STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR NGABEN SWASTA GNI

dokumen-dokumen yang mirip
SURAT EDARAN TENTANG DONATUR Nomor : 01/YPI/ADM/I/2018

BAB V ANALISA DATA. A. Upacara Kematian Agama Hindu Di Pura Krematorium Jala Pralaya

SOP Pelayanan Kedukaan Tradisi Veda (Vaisnava)

Oleh Ni Putu Dwiari Suryaningsih Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

SOSIALISASI YAYASAN PITRA YADNYA INDONESIA

LAPORAN PERKEMBANGAN YAYASAN PITRA YADNYA INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. yang ada di Indonesia berbeda dengan yang ada di India, ini disebabkan oleh

Pedoman Upacara Pitra Yadnya Ngaben dan Atma Wadana. Yayasan Pitra Yadnya Indonesia

TUGAS AGAMA DEWA YADNYA

Filled Notes. 1. Wawancara dengan Bapak YB. Hari/tanggal : Selasa, 27 Maret : Rumah Bapak YB : WITA.

KARYA ILMIAH : KARYA SENI MONUMENTAL

Desain Penjor, Keindahan Yang Mewarnai Perayaan Galungan & Kuningan

PEMARGI MELASTI LINGGIH IDA BHATARA RING PURA PUSEH

I. PENDAHULUAN. Indonesia adalah negara kepulauan yang sangat luas yang masyarakatnya terdiri

EKSISTENSI TIRTHA PENEMBAK DALAM UPACARA NGABEN DI KELURAHAN BALER-BALE AGUNG KECAMATAN NEGARA KABUPATEN JEMBRANA (Perspektif Pendidikan Agama Hindu)

ESTETIKA SIMBOL UPAKARA OMKARA DALAM BENTUK KEWANGEN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. kepercayaan, keyakinan dan kebiasaan yang berbeda-beda,karena kebudayaan

SUNGAI GANGGA. Jarum jam menunjuk angka PERSPEKTIF. Menyusuri. Di Pagi Hari

BAB III PENYAJIAN DATA. A. Pelaksanaan Kenduri Arwah sebagai rangkaian dari ritual kematian dalam

HUBUNGAN TIGA PILAR AGAMA HINDU DILIHAT DARI ASPEK EKONOMI 1 I Made Sukarsa 2

Bahan Baku Peralatan dan Proses Pembuatan Gerabah II Oleh: Drs. I Made Mertanadi, M.Si., Dosen PS Kriya Seni

KARYA ILMIAH : KARYA SENI MONUMENTAL JUDUL KARYA : Naga Banda PENCIPTA : Ni Ketut Rini Astuti, S.Sn., M.Sn PAMERAN

INTERAKSI SOSIAL DALAM PELAKSANAAN RITUAL KEAGAMAAN MASYARAKAT HINDU-BALI (Studi Pada Ritual Ngaben di Krematorium)

TRADISI NYAKAN DI RURUNG DALAM PERAYAAN HARI RAYA NYEPI DI DESA PAKRAMAN BENGKEL KECAMATAN BUSUNGBIU KABUPATEN BULELENG (Kajian Teologi Hindu)

TATA CARA PENGURUSAN JENAZAH

BAB I PENDAHULUAN. atas tanah sebagai upacara peniadaan jenazah secara terhormat.

