BAB II TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Pembimbing : Dr. Hardiyanto, Sp. Rad.

BUKU AJAR SISTEM NEUROPSIKIATRI

Cedera medulla spinalis yang disebabkan trauma terjadi karena : Axial loading Hiperfleksi Hiperekstensi Rotasi Lateral bending

LAPORAN KASUS MELANOMA PRIMER MEDULA SPINALIS

HEMISEKSI MEDULA SPINALIS

DAFTAR ISI. Definisi Traktus Spinotalamikus Anterior Traktus Spinotalamikus Lateral Daftar Pustaka

Tinjauan Pustaka. Tanda dan Gejala

Trauma Lahir. dr. R.A.Neilan Amroisa, M.Kes., Sp.S Tim Modul Tumbuh Kembang FK Unimal 2009

Agnesia Naathiq H1A Brown Sequard Syndrome

CEDERA SPINAL DANIEL, PUTU DEASY, APRIL, MURNI, DESI, JERRY, DAVID, HERNA, SARI, VANI, OCTA, ESTER,

LAPORAN PENDAHULUAN Soft Tissue Tumor

Faculty of Medicine University of Riau. Pekanbaru, Riau. Files of DrsMed FK UNRI (

BMI = Berat Badan (dalam kg) / Tinggi Badan² (TB x TB dalam m 2 )

Sistem Saraf. Dr. Hernadi Hermanus

MIELOPATI SISTEM NEUROPSIKIATRI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR Supervisor : Dr. dr. Jumraini Tammasse, Sp.

SPINAL CORD & PERIPHERAL NERVE

BAB I PENDAHULUAN. Meningioma adalah tumor jinak pada CNS yang. berasal dari selubung meninges pada otak dan korda

Dr.Usman G Rangkuti, SpS Lab / SMF Ilmu Penyakit Saraf RSD dr. Soebandi Jember

BAB I PENDAHULUAN. berfungsi sebagai penyanggah berat badan, yang terdiri dari beberapa bagian yakni salah

EMG digunakan untuk memastikan diagnosis dan untuk menduga beratnya sindroma kubital. Juga berguna menilai (8,12) :

Karakteristik Tumor Infratentorial dan Tatalaksana Operasi di Departemen Bedah Saraf Fakultas Kedokteran UI/RSUPN Cipto Mangunkusumo Tahun

REHABILITASI PADA NYERI PUNGGUNG BAWAH. Oleh: dr. Hamidah Fadhil SpKFR RSU Kab. Tangerang

SISTEM SARAF MANUSIA

NEUROIMAGING Fadel Muhammad Garishah Mahasiswa Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro RSUP Dr. Kariadi

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan termasuk salah satunya di bidang kesehatan. Pembangunan di bidang

BAB I PENDAHULUAN. bagian yakni salah satunya bagian leher yang mempunyai peranan sangat

Fungsi. Sistem saraf sebagai sistem koordinasi mempunyai 3 (tiga) fungsi utama yaitu: Pusat pengendali tanggapan, Alat komunikasi dengan dunia luar.

Sistem syaraf otonom (ANS) merupakan divisi motorik dari PNS yang mengontrol aktivitas viseral, yang bertujuan mempertahankan homeostatis internal

disebabkan internal atau eksternal trauma, penyakit atau cedera. 1 tergantung bagian neurogenik yang terkena. Spincter urinarius mungkin terpengaruhi,

Cedera Spinal / Vertebra

BIOPSIKOLOGI Unita Werdi Rahaeng ANATOMI SISTEM SARAF DAN OTAK

PENATALAKSANAAN TERAPI LATIHAN PADA POST OPERASI FRAKTUR KOMPRESI VERTEBRA THORAKAL XII LUMBAL 1 dengan FRANKLE A

DIENCEPHALON. Letak: antara telencephalon dan midbrain, dan mengelilingi ventrikel ketiga. Dua struktur utama: Thalamus Hipothalamus

GANGGUAN MEDULA SPINALIS

Bab 10 NYERI. A. Tujuan pembelajaran

BAB I PENDAHULUAN. yang penyebabnya adalah virus. Salah satunya adalah flu, tetapi penyakit ini

STRUKTUR ANATOMI TULANG BELAKANG

Central Cord Syndrome

Instabilitas Spinal dan Spondilolisthesis

KARYA TULIS ILMIAH. Oleh : AJENG PUSPITASARI PUTRI J

MULTIPLE MYELOMA. Gambar 1. Anatomi tulang belakang dan sarafnya

SEL SARAF MENURUT BENTUK DAN FUNGSI

BAB I PENDAHULUAN. langsung, kelelahan otot, atau karena kondisi-kondisi tertentu seperti

makalah low back pain akibat kerja LOW BACK PAIN ( NYERI PUNGGUNG BAWAH) AKIBAT KERJA

