PERANCANGAN AWAL SCALE MODEL GLIDER STTA-25-02_SAILPLANE

dokumen-dokumen yang mirip
DAFTAR ISI. Hal i ii iii iv v vi vii

ANALISA EFEKTIVITAS SUDUT DEFLEKSI AILERON PADA PESAWAT UDARA NIR AWAK (PUNA) ALAP-ALAP

BAB III PERANGKAT LUNAK X PLANE DAN IMPLEMENTASINYA

KAJIAN PENENTUAN INCIDENCE ANGLE EKOR PESAWAT PADA Y-SHAPED TAIL AIRCRAFT

Skripsi. Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Sarjana Strata 1 (S1) Disusun Oleh: SLAMET SUTRISNO JURUSAN TEKNIK PENERBANGAN

PERANCANGAN DAN PEMBUATAN PLATFORM UAV RADIO CONTROL KOLIBRI-08v2 DENGAN MESIN THUNDER TIGER 46 PRO

DEPARTEMEN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2012

INDEPT, Vol. 4, No. 1 Februari 2014 ISSN

1 PENDAHULUAN CN-235 merupakan pesawat terbang turboprop kelas menengah

BAB III REKONTRUKSI TERBANG DENGAN PROGRAM X-PLANE

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

SIMULASI GERAK LONGITUDINAL LSU-05

BAB I PENDAHULUAN. aerodinamika pesawat terbang adalah mengenai airfoil sayap. pesawat. Fenomena pada airfoil yaitu adanya gerakan fluida yang

ANALISIS TEGANGAN PADA SAYAP HORIZONTAL BAGIAN EKOR AEROMODELLING

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Gaya-Gaya pada pesawat terbang

ANALISA AERODINAMIK PENGARUH LANDING GEAR PADA PESAWAT UDARA NIR AWAK (PUNA) ALAP-ALAP

M. MIRSAL LUBIS Departemen Teknik Mesin, Fakultas Teknik

PERANCANGAN SISTEM KENDALI MODEL FOLLOWING DINAMIKA GERAK LONGITUDINAL PADA IN-FLIGHT SIMULATOR N250-PA1 DENGAN METODE KENDALI OPTIMAL KUADRAT LINIER

ANALISA KARAKTERISTIK AERODINAMIKA UNTUK KEBUTUHAN GAYA DORONG TAKE OFF DAN CRUISE PADA HIGH SPEED FLYING TEST BED (HSFTB) LAPAN

Endang Mugia GS. Peneliti Bidang Teknologi Avionik, Lapan ABSTRACT

Peningkatan Koefisien Gaya Angkat Aerofoil Kennedy-Marsden dengan Zap Flap

Jl. Pajajaran No.219, Arjuna, Cicendo, Bandung, Jawa Barat 40174

PEMODELAN SOLAR UAV MENGGUNAKAN X-PLANE 9.70

BAB I PENDAHULUAN. bagian yang kecil sampai bagian yang besar sebelum semua. bagian tersebut dirangkai menjadi sebuah pesawat.

Tugas Akhir Bidang Studi Desain SAMSU HIDAYAT Dosen Pembimbing Dr. Ir. AGUS SIGIT PRAMONO, DEA.

SIMULASI NUMERIK PENGARUH MULTI-ELEMENT AIRFOIL TERHADAP LIFT DAN DRAG FORCE PADA SPOILER BELAKANG MOBIL FORMULA SAE DENGAN VARIASI ANGLE OF ATTACK

ANALISA AERODINAMIKA AIRFOIL NACA 0012 DENGAN ANSYS FLUENT

HORIZONTAL TAIL SIZING PESAWAT SPORT RINGAN (LSA) KAPASITAS 4 ORANG PENUMPANG

Pengujian Aerodinamika Model Uji Pesawat Udara Nir Awak dengan Empennage berjenis V-Tail. Gunawan Wijiatmoko 1), Yanto Daryanto 2)

NASKAH PUBLIKASI KARYA ILMIAH STUDI WINGLET NACA 2409 MENGGUNAKAN COMPUTATIONAL FLUID DYNAMIC (CFD)

Prosiding Seminar Nasional Hasil-Hasil PPM IPB 2016 Hal : ISBN :

UNIVERSITAS INDONESIA PENGENDALIAN GERAK LONGITUDINAL PESAWAT TERBANG DENGAN METODE DECOUPLING TESIS AGUS SUKANDI

PENGARUH BENTUK PLANFORM SAYAP TERHADAP KARAKTERISTIK TERBANG PESAWAT TAK BERAWAK YANG DILUNCURKAN ROKET

Penelitian Numerik Turbin Angin Darrieus dengan Variasi Jumlah Sudu dan Kecepatan Angin

ANALISIS AIRFOIL WING GROUND EFFECT YANG TERBANG CRUISING DAN DIPENGARUHI OLEH PERMUKAAN DENGAN MENGGUNAKAN SOFTWARE FLUENT

