BAB II TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II KAJIAN PUSTAKA. Ruang terbuka Publik berasal dari bahasa latin platea yang berarti jalur

Fasilitas Komersial (Area Makan Lantai 1) (2)

BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

KESIMPULAN DAN SARAN

BAB VI KESIMPULAN. berdasarkan kebutuhan pengguna? 6.1 Penilaian Pengguna Mengenai Komponen Setting Fisik Ruang Terbuka Publik Kawasan Eks MTQ

D.03 PERAN RUANG TERBUKA SEBAGAI RUANG SOSIALISASI ANAK DALAM MEMBENTUK KARAKTER BANGSA

VI. PERENCANAAN LANSKAP PEDESTRIAN SHOPPING STREET

BAB IV PENGAMATAN PERILAKU

PERANCANGAN TAPAK II DESTI RAHMIATI, ST, MT

BAB II TINJAUAN UMUM PROYEK

Evaluasi Purna Huni pada Ruang Terbuka Publik di

PERANCANGAN KOTA BAB IV ANALISA ALUN ALUN KABUPATEN WONOGIRI MENURUT 8 ELEMEN KOTA HAMID SHIRVANI. 4.1 Analisa Tata Guna Lahan Alun alun Wonogiri

STUDI PERSEPSI TERHADAP FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT KENYAMANAN KAWASAN SIMPANG LIMA SEBAGAI RUANG TERBUKA PUBLIK TUGAS AKHIR

I. PENDAHULUAN. heterogen serta coraknya yang materialistis (Bintarto,1983:27). Kota akan selalu

II. TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang

BAB VI KONSEP PERENCANAAN

Preferensi Masyarakat dalam Memilih Karakteristik Taman Kota Berdasarkan Motivasi Kegiatan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. keberadaan elemen-elemen fisik atau yang disebut juga setting fisik seiring

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN Bab ini akan menjawab sasaran yang ada pada bab pendahuluan. Makam merupakan salah satu elemen penting pembentuk sebuah

BAB I PENDAHULUAN. Kawasan Lembah UGM merupakan kawasan yang didominasi oleh hijauan

Urban Space, Mall, dan City Walk Ruang Hijau Kota (Ruhiko) atau Ruang Terbuka Hijau (RTH) adalah suatu bentuk ruang terbuka di kota (urban space)

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Perkembangan sebuah kota serta peningkatan jumlah penduduk perkotaan tentunya

Threshold Space sebagai Pendekatan Desain Ruang Terbuka di Kawasan Kota Tua Jakarta

BAB I PENDAHULUAN 6. 1

Identifikasi Ragam Aktivitas Outdoor : Karakteristik Pedestrian Mall di Jalan Dalem Kaum, Bandung

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB V PERENCANAAN LANSKAP ANCOL ECOPARK

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

POLA AKTIVITAS PEMANFAATAN RUANG TERBUKA PUBLIK DI ALUN-ALUN BATU

VI. PERENCANAAN HUTAN KOTA

6.1 Peruntukkan Kawasan

PERANCANGAN KOTA. Lokasi Alun - Alun BAB III

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN. 5.1 Kesimpulan Dari Menggunakan Teori Kevin Lynch. Berdasarkan hasil analisa dari data dan hasil survey wawancara yang

ANALISIS KESELAMATAN DAN KENYAMANAN PEMANFAATAN TROTOAR BERDASARKAN PERSEPSI DAN PREFERENSI PEJALAN KAKI DI PENGGAL JALAN M.T. HARYONO KOTA SEMARANG

BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

MUSEUM TSUNAMI ACEH PENGERTIAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB VI KESIMPULAN. kemudian didapatkan temuan penelitian. Temuan-temuan penelitian ini

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

Evaluasi Tingkat Kenyamanan Penghuni Pasca Perubahan Fungsi Taman Parang Kusumo Semarang

