BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
|
|
|
- Ratna Darmadi
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Bab ini akan membahas tentang forgiveness yang akan diambil dari beberapa literatur. Selain itu juga akan dibahas mengenai dimensi dan alat ukur forgiveness. Namun pembahasan tidak akan terbatas pada forgiveness saja, tetapi juga akan membahas Aikido Forgiveness Definisi Para tokoh memaparkan forgiveness dalam berbagai konsep. Namun, konsep-konsep ini memiliki ciri dan karakteristik yang saling melengkapi. Menurut Thompson et al. (2005, dalam Snyder & Lopez, 2007), forgiveness adalah: a freeing from a negative attachment to the source that has transgressed against a person (hal 279) Menurut Tangney, Fee, Reinsmith, Boone, & Lee (1999 dalam Snyder & Lopez, 2007) forgiveness menggambarkan: (1) cognitive-affective transformation following a transgression in which (2) the victim makes a realistic assessment of the harm done and acknowledges the perpetrator s responsibility, but (3) freely chooses to cancel the debt, giving up the need for revenge or deserved punishments and any quest for restitution. This canceling of the debt also involves (4) a cancellation of negative emotions directly related to the transgression. In particular, in forgiving, the victim overcomes his or her feelings of resentment and anger for the act. In short, by forgiving, the harmed individual (5) essentially removes himself or herself from the victim role (p.280) Forgiveness dalam AIKIDO..., Dimas Budi Prasetyo, FPsi 7 UI, 2009
2 8 Lopez, 2007): Menurut McCullough (2000; McCullough et al., 1998, dalam Snyder & forgiveness reflects increased in prosocial motivation toward another such that there is (1) less desire to avoid the transgressing person and to harm or seek revenge toward that individual, and (2) increased desire to act positively toward the transgressing person (p. 279) McCullough & Witvliet menjelaskan forgiveness sebagai (dalam McCullough & Witvliet, 2005): forgiveness may be understood as a prosocial change in a victim s thought, emotions, and/or behaviors toward blameworthy transgressor McCullough, Pargament, & Thoresen (2000b, dalam McCullough & Witvliet, 2005) mengutarakan kondisi individu yang forgive (memaafkan): when people forgive, their responses (i.e., what they feel and think about, what they want to do, or how they actually behave) toward people who have offended or injured them become less negative and more positive or prosocial over time (p. 447) Walaupun memiliki banyak variasi definisi, para teoris setuju bahwa forgiveness harus dibedakan dengan reconciliation (e.g., Enright & the Human Development Study Group, 1994; Freedman, 1998, Rye et al., 2001), legal pardon (e.g., Enright & the Human Development Study Group, 1991, Rye et al., 2001), condoning (e.g. Veenstra, 1992, Rye et al., 2001), dan forgetting (e.g., Smedes, 1996, dalam Rye et al., 2001). Reconciliation merujuk pada perdamaian yang dilakukan antara kedua belah pihak agar rukun kembali, setelah sebelumnya terpecah (Enright, 2001). Legal pardon berarti pengampunan dan biasa digunakan dalam dunia hukum. Condoning adalah keadaan di mana individu menerima pelanggaran dalam diam, seolah-olah meyakinkan diri sendiri bahwa pelanggaran
3 9 tersebut adalah keinginan individu tersebut (Enright, 2001). Sedangkan forgetting berarti melupakan, sebuah konstruk yang jelas berbeda dengan forgiveness (Echols & Shadily, 1996). Ketika individu memaafkan, ia tidak harus melupakan. Proses forgiveness tidak akan menyebabkan individu menjadi amnesia, namun hanya akan mengubah cara pandang individu dalam mengingat masa lalunya (Enrigth, 2001). Terdapat pertentangan di antara para peneliti dalam mengkonseptualisasikan forgiveness antara proses aktif dan pasif (McCullough, Root, & Cohen, 2006). Namun mereka setuju bahwa ciri dari forgiveness adalah proses perubahan di mana individu berperilaku menjadi lebih positif dan sedikit negatif terhadap individu yang menyakitinya pada suatu waktu di masa lalu (Baumeister, Exline, & Sommer, 1998; Enright & Coyle, 1998; McCullough, Pargament, & Thoresen, 2000; Worthington, 2005; dalam McCullough, Root, & Cohen, 2006). Beberapa tokoh mendefinisikan forgiveness sebagai ketiadaan respon negatif terhadap transgressor. Sebagai contoh adalah Transgression-Related Interpersonal Motivations Inventory (McCullough et al., 1998, dalam Rye et al., 2001) yang dikonsepsikan berdasar hanya pada ketiadaan balas dendam dan respon menghindar. Namun, tokoh yang lain mendefinisikan bahwa harus melibatkan pula kehadiran respon positif terhadap transgressor. Subkoviak et al. (1995, dalam Rye et al., 2001) menyatakan bahwa dalam forgiving, individu mengatasi kebencian terhadap transgressor, tetapi tidak menyangkal mereka untuk mendapatkan hak atas kebencian tersebut. Individu yang memaafkan mencoba untuk berbuat baik, mengasihani, dan bahkan memberikan cinta terhadap transgressor. Konsep yang serupa juga dikemukakan oleh Rye et al. (2001) yang mengkonseptualisasikan forgiveness sebagai respon terhadap transgressor yang meliputi pelepasan afek negatif (misal: bermusuhan/hostilitas), kognisi (misal: pikiran untuk balas dendam), dan perilaku (misal: agresi verbal) dan juga melibatkan respon positif terhadap transgressor (misal: compassion/rasa kasihan). Setelah melihat beberapa pengertian di atas, ternyata salah satu karakter individu yang memaafkan dicirikan dengan ketiadaan motivasi untuk menuntut