BAB 1 PENDAHULUAN. seumur hidup sebanyak 60% (Demoulin 2012). Menurut World Health

SINDROMA GUILLAINBARRE

A. SEL-SEL PADA SISTEM SARAF

BAHASAN SEKITARNYA YANG MERUPAKAN DASAR ADANYA GERAK DARI GERAK SISTEM OTOT TULANG TUBUH FUNGSIONAL LOKAL / KESELURUHAN

BAB I PENDAHULUAN. 2. Tujuan a. Tujuan umum Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami konsep Sistem Saraf Spinal

ACUTE MEDULLARY COMPRESSION

31 Pasang Saraf Spinal dan Fungsinya

Kanker Usus Besar. Bowel Cancer / Indonesian Copyright 2017 Hospital Authority. All rights reserved

Kanker Prostat. Prostate Cancer / Indonesian Copyright 2017 Hospital Authority. All rights reserved

REFERAT SINDROM MILLARD GUBLER

BAB 2 DEFINISI, ETIOLOGI, KLASIFIKASI, DAN STADIUM EWING S SARCOMA. pada jaringan lunak yang mendukung, mengelilingi, dan melindungi organ tubuh.

Gangguan Neuromuskular

BAB I PENDAHULUAN. prevalensi tertinggi menyerang wanita (Hoy, et al., 2007). Di Indonesia,

NEOPLASMA TULANG. Neoplasma : Berasal dari Tulang : Jinak : Osteoma, Osteoid osteoma, osteoblastoma

BAB I PENDAHULUAN. Semakin berkembangnya pusat rehabilitasi di Surakarta menuntut pengetahuan lebih

Carpal tunnel syndrome

BAB I PENDAHULUAN. Spondylitis tuberculosis atau yang juga dikenal sebagai Pott s disease

BAB 2 TUMOR. semua jaringan tubuh manusia pada berbagai keadaan sel untuk berkembang biak.

BAB I PENDAHULUAN. dan akhirnya bibit penyakit. Apabila ketiga faktor tersebut terjadi

BAB I PENDAHULUAN Definisi

Extramedula Intadural Spine Tumor

BAB II BRAIN CANCER II. 1. DEFINISI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. bebas dari kecacatan sehingga untuk dapat melakukan aktivitas dalam

dengan processus spinosus berfungsi sebagai tuas untuk otot-otot dan ligamenligamen

BAB III SISTEM KOORDINASI (SARAF)

NEURORESTORASI / NEUROREHABILITASI

LAPORAN PENDAHULUAN HNP

ANATOMI FISIOLOGI TULANG BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. ini berbentuk soliter dan dapat tumbuh secara acak di semua sel saraf.

BAB 1 PENDAHULUAN. fungsi otak, medulla spinalis, saraf perifer dan otot.

masukan sensoris pada sendi. Penelitian lain menjelaskan mengenai persarafan melalui dorsal rami dari akar saraf spinal L5-S4.

Tuberkulosis sebagai suatu penyakit sistemik yang dapat menyerang berbagai organ termasuk tulang dan sedi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN. kehamilan ektopik yang berakhir dengan keadaan ruptur atau abortus. 12 Kehamilan

Modul ke: Anatomi Sistem Saraf. Fakultas PSIKOLOGI. Ellen Prima, S.Psi., M.A. Program Studi PSIKOLOGI

BAB I PENDAHULUAN. merupakan keadaan dinamis dan dapat ditingkatkan sehingga manusia dapat

BAB 1 PENDAHULUAN. aktivitas sel tubuh melalui impuls-impuls elektrik. Perjalanan impuls-impuls

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Vinkristin adalah senyawa kimia golongan alkaloid vinca yang berasal dari

Rehabilitasi pada perdarahan otak

Pendahuluan. Cedera kepala penyebab utama morbiditas dan mortalitas Adanya berbagai program pencegahan

BAHAN AJAR VIII ACUTE MEDULLA COMPRESSION. Nama Mata Kuliah/Bobot SKS : Sistem Neuropsikiatri / 8 SKS

CTEV (Congenital Talipes Equino Varus)/ Club Foot-I

Anatomy of Spinal Cord

Sistem saraf. Kurnia Eka Wijayanti

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. yang berasal dari sel meningothelial (arachnoid) leptomeningen. Tumor ini dapat

ASESMEN & KLASIFIKASI CEDERA MEDULA SPINALIS. Ika Rosdiana SMF Rehabilitasi Medik RSI Sultan Agung Semarang

Neurogenic Bladder A. Pendahuluan

LAPORAN PENDAHULUAN SEFALGIA

ASUHAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH III DENGAN DIAGNOSA MIELOPATI. Disusun oleh : Tiara Dela

BAB 2 PENGERTIAN, ETIOLOGI, TANDA DAN GEJALA OSTEOSARKOMA. Osteosarkoma adalah suatu lesi ganas pada sel mesenkim yang mempunyai

