HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
HASIL DAN PEMBAHASAN

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu

TINJAUAN PUSTAKA Potensi dan Manfaat Komoditas Pepaya

HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil Percobaan I. Pengaruh Suhu Air dan Intensitas Perendaman terhadap Perkecambahan Benih Kelapa Sawit

PENGUJIAN SIFAT BENIH PEPAYA (Carica papaya L.) DENGAN PERLAKUAN PENYIMPANAN SUHU RENDAH OLEH : LIDYA OKTAVIANI A

HASIL DAN PEMBAHASAN. Percobaan 1 : Pengaruh Pertumbuhan Asal Bahan Tanaman terhadap Pembibitan Jarak Pagar

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode Percobaan

HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 2. Kondisi Pols (8 cm) setelah Penyimpanan pada Suhu Ruang

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan. Percobaan ini dilakukan mulai

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

3. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu 3.2 Bahan dan Alat 3.3 Metode Penelitian Sumber Benih

HASIL DA PEMBAHASA. Percobaan 1. Pengujian Pengaruh Cekaman Kekeringan terhadap Viabilitas Benih Padi Gogo Varietas Towuti dan Situ Patenggang

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan dengan ketinggian ± 32 meter di

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Bahan dan Alat

HASIL DAN PEMBAHASAN. Pembuatan Lot Benih

HASIL DAN PEMBAHASAN

PENGUJIAN SIFAT BENIH PEPAYA (Carica papaya L.) DENGAN PENYIMPANAN SUHU DINGIN. Oleh Rika Rahmi Wulandari A

2. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Botani Pepaya

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

EVALUASI VIABILITAS BENIH PEPAYA (Carica papayaa L.) SETELAH PENYIMPANAN PADA KONDISI KELEMBABAN DAN SUHU KAMAR ABRAR ABDUL JABBAR A

TINJAUAN PUSTAKA Perkecambahan Benih Padi

47 Tabel 3. Rata-rata Persentase kecambah Benih Merbau yang di skarifikasi dengan air panas, larutan rebung dan ekstrak bawang merah Perlakuan Ulangan

PEMATAHAN DORMANSI BENIH

IV. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. Muhammadiyah Yogyakarta dalam suhu ruang. Parameter penelitian di. normal di akhir pengamatan (Fridayanti, 2015).

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat Metode

II. TINJAUAN PUSTAKA. Viabilitas benih diartikan sebagai kemampuan benih untuk tumbuh menjadi

PEMECAHAN DORMANSI DAN UJI TETRAZOLIUM BENIH TOPOGRAFIS

Lampiran 1. Genotipe yang Digunakan sebagai Bahan Penelitian pada Percobaan Pendahuluan

Pengaruh Kemasan, Kondisi Ruang Simpan dan Periode Simpan terhadap Viabilitas Benih Caisin Brassica chinensis L.)

Tipe perkecambahan epigeal

TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Purwoceng

HASIL DAN PEMBAHASAN

Bul. Agrohorti 6 (2) : (2018)

KAJIAN PENGARUH SUHU SIMPAN DAN METODE PEMATAHAN DORMANSI TERHADAP VIABILITAS BENIH PEPAYA MERAH DELIMA

TINJAUAN PUSTAKA Benih Bermutu Viabilitas dan Vigor benih

BAHAN DAN METODE. Waktu dan Tempat

I. PENDAHULUAN. karena nilai gizinya yang tinggi. Untuk memenuhi konsumsi dalam negeri,

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum

Lampiran 1. Deskripsi Varietas Tembakau (Nicotiana tabacum)

HASIL DAN PEMBAHASAN

PENGUJIAN SIFAT BENIH PEPAYA (Carica papaya L.) DENGAN PENYIMPANAN SUHU DINGIN. Oleh Rika Rahmi Wulandari A

