Data aspek biofisik-kimia perairan terdiri dari :

dokumen-dokumen yang mirip
VII NILAI EKONOMI SUMBERDAYA EKOSISTEM LAMUN

BAB III METODE PENELITIAN

METODE PENELITIAN. hutan mangrove non-kawasan hutan. Selain itu, adanya rehabilitasi hutan

III. METODE PENELITIAN. Penelitian telah dilaksanakan di Desa Margasari, Kecamatan Labuhan Maringgai,

VI ANALISIS DPSIR DAN KAITANNYA DENGAN NILAI EKONOMI

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

VALUASI EKONOMI SUMBERDAYA RUMPUT LAUT DI KOTA PALOPO

3 METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan waktu penelitian 3.2 Metode Pengumpulan Data

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

KERANGKA PEMIKIRAN P 1 0 Q 1. Kurva Opportunity Cost, Consumers Surplus dan Producers Surplus Sumber : Kahn (1998)

VALUASI EKONOMI OLEH : NOVINDRA

III. KERANGKA PEMIKIRAN. Contingent Valuation Method (CVM), eksternalitas, biaya produksi dan metode

TUJUAN, TAHAPAN PELAKSANAAN DAN PENDEKATAN VALUASI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Ekonomi Lingkungan. manusia dalam memanfaatkan lingkungan sedemikian rupa sehingga

TINJAUAN PUSTAKA. kemampuan untuk tumbuh dalam perairan asin. pada iklim tropis dan sub tropis saja. Menurut Bengen (2002) hutan mangrove

II. TINJAUAN PUSTAKA. ekonomi. Dapat juga dikatakan bahwa sumberdaya adalah komponen dari

3. METODOLOGI PENELITAN

DAFTAR ISI. Halaman DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN... I. PENDAHULUAN Latar Belakang...

BAB III. METODE PENELITIAN

METODE VALUASI EKONOMI SUMBERDAYA ALAM

METODE PENILAIAN EKONOMI SUMBERDAYA KAWASAN

METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Metode Penelitian Metode Pengambilan Sampel

IV. METODE PENELITIAN. Penelitian ini mengambil lokasi di Jalan Raya Kasomalang Kabupaten

Contingent Valuation Method (CVM)

III. KERANGKA PEMIKIRAN

BAB III METODA PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. sektor lain untuk berkembang karena kegiatan pada sektor-sektor lain

APLIKASI CONTINGENT CHOICE MODELLING (CCM) DALAM VALUASI EKONOMI TERUMBU KARANG TAMAN NASIONAL KARIMUNJAWA FAZRI PUTRANTOMO

IV. METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif yang berfokus

ANALISIS WILLINGNESS TO ACCEPT. 7.1 Analisis Willingness To Accept dengan Pendekatan Metode Contingent Valuation Method

METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di daerah hulu dan hilir Sungai Musi, yang

Community and Economic Valuation of Ecosystems Seagrass Regional Conservation Area in the Malang Rapat Village Bintan regency of Riau Islands

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

4. METODE PENELITIAN

BAB VI VALUASI EKONOMI SUMBER DAYA CIKOROMOY DENGAN TRAVEL COST METHOD

3. METODE PENELITIAN

II. TINJAUAN PUSTAKA. Ekonomi lingkungan atau ilmu ekonomi lingkungan merupakan ilmu yang

I. PENDAHULUAN. Latar Belakang

NILAI EKONOMI SUMBERDAYA RUMPUT LAUT ALAM DI PESISIR UJUNG KULON BANTEN

36 2. Menghitung kerugian ekonomi perubahan ekologi CPAD dan tambak sekitarnya akibat kenaikan muka laut 3. Mengidentifikasi upaya peningkatan resilie

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. sesuatunya yang mudah dan praktis. Peluang tersebut dimanfaatkan oleh produsen

VALUASI LINGKUNGAN. Valuasi Lingkungan (Contingent Valuation Method) 1

Valuasi Ekonomi Dalam Pengembangan Ekowisata Berbasis Sumberdaya Penyu di Kampung Baru Desa Sebong Lagoi Kabupaten Bintan

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober sampai Desember 2013.

