HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
HASIL DAN PEMBAHASAN Perilaku Kawin

METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian Alat dan Bahan Pengadaan dan Pemeliharaan Nyamuk Aedes aegypti Pemeliharaan Nyamuk Aedes aegypti

3 MATERI DAN METODE 3.1 Waktu dan Tempat 3.2 Nyamuk Uji 3.3 Metode Penelitian

BAHAN DAN METODE Lokasi Pengambilan Sampel

III. METODE PENELITIAN. Penelitian penentuan daya tolak ekstrak daun sirih (Piper bettle L.) terhadap

Peking. Gambar 6 Skema persilangan resiprokal itik alabio dengan itik peking untuk evaluasi pewarisan sifat rontok bulu terkait produksi telur.

KEMAMPUAN REPRODUKSI NYAMUK Aedes aegypti BERDASARKAN KEBERADAAN NYAMUK JANTAN PORMAN HERAWATI PURBA

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Materi Hewan Percobaan Bahan dan Peralatan

Tujuan Penelitian. Manfaat Penelitian

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Penyakit DBD adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue

III. METODE PENELITIAN. Penelitian daya tolak ekstrak daun pandan wangi (P. amaryllifolius) terhadap

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan masyarakat di Indonesia dan menempati urutan pertama di Asia. Pada

BAB III MODEL MATEMATIKA DINAMIKA PENYEBARAN AEDES AEGYPTI BERDASARKAN ANGIN DAN SAYAP

STATUS KERENTANAN NYAMUK Aedes aegypti TERHADAP INSEKTISIDA MALATION 5% DI KOTA SURABAYA. Suwito 1 ABSTRAK

Bab III. Hasil dan Pembahasan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Pengaruh Media terhadap Pertambahan biomassa Cacing Tanah Eudrilus eugeniae.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Teknik Pemijahan ikan lele sangkuriang dilakukan yaitu dengan memelihara induk

HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 2. Hasil Evaluasi Karakteristik Semen Ayam Arab pada Frekuensi Penampungan yang Berbeda

TABEL HIDUP NYAMUK VEKTOR MALARIA Anopheles subpictus Grassi DI LABORATORIUM.

MATERI DAN METODE. Materi

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan

HASIL DAN PEMBAHASAN. Total jumlah itik yang dipelihara secara minim air sebanyak 48 ekor

Peningkatan jumlah penduduk diikuti dengan meningkatnya kebutuhan akan. bahan pangan yang tidak lepas dari konsumsi masyarakat sehari-hari.

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Sebaran Jumlah Telur S. manilae Per Larva Inang

HASIL DAN PEMBAHASAN. Desa Karyawangi, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa

HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Kondisi Umum Kandang Local Duck Breeding and Production Station

II. TINJAUAN PUSTAKA. Daphnia sp. digolongkan ke dalam Filum Arthropoda, Kelas Crustacea, Subkelas

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ayam Kedu merupakan salah satu ayam lokal langka Indonesia. Ayam. bandingkan dengan unggas lainnya (Suryani et al., 2012).

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium dengan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Itik merupakan ternak jenis unggas air yang termasuk dalam kelas Aves, ordo

II KAJIAN KEPUSTAKAAN. selain ayam adalah itik. Itik memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan,

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

II. METODOLOGI. a) b) Gambar 1 a) Ikan nilem hijau ; b) ikan nilem were.

PENDAHULUAN. dan dikenal sebagai ayam petarung. Ayam Bangkok mempunyai kelebihan pada

STMIK AMIKOM YOGYAKARTA

HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 2. Data Suhu Lingkungan Kandang pada Saat Pengambilan Data Tingkah Laku Suhu (ºC) Minggu

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penyiapan Mesin Tetas

I. PENDAHULUAN. Secara umum, ternak dikenal sebagai penghasil bahan pangan sumber protein

HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN. Protein hewani memegang peran penting bagi pemenuhan gizi masyarakat. Untuk

SNI : Standar Nasional Indonesia. Produksi Benih Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Sinyonya kelas benih sebar

I. PENDAHULUAN. peternakan pun meningkat. Produk peternakan yang dimanfaatkan

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian tentang Pengaruh Indeks Bentuk Telur terhadap Daya Tetas dan