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BOCORAN KALIUM SEBAGAI INDIKATOR VIGOR BENIH JAGUNG. Ramlah Arief Balai Penelitian Tanaman Serealia

dalam jumlah yang cukup. Carica merupakan tanaman monokotil yang dapat

IDENTIFIKASI SIFAT BENIH KAWISTA (Feronia limonia (L.) Swingle) UNTUK TUJUAN PENYIMPANAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu Penelitian. Bahan dan Alat

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Benih dan Pemuliaan Tanaman,

HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN. Tomat (Lycopersicon esculentum Mill.) termasuk dalam jenis tanaman sayuran,

Perlakuan Coating dengan menggunakan Isolat Methylobacterium spp. dan Tepung Curcuma untuk Meningkatkan Daya Simpan Benih Padi Hibrida

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. panennya menunjukkan bahwa ada perbedaan yang nyata (hasil analisis disajikan

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial

II. TINJAUAN PUSTAKA. wilayah beriklim sedang, tropis, dan subtropis. Tanaman ini memerlukan iklim

HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian

PERIODE AFTER-RIPENING DAN RESPON PERLAKUAN PEMATAHAN DORMANSI PADA BENIH PADI MERAH DAN PADI HIBRIDA (Oryza sativa L.) INTAN GILANG CEMPAKA

VIABILITAS DAN DAYA SIMPAN BENIH LOBAK (Raphanus sativus L.) LOKAL DAN IMPOR SETELAH DISIMPAN PADA RUANG SIMPAN BERBEDA SELVIA ANASTHASIA

Sri Wira Karina 1), Elis Kartika 2), dan Sosiawan Nusifera 2) Fakultas Pertanian Universitas Jambi

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu

STUDI UJI DAYA HANTAR LISTRIK PADA BENIH KEDELAI (Glycine max L. (Merr.)) DAN HUBUNGANNYA DENGAN MUTU FISIOLOGIS BENIH

I PENDAHULUAN. Tanaman kacang buncis (Phaseolus vulgaris L.) merupakan salah satu tanaman

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Benih dan Pemuliaan Tanaman,

I. PENDAHULUAN. Benih merupakan salah satu masukan usaha tani yang mempengaruhi tingkat

I. PENDAHULUAN. Padi (Oryza sativa L.) merupakan tanaman penghasil beras yang menjadi

PERLAKUAN PEMATAHAN DORMANSI TERHADAP DAYA TUMBUH BENIH 3 VARIETAS KACANG TANAH (Arachis hypogaea)

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum

II. TINJAUAN PUSTAKA. Ubi kayu mempunyai banyak nama daerah, di antaranya adalah ketela pohon,

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Posisi Biji Padi pada Malai Terhadap Kematangan dan Viabilitas

STUDI PERLAKUAN PEMATAHAN DORMANSI BENIH DENGAN SKARIFIKASI MEKANIK DAN KIMIAWI

I. PENDAHULUAN. Ubi kayu (Manihot esculenta Crantz) merupakan tanaman sumber karbohidrat

II. TINJAUAN PUSTAKA. Viabilitas benih diartikan sebagai kemampuan benih untuk tumbuh menjadi

PENENTUAN PERIODE AFTER-RIPENING

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

TINJAUAN PUSTAKA. Vigor Benih

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum

I. PENDAHULUAN. setelah beras. Selain itu juga digunakan sebagai pakan ternak dan bahan baku

KETAHANAN BENIH BEBERAPA GENOTIPE PEPAYA (Carica papaya L.) TERHADAP PENGERINGAN. Oleh Edwind Pramoedinata A

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. yang berbeda menunjukkan bahwa ada perbedaan yang nyata (hasil analisis disajikan

II. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Justice dan Bass (2002), penyimpanan benih adalah. agar bisa mempertahankan mutunya. Tujuan dari penyimpanan benih

Bahan Konsentrasi (g/ l) K 2 HPO g NaH 2 PO 4 H 2 O g (NH 4 ) 2 SO g MgSO 4.7H 2 O. 0.2 g mg FeSO 4. 7H 2 O. 4.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruhsuhu penyimpanan terhadap viabilitas kedelai (Glycine max

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman tomat termasuk tanaman semusim Ordo Solanales, family solanaceae,

