Neurogenic Bladder A. Pendahuluan
|
|
|
- Sri Tedjo
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Neurogenic Bladder A. Pendahuluan A.1. Latar Belakang Berkemih (mikturisi) merupakan sebuah proses pengosongan kadung kemih setelah terisi dengan urin. Proses ini membutuhkan kerjasama dari fungsi sistem kemih, antara lain kandung kemih (bladder) dan saluran kemih (uretra). Gangguan pada struktur maupun persarafan yang menginervasi sistem kemih dapat menghambat terjadi proses fisiologis dari berkemih. Salah satu gangguan yang dapat terjadi pada sistem kemih adalah neurogenic bladder. Gangguan ini menyebabkan seseorang tidak dapat mengontrol waktu yang tepat bagi dirinya untuk berkemih. Kondisi yang disebabkan oleh kerusakan parsial medula spinalis dan batang otak ini memiliki angka kejadian yang cukup tinggi sehingga diperlukan penanganan dan sistem rujukan yang tepat apabila diperlukan. A.2. Fisiologi Berkemih 1 Mikturisi melibatkan dua tahap utama pada yakni; (1) kandung kemih terisi secara progresif hingga tegangan pada dindingnya meningkat, dan (2) keadaan tersebut menyebabkan terjadinya refleks saraf yang disebut dengan refleks berkemih. Refleks berkemih merupakan refleks autonom medulla spinalis, namun refleks tersebut dapat di fasilitasi dan diinhibisi oleh pusat yang lebih tinggi, yakni korteks serebri dan batang otak. Kandung kemih merupakan suatu ruang otot polos yang disebut juga dengan otot detrussor. Ketika kandung kemih terisi oleh urin, maka serabut saraf akan meluas ke segala arah sehingga meningkatkan tekanan pada
2 kandung kemih. Bila urin terkumpul dalam kandung kemih lebih banyak dari mliliter, akan menyebabkan peningkatan tekanan secara cepat. Tekanan yang meningkat akan menimbulkan refleks regang yang dipicu oleh reseptor regang sensorik dalam dinding kandung kemih. Sinyal dari reseptor akan dikirim ke segmen sakralis medulla spinalis melalui saraf pelvis. Sinyal tersebut akan dikembalikan ke kandung kemih melalui saraf parasimpatis dengan menggunakan persarafan yang sama. Gambar 1. Persarafan pada kandung kemih serta struktur anatomis kandung kemih Saraf utama kandung kemih adalah saraf-saraf pelvis yang berhubungan dengan medula spinais melalui pleksus sakralis, terutama segmen 2 dan 3. Perjalanan melalui saraf pelvis terdapat dalam dua bentuk persarafan yaitu serabut saraf sensorik dan saraf motorik. Serabut saraf sensorik akan mendeteksi derajat regangan dari kandung kemih yang terisi urin. Serabut ini berperan untuk memicu refleks pengosongan kandung kemih. Sedangkan serabut motorik yang dibawa dalam saraf-saraf pelvis merupakan serabut parasimpatis. Saraf ini akan berakhir di sel ganglion yang terletak dalam dinding kandung kemih. Kemudian sarafsaraf post ganglionik akan mempersarafi otot detrusor.
3 Selain itu, serabut saraf motorik juga bekerja sebagai saraf simpatis melalui saraf hipogastrik, member sedikit efek kontraksi kandung kemih. Saraf ini berhubungan dengan segmen L-2 dan juga member efek rasa penuh dan nyeri pada beberapa kasus. Selain mempersarafi kandung kemih, saraf motorik skeletal yang meruapakan saraf somatik akan memicu refleks pudendus ke sfingter eksterna kandung kemih. Refleks ini terjadi apabila refleks mikturisi sudah cukup kuat. Refleks ke sfingter eksterna ini menimbulkan sinyal konstriktor volunter untuk menghambat pengeluaran urin. Gambar 2. Jalur neuronal yang meregulasi traktus urinarius bagian bawah 2 Refleks mikturisi merupakan penyebab dasar berkemih, tetapi biasanya pusat yang lebih tinggi akan melakukan kendali akhir untuk proses miktursi sebagai berikut:
4 1) Pusat yang lebih tinggi menjaga agar refleks mikturisi tetap terhambat sebagian, kecuali bila mikturisi diinginkan 2) Pusat yang lebih tinggi dapat mencegah mikturisi, bahkan jika terjadi refleks mikturisi, dengan cara sfingter kandung kemih eksterna terus menerus melakukan kontraksi tonik hingga saat yang tepat datang dengan sendirinya 3) Jika waktu berkemih tiba, pusat kortikal dapat memfasilitasi pusat mikturisi sakral untuk membantu memulai refleks mikturisi dan oada saat yang sama mengambat sfingter eksterna sehingga pengeluaran urin dapat terjadi. B. Definisi Neurogenic bladder merupakan disfungsi pada kandung kemih yang disebabkan oleh kerusakan pada sistem saraf pusat. 2,3 C. Epidemiologi Lebih dari orang di Amerika Serikat hidup dengan cidera tulang belakang akibat dari trauma. Setiap tahunnya kira-kira kasus baru terjadi dengan rata-rata usia 30.7 tahun. Lebih dari 50% dari jumlah kasus tersebut, terjadi berbagai macam derajat disfungsi kandung kemih. 2 Selain disebabkan oleh cidera tulang belakang, neurogenic bladder juga terjadi pada menjadi gejala dari penyakit seperti multiple sclerosis, Alzheimer, Parkinson, stroke dan mielodisplasia. Neurogenic bladder ditemukan pada 40-90% pasien multiple sclerosis (MS) di Amerika Serikat, 37-72% pada pasien parkinsonisme, dan 15% pada pasien stroke. Diperkirakan bahwa 70-84% pasien dengan cidera tulang belakang memiliki setidaknya beberapa derajat disfungsi kandung kemih. Selain itu neurogenic