SIMULASI DAN PERHITUNGAN SPIN ROKET FOLDED FIN BERDIAMETER 200 mm

ANALISA AERODINAMIKA FLAP DAN SLAT PADA AIRFOIL NACA 2410 TERHADAP KOEFISIEN LIFT DAN KOEFISIEN DRAG DENGAN METODE COMPUTATIONAL FLUID DYNAMIC

BAB I PENDAHULUAN. Desain yang baik dari sebuah airfoil sangatlah perlu dilakukan, dengan tujuan untuk meningkatkan unjuk kerja airfoil

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PERHITUNGAN PARAMETER AERODINAMIKA ROKET POLYOT

ANALISA AERODINAMIKA AIRFOIL NACA 0021 DENGAN ANSYS FLUENT ABSTRAK

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. menggunakan media udara. Pengertian pesawat terbang juga dapat diartikan

ABSTRACT

PENGARUH PAYLOAD TERHADAP CLIMB PERFORMANCE HELIKOPTER SYNERGY N9

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Dalam perkembanggan dalam kedirgantaraan banyak. kasus yang menyebabkan pesawat terbang tidak efisien

PERHITUNGAN LETAK DAN PERGESERAN PUSAT GRAVITASI PESAWAT LSU-03NG UNTUK MENENTUKAN POSISI BEBAN DAN PEMBERAT

PERHITUNGAN KARAKTERISTIK AERODINAMIKA, ANALISIS DINAMIKA DAN KESTABILAN GERAK DUA DIMENSI MODUS LONGITUDINAL ROKET RX 250 LAPAN

Gambar 1.1 Skema kontrol helikopter (Sumber: Stepniewski dan Keys (1909: 36))

Bab IV Analisis dan Pengujian

ANALISA KARAKTERISTIK AERODINAMIKA UNTUK KEBUTUHAN GAYA DORONG TAKE OFF DAN CRUISE PADA HIGH SPEED FLYING TEST BED (HSFTB) LAPAN

STUDI KOMPUTASIONAL NACA 2412 PADA VARIASI SUDUT PENGGUNAAN SINGLE SLOTTED FLAP DAN FIXED SLOT DENGAN SOFTWARE FLUENT

TIME CYCLE YANG OPTIMAL PADA SIMULASI PERILAKU TERBANG BURUNG ALBATROSS Disusun oleh: Nama : Herry Lukas NRP : ABSTRAK

PERANCANGAN KONSEPTUAL PESAWAT AMPHIBI KAPASITAS 4 ORANG PENUMPANG

GAYA ANGKAT PESAWAT Untuk mahasiswa PTM Otomotif IKIP Veteran Semarang

Beban Pesawat. Dipl.-Ing H. Bona P. Fitrikananda 2013

ANALISIS BEBAN STATIK WINGLET N-219

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II PERSYARATAN DAN TARGET RANCANG BANGUN SISTEM REKONSTRUKSI LINTAS TERBANG PESAWAT UDARA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Gaya-Gaya pada pesawat terbang

Desain pesawat masa depan

Studi Eksperimental tentang Karakteristik Turbin Angin Sumbu Vertikal Jenis Darrieus-Savonius

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

PENELITIAN DAN RANCANGAN OPTIMAL TURBIN PENGGERAK TEROWONGAN ANGIN SUBSONIK SIRKUIT TERBUKA LAPAN

BAB IV RANCANG BANGUN SISTEM REKONSTRUKSI LINTAS TERBANG PESAWAT UDARA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. menggunakan media udara. Pengertian pesawat terbang juga dapat diartikan

BAB 10. STABILITY & CONTROL STABILITAS STATIS & DINAMIS

PENGARUH KETIDAKLURUSAN DAN KETIDAKSIMETRISAN PEMASANGAN SIRIP PADA PRESTASI TERBANG ROKET RX-250-LPN

SKRIPSI Skripsi Yang Diajukan Untuk Melengkapi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Teknik EKAWIRA K NAPITUPULU NIM

RIZKAR FEBRIAN. 1, SUWANDI 2, REZA FAUZI I. 3. Abstrak

UJI LAYAR RC-MODEL KAPAL BERSAYAP KONFIGURASI SAYAP DAN STEP BERBEDA

BAB IV ANALISIS PRESTASI TERBANG FASA TAKE-OFF DAN CLIMB

KAJIAN PENGARUH ARAH SERAT KOMPOSIT PADA SAYAP HSFTB V2 BERDASARKAN GAYA AERODINAMIKA

BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB II PROFIL UMUM BALAI KALIBRASI FASILITAS PENERBANGAN (BKFP) 2.1. Latar Belakang Balai Kalibrasi Fasilitas Penerbangan (BFKP)

