BAB III PERANCANGAN INSTALASI

dokumen-dokumen yang mirip
BAB IV ANALISIS DAN PERHITUNGAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Kanagarian Kasang, Padang Pariaman (Sumatera Barat).

BAB IV PERHITUNGAN DAN ANALISA

Proposal Proyek Akhir Program Studi Teknik Listrik. Jurusan Teknik Elektro. Politeknik Negeri Bandung

BAB IV PERANCANGAN DAN ANALISA

BAB III METODE PERANCANGAN

BAB III METODE PERANCANGAN SISTEM PENERANGAN

BAB IV HASIL PERANCANGAN INSTALASI PENERANGAN

SISTEM KELISTRIKAN PADA GEDUNG KANTOR BANK SUMSEL CABANG PANGKALPINANG DI PT. PEMBANGUNAN PERUMAHAN (Persero). Tbk

TEKNIKA VOL. 2 NO

BAB VI PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR

Standby Power System (GENSET- Generating Set)

TUGAS MAKALAH INSTALASI LISTRIK

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. perencana (arsitek, struktur & MEP) dan tim pelaksana (lapangan). Tim perencanaan

BAB III PERENCANAAN INSTALASI SISTEM TENAGA LISTRIK

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

BAB V PENDEKATAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR

BAB IV IMPLEMENTASI. Pada bab ini akan dibahas tentang aplikasi dari teknik perancangan yang

kondisi jalur di pusat perbelanjaan di jantung kota Yogyakarta ini kurang BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB III PERANCANGAN DIAGRAM SATU GARIS RENCANA SISTEM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK

PERANCANGAN INSTALASI LISTRIK PADA BLOK PASAR MODERN DAN APARTEMEN DI GEDUNG KAWASAN PASAR TERPADU BLIMBING MALANG JURNAL JURUSAN TEKNIK ELEKTRO

BAB III KEBUTUHAN GENSET

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

BAB IV PERHITUNGAN DAN ANALISA

DAFTAR ISI. HALAMAN JUDUL... i LEMBAR PENGESAHAN... ii KATA PENGANTAR... iii DAFTAR ISI... iv DAFTAR GAMBAR... vii DAFTAR TABEL...

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB IV PENGUJIAN ALAT

PRAKTIKUM INSTALASI PENERANGAN LISTRIK SATU FASA SATU GRUP

UTILITAS 02 ELECTRICAL SYSTEM PROGRAM STUDI TEKNIK ARSITEKTUR UNIVERSITAS GUNADARMA. Veronika Widi Prabawasari

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB IV ANALISA DAN PERENCANAAN SISTEM INSTALASI LISTRIK

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Pencahayaan dan Penerangan Rumah Sakit. 2. Pencahayaan dan penerangan seperti apa yang dibutuhkan dirumah sakit?

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Abstrak. 2. Studi Pustaka. 54 DTE FT USU

Menghitung kebutuhan jumlah titik lampu dalam ruangan

Mei Van Bostang Nainggolan Nrp : NIRM : Pembimbing : Ir. V. Hartanto M.Sc

BAB III PERENCANAAN INSTALASI LISTRIK GEDUNG SERBA GUNA DAN KANTOR PEMERINTAHAN DESA CITEPOK

FUNGSI DAN JENIS GAMBAR DALAM PERANCANGAN INSTALASI LISTRIK

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

Analisa Program Kebersihan Lingkungan Rumah Sakit PPI RSIA CICIK

BAB II LANDASAN TEORI

BAB IV ANALISA. Dalam merancang jaringan listrik suatu bangunan atau area terlebih dahulu

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Politeknik Negeri Sriwijaya

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. konservasi energi listrik untuk perencanaan dan pengendalian pada gedung

REDESAIN RUMAH SAKIT ISLAM MADINAH TULUNGAGUNG TA-115

UTILITAS BANGUNAN. Tjahyani Busono

TENTANG PENGHE. : a. Peraturan. b. menetapkan. Gubernur : 1. Pemerintah. Menimbang. tentang. Nomor ); 4. Tahun. Prov Jatim

MEMASANG INSTALASI PENERANGAN SATU PASA

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III PERANCANGAN. pembuatan tugas akhir. Maka untuk memenuhi syarat tersebut, penulis mencoba

BAB III : DATA DAN ANALISA

PEMBAHASAN UAS ONLINE TIL 1. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur tegangan listrik adalah... Jwb : Volt Meter

LAPORAN TUGAS AKHIR. Ditujukan Untuk Memenuhi Persyaratan Ujian Tugas Akhir oleh : NIM : NIM :

STUDI EVALUASI PERENCANAAN INSTALASI PENERANGAN HOTEL NEO BY ASTON PONTIANAK

BAB III METODE PERANCANGAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA ANGIN. yang penulis rancang ditunjukkan pada gambar 3.1. Gambar 3.