5 bladder juga dapat ditemukan pada pasien diabetes mellitus dengan neuropati otonom. Pada pasien MS, sebanyak 34-99% mengalami uninhibited bladder contraction atau detrusor overactivity. Begitu juga dengan pasien dengan cidera tulang belakang dan kecelakaan yang melibatkan cerebrovascular. Sedangkan sisanya mengalami detrusor underactivity. 3 D. Etiologi Terdapat banyak kasus neurologis yang dapat menjadi penyebab terjadinya disfungsi traktus urinarius. 2,5 Lesi pada saraf perifer atau pusat mikturisi di sakral dapat menyebabkan detrusor areflexia, yakni menyebabkan tidak timbulnya rasa ingin berkemih sehingga kandung kemih menjadi meregang dan terjadi inkontinensia uri. Sedangkan lesi pada suprapontin menyabkan uninhibited bladder contraction akibat tidak adanya inhibisi dari korteks serebri, sementara sfingter uretra dalam keadaan relaksasi. Hal ini kemudian menjadikan otot detrusor terlalu aktif (detrusor overactivity) Gambar 3. Etiologi dan lokasi lesi yang dapat menyebabkan neurogenic bladder. 2
6 E. Patofisiologi Pada keadaan normal, otot detrusor, uretra posterior, dan sfingter eksterna bekerja secara sinergis untuk menampung urin dalam kandung kemih dan mengosongkannya. Pada pasien dengan neurogenic bladder, terjadi disfungsi dari otot detrusor dan sfingter eksterna. (Pediatr nephrol) Gangguan pada berkemih juga merupakan hasil dari ketidaknormalan mekanis dan fisiologis traktus urinarius sehingga menyebabkan ketidak mampuan sfingter untuk meningkatkan atau menurunkan tekanannya secara sempurna ketika tekanan pada kandung kemih meningkat. 3 Banyak klasifikasi yang telah digunakan untuk mengelompokkan disfungsi neurogenic bladder. Setiap klasifikasi memiliki manfaat dan kegunaan klinis tersendiri, yang dibentuk berdasarkan temuan kriteria urodinamik, atau fungsi kandung kemih dan uretra. Klasifikasi berdasarkan lokasi lesi neurologic dapat membantu mentukan terapi farmakologis dan terapi bedah. Pada klasifikasi ini, neurogenic bladder terdiri dari: 4 1) Lesi yang berada diatas pusat mikturisi pontin (mis: stroke atau tumor otak) menyebabkan gangguan inhibisi kandung kemih (Uninhibitted bladder) 2) Lesi yang berada diantara pusat mikturisi pontin dan dan tulang belakang bagian sakral (mis: cidera tulang belakang atau multiple sclerosis yang melibatkan tulang belakang bagian cervicothoraks) yang mengakibatkan upper motor neuron bladder 3) Lesi korda spinalis yang merusak nukleus detrusor tetapi menyisakan nukleus pudendus sehingga menyebabkan mixed type A bladder
7 4) Lesi korda spinalis yang menyisakan nukleus detrusor tapi merusak nukelus pudendus sehingga menyebabakan mixed B bladder 5) Cidera pada nervus yang berjalan dari sakral kebawah sehingga menyebabkan lower motor neuron bladder F. Tanda dan Gejala 4 Pada unhibited neurogenic bladder, biasanya terjadi penurunan kesadaran akan kandung kemih yang penuh dan penurunan kapasitas kandung kemih dikarenakan penurunan fungsi inhibisi dari pusat mikturisi pontin pada kerusakan struktur kortikal dan subkortikal. Inkontinensia urin dapat terjadi dengan lesi pada otak yang berada diatas pusat mikturisi pontin, terutama dengan lesi bilateral. Neurogenic bladder upper motor neuron ditandai dengan disinergi dari sfingter dan detrusor. Kerusakan pada korda spinalis menjadikan kandung kemih dan sfingter spastik, terutama apabila lesi berada diatas torakal 10 (diatas saraf simpatis otonom yang menginervasi kandung kemih). Kapasitas kandung kemih biasanya berkurang, dikarenakan tingginya tonus otot detrusor (neurogenic detrussor overactivity atau detrusor hiperrefleksia). Pada neurogenic bladder mixed type A, terjadi kerusakan dari nukleus detrusor sehingga menyebabkan detrusor flasid (detrusor arefleksia), sementara nukleus pudendus masih intak sehingga menimbulkan hipertonik pada sfingter uretra eksternal. Sehingga pada akhirnya keadaan ini menyebabkan retensi urin. Neurogenic bladder mixed type B ditandai dengan sfingter uretra eksterna yang flasid oleh karena lesi pada nukleus pudendus, sementara kandung kemih dalam keadaan spastik karena nukelus detrusor yang tidak terinhibisi. Keadaan ini menyebabkan kapasitas kandung kemih sedikit tapi
8 tekanan dalam kandung kemih juga tidak meningkat disebabkan resistensi pengeluaran urin yang sedikit. Sehingga manifestasi tipe neurogenic bladder ini adalah inkontinensia urin. Pada neurogenic bladder lower motor neuron, pusat mikturisi di sakral atau nervus perifer yang terlibat mengalami kerusakan, sementara sistem saraf simpatis di torakal masih intak. Sehingga keadaan ini menyebabkan kapasitas kandung kemih yang banyak dikarenakan tonus detrusor menurun (detrusor arefleksia) dan inervasi sfingter interna intak. G. Diagnosis Pemeriksaan secara menyeluruh penting untuk menegakkan diagnosis neurogenic bladder. 4 a. Anamnesis Keluhan saat berkemih (disuria, infeksi berulang, nokturia, inkontinensia, urgensi, frekuensi) Riwayat berkemih Riwayat operasi dan penyakit dahulu yang berhubungan dengan genitourinaria Riwayat pengobatan (obat-obatan sedative, antidepressant, antipsikotik, antihistamin, antikolinergik, antispasmodik, opiat, calcium channel blocker) dapat mempengaruhi fungsi perkemihan. Kebiasaan berkemih (pola berkemih, intake cairan, volume urin saat berkemih)