NASKAH PUBLIKASI STUDI CFD ALIRAN UDARA DISEKELILING WING NACA0015 YANG DILENGKAPI SPLIT FLAP

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

ANALISIS AERODINAMIKA SUDUT DEFLEKSI SPOILER PESAWAT TERBANG

BAB I PENDAHULUAN. pikiran terlintas mengenai ilmu mekanika fluida, dimana disitu terdapat

UPN "VETERAN" JAKARTA

PEMODELAN SISTEM DAN ANALISIS KESTABILAN DINAMIK PESAWAT UAV (MODELING SYSTEM AND DYNAMIC STABILITY ANALYSIS OF UAV)

Uji Analisis Pengaruh Variasi Sudut Winglet Terhadap Lift dan Drag Menggunakan Wind Tunnel. Arif Fiyanto NIM :

PERANCANGAN DAN PEMBUATAN TURBIN ANGIN SUMBU HORIZONTAL TIGA SUDU BERDIAMETER 3,5 METER. Adi Andriyanto

STUDI NACA 0024 DAN 2624 SEBAGAI MEKANISME PENGGERAK KAPAL KECIL (BOAT) 12,2 M DENGAN MENGGUNAKAN ENERGI GELOMBANG AIR LAUT

Desain dan Implementasi Automatic Flare Maneuver pada Proses Landing Pesawat Terbang Menggunakan Kontroler PID

BAB 8. AERODINAMIKA, GEOMETRI SAYAP DAN EKOR

BAB II LANDASAN TEORI

FakultasTeknologi Industri Institut Teknologi Nepuluh Nopember. Oleh M. A ad Mushoddaq NRP : Dosen Pembimbing Dr. Ir.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PERUBAHAN DISTRIBUSI TEKANAN AEROFOIL AKIBAT PENGARUH VARIASI SUDUT SERANG

Perancangan dan Implementasi Kontroler PID Optimal Untuk Tracking Lintasan Gerakan Lateral Pada UAV(Unmanned Aerial Vehicle)

ANALISA PENGARUH SUDUT PITCH, UNTUK MEMPEROLEH DAYA OPTIMAL TURBIN ANGIN LPN-SKEA 50 KW PADA BEBERAPA KONDISI KECEPATAN ANGIN

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pesawat tanpa awak atau pesawat nirawak (Unmanned Aerial Vehicle atau disingkat UAV), adalah sebuah mesin

ANALISA AERODIN AMIKA KEN DALI CANARD ROKET RKX 250

Transkripsi:

PERANCANGAN AWAL SCALE MODEL GLIDER STTA-25-02_SAILPLANE Hendrix N.F 1, Buyung Junaidin 2, M. Fatha Mauliadi 3 Prodi Teknik Penerbangan Sekolah Tinggi Teknologi Adisutjipto Jalan Janti Blok R Lanud Adisutjipto, Yogyakarta 1 firmasnyah.hendrix@gmail.com 3 m.fathamauliadi@gmail.com Abstract The knowledge and experience in aircraft design, especially for glider or sailplane are very important to have. Today, process of designing glider developed so rapidly, especially in America and Europe, one of the significant achievement is the performance aspect of glider. For example, the German-built Eta has a wingspan 30.78 m, aspect ratio 51 and wing loading 50.97 kg/m2, with glide angle of 0.8 degree and 3 km altitude, the glider able to fly 213 km in horizontal direction. Therefore, as the first step to understand the preliminary design of glider, it is important to start with designing a scale model glider STTA-25-02_Sailplane. The goals of this design are to get geometry and configuration of the glider, to obtained stability of glider and to gain performance data that meet with design requirements and objectives data (DR&O). The conclusions from the preliminary design of scale model glider STTA-25-02_Sailplane are the geometry and configuration are good, for example the achivement in performance, the minimum sink rate 0.52 m/s, the glide ratio more than 20 at a cruising speed over 13 m/s, stall speed 11.45 m/s at angle of attack 0 degree. In addition glider STTA- 25-02_Sailplane has static and dynamic stability, the static stability condition is indicated by the value of trim angle is positive 1 degree, curve of Cmα and Clβ has negative slope, Cnβ curve has positive slope. The dynamic stability condition is indicated by the eigen value for each mode of movement are negative except on phugoid and spiral mode, eigen value for short period -5.7681 ± 7.0010, phugoid 0.0403 ± 1.1136, rool damping -32.6243, dutch roll -1.0468 ± 3.4891 and spiral 0.1467. Positive eigen value on phugoid and spiral mode can be solved by adding a control parameter of the control surfaces. Keywords: Performance, Preliminary design, Scale model sailplane, Stability JURNAL ANGKASA 87

