6 ASSESMENT NILAI EKONOMI KKL
|
|
|
- Hendri Sutedja
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 6 ASSESMENT NILAI EKONOMI KKL 6.1 Nilai Ekonomi Sumberdaya Terumbu Karang Nilai manfaat ikan karang Manfaat langsung dari ekosistem terumbu karang adalah manfaat dari jenis-jenis komoditas yang langsung diperoleh masyarakat dengan cara mengambil dari alam, yang berupa kegiatan penangkapan ikan karang dan umumnya menggunakan peralatan sederhana. Kegiatan menangkap ikan bagi sebagian besar masyarakat Kabupaten Raja Ampat selain dilakukan di kawasan terumbu karang, juga dilakukan di luar kawasan terumbu karang (DKP-KRA 2006). Berdasarkan data volume produksi rata-rata per tahun, maka nilai pasar komoditas ikan karang di Kabupaten Raja Ampat adalah sebesar Rp ,00 per tahun. Produksi rata-rata ikan karang di Kabupaten Raja Ampat adalah sebesar ton per tahun, sedangkan harga rata-rata ikan karang sebesar Rp ,00 per kilogram. Ikan karang ini diperoleh dari kawasan terumbu karang dengan luas Ha, dengan hasil valuasi secara lengkap dapat dilihat pada Tabel 13. Table 13 Nilai manfaat langsung terumbu karang dari penangkapan ikan karang di Kabupaten Raja Ampat No. Uraian Nilai Kapitalisasi 1 Volume produksi rata-rata (ton per minggu) 3,49 2 Frekuensi hari kerja/tahun (hari per tahun) 180,00 3 Volume produksi rata-rata/tahun (ton per tahun) ,00 4 Volume produksi/ha (ton) ,00 5 Harga rata-rata ikan (Rupiah per kilogram) ,00 6 Luas terumbu karang (Ha) ,00 7 Produksi ikan (ton per tahun) ,00 8 Total nilai kapitalisasi (Rupiah) ,00 9 Biaya operasional/tahun (Rupiah) ,00 10 Nilai ekonomi total (Rupiah) , Nilai manfaat budidaya mutiara Salah satu kegiatan yang dilakukan di perairan Kabupaten Raja Ampat adalah melakukan kegiatan budidaya mutiara. Mengingat potensi dan kualitas air laut di kawasan ini sangat mendukung untuk melakukan budidaya mutiara. Hingga saat ini terdapat 5 perusahaan yang melakukan budidaya mutiara di
2 126 perairan Kabupaten Raja Ampat (DKP-KRA 2006). Dari valuasi diperoleh hasil bahwa rata-rata pendapatan bersih masing-masing perusahaan sebesar Rp ,00 per tahun, sedangkan biaya rata-rata yang dikeluarkan adalah sebesar Rp ,00 per tahun. Sehingga secara total diketahui nilai keseluruhan sebesar Rp ,00 per tahun (Tabel 14). Table 14 Nilai manfaat tidak langsung sumberdaya terumbu karang untuk budidaya mutiara di Kabupaten Raja Ampat No. Uraian Nilai Kapitalisasi 1 Total pendapatan/tahun (Rupiah) ,00 2 Total biaya produksi/tahun (Rupiah) ,00 3 Pendapatan bersih/tahun (Rupiah) ,00 4 Jumlah pelaku (perusahaan) 5,00 Nilai ekonomi total (Rupiah) , Nilai manfaat budidaya teripang Dari kegiatan budidaya teripang di kawasan perairan Kabupaten Raja Ampat diketahui nilai manfaat yang diperoleh sebesar Rp ,20 per tahun. Rata-rata produksi per tahun sebesar 1,56 ton, sedangkan harga per kilogram sebesar Rp ,00 (Tabel 15). Table 15 Nilai manfaat tidak langsung sumberdaya terumbu karang untuk budidaya teripang di Kabupaten Raja Ampat No Uraian Nilai Kapitalisasi 1 Rata-rata harga satuan (Rupiah/kilogram) ,00 2 Produksi/bulan (ton) 0,13 3 Produksi/tahun (ton) 1,56 Nilai ekonomi total , Nilai manfaat budidaya rumput laut Jenis rumput laut yang dibudidayakan di Kabupaten Raja Ampat adalah jenis Euchema cottoni, yang banyak terdapat di Distrik Misool, Samate dan Waigeo Utara (DKP-KRA 2006). Setelah dikuantifikasi kedalam nilai moneter, nilai ekonomi total dari budidaya rumput laut di Kabupaten Raja Ampat sebesar Rp ,00 dan secara lengkap dapat dilihat pada Tabel 16.
3 127 Table 16 Nilai manfaat tidak langsung sumberdaya terumbu karang untuk budidaya rumput laut di Kabupaten Raja Ampat No Uraian Nilai Kapitalisasi 1 Produksi rata-rata/panen (ton) 41,04 2 Kegiatan budidaya/tahun 4,00 3 Jumlah pelaku (perusahaan) 79,00 4 Produksi/tahun (ton) 12,97 5 Rata-rata harga satuan (kilogram) 3.200,00 6 Total hasil penjualan/tahun ,00 7 Biaya produksi diperkirakan 40% dari total nilai jual ,00 Nilai ekonomi total (Rupiah) , Nilai Ekonomi Sumberdaya Mangrove Nilai ekonomi sumberdaya mangrove dapat dilihat dari nilai ekonomi total yang dapat dihitung berdasarkan akumulasi seluruh manfaat yang diperoleh, dikurangi dari seluruh biaya yang timbul (Adrianto 2004). Pendekatan penilaian dilakukan dengan analisis harga pasar, dari seluruh manfaat dan biaya, yang secara langsung dikeluarkan masyarakat untuk memperoleh manfaat mangrove. Dari hasil valuasi sumberdaya mangrove, diketahui total nilai ekonomi mangrove adalah sebesar Rp ,00 per tahun, yang diperoleh dari sebaran mangrove di wilayah pesisir Pulau Waigeo Barat, Waigeo Selatan, Batanta, pantai timur Pulau Salawati, pantai selatan Pulau Kofiau, Pulau Babi, pantai timur dan barat Pulau Misool yang luasnya mencapai Ha (DKP- KRA 2006; Pemerintah Kabupaten Raja Ampat 2006 dan 2007), dengan nilai manfaat ekosistem mangrove secara detail dapat dilihat pada Tabel 17. Table 17 Kuantifikasi nilai manfaat ekosistem mangrove No. Jenis Manfaat Nilai Manfaat/Tahun (Rupiah) Persentase (%) 1 Manfaat langsung ,00 3,91 2 Manfaat tidak langsung ,00 94,60 3 Manfaat pilihan ,00 1,46 4 Manfaat keberadaan ,00 0,03 Total ,00 100,00 Dari Table 17, diketahui bahwa manfaat terbesar dari keberadaan mangrove di Kabupaten Raja Ampat adalah manfaat tidak langsung, yaitu sebesar Rp ,00 atau sebesar 94,60% dari total nilai ekonomi