METODE PENELITIAN. Lokasi dan Waktu Penelitian

I. PENDAHULUAN. Hutan mangrove yang dikenal sebagai hutan payau merupakan ekosistem hutan

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

Travel Cost Method (TCM) Pertemuan 10 VALUASI EKONOMI SUMBERDAYA DAN LINGKUNGAN DEPARTEMEN EKONOMI SUMBERDAYA & LINGKUNGAN 2015/2016

BAB I PENDAHULUAN. Potensi sumber daya alam Indonesia sangat melimpah, antara lain potensi

3 METODOLOGI PENELITIAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN Asumsi dalam Pendekatan Willingness to Accept Responden. nilai WTA dari masing-masing responden adalah:

METODE PENELITIAN. Cipondoh dan Kecamatan Pinang, Kota Tangerang. Penentuan lokasi sebagai

Gambar 2. Peta Kabupaten Kuningan, Jawa Barat

V ASPEK EKOLOGIS EKOSISTEM LAMUN

BAB III METODE PENELITIAN

PENILAIAN EKONOMI DAN KONSEP WTP vs WTA VALUASI EKONOMI SDAL PERTEMUAN KE /2016

KAJIAN PENGELOLAAN EKOSISTEM MANGROVE DI KELURAHAN KARIANGAU KECAMATAN BALIKPAPAN BARAT MELALUI PENDEKATAN EKONOMI

6 ASSESMENT NILAI EKONOMI KKL

ESTIMASI NILAI WILLINGNESS TO PAY BERDASARKAN CONTINGENT VALUATION METHOD TERHADAP RENCANA PENINGKATAN KUALITAS

BAB 1 PENDAHULUAN. Faktor-faktor yang..., Muhammad Fauzi, FE UI, 2010.

BAB III KERANGKA BERPIKIR DAN KONSEP PENELITIAN. Mangrove merupakan ekosistem peralihan, antara ekosistem darat dengan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB III METODE PENELITIAN

Penentuan Nilai Ekonomi Wisata

JURNAL PRAKTIKUM VALUASI EKONOMI SUMBER DAYA ALAM DAN LINGKUNGAN DATA MAHASISWA BAGIAN EKONOMI LINGKUNGAN

Analisis Kesesuaian Lahan Wilayah Pesisir Kota Makassar Untuk Keperluan Budidaya

KONSEP DASAR VALUASI EKONOMI

BAB III KERANGKA PEMIKIRAN

IV. METODOLOGI PENELITIAN

1. PENDAHULUAN Latar Belakang

CONTOH-CONTOH PERHITUNGAN VALUASI EKONOMI SUMBERDAYA

Jurnal Geodesi Undip April 2016

KERANGKA PEMIKIRAN. akan digunakan dalam penelitian ini. Tahapan-tahapan metode CVM akan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

APLIKASI CONTINGENT CHOICE MODELLING (CCM) DALAM VALUASI EKONOMI TERUMBU KARANG TAMAN NASIONAL KARIMUNJAWA FAZRI PUTRANTOMO

III. KERANGKA PEMIKIRAN

II. TINJAUAN PUSTAKA

BAB III METODE PENELITIAN

METODE VALUASI EKONOMI SUMBERDAYA LAHAN PERTANIAN

IV. METODE PENELITIAN. 4.1 Lokasi dan Waktu. dan juga berlokasi tidak jauh dari pusat kota sehingga prospek pengelolaan dan

Jurnal Geodesi Undip Januari 2016

KAJIAN EKONOMI MANFAAT HUTAN MANGROVE DI KABUPATEN BARRU

III. KERANGKA PEMIKIRAN

Pemanfaatan jenis sumberdaya hayati pesisir dan laut seperti rumput laut dan lain-lain telah lama dilakukan oleh masyarakat nelayan Kecamatan Kupang

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Kabupaten Gorontalo Utara, yang meliputi 4 stasiun penelitian yaitu:

BAB I PENDAHULUAN. yang mempunyai fungsi produksi, perlindungan dan pelestarian alam. Luas hutan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pengeringan dan pengemasan (Somantri, 2014). Salah satu jenis teh adalah teh

III. KERANGKA PEMIKIRAN

Valuasi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Ekosistem Terumbu Karang Pada Taman Nasional Kepulauan Seribu, Jakarta

Community Structure and Economic Valuation of Seagrass Bed in Aquatic of Marine Protected Area in the Berakit Village Bintan

3. METODOLOGI PENELITIAN

I. PENDAHULUAN. lain-lain merupakan sumber daya yang penting dalam menopang hidup manusia.

Jurnal Sylva Lestari ISSN Vol. 2 No. 3, September 2014 (19 28)