Hendrix N.F, Buyung Junaidin, M. Fatha Mauliadi Abstrak Wawasan serta pengalaman dalam proses perancangan pesawat khususnya pesawat glider (sailplane) penting untuk dimiliki. Hingga saat ini proses perancangan pada pesawat glider berkembang begitu pesat khususnya di Amerika dan Eropa, salah satu capaian yang cukup signifikan adalah dari aspek prestasi terbang. Sebagai contoh, glider Eta buatan jerman memiliki bentang sayap 30.78 m, nilai aspect ratio 51 dan wing loading 50.97 kg/m 2, dengan sudut gliding 0.8 0 dari ketinggian 3 km, glider mampu terbang sejauh 213 km. Dengan demikian maka sebagai langkah awal dalam upaya memahami konsep perancangan pesawat glider maka penting untuk memulai dari langkah kecil yaitu merancang scale model glider STTA-25-02_Sailplane. Adapun tujuan akhir dari perancangan ini adalah mendapatkan data geometri dan konfigurasi yang optimal, memperoleh data kestabilan yang baik serta mendapatkan data prestasi terbang yang sesuai dengan data design requirement & objective (DR&O). Kesimpulan yang diperoleh dari hasil analisis scale model glider STTA-25-02_Sailplane memiliki geometri dan konfigurasi yang cukup baik. Hal ini terbukti dengan nilai prestasi terbang untuk minimum sink rate 0.52 m/s, glide ratio lebih dari 20 pada kecepatan terbang diatas 13 m/s, stall speed 11.45 m/s pada sudut serang 0 0. Selain itu glider STTA-25-02_Sailplane memiliki kestabilan terbang statik dan dinamik, hal ini ditunjukkan dengan nilai sudut trim (trim angle) positif yaitu 1 0, slope dari kurva Cmα dan Cl β negatif, slope kurva Cn β positif serta nilai eigen value untuk setiap mode pergerakan bernilai negatif kecuali pada mode gerak phugoid dan spiral, nilai short period -5.7681± 7.0010, phugoid 0.0403± 1.1136, rool damping -32.6243, dutch roll -1.0468± 3.4891 dan spiral 0.1467. Nilai positif pada mode gerak phugoid dan spiral dapat diatasi dengan menambahkan parameter kontrol dari permukaan kendali (control surfaces). Kata kunci: Kestabilan terbang, Perancangan, Performa, Scale model sailplane 1. Pendahuluan Keinginan untuk terbang layaknya seekor burung telah lama dipikirkan oleh manusia sehingga menggerakkan mereka untuk melakukan berbagai ekperimen dan percobaan untuk mewujudkan hal tersebut. Dimulai dari keberhasilan ilmuan muslim Abbas Ibnu Firnas pada tahun 852 M, setelah ia melakukan percobaan terbang dengan prototipe pesawat glidernya. Capaian tersebut diakui pula oleh sejarawan barat, Philip K Hitti dalam bukunya History of the Arabs, ia menyebutkan, Ibnu Firnas adalah manusia pertama dalam sejarah yang melakukan percobaan ilmiah untuk melakukan penerbangan. Setelah itu pada abad ke-15 Leonardo da Vinci membuat sketsa sebuah mesin terbang yang diberi nama Ornithopter, namun belum diketahui kemampuan terbang dari alat tersebut. Pada tahun 1891, seorang ilmuan Jerman, Otto Lilienthal sukses melakukan penerbangan glider yang terdokumentasi, sehingga ia dijuluki sebagai The Glider King, raja glider. Kesuksesan Otto Lilienthal diikuti pula oleh Wright Brother, pada tahun 1903 berhasil menerbangkan glider terbaiknya dengan menambahkan sebuah engine (mesin pendorong). Dimulai pada tahun 1906, olahraga glider berkembang sangat pesat. Hal ini didukung oleh pembuktian ilmiah yang dilakukan oleh Austrian Robert Kronfeld bahwa thermal lift (gaya angkat termal) dapat dimanfaatkan untuk menambah ketinggian glider. Hingga sekarang glider banyak dimanfaatkan untuk kejuaraan, latihan terbang untuk calon penerbang militer maupun sipil dan sebagai sarana rekreasi udara. Dengan mengacu kepada fakta sejarah dan kondisi terkini yang telah dipaparkan di atas maka diperlukan adanya upaya untuk mengembangkan teknologi penerbangan khususnya pesawat glider di Indonesia. Hal ini bisa dilakukan dari langkah yang sederhana yakni melakukan perancangan sebuah model berskala atau scale model glider, sehingga dapat dipahami bagaimana konsep perancangan dari pesawat glider. Adapun tujuan dari proses perancangan ini adalah untuk memperoleh data geometri dan konfigurasi dari glider 88 VOLUME VIII, NOMOR 2, NOVEMBER 2016

