BAB 5 KESIMPULAN, DISKUSI, DAN SARAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB 5 SIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN. Hasil dari penelitian menunjukkan Ho ditolak sehingga ada hubungan

BAB I LATAR BELAKANG MASALAH

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

LAMPIRAN A. Tabel dimensi, indicator behavior, dan item yang digunakan dalam uji keterbacaan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. adalah dengan memaafkan. Memaafkan adalah salah satu cara untuk

Bab 5. Simpulan, Diskusi dan Saran

ABSTRAK. iii. Universitas Kristen Maranatha

5. KESIMPULA, DISKUSI, DA SARA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Indonesia merupakan negara yang tiap elemen bangsanya sulit

6. KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN

5. KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

ABSTRAK. Kata kunci: mahasiswa akuntansi, mahasiswi akuntansi, profesi akuntan

HUBUNGAN FORGIVENESS TERHADAP PERISTIWA PERCERAIAN ORANG TUA DENGAN PSYCHOLOGICAL WELL-BEING PADA REMAJA KORBAN PERCERAIAN

6. KESIMPULAN, DISKUSI, DAN SARAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

1. PENDAHULUAN. Universitas Indonesia

PENINGKATAN PEMAHAMAN PEMILIHAN KARIR MELALUI LAYANAN INFORMASI PADA SISWA KELAS XI IPA 4 SMA NEGERI 1 BERGAS KABUPATEN SEMARANG TAHUN AJARAN

: Rifdaturahmi NPM : Pembimbing : Dr. Muhammad Fakhrurrozi, Psikolog

BAB V PEMBAHASAN. A. Persepsi Responden terhadap Lingkungan Pembelajaran. dan nilai konsistensi menggunakan rumus Alpha Cronbach adalah 0,735 yang

BAB 1 PENDAHULUAN. kesehatan, kemajuan teknologi dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat yang harus

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

MODUL PERKULIAHAN. Pengertian agresi, teori-teori agresi, pengaruh terhadap agresi, cara mengurangi agresi

BAB 5 KESIMPULAN, DISKUSI, DAN SARAN

BAB 5 SIMPULAN, DISKUSI, DAN SARAN. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat diambil

BAB V KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN

BAB III METODE PENELITIAN

Rina Indah Agustina ABSTRAK

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

METODE PENELITIAN Desain, Tempat dan Waktu Cara Pemilihan Contoh

BAB III METODE PENELITIAN. A. Desain Penelitian. menekankan pada analisis data-data numerikal (angka) yang diolah dengan

BAB V SIMPULAN, DISKUSI, DAN SARAN. Penelitian ini bermaksud mengkaji persepsi tentang diskriminasi sebagai

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. tersebut terbentang dari masa bayi, kanak-kanak, remaja, dewasa, hingga masa

Ummu Rifa atin Mahmudah_ Jurusan Psikologi-Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

BAB III. Perbedaan individual

BAB I PENDAHULUAN. dan suami, ibu dan ayah, anak perempuan dan anak laki-laki, saudara perempuan

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Kesimpulan hasil studi dan pengembangan model konseling aktualisasi diri

Lokasi dan Waktu. Bahan dan Alat. program. Metode Penelitian Lanskap

BAB III METODE PENELITIAN. A. Desain Penelitian

BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Masa remaja adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Dewasa ini sering kita dengar tentang banyaknya kasus kekerasan yang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Kerja praktik

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

ABSTRAK McClelland (1953) Ken & Kate Back (1982)

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Sebagai makhluk sosial, remaja akan selalu mengadakan kontak denganorang lain.