VALUASI EKONOMI MANGROVE DESA PEJARAKAN, KECAMATAN GEROKGAK, KABUPATEN BULELENG

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Transkripsi:

III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Pulau Waidoba, Kecamatan Kayoa Selatan, Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara dan untuk keperluan pengambilan data persentase tutupan lamun dilakukan pada 15 site yang diplotkan kedalam 5 stasiun penelitian (Gambar 5), untuk data DPSIR dan data CVM sebagian besar diperoleh melalui hasil wawancara dengan nelayan setempat yang memanfaatkan ekosistem lamun sebagai daerah penangkapan ikan dan pengambilan biota non ikan yang meliputi Desa Posi-Posi, Desa Laluin, Desa Pasir Putih, Desa Sagaole, Desa Ngute-Ngute dan Desa Orimakurunga. Selanjutnya jadwal kegiatan penelitian terdiri dari kegiatan pengambilan data primer dan data sekunder yang dimulai pada bulan Oktober sampai dengan bulan Desember 2011. 3.2 Jenis dan Sumber Data Berdasarkan sumber data, data yang di kumpulkan dalam penelitian ini berupa data primer dan data sekunder. Pengumpulan data primer di peroleh melalui pengamatan lapangan atau observasi dan wawancara dengan responden dengan menggunakan daftar pertanyaan (kuesioner). Secara khusus data primer yang diperoleh meliputi : - - - Data aspek biofisik-kimia perairan terdiri dari : - Kondisi perairan : diperoleh melalui hasil pengukuran parameter fisikakimia perairan yang meliputi suhu, salinitas, kecepatan arus, oksigen, dan ph air - Kondisi ekosistem lamun: meliputi persentase tutupan lamun, identifikasi lamun, dan luasan lamun Data DPSIR ( Driving force-pressure-state-impact-response). - Aktivitas pemanfaatan yang dilakukan oleh masyarakat, pengusaha perikanan pada ekosistem lamun - Tingkat pemahaman masyarakat terhadap ekosistem lamun Data Effect on Production (EoP) Estimasi nilai ekonomi dari fungsi dan manfaat ekosistim lamun di Pulau Waidoba

24 Gambar 5 Peta Lokasi Penelitian - Data Non Use Value (nilai bukan Manfaat) Kesediaan masyarakat dalam berpartisipasi untuk menjaga keberadaan dan kelestarian/keberlangsungan dari suatu sumber daya melalui kesediaan membayar (willingness to pay/wtp) Adapun data sekunder diperoleh dari studi literatur dan berbagai instansi terkait. Studi literatur dibutuhkan untuk membandingkan nilai ekonomi yang didapatkan dari kawasan Pulau Waidoba dengan nilai ekonomi yang didapatkan pada kawasan ekosistem lamun yang lain. Jenis dan sumber data lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 2.

25 Tabel 2 Matriks Jenis dan Sumber Data No Tujuan Metode Analisis Jenis Data 1 Mengidentifikasi aspek - Persentase Primer ekologi perairan ekosistem tutupan lamun lamun - Pengukuran Primer kualitas perairan Sumber Data Observasi Observasi 2 Mengidentifikasi aspek sosial ekonomi, DPSIR. - Sosial ekonomi : Jumlah penduduk dan mata pencarian - DPSIR : karakteristik masyarakat, bentuk dan tingkat pemanfaatan, persepsi dan pemahaman masyarakat terhadap ekosistem lamun, dan peran pemerintah. Analisis Deskriptif Analisis Kualitatif Sekunder Primer Statistik Kecamatan & KUD Khatulistiwa Responden/ Kuesioner 3 Mengestimasi nilai ekonomi - dari fungsi dan manfaat ekosistim lamun di Pulau Waidoba, Kecamatan Kayoa - Selatan, Kabupaten Halmahera Selatan. Efect on Production (EoP) Benefit Transfer - Non Use Value (CVM) Primer/ Sekunder Sekunder/ Primer Primer Responden/ Literatur Responden/ Literatur Responden/ kuesioner 3.3 Metode Pengambilan Data a. Data Ekologis Penelitian mengenai valuasi ekonomi ekosistem lamun melalui pendekatan ekologis di Pulau Waidoba Kecamatan Kayoa Selatan, Provinsi Maluku Utara membutuhkan informasi data yang lengkap dan up to date yang meliputi data primer dan sekunder, serta analisis yang tepat dan akurat. Pengumpulan data ekologis dilakukan secara langsung melalui pengukuran dan pengamatan terhadap kondisi perairan dan kondisi ekosistem lamun pada masing-masing stasiun penelitian, yaitu :