Perancangan Awal Scale Model Glider STTA-25-02_Sailplane rancangan, mendapatkan data kestabilan terbang serta mendapatkan data prestasi terbang yang sesuai dengan data DR&O (design requirement & objective) yang telah ditetapkan. 2. Metode Penelitian 2.1 Tinjauan Umum Perancangan Scale model glider STTA-25-02_Sailplane dalam perancangan sebenarnya merupakan jenis hight performance glider dengan 2 seat dan panjang span 25 m. Pengambilan nama STTA-25-02_Sailplane diambil dari nama lembaga pendidikan dimana penulis pernah menimba ilmu yaitu STTA Yogyakarta (Sekolah Tinggi Teknologi Adisutjipto), angka 25 bermakna glider yang dirancang memiliki panjang bentang sayap 25 m, angka 02 bermakna terdapat 2 seat posisi tandem, dan istilah sailplane menunjukkan istilah selain glider yang sering digunakan dalam istilah manufaktur untuk menyatakan jenis glider yang didesain untuk dapat terbang secara efisien dan mampu meningkatkan ketinggian terbangnya hanya dengan memanfaatkan gaya-gaya alam seperti thermal dan ridge wave. 2.2 Obyek Perancangan Obyek perancangan yang menjadi fokus dalam jurnal ilmiah ini adalah menghasilkan rancangan awal dari model berskala (scale model) glider STTA-25-02_Sailplane. Dimulai dari tahap penentuan konfigurasi dan geometri, hingga tahapan pemodelan dan pengujian model, sehingga diperoleh data performa hasil pengujian yang sesuai dengan DR&O (Design Requirement & Objective). 2.3 Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode studi literatur. Untuk itu dibutuhkan sumber-sumber data dan materi yang dapat dipertanggungjawabkan kevalidannya. Berikut beberapa sumber yang digunakan: 1. Dokumen resmi FAA -Glider Flying Handbook-, sebagai sumber dasar teori terkait materi glider. 2. Brosur resmi manufaktur glider, sebagai sumber data geometri dari glider pembanding. 3. Buku atau E-book, sebagai referensi dalam proses perancangan awal dari glider STTA- 25-02_Sailplane. 4. Website resmi, sebagai sumber data tambahan. 2.4 Perangkat Lunak yang Digunakan Berikut perangkat lunak yang digunakan dalam perancangan scale model glider STTA- 25-02_Sailplane: 1. CATIA V5: membantu dalam melakukan pemodelan dan melihat propertis dari glider rancangan. 2. XFLR5: membantu dalam melakukan analisis prestasi dan kestabilan terbang dari glider rancangan. Software ini digunakan juga oleh LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) dalam proses analisis pesawat UAV (unmanned aerial vehicle). 2.5 Tahapan Perancangan Tahapan perancangan disusun dalam bentuk bagan alur (flow chart) sebagaimana gambar 1 berikut: JURNAL ANGKASA 89

Hendrix N.F, Buyung Junaidin, M. Fatha Mauliadi Tidak Mulai Kajian Pesawat Pembanding Menyusun DR&O Menentukan Geometri dan Konfigurasi Pemodelan dan Pengujian Model Hasil Pengujian Model Hasil Uji Sesuai dengan DR&O? Ya Data Geometri, Konfigurasi, Prestasi dan Kestabilan Terbang Selesai Gambar 1. Diagram Alir Proses PerancanganScale model glider STTA-25-02_SP 3. Hasil dan Pembahasan 3.1 Data DR&O (Design Requirement & Objective) Berikut data DR&O yang menjadi acuan dalam proses perancangan scale model glider STTA-25-02_Sailplane. Tabel 1. Data DR&O dariscale model glider STTA-25-02_Sailplane Parameter Keterangan/ Nilai Aspek Geometri Bentang Sayap (Span) 3 m Aspek Konfigurasi Posisi Sayap (Wing) Mid-Wing Konfigurasi Ekor (Tail) T-Tail Aspek Prestasidan Kestabilan Stall speed & cruise speed 12m/s & 20 m/s Minimum Sink Speed 1.0 m/s Glide Ratio (L/D) 20 Trim angle positif; C Kestabilan Statik (Static Stability) mα negatif ; Cl β negatif ; Cn β positif Nilai eigenvalue negatif untuk Short Kestabilan Dinamik (Dinamic period, Phugoid, Roll damping, Dutch Stability) roll dan Spiral AspekStruktur Material Utama Composite Fiberglass 90 VOLUME VIII, NOMOR 2, NOVEMBER 2016