Program pemeliharaan. Laporan pemeliharaan

Optimalsasi ATS (Automatic Transfer Switch) pada Genset (Generator Set) 2800 Watt Berbasis TDR

BAB III PERANCANGAN GENSET. Genset yang akan dipasang di PT. Aichitex Indonesia sebagai sumber energi

PERENCANAAN MEKANIKAL ELEKTRIKAL DAN PENANGKAL PETIR PADA GEDUNG POLI GIGI UMS 5 LANTAI NASKAH PUBLIKASI. Disusun Oleh: Manusa putra D

PERENCANAAN SISTEM ELEKTRIKAL PADA BANGUNAN. Kuliah 9: 2 November 2009

PERANCANGAN KELISTRIKAN PADA KONDOTEL BOROBUDUR BLIMBING KOTA MALANG

BAB IV ANALISIS DATA. menentukan berapa besar energi yang dikonsumsi per tahun. Data yang diperoleh,

KISI-KISI SOAL FISIKA SMA KELAS X LISTRIK DINAMIS. a. Seri b. Paralel.

BAB III DASAR PERANCANGAN INSTALASI TATA UDARA GEDUNG

BAB V. KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. Total keseluruhan luas parkir yang diperlukan adalah 714 m 2, dengan 510 m 2 untuk

PERENCANAAN MEKANIKAL ELEKTRIKAL DAN PENANGKAL PETIR PADA GEDUNG POLI GIGI UMS 5 LANTAI TUGAS AKHIR. Disusun Oleh: Manusa putra D

BAB 5 KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

PENGARUH PEMASANGAN ARMATURE PADA LAMPU LHE TERHADAP PENINGKATAN EFISIENSI PENCAHAYAAN.

BAB IV ANALISA DAN PENGUJIAN ALAT

BAB 7 KESIMPULAN DAN SARAN

SOAL PRAKTIK KEJURUAN

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB IV PERAKITAN DAN PENGUJIAN PANEL AUTOMATIC TRANSFER SWITCH (ATS) DAN AUTOMATIC MAIN FAILURE (AMF)

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

PERANCANGAN UNIT INSTALASI GENSET DI PT AICHI TEX INDONESIA. DESIGN INSTALLATION UNIT OF GENSET AT PT AICHI TEX INDONESIA

Schematic Diagram. Keterangan : : lampu indikator power : lampu indikator filamen : Relay

RANCANG BANGUN SISTEM AUTOMATIC TRANSFER SWITCH DAN AUTOMATIC MAINS FAILURE PADA GENERATOR SET 80 KVA DENGAN DEEP SEA ELECTRONIC 4420

PUIL 2000 Pada Instalasi Listrik

PROPOSAL INSTALASI PERUMAHAN. MERANCANG INSTALASI LISTRIK BANGUNAN SEDERHANA (Rumah Tinggal, Sekolah dan Rumah Ibadah)

BAB IV JATUH TEGANGAN PADA PANEL DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK

PERANCANGAN ATS (AUTOMATIC TRANSFER SWITCH) SATU PHASA DENGAN BATAS DAYA PELANGGAN MAKSIMUM 4400VA

BAB 5 PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ASRAMA MAHASISWA UNIVERSITAS DIPONEGORO

11. PEMECAHAN MASALAH

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

UNIT I INSTALASI PENERANGAN PERUMAHAN SATU FASE

ANALISA DAN PERANCANGAN AUDIT ENERGI PADA PENGGUNAAN LAMPU HOTEL CIPUTRA SEMARANG

BAB IV HASIL PERANCANGAN DIAGRAM SATU GARIS SISTEM DISTRIBUSI TENAGA LISTRIK

BAB II TINJAUAN OBJEK

BAB IV ANALISA PERHITUNGAN KEBUTUHAN GENSET

III. METODE PENELITIAN

I. PENDAHULUAN. menuju lebih baik, dan salah satunya dalam bidang kesehatan yaitu dengan

AQA-KC105AGC6 AQA-KC105AG6 AQA-KC109AG6. Trouble shooting Air Conditioner. Split Type Air Conditioner TROUBLE SHOOTING AIR CONDITIONER