26 a. b. c. Pengukuran kualitas perairan (suhu, salinitas, kecepatan arus, oksigen terlarut, dan ph air) Pengukuran kondisi padang lamun merupakan gabungan metode Transek dan Petak Contoh (Transect Plot) dengan penentuan secara cepat persen penutupan lamun di lapangan (sumber: Marine Plant Ecology Group, northerm Fisheries Centre CAIRNS, Australia). Metode Transek dan Petak Contoh (Transect Plot) adalah metode pencuplikan contoh populasi suatu komunitas dengan pendekatan petak contoh yang berada pada garis yang ditarik melewati wilayah ekosistem lamun tersebut. Adapun langkah-langkah pengambilan data dilapangan sebagai berikut; 1 Menentukan lokasi transek yang dipilih untuk pengamatan. Setiap stasiun terdiri dari 3 transek (sub stasiun) yang ditempatkan secara vertikal atau tegak lurus ke laut, dengan panjang 50 meter. 2 Pada setiap garis transek ditempatkan kuadrat 50 x 50 cm sebanyak 5 kali mengikuti garis transek. 3 Menentukan persen penutupan lamun di lapangan. Luasan lamun dilakukan melalui bantuan GPS. b. Data DPSIR ( Driving force-pressure-state-impact-response) Pengumpulan data ini dilakukan melalui identifikasi secara langsung berdasarkan karakteristik dampak dan melalui hasil wawancara secara interview dari 60 responden. Penentuan responden dilakukan secara sengaja (purposive sampling) dengan pertimbangan bahwa responden adalah pihak-pihak yang terkait langsung dengan kegiatan pemanfaatan ekosistem dan sumberdaya lamun. c. Data Efect on Production (EoP) Pengumpulan data effect on production (EoP) melalui hasil wawancara secara interview dari 50 responden. Penentuan responden dilakukan secara sengaja (purposive sampling) dengan pertimbangan bahwa responden adalah pihak-pihak yang terkait langsung dengan kegiatan pemanfaatan ekosistem dan sumberdaya lamun. Responden diwancarai untuk mengetahui berapa besar produksi sumber daya alam yang mereka manfaatkan.

27 d. Data Nilai Bukan Manfaat ( Non Use Value) Pengumpulan data nilai bukan manfaat (non use value) menggunakan metode contingent valuation method (CVM). Responden untuk data non use value terdiri dari nilai pilihan, nilai warisan, dan nilai keberadaan. Untuk nilai pilihan (option value) responden yang berhasil diwawancarai berjumlah 75 orang, sedangkan untuk nilai warisan (bequest value) dan nilai keberdaan (existensi value) masing-masing responden berjumlah 45 orang. Penentuan responden dilakukan secara sengaja. Responden yang didapat diwancarai untuk mengetahui kesediaan membayar (willingness to pay) masyarakat terhadap ketersediaan sumber daya alam dan lingkungan di Pulau Waidoba. 3.4 Metode Analisis Data Metode analisis data yang dilakukan dalam melakukan valuasi ekonomi sumber daya alam dan lingkungan adalah sebagai berikut : 3.4.1 Analisis Ekologis Untuk mengetahui luas area penutupan lamun, digunakan Metode Saito dan Adobe (1970). Adapun metode perhitungannya adalah sebagai berikut : 1. Petak contoh yang digunakan pengambilan contoh berukuran 50 cm x 50 cm yang masih dibagi-bagi lagi menjadi 25 sub petak, berukuran 10 cm x 10 cm, petak contoh yang digunakan dapat dilihat pada Gambar 6. 2. Menentukkan persentase tutupan lamun pada tiap sub petak dan dimasukkan kedalam kelas kehadiran berdasarkan Tabel 3. Gambar 6 Petak Contoh Untuk Persentase Penutupan Lamun