9 b. Pemeriksaan fisik Pemeriksaan neurologis (status mental, refleks, kekuatan, dan sensasi pada dermatom sakral) pemeriksaan ini berfungsi untuk mengevaluasi kemungkinan kondisi neurologis berhubungan dengan gangguan berkemih Kemungkinan ketidaknormalan mekanis seperti pembesaran prostat atau prolaps kandung kemih harus dinilai dan dieksklusi Pada pasien dengan cidera tulang belakang, periksa derajat dari lesi pada spinal (komplit atau inkomplit), tonus ekstremitas, sensasi dan tonus pada rectal, tonus volunter dari rektal, dan refleks bulbokavernosus 2 c. Pemeriksaan lanjutan Urinalisis Kultur urin Serum kreatinin, BUN (Blood Urea Nitrogen) Creatinine clearance Evaluasi urodinamik: 1. Volume urin residual setelah berkemih (volume residu abnormal yakni lebih dari 100cc) 2. Uroflowmetry merupakan pemeriksaan non-invasif terhadap laju kemih (volume urin per unit waktu) beserta penilaian terhadap tekanan kandung kemih dan rektal. Uroflow yang rendah menunjukan adanya obstruksi uretra, kelemahan otot detrusor, atau gabungan dari keduanya. Sedangkan uroflow yang tinggi menunjukan adanya detrusor overactivity
10 H. Tatalaksana Tatalaksana pada neurogenic bladder berupa: 6 a. Tatalaksana konservatif non-invasif Assisted Bladder emptying Lower Urinary Tract rehabilitation tujuan terapi ini adalah untuk mengembalikan kontrol fungsi kandung kemih secara volunter dengan cara pemberian stimulus elektrik Terapi medikamentosa a. Antimuskarinik merupakan terapi lini pertama pada manajemen neurogenic detrusor overactivity. Bekerja dengan cara stabilisasi otot detrusor. Obat-obatan antimuskarinik: Oxybutin Chloride, trospium chloride, propiverine b. Obat-obatan kolinergik digunakan untuk mengatasi kelemahan otot detrusor (detrusor underactivty), obat ini bekerja dengan meningkatkan kontraktilitas otot detrusor sehingga pengosongan kandung kemih optimal b. Tatalaksana minimal invasive Kateterisasi efektif pada pasien dengan detrusor underactivity Obat-obatan intravesikal untuk mengurangi detrusor overactivity obat-obatan antikolinergik dapat diberikan secara intravesikal. c. Tatalaksana Bedah Detrusor myetectomy Subtitusi atau augmentasi kandung kemih Bladder covering by striated muscle
11 I. Prognosis Nurogenic bladder merupakan keadaan yang dapat ditangani, yakni dengan tujuan untuk mendapatkan kembali kemampuan berkemihnya secara normal. Apabila neurogenic bladder tidak ditangani secara optimal, maka dapat terjadi peningkatan resiko terhadap sepsis dan gagal ginjal yang disebabkan oleh tingginya tekanan otot detrusor. 3,4 J. Rujukan
12 DAFTAR PUSTAKA 1. Guyton, A.C., Hall, J.E Buku Ajar Fisiologi Kedokteran: Pembentukan urin oleh ginjal. pp: Al-Shukri, Salman Neurogenic Bladder Assesement, Investigation and Treatment. European Urological Review. Available at: 3. Ginsberg, David The Epidemiology and Pathophysiology of Neurogenic Bladder. The American Journal of Managed Care. Vol.19, No Peter T. D., Peter M.M Review Article: Neurogenic Bladder. Advances in Urology. Hindawi Publishing Corporation. Available at: 5. Carla, V., Gunnar M.B The Neurogenic Bladder: medical Treatment. Pediatr Nephrol 23: Available at: 6. Pannek, et al Guidelines on Neurogenic Lower Urinary Tract Dysfunction. European Association of Urology. Available at:
13 TUGAS TINJAUAN PUSTAKA Neurogenic Bladder Blok XX: Emergency Oleh: MAHARANI H1A Dose Pembimbing: dr. Ilsa Hunaifi, Sp.S FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 2014
disebabkan internal atau eksternal trauma, penyakit atau cedera. 1 tergantung bagian neurogenik yang terkena. Spincter urinarius mungkin terpengaruhi,
Fungsi normal kandung kemih adalah mengisi dan mengeluarkan urin secara terkoordinasi dan terkontrol. Aktifitas koordinasi ini diatur oleh sistem saraf pusat dan perifer. Neurogenic bladdre adalah keadaan
Aulia Rahman, S. Ked Endang Sri Wahyuni, S. Ked Nova Faradilla, S. Ked
Authors : Aulia Rahman, S. Ked Endang Sri Wahyuni, S. Ked Nova Faradilla, S. Ked Faculty of Medicine University of Riau Pekanbaru, Riau 2009 Files of DrsMed FK UR (http://www.files-of-drsmed.tk 0 PENDAHULUAN
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Proses Berkemih Reflek berkemih adalah reflek medula spinalis yang seluruhnya bersifat otomatis. Selama kandung kemih terisi penuh dan menyertai kontraksi berkemih, keadaan ini
GANGGUAN MIKSI DAN DEFEKASI PADA USIA LANJUT. Dr. Hj. Durrotul Djannah, Sp.S
GANGGUAN MIKSI DAN DEFEKASI PADA USIA LANJUT Dr. Hj. Durrotul Djannah, Sp.S Secara biologis pada masa usia lanjut, segala kegiatan proses hidup sel akan mengalami penurunan Hal-hal keadaan yang dapat ikut
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. memasukkan kateter ke dalam kandung kemih melalui uretra yang bertujuan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 1. Pemasangan Kateter Urin Pemasangan kateter urin merupakan tindakan keperawatan dengan cara memasukkan kateter ke dalam kandung kemih melalui uretra yang bertujuan membantu memenuhi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pasal 1 dinyatakan bahwa seorang dikatakan lansia setelah mencapai umur 50
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. TEORI 1. Lanjut Usia (Lansia) Menurut Undang-Undang nomor 4 tahun 1965 yang termuat dalam pasal 1 dinyatakan bahwa seorang dikatakan lansia setelah mencapai umur 50 tahun, tidak
BAB I PENDAHULUAN. Papyrus Ebers (1550 SM), dengan terapi menggunakan buah beri untuk