4 10 balas atas perlakuan individu yang memberikan transgression pada dirinya. Dalam hal ini, individu yang memaafkan memiliki ketiadaan motivasi untuk balas dendam, oleh karena itu ia mengubah respon negatif yang seharusnya merupakan akibat dari transgression yang dilakukan individu terhadapnya menjadi respon positif. Dari sini bisa ditarik kesimpulan bahwa forgiveness ditandai dengan: 1. ketiadaan respon negatif, sebagai gantinya adalah dengan menumbuhkan dan memberikan respon positif terhadap transgression (pelanggaran/serangan/agresi individu lain); 2. motivasi untuk menunjukkan perilaku yang positif (prosocial); 3. tidak ada keinginan untuk menuntut balas dendam terhadap individu yang melakukan transgression; dan 4. memposisikan diri bukan sebagai korban dari transgression yang dilakukan individu tersebut. Namun demikian, definisi yang akan dipakai dalam penelitian ini adalah definisi yang dikemukakan oleh McCullough, yang juga memiliki konsep-konsep yang serupa dengan empat poin konsep sebelumnya yang merupakan kesimpulan dari beberapa definisi di atas. Peneliti mengambil konsep forgiveness McCullough yang mencirikan konsep forgiveness sebagai perubahan tiga dorongan terhadap transgressor, yaitu dari negatif ke arah yang lebih positif, yang ditandai dengan rendahnya dorongan untuk menghindar (avoidance motivations); rendahnya dorongan untuk menyakiti atau membalas dendam (revenge motivations); dan bertambahnya dorongan untuk berperilaku positif (benevolence motivations) Forgiveness dan Agresi Dalam konsep forgiveness, terdapat isitilah transgression. Konsep transgression dalam forgiveness memiliki kesamaan konsep dengan agresi, di mana kedua konsep ini sama-sama merujuk pada keinginan seseorang untuk melukai individu lain. Konsep agresi menyertakan dua bentuk, yaitu agresi fisik (misal: memukul orang lain) dan agresi verbal (demeaning, insulting, atau mengganggu orang lain) (Raven & Rubin, 1983). Melihat kenyataan tersebut, agresi dapat disetarakan dengan transgression, mengingat Williamson & Gonzales
5 11 (2007) mengkonseptualisasikan transgression juga dapat berupa berupa infidelity (ketidaksetiaan), physical violence (kekerasan fisik), atau social rejection (penolakan sosial). Dalam konsep agresi juga dikenal dengan istilah agresi pasif (Raven & Rubin, 1983), yaitu agresi yang tidak menyertakan keinginan untuk menyakiti. Agresi yang dimaksud adalah ketika A mengatakan sesuatu yang menyebabkan B tersinggung, namun A tidak bermaksud untuk menyinggung B. Transgression yang ditekankan dan digunakan dalam penelitian ini bukan merupakan agresi pasif, karena individu harus secara sadar melakukan kesalahan/pelanggaran sehingga akhirnya dapat memunculkan forgiveness. Hal ini dikarenakan forgiveness akan muncul bila transgression muncul terlebih dahulu (Enright, 2001). Oleh karena hal tersebut, konsep transgression di sini dapat disetarakan dengan konsep agresi, mengingat konsep transgression menurut Berkowitz (1993, dalam Cox, 2007) yang telah dijelaskan pada Bab sebelumnya memiliki tujuan utama yaitu ditujukan untuk menyakiti individu lain. Menyakiti di sini bisa dalam berbagai bentuk, baik fisik mau pun psikologis. Forgiveness adalah salah satu kunci untuk mengurangi hostilitas (Kaplan, 1992, dalam McCullough & Witvliet, 2005). Hostilitas sendiri memiliki efek yang negatif terhadap kesehatan (Miller, Smith, Turner, Guijarro, & Hallet, 1996; Williams & Williams, 1993, dalam McCullough & Witvliet, 2005). Hostilitas adalah salah satu bentuk dari agresi, yang melibatkan dorongan individu untuk menyakiti individu lain Dimensi Forgiveness Dimensi forgiveness yang dikemukakan di sini merupakan penjelasan lebih jauh mengenai definisi McCullough et al. (2000; McCullough et al., 1998, dalam Snyder & Lopez, 2007). Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, forgiveness merupakan proses perubahan tiga dorongan dalam diri individu terhadap transgressor. Tiga dorongan tersebut adalah avoidance motivations, revenge motivations, dan benevolence motivations, yang selanjutnya juga menjadi dimensi forgiveness dalam penelitian ini. Avoidance motivations ditandai dengan individu yang menarik diri (withdrawal) dari transgressor (Worthington, 2000).
6 12 Revenge motivations ditandai dengan dorongan individu untuk membalas perbuatan transgressor yang ditujukan kepadanya. Dalam kondisi ini, individu tersebut marah dan berkeinginan untuk membalas dendam terhadap transgressor (Worthington, 2000). Ketika individu dilukai oleh individu lain (transgressor) maka yang terjadi dalam dirinya adalah: peningkatan dorongan untuk menghindar (avoid) dan membalas dendam (revenge). Dalam kasus ini, individu tersebut tidak memaafkan sang transgressor (McCullough et al., 1998). Benevolence motivations ditandai dengan dorongan untuk berbuat baik terhadap transgressor. Dengan kehadiran benevolence, berarti juga menghilangkan kehadiran dua dimensi sebelumnya. Oleh karena itu individu yang memaafkan, memiliki benevolence motivations yang tinggi, namun di sisi lain memiliki avoidance dan revenge motivations yang rendah Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Forgiveness McCullough et al. (1998) mengemukakan lima faktor yang mempengaruhi kondisi individu yang memaafkan terhadap transgression yang dilakukan transgressor. Faktor-faktor tersebut adalah: 1. empati, empati ini merupakan faktor utama penentu forgiveness dalam diri individu. Dengan berempati, individu mampu untuk memposisikan dirinya berada dalam situasi dan kondisi yang dialami oleh individu lain, termasuk juga merasakan gejolak jiwa yang terjadi dalam diri transgressor. Jadi, individu ini tidak mengambil posisi sebagai korban transgression, melainkan menjadi individu yang membantu transgressor dalam memahami gejolak yang terjadi dalam dirinya (transgressor); 2. permintaan maaf, individu akan lebih menunjukkan forgiveness jika transgressor meminta maaf kepadanya. Individu yang menerima permintaan maaf dari transgressor menumbuhkan empati terhadapnya, sehingga dapat meningkatkan forgiveness individu terhadap transgressor tersebut; 3. akibat (luka) yang ditimbulkan oleh transgressor, semakin besar luka yang dihasilkan maka semakin sulit pula individu yang mengalaminya memaafkan transgressor;
