Evaluasi Supplier Fuzzy AHP Mengambil data RFQ Mengambil data SQ Mengambil data supplier Mengambil data kriteria Mengambil data karyawan Menyimpan data polling evaluasi Read, Update Read Update Read, Update Read Read Update Read, Update Read Update Read Read Read, Update Read Update Read, Update Read Read Read Read Read Update Medium Simple Medium Medium Simple Simple Medium Medium Simple Medium Simple Simple Medium Simple Medium Medium Simple Simple Simple Simple Simple Medium

111 197 Penilaian Polling Evaluasi Mengambil data polling evaluasi Menyimpan data polling evaluasi Pemilihan Supplier Quotation Mengambil data polling evaluasi Mengambil data supplier Mengambil data supplier quotation Perhitungan Fuzzy AHP Menyimpan data SQ Membuat Purchase Order Mengambil data supplier Mengambil data PR Mengambil data SQ Mengambil data bahan baku Menyimpan data PO Approve Purchase Order Mengambil data PO Menyimpan data PO Mengecek Purchase Order Mengambil data PO Read, Update Read Update Read, Compute, Update Read Read Read Compute Update Read, Update Read Read Read Read Update Read, Update Read Update Read Read Medium Simple Medium Complex Simple Simple Simple Compute Medium Medium Simple Simple Simple Simple Medium Medium Simple Medium Simple Simple

112 198 Membuat Material Receive Form Mengambil data PO Mengambil data bahan baku Menyimpan data MRF Read, Update Read Read Update Medium Simple Simple Medium Membuat Retur Form Mengambil data MRF Mengambil data bahan baku Menyimpan data RF Mengecek Retur Mengambil data RF Mengecek Pembayaran Mengambil data PO Mengambil data MRF Mengambil data RF Perhitungan jumlah pembayaran Membuat Laporan Pembelian Barang Mengambil data PO Cetak data PO Read, Update Read Read Update Read Read Read, Compute Read Read Read Compute Read Read Read Medium Simple Simple Medium Simple Simple Complex Simple Simple Simple Complex Simple Simple Simple

113 User Interface Dialogue Style Tabel 4.87 Tabel Dialogue Style Window Print Out Menu Utama - Menu News - Menu About Us - Menu Supplier Policy - Menu Register - Menu Change Profile - Menu Purchase Request - Menu Purchase Request For Quotation - Menu Supplier Quotation - Menu Purchase Order - Menu Material Receive Form - Menu Retur - Menu DSS Supplier Evaluation and - Selection Menu Reports Laporan pembelian, laporan Menu Bahan Baku - Menu Supplier - retur

114 Navigation Diagram Navigation Diagram Untuk Visitor Gambar 4.79 Navigation Diagram Untuk Visitor (Pengujung)

115 Navigation Diagram Untuk Bagian Gudang Gambar 4.80 Navigation Diagram Untuk Bagian Gudang 201

116 Navigation Diagram Untuk Bagian PPIC Gambar 4.81 Navigation Diagram Untuk Bagian PPIC (Staff) 202

117 Navigation Diagram Untuk Manajer PPIC Gambar 4.82 Navigation Diagram Untuk Manajer PPIC 203

118 Navigation Diagram Untuk Bagian Purchasing Gambar 4.83 Navigation Diagram Untuk Bagian Purchasing (Staff)

119 Navigation Diagram Untuk Manajer Purchasing Gambar 4.84 Navigation Diagram Untuk Manajer Purchasing (Staff)

120 Navigation Diagram Untuk Evaluator Gambar 4.85 Navigation Diagram Untuk Evaluator

121 Navigation Diagram Untuk Bagian Finance Gambar 4.86 Navigation Diagram Untuk Bagian Finance

122 Navigation Diagram Supplier Gambar 4.86 Navigation Diagram Untuk Supplier

123 Tampilan Layar Gambar 4.88 Tampilan Halaman Awal atau Index Halaman index merupakan halaman awal yang akan tampil pertama kali pada saat user mengakses web E-Procurement. Pada halaman ini akan menampilkan berita mengenai tender yang sedang diadakan oleh perusahaan. Untuk melihat berita tersebut pengunjung tidak perlu melakukan login atau registrasi terlebih dahulu. Pada halaman ini juga akan ditampilkan profile dari perusahaan, dari peraturan yang berlaku untuk para peserta tender. Selain itu terdapat juga fasilitas login, dan registrasi pada halaman ini.

124 210 Gambar 4.89 Tampilan Halaman Regitrasi Halaman ini digunakan oleh calon supplier untuk melakukan registrasi sebelum ikut serta dalam tender. Setelah mendaftar supplier tidak bisa ikut langsung dalam tender karena data dari supplier tersebut akan diverifikasi terlebih dahulu oleh bagian purchasing.

125 211 Gambar 4.90 Tampilan Halaman Material Halaman ini merupakan halaman untuk menampilkan data - data material. Halaman ini hanya bisa diakses oleh bagian gudang, PPIC dan purchasing. Untuk bagian gudang memiliki akses untuk melakukan penambahan data bahan baku dan perubahan data onhand stock bahan baku. Untuk PPIC dan purchasing hanya mempunya akses untuk melihat data saja.

126 212 Gambar 4.91 Tampilan Halaman Purchase Request Halaman ini merupakan halaman untuk menampilkan data purchase request (PR) yang diajukan oleh bagian PPIC. Halaman ini hanya bisa diakses oleh bagian PPIC dan purchasing. Pada halaman ini terdapat fasilitas untuk melakukan pencarian. Melakukan pembuatan PR baru. Dan sebuah link untuk dapat melihat data PR secara lebih detail. Untuk bagian PPIC diberikan akses untuk melakukan penambahan atau pengajuan PR baru. Sedangkan bagian Purchasing hanya memiliki akses untuk melihat saja.

127 213 Gambar 4.92 Tampilan Halaman New Purchase Request Halaman ini merupakan halaman untuk melakukan pengajuan purchase request baru. Halaman ini hanya bisa diakses oleh bagian PPIC saja. Semua data dari PR harus diisi dengan selengkap lengkapnya mulai dari tanggal dilakukannya permintaan hingga daftar bahan baku yang diminta dan tanggal dibutuhkannya bahan baku tersebut. Untu field description sebaiknya diisi karena field tersebut yang akan menjelas spesifikais bahan baku yang diminta oleh bagian PPIC.

128 214 Gambar 4.93 Tampilan Halaman Purchase Request Detail Halaman ini merupakan halaman purchase request detail dimana pada halaman ini menampilkan data PR secara detail. Untuk halaman ini terdapat fasilitas yang hanya bisa diakses oleh bagian purchasing untuk membuat request for quotation (RFQ) dan purchase order (PO) berdasarkan PR. Gambar 4.94 Tampilan Halaman Message

129 215 Halaman message merupakana halaman yang dapat digunakan melihat dan mengirimkan pesan antara bagian internal perusahaan atau dengan antara internal perusahaan dengan supplier. Tujuan pengiriman yang didapat sesuai akses yang didapat pada saat login. Dimana untuk dapat membaca dan mengirimkan pesan ke supplier hanya bisa dilakukan oleh bagian purchasing, gudang dan finance. Gambar 4.95 Tampilan Halaman Request For Quotation Halaman Request For Quotation merupakan halam untuk melihat daftar RFQ atau tender. Halaman ini hanya bisa diakses oleh bagian purchasing dan supplier. Link detail merupakan link untuk menampilkan data dari RFQ secara lebih mendetail.

130 216 Gambar 4.96 Tampilan Halaman Detail RFQ Halaman ini merupakan halaman yang menampilkan data dari RFQ secara lebih mendetail. Untuk akse purchasing dapat melakukan penutupan RFQ yang sedang berlangsung. Sedangkan untuk manajer purchasing dapat melakukan approval terhadap RFQ yang telah dibuat oleh staff purchasing. Untuk supplier diberikan akses untuk membuat quotation berdasarkan RFQ yang diajukan.

131 217 Gambar 4.97 Tampilan Halaman Add RFQ Merupakan halaman yang digunakan oleh bagian purchasing untuk mengajukan tender sesuai dengan purchase request yang diajukan oleh bagian PPIC. Gambar 4.98 Tampilan Halaman Supplier Quotation (SQ)

132 218 Halaman supplier quotation (SQ) merupakan halaman yang menampilkan data quotation quotation yang telah diajukan oleh supplier. Halaman ini hanya bisa diakses oleh bagian purchasing dan supplier. Apabila diakses bagian purchasing maka data yang ditampilkan adalah semua SQ yang pernah diajukan. Bila diakses oleh supplier hanya akan menampilkan data SQ yang pernah diajukan supplier tersebut. Gambar 4.99 Tampilan Halaman Make Quotation Halaman ini merupakan halaman yang digunakan supplier untuk membuat penawaran (quotation) sesuai dengan RFQ atau tender yang diadakan perusahaan. Supplier harus memasukkan data data penawaran selengkap mungkin mulai dari harga, lead time hingga spesifikais bahan baku yang ditawarkan. Supplier dapat merangkum data data tersebut menjadi sebuah file (.doc,.pdf) dan dapat diupload melalui halaman ini. Sehingga dapat didownload bagian purchasing untuk dipelajari lagi.