4 128 mangrove. Nilai ekonomi total (NET) ekosistem mangrove, merupakan nilai ekonomi yang terkandung dalam setiap sumberdaya yang ada di kawasan ekosistem mangrove, baik nilai guna maupun nilai fungsional (Adrianto 2004; Fauzi dan Anna 2005). Secara umum, mangrove memiliki dua nilai manfaat, yaitu manfaat langsung dan manfaat tidak langsung. Manfaat langsung dari sumberdaya mangrove juga terdiri dari manfaat langsung yang dapat diekstraksi seperti untuk kayu bakar, bahan bangunan, ikan, udang, kepiting, dan sumberdaya lainnya yang dapat dimanfaatkan secara langsung oleh masyarakat disekitarnya. Manfaat langsung non ekstraktif yaitu, manfaat yang tidak bisa dinikmati secara langsung, namun dengan keberadaannya dapat memberikan nilai kepuasan bagi setiap orang. Manfaat langsung non ekstraktif ini hanya digunakan untuk kegiatan wisata di kawasan mangrove (Adrianto 2004). Oleh karena mangrove merupakan suatu ekosistem unik yang hidup di wilayah peralihan antara daratan dan laut, maka ekosistem ini memiliki fungsi penting, yaitu: fungsi pelindung, penahan abrasi pantai, sebagai perangkap sedimen dan menyerap bahan pencemar perairan. Fungsi ekologis ekosistem mangrove adalah sebagai habitat dan tempat berlangsungnya proses daur hidup (spawning area, nursery area, feeding area) biota-biota tertentu, seperti udang, ikan, kepiting dan kerang-kerangan. Fungsi ekonomisnya dapat digunakan sebagai bahan bangunan, kayu bakar, arang, obat-obatan dan bahan makanan (Pramudji dan Purnomo 2003; Adrianto 2004) Manfaat langsung ekosistem mangrove Ekosistem mangrove secara tradisional telah dimanfaatkan untuk berbagai keperluan oleh masyarakat yang tinggal di daerah sekitarnya. Selain untuk mencari ikan, udang dan kepiting, masyarakat juga mengambil kayunya untuk keperluan sehari-hari atau sebagai sumber mata pencaharian (DKP-KRA 2006). Akan tetapi, sampai saat ini, kawasan mangrove di Kabupaten Raja Ampat, belum digunakan sebagai tempat budidaya udang bagi masyarakat di sekitarnya, karena masyarakat masih lebih banyak memanfaatkan sumberdaya yang tersedia secara alami di kawasan ekosistem mangrove (DKP-KRA 2006; Pemerintah Kabupaten Raja Ampat 2006 dan 2007). Nilai manfaat dari ekosistem mangrove dalam penelitian ini diperoleh dari manfaat penangkapan ikan, penangkapan udang,
5 129 penangkapan kepiting dan eksploitasi kayu untuk bahan bakar (Adrianto 2004; Dohar dan Anggraeni 2006). Nilai dari masing-masing manfaat tersebut dapat dilihat pada Tabel 18. Tabel 18 Nilai manfaat langsung ekosistem mangrove di Kabupaten Raja Ampat No Jenis Manfaat Nilai Manfaat (Rupiah/Tahun) Persentase (%) 1 Penangkapan ikan ,00 98,830 2 Penangkapan udang ,00 0,182 3 Penangkapan kepiting ,00 0,792 4 Kayu bakar ,00 0,196 Nilai ekonomi total ,00 100,000 Nilai manfaat di atas merupakan nilai manfaat yang dapat dinikmati secara langsung oleh masyarakat sekitarnya, yang dihitung dengan menggunakan pendekatan harga pasar. Semakin besar jumlah produksi dari masing-masing sumberdaya di kawasan mangrove, maka nilai manfaat ekonominya akan semakin tinggi pula. Begitu juga dengan jumlah masyarakat yang memanfaatkan sumberdaya tersebut, semakin banyak jumlah masyarakat yang mengeksploitasi sumberdaya di sekitar ekosistem mangrove, maka nilai manfaat ekonomi yang diberikan ekosistem mangrove terhadap masyarakat juga semakin tinggi (Adrianto 2004; Fauzi dan Anna 2005; Dohar dan Anggraeni 2006). (1) Penangkapan ikan Peranan ekosistem mangrove bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dapat dilihat dari seberapa besar atau seberapa banyak sumberdaya yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat sekitarnya. Akan tetapi jika kualitas ekosistem mangrove mulai menurun, menyebabkan eksistensi dari sumberdaya tersebut semakin berkurang. Sehingga akan berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat sekitarnya (Bengen 2003; Pramudji dan Purnomo 2003). Oleh karena itu peranan ekosistem mangrove bagi biota didalamnya sangat penting, yaitu sebagai tempat asuhan, tempat naungan dan tempat mencari makan bagi berbagai jenis ikan dan udang. Nelayan-nelayan lokal menggunakan peralatan tangkap yang sangat sederhana, sehingga produktivitas nelayan setempat masih tergolong rendah. Hasil
6 130 produksi yang diperoleh hanya dijual di pasaran lokal, seperti daerah Makasar, Surabaya dan Jakarta. Untuk komoditas ikan lainnya, seperti kerapu hidup sebagian besar dipasarkan ke Hongkong (DKP-KRA 2006). Setelah dilakukan valuasi ekonomi diketahui nilai manfaat ekonomi dari penangkapan ikan sebesar Rp ,00 per tahun. (2) Kepiting Kepiting merupakan salah satu biota yang hidup dan berkembang biak di ekosistem mangrove. Oleh sebagian masyarakat di Kabupaten Raja Ampat, ekosistem mangrove ini dimanfaatkan untuk menangkap kepiting bakau (Scylla serrata). Aktivitas masyarakat ini dilakukan pada malam hari dengan menggunakan penerang berupa lampu (senter), ditambah dengan alat tangkap kepiting seperti tombak atau berupa perangkap aktif lainnya. Rata-rata lama waktu mencari dan menangkap kepiting adalah 2-4 jam per trip (DKP-KRA 2006; Pemerintah Kabupaten Raja Ampat 2006 dan 2007). Valuasi untuk kepiting ini didekati dengan menggunakan model hubungan regresi antara luasan ekosistem mangrove dengan produksi kepiting yang dihasilkan. Dengan model regresi ini, kemudian diketahui besarnya manfaat ekosistem mangrove sebagai penyedia pakan alami bagi kepiting (Adrianto 2004; Dohar dan Anggraeni 2006). Setelah dilakukan perhitungan nilai manfaat ekonomi, khususnya untuk kepiting di ekosistem mangrove, diketahui nilainya sebesar Rp ,00 per tahun. Nilai ini tergolong cukup besar bila dibandingkan dengan nilai manfaat dari udang maupun nilai kayu bakar. Pemanfaatan kepiting bakau oleh masyarakat sesungguhnya masih tergolong konvensional dan sangat tradisional, dimana masyarakat hanya melakukan pemanfaatan (penangkapan) dengan tujuan konsumsi rumah tangga dan itupun dilakukan pada waktu luang, dimana mereka tidak sedang melalut. Meskipun kadangkala mereka memasarkan ketika jumlah tangkapan dianggap cukup untuk dikonsumsi dan kelebihannya dapat dijual ke pasar terdekat (DKP-KRA 2006). (3) Udang Selain kepiting, dalam ekosistem mangrove juga terdapat udang yang memiliki nilai manfaat ekonomi yang cukup tinggi. Ekosistem mangrove yang