BAB IV HASIL PENELITIDAN DAN PEMBAHASAN. yang sedang mengerjakan Skripsi. Kuesioner yang disebar sebanyak 80

BAB I ABSTRAK. Kecenderungan Memaafkan Pada Remaja Akhir

BAB I PENDAHULUAN. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat hidup tanpa keberadaan dan

BAB 3 METODE PENELITIAN. Pada bab ini peneliti akan memaparkan tentang metode penelitian yang

Instrumen Psikologis

BAB I PENDAHULUAN. pesat. Kemajuan telah dialami oleh manusia, baik yang bersifat keilmuan

Analisis Perbedaan Gaya Kepemimpinan Antara Pemimpin Saat Ini Dengan Pemimpin Sebelumnya (Studi Kasus Pada PT Sarana Karkita Dinamika)

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia. Seperti yang diposting salah satu situs berita di Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN. Dalam penelitian ini beberapa variabel yang akan dikaji adalah :

BAB 5 SIMPULAN, DISKUSI, SARAN

PENDAHULUAN (MATERI) Pengertian Psikologi Pendakatan dalam Psikologi: Sub disiplin Psikologi Bidang terapan Psikologi

BAB 5 KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN

Selamat membaca, mempelajari dan memahami materi Rentang Perkembangan Manusia II

BAB VI PENUTUP. 1. Tujuan Pengambilan Keputusan Memilih Jurusan. disebut dengan pengambilan keputusan yang bersifat tunggal.

BAB 5 SIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN. Pada bab ini berisi kesimpulan dari hasil penelitian, diskusi mengenai hasilhasil

2015 HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI PARENTAL ATTACHMENT DAN RELIGIUSITAS DENGAN KESIAPAN MENIKAH PADA MAHASISWA MUSLIM PSIKOLOGI UPI

BAB II LANDASAN TEORI. A. Agresivitas

Matrix Pertanyaan Penelitian, Issue, Informan, Metode, Instrumen, dan Data Sekunder Studi Kerelawanan

BAB III METODE PENELITIAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 6 KESIMPULAN, DISKUSI, DAN SARAN

GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PEMBELAJARAN (GBPP) Mata Kuliah : Psikologi Lintas Budaya

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Salah satu kebijakan pemerintah di sektor pendidikan yang mendukung

Transkripsi:

BAB 5 KESIMPULAN, DISKUSI, DAN SARAN 5.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan analisis terhadap data pada Bab sebelumnya, disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara mahasiswa yang mengikuti Aikido dengan mahasiswa yang tidak mengikuti Aikido. Oleh karena itu, kelompok mahasiswa ini (kelompok Aikido) memiliki forgiveness yang lebih tinggi dari pada mahasiswa yang tidak mengikuti Aikido. Selain kesimpulan di atas, peneliti juga menemukan kesimpulan pada beberapa hasil tambahan penelitian yang membuktikan bahwa: 1. mahasiswa yang mengikuti Aikido dalam kurun waktu 3 tahun ke atas memiliki forgiveness yang lebih tinggi dari pada mahasiswa yang mengikuti Aikido dalam kurun waktu kurang dari 3 tahun; 2. mahasiswa yang mengikuti Aikido dan telah mencapai tingkat kyu 3 ke atas memiliki forgiveness yang lebih tinggi dari pada mahasiswa yang masih berada di bawah kyu 3; 3. tidak ada perbedaan forgiveness pada mahasiswa yang mengikuti Aikido yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan; dan 4. tinggi nya forgiveness pada kelompok Aikido tidak disebabkan luka yang ditimbulkan mau pun permintaan maaf oleh transgressor, tetapi dapat disebabkan karena tingginya kedekatan hubungan dengan transgressor. 5.2. Diskusi Untuk subbab ini akan dibagi menjadi 3 bagian yang masing-masing menjelaskan diskusi hasil utama dan hasil tambahan dalam penelitian, dan diskusi keterbatasan penelitian. 5.2.1. Diskusi Hasil Utama Penelitian Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa mahasiswa yang mengikuti Aikido memiliki forgiveness yang lebih tinggi daripada mahasiswa yang tidak mengikuti Aikido. Hal ini sesuai dengan hipotesis peneliti dalam penelitian. Forgiveness dalam AIKIDO..., Dimas Budi Prasetyo, 37 FPsi UI, 2009