Perancangan Awal Scale Model Glider STTA-25-02_Sailplane 3.2 Data Pesawat Pembanding Berikut data glider pembanding yang digunakan sebagai referensi dalam perancangan. Parameter Tabel 2. Data Geometri dari Glider Pembanding Nama Glider Discus 2b Ventus 2cx DG-600 M Cirrus Discus ASW-28 Nimbus 4D Duo Discus T Wing Span, b (m) 4 4.8 4.8 4.5 4.3 4.09 4 4 FuselageLength, f (m) 1.8 1.8 1.83 1.73 1.88 1.5 1.36 1.7 Wing Area, S (m 2 ) 0.71 0.82 0.82 0.81 0.87 0.674 0.45 0.67 Wing Loading (kg/m 2 ) 8 7.8 6.2 7.4 6.3 6.68 6.2 6.2 Flying Mass (kg) 5,7 6,4 5,0 6,0 5,7 4,0 2,8 4,2 Aspect ratio 22.54 28.10 28.10 25.00 21.25 24.82 35.56 23.88 Sumber: http://www.icare-rc.com, diakses tanggal 20 Juni 2016 Parameter Tabel 3. Data Geometri dari Glider Pembanding Nama Glider ASW 28-18 DG-1000 FG Nimbus 4D ASH-26 DG-600 Nimbus 4 Duo Discus Wing Span, b (m) 3 3.7 3.3 3 3 2.6 2.5 Fuselage Length, f (m) 1.09 1.58 1.18 1.16 1.45 0.78 1.18 Wing Area, S (m 2 ) 0.31 0.53 0.327-0.58-0.277 Wing Loading (kg/m 2 ) 4.8 6.6 4.6-5.1-4.3 Flying Mass (kg) 1,5 3,5 1,5 2,2 3,0 1,2 1,2 Aspect ratio 29.03 25.83 33.30-15.52-22.56 Sumber: http://www.icare-rc.com, diakses tanggal 20 Juni 2016 3.3 Menentukan Nilai Berat Total Metode yang digunakan dalam menentukan berat awal dari glider rancangan adalah metode regresi linier, sehingga didapat nilai berat total yang sesuai. Gambar 2. Grafik Regresi Linier dari Scale model glider JURNAL ANGKASA 91

Hendrix N.F, Buyung Junaidin, M. Fatha Mauliadi Sebagai nilai awal dari glider rancangan untuk scale model, penulis menggunakan persamaan regresi pada gambar 2 di atas. Berdasarkan DR&O bahwa panjang bentang sayap untuk pesawat rancangan yaitu 3 meter, dari data glider pembanding diperoleh nilai rata-rata aspect ratio (AR) yaitu 25.81, maka diperoleh nilai awal untuk luasan sayap yaitu 0.35 m. Sehingga nilai massa total untuk glider rancangan sebesar 1.77 kg (17.346 N). 3.4 Menentukan Geometri Glider Rancangan A. Geometri Fuselage a. Panjang fuselage Gambar 3. Grafik Regresi Linier dari Scale model glider Dengan menggunakan persamaan regresi gambar 3 di atas, diperoleh nilai panjang fuselage yaitu 1.20 m. b. Dimensi kokpit Untuk glider sebenarnya rata-rata nilai tinggi kokpit dari seat menuju kanopi sebesar 0.9 m dan lebar ruang untuk pilot sebesar 0.7 m. Jadi untuk tinggi dan lebar total kokpit masing-masing sebesar 1.20 m dan 0.8 m. Adapun untuk scale model gliderdiambil nilai 12%, sehingga nilai masing-masing menjadi 0.144 m dan 0.096 m. B. Geometri Sayap a. Airfoil Airfoil yang digunakan dalam perancangan scale model glider STTA-25-02_Sailplane adalah airfoil dengan tipe Selig yaitu S3420. Airfoil ini dipilih dengan beberapa pertimbangan antara lain nilai Cl tinggi pada sudut serang 0 0, nilai (Cl/Cd) maks tinggi dan sudut stall yang tinggi. Berikut tampilan airfoil S4320. Gambar 4. Tampilan Airfoil S4320 Sumber: http://airfoiltools.com/, diakses tanggal 23 Juni 2016 b. Planform Sayap Planform sayap yang diadopsi dalam perancangan ini adalah planform sayap Arcus. Berikut data beberapa parameter planform sayap Arcus. 92 VOLUME VIII, NOMOR 2, NOVEMBER 2016

Perancangan Awal Scale Model Glider STTA-25-02_Sailplane Tabel 4. Data Planform Sayap Arcus Paramater Keterangan Wing Span, b (m) 3 Wing Area, S (m 2 ) 0.362 Aspect ratio, AR 24.83 Taper ratio, λ 3.085 Root-Tip Sweep (deg) 2.462 MAC (m) 0.127 C. Geometri Empennage a. Airfoil Karakteristik airfoil untuk ekor vertikal dan horisontal adalah airfoil simetris yaitu jenis airfoil tipis (thin airfoil) untuk mengurangi induce drag, sehingga dalam hal ini dipilih airfoil NACA 0006 yaitu airfoil dengan ketebalan 6% dari panjang chord. b. Geometri Empennage Dalam menentukan geometri empennage dapat diperoleh dengan persamaan berikut (Raymer, 1992). cvt bws w SVT (1) L S b c c VT C S HT w w (2) HT LHT tail root AR S (3) tail tail 2 Stail b (1 ) ctip croot (5) Berikut data geometri empennage dari scale model glider STTA-25-02_Sailplane yang diperoleh dengan menggunakan persamaan di atas. Tabel 5. Data Geometri Empennage Keterangan Parameter Vertical tail Horizontal Tail Area, S (m 2 ) 0.030 0.032 Span, b (m) 0.246 0.565 Aspect ratio, AR 2 10 Taper ratio, λ 0.6 0.5 Chord Root 0.154 0.075 Chord Tip 0.092 0.038 (4) JURNAL ANGKASA 93