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kebocoran urin merupakan keluhan terbanyak yang tercatat pada Papyrus Ebers (1550 SM), dengan terapi menggunakan buah beri untuk mengatasinya. Pada tahun 2001 Asia Pacific
Anita Widiastuti Poltekkes Semarang Prodi Keperawatan Magelang
PERBEDAAN KEJADIAN INKONTINENSIA URIN PADA PASIEN POST KATETERISASI YANG DILAKUKAN BLADDER TRAINING SETIAP HARI DENGAN BLADDER TRAINING SEHARI SEBELUM KATETER DIBUKA DI BPK RSU TIDAR MAGELANG Anita Widiastuti
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 1. Bladder Retention Training 1.1. Defenisi Bladder Training Bladder training adalah salah satu upaya untuk mengembalikan fungsi kandung kemih yang mengalami gangguan ke keadaan
INKONTINENSIA URIN. Dr. Budi Iman Santoso, SpOG (K) Divisi Uroginekologi Rekonstruksi Departemen Obstetri dan Ginekologi FKUI/ RSCM Jakarta
INKONTINENSIA URIN Dr. Budi Iman Santoso, SpOG (K) Divisi Uroginekologi Rekonstruksi Departemen Obstetri dan Ginekologi FKUI/ RSCM Jakarta Inkontinensia urin dapat terjadi pada segala usia Asia Pasific
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. 1.2 Rumusan Masalah. 1.3 Tujuan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Rumusan Masalah 1.3 Tujuan Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami definisi, penyebab, mekanisme dan patofisiologi dari inkontinensia feses pada kehamilan. INKONTINENSIA
DEFINISI, KLASSIFIKASI DAN PANDUAN TATALAKSANA INKONTINENSIA URINE
DEFINISI, KLASSIFIKASI DAN PANDUAN TATALAKSANA INKONTINENSIA URINE Dr. Budi Iman Santoso, SpOG(K) Divisi Uroginekologi Rekonstruksi Departemen Obstetri dan Ginekologi FKUI/ RSCM Definisi Inkontiensia Urine
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kateter Urin Pemasangan kateter urin merupakan tindakan keperawatan dengan cara memasukkan kateter ke dalam kandung kemih melalui uretra yang bertujuan membantu memenuhi kebutuhan
Pengkajian : Manifestasi klinis yang dapat ditemukan pada individu yang mengalami masalah eliminasi urine : 1. inkontinensia urine 2.
BLADDER TRAINING BLADDER TRAINING Bladder training biasanya dilakukan pada pasien yang mengalami perubahan pola eliminasi urin (inkontinensia) yang berhubungan dengan dysfungsi urologik. Pengkajian : Manifestasi
LAPORAN NURSING CARE INKONTINENSIA. Blok Urinary System
LAPORAN NURSING CARE INKONTINENSIA Blok Urinary System Oleh: Kelompok 3 TRIGGER JURUSAN ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2013 Ny Sophia, usia 34 tahun, datang ke klinik
disampaikan oleh : nurul aini
disampaikan oleh : nurul aini 1. Enuresis 2. Inkontinensia 3. Retensi urine Definisi : pengeluaran air kemih yg tidak disadari seseorang yg pada saat itu pengendalian kendung kemih diharapkan sudah tercapai
Kandung Kemih Neurogenik pada Anak: Etiologi, Diagnosis dan Tata Laksana. Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM 2
Majalah Kedokteran FK UKI 2012 Vol XXVIII No.4 Oktober-Desember Tinjauan Pustaka Kandung Kemih Neurogenik pada Anak: Etiologi, Diagnosis dan Tata Laksana Rhyno Febriyanto, 1 Bernadetha Nadeak, 2 Sudung
TUGAS MADIRI BLADDER TRAINING
TUGAS MADIRI BLADDER TRAINING Disusun untuk memenuhi tugas Blok Urinary Oleh: Puput Lifvaria Panta A 135070201111004 Kelompok 3 Reguler 2 PROGAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA Retensi urin pada wanita paling mungkin terjadi pada periode post partum atau setelah pembedahan pelvis. Menurut Stanton, retensio urin adalah ketidak-mampuan berkemih selama 24
PENGARUH KOMPRES HANGAT DI SUPRA PUBIK TERHADAP PEMULIHAN KANDUNG KEMIH PASCA PEMBEDAHAN DENGAN ANESTESI SPINAL DI RSUD BATANG
PENGARUH KOMPRES HANGAT DI SUPRA PUBIK TERHADAP PEMULIHAN KANDUNG KEMIH PASCA PEMBEDAHAN DENGAN ANESTESI SPINAL DI RSUD BATANG Skripsi ARI WIJAYANTO NIM : 11.0758.S TAUFIK NIM : 11.0787. S PROGRAM STUDI
Sistem syaraf otonom (ANS) merupakan divisi motorik dari PNS yang mengontrol aktivitas viseral, yang bertujuan mempertahankan homeostatis internal
Sistem syaraf otonom (ANS) merupakan divisi motorik dari PNS yang mengontrol aktivitas viseral, yang bertujuan mempertahankan homeostatis internal Perbandingan antara Sistem syaraf Somatik dan Otonom Sistem
BAB I PENDAHULUAN. Stroke merupakan suatu penyakit kegawatdaruratan neurologis yang berbahaya
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Stroke merupakan suatu penyakit kegawatdaruratan neurologis yang berbahaya dan dapat menyebabkan terjadinya disfungsi motorik dan sensorik yang berdampak pada timbulnya
CEDERA SPINAL DANIEL, PUTU DEASY, APRIL, MURNI, DESI, JERRY, DAVID, HERNA, SARI, VANI, OCTA, ESTER,
CEDERA SPINAL DANIEL, PUTU DEASY, APRIL, MURNI, DESI, JERRY, DAVID, HERNA, SARI, VANI, OCTA, ESTER, Medula Spinalis Medula spinalis merupakan bagian dari susunan saraf pusat Kendali untuk sistem gerak
MANIFESTASI NEUROLOGIS GANGGUAN MIKSI. Dr ISKANDAR JAPARDI Fakultas Kedokteran Bagian Bedah Universitas Sumatera Utara
MANIFESTASI NEUROLOGIS GANGGUAN MIKSI Dr ISKANDAR JAPARDI Fakultas Kedokteran Bagian Bedah Universitas Sumatera Utara I. PENDAHULUAN Fungsi kandung kencing normal memerlukan aktivitas yang terintegrasi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Anatomi dan Fisiologi Sistem Perkemihan 2.1.1 Ginjal Ginjal merupakan organ yang berpasangan dan setiap ginjal memiliki berat kurang lebih 125 g, terletak pada posisi di sebelah
BAB I PENDAHULUAN. diakibatkan oleh lesi pada berbagai derajat.