2 TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Kemampuan Hidup dan Plastisitas Fenotip Serangga

HASIL DAN PEMBAHASAN. Identifikasi Nyamuk

BAB III METODE PENELITIAN

MATERI DAN METODE. Gambar 3. Rodalon

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Clarias fuscus yang asli Taiwan dengan induk jantan lele Clarias mossambius yang

HASIL DAN PEMBAHASAN. tetas dan ruang penyimpanan telur. Terdapat 4 buah mesin tetas konvensional dengan

I. PENDAHULUAN. Permintaan masyarakat terhadap sumber protein hewani seperti daging, susu, dan

I PENDAHULUAN. tidak dapat terbang tinggi, ukuran relatif kecil berkaki pendek.

BAB III METODE PENELITIAN. rancangan penelitian RAL (Rancangan Acak Lengkap), dengan 7 perlakuan

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kandungan Nutrien

HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 17. Kandang Pemeliharaan A. atlas

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ayam broiler atau yang juga disebut ayam pedaging merupakan salah satu

Penelitian ini telah dilakukan selama 2 bulan pada bulan Februari-Maret di Laboratorium Patologi, Entomologi dan Mikrobiologi, dan Laboratorium

KAJIAN KEPUSTAKAAN. kebutuhan konsumsi bagi manusia. Sapi Friesien Holstein (FH) berasal dari

HASIL DAN PEMBAHASAN. Konsumsi Pakan, Bobot Badan dan Mortalitas Puyuh

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. species dari Anas plitirinchos yang telah mengalami penjinakan atau domestikasi

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian eksperimental dengan

BAB III METODE PENELITIAN

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada1 Maret--12 April 2013 bertempat di Peternakan

BAB III METODE PENELITIAN

UPAYA PENINGKATAN PRODUKSI TELUR BURUNG PUYUH

SNI : Standar Nasional Indonesia. Produksi Benih Ikan Mas (Cyprinus carpio Linneaus) strain Majalaya kelas benih sebar

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB III METODE PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. konstruksi khusus sesuai dengan kapasitas produksi, kandang dan ruangan

TINJAUAN PUSTAKA Karakteristik Puyuh

I. PENDAHULUAN. Nyamuk Aedes Agypti merupakan vektor virus dengue penyebab penyakit

BAB IV PEMBAHASAN. Gambar 3. Peta Administrasi Kabupaten Sleman (Sumber:

PENDAHULUAN. Indonesia pada tahun 2014 telah mencapai 12,692,213 ekor atau meningkat. sebesar 1,11 persen dibandingkan dengan tahun 2012.

I. PENDAHULUAN. Lampung merupakan daerah yang berpotensi dalam pengembangan usaha

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Bumirestu, Kecamatan Palas, Kabupaten

I. PENDAHULUAN. pesat. Perkembangan tersebut diiringi pula dengan semakin meningkatnya

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dengan populasi yang cukup tinggi. Kambing Kacang mempunyai ukuran tubuh

1. PENDAHULUAN. Salah satu produk peternakan yang memberikan sumbangan besar bagi. menghasilkan telur sepanjang tahun yaitu ayam arab.

III. METODE PENELITIAN. menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL ). Perlakuan yang diberikan

Bagaimanakah Perilaku Nyamuk Demam berdarah?

I. PENDAHULUAN. lemak omega 3 yang ada pada ikan (Sutrisno, Santoso, Antoro, 2000).

BAHAN DAN METODE. 3.1 Waktu dan tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai Agustus 2009 di Balai Budidaya Air Tawar (BBAT) Jambi.