38 Namun, tidak bisa dikatakan bahwa Aikido dapat meningkatkan forgiveness pada mahasiswa. Hal ini disebabkan karena terdapat banyak faktor yang dapat mempengaruhi forgiveness individu, misalnya akibat luka yang ditimbulkan, kedekatan hubungan dan adanya permintaan maaf dari transgressor. Meskipun ketiga hal ini telah dicoba untuk dikontrol, namun terdapat hal-hal yang dinilai lemah. Misalnya dalam alat ukur (TRIM) nya sendiri, yang memungkinkan responden mengisi item dengan membayangkan transgressor yang berbeda. Intensitas luka yang ditimbulkan, yang merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi forgiveness individu, merupakan hasil persepsi individual, sehingga tiap individu akan mempersepsikan luka tersebut dengan berbeda-beda. Oleh karena itu, perlu dilakukan kontrol yang lebih ketat terhadap hal tersebut. Walaupun demikian, peneliti membandingkan hasil antara aikidoka yang telah mengikuti Aikido dalam waktu 3 tahun ke atas dengan yang baru mengikuti Aikido dalam waktu kurang dari 3 tahun. Perbedaan skor forgiveness di antara kedua kelompok menunjukkan hasil yang signifikan (penjelasan lebih lanjut mengenai hasil penelitian ini akan dibahas pada sub bab hasil penelitian tambahan). Meskipun dapat disimpulkan terjadi perbedaan di antara kedua kelompok tersebut, namun hal tersebut harus melalui pertimbangan kontrol yang ketat. 5.2.2. Diskusi Hasil Tambahan Penelitian Selain hasil utama, penelitian ini juga menghasilkan empat hasil penelitian tambahan untuk melengkapi dan memberikan informasi tambahan pada penelitian. Perbedaan yang signifikan pada kedua kelompok juga mendukung hipotesis, yaitu terdapat perbedaan antara individu yang mengikuti Aikido dengan yang tidak mengikuti Aikido. Hal ini dikarenakan kedua hasil tambahan penelitian yang mendukung pernyataan di atas. Berikut akan peneliti ulas hasil penelitian tersebut. Perbedaan forgiveness yang signifikan antara aikidoka yang telah mengikuti Aikido selama tiga tahun ke atas dengan aikidoka yang baru mengikuti Aikido di bawah tiga tahun menunjukkan bahwa adanya perbedaan penginternalisasian the ethics of defense berdasarkan jumlah jam latihan dan lama keikutsertaan dalam Aikido. Perbedaan ini menunjukkan bahwa aikidoka yang

39 telah mengikuti Aikido selama tiga tahun ke atas memiliki tingkat forgiveness yang lebih tinggi daripada aikidoka yang baru mengikuti dalam kurun waktu di bawah tiga tahun. Tiga tahun yang dipilih dalam membedakan aikidoka didasarkan pada Westbrook & Ratti (1970) yang menjelaskan bahwa untuk dapat menginternalisasikan filosofi the ethics of defense membutuhkan jumlah latihan yang cukup banyak. Individu yang telah mengikuti Aikido dalam kurun waktu tiga tahun ke atas ini rata-rata telah mencapai tingkat kyu 3 ke atas. Beberapa sensei menyatakan bahwa kyu 3 merupakan awal di mana seorang aikidoka menjadi senpai (senior) di dalam dojo, yang ditandai dengan pemberian contoh yang baik terhadap kohai (junior) serta harus mampu menggantikan sensei dalam memimpin latihan ketika ia berhalangan hadir dalam latihan. Dalam tingkat ini pula, aikidoka telah dan mulai menginternalisasikan filosofi Aikido secara lebih mendalam. Hal ini pula lah yang menjadi hipotesis dasar terjadinya signifikansi perbedaan forgiveness di antara kelompok aikidoka yang berada di tingkat kyu 3 ke bawah dengan aikidoka yang berada di tingkat kyu 3 ke atas, dengan hasil bahwa aikidoka yang telah mencapai kyu 3 ke atas memiliki forgiveness yang lebih tinggi. Dari kedua hasil penelitian ini, bisa dikatakan pula bahwa Aikido melatih individu untuk menjadi lebih memaafkan. Seperti yang telah dikemukakan di dalam penelitian ini bahwa Aikido memiliki dasar filosofi penyelesaian masalah tanpa menimbulkan konflik (Westbrook & Ratti, 1970). Oleh karena itu pula, seni bela diri Aikido tidak menyertakan kekerasan dalam praktik dan aplikasinya. Hal ini lah yang menjadi pondasi utama dari latihan Aikido. Hasil tambahan berikutnya menunjukkan tidak ada perbedaan forgiveness antara aikidoka yang berjenis kelamin laki-laki mau pun perempuan. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan McCullough et al. (1998) yang juga tidak menemukan perbedaan antara jenis kelamin dalam hasil skor TRIM pada penelitiannya. Hasil analisis kualitatif mengenai gambaran responden menunjukkan bahwa tingginya forgiveness pada kelompok Aikido bukan disebabkan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi munculnya forgiveness. Hal ini didasarkan pada