Pola Aktivitas Pada Ruang Publik Taman Trunojoyo Malang

II. TINJAUAN PUSTAKA. alami maupun buatan manusia, yang merupakan total dari bagian hidup manusia

V. KONSEP Konsep Dasar Pengembangan Konsep

BAB 6 HASIL PERANCANGAN. konsep Hibridisasi arsitektur candi zaman Isana sampai Rajasa, adalah candi jawa

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

VI. KONSEP PERANCANGAN TAMAN TEPIAN SUNGAI MARTAPURA KOTA BANJARMASIN

BAB V KONSEP DAN RANCANGAN RUANG PUBLIK (RUANG TERBUKA)

BAB V. KONSEP PERANCANGAN

BAB I PENDAHULUAN. Ruang Publik Yaroana Masigi berada di tengah-tengah permukiman

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

TAMAN REKREASI SERULINGMAS DI BANJARNEGARA Dengan Penekanan Desain Arsitektur Neo Vernakular

BAB V KONSEP PERANCANGAN

Kriteria Ruang Publik untuk Masyarakat Usia Dewasa Awal

SEKOLAH TINGGI SENI TEATER JAKARTA

BAB V KONSEP PERANCANGAN

RUANG TERBUKA PADA KAWASAN PERMUKIMAN MENENGAH KE BAWAH Studi Kasus : Kawasan Permukiman Bumi Tri Putra Mulia Jogjakarta

II. TINJAUAN PUSTAKA. desain taman dengan menggunakan tanaman hias sebagai komponennya

BAB 4. TINJAUAN UMUM KAWASAN KAMBANG IWAK PALEMBANG

BAB 5 KONSEP PERANCANGAN

BAB IV KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V ARAHAN DAN REKOMENDASI

HOTEL RESORT DI DAGO GIRI, BANDUNG

POLA PEMANFAATAN DAN PELAYANAN ALUN-ALUN KOTA PATI BERDASARKAN PERSEPSI DAN PREFERENSI PENGUNJUNG TUGAS AKHIR TKPA 244

shelter of emosion BAB IV KONSEP PERANCANGAN

6.3 Hasil Perubahan Elemen Kawasan

ANALISIS MENGENAI TAMAN MENTENG

ELEMEN FISIK PERANCANGAN ARSITEKTUR KOTA

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB VI KESIMPULAN DAN ARAHAN

PEMANFAATAN RUANG TERBUKA PUBLIK DI BAWAH JEMBATAN LAYANG PASUPATI SEBAGAI UPAYA MEMPERTAHANANKAN RUANG PUBLIK

BAB III DATA DAN ANALISA

BAB I PENDAHULUAN Pentingnya Ruang Terbuka Publik Sebagai Tempat Berinteraksi dan

TAMAN INTERAKTIF DI WADUK PLUIT SEBAGAI RUANG KEGIATAN PUBLIK BAGI MASYARAKAT DI JAKARTA

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN MODEL PENELITIAN. mengemukakan penelitian-penelitian terdahulu yang terkait dengan penelitian

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

LAPORAN PENELITIAN SETING PRILAKU PENGUNJUNG DI TAMAN NOSTALGIA KUPANG. Oleh I Kadek Mardika

KAJIAN POLA RUANG AKTIVITAS DEMONSTRASI DI KAWASAN SIMPANG LIMA SEMARANG TUGAS AKHIR

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB V KONSEP PERANCANGAN. Konsep dasar yang digunakan dalam Perancangan Sekolah Seni

LAMPIRAN. Lampiran 1. Jadwal rencana penelitian. Februari Maret April Mei Juni. Kegiatan. 1. Penyusunan Proposal. 2. Persiapan. 3. Inventarisasi Data

Pengantar Arsitektur Lanskap

BAB IV ANALISA. seperti pencapaian lokasi hingga lingkungan yang memadai.