BAB IV PENYAJIAN DATA. 1. Gambaran Umum Pura Krematorium Jala Pralaya. terhitung baru beroperasi bagi warga Sidoarjo dan Surabaya, yakni sejak

PERATURAN DAERAH KABUPATEN OKU TIMUR NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG RETRIBUSI PELAYANAN PEMAKAMAN DAN PENGABUAN MAYAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

TUTUR WIDHI SASTRA DHARMA KAPATIAN: ANALISIS STRUKTUR DAN FUNGSI. Corresponding Author

DRAFT MATERI SANGKEP 11 JUNI 2017

JURNAL PENELITIAN AGAMA HINDU 68

WARNA POLENG BUSANA PEMANGKU PENGLURAN PADA UPACARA PENGEREBONGAN DI PURA AGUNG PETILAN, KESIMAN

LAPORAN TAHUN 2015 YAYASAN PITRA YADNYA INDONESIA

PANDANGAN MASYARAKAT TERHADAP UPACARA MERTI DESA DI DESA CANGKREP LOR KECAMATAN PURWOREJO KABUPATEN PURWOREJO

BAB I GAMBARAN UMUM KELUARGA DAMPINGAN

DESKRIPSI TARI ADI MERDANGGA SIWA NATA RAJA TEDUNG AGUNG

Kreativitas Busana Pengantin Agung Ningrat Buleleng Modifikasi

DUDONAN UPAKARA/UPACARA LAN RERAHINAN SUKA DUKA HINDU DHARMA BANJAR CILEDUG DAN SEKITARNYA TAHUN 2015

Gambar 6 Gelungan Telek dari Banjar Kawan Foto: Ayu Herliana, 20011

CARA PERAWATAN JENAZAH DI DAERAH TEMPUR

TARI ADI MERDANGGA SIWA NATA RAJA LINGGA

MAKALAH : MATA KULIAH ACARA AGAMA HINDU JUDUL: ORANG SUCI AGAMA HINDU (PANDHITA DAN PINANDITA) DOSEN PEMBIMBING: DRA. AA OKA PUSPA, M. FIL.

UPACARA BAYUH OTON UDA YADNYA DI DESA PAKRAMAN SIDAKARYA KECAMATAN DENPASAR SELATAN KOTA DENPASAR

I. PENDAHULUAN. Etnis Bali memiliki kebudayaan dan kebiasaan yang unik, yang mana kebudayaan

Sejarah Lempar Lembing

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PERAWATAN JENAZAH

UPACARA NGADEGANG NINI DI SUBAK PENDEM KECAMATAN JEMBRANA KABUPATEN JEMBRANA (Perspektif Nilai Pendidikan Agama Hindu)

10hb April Ustaz Mohd Salleh Hj. Mastor Imam Masjid Tun Abdul Aziz, Seksyen 14, Petaling Jaya. oleh SURAU AL-HIKMAH SBZ3 SHAH ALAM

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. A. Sejarah Singkat DPC Harpi Melati Kota Bandar Lampung

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) PERAWATAN JENASAH

UPACARA NGABEN NINGKEB DI BANJAR KEBON DESA PAKRAMAN BLAHBATUH KECAMATAN BLAHBATUH KABUPATEN GIANYAR (Kajian Filosofis)

UKDW BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang Permasalahan

3. Laklak Debata Bulan (Kitab Debata Bulan)

1 I Made Bandem, Ensiklopedi Tari Bali, op.cit., p.55.

PERATURAN DAERAH KOTA TEGAL

PEMERINTAH KOTA SURABAYA

BAB I PENDAHULUAN. yang biasanya diperoleh dari orang tuanya. Nama tersebut merupakan pertanda

Oleh Ni Putu Ayu Putri Suryantari Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

BAB I GAMBARAN UMUM KELUARGA DAMPINGAN

BAGAIMANA MENERAPKAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) DI TATANAN TEMPAT IBADAH (PURA)

Universitas Sumatera Utara

KARYA ILMIAH : KARYA SENI MONUMENTAL

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 44 TAHUN 2017 TENTANG PAKAIAN DINAS PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN KANTOR KESEHATAN PELABUHAN

Penyusunan Kompetensi Dasar Pendidikan Agama Hindu untuk Sekolah Dasar. Menunjukkan contoh-contoh ciptaan Sang Hyang Widhi (Tuhan)

SULAWESI TENGAH. Elly Lasmanawati

PERSYARATAN PAKAIAN STUDENT DAY 2016 UNIVERSITAS UDAYANA

BAB IV ANALISA DAN REFLEKSI TEOLOGI

BAB IV GAMBARAN UMUM PANTAI KEDONGANAN SEBAGAI LOKASI PENELITIAN. Kabupaten Badung dan merupakan wilayah (palemahan) Desa Adat Kedonganan.