133 219 Gambar Tampilan Halaman Purchase Order Halaman ini merupakan halaman purchase order yang menampilkan data PO yang diajukan ke satu supplier. Halaman ini hanya bisa dakses oleh bagian purchasing dan supplier. Gambar Tampilan Halaman Add Purchase Order

134 220 Halaman ini merupakan halaman yang digunakan untuk mengajukan PO ke supplier. Untuk field PPN dan delivery cost tidak dimasukkan apabila memang biaya tersebut tidak dikenakan ke perusahaan. Gambar Tampilan Halaman Desain Evaluasi Pemilihan Supplier Halaman ini merupakan halaman yang digunakan untuk desain evaluasi pemilihan supplier dengan metode fuzzy AHP. Desain ini dilakukan oleh bagian purchasing. Sebelumnya bagian purchasing harus menentukan kriteria dan subkriteria terlebih dahulu kemudian ditambahkan kedalam criteria list. Selain itu juga harus menentukan siapa saja evaluator yang akan terlibat dan memberikan penilaian pada evaluasi pemilihan supplier ini dengan memasukkan kode karyawan dan nama karyawan kedalam evaluator list.

135 221 Gambar Tampilan Halaman Polling Pairwise Comparison Gambar Tampilan Halaman Polling Subjective Scala

136 222 Gambar Tampilan Halaman Polling Supplier Performance Pada gambar 4.103, 4.104, merupakan halaman polling evaluasi pemilihan supplier. Halaman ini akan otomatis muncul pertama kali pada saat karyawan yang telah ditentukan sebagai evaluator melakukan login. Halaman ini tidak akan hilang sebelum karyawan mengisi. Untuk gambar merupakan tampilan polling pairwise comparisoni yaitu polling yang memasukan nilai perbandingan prioritas kriteria dan subkriteria. Untuk gambar merupakan tampilan polling subjective scala, dimana evaluator memasukan nilai batas bawah, nilai tengah dan nilai batas atas dari skala penilaian yang telah ditentukan. Sedangkan untuk gambar merupakan tampilan polling yang menampilkan polling supplier performance yang memasukkan nilai kinerja supplier berdasrkan skala yang telah ditentukan.

137 223 Gambar Tampilan Halaman Detail Material Receive Form Halaman ini merupakan halaman yang menampilkan data penerimaan bahan baku yang dikirim oleh supplier. Halaman ini hanya bisa diakses oleh bagian gudang, finance dan purchasing. Halaman ini akan digunakan bagian keungan untuk mengecek apakah baahan baku telah diterima atau belum pada saat dilakukannya penagihan oleh supplier. Gambar Tampilan Halaman Add Material Receive Form

138 224 Halaman ini merupakan halaman untuk membuat MRF yang digunakan oleh bagian gudang. Pembuatan MRF dilakukan berdasarkan purchase order yang diajukan ke supplier. Gambar Tampilan Halaman Detail Retur Halaman ini merupakan halaman yang menampilkan data pengembalian atau retur bahan baku ke suatu supplier. Halaman ini hanya bisa diakses oleh bagian gudang, finance dan purchasing. Halaman ini akan digunakan bagian keungan untuk mengecek apakah jumlah baahan baku yang telah diretur sehingga akan dilakukan pemotongan total jumlah pembayaran pada saat penagihan.

139 225 Gambar Tampilan Halaman Add Retur Halaman ini merupakan halaman untuk membuat retur yang digunakan oleh bagian gudang. Pembuatan retur dilakukan berdasarkan MRF yang telah dibuat oleh bagian gudang Technical Platform Sistem yang dikembangkan akan menggunakan bahasa pemograman berbasis web yaitu PHP. Kemudian untuk aplikasi databasenya menggunakan MySql. Dibutuhkan sebuah komputer server yang aka digunakan sebagai server dari website E-Procurement yang dikembangkan. Setiap user internal perusahaan akan menggunakan PC (Personal Computer) dilengkapi dengan mouse, dan keyboard, dan terhubung dengan LAN (Local Area Network) dan internet. Untuk pencetakan surat dan laporan diperlukan printer.

140 Recommendations Sistem Usefulness and Feasibility Fungsi dari perancangan sistem ini bertujuan untuk memperlancar operasional perusahaan yang berhubungan dengan proses pengadaan bahan baku. Sistem ini dirancang untuk dapat memberikan informasi permintaan pengadaan, penawaran dari supplier, pemesanan dan penilaian supplier sesuai metode Fuzzy AHP sehingga proses pengadaan bahan baku menjadi lebih cepat dan pemilihan supplier manjadi lebih tepat Strategy Untuk dapat mengembangkan sistem informasi ini, perusahaan haruslah mempersiapkan semua fasilitas teknis yang dibutuhkan untuk penerapan sistem informasi ini terlebih dahulu. Kemudian user yang menggunakan sistem ini diberikan pelatihan untuk penggunaannya, serta petunjuk-petunjuk jika terjadi kesalahan yang tidak terduga. Sistem ini akan dibuat sesuai dengan kebutuhan perusahaan untuk menjalankan proses bisnis agar dapat mendukung operasional perusahaan. Sistem ini akan digunakan oleh supplier yang merupakan bagian eksternal dari perusahaan oleh karena itu tampilan dan penggunaan dari sistem harus dibuat semudah mungkin. Dan juga harus diadakan suatu fasilitas pelatihan untuk penggunaan sistem ini Development Economy Sistem yang dirancang memerlukan pengembangan beberapa orang, mengingat sistem ini diperkirakan akan selesai pengerjaannya dalam kurun waktu empat bulan dan memiliki beberapa modul, sebelumm sistem ini layak

141 227 untuk digunakan oleh user. Berikut merupakan perincian pengembangan dilihat dari segi biaya : Tabel 4.88 Tabel Biaya Pengembangan Personel Jumlah Biaya Total Biaya Project Manager 1 Rp ,- Rp ,- System Analyst 1 Rp ,- Rp ,- Web Designer 1 Rp ,- Rp ,- Programmer 2 Rp ,- Rp ,- Technical Support 2 Rp ,- Rp ,- Trainer 2 Rp ,- Rp ,- Total Rp , Perancangan Sistem Informasi E-Procurement The Task Purpose Tujuan dari pembuatan sistem ini adalah untuk mendukung kegiatan operasional pengadaan bahan baku dari PT.Baria Tradinco. Sistem ini merupakan sistem E-Procurement dimana proses untuk mendapatkan supplier menggunakan sistem tender. Dukungan dari sistem informasi ini mencakup proses Update onhand stock bahan baku, pembuatan purchase request, request for quotation, supplier quotation, evaluasi supplier, purchase order, material receive form, retur dan laporan pembelian bahan baku Correction To The Analysis

142 228 Dalam perancangan sistem, dibuatkan beberapa perbaikan pada analisis dokumen yang telah dirancang sebelumnya. Perbaikan tersebut adalah dengan membuat revise class diagram yang lama menjadi class diagram yang baru. Revise class diagram tersebut ditinjau dari segi atribut dan operation pada class diagram yang sudah ada sebelumnya Quality Goals Tabel 4.89 Tabel Criteria Criteria Very Importan Less Irrelevan Easily Importan t Importan t Fulfille t t d Useable Secure Efficient Correct Reliable Maintainable Testable Flexible Comprehen sibl e Reuseable Portable

143 229 Interoperable

144 Technical Platform Equipment Sistem informasi yang dikembangkan akan menggunakan aplikasi client - server yang berbasiskan web. Sehingga diperlukan hardware komputer dengan spesifikasi tertentu, yaitu sebagai berikut : 1. Server Komputer server dengan processor Intel Xeon dual core. Memory DDRAM 2 2GB Hard Disk 160 GB Monitor, mouse, keyboard UPS 2. Client Komputer PC minimal processor Intel Pentium IV 1.6 GHz Memory DDRAM 2 2GB Hard Disk 40 GB Monitor, mouse, keyboard, printer UPS System Software Komputer client dapat menggunakan sistem operasi PC seperti Windows XP atau sistem operasi distro dari Linux. Pada Computer client juga harus dilengkapi dengan browser web seperti Internet Explore, Mozilla Firefo x dan browser yang lainnya. Sistem operasi untuk komputer server dianjurkan menggunakan Windows Server 2003, dengan dilengkapi dengan aplikasi database MySQL dan aplikasi web server Apache.