40 McCullough et al. (1998) yang menyatakan bahwa semakin kecil luka yang diterima sebagai akibat transgression yang dilakukan dan juga yang menerima permintaan maaf dari transgressor, maka semakin mudah pula ia untuk memaafkan. Di sisi lain, tinggi nya forgiveness pada kelompok Aikido dapat dipengaruhi oleh kedekatan hubungan yang positif dengan transgressor. McCullough et al. (1998) menyatakan bahwa semakin dekat hubungan individu dengan transgressor maka ia semakin mudah untuk memaafkan. Semakin dekat hubungan antar individu, berarti juga semakin tinggi empati di antara mereka. Oleh karena itu, di antara mereka lebih mudah untuk memaafkan satu sama lain. Hal ini tentu saja sejalan dengan penelitian Harianto (2001) yang menyatakan bahwa mahasiswa yang mengikuti Aikido lebih memiliki empati. Dengan kata lain, dengan mengikuti Aikido dan memiliki kedekatan hubungan yang positif dengan transgressor dapat meningkatkan empati, dan yang pada akhirnya dapat meningkatkan forgiveness. 5.2.3. Diskusi Keterbatasan Penelitian Beberapa pertimbangan dapat menjadi faktor signifikansi hasil penelitian ini. Penelitian ini melibatkan beberapa variabel yang mempengaruhi forgiveness. Salah satu variabel yang tidak dikontrol adalah etnis/suku dari responden. Penelitian ini banyak melibatkan kampus yang memiliki mahasiswa yang berasal dari etnis Tionghoa (seperti BINUS, IBII, Atmajaya). Peterson & Seligman (2004) menyatakan bahwa budaya mempengaruhi bagaimana individu memaafkan. Budaya barat yang individualis memiliki dorongan untuk memaafkan dikarenakan sebuah kebenaran dan keyakinan yang dianutnya. Sedangkan budaya timur yang kolektivis memiliki dorongan untuk memaafkan dikarenakan keinginan untuk menjaga hubungan yang positif dengan individu lain. Etnis Tionghoa, dan juga semua etnis di Indonesia, termasuk dalam budaya kolektivis ini, sehingga dorongan mereka untuk memaafkan didasarkan pada keinginan untuk menjaga hubungan yang positif terhadap transgressor yang melukainya. Salah satu kekurangan dalam pengisian kuesioner adalah peneliti tidak turun langsung untuk memantau di dalam kelengkapan pengisian. Sehingga