TATA TERTIB PESERTA DIDIK SEKOLAH UNGGUL SMA NEGERI 1 LUBUK ALUNG

PEMERINTAH KOTA SURABAYA PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMOR 13 TAHUN 2003 TENTANG PENGELOLAAN TEMPAT PEMAKAMAN DAN PENYELENGGARAAN PEMAKAMAN JENAZAH

DAFTAR PUSTAKA. Agus, Bustanuddin, Agama Dalam Kehidupan Manusia, Pengantar Antropologi Agama.Jakarta : Raja Grafindo Persada.2007.

Kata Kunci: Lingga Yoni., Sarana Pemujaan., Dewi Danu

EFISIENSI BIAYA PADA MASING-MASING PAKET UPACARA NGABEN DI YAYASAN PENGAYOM UMAT HINDU (YPUH) KABUPATEN BULELENG, SINGARAJA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Indonesia merupakan negara maritim yang terdiri dari pulau-pulau dan

GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG PAKAIAN DINAS PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN PEMERINTAH PROVINSI BALI

TUNTUNAN PRAKTIS MERAWAT JENAZAH

Dinamika Pertumbuhan Kerajinan Kayu Di Desa Singakerta Kiriman: Drs. I Dewa Putu Merta, M.Si., Dosen PS Kriya Seni ISI Denpasar.

DESKRIPSI SENDRATARI KOLOSAL BIMA SWARGA

TATA TERTIB PESERTA DIDIK SMA NEGERI 1 LUBUK ALUNG SEKOLAH UNGGUL Tahun Pelajaran 2017/2018

BAB III DESKRIPSI HASIL PENELITIAN. Secara geografis lokasi penelitian ini berada di Jl. Ketintang Wiyata

NILAI-NILAI PENDIDIKAN AGAMA HINDU PADA BANTEN PEMAHAYU ANGGA SARIRA DI DESA MENDOYO DANGIN TUKAD KECAMATAN MENDOYO KABUPATEN JEMBRANA

RESEP KUE TALAM BESERTA TIPS dan VARIASINYA

BAB IV ANALISA DATA. A. Analisa Makna Pernikahan di Gereja Bethany Nginden Surabaya. untuk menghasilkan keturunan. kedua, sebagai wujud untuk saling

The Karimata Restaurant Bogor, West Java. Make a Wish for Fish in Bamboo BBQ

Bagaimana yesus datang, Bagaimana yesus pergi?

BANTEN PIODALAN ALIT PURA AGUNG GIRI KERTHA BHUWANA SANISCARA UMANIS WATUGUNUNG ( SARASWATI )

Tradisi Menguras Sumur Di Pemandian Air Panas Krakal Kecamatan Alian Kabupaten Kebumen

Buku Petunjuk Pemakaian Pengeriting Rambut Berpelindung Ion

BAB IV HASIL DAN ANALISIS DATA

LINDUNGILAH KELUARGA ANDA DARI PENULARAN BATUK DAN FLU DENGAN ETIKA BATUK YANG BAIK DAN BENAR

BAB 4 METODE PERANCANGAN

PATULANGAN BAWI SRENGGI DALAM PROSESI NGABEN WARGA TUTUAN DI DESA GUNAKSA, KABUPATEN KLUNGKUNG (Kajian Estetika Hindu)

(Opini) Integrasi Budaya Lokal dan Kebiasaan Masyarakat Umum Pada Pembelajaran Kimia

BAB IV PENUTUP. yang direpresentasikan dalam film PK ditunjukan dengan scene-scene yang. tersebut dan hubungan kelompok dengan penganut agama lain.