BAB I PENDAHULUAN. dan kemajuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan yang

SMP kelas 9 - BIOLOGI BAB 3. Sistem Koordinasi dan Alat InderaLatihan Soal 3.1

BAB 1 PENDAHULUAN. Stroke dapat menyerang kapan saja, mendadak, siapa saja, baik laki-laki atau

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN Penderita tumor medulla spinalis sekitar 15% dari seluruh penderita neoplasma susunan saraf. Tumor medulla spinalis terdiri dari intramedular dan ekstramedular. Tumor intramedular dapat berasal dari substansi medulla spinalis itu sendiri apabila tumor ekstrameduller menekan medulla spinalis dari luar. Tumor intramedular dapat berada di ekstramedular dan intramedular. Prevalensi tumor medulla spinalis lebih sedikit dibanding tumor intrakranial, dengan rasio 1:4. Sedangkan tumor primer di medulla spinalis sangat jarang, insidensinya, hanya 1,3 per 100000 populasi. Terutama ditemukan pada dewasa muda atau usia pertengahan dan jarang pada usia anak atau usia tua. Berbeda dengan tumor intrakranial, umumnya tumor spinal adalah tumor jinak dan gejala yang timbul terutama akibat efek penekanan pada medulla spinalis bukan akibat invasi tumornya. Oleh karena itu sebagian tumor intraspinal dapat dilakukan tindakan eksisi sehingga deteksi dini adanya tumor dapat mencegah defisit neurologis yang lebih berat. 1,2 Tipe pada tumor medulla spinalis hampir sama dengan tumor kranialis. Tumor dapat berasal dari sel parenkim medulla spinalis, serabut saraf, selaput myelin, jaringan vaskuler intraspinal, rantai simpatik, atau kolumna vertebralis.segmen yang paling sering terkena adalah segmen torakal (50%), servikal (25%), dan lumbosakral (20%). Sedangkan frekuensi menurut lokasinya adalah 55% tumor epidural, 40% tumor intradural-ekstramedular dan 5% tumor intramedular. 2,4,5 Tumor spinalis yang terjadi pada medulla spinalis sebagian besar adalah ependymoma atau glioma.sebab terjadinya tumor medulla spinalis masih belum diketahui. Pada beberapa kasus tumor dapat disebabkan oleh defek genetik. 6 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA I. Anatomi Medulla Spinalis Medulla spinalis merupakan bagian dari Susunan Syaraf Pusat (SSP).Terbentang dari foramen magnum sampai dengan L1, di L1 melonjong dan agak melebar yang disebut conus terminalis atau conus medullaris. Terbentang dibawah conu terminalis serabut-serabut bukan syaraf yang disebut filum terminale yang merupakan jaringan ikat. 1 Gambar 1 Medulla Spinalis 2

Tiga puluh satu pasang nervus spinal keluar dari medulla spinalis melalui foramen intervertebralis.mereka meninggalkan sistem saraf pusat dan menandakan awal sistem saraf perifer. Tiga puluh satu pasang saraf ini diberi nama sesuai dengan tingkat kolom vertebra: Cervical (C) - 8 pasang saraf Thoracic (T) - 12 pasang saraf Lumbar (L) - 5 pasang saraf Sacral (S) - 5 pasang saraf Coccygeal - 1 sepasang saraf Nervus spinalis ini mengandung serabut eferen (motor) yang membawa impuls saraf dari medulla spinalis ke perifer seperti otot, dan serabut aferen (sensorik) yang membawa impuls sensorik dari perifer ke medulla spinalis. Medulla Spinalis adalah bagian dari sistem saraf pusat (SSP), yang memanjang kearah kaudal dan dilindungi oleh struktur vertebra. Medulla spinalis dibungkus oleh tiga lapisan sama seperti otak yaitu duramater, arachnoidmater dan yang paling dalam piamater. Pada orang dewasa kebanyakan hanya menempati bagian atas dua-pertiga dari kanalis vertebralis sebagai pertumbuhan tulang yang menyusun tulang punggung secara proporsional lebih cepat dibandingkan dengan sumsum vertebra. 1 Menurut lokasi rostrocaudalnya sumsum vertebra dapat dibagi menjadi empat bagian: cervical, toraks, lumbal dan sakral, dua di antaranya ditandai oleh pelebaran bagian atas (servikal) dan pelebaran bagian bawah (lumbar). Sepanjang median sagittal, fissure anterior dan posterior membagi medulla spinalis menjadi dua bagian simetris, yang terhubung oleh commisur anterior dan posterior. Di kedua sisi lateralnya, dimana terdapat fissura anterolateral dan posterolateral, disitu terdapat titik dimana radiks spinalis keluar yang akhirnya membentuk medulla spinalis. Tidak seperti otak, pada medulla spinalis substantia nigra dikelilingi substantia alba. Substantia alba secara konvensional dibagi menjadi funikulus dorsal, dorsolateral, lateral, ventral dan ventrolateral. Separuh dari tiap bagian berbentuk bulan sabit, walaupun susunan dari substantia nigra dan substantia alba berbeda di setiap tingkatan 3