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. didesain khusus dan diperuntukan bagi user untuk melakukan sterilisasi di

BAB IV PERANCANGAN DAN ANALISA UPS

BAB III PERANCANGAN ALAT

Transkripsi:

BAB III PERANCANGAN INSTALASI 3.1 Tujuan Perencanaan Tujuan perencanaan adalah untuk untuk menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan dalam merealisasikan ide atau gagasan yang akan dicapai berdasarkan teori pendukung, dengan memperhatikan semua aspek yang berkaitan dengan perencanaan tersebut. Tujuan dari perencanaan instalasi listrik adalah: 1) Membuat layout instalasi listrik. 2) Menentukan jumlah armatur lampu penerangan yang diperlukan. 3) Menentukan besarnya luas penampang penghantar dan setting pengaman. 4) Membuat diagram rekapitulasi daya. 5) Menentukan besar genset yang digunakan. 6) Menganalisa sistem pentanahan. 3.2 Deskripsi Banguna Bangunan yang dijadikan objek instalasi listrik ini ialah rumah sakit yang berlokasi di Jl. Pajajaran Rt.003/03, Kelurahan Bantarjati Bogor Utara Jawa Barat. Peralatan atau komponen yang direncanakan akan dipakai pada dibangunan ini diantaranya yaitu lampu ruangan, stop kontak, pendingin udara, pompa air, saklar pengaturan dan lainnya Untuk mendapatkan tingkat pencahayaan yang sesuai dengan ruangan, maka perlu dilakukan perhitungan jumlah armatur yang dapat dilakukan setelah kita mendapatkan dimensi ruang, fungsi ruang dan jenis lampu yang akan dipakai. 37

Bangunan ini memakai daya besar, sehingga menggunakan sistem listrik AC 3 Phasa. Oleh karena itu perlu perhatikan tentang pembagian daya supaya antara phasa R, S dan T dapat seimbang. Untuk dapat mempermudah, kita dapat membuat rekapitulasi daya untuk seluruh beban yang dipakai pada bangunan tersebut. 3.3 Instalasi Penerangan Tipe-tipe ruangan pada rumah sakit ini sebagian besar berbentuk persegi, banyaknya jumlah waktu dan armatur untuk masing-masing ruangan bergantung dari fungsi dan luas ruangannya. Perhitungan jumlah lampu dan armatur pada sebuah ruangan, dimaksudkan untuk mendapatkan tingkat pencahayaan yang baik. Sebagai contoh perhitungan untuk menentukan jumlah armatur pada sebuah ruangan, penulis mengambil contoh pada ruangan rawat inap kelas 3 lantai 2,selebihnya untuk ruangan-ruangan lain akan diuraikan dalam lampiran. Contoh perhitungan ruang rawat inap yang mempunyai ruangan ukuran 7,3 x 6,1 m, harus diberi penerangan. Jumlah lampu yang diperlukan ditentukan sebagai berikut. Data Ruangan : Intensitas Penerangan = 250 lux Luas Bidang Kerja ( m 2 ) = 44,53 m 2 Koefisien Pengguna ( kp ) = 0,69 Koefisien Depresiasi ( kd ) = 0,8 Ftotal = (lumen) (3.1) = 20167,57 lumen 38