28 Tabel 3 Luas Area Penutupan Jenis Lamun Kelas % Selang Kelas penutupan Area % NilaiTengah Kelas (M) 5 50 100 75 4 25 50 37,5 3 12,5 25 18,75 2 6,25 12,5 9,38 1 < 6,25 3,13 0 0 0 3. Adapun perhitungan persen penutupan lamun pada masing-masing dilakukan dengan menggunakan rumus : petak...(1) Keterangan : C = Persentase tutupan lamun ke-i (%) Mi = Nilai tengah kelas persen penutupan lamun pada tiap sub petak/plot f = Banyaknya sub petak pada persentase selang kelas penutupan jenis lamun ke-i 3.4.2 Analisis Deskriptif Analisis deskriptif adalah suatu analisis yang digunakan untuk menggambarkan perkembangan karakteristik kondisi ekonomi dan sosial tertentu dari suatu daerah. Beberapa kondisi ekonomi dan sosial yang perlu dideskripsikan misalnya, laju pertumbuhan penduduk, pertumbuhan ekonomi, gambaran sektor pendidikan, kesehatan dan sebagainya. Analisis deskriptif bertujuan untuk memberikan gambaran atau deskripsi suatu populasi. Data yang dianalisis dapat berupa data kualitatif dan data kuantitatif. Deskripsi dari lokasi sosial dan ekonomi suatu daerah bisa beragam bentuknya, bisa berupa tabulasi silang, grafik histogram dan sebagainya. Bentuk deskripsi ini dipilih sesuai dengan keperluan analisis agar tujuan penelitian ini bisa dicapai.

29 3.4.3 Analisis DPSIR Analisis mengenai pola pemanfaatan dan permasalahan yang berkaitan dengan sumberdaya padang lamun yang ada di kawasan pulau Waidoba di gambarkan secara kualitatif dengan menggunakan pendekatan Driving Force, Pressure, State, Impact and Response (DPSIR) yang merupakan pengembangan dari model analisis PSR (Pressure-State-Response) (OECD 1993 dalam Zacharias et al. 2008). Pendekatan ini didasarkan pada deskripsi tipologi usaha, jenis sumberdaya, pola pemanfaatan dan dampak sosial ekonomi yang ditimbulkan. Studi ini mengandalkan pendekatan ex-ante dimana gambaran kerangka analisis DPSIR sebelum dan setelah terjadi kerusakan pada ekosistim lamun akan digambarkan secara kualitatif melalui bantuan kuisioner yang terstruktur. Untuk mendapatkan informasi mengenai keadaan lingkungan dan hubungan antara aktivitas manusia dan kemungkinan adanya perubahan lingkungan khususnya ekosistem lamun di Pulau Waidoba dilakukan analisis DPSIR (Driving force-pressure-state-impact-response). Pendekatan ini didasarkan pada konsep rantai hubungan sebab akibat yang dimulai dengan aktivitas manusia (faktor pemicu) yang menyebabkan adanya tekanan terhadap lingkungan dan kemudian mengubah kualitas dan kuantitas sumberdaya alam hingga akhirnya mengakibatkan munculnya berbagai tanggapan masyarakat. Driving Force merupakan aktivitas manusia yang mengarah pada berbagai kegiatan-kegiatan yang dapat memberikan tekanan terhadap lingkungan. Faktor pemicu utama bagi seorang individu adalah kebutuhan, seperti kebutuhan akan tempat tinggal dan makanan. Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk, kebutuhan akan tempat tinggal menyebabkan terjadinya eksploitasi terhadap sumber daya alam. Faktor pemicu sekunder adalah kebutuhan untuk mobilitas, hiburan, budaya dan lain-lain. Pressure adalah akibat dari proses produksi atau konsumsi yang disebabkan oleh adanya faktor pemicu yakni aktivitas manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Tingkat tekanan terhadap lingkungan bergantung pada faktor pemicu dan faktor faktor lain yang berkaitan dengan interaksi manusia dan lingkungannya. Beberapa aktivitas manusia yang dapat menimbulkan pressure yaitu pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan yang berlebihan, perubahan