7 13 4. perenungan diri (rumination), semakin individu merenungi kejadian pada saat ia menerima transgression, maka semakin ia menghindar dari transgressor dan menuntut untuk membalas dendam terhadapnya; dan 5. kedekatan hubungan dengan transgressor. Karena forgiveness melibatkan perubahan pada dorongan negatif menjadi lebih positif terhadap transgression, maka kedekatan hubungan individu dengan transgressor akan mempengaruhi proses tersebut. Kedekatan hubungan di antara mereka dapat meningkatkan empati pada kedua pihak. Karena empati merupakan salah satu faktor utama dalam proses forgiveness, maka semakin dekat hubungan antara kedua pihak tersebut, semakin tinggi pula empati di antara mereka. Oleh karena itu, kedekatan hubungan di antara kedua individu dapat memicu forgiveness di antara mereka. Semakin dekat hubungan, maka semakin mudah pula individu memaafkan transgressor (McCullough et al., 1998) Alat Ukur Forgiveness Untuk mengukur forgiveness, berarti harus mempertimbangkan tiga dimensi yang telah dijabarkan di bagian definisi dan dimensi yang menjelaskan proses dari forgiveness dalam diri individu. Dua dimensi yang pertama (avoidance & revenge motivations) merupakan dimensi yang memiliki indikator negatif, sedangkan benevolence motivations merupakan kebalikannya. Untuk mengukur tiga indikator ini, McCullough et al. (1997, dalam McCullough, Root, & Cohen, 2006) pernah mengembangkan skala yang mengukur perubahan dorongan terhadap transgression. Skala ini didasarkan pada konseptualisasi forgiveness, yaitu sebagai proses pengurangan dorongan negatif terhadap transgression dan memunculkan dorongan positif terhadap transgression. Skala ini bernama Transgression-Related Interpersonal Motivations (TRIM) (McCullough et al., 19998, dalam Snyder & Lopez, 2007). TRIM ini pada awalnya merupakan hasil penyederhanaan dari alat ukur sebelumnya, yaitu Wade Forgiveness Scale (WFS) yang berjumlah 83 item (Wade, 1989, dalam Rye et al, 2001). Skala ini pada awalnya berjumlah 12 item yang menggambarkan dua komponen utama, yaitu motivation to avoid a
8 14 transgressor (dorongan untuk menghindari hubungan dengan transgressor) dan motivation to seek revenge (dorongan dalam mencoba balas dendam terhadap transgressor). Saat ini TRIM telah dikembangkan menjadi 18 item dengan penambahan 6 item yang mengukur benevolence motivation (dorongan untuk berbuat baik) (McCullough, Root, & Cohen, 2006). Skala ini menggunakan 5 skala pengukuran tipe Likert Aikido Definisi Aikido diciptakan oleh Morihei Uyeshiba pada tahun 1925 (Westbrook & Ratti, 1970), yang merupakan seni bela diri hasil dari penggabungan berbagai macam teknik self-defense yang diambil dari teknik bertarung pedang dan tombak (sword and spear fighting), Jujutsu, Aikijutsu, dan seni bela diri kuno yang hanya diketahui dan dipahami beberapa orang tertentu saja (Westbrook & Ratti, 1970). Tujuan Aikido adalah menciptakan kedamaian dan keselarasan. Sebagai salah satu cabang seni bela diri, Aikido menekankan pada prinsip penyelesaian konflik tanpa kekerasan. Definisi yang dikemukakan oleh Olliges (2008) menjelaskan bahwa Aikido: although not a religion, is a spiritual practice, incorporating Shinto, Shingon Buddhist, Zen Buddhist, and Omotokyo insights; it is a martial art based on the principles of harmony, nonviolence, and love for all beings (Olliges, 2008) As a spiritual practice, Aikido is the Way (do) of joining, merging, or uniting (ai) with spirit or vital energy (ki). It is a mind-bodyspirit in conflict resolution through nonresistance, in aligning with the flow of spirit, and extending love and protection to all beings. (hal. 5) Definisi ini menjelaskan bahwa Aikido merupakan seni bela diri yang halus, juga merupakan pure martial art (seni bela diri murni). Aikido hanya mengajarkan individu untuk bertahan. Namun, bertahan di sini bukan berarti
9 15 pasrah dalam menerima serangan, melainkan menyatukan ki (energi mental/jiwa) yang dimiliki lawan untuk menyelaraskan serangan sehingga serangan hanya lah terhenti, bukan membalikkan serangan. Perlu diperhatikan di sini bahwa individu bersatu dengan lawan, baik jiwa mau pun tubuhnya dalam menghentikan serangan tersebut. Bersatu berarti ki individu dengan lawan bersatu. Aikido diartikan sebagai cara (do) mengkoordinasikan keselarasan (ai) energi mental atau jiwa (ki) (Westbrook & Ratti, 1970). Menurut Olliges (2008), ia mendefinisikan Aikido: Aikido is a martial art based on a philosophy of nonviolent conflict resolution and of seeking to create harmony by extending love and protection to all beings. (hal. ii) Aikido adalah seni bela diri yang didasarkan pada pemikiran (filosofi) pemecahan tanpa konflik kekerasan dan pencapaian keselarasan dengan memberikan cinta dan perlindungan kepada sesama. Salah satu keunikan yang ada pada Aikido adalah aikidoka (individu yang mengikuti Aikido) diajarkan untuk tetap berpikir positif, bahkan saat menerima serangan. Seperti yang dikatakan oleh Uyeshiba (1938/1991, dalam Olliges, 2008): When the enemy strikes, always remain positive, calm, settled, and full of power, centered in the great spirit of the universe, and attuned to the will of the gods. (hal.16) Aikido adalah seni bela diri unik. Disebutkan bahwa Aikido adalah seni bela diri murni (Westbrook & Ratti, 1970), karena Aikido bila digunakan secara benar tidak akan menyebabkan seseorang (dalam hal ini penyerang = uke) terluka. Aikidoka yang diserang (nage) dapat menetralisasi serangan tersebut dengan cepat
10 16 dan bersih dengan kontrol terhadap semua aspek serangan dan pertahanan sehingga self-defense yang efektif dapat tercipta tanpa menyebabkan cedera yang serius terhadap penyerang (uke). a high degree of coordination is the main result: fluid, supple, functional, movements which are free from any form of rigidity, whether physical (muscular contraction and/or overdevelopment) or mental (tension). (Westbrook & Ratti, 1970, hal. 26) Aikido diartikan sebagai cara (do) mengkoordinasikan keselarasan (ai) energi mental atau jiwa (ki) (Westbrook & Ratti, 1970). Olliges (2008) mendefinisikan Aikido sebagai seni bela diri yang didasarkan pada filosofi pemecahan tanpa konflik kekerasan dan pencapaian keselarasan dengan memberikan cinta dan perlindungan kepada sesama The Ethics of Defense Agar lebih memperjelas berbagai definisi mengenai Aikido di atas, berikut adalah gambar yang secara garis besar menunjukkan perbedaan mendasar yang digunakan dalam berbagai variasi self-defense dalam seni bela diri. Gambar ini menggambarkan tingkatan dalam pertempuran dari yang tidak layak dilakukan hingga yang pantas untuk dilakukan (Westbrook & Ratti, 1970). Salah satu dari keempat panel di bawah ini merupakan prinsip dalam Aikido. Keempat panel ini adalah the ethics of defense.