rostrocaudal. Substansia nigra dapat dibagi menjadi cornu dorsalis, cornu intermedia, cornu ventralis, dan bagian centromedial mengelilingi canalis medulla spinalis. Substantia alba semakin berkurang sampai di akhiran medulla spinalis, dan bersatu dengan subtantia nigra membentuk conus terminalis, dimana radiks spinalis yang secara paralel membentuk cauda equine. 1 Setiap pasangan nervus spinalis mempersarafi daerah tertentu dari tubuh dengan neuron sensorik dan motorik. Serabut saraf sensorik dan stimulus dari daerah kulit yang dipersarafi disebut dermatom. Serabut saraf motorik dan otot-otot yang dipersarafi disebut myotomes. Pusat saraf vertebra terdiri dari substantia nigra, sel body neuron dari akson tidak bermielin neuron motorik dan juga interneuron, yang menghubungkan saraf aferen dan eferen. Substantia tampak seperti gambaran kupu-kupu di sekitar kanal pusat dan dibagi menjadi tiga pasang cornu. Cornu dorsalis neuron sensorik, cornu ventralis neuron motorik dan cornu lateral menginervasi sistem saraf simpatik. Substantia nigra medulla spinalis dikelilingi oleh upper dan lower neuron sensorik dan motorik yang terdiri dari materi putih bermielin. Ramus komunikans substantia alba saraf yang bercabang dari saraf vertebra khusus di daerah dada dan bagian atas vertebra lumbar. Mereka adalah serabut preganglionik yang memanjang dari saraf vertebra ke ganglion saraf simpatik. Ramus komunikans substantia nigra adalah serabut postganglionik dari cranial kembali ke vertebra. 1 II. Definisi Tumor medulla spinalis adalah tumor yang berkembang dalam tulang belakang atau isinya dan biasanya menimbulkan gejala-gejala karena keterlibatan medulla spinalis atau akar-akar saraf. Tumor Medulla spinalis adalah tumor di daerah spinal yang dapat terjadi pada daerah cervical pertama hingga sacral, yang dapat dibedakan atas: 3,6,4,5 Tumor primer: 4

1) Jinak yang berasal dari a) Tulang osteoma dan kondroma, b) Serabut saraf disebut neurinoma (Schwannoma), c) Berasal dari selaput otak disebut Meningioma; d) Jaringan otak; Glioma, Ependinoma. 2) Ganas yang berasal dari a) Jaringan saraf seperti; Astrocytoma, Tumor sekunder: merupakan anak sebar (metastase) dari tumor ganas di daerah rongga dada, perut, pelvis dan tumor payudara. III. Etiologi Penyebab utama dari tumor otak dan medulla spinalis belum sepenuhnya dipahami. Tapi penelitian menemukan beberapa perubahan yang terjadi pada sel normal otak yang dapat mengubahnya menjadi bentuk tumor. Kanker dapat disebabkan oleh perubahan DNA yang mengaktifkan onkogen dan menonaktifkan gen penekan tumor (tumor suppressor genes). Gen ini dapat diwariskan dari orang tua. 7 Banyak faktor risiko untuk kanker dengan cara kerusakan gen. Misalnya asap rokok merupakan faktor risiko untuk kanker paru dan beberapa kanker lainnya, karena asap rokok mengandung bahan kimia yang dapat merusak gen. 7 Selain radiasi, tidak diketahui penyebab lain yang berkaitan dengan faktor gaya hidup atau faktor lingkungan yang dapat menyebabkan tumor. 7 IV. Epidemiologi Sekitar 2000 kasus baru kanker tulang dan 6000 kasus baru tumor jaringan lunak didiagnosis di Amerika Serikat tiap tahun.dari semua kasus, hanya sekitar 5% melibatkan tulang belakang. Insiden dari tumor spinalis diperkirakan 2,5-8,5 per 100000 orang tiap tahun. Terdapat dua hal yang potensial dari keganasan suatu lesi spinal : 8 Umur 5