30 dalam penggunaan sumberdaya dan emisi (bahan kimia, limbah, radiasi, kebisingan) ke udara, air dan tanah. State adalah hasil dari pressure terhadap lingkungan di suatu kawasan. State merupakan kondisi fisik, kimia dan biologis suatu kawasan misalnya tingkat pencemaran, degradasi sumberdaya dan lain-lain. Perubahan secara fisik, kimia atau biologis yang terjadi pada sumberdaya alam dan lingkungan dalam suatu kawasan mempengaruhi kualitas ekosistem dan kesejahteraan masyarakatnya. Dengan kata lain perubahan state berdampak (impact) pada lingkungan dalam fungsinya sebagai ekosistem, kemampuan pendukung hidup ekosistem dan akhirnya berdampak pada tingkat kesehatan dan kondisi sosial ekonomi masyarakat. Response (tanggapan) masyarakat atau para pembuat kebijakan merupakan hasil dari dampak yang tidak diinginkan dan dapat mempengaruhi setiap bagian dari mata rantai hubungan sebab akibat dari faktor pemicu sampai dampak-dampak yang terjadi pada lingkungan. Response meliputi penetapan peraturan, perubahan strategi manajemen dan lain-lain. Contoh response yang dilakukan oleh nelayan dalam mengantisipasi dampak perubahan hasil tangkapan adalah dengan memodifikasi alat tangkap. Seiring dengan pandangan sistem analisis DPSIR, pengembangan sosial dan ekonomi menyebabkan mendorong terjadinya tekanan pada lingkungan, secara konsekuen terjadi perubahan pada keberadaan/kondisi lingkungan. Hal tersebut berdampak pada fungsi ekosistem. Akhirnya masyarakat memberikan responnya baik secara langsung maupun tidak lansung terhadap adanya perubahan dalam sistemnya (Gambar 7).

31 Kebijakan dan Target Aktivitas Responses Driving force Pressure Impact Polutan Kesehatan ekosistem Kualitas State Gambar 7 Kerangka DPSIR (Stanners et al 2007) 3.4.4 Analisis Valuasi Ekonomi Analisis data yang digunakan menggunakan teknik valuasi ekonomi untuk menghitung nilai total ekonomi (total economic value) dari ekosistem lamun. Nilai ekonomi total adalah nilai-nilai ekonomi yang terkandung dalam suatu sumberdaya alam, baik nilai guna maupun nilai fungsional yang harus diperhitungkan dalam menyusun kebijakan pengelolaannya sehingga alokasi dan alternatif penggunaannya dapat di tentukan secara benar dan mengenai sasaran (Nilwan et al, 2003). Total economic value dapat ditulis secara matematis (CSERGE,1994 dalam Nilwan et al, 2003): TEV = UV + NUV = (DUV+IUV+OV)+(XV+BV)... (2) dimana : TEV = Total Economic Value IUV = Indirect Use Value UV = Use Values OV = Option Value NUV = Non Use Values XV = Existence Value DUV = Direct Use Value BV = Bequest Value

32 Dalam penelitian ini, nilai-nilai yang ada di sumberdaya (use value, dan non-use value), berikut teknik valuasi yang digunakan, secara ringkas tercantum pada Tabel 4. Tabel 4 Hubungan Nilai Dengan Teknik Valuasi Yang Digunakan Nilai (Value) Teknik Valuasi A. Use Value A1. Direct Use Value - Tangkapan ikan - Tangkapan biota non ikan A2. Indirect Use Value - Fungsi pendukung biologi ekosistem lamun sebagai tempat nursery ground - Fungsi jasa lingkungan sebagai blue carbon B. Non Use Value Option Value Existence Value Bequest Value Effect on Production (EoP) Effect on Production (EoP) Benefit Tranfer Benefit Tranfer Contingent Valuation Method Contingent Valuation Method Contingent Valuation Method Sementara itu, teknik valuasi yang akan digunakan terhadap masing-masing nilai menggunakan beberapa pendekatan, yaitu effect on production (EoP) dan contingent valuation method (CVM). Uraian masing-masing teknik valuasi berikut tahapan pelaksanaannya adalah sebagai berikut : 1. Effect on Production (EoP) Pendekatan untuk menduga nilai ekosistem pesisir berdasarkan fungsinya terhadap produktivitas perikanan dikenal sebagai pendekatan effect on production (EoP). Metode yang digunakan berdasarkan kepada pendekatan hasil produksi (Effect on Production Approach, EoP) yaitu dengan mengalikan hasil produksi dan harga maka nilai manfaat langsung (benefit) dari ekosistem lamun dapat diestimasi. Berikut adalah langkah-langkah pendugaan nilai ekonomi sumberdaya berdasarkan konsumen surplus: 1. Membangun fungsi permintaan terhadap penggunaan suatu sumberdaya