11 17 Gambar 2.1. The Ethics of Defense (Wesbrook & Ratti, 1970) Tingkat yang pertama (panel A) merupakan tingkat terendah, yaitu individu bertahan dengan cara menyerang terlebih dahulu dengan inisiatifnya, tanpa memberikan tanda-tanda akan menyerang terlebih dahulu, dan pada akhinyna membunuh sang lawan. Tingkat selanjutnya (panel B), individu tidak langsung menyerang, namun memprovokasi/memancing lawan untuk menyerang terlebih dahulu (dalam gambar ditunjukkan dengan penghinaan mengarahkan telunjuk ke lawan - yang dilakukan individu yang berada di sebelah kiri) dan pada akhirnya juga membunuh lawan. Pada akhirnya, lawan terpancing dan menyerang. Walaupun individu tidak menyerang, serangan yang dilakukan lawan yang akhirnya membunuhnya merupakan tanggung jawab si individu karena menyebabkan lawan terprovokasi. Westbrook & Ratti (1970) menjelaskan hampir tidak ada perbedaan pada kedua tingkat ini. Tingkat yang ketiga (panel C) menggambarkan individu yang tidak menyerang terlebih dahulu atau memancing untuk diserang, namun ia memposisikan dirinya bertahan dengan hanya memperhatikan dirinya sendiri, tanpa memikirkan akibat yang diderita lawan, sehingga menyebabkan lawan
12 18 terbunuh atau mendapatkan cedera berat. Bila dilihat, tingkat pertama hingga ketiga memiliki satu hal yang identik, yaitu lawan terbunuh. Pada tingkat keempat (panel D), individu memiliki kontrol terhadap dirinya dan lawan dan tidak membalas serangan lawan, namun tetap bertahan tanpa menyebabkan lawan terbunuh. Tingkat terakhir ini lah yang dipakai sebagai prinsip dalam Aikido (Westbrook & Ratti, 1970). Aikidoka (individu yang mengikuti Aikido) tidak dilatih untuk membalas serangan dan menyebabkan lawan menerima serangan balas. Di lain pihak, serangan hanya lah dihentikan tanpa menyebabkan penyerang mendapatkan cedera, atau paling tidak tanpa mengalami cedera yang serius. Tingkat keempat ini merupakan tujuan Aikido (Westbrook & Ratti, 1970). Aplikasi dari gerakan tingkat empat the ethics of defense ini baru lah terlihat ketika individu diserang tanpa si individu mengetahui sebelumnya akan diserang. Ketika individu diserang oleh individu lain, reaksi yang akan muncul adalah reaksi insting yang ada dalam diri individu tersebut. Reaksi insting ini bergantung pada apa yang ada dalam dirinya. Menurut Westbrook & Ratti (1970), reaksi insting yang ada dalam diri individu pada dasarnya adalah menyerang (agresi) balik. Oleh karena itu, untuk memunculkan respon insting yang lebih halus dan tidak menampilkan kekerasan (dalam hal ini agresi balik), individu harus lah memiliki waktu yang relatif cukup dalam belajar untuk tidak membalas serangan tersebut, yang dalam hal ini dipelajari dalam Aikido. Sehingga pada akhirnya respon ini terprogram dalam jiwa dan individu tidak lagi memandangnya sebagai gerakan atau teknik yang terpisah (Westbrook & Ratti, 1970). Sebagai akibatnya, setiap individu menerima serangan dari individu lain, ia akan berespon dengan tanpa membalas serangan tersebut Perbedaan Aikido dengan Seni Bela Diri Lainnya Aikido adalah seni bela diri yang unik, sehingga berbeda dengan seni bela diri yang pernah ada. Berdasarkan Westbrook & Ratti (1970), perbedaan tersebut dijelaskan sebagai berikut.
13 19 1. Aikido adalah aplikasi murni dari seni bela diri. Hal ini berarti bahwa dalam Aikido tidak terdapat serangan, sehingga individu yang telah mencapai tingkat penguasaan yang tinggi dalam Aikido akan menyebabkan cedera yang tidak parah pada penyerang. 2. Terdapat istilah hara atau pusat manusia, yang terletak dua inci di bawah pusar perut manusia. Ki yang telah disebut di atas atau energi mental berada pada pusat ini. 3. Terdapat strategi (gerakan atau teknik) yang khas pada seni ini (Aikido). 4. Terdapat istilah netralisasi terhadap serangan Tingkat dalam Aikido Terdapat dua tingkat dalam Aikido, yaitu Kyu dan Dan (Westbrook & Ratti, 1970). Kyu merupakan tingkat yang harus dilalui aikidoka sebelum tingkat Dan, dengan rentang dari 1-6. Kyu 6 merupakan tingkat yang paling rendah. Oleh karena itu, aikidoka yang baru bergabung dalam Aikido akan memulai pada tingkat ini. Pada tingkat ini, aikidoka memulai Aikido nya dengan mengenakan obi (sabuk) putih. Dan merupakan tingkat di mana aikidoka berhak menggunakan obi hitam. Tingkat ini diperoleh melalui ujian yang dilaksanakan di ibukota negara (Jakarta), dengan tim penguji langsung dari Jepang. Aikidoka yang telah lulus dalam ujian ini, berhak menyandang gelar shodan (dan 1) tidak hanya di dalam negeri saja, melainkan juga di luar negeri. Dengan kata lain, shodan yang diperolehnya berlaku secara internasional Dinamika antara Forgiveness dan Aikido Individu yang memaafkan memiliki kecenderungan untuk berbuat baik, mengasihani dan bersikap positif terhadap transgressor. Dengan menumbuhkembangkan forgiveness, berarti individu juga meningkatkan kesehatan dalam dirinya, baik fisik mau pun psikologis. Di sisi yang lain, dengan mengikuti kegiatan Aikido juga meningkatkan kesehatan fisik individu tersebut. Kesehatan ini bukan hanya disebabkan karena Aikido merupakan salah satu bentuk olah raga, melainkan juga karena kekayaan filosofi yang dimilikinya, termasuk filosofi dalam menerima serangan (the ethics of defense).
14 20 Kaitan antara forgiveness dan Aikido terletak pada filosofi ini. Hal ini terkait dengan ethics of defense tingkat terakhir. Filosofi ini menekankan sikap dan dorongan aikidoka yang tetap dalam keadaan positif, walaupun ia tengah menerima serangan. Sikap menerima serangan tanpa membalas ini peneliti kaitkan dengan forgiveness. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, forgiveness memiliki tiga dimensi, yaitu avoidance, revenge, dan benevolence motivations. Aikidoka tidak diajarkan untuk menyerang terlebih dahulu dalam pertarungan, ia ditekankan untuk mengedepankan pertahanan. Ketika lawan menyerang, ia tidak menghindar. Sebaliknya, ia menerima serangan tersebut, dengan tanpa menimbulkan konflik tenaga. Ini adalah contoh aplikasi dari ketiadaan avoidance motivations. Saat menerima serangan, aikidoka menerima serangan tersebut dan bersatu dengan lawan. Fase ini menekankan pada kemampuan aikidoka untuk merasakan tenaga dan arah lawan yang kemudian mengarahkan dan melumpuhkan serangan, tanpa menyertai serangan balasan. Ini adalah contoh aplikasi dari ketiadaan revenge motivations dalam Aikido. Benevolence motivations dalam Aikido ditekankan pada sikap aikidoka saat ia mengarahkan dan melumpuhkan serangan dengan tetap menjaga keselamatan lawan. Seperti yang telah dijelaskan pada the ethics of defense, aikidoka tidak memberikan serangan balasan, namun tetap menjaga agar lawan tidak cedera. Walaupun akan menyebabkan cedera, bukan lah merupakan cedera yang berat. Di sini berarti, seburuk apa pun serangan lawan, maka tidak akan dipersepsikan sebagai bahaya terhadap dirinya. Dalam fase ini, aikidoka tetap bersikap positif dan berusaha untuk menyelamatkan baik dirinya yang menerima serangan, juga lawannya yang dalam posisi terlumpuhkan serangannya. Oleh karena itu, dengan mengaplikasikan the ethics of defense ini, Aikido diharapkan dapat menumbuhkembangkan forgiveness dalam diri individu, sehingga diharapkan individu yang mengikuti Aikido akan lebih memaafkan daripada individu yang tidak mengikuti Aikido (seni bela diri lain atau tidak mengikuti seni bela diri sama sekali).