Lokasi Pada anak di bawah 6 tahun, kebanyakan tumor spinal merupakan keganasan, seperti: 8 Astrositoma Sarkoma (jarang) Pada orang dewasa lebih dari 35 tahun, kebanyakan tumor spinal adalah : 8 Adenokarsinoma metastasis Multipel myeloma V. Patofisiologi Tumor intramedulla menyusup dan menghancurkan parenkim medulla dan bisa meluas lebih dari beberapa segmen medulla spinalis yang berperan membawa dan mengirim untuk memfasilitasi impuls listrik bagi stimulasi gerakan dan sensasi. Dengan tumor medulla spinalis bisa menyebabkan kehilangan fungsi motorik dan sensorik. Pertumbuhan tumor sangat mempengaruhi fungsi neurologi pasien. 4,5,6 Patofisiologi tumor medulla spinalis intramedular bervariasi sesuai dengan jenis tumor. Ependymomas biasanya lambat, tumor berkapsul yang secara histologis jinak. Nyeri dan defisit neurologis timbul sebagai akibat dari peregangan progresif dan distorsi serat saraf. Biasanya gambaran anatomi yang jelas terdapat saat operasi, dan hasil reseksi visual anatomis yang besar dalam pengobatan. Tipe anaplastik yang langka bisa berbentuk invasif, bagaimanapun, tipe ini lebih cenderung kambuh atau menyebar melalui ruang CSF. 4,5,6 VI. Klasifikasi Ada dua macam lesi: lesi ekstradural dan lesi intradural. Lesi intradural dibagi menjadi dua kategori, tergantung pada apakah lesi melibatkan substansi dari medulla spinalis ( intramedular ) atau berada di luar medulla spinalis tetapi dalam dura ( ekstramedular). 9 6

Lesi Ekstradural Perjalanan klinis yang lazim dari tumor ektradural adalah kompresi cepat akibat invasi tumor pada medula spinalis, kolaps kolumna vertebralis, atau perdarahan dari dalam metastasis. Begitu timbul gejala kompresi medula spinalis, maka dengan cepat fungsi medula spinalis akan hilang sama sekali. 10 Lesi Intradural 1. Intradural Ekstramedular Lesi medula spinalis ekstramedular menyebabkan kompresi medula spinalis dan radiks saraf pada segmen yang terkena.sindrom Brown-Sequard mungkin disebabkan oleh kompresi lateral medula spinalis. Sindrom akibat kerusakan separuh medula spenalis ini ditandai dengan tanda-tanda disfungsi traktus kortikospinalis dan kolumna posterior ipsilateral di bawah tingkat lesi. Pasien mengeluh nyeri, mula-mula di punggung dan kemudian di sepanjang radiks spinal.tumor pada sisi posterior dapat bermanifestasi sebagai parestesia dan selanjutnya defisit sensorik proprioseptif, yang menambahkan ataksia pada kelemahan.tumor yang terletak anterior dapat menyebabkan defisit sensorik ringan tetapi dapat menyebabkan gangguan motorik yang hebat.tumor selubung saraf (misalnya, neurofibroma dan schwannoma ) biasanya lesi intradural ekstramedular. Meningioma dapat berupa lesi ekstramedular ekstradural atau intradural. 9,10 2. Intradural Intramedular Tumor-tumor intramedular tumbuh ke bagian tengah dari medula spinalis dan merusak serabut-serabut yang menyilang serta neuronneuron substansia grisea. Kerusakan serabut-serabut yang menyilang ini mengakibatkan hilangnya sensasi nyeri dan suhu bilateral yang meluas ke seluruh segmen yang terkena, yang pada gilirannya akan menyebabkan kerusakan pada kulit perifer. Perubahan fungsi refleks 7

VII. renggangan otot terjadi kerusakan pada sel-sel kornu anterior.kelemahan yang disertai atrofi dan fasikulasi disebabkan oleh keterlibatan neuron-neuron motorik bagian bawah. Tumor asal glia ( misalnya, astrositoma, ependimoma ) biasanya di lokasi intradural intramedular. 9,10 Manifestasi klinis Suatu tumor yang tumbuh pada bagian tulang belakang dapat menyebabkan tekanan dan yang disusul kerusakan pada medulla spinalis dan saraf.tumor juga dapat melemahkan tulang belakang. Gejala tergantung pada ukuran dan lokasi dari tumor, serta efek massa yang disebabkan oleh space-occupying lesion yang abnormal dan dapat meliputi: 9,11 Nyeri Nyeri dapat terjadi disebabkan oleh rusaknya tulang dari spinal atau tekanan yang ditempatkan di atas saraf spinalis. Nyeri ini mungkin di dalam spinal atau tersebar ke bawah tangan atau kaki. Gejala yang paling umum adalah nyeri punggung aksial di lokasi lesi, yang lebih memburuk di malam hari dan dalam posisi terlentang. Tumor ekstramedular yang tumbuh ada kaitannya dengan akar saraf dan menghasilkan nyeri radikuler yang sering lebih buruk pada malam hari dan diperparah oleh manuver yang meningkatkan tekanan intrakranial, seperti mengejan atau batuk. Defisit neurologis fokal Ini tergantung pada lokasi tumor dan dapat mirip stroke dengan gejala kelemahan, mati rasa, lumpuh, diskoordinasi, kesulitan berjalan atau kehilangan kontrol berkemih dan buang air besar. Gejala klinis dari lesi medulla spinalis termasuk nyeri punggung, gangguan motorik dan sensorik, gangguan berkemih dan buang air besar, dan disfungsi seksual. Gejala sering berkorelasi dengan tingkat pertumbuhan tumor daripada ukuran tumor, tumor tumbuh lambat dapat menyebabkan sedikit atau tidak ada gejala neurologis, sedangkan tumor yang berkembang pesat dapat menyebabkan defisit neurologis yang 8