41 kuesioner banyak yang mengalami ketidaklengkapan dalam pengisian. Ketidaklengkapan ini terletak pada bagian faktor-faktor yang mempengaruhi forgiveness. Untuk pengisian TRIM, seluruh responden mengisi dengan lengkap, sehingga pelaksanaan analisis utama penelitian tidak mengalami hambatan. Bagian dari kuesioner yang berisi tentang faktor-faktor yang mempengaruhi forgiveness digunakan peneliti sebagai analisis tambahan secara kualitatif jika hasil penelitian utama tidak signifikan. Bila terjadi hal demikian, berarti memang harus dilihat faktor-faktor yang mempengaruhi forgiveness pada mahasiswa di luar keikutsertaannya dalam kegiatan Aikido. Tahap pra-persiapan, yang meliputi perencanaan jumlah responden, dojo, waktu yang tersedia dalam pelaksanaan penelitian, dirasakan kurang dipersiapkan secara matang. Penyebaran kuesioner dilakukan dalam waktu yang singkat, yaitu sekitar dua minggu. Selain itu, penelitian hanya terbatas pada satu variabel penelitian saja, padahal apabila penambahan variabel dilakukan dapat memperkaya hasil penelitian. Jumlah responden yang digunakan dalam penelitian cukup menggambarkan dan merepresentasikan populasi, namun merupakan jumlah batas minimal yang digunakan dalam penelitian, yaitu sebesar 30 (Guilford, 1978). Dalam penelitian ini hanya menggunakan jumlah responden sejumlah 64, dengan jumlah masing-masing untuk kelompok sejumlah 30 dan 34. Pada hasil tambahan penelitian yang meneliti kelompok Aikido, jumlah responden yang digunakan jauh dari batas minimal responden yang digunakan, yaitu 13-17 untuk masing kelompok berdasarkan lama mengikuti Aikido dan 15-15 untuk masing-masing kelompok berdasarkan tingkat yang telah dicapai. Jumlah data yang digunakan untuk gambaran tambahan responden ini tidak cukup representatif, dikarenakan tidak semua bagian kuesioner diisi secara lengkap oleh responden (bagian faktorfaktor yang mempengaruhi forgiveness). Sehingga hasil analisis gambaran responden secara kualitatif ini tidak cukup relevan dilakukan mengingat keterbatasan tersebut Penelitian ini menggunakan alat ukur hasil adaptasi dengan penambahan beberapa item. Item-item yang ada pada alat ukur ini dirasakan oleh para responden mengalami pengulangan makna, sehingga responden menjadi sedikit

42 bingung karena bentuk pernyataan yang satu dengan pernyataan yang lainnya terkesan memiliki makna yang sama. Di satu sisi, alat ukur ini memiliki item yang relatif sedikit, yaitu sejumlah 26 item, sehingga kekurangan tersebut di atas dapat tertutup dengan jumlah item ini. Peneliti tidak melihat responden yang kelelahan dalam mengisi kuesioner, beberapa dari mereka hanya kebanyakan mengeluh mengenai item-item yang memiliki makna yang sama tersebut. 5.3. Saran Saran dalam penelitian ini terbagi menjadi dua, yaitu saran metodologis dan saran praktis. Saran metodologis merupakan saran untuk penelitian selanjutnya di bidang yang sama. Sedangkan saran praktis merupakan saran untuk peneliti berikan kepada responden, yaitu para mahasiswa baik yang mengikuti Aikido atau pun yang tidak, yang berkenaan dengan hasil penelitian. 5.3.1. Saran Metodologis Saran metodologis untuk penelitian selanjutnya adalah: 1. Tahap pra-persiapan penelitian lebih diperhatikan, terutama pada jumlah waktu, responden, dan dojo serta dalam penyebaran kuesioner ke tiap kampus dan dojo. Beberapa dojo yang dalam penelitian ini tidak diikutsertakan dalam penelitian, sebaiknya dilibatkan dalam penelitian selanjutnya, seperti dojo yang terdapat di kampus Trisakti dan STEKPI. 2. Di dalam Bab 2 dijelaskan beberapa faktor yang mempengaruhi forgiveness. Faktor-faktor ini disertakan dalam kuesioner, kecuali empati dan perenungan diri. Hal ini dikarenakan bila peneliti pun ingin melihat kedua faktor ini, berarti peneliti juga harus membuat alat ukur yang mengukur dua faktor ini, mengingat kedua faktor merupakan konstruk psikologis yang tidak dapat diukur dan dilihat secara overt (tampak). Penelitian selanjutnya diharapkan dapat menyertakan faktor-faktor tersebut untuk memperkaya hasil penelitian. 3. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat menyertakan gambaran tambahan responden, yang merupakan faktor-faktor yang menyebabkan forgiveness, untuk dijadikan kontrol terhadap penelitian.