STUDI RUANG PARKIR UNIVERSITAS SULTAN FATAH (UNISFAT) DEMAK

Please purchase PDFcamp Printer on to remove this watermark. BAB III. ELABORASI TEMA


BAB VI KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Lampiran 7: Pertanyaan Kuesioner dan Wawancara

BAB I PENDAHULUAN. Fristiawati, 2015 PENGEMBANGAN TAMAN RA. KARTINI SEBAGAI RUANG REKREASI PUBLIK DI KOTA CIMAHI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2010). Aksesibilitas adalah konsep yang luas dan fleksibel. Kevin Lynch

V. KONSEP Konsep Dasar Perencanaan Tapak

Transkripsi:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Ruang Publik Istilah ruang publik umumnya mengacu kepada tempat yang dimiliki oleh negara yang dapat diakses oleh siapa saja tanpa pembatasan. Stephen Carr (1992) menyebutkan bahwa ruang publik adalah ruang terbuka, tempat yang mudah diakses publik dimana orang beraktifitas secara kelompok atau secara individu. Selanjutnya, Iswanto (2006) juga menyebut ruang publik sebagai arsitektur tanpa atap, dengan mengumpamakan bumi sebagai lantainya, bangunan dan alam sekitarnya sebagai dinding, dan langit sebagai atapnya. Sementara Lipton (2002 dikutip dalam Holland et al. 2007) mendefinisikan ruang publik sebagai ruang duduk terbuka kita, pusat aktifitas waktu senggang kita. Danoe Iswanto (2006) menyebut ruang publik sebagai pada dasarnya ruang kosong (open space) yang sangat berguna, dengan adanya kekosongan bisa memuat berbagai aktivitas di dalamnya. Masyarakat menggunakan ruang publik dalam melakukan kegiatan mereka yang melibatkan kontak dengan orang lain dan pertemuan yang bersifat informal (Whyte 1980). Kohn (2003) menyatakan bahwa ruang publik mendukung kegiatan berkomunikasi dan berinteraksi diantara penggunanya. Kohn (2003) membuat penggolongan ruang publik berdasarkan kepemilikannya sebagaimana ditunjukkan dalam Tabel 2.1.

Tabel 2.1 Kategorisasi Ruang Berdasarkan Kepemilikian dan Aksesibilitas Aksesibilitas Bebas Berbayar Keanggotaan Pemilik Perorangan - kafé, bar Rumah Korporasi pusat perbelanjaan. Pemerintah Sumber: Kohn 2003 jalan, plaza, taman. wahana bermain (theme park), bioskop. taman nasional. klub, gereja, fasilitas kawasan perumahan, bangunan kantor. kantor pemerintah, markas besar, kawasan militer. Tipologi ruang publik dapat berupa taman umum (public park), lapangan dan plaza (square and plazas), tugu peringatan (memorial), pasar (market), jalan (street), tempat bermain (playground), ruang komunitas (community open space), taman hijau dan jalan taman (greenways and parkways), atrium atau pasar di dalam ruang (atrium atau indoor market place), ruang di lingkungan rumah (neighborhood space), dan tepi air (waterfront). Ruang publik biasanya memiliki elemen seperti jalur pejalan kaki, bangku, unsur air, elemen fisik dan visual seperti perkerasan dan rumput serta tanaman sebagai penunjang aktifitas. Desain ruang publik memiliki tanggung jawab khusus untuk melayani kebutuhan publik, yang mana hal ini hanya sebagian kecil saja dari faktor estetika. Namun, desain ruang publik seringkali terlalu dipaksakan, tidak menyediakan kebutuhan dasar manusia seperti kenyamanan, relaksasi dan penemuan. Akibatnya ruang menjadi hampa dan tidak menarik.