BAB 5 KESIMPULAN, DISKUSI, DAN SARAN
BAB 5 KESIMPULAN, DISKUSI, DAN SARAN 5.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan analisis terhadap data pada Bab sebelumnya, disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara mahasiswa yang
BAB 3 METODE PENELITIAN
BAB 3 METODE PENELITIAN Pada Bab ini, akan dibahas mengenai hipotesis penelitian, variabel penelitian, responden penelitian, alat ukur penelitian, prosedur pilot study dan penelitian, serta metode analisis
BAB I LATAR BELAKANG MASALAH
BAB I LATAR BELAKANG MASALAH 1.1 Latar Belakang Masalah Pada dasarnya setiap manusia memiliki tugas perkembangannya masing-masing sesuai dengan tahap perkembangannya. Mahasiswa memiliki berbagai tugas
Ummu Rifa atin Mahmudah_ Jurusan Psikologi-Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
PERBEDAAN TINGKAT MEMAAFKAN (FORGIVENESS) ANTARA SANTRI YANG HAFAL AL-QUR AN DENGAN SANTRI YANG TIDAK HAFAL AL-QUR AN DI MA HAD SUNAN AMPEL AL- ALY MALANG Ummu Rifa atin Mahmudah_11410009 Jurusan Psikologi-Fakultas
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Pemaafan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pemaafan 1. Pengertian Pemaafan Pemaafan sebagai kesediaan seseorang untuk meninggalkan kemarahan, penilaian negatif, dan perilaku acuh tidak acuh terhadap orang lain yang telah
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Memaafkan. adalah kata yang berasal dari bahasa Arab, al afw. Kata ini dalam al-qur an
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Memaafkan 1. Defenisi Memaafkan Secara terminologis, kata dasar memaafkan adalah maaf dan kata maaf adalah kata yang berasal dari bahasa Arab, al afw. Kata ini dalam al-qur an
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Pemaafan. maaf adalah kata saduran dari bahasa Arab, al afw. Kata ini dalam al-
11 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pemaafan 1. Definisi Pemaafan Secara terminologis, kata dasar pemaafan adalah maaf dan kata maaf adalah kata saduran dari bahasa Arab, al afw. Kata ini dalam al- Qur an terulang
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Mahasiswa adalah golongan intelektual yang sedang menjalani pendidikan di perguruan tinggi dan diharapkan nantinya mampu bertindak sebagai pemimpin yang terampil,
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. adalah dengan memaafkan. Memaafkan adalah salah satu cara untuk
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sebagian besar dari individu pernah terluka dan memerlukan cara untuk mengatasi luka tersebut. Cara untuk mengatasi luka salah satunya adalah dengan memaafkan.
: Rifdaturahmi NPM : Pembimbing : Dr. Muhammad Fakhrurrozi, Psikolog
Nama : Rifdaturahmi NPM : 16512334 Jurusan : Psikologi Pembimbing : Dr. Muhammad Fakhrurrozi, Psikolog Latar Belakang Masalah Latar Belakang Masalah Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk menguji
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Pengalaman Memaafkan. kebanyakan berfokus pada memaafkan sebagai proses dengan individu
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengalaman Memaafkan 1. Definisi Pengalaman Memaafkan Memaafkan merupakan sebuah konsep dimana terdapat pelaku dan korban yang berada dalam sebuah konflik dan sedang berusaha
HUBUNGAN FORGIVENESS TERHADAP PERISTIWA PERCERAIAN ORANG TUA DENGAN PSYCHOLOGICAL WELL-BEING PADA REMAJA KORBAN PERCERAIAN
HUBUNGAN FORGIVENESS TERHADAP PERISTIWA PERCERAIAN ORANG TUA DENGAN PSYCHOLOGICAL WELL-BEING PADA REMAJA KORBAN PERCERAIAN Disusun Oleh Nama : Pandu Perdana NPM : 15512631 Kelas : 4PA05 Keluarga Perceraian
BAB I PENDAHULUAN. perih, mengiris dan melukai hati disebut unforgiveness. Seseorang yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Membuat perubahan hidup positif adalah sebuah proses multi tahapan yang dapat menjadi kompleks dan menantang. Pengalaman emosi marah, benci, dan kesedihan yang terjadi
BAB III METODE PENELITIAN. A. Desain Penelitian. menekankan pada analisis data-data numerikal (angka) yang diolah dengan
BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Pada penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif yang menekankan pada analisis data-data numerikal (angka) yang diolah dengan metoda statistika.
Perbedaan Forgiveness pada Lansia yang Tinggal di Panti Wredha dan di Rumah
Perbedaan Forgiveness pada Lansia yang Tinggal di Panti Wredha dan di Rumah Davin Aristyo Rahadiyan Lumadyo 1 Stefanus Soejanto Sandjaja Fakultas Psikologi Universitas Kristen Krida Wacana Jakarta Abstract.