BAB I PENDAHULUAN Istilah neurogenic bladder tidak mengacu pada suatu diagnosis spesifik ataupun menunjukkan etiologinya, melainkan lebih menunjukkan suatu gangguan fungsi urologi akibat kelainan neurologis.
BUKU AJAR SISTEM NEUROPSIKIATRI
1 BUKU AJAR SISTEM NEUROPSIKIATRI Judul mata Kuliah : Neuropsikiatri Standar Kompetensi : Area Kompetensi 5 : Landasan Ilmiah Ilmu Kedokteran Kompetensi dasar : Menerapkan ilmu Kedokteran klinik pada sistem
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. sering terjadi pada laki-laki usia lanjut. BPH dapat mengakibatkan keadaan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hiperplasia prostat jinak (BP H) merupakan penyakit jinak yang paling sering terjadi pada laki-laki usia lanjut. BPH dapat mengakibatkan keadaan pembesaran prostat jinak
BAB 1 PENDAHULUAN. adalah persalinan sectio caesarea. Persalinan sectio caesarea adalah melahirkan janin
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hampir setiap wanita akan mengalami proses persalinan. Kodratnya wanita dapat melahirkan secara normal yaitu persalinan melalui vagina atau jalan lahir biasa (Siswosuharjo
PREVALENSI DAN DAMPAK SOSIAL OVERACTIVE BLADDER
Curriculum Vitae Name: Dr. Budi Iman Santoso, SpOG(K) Education: FKUI tahun 1980 Pasca Sarjana Spesialis Obstetri Ginekologi FKUI tahun 1987 Konsultan Uroginekologi tahun 2003 Working Experience: 1989
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Sistem Perkemihan 1. Definisi Sistem Perkemihan Sistem perkemihan merupakan suatu sistem organ tempat terjadinya proses penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang
Fungsi. Sistem saraf sebagai sistem koordinasi mempunyai 3 (tiga) fungsi utama yaitu: Pusat pengendali tanggapan, Alat komunikasi dengan dunia luar.
Pengertian Sistem saraf adalah sistem yang mengatur dan mengendalikan semua kegiatan aktivitas tubuh kita seperti berjalan, menggerakkan tangan, mengunyah makanan dan lainnya. Sistem Saraf tersusun dari
PENATALAKSANAAN TERAPI LATIHAN PADA POST OPERASI FRAKTUR KOMPRESI VERTEBRA THORAKAL XII LUMBAL 1 dengan FRANKLE A
PENATALAKSANAAN TERAPI LATIHAN PADA POST OPERASI FRAKTUR KOMPRESI VERTEBRA THORAKAL XII LUMBAL 1 dengan FRANKLE A Diajukan sebagai Salah Satu Syarat Mendapatkan Gelar Ahli Madya Fisioterapi Disusun Oleh:
PERGERAKAN MAKANAN MELALUI SALURAN PENCERNAAN
PERGERAKAN MAKANAN MELALUI SALURAN PENCERNAAN FUNGSI PRIMER SALURAN PENCERNAAN Menyediakan suplay terus menerus pada tubuh akan air, elektrolit dan zat gizi, tetapi sebelum zat-zat ini diperoleh, makanan
SPASME OTOT (M62.83) Lusia Pujianita, dr. Pembimbing : Marina Moeliono, dr, Sp.KFR Penguji :Tertianto Prabowo, dr, Sp.KFR
Tinjauan Kepustakaan 1 Senin, 27 Januari 2014 SPASME OTOT (M62.83) Lusia Pujianita, dr. Pembimbing : Marina Moeliono, dr, Sp.KFR Penguji :Tertianto Prabowo, dr, Sp.KFR PENDAHULUAN SPASME OTOT statik Kontraksi
Inkontinensia urin. Pendahuluan
Inkontinensia urin Pendahuluan Inkontinensia urin merupakan salah satu keluhan utama pada penderita lanjut usia. Seperti halnya dengan keluhan pada suatu penyakit, bukan merupakan diagnosis, sehingga perlu
DAFTAR ISI. Definisi Traktus Spinotalamikus Anterior Traktus Spinotalamikus Lateral Daftar Pustaka
DAFTAR ISI Definisi 2 Traktus Spinotalamikus Anterior 2 Traktus Spinotalamikus Lateral 4 Daftar Pustaka 8 1 A. Definisi Traktus Spinotalamikus adalah traktus yang menghubungkan antara reseptor tekanan,
INKONTINENSIA URIN PADA WANITA
INKONTINENSIA URIN PADA WANITA 20 Maret 2008 dr. Budi Iman Santoso, SpOG(K) Divisi Uroginekologi Rekonstruksi Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia RS. Dr. Cipto
BAB I PENDAHULUAN. kehidupan termasuk salah satunya di bidang kesehatan. Pembangunan di bidang
BAB I PENDAHULUAN Pembangunan Nasional adalah pembangunan yang meliputi segala aspek kehidupan termasuk salah satunya di bidang kesehatan. Pembangunan di bidang kesehatan, pada hakekatnya adalah untuk
SKENARIO KATA KUNCI : PERTANYAAN
SKENARIO Seorang laki-laki umur 79 tahun dibawa ke Puskesmas dengan keluhan selalu ngompol dan buang air kecil sedikit-sedikit. Namun walaupun buang air kecilnya berlangsung lama, tetapi selesai buang
Agnesia Naathiq H1A Brown Sequard Syndrome
Agnesia Naathiq H1A012004 Brown Sequard Syndrome Pendahuluan Brown Sequard Syndrome (BSS) merupakan kumpulan gejala yang muncul karena cedera medulla spinalis yang meliputi kelumpuhan atau gangguan neuron
SINDROMA GUILLAINBARRE
SINDROMA GUILLAINBARRE Dosen pembimbing: dr. Fuad Hanif, Sp. S, M.Kes Vina Nurhasanah 2010730110 Definisi Sindroma Guillian Barre adalah suatu polineuropati yang bersifat akut yang sering terjadi 1-3 minggu
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM SUMATERA UTARA MEDAN
INSIDENSI PENDERITA OAB (OVERACTIVE BLADDER) PADA IBU- IBU PENGAJIAN DI KECAMATAN MEDAN SUNGGAL TAHUN 2012 DENGAN MENGGUNAKAN OABSS (OVERACTIVE BLADDER SYMPTOMS SCORE) KARYA TULIS ILMIAH Oleh : ANNISA
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Berkemih adalah pengeluaran urin dari tubuh, berkemih terjadi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Berkemih adalah pengeluaran urin dari tubuh, berkemih terjadi sewaktu sfingter uretra interna dan eksterna didasar kandung kemih berelaksasi. Derajat regang yang dibutuhkan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dari plasma darah di glomerulus. Dari 180 liter darah yang masuk ke ginjal