33... 3 Dimana; Q = Jumlah sumberdaya yang diminta selama setahun X1 = Harga sumberdaya yang diminta X2 = Umur responden X3 = Tingkat pendidikan responden X4 = Tingkat pendapatan per tahun responden X5 = Jumlah keluarga responden 2. Mentransformasi fungsi permintaan menjadi bentuk persamaan harga linear. 4 5. 6 3. Mentransformasi kembali fungsi permintaan menjadi bentuk persamaan asal (Langkah 1) 7 4. Mentransformasi fungsi permintaan menjadi bentuk persamaan harga nonlinear... 8 5. Mengestimasi Total Kesediaan Membayar. 9 6. Mengestimasi Surplus Konsumen.... 10

34... 11 CS = U PQ....12 2. Contingent Valuation Method (CVM) Metode valuasi kontingensi digunakan untuk mengistimasi nilai ekonomi untuk berbagai macam ekosistem dan jasa lingkungan yang tidak memiliki pasar, misal keindahan. Metode ini merupakan teknik dalam menyatakan preferensi, karena menanyakan orang untuk menyatakan penilaian, penghargaan mereka. Pendekatan ini juga memperlihatkan seberapa besar kepedulian terhadap suatu barang dan jasa lingkungan yang dilihat dari manfaatnya yang besar bagi semua pihak sehingga upaya pelestarian diperlukan agar tidak kehilangan manfaat itu (Suparmoko et al, 2007). Pendekatan ini disebut contingent (tergantung kondisi) karena pada prakteknya informasi yang diperoleh sangat bergantung dari hipotesis pasar yang dibangun, misalnya: seberapa besar yang harus ditanggung, bagaimana pembayarannya, dan sebangainya. Pendekatan CVM ini secara teknis dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu: teknis eksperimental melalui simulasi dan permainan dan melalui teknik survey. Pendekatan pertama lebih banyak dilakukan dengan melalui simulasi komputer sehingga penggunaannya di lapangan sangat sedikit. Pendekatan CVM pada hakikatnya betujuan untuk mengetahui keinginan membayar (willingness to pay) dari sekelompok masyarakat, misalnya terhadap perbaikan kualitas lingkungan dan keinginan menerima (willingness to accept) dari kerusakan suatu lingkungan. Hal ini didasarkan pada asumsi mendasar mengenai hak kepemilikan, jika individu yang ditanya tidak memiliki hak atas barang dan jasa yang dihasilkan dari sumberdaya alam, pengukuran yang relevan adalah keinginan membayar yang maksimum untuk memperoleh barang tersebut. Sebaliknya, jika individu yang kita tanya memiliki hak atas sumber daya, pengukuran yang relevan adalah keinginan untuk menerima kompensasi yang paling minimum atas hilang atau rusaknya sumberdaya yang dia miliki.

35 Metode CVM merupakan metode valuasi melalui survei langsung mengenai penilaian respon secara individual dengan cara menanyakan kesediaan untuk membayar (willingness to pay) terhadap suatu komoditi lingkungan atau terhadap suatu sumberdaya non marketable. Dikatakan contingent, karena pada kondisi tersebut respon seolah-olah dihadapkan pada pasar yang sesungguhnya dimana sedang terjadi transaksi. Metode ini selain dapat digunakan untuk mengkuantifikasi nilai pilihan, nilai eksistensi dan nilai pewarisan juga dapat digunakan untuk menilai penurunan kualitas lingkungan perairan. Dalam operasionalnya untuk melakukan pendekatan CVM dilakukan lima tahapan kegiatan atau proses (Bakosurtanal, 2005) yaitu: 1. Membuat hipotesis pasar Pada awal proses kegiatan CVM, seorang peneliti terlebih dahulu harus membuat hipotesis pasar terhadap sumber daya yang akan dievaluasi. Dalam hal ini kita bisa membuat suatu kuesioner yang berisi informasi lengkap mengenai kegiatan atau proyek yang akan dilaksanakan. 2. Mendapatkan nilai lelang (bids) Untuk mempeoleh nilai lelang dilakukan dengan menggunakan survei baik melalui survei langsung dengan kuesioner, interview via telepon maupun lewat surat. Tujuan dari survei ini untuk memperoleh nilai maksimum keinginan membayar (WTP) dari responden terhadap suatu proyek misalnya perbaikan lingkungan. Nilai lelang ini bisa dilakukan dengan teknik: pertanyaan berstruktur dangan membuat kuesioner yang berstruktur sehingga akan diperoleh nilai WTP yang maksimum, pertanyaan terbuka yaitu responden diberikan kebebasan untuk menyatakan nilai moneter (rupiah yang ingin dibayar) untuk suatu proyek perbaikan lingkungan, model referendum yaitu responden diberikan suatu nilai rupiah, kemudian kepada mereka diberikan pertanyaan setuju atau tidak. 3. Menghitung rataan WTP Setelah survei dilaksanakan, tahap berikutnya adalah menghitung nilai rataan dari WTP dan WTA dari setiap individu. Nilai ini didasarkan nilai lelang (bid) yang diperoleh pada tahap dua. 4. Memperkirakan kurva lelang (bid curve)