RITUAL MEKRAB DALAM PEMUJAAN BARONG LANDUNG DI PURA DESA BANJAR PACUNG KELURAHAN BITERA KECAMATAN GIANYAR

GUBERNUR JAWA TIMUR GUBERNUR JAWA TIMUR,

Oleh I Gusti Ayu Sri Utami Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

Transkripsi:

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR NGABEN SWASTA GNI

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR NGABEN SWASTA GNI I. DUDONAN NYIRAMANG/ MERSIHIN LAYON/MAYAT. Alat yang dibutuhkan saat mandi ritual 1. Sebuah ember ukuran garis tengah 40 cm untuk tempat air memandikan mayat, 2. Sebuah cibuk/cedok, 3. 2 lembar tikar pandan dan 1 gulung kain putih (15 meter), sebaiknya sudah dipola menjadi kamben, saput, selendang dan pengulung. Didahului mohon restu kepada Hyang Prajapati dengan.doa: "Om Sri Sai Prajapati ya namah". 1. Kemaluan Layon/mayat ditutup dengan secarik kain. Untuk laki-laki "Om Smara ya namah svaha". Perempuan : "Om Ratih ya namah svaha". 2. Gosok giginya dengan arang jaja begina. : "Om Sri Batrimsa Yogini ya namah svaha". 3. Rambutnya dikeramasi dengan daun dapdap yang diulig atau dengan samsam. "Om Gring Siwa ya namah svaha". 4. Cuci muka dan mandikan dengan air."om waktra suda ya namah svaha" 5. Mukanya diurapi dengan blonyoh putih, tubuhnya dengan blonyoh kuning. "Om paripurna ya namah svaha". 6. Siram dengan air sampai bersih. "Om Mang Parama Gangga pawitra ya namah svaha". 7. Kukunya dikerik pakai pisau atau silet. "Om sudha naka ya namah svaha" 8. Siram dengan air bunga. "Om Mang Parama Siwa Tirta amerta ya namah svaha". 9. Rambutnya dikasi minyak lalu dirias. "Om byo ya namah svaha". 10. Dihias pakai kain, saput, baju dan udeng, jika wanita pakai kancerik. "Om wastra sudha ya namah svaha". 11. Diberi kwangen, eteh-eteh pada wajah, anget-anget pada pusernya, tubuhnya diolesi minyak wangi."om lengawangi suci angilangaken mala juwitane sang lampus". 12. Pasangi kain pakebah. "Om wastra sudha ya namah svaha". 13. Perciki Tirta Panglukatan, Tirta Kemulan atau Kawitan. "Om pertama suda, dwitya suda, tritya suda, suda suda suda ya wariastu". 14. Ibu jari tangan dan ibu jari kakinya diikat dengan benang. 15. Digulung diringkes dengan kain putih (kain pangulung). 16. Ditutup dengan kain rurub, sesudah itu tutup dengan kain leluhur paling atas. 17. Mayat disemayamkan di tempat yang telah disediakan untuk diupacarai.