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kuantitatif korelasional. Carmies dan Zeller (dalam Sangadji dan Sopiah, 2010, h.26) mengemukakan metode kuantitatif
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Pemaafan Pada Remaja Akhir. konsiliasi hubungan dengan pihak yang menyakiti.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pemaafan Pada Remaja Akhir 1. Pengertian Pemaafan McCullough, Worthington, dan Rachal (1997) mengemukakan bahwa pemaafan merupakan seperangkat motivasi untuk mengubah seseorang
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. luar keluarga seperti teman-teman atau sahabat. Santrock (2007) yang tinggi atas perbuatan yang mereka lakukan.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masa remaja merupakan masa pencarian identitas diri, sehingga hubungan yang dijalin tidak lagi hanya dengan orangtua, tapi sudah merambah ke hubungan luar keluarga seperti
BAB III METODE PENELITIAN. A. Metode Penelitian. korelasional. Penelitian ini dirancang untuk menentukan tingkat hubungan variabel-variabel yang
BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif korelasional. Penelitian ini dirancang untuk menentukan tingkat hubungan variabel-variabel
BAB II KAJIAN PUSTAKA
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1. Forgiveness 2.1.1. Definisi Forgiveness McCullough (2000) bahwa forgiveness didefinisikan sebagai satu set perubahan-perubahan motivasi di mana suatu organisme menjadi semakin
BAB III METODE PENELITIAN. A. Desain Penelitian
BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan teknik korelasional. Penelitian dengan teknik koresional merupakan penelitian yang dimaksudkan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. PERILAKU MEMAAFKAN. semakin menurun motivasi untuk membalas dendam terhadap pelaku
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1. Pengertian Perilaku Memaafkan A. PERILAKU MEMAAFKAN Menurut McCollough, Worthington dan Rachal (1997:321) perilaku memaafkan merupakan suatu perubahan motivasi dimana individu
BAB II LANDASAN TEORI. Seseorang tidak mungkin forgive (memaafkan) kecuali jika unforgive
BAB II LANDASAN TEORI II. A FORGIVENESS Seseorang tidak mungkin forgive (memaafkan) kecuali jika unforgive (tidak memaafkan) telah terjadi. Forgiveness memang baru dapat muncul setelah adanya unforgiveness,
FORGIVENESS PADA DEWASA AWAL PUTRI YANG MENGALAMI KEKERASAN PADA MASA KANAK-KANAK
FORGIVENESS PADA DEWASA AWAL PUTRI YANG MENGALAMI KEKERASAN PADA MASA KANAK-KANAK Nama : Yohana Yosephine NPM : 10507259 Jurusan : Psikologi Pembimbing : Diana Rohayati, S.Psi., M.Psi PENDAHULUAN Kekerasan
LAMPIRAN A. Tabel dimensi, indicator behavior, dan item yang digunakan dalam uji keterbacaan
LAMPIRAN A Tabel dimensi, indicator behavior, dan item yang digunakan dalam uji keterbacaan Dimensi Indikator Item No. Saya berusaha untuk membuat jarak sejauh mungkin dengan dia 2 Saya menjalani hidup
BAB 3 METODE PENELITIAN Variabel Penelitian, Definisi Operasional, dan Hipotesis
BAB 3 METODE PENELITIAN 3. 1. Variabel Penelitian, Definisi Operasional, dan Hipotesis 3. 1. 1. Variabel Penelitian Variabel penelitian merupakan semua hal dalan suatu penelitian yang datanya ingin diperoleh
BAB II KAJIAN PUSTAKA
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Forgiveness 1. Pengertian forgiveness Menurut McCullough, forgiveness merupakan sikap seseorang yang telah disakiti untuk tidak melakukan perbuatan balas dendam terhadap pelaku,
BAB III METODE PENELITIAN. A. Desain Penelitian. dalam prosesnya menekankan pada analisis data-data numerikal (angka) yang
BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Pada penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif yang dalam prosesnya menekankan pada analisis data-data numerikal (angka) yang diolah dengan
BAB I PENDAHULUAN. dan suami, ibu dan ayah, anak perempuan dan anak laki-laki, saudara perempuan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Keluarga ialah sekelompok orang yang terhubungkan oleh ikatan pernikahan, darah atau adopsi; membentuk suatu rumah tangga tunggal; saling berinteraksi dan
BAB II LANDASAN TEORI. Perselingkuhan merupakan suatu pelanggaran kepercayaan. Hal ini terjadi
19 BAB II LANDASAN TEORI A. Perselingkuhan Perselingkuhan merupakan suatu pelanggaran kepercayaan. Hal ini terjadi ketika salah satu ataupun kedua pasangan tidak menghormati lagi perjanjian untuk setia.
HUBUNGAN ANTARA MEMAAFKAN DENGAN KEMATANGAN DIRI PADA REMAJA AKHIR
HUBUNGAN ANTARA MEMAAFKAN DENGAN KEMATANGAN DIRI PADA REMAJA AKHIR Ilsan Sumiati 1 Stefanus Soejanto Sandjaja Fakultas Psikologi Universitas Kristen Krida Wacana Abstract. This study aimed to determine
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Forgiveness. pemaafan sebagai pembatalan dari utang piutang oleh orang yang telah melukai
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Forgiveness 1. Pengertian Forgiveness Exline dan Baumeister, 2000 (dalam Dayakisni & Hudaniah, 2009: 190) mendefinisikan forgiveness, yang dalam bahasa indonesia diterjemahkan
ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha
ABSTRAK Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui fase dan unit forgiveness pada wanita yang terinfeksi HIV melalui suaminya di Yayasan X Kota Bandung. Pemilihan sampel menggunakan metode purposive
Hubungan Kesejahteraan Psikologis Dengan Self Esteem Pada Wanita Rawan Sosial Ekonomi (WRSE) di Wilayah Kecamatan Tebet
Hubungan Kesejahteraan Psikologis Dengan Self Esteem Pada Wanita Rawan Sosial Ekonomi (WRSE) di Wilayah Kecamatan Tebet SKRIPSI Oleh : Bayhaqqi 201210515003 PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS
BAB II LANDASAN TEORI. A. Agresivitas
BAB II LANDASAN TEORI A. Agresivitas Semua orang seperti memahami apa itu agresi, namun pada kenyatannya terdapat perbedaan pendapat tentang definisi agresivitas. agresi identik dengan hal yang buruk.
BAB II LANDASAN TEORI. Kekerasan dalam rumah tangga (domestic violance) menurut Anne L. Ganley
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) 2.1.1 Definisi KDRT Kekerasan dalam rumah tangga (domestic violance) menurut Anne L. Ganley (1995), adalah pola perilaku kekerasan atau ancaman