7 131 merupakan ekosistem pesisir atau lebih spesifik lagi adalah ekosistem estuaria, secara ekologis merupakan daerah asuhan (nursery ground), daerah tempat mencari makan (feeding ground) dan bagi sebagian organisme laut (termasuk udang) merupakan daerah pemijahan (spawning ground). Fungsi bio-ekologis tersebut memberi ruang bagi organisme laut untuk hidup sesuai dengan siklus hidup masing-masing. Seperti halnya kepiting, ekosistem mangrove adalah merupakan daerah perbesaran untuk udang dan juga menjadi daerah asuhan dan mencari makan (Pramudji dan Purnomo 2003). Udang dapat hidup baik hingga ukuran tertentu di ekosistem mangrove, yaitu pada fase asuhan dan pembesaran. Seperti pada fase larva (asuhan), ekosistem mangrove akan dipadati larva-larva udang berukuran kecil yang kemudian menjadi benur (benih udang), untuk budidaya tambak (udang dewasa). Jumlahnya mencapai ratusan ribu dan bahkan jutaan dengan ukuran yang sangat kecil. Pada fase menuju dewasa sekelompok udang-udang tertentu, seperti udang putih akan tetap tinggal dan menetap di ekosistem mangrove, sehingga memungkinkan tertangkap oleh nelayan (Pramudji dan Purnomo 2003). Pada umumnya nelayan yang melakukan operasi penangkapan udang di kawasan mangrove adalah nelayan paruh waktu, dimana mereka melakukan operasi tersebut setelah melaut. Umumnya mereka melakukannya pada malam hari dengan menggunakan alat penerang (lampu) dan perangkap. Tujuan penangkapan tersebut adalah untuk konsumsi rumah tangga dan hanya dijual dalam skala kecil, itupun jika jumlah tangkapan melebihi tingkat konsumsi mereka (DKP-KRA 2006). Nilai manfaat ekonomi untuk udang di ekosistem mangrove sebesar Rp ,00 per tahun, yang umumnya dipasarkan di pasar sekitar Raja Ampat. Hingga saat ini, produksi udang dari Raja Ampat belum ada yang dipasarkan hingga ke luar daerah seperti halnya ikan dan kepiting. Sama dengan kepiting, perhitungan manfaat ekonomi langsung dari mangrove untuk kehidupan udang ini juga didekati dengan menggunakan model hubungan regresi antara luasan ekosistem mangrove dengan produksi udang yang dihasilkan. Model regresi ini untuk mengetahui besarnya manfaat ekosistem mangrove sebagai penyedia pakan alami bagi udang (Adrianto 2004; Dohar dan Anggraeni 2006).
8 132 (4) Kayu bakar Selain manfaat langsung seperti ikan, udang dan kepiting, ekosistem mangrove di Kabupaten Raja Ampat, juga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai sumber bahan kayu bakar dan bahan bangunan. Masyarakat dapat menggunakan kayu dari berbagai jenis tumbuhan mangrove untuk keperluan tersebut. Pada umumnya pengambilan kayu bakar tesebut dilakukan di waktuwaktu luang dan ketika air sedang surut atau pada waktu sore hari. Jumlah kayu yang dimanfaatkan sangat bervairasi dan hanya sebatas untuk keperluan rumah tangga mereka, dan tidak untuk tujuan dijual. Namun kegiatan konversi menjadi kayu bakar akan sangat besar jumlahnya pada saat ada pesta pernikahan atau pesta lainnya di perkampungan, dimana masyarakat secara bergotong royong mengambil kayu bakar di ekosistem mangrove (DKP-KRA 2006; Dohar dan Anggraeni 2006). Setelah dilakukan valuasi, khusus untuk penggunaan mangrove sebagai kayu bakar, diketahui nilai manfaat yang diberikan sebesar Rp ,00 per tahun, atau sebesar 0,196% dari total manfaat langsung ekosistem mangrove. Nilai ini tergolong kecil karena pemanfaat ekosistem mangrove oleh masyarakat sebagai kayu bakar masih relatif kecil. Kecilnya nilai manfaat ekonomi ini dipengaruhi oleh rendahnya animo masyarakat untuk memanfaatkan kayu mangrove sebagai bahan kayu bakar atau bangunan. Meskipun ekosistem mangrove cukup luas yaitu Ha, keberadannya tidak dimanfaatkan secara optimal sebagai bahan kayu bakar (DKP-KRA 2006; Pemerintah Kabupaten Raja Ampat 2006; Dohar dan Anggraeni 2006). Dari Tabel 18 sebagaimana di atas menunjukkan bahwa nilai manfaat terbesar yang diperoleh masyarakat dari eksoistem mangrove, adalah nilai penangkapan ikan yaitu sebesar Rp ,00 per tahun atau sebesar 98.8% per tahun. Manfaat yang paling kecil yaitu untuk produksi udang sebesar Rp ,00 per tahun atau sebesar 0,182% per tahun. Hal ini berkaitan erat dengan mata pencaharian masyarakat Raja Ampat yang sebagian besar atau sebesar 80% penduduknya berprofesi sebagai nelayan, termasuk menangkap ikan di sekitar eksosistem mangrove.
9 Manfaat tidak langsung ekosistem mangrove Pohon mangrove mempunyai fungsi yang sangat penting secara ekologi dan ekonomi, baik untuk masyarakat lokal, regional, maupun nasional. Selain memiliki manfaat secara langsung yang dapat dinikmati oleh masyarakat, ekosistem mangrove juga memiliki manfaat yang secara tidak langsung dapat dinikmati oleh masyarakat. Dalam penelitian ini dihitung nilai manfaat ekonomi yang tidak langsung, yang bisa dinikmati dan memberikan manfaat tidak langsung bagi kehidupan masyarakat di sekitarnya. Nilai manfaat tidak langsung yang dihitung dalam penelitian ini adalah nilai manfaat mangrove sebagai daerah nursery, perlindungan pantai, dan penahan abrasi (Pramudji dan Purnomo 2003). Dari hasil valuasi diketahui total nilai manfaat ekonomi untuk manfaat tidak langsung adalah sebesar Rp ,00 per tahun. Rincian masingmasing nilai manfaat tidak langsung tersebut terlihat pada Table 19. Table 19 Nilai manfaat tidak langsung ekosistem mangrove di Kabupaten Raja Ampat No Jenis Manfaat Nilai Manfaat 1 Daerah nursery ,00 2 Perlindungan pantai ,00 3 Penahan abrasi ,00 Nilai ekonomi total ,00 (1) Daerah nursery Salah satu manfaat tidak langsung dari ekosistem mangrove yang dihitung dalam penelitian ini adalah manfaat sebagai daerah asuhan ikan (nursery ground). Daerah nursery ini berfungsi bagi ikan-ikan untuk berkembang biak atau yang disebut juga sebagai daerah asuhan ikan. Hal ini karena begitu amannya kawasan mangrove bagi benih-benih berbagai jenis ikan dan udang di sekitarnya. Ekosistem mangrove memang merupakan tempat asuh (nursery ground), tempat bertelur, tempat memijah, serta tempat mencari makan bagi berbagai jenis ikan. Tidak kurang dari 80% jenis ikan laut membutuhkan ekosistem mangrove (Pramudji dan Purnomo 2003). Dari hasil valuasi diketahui bahwa nilai yang diberikan oleh ekosistem mangrove di Kabupaten Raja Ampat sebagai daerah nursery adalah sebesar