Perilaku Bertelur Nyamuk Aedes aegypti pada Media Air Tercemar

BAB III MATERI DAN METODE. berbeda terhadap tingkah laku burung puyuh petelur, dilaksanakan pada bulan

III. METODE PENELITIAN. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah

II. TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. dibagikan. Menurut Alim dan Nurlina ( 2011) penerimaan peternak terhadap

HASIL DAN PEMBAHASAN

3 METODOLOGI PENELITIAN

I. PENDAHULUAN. masyarakat menyebabkan konsumsi protein hewani pun meningkat setiap

I. PENDAHULUAN. Perkembangan zaman dengan kemajuan teknologi membawa pengaruh pada

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Ternak yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kelinci lokal dengan

IV HASIL dan PEMBAHASAN

DAFTAR ISI. KATA PENGANTAR... i. ABSTRAK... iv. DAFTAR ISI... v. DAFTAR GAMBAR... vii. DAFTAR TABEL... viii. DAFTAR LAMPIRAN... ix

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Transkripsi:

19 HASIL DAN PEMBAHASAN Jumlah Telur Nyamuk Aedes aegypti yang telah diberikan pakan darah akan menghasilkan sejumlah telur. Telur-telur tersebut dihitung dan disimpan menurut siklus gonotrofik. Jumlah telur dihitung untuk menentukan rata-rata jumlah telur per ekor nyamuk Aedes aegypti (Lampiran 5). Cara perhitungan rata-rata jumlah telur per ekor yaitu : Jumlah telur per ekor = Jumlah telur Jumlah nyamuk Rata-rata jumlah telur per ekor terhadap umur nyamuk disajikan pada Tabel 1. Tabel 1 Rata-rata jumlah telur per ekor nyamuk Aedes aegypti Siklus Gonotropik Umur Nyamuk Jumlah Telur Per ekor 1 4 hari 61,46 ± 14,25 f 2 8 hari 75,19 ± 27,67 g 3 12 hari 88,4 ± 33,14 h 4 16 hari 82,59 ± 24,67 h 5 hari 54,23 ± 28,35 e.f 6 24 hari 51,46 ± 29,85 d.e 7 28 hari 45,96 ± 7,65 c.d.e 8 32 hari 43,4 ± 23,6 c.d 9 4 hari 47,59 ± 27,49 c.d.e 1 44 hari 27,31 ± 15,52 b 11 48 hari 28.89 ± 7,66 b 12 52 hari 32 ± 9,98 b 13 56 hari 28,48 ± 18,46 b 14 hari 17,92 ± 3,6 a 15 64 hari 41,87 ± 9,89 c 16 68 hari 49,52 ± 22,55 c.d.e

Tabel 1 terlihat bahwa rata-rata jumlah telur yang dihasilkan oleh seekor nyamuk betina Aedes aegypti di bawah 1 butir, hal ini menunjukkan rendahnya jumlah telur yang dihasilkan oleh nyamuk tersebut. Jumlah tersebut lebih sedikit apabila dibandingkan dengan jumlah telur yang dihasilkan oleh nyamuk Aedes aegypti pada umumnya yang mencapai 1 butir per ekor dan bahkan lebih (Hadi dan Susi ). Biasanya nyamuk Aedes aegypti menghasilkan telur antara sampai butir dalam waktu 2 hingga 4 hari (Becker et al. 3). Menurut Clements (1963), jumlah telur nyamuk Aedes aegypti biasanya lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah telur dari spesies nyamuk lainnya. Jumlah telur per ekor yang dihasilkan pada siklus gonotrofik ke 1 cukup baik dengan rata-rata 61,46 butir karena nyamuk baru pertama kalinya menghasilkan telur dan nyamuk baru beradaptasi dengan lingkungan. Rata-rata jumlah telur nyamuk per ekor mengalami peningkatan pada siklus gonotrofik ke 2 yaitu 75,19 butir, peningkatan tertinggi terjadi pada siklus gonotrofik ke 3 dengan rata-rata jumlah telur per ekor mencapai 88,4 butir. Rata-rata jumlah telur yang dihasilkan nyamuk Aedes aegypti per ekor berbeda di setiap siklus gonotrofik (Tabel 1). Jumlah telur meningkat pada hari ke 12 (siklus gonotrofik 3) dan mengalami penurunan secara bertahap hingga hari ke 44 (siklus gonotrofik 1) yaitu 27,31 butir dan pada hari ke 48 (siklus gonotrofik 11) mengalami sedikit peningkatan dengan rata-rata jumlah telur per ekor nyamuk yaitu 28,48 butir. Jumlah telur per ekor terendah terjadi pada hari ke (siklus gonotrofik 14) yaitu 17,92 butir (Gambar 1).