BAB IV PERBANDINGAN PEMIKIRAN ABDULLAH NASHIH ULWAN DAN B.F. SKINNER SERTA RELEVANSI PEMIKIRAN KEDUA TOKOH TERSEBUT TENTANG HUKUMAN DALAM PENDIDIKAN
BAB IV PERBANDINGAN PEMIKIRAN ABDULLAH NASHIH ULWAN DAN B.F. SKINNER SERTA RELEVANSI PEMIKIRAN KEDUA TOKOH TERSEBUT TENTANG HUKUMAN DALAM PENDIDIKAN A. Perbandingan Pemikiran Abdullah Nashih Ulwan dan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tugas perkembangan pada remaja salah satunya adalah mencapai kematangan hubungan sosial dengan teman sebaya baik pria, wanita, orang tua atau masyarakat. Dimana
Forgiveness pada Istri sebagai Upaya untuk Mengembalikan Keutuhan Rumah Tangga akibat Perselingkuhan Suami
Forgiveness pada Istri sebagai Upaya untuk Mengembalikan Keutuhan Rumah Tangga akibat Perselingkuhan Suami Kartika Sari Program Studi Psikologi Universitas Syiah Kuala Banda Aceh Jl. Tgk. Tanoh Abee, Darussalam
Universitas Kristen Maranatha
ABSTRAK Etika menjadi kebutuhan penting bagi semua profesi yang ada agar tidak melakukan tindakan yang menyimpang hukum. Etika merupakan nilai-nilai hidup dan normanorma serta hukum yang mengatur perilaku
BAB III MAKNA FILOSOFI BUSHIDOU DI DALAM SIKAP AIKIDOUKA. 3.1 Filosofi Gi (Kebenaran) di dalam Sikap Aikidouka
BAB III MAKNA FILOSOFI BUSHIDOU DI DALAM SIKAP AIKIDOUKA 3.1 Filosofi Gi (Kebenaran) di dalam Sikap Aikidouka Prinsip utama aikidou adalah gi. Gi terdapat dalam diri aikidouka yaitu jasmani dan jiwa. Jiwa
ABSTRAK. Kata Kunci : Informed Consent dalam keadaan darurat, Perlindungan Hukum bagi Dokter
TINJAUAN YURIDIS PERLINDUNGAN HUKUM BAGI DOKTER DIHUBUNGKAN DENGAN PERATURAN MENGENAI PERSETUJUAN TINDAKAN KEDOKTERAN DALAM KEADAAN DARURAT YANG MEMBUTUHKAN PEMBEDAHAN BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 29
SKRIPSI TINJAUAN YURIDIS TERHADAP KEKERASAN YANG DILAKUKAN OKNUM GURU TERHADAP MURID DI SEKOLAH
SKRIPSI TINJAUAN YURIDIS TERHADAP KEKERASAN YANG DILAKUKAN OKNUM GURU TERHADAP MURID DI SEKOLAH Diajukan Oleh : ARTHUR RIONALDI NPM : 08 05 09957 Program Studi : Ilmu Hukum Program Kekhususan : Peradilan
BAB III METODE PENELITIAN. angka, mulai dari pengumpulan data, penafsiran angka tersebut, serta penampilan
BAB III METODE PENELITIAN A. Rancangan Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dalam usaha menguji hipotesis yang telah disusun. Penelitian kuantitatif banyak dituntut menggunakan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. 2010). Hal tersebut sejalan dengan Undang-Undang No.20 Tahun 2003 tentang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Salah satu kebijakan pemerintah di sektor pendidikan yang mendukung
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu kebijakan pemerintah di sektor pendidikan yang mendukung pendidikan sepanjang hayat adalah diakuinya Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). PAUD adalah pendidikan
Fungsi - Fungsi Psikologis Manusia Menuju Perubahan MUHAMMAD FIERZA MUCHAROM, M.SI,PSI
Fungsi - Fungsi Psikologis Manusia Menuju Perubahan MUHAMMAD FIERZA MUCHAROM, M.SI,PSI Who is the Object Cara Memandang Manusia Bersifat EKLEKTIK HOLISTIK Behaviouristik Psikoanalisa Humanistik-transpersonal
BAB I PENDAHULUAN. ini dibuktikan oleh pernyataan Amrullah, Child Protection Program
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sekolah merupakan salah satu tempat bagi anak untuk memperoleh pendidikan yang umumnya digunakan para orang tua. Selain memperoleh pengetahuan atau pelajaran,
Membangun Menara karakter (Indonesian Edition)
Membangun Menara karakter (Indonesian Edition) Stella Olivia Click here if your download doesn"t start automatically Membangun Menara karakter (Indonesian Edition) Stella Olivia Membangun Menara karakter
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. tidaknya sebaran skor variable serta linier atau tidaknya hubungan. antara variabel bebas dengan variabel tergantungnya.
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Uji Asumsi Uji asumsi dilaksanakan terlebih dahulu sebelum melakukan uji hipotesis. Uji asumsi ini menyangkut normalitas dan linieritas yang digunakan
Norma, Peran, dan Nilai Dalam Pengembangan Organisasi
Norma, Peran, dan Nilai Dalam Pengembangan Organisasi Ali Rokhman, Ph.D (http://arokhman.blog.unsoed.ac.id) Miftah Thoha, 2003 Sondang P. Siagian, 2000 Parker, 1989 Rogers, 1995 Urgensi Norma, Peran, dan
HUBUNGAN RELIGIUSITAS DENGAN FORGIVENESS PADA WARGA DEWASA AWAL YANG TIDAK AKTIF MENGIKUTI IBADAH NON-MINGGU DI GEREJA BETHEL INDONESIA (GBI) BANDUNG
1 HUBUNGAN RELIGIUSITAS DENGAN FORGIVENESS PADA WARGA DEWASA AWAL YANG TIDAK AKTIF MENGIKUTI IBADAH NON-MINGGU DI GEREJA BETHEL INDONESIA (GBI) BANDUNG OLEH ZEFANYA JANUARI CHRISTINA 802011096 TUGAS AKHIR
HUBUNGAN RELIGIUSITAS DENGAN FORGIVENESS PADA INDIVIDU YANG TIDAK MELAKUKAN PRAKTIK AGAMA OLEH NOVLYN ELISABETH PRASYLIA TUGAS AKHIR
HUBUNGAN RELIGIUSITAS DENGAN FORGIVENESS PADA INDIVIDU YANG TIDAK MELAKUKAN PRAKTIK AGAMA OLEH NOVLYN ELISABETH PRASYLIA 802011046 TUGAS AKHIR Diajukan Kepada Fakultas Psikologi Guna Memenuhi Sebagian
PERLINDUNGAN KONSUMEN TERHADAP MAKANAN KEMASAN TANPA TANGGAL KADALUARSA
PERLINDUNGAN KONSUMEN TERHADAP MAKANAN KEMASAN TANPA TANGGAL KADALUARSA oleh: I Gede Eggy Bintang Pratama I Ketut Sudjana Bagian Hukum Perdata, Fakultas Hukum Universitas Udayana ABSTRAK Karya ilmiah ini
v Universitas Kristen Maranatha
ABSTRACT This study was conducted to describe the degree of self compassion on mother with intellectual disability children in SLB C X Bandung. Self compassion is ability to comfort ourselves, see a failure
BAB II KAJIAN TEORI. sebuah presepsi kesalahan/pelanggaran, yaitu seperti suatu kelekatan
BAB II KAJIAN TEORI A. FORGIVENESS 1. Definisi Forgiveness Thompson dan Snyder mendefinisikan forgiveness sebagai rangkaian sebuah presepsi kesalahan/pelanggaran, yaitu seperti suatu kelekatan kepada pelaku
IMPRESSION MANAGEMENT. MATA KULIAH : ISU-ISU KONTEMPORER BY DYAN RAHMIATI, M.Si
IMPRESSION MANAGEMENT MATA KULIAH : ISU-ISU KONTEMPORER BY DYAN RAHMIATI, M.Si Pengantar "When an individual appears in the presence of others, there will usually be some reason for him to mobilize his
Branding. In 6 steps.