PENGARUH KONDISI PENYIMPANAN DAN BERBAGAI VARIETAS BAWANG MERAH LOKAL SULAWESI TENGAH TERHADAP VIABILITAS DAN VIGOR BENIH IF ALL 1 DAN IDRIS 2

STUDI KARAKTERISTIK BENIH BELIMBING (Averrhoa carambola L.) DAN DAYA SIMPANNYA. Oleh Eko Purwanto A

Lampiran 2.Rataan persentasi perkecambahan (%)

BAHAN DAN METODE. Metode Penelitian Pengaruh Lot Benih dan Kondisi Tingkat Kadar Air Benih serta Lama Penderaan pada PCT terhadap Viabilitas

Viabilitas Benih Koro (Canavalia ensiformis (L.) DC.) yang Disimpan pada Beberapa Jenis Kemasan dan Periode Simpan

HASIL DAN PEMBAHASAN

PENGARUH KOMBINASI LARUTAN PERENDAMAN DAN LAMA PENYIMPANAN TERHADAP VIABILITAS, VIGOR DAN DORMANSI BENIH PADI HIBRIDA KULTIVAR SL-8

I. PENDAHULUAN. multiguna karena hampir seluruh bagian pohonnya dapat dimanfaatkan.

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Rancangan Percobaan

II. TINJAUAN PUSTAK A. 2.1 Karakteristik dan Komposisi Kimia Benih Kedelai

Transkripsi:

15 HASIL DAN PEMBAHASAN Pengujian Penyimpanan Suhu Rendah Pepaya Varietas Sukma Rekapitulasi sidik ragam pada pepaya Varietas Sukma baik pada faktor tunggal maupun interaksinya dilihat pada Tabel 1. Faktor periode simpan dan suhu simpan berpengaruh nyata pada tolok ukur daya berkecambah, potensi tumbuh maksimum, dan indeks vigor. Selain itu, interaksi antara kedua faktor juga berpengaruh nyata terhadap ketiga tolok ukur tersebut. Hasil analisis ragam pengaruh periode simpan dan suhu simpan terhadap tolok ukur DB (Lampiran 5), PTM (Lampiran 6), dan IV (Lampiran 7). Tabel 1. Rekapitulasi sidik ragam pengaruh periode simpan dan suhu simpan terhadap tolok ukur DB, PTM dan IV pada benih pepaya Varietas Sukma Sumber Keragaman Tolok ukur DB PTM IV Periode simpan * * * Suhu simpan * * * Interaksi * * * Keterangan : * : berpengaruh nyata pada taraf 5% DB : Daya berkecambah; PTM : Potensi tumbuh maksimum; IV : Indeks vigor Tabel 2. Nilai tengah pengaruh interaksi periode simpan dan suhu simpan terhadap tolok ukur DB, PTM, dan IV pada pepaya Varietas Sukma Suhu Simpan Periode Simpan (bulan) 0 1 2 3.DB (%). Kamar 80.00a 82.67a 92.00a 81.33a Rendah 80.00a 60.00b 36.00c 34.67c.PTM (%). Kamar 82.67a 86.67a 92.00a 82.67ab Rendah 82.67ab 65.33b 36.00c 36.00c.IV (%). Kamar 1.33d 5.33d 84.00a 61.33b Rendah 1.33d 2.67d 18.67c 4.00d Keteranagn : DB : Daya berkecambah; PTM : potensi tumbuh maksimum; IV : indeks vigor. Nilai yang memiliki huruf yang sama tidak berbeda nyata pada uji lanjut DMRT taraf 5 %.