II. DASAR FILOSOFI NGABEN SWASTA GNI Mengapa kebanyakan umat Hindu merasa berat melakukan upacara "pitra yadnya"? Karena kebanyakan mengabaikan petunjuk Yama Purana Tattwa. Agar anda dapat melakukan upacara "pitra yadnya" dengan lapang dada dan biayanya terjangkau, maka cobalah renungkan amanat Dewa Yama sebagai berikut: 1. "Yan ana wong mati mabener, geseng juga aywa mendem" artinya kalau ada orang mati wajar, maka hendaklah dibakar dan jangan dikubur. Mengapa Dewa Yama menyuruh membakar? Dasar pertimbangannya adalah sebagai berikut: a. Untuk mempercepat proses pengembalian 5 unsur (Panca Maha Bhuta) ke asalnya. b. Untuk memutuskan tali benang astral yang mengikat roh dengan mayat agar roh segera bisa berangkat pulang ke Angkasa. Jika dikubur, maka roh itu akan masih ada ikatan dengan mayat sehingga posisinya seperti layang-tayang yang tali benangnya ditambatkan pada batu di bawah. Kalau dibakar maka benang itu putus, sehingga roh bisa diterbangkan oteh Citta Agni ke Angkasa. Hal ini ibarat tayang-layang yang talinya telah putus sehingga bisa diterbangkan oleh angin ke atas. Ditinjau dari sudut kesehatan, untuk mencegah penularan penyakit, sebab mayat itu merupakan saran berbagai penyakit. Pembakaran Mayat adalah tapa maha tinggi. Orang yang melakukan pembakaran mayat akan mencapai alam maha tinggi (Parlad-aranyaka Upanisad). Api adalah jalan untuk mencapai yang Maha Tinggi (4.4.4. II hal 106) c. Ucap-ucap pada waktu mengubur mayat adalah "pukulun Ratu Hyang Ibu Pertiwi ulun anitip aken sawa tan nganti tahunan pacang tebas ulun" artinya Ratu Hyang ibu Pertiwi hamba menitipkan mayat tidak sampai tahunan akan hamba tebus. Kalau janji ini tidak ditepati maka roh akan dikutuk oleh Ibu Pertiwi menjadi Bhuta Cuil. Roh yang menjadi Bhuta Cuil amat kesal, talu mengganggu ke rumah atau ke Desa Pakraman. Itulah yang disebut hantu oleh kebanyakan orang. 2. "Sajeroning awuku, tan ngetang dewasa" artinya dalam kurun waktu 7 hari tidak ada larangan untuk membakar mayat. Lebih cepat dibakar lebih baik agar roh segera bisa pulang ke Angkasa dan mayatnya tidak menjadi beban keluarga maupun lingkungan. Hal ini juga tercantum dalam Saramuscaya bahwa badan yang sudah dltinggalkan oleh roh disebut "celebingkah" (pecahan periuk) yang harus segera disingkirkan agar tidak menjadi beban bagi keluarganya. Larangan dari Wariga seperti hari-hari "pasah, kala gotongan, semut sadulur" dan sebagainya tidak berlaku dalam kurun waktu 7 hari sejak orang itu meninggal dunia. Jika lewat dari 7 hari barulah larangan itu berlaku. Kedudukan ketentuan Yama Purana Tattwa lebih tinggi dibandingkan dengan Wariga. Orang-orang yang belum memahami hal ini terialu ketakutan untuk melaksanakan petunjuk Yama Purana Tattwa ini, dan terlalu terpaku pada larangan Wariga, sehingga setiap ada kematian menjadi ribet. Dengan demikian keluarga yang berduka mengalami nasib seperti orang jatuh ditimpa tangga. Mereka sudah sedih kehilangan anggota