43 4. Penambahan variabel berupa suku/etnis responden dalam penelitian selanjutnya juga perlu untuk ditambahkan. Setiap suku/etnis tentunya memiliki budaya masing-masing yang khas dalam penumbuhkembangan forgiveness ini. 5. Penelitian selanjutnya juga diharapkan dapat melihat hubungan forgiveness dengan faktor kepribadian, dan juga dengan variabel lain dalam Aikido. Dengan demikian dilakukan penambahan variabel, dengan konsekuensi penambahan alat ukur lain, seperti empati, spirituality dll. Hal ini dilakukan untuk memperkaya pemahaman akan forgiveness. 6. Penelitian ini terasa akan lebih bermanfaat bila dilakukan perbandingan dengan seni bela diri lainnya. Seni bela diri yang agresif dan kompetitif (seperti karate, tinju, tae kwon do, dll) dapat menjadi kelompok pembanding dalam penelitian selanjutnya. 7. Penelitian selanjutnya dapat menyertakan analisis kualitatif yang lebih mendalam, mengingat forgiveness merupakan sebuah proses. 5.3.2. Saran Praktis Saran yang peneliti berikan untuk mahasiswa secara umum dan yang mengikuti Aikido pada khususnya adalah: 1. Seni bela diri, termasuk Aikido, adalah salah satu cara untuk mempelajari kekuatan karakter forgiveness dalam kehidupan sehari-hari, dan juga dapat menjadi salah satu kegiatan yang dapat menanamkan kekuatan karakter forgiveness dalam diri individu. Orang yang memaafkan adalah orang yang tetap bersikap positif terhadap transgressor tanpa harus menghindar dan membalas dendam terhadapnya. Seperti yang telah dibahas sebelumnya, forgiveness salah satunya dapat mematahkan siklus agresi dan meningkatkan kesehatan individu. Oleh karena itu, setiap individu perlu menumbuhkembangkan forgiveness, karena secara tidak langsung forgiveness berhubungan dengan kualitas hidup seseorang. Mahasiswa menjadi salah satu individu yang perlu dalam menumbuhkembangkan forgiveness, di tengah-tengah dinamika dan permasalahan serta konflik yang ada di sekitarnya. Mempelajari forgiveness melalui sebuah kegiatan

44 tentunya lebih menyenangkan daripada melalui seminar, buku, atau kuliah. Seni bela diri dapat menjadi kegiatan ini, termasuk Aikido di dalamnya. 2. Psikolog, konselor sekolah, atau berbagai pihak di dalam sebuah institusi pendidikan di mana banyak terdapat permasalahan kenakalan remaja, perlu mempertimbangkan seni bela diri, salah satu nya Aikido, sebagai salah satu metode untuk menumbuhkembangkan kekuatan karakter forgiveness. 3. Untuk dapat menumbuhkembangkan kekuatan karakter forgiveness, tentu saja aikidoka harus mengikuti Aikido dalam waktu yang cukup, dalam arti telah mencukupi jumlah jam latihan yang cukup untuk dapat menginternalisasikan filosofi the ethics of defense. Tentu saja, batasan cukup ini relatif untuk tiap individu. Oleh karena itu, mahasiswa yang mengikuti Aikido diharapkan konsisten dalam mengikuti kegiatan ini, agar forgiveness tumbuh dan berkembang dalam dirinya.