Hendrix N.F, Buyung Junaidin, M. Fatha Mauliadi D. Geometri Permukaan Kendali (Control Surface) a. Aileron Dengan mengacu kepada kurva aileron guideline penulis menentukan persentase span untuk aileron yaitu 50%, sehingga di dapat nilai persentase aileron chord sebesar 18%. Sehingga diperoleh panjang span total untuk aileron yaitu 1.5 m, seperti terlihat pada kurva berikut. Gambar 5. Aileron Guideline persentase Chord vs. Persentase Span (Raymer, 1992) b. Elevator dan Rudder Untuk elevator dan rudder dapat ditentukan persentase chord antara 25% sampai dengan 50%, dalam hal ini penulis mengambil nilai untuk chord yaitu 30% dan span untuk elevator dan rudder yaitu 100% (Raymer, 1992). 3.5 Data Geometri Dari Scale Model Glider STTA-25-02_Sailplane Berikut hasil pemodelan dan data geometri dari scale model glider STTA-25-02_Sailplane. Gambar 6. Pemodelan glider rancangan menggunakan Catia V5 94 VOLUME VIII, NOMOR 2, NOVEMBER 2016

Perancangan Awal Scale Model Glider STTA-25-02_Sailplane Tabel 6. Data geometri dari scale model glider STTA-25-02_Sailplane Komponen Parameter Keterangan / Nilai Wing Span, b (m) 3 Wing Area, S (m 2 ) 0.362 Aspect ratio, AR 24.830 Sayap (wing) Taper ratio, λ 3.085 Root-Tip Sweep (deg) 2.462 MAC (m) 0.127 Airfoil S4320 Sudut Pasang 3 0 Panjang,f (m) 1.2 Tinggi kokpit (m) 0.144 Badan Glider (fuselage) Lebar kokpit (m) 0.096 V-Tail momen arm (m) 0.63 H-Tail momen arm (m) 0.69 Span Vertical tail (m) 0.246 Span Horizontal tail (m) 0.565 VT Chord Root (m) 0.154 VT Chord Tip (m) 0.092 Empennage HT Chord Root( m) 0.075 HT Chord Tip (m) 0.038 Vertical tail Area (m) 0.030 Horizontal tail Area (m) 0.032 Sudut Pasang HT -4 0 Airfoil Naca 0006 Aileron Span (% Wing Span) 50 Control Surfaces Aileron Chord (% Wing Chord) 18 Elevator & Rudder Span (% Tail Span) 100 Elevator & Rudder Chord (%Tail Chord) 30 3.6 Data Prestasi Terbang Dari Scale Model Glider STTA-25-02_Sailplane Dalam proses analisis prestasi dan kestabilan terbang, software yang digunakan yaitu XFLR5. Beberapa parameter yang di-input-kan dalam proses analisis antara lain, data berat total yang diperoleh dengan menggunakan pendekatan densitas material yang dipakai dalam perancangan yaitu sebesar 1.714 kg termasuk penambahan beberapa komponen. Berikut rangkuman data prestasi terbang dari glider rancangan. Tabel 7. Data prestasi terbang dari glider rancangan Parameter Prestasi Stall speed AoA=3 0 AoA=0 0 Sink speed Vstall 10 m/s Kecepatan maksimum 20 m/s Glide ratio (CL/CD) Cruise speed: 10 m/s Cruise speed 13 m/s Cruise speed: 20 m/s Gaya angkat (lift) Vstall :11.45 m/s Vmaks : 20 m/s Keterangan 9,37 m/s 11.45 m/s 0.52 m/s 0.7 m/s 0.46 m/s 16.54 20 25.05 17.6 N 53 N JURNAL ANGKASA 95