Kemudian jumlah armatur dihitung sebagai berikut : (3.2) Dimana : F1 = Fluks luminus satu buah lampu N = jumlah lampu dalam satu armatur = 6,02 armatur Jadi jumlah armatur/lampu yang dibutuhkan pada ruangan tersebut ialah sebanyak 6 armatur. lantai. Berikut Perhitungan jumlah armatur/lampu yang digunakan pada setiap Tabel 3.1 Perhitungan Menentukan Jumlah Titik Cahaya Lantai 1. 1 R. Poli 23,4 0,69 0,8 350 3350 4,4 Kandungan 2 R. Poli Bedah 12,96 0,69 0,8 350 3350 2,4 Ortopedy+Paru 3 R. Poli Bedah 10,8 0,69 0,8 350 3350 2,4 Umum 4 R. Poli Syaraf 12,24 0,69 0,8 350 3350 2,3 5 R. Poli Jantung 16,96 0,69 0,8 350 3350 3,2 6 R. X ray 30,1 0,69 0,8 350 3350 5,6 7 R. CT Scan 30,09 0,69 0,8 350 3350 5,6 8 R. Dokter 8 0,69 0,8 350 2100 1,6 9 R. Poli Umum 10,54 0,69 0,8 350 3350 1,9 10 R. Poli Umum 9,61 0,69 0,8 350 3350 1,8 11 R. Poli Penyakit 14,43 0,69 0,8 350 3350 2,7 12 R. Poli Gigi 27,47 0,69 0,8 350 3350 5,1 13 R. Poli Mata 17 0,69 0,8 350 3350 3,2 14 R. Laboratorium 49 0,69 0,8 350 3350 13,2 15 R. Pendaftaran 12,76 1 0,8 350 2100 2,6 16 R. Kasir 28,42 0,69 0,8 350 3350 5,3 17 R. Perawat 21,25 1 0,8 350 2100 4,4 18 R. Tindakan 60,06 1 0,8 350 3350 11,3 19 Lobi Utama 57,96 1 0,8 100 1100 6,5 20 Lobi Pendaftaran 46,8 1 0,8 100 1100 5,3 21 Lobi Setelah 68,83 1 0,8 100 1100 7,8 39

Pendaftaran 22 Lorong Toilet 16,2 1 0,8 100 1100 1,8 23 Lorong 50,76 1 0,8 100 1100 5,7 Laboratorium 24 Lorong Koridor 42,73 1 0,8 100 1100 4,8 25 Lorong R. Tunggu 24,48 1 0,8 100 1100 2,7 26 R. Tunggu Poli 64,6 1 0,8 100 110 7,34 Tabel 3.2 Perhitungan Menentukan Jumlah Titik Cahaya Lantai 2 1 R. Inap Kelas 3 44,53 0,69 0,8 250 3350 6 Pria 2 R. Inap Kelas 3 54,02 0,69 0,8 250 3350 7,3 Wanita 3 R. Inap Kelas 3 18,55 0,69 0,8 250 3350 2,5 Wanita 4 R. Isolasi 10,92 0,69 0,8 250 3350 1,4 Terbuka 5 R. Isolasi 15,99 0,69 0,8 250 3350 2,1 Tertutup 6 R. Inap Kelas 3 34,02 0,69 0,8 250 3350 4,5 Wanita 7 R. Inap Kelas 3 16 0,69 0,8 250 3350 2,1 Wanita 8 R. Inap Kelas 2 19,8 0,69 0,8 250 3350 2,6 9 R. Inap Kelas 3 32,34 0,69 0,8 250 3350 2,2 Anak 10 R. Inap Kelas 3 16,5 0,69 0,8 250 3350 6 Anak 11 R. Inap Kelas 2 19,04 0,69 0,8 250 3350 2,5 12 R. Inap Kelas 2 32,3 0,69 0,8 250 3350 4,3 13 R. Inap Kelas 2 21.09 0,69 0,8 250 3350 2,8 14 R. Inap Kelas 2 25,56 0,69 0,8 250 3350 3,4 15 R. THT + 13,94 0,69 0,8 350 3350 2,6 Kebidanan 16 R. Poli Anak 9,36 0,69 0,8 350 3350 1,7 17 R. Poli Anak 16,4 0,69 0,8 350 3350 3,1 18 R. Poli Bebas 12,4 0,69 0,8 350 3350 2,3 19 R. Medical Check 23,45 0,69 0,8 350 3350 4,4 Up 20 R. Medical Check 15,6 0,69 0,8 350 3350 2,9 Up 21 R. Tunggu Poli 80,85 1 0,8 100 1100 9 40