36 Kurva lelang (bid curve) diperoleh misalnya dengan me-regresikan WTP/WTA sebagai variabel tidak bebas (dependent variable) dengan beberapa variabel bebas. Misalnya saja kita ingin memformulasikan bahwa WTP dari seseorang individu akan dipengaruhi oleh pendapatan (I), pendidikan (E), umur (A), dan kualitas lingkungan (Q), maka secara matematis bisa dituliskan sebagai berikut:.. 12 Persamaan diatas secara lebih eksplisit bisa dituliskan dalam fungsi logarithmic sehingga bisa diestimasi dengan metode regresi biasa, misalnya: 13 dimana I menunjukan indeks responden, W adalah variabel WTP, sedangkan variabel lainnya sama dengan definisi diatas. 5. Mengagretkan data Tahap terakhir dalam teknik CVM adalah mengagregatkan rataan lelang yang diperoleh pada tahap ke-tiga. Proses ini melibatkan konversi dari rataan sampel kerataan populasi secara keseluruhan. Salah satu cara untuk mengkonversi ini adalah mengalikan rataan sampel dengan jumlah rumah tangga didalam populasi. Data yang telah dikumpulkan kemudian dipilah dan ditabulasi agar memenuhi keperluan analisis. Analisis data pada Teknik CVM menggunakan perhitungan Total Benefit sebagai analisis dasar untuk menghitung WTP. Untuk mendapatkan dugaan hubungan antara WTP (nilai keberadaan sumber daya) dengan karakteristik responden. maka didekati dengan menggunakan formula sebagai berikut:.. 14

37 Dimana; WTPi = Kesediaan membayar pengguna terhadap suatu sumber daya n = Jumlah Responden Xi = Parameter penjelas ke-i (seperti usia, pendidikan, pengalaman, pendapatan). Persamaan di atas, dinormalisasikan agar menyesuaikan bentuk data yang telah dikumpulkan. Penggunaan metoda yang digunakan Grigalunas and Congar, (1995) umumnya digunakan untuk data yang memiliki nilai sebaran yang relatif seragam dengan interval tidak terlalu besar, sehingga untuk memudahkan analisis data maka dapat digunakan metoda seperti yang digunakan oleh Yaping, (1999). Dimana: WTP = Willingness To Pay (Nilai Kesediaan Membayar) a = Konstanta E = Tingkat Pendidikan (hasil pembobotan) I = Pendapatan per tahun A = Usia Responden (tahun), XP = Pengalaman n = Jumlah responden 3. Benefit Transfer Benefit transfer adalah suatu transfer nilai moneter suatu hasil studi valuasi ekonomi dari suatu lokasi (yang memiliki data) ke lokasi yang tidak ada datanya. Metode ini menilai perkiraan benefit dari tempat lain (dimana sumberdaya tersedia) kemudian benefit tersebut ditransfer untuk memperoleh perkiraan yang kasar mengenai manfaat dari lingkungan (Fauzi, 2003). Valuasi ekonomi merupakan aktivitas yang cukup memerlukan waktu dan biaya. Keterbatasan hasil studi/penelitian khususnya pada ekosistem lamun dan banyaknya kendala untuk suatu penghitungan sehingga metode benefit transfer merupakan solusi dalam melakukan valuasi SDAL. Metode ini digunakan dengan

38 asumsi nilai asuhan ikan (nursery ground) pada usaha budidaya ikan baronang secara intensif di tambak per hektar (Kordi, 2010) dikalikan dengan harga bibit ikan dan dibagi lagi dengan biaya investasi dikeluarkan 5 tahun sekali sesuai dengan umur tambak (Suparmoko et al, 2004). Sedangkan untuk nilai serapan karbon pada ekosistem lamun merupakan total hamparan ekosistem padang lamun di Indonesia seluas 30.000 kilometer persegi yang mampu menyerap carbon 56,3 juta ton/thn.