21 Jumlah telur (butir) 1 9 8 7 4 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 11 12 13 14 15 16 Siklus Gonotrofik Gambar 1 Rata-rata jumlah telur Aedes aegypti per ekor Nyamuk akan melepaskan dirinya dari marmut ketika nyamuk telah cukup mendapatkan darah. Nyamuk betina Aedes aegypti pada keadaan optimum akan menghabiskan waktu 2 sampai 5 menit untuk menghisap darah (Christopher 19). Darah manusia adalah pakan yang paling sesuai untuk nyamuk Aedes aegypti dibandingkan darah hewan. Hal ini dibuktikan oleh Niendria (11), pada penelitian tersebut nyamuk Aedes aegypti dapat menghasilkan 341,3 butir per ekor karena menggunakan darah manusia, hasil tersebut lebih banyak dibandingkan dengan pakan darah marmut dari hasil penelitian ini yaitu 88,4 butir per ekor. Rahmawati (4) melakukan penelitian serupa dari perkawinan alami antara 25 ekor jantan dengan 25 ekor betina Aedes aegypti dengan hasil 2155 butir telur sehingga dihasilkan rata-rata 86 butir. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah telur per ekor kurang dari 1 butir. Hasil penelitian Yulidar (11) juga menunjukkan rata-rata telur per ekor sebanyak 96 butir. Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Gunandini (2) menunjukkan bahwa nyamuk Aedes aegypti akan menghasilkan telur dengan rata-rata 117,35 butir. Perbedaan jumlah telur yang dihasilkan ini disebabkan karena banyak faktor, diantaranya kondisi lingkungan yang kering, suhu tinggi, kelembaban yang rendah dan volume darah yang dihisap oleh nyamuk. Menurut Clements (1963) untuk menghasilkan rata-rata 85,5 butir telur seekor nyamuk memerlukan sejumlah 3-3,5 mg darah, telur tidak dapat dihasilkan bila jumlah darah yang

22 dihisap kurang dari,5 mg. Selain itu ukuran kandang dan kepadatan jumlah nyamuk yang tinggi berpengaruh terhadap jumlah telur yang dihasilkan. Penelitian Yulidar (11) menunjukkan rata-rata jumlah telur adalah 96 butir dengan ukuran kandang x x cm 3 yang berisi ekor nyamuk ( ekor nyamuk betina dan 1 ekor nyamuk jantan) di dalamnya. Uji regresi (Lampiran 8) menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan (p<.5) antara umur nyamuk terhadap jumlah telur (B = -,736 dan β = -,756) yang memiliki arti, semakin tua umur nyamuk jumlah telur akan semakin menurun. Model persamaan regresi yang disusun memiliki koefisien determinasi (adjusted R square) sebesar,54. Artinya 54% jumlah telur dipengaruhi oleh umur nyamuk. Gambar 11 menunjukkan adanya kecenderungan bahwa semakin bertambah umur nyamuk maka jumlah telur per ekor semakin menurun. 1 Jumlah telur per ekor (butir) 9 8 7 4 1 4 8 Umur nyamuk (hari) Jumlah Telur Perekor Linear (Jumlah Telur Perekor) Gambar 11 Hubungan antara jumlah telur dan umur nyamuk Daya Tetas Telur Daya tetas telur diperoleh dari jumlah telur menetas yang dihasilkan oleh nyamuk Aedes aegypti pada setiap siklus gonotrofik. Daya tetas telur nyamuk Aedes aegypti dapat diketahui dengan cara jumlah telur menetas dibagi dengan jumlah telur total dikali 1% (Lampiran 2).