22 R. Perawat 15,6 0,69 0,8 100 1100 5 23 Lorong 72,34 1 0,8 100 1100 8,2 24 Lorong Medical 56,12 1 0,8 100 1100 6,3 Chek up 25 Lorong Tengah 27,56 1 0,8 100 1100 3,1 26 Lorong 2 60,87 1 0,8 100 1100 6,9 27 Lorong Balkon 21,08 1 0,8 100 1100 2,3 Tabel 3.3 Perhitungan Menentukan Jumlah Titik Cahaya Lantai 3 1 R. Inap VVIP 20,28 1 0,8 250 2100 3 2 R. Inap VIP 19,95 1 0,8 250 2100 2,9 3 R. Inap VIP 17 1 0,8 250 2100 2,5 4 R. Inap VIP 2,5 1 0,8 250 2100 3 5 R. Inap VVIP 21 1 0,8 250 2100 3,1 6 R. Inap VIP 36,66 1 0,8 250 2100 5,4 7 R. Inap VVIP 21 1 0,8 250 2100 3,1 8 R. Inap Kelas 1 21,92 0,69 0,8 250 3350 2,9 9 R. Tunggu 15,74 1 0,8 100 1100 1,7 10 R. Inap Kelas 1 19,74 0,69 0,8 250 3350 2,6 11 R. Inap VIP 15,97 1 0,8 250 2100 2,3 12 R. Persiapan 14,20 0,69 0,8 350 3350 2,6 Bersalin 13 R. Perawat 14,66 0,69 0,8 350 3350 2,7 14 R. Kuret 7,67 0,69 0,8 350 3350 1,45 15 R. Bersalin 10,71 0,69 0,8 300 3350 1,73 16 R. Bersalin 35,51 0,69 0,8 300 3350 5,4 17 Lorong 12,55 1 0,8 100 1100 1,4 18 Lorong R. 19,14 1 0,8 100 1100 2,1 Perawat 19 Lorong Bayi 16,23 1 0,8 100 1100 1,8 Sehat 20 R. Bayi Sehat 20,97 0,69 0,8 250 3350 2,8 21 R. Bayi Tidak 21,77 0,69 0,8 250 3350 2,9 Sehat 22 R. Persiapan 36,97 0,69 0,8 350 3350 6,9 Operasi 23 R. Steril 34,33 0,69 0,8 350 3350 6,4 24 R. Recovery 27,4 0,69 0,8 250 3350 3,7 25 R. Alat Steril 6,7 1 0,8 350 2100 1,3 26 R. Alat Kantor 7,05 1 0,8 350 2100 1,4 27 R. Spoolhok 5,36 1 0,8 350 2100 1,1 28 R. Operasi 1 27,22 0,69 0,8 300 3350 4,4 41

29 R. Operasi 2 19,06 0,69 0,8 300 3350 3 30 R. Operasi 3 18,13 0,69 0,8 300 3350 2,9 31 R. Duduk 17,43 1 0,8 100 1100 1,9 Dokter 32 R. ICU 109,44 0,69 0,8 250 3350 14,7 33 R. Lobi 15,71 1 0,8 100 1100 1,7 34 Lorong Toilet 16,96 1 0,8 100 1100 1,9 35 R. Duduk 61,85 1 0,8 100 1100 7 36 Lorong 1 71,82 1 0,8 100 1100 8,1 37 Lorong Lift 38,08 1 0,8 100 1100 4,3 Tabel 3.4 Perhitungan Menentukan Jumlah Titik Cahaya Lantai 4 1 R. Inap VIP 20,73 1 0,8 250 2100 3 2 R. Inap VIP 18,32 1 0,8 250 2100 2,7 3 R. Inap VIP 15,87 1 0,8 250 2100 2,3 4 R. Inap VIP 16,40 1 0,8 250 2100 2,4 5 R. Inap VIP 18,32 1 0,8 250 2100 2,4 6 R. Inap Suite 16,26 1 0,8 250 2100 2,4 7 R. Inap Suite 23,73 1 0,8 250 2100 3,5 8 R. Inap 34,38 1 0,8 250 2100 5,1 President Suite 9 R. Inap 13,95 1 0,8 250 2100 2 President Suite 10 R. Inap Kelas 1 21,59 0,69 0,8 250 3350 2,9 11 R. Inap Kelas 1 32,76 0,8 0,8 250 3350 4,4 12 R. Inap VIP 17,26 1 0,8 250 2100 2,5 13 R. Inap VIP 15,98 1 0,8 250 2100 2,3 14 R. Inap VIP 23 1 0,8 250 2100 3,4 15 R. Inap VIP 17,71 1 0,8 250 2100 2,63 16 R. Fisioterapi 49,06 0,69 0,8 250 3350 6,6 17 R. HD 37,12 0,69 0,8 250 3350 5 18 R. Kelas 1 20,19 0,69 0,8 250 3350 2,72 (3ruangan) 19 R. Inap 30,52 1 0,8 250 2100 4,5 President Suite 20 R. Inap VVIP 17,68 1 0,8 250 2100 2,6 (3 ruangan) 21 R. Inap VIP 18,2 1 0,8 250 2100 2,7 22 R. President 30,56 1 0,8 250 2100 4,5 Suite 23 Lorong 1 54,20 1 0,8 100 1100 6,5 24 Lorong 2 18,67 1 0,8 100 1100 2,1 42