keluarganya ditambah lagi prosedur upacaranya amat memberatkan dan ribet. Umat Kristen dan Islam yang memakai ketentuan Yama Purana Tattwa ini ternyata mereka aman-aman saja dan tidak menimbulkan "gerubug"(banyak orang mati mendadak). Kenyataan ini patut direnungkan oleh umat Hindu di Bali agar tidak mempersulit diri sendiri. Sebaliknya kaum pendatang amat enak dan aman-aman saja melakukan upacara kematian di tanah Bali karena kepercayaan mereka ternyata sesuai dengan ketentuan Yama Purana Tattwa. Para tokoh Desa Pakraman perlu berpikir ulang merenungkan dan menganalisa kebenaran ketentuan Yama Purana Tattwa ini agar ke depan bisa merumuskan tata cara "pitra yadnya" yang meringankan bagi umat Hindu yang kurang mampu. Prosesnya cepat, praktis dan biayanya terjangkau oleh semua golongan. 3. "Yadiastu tanpa beya, swasta akna ring Sang Hyang Agni, rahayu ikang atma lan rahayu ikang sang angupakare artinya walaupun tidak punya biaya dan tidak ada suguhan "tarpana", sucikanlah roh itu melalui "Citta Agni" (api pembasmian mayat), maka selamatlah roh itu dan orang yang mengupacarainya juga selamat. III. SARANA BANTEN NGABEN SWASTA GNI Ketentuan ini memberi kemudahan dalam hal jumlah sasajen dan juga jumlah biayanya. Jika pembakarannya dilakukan di luar kuburan Desa Pakraman misalnya di krematorium untuk umum dan diselenggarakan oleh Jero Mangku, tanpa melibatkan Pendeta, maka sasajen yang diperlukan sebagai berikut: 1. 5 Pejati, yaitu untuk Tirta Pangentas, Prajapati, Surya, Agni dan Baruna/Dewi Gangga masing-masing satu Pejati. 2. "Eteh-eteh pabersihan" untuk memandikan mayat. "Sisig, ambuh, blonyoh (lulur) putih dan bionyoh kuning, minyak rambut, kembang melati, malem, daun intaran, kembang yang harum, sisir dan kwangen 11". 3. 1"ajengan putih kuning" + "bubur pirata putih kuning" untuk suguhan sebelum dibakar. 4. 1 "daksina" + 1 takir beras putih + 1 takir beras merah + 1 takir beras kuning + 1 takir beras hitam, taruh di atas dada mayat pada waktu akan di bakar. Pada kaki mayat ditaruh 7 canang sari. 1 "ajengan putih kuning + bubur pirata putih kuning + dyus kamaligi" untuk suguhan sang roh yang sebagian abunya dibentuk "puspa lingga". 5. "Prayascita". Setelah selesai prosesi upacara di pantai atau di sungai, maka semua hadirin diperciki "tirta prayascita" untuk menghilangkan "kasebelan". Itulah rincian sasajen yang diperlukan jika upacaranya dipimpin oleh Jero Mangku tanpa melibatkan Pendeta dan tempatnya berupacara di krematorium umum. Tetapi kalau melibatkan Pendeta, maka sasajennya harus ditambah sesuai dengan permintaan Pendeta yang akan "muput" upacara. Begitu pula jika upacara itu dilakukan di kuburan milik Desa Pakraman, jumlah sasajennya ditambah lagi sesuai dengan kebiasaan di desa setempat.

IV. CARA MEMBUAT "BUBUR PIRATA" DAN "DYUS KAMALIGI" 1. Bubur Pirata Alasnya dari daun "medori putih".di atas daun medori itu ditaruh bubur nasi putih 3-5 sendok makan. Di atas bubur itu ditaruh "unti", pada "unti" itu tancapkan "padang lepas" (sejenis rumput kawat yang lebih halus). Kalau tidak ada "padang lepas boleh ujung alang-alang (muncuk ambengan). "Unti" dibuat dari campuran antara kacang ijo rebus yang diulig campur dengan susu dan madu menjadi adonan. Agar tidak repot merebus kacang ijo, maka bisa didapat dari isinya jajan onde-onde atau isinya jajan pia. Untuk membuat "bubur pirata kuning" sama seperti itu hanya saja buburnya dicampuri sedikit kunir (kunyit). Peranan madu untuk persembahan kepada roh sangat penting. Makahan apa pun yang disuguhkan jika diolesin madu akan sangat memuaskan sang roh. Seperti "penek" pada "banten ajengan", perlu diolesin madu. 2. Dyus Kamaligi. Banten ini adalah untuk menyucikan sang roh. Caranya membuat sebagai berikut: Wadahnya dari "tempeh" atau besek ukuran selebar tempeh. Di dalam wadah itu ditempatkan atau ditata sedemikian rupa bahan - bahan sebagai berikut: 4. "Eteh-eteh pabersihan" satu ceper yang terdiri dari sisig, ambuh, minyak rambut, beberapa kuntum kembang yang harum, sisir dari janur, "subeng" dari janur. 5. Beras 4 warna (putih, merah, kuning, hitam masing-masing 1 takir). 6. Canang sari 2 tanding. 7. Bungkak nyuh gading dikasturi satu. 8. Kendi tanah kecil berisi air bersih satu. 9. Coblong tanah berisi air bersih satu. 10. Periuk tanah kecil berisi tirta panglukatan pabersihan satu. 11. Bunga tunjung/teratai satu, taruh pada periuk tanah (no.7). 12. Lis, satu dan "buu" satu. 13. Secarik kain putih dan kuning (25-30 cm persegi).