10 134 Rp ,00 per tahun. Dibandingkan dengan nilai manfaat tidak langsung ekosistem mangrove, nilai sebagai daerah nursery ini tergolong kecil dibanding dengan nilai manfaat lainnya. (2) Perlindungan pantai Manfaat lain dari keberadaan ekosistem mangrove adalah untuk perlindungan pantai dari kerusakan akibat gelombang dan angin. Sebagai ekosistem yang kompleks, mangrove terdiri atas flora dan fauna daerah pantai. Hidup sekaligus di habitat daratan dan air laut, antara batas air pasang dan surut, berperan dalam melindungi garis pantai dari erosi, gelombang dan angin topan (Pamudji dan Purnomo 2003). Ekosistem mangrove tumbuh subur dan luas di daerah delta dan aliran sungai yang besar dengan muara yang lebar. Ekosistem mangrove mempunyai toleransi besar terhadap kadar garam dan dapat berkembang di daratan bersalinitas tinggi di mana tanaman biasa tidak dapat tumbuh. Dari hasil valuasi diketahui nilai manfaat ekonomi mangrove sebagai pelindung pantai ini sebesar Rp ,00 per tahun. (3) Penahan abrasi Nilai manfaat ekonomi tidak langsung yang terbesar dari ekosistem mangrove di Kabupaten Raja Ampat adalah sebagai penahan abrasi, yaitu sebesar Rp ,00 per tahun. Besaran nilai ini setara dengan biaya pembangunan penahan abrasi pantai (break waters) yang diasumsikan terbangun dari beton, yang bisa tahan hingga puluhan tahun. Pendekatan ini lebih pada pendekatan fungsi, sehingga manfaat yang ditimbulkan belum dihitung, misalnya seberapa besar masyarakat akan memberi harga terhadap fungsi-fungsi tersebut, tetapi lebih kepada berapa besar biaya yang digunakan dan berapa lama daya tahan bangunan tersebut. Dengan adanya ekosistem mangrove, pemerintah tidak perlu lagi membuat pemecah gelombang yang biayanya lebih tinggi dan memerlukan waktu yang lama untuk mengatasi masalah abrasi. Nilai manfaat tersebut diestimasi sesuai dengan kurs rupiah yang berlaku pada saat survei, dimana biaya bahan bangunan fisik pembuatan break waters adalah nilai sekarang (present values). Nilai
11 135 tersebut diperoleh melalui hasil survei pada beberapa responden yang mewakili, dengan metode pengambilan contoh untuk mendekati nilai sesungguhnya dari fungsi-fungsi fisik ekosistem mangrove Manfaat mangrove untuk wisata Potensi wisata bahari di sekitar ekosistem mangrove cukup besar. Namun karena potensi tersebut belum dikelola dengan optimal, ditambah lagi dengan belum adanya promosi yang sungguh-sungguh, maka kawasan mangrove belum menjadi tujuan utama untuk rekreasi bagi wisatawan. Hingga saat ini, kawasan wisata yang paling diburu di Kabupaten Raja Ampat adalah kawasan wisata terumbu karang (DKP-KRA 2006; Pemerintah Kabupaten Raja Ampat 2006 dan 2007). Kawasan mangrove dapat memberikan nilai manfaat secara tidak langsung bagi masyarakat, yaitu bisa menjadi alternatif tujuan wisata sebagai lokasi wisata alam. Pohon, bunga dan buah mangrove yang memiliki keindahan dan keanekaragaman hayati yang terdapat di dalamnya, merupakan daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Umumnya wisatawan yang datang ke kawasan wisata mangrove sangat peka terhadap permasalahan lingkungan. Jadi semakin baik kondisi ekosistem mangrove, maka semakin banyak wisatawan yang datang berkunjung. Sehingga nilai manfaat ekosistem mangrove untuk wisata juga semakin tinggi. Wisatawan berani mengeluarkan biaya yang lebih besar untuk bisa menikmati keindahan alam dan biodiversity yang ada di ekosistem mangrove. Dari hasil valuasi terhadap ekosistem mangrove di Kabupaten Raja Ampat, diketahui nilai manfaat sebagai kawasan wisata sebesar Rp ,87 per tahun. Valuasi dilakukan melalui sejumlah uang yang dikeluarkan oleh wisatawan yang datang berekreasi ke kawasan tersebut Nilai keberadaan mangrove Ekosistem mangrove mempunyai peran penting dan bermanfaat bagi kehidupan manusia dan tidak semua masyarakat menyadarinya. Sebagai ilustrasi bahwa, dampak eksploitasi mangrove yang tidak terkendali baru dirasakan dikemudian hari setelah kerusakan semakin parah. Selain memiliki manfaat
12 136 langsung (direct use) dan manfaat tidak langsung (indirect use), ekosistem mangrove juga memiliki nilai manfaat pilihan. Misalnya kawasan ekosistem mangrove, bisa dialihfungsikan dari fungsi sebagai ekosistem mangrove menjadi kawasan pertambakan (Adrianto 2004; Fauzi dan Anna 2005; Dohar dan Anggraeni 2006). Berbagai kebutuhan ekonomi seringkali mendorong masyarakat untuk memanfaatkan ekosistem mangrove secara berlebihan, tanpa berfikir terhadap dampak yang mungkin ditimbulkannya. Salah satu faktor yang mendorong masyarakat memanfaatkan ekosistem mangrove secara berlebihan adalah rendahnya pengetahuan akan berbagai fungsi, manfaat serta pengelolaan ekosistem mangrove. Adapun nilai ekonomi keberadaan mangrove di Kabupaten Raja Ampat dapat dilihat pada Table 20. Table 20 Nilai keberadaan ekosistem mangrove di Kabupaten Raja Ampat No. Uraian Nilai Kapitalisasi 1 Rata-rata WTP (Rupiah) ,00 2 Luas ekosistem mangrove (Ha) 14,43 3 Nilai keberadaan (Rupiah) ,00 Tabel di atas menunjukkan bahwa rata-rata masyarakat hanya mampu menghargai eksoistem mangrove dengan segala fungsinya sebesar Rp ,00 per tahun. Tinggi rendahnya nilai yang diberikan masyarakat sangat ditentukan oleh kesadaran dan pemahaman masyarakat lokal terhadap manfaat ekosistem mangrove. Umumnya masyarakat menganggap bahwa kawasan mangrove merupakan kawasan terbuka untuk siapa saja yang ingin memanfaatkannya. Hal ini terlihat dari survei yang menunjukkan kecilnya nilai yang diberikan masyarakat terhadap kawasan mangrove tersebut. Besar kecilnya nilai yang diberikan oleh masyarakat, salah satunya dipengaruhi oleh tingkat pendidikan masyarakat yang dijadikan sample. Makin tinggi pendidikan masyarakat, maka kecenderungan memberikan nilai yang tinggi akan semakin besar, dan sebaliknya. Karena hal ini berkaitan dengan tingkat kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap keberadaan suatu sumberdaya. Pada Gambar 21 terlihat kualifikasi responden yang dijadikan sample dalam penelitian ini, sebagian besar adalah berpendidikan SMP.