145 System Interface Sistem menggunakan printer HP DeskJet yang dapat mencetak laporan laporan. Jaringgan yang digunakan adalah LAN (Local Area Network) dimana setiap bagian akan dapat dihubungkan oleh sebuar server, sehingga jalannya informasi dapat lebih cepat Design Language Dalam melakukan analisa dan perancangan, software yang digunakan untuk perancangan adalah Microsoft Visio 2003 dan menggunakan notasi UML yang perancangannya berorientasi objek.

146 Architecture Component Architecture Gambar 4.79 Component Architecture

147 Process Architecture Gambar 4.80 Process Architecture

148 Component Model Component Gambar 4.81 Model Component

149 Function Component Gambar 4.82 Function Component

150 Function Spesification Tabel 4.90 Function Spesification Operation Name Category Purpose Input Data Conditions Effect Algorithm Data Structures Placement Involved objects Perhitungan Fuzzy AHP Passive Compute Menghitung tingkat peforma supplier. Nilai polling supplier untuk setiap kriteria, tingkat prioritas setiap kriteria. Nilai polling supplier untuk setiap kriteria dan tingkat prioritas dari setiap kriteria telah diinput. Muncul grafik tingkat peforma dari setiap supplier. Triangular Fuzzy Number (TFN) Operasi TFN Synthetic Pairwaise Comparison Best Non Fuzzy Performance (BNP) Float Peringkat Polling Form, Kriteria Table Spesification Tabel 4.91 Table Spesification Ms. Kategori MsKategori Field Tipe Data Panjang Null KodeKategori VarChar 3 Not Null NamaKategori VarChar 20 Not Null Deskripsi VarChar 30

151 237 Tabel 4.92 Table Spesification Ms. Bahan Baku MsBahanBaku Field Tipe Data Panjang Null KodeBahanBaku VarChar 10 Not Null NamaBahanBaku VarChar 30 Not Null KodeKategori VarChar 3 Not Null Stok Double Not Null UOM VarChar 10 Not Null MsBagian Tabel 4.93 Table Spesification Ms. Bagian Field Tipe Data Panjang Null KodeBagian VarChar 2 Not Null NamaBagian VarChar 20 Not Null Deskripsi VarChar 100 Not Null Tabel 4.94 Table Spesification Ms. Karyawan MsKaryawan Field Tipe Data Panjang Null KodeKaryawan VarChar 6 Not Null NamaKaryawan VarChar 30 Not Null KodeBagian VarChar 2 Not Null Jabatan Varchar 15 Not Null Password VarChar 20 Not Null

152 238 MsSupplier Tabel 4.95 Table Spesification Ms. Supplier Field Tipe Data Panjang Null KodeSupplier VarChar 7 Not Null NamaPerusahaan VarChar 30 Not Null Alamat VarChar 100 Not Null NoKodePos VarChar 6 Not Null Kota VarChar 20 Not Null Negara VarChar 20 Not Null NoTelp VarChar 15 Not Null Fax VarChar 15 Not Null VarChar 30 Not Null HomePage VarChar 30 Not Null ContactPerson VarChar 30 Not Null UserName VarChar 30 Not Null Password VarChar 30 Not Null Verifikasi Boolean Not Null

153 239 MsKriteria Tabel 4.96 Table Spesification MsKriteria Field Tipe Data Panjang Null KodeKriteria VarChar 10 Not Null NamaKriteria VarChar 20 Not Null Deskripsi VarChar 200 Not Null Tabel 4.97 Table Spesification TrPurchaseRequest_Header TrPurchaseRequest_Header Field Tipe Data Panjang Null NoPR VarChar 11 Not Null TglPR Date Not Null KodeKaryawan VarChar 6 Not Null KodeBagian VarChar 2 Not Null Status Int Not Null Approval Boolean Not Null

154 240 Tabel 4.98 Table Spesification TrPurchaseRequest_Detail TrPurchaseRequest_Detail Field Tipe Data Panjang Null NoPR VarChar 11 Not Null KodeBahanBaku VarChar 10 Not Null TglButuh Date 100 Not Null JlhOH Double Not Null JlhRequest Double Not Null Deskripsi VarChar 300 Not Null Tabel 4.99 Table Spesification TrRequestForQuotation TrRequestForQuoation Field Tipe Data Panjang Null NoRFQ VarChar 12 Not Null RFQSubject VarChar 100 Not Null NoPR VarChar 11 Not Null KodeBahanBaku VarChar 10 Not Null TglBuka Date Not Null TglTutup Date Not Null Deskripsi VarChar 500 Null Persyaratan VarChar 100 Not Null Status Boolean Not Null

155 241 Tabel Table Spesification TrSupplierQuotation TrSupplierQuotation Field Tipe Data Panjang Null NoSQ VarChar 12 Not Null NoRFQ VarChar 12 Not Null KodeSupplier VarChar 7 Not Null Harga Double Not Null LeadTime Int Not Null Deskripsi VarChar 500 Not Null Proposal VarChar 100 Null Peringkat Int Not Null Status Boolean Not Null TglBuka Date Not Null TglTutup Date Not Null Tabel Table Spesification TrPolling_Prioritas_Detail TrPolling_Prioritas_Detail Field Tipe Data Panjang Null NoRFQ VarChar 12 Not Null KodeKriteria VarChar 10 Not Null KodeKaryawan VarChar 6 Not Null Nilai Float Not Null

156 242 Tabel Table Spesification TrPolling_Supplier_Detail TrPolling_Supplier_Detail Field Tipe Data Panjang Null NoRFQ VarChar 12 Not Null NoSQ VarChar 12 Not Null KodeKriteria VarChar 10 Not Null KodeKaryawan VarChar 6 Not Null Nilai Float Not Null Tabel Table Spesification TrStockOpname_Header TrStock_Opname_Header Field Tipe Data Panjang Null NoStockOpname VarChar 11 Not Null TglOpname Date Not Null Tabel Table Spesification TrStockOpname_Detail TrStockOpname_Detail Field Tipe Data Panjang Null NoStockOpname VarChar 11 Not Null KodeBahanBaku VarChar 10 Not Null OHStock Double Not Null

157 243 Tabel Table Spesification TrPurchaseOrder_Header TrPurchaseOrder_Header Field Tipe Data Panjang Null NoPO VarChar 12 Not Null TglPO Date Not Null KodeSuplier VarChar 7 Not Null PPN Double Null BiayaKirim Double Null Approval Boolean Not Null Keterangan VarChar 200 Null Tabel Table Spesification TrPurchaseOrder_Detail TrPurchaseOrder_Detail Field Tipe Data Panjang Null NoPO VarChar 12 Not Null NoSQ VarChar 12 Not Null NoPR VarChar 7 Not Null KodeBahanBaku VarChar 10 Not Null Jlh Doubel Not Null

158 244 TrNews Tabel Table Spesification TrNews Field Tipe Data Panjang Null NoNews Double (Auto Number) Not Null NewsSubject VarChar 100 Not Null TglNews Date Not Null Content VarChar 500 Null KodeKaryawan VarChar 6 Null Tabel Table Spesification TrMaterialRecieve_Header TrMaterialRecieve_Header Field Tipe Data Panjang Null NoMRF VarChar 12 Not Null TglTerima Date Not Null NoPO VarChar 7 Not Null Tabel Table Spesification TrMaterialRecieve_Detail TrMaterialRecieve_Detail Field Tipe Data Panjang Null NoMRF VarChar 12 Not Null KodeBahanBaku VarChar 10 Not Null JlhTerima Double Not Null

159 245 Tabel Table Spesification TrRetur_Header TrRetur _Header Field Tipe Data Panjang Null NoRetur VarChar 12 Not Null TglRetur Date Not Null NoMRF VarChar 12 Not Null Tabel Table Spesification TrRetur_Detail TrRetur_Detail Field Tipe Data Panjang Null NoRetur VarChar 12 Not Null KodeBahanBaku VarChar 10 Not Null JlhRetur Double Not Null Recommendations The System s Usefulness Sistem informasi E-Procurement yang dirancang untuk mendukung proses pengadaan bahan baku mulai dari proses permintaan pengadaan bahan baku dari bagian PPIC sampai diterimanya bahan baku yang telah dipesan oleh bagian gudang. Selain itu sistem ini juga memberikan dukungan dalam pengambilan keputusan pemilihan supplier, dimana pemilihannya menggunakan model Fuzzy AHP. Dengan sistem ini diharapkan proses pengadaan bahan baku menjadi lebih cepat sehingga lead time yang terjadi

160 246 akan semakin kecil. Selain itu juga dapat menginkatnya service level dari supplier yang terpilih Plan for Initiating Use Sebelum dilakukannya implementasi, sistem akan dikomunikasikan terlebih dahulu ke manajemen dari perusahaan untuk mendapatkan persetujuan. Setelah disetujui sistem ini akan diimplementasikan dan dilakukan pelatihan ke bagian bagian yang terlibat Implementation Plan Sistem ini akan dikembangkan oleh 1 orang analis dan 2 orang programmer selama 6 bulan dan 1 orang technical support. Dimana orang orang yang terlibat dalam pengembangan sistem ini merupakan orang yang memiliki pengalaman yang cukup dalam bidangnya masing masing. Implementasi akan dimulai dengan melakukan instalasi sistem mulai dari software, hardware, jaringan dan perangkat pendukung lainnya. Setelah itu akan dilakukan pelatihan kepada user dan terakhir adalah uji coba untuk mengetahui apakah sistem telah berjalan dengan sempurna.