16 Berdasarkan Tabel 2 dilihat bahwa benih pepaya Varietas Sukma yang disimpan pada suhu kamar mengalami peningkatan viabilitas sampai periode simpan 2 bulan. Namun pada periode simpan 3 bulan, benih mengalami penurunan viabilitas. Pada penyimpanan suhu rendah, benih mengalami penurunan viabilitas dari awal periode simpan sampai akhir periode simpan. Penurunan viabilitas pada akhir periode simpan diduga karena terjadi penurunan kadar air benih selama penyimpanan. Penurunan kadar air yang melewati batas kritikal selama penyimpanan akan menyebabkan induksi dormansi sekunder. Kadar air pada awal penyimpanan pepaya Varietas Sukma 6.53 %, sedangkan pada akhir periode penyimpanan menurun menjadi 6.37 % pada suhu kamar, dan 5.80 % pada penyimpanan suhu rendah. Menurut Walters dan Towill (2000), kadar air yang optimum untuk penyimpanan benih pepaya berkisar antara 9-11%. Hal ini karena disebabkan kulit benih yang tidak dapat mengimbibisi gas dan air dengan baik selama penyimpanan. Menurut Bewley dan Black (1943), penyimpanan pada suhu di bawah nol dengan kadar air kurang dari 14% tidak akan terbentuk kristal es dalam sel. Penyimpanan suhu rendah dengan kelembaban yang kering dapat memperpanjang masa simpan benih-benih tertentu yang dikeringkan dengan KA kurang dari 14%. Pada penyimpanan suhu rendah, benih pepaya Varietas Sukma mengalami penurunan viabilitas dari awal penyimpanan sampai akhir penyimpanan 3 bulan. Pada akhir penyimpanan, benih pepaya ini memiliki daya berkecambah kurang dari 50%, sehingga benih pepaya Varietas Sukma diduga termasuk ke dalam kelompok benih intermediet. Menurut Hong dan Ellis (1996), benih yang disimpan pada suhu rendah (-20 0 C) jika masih dapat tumbuh dan memiliki daya berkecambah sekitar 50%, maka benih tersebut termasuk ke dalam benih ortodoks. Pada penelitian sebelumnya yang dilakukan Wulandari (2009), benih pepaya Varietas Sukma termasuk ke dalam sifat benih ortodoks karena benih pepaya Varietas Sukma memiliki viabilitas yang cukup baik dari awal periode simpan sampai akhir periode simpan pada penyimpanan suhu rendah (-20 o C) maupun suhu kamar. KA selama penyimpanan berkisar 8.79% pada suhu kamar dan 8.25% pada suhu rendah.

17 Penyebab terjadinya perbedaan hasil tersebut perlu dibuktikan dengan pengujian viabilitas benih secara khusus. Salah satu cara yang dapat dilakukan dengan uji cepat viabilitas dengan tetrazolium. Uji tetrazolium menggunakan zat indikator berupa 2.3.5 Trifenil tetrazolium. Uji tetrazolium disebut juga uji biokhemis benih. Karena dengan uji ini akan diketahui terjadinya proses biokimiawi yang berlangsung dalam sel, khususnya dalam embrio benih. Uji tetrazolium juga disebut uji cepat, karena indikator pada uji ini adalah pola-pola pewarnaan pada embrio, bukan proses perkecambahan yang umumnya memerlukan waktu yang lebih lama dalam menentukan final count (Veganojustice, 2011). Kegunaan uji tetrazolium cukup banyak : untuk mengetahui viabilitas benih yang segera akan ditanam, untuk mengetahui viabilitas benih dorman, untuk mengetahui hidup atau matinya benih segar tidak tumbuh dalam pengujian daya berkecambah benih. Menurut Sari et al (2005), benih yang memiliki DB dan IV yang rendah bukan disebabkan karena benih tersebut kehilangan viabilitas tetapi karena terjadi pembatasan penilaian pada perhitungan hari pengamatan, yaitu 14 HST dan 21 HST. Hal ini dibuktikan pada hasil pengujian tetrazolium menunjukkan bahwa benih masih hidup. Pengujian Penyimpanan Suhu Rendah pada Pepaya Varietas Carisya Rekapitulasi sidik ragam untuk pepaya varietas Carisya pada Tabel 3 menunjukkan faktor periode simpan berpengaruh nyata pada ketiga tolok ukur yaitu daya berkecambah, potensi tumbuh maksimum, dan indeks vigor. Faktor suhu simpan tidak berpengaruh nyata pada daya berkecambah dan potensi tumbuh maksimum, sedangkan pada tolok ukur indeks vigor, suhu simpan berpengaruh nyata. Interaksi antara kedua faktor berpengarh nyata pada ketiga tolok ukur tersebut. Hasil analisis ragam pengaruh periode simpan dan suhu simpan terhadap tolok ukur DB (Lampiran 8), PTM (Lampiran 9), dan IV (Lampiran 10).