13 137 Persentase (%) Tidak tamat SD SD SMP SMA Sarjana Tingkat Pendidikan Gambar 21 Tingkat pendidikan responden untuk manfaat keberadaan ekosistem mangrove di Kabupaten Raja Ampat Manfaat eksistensi atau manfaat keberadaan dari sumberdaya mangrove ini diestimasi dengan menggunakan pendekatan Contingent Valuation Method (CVM). Berdasarkan valuasi nilai keberadaan sumberdaya mangrove, diperoleh hasil bahwa nilai keberadaan ekosistem mangrove sebesar Rp ,00 per tahun. Rendahnya nilai ini menunjukkan preference masyarakat dalam memberi nilai terhadap keberadaan sumberdaya mangrove tersebut (Adrianto 2004; Fauzi dan Anna 2005; Dohar dan Anggraeni 2006).
TINJAUAN PUSTAKA. kemampuan untuk tumbuh dalam perairan asin. pada iklim tropis dan sub tropis saja. Menurut Bengen (2002) hutan mangrove
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hutan Mangrove 1. Pengertian Hutan Mangrove Hutan mangrove merupakan komunitas vegetasi pantai tropis dan sub tropis, yang didominasi oleh beberapa jenis pohon mangrove mampu tumbuh
BAB 1 PENDAHULUAN. memiliki pulau dengan garis pantai sepanjang ± km dan luas
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan terbesar didunia yang memiliki 17.508 pulau dengan garis pantai sepanjang ± 81.000 km dan luas sekitar 3,1 juta km 2.
1. Pengantar A. Latar Belakang
1. Pengantar A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar yang memiliki sekitar 17.500 pulau dengan panjang sekitar 81.000, sehingga Negara kita memiliki potensi sumber daya wilayah
I. PENDAHULUAN. dan lautan. Hutan tersebut mempunyai karakteristik unik dibandingkan dengan
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hutan mangrove adalah salah satu ekosistem hutan yang terletak diantara daratan dan lautan. Hutan tersebut mempunyai karakteristik unik dibandingkan dengan formasi hutan
BAB I PENDAHULUAN. Wilayah pesisir Indonesia memiliki luas dan potensi ekosistem mangrove
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Wilayah pesisir Indonesia memiliki luas dan potensi ekosistem mangrove yang cukup besar. Dari sekitar 15.900 juta ha hutan mangrove yang terdapat di dunia, sekitar
PENDAHULUAN. pengelolaan kawasan pesisir dan lautan. Namun semakin hari semakin kritis
PENDAHULUAN Latar Belakang Mangrove merupakan ekosistem yang memiliki peranan penting dalam pengelolaan kawasan pesisir dan lautan. Namun semakin hari semakin kritis kondisi dan keberadaannya. Beberapa
PENDAHULUAN. terluas di dunia. Hutan mangrove umumnya terdapat di seluruh pantai Indonesia
PENDAHULUAN Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki hutan mangrove terluas di dunia. Hutan mangrove umumnya terdapat di seluruh pantai Indonesia dan hidup serta tumbuh berkembang
BAB I PENDAHULUAN. antara dua samudera yaitu Samudera Hindia dan Samudera Pasifik mempunyai
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara kepulauan yang secara geografis terletak di antara dua samudera yaitu Samudera Hindia dan Samudera Pasifik mempunyai keanekaragaman
BAB I PENDAHULUAN. Ekosistem pesisir tersebut dapat berupa ekosistem alami seperti hutan mangrove,
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Dalam suatu wilayah pesisir terdapat beragam sistem lingkungan (ekosistem). Ekosistem pesisir tersebut dapat berupa ekosistem alami seperti hutan mangrove, terumbu karang,
BAB I PENDAHULUAN. fauna yang hidup di habitat darat dan air laut, antara batas air pasang dan surut.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Mangrove merupakan ekosistem yang kompleks terdiri atas flora dan fauna yang hidup di habitat darat dan air laut, antara batas air pasang dan surut. Ekosistem mangrove
BAB I PENDAHULUAN. maupun terendam air, yang masih dipengaruhi oleh sifat-sifat laut seperti pasang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pesisir merupakan wilayah peralihan antara ekosistem darat dan laut. Menurut Suprihayono (2007) wilayah pesisir merupakan wilayah pertemuan antara daratan dan laut,
Oleh. Firmansyah Gusasi
ANALISIS FUNGSI EKOLOGI HUTAN MANGROVE DI KECAMATAN KWANDANG KABUPATEN GORONTALO UTARA JURNAL Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Guna Menempuh Ujian Sarjana Pendidikan Biologi Pada Fakultas Matematika
EKOSISTEM LAUT DANGKAL EKOSISTEM LAUT DANGKAL
EKOSISTEM LAUT DANGKAL Oleh : Nurul Dhewani dan Suharsono Lokakarya Muatan Lokal, Seaworld, Jakarta, 30 Juni 2002 EKOSISTEM LAUT DANGKAL Hutan Bakau Padang Lamun Terumbu Karang 1 Hutan Mangrove/Bakau Kata
PENDAHULUAN. didarat masih dipengaruhi oleh proses-proses yang terjadi dilaut seperti
1 PENDAHULUAN Latar Belakang Wilayah pesisir bukan merupakan pemisah antara perairan lautan dengan daratan, melainkan tempat bertemunya daratan dan perairan lautan, dimana didarat masih dipengaruhi oleh
BAB III. METODE PENELITIAN
BAB III. METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan pada lokasi hutan mangrove yang ada diwilayah Kecamatan Pangkalan Susu Kabupaten Langkat sebagaima tercantum dalam peta lokasi
BAB I PENDAHULUAN. tumbuhan yang hidup di lingkungan yang khas seperti daerah pesisir.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hutan mangrove adalah tipe hutan yang khas terdapat di sepanjang pantai atau muara sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Mangrove banyak dijumpai di wilayah
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan yang mempunyai kawasan pesisir yang cukup luas, dan sebagian besar kawasan tersebut ditumbuhi mangrove yang lebarnya dari beberapa
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia mempunyai perairan laut yang lebih luas dari pada daratan, oleh karena itu Indonesia di kenal sebagai negara maritim. Perairan laut Indonesia kaya akan berbagai
1. PENDAHULUAN Latar Belakang
1. PENDAHULUAN Latar Belakang Ekosistem mangrove tergolong ekosistem yang unik. Ekosistem mangrove merupakan salah satu ekosistem dengan keanekaragaman hayati tertinggi di daerah tropis. Selain itu, mangrove
VIII. KEBIJAKAN PENGELOLAAN HUTAN MANGROVE BERKELANJUTAN Analisis Kebijakan Pengelolaan Hutan Mangrove
VIII. KEBIJAKAN PENGELOLAAN HUTAN MANGROVE BERKELANJUTAN 8.1. Analisis Kebijakan Pengelolaan Hutan Mangrove Pendekatan AHP adalah suatu proses yang dititikberatkan pada pertimbangan terhadap faktor-faktor
II. TINJAUAN PUSTAKA. sumberdaya alam hayati dan non hayati. Salah satu sumberdaya alam hayati
8 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Hutan Mangrove Wilayah pesisir dan lautan merupakan salah satu wilayah yang kaya akan sumberdaya alam hayati dan non hayati. Salah satu sumberdaya alam hayati tersebut adalah
I. PENDAHULUAN. (21%) dari luas total global yang tersebar hampir di seluruh pulau-pulau
I. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Indonesia memiliki hutan mangrove terluas di dunia yakni 3,2 juta ha (21%) dari luas total global yang tersebar hampir di seluruh pulau-pulau besar mulai dari Sumatera,
VI ANALISIS DPSIR DAN KAITANNYA DENGAN NILAI EKONOMI
55 VI ANALISIS DPSIR DAN KAITANNYA DENGAN NILAI EKONOMI 6.1 Analisis DPSIR Analisis DPSIR dilakukan dalam rangka memberikan informasi yang jelas dan spesifik mengenai faktor pemicu (Driving force), tekanan
PENDAHULUAN. dan juga nursery ground. Mangrove juga berfungsi sebagai tempat penampung
PENDAHULUAN Latar Belakang Wilayah pesisir Indonesia kaya dan beranekaragam sumberdaya alam. Satu diantara sumberdaya alam di wilayah pesisir adalah ekosistem mangrove. Ekosistem mangrove merupakan ekosistem
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Hutan mangrove merupakan suatu tipe hutan yang khusus terdapat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hutan mangrove merupakan suatu tipe hutan yang khusus terdapat di sepanjang pantai atau muara sungai dan dipengaruhi oleh pasang surut air laut (Tjardhana dan Purwanto,
PENDAHULUAN. garis pantai sepanjang kilometer dan pulau. Wilayah pesisir
PENDAHULUAN Latar belakang Wilayah pesisir merupakan peralihan ekosistem perairan tawar dan bahari yang memiliki potensi sumberdaya alam yang cukup kaya. Indonesia mempunyai garis pantai sepanjang 81.000
BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia memiliki mangrove terluas di dunia (Silvus et al, 1987; Primack et al,
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Ekosistem mangrove di dunia saat ini diperkirakan tersisa 17 juta ha. Indonesia memiliki mangrove terluas di dunia (Silvus et al, 1987; Primack et al, 1998), yaitu
BAB I PENDAHULUAN. membentang dari Sabang sampai Merauke yang kesemuanya itu memiliki potensi
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan Negara kepulauan yang memiliki garis pantai yang terpanjang di dunia, lebih dari 81.000 KM garis pantai dan 17.508 pulau yang membentang
BAB I PENDAHULUAN. pantai sekitar Km, memiliki sumberdaya pesisir yang sangat potensial.