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Eliminasi Urin 1. Defenisi Eliminasi Urin Eliminasi urin normalnya adalah pengeluaran cairan sebagai hasil filtrasi dari plasma darah di glomerulus. Dari 180 liter darah yang
BAB I PENDAHULUAN. modalitas sensorik tetapi adalah suatu pengalaman 1. The
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Nyeri didefinisikan sebagai suatu keadaan yang mempengaruhi seseorang dan ekstensinya diketahui bila seseorang pernah mengalaminya Nyeri bukan hanya suatu modalitas
BAB 3 PENURUNAN KESADARAN
BAB 3 PENURUNAN KESADARAN A. Tujuan pembelajaran 1. Melaksanakan anamnesis atau aloanamnesis pada pasien penurunan kesadaran. 2. Menerangkan mekanisme terjadinya penurunan kesadaran. 3. Membedakan klasifikasi
Gangguan Neuromuskular
Bab 9 Gangguan Neuromuskular Oleh: Dr. dr. Zairin Noor Helmi, Sp.OT(K)., M.M., FISC. Tujuan Pembelajaran Setelah menyelesaikan bab ini, pembaca/peserta didik diharapkan mampu: mendeskripsikan konsep palsi
BAB I PENDAHULUAN. sering terjadi di masyarakat dewasa ini. Di tengah jaman yang semakin global,
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Berbagai macam penyakit akibat gaya hidup yang tidak sehat sangat sering terjadi di masyarakat dewasa ini. Di tengah jaman yang semakin global, banyak stresor dan
1.1PENGERTIAN NYERI 1.2 MEKANISME NYERI
1.1PENGERTIAN NYERI Nyeri merupakan sensasi yang terlokalisasi berupa ketidaknyamanan, kesedihan dan penderitaan yang dihasilkan oleh stimulasi pada akhiran saraf tertentu. Nyeri terjadi sebagai mekanisme
Cedera medulla spinalis yang disebabkan trauma terjadi karena : Axial loading Hiperfleksi Hiperekstensi Rotasi Lateral bending
Cedera medulla spinalis adalah cedera pada medulla spinalis yang dapat mempengaruhi fungsi motorik, sensorik, dan otonom. Perubahan ini dapat sementara atau permanen. Cedera medulla spinalis paling banyak
BAB I PENDAHULUAN. dalam mendeteksi secara dini disfungsi tumbuh kembang anak. satunya adalah cerebral palsy. Cerebral palsy menggambarkan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kesehatan masyarakat merupakan persoalan bersama yang harus menjadi perhatian pemerintah dan masyarakat. Salah satu bagian dari program kesehatan masyarakat
BAB 1 PENDAHULUAN. merupakan suatu keadaan terjadinya proliferasi sel stroma prostat yang akan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Benign Prostate Hyperplasia (BPH) atau pembesaran prostat jinak merupakan suatu keadaan terjadinya proliferasi sel stroma prostat yang akan menyebabkan pembesaran dari
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kelenjar prostat adalah salah satu organ genitalia laki-laki yang terletak mengelilingi vesica urinaria dan uretra proksimalis. Kelenjar prostat dapat mengalami pembesaran
Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung
INKONTINENSIA URIN Dandy Utama Jaya Dedi Rachmadi Januari 2009 Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung INKONTINENSIA URIN Inkontinensia
PENGARUH MOBILISASI TRUNK TERHADAP PENURUNAN SPASTISITAS PADA CEREBRAL PALSY SPASTIK DIPLEGI
PENGARUH MOBILISASI TRUNK TERHADAP PENURUNAN SPASTISITAS PADA CEREBRAL PALSY SPASTIK DIPLEGI SKRIPSI DISUSUN UNTUK MEMENUHI SEBAGIAN PERSYARATAN DALAM MENDAPATKAN GELAR SARJANA SAINS TERAPAN FISIOTERAPI
Sindrom ekstrapiramidal (EPS)
Sindrom ekstrapiramidal (EPS) SINDROM EXTRAPIRAMIDAL (EPS) 1. PENDAHULUAN Sistem ekstrapiramidal merupakan jaringan saraf yang terdapat pada otak bagian sistem motorik yang mempengaruhi koordinasi dari
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Inkontinensia Urin 2.1.1 Definisi Inkontinensia urin (IU) oleh International Continence Society (ICS) didefinisikan sebagai keluarnya urin yang tidak dapat dikendalikan atau
Sistem motorik mengurus pergerakan Rangkaian neuron-neuron dan otot : - Upper motor neuron (UMN) - Lower motor neuron (LMN) - Sambungan saraf otot
KELUMPUHAN Sistem motorik mengurus pergerakan Rangkaian neuron-neuron dan otot : - Upper motor neuron (UMN) - Lower motor neuron (LMN) - Sambungan saraf otot - Otot 1 U M N : - Sistem piramidalis - Sistem
BAB 1 PENDAHULUAN. aktivitas sel tubuh melalui impuls-impuls elektrik. Perjalanan impuls-impuls
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sistem persarafan terdiri dari otak, medulla spinalis, dan saraf perifer. Struktur ini bertanggung jawab mengendalikan dan mengordinasikan aktivitas sel tubuh melalui
BAB 1 PENDAHULUAN. Sistem saraf manusia mempunyai struktur yang kompleks dengan berbagai
BAB 1 PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Sistem saraf manusia mempunyai struktur yang kompleks dengan berbagai fungsi yang berbeda dan saling mempengaruhi. Sistem saraf mengatur kegiatan tubuh yang cepat seperti
TUGAS MANDIRI 1 Bladder Training. Oleh : Adelita Dwi Aprilia Reguler 1 Kelompok 1
TUGAS MANDIRI 1 Bladder Training Oleh : Adelita Dwi Aprilia 135070201111005 Reguler 1 Kelompok 1 PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2015 1. Definisi Bladder
NYERI KEPANITERAAN ILMU PENYAKIT SARAF RSU TNI-AL MINTOHARDJO PERIODE