Tabel 3. Rekapitulasi sidik ragam pengaruh periode simpan dan suhu simpan terhadap tolok ukur DB, PTM, dan IV pada pepaya Varietas Carisya Sumber keragaman Tolok ukur DB PTM IV Periode simpan * * * Suhu simpan tn tn * Interaksi * * * Keterangan : * : berpengaruh nyata pada taraf 5% DB : Daya berkecambah; PTM : Potensi tumbuh maksimum; IV : Indeks Vigor Tabel 4. Nilai tengah pengaruh interaksi periode simpan dan suhu simpan terhadap tolok ukur DB, PTM, Dan IV pada pepaya Varietas Carisya Suhu Simpan Periode Simpan (bulan) 0 1 2 3.DB (%). Kamar 72.00b 54.67c 94.67a 98.67a Rendah 72.00b 84.00ab 90.67a 57.33c.PTM (%). Kamar 76.00c 58.67d 94.67ab 100.00a Rendah 76.00c 84.00cb 90.67ab 60.00d.IV (%). Kamar 40.00bc 24.00cd 90.67a 96.00a Rendah 40.00bc 18.67d 56.00b 25.33cd Keterangan: DB : daya berkecambah; PTM : potensi tumbuh maksimum; IV : indeks vigor Nilai yang memiliki huruf yang sama tidak berbeda nyata pada uji lanjut DMRT 5 %. Berdasarkan Tabel 4, pada benih pepaya Varietas Carisya penyimpanan suhu kamar terjadi penurunan DB dan PTM pada periode simpan 1 bulan, namun terjadi peningkatan kembali sampai akhir periode simpan. Pada penyimpanan suhu rendah, DB dan PTM meningkat sampai periode simpan 2 bulan, namun pada akhir periode simpan terjadi penurunan. Pada tolok ukur indeks vigor, pada suhu kamar maupun suhu rendah terjadi penurunan pada periode simpan 1 bulan, kemudian meningkat kembali sampai akhir periode simpan. Penurunan DB dan PTM yang terjadi di awal periode simpan, kemudian terjadi peningkatan kembali diduga karena adanya induksi dormansi sekunder. Menurut Copeland dan McDonald (2001) induksi dari dormansi sekunder dapat terjadi satu sampai satu setengah bulan setelah benih mencapai fase masak fisiologi, dan berkurang secara terus-menerus saat diantara fase masak fisiologi 18

19 dan fase penyimpanan. Benih yang terinduksi dormansi sekunder memerlukan metode pematahan dormansi yang tepat. Metode pematahan dormansi yang dilakukan pada penelitian ini adalah perendaman dengan KNO 3 10 % selama 1 jam. Pada penyimpanan suhu rendah terjadi kestabilan kadar air dari awal penyimpanan sampai akhir periode simpan. Kadar air pada perlakuan penyimpanan suhu rendah adalah 5.63%. Hong dan Ellis (1996) menyatakan berdasarkan prosedur penyimpanan benih, kadar air yang aman untuk penyimpanan benih pada suhu -20 ºC seperti yang dilakukan pada penelitian ini adalah 5%. Peningkatan viabilitas selama periode simpan yang terjadi pada penyimpanan kondisi suhu rendah cukup baik. Walaupun terjadi penurunan viabilitas pada akhir periode simpan, namun benih pepaya ini masih memiliki daya berkecambah > 50%. Benih pepaya tersebut tahan terhadap penyimpanan suhu rendah dan diduga memiliki sifat ortodoks. Pengujian Penyimpanan Suhu Rendah pada Pepaya Varietas Calina Rekapitulasi sidik ragam pada Tabel 5 menunjukkan bahwa faktor periode simpan dan suhu simpan berpengaruh nyata terhadap tolok ukur indeks vigor. Pada tolok ukur daya berkecambah dan potensi tumbuh maksimum, faktor periode simpan dan suhu simpan tidak berpengaruh nyata. Hasil analisis ragam pengaruh periode simpan dan suhu simpan terhadap tolok ukur DB (Lampiran 11), PTM (Lampiran 12), dan IV (Lampiran 13). Tabel 5. Rekapitulasi sidik ragam pengaruh periode simpan dan suhu simpan terhadap tolok ukur DB, PTM Dan IV pada pepaya Varietas Calina Sumber Keragaman Tolok Ukur DB PTM IV Periode simpan tn tn * Suhu simpan tn tn * Interaksi tn tn * Keterangan : * : berpengaruh nyata pada taraf 5 % DB : Daya berkecambah; PTM : Potensi tumbuh maksimum; IV : Indeks vigor