Ruang publik juga dianggap "demokratis" (Holland et al. 2007) dimana siapapun dapat menggunakannya sehingga memungkinkan masyarakat atau komunitas tersebut untuk hidup dan berkembang. Ruang publik memiliki kontribusi terhadap keterikatan dalam suatu komunitas. Namun demikian, perbedaan diantara kelompok penggunanya memungkinkan terjadinya pergesekan (segregasi/perselisihan) dalam hal penggunaan akibat perbedaan cara pandang atau pemahaman mereka dalam beraktifitas di ruang publik (Holland et al 2007) dan juga akibat cara mengekspresikan perilaku tertentu di ruang ruang publik, seperti berupa demonstrasi politik (Kohn 2003). Menurut Iswanto (2006), beberapa fungsi ruang publik secara umum antara lain adalah: (1) sebagai pusat interaksi untuk kegiatan-kegiatan masyarakat baik formal maupun informal atau digunakan untuk event-event tertentu seperti upacara kenegaraan, sholat hari raya, acara hiburan dan lain-lain; (2) sebagai ruang terbuka yang menampung koridor-koridor jalan yang menuju kearah ruang publik tersebut dan sebagai ruang pengikat dilihat dari struktur kota serta sebagai pembagi ruangruang fungsi bangunan disekitarnya dan ruang untuk transit; (3) sebagai tempat usaha bagi pedagang kaki lima; dan (4) sebagai paru-paru kota yang semakin padat. Sehingga, secara esensial ruang publik harus memiliki 3 kriteria (Carr 1992), sebagai berikut: 1. Responsive, yakni tanggap terhadap semua keinginan pengguna dan dapat mengakomodir kegiatan yang ada pada ruang publik tersebut;

2. Democratic, yakni dapat menerima kehadiran berbagai lapisan masyarakat dengan bebas tanpa ada diskriminasi; dan 3. Meaningful, yakni dapat memberikan makna atau arti bagi masyarakat setempat secara individual maupun kelompok. Dengan demikian, keterlibatan komunitas atau masyarakat setempat merupakan kunci penting untuk membuat ruang publik yang tanggap (responsive), demokratis (democratic), dan bermakna (meaningful) (Carr 1992). 2.2 Kualitas Ruang Publik Lynch (1981) menandai bahwa jiwa dari suatu tempat tidak hanya terbentuk oleh tatanan fisik semata, namun juga oleh tatanan aktifitas atau fungsi dan bagaimana terjadinya dialog diantara keduanya, yaitu makna. Ruang terbuka publik menjadi bermakna bagi penggunanya bila ruang dapat memenuhi kebutuhan mereka sehingga mereka nyaman beraktifitas. Ruang yang bermakna positif tercipta oleh hubungan positif dengan masyarakat, hubungan yang menimbulkan rasa memiliki, rasa aman bahwa hak pribadi penggunanya akan dilindungi. Lynch (1981) mengatakan bahwa Ruang yang baik layak bagi orang dan budayanya, membuat orang tersebut peduli dengan komunitasnya, masa lalunya, jaringan kehidupan serta keseluruhan alam semesta. Ruang menjadi berarti bila terjalin hubungan dengan masyarakat. Kemudian Garnham (1985) juga menyatakan bahwa ukuran yang menentukan kualitas ruang adalah tatanan aktivitas orang atau pengguna ruang yang ada disitu dan

bagaimana itu berhubungan dengan elemen-elemen pembentuk tatanan fisik kawasan. Agar ruang dapat tetap berlangsung memenuhi kebutuhan penggunanya maka harus ada manajemen ruang. Bila kebutuhan dasar pengguna akan ruang terpenuhi dan hak pengguna dilindungi maka makna ruang akan semakin meningkat. Ruang yang dapat memuaskan kebutuhan pengguna, melindungi haknya, dan menawarkan arti bagi penggunanya, akan menarik pengunjung dan sukses dari sisi ekonomi. Nilai-nilai ruang publik harus tumbuh dari pengertian mengapa orang mendatangi ruang tersebut, bagaimana mereka menggunakannya, dan apa artinya bagi mereka (Carr 1992). Pengertian ruang publik yang berkualitas menurut Danisworo (1992) mencakup makna dari keberadaan ruang publik sebagaimana yang disampaikan Lynch (1981) tersebut dalam konteks yang lebih luas dan berkelanjutan, yakni memenuhi kelayakan terhadap kriteria: makna kualitas fungsional, makna kualitas visual, dan makna kualitas lingkungan (fisik dan non fisik). Sementara Tibbalds (1993) dalam menilai kualitas ruang publik kota mengemukakan 8 (delapan) elemen penting, yakni: (1) aktifitas dan fungsi campuran; (2) ruang publik dan ruang khusus; (3) pergerakan dan keramahan pedestrian; (4) skala manusia dan kepadatan, strukur, kejelasan dan identitas; (5) kerapian, keamanan dan kenyamanan; (6) manajemen kota; dan (7) kekayaan visual. Chapman (1996) menyebutkan bahwa tempat yang berkualitas akan mendorong hidupnya suatu tempat, karena tempat yang berkualitas akan menarik