signifikan pada penampakannya. Tumor intramedular timbul dari bagian tengah saraf sering mengurangi sensasi pada wilayah sakrum ("sacral sparing") karena penyusunan somatotropik dari sumsum tulang belakang, di mana serat sensorik sakrum berada pada posisi yang paling perifer dalam sumsum tulang belakang. Lesi intramedular jarang hadir dengan nyeri sebagai gejala awal melainkan tanda-tanda kerusakan saraf pusat, termasuk berkurangnya sensasi terhadap nyeri dan suhu ekstrim, tandatanda saluran panjang, kelemahan, inkontinensia urin dan alvi, dan disfungsi seksual. 9 Gejala klinik berdasarkan lokasi tumor Tumor foramen magnum 10 Gejala awal dan tersering adalah nyeri servikalis posterior yang disertai dengan hiperestesi dermatom daerah vertebra servikalis 2 (C2).Setiap aktivitas yang meningkatkan tekanan intrakranial (misal, batuk, mengedan, mengangkat barang atau bersin) dapat memperburuk nyeri. Gejala tambahan adalah gangguan sensorik dan motorik pada tangan dengan pasien yang melaporkan kesulitan menulis atau memasang kancing. Perluasan tumor menyebabkan kuadraplegia spastik dan hilangnya sensasi secara bermakna. Temuan neurologik tidak selalu timbul tetapi dapat mencakup hiperrefleksia, rigiditas nuchal, gaya berjalan spastik, palsy N.IX sampai XI, dan kelemahan ekstremitas. Tumor daerah servikal Lesi daerah servikal menimbulkan gejala sensorik dan motorik mirip lesi radikular yang melibatkan bahu dan lengan dan mungkin juga melibatkan tangan. Keterlibatan tangan pada lesi servikalis bagian atas diduga disebabkan oleh kompresi suplai darah ke kornu anterior melaui arteria spinalis anterior. Pada umumnya terdapat kelemahan dan atrofi gelang bahu dan lengan. Tumor servikalis yang lebih rendah ( C5,C6, C7) dapat menyebabkan hilangnya 9

refleks tendon ekstremitas atas (biseps,brakhioradialis, triseps). Defisit sensorik membentang sepanjang tepi radial lengan bawah dan ibu jari pada kompresi C6, melibatkan jari tengah dan jari telunjuk pada lesi C7; dan lesi C7 menyebabkan hilangnya sensorik jari telunjuk dan jari tengah. 10 Tumor daerah thorakal Penderita lesi daerah thorakal sering kali datang dengan kelemahan spastik yang timbul perlahan pada ekstremitas bagian bawah dan kemudian mengalami parastesia. Pasien dapat mengeluh nyeri dan perasaan terjepit dan tertekan pada dada dan abdomen, yang mungkin dikacaukan dengan nyeri akibat intrathorakal dan intraabdominal. 10 Tumor daerah lumbosakral Kompresi segmen lumbal bagian atas tidak mempengaruhi refleks perut, namun menghilangkan refleks kremaster dan mungkin menyebabkan kelemahan fleksi panggul dan spastisitas tungkai bawah. Juga terjadi kehilangan refleks lutut dan refleks pergelangan kaki dan tanda babynski bilateral. Nyeri umumnya dialihkan ke selangkangan. Lesi yang melibatkan lumbal bagian bawah dan segmen-segmen sacral bagian atas menyebabkan kelemahan dan atrofi otot-otot perineum, betis dan kaki. Hilangnya sensasi daerah perianal dan genitalia yang disertai gangguan kontrol usus dan kandung kemih merupakan tanda khas lesi yang mengenai daerah sakral bagian bawah. 10 Tumor kauda ekuina Lesi dapat menyebabkan nyeri radikular yang dalam, kelemahan dan atrofi dari otot-otot termasuk gluteus, otot perut, gastrocnemius, dan otot tibialis anterior. Refleks APR mungkin menghilang, muncul gejala-gejala sfingter dini dan impotensi.tanda-tanda khas lainnya adalah nyeri tumpul pada sakrum dan perineum yang kadang kadang menjalar ke tungkai. Paralisis flaksid terjadi sesuai dengan radiks saraf yang terkena dan terkadang asimetris. Refleks lain dapat terpengaruh tergantung letak lesi. 10 VIII. Pemeriksaan Penunjang 10