NYERI KEPANITERAAN ILMU PENYAKIT SARAF RSU TNI-AL MINTOHARDJO PERIODE DEFINISI Nyeri Suatu pengalaman sensorik dan emosional yang tidak berkaitan yang dengan kerusakan jaringan yang sudah atau berpotensi
BAB I PENDAHULUAN. kelenjar/jaringan fibromuskular yang menyebabkan penyumbatan uretra pars
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Benigna prostatic hyperplasia adalah pembesaran jinak kelenjar prostat, yang disebabkan hiperplasia beberapa atau semua komponen prostat meliputi jaringan kelenjar/jaringan
FIRMAN FARADISI J
PERBEDAAN EFEKTIFITAS PEMBERIAN TERAPI MUROTAL DENGAN TERAPI MUSIK KLASIK TERHADAP PENURUNAN TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN PRE OPERASI FRAKTUR EKSTREMITAS DI RUMAH SAKIT Dr.MOEWARDI SURAKARTA SKRIPSI Diajukan
BAB I PENDAHULUAN. Sepsis didefinisikan sebagai adanya infeksi bersama dengan manifestasi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sepsis didefinisikan sebagai adanya infeksi bersama dengan manifestasi sistemik dikarenakan adanya infeksi. 1 Sepsis merupakan masalah kesehatan dunia karena patogenesisnya
BAHAN AJAR III NEUROGENIC BLADDER
1 BAHAN AJAR III NEUROGENIC BLADDER Nama Mata Kuliah/Bobot SKS Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Indikator Level Kompetensi Alokasi Waktu : Sistem Neuropsikiatri / 8 SKS : area kompetensi 5: landasan
BAB I PENDAHULUAN. Kelainan kelenjar prostat dikenal dengan Benigna Prostat Hiperplasia (BPH)
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kelainan kelenjar prostat dikenal dengan Benigna Prostat Hiperplasia (BPH) yaitu berupa pembesaran prostat atau hiperplasia prostat. Kelainan kelenjar prostat dapat
A. SEL-SEL PADA SISTEM SARAF
A. SEL-SEL PADA SISTEM SARAF 1. Neuron Neuron adalah unit fungsional sistem syaraf yang terdiri dari badan sel dan perpanjangan sitoplasma, dengan komponen-komponennya antara lain: a. Badan sel Berfungsi
BAB 2 NYERI KEPALA. B. Pertanyaan dan persiapan dokter muda
BAB 2 NYERI KEPALA A. Tujuan pembelajaran Dokter muda mampu : 1. Melaksanakan anamnesis pada pasien nyeri kepala. 2. Mengidentifikasi tanda dan gejala nyeri kepala. 3. Mengklasifikasikan nyeri kepala.
DIABETES MELLITUS I. DEFINISI DIABETES MELLITUS Diabetes mellitus merupakan gangguan metabolisme yang secara genetis dan klinis termasuk heterogen
DIABETES MELLITUS I. DEFINISI DIABETES MELLITUS Diabetes mellitus merupakan gangguan metabolisme yang secara genetis dan klinis termasuk heterogen dengan manifestasi berupa hilangnya toleransi karbohidrat.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Konstipasi berasal dari bahasa Latin constipare yang berarti ramai bersama. 18
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Konstipasi Konstipasi berasal dari bahasa Latin constipare yang berarti ramai bersama. 18 Konstipasi secara umum didefinisikan sebagai gangguan defekasi yang ditandai
ANTAGONIS KOLINERGIK. Dra.Suhatri.MS.Apt FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS ANDALAS
ANTAGONIS KOLINERGIK Dra.Suhatri.MS.Apt FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS ANDALAS PENDAHULUAN Antagonis kolinergik disebut juga obat peng hambat kolinergik atau obat antikolinergik. Yang paling bermanfaat
REHABILITASI PADA NYERI PUNGGUNG BAWAH. Oleh: dr. Hamidah Fadhil SpKFR RSU Kab. Tangerang
REHABILITASI PADA NYERI PUNGGUNG BAWAH Oleh: dr. Hamidah Fadhil SpKFR RSU Kab. Tangerang SKDI 2012 : LBP Tingkat kompetensi : 3A Lulusan dokter mampu : Membuat diagnosis klinik dan memberikan terapi pendahuluan
Tinjauan Pustaka. Tanda dan Gejala
Tinjauan Pustaka A. Pendahuluan Insiden dari metastasi tulang menempati urutan kedua setelah metastase ke paru-paru dan hati. Frekuensi paling sering pada tulang adalah metastase ke kolumna vertebra. Di
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan infeksi yang ditandai dengan pertumbuhan dan perkembangbiakan bakteri dalam saluran kemih, meliputi infeksi diparenkim
Overactive Bladder. Dr. Budi Iman Santoso, SpOG(K)
Overactive Bladder Dr. Budi Iman Santoso, SpOG(K) Divisi Uroginekologi Rekonstruksi Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta Overactive Bladder Definisi Overactive
NEUROGENIK BLEDDER. Dr.dr. Jumraini Tamasse, Sp.S PENDAHULUAN. sistem saraf. Istilah Neurogenic bladder tidak mengacu pada suatu diagnosis spesifik
NEUROGENIK BLEDDER Dr.dr. Jumraini Tamasse, Sp.S PENDAHULUAN Fungsi normal kandung kemih adalah mengisi dan mengeluarkan urin secara terkoordinasi dan terkontrol. Aktifitas koordinasi ini diatur oleh sistem
Referat Fisiologi Nifas
Referat Fisiologi Nifas A P R I A D I Definisi Masa Nifas ialah masa 2 jam setelah plasenta lahir (akhir kala IV) sampai 42 hari/ 6 bulan setelah itu. Masa Nifas adalah masa dari kelahiran plasenta dan
BAB I PENDAHULUAN. Sejumlah prilaku seperti mengkonsumsi makanan-makanan siap saji yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di era globalisasi dengan perkembangan teknologi di berbagai bidang termasuk informasi, manusia modern semakin menemukan sebuah ketidak berjarakan yang membuat belahan
LAPORAN PEDAHULUAN ABDOMINAL PAIN
LAPORAN PEDAHULUAN ABDOMINAL PAIN A. PENGERTIAN Nyeri abdomen merupakan sensasi subjektif tidak menyenanngkan yang terasa disetiap regio abdomen (Pierce A. Grace &Neil R.Borley, 2006). Nyeri abdomen ada