untuk didatangi dan dikunjungi. Kualitas ruang publik terkait dengan beberapa aspek (Chapman 1996): 1. Equity and access (persamaan dan pencapaian), persamaan dalam pemenuhan kebutuhan manusia dalam ruang publik dan kemudahan akses didalamnya. 2. Variety and vitality (keberagaman dan keberartian), keberagaman terhadap pengguna dan aktifitas yang dapat ditampung dalam ruang publik 3. Environment and space (lingkungan dan ruang), ruang publik harus dapat saling berdialong (responsive) dengan lingkungannya. Sementara itu, Moughtin (1992) menyatakan bahwa kualitas fisik ruang terpenting adalah enclosure. Kualitas ruang terbuka publik dan bangunan di sekitarnya mempengaruhi tingkat enclosure. Tinggi yang sesuai bagi bangunan di sekitar square adalah sepertiga dari lebar ruang terbuka publik. Ruang terbuka publik kota yang paling sukses bila mempunyai fungsi dominan dari beragam aktifitas dan penggunanya. Aktifitas dalam ruang terbuka publik square penting bagi vitality (arti) ruang publik juga bagi atraksi visual (Moughtin 1992). Marcus dan Francis (1998) dalam bukunya People Place mengasumsikan bahwa: 1. Ruang publik tumbuh dan berkembang pesat di kota-kota industri; 2. Tolak ukur terpenting bagi suksesnya ruang terbuka publik adalah kegunaannya;

3. Kegunaan dan popularitas ruang terbuka publik tergantung dari lokasi dan detail rancangan yang baik; dan 4. Adanya hubungan yang baik antara rancangan, lokasi dan pengguna ruang terbuka publik. Setiap dilakukan peningkatan/perbaikan kualitas fasilitas fisik pada ruang terbuka publik selalu diikuti dengan peningkatan jumlah pengguna ruang terbuka publik (Gehl 1980). William H. Whyte (1980) dalam bukunya The Social Life of Small Urban Space menggambarkan hubungan yang erat antara kualitas ruang terbuka publik dengan aktifitas yang terjadi. Aktifitas ruang luar tergantung dari kualitas ruang terbuka publik. Bila kualitas ruang terbuka publik baik maka kegiatan ruang luar seperti aktifitas rekreasi dan sosial dapat dilakukan dengan baik, pengguna meluangkan waktu lebih lama sebab ruang tersebut mengundang pengguna untuk berhenti, duduk, makan, bermain, dan sebagainya. Menurut Francis (2003), unsur-unsur yang menciptakan ruang terbuka publik yang baik yaitu aksesibilitas, aktifitas, kenyamanan, dan sosialisasi. 2.3 Menilai Kualitas Ruang Publik Kriteria bagi suksesnya ruang terbuka publik dalam mengakomodasi ruang bagi pengguna (people space) menurut Marcus dan Francis (1998) sebaiknya: 1. Lokasi dapat diakses dan terlihat dengan mudah oleh penggunanya; 2. Mempunyai tanda yang jelas bahwa ruang terbuka tersebut dapat digunakan oleh umum dan memang disediakan untuk umum;