Radiologi Modalitas utama dalam pemeriksaan radiologis untuk mendiagnosis semua tipe tumor medula spinalis adalah MRI. Alat ini dapat menunjukkan gambaran ruang dan kontras pada struktur medula spinalis dimana gambaran ini tidak dapat dilihat dengan pemeriksaan yang lain. 12 Tumor pada pembungkus saraf dapat menyebabkan pembesaran foramen intervertebralis. Lesi intra medular yang memanjang dapat menyebabkan erosi atau tampak berlekuk-lekuk (scalloping) pada bagian posterior korpus vertebra serta pelebaran jarak interpendikular. 12 Lesi intramedular menyebabkan pelebaran fokal pada bayangan medulla spinalis. 12 Gambar 3, gambaran MRI tumor medula spinalis (intradural intramedular) 11

Gambar 4, gambaran MRI tumor intradural ekstramedular CSS (cairan cerebrospinal) Pada pasien dengan tumor spinal, pemeriksaan CSS dapat bermanfaat untuk differensial diagnosis ataupun untuk memonitor respon terapi. Apabila terjadi obstruksi dari aliran CSS sebagai akibat dari ekspansi tumor, pasien dapat menderita hidrosefalus. Punksi lumbal harus dipertimbangkan secara hati- hati pada pasien tumor medula spinalis dengan sakit kepala (terjadi peninggian tekanan intrakranial). 7,12 Pemeriksaan CSS meliputi pemeriksaan sel-sel malignan (sitologi), protein dan glukosa. Konsentrasi protein yang tinggi serta kadar glukosa dan sitologi yang normal didapatkan pada tumor-tumor medula spinalis, walaupun telah menyebar ke selaput otak, kadar glukosa didapatkan rendah dan sitologi yang menunjukkan malignansi. Adanya xanthocromic CSS dengan tidak terdapatnya eritrosit merupakan karakteristik dari tumor medula spinalis yang menyumbat ruang subarachnoid dan menyebabkan CSS yang statis pada daerah kaudal tekal sac. 7,12 IX. Diagnosis Diagnosis tumor medula spinalis diambil berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisis serta penunjang. Anamnesis Pada tumor ekstramedular, gejala yang mendominasi adalah kompresi serabut saraf spinalis, sehingga yang paling awal tampak adalah nyeri, mulamula di punggung dan kemudian di sepanjang radiks spinal.seperti pada tumor ekstradural, nyeri diperberat oleh traksi oleh gerakan, batuk, bersin atau mengedan, dan paling berat terjadi pada malam hari. Nyeri yang menghebat pada malam hari disebabkan oleh traksi pada radiks saraf yang sakit, yaitu sewaktu tulang belakang memanjang setelah hilangnya efek pemendekan dari gravitasi. 10 12

Pemeriksaan fisis Tumor ekstradural mempunyai perjalanan klinis berupa fungsi medula spinalis akan hilang sama sekali disertai kelemahan spastik dan hilangnya sensasi getar dan posisi sendi di bawah tingkat lesi yang berlangsung cepat. Defisit sensorik berangsur-angsur naik hingga di bawah tingkat segmen medulla spinalis. Pada tumor intramedular, kerusakan serabut-serabut yang menyilang pada substansia grisea mengakibatkan hilangnya sensasi nyeri dan suhu bilateral yang meluas ke seluruh segmen yang terkena, yang pada gilirannya akan menyebabkan kerusakan pada kulit perifer. Sensasi raba, gerak, posisi dan getar umumnya utuh kecuali lesinya besar. Defisit sensasi nyeri dan suhu dengan utuhnya modalitas sensasi yang lain dikenal sebagai defisit sensorik yang terdisosiasi. 10 Pemeriksaan Penunjang Pada pemeriksaan radiogram tulang belakang, sebagian besar penderita tumor akan memperlihatkan gejala osteoporosis atau kerusakan nyata pada pedikulus dan korpus vertebra. Pada tomor ekstramedular, radiografi spinal dapat memperlihatkan pembesaran foramen dan penipisan pedikulus yang berdekatan. Pada tumor intramedular, radiogram akan memperlihatkan pelebaran kanalis vertebralis dan erosi pedikulus. 10 X. Penatalaksanaan Penatalaksanaan untuk sebagian besar tumor baik intramedular maupun ekstramedular adalah dengan pembedahan. Tujuannya adalah untuk menghilangkan tumor secara total dengan menyelamatkan fungsi neurologis secara maksimal. Kebanyakan tumor intradural-ekstramedular dapat direseksi secara total dengan gangguan neurologis yang minimal atau bahkan tidak ada setelah operatif. Tumor-tumor yang mempunyai pola pertumbuhan yang cepat dan agresif secara histologis dan tidak secara total di hilangkan melalui operasi dapat diterapi dengan terapi radiasi post operasi.12 Terapi konservatif yang dapat dilakukan pada tumor medulla spinalis adalah: 10 a) Steroid 13