25 Lorong Tengah 54,95 1 0,8 100 1100 6,4 26 Lorong Toilet 28,11 1 0,8 100 1100 3,1 27 Lorong Tengah 31,8 1 0,8 100 1100 3,6 1&2 28 Lorong R. VIP 41,65 1 0,8 100 1100 4,7 Tabel 3.5 Perhitungan Menentukan Jumlah Titik Cahaya Lantai 5 1 R. Inap Suite 29,25 1 0,8 250 2100 4,3 2 R. Inap 31,85 1 0,8 250 2100 4,7 President Suite 3 R. Inap VVIP 16,90 1 0,8 250 2100 2,5 4 R. Inap VVIP 16,92 1 0,8 250 2100 2,5 5 R. Inap Suite 29,25 1 0,8 250 2100 4,3 6 R. Inap Kelas 1 22,32 0,69 0,8 250 3350 3 7 R. Inap VIP 16,8 1 0,8 250 2100 2,5 8 R. Inap VIP 15,8 1 0,8 250 2100 2,3 9 R. HD 119,6 0,69 0,8 250 3350 16,1 10 R. Inap VIP 22,56 1 0,8 250 2100 3,3 11 R. Inap VIP 15,84 1 0,8 250 2100 2,3 12 R. Inap VIP 16,4 1 0,8 250 2100 2,4 13 R. Staff 46,49 0,69 0,8 350 3350 8 14 R. Rapat 31,19 0,69 0,8 300 2100 5 15 R. Owner 35,85 1 0,8 350 2100 7,4 16 R. Dirut 1&2 16,56 1 0,8 350 2100 3,4 17 R.Tamu Dirut 22,42 1 0,8 100 1100 2,5 18 R. Serbaguna 201,53 0,69 0,8 250 3350 27 19 Lorong Tangga 52,65 1 0,8 100 1100 5,9 20 Lorong R. 33,20 1 0,8 100 1100 3,7 Serbaguna 21 Lorong Toilet 31,24 1 0,8 100 1100 3,5 22 Lorong Utama 26,6 1 0,8 100 1100 3 23 Lorong R.VIP 58,17 1 0,8 100 1100 6,6 24 Lorong Balkon 13,03 1 0,8 100 1100 1,4 43

Tabel 3.6 Perhitungan Menentukan Jumlah Titik Cahaya Lantai Basement 1 Parkir Mobil 540,98 0,75 0,8 100 3350 26,9 2 R. MRI 30,74 0,69 0,8 350 3350 5,8 3 R. Gudang 13,74 0,75 0,8 150 3350 1 Rekamedis 4 R. Keuangan 25,15 0,69 0,8 350 3350 4,7 5 R. Teknisi 22,4 0,69 0,8 350 3350 4,2 6 R. Gudang 10,71 0,69 0,8 150 3350 1 Basah 7 R. Dapur Gizi 36,72 0,69 0,8 300 3350 5,9 8 R. Saji 15,64 0,69 0,8 300 3350 2,5 9 R. Loundry 38,64 0,69 0,8 350 3350 7,3 10 Lorong 1 56,06 0,67 0,8 100 1350 7,7 11 Lorong 2 12,51 0,67 0,8 100 1350 1,7 12 Lorong 3 21,13 0,67 0,8 100 1350 2,92 13 Lorong 4 30,66 0,67 0,8 100 1350 4,2 14 Lorong Toilet 46,99 0,67 0,8 100 1350 6,4 15 R. Pompa 20,33 0,75 0,8 100 3350 1 3.4 Spesifikasi Bangunan dan Daya Setiap Ruangan Spesifikasi bangunan ini dimaksudkan untuk mengetahui spesifikasi beban yang akan dilayani dari setiap ruang yang terdapat dalam sebuah bangunan atau gedung. Dengan membuat mengetahui spesifikasi bangunan ini, kita dapat mengetahui beban-beban yang dilayani dari setiap ruangan dalam sebuah gedung, sehingga dapat diketahui pula jumlah beban (daya) yang dilayani dari sebuah gedung, yang merupakan penjumlahan dari total beban yang dilayani dari setiap ruang dalam bangunan tersebut. Untuk layout dan spesifikasi lay out terlampir. 3.5 Penempatan Titik Lampu Penempatan titik lampu dapat dilihat pada gambar perancangan instalasi listrik. Lay out terlampir. 44