Contoh Pengisian Kuisioner

Contoh Pengisian Kuisioner Contoh Pengisian Kuisioner Penilaian Prioritas Berikut ini merupakan skala penilaian yang akan digunakan untuk menilai tingkat prioritas kriteria penilaian supplier. Skala Penilaian SmP SdP LbP SaP PaP

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN BAHASAN

BAB IV HASIL DAN BAHASAN BAB IV HASIL DAN BAHASAN 4.1 Pengumpulan Data 4.1.1 Data Kriteria Evaluasi dan Pemilihan Supplier Dari hasil wawancara dengan pihak perusahaan dan studi pustaka, ditetapkan beberapa kriteria yang akan

Lebih terperinci

BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA

BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA 54 BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA 4.1 Identifikasi Struktur Hierarki PT. POWERPLAST memiliki kira-kira 100 supplier pilihan untuk menunjang proses produksinya mulai dari bahan baku, yakni

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Lokasi penelitian ini adalah Pamella Swalayan 1. Jl. Kusumanegara

BAB III METODE PENELITIAN. Lokasi penelitian ini adalah Pamella Swalayan 1. Jl. Kusumanegara 30 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi Penelitian Lokasi penelitian ini adalah Pamella Swalayan 1. Jl. Kusumanegara 135-141 Yogyakarta. 3.2 Penentuan Kriteria Identifikasi kriteria menurut Verma dan Pullman

Lebih terperinci

PEMILIHAN SUPPLIER BAHAN BAKU DENGAN MENGGUNAKAN METODA ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) (STUDI KASUS DI PT. EWINDO BANDUNG)

PEMILIHAN SUPPLIER BAHAN BAKU DENGAN MENGGUNAKAN METODA ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) (STUDI KASUS DI PT. EWINDO BANDUNG) PEMILIHAN SUPPLIER BAHAN BAKU DENGAN MENGGUNAKAN METODA ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) (STUDI KASUS DI PT. EWINDO BANDUNG) Hendang Setyo Rukmi Hari Adianto Dhevi Avianti Teknik Industri Institut Teknologi

Lebih terperinci

Sistem Pendukung Keputusan Pemilihan Supplier Botol Galon Menggunakan Metode Analytical Hierarchy Process (AHP)

Sistem Pendukung Keputusan Pemilihan Supplier Botol Galon Menggunakan Metode Analytical Hierarchy Process (AHP) Sistem Pendukung Keputusan Pemilihan Supplier Botol Galon Menggunakan Metode Analytical Hierarchy Process (AHP) Yanuar Angga Prayoga 1, Ellysa Nursanti 2, Thomas Priyasmanu 3 1,3) Program Studi Teknik

Lebih terperinci

JURNAL REKAYASA DAN MANAJEMEN SISTEM INDUSTRI VOL. 3 NO. 3 TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

JURNAL REKAYASA DAN MANAJEMEN SISTEM INDUSTRI VOL. 3 NO. 3 TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA ANALISIS PEMILIHAN SUPPLIER METALLIC BOX MENGGUNAKAN FUZZY ANALYTIC HIERARCHY PROCESS (AHP) (Studi Kasus: PT XYZ Malang) SUPPLIER SELECTION ANALYSIS OF METALLIC BOX USING FUZZY ANALYTIC HIERARCHY PROCESS

Lebih terperinci

BAB III LANDASAN TEORI

BAB III LANDASAN TEORI BAB III LANDASAN TEORI 3.1 FlowChat Penelitian Berikut merupakan diagram penelitian yang menggambarkan urutan proses dari awal penelitian hingga tahap akhir dilakukannnya penelitian : Mulai Tahap Persiapan

Lebih terperinci

Kuesioner Penentuan Kriteria yang Relevan Dalam Upaya Pemilihan Supplier Kain untuk Bahan Baku Celana

Kuesioner Penentuan Kriteria yang Relevan Dalam Upaya Pemilihan Supplier Kain untuk Bahan Baku Celana Kuesioner Penentuan Kriteria yang Relevan Dalam Upaya Pemilihan Supplier Kain untuk Bahan Baku Celana Kepada responden yang terhormat, Saya Defri Alexia, saat ini saya sedang melakukan survei terhadap

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENULISAN

BAB 3 METODE PENULISAN 74 BAB 3 METODE PENULISAN 3.1. Model Rumusan Masalah dan Pengambilan Keputusan Di bawah ini merupakan diagram alir yang menjelaskan langkah-langkah yang dilakukan penulis pada penulisan di PT. Baria Trandinco:

Lebih terperinci

PENDEKATAN ANALITYCAL HIERARCHY PROCESS (AHP) DALAM PENENTUAN URUTAN PENGERJAAN PESANAN PELANGGAN (STUDI KASUS: PT TEMBAGA MULIA SEMANAN)

PENDEKATAN ANALITYCAL HIERARCHY PROCESS (AHP) DALAM PENENTUAN URUTAN PENGERJAAN PESANAN PELANGGAN (STUDI KASUS: PT TEMBAGA MULIA SEMANAN) PEDEKT LITYCL HIERRCHY PROCESS (HP) DLM PEETU URUT PEGERJ PES PELGG (STUDI KSUS: PT TEMBG MULI SEM) urlailah Badariah, Iveline nne Marie, Linda Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri, Universitas

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Standard Operating Procedure (SOP) 2.1.1 Pengertian SOP Setiap organisasi perusahaan memiliki pola dan mekanisme tersendiri dalam menjalankan kegiatannya, pola dan mekanisme itu

Lebih terperinci

ANALISIS PEMILIHAN SUPPLIER MENGGUNAKAN METODE ANALYTIC HIERARCHY PROCESS (AHP)

ANALISIS PEMILIHAN SUPPLIER MENGGUNAKAN METODE ANALYTIC HIERARCHY PROCESS (AHP) Jurnal Ilmiah Teknik Industri, Vol. 10, No. 1, Juni 2011 ISSN 1412-6869 ANALISIS PEMILIHAN SUPPLIER MENGGUNAKAN METODE ANALYTIC HIERARCHY PROCESS (AHP) Pendahuluan Ngatawi 1 dan Ira Setyaningsih 2 Abstrak:

Lebih terperinci

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Dalam pembahasan hasil analisis ini dikemukakan secara garis besar pembuktian tingkat validitas dan reliabilitas dari variabel penelitian dengan menggunakan software

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB 3 METODE PENELITIAN BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang tujuannya untuk menyajikan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Analytic Hierarchy Process (AHP) Sumber kerumitan masalah keputusan bukan hanya dikarenakan faktor ketidakpasatian atau ketidaksempurnaan informasi saja. Namun masih terdapat penyebab

Lebih terperinci

ANALISIS DATA Metode Pembobotan AHP

ANALISIS DATA Metode Pembobotan AHP ANALISIS DATA Data yang diperoleh dari hasil wawancara dengan konsumen dan pakar serta tinjauan langsung ke lapangan, dianalisa menggunakan metode yang berbeda-beda sesuai kebutuhan dan kepentingannya.