23 Rumus daya tetas telur : Jumlah Telur Menetas x 1 % Jumlah Telur Total Tabel 2 Persentase daya tetas telur nyamuk Aedes aegypti Lama Penyimpanan Siklus Gonotrofik ke Daya Tetas (%) 18 Hari 1 1 Hari 2.8 1 Hari 3.21 9 Hari 4.97 Hari 5.28 Hari 6.49 21 Hari 7 52.79 14 Hari 8 1.56 7 Hari 9 67.4 6 Hari 1.74 5 Hari 11 3.46 4 Hari 12 2.22 3 Hari 13 1.69 2 Hari 14 4.59 1 Hari 15 3.18 Hari 16 3.8 Hasil penelitian menunjukkan bahwa daya tetas telur tertinggi didapat pada penyimpanan telur selama 7 hari (siklus gonotrofik ke 9) sebesar 67,4%. Daya tetas telur yang tinggi juga ditunjukkan pada penyimpanan telur selama 21 hari (siklus gonotrofik ke 7) sebesar 52,79%. Urutan ketiga daya tetas telur didapatkan dari lama penyimpanan telur hari (siklus gonotrofik ke 5) yaitu sebesar,28% (Gambar 12). Penetasan pada hari ke, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 14,, 9, 1, dan 1 sangat rendah hanya sekitar 1-3% saja (Tabel 2). Penetasan terendah terjadi pada hari ke 18 (siklus gonotrofik 1) sebesar %, hal ini berarti tidak adanya telur yang menetas.

24 Daya tetas (%) 8 7 4 1 18 1 1 9 21 14 7 6 5 4 3 2 1 Lama enyimpanan (hari) Gambar 12 Rata-rata daya tetas telur Aedes aegypti Pada penelitian Gunandini (2) nyamuk Aedes aegypti memiliki daya tetas telur sebesar 62%. Daya tetas telur yang dihasilkan tidak jauh berbeda dengan penelitian ini yaitu 67,4%. Berbeda halnya dengan penelitian Yulidar (11) yang menghasilkan daya tetas telur yang tinggi sebesar 8,9%. Hal ini disebabkan oleh faktor pakan darah nyamuk yang digunakan berupa darah manusia, sedangkan pada penelitian ini dan penelitian Gunandini (2) pakan darah yang digunakan berupa darah marmut. Faktor lain yang mempengaruhi daya tetas telur nyamuk Aedes aegypti antara lain suhu, kelembaban, dan waktu simpan atau lama penyimpanan telur. Suhu Insektarium Entomologi antara ± 28-,7 o C dengan rata-rata suhu 28,4 o C, sedangkan kelembaban berkisar antara ± 55-72% dengan rata-rata kelembaban 69% (Lampiran 4). Suhu dan kelembaban tersebut masih termasuk suhu dan kelembaban yang optimum. Menurut Yotopranoto et al. (1998) dijelaskan bahwa rata-rata suhu optimum untuk pertumbuhan nyamuk adalah 25-27 o C dan pertumbuhan akan berhenti sama sekali apabila suhu kurang 1 o C atau lebih dari 4 o C. Kelembaban yang tinggi mengakibatkan daya tetas telur semakin meningkat, untuk bertahan hidup telur harus disesuaikan pada kelembaban yang tinggi yaitu 81,5-89,5%. Suhu dan kelembaban yang rendah dapat menyebabkan metabolisme berlangsung lambat, sehingga mempengaruhi perkembangan dan daya tetas telur (Mintarsih et al. 1996; Neto dan Silva 4). Selain faktor suhu

dan kelembaban, faktor nutrisi terutama protein yang terkandung dalam darah juga mempengaruhi jumlah dan daya tetas telur (Papaj ). 25 8 7 Daya Tetas (Persen) 4 Daya Tetas Linear (Daya Tetas) 1 1 1 Lama Penyimpanan (Hari) Gambar 13 Hubungan antara daya tetas telur dengan lama penyimpanan Gambar 13 memperlihatkan adanya pengaruh antara daya tetas telur dengan lama penyimpanan atau waktu simpan. Hasil tersebut menunjukkan kecenderungan bahwa waktu simpan yang semakin lama menyebabkan daya tetas telur akan semakin menurun, bahkan sampai tidak adanya telur yang menetas (Tabel 2 dan Gambar 13). Meskipun demikian pada gambar 12 terlihat bahwa daya tetas telur pada penyimpanan 7 hari, 21 hari dan hari menunjukkan hasil yang cukup baik, masing-masing sebesar 67,4%; 52,79%; dan,28%. Hal ini dikarenakan umur nyamuk lebih berpengaruh dibandingkan lama penyimpanan.