3.6 Tata Letak Saklar Lampu Penerangan Saklar dinding biasanya dipasang kurang lebih 120 cm diatas lantai jalan yang biasa dilalui. Jika harus dilayani dengan membuka pintu terlebih dahulu, maka saklar dinding ditempatkan didekat dan disisi daun pintu yang membuka. Contoh cara perhitungan untuk menentukan rating saklar sebagai berikut, (diambil dari saklar seri pada ruang inap kelas 3 pria lantai 2) melayani 7 lampu untuk menyinari ruangan dengan daya total 252 W. Rating saklar Dipasaraan tersedia dari 6A, 10A dst. Spesifikasi teknis dari saklar yang digunakan adalah sebagai berikut : 1) Rating tegangan 500 V 2) Rating arus minimal 10 A 3) Tipe pemasangan, dipasang pada dinding dan menggunakan doss dengan ketinggian 120cm diatas permukaan lantai yang sudah jadi. 4) Saklar harus dilengkapi dengan label yang menunjukkan lampu dari kelompok mana yang dilayaninya. 3.7 Tata Letak Stop Kontak Stop kontak yang digunakan harus memenuhi ketentuan yang terdapat di PUIL 2000, dimana dalam PUIL dijelaskan, bahwa kotak kontak biasa, kebutuhan maksimum diambil 200VA, untuk kotak kontak dengan kemampuan setinggitingginya 16 A. Stop kontak ditempatkan didekat ujung dinding hal ini dimaksudkan untuk menghindari terhalang karena penempatan mebel atau lemari. Stop kontak sebaiknya dipasang kurang lebih 30 cm di atas lantai dengan dilengkapi penutup 45

atau 30 cm di atas landasan bidang kerja meja. Pemasangan kotak kontak harus dipasang sedemikian rupa sehingga dihubungkan tidak mungkin terjadi sentuhan tak sengaja dengan beban aktif. Pemasangan tata letak stop kontak harus sesuai dengan gambar pada perancangan, untuk tata letak stop kontak dapat dilihat pada layout instalasi listrik. 3.8 Pembagian Kelompok Beban Suplai energi listrik untuk rumah sakit ini menggunakan sistem 3 phasa dengan tegangan suplai 220 / 380 V, sehingga perlu dilakukan pembagian kelompok beban, hal ini bertujuan untuk : 1. Menjaga keseimbangan beban pada tiap phasa. 2. Melokaslisir gangguan yang timbul dengan tidak mempengaruhi kerja sistem secara keseluruhan. 3. Mempermudah dalam pemasangan, pemeriksaan, pengoperasian dan perbaikan. 4. Jika ada gangguan pada satu kelompok, maka kelompok lain tetap tidak akan terpengaruh gangguan tersebut. Untuk lebih jelasnya, uraian pembagian kelompok beban untuk bangunan ini dapat dilihat di rekapitulasi daya. 3.9 Catu Daya Cadangan ( GENSET ) Genset di sini yang digunakan adalah dengan cara metoda quick starting, yaitu pada saat PLN mati genset langsung beroperasi tidak mengalami proses pemanasan terlebih dahulu. Diesel ini dihubungkan satu poros dengan genset. Pada diesel dan generator tersebut terdapat pemanas kira-kira pada suhu (25-50) 0 C yaitu oli pada heater tersebut. Dan kelembaban generator ini tidak tinggi. 46

BEBAN A KT KG B AMF A Battery Charging PLN ACCU Disesel Engine G Cara kerja rangkaian di atas adalah: Dalam keadaan normal yaitu beban disuplai oleh PLN, arus akan mengalir sebagai berikut. Dari meter PLN-Titik A-Switch KT (on)-titik B-Load. Dalam keadaan darurat yaitu PLN off (KT off), secara otomatis AMF memerintahkan diesel untuk start dan dalam waktu ± 8 sec. Generator mengeluarkan tegangan (voltage), secara otomatis pula switch KG on. Sekarang beban disuplai dari genset. Apabila PLN on kembali, ± 30 sec. AMF memerintahkan KG off dan setelah itu meng-on-kan KT, tetapi genset masih running. Apabila PLN dalam waktu ± 120 sec tidak off lagi, maka genset stop. Semuanya akan bekerja secara otomatis. 47