Hendrix N.F, Buyung Junaidin, M. Fatha Mauliadi 3.7 Data prestasi terbang dari scale model glider STTA-25-02_Sailplane Dengan menetapkan posisi center of gravity yaitu pada koordinat X_CoG = 0.035, Y_CoG = 0.000 dan Z_CoG = 0.0004 dan posisi datum tepat di leading edge sayap, maka setelah dilakukan analisis dengan software XFLR5 didapat data kestabilan terbang dari glider rancangan seperti pada tabel 8 berikut. Tabel 8. Data kestabilan terbang dari glider rancangan Parameter KestabilanTerbang Keterangan Statik longitudinal Sudut trim (trim angle) positif : 1 0 Statik lateral-direksional Kurva Cl β negatif; kurva Cn β positif Mode gerakshort period: Dinamik longitudinal -5.7681± 7.0010 Mode gerakphugoid: 0.0403± 1.1136 Mode gerakroll damping: -32.6243 Mode gerakdutch roll: Dinamik lateral-direksional -1.0468± 3.4891 Mode gerakspiral: 0.1467 3.8 Tinjauan Nilai Prestasi dan Kestabilan Terbang Setelah data prestasi terbang didapatkan, maka langkah selanjutnya adalah membandingkan data prestasi dengan data design requirement & objective (DR&O). Untuk mengetahui apakah glider rancangan telah memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan pada awal perancangan. Berikut tabel perbandingan dari kedua data tersebut. Tabel 9. Tinjauan Data DR&O dan Data Prestasi Parameter Prestasi Data DR&O Data Prestasi Keterangan 12m/s & 20 9.37 m/s (Alpha: 3 Stall speed & cruise speed 0 ) Syarat m/s 11.45 m/s (Alpha: 0 0 ) terpenuhi 0.52 m/s (Vstall) Syarat Minimum Sink Speed 1.0 m/s 0.7 m/s (V= 10m/s) terpenuhi 0.46 m/s (V= 20 m/s) Glide Ratio (L/D) 20 Kestabilan Statik longitudinal Statik lateraldireksional Dinamik longitudinal Dinamik lateral 16.54(V=10 m/s) 20 (V 13 m/s) 25.05 (V = 20 m/s) 26.301 (V=20 m/s; trimangle=1 0 ) Sudut trim positif: 1 0 Cl β <0 dan Cn β >0 Short period: -5.7681± 7.0010 Phugoid: 0.0403± 1.1136 Roll damping: -32.6243 Dutch roll: -1.0468± 3.4891 Spiral: 0.1467 Syarat terpenuhi Syarat terpenuhi Syarat terpenuhi Syarat belum terpenuhi Syarat belum terpenuhi Keterangan: Kestabilan terbang pada matra longitudinal maupun lateral-direksional secara umum dapat dikatakan stabil meskipun pada mode gerak phugoid dan spiral nilai eigen value masih positif. Kondisi ketidak stabilan ini dapat diatasi dengan melibatkan pengaruh permukaan kendali (control surfaces) untuk mengembalikan kondisi terbang glider menuju kestabilan. 96 VOLUME VIII, NOMOR 2, NOVEMBER 2016

Perancangan Awal Scale Model Glider STTA-25-02_Sailplane 4. Penutup 4.1 Kesimpulan 1. Data geometri dan konfigurasi dari scale model glider STTA-25-02_Sailplane berdasarkan hasil analisis aerodinamika menggunakan perangkat lunak XFLR5 didapat karakteristik aerodinamika yang baik, yang ditunjukkan dengan distribusi koefisen pressure dan koefisien lift yang cukup baik. 2. Secara umum kestabilan terbang dari scale model glider STTA-25-02_Sailplane dapat dikatakan cukup baik. Pada kondisi kestabilan statik glider rancangan memiliki trim angle positif 1 0, slope dari kurva Cl β negatif dan kurva Cn β positif. Sedangkan pada kondisi kestabilan dinamik diperoleh nilai eigen value negatif untuk mode gerak short period, roll damping dan dutch roll, hanya pada mode gerak phugoid dan spiral nilai eigen value yang diperoleh positif. Untuk beberapa mode pergerakan terbang dengan nilai positif dapat diatasi dengan adanya peran pilot dalam menggunakan control surfaces. 3. Prestasi terbang dari glider rancangan secara umum telah memenuhi persyaratan data DR&O (design requirement & objective) yang telah ditetapkan pada awal perancangan. 4.2 Saran 1. Metode yang digunakan dalam analisis performa dan kestabilan yaitu VLM (Vortex Lattice Methode) yang merupakan metode yang sederhana, untuk mendapatkan nilai prestasi terbang dengan tingkat akurasi yang lebih tinggi dapat menggunakan software fluent ataupun Ansys. 2. Analisis kestabilan terbang belum melibatkan control surfaces, sehingga penelitian berikutnya dapat dilanjutkan dengan menambah parameter tersebut. 3. Dalam proses manufaktur perlu dipertimbangkan aspek jumlah rib pada sayap karena kondisi sayap dengan banyak rib akan cukup sulit dalam proses pembuatannya. Daftar Pustaka Anonim, 2013, Glider Flying Handbook, U.S. Department of Transportation Federal Aviation Administration Anonim, data airfoil, http://airfoiltools.com/, diakses tanggal 23 Juni 2016 Anonim, data RC scale model glider, http://www.icare-rc.com, diakses tanggal 20 Juni 2016 Gudmundsson, 2013, General Aviation Aircraft Design: Appendix C4: Design of Sailplanes, Elsevier,inc. Raymer. Daniel P, 1992, Aircraft Design: A Conceptual Approach, American Institute of Aeronautics and Astronautics, Inc., Wahington, DC JURNAL ANGKASA 97

Hendrix N.F, Buyung Junaidin, M. Fatha Mauliadi 98 VOLUME VIII, NOMOR 2, NOVEMBER 2016