1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Indonesia sebagai suatu negara kepulauan dengan panjang garis pantai sekitar 81.000 Km, memiliki sumberdaya pesisir yang sangat potensial. Salah satu ekosistem
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Pembangunan merupakan suatu proses perubahan untuk meningkatkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan merupakan suatu proses perubahan untuk meningkatkan taraf hidup manusia. Dalam pelaksanaan proses pembangunan, manusia tidak terlepas dari aktivitas pemanfaatan
BAB I PENDAHULUAN. mangrove di Indonesia mencapai 75% dari total mangrove di Asia Tenggara, seperti
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu bagian terpenting dari kondisi geografis Indonesia sebagai wilayah kepulauan adalah wilayah pantai dan pesisir dengan garis pantai sepanjang 81.000
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia sebagai negara kepulauan dengan panjang garis pantai mencapai 95.181 km (Rompas 2009, dalam Mukhtar 2009). Dengan angka tersebut menjadikan Indonesia sebagai
1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Terumbu karang merupakan salah satu ekosistem di wilayah pesisir yang kompleks, unik dan indah serta mempunyai fungsi biologi, ekologi dan ekonomi. Dari fungsi-fungsi tersebut,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Terumbu karang merupakan sebuah sistem dinamis yang kompleks dimana keberadaannya dibatasi oleh suhu, salinitas, intensitas cahaya matahari dan kecerahan suatu perairan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, terdiri dari lebih 17.000 buah pulau besar dan kecil, dengan panjang garis pantai mencapai hampir
BAB I PENDAHULUAN. kerusakan sehingga perlu dijaga kelestariannya. Hutan mangrove adalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hutan mangrove (bakau) merupakan suatu bentuk ekosistem yang mempunyai keragamanan potensi serta memberikan manfaat bagi kehidupan manusia baik secara langsung maupun
1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ekosistem mangrove bagi kelestarian sumberdaya perikanan dan lingkungan hidup memiliki fungsi yang sangat besar, yang meliputi fungsi fisik dan biologi. Secara fisik ekosistem
Mangrove menurut Macnae (1968) merupakan perpaduan
1 2 Mangrove menurut Macnae (1968) merupakan perpaduan antara bahasa Portugis mangue dan bahasa Inggris grove. Menurut Mastaller (1997) kata mangrove berasal dari bahasa Melayu kuno mangi-mangi untuk menerangkan
I. Pengantar. A. Latar Belakang
I. Pengantar A. Latar Belakang Secara geografis, Raja Ampat berada pada koordinat 2 o 25 Lintang Utara hingga 4 o 25 Lintang Selatan dan 130 132 55 Bujur Timur (Wikipedia, 2011). Secara geoekonomis dan
1. PENDAHULUAN Latar Belakang
1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pesisir dan laut Indonesia merupakan wilayah dengan potensi keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Sumberdaya pesisir berperan penting dalam mendukung pembangunan
BAB I PENDAHULUAN. Karena berada di dekat pantai, mangrove sering juga disebut hutan pantai, hutan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Mangrove merupakan ekosistem yang terdapat di antara daratan dan lautan. Karena berada di dekat pantai, mangrove sering juga disebut hutan pantai, hutan pasang surut,
I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Wilayah pesisir dan laut merupakan daerah dengan karateristik khas dan bersifat dinamis dimana terjadi interaksi baik secara fisik, ekologi, sosial dan ekonomi, sehingga
BAB I PENDAHULUAN. tempat dengan tempat lainnya. Sebagian warga setempat. kesejahteraan masyarakat sekitar saja tetapi juga meningkatkan perekonomian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia adalah negara yang sangat kaya raya akan keberagaman alam hayatinya. Keberagaman fauna dan flora dari dataran tinggi hingga tepi pantai pun tidak jarang
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Mangrove merupakan ekosistem dengan fungsi yang unik dalam lingkungan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Mangrove merupakan ekosistem dengan fungsi yang unik dalam lingkungan hidup. Oleh karena adanya pengaruh laut dan daratan, dikawasan mangrove terjadi interaksi kompleks
BAB I PENDAHULUAN. dalam penggunaan sumberdaya alam. Salah satu sumberdaya alam yang tidak terlepas
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia adalah negara berkembang yang terus menerus melakukan pembangunan nasional. Dalam mengahadapi era pembangunan global, pelaksanaan pembangunan ekonomi harus
BAB I PENDAHULUAN. saling berkolerasi secara timbal balik. Di dalam suatu ekosistem pesisir terjadi
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kawasan pesisir dan laut merupakan sebuah ekosistem yang terpadu dan saling berkolerasi secara timbal balik. Di dalam suatu ekosistem pesisir terjadi pertukaran materi
DAFTAR ISI. Halaman DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN... I. PENDAHULUAN Latar Belakang...
DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN... x xiii xv xvi I. PENDAHULUAN... 1 1.1. Latar Belakang... 1 1.2. Rumusan Masalah... 5 1.3.Tujuan dan Kegunaan Penelitian...