3. Indah, ruang luar dan dalam saling berkaitan; 4. Dilengkapi dengan perabot yang baik untuk mendukung aktifitas yang paling diminati; 5. Memberikan perasaan aman bagi penggunanya; 6. Pengguna dapat merasa terlepas dari stress dan tekanan kota, ruang memberikan kesehatan serta perasaaan emosial yang baik; 7. Mampu menarik kelompok pengguna untuk menggunakan ruang karena dapat memenuhi kebutuhan mereka; 8. Mampu mengarahkan setiap kelompok pengguna agar tidak mengganggu aktifitas kelompok pengguna lain; 9. Lingkungan yang nyaman secara psikologi walaupun pada waktu padat pengunjung, akses ke tempat teduh, panas dan berangin; 10. Dapat diakses oleh anak-anak dan orang dengan kemampuan terbatas/cacat (disable people); 11. Mendukung progam philosophical oleh manajemen ruang publik, misalnya program pusat terapi anak dari rumah sakit; 12. Memiliki komponen ruang yang bervariasi seperti air mancur, patung, bangku taman, maupun pasir tempat bermain anak; 13. Memungkinkan pengguna untuk memilih sebagai individu maupun kelompok, menyatu dengan ruang terbuka melalui rancangannya; 14. Ruang terbuka publik dapat dirawat dengan mudah dan ekonomis; dan

15. Rancangan yang seimbang antara ekspresi seni secara visual dengan keadaan sosial setempat. Sementara itu, menurut Francis (2003), tolak ukur suksesnya ruang terbuka publik dapat dinilai dari: 1. Proporsi yang tinggi dari pengguna kelompok ruang terbuka publik; 2. Proporsi yang tinggi dari pengguna wanita, hal ini mengindikasikan ruang terbuka tersebut aman dan nyaman; 3. Kelompok usia pengguna ruang terbuka publik berfariasi pada saat yang bersamaan ataupun pada waktu yang berbeda dalam suatu hari; 4. Aktifitas yang bervariasi berjalan berkesinambungan; dan 5. Banyak aktifitas yang menunjukkan kasih sayang atau hubungan dekat antara penggunanya. Ada tiga panduan utama dalam penilaian ruang publik menurut Stephen Carr (1992) yaitu ruang publik seharusnya bersifat responsive, democratic, dan meaningful sebagaimana ditampilkan dalam Tabel 2.2. Tabel 2.2 Aspek Pembentuk Kualitas Ruang Terbuka Publik 1. Responsive Needs Terhadap a. Comfort (kenyamanan); kebutuhan (needs) merupakan aspek terpenting suksesnya ruang terbuka publik. Kenyamanan mempengaruhi lamanya waktu pengguna berada diruang terbuka publik. 1. Tersedia makanan, minuman. 2. Tempat berteduh/ berlindung dari cuaca/iklim maupun akses kesinar matahari. 3. Pepohonan. 4. Tempat beristirahat/tempat duduk. 5. Rasa aman. 6. Tersedia toilet. 7. Perawatan. 8. Desain yang cermat.

Tabel 2.2 (Lanjutan) 1. Responsive Needs b. Relaxation (santai); merupakan kenyamanan secara psikologi yang biasanya ingin dirasakan pengunjug. c. Passive Engagement; (keterlibatan pasif), merupakan kegiatan pengguna menikmati kegiatan/aktifitas pengguna lain disekitarnya maupun mengamati lingkungannya. d. Active Engagement; (keterlibatan aktif), merupakan keterlibatan pengguna secara langsung terhadap ruang publik dan dengan pengguna lain. e. Discovery (penemuan); kesempatan untuk meneliti bebagai hal dan mendapat pengalaman baru. 2. Democratic Right terhadap hak a. Freedom of access (right) (kemudahan akses/pencapaian) 1. Taman, kebun. 2. Penghijauan: pepohonan, rumput, bunga. 3. Air: air mancur, air terjun, kolam, dsb. 4. Pembagian jalur kendaraan dan pejalan kaki. 1. Estetika: karya seni, patung, monument. 2. Menikmati pertunjukan/atraksi/aktifitas pengguna lain. 3. Menikmati/mengamati keindahan alam: taman, bunga, elemen air, dsb. 1. Hubungan sosial, interaksi, berkomunikasi. 2. Piknik, membeli makanan atupun barang lain. 3. Arena taman bermain: tempat anak bermain dan orang tua bersosialisasi. 4. Bangku, meja, air mancur/air terjun, kebun dan toilet. 5. Lapangan olahraga. 6. Jalur pejalan kaki, jalur jogging/lari, jalur sepeda. 7. Panggung pertunjukan (musik, dsb). 8. Perayaan ritual, festival dan peringatan. 1. Keragaman desain fisik, perubahan vista 2. Detail elemen lanskap 3. Bertemu dengan orang lain. 1. Tidak berpagar dan bila berpagar dan terdapat pintu masuk namun tersirat jelas dapat diakses publik 2. Terhubung dengan jalur sirkulasi 3. Terdapat akses fisik, visual ataupun simbolik.