Pengertian Nyeri. Suatu gejala dalam merasakan subyek dan pengalaman emosional
Pengertian Nyeri. Suatu gejala dalam merasakan subyek dan pengalaman emosional termasuk suatu komponen sensori, komponen diskriminatri, responrespon yang mengantarkan atau reaksi-reaksi yang ditimbulkan
EMG digunakan untuk memastikan diagnosis dan untuk menduga beratnya sindroma kubital. Juga berguna menilai (8,12) :
Sindrom Kanalis Cubitalis (Cubital Tunnel Syndrome) Kesemutan atau baal biasanya terjadi di jari manis. Atau terjadi di wilayah saraf ulnaris. Gejalanya seperti sindrom ulnaris. Baal biasanya terjadi tidak
Jaras Desenden oleh Evan Regar,
Jaras Desenden oleh Evan Regar, 0906508024 Pendahuluan Telah diketahui bahwa terdapat serabut saraf yang terletak di substansia alba medulla spinalis mengandung dua arah pembawaan informasi, yakni arah
UNIVERSITAS SEBELAS MARET FAKULTAS KEDOKTERAN SILABUS
UNIVERSITAS SEBELAS MARET FAKULTAS KEDOKTERAN SILABUS Program Studi : Pendidikan Dokter Kode Blok : Blok ke 12 Blok : SARAF Bobot : 4 SKS Semester : III Standar Kompetensi : Mahasiswa mampu menjelaskan
e) Faal hati f) Faal ginjal g) Biopsi endometrium/
e) Faal hati f) Faal ginjal g) Biopsi endometrium/ mikrokuretae 15. Kehamilan FIT jika: 6 minggu setelah melahirkan Pemeriksaan : a) USG b) Pregnancy test (HCG test) 16. Operasi ginekologi FIT setelah
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. ada (kurangnya aktivitas fisik), merupakan faktor resiko independen. menyebabkan kematian secara global (WHO, 2010)
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. LANDASAN TEORI 1. Aktivitas Fisik a. Definisi Aktivitas fisik adalah setiap gerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot rangka yang memerlukan pengeluaran energi. Aktivitas fisik
BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN. mampu mengontrol dalam melakukan buang air kecil dan buang air besa
BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN 2.1 Toilet Training 2.2.1 Pengertian Toilet Training Toilet training pada anak merupakan suatu usaha untuk melatih anak agar mampu mengontrol dalam melakukan buang air kecil
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Angka harapan hidup penduduk di Indonesia setiap tahun mengalami peningkatan. Pada tahun 2007, Badan Pusat Statistik Indonesia mencatat jumlah penduduk Indonesia sebanyak
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Vinkristin adalah senyawa kimia golongan alkaloid vinca yang berasal dari
5 BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Obat kemoterapi vinkristin Vinkristin adalah senyawa kimia golongan alkaloid vinca yang berasal dari tanaman Vinca Rosea yang memiliki anti kanker yang diberikan secara intravena
LEMBAR PENGESAHAN JURNAL
LEMBAR PENGESAHAN JURNAL PENGARUH BLADDER TRAINING TERHADAP FUNGSI BERKEMIH PADA PASIEN YANG TERPASANG KATETER DI RUANG RAWAT INAP BEDAH KELAS 3 RSUD PROF. DR. H. ALOEI SABOE KOTA GORONTALO Oleh Ni Wayan
(Informed Consent) yang berjudul Pengaruh Bladder Training Terhadap Pola Berkemih Pada Pasien Post
LAMPIRAN 1 LEMBAR PERSETUJUAN RESPONDEN (Informed Consent) Saya yang bertanda tangan dibawah ini : Nama : Umur : Alamat : Pekerjaan : Setelah mendapat keterangan secukupnya tentang manfaat dan resiko dari
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Benign Prostatic Hyperplasia atau lebih dikenal dengan singkatan BPH
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Benign Prostatic Hyperplasia atau lebih dikenal dengan singkatan BPH merupakan kelainanan adenofibromatoushyperplasia paling sering pada pria walaupun tidak mengancam
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Prolaps organ panggul (POP) adalah turun atau menonjolnya dinding vagina ke dalam liang vagina atau sampai dengan keluar introitus vagina, yang diikuti oleh organ-organ
BAB 1 PENDAHULUAN. kerap kali dijumpai dalam praktik dokter. Berdasarkan data. epidemiologis tercatat 25-35% wanita dewasa pernah mengalami
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan kondisi klinis yang kerap kali dijumpai dalam praktik dokter. Berdasarkan data epidemiologis tercatat 25-35% wanita dewasa
BAB I PENDAHULUAN. yang sering digunakan untuk beraktivitas. Keluhan nyeri merupakan sensasi yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) di era globalisasi saat ini mempengaruhi segala bidang, salah satunya adalah bidang kesehatan. Hal ini dapat dilihat
SISTEM NEUROPSIKIATRI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2016
Bahan Ajar 3 Supervisor : Dr. dr. Jumraini Tammasse, Sp. S (K) SISTEM NEUROPSIKIATRI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2016 Neurogenic Bladder (NB) atau dikenal dgn istilah neurogenic
PATOFISIOLOGI ANSIETAS
PATOFISIOLOGI ANSIETAS Faktor Predisposisi (Suliswati, 2005). Ketegangan dalam kehidupan tersebut dapat berupa : 1. Peristiwa traumatik 2. Konflik emosional 3. Konsep diri terganggu 4. Frustasi 5. Gangguan
MASALAH ELIMINASI FECAL
e Obat-obatan Beberapa obat memiliki efek samping yang dapat berpengeruh terhadap eliminasi yang normal Beberapa menyebabkan diare; yang lain seperti dosis yang besar dari tranquilizer tertentu dan diikuti