I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ekosistem mangrove merupakan ekosistem pesisir yang terdapat di sepanjang pantai tropis dan sub tropis atau muara sungai. Ekosistem ini didominasi oleh berbagai jenis
PENDAHULUAN. beradaptasi dengan salinitas dan pasang-surut air laut. Ekosistem ini memiliki. Ekosistem mangrove menjadi penting karena fungsinya untuk
PENDAHULUAN Latar Belakang Ekosistem mangrove merupakan masyarakat tumbuhan atau hutan yang beradaptasi dengan salinitas dan pasang-surut air laut. Ekosistem ini memiliki peranan penting dan manfaat yang
I. PENDAHULUAN. Menurut Tomlinson(1986), mangrove merupakan sebutan umum yang digunakan
I. PENDAHULUAN Mangrove adalah tumbuhan yang khas berada di air payau pada tanah lumpur di daerah pantai dan muara sungai yang dipengaruhi pasang surut air laut. Menurut Tomlinson(1986), mangrove merupakan
BAB I. PENDAHULUAN. pulau-nya dan memiliki garis pantai sepanjang km, yang merupakan
BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara tropis berbentuk kepulauan dengan 17.500 pulau-nya dan memiliki garis pantai sepanjang 81.000 km, yang merupakan kawasan tempat tumbuh hutan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Welly Yulianti, 2015
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Indonesia merupakan negara maritim yang memiliki luas sekitar enam juta mil persegi, 2/3 diantaranya berupa laut, dan 1/3 wilayahnya berupa daratan. Negara
kumulatif sebanyak 10,24 juta orang (Renstra DKP, 2009) ikan atau lebih dikenal dengan istilah tangkap lebih (over fishing).
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Potensi sumberdaya perikanan di Indonesia cukup besar, baik sumberdaya perikanan tangkap maupun budidaya. Sumberdaya perikanan tersebut merupakan salah satu aset nasional
BAB I PENDAHULUAN. dari buah pulau (28 pulau besar dan pulau kecil) dengan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan di daerah tropika yang terdiri dari 17.504 buah pulau (28 pulau besar dan 17.476 pulau kecil) dengan panjang garis pantai sekitar
PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Terumbu karang dan asosiasi biota penghuninya secara biologi, sosial ekonomi, keilmuan dan keindahan, nilainya telah diakui secara luas (Smith 1978; Salm & Kenchington
METODE PENELITIAN. hutan mangrove non-kawasan hutan. Selain itu, adanya rehabilitasi hutan
IV. METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian ini berada di Kawasan Pesisir Pantai Tlanakan, Kecamatan Tlanakan, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur. Pemilihan lokasi dilakukan secara
Valuasi Ekonomi Pemanfaatan Ekosistem Mangrove di Desa Bedono, Demak. Arif Widiyanto, Suradi Wijaya Saputra, Frida Purwanti
Valuasi Ekonomi Pemanfaatan Ekosistem Mangrove di Desa Bedono, Demak Arif Widiyanto, Suradi Wijaya Saputra, Frida Purwanti Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan Jurusan Perikanan Fakultas Perikanan
KAJIAN MATA PENCAHARIAN ALTERNATIF MASYARAKAT NELAYAN KECAMATAN KAMPUNG LAUT KABUPATEN CILACAP TUGAS AKHIR
KAJIAN MATA PENCAHARIAN ALTERNATIF MASYARAKAT NELAYAN KECAMATAN KAMPUNG LAUT KABUPATEN CILACAP TUGAS AKHIR Oleh: PROJO ARIEF BUDIMAN L2D 003 368 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan dengan garis pantai lebih dari 8.100 km serta memiliki luas laut sekitar 5,8 juta km2 dan memiliki lebih dari 17.508 pulau, sehingga
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara di dunia dalam bentuk negara
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan salah satu negara di dunia dalam bentuk negara kepulauan yang memiliki sekitar 17.508 pulau dan panjang garis pantai lebih dari 81.000
Analisis Kesesuaian Lahan Wilayah Pesisir Kota Makassar Untuk Keperluan Budidaya
1 Analisis Kesesuaian Lahan Wilayah Pesisir Kota Makassar Untuk Keperluan Budidaya PENDAHULUAN Wilayah pesisir merupakan ruang pertemuan antara daratan dan lautan, karenanya wilayah ini merupakan suatu
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kepulauan Seribu merupakan kabupaten administratif yang terletak di sebelah utara Provinsi DKI Jakarta, memiliki luas daratan mencapai 897,71 Ha dan luas perairan mencapai
TINJAUAN PUSTAKA. lainnya yang berbahasa Melayu sering disebut dengan hutan bakau. Menurut
TINJAUAN PUSTAKA Hutan Manggrove Hutan mangrove oleh masyarakat Indonesia dan negara Asia Tenggara lainnya yang berbahasa Melayu sering disebut dengan hutan bakau. Menurut Kusmana dkk (2003) Hutan mangrove
1. PENDAHULUAN Latar Belakang
1 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Ekosistem terumbu karang adalah salah satu ekosistem yang paling kompleks dan khas di daerah tropis yang memiliki produktivitas dan keanekaragaman yang tinggi. Ekosistem
PENDAHULUAN. karena Indonesia merupakan negara kepulauan dengan garis pantai mencapai
PENDAHULUAN Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang memiliki kawasan pesisir sangat luas, karena Indonesia merupakan negara kepulauan dengan garis pantai mencapai sepanjang 81.000 km. Selain menempati
BAB VI DAMPAK KONVERSI MANGROVE DAN UPAYA REHABILITASINYA
48 BAB VI DAMPAK KONVERSI MANGROVE DAN UPAYA REHABILITASINYA 6.1. Dampak Konversi Mangrove Kegiatan konversi mangrove skala besar di Desa Karangsong dikarenakan jumlah permintaan terhadap tambak begitu
I. Pendahuluan 1.1 Latar Belakang
I. Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Sumber daya wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil memegang peranan penting dalam mendukung kehidupan manusia. Pemanfaatan sumber daya ini telah dilakukan sejak lama seperti
VALUASI EKONOMI SUMBERDAYA RUMPUT LAUT DI KOTA PALOPO
Prosiding Seminar Nasional Volume 03, Nomor 1 ISSN 2443-1109 VALUASI EKONOMI SUMBERDAYA RUMPUT LAUT DI KOTA PALOPO Muhammad Arhan Rajab 1, Sumantri 2 Universitas Cokroaminoto Palopo 1,2 [email protected]
Manfaat dari penelitian ini adalah : silvofishery di Kecamatan Percut Sei Tuan yang terbaik sehingga dapat
Manfaat dari penelitian ini adalah : 1. Diperoleh model dalam pengelolaan lahan mangrove dengan tambak dalam silvofishery di Kecamatan Percut Sei Tuan yang terbaik sehingga dapat bermanfaat bagi pengguna
PENGANTAR SUMBERDAYA PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL. SUKANDAR, IR, MP, IPM
PENGANTAR SUMBERDAYA PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL SUKANDAR, IR, MP, IPM (081334773989/[email protected]) Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Sebagai DaerahPeralihan antara Daratan dan Laut 12 mil laut
BAB I PENDAHULUAN. Hutan mangrove adalah komunitas vegetasi pantai tropis, yang didominasi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hutan mangrove adalah komunitas vegetasi pantai tropis, yang didominasi oleh jenis pohon mangrove yang mampu tumbuh dan berkembang pada daerah pasang surut pantai berlumpur.