Lebih terperinci

ANALISIS PEMILIHAN SUPPLIER UNTUK PEMESANAN BAHAN BAKU YANG OPTIMAL MENGGUNAKAN METODE AHP DAN FUZZY AHP: STUDI KASUS DI PT XYZ

ANALISIS PEMILIHAN SUPPLIER UNTUK PEMESANAN BAHAN BAKU YANG OPTIMAL MENGGUNAKAN METODE AHP DAN FUZZY AHP: STUDI KASUS DI PT XYZ ANALISIS PEMILIHAN SUPPLIER UNTUK PEMESANAN BAHAN BAKU YANG OPTIMAL MENGGUNAKAN METODE DAN FUZZY : STUDI KASUS DI PT XYZ Nunung Nurhasanah 1, Muhamad Aqil Tamam 2 1 Program studi Teknik Industri, Fakultas

Lebih terperinci

RANCANG BANGUN APLIKASI SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN MENGGUNAKAN MODEL ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS UNTUK PEMBERIAN BONUS KARYAWAN

RANCANG BANGUN APLIKASI SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN MENGGUNAKAN MODEL ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS UNTUK PEMBERIAN BONUS KARYAWAN RANCANG BANGUN APLIKASI SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN MENGGUNAKAN MODEL ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS UNTUK PEMBERIAN BONUS KARYAWAN Yosep Agus Pranoto Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Industri

Lebih terperinci

BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN

BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan mengenai evaluasi kinerja supplier pada perusahaan, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan diantaranya yaitu: 1. Terdapat

Lebih terperinci

Pengertian Metode AHP

Pengertian Metode AHP Pengertian Metode AHP Metode AHP dikembangkan oleh Thomas L. Saaty, seorang ahli matematika. Metode ini adalah sebuah kerangka untuk mengambil keputusan dengan efektif atas persoalan yang kompleks dengan

Lebih terperinci

Analisis Hirarki Proses Vendor Pengembang System Informasi. STIE Indonesia

Analisis Hirarki Proses Vendor Pengembang System Informasi. STIE Indonesia Analisis Hirarki Proses Vendor Pengembang System Informasi STIE Indonesia Memilih Vendor Pengembang SIAK STIE Indonesia Kapabilitas Perusahaan Kelengkapan modul Harga yang ditawarkan Garansi dan Perawatan

Lebih terperinci

BAB IV PENGUMPULAN DATA DAN PENGOLAHAN DATA

BAB IV PENGUMPULAN DATA DAN PENGOLAHAN DATA BAB IV PENGUMPULAN DATA DAN PENGOLAHAN DATA 4.1 Profil Perusahaan Perusahaan ini hadir di Indonesia pada tahun 1995 pada awalnya perusahaan ini bernama PT NZMI pada tahun 2004 perusahaan ini berganti nama

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI 2.1. Pemilihan Supplier dan Alokasi Order Pemilihan supplier berpotensi memiliki dampak signifikan terhadap kinerja berlangsungnya perusahaan (Herbon dkk, 2012).

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI 2.1. Pemilihan Supplier dan Kriteria Dalam industri manufaktur, pemilihan supplier akan memiliki dampak yang signifikan terhadap kinerja dari perusahaan (Herbon dkk,

Lebih terperinci

Pemodelan Sistem Penunjang Keputusan (DSS) Dengan Analytic Hierarchical Proces (AHP).

Pemodelan Sistem Penunjang Keputusan (DSS) Dengan Analytic Hierarchical Proces (AHP). Pemodelan Sistem Penunjang Keputusan (DSS) Dengan Analytic Hierarchical Proces (AHP). Pengembangan Pendekatan SPK Pengembangan SPK membutuhkan pendekatan yg unik. Pengembangan SPK Terdapat 3 (tiga) pendekatan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan metode Fuzzy AHP. Adapun tahapan penelitian adalah sebagai berikut

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan metode Fuzzy AHP. Adapun tahapan penelitian adalah sebagai berikut BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Diagram Alir Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode Fuzzy AHP. Adapun tahapan penelitian adalah sebagai berikut Gambar 3.1 Diagram Alir Metode Penelitian 15 16

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Menurut Pujawan dan Erawan (2010) memilih supplier merupakan

BAB II LANDASAN TEORI. Menurut Pujawan dan Erawan (2010) memilih supplier merupakan BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pemilihan Supplier Menurut Pujawan dan Erawan (2010) memilih supplier merupakan kegiatan strategis terutama apabila supplier tersebut memasok item yang kritis atau akan digunakan

Lebih terperinci

ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) Amalia, ST, MT

ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) Amalia, ST, MT ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) Amalia, ST, MT Multi-Attribute Decision Making (MADM) Permasalahan untuk pencarian terhadap solusi terbaik dari sejumlah alternatif dapat dilakukan dengan beberapa teknik,

Lebih terperinci

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN SUPPLIER DENGAN METODE ANALYTICHAL HIERARCHY PROCESS

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN SUPPLIER DENGAN METODE ANALYTICHAL HIERARCHY PROCESS SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMILIHAN SUPPLIER DENGAN METODE ANALYTICHAL HIERARCHY PROCESS 1 Rikky Wisnu Nugrha, 2 Romi 1 Program Studi Komputerisasi Akuntansi Politeknik LPKIA 2 Program Studi Sistem Informasi

Lebih terperinci

JURNAL REKAYASA DAN MANAJEMEN SISTEM INDUSTRI VOL. 3 NO. 1 TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

JURNAL REKAYASA DAN MANAJEMEN SISTEM INDUSTRI VOL. 3 NO. 1 TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA PEMILIHAN SUPPLIER BAJA H-BEAM DENGAN INTEGRASI METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS DAN TECHNIQUE FOR ORDER PREFERENCE BY SIMILARITY TO IDEAL SOLUTION (Studi Kasus: CV. Dharma Kencana) H-BEAM STEEL SUPPLIER

Lebih terperinci

PENGAMBILAN KEPUTUSAN PEMILIHAN SUPPLIER BAHAN HABIS PAKAI MEDIK DENGAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS. (Pada PT. Nitrasanata Dharma)

PENGAMBILAN KEPUTUSAN PEMILIHAN SUPPLIER BAHAN HABIS PAKAI MEDIK DENGAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS. (Pada PT. Nitrasanata Dharma) PENGAMBILAN KEPUTUSAN PEMILIHAN SUPPLIER BAHAN HABIS PAKAI MEDIK DENGAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (Pada PT. Nitrasanata Dharma) SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Memperoleh

Lebih terperinci

Abstrak

Abstrak PEMILIHAN ALTERNATIF SUPPLIER MENGGUNAKAN PENDEKATAN VENDOR PERFORMANCE INDICATOR (VPI) DAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCES (AHP) DI PT SUMBER BERKAT ANUGERAH INDONESIA Euis Nina Saparina Yuliani 1,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Persaingan merupakan suatu tantangan bagi perusahaan untuk terus berusaha memberikan yang terbaik bagi konsumen. Perusahaan yang mampu memenuhi keinginan konsumen,

Lebih terperinci

Pertemuan 5. Pemodelan Sistem Penunjang Keputusan (DSS) Dengan Analytic Hierarchical Proces (AHP).

Pertemuan 5. Pemodelan Sistem Penunjang Keputusan (DSS) Dengan Analytic Hierarchical Proces (AHP). Pertemuan 5 Pemodelan Sistem Penunjang Keputusan (DSS) Dengan Analytic Hierarchical Proces (AHP). Pengembangan Pendekatan SPK (II) Pengembangan Pendekatan SPK (II) Pengembangan SPK membutuhkan pendekatan

Lebih terperinci

Evaluasi Kinerja Supplier Bahan Baku Menggunakan Metode Fuzzy Analytic Hierarchy Process (Studi Kasus di PT. Inti Luhur Fuja Abadi)

Evaluasi Kinerja Supplier Bahan Baku Menggunakan Metode Fuzzy Analytic Hierarchy Process (Studi Kasus di PT. Inti Luhur Fuja Abadi) Evaluasi Kinerja Supplier Bahan Baku Menggunakan Metode Fuzzy Analytic Hierarchy Process (Studi Kasus di PT. Inti Luhur Fuja Abadi) Raw Material Supplier Performance Evaluation Using Fuzzy Analytic Hierarchy

Lebih terperinci

Laporan Rancangan DRONE SUGGESTION SYSTEM

Laporan Rancangan DRONE SUGGESTION SYSTEM Laporan Rancangan DRONE SUGGESTION SYSTEM Laporan ini Disusun sebagai Tugas Ujian Tengah Semester Dosen Pembina : A. Sidiq Purnomo S. Kom., M. Eng. Oleh : Verri Andriawan (14111036) Andi Gustanto Mucharom

Lebih terperinci

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK PT. Sumber Mulia Lestari merupakan salah satu perusahaan garmen di Indonesia yang memproduksi sweater baik untuk dewasa maupun untuk anakanak.perusahaan ini memiliki beberapa supplier yang memiliki

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Proses pemilihan supplier merupakan salah satu aktifitas penting dalam suatu organisasi. Kesalahan dalam pemilihan supplier dapat berdampak pada terganggunya kelangsungan proses

Lebih terperinci

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK PT. Dirgantara Indonesia (Indonesian Aerospace - IAe) adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang industri pesawat terbang, yang dimana memiliki material yang beragam dan aturan-aturan

Lebih terperinci

PEMILIHAN PEMASOK BAHAN BAKU ALUMINIUM INGOT ADC12S DENGAN MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS DI PT. SUZUKI INDOMOBIL MOTOR PLANT CAKUNG