V. URUTAN PROSESI UPACARA NGABEN SWASTA GNI 1. Jro Mangku menghaturkan "banten Pejati" di Prajapati, di Surya dan di tungku pembakaran (Agni). 2. Mayat dimandikan dengan air bersih + eteh-eteh pabersihan. Setelah bersih dipasangi kamen + saput dari kain putih, baju, destar untuk yang laki atau kancerik untuk perempuan. Sudah itu mayat diperciki "tirta palukatan", "tirta" dari Kemulan/Kawitan. Pada mukanya dipasangi sedikit lempengan logam pada mulutnya, kembang melati pada kedua lubang hidungnya, malem pada kedua lubang telinganya, daun intaran pada kedua alisnya lalu mukanya ditutup dengan secarik kain putih. Kwangen di pasang pada jari kaki, lutut, jari tangan, siku masing-masing satu. Pada uluhati satu dan di kepala satu. Sesudah itu mayat dibungkus dengan kain putih serta ditutup lagi dengan "rurub" kain putih + kain leluhur menutup paling atas. 3. Selesai dimandikan disemayamkan untuk diberi suguhan "ajengan + bubur pirata" kemudian keluarga mendoakan dan "nyumbah". 4. Mayat diletakkan pada tungku. Sebelum meletakan di atas tungku, sebaiknya mayat mengelilingi tungku 3x putaran arah ke kiri, sudah itu barulah diletakkan di atas tungku. Putaran arah ke kiri perlambang jalan menurun, yaitu jasad itu akan menjadi abu turun menyatu dengan bumi. Tetapi kalau tempatnya sempit dan tidak mungkin memutar mayat mengelilingi tungku, ya boleh tangsung diletakkan di atas tungku. Setelah mayat dibaringkan di atas tungku maka di atas dadanya ditaruh "daksina + beras 4 warna 4 takir, pada kakinya taruh canang sari 7 tanding. Mukanya diperciki "tirta Pangentas". Pada saat itu pula sebaiknya keluarga dan para hadirin meletakkan kayu tulasi pada mayat disertai doa-doa seperlunya. Perananapi kayu Tulasi amat penting untuk menyucikan sang roh. Setelah itu barulah dimasukkan ke dalam open. Setelah menjadi abu, diperciki tirta panyeeb" atau "palukatan" lalu disiram dengan air agar bersih dan dingin 5. Sebagian abu tulang kepala, tangan dan kaki dipungut, kemudian diulig, setelah lumat dimasukkan ke dalam bungkak nyuh gading untuk dibuat "puspa lingga". Sisa abu yang lainnya dipungut dibungkus dengan kain putih. 6. "Puspa lingga" itu di doakan dan disuguhi " dyus kamaligi, bubur pirata putih kuning dan ajengan putih-kuning". 7. Keluarga sembahyang (kramaning sembah) untuk mendoakan almarhum. 8. "Puspa lingga" diusung mengelilingi tungku pembakaran 3x putaran arah ke kanan. Arah ke kanan lambang jalan naik yaitu roh akan terbang ke Angkasa. 9. Berangkat ke laut atau ke sungai jika lautnya terlalu jauh. Sampai di laut/sungai, terlebih dulu menghaturkan "banten Pejati" kepada Dewa Baruna (di taut) atau Dewi Gangga (di sungai). Sesudah itu keluarga sembahayang (kramaning sembah). Setelah selesai sembahyang, maka "Puspa lingga" dihanyutkan. 10. Semua keluarga dan para hadirin "maprayascita" untuk menghilangkan "kasebelan" atau pembersihan diri.