Tabel 2.2 (Lanjutan) 2. Democratic Right b. Freedom of action (kebebasan beraktifitas, menggunakan ruang dan fasilitas, serta bebas dari gangguan) c. Claim (pengakuan ruang oleh pribadi ataupun kelompok pengguna). d. Freedom to change (kebebasan untuk melakukan perubahan dengan menambahkan, memindahkan ataupun mengganti elemen ruang terbuka). 1. Ruang yang serba guna bagi beberapa aktifitas 2. Tempat berdemonstrasi, berkumpul, menyebarkan selebaran/promosi, berpidato/berkampanye 3. Tempat yang bebas dari gangguan dan ancaman. 1. Privasi dan batasan. 2. Elemen ruang terbuka seperti bangku/vegetasi dsb yang secara tidak langsung membatasi ruang terbuka menjadi beberapa bagian yang dapat diklaim oleh beberapa kelompok pengguna yang berbeda. 3. Pembagian waktu penggunaan ruang oleh kelompok pengguna yang berbeda 4. Pengendalian ruang manajemen/penjaga ketertiban. 1. Perabot yang bisa dipindahkkan seperti meja dan kursi, peralatan olahraga seperti net, gawang, dsb. 2. Manajemen ruang terbuka secara periode merubah penggunaan ruang terbuka menjadi area pertunjukan, pameran, perayaan, perlombaan, dsb. 3. Meaningful Meanings a. Legible (mudah dikenali). 1. Memiliki tanda dapat digunakan oleh umum 2. Mengundang perhatian mata dan telinga orang sehingga menarik untuk dikunjungi seperti landmark kawasan 3. Ruang menimbulkan kenangan bagi pribadi, keluarga, kelompok maupun budaya 4. Ruang dapat membangkitkan perasaan yang kuat sehingga menjadi penting bagi kehidupan masyarakat.

Tabel 2.2 (Lanjutan) 3. Meaningful Meanings b. Relevance (keterkaitan). 1. Ruang harus sesuai dengan norma budaya setempat 2. Desain dan manajemen ruang mencerminkan keadaan disekitarnya 3. Ruang harus cukup nyaman untuk beraktifitas 4. Makna ruang yang positif tercipta dari hubungannya dengan pengguna, terciptanya rasa memiliki, rasa aman dan hak pribadi pengguna dilindungi. c. Individual connection (hubungan individual). d. Group connection (hubungan kelompok). e. Connection to large society (hubungan dengan lapisan masyarakat yang lebih luas). 1. Kenangan pengguna akan ruang terjadi pada saat masa kecilnya ataupun pengalaman/acara khusus (seperti perayaan budaya, piknik keluarga, pernikahan, dsb) dimasa lalu menciptakan makna mendalam dikehidupannya kelak 2. Membagi kutub-kutub guna menarik pengunjung (area bermain anak, taman, area sejarah/arkeologi setempat, dsb) 1. Aktifitas berulang yang dilakukan pengguna kelompok menciptakan ikatan pengguna dengan ruang 2. Ruang kelompok untuk berolahraga, bersosialisasi, berkebun, seni, dsb 3. Patung seni dibangun diruang terbuka untuk mengenang suatu peristiwa. 1. Monumen dibangun diruang terbuka sebagai kenangan akan simbol agama, politik, keadilan dan kebebasan, sejarah peristiwa patriotik ataupun tragedi 2. Simbol keberlangsungan sosial budaya, ekonomi dsb.