PEMILIHAN PEMASOK BAHAN BAKU ALUMINIUM INGOT ADC12S DENGAN MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS DI PT. SUZUKI INDOMOBIL MOTOR PLANT CAKUNG PEMILIHAN PEMASOK BAHAN BAKU ALUMINIUM INGOT ADC12S DENGAN MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS DI PT. SUZUKI INDOMOBIL MOTOR PLANT CAKUNG Nama NPM : 32412666 Jurusan Pembimbing : Fairuz Inanda

Lebih terperinci

PENERAPAN FUZZY ANALYTICAL NETWORK PROCESS DALAM MENENTUKAN PRIORITAS PEMELIHARAAN JALAN

PENERAPAN FUZZY ANALYTICAL NETWORK PROCESS DALAM MENENTUKAN PRIORITAS PEMELIHARAAN JALAN PENERAPAN FUZZY ANALYTICAL NETWORK PROCESS DALAM MENENTUKAN PRIORITAS PEMELIHARAAN JALAN Oleh : Manis Oktavia 1209 100 024 Dosen Pembimbing : Drs. I Gusti Ngurah Rai Usadha, M.Si Sidang Tugas Akhir - 2013

Lebih terperinci

IMPLEMENTASI ANALYTIC HIERARCHY PROCESS DALAM PENENTUAN PRIORITAS KONSUMEN PENERIMA KREDIT. Sahat Sonang S, M.Kom (Politeknik Bisnis Indonesia)

IMPLEMENTASI ANALYTIC HIERARCHY PROCESS DALAM PENENTUAN PRIORITAS KONSUMEN PENERIMA KREDIT. Sahat Sonang S, M.Kom (Politeknik Bisnis Indonesia) IMPLEMENTASI ANALYTIC HIERARCHY PROCESS DALAM PENENTUAN PRIORITAS KONSUMEN PENERIMA KREDIT Sahat Sonang S, M.Kom (Politeknik Bisnis Indonesia) ABSTRAK Sistem pengambilan keputusan adalah sistem yang membantu

Lebih terperinci

METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN PEMILIHAN GALANGAN KAPAL UNTUK PEMBANGUNAN KAPAL TANKER DI PULAU BATAM

METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN PEMILIHAN GALANGAN KAPAL UNTUK PEMBANGUNAN KAPAL TANKER DI PULAU BATAM METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN PEMILIHAN GALANGAN KAPAL UNTUK PEMBANGUNAN KAPAL TANKER DI PULAU BATAM Oleh : Yuniva Eka Nugroho 4209106015 Jurusan Teknik Sistem Perkapalan

Lebih terperinci

USULAN PROSES PEMILIHAN PEMASOK DI TOKO BESI NUSANTARA SEMARANG

USULAN PROSES PEMILIHAN PEMASOK DI TOKO BESI NUSANTARA SEMARANG USULAN PROSES PEMILIHAN PEMASOK DI TOKO BESI NUSANTARA SEMARANG TUGAS AKHIR Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat Sarjana Teknik Industri FRANSISKA RATNAWATI 13 06 07336 PROGRAM

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. artian yang lebih spesifik yakni pihak ketiga dalam supply chain istilah dalam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. artian yang lebih spesifik yakni pihak ketiga dalam supply chain istilah dalam BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Vendor Dalam arti harfiahnya, vendor adalah penjual. Namun vendor memiliki artian yang lebih spesifik yakni pihak ketiga dalam supply chain istilah dalam industri yang menghubungkan

Lebih terperinci

TUGAS AKHIR MENGAPLIKASIKAN MODEL AHP ( ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS ) DENGAN METODE FUZZY UNTUK MEMILIH BOBOT KRITERIA SUPPLIER

TUGAS AKHIR MENGAPLIKASIKAN MODEL AHP ( ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS ) DENGAN METODE FUZZY UNTUK MEMILIH BOBOT KRITERIA SUPPLIER TUGAS AKHIR MENGAPLIKASIKAN MODEL AHP ( ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS ) DENGAN METODE FUZZY UNTUK MEMILIH BOBOT KRITERIA SUPPLIER Diajukan guna melengkapi sebagian syarat Dalam mencapai gelarsarjana Strata

Lebih terperinci

ANALISIS DAN IMPLEMENTASI PERANGKINGAN PEGAWAI MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS DAN SUPERIORITY INDEX

ANALISIS DAN IMPLEMENTASI PERANGKINGAN PEGAWAI MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS DAN SUPERIORITY INDEX ANALISIS DAN IMPLEMENTASI PERANGKINGAN PEGAWAI MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS DAN SUPERIORITY INDEX Daniar Dwi Pratiwi 1, Erwin Budi Setiawan 2, Fhira Nhita 3 1,2,3 Prodi Ilmu Komputasi

Lebih terperinci

Hasil Pembobotan Kriteria dengan AHP

Hasil Pembobotan Kriteria dengan AHP BAB V ANALISA Pada bab ini akan dijelaskan mengenai analisis hasil pembobotan kriteria dan sub-kriteria dengan metode Analitycal Hierarchy Process (AHP), analisis sensitivitas metode Grey Relational Analysis,

Lebih terperinci

MATERI PRAKTIKUM. Praktikum 1 Analytic Hierarchy Proses (AHP)

MATERI PRAKTIKUM. Praktikum 1 Analytic Hierarchy Proses (AHP) Praktikum 1 Analytic Hierarchy Proses (AHP) Definisi AHP (Analytic Hierarchy Process) merupakan suatu model pengambil keputusan yang dikembangkan oleh Thomas L. Saaty yang menguraikan masalah multifaktor

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Manajemen rantai pasok adalah metode, alat, atau pendekatan pengelolaan yang terintegrasi dari rantai pasok (Pujawan, 2005). Rantai Pasok adalah suatu kegiatan menghubungkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Semakin ketatnya persaingan di industri jasa penerbangan membuat bisnis layanan semakin berat untuk dihadapi. Upaya PT Garuda Indonesia dalam menghadapi persaingan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN IV.1. Tampilan Hasil Berikut ini dijelaskan tentang tampilan hasil dari sistem pendukung keputusan seleksi pemilihan agen terbaik dengan sistem yang dibangun dapat dilihat sebagai

Lebih terperinci

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN 168 BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diperoleh beberapa kesimpulan seperti berikut; 1. Dapat disimpulkan, kriteria-kriteria yang menjadi

Lebih terperinci

PENGUKURAN KINERJA DENGAN MENGGUNAKAN SUPPLY CHAIN MELALUI PENDEKATAN SCOR MODEL DI PT. LASER JAYA SAKTI,Tbk GEMPOL, PASURUAN SKRIPSI

PENGUKURAN KINERJA DENGAN MENGGUNAKAN SUPPLY CHAIN MELALUI PENDEKATAN SCOR MODEL DI PT. LASER JAYA SAKTI,Tbk GEMPOL, PASURUAN SKRIPSI PENGUKURAN KINERJA DENGAN MENGGUNAKAN SUPPLY CHAIN MELALUI PENDEKATAN SCOR MODEL DI PT. LASER JAYA SAKTI,Tbk GEMPOL, PASURUAN SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagai Persyaratan Dalam Memperoleh Gelar

Lebih terperinci

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PEMILIHAN SUPPLIER DENGAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (Studi Kasus: PT. PURA BARUTAMA KUDUS)

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PEMILIHAN SUPPLIER DENGAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (Studi Kasus: PT. PURA BARUTAMA KUDUS) ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PEMILIHAN SUPPLIER DENGAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (Studi Kasus: PT. PURA BARUTAMA KUDUS) Hafidh Munawir, Eko Wahyu Nugroho Jurusan Teknik Industri, Universitas Muhammadiyah

Lebih terperinci

Sistem Pendukung Keputusan Penentuan Supplier Terbaik dengan Metode AHP Pada AMALIUN FOODCOURT

Sistem Pendukung Keputusan Penentuan Supplier Terbaik dengan Metode AHP Pada AMALIUN FOODCOURT Sistem Pendukung Keputusan Penentuan Supplier Terbaik dengan Metode AHP Pada AMALIUN FOODCOURT ati Putra 1) Septi Arianto 2) STMIK IBBI l. Sei Deli No. 18 Medan, Telp. 061-4567111 Fax. 061-4527548 e-mail:

Lebih terperinci

BAB III TEORI HIERARKI ANALITIK. Proses Hierarki Analitik (PHA) atau Analytical Hierarchy Process (AHP)

BAB III TEORI HIERARKI ANALITIK. Proses Hierarki Analitik (PHA) atau Analytical Hierarchy Process (AHP) BAB III TEORI HIERARKI ANALITIK 3.1 Pengertian Proses Hierarki Analitik Proses Hierarki Analitik (PHA) atau Analytical Hierarchy Process (AHP) pertama kali dikembangkan oleh Thomas Lorie Saaty dari Wharton