Berfungsi untuk mengurangi rasa nyeri pada 85% kasus, terkadang memberi perbaikan neurologis. Steroid intravena dengan dosis tinggi dapat meningkatkan fungsi neurologis untuk sementara tetapi pengobatan ini tidak dilakukan untuk jangka waktu yang lama.walaupun steroid dapat menurunkan edema vasogenik, obat-obatan ini tidak dapat menanggulangi gejala akibat kondisi tersebut. Penggunaan steroid dalam jangka waktu lama dapat menyababkan ulkus gaster, hiperglikemia dan penekanan system imun dengan resiko cushing symdrome dikemudian hari. Regimen kemoterapi hanya meunjukkan angka keberhasilan yang kecil pada terapi tumor medulla spinalis.hal ini mungkin disebabkan oleh adanya sawar darah otak yang membatasi masuknya agen kemotaksis pada CSS. b. Evaluasi radiografi 1) Foto polos seluruh tulang belakang : 67-85% abnormal; kemungkinan temuan : erosi pedikel (defek pada pedikel pada foto polos lumbosacral AP dan lateral) atau pelebaran, fraktur kompresi patologis, dan perubahan osteoblastik (mungkin terjadi mieloma, Ca prostat, Hodgkin, dan biasanya Ca payudara). 2) Bila tersedia dan pasien bersedia, MRI dilakukan secepat mungkin c. Terapi radiasi Tujuan dari terapi radiasi pada penatalaksanaan tumor medulla spinalis adalah untuk memperbaiki kontrol lokal, serta dapat menyelamatkan dan memperbaiki fungsi neurologik. Terapi radiasi juga digunakan pada reseksi tumor yang inkomplit yang dilakukan pada daerah yang terkena. 12 d. Pembedahan Pembedahan sejak dulu merupakan terapi utama pada tumor medulla spinalis. Pengangkatan yang lengkap dan defisit minimal post 14

operasi, dapat mencapai 90% pada ependymoma, 40% pada astrositoma dan 100% pada hemangioblastoma. Pembedahan juga merupakan penatalaksanaan terpilih untuk tumor ekstramedular. Pembedahan, dengan tujuan mengangkat tumor seluruhnya, aman dan merupakan pilihan yang efektif. Indiksi pembedahan - Tumor dan jaringan tidak dapat didiagnosis (pertimbangkan biopsi bila lesi dapat dijangkau. - Kegagalan radiasi - Rekurensi (kekambuhan kembali) setelah radiasi maksimal Komplikasi pembedahan - Resiko defisit neurologis yang besar selama tindakan operasi. - Deformitas pada tulang belakang post operasi lebih sering terjadi pada anak anak disbanding orang dewasa. Deformitas pada tulang belakang tersebut dapat menyebabkan kompresi medulla spinalis. X. Prognosis Pada pasien yang menderita tumor medulla spinalis mempunyai peluang hidup sehingga 5 tahun melebihi 90%. Fungsi neurologis setelah operasi pembedahan pengangkatan tumor bergantung pada status preoperative. Oleh karena itu, dilakukan pembedahan mengangkat tumor adalah untuk menghalangi berlanjutnya proses disfungsi neurologis hasil dari penekanan tumor, untuk menegakkan diagnosis dan secara potensi menyembuhkan tumor dengan mengangkat tumor secara keseluruhan. Prognosis semakin buruk seiring meningkatnya umur (>60 tahun). 11 15

DAFTAR PUSTAKA 1. Reinhard Rohkamm. Chapter 1- Fundamentals of Neurology, Color Atlas of Neurology 2009 2. 13. Augustine J R. Human Neuroanatomy An Introduction. Ed. 1. Academic Press is an imprint of Elsevier. 2008 3. 14. Jones H R, JR. Netters Neurology. MediMedia. 2005 4. 15. Campbell W W. Dejong s The Neurolgic Examination. Ed. 6th. Lippincott Williams & Wilkins. 2005 5. Hoch Daniel B. 2012. Spinal Tumor http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/001403.htm 6. Harrop James S. 2009. Spinal Cord Tumors - Management of Intradural Intramedullary Neoplasms http://emedicine.medscape.com/article/249306- overview. (5 november 2010) 7. Anonym. Brain and Spinal Cord Tumors in Adults. 2008. Available at www.cancer.org 8. Fuchs B, Boos N. Primary Tumors of The Spine In: Boos N, Aebi M, editors. Spinal Disorders Fundamentals of Daiagnosis and Treatment.2008. p. 951-76. 9. Pan E, Prados MD. Spinal Cord Tumors.6 ed. DW K, RE P, RR W, editors. Hamilton: BC Decker; 2010. 10. Japardi, Iskandar. Radikulopati Thorakalis. http://www.usudigitallibrary.com. 2010 16

11. Rana A Q, Zumo L A, Sim V. Neuroradiology in Clinical Practice. Springer International Publishing Switzerland. 2013 12. Daffner R H, Hartman MS. Clinical Radiology The Essential. Ed. 4. Lippincott Williams & Wilkins. 2014 17