Branding In 6 steps www.brandingcommunications.com Selosonan Sinau Bareng Oleh Noviaji Wibisono MARKET ANALYSIS Step 1 Pelanggan adalah inti sebuah brand. Jika pelanggan tidak membeli, brand tidak akan
FORGIVENESS PADA WANITA YANG MEMPUNYAI ANAK DILUAR NIKAH
FORGIVENESS PADA WANITA YANG MEMPUNYAI ANAK DILUAR NIKAH PUBLIKASI ILMIAH Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan Program Studi Strata I pada Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta
PENGANTAR. kebiasaan, visi hidup, maupun strata pendidikan. Perbedaan dan keunikan masingmasing
PENGANTAR Konflik dalam Pernikahan Pernikahan melibatkan dua individu yang berbeda dan unik, baik dari kebiasaan, visi hidup, maupun strata pendidikan. Perbedaan dan keunikan masingmasing pasangan menuntut
KONSEP DIRI PADA PELAKU PERCOBAAN BUNUH DIRI
KONSEP DIRI PADA PELAKU PERCOBAAN BUNUH DIRI Oleh : GRACIA NATALIA R. WATTIMENA 802004070 TUGAS AKHIR Diajukan kepada Program Studi : Psikologi, Fakultas : Psikologi guna memenuhi sebagian dari persyaratan
BAB I PENDAHULUAN. Sekolah merupakan pendidikan kedua setelah lingkungan keluarga, manfaat
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah 1.Latar Belakang Sekolah merupakan pendidikan kedua setelah lingkungan keluarga, manfaat dari sekolah bagi siswa ialah melatih kemampuan akademis siswa,
PSIKOLOGI PEMAAFAN. Oleh: Latifah Tri Wardhati & Faturochman
PSIKOLOGI PEMAAFAN Oleh: Latifah Tri Wardhati & Faturochman Dalam berinteraksi dengan individu lain, seseorang kadang-kadang berbuat salah kepada individu lain. Pada sisi lain, ia tentu pernah mengalami
PEMBERIAN GANTI RUGI SEBAGAI BENTUK PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PASIEN DALAM TINDAK PIDANA DI BIDANG MEDIS
PEMBERIAN GANTI RUGI SEBAGAI BENTUK PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PASIEN DALAM TINDAK PIDANA DI BIDANG MEDIS I Gede Andika Putra I Wayan Wiryawan Bagian Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Udayana Abstrac
Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK
ABSTRAK LANGKAH-LANGKAH HUKUM YANG DAPAT DILAKUKAN OLEH BANK TERKAIT MUSNAHNYA BARANG JAMINAN FIDUSIA BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 42 TAHUN 1999 TENTANG JAMINAN FIDUSIA JUNCTO UNDANG-UNDANG NOMOR 40
GAMBARAN FORGIVENESS ODHA PEREMPUAN YANG TERINFEKSI DARI SUAMI
GAMBARAN FORGIVENESS ODHA PEREMPUAN YANG TERINFEKSI DARI SUAMI SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Ujian Sarjana Psikologi Oleh: DWIKA SEPTIAN IHSAN 091301013 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SUMATERA
Respons Orang Tua Korban Pembunuhan terhadap Pembunuh Anak Tunggalnya
Judul Skripsi : Respons Orang Tua Korban Pembunuhan terhadap Pembunuh Anak Tunggalnya Pembimbing: Dr. Hendro Prabowo, S.Psi Oleh : Monica Lutfy Setyawan 14511602 Latar Belakang Masalah Dalam berinteraksi
HUBUNGAN ANTARA KEMATANGAN EMOSI DENGAN KECENDERUNGAN MEMAAFKAN PADA REMAJA AKHIR
HUBUNGAN ANTARA KEMATANGAN EMOSI DENGAN KECENDERUNGAN MEMAAFKAN PADA REMAJA AKHIR Radhitia Paramitasari Ilham Nur Alfian Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Surabaya Abstract. The aim of this research
TESIS ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA DALAM KONTRAK SHOWBIZ DI INDONESIA
TESIS ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA DALAM KONTRAK SHOWBIZ DI INDONESIA OLEH : RADEN BONNY RIZKY NPM 201220252022 PROGRAM PASCASARJANA MAGISTER ILMU HUKUM UNIVERSITAS BHAYANGKARA JAKARTA RAYA 2016 TESIS
TANGGUNG JAWAB DIREKSI BERDASARKAN PRINSIP FIDUCIARY DUTIES DALAM PERSEROAN TERBATAS
TANGGUNG JAWAB DIREKSI BERDASARKAN PRINSIP FIDUCIARY DUTIES DALAM PERSEROAN TERBATAS Abstrak : Oleh: Putu Ratih Purwantari Made Mahartayasa Hukum Bisnis, Fakultas Hukum Universitas Udayana Direksi adalah
Pengertian tersebut didukung oleh Coloroso (2006: 44-45) yang mengemukakan bahwa bullying akan selalu melibatkan ketiga unsur berikut;
Definisi bullying merupakan sebuah kata serapan dari bahasa Inggris. Istilah Bullying belum banyak dikenal masyarakat, terlebih karena belum ada padanan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia (Susanti,
ABSTRAK Program Magister Psikologi Universitas Kristen Maranatha
ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk menurunkan frekuensi dan intensitas perilaku Oppositional Defiant Disorder (ODD) pada remaja SMP dengan Cognitive Behavior Therapy (CBT). Melalui CBT, negative automatic
TEKNIK COGNITIVE RESTRUCTURING UNTUK MENINGKATKAN KECERDASAN EMOSI DAN FORGIVENESS. Resmin Manik 1
TEKNIK COGNITIVE RESTRUCTURING UNTUK MENINGKATKAN KECERDASAN EMOSI DAN FORGIVENESS Resmin Manik 1 Abstrak Kajian konsep forgiveness mengenai psikologi positif menarik minat banyak kalangan yang menginginkan
Pengaruh Relationship Satistfaction Terhadap Forgiveness dalam Situasi Finansial
Pengaruh Relationship Satistfaction Terhadap Forgiveness dalam Situasi Finansial Naufal Sani, Dianti Endang Kusumawardhani Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia, Depok, 16424, Indonesia E-mail: [email protected]
BAB IV ANALISIS UPAYA DAN KENDALA REKONSILIASI KONFLIK PORTO-HARIA. Dengan mencermati realita konflik yang terjadi di Negeri Porto-Haria,
BAB IV ANALISIS UPAYA DAN KENDALA REKONSILIASI KONFLIK PORTO-HARIA Dengan mencermati realita konflik yang terjadi di Negeri Porto-Haria, Saparua-Maluku, dalam bab I dan landasan teori pada bab II serta
God s PERFECT TIMING EDITORIAL
God s PERFECT TIMING EDITORIAL TAKUT AKAN TUHAN. Permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik... KEHIDUPAN YANG DIPERSEMBAHKAN. Karena itu saudara-saudara,
Interpersonal Communication Skill
Modul ke: 02 Dra. Fakultas FIKOM Interpersonal Communication Skill Pemahaman Diri Tri Diah Cahyowati, Msi. Program Studi Marcomm & Advertising The Self Dimension IN ORDER TO HAVE CONVERSATION WITH SOMEONE
BAB I ABSTRAK. Kecenderungan Memaafkan Pada Remaja Akhir
BAB I ABSTRAK Judul Jurnal : Hubungan Antara Kematangan Emosi Dengan Kecenderungan Memaafkan Pada Remaja Akhir Penulis Jurnal : Radhitia Paramitasari & Ilham Nur Alfian (Fakultas Psikologi Universitas
BAB I PENDAHULUAN. pelayanan yang ada di gereja, yang bermula dari panggilan Allah melalui Kristus
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Agama Kristen Protestan merupakan salah satu agama yang diakui di Indonesia. Pada Agama Kristen biasanya memiliki suatu organisasi di gereja yang melibatkan