Lebih terperinci

PEMILIHAN SUPPLIER BAHAN BAKU PENGEMAS DENGAN METODE AHP (ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS)

PEMILIHAN SUPPLIER BAHAN BAKU PENGEMAS DENGAN METODE AHP (ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS) Widya Teknika Vol.20 No.1; Maret 2012 ISSN 1411 0660 : 25-31 PEMILIHAN SUPPLIER BAHAN BAKU PENGEMAS DENGAN METODE AHP (ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS) Chauliah Fatma Putri 1) ABSTRAK Dalam era industrialisasi

Lebih terperinci

Pemilihan Supplier Menggunakan Metode Fuzzy Analytic Network Process (FANP) pada PT Putra Gunung Kidul

Pemilihan Supplier Menggunakan Metode Fuzzy Analytic Network Process (FANP) pada PT Putra Gunung Kidul Pemilihan Supplier Menggunakan Metode Fuzzy Analytic Network Process (FANP) pada PT Putra Gunung Kidul Nama : Dewi Wilianti NPM : 31412968 Jurusan : Teknik Industri Pembimbing : Rossi Septy Wahyuni, ST.,

Lebih terperinci

PROGRAM VBA EXCEL UNTUK MENYELESAIKAN PERMASALAHAN INCOMPLETE PAIRWISE COMPARISON DALAM ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS

PROGRAM VBA EXCEL UNTUK MENYELESAIKAN PERMASALAHAN INCOMPLETE PAIRWISE COMPARISON DALAM ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS PROGRAM VBA EXCEL UNTUK MENYELESAIKAN PERMASALAHAN INCOMPLETE PAIRWISE COMPARISON DALAM ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS TUGAS AKHIR Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat Teknik Industri

Lebih terperinci

PEMILIHAN SUPPLIER BAHAN BAKU BANGUNAN DENGAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) PADA PT. CIPTA NUANSA PRIMA TANGERANG

PEMILIHAN SUPPLIER BAHAN BAKU BANGUNAN DENGAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) PADA PT. CIPTA NUANSA PRIMA TANGERANG Jurnal Techno Nusa Mandiri Vol.XIV, No.1, Maret 2017 1 PEMILIHAN SUPPLIER BAHAN BAKU BANGUNAN DENGAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) PADA PT. CIPTA NUANSA PRIMA TANGERANG Rani Irma Handayani

Lebih terperinci

27 Penentuan dan pembobotan KPI...(Ariani dkk)

27 Penentuan dan pembobotan KPI...(Ariani dkk) 27 Penentuan dan pembobotan KPI...(Ariani dkk) PENENTUAN DAN PEMBOBOTAN KEY PERFORMANCE INDICATOR (KPI) SEBAGAI ALAT PENGUKURAN KINERJA RANTAI PASOK PRODUKSI KEJU MOZARELLA DI CV. BRAWIJAYA DAIRY INDUSTRY

Lebih terperinci

Bab V Pengolahan Data dan Analisis

Bab V Pengolahan Data dan Analisis 20 Bab V Pengolahan Data dan Analisis V. Analisis Model Menurut SCOR Versi 9.0, atribut SCOR terdiri atas: Atribut dari sisi pelanggan. Keandalan (Reliability) 2. Ketanggapan (Responsiveness). Ketangkasan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. METODOLOGI PENELITIAN Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif,adapun metode yang digunakan adalah dengan pendekatan Analitycal Hierarchy

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI Sistem Pendukung Keputusan Pengertian Keputusan. Universitas Sumatera Utara

BAB 2 LANDASAN TEORI Sistem Pendukung Keputusan Pengertian Keputusan. Universitas Sumatera Utara 6 BAB 3: ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM Bab ini menjabarkan tentang tujuan dari perancangan sistem, kriteria dan pilihan kesimpulan dalam menentukan pemilihan pegawai terbaik. Selain itu juga tahapan

Lebih terperinci

MANAJEMEN LOGISTIK & SUPPLY CHAIN MANAGEMENT KULIAH 9: MANAJEMEN PENGADAAN (PURCHASING MANAGEMENT)

MANAJEMEN LOGISTIK & SUPPLY CHAIN MANAGEMENT KULIAH 9: MANAJEMEN PENGADAAN (PURCHASING MANAGEMENT) MANAJEMEN LOGISTIK & SUPPLY CHAIN MANAGEMENT KULIAH 9: MANAJEMEN PENGADAAN (PURCHASING MANAGEMENT) By: Rini Halila Nasution, ST, MT PENDAHULUAN Tugas dari manajemen pengadaan adalah menyediakan input,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Kepuasan konsumen merupakan salah satu faktor yang berpengaruh dalam memenangkan pasar. Salah satu cara untuk memuaskan keinginan konsumen, yaitu dengan menjaga

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENILITIAN

BAB III METODOLOGI PENILITIAN BAB III METODOLOGI PENILITIAN 3.1 Metode Penilitian Metodologi penelitian menguraikan seluruh kegiatan yang dilaksanakan selama penelitian berlangsung dari awal proses penelitian sampai akhir penelitian.

Lebih terperinci

BAB IV PEMBAHASAN. 4.1 Penentuan Struktur Hirarki

BAB IV PEMBAHASAN. 4.1 Penentuan Struktur Hirarki BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Penentuan Struktur Hirarki Pada penelitian ini menggunakan Metoda Fuzzy AHP untuk mengukur kinerja supplier pada kategori catering di PT Garuda Indonesia. Adapun saat ini PT Garuda

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Obyek pada penelitian ini adalah CV. Bagiyat Mitra Perkasa. Lokasi

BAB III METODE PENELITIAN. Obyek pada penelitian ini adalah CV. Bagiyat Mitra Perkasa. Lokasi BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Obyek dan Lokasi Penelitian Obyek pada penelitian ini adalah CV. Bagiyat Mitra Perkasa. Lokasi perusahaan berada di Jalan Taman Srinindito VII/1 Semarang. Perusahaan ini

Lebih terperinci

PENERAPAN METODE ANP DALAM MELAKUKAN PENILAIAN KINERJA KEPALA BAGIAN PRODUKSI (STUDI KASUS : PT. MAS PUTIH BELITUNG)

PENERAPAN METODE ANP DALAM MELAKUKAN PENILAIAN KINERJA KEPALA BAGIAN PRODUKSI (STUDI KASUS : PT. MAS PUTIH BELITUNG) PENERAPAN METODE ANP DALAM MELAKUKAN PENILAIAN KINERJA KEPALA BAGIAN PRODUKSI (STUDI KASUS : PT. MAS PUTIH BELITUNG) Frans Ikorasaki 1 1,2 Sistem Informasi, Tehnik dan Ilmu Komputer, Universitas Potensi

Lebih terperinci

Sistem Penunjang Keputusan Penetapan Dosen Pembimbing dan Penguji Skipsi Dengan Menggunakan Metode AHP

Sistem Penunjang Keputusan Penetapan Dosen Pembimbing dan Penguji Skipsi Dengan Menggunakan Metode AHP Sistem Penunjang Keputusan Penetapan Dosen Pembimbing dan Penguji Skipsi Dengan Menggunakan Metode AHP A Yani Ranius Universitas Bina Darama, Jl. A. Yani No 12 Palembang, [email protected] ABSTRAK Sistem

Lebih terperinci

PEMILIHAN SUPPLIER BAHAN BAKU BANGUNAN DENGAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) PADA PT. CIPTA NUANSA PRIMA TANGERANG

PEMILIHAN SUPPLIER BAHAN BAKU BANGUNAN DENGAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) PADA PT. CIPTA NUANSA PRIMA TANGERANG Jurnal Techno Nusa Mandiri Vol.XIV, No.1, Maret 2017 1 PEMILIHAN SUPPLIER BAHAN BAKU BANGUNAN DENGAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) PADA PT. CIPTA NUANSA PRIMA TANGERANG Rani Irma Handayani

Lebih terperinci

PEMANFAATAN ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) SEBAGAI MODEL SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN UNTUK PEMILIHAN KARYAWAN BERPRESTASI

PEMANFAATAN ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) SEBAGAI MODEL SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN UNTUK PEMILIHAN KARYAWAN BERPRESTASI PEMANFAATAN ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP) SEBAGAI MODEL SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN UNTUK PEMILIHAN KARYAWAN BERPRESTASI Sudarto STMIK Mikroskil Jl. Thamrin No. 112, 124, 140 Medan 20212 [email protected]

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI Dalam bab ini akan dibahas beberapa teori yang mendukung terhadap studi kasus yang akan dilakukan seperti: Strategic Planning Decision Support System (DSS) Evaluasi Supplier 2.1 Strategic