1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sistem perikanan pantai di Indonesia merupakan salah satu bagian dari sistem perikanan secara umum yang berkontribusi cukup besar dalam produksi perikanan selain dari perikanan
I. PENDAHULUAN. Hutan mangrove yang dikenal sebagai hutan payau merupakan ekosistem hutan
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hutan mangrove yang dikenal sebagai hutan payau merupakan ekosistem hutan yang memiliki ciri khas didominasi pepohonan yang mampu tumbuh di perairan asin. Komunitas pepohonan
PENDAHULUAN Latar Belakang
PENDAHULUAN Latar Belakang Ekosistem hutan mangrove merupakan salah satu sumberdaya alam wilayah pesisir yang mempunyai peranan penting ditinjau dari sudut sosial, ekonomi, dan ekologis. Fungsi utama sebagai
1. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang dua per tiga luasnya ditutupi oleh laut
1 1. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang dua per tiga luasnya ditutupi oleh laut dan hampir sepertiga penduduknya mendiami daerah pesisir pantai yang menggantungkan hidupnya dari
I. PENDAHULUAN. Hutan mangrove merupakan ekosistem hutan yang terdapat di daerah pantai dan
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hutan mangrove merupakan ekosistem hutan yang terdapat di daerah pantai dan selalu atau secara teratur digenangi oleh air laut atau dipengaruhi oleh pasang surut air laut,
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pesisir memiliki peranan sangat penting bagi berbagai organisme yang berada di
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pesisir memiliki peranan sangat penting bagi berbagai organisme yang berada di sekitarnya. Kawasan pesisir memiliki beberapa ekosistem vital seperti ekosistem terumbu
BAB I PENDAHULUAN. ekologis yaitu untuk melakukan pemijahan (spawning ground), pengasuhan (nursery
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ekosistem mangrove adalah suatu lingkungan yang memiliki ciri khusus yaitu lantai hutannya selalu digenangi air, dimana air tersebut sangat dipengaruhi oleh pasang
BAB I PENDAHULUAN. Potensi wilayah pesisir dan laut Indonesia dipandang dari segi. pembangunan adalah sebagai berikut ; pertama, sumberdaya yang dapat
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Potensi wilayah pesisir dan laut Indonesia dipandang dari segi pembangunan adalah sebagai berikut ; pertama, sumberdaya yang dapat diperbaharui seperti perikanan
BAB I PENDAHULUAN. yaitu mendapatkan makanan, suhu yang tepat untuk hidup, atau mendapatkan
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Setiap makhluk hidup yang berada di suatu lingkungan akan saling berinteraksi, interaksi terjadi antara makhluk hidup dengan makhluk hidup itu sendiri maupun makhluk
BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Hutan mangrove merupakan hutan yang tumbuh pada daerah yang berair payau dan dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Hutan mangrove memiliki ekosistem khas karena
C. Potensi Sumber Daya Alam & Kemarintiman Indonesia
C. Potensi Sumber Daya Alam & Kemarintiman Indonesia Indonesia dikenal sebagai negara dengan potensi sumber daya alam yang sangat besar. Indonesia juga dikenal sebagai negara maritim dengan potensi kekayaan
PENDAHULUAN. lahan pertambakan secara besar-besaran, dan areal yang paling banyak dikonversi
PENDAHULUAN Latar Belakang Meningkatnya harga udang windu di pasaran mendorong pembukaan lahan pertambakan secara besar-besaran, dan areal yang paling banyak dikonversi untuk pertambakan adalah hutan mangrove.
BAB I PENDAHULUAN km dan ekosistem terumbu karang seluas kurang lebih km 2 (Moosa et al
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan Negara kepulauan yang memiliki garis pantai sepanjang 81.000 km dan ekosistem terumbu karang seluas kurang lebih 50.000 km 2 (Moosa et al dalam
III. METODE PENELITIAN. Penelitian telah dilaksanakan di Desa Margasari, Kecamatan Labuhan Maringgai,
19 III. METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Waktu Pelaksanaan Penelitian telah dilaksanakan di Desa Margasari, Kecamatan Labuhan Maringgai, Kabupaten Lampung Timur pada bulan April Mei 2013. Peta lokasi penelitian
I PENDAHULUAN Latar Belakang
I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sumberdaya alam pesisir merupakan suatu himpunan integral dari komponen hayati (biotik) dan komponen nir-hayati (abiotik) yang dibutuhkan oleh manusia untuk hidup dan
BAB III KERANGKA BERPIKIR DAN KONSEP PENELITIAN. Mangrove merupakan ekosistem peralihan, antara ekosistem darat dengan
29 BAB III KERANGKA BERPIKIR DAN KONSEP PENELITIAN 3.1. Kerangka Berpikir Mangrove merupakan ekosistem peralihan, antara ekosistem darat dengan ekosistem laut. Mangrove diketahui mempunyai fungsi ganda
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Wilayah pesisir dan lautan Indonesia terkenal dengan kekayaan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Wilayah pesisir dan lautan Indonesia terkenal dengan kekayaan dan keanekaragaman sumber daya alam dan jenis endemiknya sehingga Indonesia dikenal sebagai Negara dengan
PENDAHULUAN Latar Belakang
1 PENDAHULUAN Latar Belakang Salah satu sumberdaya pesisir yang penting adalah ekosistem mangrove, yang mempunyai fungsi ekonomi dan ekologi. Hutan mangrove dengan hamparan rawanya dapat menyaring dan
PEMANFAATAN KEARIFAN LOKAL SASI DALAM SISTEM ZONASI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN DI RAJA AMPAT
PEMANFAATAN KEARIFAN LOKAL SASI DALAM SISTEM ZONASI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN DI RAJA AMPAT Oleh Paulus Boli Simposium Nasional Konservasi Perairan Pesisir Dan Pulau-pulau Kecil Jakarta, 9 10 Mei 2017
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia mempunyai perairan laut yang lebih luas dibandingkan daratan, oleh karena itu Indonesia dikenal sebagai negara maritim. Perairan laut Indonesia kaya akan
PENDAHULUAN Latar Belakang
PENDAHULUAN Latar Belakang Wilayah pesisir pulau kecil pada umumnya memiliki panorama yang indah untuk dapat dijadikan sebagai obyek wisata yang menarik dan menguntungkan, seperti pantai pasir putih, ekosistem
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tata Ruang dan Konflik Pemanfaatan Ruang di Wilayah Pesisir dan Laut
6 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tata Ruang dan Konflik Pemanfaatan Ruang di Wilayah Pesisir dan Laut Menurut UU No. 26 tahun 2007, ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut, dan ruang udara,
PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAROS NOMOR 3 TAHUN 2015 TENTANG PELESTARIAN, PENGELOLAAN DAN PEMANFAATAN HUTAN MANGROVE
SALINAN PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAROS NOMOR 3 TAHUN 2015 TENTANG PELESTARIAN, PENGELOLAAN DAN PEMANFAATAN HUTAN MANGROVE DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MAROS, Menimbang
BAB I PENDAHULUAN. pembangunan adalah sumberdaya perikanan, khususnya perikanan laut.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tujuan Pembangunan Nasional adalah masyarakat yang adil dan makmur. Untuk mencapai tujuan tersebut harus dikembangkan dan dikelola sumberdaya yang tersedia.
II. TINJAUAN PUSTAKA. Mangrove merupakan vegetasi yang kemampuan tumbuh terhadap salinitas air
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hutan Mangrove Mangrove merupakan vegetasi yang kemampuan tumbuh terhadap salinitas air laut baik. Mangrove juga memiliki keunikan tersendiri dibandingkan lain, keunikannya diantaranya