Tabel 2.2 (Lanjutan) 3. Meaningful Meanings f. Biological and psychological connection (hubungan aspek biologis dan psikologis). g. Connection to other world (hubungan dengan faktor lain). Sumber: Public Space, Stephen Carr, 1992 1. Ruang alami dengan elemenelemen alam diminati oleh pengguna ruang karena menimbulkan makna khusus bagi psikologis pengguna anak-anak maupun dewasa 2. Area bermain anak dengan elemen alami menciptakan lingkungan bermain dan belajar dari alam 3. Hubungan pengguna dengan eleman alami (air, vegetasi, binatang dan batu) meningkatkan kreativitas dan dampak yang baik bagi kesehatan pengguna. Ruang terbuka yang diciptakan dari gambaran imajinasi masyarakat (seperti Disneyland, dunia fantasi, tatanan antariksa alam semesta, dsb) untuk menarik minat pengunjung. Carr (1992) menjelaskan masing-masing kriteria dalam menilai kualitas sebuah ruang publik, yakni ruang publik yang tanggap, ruang publik yang demokratis, dan ruang publik yang bermakna, yang dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Ruang Publik yang Tanggap (Responsive). Ruang Responsive adalah ruang yang dirancang dan diatur untuk memenuhi kebutuhan penggunanya. Kebutuhan utama yang dicari oleh orang untuk memuaskan keinginannya akan kenyamanan relaksasi, keterlibatan aktif dan pasif serta penemuan. Relaksasi terlepas dari tekanan/stress dari kehidupan sehari-hari dan pertemuan aktif dan pasif

dengan individu lain serta dengan komunitas lain. Ruang publik juga dapat dipakai sebagai tempat untuk kegiatan fisik dan mental, seperti olah raga, berkebun ataupun berbincang-bincang. Kontak fisik dan visual dengan alam dan tumbuhan juga baik untuk kesehatan. 2. Ruang Publik yang Demokratis (Democratic). Ruang Democratic melindungi hak-hak dari kelompok penggunanya. Dapat diakses oleh semua kelompok dan menyediakan kebebasan untuk beraktifitas. Ruang publik juga sebagai tempat dimana orang dapat lebih bebas berbuat daripada ketika berada ditempat kerja ataupun dirumah. Pada situasi tertentu orang dapat mengklaim area disekitarnya sebagai haknya walaupun pada dasarnya tempat itu bukan miliknya. Di ruang publik orang dapat belajar untuk hidup bersama. Kebebasan yang bertanggungjawab dapat menciptakan kepuasan bagi setiap penggunanya walaupun hal ini sulit dicapai. Persaingan kepentingan antara beragam pengguna dapat mengancam kebebasan pengguna lain. Hak untuk menggunakan ruang publik sebaiknya mempunyai kontrol, bila tidak maka akan terjadi konflik antara kelompok pengguna yang dominan dan minoritas. Keseimbangan kedua hal ini tergantung dari beberapa faktor seperti norma, perilaku individu dan kelompok pengguna, serta desain dan manajemen ruang publik.

3. Ruang Publik yang Bermakna (Meaningful). Ruang Meaningful adalah ruang yang memungkinkan orang untuk dapat membuat hubungan yang kuat antara tempat tersebut dengan kehidupan pribadinya serta lingkungannya. Pemakaian ruang publik yang rutin akan menghasilkan kenangan (makna ruang) yang membekas bagi penggunanya. Dengan berkembangnya kenangan (makna ruang) dari tiap individu dan berbagi pengalaman ruang maka tempat tersebut menjadi berarti bagi komunitas..