VI. NGERORAS ATAU MEMUKUR Untuk upacara "ngeroras/memukur" boleh dilakukan kapan saja tergantung kondisi sang Yajamana. Tetapi sebaiknyaa dilakukan setelah hari ke-11 dari hari pengabenan. Tempat dilaksanakannya upacara "ngaroras/mamukur" bisa dilakukan di rumah atau ruang ritual khusus untuk "ngeroras/memukur". Untuk melaksanakan acara "ngeroras/memukur" mintalah bantuan kepada Hotri/pemangku untuk menyelenggarakannya. Sebagai Hotri/pemangku seharus selalu siap membantu masyarakat, jika domisili kita berada didaerah perkotaan yang semua kerabat masih menjadi pekerja sebaiknya pertimbangkan hari yang tepat untuk bisa semua berkumpul memberikan doa kepada alm terutama semua cucu, anak dan suadara kandung alm sendiri. Sumber : Jero Mangku Wayan Suwena. JI.WR.Supratman Gang Gunung Batur No.2 Kesiman Denpasar Timur Hp.081.337 93 83 44. Jakarta, 01 Januari 2017 Yayasan Pitra Yadnya Indonesia (Dr. Ketut Arnaya, SE) Ketua

ANGGARAN GARAN BIAYA NGABEN SWASTA GNI di Crematorium Sentra Medika Cibinong (Jakarta) No Jenis Pengeluaran Jumlah (Rp) Keterangan 1. Banten d a n Transport Pengantaran 3.000.000 Team Banten Banten serta pendampingan team minimal 1 orang 2. Banten dan Perlengkapan Mandi Ritual 1.000.000 Team Perlengkapan 3. Sesari Pemangku Pura Prajapati 150.000 Pinandita Pura Prajapati (langsung dari keluarga) 4. Ambulance+Peti+Krematorium+mobil ematorium+mobil 7.000.000 Nganyut+perahu+surat rat surat pengabuan+penyiapan an perlengkapan Krematorium 5. Punia Pemuput Yadnya 1.000.000 Pinandhita Wayan Alit 6. Pendampingan keluarga, koordinasi 500.000 Pinandhita Nyoman Sumiartha dengan keluarga dalam am melakukan Pedande saat selesai acara persemayaman jenasah dan penuntun proses ritual 7. Tiip Petugas Kremasi 150.000 (Koordinator di tempat kremasi) 8. Transfort Staff Yayasan an 250.000 Made Miartha 9. Transport Jemput PANDHITA/PINANDHITA (sewa 700.000 Team Yayasan (standar Grab Car/Go Car) kendaraan termasuk tol dan bensin) 10. Transport dan Punia Team kirtan/chanting/pesanthian nthian 1.250.000 Team Kirtan kirtan/chanting/pesanthian 11. Donasi ke Yayasan Sukarela Total Pengeluaran Santunan Anggota Donasi Yayasan Sisa Kewajiban Keluarga Rp.15.000.000 Rp.15.000.000 *Acara di Sentra Medika, Cibinong ** Pembayaran dapat dilakukan maksimum setelah satu minggu selesai acara ke Bank Mandiri, No Rek 127-00- 0661019-8 atas nama Yayasan Pitra Yadnya Indonesia dan laporkan bukti bayar yang disampaikan via wa atau email. Jakarta, 01 Januari 2017 Yayasan Pitra Yadnya Indonesia (Dr. Ketut Arnaya, SE) Ketua