Lebih terperinci

Penyebaran Kuisioner

Penyebaran Kuisioner Penentuan Sampel 1. Responden pada penelitian ini adalah stakeholders sebagai pembuat keputusan dalam penentuan prioritas penanganan drainase dan exspert dibidangnya. 2. Teknik sampling yang digunakan

Lebih terperinci

PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM MENENTUKAN NASABAH KARTU KREDIT BANK RAKYAT INDONESIA DENGAN METODE FUZZY ANALYTIC HIERARCHY PROCESS

PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM MENENTUKAN NASABAH KARTU KREDIT BANK RAKYAT INDONESIA DENGAN METODE FUZZY ANALYTIC HIERARCHY PROCESS PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM MENENTUKAN NASABAH KARTU KREDIT BANK RAKYAT INDONESIA DENGAN METODE FUZZY ANALYTIC HIERARCHY PROCESS Fratika Aprilia Purisabara, Titin Sri Martini, dan Mania Roswitha Program

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metode Yang Digunakan 3.1.1 Desain Penelitian Desain penelitian adalah kerangka atau framework untuk mengadakan penelitian. Dalam penelitian ini, jenis desain yang digunakan

Lebih terperinci

Perancangan Perbaikan Sistem Pembelian Bahan Baku di PT. FSCM Manufacturing

Perancangan Perbaikan Sistem Pembelian Bahan Baku di PT. FSCM Manufacturing Perancangan Perbaikan Sistem Pembelian Bahan Baku di PT. FSCM Manufacturing Iwan 1, Tanti Octavia, S.T., M. Eng. 2 Abstract: PT FSCM Manufacturing Indonesia merupakan produsen suku cadang kendaraan yang

Lebih terperinci

ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS

ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS Untuk memperkenalkan AHP, lihat contoh masalah keputusan berikut: Sebuah kawasan menghadapi kemungkinan urbanisasi yang mempengaruhi lingkungan. Tindakan apa yang harus dilakukan

Lebih terperinci

PEMILIHAN DAN EVALUASI PEMASOK PADA P.T. NEW HOPE JAWA TIMUR DENGAN MENGGUNAKAN METODE FUZZY ANALYTIC HIERARCHY PROCESS

PEMILIHAN DAN EVALUASI PEMASOK PADA P.T. NEW HOPE JAWA TIMUR DENGAN MENGGUNAKAN METODE FUZZY ANALYTIC HIERARCHY PROCESS PEMILIHAN DAN EVALUASI PEMASOK PADA P.T. NEW HOPE JAWA TIMUR DENGAN MENGGUNAKAN METODE FUZZY ANALYTIC HIERARCHY PROCESS Yusiana Suciadi Manajemen / Fakultas Bisnis dan Ekonomika [email protected] Abstrak.

Lebih terperinci

Pemilihan Pemasok Bahan Mentah pada Restoran Menggunakan Metode Fuzzy Analytical Hierarchy Process

Pemilihan Pemasok Bahan Mentah pada Restoran Menggunakan Metode Fuzzy Analytical Hierarchy Process 49 Pemilihan Pemasok Bahan Mentah pada Restoran Menggunakan Metode Fuzzy Analytical Hierarchy Process Elta Sonalitha, Moechammad Sarosa, dan Agus Naba Abstract Production in the restaurant is a continuous

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN 22 III. METODE PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Sektor pertanian memiliki peran penting dalam pembangunana nasional. Sayuran adalah salah satu komoditas pertanian yang memiliki potensi pengembangan pasar

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Ekonomi dan Produk Domestik Regional Bruto. Istilah ekonomi berasal dari bahasa Yunani, terdiri atas kata oikos dan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Ekonomi dan Produk Domestik Regional Bruto. Istilah ekonomi berasal dari bahasa Yunani, terdiri atas kata oikos dan BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Ekonomi dan Produk Domestik Regional Bruto Istilah ekonomi berasal dari bahasa Yunani, terdiri atas kata oikos dan nomos. Oikos berarti rumah tangga, nomos berarti aturan. Sehingga

Lebih terperinci

Seminar Nasional IENACO ISSN:

Seminar Nasional IENACO ISSN: ANALISIS PEMILIHAN SUPPLIER BAHAN BAKU BIJI PLASTIK POLYPROPYLENE MENGGUNAKAN METODE AHP DAN QFD PADA PT ARISAMANDIRI PRATAMA Diana Puspita Sari 1 *, Agil Saputro 2, Susatyo Nugroho 3 1,2,3 Program Studi

Lebih terperinci

Analisis Pemilihan Supplier Yang Tepat Untuk Produk Gigi Palsu (Studi Kasus Di CV. Brother Dent)

Analisis Pemilihan Supplier Yang Tepat Untuk Produk Gigi Palsu (Studi Kasus Di CV. Brother Dent) Analisis Pemilihan Supplier Yang Tepat Untuk Produk Gigi Palsu (Studi Kasus Di CV. Brother Dent) Agus Syamsudin 1*, Ellysa Nursanti 2, Emmalia Adriantantri 3 1 Mahasiswa Progam Studi Teknik Industri, Fakultas

Lebih terperinci

ANALISA KEPUTUSAN PEMILIHAN VENDOR DALAM PROYEK KONSTRUKSI. Adi Giantoro 1) 1) Program Studi Magister Teknik Sipil, No Induk : ,

ANALISA KEPUTUSAN PEMILIHAN VENDOR DALAM PROYEK KONSTRUKSI. Adi Giantoro 1) 1) Program Studi Magister Teknik Sipil, No Induk : , ANALISA KEPUTUSAN PEMILIHAN VENDOR DALAM PROYEK KONSTRUKSI Adi Giantoro 1) 1) Program Studi Magister Teknik Sipil, No Induk : 135 102 065, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Jl. Babarsari No. 43 Yogyakarta,

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN Makna penelitian secara sederhana ialah bagaimana mengetahui sesuatu yang dilakukan melalui cara tertentu dengan prosedur yang sistematis. Proses sistematis ini tidak lain adalah

Lebih terperinci

Lampiran 1 - Analytic Hierarchy Process (AHP)

Lampiran 1 - Analytic Hierarchy Process (AHP) Lampiran 1 - Analytic Hierarchy Process (AHP) Penyusunan Hirarki Sebuah bagan alir yang dipergunakan dalam struktur pemecahan sebuah masalah terdiri dari tiga tingkatan yaitu hasil keputusan yang diperoleh

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. lokasi penelitian secara sengaja (purposive) yaitu dengan pertimbangan bahwa

BAB III METODE PENELITIAN. lokasi penelitian secara sengaja (purposive) yaitu dengan pertimbangan bahwa BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Objek dan Tempat Penelitian Objek penelitian ini adalah strategi pengadaan bahan baku agroindustri ubi jalar di PT Galih Estetika Indonesia Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. informasi dari kalangan aparat pemerintah dan orang yang berhubungan erat

III. METODE PENELITIAN. informasi dari kalangan aparat pemerintah dan orang yang berhubungan erat III. METODE PENELITIAN A. Jenis dan Sumber Data Data-data yang digunakan untuk penelitian ini merupakan gabungan antara data primer dan data sekunder. Data primer mencakup hasil penggalian pendapat atau

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Model Rumusan Masalah dan Pengambilan Keputusan Berikut merupakan diagram alir yang menggambarkan langkah-langkah dalam melakukan penelitian di PT. Putra Jaya Gemilang.

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI 20 BAB 2 LANDASAN TEORI Mengambil sebuah keputusan tidak pernah lepas dari kehidupan setiap orang, setiap detik dari hidupnya hampir selalu membuat keputusan dari keputusan yang sederhana hingga keputusan

Lebih terperinci

Penerapan Analytical Hierarchy Process (AHP) Untuk Sistem Pendukung Keputusan Penilaian Kinerja Karyawan Pada Perusahaan XYZ

Penerapan Analytical Hierarchy Process (AHP) Untuk Sistem Pendukung Keputusan Penilaian Kinerja Karyawan Pada Perusahaan XYZ Penerapan Analytical Hierarchy Process (AHP) Untuk Sistem Pendukung Keputusan Penilaian Kinerja Karyawan Pada Perusahaan XYZ Mia Rusmiyanti Jurusan Teknik Informatika Universitas Komputer Indonesia Bandung

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini bertujuan untuk menentukan prioritas pemasok terbaik untuk produkproduk yang paling laris dijual di Toko Besi Nusantara Semarang. Prioritas pemasok terbaik ditentukan

Lebih terperinci

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA 57 BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA 4.1. Pengumpulan Data 4.1.1. Sejarah Perusahaan PT. Inkoasku merupakan salah satu perusahaan industri otomotif yang bergerak dalam bidang Wheel Rim Manufakturing.

Lebih terperinci