Berdasarkan Tabel 6, pada penyimpanan suhu kamar terjadi peningkatan nilai IV dari awal periode simpan sampai akhir periode simpan. Pada penyimpanan suhu rendah (-20 o C) terjadi penurunan pada periode simpan 1 bulan dan terjadi peningkatan kembali setelah penyimpanan 2 bulan. Pada akhir periode simpan, nilai indeks vigor kembali mengalami penurunan. Pada penyimpanan suhu kamar dan suhu rendah, nilai DB dan PTM pepaya Varietas Calina berkisar antara 60%- 85%. Hal ini membuktikan bahwa benih pepaya Varietas Calina memiliki viabilitas yang cukup baik. Tabel 6. Nilai tengah pengaruh faktor periode simpan dan suhu simpan terhadap tolok ukur indeks vigor (IV) pada pepaya Varietas Calina Suhu Simpan Periode Simpan (bulan) 0 1 2 3.DB (%). Kamar 82.67 84.00 81.33 84.00 Rendah 82.67 73.33 78.67 60.00.PTM (%). Kamar 85.33 85.33 81.33 84.00 Rendah 85.33 73.33 78.67 60.00.IV (%). Kamar 30.67de 49.33cb 72.00a 54.67ab Rendah 30.67cd 4.00f 50.67cb 9.33ef Keterangan : DB : Daya berkecambah; PTM : Potensi tumbuh maksimum; IV : Indeks vigor Nilai yang memiliki huruf yang sama tidak berbeda nyata pada uji lanjut DMRT 5 %. Penurunan nilai IV yang terjadi diduga karena adanya induksi dormansi sekunder. Dugaan induksi dormansi sekunder yang terjadi diperkuat karena nilai DB dan PTM benih pepaya Varietas Calina cukup baik dari awal periode simpan sampai akhir periode simpan. Kadar air awal benih pepaya Varietas Calina 6.53%. Pada akhir penyimpanan kadar air mengalami penurunan, yaitu menjadi 6.37% pada suhu kamar dan 5.80% pada suhu rendah. Induksi dormansi sekunder yang terjadi diduga tidak dipengaruhi oleh kadar air penyimpanan yang lebih rendah dari kadar air optimum penyimpanan benih pepaya. Penurunan kadar air tidak mempenga-ruhi viabilitas benih pepaya Varietas Calina. Menurut Walters dan Towill (2000), kadar air optimum untuk penyimpanan benih pepaya berkisar 9%-11%. 20

21 Menurut Wulandari (2009), viabilitas benih pepaya Varietas Calina cukup baik saat disimpan pada suhu rendah. Benih yang tahan terhadap desikan dan penyimpanan suhu rendah mengarah kepada sifat benih ortodoks. Hal ini menunjukkan bahwa selama penyimpanan pada kondisi suhu rendah, benih pepaya Varietas Calina mampu mempertahankan viabilitasnya tetap tinggi, sehingga diduga memiliki sifat benih ortodoks.